Studi Biofarmasetik
Obat yang melalui Paru
Aerosol
oleh
Dewa Ayu Swastini
Anatomi dan Fisiologi
Saluran nafas
The respiratory system is made up of
the organs involved in breathing and
consists of the:
• nose
• pharynx
• larynx
• trachea
• bronchi
• lungs
The upper respiratory tract includes the: • nose
• nasal cavity • ethmoidal air cells • frontal sinuses • maxillary sinus • larynx
• trachea
The lower respiratory tract includes the: • lungs
• bronchi • alveoli
Diantara Trakea dan Sacus alveolaris
terdapat 23 cabang yang terbagi :
¾16 percabangan I (Daerah konduksi) • Menyalurkan udara dari dan ke lingkungan
luar
• Bronkus, Bronkiolus dan Bronkiolus Terminalis
¾17 percabangan II (Daerah transisi) • Zona peralihan dan zona respirasi tempat
terjadinya pertukaran gas
DAERAH KONDUKSI
Hidung
• jalan masuk : epitel tebal, berlapis, mengandung kelenjar sebaseus dan bulu yang keras
• pusat hidung : epitel menyerupai kanal bertumpuk, silia dan sel gobet
• Fungsi hidung : - respirasi
- menjaga proses kelembabapan
- penyaringan partikel (bulu dan epitel rambut getar, mukosa)
- mekanisme pertahanan : kecepatan 7 mm/dtk (bersin, membuang ingus atau penelaan)
•Faring(persimpangan antara jalan pernafasan dan makanan)
- nasofaring - orofaring - laringofaring
•Trakea(cincin tulang rawan)dipisahkan oleh karina menjadi dua bronkus (kanan dan kiri) •Bronkustertutup sel epitel yang terdiri atas :
lapisan mukosa, silia, cairan pembasah cilia, sel silia, sel basal dan membran
Silia
• Fungsi : pertahanan (getah bronkus
dan cairan aveolar)
• pergerakan terjadi dari depan ke
belakang
• perpindahan dari belakang menuju
ke depan secara spiral searah jarum
jam
( proses clearence)
Getah bronkus
• Sumber : kelenjar bronkus (trakea dan bronkus besar)
• Komposisi : setiap 100 g terdiri atas 94,79% air dan 1,13% kadar abu
• DNA 0,028%, glusida 0,951%, protein 1%, lpida 0,840% bagian bukan air 5%
• Jika ditambahkan 2 bag air sulung ke 1 bag dahak terbagi atas 3 fase :
– Fase atas (busa) trediri atas surfaktan lipid dan lesitin dipalmitat
– fase air terdiri atas protein, komponen darah, uraian musin (amilase), enzim (lisosom, protease dan enzim bakteri) – Fase berbentuk gel struktur berbentuk serabut(fibril)
DAERAH TRANSISI
• Bronkiolus Respiratorius
• Duktus Alveolari
• Alveoli
Sel penutup tipe I dan tipe II (
surfaktan)
surfaktan
• Merupakan lap penyelubung alveoli • Komp : dipalmitat, kolesterol, trigliserida
dan asam lemak bebas
• menurunkan tegangan permukaan alveoli • Keadaan patologi ↓surfaktan :
membran hyalin (utama) emboli, edema paru perokok
AEROSOL
• Dispersi butiran cairan yang sangat
halus didalam udara dan berdiameter
rata- rata 5
µ
m
• Terdiri atas dua fase :
– fase pendispersi (fase penyebar) campuran udara dan gas
– fase terdispersi (fase yang tersebar) larutan dalam air
AEROSOL
• Tipe aerosol :
1. Aerosol monodispersi partikel sangat halus, diameter 1 um, stabil, efek sistemik segera, alat penyemprot klinis 2. Aerosol polidispersi partikel besar dan
beragan, kurang stabil, penembusan dan penyerapan pada sal nafas atas, bahan pendorong gas
Forms of Drug Inhalation
• Smoke: of burnt reeds, plants or
minerals.
• Powder for snuffing or insufflation.
• Liquids, inhaled by Dropper, Sprayer,
Atomizer or Nebulizer.
• Vapours inhaled by Inhalers,
Vaporizers or Humidifier.
• Gases, Therapeutic or anaesthetic
(14)
DI INDONESIA
• METERED-DOSE INHALER (MDI) bahan aktif (Obat), propellan CFC bertekanan rendah, pelarut dan/atau surfaktan
MDI dengan ‘Spacer’ atau ‘Holding Chamber’mengurangi pengendapan di orofarinks dan meningkatkan
penghantaran obat ke paru-paru
INHALER SERBUK KERING HALUS
•
Alat RotahalerÒ (obat dalam
bentuk kapsul)
•
TurbohalerÒ dan DiskhalerÒ
(obat dalam blister)
LARUTAN PERNAFASAN
(NEBULIZER)
•
Rumah sakit/ klinik
turbohaler rotahaler
diskaler
Lung surfactant Care of Premature infants
Diethyl carbamazine, Chloroquine Cromolyn sodium Immunologic agents
Anthrax vaccine Anti influenza vaccine Vaccination
Nitrous oxide gas, Halogenated Hydrocarbons (Halothane, Isoflurane, Enflurane, Sevoflurane, Desflurane) General anaesthesia
Lidocaine Local anaesthesia
Amyl nitrite Control of Hydrogen sulphide
toxicity
Insulin powder Control of Diabetes mellitus
Hyperbaric oxygen Neurolgical and Metabolic diseases
Tobramycin Antimicrobials and Antivirals
Nitric oxide gas Control of acute pain crisis
Glucocosticoids Prevention and Control of Burn
Shock
Ephedrine, Epinephrine, Isoprenaline, Turbutaline
Prostaglandine, Sabutamol, Methoxyphes amine
Cortisone acetate, Hydrocortisone, Dexamethasone Beclomethasone Bronchodilators
Adrenaline, Ephedrene, Phenylephrine Nasal vasoconstrictors
Medicaments for Inhalation Therapy Indications
Tahap Perjalanan Aerosol
• Transit/penghirupan
• Penangkapan/depo
Transit/Penghirupan
1. Ukuran Partikel
• Penyebaranannya tergantung ukuran
partikel
• Partikel dengan koefisien difusi dan
gravitasi rendah dapat menembus
bag paru lbh dalam
• Tergantung juga pada mekanisme
difusi udara inspirasi dan ekspresi
Transit/Penghirupan
2. Pernafasan dan Laju aliran udara
• Perjalanan nafas normal 12-15
daur/menit, volume inspirasi
danekspirasi 500 ml
•
↑
laju inspirasi partikel ukuran besar
ikut ke daerah transisi
•
↓
laju inspirasi,
↑
waktu tinggal
partikel,
↑
retensi aerosol
Transit/Penghirupan
3. Aliran gas (Laminer atau Turbulen) • Aliran laminer (HK Poisseuille) :
• Jika ukuran tabung tetap maka laju pengaliran berbading lurus dengan kekentalan
Transit/Penghirupan
Aliran Turbulens
• Melewati saluran yang berkelok • Bilangan Reynols :
• Re>2000 (aliran turbulens)
• Pada respirasi tenang (v=0,33
l/detik) Re<2000
• Respirasi sedang atau kuat,
Re>2000
Transit/Penghirupan
4. Kelembapan
• Paru bagian dalam (kand. air
44g/m
3)
• Aerosol kejenuhannya 34g/m
3• Pertumbuhan partikel sebagai fungsi
dari kelembaban
• Perubahan ukuran partikel
tergantung kelarutan (> kelarutan,
ukuran partikel >)
Transit/Penghirupan
5. Suhu
• Partikel bergerak suhu↑ke suhu↓ • Gerakan berbanding lurus dengan
perubahan suhu dan diameter partikel 6. Tekanan
• Selama inspirasi tek paru turun 60-100 mmHg dibawah tek atmosfer
• Pemakaian tek positif pada aerosol ↑ perbedaan tek hingga 4-22 mmHg
Penahan atau Depo
Cara Penahanan :
• 1. Tumbukan karena kelembaban
• Terjadi pada permukaan hidung, pharyng dan trakea-bronkus
• Tumbukan tidak tejadi dialveoli
2. Pengendapan karena gravitasi
• akhir bronkus ( laju pengaliran rendah) • Lebih besar jika debit inspirasi dan
ekspirasi = 0
3. Difusi (gerakan brown)
• Timbul akibat tumbukan molekul gas
dan partikel yang tersuspensi dalam
udara
• Pada bronchiolus terminalis dan
alveoli
• Ukuran partikel sub mikron
(0,002-0,5
µ
m)
Faktor yang mempengaruhi penahan /
depo
1. Anatomi dan fisiologi sal nafas
1. Anatomi dan fisiologi
• Hambatan dan laju aliran udara berkurang • Kecepatan aliran udara besar pada daerah
konduksi, penahanan oleh tumbukan karena kelembaban
• Semakin ke dalam kecepatan alir udara semakin kecil atau = 0, maka penahanan terjadi karena gravitasi atau gerak brown • Fisiologi ?????
2. Faktor Fisika Kimia
a. Ukuran partikel
2. Faktor Fisika Kimia
b. Muatan partikel
• Partikel yang bersifat bipolar meneingkatkan terjadinya koagulasi sehingga meningkatkan depo (belum terbukti)
c. Bobot jenis • Lihat persamaan 2
• Manakah yang laju penahanannya lebih besar partikel A (d=0,5 µm, bj= 10 g/cm3
atau d=2 ,bj= 1g/cm2)
Penahanan dan
pembersihan
• Partikel tertahan dipermukaan tempat depo
• Aktivitas tergantung laju pelarutan dan difusi
• Pembersihan dilakukan oleh mukosilia (100 jam)
• Tergantung sistem aerosol :
- Larut dlm cairan biologis (penyerapan oleh mukosa sal nafas)
- Tidak larut cairan biologis (partikel tersimpan dalam sal nafas bag bawah)
Penyerapan
• 1. Hidung
• Luas penyerapan 80 cm
2,penyerapan
terkecil dari seluruh sal pernafasan
bag atas
• Zat yang diserap cepat (sulfur
anorganik, amoniak)
• Zat yang diserap lambat (histamin,
nikotin, efedrin dll)
2. Mulut
• Luas permukaan penyerapan mulut
dan pharing 75 cm
2• Sebagian dapat tertelan (masuk sal
cerna)
• Sebagian terserap melalui bukal
• Diserap dengan baik (nitrogliserin,
tetosteron, alkaloid)
3. Trakea
• Air / normal salin tidak terserap ditrakea • Bahan larut lemak tidak terserap (barbital,
tiopental, striknin)
• Aerosol suksinilkolin efek lebih lambay tapi lebih lama dibandingkan dengan iv • Penisilin dengan penetesan menghasilkan
kadar dalam darah 2x lebih lama dari im
4. Penyerapan di Bronkus
• Penelitian sulit (pemisahan daerah yang diteliti sulit dan adanya percabangan) • Otot polos bronkus sangat peka thd
senyawa iritan (aktivitas lokal) • Reseptorαpada pembuluh darah
(vasokontriksi dan dekongesti mukosa bronkus)
• Reseptorβpada otot bronkus (relaksasi otot bronkus)
5. Penyerapan di Alveoler
• Permukaan luas dan penuh kapiler (pertimbangkan efek sistemik) • Mekanisme
perlintasan tidak dapat ditetapkan dengan pasti
6. Penyerapan di Saluran
Cerna
• Untuk partikel yang terhenti
dipermukaan hidung/mulut
• Senyawa antara lain (isoprotenolol
atau kromoglikat)
Evaluasi Ketersediaan
Hayati
• Tergantung dari efek yang diinginkan • Untuk efek sistemik dapat diperkirakan
aktivitas farmakologi atau terapetik • Untuk efek lokal (tidak bisa, karena
sangat tergantung ukuran partikelnya) • Evaluasi yang dilakukanevaluasi
ketersediaan hayati relatif
• Membandingkan berbagai formulasi
Tahap-tahap Evaluasi
1. Pemilihan tempat aksi (efek yang
diinginkan)
• Aksi setempat/lokal atau Sistemik
• Tergantung pada sifat zat aktif
(stabilitas fisiko-kimia, laju
penyerapan, metabolisme dll)
• diameter ukuran partikel
2. Pembuatan aerosol
• Pemilihan bahan dan alat yang
sesuai untuk pembuatan sediaan
(diameter partikel, higroskopisitas)
• Sesuai dengan cara pemberian
(tergantung tujuan : bukal, nasal,
masker wajah dll)
• Pengujian dengan studi in vitro
Pengujian dengan studi in vitro
• Jaringan organ terpisah:
Sel paru terpisah, hancuran jaringan,
cincin trakea, paru terpisah, getah
bronkus, surfaktan aveoler dll
• Model in vitro tiruan
Saluran cerna dari bahan plastik,
trakea dan bronkus tiruan, labu
berpalung
3. Studi in Vivo
• Dengan mengunakan hewan
penelitian (anjing, kelinci)
• Dipasangkan pipa khusus ke
berbagai tempat saluran nafas untuk
mengamati reaksi yang terjadi
• Dikonversikan ke dosis manusia
(hati-hati)
4. Evaluasi pada subjek
manusia
• Keadaan pemberian dan penghirupan
partikel harus tepat
• Ritme pernafasan diatur
• Kedua hal diatas berhubungan
dengan jumlah aerosol yang dihirup
dan jumlah zat aktif yang diserap
• Perkiraan jumlah aerosol yang
Perkiraan jumlah aerosol yang dihirup
1. Penaksiran :
C= p/V
C: konsentrasi/menitP : vol larutan pendispersi V : debit udara
2. secara kimia (barbotage)
Perkiraan jumlah aerosol yang dihirup
Evaluasi biofarmasetik :
• Pengukuran konsentrasi zat aktif dalam aerosol, dalam udar ekspirasi, dan yang tertahan
• Studi radiologi
• Evaluasi kadar obat dalam darah/efek farmakologi
• Evaluasi sifat alir getah bronkus • Model kompartemen (satu