• Tidak ada hasil yang ditemukan

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Oleh : Sri Kandi (Guru Kimia) Sekolah : SMA Negeri 2 Batang

Kelas / Semester : X MIPA / 2

Tema : Hukum-Hukum Dasar Kimia

Sub Tema : Hukum Perbandingan Volume dan Hukum Perbandingan Pembelajaran ke : 2 (Hukum-hukum dasar kimia 2 kali pertemuan)

Alokasi Waktu : Simulasi mengajar : 10 menit A. Tujuan Pembelajaran

Melalui pendekatan saintifik dengan menggunakan model pembelajaran Problem Base Learning berbantuan bulletin kimia dan kartu kasus peserta didik dapat menerapkan hukum dasar kimia (hukum Gay Lussac dan hipotesis Avogadro) dalam perhitungan kimia dan menyajikan hasil analisis data hasil percobaan secara kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif dengan tanggung jawab, disiplin, bekerjasama, dan penuh ketelitian.

B. Kegiatan Pembelajaran

Tahap / Sintaks Langkah-Langkah Pembelajaran Alokasi Waktu

PENDAHULUAN 2 menit

Salam, berdoa, presensi, dan memeriksa kesiapan peserta didik (kelas kondusif dan prokes).

Kegiatan literasi tentang hukum dasar kimia (hukum Gay Lussac dan hipotesis Avogadro).

Menyampaikan tujuan, KD, IPK, dan cakupan materi.

2 menit

KEGIATAN INTI 6 menit

Orientasi peserta didik pada masalah.

Peserta didik dalam kelompok mengamati kartu kasus tentang penerapan hukum dasar dalam perhitungan kimia. Setelah mengamati, peserta didik diberikan pertanyaan bagaimana menyelesaikan kasus tersebut? Kemudian diberikan tantangan untuk mengidentifikasi hukum dasar kimia. Peserta didik menerima bahan ajar, kartu kasus, dan LKPD.

1 menit

Mengorganisasi- kan peserta didik untuk belajar.

Peserta didik dalam kelompok berdiskusi dan membagi tugas untuk memecahkan masalah dari berbagai sumber. Peserta didik menerima penjelasan guru terkait penyelesaian soal perhitungan kimia dengan menerapkan hukum-hukum dasar kimia (hukum Gay Lussac dan hipotesis Avogadro)

2 menit

Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok.

Berdasarkan kartu kasus, peserta didik dalam kelompok melakukan pemecahan masalah yang ada di kartu kasus dengan menerapkan hukum Gay Lussac dan hipotesis Avogadro. Kemudian peserta didik melakukan pemecahan kasus dengan bimbingan guru.

1 menit

Menyajikan hasil karya.

Peserta didik menyajikan hasil pemecahan kasus soal dan menuliskan hasil pemecahan kasusnya dalam lembar kerja.

1 menit Menganalisis dan

mengevaluasi proses pemecahan masalah.

Peserta didik dalam kelompok mempresentasikan hasil penyelesaian kartu kasus dan saling memberikan apresiasi/tanggapan untuk mengevaluasi proses pemecahan kartu kasus yang berkaitan dengan soal perhitungan kimia yang merupakan penerapan hukum Gay Lussac dan hipotesis Avogadro.

2 menit

PENUTUP 2 menit

Peserta didik mengerjakan soal evaluasi perhitungan kimia yang merupakan penerapan hukum Gay Lussac dan hipotesis Avogadro . Guru membimbing peserta didik untuk menyimpulkan hasil pembelajaran tentang hukum Gay Lussac dan hipotesis Avogadro serta memberikan pesan moral kepada peserta didik untuk tetap semangat dan menjaga kesehatan.

Salam penutup.

2 menit

C. PENILAIAN PROSES DAN HASIL PEMBELAJARAN

a. Penilaian Sikap: Observasi (tanggung jawab, disiplin, kerjasama, dan teliti). Lihat lampiran 2

b. Penilaian Pengetahuan: Tes tertulis (menerapkan huku dasar kimia dalam perhitungan kimia). Lihat lampiran 3 c. Pengetahuan Ketrampilan: Unjuk kerja/praktik (menyajikan hasil diskusi kelompok). Lihat lampiran 4

d. Remidial: Pembelajaran remidial bagi peserta didik yang capaian KD belum tuntas (KKM KD=70). Lihat lampiran 5 e. Pengayaan: Peserta didik yang sudah mencapai nilai tuntas diberikan pembelajaran pengayaan sebagai berikut:

1. Peserta didik yang mencapai nilai 80-90 diberikan tugas menjadi tutor bagi teman-teman membutuhkan.

2. Peserta didik yang mencapai nilai >90 diberikan tugas untuk menyelesaikan soal-soal KSN/UTBK Kimia. Lihat lampiran 6

Mengetahui,

Kepala SMA Negeri 2 Batang

Sugeng, S.Pd., M.Pd.

NIP. 19730405 199703 1 005

Batang, 21 April 2022 Guru Mapel Kimia

Sri Kandi, S.Pd.

NIP. 19750123 200801 2 004

(2)

Lampiran 1

BAHAN AJAR Satuan Pendidikan : SMA Negeri 2 Batang

Mata Pelajaran : Kimia Kelas / Semester : X MIPA / 2

Tema : Hukum-hukum Dasar Kimia

Sub Tema : Hukum Gay Lussac dan hipotesis Avogadro

Kompetensi Dasar : 3.10 Menerapkan hukum-hukum dasar kimia, konsep massa molekul relatif, persamaan kimia, konsep mol, dan kadar zat untuk menyelesaikan perhitungan kimia.

4.10 Menganalisis data hasil percobaan menggunakan hukum-hukum dasar kimia kuantitatif.

PETUNJUK BELAJAR

1. Bahan ajar ini disusun berdasarkan urutan sesuai dalam kegiatan pembelajaran.

2. Setiap kegiatan pembelajaran yang akan dicapai, peserta didik diwajibkan mengerjakan kegiatan yang tertuang dalam lembar kerja peserta didik (LKPD).

3. Setelah peserta didik selesai mengerjakan LKPD, kegiatan dilanjutkan dengan latihan soal/evaluasi.

Hukum kimia adalah suatu keteraturan dalam ilmu kimia yang berlaku secara umum. Hukum dasar kimia yang akan dibahas yaitu, Hukum Kekekalan Massa, Hukum Perbandingan tetap, Hukum Kelipatan Perbandingan, Hukum Perbandingan Volum, dan Hipotesis Avogadro.

1. HUKUM KEKEKALAN MASSA

Antoine Laurent Lavoisier pada tahun 1743 – 1794 melalukan pengamatan kuantitatif mengenai keterlibatan gas pada reaksi kimia. Antoine melakukan eksperimen dengan memanaskan merkuri sebanyak 530 gram dalam wadah tertutup yang terhubung dengan udara dalam silinder ukur. Di akhir eksperimen, ternyata volume udara dalam silinder telah berkurang sebanyak 1/5 bagian. Sedangkan merkuri berubah menjadi calx merkuri (berwarna merah) dengan massa sebesar 572,4 gram; atau terjadi pertambah massa sebanyak 42,4 gram. Besarnya pertambahan ini ternyata sama dengan massa 1/5 bagian udara yang berkurang dalam silinder.

(3)

Dari reaksi tersebut, Lavoisier mengamati total massa zat – zat sebelum reaksi sama dengan massa total sesudah reaksi. Kemudian Lavoisier memanaskan kembali calx merkuri yang dihasilkan dengan panas yang lebih besar. Pada akhir reaksi Lavoisier memperoleh kembali logam merkuri dan 1/5 bagian udara yang hilang tadi, dengan total massa sama dengan calx merkuri. Ternyata, diketahui bahwa massa udara yang dibutuhan pada proses pemanasan logam merkuri sama dengan massa udara yang dihasilkan dari pemanasan calx merkuri.

2HgO(s) → Hg(l) + O2(g)

Merkuri oksida Raksa Oksigen

Dari eksperimen tersebut, Lavoisier mengemukakan hukum kekekalan massa atau dikenal sebagai Hukum Lavoisier yang menyatakan bahwa “Dalam suatu reaski kimia massa total zat – zat sebelum reaksi akan selalu sama dengan massa total zat – zat hasil reaksi”.

2. HUKUM PERBANDINGAN TETAP

Pada tahun 1799, Joseph Louis Proust menemukan sifat penting dari suatu senyawa. Senyawa yang sama, meskipun berasal dari sumber yang berbeda atau dibuat dengan cara yang berbeda, ternyata mempunyai komposisi yang sama. Salah satu eksperimen yang dilakukannya adalah mereaksikan unsur hidrogen dan unsur oksigen selalu bereaksi membentuk senyawa air dengan perbandingan massa yang tetap, yaitu 1 : 8.

Massa unsur H

yang direaksikan

(gram)

Massa unsur O

yang direaksikan

(gram)

Massa senyawa air

yang terbentuk

(gram)

Sisa unsur H

atau O (gram)

1 8 9 0

2 8 9 1 gram H

1 9 9 1 gram O

2 16 18 0

Proust menemukan bahwa senyawa selalu mengandung unsur – unsur dengan perbandingan tetap dan tertentu. Proust mengemukakan hukum perbandingan tetap yang dikenal sebagai Hukum Proust, yang berbunyi “Perbandingan massa unsur – unsur dalam suatu senyawa adalah tetap”. Dalam menggunakan Hukum Proust, dapat dihitung dengan cermat jumlah gram suatu unsur yang diperlukan untuk membuat suatu senyawa dengan massa tertentu, sesuai yang diingkan. Sebaliknya, berapa gram massa suatu unsur yang terdapat dalam suatu senyawa tertentu juga dapat dihitung. Senyawa adalah zat yang terbentuk oleh dua atau lebih unsur yang berbeda jenis di mana perbandingan massa unsur-unsur penyusunnya adalah tetap.

Eksperimen Lavoisier

Logam Merkuri + 1/5 bagian udara → calx 530 gram 42,4 gram 572,4 gram

Massa hidrogen : Massa oksigen = 1 : 8

(4)

3. HUKUM KELIPATAN PERBANDINGAN

John Dalton menggunakan teori yang kita kenal sebagai teori atom Dalton. Postulat dasar dari teori tersebut antara lain:

1. Materi tersusun dari partikel yang tidak bisa dibagi lagi, yaitu atom.

2. Atom-atom suatu unsur tertentu adalah sama, sedangkan unsur yang berbeda memiliki jenis atom yang berbeda.

3. Reaksi kimia adalah penggabungan, pemisahan, atau penataan ulang dari atom-atom, tetapi atom-atom itu sendiri tidak berubah.

4. Kombinasi unsur-unsur dalam pembentukan senyawa yang berbeda terjadi ketika atom-atom dari unsur- unsur yang tidak sama bergabung dalam perbandingan bilangan bulat dan sederhana.

John Dalton pada tahun 1766 – 1844 mengamati adanya keteraturan terkait dengan perbandingan unsur dalam senyawa – senyawa. Dari dua unsur dapat dibentuk beberapa senyawa dengan perbandingan massa yang berbeda – beda, misalnya reaksi antara unsur nitrogen dan unsur oksigen yang menghasilkan dua jenis senyawa. Dua senyawa yang dihasilkan adalah senyawa oksida nitrogen I dan senyawa oksida nitrogen II.

Jenis Senyawa

Massa nitrogen yang

direaksikan

Massa oksigen yang

direaksikan

Massa senyawa

yang terbentuk Nitrogen

oksida I

0,875 gram 1,00 gram 1,875

gram Nitrogen

oksida II

1,75 gram 1,00 gram 2,75 gram

Dengan massa oksigen yang sama, ternyata perbandingan massa nitrogen dalam kedua senyawa merupakan bilangan bulat yang sederhana.

gram 1,75 : gram 875 , II 0 oksida nitrogen senyawa

dalam nitrogen Massa

I oksida nitrogen senyawa

dalam nitrogen Massa

=

= 1 : 2

Berdasarkan data hasil pengamatan, John Dalton merumuskan hukum kelipatan berganda yang kemudian dikenal dengan Hukum Dalton yang berbunyi bahwa “Jika dua jenis unsur bergabung membentuk lebih dari satu senyawa, dan jika massa – massa salah satu unsur dalam senyawa – senyawa tersebut sama, sedangkan massa – massa unsur lainnya berbeda, maka perbandingan massa unsur lainnya dalam senyawa – senyawa tersebut merupakan bilangan bulat sederhana”.

4. HUKUM PERBANDINGAN VOLUM

Joseph Louis Gay-Lussac pada tahun 1778 – 1850 adalah seorang ilmuwan Perancis yang melakukan studi tentang gas dengan pengukuran kuantitatif secara akurat. Gay-Lussac melakukan percobaan tentang volume gas yang terlibat pada berbagai reaksi, di mana setiap satu satuan volume gas hidrogen bereaksi dengan satu satuan volume gas klorin menghasilkan dua satuan volume gas hidrogen klorida. Setiap dua satuan volume gas hidrogen bereaksi dengan satu satuan volume gas oksigen menghasilkan dua satuan volume uap air.

Hasil percobaan tersebut menunjukkan bahwa :

Volume gas hidrogen : klorin : hidrogen klorida = 1 : 1 : 2 Volume gas hidrogen : oksigen : uap air = 2 : 1 : 2

1 satuan volume gas hidrogen

+

1 satuan volume gas klorin

2 satuan volume gas hidrogen klorida 2 satuan volume

gas hidrogen

1 satuan volume gas oksigen

+ 2 satuan volume uap

air

(5)

Semua koefisiennya sebanding dengan volume pereaksi dan produk gas. Volume gas pereaksi dan produk dapat dituliskan dalam liter atau satuan volume lainnya. Ternyata perbandingan volume gas dalam suatu reaksi sesuai dengan koefisien reaksi gas-gas tersebut. Hal ini berarti bahwa, jika volume salah satu gas diketahui, maka volume gas yang lain dapat ditentukan dengan cara membandingkan koefisien reaksinya.

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukannya, Gay-Lussac berkesimpulan bahwa “Volume gas – gas yang bereaksi dan volume gas – gas hasil reaksi bila diukur pada suhu dan tekanan yang sama, berbanding sebagai bilangan bulat dan sederhana”. Selanjutnya, kesimpulan ini disebut sebagai hukum perbandingan volum atau dikenal sebagai Hukum Gay-Lussac.

5. HIPOTESIS AVOGADRO

Amedeo Avogadro pada tahun 1776 – 1857 menjelaskan kembali percobaan Gay-Lussac. Menurut Avogadro, partikel unsur tidak harus selalu berupa atom tunggal (monoatomik), tetapi dapat berupa 2 atom (diatomik) atau lebih (poliatomik). Avogadro menyebut partikel tersebut sebagai molekul. Sehingga, bila bagian terkecil dari gas hidrogen dan oksigen adalah molekul yang merupakan gabungan dari dua atom, maka didapatkan :

1 molekul hidrogen + 2

1molekul oksigen → 1 molekul air

(2 atom hidrogen) + (1 atom oksigen) → (2 atom hidrogen + 1 atom oksigen)

Berdasarkan konsep tersebut, maka sampai sekarang gas – gas (kecuali gas mulia) dianggap sebagai molekul diatomik (gabungan dari dua atom) sehingga penulisan rumus kimia gas hidrogen adalah H2 ; oksigen O2 ; nitrogen N2 ; dan seterusnya.

Ia mengajukan hipotesisnya yang berbunyi “ Pada suhu dan tekanan yang sama, semua gas dengan volum yang sama akan mengandung jumlah molekul yang sama pula”, yang dikenal sebagai Hipotesis Avogadro.

Hipotesis Avogadro masih belum diterima saat itu. Hal ini dikarenakn para ahli termasuk Dalton masih beranggapan bahwa atom – atom hanya dapat bergabung melalui ikatan elektrostatis. Menurut mereka, 2 atom sejenis akan saling tolak – menolak, sedangkan 2 atom berlainan jenis akan saling tarik – menarik.

Jadi, mereka tidak memahami bagaimana 2 atom sejenis seperti atom H dapat berikatan membentuk molekul H2. Jika memang terjadi tarik – menarik, mengapa tidak terbentuk H3 atau H4? Meski demikian, pada saat itu dari hukum Gay-Lussac dan Hipotesis Avogadro dapat dikatakan bahwa perbandingan volum zat – zat berwujud gas dalam reaksi kimia juga merupakan perbandingan jumlah molekulnya. Hal ini memungkinkan penulisan rumus kimia zat – zat seperti hidrogen (H2), oksigen (O2), klorin (Cl2), dan air (H2O).

+

Hidrogen Oksigen Molekul air

a. Pada reaksi antara gas hidrogen dengan gas oksigen membentuk uap air pada suhu (T) dan tekanan (P) tetap, perbandingan volum gas hidrogen : volum gas oksigen : volum uap air sama dengan 2 : 1 : 2.

b. Pada reaksi antara gas hidrogen dengan gas klor membentuk uap hidrogen klorida pada suhu (T) dan tekanan (P) tetap, perbandingan volum gas hidrogen: volum uap hidrogen klorida sama dengan 1 : 1 : 2.

c. Pada reaksi antara gas nitrogen dengan gas hidrogen membentuk gas amonia pada suhu (T) dan tekanan (P) tetap, perbandingan volume gas nitrogen : volum gas hidrogen : volum gas amonia sama dengan 1 : 3 : 2.

2 volum hidrogen + 1 volum oksigen = 2 volum air

(6)

BAHAN AJAR BULLETIN KIMIA

(7)
(8)

1. Sebanyak 254 gram tembaga dan 128 gram belerang (sulfur) bereaksi habis membentuk senyawa tembaga sulfida. Menurut Hukum Kekekalan Massa, berapa banyak tembaga sulfida yang akan diperoleh dari reaksi tersebut?

A. 382 gram B. 380 gram C. 370 gram D. 360 gram E. 350 gram

2. Logam Magnesium bermassa 4 gram dibakar dengan oksigen menghasilkan magnesium oksida. Jika massa oksigen yang digunakan 6 gram, berapa gram massa magnesium oksida yang dihasilkan?

A. 15 gram B. 13 gram C. 10 gram D. 8 gram E. 5 gram

3. Pada reaksi antara logam magnesium sebanyak 10 gram dengan 6 gram oksigen sesuai persamaan kimia:

2Mg (s) + O2 (g) → 2MgO (s)

Ternyata dari percobaan dihasilkan 15 gram magnesium oksida dan sisa logam magnesium sebanyak 1 gram.

Kenyataan ini sesuai hukum …. (Ar Mg = 24, O = 16) A. Dalton

B. Lavoisier C. Boyle D. Proust E. Gay Lussac

4. Tahap awal pembuatan asam sitrat dalam industri melibatkan reaksi oksidasi amonia yang menghasilkan nitrogen monoksida dan uap air menurut reaksi berikut ini:

4NH3 (g) + 5O2 (g) → 4NO (g) + 6H2O (g)

Volume nitrogen monoksida yang dihasilkan pada reaksi 6 liter gas amonia (P.T) adalah ….

A. 4 liter B. 6 liter C. 10 liter D. 12 liter E. 14 liter

5. Pada reaksi antara logam magnesium sebanyak 10 gram dengan 6 gram oksigen sesuai persamaan reaksi : 2 Mg (s) + O2 (g) ——– > 2 MgO (s)

Ternyata dari percobaan dihasilkan 15 gram magnesium oksida dan sisa logam magnesium sebanyak 1 gram, berapakah massa oksigen dan massa Magnesium pada magnesium oksida ? ( Ar Mg = 24, Ar O = 16)

A. 14 gram B. 12 gram C. 10 gram D. 8 gram E. 6 gram

Soal Latihan

(9)

Uraian

1. Sebanyak 8 gram tembaga dapat bereaksi dengan 4 gram belerang membentuk tembaga sulfida. jika direaksikan 20 gram tembaga dengan 20 gram belerang, hitunglah:

a. tembaga sulfida yang terbentuk b. massa pereaksi yang tersisa

2. Sejumlah logam besi dipijarkan dengan 3,2 gram belerang menghasilkan 8,8 gram senyawa besi (II) sulfida. Berapa gram logam besi yang telah bereaksi?

3. Berapa volume gas belerang trioksida (SO3) yang terbentuk bila 2 L gas belerang dioksida (SO2) bereaksi sempurna dengan gas oksigen? Diketahui perbandingan volume gas yang bereaksi: 2:1:2

4. Tiga liter gas metana (CH4) dibakar sempurna menghasilkan gas CO2 dan H2 O. Jika pengukuran dilakukan pada suhu dan tekanan yang sama, maka tentukan:

a. persamaan reaksinya;

b. volume gas oksigen yang diperlukan;

c. volume gas CO2 yang dihasilkan;

d. volume uap air yang dihasilkan!

5. Jika 50 mL gas CxHy dibakar dengan 250 mL oksigen, dihasilkan 150 mL karbon dioksida dan sejumlah uap air. Semua gas diukur pada suhu dan tekanan yang sama. Tentukan rumus CxHy.

Kunci Jawaban Soal Latihan dan Skor

No Kunci Jawaban Skor

1. A 1

2. C 1

3. D 1

4. B 1

5. E 1

Uraian

1. Perbandingan massa tembaga dan belerang dalam tembaga sulfida = 8 : 4. Agar semua 20 gram belerang habis bereaksi maka massa tembaga yang dibutuhkan adalah:

=

20 g S 40 gram Cu

S g 4

Cu g

8  =

Hal ini tidak mungkin terjadi karena tembaga yang tersedia hanya 20 g. Agar semua tembaga habis bereaksi maka belerang yang bereaksi adalah:

=

20 g Cu 10 gram S

S g 8

Cu g

4  =

a. massa tembaga sulfida yang terbentuk = massa tembaga yang bereaksi + massa belerang yang bereaksi = ( 20 + 10 ) gram = 50 gram

b. dari uraian di atas dapat diketahui bahwa yang tersisaa adalah belerang sebanyak = ( 20 – 10 ) gram = 10 gram

4

2. Reaksinya :

Fe(s) + S(s) → FeS(s) x g 3,2 g 8,8 g

Menurut hukum kekekalan massa:

Massa sebelum bereaksi = massa sesudah reaksi (x + 3,2 g) = 8,8

x = 5,6 gram

2

3. 2SO2 + O2 –> 2SO3

2 volum : 1 volum : 2 volum 2 L : 1 L : 2 L

Jadi volum belerang trioksida sebanyak 2 Liter.

2

(10)

4. a. persamaan reaksi = CH4 (g) + 2 O2 (g) → 2 H2 O(g) + CO2(g)

= VolumeMetana

CH Koefisien

O Koefisien

4

2

b. volume gas oksigen

= 3

12 

= 6 Liter c. volume gas CO2

= VolumeMetana

CH Koefisien

CO Koefisien

4 2

= 3

11 

= 3 Liter d. volume uap air

= VolumeMetana

CH Koefisien

O H Koefisien

4

2

= 3

12 

= 6 Liter

4

5. Perbandingan volume gas sesuai dengan perbandingan koefisiennya.Perbandingan volume yang ada disederhanakan, kemudian dijadikan sebagai koefisien. Perhatikan reaksi berikut ini.

CxHy + O2 ———– > CO2 + H2O 50 mL 250 mL 150 mL 1 2 3

Karena koefisien H2O belum diketahui , dimisalkan koefisien H2O adalah z maka didapatkan persamaan reaksi

CxHy + 5 O2 ———- > 3 CO2 + z H2O

∑ atom ruas kiri = ∑ atom ruas kanan Berdasarakan jumlah atom O, 10 = 6 + z

z = 10 – 6 = 4

Sehingga persamaan reaksinya menjadi : CxHy + 5 O2 ———- > 3 CO2 + 4 H2O

Untuk menentukan x dan y dilakukan penyetaraan jumlah atom C dan H

∑ atom ruas kiri = ∑ atom ruas kanan Jumlah atom C = x =3

Jumlah atom H = y = 8

Jadi didapati rumus CxHy adalah C3H8

3

Jumlah Skor 20

Skor Akhir = 100 Maksimal

Skor

diperoleh yang

Skor

(11)

LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD ) Sub Materi Pokok : Hukum Gay Lussac dan Hipotesis Avogadro

Kelompok :

Nama Peserta Didik : 1 4

2 5

3

Perhatikan kartu kasus berikut ini :

Langkah-langkah menyelesaiakn soal perhitungan kimia dengan menerapkan hukum Gay Lussac dan hipotesis Avogadro:

1. Menuliskan persamaan kimia yang terjadi.

2. Menyetarakan persamaan kimia.

3. Menghitung jumlah mol atau volume zat yang diketahui massa atau variable lainnya.

4. Menentukan jumlah mol atau volume zat yang ditanyakan dengan zat yang sudah dicari mol/volumenya dengan cara membandingkan koefisiennya.

Perbandingan mol = perbandingan koefisien

Perbandingan volume = perbandingan koefisien

(12)

Jawaban Kasus 1

Jawaban Kasus 2 :

(13)

Jawaban Kasus 4

Jawaban Kasus 3

(14)

Kegiatan 1 : HUKUM GAY LUSSAC

Joseph Louis Gay Lussac (1778-1850) adalah seorang ilmuwan perancis yang melakukan studi tentang gas dengan pengukuran kuantitatif secara akurat. Percobaan dilakukan pada suhu dan tekanan yang

sama.

Perhatikan data percobaan reaksi gas berikut :

No. Volume gas yang bereaksi Volume gas hasil reaksi

Perbandingan volume

Gas A Gas B

1. Gas Hidrogen 0,5 L

1 L 2 L

Gas Klorin 0,5 L

1 L 2 L

Gas Hidrogen klorida 1 L

2 L 4 L 2. Gas hidrogen

1 L 2 L 3 L

Gas oksigen 0,5 L

1 L 1,5 L

Uap air 1 L 2 L 3 L 3. Gas nitrogen

1 L 1,5 L

2 L

Gas hidrogen 3 L 4,5

6 L

Gas ammonia 3 L 3 L 4 L 1. Tuliskan perbandingan volume dari reaksi gas diatas!

...

...

2. Tuliskan persamaan reaksi diatas beserta perbandingan volumenya!

...

...

3. Bagaimanakah hubungan koefisien reaksi dengan perbandingan volume gas yang bereaksi?

...

...

4. Tuliskan kesimpulan yang dapat diperoleh dari percobaan diatas!

...

...

(15)

Kegiatan 2 : HIPOTESIS AVOGADRO

Berikut ini adalah gambar ilustrasi percobaan Avogadro, pembentukan dua molekul uap air dari reaksi antara dua molekul gas hidrogen dan satu molekul gas oksigen.

1. Tuliskan persamaan reaksi diatas!

...

...

2. Jelaskan perbandingan volum dari reaksi diatas!

...

...

3. Jelaskan perbandingan molekul dari reaksi diatas!

...

...

4. Dari percobaan Avogadro di atas dapat disimpulkan?

...

...

(16)

SOAL EVALUASI

Nama: ……… / Kelas: X …………

1. Perhatikan table berikut :

Nama Massa (gram) Volume (L) Jumlah Molekul P(atm) T(0C)

Oksigen

Nitrogen

Karbon dioksida

1,460 1,250 1,961

1 1 1

2,688 x 10

22

2,688 x 10

22

2,688 x 10

22

1 1 1

0 0 0

Berdasarkan analisis data di atas, dapat disimpulkan bahwa data di atas membuktikan berlakunya hukum dasar kimia

….

A. Hukum Kekekalan Massa B. Hukum Perbandingan Volume C. Hukum Kelipatan Perbandingan D. Hukum Perbandingan Tetap E. Hukum/Hipotesis Avogadro

2. Tiga liter gas metana (CH

4

) dibakar sempurna menghasilkan gas CO

2

dan H

2

O. Jika pengukuran dilakukan pada suhu dan tekanan yang sama, maka tentukan:

a. persamaan reaksinya;

b. volume gas oksigen yang diperlukan;

c. volume gas CO

2

yang dihasilkan;

d. volume uap air yang dihasilkan!

3. Jika 50 mL gas C

x

H

y

dibakar dengan 250 mL oksigen, dihasilkan 150 mL karbon dioksida dan sejumlah

uap air. Semua gas diukur pada suhu dan tekanan yang sama. Tentukan rumus C

x

H

y

.

(17)

Lampiran 2

PENILAIAN SIKAP: OBSERVASI

Mata Pelajaran :

Kimia Kelas/Semester : X / 2

Rubrik Penilaian Sikap: Observasi

No.

Aspek yang dinilai

Instrumen Skor

1 Disiplin Masuk ke kelas tepat waktu Masuk ke kelas telat 1 s.d. 2 menit Masuk ke kelas telat 3 s.d. 4 menit Masuk ke kelas telat ≥ 5 menit

4 3 2 1 2 Kerjasama Komunikasi di kelas dan kerjasama dalam kelompok

Bekerjasama dalam kelompok Komunikasi di kelas

Tidak menjalin komunikasi di kelas atau bekerjasama dalam kelompok

4 3 2 1 3 Teliti Menganalisis dan menyajikan dengan benar dan berurutan

Menganalisis dan menyajikan dengan benar Menganalisis dan menyajikan dengan berurutan Menganalisis dan menyajikan dengan jawaban salah

4 3 2 1 4 Tanggung

jawab

Mengerjakan & memasang/mengumpulkan hasil karya tepat waktu Mengerjakan & memasang/mengumpulkan hasil karya telat 1 menit Mengerjakan & memasang/mengumpulkan hasil karya telat 2 menit Mengerjakan & memasang/mengumpulkan hasil karya telat 3 menit

4 3 2 1 1.

1. Keterangan diisi dengan predikat nilai:

PREDIKAT NILAI

SB (Sangat Baik) 3,51 – 4,00

B (Baik) 2,51 – 3,50

C (Cukup) 1,51 – 2,50

K (Kurang) 1,00 – 1,50

LEMBAR OBSERVASI SIKAP PESERTA DIDIK SUB TEMA: Hukum Gay Lussac dan Hipotesis Avogadro

No.

Nama Peserta Didik

Variabel yang Diamati

Hasil Pengamatan

Nilai Sikap Predikat

1 2 3 4

1 Disiplin

Kerjasama Teliti Tanggung jawab

2 Disiplin

Kerjasama

Teliti

Tanggung

jawab

dst

(18)

Lampiran 3

PENILAIAN PENGETAHUAN: TES TERTULIS (URAIAN)

Menggunakan Soal Evaluasi (Bahan Ajar)

Mata Pelajaran :

Kimia Kelas/Semester : X / 2

Kompetensi Dasar : 3.10

Menerapkan hukum-hukum dasar kimia, konsep massa molekul relatif, persamaan kimia, konsep mol, dan kadar zat untuk menyelesaikan perhitungan kimia.

Kisi-Kisi Soal Tes Tertulis Menggunakan Soal Evaluasi

Sub Tema : Hukum Gay Lussac dan Hipotesis Avogadro

Soal Indikator Soal Butir Instrumen

1

2

3

Peserta didik dapat m

enerapkan hukum perbandingan tetap dalam perhitungan kimia

Peserta didik dapat

menerapkan hukum perbandingan volum dalam perhitungan kimia

Disajikan data volume gas dengan jumlah molekulnya yang diukur pada suhu dan tekanan yang sama, peserta didik dapat

menganalisis hubungan tersebut sesuai Hipotesis Avogadro

Jika 50 mL gas C

x

H

y

dibakar dengan 250 mL oksigen, dihasilkan 150 mL karbon dioksida dan sejumlah uap air. Semua gas diukur pada suhu dan tekanan yang sama. Tentukan rumus C

x

H

y

.

Tiga liter gas metana (CH

4

) dibakar sempurna menghasilkan gas CO

2

dan H

2

O . Jika pengukuran dilakukan pada suhu dan tekanan yang sama, maka tentukan:

a. persamaan reaksinya;

b. volume gas oksigen yang diperlukan;

c. volume gas CO

2

yang dihasilkan;

d. volume uap air yang dihasilkan!

Perhatikan data berikut!

Nama Massa (gram)

Volume (L)

Jumlah Molekul P(atm) T(0C)

Oksigen

Nitrogen Karbon dioksida

1,460 1,250 1,961

1 1 1

2,688 x 10

22

2,688 x 10

22

2,688 x 10

22

1 1 1

0 0 0

Berdasarkan analisis data di atas, dapat disimpulkan bahwa data di atas membuktikan berlakunya hukum dasar kimia

….

A. Hukum Kekekalan Massa

B. Hukum Perbandingan Volume

C. Hukum Kelipatan Perbandingan

D. Hukum Perbandingan Tetap

E. Hukum/Hipotesis Avogadro

(19)

Format Penilaian dan Kunci Jawaban Soal Tes Tertulis Uraian Menggunakan Soal Evaluasi

Sub Tema : Hukum Gay Lussac dan Hipotesis Avogadro

NO

Jawaban Skor

1 Perbandingan volume gas sesuai dengan perbandingan koefisiennya.Perbandingan volume yang ada disederhanakan, kemudian dijadikan sebagai koefisien. Perhatikan reaksi berikut ini.

CxHy + O

2

— > CO

2

+ H

2

O 50 mL 250 mL 150 mL 1 2 3

Karena koefisien H

2

O belum diketahui , dimisalkan koefisien H

2

O adalah z maka didapatkan persamaan reaksi

CxHy + 5 O

2

— > 3 CO

2

+ z H

2

O

∑ atom ruas kiri = ∑ atom ruas kanan Berdasarakan jumlah atom O, 10 = 6 + z

z = 10 – 6 = 4

Sehingga persamaan reaksinya menjadi : CxHy + 5 O

2

—> 3 CO

2

+ 4 H

2

O

Untuk menentukan x dan y dilakukan penyetaraan jumlah atom C dan H

∑ atom ruas kiri = ∑ atom ruas kanan Jumlah atom C = x =3

Jumlah atom H = y = 8

Jadi didapati rumus CxHy adalah C

3

H

8

50

2

a. persamaan reaksi = CH

4

(g) + 2 O

2

(g) → 2 H

2

O(g) + CO

2

(g)

= Volume Metana

CH Koefisien

O Koefisien

4

2

b. volume gas oksigen

=

3

12 

= 6 Liter c. volume gas CO

2

= Volume Metana

CH Koefisien

CO Koefisien

4 2

=

3

11 

= 3 Liter d. volume uap air

= Volume Metana

CH Koefisien

O H Koefisien

4

2

=

3

12 

= 6 Liter

40

3 E 10

Jumlah 100

(20)

Lampiran 4

PENILAIAN KETERAMPILAN: KINERJA/PRAKTIK

Menggunakan Kartu Kasus Mata Pelajaran : Kimia

Kelas/Semester : X MIPA/

2

Kompetensi Dasar : 4.10 Menganalisis data hasil percobaan menggunakan hukum-hukum dasar kimia kuantitatif.

Rubrik Penilaian Kinerja/Unjuk Kerja/Praktik

Kriteria Skor Indikator

Persiapan (Skor maks=3)

3 Menyiapkan alat tulis dan bahan tepat 2 Menyiapkan alat tulis atau bahan tepat 1 Menyiapkan alat tulis dan bahan tidak tepat 0 Tidak menyiapkan alat tulis dan/atau bahan tepat

Pelaksanaan (Skor maks=7)

3 Merangkai jawaban dan tulisan rapi 2 Merangkai jawaban atau tulisan rapi

1 Merangkai jawaban tidak tepat dan tulisan tidak rapi 0 Merangkai jawaban dan tulisan rapi

2 Langkah kerja menyelesaikan soal benar dan waktu pelaksanaan tepat 1 Langkah kerja menyelesaikan soal atau waktu pelaksanaan tepat 0 Langkah kerja menyelesaikan soal dan waktu pelaksanaan tidak tepat 2 Memperhatikan keselamatan (tidak membahayakan) dan kebersihan 1 Memperhatikan keselamatan (tidak membahayakan) atau kebersihan 0 Tidak memperhatikan keselamatan (membahayakan) dan tidak kebersihan

Hasil (Skor maks=6)

3 Mencatat dan mengolah data dengan tepat 2 Mencatat atau mengolah data dengan tepat 1 Mencatat dan mengolah data tidak tepat 0 Tidak mencatat dan mengolah data 3 Simpulan tepat

2 Simpulan kurang tepat 1 Simpulan tidak tepat 0 Tidak membuat simpulan Laporan

(Skor maks=3)

3 Sistematika sesuai dengan kaidah dan sajian analisis benar 2 Sistematika sesuai dengan kaidah atau sajian analisis benar

1 Sistematika tidak sesuai dengan kaidah dan isi sajian analisis tidak benar 0 Tidak membuat laporan/menyajikan hasil analisis

DAFTAR NILAI KETERAMPILAN

Lembar Penilaian Kinerja: Menyajikan Hasil Analisis Teori Perilaku Produsen No Nama Peserta

Didik

Score

Jumlah

Skor Nilai

Persiapan (3)

Pelaksanaan (7)

Hasil (6)

Laporan (3) 1

Dst Keterangan Skor :

1. Skor maksimal = jumlah skor tertinggi setiap kriteria=19

2. Nilai praktik =

 Skor Perolehan Skor Maksimal (19)

x 100

(21)

Lampiran 5

PROGRAM REMIDIAL

Remedial merupakan program pembelajaran yang diperuntukkan bagi peserta didik yang belum mencapai KKM dalam satu KD tertentu. Berikut penjelasan strategi pelaksanaan pembelajaran remedial yang dapat disesuaikan dengan jenis dan tingkat kesulitan.

a. Pemberian bimbingan secara individu.

b. Pemberian bimbingan secara kelompok.

c. Pemberian pembelajaran ulang dengan metode dan media yang berbeda.

d. Pemberian tugas-tugas latihan secara khusus.

e. Pemanfaatan tutor sebaya.

Bentuk pelaksanaan pembelajaran remedial dapat dilakukan melalui:

a. Pemberian pembelajaran ulang/remidial teaching dengan metode dan media yang berbeda jika jumlah peserta yang mengikuti remedial lebih dari 50%;

b. Pemberian tugas-tugas latihan jika jumlah peserta yang mengikuti remedial lebih dari 20 % tetapi kurang dari 50 %;

c. Pemberian bimbingan tutor teman sebaya jika jumlah peserta didik yang mengikuti remedial maksimal 20 %.

Untuk materi tersebut, remedial dilakukan mengacu pada ketentuan di atas dan dilakukan

penilaian kepada peserta didik yang belum tuntas.

(22)

Lampiran 6

PROGRAM PENGAYAAN

Pengayaan merupakan program pembelajaran yang diberikan kepada peserta didik yang telah mencapai dan/atau melampaui KKM. Fokus pengayaan adalah pendalaman dan perluasan dari kompetensi yang dipelajari. Pengayaan biasanya diberikan segera setelah peserta didik diketahui telah mencapai KKM berdasarkan hasil penilaian harian.

Bentuk pelaksanaan pembelajaran pengayaan dapat dilakukan melalui:

a. Belajar kelompok, yaitu sekelompok peserta didik yang memiliki minat tertentu diberi tugas untuk memecahkan permasalahan, membaca di perpustakaan terkait dengan KD yang dipelajari pada jam pelajaran sekolah atau di luar jam pelajaran sekolah.

b. Belajar mandiri, yaitu secara mandiri peserta didik belajar mengenai sesuatu yang diminati, menjadi tutor bagi teman yang membutuhkan.

Bagi peserta didik yang sudah tuntas dalam materi tersebut, maka dapat melakukan

pembimbingan tutor sebaya menyelesaikan soal Kompetisi Literasi dan Numerasi

kelompok IPA (peserta didik yang mencapai nilai 80- 90) atau berlatih secara mandiri

soal-soal OSN/KSN dan soal-soal UTBK (peserta didik yang mencapai nilai >90)

Referensi

Dokumen terkait

Melalui pendekatan saintifik berbasis TPACK, dengan menggunakan model pembelajaran problem based learning, dan metode diskusi, peserta didik dapat menyebutkna

Melalui kegiatan Pembelajaran dengan pendekatan saintifik menggunakan metode dan model pembelajaran Problem Based Learning peserta didik dapat menganalisis dan menjelaskan

Pembahasan Hasil Penelitian Berdasarkan analisis proses pelaksanaan treatment serta hasil yang dicapai oleh anggota kelompok membuktikan bahwa layanan penguasaan konten

Melalui kegiatan Pembelajaran dengan pendekatan saintifik menggunakan metode Kooperatif Learning dan model pembelajaran Projec Based Learning peserta didik dapat

Melalui pendekatan saintifik dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning berbantuan LKPD peserta didik diharapkan melalui diskusi kelas, diskusi kelompok dan

Melalui kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model Problem Based Learning, dan pendekatan saintifik, peserta didik diharapkan dapat memahami medan magnet

Melalui kegiatan pembelajaran dengan pendekatan saintifik menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan Discovery Based Learning (DBL) peserta didik dapat

Melalui pembelajaran tatap muka dengan menggunakan model pembelajaran Problem Base Learning (PBL) dengan pendekatan Saintific peserta didik dituntut mampu menjelaskan