Sempat Diragukan, Adrian Langganan Keliling Dunia Berkat Ilmu Sejarah
UNAIR NEWS – Ia memang berasal dari kalangan keluarga dokter.
Ketika di bangku SMA, ia pernah meraih prestasi di bidang olimpiade Biologi. Namun, ia berulang kali keliling dunia berkat kecintaannya terhadap Ilmu Sejarah. Ialah Adrian Perkasa. Sejarawan muda yang kini mulai dilirik dunia.
Adrian Perkasa lahir di Tulungagung, 28 tahun silam. Ayahnya adalah seorang dokter. Adrian kecil sudah memiliki kecintaaan yang besar terhadap bangunan candi, oleh sebab sang ayah, sering mengajaknya ke Trowulan ketika perjalanan menuju Surabaya karena menempuh studi di UNAIR.
Selanjutnya, karena sebuah tugas, ayahnya ditempatkan di Unaaha, sebuah desa terpencil di Sulawesi Tenggara. Di SD yang ia sebut lebih mirip dengan kondisi yang ada di film Laskar Pelangi itu, ia mendapatkan motivasi besar dari salah seorang gurunya.
“Kalau kamu mau keliling dunia, kamu harus suka baca,” ujar Adrian menirukan perkataan gurunya ketika SD.
Adrian kecil sudah terbiasa membaca diktat-diktat sejarah.
Buku-buku sejarah begitu sulit didapat ketika itu. Kelak, ketika dewasa, ia menyadari bahwa buku-buku bacaan yang ia baca ketika SD adalah bahan materi yang diajarkan di bangku perkuliahan.
Ketika SMA, materi seputar sejarah tak banyak Adrain tekuni.
Ia bahkan sempat memiliki prestasi di bidang olimpiade Biologi. Namun kemudian, Ilmu Sejarah lah yang ia pilih ketika masuk ke perguruan tinggi.
“Waktu daftar dimarahi. Sejarah mau jadi apa? Teman-teman pun sebagian besar masuk di kedokteran, kedokteran gigi, kedokteran hewan,” ujar laki-laki kelahiran Tulungagung, 27 Juni 1988 itu.
Tahun 2006, Adrian memutuskan menjalani dua kuliah sekaligus, S-1 Ilmu Sejarah dan S-1 Hubungan Internasional di Universitas Airlangga. Studi inilah yang kemudian menjadi awal ia berkeliling dunia dengan bermodal ilmu sejarah.
Memilih dunia akademis
Ketika menjalani dua studi sekaligus, Adrian menyadari bahwa Ilmu Sejarah banyak memberinya kesempatan untuk terus berkembang. Skripsinya menjadi skripsi bertema sejarah pertama yang diterbitkan oleh penerbit nasional dengan judul Orang–Orang Tionghoa dan Islam di Majapahit. Buku itupun mendapat dukungan dari Profesor Islam kenamaan, Ahmad Syafii Maarif.
“Dari situ aku mikir, dunia akademisi itu ternyata menarik. Di dunia akademisi ini, orang tidak dibedakan berdasarkan asal usul golongan, tua maupun muda, tapi berdasarkan prestasi,”
ujar Adrian.
Adrian sempat bergabung di Badan Pelestarian Pusaka Indonesia, sebuah lembaga yang bergerak di bidang pelestarian warisan pusaka. Adrian semakin ‘langganan’ ke luar negeri berkat buku dan makalah penelitian bertema sejarah yang ia tulis. Berbagai negara di belahan dunia menjadi tempat ia berwisata edukasi, seperti Prancis, Taiwan, Hong Kong, Italia, Singapura, Portugal, dan sejumlah negara lainnya.
“Aku jadi tambah sering keliling Indonesia, bahkan dunia, gara-gara sejarah,” ujar aktor film Ketika Cinta Bertasbih dan Cinta Suci Zahrana ini.
Karena ketertarikan di bidang akademis itu, Adrian kemudian melanjutkan studi S-2 di Universitas Gadjah Mada. Ia pun
nyaris tak meminta biaya dari orang tua karena berbagai beasiswa ia dapatkan. Ketika menempuh studi S-2, ia juga menjadi penerima Graduate Student Fellowship di Asia Research Institute National University of Singapore, pada tahun 2013.
Adrian telah menjadi dosen tetap non PNS di Departemen Ilmu Sejarah, UNAIR, sejak 2016 lalu. Tahun 2017 ini, ia sedang menyiapkan sebuah proyek penelitian dengan akademisi tingkat dunia. Ia mendapatkan dana dari organisasi di Uni Eropa dan Amerika Serikat, dan berjejaring dengan akademisi dari Universitas Harvard dan National University of Singapore untuk melakukan penelitian seputar kampung-kampung kuno di Surabaya.
Apa saja peluang lulusan sejarah?
Adrian menyadari betul, ilmu sejarah adalah bidang yang memiliki banyak peluang karir di masyarakat, namun tidak banyak orang yang melihat peluang ini.
“Kita sangat dibutuhkan. Hari ini pemerintah dalam negeri sangat membutuhkan persebaran inventarisasi kampung kuno lawas. Banyak sekali peluang, sayang kalau calon mahasiswa tidak melihat peluang itu,” ujar laki-laki yang saat ini dipercaya oleh Pemerintah Kabupaten Lamongan untuk membuat buku sejarah Lamongan ini.
Adrian berujar, melalui sejarah, manusia tahu identitas mereka. Melalui sejarah kita diajari untuk menjadi manusia yang terbiasa berpikir kritis.
“Hari ini kita banjir informasi. Kita sangat berhati-hati terhadap segala informasi yang ada. Ada verifikasi sumber. Itu yang sangat penting hari ini. Apalagi kita tahu bangsa ini dibangun tidak hanya satu malam saja,” ungkap Adrian.
Orangtua memang sempat meragukan keputusan Adrian untuk mendalami Ilmu Sejarah. Namun hari ini, ia bisa membuktikan bahwa Ilmu Sejarah yang kerap diremehkan orang, justru memiliki banyak peluang karir. Kuncinya, tanggungjawab dan
sungguh-sungguh.
“Dulu orang tua sempat protes. Yang pasti sekarang bangga.
Karena kita sudah diberi keluasaan untuk memilih. Kebebasan harus disertai dengan tanggung jawab,” pungkasnya. (*)
Penulis : Binti Q. Masruroh Editor: Nuri Hermawan
Ruby Castubee, Profesor Penyakit Gusi Sekaligus Musisi
UNAIR NEWS – Sosoknya ramah dan terlihat lebih muda dibandingkan orang seusianya. Ia meluangkan waktu sekitar satu jam lebih kepada UNAIR NEWS di sela-sela kesibukannya sebagai dosen, peneliti, dan musisi.
Sosok lelaki itu adalah Prof. Dr. Muhammad Rubianto, drg., M.S., Sp.Perio (K), yang dikenal dengan nama panggung Ruby Castubee. Dengan gayanya yang santai, lelaki berkemeja flannel itu bercerita banyak tentang hobi bermusiknya, kesibukan sebagai sivitas akademika, hingga impiannya terhadap Universitas Airlangga.
Kesukaannya bermusik diawali sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Pada saat itu, Ruby berkeinginan untuk menciptakan sesuatu yang berjiwa muda sekaligus memberi semangat agar anak muda tak mudah tersesat. Seiring berjalannya waktu, ia secara bertahap mulai belajar bermain piano dan gitar dari seorang guru musiknya. Saat dirinya sudah mulai bisa bermain instrumen musik, ia mulai bergabung dengan
salah satu grup musik terkenal pada zamannya bernama Kancil.
Setelah dari Kancil, Ruby bergabung dengan grup musik bernama Oktavia. Grup musik itu masih eksis hingga kini. Secara kebetulan, rumahnya berada di sekitar Jalan Untung Suropati.
Pada masa itu, di kawasan rumahnya, berdiri sejumlah markas grup musik. Salah satunya, Oktavia. Selama bergabung di Oktavia, ia bermain gitar melodi dan pernah juga bermain di posisi penggebuk drum.
“Saya membuat satu kelompok musik, perkumpulan anak-anak muda Untung Suropati utara. Kumpulnya anak muda jaman itu di situ semua. Anak jenderal, tentara, di situ semua. Dari situ saya mulai mengembangkan musik saya sendiri. Setelah di situ, saya diambil sama band yang namanya band Oktavia. Band Oktavia ini itu kumpulnya anak SMAN 2 jaman dulu. Saya di situ main melodi. Selama melodi jelas, kemudian saya diajak terus main, saya diajak main drum,” kisah Ruby.
Ketika melihat Ruby muda sudah rutin bermain musik bersama rekan-rekannya, bapaknya sempat mengingatkan agar dirinya tak melupakan pendidikan. “Pendidikan harus tetap nomor satu,”
tutur Ruby sembari mengingat perkataan bapaknya.
Usai lulus dari sekolah menengah atas, ia berhasil diterima di S-1 Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, UNAIR. Namun, hobi bermusiknya bagai pisau bermata dua pada saat itu. Ruby hanya bertahan di FK selama satu tahun. Akibat seringnya bermusik, Ruby mengurangi waktu belajar hingga akhirnya ia sakit panas ketika kuliahnya memasuki waktu ujian akhir semester. Ruby becerita, pada saat FK dipimpin oleh Prof. Asmino, ada suatu peraturan tertentu yang membuat dirinya dikeluarkan dari FK akibat tidak lulus ujian semester.
Pada tahun berikutnya, ia kembali mengikuti ujian masuk dan mendaftar di FKG UNAIR. Nasibnya berbuah manis hingga saat ini. Ia menjalani kuliah seperti biasa, tetap bermusik, dan akhirnya menyandang gelar sarjana kedokteran gigi.
“Teman-teman seangkatan saya jarang yang jadi profesor. Saya jadi profesor,” ujar Ruby seraya tertawa mengenang kisahnya.
Setahun lagi, tepatnya tahun 2018, ia memasuki masa pensiun.
Profesor berusia 64 tahun itu kini mempersiapkan kegiatan- kegiatan di masa lanjutnya. Ia ingin bisa tetap bermain musik meski sudah pensiun dari dosen. Keinginannya itu ia buktikan sejak beberapa tahun belakangan. Ia mulai belajar membuat lagu secara otodidak. Saat ini, dari tangannya, Ruby sudah menghasilkan 30 lagu.
“Syaratnya saya harus bisa membuat lagu. Teman-teman saya yang dulu, saya kumpulkan untuk membuat band. Saat ini saya masih main di FKG. Tapi, lagu-lagu saya kan lagu plagiat semua.
Ambil lagunya Red Zeppelin, Deep Purple, Chrisye. Tapi kalau menurut ilmu di sini, kan, nggak boleh ambil miliknya orang,”
tutur penggemar grup musik The Rolling Stones.
Ruby Castubee memainkan gitar kesayangannya. (Foto: Alifian Sukma)
Suguhan pesan moral
Akumulasi cita-citanya masa kecil dan predikatnya sebagai seorang dosen mendorongnya untuk menciptakan lagu-lagu berirama soul, dan R ‘n B yang menjunjung pesan moral dalam lirik-liriknya. Ada banyak pesan yang disampaikan kepada penikmat musiknya dalam dua album yang telah ia rilis.
Dalam lagu Bosan, ia meluapkan kejenuhannya di tengah kehidupan yang penuh kungkungan peraturan.
“Karena waktu kecil, kita kita itu mesti nggak oleh ngene (tidak boleh begini dan begitu) tapi nggak ada solusinya.
Sampai gede pun begitu. Peraturannya begini. Akhirnya saya membuat lagu yang namanya Bosan,” tutur Ruby.
Lagu lainnya berjudul SMS kependekan dari Senang Melihat Orang Senang. Lagu itu juga terinspirasi dari pengamatannya melihat orang-orang di sekitar yang cenderung susah melihat orang senang.
Ada pula judul lagu Ulah Cinta Anak Adam yang mengisahkan tentang kisah percintaan antarsesama. Ruby menuturkan, cinta adalah esensi kehidupan manusia meski perpisahan tak dapat dielakkan.
“Musisi itu kan cinta-cintaan kayak yok yok o ae. Lek wis tukaran, kayak musuh (Kalau bertengkar sudah seperti musuh, - red). Karena terus terang saja, pada waktu itu, angka perceraian itu kan tinggi karena nggak sabaran. Saya berikan pesan terhadap mereka lewat lagu Ulah Cinta Anak Adam,” kisah profesor kelahiran 8 September 1950 ini.
Ada pula lagu-lagu lainnya yang mengisahkan tentang polusi lingkungan dan rohani (Polusi) dan kecintaannya terhadap Surabaya (Surabaya KPK) dan almamater UNAIR (Melawan Bayang- bayang Kekalahan).
“Yang paling baru saya buat Melawan Bayang-bayang Kekalahan,
karena saya nggak mau melihat UNAIR ini suatu saat hanya tinggal nama. Jangan! UNAIR itu tetap harus dikenang dan tetap eksis,” aku Ruby.
Lantas, apa pesan yang ingin Ruby sampaikan dari lagu-lagu yang ia ciptakan? “Cinta kasih, perdamaian, dan persatuan,”
tegasnya.
Sampai saat ini, ia masih rutin bermusik. Bahkan, ia berencana untuk merilis album ketiganya pada tahun 2017 ini.
Membangun jiwa
Bermusik menjadi warna keseharian Ruby di tengah kesibukan sebagai dokter gigi dan dosen. Ia masih rutin mendendangkan gitar sembari bernyanyi di ruang kerjanya. Di ruang praktik dokter gigi di rumahnya, dipenuhi dengan kaset-kaset musisi favoritnya.
“Saya bantu orang (praktik) sambil mendengarkan kaset gitu.
Saya dengerin kaset sambil saya ajak ngomong. Kemudian, begitu ada ide, saya tulis,” tuturnya.
Ia menyatakan sikap setuju saat ditanya pengaruh baik musik terhadap kesehatan seseorang. Ia pernah mendapatkan pasien yang tekanan darahnya tinggi, namun seketika turun setelah pasien diajak mengalunkan lagu kesukaannya.
“Ada yang namanya music for health (musik untuk kesehatan, - red). Jadi, kalau dokter gigi tidak bisa berseni, berarti kurang pas. Itu sangat mendukung saya, jiwa saya, hidup saya ditakdirkan di kedokteran gigi,” imbuhnya.
Selain bermusik dan praktik, Ruby juga masih aktif melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Ia masih mendidik, membimbing, dan menguji penelitian mahasiswa S-1, S-2, dan S-3. Menurutnya, hidup harus seimbang antara ilmu pengetahuan, moral, dan seni.
Ke depan, ia berharap agar segenap sivitas akademika secara
bersama-sama dapat membangun ruh UNAIR sesuai motto Excellence with Morality. Ia senantiasa mengingatkan kepada para pendidik untuk terus mencetak calon kaum intelektual dan cendekiawan baru.
“Kita boleh untuk go international, tapi kita tidak sedang mendidik barang. Kita sedang mendidik orang cerdik pandai.
Cendekiawan kabeh. Dia harus kreatif, mengekspresikan dirinya, bebas berpendapat, dan jangan dikekang,” pesannya mengakhiri.
(*)
Penulis : Defrina Sukma S Editor : Binti Q. Masruroh
Peserta SNMPTN Disarankan Pilih Jurusan yang Linier
UNAIR NEWS – Pertanyaan yang kerap muncul mengenai penerimaan mahasiswa baru adalah kebimbangan para pelajar kelas XII dalam menentukan program studi (prodi). Misalnya, mengenai pemilihan prodi lintas jalur dalam seleksi nasional mahasiswa perguruan tinggi negeri (SNMPTN).
Menjawab keraguan itu, Ketua Pusat Informasi dan Humas (PIH) Universitas Airlangga (UNAIR) Drs. Suko Widodo, M.Si., menyarankan agar para calon peserta SNMPTN memilih jurusan yang linier. “Mengapa? Karena penilaian SNMPTN telah menetapkan mata pelajaran-mata pelajaran yang dinilai di masing-masing jurusan,” tutur Suko.
Bagi pelajar jurusan ilmu pengetahuan alam (IPA), jejak rekam akademis rapor yang dinilai meliputi mata pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Fisika, Kimia,
dan Biologi. Bagi pelajar ilmu pengetahuan sosial (IPS), nilai rapor yang dilihat adalah mata pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Ekonomi, Geografi, dan Sosiologi.
Sedangkan, pelajar jurusan bahasa meliputi Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Sastra Indonesia, Antropologi, dan salah satu bahasa asing.
“Sehingga ketika anak IPA memilih jurusan IPS maka secara otomatis nilai-nilai mata pelajaran Ekonomi, Sosiologi, dan Geografi akan kosong. Dengan begitu disarankan untuk SNMPTN memilih jurusan yang linier,” imbuhnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Suko dalam acara Talkshow Campus Expo yang diadakan oleh Musyawarah Guru Bimbingan Konseling (MGBK) Kota Surabaya. Acara yang dihadiri oleh pelajar SMA se-Surabaya dan sekitarnya digelar Kamis (19/1) di DBL Arena Surabaya.
Selain penjelasan mengenai pemilihan prodi lintas jurusan, Suko juga memaparkan secara singkat mengenai jalur penerimaan mahasiswa baru di UNAIR. Pada tahun 2017, UNAIR menerima mahasiswa baru melalui jalur SNMPTN, SBMPTN (seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri), dan Mandiri.
Terkait dengan perubahan kuota, UNAIR mengikuti aturan yang ditetapkan panitia pusat yakni minimal 30 persen untuk SNMPTN, minimal 30 persen untuk SBMPTN, dan maksimal 30 persen untuk Mandiri. Sedangkan, sisa 10 persen bergantung kebijakan masing-masing PTN.
Selain perubahan kuota jalur penerimaan, sekolah dengan akreditasi A memiliki kuota 50 persen, akreditasi B 30 persen, akreditasi C 10 persen, dan non akreditasi 5 persen.
Antusiasme audiens terlihat ketika sesi tanya jawab. Salah seorang siswa SMA Negeri 13 Surabaya, Tomy, menanyakan perihal indeks penilaian SNMPTN yaitu indeks prestasi kumulatif (IPK) alumni asal sekolah yang berkuliah di kampus tersebut.
“Penilaian alumni tidak hanya dari yang lolos SNMPTN namun juga SBMPTN, dan Mandiri. Selain itu, IPK alumni juga berpengaruh pada track record sekolah tersebut,” tutur Suko.
Pertanyaan lainnya yang muncul dari salah satu orang tua siswa dari SMA Muhammadiyah Surabaya. Ia menanyakan alur pendaftaran SNMPTN. “Apakah bisa siswa sekolah swasta mendaftar SNMPTN?
Lalu, siapa pihak yang melakukan pengisian data?,” tanya seorang peserta talkshow.
Menanggapi pertanyaan itu, Suko menegaskan bahwa sekolah negeri, swasta maupun kejuruan bisa mendaftar SNMPTN dengan mengikuti ketentuan-ketentuan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi.
Terkait pengisian data, diawali dari pangkalan data dan sekolah (PDSS) yang diisikan oleh pihak sekolah. Apabila siswa lolos dalam kuota berdasarkan akreditasi sekolah, tiap siswa akan mendapatkan kode voucher dari pihak sekolah untuk memverifikasi data yang telah diisikan sekolah dan memilih prodi yang diinginkan.
Di akhir acara, Suko memberikan nasihat kepada para siswa, guru, dan orang tua murid. “Pilihlah program studi sesuai dengan minat dan bakat. Pilihlah sesuai passion Anda,”
pungkasnya.
Penulis: Hedy Dyah Syahputri Editor: Defrina Sukma S
Kampanye ‘Fisika Menyenangkan’ di Ujung Jawa Timur
UNAIR NEWS – Departemen Fisika, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga memiliki keunggulan penelitian dalam bidang fisika medis dan biooptika. Baik mahasiswa dan dosen sedang gencar melakukan penelitian dalam dua bidang tersebut.
Hal itu diungkapkan oleh pengajar S-1 Fisika sekaligus Koordinator Prodi S-1 Fisika Prof. Dr. M. Yasin, Drs., M.Si, sembari menunjukkan penelitian yang kini sedang dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswanya.
“Karena orientasinya UNAIR di bidang medis, maka lebih banyak yang bernuansa medis. Misal, serat optik. Dari kajian serat optik ini bisa dikembangkan untuk deteksi detak jantung. Ini contohnya, paper yang sudah accepted, tapi ini masih model,”
tutur Yasin.
Ada pula mahasiswa yang melakukan penelitian mengenai fisika material. Pokok bahasan yang dikaji adalah penambahan logam untuk kandidat tulang keras. Ada pula rancang bangun instrumentasi medis.
Dyah Hikmawati, M.Si, salah satu pengajar Fisika Material, turut menambahkan pernyataan Yasin. Menurut Dyah, mahasiswa juga kerap dilibatkan dalam payung penelitian dosen. “Dosen memiliki payung penelitian dan melibatkan mahasiswa dalam pengerjaannya,” tutur Dyah.
Pengabdian
Sebagai langkah untuk mengenalkan prodi Fisika ke publik, pengajar Departemen Fisika juga punya agenda pengabdian masyarakat ke sekolah menengah atas di berbagai daerah di Jawa Timur. Agenda pengabdian ini menjadi acara rutin tahunan yang
digelar para dosen.
Dalam pengabdian masyarakat, guru dan pelajar SMA dibekali mengenai pengetahuan umum, metode, serta aplikasi Fisika dalam kehidupan sehari-hari. “Dikelola Departemen untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Fisika untuk guru dan murid agar lebih tertarik di Fisika. Kita mengenalkan robot ke siswa, dan bagaimana cara membuat robot sederhana,” tutur Yasin.
Agar motivasi mereka belajar S-1 Fisika di UNAIR kian meningkat, biasanya para pengajar memperkenalkan dosen Fisika yang berasal dari daerah tujuan pengabdian masyarakat. Di Pacitan, misalnya, para siswa juga diperkenalkan oleh Prof.
Dr. Retna Apsari, M.Si., Guru Besar Fisika bidang Biooptika.
Begitu pula dengan promosi prodi di Sumenep.
“Di samping kita juga promosi. Ini lho putra Pacitan sudah ada yang jadi profesor. Sekaligus memotivasi supaya lebih banyak anak yang dari Pacitan. Sumenep juga begitu. Ada doktor seperti bu Aminatun (Dr. Ir. Aminatun, M.Si). Beliau diminta untuk berbicara di alumninya sendiri. Kita undang SMA-SMA di sekitarnya. Kita beri tema yang lagi in seperti robotika, supaya mereka mau belajar Fisika,” ujar Dyah menambahkan.
Sampai saat ini, setidaknya ada delapan daerah yang pernah dikunjungi oleh para pengajar Departemen Fisika untuk melakukan sosialisasi mengenai prodi-prodi, di antaranya Madiun, Trenggalek, Mojokerto, Jombang, Tuban, Gresik, Pamekasan, dan Sumenep.
“Kita ganti-ganti tempat. Kita ingin membangkitkan mereka untuk suka terhadap Fisika. Kita setiap tahun ada SE (self- evaluation), mahasiswa-mahasiswa yang masuk dari Fisika UNAIR itu dari mana saja. Daerah-daerah yang kebetulan nggak pernah ada di mana. Itu bisa jadi menjadi sasaran. Kita pengabdian di sana sekaligus promosi jurusan Fisika,” pungkas Dyah.
Penulis: Defrina Sukma S Editor : Faridah Hari
62 Tahun, IIDI Tebar Aksi Sosial
UNAIR NEWS – Perayaan ulang tahun tak selalu harus dirayakan dengan acara hura-hura. Memaknai bertambahnya usia ke-62, organisasi Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI) menggelar serangkaian acara edukatif. Seperti acara penyuluhan kesehatan dengan berbagai tema dan mengajak ratusan pelajar SMA serta masyarakat Surabaya.
Puncak perayaan HUT ke-62 IIDI ini sekaligus memperingati Hari Ibu ke-88, Hari Kesetia Kawanan Sosial Nasional dan Hari Disabilitas Internasional. Berlangsung di Gedung Airlangga Medical Education Center (AMEC) FK UNAIR (18/1), keempat acara tersebut dikemas dalam sebuah acara temu silaturahmi antar anggota IIDI, Komunitas Worokawuri, Dharmawanita Persatuan, Ikatan Dokter Indonesia, Badan Koordinasi Organisasi Wanita (BKOW) dan yayasan sosial.
Ketua Organisasi IIDI Cabang Surabaya Ir. Heri Sri Totok Suhartoyo mengungkapkan, peringatan HUT IIDI kali ini dimeriahkan dengan serangkaian kegiatan sosial. Yaitu penyuluhan pencegahan HIV/Aids bekerjasama dengan BNN, di Grand City pada bulan November 2016 lalu. Dilanjutkan dengan acara sosialisasi Bahaya Narkoba dan obat terlarang yang diikuti oleh lebih dari 200 pelajar SMA 20 Surabaya, pada bulan Desember 2016.
Setelah sukses mengagendakan kegiatan sosial, acara puncak peringatan HUT ini pun dimeriahkan dengan acara hiburan, seperti lomba kreasi menata tumpeng kue basah dengan peserta ranting kelompok IIDI, dan bazaar. Berlangsung pula penyerahan bantuan dana kepada Yayasan Anak Berkebutuhan Khusus Peduli
Kasih, dan Panti Pondok Kasih Surabaya.
IIDI merupakan satu-satunya wadah yang menghimpun para isteri dokter Indonesia. Organisasi ini bergerak di bidang medik sosial berdasarkan kekeluargaan dan gotong royong. Selain itu, IIDI Surabaya merupakan pendamping serta mitra yang sejajar dengan organisasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI).
‘’Karena posisi kami di Surabaya, ya mitra kita IDI Surabaya.
Yang membedakan antara IIDI dengan IDI adalah, kalau IIDI Surabaya hanya ada satu cabang saja tanpa pengurus wilayah (Jatim). Sementara IDI ada Cabang Surabaya dan ada IDI pengurus wilayah Jawa Timur,” ungkapnya.
Di periode kepengurusan IIDI kali ini, Sri mencanangkan tujuh program unggulan. Yaitu penyuluhan penyakit menular HIV/Aids, penyuluhan penyakit tidak menular kanker serviks dan kanker payudara, penyuluhan narkoba dan obat-obatan terlarang, pola hidup sehat, penertiban jamban dan sanitasi, menekan angka kematian ibu melahirkan dan bayi, sekaligus program menekan kekerasan pada perempuan dan anak. “Bersyukur sekali sebagian program unggulan kami sudah terlaksana dan mendapat respon positif dari masyrakat,” ungkapnya.
Sri berharap, program kegiatan tersebut dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. IIDI pun tdiak bergerak sendiri, dalam pelaksanaanya, IIDI juga melibatkan peran serta masyarakat seperti kader posyandu, dan ibu PKK. (*) Penulis: Sefya Hayu
Editor: Nuri Hermawan
Mengkritik Lewat Pementasan Dramaturgi
UNAIR NEWS – Dramaturgi telah memasuki penampilan yang ke 12.
Pementasan yang dibuat oleh mahasiswa mata kuliah Dramaturgi Sastra Indonesia Universitas Airlangga tahun ini menyuguhkan dua pementasan, yakni naskah AA II UU karya Arifin C. Noer dan Malam Jahanam karya Motinggo Boesje. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, pertunjukan tahun ini diadakan di gedung Srimulat Taman Hiburan Remaja pada Senin, (16/1). Acara dibuka oleh tarian remo dari mahasiswa Sastra Indonesia, dilanjutkan oleh sambutan pimpinan produksi, Citra, dan Puji Karyanto selaku dosen pengampu mata kuliah Dramaturgi.
AA II UU yang disutradarai oleh Chendra Mitra membuka jalannya pementasan. Setting panggung menggambarkan keadaan sebuah rumah dengan ruang tamu dan kamar tidur. Tampak tokoh UU dan Mama di dalam kamar. Terlibat percakapan panjang antara UU dan Mama yang membicarakan tentang sejarah. UU mengaku pada Mama ingin menjadi ahli sejarah, namun dibalas bahwa lulusan Sejarah akan sulit mencari kerja.
Adegan selanjutnya mengambil fokus di ruang depan. Adegan tersebut merupakan adegan usai makan malam keluarga yang dihiasi dengan obrolan-obrolan seputar jurusan yang diambil anak-anak Rustam. Di sela-sela perbincangan, UU mengutarakan niatnya menjadi ahli sejarah. Keinginannya itu ditentang Papa.
Hal tersebut membuat UU kecewa dan marah sehingga memutuskan mengunci diri di kamar. Kedatangan Om Bahar dan Tante Seli diharapkan mampu mencairkan kemarahan UU. Namun UU tetap saja tidak bergeming, ia tetap ingin belajar di Jurusan Sejarah.
Terjadi obrolan panjang antara Om Bahar, Tante Seli, Papa, dan Mama yang sama-sama memikirkan jalan keluar agar UU menyerah.
Pergantian adegan dilakukan kembali di kamar untuk mengecek keadaan UU. Keluarga tersebut membicarakan keanehan UU yang
selalu menjawab dengan kalimat ‘Ya, Ma’. Mereka mulai berspekulasi kalau UU kesurupan. Hingga pada akhir adegan Mama menyetujui pilihan UU untuk masuk Sejarah dan lampu dipadamkan.
Malam Jahanam
Sama seperti pertunjukan pertama, pertunjukan kedua yang disutradarai oleh Faridah Eka Fatmala digarap dengan alur dan setting realis sebuah perkampungan. Awal adegan, suara tawa menggelegak terdengar dari ujung panggung. Muncullah sesosok lelaki bernama Utai yang berpakaian compang-camping dan berjalan serampangan, lalu menuju sebuah rumah dan meminta rokok. Tidak mendapatkan sambutan, ia pergi menuju rumah Paijah. Paijah muncul mengangkat jemuran dan meminta bantuan Utai memasukkan jemuran ke dalam rumah. Di depan Utai, Paijah mengadu sedang menunggu suaminya pulang. Panggung dibiarkan kosong hingga datang Tukang Pijat yang lewat dengan suara rombeng. Adegan selanjutnya menampilkan tokoh Mat Kontan yang berperan sebagai suami Paijah yang terlibat pertikaian dengan Soleman karena Burung Mat Kontan yang mati dan menuduh Soleman membunuh Burung Beonya. Hingga pada akhirnya Paijah mengaku bahwa ia yang membunuh burungnya. Ia juga mengaku kalau anak mereka adalah hasil perselingkuhan Paijah dengan Soleman lantaran Mat Kontan jarang di rumah. Hal tersebut memicu pertengkaran antara Mat Kontan dan Soleman hingga menyebabkan tewasnya Soleman. Mat Kontan membicarakan kematian Soleman pada Tukang Pijat, lalu keluar dari panggung. Masih dalam bingkai adegan yang sama, terdengar teriakan histeris Paijah dari dalam rumah. Ia keluar menggendong bayinya yang sudah mati karena sakit. Adegan ditutup dengan tangisan Paijah dan disaksikan Tukang Pijat di sebelahnya.
Dua pementasan dramaturgi ke 12 memiliki keragaman dalam segi penceritaan. Pementasan pertama berisi kritikan terhadap masyarakat yang meremehkan jurusan yang jarang diminati, sedangkan pementasan kedua menggambarkan konflik rumah tangga.
Gedung pementasan dipenuhi tamu undangan tidak hanya dari
keluarga Sastra Indonesia, melainkan berbagai jurusan.
“Mata kuliah ini memberikan kesempatan pada mahasiswa yang ingin merasakan ekstase main teater. Adik-adik kita dengan penuh semangat dalam waktu yang relatif singkat, mereka berproses mulai menyiapkan naskah, latihan, sampai eksekusi malam ini. Melalui teater, kita diberi ruang untuk belajar tentang masalah-masalah yang dihadapi dan kemungkinan memecahkannya,” tutur Puji Karyanto. (*)
Penulis : Lovita Marta Fabella Editor : Faridah Hari
UNAIR Jadi Tuan Rumah Forum EPI UNET
UNAIR NEWS – Forum Eastern Part of Indonesia University Network (EPI UNET) merupakan wadah silaturahmi untuk membahas berbagai persoalan yang menyangkut pokok Tri Dharma Perguruan Tinggi, terkhusus bagi Perguruan Tinggi (PT) yang ada di wilayah Indonesia timur. Meski baru saja bergabung, Universitas Airlangga dipercaya sebagai tuan rumah pada pertemuan yang dilangsungkan di Ruang 300 Gedung Kahuripan Kampus C UNAIR, Rabu (18/1).
Pada forum EPI UNET kali ini, Ketua Lembaga Penelitian dan Inovasi (LPI) UNAIR Prof. H. Hery Purnobasuki, M.Si., Ph.D berharap, acara yang dihadiri oleh 17 perwakilan dari PT baik Negeri maupun Swasta di Indonesia Timur ini menjadi wadah untuk saling berkolaborasi dalam memajukan tiap institusi dengan keunggulan yang dimiliki.
“Kita harapkan dengan keunggulan masing-masing universitas,
kita bisa saling menggandeng untuk memajukan PT di Indonesia timur ini, utamanya dalam hal penelitian,” terang Prof. Hery.
Menambahkan pernyataan Prof. Hery, Koordinator EPI UNET Prof.
Dr. Ketut Buda Artana, ST., MSc, menjelaskan awal hadirnya EPI UNET yang dimulai sejak tahun 2004. Mulanya, forum ini dimulai dengan kerja sama ITS yang melibatkan beberapa PT di Indonesia timur, seperti Universitas Nusa Cendana, Universitas Sam Ratulangi, dan Universitas Papua. Dari situlah lahir pemikiran untuk saling mengembangkan dan bekerja sama dengan memaksimalkan keunggulan yang dimiliki tiap PT.
“Sejak saat itu, kami berpikir bahwa pola seperti ini harus dilakukan dan lahirlah EPI UNET. Pertama yang kami lakukan adalah riset bersama. Jadi saat dosen kami penelitian, harus melibatkan anggota EPI UNET,” terang Guru Besar ITS Surabaya tersebut.
Selaku tuan rumah, Rektor UNAIR Prof. Dr. Moh. Nasih, SE., MT., CMA., Ak., menanggapi hadirnya forum tersebut. Bagi Prof.
Nasih, tuntutan ke depan yang semakin berat dan sumber daya yang terus terbatas memang harus disikapi dengan adanya sebuah kolaborasi dan kerja sama. Prof. Nasih juga menambahkan bahwa visi misi EPI UNET harus terus dioptimalkan bersama.
“Kalau kita hanya mengandalkan dari negara dan spp mahasiswa, saya kira tidak cukup. Oleh karena itu kita perlu mencari sandaran yang kuat, yakni bentuk kerja sama. Ini bagian dari mengembangkan tujuan bersama. Untuk itu masing-masing keunggulan yang kita miliki bisa menjadi satu kekuatan yang optimal untuk saling kerja sama,” jelas Prof. Nasih. (*)
Penulis: Nuri Hermawan Editor: Dilan Salsabila
Nyanyi Bersama dan Lelang Lukisan, Cara Manajemen UNAIR Berbagi kepada Penderita Kanker
UNAIR NEWS – Berbagi kepada sesama menjadi tugas bagi manusia yang mampu. Tak terkecuali kalangan dosen. Kali ini, para dosen Magister Manajemen menggelar “Art Fest” dengan tujuan beramal kepada para pasien kanker. Acara Art Fest yang terdiri dari nyanyi bersama dan lelang lukisan dilangsungkan pada Selasa (17/1) di Aula Fadjar Notonegoro, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga.
Mengapa memilih seni? Dr. Gancar Premananto, S.E., M.Si, Koordinator Program Studi S-2 Manajemen mengatakan, kemampuan dalam bidang seni bisa dimanfaatkan demi nilai bisnis sekaligus menjadi sarana tepat untuk berbagi kepada sesama.
“Jadi Art Fest ini memang dikhususkan untuk berbagi misalnya kita pernah ke kampung anak negeri, atau juga pernah mengundang tukang becak dan anak yatim. Kemudian dalam kesempatan ini kami memilki kesempatan untuk berbagi dengan anak-anak penderita kanker di Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya (RSDS),” tutur Gancar.
Selain dari nyanyi bersama dan lelang lukisan, ada pula beberapa mitra yang ikut menyumbang acara amal kali ini. Pihak pengajar S-2 Manajemen mendapatkan sumbangan dari perbankan syariah, dan sumbangan mandiri dari peserta. Seluruh hasil kontribusi yang telah diamalkan semua pihak akan sepenuhnya disumbangkan kepada penderita kanker di RSDS.
Berbagi kepada sesama itu juga merupakan bagian dari implementasi motto Excellence with Morality. Harapannya, para pengajar itu secara rutin meluangkan waktu dan menyisihkan
sebagian hartanya untuk berbagi pada sesama.
“Sehingga kegiatan seperti ini memang menjadi acara rutinitas yang dilakukan oleh Manajemen UNAIR, namun bentuk kegiatannya yang berbeda setiap tahun,” pungkas Gancar.
Penulis: Akhmad Janni Editor: Defrina Sukma S
Terapkan Metode Visualisasi Sejarah pada Mahasiswa hingga Guru SMA
UNAIR NEWS – Beragam cara diinisiasi para dosen untuk membuat materi pengajaran sejarah menjadi menyenangkan. Seperti yang digagas oleh para dosen di Departemen Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga. Visualisasi sejarah, yaitu dengan mendokumentasikan peristiwa sejarah ke dalam sebuah film, menjadi media yang cukup efektif untuk melakukan transfer pengetahuan.
Pada tahun 2015 lalu, Departemen Ilmu Sejarah melakukan pengabdian masyarakat ke salah satu SMA di daerah Tuban.
Pengabdian masyarakat tersebut dengan melakukan sosialisasi kepada guru berkaitan dengan metode pengajaran sejarah dengan menggunakan media visual.
“Sosialisasi pengajaran sejarah dengan metode visualisasi menggunakan film, agar pembelajaran sejarah tidak teks book lagi. Yang kita sampaikan dalam pengmas adalah metode pengajaran sejarah sekarang menggunakan film dokumenter,” ujar Gayung Kasuma, Koordinator Program Studi Ilmu Sejarah UNAIR.
Sebagian film yang digunakan ketika sosialisasi adalah film- film yang diproduksi oleh mahasiswa Ilmu Sejarah yang mengambil mata kuliah Visualisasi Sejarah. Beberapa judul film yang mereka buat diantaranya Sejarah Lontong Balap, Sejarah Kebun Binatang Surabaya.
Film-film pendek yang diproduksi mahasiswa Ilmu Sejarah itu, juga disebarluaskan melalui akun YouTube. Tujuannya, agar jangkauan masyarakat yang mengakses produksi film buatan mahasiswa lebih luas.
“Ketika pengmas, kami beri motivasi. Karena generasi yang berbeda, kadang belum begitu akrab dengan hal-hal seperti itu (visualisasi, -red). Pengmas ini memotivasi guru untuk mengajarkan sejarah kepada anak-anak dengan cara yang menyenangkan,” tambah Gayung.
Nurie Sitta Masruri, mahasiswa Ilmu Sejarah yang mengambil mata kuliah Visualisasi Sejarah, bercerita perihal asiknya mempelajari mata kuliah Visualisasi Sejarah.
“Di visualisasi itu ga hanya diajarkan membuat film, tapi juga diajarkan sedikit fotografi. Yang saya dapatkan adalah cara agar dapat gambar yang bercerita. Jadi, pas syuting nih, kita kudu peka sama momen. Juga gimana menempatkan orang dalam frame kamera yang pas. Biar pas jadi film, filmnya ga asal- asalan. Nah, hal-hal semacam itu yang diajarkan,” ujar Nurie.
Nurie menambahkan, film bertema sejarah sangat cocok dibuat bahan pembelajaran siswa. Sebab, ada perpaduan antara teks dan visual. Ia juga berharap, dengan melihat tayangan visual bertema sejarah, banyak pihak yang berinisiatif membuat konten serupa dengan gadged yang mereka miliki.
“Materi berbentuk media visual cocok untuk pembelajaran sejarah, apalagi anak sekolah. Karena sekarang jamannya gadget. Apa-apa di Android. Contohnya buku online (e-book).
Anak sekarang kan suka bikin video terus dimasukkan YouTube or Instagram. Dan dengan cara menonton video itu mereka jadi bisa
meniru banyak hal,” ujar Nurie. (*) Penulis : Binti Q. Masruroh
Editor: Nuri Hermawan
Dokter Umum Baru: Pasien adalah Guru Terbaik bagi Kami
UNAIR NEWS – “Pasien adalah guru terbaik bagi kami.” Itulah ungkapan yang disampaikan oleh dokter umum baru Indrianto Wiryo Pranoto, dr., ketika mewakili rekan-rekannya yang baru saja dilantik sebagai dokter umum baru, Rabu (18/1).
Pelantikan itu dilangsungkan setelah mereka menjalankan praktik pendidikan dokter muda selama dua tahun di Rumah Sakit Dr. Soetomo (RSDS). Selama dua tahun itu, Indrianto dan rekan- rekannya belajar melayani pasien di bawah bimbingan para konsulen di masing-masing departemen. Sebelumnya, mereka menjalani empat tahun pendidikan preklinik di program studi S-1 Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga.
Ungkapannya mengenai pasien adalah guru terbaik itu diperkuat juga oleh pernyataan Pimpinan Badan Layanan Umum RSDS dokter Harsono. Dalam sambutannya, ia mengingatkan kepada para dokter umum baru untuk senantiasa mengutamakan kepentingan pasien.
“Pasien harus mendapatkan pengetahuan terbaik dari kami (dokter, -red). Mereka berhak mendapatkan pelayanan berkualitas. Serta, agar para dokter umum baru ini memberikan hak-hak kesehatan pasien dalam bentuk pelayanan prima,” tutur dokter Harsono dalam Pelantikan Dokter Periode I tahun 2017 di Aula FK.
Dekan FK Prof. Dr. Soetojo, dr., Sp.U, dalam sambutannya menerangkan, sejak satu abad berdirinya FK (sebelumnya dalam bentuk NIAS), FK UNAIR telah meluluskan sekitar sepuluh ribu mahasiswa didik. Menurut keterangan, jumlah dokter umum yang telah diluluskan FK berjumlah 9.765 orang hingga saat ini.
Pada pelantikan kali ini, ada 14 dokter umum baru yang dilantik oleh Dekan FK.
Wakil Rektor I UNAIR Prof. Djoko Santoso, Ph.D., dr., Sp.PD., K-GH., FINASIM, yang juga hadir dalam acara pelantikan dokter berharap agar para dokter umum baru bisa melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi.
“Agendakan juga untuk mengambil pendidikan spesialis, subspesialis, dan doktor untuk mengembangkan pendidikan kedokteran,” harap Djoko. (*)
Penulis: Defrina Sukma S.
Editor: Binti Q. Masruroh