• Tidak ada hasil yang ditemukan

SI Penjualan Barang pd Kalbe Farma Tbk

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "SI Penjualan Barang pd Kalbe Farma Tbk"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

18 Jurnal Telematika Vol. 2 No. 1 Februari 2009

Oleh : Rahman Rosyidi STMIK Amikom Purwokerto

ABSTRAK

Penelitian ini berjudul Sistem Informasi Penjualan Barang Pada PT. Kalbe Farma Tbk. OTC Purwokerto. Tujuan penelitian adalah untuk mempelajari sistem yang sedang berjalan khususnya sistem informasi penjualan, mengetahui kendala-kendala yang terjadi dan menganalisa kelemahan-kelemahan, yang selanjutnya merancang sistem informasi yang baru, yang diharapkan dapat mengantisipasi kendala-kendala yang ada sehingga dapat dihasilkan suatu informasi yang akurat, relevan dan tepat waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada sistem yang sedang berjalan terdapat permsalahan 1) Memerlukan waktu yang lama dalam membuat laporan

membuat laporan penjualan secara keseluruhan. 2) Banyak memakan waktu dalam mencari data–

data atau arsip–arsip yang dibutuhkan. 3) Perhitungan hasil penjualan barang sering tidak tepat

nilainya. Sedangkan dengan adanya sistem yang baru maka 1) Pengolahan data lebih cepat dan akurat sehingga tidak diperlukan waktu, tenaga dan pikiran yang berlebih, dengan demikian terjadinya kesalahan dalam transaksi dapat diatasi. 2) Proses pencarian data dan pembuatan laporan lebih cepat dan akurat. 3). Mudah melakukan perubahan data. 4). Sistem pengarsipan lebih rapi, karena disimpan dalam media disk. Pada sistem yang baru mempunyai kelemahan : 1).Membutuhkan biaya operasional yang lebih besar. 2). Memerlukan tenaga ahli dibidang komputer setidaknya bisa mengoperasikan komputer. 3).Memerlukan biaya pemeliharaan atau perawatan tersendiri.

Berdasarkan perbandingan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa : Sistem yang lama

mempunyai banyak kekurangan. Sistem yang baru dapat mengatasi permasalahan dan kendala–

kendala yang ada pada sistem yang lama dengan kelebihan–kelebihan yang dimiliki oleh sistem

yang baru.

Keyword: Sistem informasi, penjualan

PENDAHULUAN

PT. Kalbe Farma Tbk. OTC Purwokerto adalah salah satu perusahaan yang bergerak dalam bidang penjualan barang yang saat ini sedang berkembang. Dalam perkembangannya PT. Kalbe Farma Tbk. OTC Purwokerto memerlukan pengaturan manajemen yang baik dan sistem penjualan yang baik pula. Adapun sistem penjualan barang yang ada pada PT. Kalbe Farma Tbk. OTC Purwokerto adalah sebagai berikut :

(2)

19 Jurnal Telematika Vol. 2 No. 1 Februari 2009

2. Bagian Penjualan membuatkan Nota Penjualan yang kemudian diberikan kepada Administrasi Cabang

3. Bagian Penjualan membuat Laporan penjualan dan menyerahkan ke Administrasi Cabang 4. Administrasi Cabang menerima Nota Penjualan dan menerima pembayaran dari pembeli

kemudian Nota Penjualan lembar 1 diserahkan kepada pembeli

Informasi yang berkualitas merupakan suatu hal yang sangat penting bagi suatu organisasi, yang menjadikan informasi sebagai suatu sarana yang mempunyai peranan utama dalam pengambilan keputuan, sebagai dasar untuk menentukan langkah-langkah yang akan diambil. Yang dimaksud dengan informasi yang berkualitas adalah informasi tersebut haruslah akurat (bebas dari kesalahan), tepat pada waktunya dan relevan (bermanfaat untuk pemakainya).

Sistem Informasi penjualan barang yang berbasis komputer yang diterapkan pada suatu toko/perusahaan akan sangat membantu dalam pengolahan datanya, sehingga dapat menghasilkan informasi yang berkualitas. Pada saat ini sistem penjualan barang yang diterapkan masih menggunakan cara manual walaupun, sudah memiliki peralatan komputer. Sehingga dalam pengolahan data penjualan barang PT. Kalbe Farma Tbk. OTC Purwokerto menemui beberapa permasalahan-permasalahan antara lain :

1. Memerlukan waktu yang lama dalam membuat laporan penjualan secara keseluruhan. 2. Banyak memakan waktu dalam mencari data-data atau arsip-arsip yang dibutuhkan. 3. Perhitungan hasil penjualan barang sering tidak tepat nilainya.

Adapun penyebab timbulnya hambatan-hambatan tersebut antara lain adalah : 1. Dalam pembuatan laporan penjualan terlalu lama disebabkan karena jumlah barang yang

begitu banyak.

2. Penanganan data kurang rapi, karena belum adanya sistem database yang baik, sehingga dalam pencarian data relatif sulit dan lama.

3. Perhitungan hasil penjualan barang sering tidak tepat nilainya karena diperiksa satu persatu secara manual.

(3)

20 Jurnal Telematika Vol. 2 No. 1 Februari 2009

tepat waktu. Oleh sebab itu sangat diperlukan adanya perubahan dari sistem informasi yang sederhana menuju ke sistem informasi yang berbasis komputer dan software aplikasi sebagai salah satu pendukungnya. Tujuan penelitian adalah untuk mempelajari sistem yang sedang berjalan khususnya sistem informasi penjualan, mengetahui kendala-kendala yang terjadi dan menganalisa kelemahan-kelemahan, yang selanjutnya merancang sistem informasi yang baru, yang diharapkan dapat mengantisipasi kendala-kendala yang ada sehingga dapat dihasilkan suatu informasi yang akurat, relevan dan tepat waktu.

PEMBAHASAN

Rancangan sistem yang diusulkan tidak jauh bebeda dengan arus informasi dan dokumen yang ada pada sistem yang lama atau yang sedang berjalan. Perbedaannya pada proses pengolahan datanya yang menggunakan komputer. Rancangan sistem yang diusulkan ini disajikan dalam bentuk :

1. Flow Of Document (FOD) diusulkan

2. Desain Database

3. Bagan Alir Sistem (BAS) 4. Diagram Arus Data (DAD) 5. Desain Input dan Output 6. Kamus Data

Bagian yang terlibat

1. Bagian yang terlibat didalam sistem a. Sales Promotion Representative b.Bagian Administrasi Cabang

2. Bagian yang terlibat di luar sistem adalah DM/Supervisor

Dokumen yang digunakan 1. Nota Penjualan (NP) 2. Order Barang (OB) 3. Tanda Terima (TTR) 4. Rekap Harian (RH)

(4)

21 Jurnal Telematika Vol. 2 No. 1 Februari 2009

7. Laporan Penjualan Barang Kurang Laku (LPBKL) 8. Laporan Penjualan Barang Tahunan (LPBT)

Arus Informasi

1. Sales Promotion Representative

a. Mencari pemintaan barang dari pembeli

b. Membuat NP (Nota Penjualan) rangkap 3 dan menyerahkan kepada Bagian Administrasi Cabang serta OB (Order Barang) yang diserahkan ke bagian Stock Toko.

c. Menerima TTR (Tanda Terima) rangkap 2 untuk ditandatangani dan cek barang kemudian diserahkan kembali ke Bagian Stock Toko.

d. Menerima NP (Nota Penjualan) ttd lembar ke 2 dari Bagian Administrasi Cabang kemudian diarsip berdasarkan tanggal.

2. Bagian Administrasi Cabang

a. Menerima NP (Nota Penjualan) rangkap 3 dari Sales Promotion Representativeuntuk dicek dan ditandatangani serta menerima pembayaran dari pembeli.

b. Memberikan NP (Nota Penjualan) ttd lembar ke 1 kepada Pembeli, lembar ke 2 diserahkan ke Sales Promotion Representativedan lembar ke 3 beserta TTR (Tanda Terima) ttd lembar 1 dari Bagian Stock Toko diinput kemudian Cetak RH (Rekap Harian) rangkap 2 dan LPBB (Laporan Penjualan Barang Bulanan) rangkap 2.

c. NP ( Nota Penjualan) ttd lembar ke 3 dan TTR (Tanda Terima) ttd lembar ke 1 diarsip berdasarkan tanggal.

d. Menyerahkan RH (Rekap Harian) rangkap 2 dan LPBB (laporan Penjualan Barang Bulanan) rangkap 2 ke DM/Supervisor untuk dicek dan ditandatangani.

e. Menerima RH (Rekap Harian) ttd lembar ke 2 dan LPBB (laporan Penjualan Barang Bulanan) ttd lembar ke 2 dari DM/Supervisor.

(5)

22 Jurnal Telematika Vol. 2 No. 1 Februari 2009

g. Menerima LPBPL dan LPBKL ( Laporan Penjualan Barang Kurang Laku) ttd lembar ke 2 dari DM/Supervisor.

h. Cetak LPBT ( Laporan Penjualan Barang Tahunan) rangkap 2 kemudian diserahkan ke DM/Supervisor untuk dicek dan ditandatangani, RH (Rekap Harian) ttd lembar ke 2 dan LPBB (Laporan Penjualan Barang Bulanan) ttd lembar ke 2 diarsip berdasarkan tanggal. i. Menerima LPBT ( Laporan Penjualan Barang Tahunan) ttd lembar ke 2 dari

DM/Supervisor kemudian diarsip berdasarkan tanggal.

3. DM/Supervisor

a. Menerima RH (Rekap Harian) rangkap 2 dan LPBB (Laporan Penjualan Barang Bulanan) rangkap 2 dari Bagian Administrasi Cabang untuk dicek dan ditandatangani.

b. Menyerahkan RH (Rekap Harian) ttd lembar ke 2 dan LPBB (Laporan Penjualan Barang Bulanan) ttd lembar ke 2 ke Bagian Administrasi Cabang dan RH (Rekap Harian) ttd lembar ke 1 dan LPBB (Laporan Penjualan Barang Bulanan) lembar ke 1 diarsip berdasarkan tanggal.

c. Menerima LPBPL dan LPBKL (Lporan Penjualan Barang Kurang Laku) ttd rangkap 2 dari Bagian Administrasi Cabang untuk dicek dan ditandatangani.

d. Menyerahkan LPBPL dan LPBKL (Laporan Penjualan Barang Kurang Laku) ttd lembar ke 2 ke Bsgian Administrasi Cabang dan lembar ke 1 diarsip berdasarkan tanggal.

e. Menerima LPBT (Laporan Penjualan Barang Tahunan) ttd rangkap 2 dari Bagian Administrasi Cabang untuk dicek dan ditandatangani.

f. Menyerahkan LPBT (Laporan Penjualan Barang Tahunan) ttd lembar ke 2 ke Bagian Administrasi Cabang dan lembar ke 1 diarsip berdasarkan tanggal.

Untuk lebih jelasnya arus informasi dapat digambarkan pada Flow Of Docement

(6)

23 Jurnal Telematika Vol. 2 No. 1 Februari 2009

Diagram Arus Data (DAD) Sistem Informasi Penjualan Barang

NP3

D3 F. Transaksi Penjualan

D4 F. Laporan Penjualan Dt. Laporan Penjualan

c

(7)

24 Jurnal Telematika Vol. 2 No. 1 Februari 2009

Penilaian Kelayakan Sistem

Penilaian kelayakan sistem informasi penjualan pada PT. Kalbe Farma Tbk. OTC Purwokerto yang baru dapat dilihat dari beberapa faktor, yaitu :

1. Teknologi

Sistem informasi penjualan pada PT. Kalbe Farma Tbk. OTC Purwokerto penerapannya menggunakan teknologi komputer sebagai hardwarenya yang dilengkapi dengan software menggunakan program aplikasi dengan bahasa pemrograman Visual Basic 6.0. Teknologi

hardware dan software tersebut banyak tersedia di pasaran dan mudah didapat.

2. Biaya

Karena pada PT. Kalbe Farma Tbk. OTC Purwokerto sudah terdapat perangkat keras

(hardware) yang dibutuhkan dalam penerapan sistem informasi yang baru tersebut, maka

dengan memanfaatkan peralatan komputer yang telah tersedia akan dapat mengurangi pengeluaran biaya pada PT. Kalbe Farma Tbk. OTC Purwokerto .

Hardware yang tersedia yaitu :

a. Komputer Pentium 3 1 unit b. Printer Cannon S200SPX 1 unit

Sehingga PT. Kalbe Farma Tbk. OTC Purwokerto mengeluarkan biaya untuk pembelian perangkat lunak (software) berupa program aplikasi.

3. Waktu pembuatan sistem dan program

Proses perancangan sistem dan pembuatan program aplikasi untuk penerapan sistem informasi penjualan barang pada PT. Kalbe Farma Tbk. OTC Purwokerto adalah seperti pada tabel berikut :

Tabel 1 Perancangan Pembuatan Sistem dan Program

Proses Bulan I Bulan I

I II III IV I II III IV

Merancang Program

  

Membuat Program

   

(8)

25 Jurnal Telematika Vol. 2 No. 1 Februari 2009

4. Penggunaan software

Penggunaan software (Program aplikasi yang telah dibuat dalam penerapan sistem informasi penjualan barang pada PT. Kalbe Farma Tbk. OTC Purwokerto akan mudah karena menggunakan fasilitas user friendly (dialog–dialog layar) yang mudah dimengerti dan dipahami oleh user yang disertai petunjuk–petunjuk dalam pemakaiannya. Maksud dalam pembuatan user friendly ini adalah supaya user/pengguna komputer yang baru dapt mudah mempelajarinya dan menggunkannya. Sistem yang dibuat sebelum diterapkan perlu terlebih dahulu dinilai apakah sistem tersebut layak atau tidak untuk diterapkan. Dalam menilai suatu sistem ada beberapa macam penilaian kelayakan yang harus tetap diperhitungkan dalam desain sistem informasi. Adapun penilaian tersebut adalah :

a. Kelayakan Teknik (Technical Feasibility)

1) Tersedinya tekhnologi dipasaran, yang dimaksud adalah tekhnologi informasi yaitu perangkat komputer (hardware) dan software (program–program yang dibutuhkan)

adalah Visual Basic 6.0. Tekhnologi tersebut mudah didapat dipasaran dan kemudian untuk dibuat program aplikasinya.

2) Sistem yang baru mudah dioperasikan karena dibuat agar user friendly, berupa fasilitas dialog layar yang menunjukan cara kerja program aplikasi.

b. Kelayakan Ekonomi (Economical Feasibility)

Hal – hal yang perlu diperhatikan dalam menilai sistem juga dapat dilihat dari kelayakan ekonomi, artinya biaya yang diperlukan untuk mengembangkan sistem informasi akan terasa lebih kecil dibanding manfaat yang akan diperoleh.

c. Kelayakan Hukum (Law Feasibility)

Hukum merupakan peraturan yang baku dan harus dipenuhi. Untuk membuat dan menerapkan sistem yang baru hendaknya tidak boleh merugkian pihak lain dan mengikuti suatu aturan tertentu. Penerapan sistem yang baru tidak melanggar hukum dan tidak merugikan pihak– pihak lain.

d. Kelayakan Operasi (Operation Feasibility)

(9)

26 Jurnal Telematika Vol. 2 No. 1 Februari 2009

2) Kualitas sistem informasi yang dihasilkan sistem baru jauh lebih lengkap, akurat, dan cepat.

3) Pengendalian sistem informasi yang lebih aman, rapi, dan mudah untuk dioperasikan .

4) Sistem informasi ini dibuat agar user friendly atau dialog – dialog layar mudah digunakan dan layak secara operasi.

e. Kelayakan Jadwal (Schedule Feasibility)

Pengembangan sistem ini sudah memenuhi kelayakan jadwal karena dalam pengembangan sistem ini dapat diselesaikan sesuai dengan batas waktu yang telah ditetapkan.

Seleksi Sistem

Setelah seluruh sistem dibangun dan berdasarkan studi kelayakan yang sudah dilakukan, maka dapat diputuskan sistem informasi yang akan dibangun akan memanfaatkan teknologi sebagai berikut :

1. Hardware

Pada penerapan sistem informasi penjualan pada PT. Kalbe Farma Tbk. OTC Purwokerto , peralatan yang akan digunakan adalah komputer Pentium IV sesuai dengan yang tersedia pada PT. Kalbe Farma Tbk. OTC Purwokerto.

2. Software

Software yang digunakan adalah visual basic 6.0 yang mampu menghasilkan program aplikasi dengan tampilan yang menarik dan mampu mengatasi permasalahan – permasalahan yang ada yaitu mengenai laporan penjualan pada PT. Kalbe Farma Tbk. OTC Purwokerto, dan program tersebut masih dapat dikembangkan sesuai kebutuhan.

Implementasi Sistem

(10)

27 Jurnal Telematika Vol. 2 No. 1 Februari 2009

1. Pemilihan dan Pelatihan Personil a. Pemilihan personil

Dari sistem baru yang diusulkan, pemilihan personil untuk mengoperasikan sistem baru ini lebih baik mengambil personil–personil yang telah ada daripada merekrut karyawan baru. Pemilihan karyawan lama lebih menguntungkan, alasannya ialah karyawan lama lebih memahami tentang permasalahan yang ada sehingga dalam mengoperasikan sistem yang baru dengan menggunakan sistem komputerisasi yang diusulkan dapat lebih cepat.

b. Pelatihan personil

Untuk pelatihan personil didalam penerapan sistem baru tidak mengalami kendala yang berarti, baik dari segi biaya maupun waktu.

2. Pengetesan Program

Kegiatan yang dilakukan ditahap ini adalah pengetesan program. Dalam pengetesan program ini dilakukan dengan cara diuji coba dengan melakukan pengisian data.

3. Pegetesan Sistem

Pengetesan terhadap sistem yang baru ini adalah untuk mengetahui sistem baru yang akan diimplementasikan. Tujuan utama dari pengetesan ini adalah untuk memastikan bahwa elemen–elemen dari sistem telah/belum berfungsi sesuai dengan yang diharapkan. Pengetesan ini penulis akan lakukan bersamaan dengan implementasi sistem.

4. Konversi Sistem

Kegiatan pada tahap konversi sistem merupakan proses untuk meletakan sistem baru supaya siap untuk digunakan. Konversi sistem informasi penjualan material bangunan pada PT. Kalbe Farma Tbk. OTC Purwokerto dilakukan dengan sistem langsung, yaitu sistem yang lama digantikan dengan sistem yang baru.

Alasan pemakaian konversi sistem yang langsung adalah :

(11)

28 Jurnal Telematika Vol. 2 No. 1 Februari 2009

2. Dengan waktu proses yang lebih cepat serta informasi yang dihasilkan lebih akurat dan tidak perlu adanya banyak tenaga yang diperlukan dalam melakukan proses pengolahan data, hal ini berarti sistem yang baru sangat ekonomis sebab biaya yang dikeluarkan sebanding dengan manfaat yang didapat.

3. Dari segi teknis kinerja sistem informasi yang baru jauh lebih mudah untuk dipahami dari pada sistem yang lama.

4. Dari segi operasional sistem informasi yang baru jauh lebih mudah untuk dioperasikan oleh siapapun dengan kecepatan pengolahan data yang cepat dan akurat dibandingkan dengan sistem informasi yang lama.

Maintenance (Perawatan Sistem)

Didalam sistem informasi baru yang akan diterapkan ini tidak mempunyai permasalahan yang rumit dalam melakukan perawatan terhadap sistem, karena biasanya masalah yang terjadi hanya kemasukan virus yang dapat merusak data, karena diperlukan program antivirus yang harus selalu di update setiap waktu.

PENUTUP

Berdasarkan hasil penelitian dengan judul Sistem Informasi Penjualan Material Bangunan pada PT. Kalbe Farma Tbk. OTC Purwokerto, maka dapat disimpulkan bahwa pada sistem yang sedang berjalan terdapat permasalahan 1)Memerlukan waktu yang lama dalam membuat laporan membuat laporan penjualan secara keseluruhan. 2)Banyak memakan waktu dalam mencari data–data atau arsip–arsip yang dibutuhkan. 3)Perhitungan hasil penjualan barang sering tidak tepat nilainya.

(12)

29 Jurnal Telematika Vol. 2 No. 1 Februari 2009

sederhana tidak memerlukan tenaga ahli atau harus melakuakan pelatihan dan perekrutan karyawan baru untuk pengolahan dat registrasi)

Sistem baru mempunyai kelebihan (Pengolahan data lebih cepat dan akurat sehingga tidak diperlukan waktu, tenaga dan pikiran yang berlebih, dengan demikian terjadinya kesalahan dalam transaksi dapat diatasi, Proses pencarian data dan pembuatan laporan lebih cepat dan akurat, Mudah melakukan perubahan data, Sistem pengarsipan lebih rapi, karena disimpan dalam media disk). 3) Pada sistem yang baru mempunyai kelemahan (Membutuhkan biaya operasional yang lebih besar, Memerlukan tenaga ahli dibidang komputer setidaknya bisa mengoperasikan komputer, Memerlukan biaya pemeliharaan atau perawatan tersendiri.

(13)

30 Jurnal Telematika Vol. 2 No. 1 Februari 2009

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Kadir. 2003. Pengenalan Sistem Informasi. Andi Offset, Yogyakarta

Ario Suryo Kusumo. 2000. Microsoft Visual Basic 6.0., Elek Media Komputindo, Jakarta Basu Swasata Dh. Dan Irawan 2000. Manajemen Pemasaran Modern.Liberty, Yogyakarta Budi Sutedjo Dharmo Oetomo. 2002. Perencanaan dan Pembagunan Sistem Informasi.Andi

Offset Yogyakarta

Edilius, dkk. 1992. Pengantar Ekonomi Peusahaan. Rineka Cipta, Jakarta

Gordon B. Davis. 1995. Kerangka Dasar Sistem Informasi Manajemen.PT. Remaja Rosdakarya, Bandung

Hariyanto Kristanto. 1994. Konsep dan Percangan Database.Andi Offset, Yogyakarta Jogiyanto H.M. 2001. Analisis dan Desain Sistem Informasi.Andi Offset, Yogyakarta --- 1989. Pengenalan Komputer.Andi Offset, Yogyakarta

John J. Longkutoy. 1992. Pengenalan Komputer.:Mutiara Sumber Widya, Jakarta --- 1989. Pengenalan Komputer.:Mutiara Sumber Widya, Jakarta

Gambar

Gambar 1.
Tabel 1 Perancangan Pembuatan Sistem dan Program

Referensi

Dokumen terkait

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,