• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH."

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)

NENNI MONA ARUAN,2014

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN KEMAMPUAN

PEMECAHAN MASALAH

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari

Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Jurusan Pendidikan Fisika

Oleh

NENNI MONA ARUAN NIM. 0906805

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA

FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

(2)

NENNI MONA ARUAN,2014

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Pengaruh Model Pembelajaran

Advance Organizer

terhadap

Penguasaan Konsep dan

Kemampuan Pemecahan Masalah

Oleh Nenni Mona Aruan

Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana pada Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

© Nenni Mona Aruan 2014 Universitas Pendidikan Indonesia

Januari 2014

Hak Cipta dilindungi undang-undang.

(3)

NENNI MONA ARUAN,2014

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

NENNI MONA ARUAN

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN KEMAMPUAN

PEMECAHAN MASALAH

DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH

PEMBIMBING:

Pembimbing I

Drs. Sutrisno, M.Pd.

NIP. 195801071986031001

Pembimbing II

Lina Aviyanti, S.Pd, M.Si.

NIP. 197705012001122001

Mengetahui,

Ketua Jurusan Pendidikan Fisika

Dr. Ida Kaniawati, M.Si.

(4)

NENNI MONA ARUAN,2014

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu i

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN KEMAMPUAN

PEMECAHAN MASALAH

Nenni Mona Aruan, NIM. 0906805, Pembimbing I : Drs. Sutrisno, M.Pd, Pembimbing II: Lina Aviyanti, S.Pd., M.Si., Jurusan Pendidikan Fisika FPMIPA

UPI Bandung Tahun 2013

ABSTRAK

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fakta bahwa pembelajaran IPA yang biasanya diterapkan di dalam kelas masih didominasi metode ceramah yang bersifat penyajian fakta-fakta dan persamaan matematis dari guru ke siswa saja, sehingga pembelajaran pun hanya diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghafal informasi. Akibatnya sekitar 86,67% siswa tidak lulus KKM dan lebih dari 60% siswa tidak mampu menjawab soal pemecahan masalah dengan benar. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Advance Organizer terhadap penguasaan konsep dan kemampuan pemecahan masalah pada siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah metode quasi experiment dengan desain penelitian Pretest-Posttest Control Group. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas VII salah satu SMPN di Bandung semester ganjil pada tahun ajaran 2012-2013 dengan 2 kelas siswa sebagai sampel yaitu sebagai kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik cluster random

sampling. Hasil analisis data menggunakan uji Mann-Whitney U menunjukkan tidak terdapat perbedaan peningkatan yang signifikan pada penguasaan konsep siswa, tapi terdapat perbedaan peningkatan yang signifikan pada kemampuan pemecahan masalah antara kelas eksperimen yang diajar menggunakan model pembelajaran Advance Organizer dengan siswa yang diajar dengan model pembelajaran konvensional. Persentase nonoverlap peningkatan penguasaan konsep sebesar 24,734% dan sebesar 78,04% terhadap peningkatan kemampuan pemecahan masalah antara kedua kelas tersebut. Sehingga diperoleh kesimpulan model pembelajaran Advance Organizer berpengaruh positif dan lebih baik dalam meningkatkan penguasaan konsep dan kemampuan pemecahan masalah pada siswa dibandingkan model pembelajaran konvensional.

(5)

NENNI MONA ARUAN,2014

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.eduv

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN PERNYATAAN

ABSTRAK... ... i

KATA PENGANTAR ... ii

UCAPAN TERIMAKASIH... iii

DAFTAR ISI ... v

F. Struktur Organisasi Skripsi ... 6

BAB II MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER, PENGUASAAN KONSEP DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH ... 8

A. Model Pembelajaran Advance Organizer ... 8

B. Penguasaan Konsep ... 18

C. Kemampuan Pemecahan Masalah ... 21

D. Keterkaitan Model Pembelajaran Advance Organizer, Penguasaan Konsep dan Kemampuan Pemecahan Masalah ... 30

E. Penelitian yang Relevan ... 34

F. Hipotesis Penelitian ... 34

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 36

A. Lokasi Penelitian dan Subjek Penelitian/Sampel Penelitian ... 36

B. Metode Penelitian ... 37

C. Desain Penelitian ... 37

D. Variabel Penelitian dan Defenisi Operasional Variabel ... 38

E. Instrumen Penelitian ... 40

F. Proses Pengembangan Instrumen ... 41

G. Analisis Hasil Uji Coba Instrumen... 46

H. Teknik Pengumpulan Data ... 48

I. Teknik Pengolahan Data ... 49

I. Prosedur Penelitian ... 56

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 60

(6)

NENNI MONA ARUAN,2014

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.eduvi

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 75

A. Kesimpulan ... 75

B. Saran ... 76

DAFTAR PUSTAKA ... 78

(7)

NENNI MONA ARUAN,2014

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.eduvii

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Sintaks Model Pembelajaran Advances Organizer ... 12

Tabel 2.2 Rubrik Penilaian Kemampuan Pemecahan Masalah ... 27

Tabel 2.3 Hubungan Sintaks Model Pembelajaran Advance Organizer terhadap penguasaan konsep dan kemampuan pemecahan masalah ... 31

Tabel 3.1 Desain Penelitian... 38

Tabel 3.2 Kisi-kisi Instrumen Tes Penguasaan Konsep ... 41

Tabel 3.3 Interpretasi Validitas Butir Soal ... 42

Tabel 3.4 Interpretasi Reliabilitas Tes ... 43

Tabel 3.5 Interpretasi Reliabilitas Cronbach Alpha ... 44

Tabel 3.6 Interpretasi Indeks Tingkat Kesukaran Butir Soal ... 45

Tabel 3.7 Interpretasi Daya Pembeda Butir Soal ... 45

Tabel 3.8 Analisis Hasil Uji Coba Instrumen Tes Penguasaan Konsep ... 46

Tabel 3.9 Analisis Hasil Uji Coba Instrumen Tes Kemampuan Pemecahan Masalah ... 48

Tabel 3.10 Interpretasi N-gain ... 50

Tabel 3.11 Hubungan antara d,r dan r2 ... 54

Tabel 3.12 Interpretasi Cohen’s d ... 55

Tabel 3.13 Kriteria persentase keterlaksanaan model pembelajaran ... 56

Tabel 4.1 Jadwal Penelitian... 60

Tabel 4.2 Skor pretest, posttest dan N-gain penguasaan konsep kelas eksperimen dan kelas kontrol ... 61

Tabel 4.3 Hasil Uji Normalitas Penguasaan Konsep ... 62

Tabel 4.4 Skor pretest, posttest dan N-gain kemampuan pemecahan masalah kelas eksperimen dan kelas kontrol ... 64

Tabel 4.5 Hasil uji normalitas kemampuan pemecahan masalah kelas eksperimen dan kelas kontrol ... 66

(8)

NENNI MONA ARUAN,2014

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.eduviii

Gambar 3.1 Alur Penelitian... 59 Gambar 4.1 Grafik perbandingan persentasse skor rata-rata pretest,

posttest dan N-gain penguasaan konsep kelas eksperimen

dan kelas kontrol ... 62 Gambar 4.2 Grafik perbandingan persentase skor rata-rata pretest,

posttest dan N-gain kemampuan

pemecahan masalah antara kelsa eksperimen dan kelas

(9)

NENNI MONA ARUAN,2014

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.eduix

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN A PERANGKAT PEMBELAJARAN ... 83

A.1 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 1 Kelas Eksperimen .. 83

A.2 Lembar Kegiatan Siswa 1 Kelas Eksperimen ... 89

A.3 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 2 Kelas Eksperimen . 92 A.4 Lembar Kegiatan Siswa 2 Kelas Eksperimen ... 98

A.5 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 1 Kelas Kontrol ... 101

A.6 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 2 Kelas Kontrol ... 106

A.7 Lembar Keterlaksanaan Pembelajaran Advances Organizer 110

A.8 Format Studi Pendahuluan... 112

LAMPIRAN B INSTRUMEN PENELITIAN ... 113

B.1 Kisi-kisi Tes Penguasaan Konsep... 113

B.2 Kisi-kisi Tes Kemampuan Pemecahan Masalah... 124

B.3 Soal Tes Penguasaan Konsep... 132

B.4 Soal Tes Kemampuan Pemecahan Masalah ... 134

LAMPIRAN C ANALISIS UJI COBA INSTRUMEN PENELITIAN ... 135

C.1 Validitas Tiap Butir Soal Tes ... 135

D.1 Daftar Nilai Pre Test dan Post Test Kelas Eksperimen ... 146

D.2 Daftar Nilai Pre Test dan Post Test Kelas Kontrol... 147

D.3 Data Skor Tes Penguasaan Konsep ... 148

D.4 Data Skor Tes Kemampuan Pemecahan Masalah ... 151

D.5 Perhitungan Uji Statistik Data ... 154

D.6 Data Keterlaksanaan Model Pembelajaran ... 157

LAMPIRAN E DOKUMENTASI PENELITIAN ... 161

E.1 Surat Tugas Membimbing ... 161

E.2 Surat Keterangan Telah Melaksanakan Studi Pendahuluan 162 E.3 Surat Keterangan Telah Melaksanakan Uji Instrumen ... 163

E.4 Surat Keterangan Telah Melaksanakan Penelitian ... 164

E.5 Catatan Konsultasi Penulisan Skripsi ... 165

E.6 Surat Ketersediaan Menjadi Penilai Instrumen ... 167

E.7 Foto Kegiatan Penelitian ... 169

(10)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan kumpulan pengetahuan yang

tersusun secara sistematik, dan dalam penggunaannya secara umum terbatas pada

gejala-gejala alam (Wahyana dalam Trianto, 2011). Dalam hal ini IPA diharapkan

sebagai wahana bagi pelajar untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta

langkah pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya dalam kehidupan

sehari-hari. Secara khusus fungsi dan tujuan IPA berdasarkan Peraturan Menteri

No. 22 (2006:54) menyatakan bahwa:

“Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu

tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan.”

Dari uraian diatas tampak bahwa pembelajaran IPA salah satunya Fisika

dimaksudkan untuk memperhatikan keteraturan alam semesta dan menekankan

pada pemberian pengalaman langsung yang membantu peserta didik untuk

memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar.

Pembelajaran Fisika diharapkan dapat membantu siswa bukan hanya menguasai dan memahami konsep, fakta, prinsip, atau fenomena alam saja tetapi juga menuntut siswa untuk terlibat langsung dalam suatu proses penemuan pengetahuan. Oleh karena itu pembelajaran Fisika harus dirancang sedemikian rupa sehingga siswa terlibat dalam penemuan pengetahuan yang akan dipelajarinya. Jadi dalam pembelajaran, guru tidak hanya menyampaikan informasi kepada siswa tetapi juga membantu siswa memperoleh pengetahuannya

sendiri dengan cara menemukan dan menganalisis setiap informasi yang

diterimanya. Selain itu guru juga harus membekali siswa agar mampu

menghadapi tantangan era globalisasi dalam memecahkan permasalahan

kehidupan sehari-hari. Sehingga siswa benar-benar mengerti dan dapat

menerapkan ilmu pengetahuan yang mereka terima, memecahkan masalah dan

(11)

2

NENNI MONA ARUAN,2014

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Telah dilakukan studi pendahuluan di salah satu SMP Negeri di Bandung

yang dilaksanakan pada tanggal 18 Maret-14 April 2013 (surat keterangan telah

melakukan Studi Pendahuluan di lampiran E.2) dengan cara penyebaran angket,

wawancara dengan guru mata pelajaran IPA, observasi kelas dan menganalisis

hasil ulangan siswa (format wawancara, observasi dan angket di lampiran E.8).

Hasil analisis terhadap nilai ulangan harian siswa, diperoleh nilai rata-rata siswa

sebesar 63,28 yang masih berada dibawah nilai Kriteria Ketuntasan Minimal

(KKM) yang telah ditetapkan yaitu sebesar 76. Dengan persentase siswa yang

lulus KKM sebesar 13,33% dan sisanya di bawah nilai KKM, yaitu sebanyak

86,67%. Berdasarkan analisis soal ulangan harian tersebut, soal-soal dibuat untuk

menguji kemampuan kognitif aspek ingatan (C1), pemahaman (C2), aspek

aplikasi (C3) dalam bentuk pilihan ganda dan soal uraian untuk menguji

kemampuan pemecahan masalah. Untuk soal aspek ingatan, pemahaman dan

aplikasi berturut-turut 90%, 82% dan 22,5% dari 30 siswa yang mampu menjawab

dengan benar. Dan untuk soal uraian, sekitar lebih dari 60% siswa tidak mampu

menjawab permasalahan dengan tepat termasuk dalam melaksanakan

langkah-langkah pemecahan masalah meliputi memfokuskan masalah, mendeskripsikan

masalah sesuai dengan ilmu Fisika, merencanakan solusi, melaksanakan rencana

dan melakukan cek atau evaluasi yang tidak tepat. Dari hasil analisis soal

tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa kebanyakan peserta didik cenderung

menghapalkan konsep yang telah mereka terima, dan saat konsep tersebut

diterapkan ke dalam kondisi yang berbeda dalam bentuk permasalahan sehari-hari

peserta didik mengalami kebingungan dalam menyelesaikannya. Hasil

pengamatan lebih lanjut dalam bentuk observasi dan wawancara, peneliti

menemukan bahwa pembelajaran Fisika di sekolah tersebut masih berpusat pada

guru dan jarangnya dilakukan eksperimen sebagai usaha memperkenalkan siswa

secara langsung dengan gejala yang terjadi di alam sekitar. Selain itu, guru

mengakui tahap apersepsi dan motivasi sering terlewatkan atau hanya sepintas

karena terbatasnya waktu yang diberikan.

Berdasarkan data diatas terlihat bahwa pembelajaran Fisika di kelas

(12)

NENNI MONA ARUAN,2014

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

matematis dari guru ke siswa saja selain itu kegiatan apersepsi dan motivasi

seringkali dianggap remeh oleh guru. Sehingga pembelajaran pun hanya

diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghafal informasi dan siswa kurang

mengerti apa inti dari pembelajaran atau informasi-informasi yang diterimanya.

Hal ini mengakibatkan rendahnya penguasaan konsep dan kemampuan berpikir

siswa untuk memecahkan masalah yang timbul dalam permasalahan sehari-hari.

Salah satu upaya untuk meningkatkan penguasaan konsep dan kemampuan

pemecahan masalah pada siswa adalah dengan memberikan makna konsep-konsep

yang siswa pelajari, sehingga salah satu cara pada pembelajaran di kelas yaitu

mengaitkan materi yang dipelajari dengan pengetahuan awal siswa ataupun

pengalaman siswa dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu tokoh penting dalam dunia pendidikan, David Ausubel

berpendapat “The most important single factor influencing learning is what the

learner already knows. Ascertain this and teach him accordingly” ( Dahar, 1989). Pernyataan Ausubel menekankan bahwa pengetahuan awal yang dimiliki siswa

sangat penting dalam pembelajaran dan merupakan titik tolak guru apa yang akan

mereka berikan pada siswa tersebut. Berangkat dari pendapat tersebutlah

kemudian dikenal Teori belajar bermakna Ausubel yang seluruhnya dituangkan

dalam model pembelajaran advance organizer. Pembelajaran menggunakan

advance organizer dapat membuat belajar bersifat hafalan menjadi bermakna

dengan cara menjelaskan hubungan konsep baru dengan konsep relevan yang ada

dalam struktur kognitif siswa, agar siswa dapat memahami konsep lebih efektif

dan efisien. Jadi proses belajar tidak sekedar menghafal konsep-konsep atau

fakta-fakta belaka, namun berusaha menghubungkan konsep-konsep itu untuk

menghasilkan pemahaman yang utuh, sehingga konsep yang dipelajari akan

dipahami secara baik. Ausubel juga percaya bahwa semua konsep tersebut

menjadi peta intelektual yang dapat digunakan siswa untuk menganalisis

ranah-ranah tertentu dan memecahkan masalah-masalah dalam ranah-ranah-ranah-ranah tersebut

(Joyce, 2009). Model Pembelajaran Advance Organizer menurut Joyce et al

(2009:288) terdiri dari tiga fase sebagai sintaks pembelajarannya, yaitu

(13)

4

NENNI MONA ARUAN,2014

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

adalah mengklarifikasi tujuan-tujuan pembelajaran, mempresentasikan Advance

Organizer, dan menumbuhkan kesadaran pengetahuan yang relevan. Pada tahap

inilah peserta didik dikenalkan dengan pengalaman langsung permasalahan gejala

alam yang terjadi sehingga sifat keingintahuan mereka muncul dalam

pembelajaran;(2) Presentasi tugas atau materi pembelajaran, peserta didik

mengalami pengalaman belajar bagaimana proses penemuan pemecahan masalah

dan penemuan suatu fakta, teori dan hukum;(3) Penguatan struktur kognitif, tahap

ini bertujuan untuk mengaitkan materi belajar yang baru dengan struktur kognitif

siswa. Pada tahap ini siswa menerapkan metode ilmiah dan konsep IPA dalam

kehidupan sehari-hari. Dengan terlibat langsung dalam proses pembelajaran,

siswa diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar khususnya penguasaan konsep

sebagai aspek kognitif dari hasil belajar dan dapat meningkatkan keterampilan

berpikir dalam memecahkan masalah (Santyasa dalam Novianti, 2012).

Penggunaan model pembelajaran Advance Organizer ini juga sangat disarankan

oleh Safdar dkk (2012) dalam pembelajaran Fisika khususnya sekolah menengah

berdasarkan penelitian yang telah dilakukannya karena mampu meningkatkan

hasil belajar khususnya penguasaan konsep Fisika pada siswa.

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, penulis tertarik

melakukan penelitian untuk mengetahui bagaimana pengaruh model pembelajaran

Advance Organizer terhadap penguasaan konsep dan kemampuan pemecahan

masalah pada siswa SMP dengan mengangkat judul Pengaruh Model Pembelajaran Advance Organizer terhadap Penguasaan Konsep dan

Kemampuan Pemecahan Masalah”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, telah dilakukan penelitian penerapan

model pembelajaran Advance Organizer untuk meningkatkan penguasaan konsep

materi Kinematika pada siswa kelas IX Sekolah Menengah Pertama yang telah

diuraikan di atas. Maka penelitian ini mengukur penguasaan konsep dan

kemampuan pemecahan masalah materi Massa jenis pada siswa kelas VII dengan

(14)

NENNI MONA ARUAN,2014

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

pengaruh model pembelajaran Advance Organizer terhadap penguasaan konsep

dan kemampuan pemecahan masalah pada siswa?”

Agar permasalahannya lebih terperinci dan , maka dibuat dalam bentuk

pertanyaan sebagai berikut:

1. Apakah terdapat perbedaan peningkatan yang signifikan pada

penguasaan konsep siswa di kelas eksperimen setelah menerima

pembelajaran menggunakan model pembelajaran Advance Organizer

dibandingkan dengan penguasaan konsep siswa di kelas kontrol setelah

menerima pembelajaran menggunakan model pembelajaran

konvensional?

2. Apakah terdapat perbedaan peningkatan yang signifikan pada

kemampuan pemecahan masalah siswa di kelas eksperimen setelah

menerima pembelajaran menggunakan model pembelajaran Advance

Organizer dibandingkan dengan kemampuan pemecahan masalah

siswa di kelas kontrol setelah menerima pembelajaran menggunakan

model pembelajaran konvensional?

C. Batasan Masalah

Dalam penelitian ini, indikator penguasaan konsep yang diukur sesuai

dengan ranah kognitif menurut taksonomi Anderson. Ranah kognitif yang diukur

dibatasi hanya pada 3 level terbawah yaitu aspek mengingat (C1), memahami (C2),

dan menerapkan (C3). Hal ini berdasarkan analisis kompetensi dasar dari materi

Massa jenis yang akan dikaji dan subjek penelitian yang diteliti adalah siswa

jenjang pendidikan tingkat menengah.

D. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini ada dua, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.

Tujuan umum dari diadakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui adakah

pengaruh model pembelajaran Advance Organizer terhadap penguasaan konsep

(15)

6

NENNI MONA ARUAN,2014

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu Sedangkan tujuan khususnya adalah :

1. Mengetahui apakah terdapat perbedaan peningkatan yang signifikan pada

penguasaan konsep siswa di kelas eksperimen setelah menerima pembelajaran

menggunakan model pembelajaran Advance Organizer dibandingkan siswa di

kelas kontrol setelah menerima pembelajaran menggunakan model

pembelajaran konvensional

2. Mengetahui apakah terdapat perbedaan peningkatan yang signifikan pada

kemampuan pemecahan masalah siswa di kelas eksperimen setelah menerima

pembelajaran menggunakan model pembelajaran Advance Organizer

dibandingkan siswa di kelas kontrol setelah menerima pembelajaran

menggunakan model pembelajaran konvensional

E. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan untuk mengetahui keunggulan

penggunaan model pembelajaran Advance Organizer dalam meningkatkan

penguasaan konsep dan kemampuan pemecahan masalah. Dan dapat digunakan

sebagai gambaran dalam pengembangan tes Kemampuan Pemecahan Masalah

oleh berbagai pihak yang berkepentingan seperti guru, praktisi pendidikan, dosen

atau bahkan sebagai rujukan bagi penelitian lain.

F. Struktur Organisasi Skripsi

Skripsi ini terdiri dari lima Bab. Kelima Bab tersebut disusun secara

berurutan dari Bab I sampai Bab V. Bab I merupakan pendahuluan yang terdiri

dari lima sub bab yaitu latar belakang, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan

penelitian, manfaat penelitian, dan struktur organisasi skripsi. Bab II merupakan

kajian pustaka dan hipotesis penelitian, terdiri dari enam sub bab yaitu Model

Pembelajaran Advance Organizer, Penguasaan Konsep, Kemampuan Pemecahan

Masalah, dan Keterkaitan antara ketiganya, penelitian sebelumnya yang relevan

dan terakhir hipotesis penelitian. Bab III merupakan metode penelitian yang

terdiri dari sepuluh sub bab, yaitu lokasi dan subjek penelitian, metode penelitian,

desain penelitian, variabel penelitian dan defenisi operasional, instrumen

(16)

NENNI MONA ARUAN,2014

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

teknik pengumpulan data, teknik pengolahan data dan prosedur penelitian. Bab IV

merupakan hasil penelitian dan pembahasan, terdiri dari dua sub bab yaitu hasil

penelitian dan pembahasan data. Bab terakhir yaitu bab V merupakan kesimpulan

(17)

NENNI MONA ARUAN,2014

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

36

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Pada bab ini dipaparkan mengenai lokasi dan subjek penelitian, metode

penelitian, desain penelitian, variabel penelitian dan definisi operasional,

instrumen penelitian, proses pengembangan instrumen, teknik pengambilan data,

teknik pengolahan data dan prosedur penelitian.

A. Lokasi Penelitian dan Subjek Penelitian

Lokasi penelitian, populasi dan sampel yang digunakan peneliti dalam

mengumpulkan data sesuai dengan tujuan akan dijelaskan di bawah ini secara

rinci.

1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di salah satu SMP Negeri di Bandung, yang terletak

di Jl. Rd. Dewi Sartika no. 115, Bandung.

2. Subjek Penelitian

Populasi adalah seluruh karateristik atau sifat yang dimiliki subyek atau

obyek yang ditetapkan oleh peneliti atau dipelajari dan kemudian ditarik

kesimpulannya (Sugiyono, 2012:118). Populasi target dalam penelitian ini adalah

seluruh siswa kelas VII salah satu SMP di Bandung sebanyak 11 kelas. Dari

populasi yang tersedia tersebut, dipilihlah 2 kelas sebagai sampel yang akan

dijadikan sebagai kelas kontrol dan kelas eksperimen.

3. Sampel Penelitian

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh

populasi tersebut (Sugiyono, 2012:118). Ketiadaan daftar nama seluruh anggota

populasi tapi memiliki data lengkap tentang kelompok serta tidak dapat dipastikan

bahwa karakteristik siswa (misalnya motivasi belajar dan kemampuan awal)

(18)

NENNI MONA ARUAN,2014

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

berkelompok (cluster random sampling). Selain lebih ekonomis, pengambilan

sampel secara berkelompok ini paling banyak digunakan dalam pengambilan

sampel dalam penelitian pendidikan karena lebih efektif dan tidak memakan

banyak waktu. Dalam pengambilan sampel dengan cara berkelompok, setiap

kelompok dari populasi yang tersedia itu, memiliki kesempatan yang sama untuk

dijadikan sampel. Dan sampel yang telah terpilih masih bersifat heterogen sama

halnya dengan populasi. Dari hasil pengambilan sampel acak berkelompok ini,

terpilihlah 2 kelas sampel yaitu seluruh siswa kelas VII J dan kelas VII K.

B. Metode Penelitian

“Metode penelitian adalah cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu” (Sugiyono, 2012:3). Sesuai dengan tujuan dan hipotesis penelitian pada Bab I, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui

pengaruh diberikannya perlakuan model pembelajaran Advance Organizer

terhadap suatu kelas kemudian dibandingkan dengan kelas lain yang diberi

perlakuan yang berbeda. Kelas yang diberi perlakuan model pembelajaran

Advance Organizer disebut kelas eksperimen sedangkan kelas yang diberikan

perlakuan berbeda (model pembelajaran konvensional) disebut kelas kontrol.

Namun, situasi kelas sebagai tempat mengondisikan perlakuan tidak

memungkinkan pengontrolan yang demikian ketat seperti yang dikehendaki dalam

eksperimen sejati, maka metode penelitian yang sesuai dengan tujuan tersebut

adalah Quasi Eksperimental Design. Hal ini tentunya berkaitan dengan

keterbatasan yang dimiliki oleh peneliti untuk mengontrol semua variabel yang

mempengaruhi penelitian.

C. Desain Penelitian

Desain penelitian yang sesuai dengan penelitian ini adalah Pretest-Posttest

Control Group Design yaitu eksperimen yang sebelum diberikannya perlakuan

pada kedua kelas sampel yang terpilih, siswa diberikan tes (pretest) untuk

mengetahui keadaan awal siswa apakah ada perbedaan antara kedua sampel atau

(19)

38

NENNI MONA ARUAN,2014

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

posttest setelah diberikannya perlakuan, maka peneliti akan lebih mudah melihat

pengaruh akibat perlakuan dari perbedaan hasil pretest dan posttest tersebut.

Desain penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Tabel 3.1 Desain Penelitian

Kelompok Pretest Perlakuan (X) Posttest

Eksperimen O1 X1 O2

Kontrol O3 X2 O4

(Arikunto, 2010:125)

Keterangan:

O1 : hasil tes awal (pretest) di kelas eksperimen sebelum perlakuan diberikan

O3 : hasil tes awal (pretest) di kelas kontrol sebelum perlakuan diberikan

O2 : hasil tes akhir (posttest) di kelas eksperimen setelah perlakuan diberikan

O4 : hasil tes akhir (posttest) di kelas kontrol setelah perlakuan diberikan

X1 : perlakuan (treatment) menggunakan model pembelajaran Advance

Organizer

X2 : perlakuan (treatment) menggunakan model pembelajaran konvensional

D. Variabel Penelitian dan Defenisi Operasional Variabel

Berikut variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian beserta defenisi

operasionalnya.

1. Variabel Penelitian

Penelitian terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat, yaitu:

Variabel bebas : Model pembelajaran Advance Organizer dan

model pembelajaran konvensional

Variabel terikat : Penguasaan konsep dan Kemampuan Pemecahan

Masalah Siswa

2. Definisi Operasional

Supaya tidak terjadi perbedaan persepsi mengenai definisi operasional

variabel penelitian yang digunakan dalam penelitian ini, definisi operasional

(20)

NENNI MONA ARUAN,2014

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

a. Model pembelajaran Advance Organizer terdiri dari tiga sintaks

pembelajaran yaitu presentasi advance organizer, presentasi tugas atau

materi pembelajaran, dan penguatan struktur kognitif. Ciri menonjol dari

model ini terletak pada pengorganisasian materi pembelajaran yang

memungkinkan siswa memahami dan menguasai konsep-konsep yang

diajarkan dan penyajian masalah atau fenomena alam secara langsung

yang dekat dengan kehidupan sehari-hari pada awal pembelajaran. Dalam

penelitian ini, model pembelajaran Advance Organizer digunakan sebagai

daya yang akan memberikan perubahan pada lingkungan pembelajaran

dikelas eksperimen. Untuk mengukur keterlaksanaan model pembelajaran

Advance Organizer dilakukan observasi terhadap kegiatan guru dan

kegiatan siswa dengan menggunakan lembar observasi keterlaksanaan

pembelajaran oleh observer.

b. Model pembelajaran konvensional merupakan model pembelajaran yang

yang selama ini kebanyakan dilakukan oleh guru. Pembelajaran dimulai

dari penyajian informasi, pemberian ilustrasi ataupun demonstrasi dan

contoh soal, latihan soal sampai akhirnya guru merasakan apa yang

diajarkan telah dimengerti oleh siswa. Pada penelitian ini, model

pembelajaran konvensional digunakan sebagai daya yang akan

memberikan perubahan pada lingkungan pembelajaran di kelas kontrol

yang kemudian akan dibandingkan dengan perubahan yang terjadi pada

kelas eksperimen.

c. Penguasaan konsep didefinisikan sebagai tingkatan dimana seorang siswa

tidak sekedar mengetahui konsep-konsep, melainkan benar-benar

memahaminya dengan baik, yang ditunjukkan oleh kemampuannya dalam

menyelesaikan berbagai persoalan, baik yang terkait dengan konsep

maupun penerapannya dalan situasi baru. Pengusasaan konsep diukur

dengan menggunakan tes penguasaan konsep (TPK) yaitu dengan

melaksanakan pretest dan posttest dalam bentuk pilihan ganda.

Peningkatan penguasaan konsep pada kedua kelas diukur menggunakan

(21)

40

NENNI MONA ARUAN,2014

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

peningkatan penguasaan konsep antara kelas kontrol dan kelas

eksperimen. Besar persentase nonoverlap skor peningkatan penguasaan

konsep antara kedua kelas dihitung menggunakan Effect Size.

d. Kemampuan Pemecahan Masalah merupakan kemampuan yang

membutuhkan pengetahuan dasar untuk merangkum semua informasi atau

pengetahuan siswa dan keterampilan dasar dalam memecahkan masalah.

Kemampuan pemecahan masalah diukur dengan menggunakan tes

kemampuan pemecahan masalah (TKPM) yaitu dengan melaksanakan

pretest dan posttest dalam bentuk uraian (context rich problem). Penilaian

kemampuan pemecahan masalah yang digunakan adalah rubrik penilaian

yang telah diteliti sebelumnya oleh Heller dkk. Untuk peningkatan

kemampuan pemecahan masalah pada kedua kelas, diukur menggunakan

rumus N-Gain Hake, kemudian dilakukan uji perbedaan 2 rerata

peningkatan kemampuan pemecahan masalah antara kelas kontrol dan

kelas eksperimen. Besar persentase nonoverlap skor peningkatan

kemampuan pemecahan masalah antara kedua kelas dihitung

menggunakan Effect Size.

E. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian yang digunakan ada dua, yaitu instrumen pengambilan

data berupa soal tes Fisika, dan instrumen untuk mengukur keterlaksanaan

pembelajaran berupa lembar observasi. Untuk soal tes Fisika sendiri, terdapat soal

tes untuk mengukur penguasaan konsep dan soal untuk mengukur kemampuan

pemecahan masalah pada siswa yang kedua tes ini diberikan kepada siswa pada

saat sebelum perlakuan diberikan dan setelah perlakuan diberikan kepada siswa.

Dan untuk lembar observasi dilakukan setiap dilakukannya perlakuan.

1. Instrumen Tes Penguasaan Konsep

Penyusunan instrumen tes Penguasaan Konsep ini diukur dengan 3 kategori

dari 6 kategori proses kognitif yang disusun oleh Anderson. Ketiga kategori

(22)

NENNI MONA ARUAN,2014

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Mengaplikasikan (C3). Untuk mengukur ketiga kategori tersebut digunakan soal

berbentuk pilihan ganda dengan 5 pilihan jawaban. Berikut kisi-kisi instrumen tes

Penguasaan Konsep yang telah disesuaikan dengan Standar Kompetensi 3.

Memahami wujud zat dan perubahan dan Kompetensi Dasar 3.2 Mendeskripsikan

konsep massa jenis dalam kehidupan sehari-hari untuk mengukur ketiga proses

kognitif tersebut:

Tabel 3.2 Kisi-kisi Instrumen Tes Penguasaan Konsep

No. Kategori

Kognitif Nomor item

Jumlah Item

1. Mengingat 1, 2,dan 8 3

2. Memahami 3, 4, 7, 9, 14, 15, 16, 18, 21,22,23, dan 24 12 3. Menerapkan 5, 6, 10, 11, 12, 13, 17, 19, 20, dan 25 10

2. Instrumen Tes Kemampuan Pemecahan Masalah

Penyusunan instrumen tes Kemampuan Pemecahan Masalah disesuaikan

dengan bentuk soal yang disarankan dan telah diteliti oleh Kenneth Heller dan

Jennifer L yaitu soal berbentuk uraian yang menyajikan bentuk-bentuk

permasalahan yang kaya konteks dan sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari

(context rich problem). Selain itu, untuk mempermudah dalam penyusunan tes ini

maupun dalam penyelesaiannya, terdapat 5 langkah pemecahan masalah yang

disusun juga oleh Heller dkk,yaitu a) memfokuskan masalah;b) mendeskripsikan

masalah; c) merencanakan solusi; d) melaksanakan rencana; dan e) mengevaluasi

hasil jawaban. Berpatokan dari kelima langkah tersebutlah peneliti menyusun

pertanyaan untuk masing-masing soal sehingga siswa akan lebih mudah dalam

menyelesaikan soal tersebut.

3. Lembar Observasi

Untuk menilai apakah pembelajaran terlaksana sesuai dengan RPP yang

telah disusun sebelumnya, maka dibuatlah lembar observasi untuk mengukur

berapa persen keterlaksanan pembelajaran tersebut. Dalam pengukurannya,

lembar observasi ini akan diisi oleh beberapa observer saat pembelajaran

(23)

42

NENNI MONA ARUAN,2014

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

F. Proses Pengembangan Instrumen

Sebelum instrumen tes digunakan dalam penelitian, terlebih dahulu

diujicobakan kepada siswa yang telah menerima pembelajaran materi massa jenis.

Data hasil uji coba tes dianalisis untuk mendapatkan keterangan apakah instrumen

tersebut layak atau tidak digunakan dalam penelitian. Berikut dipaparkan

analisis-analisis yang digunakan untuk mengetahui layak atau tidaknya instrumen tes

penelitian yaitu analisis validitas instrumen, reliabilitas instrumen, tingkat

kesukaran, dan daya pembeda butir soal.

1. Validitas Instrumen

Validitas suatu instrumen evaluasi tidak lain adalah derajat yang

menunjukkan dimana suatu tes mengukur apa yang hendak diukur. Valid menurut

Gronlund (1985) dalam Sukardi (2008: 30) dapat diartikan sebagai ketetapan

interpretasi yang dihasilkan dari skor tes atau instrumen evaluasi. Jadi, suatu

instrumen evaluasi dikatakan valid, apabila instrumen yang digunakan dapat

mengukur apa yang hendak diukur. Uji validitas butir soal ini dilakukan dengan

menggunakan teknik kolerasi product moment yang dikemukakan oleh Pearson

(Pearson Product Moment), yaitu sebagai berikut :

 

Untuk menginterpretasikan nilai koefisien korelasi yang diperoleh dari

perhitungan diatas, digunakan kriteria validitas butir soal seperti yang ditunjukkan

(24)

NENNI MONA ARUAN,2014

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Tabel 3.3 Interpretasi Validitas Butir Soal

Koefisien Korelasi Kriteria validitas

0,80 < r  1,00 Sangat tinggi

Jika harga r lebih kecil dari harga kritik dalam tabel, maka korelasi tersebut tidak signifikan.

2. Reliabilitas Instrumen

Reliabilitas dapat diartikan sama dengan konsistensi atau keajegan. “Suatu instrumen evaluasi dikatakan mempunyai nilai reliabilitas tinggi apabila tes yang dibuat mempunyai hasil yang konsisten dalam mengukur yang hendak diukur” (Sukardi, 2008: 43). Sehingga dapat disimpulkan bahwa reliabilitas tes adalah

tingkat konsistensi suatu tes, yaitu sejauh mana suatu tes dapat dipercaya untuk

menghasilkan skor yang konsisten.

Untuk uji reliabilitas instrumen pilihan ganda dengan empat jawaban

digunakan Kuder Richardson atau K-R 21 yaitu sebagai berikut:

(Sugiyono, 2007)

Dengan:

reabilitas tes secara keseluruhan banyaknya item

varians total, yaitu varians skor total mean atau rerata skor total

Nilai reliabilitas yang diperoleh diinterpertasi dengan mengacu kepada

tabel 3.4 berikut:

Tabel 3.4 Interpretasi Reliabilitas Tes

Koefisien Korelasi Kriteria reliabilitas

(25)

44

NENNI MONA ARUAN,2014

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Sedangkan untuk uji reliabilitas instrumen dalam bentuk uraian digunakan

Cronbach Alpha (α) yaitu sebagai berikut :

α =

Tabel 3. 5 Interpretasi Reliabilitas dengan Cronbach Alpha

Kriteria Koefisien Cronbach Alpha

Sangat Reliabel >0.900 Reliabel 0.700 – 0.900 Cukup Reliabel 0.400 - 0.700 Kurang Reliabel 0.200 – 0.400

Tidak Reliabel <0.200

(Sugiyono, 2007)

3. Tingkat Kesukaran Butir Soal

“Tingkat kesukaran atau indeks kesukaran (difficulty indeks) adalah

bilangan yang menunjukkan sukar atau mudahnya sesuatu soal” Arikunto (2010:207). Tingkat kesukaran dinyatakan dalam bentuk indeks, semakin besar

indeks tingkat kesukaran suatu butir soal semakin mudah butir soal tersebut.

Tingkat kesukaran butir soal atau disebut juga tingkat kemudahan butir soal dapat

(26)

NENNI MONA ARUAN,2014

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu JS = jumlah peserta tes

Untuk menginterpretasikan indeks tingkat kesukaran yang diperoleh dari

perhitungan diatas, digunakan kriteria tingkat kesukaran seperti yang ditunjukkan

pada tabel 3.6 dibawah ini :

Tabel 3.6 Interpretasi Indeks Tingkat Kesukaran Butir Soal

Indeks Tingkat Kesukaran

0,00 – 0,29 Sukar 0,30 – 0,69 Sedang 0,70 – 1,00 Mudah

(Arikunto, 2010: 210)

4. Daya Pembeda Butir Soal

“Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan

antara siswa yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan siswa yang tidak pandai (berkemampuan rendah)” Arikunto (2010: 211). Butir soal yang memiliki daya pembeda yang baik ialah butir soal yang dapat dijawab dengan benar oleh siswa

yang pandai dan tidak dapat dijawab dengan benar oleh siswa yang kurang

pandai. Untuk menentukan daya pembeda tiap butir soal digunakan persamaan :

Daya pembeda (DP)

B = jumlah kelompok atas yang menjawab benar

A

J = jumlah peserta tes kelompok atas

B

B = jumlah kelompok bawah yang menjawab benar

B

J = jumlah peserta tes kelompok bawah

Untuk menginterpretasikan indeks daya pembeda yang diperoleh dari

perhitungan diatas, digunakan tabel kriteria daya pembeda seperti yang

(27)

46

NENNI MONA ARUAN,2014

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Tabel 3.7 Interpretasi Daya Pembeda Butir Soal

Indeks DP Interpretasi

G. Analisis Hasil Uji Coba Instrumen

Uji coba instrumen tes penguasaan konsep dan tes kemampuan pemecahan

masalah dilakukan agar tes yang digunakan benar-benar dapat mengukur variabel

penelitian. Sebelum digunakan, kedua bentuk tes tersebut diuji cobakan terhadap

siswa kelas VIII di salah satu SMP Bandung yang telah mempelajari konsep

massa jenis.

1. Instrumen Tes Penguasaan Konsep

Dari hasil uji coba instrumen tes penguasaan konsep, 25 soal pilihan ganda

yang diujicobakan diputuskan hanya 15 soal pilihan ganda yang layak digunakan

untuk penelitian. Berikut hasil analisis validitas, tingkat kesukaran, daya pembeda

butir soal dan reliabilitas tes Penguasaan Konsep:

Tabel 3. 8 Analisis Hasil Uji Coba Instrumen Tes Penguasaan Konsep

No. Soal

Validitas Tingkat

kesukaran Daya Pembeda Keputusan Nilai Kriteria Nilai Kriteria Nilai Kriteria

(28)

NENNI MONA ARUAN,2014

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH

kesukaran Daya Pembeda Keputusan Kriteria

Dari tabel 3.8, terdapat 10 soal yang dibuang, dan 1 soal direvisi. Keputusan butir

soal yang dibuang atau tidak dipakai dalam penelitian, ditinjau dari kriteria

validitas butir soal tersebut tidak signifikan atau tidak valid, sangat rendah dan

rendah. Daya pembedanya butir soal jelek dan tingkat kesukaran butir soal

diutamakan yang memiliki kriteria sedang. Untuk tes secara keseluruhan, setiap

butir soal mewakili indikator kompetensi. Sehingga pertimbangan soal nomor 2

direvisi hanya item tersebut mengukur salah satu indikator kompetensi. Kemudian

setelah dilakukan uji coba ulang untuk soal nomor 2 diperoleh nilai validitasnya

(29)

48

NENNI MONA ARUAN,2014

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

0,4 dan daya pembeda item baik sekali dengan nilai 0,75. Dari hasil analisis

instrumen tes tersebut diperoleh 3 soal untuk mengukur kategori kognitif

mengingat (soal nomor 1,2 dan 8) yaitu sebesar 20% dari keseluruhan tes

penguasaan konsep, 7 soal untuk mengukur aspek kognitif memahami (soal

nomor 3, 4, 9, 16, 18, 21, 22 dan 23) sebesar 46,67% dan 5 soal untuk mengukur

aspek kognitif menerapkan (soal nomor 5,11, 12, 17 dan 25) sebesar 33,33%.

Jumlah item untuk mengukur aspek memahami siswa lebih banyak dibandingkan

dengan aspek menerapkan dan mengingat. Pertimbangan jumlah item yang

berbeda tersebut ditinjau dari hasil studi pendahuluan dan proses pembelajaran

yang lebih melatihkan siswa pada aspek memahami. Sedangkan aspek

menerapkan dan aspek mengingat lebih sedikit. Hasil selengkapnya untuk

pengolahan data uji coba instrumen dapat dilihat di lampiran C.

2. Instrumen Tes Kemampuan Pemecahan Masalah

Instrumen tes Kemampuan Pemecahan Masalah yang diujicobakan

sebanyak 4 soal Berikut hasil analisis validitas, tingkat kesukaran, daya pembeda

butir soal dan reliabilitas tes Kemampuan Pemecahan Masalah:

Tabel 3.9 Analisis Hasil Uji Coba Instrumen tes kemampuan

Pemecahan Masalah

No. Soal

Validitas Tingkat

kesukaran Daya Pembeda Keputusan Nilai Kriteria Nilai Kriteria Nilai Kriteria

1. 0,664 Tinggi 0,79 Mudah 0,30 Cukup Dipakai 2. 0,790 Tinggi 0,65 Sedang 0,43 Baik Dipakai 3. 0,787 Tinggi 0,74 Mudah 0,26 Cukup Dipakai 4. 0,579 Cukup 0,68 Sedang 0,27 Cukup Dibuang

Untuk reliabilitas tes uraian digunakan rumus Cronbach Alpha (α) dengan bantuan pengolah data SPSS Statistic 16.0, diperoleh nilai α sebesar 0,654 termasuk dalam kriteria cukup. Dari tabel 3.9 diatas dan nilai reliabilitasnya dari 4

soal yang diujicobakan, diputuskan untuk hanya menggunakan 3 soal dalam

(30)

NENNI MONA ARUAN,2014

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

daya pembeda yang layak. Hasil selengkapnya untuk pengolahan data uji coba

instrumen dapat dilihat di lampiran C.

H. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan cara yang dilakukan untuk

memperoleh data yang mendukung pencapaian tujuan penelitian. Dalam

penelitian ini, teknik pengumpulan data yang digunakan ialah tes dan lembar

observasi.

1. Tes

Menurut Arikuto (2010:193), “tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan inteligensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok”. Dalam penelitian ini, instrumen tes yang digunakan adalah tes tertulis (paper and

pencil test) yang dilakukan 2 kali:

a. Test I : Pre-test

Pre-test berfungsi untuk memperoleh data tentang penguasaan konsep

Fisika dan kemampuan pemecahan masalah awal siswa sebelum diberikannya

perlakuan.

b. Test II : Post-test

Post-test berfungsi untuk memperoleh data tentang penguasaan konsep

Fisika dan kemampuan pemecahan masalah akhir siswa setelah diberi perlakuan.

Kelas eksperimen diberi perlakuan dengan model pembelajaran Advance

Organizer sedangkan kelas kontrol diberi perlakuan model pembelajaran

konvensional.

2. Lembar Observasi

Observasi ini dilakukan untuk mengamati bagaimana proses pembelajaran

apakah sesuai dengan rencana yang telah dibuat, dimana tahapannya sesuai

dengan rencana pelaksanaan pembelajaran. Instrumen ini berbentuk raling scale,

(31)

50

NENNI MONA ARUAN,2014

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

yang terjadi. Lembar observasi digunakan untuk mengetahui apakah model

pembelajaran Advance Organizer yang diterapkan di kelas eksperimen sudah

sesuai dengan teori atau tidak, misalnya dalam sintaks pembelajaran, fase

pembelajaran serta aktifitas belajar siswa yang dilakukan selama pembelajaran

berlangsung. Sehingga dapat diketahui apakah model pembelajaran Advance

Organizer yang diterapkan di dalam kelas eksperimen sudah memenuhi kriteria

sempurna, kurang sempurna atau bahkan tidak sempurna.

I. Teknik Pengolahan Data

Setelah semua data terkumpul, dilakukan pengolahan data dengan

langkah-langkah sebagai berikut:

1. Pemberian skor

Untuk soal pilihan ganda, skor yang diberikan untuk jawaban benar adalah

1, sedangkan untuk jawaban salah adalah 0. Skor total dihitung dari banyaknya

jawaban yang cocok dengan kunci jawaban. Dan untuk soal uraian, skor yang

diberikan berpatokan pada rubrik kemampuan pemecahan masalah yang telah

disusun oleh Heller dkk pada Bab II.

2. Analisis data peningkatan skor siswa

Setelah seluruh data tes Penguasaan Konsep dan Kemampuan Pemecahan

Masalah baik itu pretest dan posttest, langkah selanjutnya yaitu menganalisis

peningkatan skor siswa pada kedua tes tersebut. Untuk mengetahui bagaimana

peningkatan hasil belajar siswa dilakukan uji statistik pada N-gain, dengan

langkah sama seperti pada pretest-posttest. Rumus yang digunakan untuk

menghitung nilai N-gain adalah :

(32)

NENNI MONA ARUAN,2014

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Sf = skor post-test

< g > = N-gain

G = rata-rata gain aktual

Gmaks = gain maksimum yang mungkin terjadi

Sf = rata-rata skor post-test

Si = rata-rata skor pre-test

Tabel 3.10 Interpretasi N-gain

N-gain Kriteria

0.71 – 1.00 Tinggi 0.41 – 0.70 Sedang 0.01 – 0.40 Kurang

( Hake, 2001)

3. Uji Normalitas

Uji normalitas ini dilakukan untuk mengetahui apakah populasi yang diteliti

berdistribusi normal atau tidak. Karena sampel yang digunakan dalam penelitian

diambil secara acak, maka untuk menguji normalitasnya digunakan uji normalitas

Saphiro Wilk dengan menggunakan bantuan SPSS Statistic 16.0. Perhitungan uji

normalitas dilakukan dengan dasar pengambilan keputusan sebagai berikut

(Sugiyono,2009):

 Jika Sig < α, maka data tidak berasal dari populasi yang berdistribusi normal, α = 0,05.

 Jika Sig > α maka data berasal dari populasi yang terdistribusi normal, α = 0,05.

Jika hasil dari uji normalitas menunjukan bahwa data berdistribusi normal, maka

selanjutnya dilakukan uji homogenitas. Sedangkan apabila kedua data atau salah

satunya tidak berdistribusi normal maka dilanjutkan dengan uji non-parametrik.

4. Uji Homogenitas

Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah variansi kedua kelas

(33)

52

NENNI MONA ARUAN,2014

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Perhitungan uji homogenitas dilakukan menggunakan uji statistik Levene, dengan

dasar pengambilan keputusan sebagai berikut:

 Jika Sig < α, maka variansi data kedua kelas tidak homogen, α = 0,05.  Jika Sig > α maka variansi data kedua kelas homogen, α = 0,05.

5. Uji Hipotesis

Langkah terakhir dari pengolahan data yaitu menguji hipotesis dengan

tujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh yang cukup jelas dan dapat

dipercaya antara variabel bebas dengan variabel terikat, yang pada akhirnya akan

diambil suatu kesimpulan penerimaan atau penolakan hipotesis yang telah

dirumuskan.

Secara statistik, hipotesis yang akan diuji dalam rangka pengambilan

keputusan penerimaan atau penolakan hipotesis penelitian dapat ditulis berikut:

H0: Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara model pembelajaran

Advance Organizer terhadap penguasaan konsep dan kemampuan

pemecahan masalah

H1: Terdapat pengaruh yang signifikan antara model pembelajaran

Advance Organizer terhadap penguasaan konsep dan kemampuan

pemecahan masalah

Dalam menguji diterima atau ditolaknya suatu hipotesis dalam penelitian,

terdapat beberapa pendekatan yang masing-masing membutuhkan syarat awal

sebelum dilakukan perhitungan lebih lanjut. Berikut akan dijelaskan lebih rinci

langkah-langkah bentuk pengujian statistik untuk pengujian hipotesis tersebut dan

syarat-syarat yang harus dipenuhi.

a. Uji Perbedaan 2 Rerata Parametrik

Jika data bersifat homogen dan berdistribusi normal maka dapat dilakukan

uji perbedaan 2 rerata parametrik terhadap skor pretest, posttest dan gain. Dalam

hal ini digunakan uji-t seperated varian karena jumlah subyek kelas eksperimen

(34)

NENNI MONA ARUAN,2014

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

bantuan SPSS Statistic 16.0. Adapun hipotesis yang akan diuji dalam uji

perbedaan dua rerata adalah:

H0 : Tidak terdapat perbedaan rerata antara kelas kontrol dengan kelas

eksperimen

H1 : Terdapat perbedaan rerata antara kelas kontrol dengan kelas eksperimen

Adapun dasar pengambilan keputusan sebagai berikut:

 Jika Sig > α maka Ho diterima dan H1 ditolak, α = 0,05.  Jika Sig < αmaka Ho ditolak dan H1 diterima, α = 0,05.

b. Uji Perbedaan 2 Rerata Nonparametrik

Uji perbedaan 2 rerata nonparametrik digunakan untuk menguji hipotesis

data yang tidak berdistribusi normal atau jika asumsi parametrik tidak terpenuhi.

Uji perbedaan 2 rerata nonparametrik yang digunakan adalah Uji Mann-Whitney

U karena memiliki sampel yang diambil secara acak dan kedua variabel bersifat

independen. Perhitungan uji Mann-Whitney U menggunakan bantuan SPSS

Statistic 16.0. Hipotesis yang akan diuji sama dengan hipotesis pada statistik

parametrik untuk skor pretest, posttest dan gain dengan dasar pengambilan

keputusan sebagai berikut:

Jika Asymp.Sig. (2- tailed) < 0,05 maka H1 diterima dan H0 ditolak, artinya

terdapat perbedaan rerata antara kelas kontrol dengan kelas eksperimen

Jika Asymp.Sig. (2- tailed) > 0,05maka H1 ditolak dan H0 diterima, artinya tidak terdapat perbedaan rerata antara kelas kontrol dengan kelas

eksperimen

Setelah berhasil menguji perbedaan 2 rerata, selanjutnya adalah

menghitung effect size. Jadi, ketika dari hasil uji hipotesis terdapat perbedaan

peningkatan yang signifikan secara statistik, hal ini belum dapat mengetahui

seberapa bermaknanya perbedaan itu sehingga dibutuhkanlah pengukuran effect

size.

(35)

54

NENNI MONA ARUAN,2014

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Setelah dilakukan uji perbedaan 2 rerata menggunakan uji-t, maka langkah

selanjutnya menghitung Cohen’s d dengan bantuan perangkat lunak Effect Size

Calculator. Setelah nilai d diperoleh, langkah selanjutnya adalah mengubah

bentuk d ke nilai r, r2 kemudian menginterpretasinya seperti pada tabel 3.11

berikut:

Tabel 3.11 Hubungan antara d,r dan r2

Kategori d R r2

R = koefisien korelasi

r2 = persentase varians pada variabel terikat antara kelas eksperimen dan

kelas kontrol

Sedangkan untuk mengetahui seberapa besar persentase nonoverlap

(36)

NENNI MONA ARUAN,2014

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Kategori

tabel 3.11 berikut akan disajikan interpretasi nilai Cohen’s d yang telah diperoleh

ke besar persentase nonoverlap-nya.

Tabel 3.12 Interpretasi Cohen’s d

Kategori d Persentase Nonoverlap (%)

Tinggi

d Persentase Nonoverlap (%)

1,5 70,7

Sedangkan jika data sebelumnya tidak memenuhi syarat kenormalitasan

atau uji perbedaan 2 rerata menggunakan nonparametrik, maka perhitungan effect

size-nya juga menggunakan rumus nonparametrik. Satu-satunya metode untuk

mengukur besarnya effect size data yang tidak normal diperkenalkan oleh Cliff

dengan rumusnya Cliff’s δ. Perhitungan dalam penelitian ini menggunakan

bantuan perangkat lunak Cliff Delta Calculator (CDC).

Berbeda dengan interpretasi nilai d yang digunakan Cohen, Cliff

menginterpretasikan jika nilai Cliff’s δ sebagai berikut (Razumiejczyk, 2010):

(37)

56

NENNI MONA ARUAN,2014

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

1). δ = 0, maka tidak terdapat pengaruh dari perlakuan yang diberikan. Artinya tidak terdapat nonoverlap antara skor rerata di kelas eksperimen dan di kelas kontrol

2). δ = +1, maka skor rerata kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan

kelas kontrol. Nilai δ yang (+) menunjukkan perlakuan yang diberikan di kelas eksperimen berpengaruh positif. Ketiadaan overlap yang mutlak menunjukkan besar pengaruh yang paling tinggi

3). δ = -1, maka peningkatan kelas kontrol lebih tinggi dibandingkan dengan kelas eksperimen. Besar pengaruhnya juga paling tinggi tapi bersifat negatif. 4). Jika nilai Cliff’s δ diinterpretasikan ke dalam standar Cohen d, besar nilai

Cliff’s δ = persentase nonoverlap skor rerata kelas eksperimen dengan kelas

kontrol yang dapat dilihat pada tabel 3.12. (Lion,2008)

6. Pengolahan Data Hasil Observasi

Data hasil observasi diperoleh dari lembar observasi aktivitas guru selama

pembelajaran. Pengolahan lembar observasi ini adalah dengan memberikan skor 1

jika indikator pada fase pembelajaran terlaksana dan memberikan skor 0 jika fase

pemebalajran tidak terlaksana, kemudian dipersentasekan. Adapun persentase data

hasil observasi ini dihitung dengan menggunakan rumus :

% keterlaksanaan model =

X 100%

Setelah data dari lembar observasi diolah, kemudian diinterpretasikan pada tabel:

Tabel 3. 13 Kriteria persentase keterlaksanaan model pembelajaran

KM (100%) Kriteria

KM = 0 Tak satu kegiatan pun terlaksana 0-25 Sebagian kecil kegiatan terlaksana 25-50 Hampir setengah kegiatan

KM (100%) Kriteria

50 Setengah

50-75 Sebagian besar

75-100 Hampir seluruh

100 Seluruh

(38)

NENNI MONA ARUAN,2014

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

J. Prosedur Penelitian

Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini dibagi menjadi tiga

tahapan, yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan tahap akhir yang akan

dipaparkan secara jelas dibawah ini:

1. Tahap Persiapan

Kegiatan yang dilakukan pada tahap persiapan meliputi:

a. Melakukan studi pendahuluan di salah satu SMP. Studi pendahuluan

dilakukan untuk menemukan gambaran permasalahan yang berkaitan dengan

pembelajaran IPA khususnya Fisika yang dialami oleh siswa maupun guru.

Kegiatannya dilakukan dengan mengamati proses pembelajaran di kelas,

mewawancarai guru, kemudian melanjutkan dengan menganalisis dokumen

tes hasil belajar siswa yang mengukur penguasaan konsep dan kemampuan

pemecahan masalah pada siswa. Dari hasil studi pendahuluan yang telah

dilakukan, kemudian dirumuskan masalah yang akan dikaji dalam penelitian

yaitu : Bagaimana pengaruh model pembelajaran Advance Organizer

terhadap penguasaan konsep dan kemampuan pemecahan masalah pada

siswa.

b. Melakukan studi literatur untuk memperoleh teori yang akurat mengenai

permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian, di antaranya seperti di

bawah ini.

1) Melakukan kajian teoritis mengenai model Advances Organizer

(mempelajari karakteristik, sintaks pembelajaran, kelebihan dan

kekurangan, dan lain sebagainya); penguasaan konsep (mempelajari

indikator aspek kognitif yang akan diukur); dan kemampuan pemecahan

masalah (mempelajari indikator kemampuan pemecahan masalah,

strategi pemecahan masalah, dan lain sebagainya).

2) Melakukan studi kurikulum mengenai pokok bahasan yang akan

digunakan dalam penelitian. Standar Kompetensi (SK) yang dipilih

adalah mendeskripsikan dan Kompetensi Dasar (KD) yang dipilih adalah

(39)

58

NENNI MONA ARUAN,2014

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

d. Menyiapkan perangkat pembelajaran yang akan digunakan saat penelitian

baik untuk kelas eksperimen maupun kelas kontrol. Perangkat pembelajaran

meliputi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang mengacu pada

sintaks model pembelajaran Advance Organizer untuk kelas eksperimen,

sedangkan untuk kelas kontrol mengacu pada sintaks model pembelajaran

konvensional. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dilakukan sebanyak 2

pertemuan (pertemuan pertama tentang konsep massa jenis, pertemuan kedua

tentang penerapan konsep massa jenis), Lembar Kerja Siswa (LKS), lembar

keterlaksanaan model Advance Organizer.

e. Membuat dan menyusun instrumen penelitian sebagai alat untuk memperoleh

data dalam penelitian

f. Mengkonsultasikan dan judgment instrumen penelitian kepada dua orang

dosen dan satu orang guru mata pelajaran fisika yang berada di sekolah

tempat penelitian akan dilaksanakan.

g. Mengujicobakan instrumen penelitian yang telah dijudgment kepada siswa

yang telah menerima materi Massa Jenis.

h. Menganalisis hasil uji coba instrumen penelitian yang meliputi validitas,

tingkat kesukaran, daya pembeda dan reliabilitas sehingga layak untuk

dijadikan insrumen penelitian.

2. Tahap Pelaksanaan

Kegiatan yang dilakukan pada tahap pelaksanaan ialah melaksanakan

pretest untuk menguji penguasaan konsep dan kemampuan pemecahan masalah

awal siswa di kelas eksperimen dan kelas kontrol, menerapkan model

pembelajaran Advance Organizer pada kelas eksperimen dan model pembelajaran

konvensional pada kelas kontrol. Kemudian dilakukan posttest setelah

pembelajaran selesai pada kedua kelas tersebut untuk mengetahui pengaruh

perlakuan yang telah diberikan.

3. Tahap Akhir

(40)

NENNI MONA ARUAN,2014

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

a. Mengolah dan menganalisis data hasil pretest dan posttest kelas eksperimen

dan kelas kontrol

b. Memberikan kesimpulan berdasarkan hasil yang diperoleh dari pengolahan

data.

c. Memberikan saran terhadap aspek penelitian yang kurang.

Gambar

Gambar 3.1 Alur Penelitian.............................................................................
Tabel 3.1 Desain Penelitian
Tabel 3.2 Kisi-kisi Instrumen Tes Penguasaan Konsep
tabel 3.4 berikut:
+7

Referensi

Dokumen terkait

dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada peningkatan penguasaan konsep siswa yang menggunakan model pembelajaran Open Inquiry dengan siswa

Hipotesis yang diuji dalam penelitian ini adalah hipotesis alternatif (H 1 ) yaitu: “ Terdapat perbedaan peningkatan berpikir kritis dan penguasaan konsep siswa antara

BAB II MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER, PENGUASAAN KONSEP, KEMAMPUAN MEMBUAT PETA KONSEP, RETENSI, DAN KONSEP SISTEM SARAF ………... Model Pembelajaran Advance

Hasil analisis data kuantitatif menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar biologi.. siswa pada konsep protista antara yang diajarkan melalui pembelajaran

Hasil analisis data kuantitatif menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar biologi.. siswa pada konsep protista antara yang diajarkan melalui pembelajaran

Untuk melihat apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis kedua kelas eksperimen dilakukan uji beda

Berdasarkan uji hipotesis, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh penguasaan konsep fisika siswa antara kelas eksperimen yang diberikan perlakuan berupa

Peningkatan kelas generatif + AO lebih baik daripada peningkatan pada kelas generatif + scaff, namun perbedaan peningkatannya sangat tipis, sehingga dapat