LAPORAN AKHIR
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Kegiatan
Sejak program konversi minyak tanah ke LPG diimplementasikan pada akhir tahun 2007 sampai tahun 2010, pemerintah telah mendistribusikan secara gratis sekitar ± 45 juta paket perdana LPG tabung 3 kg ke rumah tangga dan usaha mikro yang berhak. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pelaksanaan program konversi selama ini dinilai berhasil. Indikasinya adalah penggunaan LPG tabung 3 kg di masyarakat yang terus meningkat, di mana pada tahun 2010 penyaluran isi ulang LPG tabung 3 kg setidaknya telah mencapai sekitar 2,5 juta MT, atau naik sekitar 416% dari tahun 2008 yang sebesar 0,6 juta MT, serta minyak tanah bersubsidi yang ditarik sejak awal program konversi sebesar 8,42 juta kiloliter. Dari pelaksanaan konversi mitan ke LPG tersebut di atas diperkirakan telah dilakukan penghematan sebesar 26,4 trilyun rupiah selama 2007-2010. Penghematan diperkirakan akan naik dengan semakin meluasnya target konversi di 2011 yang ditargetkan sebesar 52 juta KK.
Berdasarkan Permen No. 26 Tahun 2009 tentang Penyediaan dan Pendistribusian Liquefied Petroleum Gas, sistem pendistribusian LPG Tertentu dilaksanakan secara tertutup yang dimaksud LPG Tertentu dalam Permen tersebut adalah LPG tabung 3 kg yang saat ini disubsidi oleh pemerintah yang digunakan oleh rumah tangga dan usaha mikro sesuai kriteria yang ditetapkan Pemerintah. dalam sistem tertutup ini pembelian isi ulang LPG tertentu oleh rumah tangga dan usaha mikro yang berhak dilakukan dengan menggunakan kartu kendali melalui Penyalur dan/atau Sub Penyalur yang ditunjuk. dengan demikian, transaksi pembelian isi ulang LPG tertentu oleh kelompok masyarakat yang tidak berhak dapat diminimalisir.
Daya Mineral cq Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi melakukan kegiatan lanjutan Pengawasan implementasi sistem pendistribusian LPG tertentu secara tertutup di wilayah yang telah diimplementasi pada tahun 2011 yang meliputi 8 Kabupaten/Kota dan 3 wilayah baru.
1.2 Maksud, Tujuan, dan Sasaran Kegiatan
1.2.1 Maksud
Maksud kegiatan ini adalah melakukan implementasi sistem pendistribusian tertutup LPG tertentu yang menjamin pasokan dan pembayaran subsidi LPG tertentu sesuai peraturan yang berlaku.
1.2.2 Tujuan
Tujuan dari kegiatan ini adalah:
1. Terlaksananya sistem pelayanan terpadu dari kegiatan implemetasi sistem pendistribusian tertutup LPG tertentu;
2. Terlaksananya transaksi pembelian LPG tertentu oleh pengguna yang berhak menggunakan kartu kendali di sub penyalur yang ditentukan sesuai HET (Harga Eceran Tertinggi);
3. Terlaksananya penyaluran LPG tertentu oleh lembaga penyalur ke konsumen sesuai dengan wilayah penyaluran yang telah ditentukan;
4. Terwujudnya partisipasi aktif masyarakat pengguna LPG tertentu yang berhak dan stakeholder dalam mendukung pelaksanaan implementasi sistem pendistribusian LPG tertentu;
Terlaksananya sistem pelaporan transaksi LPG Tertentu secara kontinyu, traceable,
accountable, dan verifee.
1.2.3 Sasaran Kegiatan
Sasaran dari kegiatan ini adalah terlaksananya sistem Pendistribusian LPGtertentu secara tertutup di wilayah yang ditetapkan, meliputi:
1. Berfungsinya sistem layanan terpadu di wilayah kegiatan;
2. Berfungsinya sistem transaksi pembelian LPG tertentu melalui Electronic Data Capture (EDC) di sub penyalur dan sistem aplikasi desktop di penyalur;
3. Berfungsi sistem kontrol wilayah penyaluran berdasarkan hasil transaksi dengan wilayah penyaluran yang telah ditentukan;
1.3 Manfaat Pekerjaan
Manfaat kegiatan ini adalah:
1. Pemerintah mendapatkan informasi kebutuhan pasokan LPG Tertentu di setiap Kota/ Kabupaten;
2. Pemerintah mendapatkan laporan hasil monitoring transaksi isi ulang LPG Tertentusecara kontinyu, traceable, dan aueitablesehingga efisiensi dan efektifitas penyaluran subsidi kepada pengguna yang berhak dapat terjamin;
3. Pemerintah mendapatkan data perhitungan transaksi isi ulang LPG Tertentu yang update dan valid sebagai dasar pembayaran subsidi pemerintah kepada Badan Usaha Penyedia LPG Tertentu;
4. Masyarakat mendapatkan kemudahan dalam membeli isi ulang LPG Tertentu dengan harga dan pasokan yang terjamin
1.4 Dasar Hukum Kegiatan
Dasar hukum kegiatan ini adalah:
1. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 136, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4152);
2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4286);
3. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4400);
4. Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2004 tentang Kegiatan Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 124, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4436);
5. Keputusan Presiden R.I Nomor 42 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan Belanja Negara jo Keputusan Presiden R.I. Nomor 72 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan Belanja Negara;
6. Peraturan Presiden Nomor 54 tahun 2010 tanggal 6 Agustus 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah;
8. Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 0030 Tahun 2005 tanggal 20 Juli 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral;
9. Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 056 Tahun 2006 Tanggal 28 Desember 2006 tenteng Organisasi dan Tata Kerja Pengelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral; 10. Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 021 Tahun 2007 tanggal
19 Desember 2007 tentang Penyelenggaraan Penyediaan dan Pendistribusian Liquefied Petroleum Gas Tabung 3 Kilogram;
11. Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 26 Tahun 2009 tanggal 29 September 2009 tentang Penyediaan dan Pendistribusian Liquefied Petroleum Gas; 12. Peraturan Bersama Menteri dalam Negeri dan Menteri Energi dan Sumber Daya
Mineral Nomor 17 Tahun 2011 dan Nomor 05 Tahun 2011 tentang Pembinaan dan Pengawasan Pendistribusian Tertutup Liquefied Petroleum Gas Tertentu di Daerah.
1.5 Ruang Lingkup dan Metodologi Kegiatan
1.5.1 Ruang Lingkup
Secara umum batasan dan ruang lingkup Implementasi Sistem Pendistribusian LPG tertentu secara tertutup meliputi :
1. Inventarisasi dan analisa data sekunder;
2. Pengurusan perijinan dan koordinasi dengan pemerintah daerah Propinsi/Kab/Kota dan Stakeholder;
3. Implementasi sistem pendistribusian tertutup LPG tertentu;
4. Mengoperasikan peralatan dan melakukan pembinaan dan pengawasan dalam pelaksanaan sistem pendistribusian tertutup LPG tertentu;
5. Verifikasi distribusi isi ulang LPG tertentu; 6. Pelaporan dan presentasi.
1.5.2 Metodologi
Pelaksanaan kegiatan Implementasi Sistem Pendistribusian LPG Tertentu Secara Tertutup berdasarkan pada metodologi sebagai berikut :
1. Melakukan identifikasi dan inventarisasi data sekunder :
a. Melakukan inventarisasi data hasil pelaksanaan kegiatan 2011, meliputi: i. Data hasil verifikasi penerima dan penerima kartu kendali tahun 2011; ii. Data dan karakteristik lembaga penyalur dan jalur distribusi;
iv. Volume realisasi penyaluran SP(P)BE dan penerimaan penyalur di wilayah terpilih tahun 2011.
b. Melakukan pengolahan dan flling data awal;
c. Melakukan analisa awal terhadap data hasil kegiatan 2011 dalam penentuan strategi dan perencanaan lapangan.
2. Melakukan perijinan dan koordinasi dengan Stakeholder meliputi : a. Mempersiapkan administrasi perijinan ke Stakeholder ;
b. Melakukan perijinan kepada Pemerintah Daerah Propinsi dan Kabupaten/Kota setempat;
c. Melakukan koordinasi dan sosialisasi perencanaan kegiatan dengan stakeholder; dan
d. Melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah dalam hal penerapan regulasi daerah.
3. Melakukan persiapan dan pelatihan kepada pelaksana kegiatan di wilayah, meliputi : a. Melakukan persiapan sarana dan prasarana pelaksanaan kegiatan di wilayah; b. Melakukan pelatihan personil pelaksana; dan
c. Melakukan mobilisasi personil dan non personil.
4. Implementasi infrastruktur sistem pendistribusian tertutup LPG Tertentu, meliputi : a. Melakukan pendistribusian dan instalasi infrastruktur sistem pendistribusian
tertutup LPG tertentu di wilayah, meliputi :
i. Melakukan instalasi infrastruktur IT berupa EDC di subpenyalur; dan ii. Melakukan instalasi perangkat komputer kepada seluruh penyalur; b. Instalasi infrastruktur sistem pendistribusian tertutup LPG tertentu di pusat.
5. Mengoperasikan peralatan serta melakukan pembinaan dan pengawasan dalam pelaksanaan sistem pendistribusian tertutup LPG tertentu, meliputi:
a. Operasi Wilayah
i. Melakukan pengecekan dan perawatan peralatan secara periodik; dan ii. Memberikan pelaporan hasil pengecekan dan perawatan (upeatee).
b. Pelaksanaan pelayanan terpadu penanganan dan informasi pelanggan LPG tertentu dan lembaga penyalur, meliputi:
i. Menerima pengaduan dari pengguna dan lembaga penyalur LPG tertentu terkait permasalahan terhadap sistem dan penyaluran; dan
ii. Memberikan pelayanan ke pengguna LPG tertentu (penerima kardal), dan lembaga penyalur LPG tertentu terkait pergantian kartu rusak/hilang, perbaikan kartu, perbaikan EDC, dan perbaikan desktop.
c. Pembinaan dan Pengawasan terhadap pelaksanaan sistem pendistribusian tertutup LPG tertentu meliputi:
ii. Melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap subpenyalur dalam pelaksanaan penyaluran serta infrastruktur transaksi pembelian; dan
iii. Melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pengguna dalam transaksi pembelian LPG tertentu di subpenyalur yang telah ditunjuk.
6. Verifikasi Distribusi Isi Ulang LPG tertentu, meliputi :
a. Melakukan verifikasi on desk berdasarkan data realisasi penyaluran MySAP dengan SPBBE dan lembaga penyalur;
b. Melakukan verifikasi penyaluran isi ulang LPG Tertentu di lapangan berdasarkan verifikasi on desk (point a) MySAP dengan data di SPPBE dan lembaga penyalur di wilayah kegiatan meliputi:
i. Melakukan pemeriksaan data penyaluran SPPBE dan lembaga penyalur; ii. Melakukan pemeriksaan ketepatan isi tabung LPG tertentu.
7. Pelaporan dan presentasi
Laporan:
a. Laporan Pendahuluan; b. Laporan Antara; c. Laporan Akhir; dan d. Ringkasan Eksekutif.
Presentasi:
a. Presentasi Laporan Pendahuluan; b. Presentasi Laporan Antara; dan c. Presentasi Laporan Akhir.
1.6 Hasil/Output
Hasil/output dari kegiatan ini adalah:
1. Tersedianya sistem pengawasan pendistribusian tertutup LPG tertentu yang sudah diimplementasikan, dikembangkan serta dioperasikan pada di wilayah yang ditetapkan.
2. Termonitornya kegiatan pendistribusian LPG tertentu secara aktual dan efektif di wilayah yang ditetapkan.
1.7 Objek Kegiatan
Objek pelaksanaan implementasi sistem pendistribusian LPG tertentu secara tertutup meliputi:
1. Rumah tangga dan usaha mikro penggunaLPG tertentu; 2. Penyalur dan sub penyalur LPG Tertentu;
3. SPPBE/SPBE;
4. Stakeholder terkait.
1.8 Wilayah Kegiatan
BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1 Tinjauan Regulasi Terkait Pelaksanaan Program Sistem
Distribusi Tertutup di Daerah
2.1.1 Regulasi Terkait Otonomi Daerah
Beberapa urusan yang menjadi kewenangan daerah pasca reformasi (otoda) dan UU Tentang Pemerintahan Daerah Nomor 32 Tahun 2004, seperti urusan wajib dan urusan pilihan yang menjadi kewenangan daerah diatur dalam ketentuan Pasal 13 dan Pasal 14 yang telah diatur lebih lanjut dengan PP No. 38/2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Propinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota. Dalam rangka penyelenggaraan Pemerintahan Daerah, Pemerintah juga telah menetapkan PP No.41/2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah.Untuk menjalankan urusan pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah tersebut, Pemerintah Daerah memerlukan perangkat peraturan perundang‐undangan.
Secara konseptual ‘’Perundang-undangan” (legislation, wetgeving, atau gesetzgebung)
mempunyai dua pengertian, yaitu; Perundang-undangan merupakan proses pembentukan/proses membentuk peraturan-peraturan Negara, baik pemerintah di tingkat pusat, maupun tingkat daerah (formal). Perundang-undangan adalah segala peraturan Negara, yang merupakan hasil pembentukan peraturan-peraturan baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah (materiil).
Pengertian perundang-undangan tidak hanya tentang proses atau formalitas pembentukan/pembuatan pembentuk peraturan-peraturan Negara atau aspek materiil, melainkan juga seluruh peraturan Negara yang di hasilkan dari pembentukan peraturan-peraturan Negara itu, baik di tingkat pusat maupun daerah harus memenuhi aspek produktifitas dan norma-norma. Aspek produktifitas produk perundang-undangan adalah mengenai daya laku (valieity) dan daya guna (efficacy). Suatu produk hukum berlaku jika mempunyai daya laku atau mempunyai keabsahan (valieity/geltung) yang diperoleh kalau dibentuk oleh lembaga yang berwewenang dan sesuai dengan norma hukum yang berlaku serta secara sah dan memiliki daya guna (efficacy). Hal ini antara lain disebabkan produk hukum yang berlaku sah belum tentu ditaati produk hukum materiil
memenuhi norma. Norma (produk materiil hukum) adalah suatu ukuran yang harus di patuhi oleh seseorang dalam hubungannya dengan sesamanya atau dengan lingkungannya. Dalam perkembangannya, norma diartikan sebagai suatu ukuran atau pedoman bagi seseorang dalam bertindak atau bertingkah bertingkah laku dalam masyarakat. Jadi, inti suatu norma adalah segala aturan yang harus di patuhi.
Produk hukum yang memiliki nilai norma hukum adalah yang di dasarkan kepada ukuran nilai-nilai baik atau buruk yang berorientasi kepada asas keadilan dan bersifat; suruhan (impare), yaitu apa yang harus dilakukan orang; larangan (prohibitee), yaitu apa yang tidak boleh dilakukan orang. Sebaiknya produk hukum daerah (SK Pembentukan Tim Monitoring dan Peraturan WaliKota/Bupati Tentang Penataan Distup) yang ditandatangani oleh regulator daerah yaitu KDH sehingga berfungsi sebagai payung hukum, dapat memenuhi prasyarat seperti tersebut diatas dan memenuhi amanat otonomi daerah.
2.1.2 Tinjauan Mekanisme Pengembangan Regulasi Daerah
Ke depan untuk lebih menjamin kepastian hukum program distup LPG tertentu diperlukan produk hukum daerah seperti Surat Keputusan (SK), atau berupa peraturan yang dibuat oleh Pemerintah Daerah/Pemerintah Kota. Pembentukan Tim Monitoring dan Peraturan WaliKota/Bupati. Peraturan Daerah (Perda) merupakan produk hukum daerah yang dapat menjamin kepastian hukum dan penegakan hukum implementasi tentang Pengawasan dan Penataan Distup di daerah, karena beberapa hal dan adanya sanksi yang lebih pasti.
Secara umum kinerja di bidang pembentukan peraturan perundang-undangan (PUU) di daerah dalam 10 tahun terakhir ini telah memperlihatkan peningkatan baik secara kualitas maupun kuantitas. Hal ini tidak terlepas dari proses penyusunan PUU dengan mekanisme yang makin tertib, terarah, dan terukur, meskipun masih tetap perlu diupayakan penyusunan PUU dengan proses yang lebih cepat dengan tidak mengurangi kualitas PUU yang dihasilkan. Khususnya penyusunan PPU di daerah (Perda dll) sehingga tidak menghambat proses pembangunan dan program pembangunan. Percepatan penyelesaian PUU utamanya perlu didorong terhadap program pembentukan PUU yang penyelesaiannya ditentukan dalam waktu tertentu atau diperlukan segera untuk merealisasikan program-program strategis pembangunan.
ketentuan peraturan perundang-undangan. Perda sebagai jenis PUU nasional memiliki landasan konstitusional dan landasan yuridis dengan diaturnya kedudukan Perda dalam UUD 1945 Pasal 18 ayat (6), UU No.10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, UU No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah termasuk perundang-undangan tentang daerah otonomi khusus dan daerah istimewa sebagai lex specialis dari UU No.32/20042. Selain itu terkait dengan pelaksanaan wewenang dan tugas DPRD dalam membentuk Perda adalah UU No.27 Tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD dan Peraturan Pemerintah No.16 Tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan Peraturan DPRD tentang Tata Tertib DPRD. Pasal 18 ayat (6) UUD 1945 menyatakan bahwa pemerintah daerah berhak menetapkan Peraturan Daerah dan peraturan-peraturan lain untuk melaksanakan otonomi daerah dan tugas pembantuan.Dalam kaitan ini maka sistem hukum nasional memberikan kewenangan atributif kepada daerah untuk menetapkan Perda dan Peraturan Daerah lainnya, dan Peraturan Daerah diharapkan dapat mendukung secara sinergis program-program Pemerintah di daerah.
Perda sebagaimana PUU lainnya memiliki fungsi untuk mewujudkan kepastian hukum (rechtszekerheie, legal certainty). Untuk berfungsinya kepastian hukum PUU harus memenuhi syarat-syarat tertentu antara lain konsisten dalam perumusan dimana dalam PUU yang sama harus terpelihara hubungan sistematik antara kaidah-kaidahnya, kebakuan susunan dan bahasa, dan adanya hubungan harmonisasi antara berbagai peraturan perundang-undangan. Pengharmonisasian PUU memiliki urgensi dalam kaitan dengan asas peraturan perundang-undangan yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, sehingga hal yang mendasar dalam penyusunan rancangan Peraturan Daerah adalah kesesuaian dan kesinkronannya dengan PUU lainnya.
2.1.3 Tinjauan Law Enforcement
Law enforcement atau penegakan hukum menurut para pakar terkait hal-hal berikut:
a. Adanya paksaan dari luar yang berwujud ancaman hukum bagi pelanggarnya (biasanya berupa sanksi fisik yang dapat di paksakan oleh alat Negara).
b. Bersifat umum yaitu berlaku bagi siapa saja dan mengandung nilai norma. Norma hukum bersifat heteronom karena datang dari luar diri kita sendiri norma hukum dapat dilekati dengan sanksi pidana atau sanksi secara fisik. Sanksi pidana atau sanksi pemaksa dalam norma hukum di laksanakan oleh aparat Negara.
perundang-undangan umumnya yang berjenjang-jenjang dan berlapis-lapis dalam suatu hierarki susunan. Suatu Perda berlaku, bersumber, dan berdasar pada peraturan lain yang lebih tinggi peraturan tersebut merupakan norma yang berlaku menurut yang lebih tinggi lagi. Demikian seterusnya Perda itu berlaku, bersumber, dan berlaku pada norma perundangan lain yang lebih tinggi sampai pada suatu sumber yang tidak dapat ditelusuri lagi karena bersifat hipotesis dan fiktif yang disebut Norma dasar (runenorm) dan ditetapkan lebih dulu oleh masyarakat.
Berdasarkan pendapat pakar hukum.
a. perundang-undangan yang lebih rendah derajatnya tidak dapat mengubah atau menyampingkan kententuan-ketentuan perundang-undangan yang lebih tinggi tetapi yang sebaliknya dapat.
b. perundang-undangan hanya dapat dicabut, diubah atau ditambah oleh atau dengan perundang-undangan yang sederajat atau yang lebih tinggi tingkatannya, dst.
2.2 Tinjauan Rantai Suplai LPG Tertentu
Pada sub bab ini membahas tentang tinjauan sistem implementasi sistem pendistribusian LPG tertentu dari berbagai sudut pandang, baik dari rantai distribusinya, mekanisme rayonisasi distribusi, sistem distribusi tertutup, profil lembaga penyalur, manajemen pelayanan, manajemen mutu pengelolaan, maupun manajemen pengendalian pasokannya.
2.2.1 Tinjauan Rantai Distribusi LPG Tertentu
Perkembangan dunia industri, baik manufaktur maupun jasa sangat pesat.Fokus yang mengarah kepada customization kepada konsumen menjadi tantangan berat bagi pelaku bisnis dalam era persaingan saat ini. Era bisnis yang beralih dari kompetisi antar usaha kemudian menjadi Networking antar berbagai unit bisnis membutuhkan berbagai strategi baru dalam mengelola usaha guna mengembangkan unit bisnisnya.
SCM (SupplyChainManagement) adalah konsep atau mekanisme untuk meningkatkan produktivitas total perusahaan dalam rantai suplai melalui optimalisasi waktu, lokasi dan aliran kuantitas bahan. SCM adalah modifikasi praktek tradisional dari manajemen logistik yang bersifat adversial ke arah koordinasi dan kemitraan antar pihak-pihak yang terlibat dalam pengelolaan aliran informasi dan produk tersebut.
SP BE /SP PB
E R ALU NY PE R YALU EN B P SU NA GU NG PE
adalah: pernyerahan/pengiriman produk secara tepat waktu demi memuaskan konsumen, mengurangi biaya, meningkatkan segala hasil dari seluruh supplychain
(bukan hanya satu perusahaan), mengurangi waktu, memusatkan kegiatan perencanaan dan distribusi.
SupplyChainManagement (SCM) dapat pula didefinisikan sebagai pengintegrasian bisnis secara efisien sejak dari pemasok (suppliers), pembuat (manufacturers), gudang (warehouse), dan toko (stores) sampai ke pelanggan akhir, sehingga barang-barang diproduksi dan didistribusikan tepat sesuai jumlah yang dibutuhkan, menuju ke lokasi yang tepat, dan waktu yang tepat, guna meminimalisasi biaya dengan tetap mempertahankan tingkat layanan yang dituntut oleh para pelanggan.
Rantai suplai merupakan jejaring yang terdiri dari banyak pemain, mulai dari pemasok bahan baku, fabrikan, grosiran (wholesaler), distributor, peritel (retailer). Sebelum suatu produk berada di tangan konsumen akhir, produk tersebut harus melewati sejumlah pemain dalam rantai suplai produk tersebut.Sesungguhnya, kekuatan suatu rantai suplai terletak oleh pemain yang terlemah dalam rantai tersebut.Oleh karenanya, menjadi tanggung jawab semua pemain dalam suatu rantai suplai untuk membangun rantai suplai yang kokoh.Rantai suplai yang kokoh hanya bisa dibangun dari pemain-pemain yang memiliki kemampuan yang tinggi dalam menekan biaya yang terjadi dalam keseluruhan rantai suplai dan menjaga ketersediaan.Dari rantai suplai yang kokoh inilah, konsumen akhir dapat mendapatkan produk secara mudah, karena rantai suplai menjaga ketersediaannya dengan harga yang terjangkau dan mampu menekan biaya-biaya yang tidak perlu.
Peran dan Hubungan Antar Entitas Rantai Distribusi LPG Tertentu
Melihat dari jumlah entitas yang ada maka mata rantai suplai LPG 3 Kg relatif pendek dan tidak banyak melibatkan entitas distribusi.Dalam implementasinya bahkan titik awal pendistribusian beranjak dari entitas SPPBE/SPBE, Penyalur/Agen, Sub Penyalur/Sub Agen/Pangkalan dan Pengguna.
SP
Artinya entitas mata rantai suplai yang ada tidak banyak. Dampak yang terjadi bilamana suatu mata rantai suplai suatu barang semakin pendek maka konsekuensi yang ada adalah :
a. Biaya distribusi relatif rendah;
b. Perputaran barang relatif lebih cepat; c. Pengadaan barang relatif lebih cepat;
d. Harga di tingkat pengguna relatif lebih proposional;
Situasi ini sangat menguntungkan pengguna.Selain mendapatkan harga barang yang relatif murah, keuntungan lainnya adalah kemudahan mendapatkan barang tersebut di pasar. Kondisi sebaliknya bilamana mata rantai yang terlibat disuatu rantai distribusi terlalu panjang dan banyak entitias distribusi yang terlibat maka harga distribusi barang tersebut semakin mahal, kelangkaan barang akan lebih mudah terjadi serta dapat menimbulkan peluang-peluang terbentuknya mata rantai baru seperti pengecer yang akan lebih membuat harga semakin tinggi di tingkat pengguna seperti diilustrasikan pada gambar berikut.
Gambar 2-2 Rantai panjang pendistribusian LPG tertentu
Berdasarkan Peraturan Menteri ESDM R.I Nomor 26 Tahun 2009 Tentang Penyediaan dan Pendistribusian LPG Tertentu tersirat rantai distribusi LPG tertentu seperti Gambar 2.2-3 di bawah ini :
Gambar 2-3 Rantai Distribusi LPG Tertentu berdasarkan Peraturan Menteri ESDM R.I Nomor 26 tahun 2009
a. Tepat salur, relatif cepat penyalurannya dan terdistribusi kepada pengguna yang tertentu;
b. Tepat harga, dengan rantai distribusi yang pendek maka tidak banyak entitas distribusi yang terlibat menyebabkan biaya distribusi menjadi minimal sehingga pada akhirnya harga LPG 3 Kg yang harus ditebus pengguna menjadi lebih reasonable; c. Tepat waktu, relatif cepat penyalurannya karena jumlah entitas rantai distribusi tidak
panjang sehingga waktu pendistribusian relatif pendek.
Hubungan SPPBE/SPBE-Penyalur
Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk LPG (SPPBE) dan Statiun Pengisian Bulk LPG (SPBE) merupakan induk pengisian dan pengangkutan LPG 3 Kg beberapa Penyalur/Agen di suatu wilayah. Setiap H-15 Pengambilan Barang LPG 3 Kg, pihak Penyalur/Agen menyerahkan Realisasi Penyaluran Alokasi Harian (Kitir Harian) untuk bulan berjalan kepada PERTAMINA untuk selanjutnya pihak PERTAMINA akan mengesahkan Alokasi Penyaluran Harian tersebut untuk bulan berikut. Berdasarkan kuota yang telah diberikan PERTAMINA kepada setiap Penyalur/Agen, pihak Penyalur/Agen pada hari H melakukan pengambilan barang di SPPBE/SPBE yang ditunjuk.Beberapa Penyalur/Agen LPG 3 Kg di suatu wilayah dapat merujuk ke satu SPPBE/SPBE sebagai sentra pengisian bulk LPG 3 Kg yang telah ditentukan.
Hubungan Penyalur-Sub Penyalur
Hubungan Sub Penyalur-Pengguna
Pada entitas ini terjadi transaksi pembelian refil LPG tertentu antara pengguna dan sub penyalur. Berdasarkan stok yang tersedia, sub penyalur mendistribusikan LPG tertentu kepada pengguna yang membutuhkan.Transaksi bersifat harian dan tercatat dalam suatu media pencatatan. Idealnya secara periodik sub penyalur melaporkan seluruh transaksi pendistribusian (transaksi penjualan refll) LPG tertentu ke penyalur/agen.
2.2.2 Tinjauan Sistem Distribusi Tertutup
2.2.2.1
Gambaran Umum SCM
LPG tertentu dalam kerangka supplychainmanagement merupakan produk yang diidamkan oleh setiap pemain di dalam rantai pasokan, karena secara lanescape
ketidakpastian, LPG tertentu merupakan produk yang memiliki ketidakpastian rendah pada sisi permintaan (permintaannya sangat tinggi) dan ketidakpastian rendah pada sisi pasokan sebagai akibat dari komitmen pemerintah dan pertamina dalam menjamin pasokan LPG ke masyarakat.
Gambar 2-4 Landscape ketidakpastian permintaan dan pasokan
Dengan mengefisienkan segala bentuk aliran di atas, tujuan utama dari sebuah rantai suplai berupa maksimisasi keuntungan dari setiap lembaga penyalur dalam rantai suplai tanpa mengorbankan ketersediaan dapat dipenuhi.Untuk mendesain jejaring rantai suplai yang kokoh, gambar berikut memperlihatkan kerangka kerja yang digunakan.
Ketidakpastian Permintaan
Gambar 2-5 Kerangka pengambilan keputusan untuk desain
jejeaaring rantai distribusi
Fase 1 : Penyusunan Strategi Rantai Suplai
Fase I menyiapkan strategi rantai suplai dengan memperhatikan lanescape
ketidakpastian di sisi suplai dan permintaan dan tingkat kepentingan dari skala ekonomis dalam mendistribusikan produk.
Tujuan utama dari fase pertama dalam mendesain jejaring rantai suplai adalah mendefinisikan strategi yang ingin dikejar oleh rantai suplai. Pemilihan strategi dilakukan dengan memperhatikan lanescape ketidakpastian suplai, permintaan dan tingkat skala ekonomis dalam pendistribusian.
Efcient Supply Chain Responsive Supply Chain
Risk Hedging Supply
Chain Agile Supply Chain
RENDAH TINGGI
KETIDAKPASTIAN PERMINTAAN
Gambar 2-6 Pemilihan strategi rantai distribusi
Dalam kasus pendistribusian LPG, ketidakpastian permintaannya dapat dikatakan rendah karena variabilitas permintaannya yang relatif kecil; ketidakpastian suplai juga dikatakan rendah karena komitmen yang tinggi dari Pemerintah untuk menyalurkan minyak tanah bersubsidi; dan perlunya skala ekonomis yang tinggi untuk mendistribusikan minyak tanah bersubisidi ini. Memperhatikan kenyataan tersebut, strategi rantai suplai yang cocok untuk LPG adalah strategi rantai supply yang efisien (efficient supplychainstrategy). Strategi ini mampu memenuhi tujuan badan usaha dan Pemerintah.Bagi konsumen, stabilnya harga LPG dan ketersediaan yang tinggi merupakan sesuatu yang mereka inginkan.
Fase II : Konfgurasi Rantai Suplai
Fase II untuk menggambarkan konfigurasi rantai suplai yang berisikan pemain-pemain utama mulai dari agen hingga pemain yang terdekat dengan konsumen.Hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun konfigurasi rantai suplai adalah tingkat produktifitas, tingkat persaingan wilayah, faktor biaya, intensif tarif dan pajak, tingkat pola permintaan dan resiko politik.
SPPBE
AGEN SUB PENYALUR KONSUMEN
PERTAMINA ARUS MATERIAL
ARUS TRANSAKSI ARUS INFORMASI DO
DO
Kartu kendali Logbook
Logbook
Gambar 2-7 Konfgurasi arus material, informasi dan transaksi pada pendistribusian tertutup LPG
Berdasarkan Permen ESDM No. 26 tahun 2009, ada 3 aliran utama yang perlu dijaga kelancarannya, yaitu:
Aliran Informasi yang bergerak dari pemain di sisi hilir ke pemain di sisi hulu. Contohnya: agen akan mengorder LPG ke Pertamina, Pertamina memberikan informasi Delivery Oreer (DO) agen ke SPPBE ; sub penyalur akan mengorder ke agen; dan konsumen membeli LPG dari sub penyalur ataupun agen. Supaya tidak terjadi pemborosan (waste) dalam bentuk kelebihan pasokan dalam rantai distribusi, pengorderan yang dilakukan oleh agen, sub penyalur adalah sesuai dengan permintaan dari konsumen akhir.
Aliran material/barang yang bergerak dari pemain di sisi hulu ke pemain di sisi hilir. Contohnya: SPPBE akan menyalurkan LPG ke agen; agen memasok ke sub penyalur , sub penyalur menjual langsung ke konsumen rumah tangga maupun usaha mikro. Jumlah yang disalurkan dari pemain yang lebih dulu harus sesuai dengan tingkat konsumsi yang dihadapi pemain yang berada di sisi hilir.
Aliran transaksi yang bergerak dari pemain di sisi hilir ke pemain di sisi hulu. Contohnya: Konsumen membayar ke sub penyalur; sub penyalur membayar ke agen, dan agen membayar ke Pertamina.
Keputusan-keputusan stratejik yang diambil dalam penentuan konfigurasi rantai suplai dalam pendistribusian minyak tanah bersubsidi mencakup:
Penentuan jumlah fasilitas dalam rantai suplai. Untuk sistem distribusi minyak tanah bersubsidi misalnya, fasilitas disini adalah jumlah agen yang dilayani SPPBE dalam satu wilayah distribusi; dan jumlah sub penyalur yang dilayani satu agen.
Penentuan besar kapasitas setiap fasilitas atau pemain dalam rantai suplai. Dalam sistem LPG yang terorkestrasi, kapasitas setiap pemain dibatasi untuk menghindari terjadinya pemborosan, seperti penimbunan inventori.
Penentuan strategi distribusi untuk menjamin terciptanya kondisi optimal antara efisiensi dan ketersediaan.
Tujuan dari penentuan konfigurasi rantai suplai ini tidak lain adalah untuk meminimalkan biaya total (tahunan) rantai suplai, mencakup biaya-biaya pengadaan, penyimpanan, biaya-biaya fasilitas, biaya transportasi tanpa mengorbankan persyaratan tingkat layanan (service level).
Fase III : Penetepatan Jumlah Pemain (lembaga penyalur) dan kapasitas (kuota)
Fase III dilakukan untuk menentukan jumlah pemain, siapa melayani siapa (membership) berikut kapasitas (kuota) dari masing-masing pemain.Fase ini mempertimbangan kemampuan modal, operasional dan infrastruktur dari lembaga penyalur.
Berbagai alternatif konfigurasi rantai suplai yang dihasilkan di fase kedua selanjutnya akan dianalisis untuk kemudian dicari solusi yang paling baik. Di Fase III ini akan ditentukan siapa melayani siapa dan dalam jumlah berapa. Untuk kasus pendistribusian LPG bersubsidi mulai dari SPPBE, agen dan sub penyalur, akan ditentukan berapa banyak agen yang diperlukan dalam satu wilayah distribusinya berikut kapasitas atau kuota yang diberikan per agen. juga akan ditentukan berapa pangkalan berikut kapasitasnya yang akan dilayani oleh setiap agen dalam satu wilayah distribusi.
Model Optimasi SupplyChainManagement
Memperhatikan lanescape ketidakpastian yang relatif rendah di sisi permintaan dan suplai dari minyak tanah ini, maka desain jejaring dari rantai distribusi mulai dari Depot sampai Pangkalan dapat didekati dengan model optimisasi. Model optimasi terdiri dari satu fungsi tujuan dan satu set fungsi kendala (constraints). Tujuan optimasi adalah untuk meminimumkan biaya distribusi. Jika diketahui volume LPG yang akan didistribusikan, wilayah pendistribusiannya dan konsumen yang dituju, maka pada prinsipnya biaya distribusi tergantung pada beberapa faktor sebagai berikut:
Biaya transportasi
Biaya loaeing dan unloaeing
Jumlah pihak yang terlibat dalam distribusi (agen dan sub penyalur) Jumlah armada distribusi
Minimizing
Fungsi Obyektif = Total Biaya Penyediaan LPG yang terjadi mulaidari SPPBE – Sub Penyalur
Subject to
Kendala-Kendala:
Kapasitas Suplai SPPBE Kapasitas/Kuota Agen Kapasitas/Kuota Sub Penyalur Permintaan di wilayah distribusi
Jadi, di dalam model optimasi umum akan tercakup beberapa model optimasi yang lebih spesifik sebagai berikut:
Penentuan jumlah penyalur optimal per wilayah distribusi Penentuan jumlah sub penyalur optimal per wilayah distibusi Penentuan jumlah armada optimal per wilayah distribusi
Dalam memecahkan masalah ini, maka terlebih dahulu perlu dibuat desain jaringan distribusi dan kemudian menentukan jumlah agen dan sub penyalur yang optimum untuk jaringan tersebut.Setelah itu dibuat model optimasi umum untuk meminimumkan biaya distribusi dan model optimasi yang lebih spesifik untuk penentuan jumlah armada pada setiap wilayah distribusi.
Dengan asumsi eeterministis, model optimisasi yang dipilih adalah model Linear Programming. Model optimisasi menggunakan Linear Programming secara generik dapat dituliskan sebagai berikut:
Tujuan utama dari desain jejaring rantai distribusi LPG tertentu bersubsidi adalah untuk meminimunkan segala biaya-biaya yang timbul dalam mengadakan LPG tertentu bagi konsumen akhir.Karena yang menjadi obyek pengamatan adalah agen/penyalur sampai pangkalan/sub penyalur, maka biaya-biaya yang diminimumkan adalah biaya-biaya yang terjadi mulai dari SPPBE-sub penyalur. Biaya pengadaan LPG tertentu (cost of acquisition) dari agen/penyalur hingga pangkalan/sub penyalur meliputi:
Biaya pengiriman per unit LPG per KM jarak dengan moda transportasi darat; Biaya pengiriman per unit LPG per KM jarak dengan moda transportasi sungai; Biaya pengiriman per unit LPG per KM jarak dengan moda transportasi laut; Biaya bongkar (unloaeing cost) di penyalur dan sub penyalur;
Biaya tetap per unit LPG di agen/penyalur;
Biaya tetap per unit LPG di pangkalan/sub penyalur.
Kapasitas suplai di setiap SPPBE. Kapasitas suplai disini akan menjadi kendala bagi pemenuhan permintaan agregat dari konsumsi LPG bersubsidi di satu wilayah distribusi tertentu. Dalam kasus pendistribusian LPG diasumsikan bahwa total kapasitas suplai semua SPPBE dalam satu wilayah distribusi masih lebih besar dari permintaan agregat di wilayah distribusi tersebut;
Kapasitas/kuota agen penyalur LPG. Disini diasumsikan kapasitas/kuota untuk setiap agen sudah ditetapkan, meskipun dari keluaran model nantinya akan diketahui berapa volume LPG yang disalurkan ke setiap agen;
Kapasitas/kuota sub penyalur. Sama halnya dengan kapasitas/kuota di agen, kapasitas/kuota setiap sub penyalur juga dibatasi;
Permintaan agregat per wilayah distribusi.
Keluaran dari model optimisasi ini adalah penetapan berapa banyak pemain, agen penyalur LPG dan sub penyalur, yang seharusnya berada dalam satu wilayah distribusi sehingga total biaya yang terjadi dalam penyaluran LPG di wilayah tersebut menjadi minimum. Dari keluaran model optimisasi ini, juga akan diketahui siapa melayani siapa dan jumlah berapa besar, misalnya sub penyalur mana saja yang akan disuplai oleh satu agen berikut besar volume penyaluran LPG.
Berdasarkan uraian di atas implementasi sistem distribusi tertutup LPG tertentu dilaksanakan guna mengeliminasi beberapa kelemahan mekanisme rayonisasi pendistribusian LPG tertentu di suatu wilayah. Filosofi sistem ini adalah restrukturisasi atau menata kembali mekanisme rayonisasi pendistribusian LPG tertentu atau menata kembali mekanisme distribusi LPG tertentu existing di suatu wilayah berdasarkan kebutuhan agar optimalisasi kestabilan supply dan eemane LPG 3 Kg tercapai. Proses retrukturisasi meliputi beberapa penataan:
a. Penataan yang kluster wilayah distribusi/penyaluran LPG tertentu; b. Penataan lembaga penyalur sub penyalur;
c. Penataan kelompok pengguna.
Keluaran utama dari penataan ini, pendistribusian LPG tertentu setidaknya memiliki 3 (tiga) karakteristik :
a. Tepat waktu; b. Tepat salur; c. Tepat harga.
Tepat salur mengandung penegertian LPG 3 Kg sebagai barang komoditi subsidi dapat disalurkan kepada masyarakat pengguna tertentu tidak melebar pendistribusian kepada masyarakat yang tidak berhak menggunakan LPG 3 Kg. Pemerintah melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 26 Tahun 2009 telah mengamanatkan bahwa pengguna LPG 3 Kg adalah masyarakat yang memiliki pengeluaran belanja rumah tangga tidak lebih dari Rp. 1.500.000,- (Satu juta lima ratus ribu rupiah). Peraturan tersebut menyiratkan bahwa pengguna LPG 3 Kg adalah bukan masyarakat umum tetapi masyarakat tertentu sehingga dalam beberapa pembahasan istilah LPG 3 Kg kerap disebut juga LPG Tertentu.
Tepat harga mengandung pengertian LPG tertentu sebagai barang pokok strategis bersubsidi dapat dibeli oleh masyarakat pada tingkat harga yang wajar.
2.2.2.2
Gambaran Umum SCM Terkait Sistem Distribusi Tertutup
Depot LPG Kilang Pertamina
Kilang Swasta
Import
SPPBE
1
Agen 1
3
2
Sub Penyalur Sub Penyalur
End User
4
Agen 2
5 5
KETERANGAN
Distribusi LPG curah dari kilang ataupun import ke depot LPG dan Depot LPG ke filling plan (SPPBE) Proses pengisian di filling plan (SPPBE)
Agen mengambil tabung 3 kg yang sudah terisi gas dengan alat transportasi milik agen untuk selanjutnya disimpan di inventory agen. Agen menyalurkan LPG 3 kg ke sub penyalur, sub penyalur menyalurkan LPG 3 kg end user ( rumah tangga dan usaha mikro)
Pada kondisi lapangan ditemukan bahwa Agen juga bisa menjual langsung ke end user
Arus Material LPG 3 Tertentu
Gambar 2-8 Arus material LPG tertentu
SR GASDOM wilayah dstribusi
SPPBE
1 2
Sub Penyalur
End User
3
Agen 2
4
KETERANGAN
End User menyerahkan kartu kendali pada saat pembelian LPG di Pengecer
Sub Penyalur mengorder LPG ke Agen dengan bukti DO ( delevery Order) atas dasar permintaan end user.
Agen mengoder LPG ke Pertamina dengan bukti DO ( Delevery Order) atas dasar kuota kontral dengan pihak Gasdom di wilayah oerasionalnya. Selanutnya Agen akan mengambil sejumlah tabung LPG 3 kg sesuai DO yang diberikan oleh Pertamina ke SPPB.
Pertamina akan memerintah SPPBE untuk menyalurkan tabung LPG 3kg ke Agen sesuai dengan DO Agen ke Pertamina.
5 Arus Informasi LPG Tertentu
Gambar 2-9 Arus Informasi LPG pada distribusi eksisting
SR GASDOM wilayah dstribusi
SPPBE
1 2
Sub Penyalur
End User
3
Agen 2
KETERANGAN
Sub penyalur menjual ke end user dengan harga sesuai patokan pemerintah setempat ditambah margin keuntungan sub penyalur. Dan end user membayar secara tunai. Agen menjual ke sub penyalur dengan harga HET dan membeli ke Pertamina dengan harga subsidi.
Pertamina menjual LPG ke agen dengan harga subsidi dan agen membayar ke Pertamina secara tunai sesuai dengan kuota kontrak perjanjian. Pertamina memberikan fee kepada SPPBE untuk setiap pengisian tabung. Besaran fee ditentukan sesuai kontrak penugasan dengan Pertamina.
4 Arus Transaksi LPG Tertentu
Gambar 2-10 Arus transaksi LPG Tertentu pada distribusi eksisting
2.2.3 Profl Lembaga Penyalur
Gambar 2-11 Infrastruktur pendistribusian LPG PT Pertamina
Rantai pasokan LPG pada saat ini oleh PT Pertamina (Persero) melibatkan beberapa komponen distribusi. Komponen distribusi tersebut meliputi: LPG FP/ Depot LPG, SPPBE/SPBE, SPPEK, Agen, Sub Agen/Penyalur/Moeern Outlet.
LPG FP/DEPOT LPG
Depot LPG adalah unit penampungan sementara dan penyaluran LPG yang berfungsi untuk menyuplai dan mendistribusikan LPG. Saat ini pertamina memiliki 15 depot LPG yang tersebar di lima region pemasaran LPG.
Tabel 2-1 Daftar Depot LPG Pertamina
NAMA DEPOT REGION ALAMAT
Depot Tanjung Uban 1 Batam
Depot Tandem 1 Jalan Medan Tanjung Pura
Depot Pangkalan Susu 1 Sumatera Utara
Depot P. Layang 1 Palembang
Depot Tj Priok 2 Jl Jampea Jakarta
Depot Balongan 2 Indramayu
Depot Eretan 2 Indramayu
Depot Cilacap 3 Jl MT Hariyono-Cilacap
Depot Semarang 3 Semarang- Jawa Tengah
Depot Tanjung Perak 4 Jl Niam Barat- Surabaya Depot TTM Manggis 4 Jl Karang asem Desa manggis
Depot Gresik 4 Gresik- Jawa Timur
Depot Tanjung Wangi 4 Banyuwangi-Jawa Timur Depot Balikpapan 5 Jalan Minyak-Balik Papan Depot Makasar 5 Jalan Moch Hatta Makasar
Sumber : Ditjen Migas, 2009
SPPBE merupakan fllingplant yang bertugas untuk mengangkut, mengisikan dan menyerahkan LPG baik dalam bentuk tabung ataupun curah kepada Agen yang ditunjuk oleh PERTAMINA. Kelengkapan fasilitas standar SPPBE yang telah ditetapkan oleh Pertamina sebagai syarat pendirian SPPBE meliputi :
Peralatan dan kelengkapan flling LPG sesuai dengan standar PT. Pertamina yang terdiri dari:
- StorageTank;
- LPG FillingMachines;
- Chain Conveyor;
- Pengosong Tangki.
Duiker, dibutuhkan untuk saluran air umum di depan bangunan SPPBE Sensor api dan perangkat Pemadam kebakaran
Generator Racun Api Fasilitas umum:
- Toilet;
- Mushola;
- Lahan parkir.
Instalasi listrik dan air yang memadai Rambu-rambu standar PT. Pertamina:
- Dilarang merokok; Jagalah kebersihan;
- Tata cara penggunaan alat pemadam kebakaran.
Pelaksanaan operasional SPPBE harus sesuai dengan SOP (Staneare Operating Procedure) PT. Pertamina
Perekrutan dan pengadaan karyawan adalah tanggung jawab pemohon, dan para pekerja diwajibkan bekerja sesuai dengan etika kerja standar PT. Pertamina.
LPG diambil dari LPG FP PERTAMINA, Kilang, dan Lapangan Gas.Stok LPG di SPPBE merupakan milik PERTAMINA (sistem konsinyasi) dan setiap bulan di SPPBE dilakukan stok opname.Besar losses yang diizinkan di setiap SPPBE adalah 0% dari truput bulanan (zero losses). SPPBE swasta yang telah Beroperasi sebelum program konversi sebanyak 49 unit dan akan dibangun di tahun 2009-2012 sebanyak 163 unit (sudah ada ijin). Tinjauan Masyarakat Pengguna LPG
2.2.4 Karakteristik Pengguna LPG Tertentu
waktu pembakaran. Sementara itu kebijakan konversi sendiri muncul melalui Keppres 103 tahun 2007 yang menyatakan bahwa semua masyarakat yang masih menggunakan minyak tanah, untuk dapat dialihkan kepada penggunaan LPG. Dengan demikian hasil dari kebijakan tersebut setelah dilakukan pendataan adalah lebih dari 70% adalah kelas bawah, dan sisanya adalah adalah kelas menengah yang belum mau pindah kepada energy LPG (Tempo Interaktif, 2010).
Secara umum dari tinjauan pada beberapa penelitian yang berhubungan dengan masalah konversi serta LPG 3 KG didapatkan hasil bahwa masyarakat merespon baik terhadap program ini.Salah satu indikator respon yang baik adalah dengan semakin meningkatnya pengguna isi ulang minyak tanah yang beralih ke LPG.Penggunaan LPG dirasakan lebih hemat daripada minyak tanah. Hal ini diperkuat juga dengan hasil uji coba pasar yang dilakukan Pertamina di Kelurahan Cempaka Baru, Jakarta Pusat pada Agustus-November 2009. Survey yang dilakukan terhadap 500 responden menghasilkan kesimpulan bahwa dalam satu minggu pengguna LPG dapat menghemat Rp 2.000,00 s.d. Rp 3.000,00 dibandingkan ketika masih menggunakan minyak tanah. Hal ini disebabkan oleh energi yang dihasilkan oleh LPG jauh lebih besar dibandingkan minyak tanah energi dari satu kilogram LPG ekuivalen dengan yang dihasilkan oleh 1,7 liter minyak tanah. Dari uji coba tersebut, 99% masyarakat menyatakan akan tetap menggunakan LPG 3 kg dan tidak akan kembali ke minyak tanah.
Melalui penelitian yang dilakukan oleh sejumlah mahasiswa dengan mengambil
samplingdi Surakarta pada tahun 2008 terhadap penggunaan LPG di masyarakat adalah sebagai berikut:
Jenis Gas Elpiji Yang Digunakan
3kg 12 kg 50 kg 3 kg dan 12 kg
Jenis gas elpiji yang paling banyak digunakan adalah jenis tabung 3 kg dan diikuti tabung 12 kg. Hal ini dengan alasan dikarenakan tabung 3 kg masih disubsidi oleh pemerintah sehingga harganya pun lebih murah dari tabung 12 kg.Selain itu rata-rata mendapat tabung LPG3 kg dikarenakan pemberian dari program pemerintah.
Lama Penggunaan Gas Elpiji
Gambar 2-13 Diagram Batang Lama Penggunaan Gas Elpiji yang
Digunakan
Rata- rata hampir seluruh responden telah menggunakan gas elpiji lebih dari 6 bulan.Hal ini menunjukkan keberhasilan program konversi gas elpiji yang baru disosialisasikan pada awal tahun 2007.
Tempat Pembelian Gas Elpiji
Gambar 2-14 Diagram batang tempat pembelian gas elpiji masyarakat
Warung merupakan tempat yang paling banyak dituju oleh responden dalam membeli gas elpiji.berdasarkan pada data grafik tersebut sebanya 62% membeli di warung, sedangkan sebanyak 38% membeli ketempat lain selain warung. Kebanyakan warung memiliki jarak yang dekat dengan rumah sehingga mempermudah dalam pembelian, selain itu di warung responden dapat membeli dengan bentuk satuan.
Frekuensi Pembelian Gas Elpiji
< 1 minggu 1 minggu 2 minggu 3 minggu 4 minggu 0
Gambar 2-15 Diagram Batang Frekuensi Pembelian Gas Elpiji
Masyarakat
Untuk pemakaian tabung 3 kg frekuensi pembelian rata-rata dilakukan <1 minggu, 1 minggu dan 2 minggu sekali, adanya perbedaan ini disebabkan oleh berbagai macam faktor, antara lain perbedaan jumlah anggota keluarga, frekuensi memasak/penggunaan gas elpiji dan faktor-faktor lainnya. Sedangkan untuk tabung 12 kg rata-rata frekuensi pembelian dilakukan sebulan sekali.
Motivasi Dalam Menggunakan Gas Elpiji
di pasaran. Selain itu juga karena kemudahan yang didapat daripada menggunakan minyak tanah. Berikut ini disajikan gambar diagram batang motivasi masyarakat dalam menggunakan LPG.
Gambar 2-16 Diagram Batang Motivasi Dalam Menggunakan Gas
Elpiji
Motivasi masyarakat paling besar dalam menggunakan gas elpiji dikarenakan kepraktisan dalam menggunakan.Selanjutnya harga elpiji dianggap lebih murah dan lebih mudah didapatkan dari pada minyak tanah yang harus mengantri berjam-jam untuk memperolehnya.
Pengenalan Program Konversi Gas Elpiji
Iklan di TV/ Media Massa Penyuluhan RW/ Petugas LPG 0
Gambar 2-17 Diagram Batang Pengenalan Program Konversi Gas
Ternyata cara responden mengenal gas elpiji paling banyak melalui iklan di TV/media massa. Pemerintah banyak menayangkan iklan-iklan mengenai konversi gas elpiji di TV, radio bahkan koran. Namun hal ini tidak lah cukup, pemerintah harus lebih meningkatkan sosialisasi penyuluhan secara langsung kepada masyarakat, hal ini terkait rumor-rumor mengenai gas elpiji yang jika dibiarkan akna meresahkan masyarakat.
Kepercayaan Terhadap Program Konversi
152.5 Cukup Per-caya; 152.5Percaya; 165
Sangat
Gambar 2-18 Diagram Batang Kepercayaan Terhadap Program
Konversi Gas Elpiji
Kepercayaan masyarakat terhadap konversi gas elpiji sangat beragam ada yang percaya, cukup percaya dan kurang percaya.Kurang percayanya masyarakat terhadap program konversi elpiji dikarenakan masyarakat masih kurang mengerti maksud dan tujuan pemerintah dalam melakukan program ini.Selain itu maraknya kasus peledakan gas elpiji membuat masyarakat merasa tidak aman ketika menggunakan gas elpiji.Untuk itu sosialisasi diikuti pembenahan dari material konversi perlu dilakukan agar mengembalikan kepercayaan masyarakat.
Persepsi Terhadap Gas Elpiji
Sang
Gambar 2-19 Diagram batang persepsi terhadap penyuluhan gas elpiji
Berdasarkan data grafik tersebut dapat diketahi bahwa materi iklan dan penyuluhan yang diberikan menurut responden sudah dapat dimengerti, mudah diingat, informatif, mendidik dan dapat dipercaya. Halini tidak terlepas dari usaha yang telah dilakukan
LPG Lebih Murah Dibanding Minyak Tanah
Ju
Gambar 2-20 Diagram Batang Persepsi Terhadap Harga Elpiji
tersebut hanya dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga pada umumnya pula selama 5 hari. Berdasarkan asumsi tersebut maka dapat kita ketahui bahwa penggunaan gas elpiji lebih hemat dan irit dibandingkan penggunaan minyak tanah karena memiliki selisih 2 hari penggunaan dengan konversi massa yang sama.
c. Kemudahan dalam mendapatkan
LPG Lebih Mudah Didapat Dibanding Minyak Tanah
Ju
Gambar 2-21 Diagram batang persepsi terhadap kemudahan dalam
mendapatkan elpiji
L minyak tanah.Karena hal ini lah menjadi salah satu motivasi masyarakat memutuskan
LPG Lebih Ramah Lingkungan Di Banding Minyak Tanah
Ju
Gambar 2-22 Diagram batang persepsi emisi gas elpiji
Lebih dari 80% responden setuju bahwa gas elpiji lebih ramah lingkungan dari minyak tanah. Dilihat dari segi emisi (gas pembakaran) ternyata berdasarkan fakta yang ada menjelaskan bahwa gas pembakaran kompor minyak tanah berupa asap kompor menyebabkan asap dengan tingkat polutan yang cukup tinggi dilihat dari warna asap kompor tersebut yaitu hitam, sedangkan pada kompor yang menggunakan LPG terbukti lebih ramah lingkungan dengan gas pembakaran yang lebih bersahabat.
Sang
Gambar 2-23 Diagram batang persepsi terhadap cara penggunaan
elpiji
68% setuju dan 25% sangat setuju bila pemakaian gas elpiji lebih praktis dari minyak tanah. Di segi penggunaan, LPG dinilai lebih mudah dalam penggunaan dibandingkan penggunaan kompor yang menggunakan minyak tanah dengan bukti semisal pada saat menggunakan kompor minyak tanah, perlu menggunakan sumbu yang kemudian dibasahi dengan minyak tanah dan disulut dengan api barulah sumbu tersebut akan menghasilkan api yang digunakan untuk dimasukan ke sumbu kompor guna meratakan sumbu (kapilaritas) pada kompor minyak tanah. Di sisi lain ketika menggunakan kompor gas yang menggunakan LPG, maka tidak perlu repot-repot untuk melakukan prosedur selama prosedur kompor minyak tanah. Selain hal-hal kemudahan yang telah dijabarkan diatas, kemudahan dan kepraktisan penggunaan kompor berbasis LPG adalah kemudahan dalam perawatannya.
Sang
Masih Merasa Takut Jika Menggunakan LPG
Ju
Gambar 2-24 Diagram batang persepsi terhadap keamanan elpiji
Hasilnya sebanyak 26% sangat setuju, 41% setuju, 13% ragu-ragu, 19% tidak setuju dan 1% sangat tidak setuju bahwa mereka masih merasa takut menggunakan gas elpiji. Ketakutan masyarakat dalam menggunakan gas elpiji terpaku pada isu bahwa elpiji atau kompor gas lebih rawan untuk meledak. Untuk masyarakat yang tidak setuju menganggap bahwa dengan penggunaan yang benar ledakan pada gas elpiji dapat dihindari apalagi saat ini pemerintah menetapkan bahwa tabung gas elpiji telah memenuhi standard Safety SNI 19-1452-2001
Dari kesimpulan diatas bahwa, adanya peningkatan yang signifikan terhadap penggunaan LPG, terutama LPG 3 kg. Grafik yang tinggi terhadap posisi jabatan tidak bekerja yang tinggi menunjukkan signifikansi hubungan antara pembagian LPG 3 kg dengan masyarakat tidak mampu. Selanjutnya, walaupun dahulu masyarakat banyak yang menolak konversi dengan berbagai alasannya, namun dengan berjalannya Waktu pada akhirnya masyarakat dapat menerima konversi dengan baik, rasa ketakuatan menggunakan LPG masih ada, untuk itu proses sosialisasi serta pengamanan penggunan masih harus terus dikuatkan. Kesimpulan selanjutnya adalah adanya keterkaitan yang erat antara pola pembelian isi ulang LPG dengan tempat pembelian yaitu warung, hal ini berhubungan dengan jarak kedekatan antara rumah serta tempat pembelian isi ulang, terdapat hubungan yang signifikan antara jarak beli isi ulang dengan tingkat kerapatan konsumsi, dimana pengguna LPG 3 kg rata-rata membeli isi ulang 1-2 minggu sekali.
diperkirakan penghematan anggran akan tidak tercapai sesuai landasan dasar dari adanya program konversi.
Selanjutnya melalui Peraturan Menteri ESDM nomon 26 tahun 2006, ditetapkan bahwa masyarakat yang berhak mendapatkan dan menggunakan LPG 3 kg atau LPG yang bersubsidi adalah masyarakat yang berpenghasilan atau berpengeluaran tidak lebih dari 1,5 juta perbulan. Filterisasi pengguna LPG 3 kg ditetapkan, sehingga masyarakat yang memang membutuhkan subsidilah yang berhak mendapatkan, apabila diperhitungkan melalui standar perkapita pendapatan, maka katagori ini adalah golongan menengah kebawah. Lebih lanjut karakteristik spesifik dari masyarakat pengguna LPG 3 Kg Jawa Tengah, akan dijelaskan pada sub bab berikut.
2.2.5 Estimasi Demand LPG Tertentu
Melalui metode pencocokan data kitir tiap agen serta pertamina dikombinasikan dengan perhitungan perkiraan konsumsi bulanan masyarakat terhadap LPG 3 kg yang tersurvei diatas sekaligus perhitungan berdasarkan filterisasi Daftar Penerima Paket Perdana di 2 Kota di Jawa Tengah, maka didapatkan bahwa perkiraan konsumsi untuk KK rata-rata perbulan adalah 3-4 tabung, sementara konsumsi Usaha Mikro 9-13 tabung perbulan diklaikan dengan DP3 terverifikasi maka didapatkan perkiraan kebutuhan konsumsi masyarakat suatu Kota. Sekaligus melihat keseimbangan pasar, agar tidak merugikan penjual maka, data tersebut disetarakan dengan data supply pedagang pada Kota tersebut.
Perkiraan ini dibutuhkan untuk mendapatkan nilai baku terhadap kebutuhan suatu Kota sekaligus diharapkan dapat terhitung nilai baku subsidi suatu Kota dari pemerintah. Selain itu perkiraan ini dipelukan juga untuk memastikan bahwa masyarakat terjamin mendapatkan isi ulang LPG, serta memastikan bahwa penjual juga mendapat keuntungan yang baik terhadap penjualan LPG 3 kg.
Melalui mekanisme distribusi tertutup, dengan pemberlakuan penggunaan kartu serta pencatatan transaksi baik secara elektronik maupun manual diharapkan perkiraan ini tidak melenceng jauh dari kenyataan lapangan transaksi penjual dan pembeli.Sehingga diharapkan masing-masing pihak mendapatkan hak dan kewajiban yang sama-sama menguntungkan.
2.2.6 Tinjauan Perilaku Masyarakat Terhadap Perkembangan Teknologi Informasi
- Kegiatannya, - Hasil kegiatannya,
- Institusi yang menampilkan peran-peran yang menumbuhkembangkan dan memelihara science dan teknologi, atau
- Perangkat-perangkat
Dari institusi tersebut dimana tertegakkan fungsi-fungsi yang memungkinkan tumbuh-kembangnya science dan teknologi, dan sebagainya.Agar kekaburan (fuzziness) tersebut dapat dihindari, dalam merumuskan makna istilah science dan teknologi, diambil titik tolak pandang bahwa baik science maupun teknologi, keduanya adalah pengetahuan ilmiah. Dengan titik tolak pandang tersebut, karena pengetahuan merupakan himpunan informasi tentang hal-hal yang diketahui, maka science maupun teknologi masing-masing juga merupakan himpunan informasi yang menjadi bagian atau sub-set dari pengetahuan ilmiah. ‘Science’ merupakan bagian dari himpunan informasi yang termasuk dalam pengetahuan ilmiah, dan berisikan informasi yang memberikan gambaran tentang struktur dari sistem serta penjelasan tentang pola-laku sistem-sistem tersebut.Sistem yang dimaksud dapat berupa sistem-sistem alami, maupun sistem-sistem yang merupakan rekaan pemikiran manusia mengenai pola laku hubungan dalam tatanan kehidupan masyarakat yang diinstitusionalisasikan. Bila sistem yang menjadi perhatiannya merupakan sistem alami, maka disebut ilmu pengetahuan alam atau
‘natural sciences’, dan bila yang menjadi perhatian adalah sistem-sistem yang merupakan rekaan pemikiran manusia mengenai pola laku hubungan dalam tatanan kehidupan masyarakat, maka disebut ilmu pengetahuan sosial atau ‘social- sciences’.
fenomena teknologis tersebut terbentuk, atau teroperasikan.Dari uraian terdahulu, dapat disimpulkan bahwa teknologi merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang terkait dengan penciptaan sistem-sistem, sedangkan ‘science’ merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang terkait dengan penggambaran dan penjelasan mengenai sistem-sistem yang telah ada.
Informasi ilmiah, baik science maupun teknologi hanya dapat dikomunikasikan dan dijangkau bila diungkapkan dalam berbagai bentuk objek. Selain itu, informasi yang bersifat preskriptif bila diikuti petunjuknya akan menghasilkan suatu produk, baik benda yang mampu melaksanakan fungsi tertentu, atau pelayanan dan organisasi yang melaksanakan fungsi-fungsi tertentu, menanggapi suatu kebutuhan. Proses penjelmaan informasi, baik yang bersifat deskriptif maupun yang bersifat preskriptif, menjadi objek-objek, merupakan proses objektifikasi informasi dan objek yang mengandung informasi merupakan medium pembawa informasi.Hanya melalui objektifikasi informasi, dan medium pembawa informasi itulah science dan teknologi dapat dikomunikasikan, dipelajari dan difungsikan, serta dimengerti. Dengan demikian proses objektifikasi ke medium pembawa informasi merupakan aspek yang penting untuk difahami di dalam berteknologi. Salah satu hasil teknologi yang penting adalah terciptanya sistem-sistem yang memungkinkan dilakukannya proses-proses objektifikasi informasi, baik informasi mengenai fenomena-fenomena yang ada di alam, maupun informasi yang berupa hasil pemikiran manusia, baik scientifc information maupun technological information.Hasil dari objektifikasi informasi dapat berupa medium yang pasif, seperti uraian tertulis di buku atau video kaset.Media semacam itu merupakan tempat dimana informasi yang terobjektifikasikan tersimpan dan dapat di-‘acces’, serta melalui penyebaran media tersebut tersebar juga informasinya. Bentuk lain dari hasil objektifikasi informasi adalah medium yang aktif, yaitu benda-benda atau struktur-struktur fisik lain, ataupun perangkat-perangkat institusional, yang dibentuk dengan struktur dan pola laku yang merupakan penjelmaan dari operasionalisasi informasi yang diobjektifikasikan. Informasi yang terobjektifikasikan di media yang aktif ini adalah preskripsi teknologi, hasil dari kegiatan merancang dalam ilmu teknik.
Dikenal tiga kategori media aktif:
1. Yang pertama adalah media yang menghasilkan kerja mekanik, dan dapat dipandang sebagai sarana untuk memperluas dan memperkuat kemampuan otot manusia. Sebagai contoh adalah mesin diesel, pompa, turbin, bor, dsb.
3. Yang ketiga adalah media yang mempunyai fungsi-fungsi yang dapat dipandang sebagai peniru fungsi otak manusia, walaupun jauh lebih sederhana. Contoh yang kini sangat terkenal adalah komputer (eigital electronic computer), controller dalam sistem instrumentasi, hand calculator, dan sebagainya.
Media yang mempunyai fungsi-fungsi yang dapat dipandang sebagai peniru fungsi otak manusia tersebut pada dasarnya diperlengkapi dengan kemampuan yang dapat melaksanakan operasi-operasi: membandingkan, menjumlahkan, atau mengurangkan, serta memutuskan (to eeciee) dengan pola yang sesuai dengan preskripsi yang terobjektifikasikan ke media tersebut, mengikuti kriteria yang terprogram pada media yang bersangkutan. Keunggulan sistem semacam ini, yang membuatnya seolah-olah mempunyai kemampuan berpikir, adalah karena tersedianya sarana penyimpan informasi yang dapat dibaca setiap saat. Bila ke dalam saran penyimpan informasi tersebut diisikan program yang berupa instruksiinstruksi logis (logical instructions), maka pembacaan dan pengoperasian instruksi-instruksi tersebut akan menyebabkan terjadinya proses-proses yang tampak sebagai proses-proses berpikir. Dalam kenyataan, sistem-sistem hasil rekaan dari aktifitas teknologi dapat mengandung salah satu atau kombinasi dari ketiga jenis media tersebut. Cara lain dalam mengkategorikan media pembawa teknologi, sebagaimana dikemukakan oleh Asia-Pacifc Center for Technology Transfer (APCTT), adalah atas dasar bentuk medianya:
1. Barang fungsional (bahan, mesin, dan peralatan);
2. Dokumen atau medium penyimpan lainnya (buku, disket, gambar teknik, CD room, dsb);
3. Orang (yang ahli), atau 4. Organisasi.
Masing-masing secara berturutan disebut: technoware, infoware, humanware, dan
himpunan informasi tentang ilmu atau pengetahuan yang bersifat deskriptif, yaitu memberikan gambaran dan penjelasan tentang sistem yang ada, baik sistem-sistem fisik alamiah maupun sistem-sistem-sistem-sistem sosial, dikategorikan sebagai ‘science’.Bila arah perhatian tertuju kepada sistem fisik alamiah maka disebut natural sciences dan bila arah perhatian tertuju kepada sistem sosial disebut social sciences. Bagian dari himpunan informasi tentang ilmu atau pengetahuan yang bersifat preskriptif, yaitu memberikan petunjuk atau resep tentang bagaimana membentuk, atau menciptakan, ataupun tentang bagaimana cara mengoperasikan suatu sistem, disebut teknologi.
Telah dikemukakan terdahulu bahwa ilmu atau pengetahuan yang tergolong sebagai
Upaya-upaya teknologis, yaitu upaya-upaya untuk menciptakan sistem-sistem, memerlukan pemahaman akan sistem-sistem yang telah ada, karena sistem ciptaan orang (anggota masyarakat) hanya dapat dibentuk dengan mengubah atau mensintesa struktur sistem-sistem yang telah ada. Oleh karena itu, hasil dari upaya-upaya ilmiah sangat penting di dalam menyediakan basis informasi bagi upaya-upaya teknologis.Uraian diatas menunjukkan bahwa tingkat kemampuan teknologis suatu masyarakat sangat kuat dipengaruhi oleh intensitas upaya ilmiah yang dilakukan oleh masyarakat tersebut, yang pada gilirannya kuat dipengaruhi oleh tata-nilai budaya yang dianut.Akan tetapi perlu dicatat bahwa, suatu masyarakat dengan budaya ilmiah yang tinggi belum tentu tinggi kemampuannya dalam berteknologi. Hanya bila di dalam budayanya terkandung juga informasi yang mengarahkan masyarakatnya untuk lebih intensif di dalam mengupayakan kegunaan pengetahuannya untuk menghasilkan informasi preskriptif guna penciptaan sistem-sistem, maka kadar budaya teknologi masyarakat tersebut meningkat dan berkembang. Penciptaan sistem-sistem melalui upaya-upaya teknologis dapat menghasilkan sistem-sistem yang memperbaiki tata kehidupan masyarakat, tetapi dapat pula menciptakan sistem-sistem yang justru mengganggu, bahkan menghancurkan tatakehidupan.Gangguan yang diakibatkan dari pemfungsian sistem-sistem ciptaan tersebut ada yang langsung teramati atau terasakan, dan ada pula yang lambat teramati atau disadari. Dan pada dasarnya, setiap sistem yang tercipta sebagai hasil upaya teknologis, selalu mengandung dua hal, yaitu disatu sisi menyelesaikan persoalan di dalam memenuhi bekutuhan orang ataupun masyarakat, tetapi di sisi lain mengandung bibit-bibit persoalan baru.
Persoalan yang terkandung di tiap upaya penyelesaian persoalan tersebut dapat segera terasakan, atau muncul dan teramati atau terasakan setelah suatu tenggang waktu tertenyu. Iskandar Alisjahbana(1) menyatakan hal itu sebagai sifat dialektik dari teknologi. Sifat dialektik dari teknologi tersebut menuntut adanya tata-nilai budaya masyarakat yang mampu mengelola pelaksanaan upaya-upaya teknologis masyarakat tersebut, sehingga dapat mencegah kehancurannya sebagai akibat dari ciptaannya sendiri. Keberhasilan suatu masyarakat di dalam berteknologi, karenanya, memerlukan adanya unsur kekuatan penyeimbang di dalam budaya masyarakatnya yang oleh Hommes(2) diistilahkan sebagai countervailing power. Hal ini berarti bahwa keterbukaan terhadap pengujian dan penilaian dari segenap anggota masyarakat merupakan unsur tata-nilai yang penting bagi keberhasilan masyarakat tersebut di dalam berteknologi, karena dengan demikian akan terlindung dari munculnya upaya-upaya teknologis ataupun dilaksanakannya aktivitas teknologis yang memberikan akibat-akibat yang merugikan.
isyarat yang datang dari sekitarnya, tak akan mampu mengelola upaya teknologis yang membawa kepada kesejahteraan. Uraian yang disampaikan diatas kiranya telah memperjelas pola keterkaitan antara ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya.Untuk mempermudah di dalam memperoleh gambaran yang menyeluruh dari uraian diatas, pada gambar dibawah ini disajikan visualisasi dari pola keterkaitan khazanah informasi budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi.
Gambar 2-25 Pola keterkaitan khazanah informasi budaya, ilmu
pengetahuan dan teknologi. Sumber: The Social Construction of Technological Sistems
Pada gambar ditunjukkan juga unsur-unsur lain yang penting dalam kaitan dengan proses pembentukan, perubahan dan pengkayaan informasi budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi. Unsur-unsur tersebut mencakup aktivitas penelitian, pengembangan teknologi, dan pemfungsian informasi teknologi di industri.sebagai hasil dari aktivitas yang disebutkan diatas, terjadi:
- Pengkayaan khazanah informasi budaya dan IPTEK masyarakat yang bersangkutan; - Pertumbuhan industri, peningkatan pendapatan; serta
- Pembentukan sumberdaya pendukung terlaksananya aktivitas ‘science’ dan teknologi (S&T).