Sudah Benarkah Pendidikan Kejuruan
SMK Saat Ini?
21 November 2017 08:59 Diperbarui: 21 November 2017 09:08 585 0 0 Oleh:
Setiyo Agustiono
Pelaksanaan pendidikan kejuruan SMK saat ini belum benar?
Pertanyaan ini harus segera di selesaikan karena biaya pendidikan tidak murah, dan saat ini kita butuh pengembangan SDM untuk menaikan iklim investasi.
Mari kita kita cari tahu mengapa demikian;
Apakah Kondisi smk saat apakah sudah didasarkan atas perkembangan "demand-driven" (kebutuhan dunia kerja) baik itu bidang studi atau kurikulumnya.
Apakah Fokus isi pendidikan kejuruan SMK sudah pada kompetensi siswa dan nilai-nilai yang dibutuhkan oleh dunia kerja, dapat dilihat berapa lama siswa SMK praktek kerja di industri didalam mencapai kompetensinya.
Apakah SMK sudah mempunyai Hubungan yang erat dengan dunia industri sebagai partner melatih siswa SMK selama mencapai kompetensi dan ini merupakan kunci sukses pendidikan kejuruan sistim ganda (dual system)
Bagaimana lulusan SMK sudah langsung terserap kerja, jika Pendidikan kejuruan didasarkan atas "demand-driven" (kebutuhan dunia kerja) maka lulusa siswa SMK tidak akan
menganggur.
Apakah pendidikan sistem ganda (dual system) telah berjalan benar, karena Pendidikan kejuruan memerlukan fasilitas yang mutakhir untuk praktik kerja dan jika pendidika sistem ganda benar di jalankan maka beban fasilitas praktik yang mutakhir akan ada di industri partner SMK.
Prinsip-prinsip Pendidikan Kejuruan SMK saat ini harus segera dibenahi :
Pendidikan kejuruan SMK akan efisien jika mengunakan pendidikan sistem ganda (dual system) di mana siswa dididik di sekolah dan dilatih pada industri di mana nanti ia akan bekerja.
Pendidikan kejuruan SMK sangat efektif karena dilatih seseorang dari industri yang dalam kebiasaan berpikir dan bekerja seperti yang diperlukan dalam pekerjaan itu sendiri.
Pendidikan kejuruan SMK dengan dual system selalu memperhatikan permintaan pasar (memperhatikan tanda-tanda pasar kerja) karena partner SMK adalah DU/DI
Dan yang terpenting adalah pendidikan SMK dengan dual system merupakan Proses pembinaan kebiasaan yang efektif pada siswa dalam kompetensinya akan tercapai jika pelatihan diberikan pada pekerjaan yang nyata (pengalaman sarat nilai) dan ini sangat di butuhkan DU/DI.
(Sumber:
Pendidikan Kejuruan Harus Demokratis
18 April 2017 14:04 Diperbarui: 18 April 2017 14:25 152 0 0Oleh : Kurniawan Basuki SMK Negeri 1 Magelang
Filosofi Pendidikan Kejuruan
Filosofi adalah apa yang diyakini sebagai suatu pandangan hidup yang diianggap benar dan baik. Dalam pendidikan kejuruan ada dua aliran filosofi yang sesuai dengan keberadaanya, yaitu eksistensialisme dan esensialisme. Eksistensialisme berpandangan bahwa pendidikan kejuruan harus mengembangkan eksistensi manusia untuk bertahan hidup, bukan
merampasnya. Sedangkan esensialisme berpandangan bahwa pendidikan kejuruan harus mengaitkan dirinya dengan sistem-sistem yang lain seperti ekonomi, politik, sosial, ketenaga kerjaan serta religi dan moral.
Karakteristik Pendidikan Teknologi dan Kejuruan
Meskipun pendidikan kejuruan tidak terpisahkan dari sistim pendidikan secara keseluruhan, namun sudah barang tentu mempunyai kekhususan atau karakteristik tertentu yang
membedakannya dengan pendidikan yang lain. Perbedaan ini tidak hanya dalam definisi, struktur organisasi dan tujuan pendidikannya saja, tetapi juga tercermin dalam aspek-aspek lain yang erat kaitannya dengan perencanaan kurikulum, yaitu :
1. Orientasi pendidikannya
Keberhasilan belajar berupa kelulusan dari sekolah kejuruan adalah tujuan terminal,
sedangkan keberhasilan program secara tuntas berorientasi pada penampilan para lulusannya kelak dilapangan kerja
2. Justifikasi untuk eksistensinya
Untuk mengembangan PTK perlu alasan atau jastifikasi khusus yang ini tidak begitu dirasakan oleh pendidikan umum. Jastifikasi khusus adalah adanya kebutuhan nyata yang dirasakan di lapangan.
3. Fokus kurikulumnya
termasuk sikap kerja dan orientasi nilai yang mendasari aspirasi, motivasi dan kemampuan kerjanya.
4. Kriteria keberhasilannya
Berlainan dengan pendidikan umum, kriteria untuk menentukan keberhasilan suatu lembaga pendidikan kejuruan pada dasarnya menerapkan ukuran ganda yaitu in school succes dan out of school succes. Kriteria pertama meliputi aspek keberhasilan siswa dalam memenuhi persyaratan kurikuler yang sudah diorientasikan ke persyaratan dunia kerja, sedang kriteria yang kedua diindikasikan oleh keberhasilan atau penampilan lulusan setelah berada di dunia kerja yang sebenarnya.
5. Kepekaannya terhadap perkembangan masyarakat
Karena komitmen yang tinggi untuk selalu berorientasi ke dunia kerja, pendidikan kejuruan mempunya ciri lain berupa kepekaan atau daya suai yang tinggi terhadap perkembangan masyarakat dan dunia kerja. Perkembangan ilmu dan teknologi pasang surutnya dunia suatu bidang pekerjaan, inovasi dan penemuan-penemuan baru di bidang produksi barang dan jasa, semuanya itu sangat besar pengaruhnya terhadap kecenderungan perkembangan pendidikan kejuruan.
6. Perbekalan logistiknya
Dilihat dari segi peralatan belajar, maka untuk mewujudkan situasi atau pengalaman belajar yang dapat mencerminkan situasi dunia kerja secara realistis dan edukatif diperlukan banyak perlengkapan, sarana dan perbekalan logistik yang lain. Bengkel dan laboratorium adalah kelengkapan umum yang menyertai eksistensi suatu sekolah kejuruan.
7. Hubungannya dengan masyarakat dunia usaha.
Hubungan lebih jauh dengan masyarakat yang mencakup daya dukung dan daya serap lingkungan yang sangat penting perannya bagi hidup dan matinya suatu lembaga pendidikan kejuruan. Perwujudan hubungan timbal balik yang menunjang ini mencakup adanya dewan penasehat kurikulum kejuruan (curriculum advisory commite), kesediaan dunia usaha menampung anak didik sekolah kejuruan dalam program kerjasama yang memungkinkan kesempatan pengalaman belajar dilapangan.
Konsekuensi
Ideologi bangsa Indonesia yang berakar dari kebangkitan nasional dimotivasi oleh kehendak untuk mengangkat martabat bangsa secara politik, ekonomi dan sosial melalui kemerdekaan, yang kemudian tertuang pada Pancasila dan UUD 1945. Oleh karena itu, strategi dan
program pendidikan seharusnya sejalan dengan tujuan untuk membangkitkan harkat manusia yang berbudaya agar mampu berpacu secara mental mengejar ketertinggalan dalam arena hidup di dunia tanpa menghilangkan kodratnya yang beragam. Setiap jenis kurikulum bukan menjadi tujuan, melainkan menjadi alat untuk mencapai tujuan. Dari sanalah seharusnya disusun strategi, program dan kurikulum pendidikan itu.
Maksudnya, murid tidak dituntut untuk menguasai secara hafalan akan materi kurikulum, melainkan setiap materi kurikulum itu membantu murid agar memiliki nalar. Memaksa murid agar hafal semua materi kurikulum itu tidak menyebabkan mereka menjadi pintar dan cerdas. Cara demikian lebih mendorong murid menjadi "pengekor", bukan pemikir. Atau hanya menjadi karyawan bukan pengusaha/wiraswastawan yang mandiri. Memberi nilai tinggi kepada murid yang mampu menghafal sebetulnya merupakan sistem yang keliru.
Jangan sampai kebijaksanaan program pendidikan kejuruan bertujuan murid mampu melanjutkan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi, maka bobot kurikulum menjadi berat ke bidang akademik. Tujuan pendidikan kejuruan untuk mengangkat harkat dan martabat manusia yang sesuai dengan filosofi pendidikan kejuruan terabaikan. Formulasi makna nasionalisme yang dituangkan dalam Pancasila menuntut sistem dan kurikulum yang seharusnya bermuatan untuk mengangkat martabat manusia agar beradab, demokratis dan sejahtera. Akan tetapi, apabila bobot kurikulum berat ke bidang akademik, hasilnya akan tidak ada bedanya dengan pendidikan umum.
Penyeragaman jenis, tingkat dan materi kurikulum untuk seluruh sekolah di mana pun lokasinya, berakibat pada penyeragaman kualitas dan wawasan manusia. Akibat lanjutannya ialah memusnahkan keragaman manusia itu sendiri. Hal itu bertentangan dengan kodrat alam sebagai ciptaan Tuhan. Penggiringan murid untuk bercita-cita utama untuk menjadi pegawai negeri atau tenaga kerja melalui sistem dan proses pendidikan di sekolah, padahal sudah diketahui daya tampung sangat kecil, merupakan kesalahan besar. Meski sudah sering
diomongkan bahwa bercita-cita menjadi pegawai oleh sekolah sejak dari tingkat dasar sampai ke tingkat tinggi adalah keliru, program pendidikan tidak memberikan pengertian serius kepada murid sejak dini. Cita-cita yang keliru itu dibiarkan berkembang terus.
Sebagai contoh, pendidikan pada madrasah di jaman penjajahan, tidak menjuruskan murid agar mencari pekerjaan ke kantor. Murid disiapkan untuk hadir dalam masyarakat sebagai warga yang mandiri. Salah satu kurikulum yang penting ialah ilmu mantiq atau logika sehingga murid mampu mengadu argumentasi dari suatu kebenaran yang dianutnya, serta tidak menjadi masyarakat yang taqlid buta.
yang berbeda karena masing-masing memiliki kondisi dan latar belakang budaya yang berbeda. Ada banyak materi kurikulum yang dapat dan perlu sama. Namun, ada banyak pula materi kurikulum yang tidak boleh sama untuk tempat dan kondisi yang berbeda.
Makna pendidikan nasionalisme dan kemerdekaan bangsa seperti yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945, bukanlah semacam "barang" hafalan. Ia harus berfungsi membentuk watak bangsa melalui metode pendidikan aktif-kreatif agar nalar pemikiran dan amal
perbuatan berkembang. Setiap materi kurikulum sejak SD sampai SMA tidak hanya berfungsi mengajarkan ilmu, melainkan juga meningkatkan akal budi. Kurikulum matematik sebagai contoh. Fungsinya untuk memberi latihan berpikir matematis, logis dan sistematis. Hafal rumus-rumus bukan suatu hal yang pantas untuk dinilai. Rumus biarkan dalam buku untuk dijadikan pedoman pada waktu diperlukan, seperti melihat kamus atau ensiklopedi.
Ada baiknya jika ada sekolah yang mendidik anak pintar atau agar anak menjadi lebih pintar, tetapi bukan berarti seluruh sekolah melaksanakan program itu. Demikian pula jangan ada program untuk mendidik semua orang sama pintarnya. Untuk bangsa Indonesia yang hidup dalam alam tropis dan berbudaya, materi pendidikan yang utama diberikan ialah untuk mengubah watak budaya agar menjadi manusia berkemauan kerja keras, bermental ulet dan tekun. Disamping itu, perlu dipahami pula bahwa orang pintar yang bertabiat santai, tidak ada gunanya bagi mencapai cita-cita kemerdekaan bangsa.
Dalam program pendidikan di Indonesia lebih diutamakan susunan dan materi kurikulum pendidikan akademik. Akibatnya, sering terjadi perubahan dan penambahan materi yang serba tanggung sehingga tidak efektif bagi peningkatan mutu pendidikan itu sendiri. Hal itu menjadi lebih buruk lagi hasilnya oleh sistem target dalam hal belajar mengajar dengan memakai standard NEM / NUAN tertinggi. Dalam Sistem NEM / NUAN mendorong siswa untuk memperoleh nilai akademik bukan tingkat penguasaan kompetensi seperti yang diharapkan dalam pendidikan kejuruan. Oleh karena itu, fungsi pendidikan sudah berubah dari tujuan mendidik murid menjadi memperalat murid demi memelihara "nama baik" sekolah. Dan secara tidak langsung telah memberi pelajaran kepada murid untuk melakukan manipulasi atau melakukan "jalan pintas". Padahal untuk memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi, NEM / NUAN tidaklah menentukan secara otomatis dapat melanjutkan ke perguruan tinggi. Mungkin karena perguruan tinggi tidak percaya pada mutu sekolah di bawahnya, kemampuan murid harus diuji lagi.
Kebijaksanaan program pendidikan di Indonesia dinilai tidak proporsional dan juga kontroversial. Sejak dari tingkat SD, murid disiapkan agar mampu menaiki jenjang pendidikan yang paling tinggi. Konsekuensinya, perguruan tinggi dibangun sebanyak - banyaknya dan jurusan bidang studi diperluas sebanyak-banyaknya agar dapat menampung sebanyak - banyaknya mahasiswa. Tampaknya, seperti tidak terpikirkan berapa banyak kebutuhan riil dari pengguna jasa pada produk perguruan itu.
Strategi Pendidikan Nasional
Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa dengan latar belakang budaya dan agama yang berbeda, situasi dan kondisi alam yang tidak sama serta lingkungan hidup yang
bangsa-bangsa yang maju di bidang ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi. Ilmu pengetahuan dan teknologi dapat saja dipelajari karena otak bangsa Indonesia tidak kalah mutunya dari bangsa mana pun, berkat rahmat Tuhan Yang Maha Adil.
Manusia hidup dalam kondisi alam yang berbeda-beda. Oleh karena itu, manusia tidak bisa sama aktivitasnya. Alam yang keras memaksa manusia hidup dengan dinamika yang keras pula. Kalau tidak, mereka akan mati dimakan alamnya sendiri. Manusia yang hidup dalam alam yang lembut akan kalah bila berhadapan dengan manusia yang beralam keras. Seperti watak manusia yang dikatakan Thomas Hobbes, "Homo Homini Lupus", manusia adalah serigala bagi sesamanya.
Karena tuntutan tidak tercapai sebagaimana yang diharapkan, orang pun menggunakan "jalan pintas" pula, yaitu melakukan aksi politik dengan mengadakan rapat, demonstrasi sampai ke pemberontakan di satu pihak, dan di pihak lain mengambil tindakan pragmatis dan berbagai manipulasi politik dan material untuk mengukuhkan kekuasaan dan kekayaan. Orang yang terdidik bekerja keras sama sekali tidak tertarik dengan cara-cara "jalan pintas" itu. Mereka inilah golongan yang mampu bertahan dalam hidupnya, tidak terombang-ambing oleh situasi ekonomi dan politik yang semrawut.
Tuntutan pemilikan ilmu pengetahuan teknologi menuntut mental dan kemampuan kerja yang. Karena ilmu pengetahuan dan teknologi membutuhkan mental disiplin sendiri, yang berakar pada etos kerja. Oleh karena itu, strategi dan program pendidikan kejuruan
semestinya diimbangi dengan "Educational Value" untuk menguatkan atau mengubah mental. Strategi dan program pendidikan kejuruan perlu diiringi dengan sistem dan metode yang cocok, yaitu yang mampu membangkitkan vitalitas murni sebagai manusia merdeka, mandiri, berprestasi, aktif dan kreatif serta produktif. Agar setiap murid mampu memilih arah
hidupnya sendiri atau tidak akan merasa gamang memasuki masyarakat setelah menyelesaikan setiap jenjang pendidikan.
Perlu juga dilaksanakan kebijaksanaan untuk mengurangi jurusan bidang studi yang tidak relevan dan fungsional supaya tidak terjadi pemborosan dana yang terus menerus. Dana yang dihemat itu dapat digunakan untuk meningkatkan mutu sarana.
Mengingat yang melanjutkan ke PT kurang dari 30 %, maka sebaiknya kurikulum yang sentralisasi hanya untuk PT saja atau SMA yang akan melanjutkan ke PT, sedangkan untuk sekolah kejuruan disarankan untuk menggunakan kurikulum yang bernuansa lokal (sesuai kebutuhan daerah setempat), sekali lagi karena anak-anak papua agar dapat bekerja didaerahnya dengan karakteristik yang tentunya berbeda dengan ana-anak Jakarta, atau bahkan berwira usaha sesuai kondisi darehnya.
Beberapa langkah tersebut diatas diyakini penulis akan dapat menjadi landasan yang kuat bagi penentuan konsep pendidikan kejuruan kita dimasa yang akan datang, semoga!! Pustaka
khalidmustafa.wordpress.com/2008/01/17/strategi-pendidikan-nasional
Potret "Buram" Penyelenggaraan
Pendidikan Kejuruan
10 November 2016 21:59 Diperbarui: 10 November 2016 22:11 115 3 0
Oleh: Yosep Efendi
Siswa SMK Sedang Melakukan pengukuran, pemeriksaan dan perakitan komponen sepeda motor (foto. yosep efendi)
Dalam Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
(Sisdiknas), pendidikan di Indonesia dikategorikan menjadi 7 jenis, yaitu pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, vokasi, keagamaan dan khusus. Yang menarik untuk dikaji adalah pendidikan kejuruan dan vokasi.
Sebab, dua jenis pendidikan tersebut berpengaruh besar terhadap upaya membangun sumber daya manusia dan berkontribusi terhadap kondisi perekonomian suatu negara. Seperti yang diungkapkan oleh salah satu pakar pendidikan kejuruan, Jhon F. Thompson dalam bukunya yang berjudul Foundations of Vocational Education, yang menyatakan bahwa pendidikan kejuruan menggerakkan pasar kerja dan berkontribusi pada kekuatan ekonomi suatu negara (1973: 93).
Pendidikan kejuruan dan vokasi memiliki hubungan yang sangat erat , memiliki persamaan dan perbedaan. Persamaannya yaitu sama-sama membekali peserta didiknya dengan
kompetensi yang sesuai dengan dunia kerja. Perbedaanya adalah pada jenjang, istilah
Sedangkan pendidikan vokasi berada pada jenjang pendidikan diploma atau jenjang
pendidikan tinggi lain yang fokus memberikan keahlian khusus pada peserta didiknya. Begitu menurut UU Nomor 20 tahun 2013 tentang Sisdiknas.
Dari dua jenis pendidikan jalur vokasional tersebut, yang lebih mudah dijangkau masyarakat luas adalah pendidikan kejuruan pada jenjang SMK/MAK. Alasannya klasik, yaitu masalah pembiayaan. Tak semua masyarakat bisa menjangkau pendidikan vokasi, karena tak sedikit yang menganggap bahwa biayanya mahal. Meskipun ada beasiswa, namun jumlahnya terbatas. Besarnya populasi SMK dan peserta didiknya, menjadi alasan utama mengapa penting membahas pendidikan kejuruan, lebih mendalam.
Revitalisasi SMK Tidak Berdasar Pada Masalah?
Ilustrasi Inpres Nomor 9 tahun 2015 (sumber gambar: ditpsmk.kemdikbud.go.id)
Sebelum melihat potret permasalahan yang lama, mari Kita lihat apa yang relatif baru di pendidikan kejuruan Indonesia. Pada bulan September 2016 lalu, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, membuat “gebrakan” terkait pendidikan kejuruan. Gebrakan tersebut berupa dikeluarkannya Instruksi Presiden (Inpres) nomor 9 tahun 2016, yang berisi tentang Revitalisasi SMK dalam rangka peningkatan kualitas dan daya saing SDM
Indonesia. Secara umum, isi Inpres tersebut adalah mengajak berbagai pihak untuk bersama-sama mendukung peningkatan kualitas pembelajaran dan lulusan SMK.
Pertama yang menarik yang untuk dikaji adalah alasan atau dasar dikeluarkannya Inpres nomor 9 tahun 2016. Ini penting untuk mengukur keberhasilan Inpres tersebut. Direktur Pembinaan SMK Kemdikbud, Mustaghfirin Amin, menyebutkan bahwa "Justru Inpres itu adalah jawaban pemerintah terhadap animo masyarakat yang tinggi untuk menyekolahkan anak di SMK. Makanya, Presiden ingin kualitas SMK menjadi lebih baik, jadi bukan lahir dari masalah" (sumber). Kalimat akhir pernyataan tersebut mengidikasikan bahwa Inpres revitalisasi SMK muncul bukan karena masalah yang terjadi pada penyelenggaraan SMK. Melainkan hanya untuk meningkatkan kualitas lulusan SMK yang jumlahnya terus meningkat.
Bahkan, tak hanya SMK, semua jenis dan jenjang pendidikan di Indonesia. Tetapi, jika masalah-masalah yang terjadi dan dialami tidak dapat diidentifikasi, maka akan sulit untuk mencapai kualitas terbaik.
Padahal, revitalisasi ini sangat penting untuk menjawab tantangan dan peluang MEA dan Dekade Bonus Demografi Indonesia 2020-2030. Sebab, lulusan SMK akan berperan penting untuk menjawab tantangan dan mengisi peluang tersebut. Oleh sebab itu, mari Kita telusuri berbagai permasalahan nyata terjadi di SMK yang kerap disorot dan menjadi “Potret Buram”. Perlu ditekankan bahwa pemotretan masalah ini bukan bertujuan untuk mendiskriditkan SMK, melainkan untuk mencari solusinya. Agar program revitalisasi SMK bisa berjalan dengan baik.
Kurang Mesranya Hubungan SMK dan Industri
Orientasi pendidikan kejuruan adalah memberikan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan di Dunia Usaha/Dunia Industri (DU/DI). Artinya, pendidikan kejuruan, SMK, harus memiliki hubungan yang erat dengan DU/DI, harus “mesra”. Kemesraan tersebut bisa bermanfaat untuk penyusunan kurikulum, proses pembelajaran, sarana hingga evaluasi pembelajaran SMK.
Termasuk untuk memberikan wawasan dan pelatihan industri bagi guru SMK. Dengan demikian, kompetensi yang diberikan pada siswa, benar-benar sesuai dengan kebutuhan di DU/DI. Sehingga, lulusan SMK yang tergolong usia produktif dan memiliki kompetensi, bisa diterima di dunia kerja.
Namun, faktanya tidak demikian. Tahun 2012, dalam penelitian Tesis saya yang berjudul “Pengelolaan Kemitraan SMK dan Dunia Usaha/Dunia Industri Di Daerah Istimewa
Yogyakarta” mengungkap bahwa kemitraan SMK dan industri masih tergolong lemah, mulai dari point kerjasama hingga pelaksanaannya.
Artinya, antara SMK dan Industri belum terjalin hubungan yang “mesra”. Akibatnya, program Link and Match menjadi “jurus ampuh” kesuksesan pelaksanaan pendidikan kejuruan di Indonesia, menjadi tidak berjalan. Masalah lainnya adalah SMK sulit mencari mitra (institusi pasangan) yang relevan dan representatif.
Padahal, SMK dan industri harus memiliki hubungan kemitraan yang baik, karena sejatinya Mereka saling membutuhkan. Pihak SMK bertugas untuk memberi kompetensi pada peserta didik, yaitu kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri. Pihak industri akan
“menampung” tenaga kerja dari lulusan SMK.
Tiga tahun kemudian, yaitu tahun 2015 dan masih di Yogyakarta, ternyata belum ada perubahan signifikan. Portal berita Koran Sindo mengabarkan bahwa lulusan SMK masih belum siap kerja dan ada perusahaan yang mengeluhkan kompetensi lulusan SMK (sumber). Jika ada hubungan baik antara SMK dan Industri, maka industri mitra tidak akan mengeluh. Jika ada keluhan disalah satu pihak, berarti ada masalah pada program kemitraan tersebut. Begitu “hukum” dalam sebuah kerjasama/kemitraan.
Lemahnya hubungan antara SMK dan Industri tidak hanya terjadi di Yogyakarta, yang menjadi lokasi penelitian saya. Hal itu terjadi di banyak daerah. Seperti yang terjadi di Makassar, portal berita ANTARA mengabarkan bahwa pelaku usaha mengeluhkan lulusan SMK yang belum memiliki kompetensi standarisasi kerja. (sumber). Masih menurut
ANTARA, di Medan pun mengalamai hal yang sama, yaitu kompetensi lulusan SMK masih rendah dan perlu ditingkatkan (sumber).
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendi, menyadari pentingnya kemitraan SMK dan Industri. Beliau mengatakan bahwa "Saya mendorong SMK untuk menjalin hubungan erat dengan industri, perusahaan yang berkaitan langsung produksinya, sehingga karya siswa tidak hanya satu namun bisa diperbanyak" (sumber).
Sepakat bahwa SMK harus didorong untuk menjalin kerjasama dengan industri, namun pertanyaannya, upaya apa yang bisa dilakukan untuk mendorong? Tentu tak cukup hanya dengan dorongan nasihat! Upaya yang dapat dilakukan oleh Mendikbud adalah mengajak Kementerian Perindustrian untuk membuat regulasi yang mengharuskan industri untuk bermitra dengan SMK.
Di mana Peran Pemerintah Dalam Menguatkan Kemitraan SMK dan Industri?
Selain mengungkap lemahnya kemitraan SMK dan industri, penelitian Tesis saya (yang saya tuliskan di paragraf sebelumnya) juga menemukan fakta bahwa ada oknum industri yang enggan untuk bermitra dengan SMK. Alasannya, Mereka tidak mau direpotkan dengan urusan kompleks dalam penyelenggaraan SMK. Apa yang harus dilakukan terhadap industri yang enggan bermitra dengan SMK? Tidak ada!. Sebab tidak ada regulasi Kementerian Perindustrian yang mengatur itu.
Yang terus digaungkan Pemerintah sebagai regulator adalah SMK harus bekerjasama dengan Industri. Namun, tidak dengan industri. Tidak ada peraturan khusus yang mengatur bahwa industri harus bekerjasama dengan SMK, terutama SMK yang berada di sekitarnya. Inilah penyebab dari masalah sulitnya SMK menjalin kerjasama dengan industri yang sesuai dengan kebutuhan SMK.
Dalam pernyataannya di sebuah media, Menteri Perindustrian Erlangga Hartarto berkata “SMK kita dorong agar menjadi gerakan secara nasional agar SMK
melakukan joining program dengan industri”(sumber). Ternyata, masih menggunakan “wejangan” lama, yaitu mendorong SMK untuk bermitra dengan industri. Mestinya, yang didorong oleh Kementerian Perindustrian adalah industri/ badan usaha untuk bermitra dengan SMK.
Jika memang ingin mendukung peningkatan kualitas SMK, sebaiknya Menteri Perindustrian membuat regulasi yang mengharuskan setiap industri memiliki hubungan kerjasama dengan SMK. Tentunya harus ada kesesuaian antara bidang kerja di industri dan spektrum keahlian di SMK. Misalnya industri logam bekerjasama dengan SMK bidang Pemesinan, Indsutri
otomotif dengan SMK Teknik Kendaraan Ringan dan Teknik Sepeda Motor, dan sebagainya. Terkait keharusan kerjasama ini, Kementerian Perindustrian harus memberikan wawasan kebermanfaatan pada industri jika bekerjasama dengan SMK. Karena memang banyak manfaat yang akan diperoleh industri, misalnya kesesuaian antara kompetensi lulusan SMK dan kebutuhan kerja di industri dan tentunya mendapat calon tenaga kerja bagi industri. Kementerian Perindustrian hendaknya membuat regulasi yang ketat, agar industri bersedia bermitra dengan SMK. Tak menutup kemungkinan untuk memberikan sanksi tertentu pada industri yang tidak bersedia bekerjasama dengan SMK. Jika ini dilakukan, maka masalah kemitraan SMK dan industri, dapat terselesaikan.
Ledakan Jumlah Siswa SMK, Minimnya Sarana-Prasarana Pembelajaran dan Pengangguran Dari Lulusan SMK
Hingga saat ini, Pemerintah terus berusaha meningkatkan jumlah SMK. Berdasar pada orientasi pendidikan kejuruan SMK yaitu lulus bisa siap kerja, SMK menjadi solusi untuk mengurangi angka pengangguran.
Tahun 2005, jumlah murid SMK “hanya” 750.000 orang. Tahun ini, 2016, angka itu melonjak tajam menjadi sekitar 4,5 juta orang (sumber). Lonjakan ini dikarenakan terjadi peningkatan jumlah SMK, sesuai dengan rencana pemerintah untuk mencapai rasio 60:40 (60% SMK dan 40% SMA). Sebab, dahulu, lulusan SMA banyak yang menjadi pengangguran, karena tidak memiliki keterampilan.
Saya sependapat dengan logika penambahan rasi SMK:SMA menjadi 60:40 untuk
mengurangi angka pengangguran. Namun, penambahan rasio SMK:SMA tak cukup hanya berdasar logika. Permasalahannya adalah apakah penambahan jumlah unit SMK diimbangi dengan kualitas sarana-prasarana pembelajaran?.
Pendidikan kejuruan di SMK adalah pendidikan yang mahal, sebab sarana dan prasarananya harus disesuaikan dengan yang ada di industri dan itu biayanya sangat tinggi. Sebab,
Pendidikan kejuruan adalah pendidikan “Hands On Experience”, yang menuntut peserta didiknya memiliki pengalaman nyata sesuai bidang keahlian yang dipilih. Contoh, siswa bidang keahlian Teknik Kendaraan Ringan yang mempelajari Sistem Transmisi kendaraan. Ia harus benar-benar memahami secara teori dan praktik dengan unit sistem trasmisi. Tak cukup hanya berteori, tanpa praktikum.
Pertanyaan selanjutnya, bagaimana potret perlengkapan sarana dan prasarana di SMK saat ini? Untuk menjawab pertanyaan ini, izinkan saya bercerita. Hari Sabtu dan Minggu (5 dan 6 Nopember 2016) lalu, saya mendapat kepercayaan untuk menjadi juri Lomba Kompetensi Siswa (LKS) SMK tingkat provinsi, untuk bidang keahlian Teknik Sepeda Motor (TSM). Sebelum hari pelaksanaan lomba, pihak guru diundang Technical Meeting untuk membahas kompetensi, alat dan unit kendaraan yang akan dilombakan. Kegiatan ini bertujuan agar guru dan siswa bisa mempersiapkan diri.
(Clutch Spring Compressor (foto. yosep efendi)
Potret keterbatasan peralatan praktik di SMK adalah potret klasik dan terjadi di banyak berbagai daerah. Penyebabnya pun juga klasik, yaitu masalah keterbatasan dana untuk membeli peralatan praktik. Sebenanarya, masalah keterbatasan sarana pembelaaran ini bisa diatasi melalui kerjasama dengan industri. Namun, ternyata, seperti yang saya tuliskan pada paragraf-paragraf seblumnya, kerjasama dengan industri juga menemui masalah.
Jadi, mengapa pemerintah “terburu-buru” meningkatkan jumlah siswa dan unit SMK? Mengapa tidak berusaha untuk terlebih dahulu memperbaiki kualitas sarana pembelajaran di SMK yang telah berdiri. Agar kualitas lulusan menjadi lebih baik. Sebab, yang terpenting dari pendidikan adalah kualitas, bukan kuantitas.
Ketika kuantitas lebih didahulukan daripada kualitas, ditengah terbatasnya sarana
pembelajaran, maka kompetensi lulusan SMK menjadi dipertanyakan. Menjadi hal “wajar” jika ada industri yang mengeluh dengan rendahnya kompetensi lulusan SMK, seperti yang telah saya tuliskan pada paragraf sebelumnya.
7,03 juta pengangguran di Indonesia, persentase tertinggi disumbang oleh lulusan SMK, yaitu 11,11%. Ini adalah salah satu bukti jika lebih mengedepankan kuantitas daripada kualitas.
Persentase Pengangguran Terbuka Bedasarkan Tingkat Pendidikan (sumber gambar: www.bps.go.id)
Jadi, jika memang pemerintah ingin meningkatkan kualitas lulusan SMK, sebaiknya
pemerintah mengevaluasi lagi program penambahan jumlah siswa dan unit SMK. Lebih baik terlebih dahulu meningkatkan kualitas SMK yang telah ada dan siswa yang sudah masuk SMK. Pemerintah hendaknya memberikan alokasi dana khusus untuk peningkatan kualitas SMK.
Membangun Manusia Indonesia dan Mewujudkan Nawacita Melalui Pendidikan Kejuruan
Pemerintahan Presiden Joko Widodo memiliki 9 agenda prioritas atau dikenal dengan istilah Nawacita. Tiga dari 9 agenda prioritas tersebut sangat dekat hubungannya dengan pendidikan kejuruan, yaitu poin ke-5, ke-6 dan ke-7. Inti dari ketiga point tersebut meningkatkan kualitas hidup melalui peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan, meningkatkan produktivitas rakyat dan mewujudkan kemandirian ekonomi. Pendidikan kejuruan yaitu SMK, memiliki peran yang stretegis untuk mewujudkan 3 cita-cita tersebut.
Pendidikan kejuruan di SMK membekali peserta didiknya dengan kompetensi. Kompetensi merupakan gabungan dari aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan. Lulusan SMK yang kompeten akan membentuk pribadi yang produktif dan kreatif. Sehingga, barisan lulusan SMK akan menjadi garda terdepan dalam mewujudkan peningkatan kualitas hidup, produktifitas dan kemandirian ekonomi bangsa dan negara. Maka, sudah sepatutnya,
pemerintah harus lebih memperhatikan SMK. Salah satunya dengan mengutamakan alokasi anggaran pendidikan untuk penyelenggaraan SMK.
Peluangnya antara lain adalah pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, karena banyak masyarakat yang produktif dan bisa menghasilkan sesuatu. Salah satu ancaman besarnya adalah terjadi ledakan jumlah pengangguran. Kondisi tersebut bisa saja terjadi jika ternyata masyarakat usia produktif tidak memiliki kompetensi untuk menghasilkan sesuatu. Di sinilah peran strategis SMK, yaitu membekali calon masyarakat produktif dengan kompetensi. Dengan syarat, berbagai “catatan merah” pada penyelenggaraan SMK dapat diperbaiki dan tetap mengutamakan kualitas. Meskipun diselimuti banyak potret buram, namun SMK masih memberi harapan besar bagi pengembangan potensi sumber daya manusia Indonesia. Yang selanjutnya berdampak pada kesejahteraan Indonesia.
Catatan Kritis Pendidikan Kejuruan
19 Oktober 2016 15:40 Diperbarui: 19 Oktober 2016 15:57 43 1 0Oleh: Yudhi Hertanto
Ketua Yayasan Berkala Widya Husada-www.akperberkala.ac.id
Salah satu hal yang menjadi sorotan, khususnya didunia pendidikan, dalam beberapa waktu terakhir, adalah tentang rendahnya serapan kerja dari lulusan sekolah menengah kejuruan. Kondisi tersebut merupakan akumulasi dari berbagai macam faktor penyebab, termasuk diantaranya tidak terintegrasinya sistem pendidikan dengan dunia industri, senjangnya skill kemampuan yang diharapkan dari lulusan tingkat SMK, hingga tidak terpenuhinya standar minimal keahlian untuk masuk dunia industri. Mari kita mulai urai satu persatu, letak persoalan benang kusut ini bermula.
Perlu dipahami, skema sekolah menengah kejuruan adalah wujud dari level pendidikan tingkat menengah yang mengutamakan aspek keahlian dalam bentuk konsentrasi kejuruan. Dengan demikian, maka kompetensi kemampuan teknis menjadi syarat nilai bagi lulusan SMK. Hal ini jelas merupakan fundamental utama dari keberadaan sekolah kejuruan. Banyak aspek yang harus diperiksa seperti ikhtisar diatas sebelumnya, bahwa kondisi tingginya angka pengangguran tingkat SMK, adalah karena posisi dasar dari keberadaan sekolah kejuruan saat ini hanya menjadi pelengkap pilihan. Uji petik sederhana dari tingkat sekoilah pertama menempatkan pilihan sekolah menengah atas sebagai prioritas, SMK hanya diambil sebagai pilihan mengingat harga dan orientasi kerja setelah bersekolah.
Pada sudut padang diatas, harga dan orientasi kerja, maka intake bagi para calon siswa SMK secara umum terkonsentrasi pada segmen ekonomi masyarakat kelas bawah. Hal ini tentu berhadapan dengan realita bahwa kebutuhan sebuah SMK adalah peningkatan skill melalui pelatihan, yang sudah barang tentu membutuhkan biya yang tidak sedikit untuk mencapai kualitas skill yang diharapkan. Sarana dan prasarana yang cukup dan memadai adalah prasyarat yang harus dipenuhi secara mutlak.
Sayangnya, hal ini berbeda dari ilustrasi SMK yang ada diberbagai kota ditanah air. Minimnya sarana berlatih, kurangnya tenaga guru produktif yang bertugas mengasah skill dan keahlian dalam kompetensi kejuruan, menyebabkan terjadinya jam-jam pelajaran kosong dan kemudian berujung pada terlibatnya siswa SMK pada tawuran maupun kegiatan non produktif lainnya.
Problem MultiFaktor
dengan rendahnya nilai penghargaan pada guru produktif yang menyebabkan faktor keengganan untuk menjadi tenaga pendidik.
Disaat yang bersamaan, struktur pendidikan kejuruan nasional masih mengadopsi pola pendekatan sekolah menengah umum plus. Dimana porsi plus kejuruan hanya sekitar 30% semata, padahal kalau konsepsi keahlian menjadi sumber keunggulan, maka sudah
semestinya dominasi kejuruan akan menjadi sekitar 60-70% dari total waktu pembelajaran, hal tersebut ditujukan untuk mengejar kompetensi serta skill bagi peserta didik untuk siap diserap pasar industri.
Bercampurnya basis pendidikan umum yang ternyata lebih dominan ditingkat SMK tersebut, juga memperkecil persentase berlatih bagi para siswa. Sehingga tidak jarang, SMK kemudian hanya merupakan bentuk derivatif dari SMA dengan tambahan kejuruan. Format dasar struktur pendidikan kejuruan ini nampaknya perlu dibenahi, dan dapat menjadi bahan diskusi menarik bagi para pakar.
Ditingkat selanjutnya, kita akan melihat relasi terpisah antara industri dan pendidikan kejuruan. Dunia industry jelas membutuhkan maturity dalam kematangan psikologi, yang sangat sulit dipenuhi pada lulusan level SMK. Terlebih lagi kemudian, standart minimal pendidikan menjadi syarat utama dalam kebutuhan tenaga kerja pada bidang profesi tertentu. Semisal pada ranah industry kesehatan, sesuai ketentuan yang mengatur profesi, maka untuk menjadi perawat memiliki kriteria lulusan tersertifikasi dari level Diploma. Hal ini jelas semakin menambah sulitnya absorpsi lulusan SMK di dunia kerja.
Belum kemudian bila ditambah dengan persaingan setaranya, tingkat SMA akan lebih mudah dibentuk sesuai dengan kebutuhan praktis industry dibandingkan dengan lulusan SMK yang lebih memilikia kekhususan. Diluar semua premis diatas, kita tentu gembira bila kemudian menaruh perhatian bagi SMK, karena komitmen untuk mengutamakan peningkatan kualitas sumberdaya manusia harus tercermin dari langkah yang diambil pemerintah kemudian. Solusi sederhananya, harus ditumpukan pada bagaimana bangsa ini hendak memandang potensi sumberdaya manusianya untuk bersaing dimasa depan pada era globalisasi. Menjadi bangsa tangguh dengan kekuatan SDM yang mumpuni dalam aspek skill adlah pilihan yang tidak bisa ditawar lagi. Karenanya pembenahan SMK, integrasinya dengan pendidikan tinggi, serta relasi atas dunia industry harus mendapatkan perhatian serius dari pemerintah, sekaligus menawarkan solusi terbaik bagi upaya menyelesaikan masalah multifactor dari pendidikan kejuruan kita. Semoga
Seputar Revitalisasi Pendidikan Kejuruan
Sebagai implikasi Instruksi Presiden
Nomor 9 Tahun 2016
12 Oktober 2016 00:22 Diperbarui: 12 Oktober 2016 00:48 359 0 0
Oleh: Wawan Darmawan
1a-57fd1df5af7a618626d9c51d.png
Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2016
Sertifikasi Profesi (BNSP) dan seluruh gubernur.yakni 12 menteri Kabinet Kerja, 1 Kepala Lembaga Pemerintah Nonkementerian, dan 34 gubernur yang memperoleh instruksi presiden. Ke 12 menteri tersebut ialah Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan,
Mendagri, Menkeu, Mendikbud, Menristek Dikti, Menperin, Menaker, Menhub, Menteri Kelautan dan Perikanan, Menteri BUMN, Menteri ESDM, dan Menkes.
Setiap menteri memiliki tugas khusus dalam rangka revitalisasi pendidikan menengah kejuruan.
Khusus untuk Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Presiden Jokowi memberikan enam instruksi.
Membuat peta jalan pengembangan SMK,
Menyempurnakan dan menyelaraskan kurikulum SMK dengan kompetensi sesuai kebutuhan pengguna lulusan (link and match),
Meningkatkan jumlah dan kompetensi bagi pendidik dan tenaga kependidikan SMK,
Meningkatkan kerja sama dengan kementerian/lembaga, pemerintah daerah, dan dunia usaha/industri,
Meningkatkan akses sertifikasi lulusan SMK dan akreditasi SMK, dan Membentuk kelompok kerja pengembangan SMK.
Lembaga Pemerintah Nonkementerian Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Ada tiga instruksi yang diberikan kepada BNSP, yaitu
Mempercepat sertifikasi kompetensi bagi lulusan SMK,
Mempercepat sertifikasi kompetensi bagi pendidik dan tenaga pendidik SMK, dan
Mempercepat pemberian lisensi bagi pihak SMK sebagai LSP P1 Sementara itu, instruksi kepada para gubernur adalah
1) Memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk mendapatkan layanan pendidikan SMK yang bermutu sesuai dengan potensi wilayahnya masing-masing,
2) Menyediakan pendidik, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana SMK yang memadai dan berkualitas,
3) Melakukan penataan kelembagaan SMK yang meliputi program kejuruan yang dibuka dan lokasi SMK, dan
4) Mengembangkan SMK unggulan sesuai dengan potensi wilayah masing-masing.
Sebagai Kendali utama revitalisasi pendidikan menengah kejuruan berdasarkan inpres tersebut berada di Kemenko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.
Presiden meminta Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan maharani melakukan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan Instruksi Presiden ini paling singkat 6 bulan sekali juga diminta melaporkan hasilnya kepada Presiden.
Permasalahannya, bagaimana inpres tersebut dapat dilaksanakan dan ketercapaiannya bisa diukur?
Salah satu Respon dari inpres tersebut adalah kesepahaman berikut
Prinsip revitalisasi
Dalam konteks pendidikan berbasis standar sebagaimana diamanatkan dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, penguatan pendidikan menengah kejuruan mesti dilakukan melalui pengembangan standar, terutama lima dari delapan standar nasional pendidikan, yaitu standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, standar penilaian, serta standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru SMK, perlu ada perubahan
paradigma dari prinsip supply driven ke prinsip demand driven. Ada dua prasyarat yang perlu dituntaskan, yaitu kompetensi lulusan yang diperlukan pasar dan rekognisi dari pengguna. Reposisi melalui demand driven,
Konsekuensi dari demand driven ini, untuk bisa bekerja di dunia usaha dan industri, lulusan SMK tidak cukup hanya dengan memiliki ijazah, tetapi juga harus memiliki kompetensi yang dibuktikan dengan sertifikat kompetensi.pasal 61 (undang undang Sisdiknas)
Prinsip berikutnya, , adalah prinsip dual system melalui kemitraan antara satuan pendidikan dengan dunia usaha dan dunia industri. Melalui prinsip ini, selain belajar di sekolah, siswa SMK juga belajar di industri.
2-kompas-57fd1eb11697738b21744c18.png
Pendidikan vokasi/kejuruan harus dirancang selaras dengan program pelatihan kerja
kebutuhan industri yang mutunya di kawal oleh 8 standar BSNP yang berujung pada proses pemberian sertifikasi kompetensi BNSP yang harmonis dengan UU dan PP yang berlaku di sektor terkait, sektor sektor tersebut Antara lain bidang ketenaga listrikan, Kontruksi dan Kesehatan.
Arahan standar baku Indonesia adalah PerPres Nomor 08 tahun 2012Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia,yang selanjutnya disingkat KKNI, yang terdiri dari 9 level adalah kerangka penjenjangan kualifikasi kompetensi yang dapat menyandingkan,
menyetarakan, dan mengintegrasikan Antara bidang pendidikan dan bidang pelatihan kerja serta pengalaman kerja dalam rangka pemberian pengakuan kompetensi kerja sesuai dengan struktur pekerjaan di berbagai sektor. Adapun Lulusan SMK Berada di Level 2
2a-57fd1f16129773e40e653854.png
KKNI merupakan Perwujudan mutu dan jati diri Bangsa Indonesia terkait dengan system pendidikan dan pelatihan nasional yang dimiliki Indonesia , KKNI terdiri dari 9 (sembilan) jenjang kualifikasi, dimulai dari Kualifikasi1 sebagai kualifikasi terrendah dan Kualifikasi–9 sebaga ikualifikasi tertinggi.
Jenjang kualifikasi adalah tingkat capaian pembelajaran yang disepakati secara nasional, disusun berdasarkan ukuran hasil pendidikan dan / atau pelatihan yang diperoleh melalui pendidikan formal, nonformal, informal, atau pengalaman kerja.
UU NO. 20TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL Bagian Ketiga Sertifikasi Pasal 61
1. Sertifikat berbentuk ijazah dan sertifikat kompetensi.
2. Ijazah diberikan kepada peserta didik sebagai pengakuan terhadap prestasi belajar dan/atau penyelesaian suatu jenjang pendidikan setelah Lulus ujian yang di selenggarakan oleh satuan pendidikan yang terakreditasi.
3. Sertifikat kompetensidiberikan oleh penyelenggara pendidikan dan lembaga pelatihan kepada peserta didik dan warga masyarakat sebagai pengakuan terhadap kompetensi untuk melakukan pekerjaan tertentu setelah lulus uji kompetensi yang diselenggaraka oleh satuan pendidikan yang terakreditasi atau lembaga sertifikasi
PP NOMOR 41 TAHUN 2015
TENTANG PEMBANGUNAN SUMBER DAYA INDUSTRI BAB II
Bagian Kesatu Pembangunan Tenaga Kerja Industri Pasal 3
Pembangunan Industri nasional harus didukung dengan
Tenaga Kerja Industri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: a. tenaga teknis; dan b. tenaga manajerial.
Pasal 4
Tenaga teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf a menangani pekerjaan di bidang teknis pada Perusahaan Industri dan/atau Perusahaan Kawasan Industri. (2) Tenaga teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memiliki:
a. kompetensi teknis sesuai dengan SKKNI di bidang Industri; b..dan pengetahuan manajerial.
(3) Pembangunan tenaga teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan paling
Setiap Perusahaan Industri dan Perusahaan Kawasan Industri yang meng gunakan Tenaga Kerja Industri yang tidak memenuhi SKKNI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (3) dikenai sanksi administratif berupa:
a. peringatan tertulis; b. denda administratif; c. penutupan sementara;
d. pembekuan Izin Usaha Industri atau Izin Usaha Kawasan Industri; dan/atau e. pencabutan Izin Usaha Industri atau Izin Usaha Kawasan Industri.
tl-57fd1f9cd17a61c5567ef84d.png
(Sumber: https://www.kompasiana.com/irvec/seputar-revitalisasi-pendidikan-
Penyelarasan Pendidikan
Kejuruan/Vokasi,
3 September 2016 09:28 Diperbarui: 3 September 2016 11:06 83 0 0
Oleh: Wawan Darmawan
pel-asli-57ca14adb793737d7e216f28.png
Kerjasama Industri dan Pasar Kerja
DALAM PRESPEKTIF REGULASI DAN PILIHAN PRIORITAS
https://irvecedukasi.blogspot.co.id , www.irvec.org
A. REGULASI
UU NO. 20TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
Bagian Ketiga Sertifikasi Pasal 61
1. Sertifikat berbentuk ijazah dan sertifikat kompetensi.
2. Ijazah diberikan kepada peserta didik sebagai pengakuan terhadap prestasi belajar dan/atau penyelesaian suatu jenjang pendidikan setelah Lulus ujian yang di selenggarakan oleh satuan pendidikan yang terakreditasi.
3. Sertifikat kompetensidiberikan oleh penyelenggara pendidikan dan lembaga pelatihan kepada peserta didik dan warga masyarakat sebagai pengakuan terhadap kompetensi untuk melakukan pekerjaan tertentu setelah lulus uji kompetensi yang diselenggaraka oleh satuan pendidikan yang terakreditasi atau lembaga sertifikasi
BAB II Bagian Kesatu Pembangunan Tenaga Kerja Industri Pasal 3 (1) Pembangunan Industri nasional harus didukung dengan
(2) Tenaga Kerja Industri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: a. tenaga teknis; dan
b. tenaga manajerial. Pasal 4
Tenaga teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf a menangani pekerjaan di bidang teknis pada Perusa haan Industri dan/atau Perusahaan Kawasan Industri.
(2) Tenaga teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memiliki: a. kompetensi teknis sesuai dengan SKKNI di bidang Industri; b..dan pengetahuan manajerial.
(3) Pembangunan tenaga teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan paling sedikit melalui kegiatan: a. Pendidikan Vokasi Industri berbasis kompetensi
Pasal 40
Setiap Perusahaan Industri dan Perusahaan Kawasan Industri yang meng gunakan Tenaga Kerja Industri yang tidak memenuhi SKKNI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (3) dikenai sanksi administratif berupa:
a. peringatan tertulis; b. denda administratif; c. penutupan sementara;
d. pembekuan Izin Usaha Industri atau Izin Usaha Kawasan Industri; dan/atau e. pencabutan Izin Usaha Industri atau Izin Usaha Kawasan Industri.
B. Kebutuhan PASAR KERJA
Bahwa pada setiap industri SDM Bidang ketenagalistrikan kebutuhan tenaga kerja tersebut sangat dominan, serta dengan regulasi nya berkewajiban memiliki sertifikasi kompetensi kerja.
Estimasi kebutuhan tenaga kerja dengan program elektrifikasi pemerintah dilihat pada gambar berikut
blog3-57ca277c1cafbd173dd94266.png
Tergambar bahwa kebutuhan tenaga kerja langsung 650 ribu tenaga kerja dan tidak langsung 3 juta tenaga kerja dengan kebutuhan paling tinggi di level 2 dan 3 pada KKNI yang di dominasi oleh lulusan SMK jurusan listrik sementara itu PSMK dengan proyek SMK bisa berhasil membalikan jumlah SMK melampaui jumlah SMA.
2-kompas-57ca47b95097735c402bdb83.png
3-kompas-57ca47db0bb0bd3963401f42.png
penyumbang pengangguran tertinggi karena over supply, sementara Jurusan Listrik Mati suri karena kurang nya peminatan masyarakat, inilah harus jadi perhatian PSMK dengan skala prioritas utama.
C. Kerja sama Industri
Dalam upaya penyelarasan kebutuhan tenaga kerja di industri dan pasokan dari lembaga pendidikan pelatihan kerja dibutuhkan kerja sama yang lebih intensif di tingkat implementatif yang didukung oleh regulasi sebagai payung hukum, dengan efektifitas pembiayaan anggaran negara termasuk kelembagaan sertifikasi kompetensi kerja
1-kompas-57ca47f9e7afbd543f85c87c.png
Strategi Pengembangan Pendidikan
Kejuruan di Negara Jerman
4 Agustus 2015 14:22 Diperbarui: 4 Agustus 2015 14:24 591 0 0
Oleh : Tongam Tampubolon Widyaiswara P4TK Medan.
A. Pendahuluan
Masalah Pendidikan Kejuruan adalah suatu Topik yang menarik untuk dibahas dalam suatu kerangka Sistem Pendidikan. Sejatinya sistem pendidikan merupakan suatu tolak ukur Pembangunan suatu bangsa. Sistem Pendidikan yang baik akan menghasilkan mutu
Pendidikan yang baik pula. Mutu Pendidikan dapat dinilai dari kualitas produk pendidikan itu sendiri yaitu Sumberdaya manusia. Sumberdaya manusia yang berkualitas inilah yang menjadi salah satu modal penting dari kemajuan pembangunan suatu Bangsa. Human Capital sering diistilahkan dalam konteks Pembangunan. Dan memang tidak dapat dipungkiri sekaya apapun suatu Negara dengan modal sumberdaya alamnya tanpa ada sumberdaya manusia yang berkualitas untuk mengelola dan mengembangkannya mustahil Negara tersebut dapat maju. Apalagi pengelolaan dan pengembangan sumberdaya alam tersebut harus
menggunakan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). IPTEK sebagai salah satu modal Pembangunan hanya dapat digunakan jika sumberdaya manusianya mempunyai kualitas yang baik (Nachrowi, 2001).
Dalam Sistem Pendidikan Nasional Indonesia , Pendidikan Kejuruan merupakan salah satu jenis pendidikan yang dilaksanakan (Pasal 15 UUSPN No.20/Tahun 2003). Pendidikan kejuruan ini sebenarnya memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang terampil dan mandiri. Pendidikan kejuruan selayaknya menitikberatkan pembelajaran berbasis kerja, sesuai dengan yang diharapkan oleh dunia usaha dan dunia industry. Akan tetapi kenyataannya bahwa Pendidikan Kejuruan yang selama ini dilaksanakan mempunyai disparitas yang sangat mencolok antara kemampuan yang diharapkan dunia kerja dengan lulusan yang dihasilkan dunia pendidikan khususnya pendidikan kejuruan.
B. Salah satu sisi pendidikan kejuruan Jerman
Pada kesempatan yang diperoleh penulis mengikuti Program Pelatihan selama satu setengah tahun di Jerman, ada beberapa hal menarik yang dapat dipelajari pada sistem pendidikan yang diterapkan disana, khususnya pendidikan kejuruan (Berufsbildung). Sistem Pendidikan kejuruan yang dilaksanakan di Republik Federal Jerman sangat baik. Diakui bahwa
ada di Industri atau usaha. Penuhnya perhatian daripada Industri untuk meningkatkan kualitas daripada lulusan pendidikan kejuruan merupakan salah satu faktor keberhasilan pendidikan mereka. Pendidikan bagi mereka adalah berorientasi pada kerja. Sehingga tanggungjawab pembentukan kualitas lulusan merupakan tanggungjawab bersama. Secara eksplisit tidak pernah ada Undang-Undang atau aturan yang mewajibkan Dunia Industri/usaha untuk memperhatikan pendidikan itu. Akan tetapi mereka merasa bertanggungjawab, karena memang mereka membutuhkan kualitas tenaga kerja yang baik yang dihasilkan oleh pendidikan untuk mendukung proses produksi dan pengembangan mereka.
Pada waktu mengikuti Program Pelatihan selama satu setengah tahun di Jerman penulis melakukan praktek industry selama 2 bulan di industry Vestische Strabenbahnen (perawatan Bus )dan 3 bulan diindustri Litto Swiesen (Pengelasan Spart Mobil ) Suatu ketika dalam sebuah pertemuan didalam pernah terlontar pertanyaan „Mengapa Dunia Industri/Dunia Usaha memberikan perhatian penuh pada Pendidikan Kejuruan mereka, sedangkan tidak ada satu aturanpun yang mewajibkan dunia Industri/usaha menopang atau ikut berperan serta di bidang pendidikan ?“ Satu jawaban yang sangat sederhana akan tetapi mempunyai makna sangat dalam, yaitu : mereka bangga mempunyai kualitas. Artinya ketika mereka berperan serta dalam pendidikan mereka bisa menjaga dan mengembangkan kualitas Produk/Jasa mereka.
Dari situasi tersebut jelas terlihat sistem pendidikan mereka telah ditata dan dikembangkan sedemikian rupa. Terbukti untuk pendidikan kejuruan mereka memiliki suatu badan yang bertugas memikirkan dan mengembangkan terus pendidikan mereka. Badan ini disebut Bundesinstitut für Berufsbildung (BiBB) atau Federal Institut for Vocational Education and Training. Tugas Pokok mereka adalah :
Forschen (Penelitian), dimaksudkan untuk mendapatkan hal-hal baru yang baru dan bermanfaat bagi pengembangan pendidikan
Beraten (Konsultasi), mereka bertugas memberikan saran dan ide bagi pengembangan pendidikan kejuruan. Tidak hanya bagi kebutuhan pendidikan Jerman, akan tetapi juga memberikan konsultasi bagi negara-negara yang mau dan membutuhkan bantuan pengembangan pendidikan kejuruan.
Zukunft gestalten (pembentukan/penyiapan masa depan), artinya melalui usaha mereka telah memikirkan yang terbaik bagi masa depan pendidikan kejuruan mereka, dan berhubungan dengan sistem, lulusan, kerjasama, dan yang lainnya demi satu tujuan yaitu kemajuan teknologi yang berdampak pada keberhasilan pembangunan dengan cerminan perekenomian yang kuat.
C. Keberhasilan pendidikan kejuruan di Jerman
Dalam melaksanakan pengembangan pendidikan kejuruan mereka mempunyai lima kunci sukses, “The succes of German vocational education and training is based on five
characteristics wich also represent added value for development of VET system in others countries” yaitu :
Bersama-sama antara Pemerintah dan Industri menyusun dan mendesain kerangka
pendidikan kejuruan dan demikian juga pelatihan. Kerjasama dapat mencakup pembiayaan dan pengembangan kurikulum dan implementasinya, serta bersama-sama melaksanakan assessment proses dan lulusan pendidikan kejuruan itu. Demikian juga dilakukan sebuah kesepakatan tentang sertifikasi kompetensi yang mencerminkan harapan kualitas lulusan dengan tuntutan kompetensi sesuai standar yang berlaku di Industri
1. Learning within the work process,
Tujuan dari pendidikan kejuruan Negara Republik Federal Jerman adalah menciptakan kemampuan kerja para lulusannya yang adaptif dengan dunia industri yang mereka miliki. Oleh karenanya pendidikan berorientasi kerja mengharuskan para siswa/peserta (Teilnehmer) suatu kegiatan pendidikan atau pelatihan kejuruan belajar di dua tempat pembelajaran yaitu di sekolah dan di industry. Kombinasi pembelajaran tersebut sudah didesain sedemikian rupa sehingga sinergitas antara pembelajaran di sekolah dengan pembelajaran di industry sangat baik.
1. Acceptante of national standards
Penerapan standar nasional, merupakan salah satu kunci system pendidikan kejuruan. Kualitas daripada pendidikan itu sendiri dijamin dengan diterapkannya standar-standar pendidikan dan dipatuhi sebagai acuan proses. Untuk memenuhi kualifikasi standar lulusan yang akan memasuki pasar kerja, mereka juga menerapkan standar assessment yang benar-benar ketat. Sehingga kualifikasi tersebut para lulusan dapat memenuhi tuntutan persyaratan penerimaan tenaga kerja dengan mobilitas yang tinggi dan penerimaan masyarakat yang baik. Rekruitmen tenaga kerja menjadi sangat mudah dengan tersedianya tenaga kerja dengan kualifikasi yang baik. Dan kemudahan dalam melanjutkan adaptasi dengan pengembangan pendidikan berikutnya untuk memperbaiki kompetensi atau kualifikasi yang lebih tinggi lagi. 1. Qualified vocational education and training staff
Kualifikasi tenaga pendidikan kejuruan adalah salah satu pondasi untuk kualitas. Para tenaga pendidik kejuruan harus menguasai dan memahami konsep Pedagogik Kejuruan
(Berufspädagogik). Dengan memahami dari konsep Pedagogik Kejuruan para Guru (tenaga kependidikan kejuruan) mampu mendesain strategi pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Menarik bahwa Pedagogik (Berufspädagogik) bukan hanya suatu konsep yang dimiliki oleh dunia pendidikan, akan tetapi tetapi dunia industry juga senantiasa
menggunakan dan mengembangkan konsep Pedagogik. Sehingga para peserta diklat atau siswa yang mengadakan magang dan atau praktikum di suatu industry tetap dikendalikan dengan konsep Pedagogik yang benar sesuai dengan semangat dan jiwa dari suatu jenis pekerjaan. Itu menandakan bahwa industry atau dunia usaha tidak hanya sekedar mengejar keuntungan ekonomi (profit) akan tetapi juga terus menanamkan modal untuk pengembangan pendidikan kejuruan. Dalam pandangan mereka pendidikan atau pelatihan yang mereka sediakan adalah modal yang penting untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas dari produk yang mereka hasilkan.
1. Institutionalized research and career guidance
sedang berkembang di dunia industri, dan bagaimana kebutuhan dunia industri atau dunia usaha terhadap kompetensi lulusan pendidikan kejuruan dapat secara dini diidentifikasi. Sehingga pendidikan kejuruan yang melibatkan sekolah dan industri juga dapat menerapkan strategi nyata dalam proses pembelajaran (Lernprozess). Hasilnya juga digunakan untuk mengembangkan konsep-konsep pembelajaran baru (Lernkonzepte).
Konsultasi karir dimaksudkan sebagai bagian dukungan layanan konsultasi informasi pasar kerja , hal ini juga dimaksudkan sebagai bagian pengembangan pendidikan kejuruan. D. Refleksi
Berdasarkan keberhasilan pendidikan kejuruan di Jerman ada beberapa hal dari sekian banyak pengalaman mengenai pendidikan kejuruan disana, yaitu :
1. Keperdulian industri untuk ikut mengembangkan kualitas pendidikan kejuruan merupakan hal yang sangat patut dicontoh. Sekalipun tanpa aturan wajib dari pemerintah, akan tetapi industri merasa bertanggungjawab akan kualitas pendidikan mereka. Alasan yang sangat sederhana akan tetapi sangat penting yang mereka lontarkan adalah : mereka bangga mempunyai kualitas. Demikiankah sudah sikap dari para kalangan Dunia Industri/Usaha yang ada di Indonesia untuk ikut berperan meningkatkan kualitas pendidikan khususnya pendidikan kejuruan? Sepertinya jawaban untuk pertanyaan ini masih sangat jauh dari kenyataan. Menurut hemat penulis masih sedikit Dunia Industri yang perduli dengan
pendidikan. Orientasi bisnis dengan pendekatan ekonomi membentuk dikotomi antara Dunia Usaha/Industri dengan Dunia Pendidikan. Kecenderungan pemikiran bahwa dunia pendidikan yang dilibatkan dalam Dunia Industri seperti magang atau praktikum hanya membebani saja. Sekalipun terjadi kerjasama antara dunia usaha/industri belum mempunyai konsep yang jelas. Anggapan bahwa peserta praktikum atau magang di industri hanya sebagai tenaga kerja tanpa konsep pembimbingan pembelajaran berbasis kerja belum ada. Sehingga begitu pentingnya dunia usaha dan industri mengerti konsep Pedagogik khususnya kejuruan (Berufspädagogik). Sehingga para siswa kejuruan yang mengadakan magang atau praktikum dapat terarah melaksanakan pembelajaran di Industri/Usaha.
Sesungguhnya bahwa daya saing industri itu sendiri adalah terletak pada sumberdaya
manusia yang menguasai pengetahuan dan teknologi (Hartarto,2004) inilah salah satu alasan industri Jerman sangat peduli dengan pendidikan. Dalam artian mereka sendiri telah
mempersiapkan tenaga-tenaga terampil untuk bekerja di Perusahaan mereka.
1. Perlunya suatu Institusi yang dapat melaksanakan dan bertanggungjawab melakukan penelitian dan pengembangan pendidikan kejuruan tersebut seperti Bundesinstitut für Berufsbildung (BiBB) atau Federal Institut for Vocational Education and Training. 2. Sekali lagi bahwa Industri dan dunia usaha mempunyai peran penting dalam
pengembangan pendidikan kejuruan di Indonesia. Tinggal sekarang bagaimanakah merubah pola pikir mereka. Dan bagaimana upaya pemerintah untuk mewujudkannya. Secara
kebijakan sebenarnya pemerintah punya kekuatan, akan tetapi sepertinya belum dilakukan usaha intensif. Sehingga gaung sekolah kejuruan sebagai salah satu penopang pembangunan belum terlampau diminati oleh peserta didik.
Hartarto, Airlangga.,2004. Strategi Clustering dalam Industrialisasi Indonesia. Penerbit Andi. Yogyakarta.
Nachrowi, D. Nachrowi., 2001. Analisis Sumber Daya Manusia, Otonomi Daerah dan Pengembangan Wilayah dalam Tiga Pilar Pengembangan Wilayah. Pusat Pengkajian Kebijakan Teknologi Pengembangan Wilayah BPPT. Jakarta.
________., 2009. Modernising Vocational Education and Training.Federal Institute for Vocational Education and Training. Bonn, Germany.
Mempersiapkan Penduduk Indonesia
Menghadapi Masa Bonus Demografi
Melalui Pendidikan Kejuruan yang
Merata dan Berkualitas
24 Juni 2014 18:47 Diperbarui: 18 Juni 2015 09:17 1098 0 0
Oleh: Irfan Teguh Prima
14036744671290103050
Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang diakui kesuksesannya dalam menurunkan tingkat pertumbuhan penduduk menuju level yang sangat rendah. Indonesia tercatat memiliki tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi pada tahun 1970-an yaitu 2,33% per tahun, sedangkan pada tahun 2010 berhasil ditekan menjadi 1,49% per tahun (Lihat grafik 1). Dalam proses transisi
demografis suatu negara, Indonesia telah memasuki tahapan keempat yang berarti kita sedang menikmati tingkat kematian dan kelahiran pada tahapan yang cukup rendah. Pencapaian tersebut merupakan hasil kerja keras selama puluhan tahun dalam memasyarakatkan program pengendalian penduduk
Studi terhadap permasalahan dan fenomena kependudukan menjadi makin penting belakangan ini karena terdapat pemahaman keliru di masyarakat umum selama ini atas adagium umum “banyak anak banyak rezeki” yang
mengasosisasikan jumlah anak dengan semakin baiknya tingkat ekonomi suatu keluarga. Pemahaman ini hanya tepat pada masa dahulu mengingat sebuah keluarga harus mengolah tanah yang membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah banyak. Banyaknya jumlah anggota keluarga berbanding lurus
dengan output yang berimplikasi pada meningkatnya pendapatan dan standar hidup keluarga tersebut. Oleh karena itu, tidak heran jika dahulu sebuah
keluarga bisa memiliki jumlah anak lebih dari sepuluh orang. Namun, perekonomian modern sudah bertransformasi menjadi perekonomian yang berfokus pada pemanfaatan modal secara intensif dan penguasaan teknologi tingkat tinggi. Pertumbuhan penduduk tidak bisa lagi diasosiasikan berhubungan positif dengan tingkat kesejahteraan. Faktanya negara maju di dunia adalah negara dengan laju pertumbuhan penduduk yang rendah yang unggul dalam kualitas penduduknya, meskipun jumlah penduduknya sedikit.
Robert Solow telah menjelaskan hubungan pertumbuhan penduduk dengan tingkat ekonomi suatu negara dalam model pertumbuhan ekonomi yang
disebut exogenous growth model atau model pertumbuhan eksogen. Model ini menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi suatu negara dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti akumulasi modal, pertumbuhan penduduk, serta kemajuan teknologi. Temuan penting dari model Solow ini adalah adanya hubungan negatif antara pertumbuhan penduduk dengan pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang (Solow, 1956). Oleh karena itu, diperlukan langkah pengendalian pertumbuhan penduduk dalam suatu negara sehingga negara tersebut dapat memaksimalkan potensi faktor produksi lainnya untuk memacu pertumbuhan ekonomi yang diinginkan.
Berkaca pada data yang ada, Indonesia telah mampu menekan pertumbuhan penduduk dan pada saat yang sama meningkatkan tingkat kesejahteraan per kapita yang tercermin dari PDB per kapita. Jika pada tahun 1970 PDB per kapita kita hanya sebesar US $ 84, pada tahun 2011 sudah mencapai US $ 3.600 (World Bank, 2012). Pada sisi lain, pertumbuhan penduduk kita kedepannya masih akan berkutat pada angka 1,4-0.7%. Dalam laporan bertajuk “Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035”, BPS memproyeksikan pada tahun 2035 jumlah penduduk Indonesia sebesar 305,6 juta. Turunnya tingkat pertumbuhan pada masa
menyusun langkah strategis untuk mengakselerasi pertumbuhan kita lebih baik lagi.
Negara kita saat ini sedang berhadapan dengan sebuah fenomena besar kependudukan yang belum pernah kita alami sebelumnya dan tidak akan
terulang kembali dalam sejarah negara kita. Fenomena tersebut dikenal dengan nama “Bonus Demografi” atau Demographic Dividend. Bonus demografi sendiri merupakan suatu fenomena yang dicirikan dengan penurunan rasio
ketergantungan di suatu negara. Rasio ketergantungan menunjukkan berapa penduduk usia nonproduktif yang ditanggung oleh penduduk usia produktif. Artinya, penurunan rasio ketergantungan akan mencerminkan potensi
peningkatan produktivitas perekonomian suatu negara karena penduduk berusia kerja mendominasi jumlah penduduk keseluruhan. Tren ketergantungan
Indonesia menurut BkkBN (Badan Kependudukan dan Koordinasi Keluarga Berencana) menunjukkan tanda penurunan sejak 1970 dengan rasio
140367458537696481
Implikasi terpenting dari fenomena bonus demografi adalah munculnya kelas pekerja yang berjumlah sangat besar. Kelas pekerja inilah yang kemudian juga akan menjadi masyarakat kelas menengah dengan tingkat konsumsi tinggi, diproyeksikan jumlahnya adalah 135 juta orang pada tahun 2030 nanti (McKinsey, 2012). Semua pertumbuhan yang akan dialami oleh Indonesia ke depannya masih merupakan “peluang” dan belum dapat dipastikan dapat kita raih kedepannya. Penduduk produktif Indonesia dapat menjadi mesin
pertumbuhan ekonomi negara yang berkelanjutan atau justru menjadi sumber munculnya konflik sosial antarkelas di masa depan (Ramdani,
2013). Peningkatan jumlah penduduk produktif harus diikuti oleh peningkatan kualitas penduduk usia produktif tersebut agar penduduk produktif dapat memperoleh kesempatan kerja yang tepat sesuai kebutuhan dunia kerja atau bahkan mampu menciptakan lapangan pekerjaan, terutama ketika globalisasi serta pelaksanaan Masyarakat Ekonomi ASEAN yang menyebabkan arus migrasi tenaga kerja mulai memasuki Indonesia tahun depan.
Penduduk Indonesia selama ini selalu dikatakan memiliki produktivitas yang rendah jika dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. Namun, kenyataan yang ada adalah
(1986; 1990), pendidikan atau pengetahuan merupakan salah satu input esensial untuk pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang karena eksternalitas positifnya yang dapat mengatasi berlakunya hukum pertambahan hasil yang semakin menurun pada input lain seperti modal dan tenaga kerja. Dengan kata lain, dibutuhkan pendidikan berfokus keahlian khusus dan penguasaan teknologi bagi tenaga kerja Indonesia untuk mempersiapkan
penduduk usia produktif menghadapi tantangan global.
Pembangunan dan pengembangan sektor pendidikan merupakan hal yang harus disiapkan dan dilakukan secara seksama karena dalam pendidikan pihak utama yang terlibat adalah manusia itu sendiri. Bentuk pendidikan secara universal terbagi menjadi dua, yaitu pendidikan umum dan pendidikan
kejuruan/vokasional/profesi. Pendidikan umum merupakan tipe pendidikan yang mempersiapkan bagaimana seseorang dapat hidup baik, sedangkan pendidikan kejuruan mempersiapkan bagaimana agar seseorang dapat bekerja dengan baik (Prosser dan Miller).
Pendidikan kejuruan menurut penulis seharusnya dapat menjadi faktor kunci dalam memaksimalkan potensi bonus demografi yang akan dan sedang dialami oleh Indonesia. Dengan jutaan penduduk usia produktif kedepannya, kebutuhan akan pendidikan menengah dan tinggi serta kemampuan spesifik akan semakin besar. Sistem pendidikan umum tidak dapat menyiapkan seseorang untuk menghadapi dunia pekerjaan sehingga umumnya mereka harus menempuh pendidikan tinggi. Ironisnya, pada tahun 2013 hanya 18% penduduk Indonesia yang berpartisipasi pada jenjang pendidikan tinggi. Menempuh pendidikan tinggi memerlukan biaya yang tinggi dan banyak penduduk Indonesia tidak mampu membayar biaya tersebut, meskipun menjadi lulusan perguruan tinggi tidak memberikan jaminan bagi seseorang dapat langsung menerima penghasilan. Pendidikan kejuruan yang merata dan berkualitas dapat menjadi solusi
permasalahan pendidikan dan penyediaan tenaga kerja di Indonesia. Pendidikan kejuruan difokuskan sebagai pengembangan kemampuan sesuai kebutuhan zaman serta memberikan kemampuan manajerial ataupun kewirausahaan.
Berdasarkan hasil studi empiris dari beberapa negara, bentuk pendidikan kejuruan dapat berkontribusi besar dalam pembangunan negara tersebut. Terdapat keunggulan lulusan pendidikan kejuruan dibandingkan lulusan
pendidikan umum yang tergambarkan oleh pendapatan setelah bekerja di Mesir (El-Hamidi, 2006), Israel (Neuman dan Ziderman, 1991), dan Thailand (Moenjak dan Worswick, 2003). Berkaca pada hasil studi tersebut, kita dapat
kemampuan akademik paling rendah dan tingkat edukasi orang tua paling rendah (Newhouse dan Suryadarma, 2009). Oleh karena itu, kita harus
mengembangkan pendidikan kejuruan sesuai dengan identitas dan juga struktur masyarakat dan sosial-ekonomi Indonesia, yakni pendidikan kejuruan yang berfokus pada pertanian, berfokus pada kelautan dan perikanan, pengelolaan pariwisata, serta kemampuan teknik dan rekayasa (informatika, kedirgantaraan, dan mesin).
Pengembangan pendidikan kejuruan Indonesia membutuhkan perhatian dan usaha yang konkret dari seluruh pemangku kepentingan. Pengembangan pendidikan kejuruan dapat mengacu pada “Visi Vokasi Indonesia”. Poin visi tersebut adalah kesadaran bahwa Indonesia membutuhkan jutaan tenaga kerja terampil pada tahun 2030 nanti. Demi menjawab tantangan tersebut
direncanakan akan dibangun 100 politeknik baru di seluruh Indonesia dan menjadikan rasio jumlah SMK:SMA menjadi 70:30 pada 2025 (RPJP Pendidikan Nasional 2005-2025). Oleh karena itu, dibutuhkan investasi yang sangat besar dalam pengembangan pendidikan kejuruan kedepannya.
Permasalahan pengembangan pendidikan kejuruan di Indonesia selama ini adalah 1) Pendidikan kejuruan di Indonesia masih berorientasi pada faktor
penawaran dari masyarakat, bukan berdasarkan permintaan dari dunia usaha, 2) Ketidakcocokan nilai dan pengetahuan yang diajarkan antara institusi pendidikan dengan dunia usaha, 3) Sekolah seharusnya dapat menjamin siswanya
mendapatkan pekerjaan, mempertahankan pekerjaan tersebut dan terus menaiki jenjang karir (Prosser dan Miller), dan 4) Biaya pendidikan pendidikan kejuruan biasanya lebih mahal dibandingkan pendidikan umum (Newhouse dan
Suryadarma, 2009). Permasalahan di atas merupakan beberapa hal utama yang harus secepatnya diatasi oleh pemerintah, institusi pendidikan, serta dunia kerja karena apabila penduduk usia produktif tidak secepatnya mendapatkan
kemampuan yang dibutuhkan, kemungkinan besar nantinya tenaga kerja kita akan kalah bersaing dengan tenaga kerja asing dari negara ASEAN lainnya.
dengan permintaan dunia kerja. Calon tenaga kerja juga harus dilengkapi
dengan softskills dalam kurikulum sekolah kejuruan yang bermuatkan pendidikan manajerial, kepemimpinan, dan kewirausahaan dengan proporsi yang cukup besar, yaitu sekitar 30%.
1403674765974998742
Pemerintah dapat memacu tumbuhnya sisi permintaan tenaga kerja dengan cara menstimulasi tumbuhnya berbagai industri padat karya berbasis inovasi dan kreativitas seperti pariwisata, mode, manufaktur berbasis inovasi, serta industri lainnya yang dapat menyerap tenaga kerja lulusan sekolah kejuruan tersebut. Kepada pengusaha industri inovatif tersebut dapat diberikan insentif pajak dan kemudahan dalam mendirikan usaha. Pembangunan dari sisi penawaran juga penting dilaksanakan dengan cara menambah jumlah sekolah kejuruan, investasi pada tenaga pengajar, fasilitas, kurikulum, serta sosialisasi yang luas bahwa pendidikan kejuruan bukanlah tempat “pendidikan kelas dua” seperti yang selama ini dibicarakan oleh khalayak. Biaya pendidikan kejuruan juga perlu diturunkan sebagai insentif bagi masyarakat. Caranya adalah melalui bantuan pemerintah pusat dan daerah serta penyaluran beasiswa dari industri dalam mekanisme subsidi silang. Selain itu, perlu dibangun sebuah saluran komunikasi serta penyaluran lulusan yang kuat yang menghubungkan antara pihak industri dari sisi permintaan dengan institusi pendidikan dari sisi penawaran sehingga potensi ketidakcocokan nilai serta kemampuan bisa diminimalkan.
Indonesia akan memasuki masa pertumbuhan penduduk yang rendah dalam beberapa tahun kedepan. Menurunnya pertumbuhan penduduk tersebut
bersamaan dengan masa bonus demografi yang kita nikmati. Seperti namanya, yakni “bonus demografi”, kondisi ini bukan berarti kita dapat bersantai
menikmati keadaan yang ada terlebih dengan kondisi persaingan global yang sangat kompetitif. Kita harus menciptakan penduduk usia produktif yang
bonus demografi melalui peningkatan kualitas diri atas penguasaan teknologi dan keahlian terspesialisasi. Pendidikan kejuruan harus menjadi kunci kemajuan Indonesia masa depan.
Referensi
BkkBN. 2013. Profil Kependudukan dan Pembangunan di Indonesia Tahun 2013. Jakarta: BkkBN.
BPS. 2013. Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035. Jakarta: BPS.
Newhouse, David dan Daniel Suryadarma. 2009. The Value of Vocational
Eduacation: High School Types and Labor Market Outcomes in Indonesia. Policy Research Working Paper 5035. NY: World Bank.