“Sengketa Kepemilikan Tanah”
Menurut Kusumadi Poedjosewojo Hukum Administrasi Negara adalah keseluruhan aturan hukum yang mengatur bagaimana negara sebagai pengusaha menjalankan usaha-usaha untuk memenuhi tugasnya. Sumber Hukum Administrasi Negara dapat dibedakan menjadi dua yaitu sumber hukum material dan sumber hukum formal. Terdapat banyak permasalahan yang terkait dengan Hukum Administrasi Negara. Pada kesempatan ini saya mencoba mengangkat satu permasalahan yang lumayan sering dijumpai dalam masyrakat yakni tentang sengketa kepemilikan tanah. Sengketa pertanahan adalah perselisihan pertanahan antara orang perorang, badan hokum atau lembaga yang tidak berdampak luas secara sosio-politis. Penekanan tidak berdampak luas inilah yang membedakan definisi sengketa pertanahan dengan konflik pertanahan. Sengketa tanah dapat berupa sengketa admnistratif, sengketa perdata, sengketa pidana terkait dengan pemilikan transaksi, pendaftaran, penjaminan, pemanfaatan, penguasaan dan sengketa hak ulayat. Sengketa pertanahan ini dapat memicu terjadinya perkara peratanahan yang penyelesaiannya dilaksanakan oleh lembaga peradilan atau putusan lembaga peradilan yang masih dimintakan penanganan perselisihannya di Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia.
Sebagai satu contoh, saya akan mengangkat sebuah realita sengketa tanah. Realita pahit ini menimpa seorang nenek berusia 90 tahun dengan nama Fatimah. Nenek yang seharusnya menikmati masa tuanya ini justru digugat anak keempatnya yang bernama Nurhana dan suaminya Nurhakim. Nenek Fatimah digugat secara materil Rp 1 miliar dan diminta pergi meninggalkan tempat tinggalnya saat ini yang berlokasi di Jalan KH Hasyim Asyari, kecamatan Cipondoh kota Tangerang. Seperti yang dituturkan oleh anak bungsu nenek Fatimah, Amas bahwa tanah dengan ukuran 397 meter persegi yang mereka diami saat ini awalnya merupakan
1 Sengketa Kepemilikan Tanah
Nama : Rezekiana
NIM : GAB 113 034
milik dari Nurhakim menantu nenek Fatimah. Pada tahun 1987, tanah itu dibeli oleh almarhum suami nenek Fatimah, Abdurahman senilai Rp 10 juta serta memberikan Rp 1 juta untuk Nurhana anaknya sebagai warisan. Pembayaran tanah tersebut disaksikan oleh anak-anak nenek Fatimah yang lain. Untuk sertifkat tanah pun sudah diserahkan kepada Abdurahaman (alm) namun masih atas nama Nuhakim. Kerumitan permaslahan ini terjadi lantaran sertifikat tanah yang ada sampai saat ini belum dibalik nama dan masih atas nama Nurhakim sehingga sulit untuk membuktikan ha katas kepemilikan tanah tersebut.
Setelah Abudurahman meninggal, Nurhakim tiba-tiba menggugat tanah tersebut dan mengatakan bahwa tidak pernah ada pembayaran atas tanah tersebut. Awalnya Nurhakim meminta ganti rugi sebesar Rp 10 juta, lalu naik lagi menjadi Rp 50 juta, dan semakin naik menjadi Rp 100 juta hingga menjadi Rp 1 miliar. Perseteruan ini berlanjut hingga akhirnya Nurhakim dan Nurhanah melaporkan nenek Fatimah ke Polres Metro Tangerang dengan tudingan penggelapan sertifikat dan menempati lahan orang tanpa izin.
Pihak keluarga sudah melakukan mediasi namun Nurhakim tetap menuntut ganti rugi tersebut dan jika ganti rugi tersebut tidak dipenuhi maka nenek Fatimah sekeluarga akan diusir dari rumah tersebut. Sampai saat ini kasus tersebut belum menemukan titik terang dan masih dalam masa penanganan kasus perdata. Sejumlah mahasiswa melakukan aksi penggalangan dana untuk membantu nenek Fatimah.
Menurut saya pribadi, jika memang benar tanah tersebut sudah dibeli oleh Abdurahman (alm) maka wajib hukumnya untuk melakukan proses balik nama sertifikat kepemilikan tanah walaupun masih dalam satu keluarga karena tidak ada yang dapat menjamin apa yang akan terjadi di masa mendatang. Balik nama sertifikat kepemilikan tanah yang telah dibeli itu sangat penting dilakukan karena akan sangat berguna contohnya seperti pada kasus yang dialami nenek Fatimah saat ini.
Referensi :
www.bpn.go.id/Program-Prioritas/Penanganan-Kasus-Pertanahan