• Tidak ada hasil yang ditemukan

Infeksi Hepatitis B pada Ibu Hamil di Kota Kupang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Infeksi Hepatitis B pada Ibu Hamil di Kota Kupang"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

ORAL PRESENTASI

Infeksi Hepatitis B pada Ibu Hamil di Kota Kupang

Norma Kambuno a* , Karol Octrysdey a , Kuntum Ekawati Nurdin a , Yoan Novicadlitha a

a Prodi Tehnik Laboratorium Medis, Poltekkes Kemenkes Kupang

*Email: [email protected]

ABSTRAK

Penyakit Hepatitis B merupakan penyakit yang menyerang hati, di sebabkan oleh infeksi virus hepatitis (VHB) dan merupakan masalah kesehatan dunia terutama di negara berkembang termasuk Indonesia. Nusa Tenggara Timur adalah salah satu propinsi dengan kasus tertinggi hepatitis pada tahun 2013. Kasus baru Hepatitis B di Kota Kupang terus meningkat setiap tahunnya. Selain transmisi horisontal, salah satu penyebab terbesar adalah transmisi vertikal dari ibu kepada anak atau disebut juga mother to child transmission (MTCT) dimana seorang ibu dengan HBsAg positif akan menularkan kepada janin yang dikandungnya. Pemeriksaan hepatitis B yang diwajibkan pada ibu hamil di kota Kupang sudah dimulai sejak tahun 2016. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui prevalensi ibu hamil yang positif Hepatitis B di kota Kupang. Jenis penilitian yang digunakan adalah deskriptif dengan menggunakan 7318 data sekunder, data hasil pemeriksaan ibu hamil yang diambil dari 3 fasilitas kesehatan yang terjangkau yaitu RSUD Prof. DR. Johannes Kupang, RSUD S.K.Lerik Kota Kupang dan Puskesmas Pasir Panjang. Hasil menunjukan bahwa dari 7318 data Ibu hamil yang melakukan pemeriksaan didapatkan hasil 341 orang positif HBsAg (5,1%). Peningkatan kasus hepatitis B pada ibu hamil di kota Kupang memerlukan penanganan serius dari pemerintah. Penanganan ibu hamil, janin dan bayi yang diahirkan dari Ibu dengan HBSAg positif, upaya vaksinasi hepatitis B pada ibu hamil pada masa kehamilan perlu dilakukan untuk menurunkan penularan Hepatitis B.

Kata kunci : Kehamilan, virus Hepatitis B, vaksinasi

ABSTRACT

Hepatitis B is a disease that attacks the liver, caused by hepatitis B virus infection (HBV) and was global health problem especially in developing countries including Indonesia. East Nusa Tenggara is one of the provinces with the highest cases of hepatitis in 2013. New cases of Hepatitis B in Kupang City continue to increase every year. Apart from horizontal transmission, one of the biggest causes was vertical transmission from mother to child or also called mother to child transmission (MTCT) where a mother with positive HBsAg will transmit it to the fetus she was carrying. Examination of hepatitis B in pregnant women in the city of Kupang has been carried out since 2016. The aim of this research is to determine the prevalence of pregnant women who are positive for hepatitis B in Kupang. The type of research used is descriptive using 7318 secondary data, data from the examination of pregnant women taken from 3 affordable health facilities, namely RSUD Prof. DR. Johannes Kupang, RSUD S.K.Lerik Kupang City and Puskesmas Pasir Panjang. Results; It shows that from 7318 data of pregnant women who did the examination, there were 341 HBsAg positive results (5.1%). An increase in cases of hepatitis B in pregnant women in the city of Kupang requires serious treatment from the government. Handling of pregnant women, fetuses and infants cleared from mothers with positive HBSAg, efforts to vaccinate hepatitis B in pregnant women during pregnancy need to be done to reduce transmission of Hepatitis B.

Keywords: Pregnancy, Hepatitis B virus, vaccination

(2)

Pendahuluan

Hepatitis B adalah penyebab utama penyakit hati di seluruh dunia. Di seluruh dunia diperkirakan sekitar 2 milyar penduduknya telah terinfeksi oleh virus hepatitis B dan lebih dari 240 juta mengidap penyakit infeksi hati kronis(Muljono, 2017) , (WHO, 2016) , (World Health Organization, 2017). Sekitar 650.000 penderitanya meninggal setiap tahun akibat konsekuensi dari penyakit tersebut. Kementerian Kesehatan melalui hasil risetnya pada tahun 2013 menunjukkan bahwa Indonesia memiliki prevalensi HBsAg 7,1% dan angka ini turun dari 9,4% pada Tahun 2007 (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 2013). Hal ini juga bermakna Indonesia telah turun dari daerah dengan endemisitas tinggi menjadi moderat. Prevalensi anti-HBc adalah 31,9%, hal ini bermakna hampir sepertiga dari penduduk indonesia pernah terinfeksi hepatitis B (World Health Organization, 2017).

Penularan Hepatitis B dapat terjadi secara vertical dan horizontal. Penularan vertikal melalui kontak langsung dengan penderita hepatitis B. Virus hepatitis B dapat secara horizontal ditularkan dari pasien yang terinfeksi melalui cairan tubuh seperti darah atau produk darah, air mani, air liur, cairan vagina, darah menstruasi, dan cairan tubuh lainnya (Amtarina et al., 2009; Kambuno, Bessie and Tangkelangi, 2019). Mereka yang berisiko adalah bayi baru lahir dan orang-orang yang terlibat dalam hubungan seksual yang tidak aman; gunakan pisau dan jarum suntik yang terkontaminasi; menerima tindikan dan tato;

gunakan sikat gigi yang terkontaminasi; dan minum dari gelas yang terkontaminasi (Ie et al., 2015; Kambuno, N., Sari, A., Nurdin, K., Novicadlitha, Y., & Siregar, 2018; Irfan, Wawomeo and Kambuno, 2019).

Penularan horizontal yang disebut juga mother to child transmission (MTCT) adalah penularan dari Ibu hamil kepada janin yang dikandungnya. Banyak penelitian yang telah menunjukkan bahwa 90% Ibu yang mengidap HBsAg reaktif akan menularkan kepada bayi yang dilahirkan(Aini and Susiloningsih, 2013) , (Khumaedi, Gani and Hasan, 2016).

Fujiko(Fujiko et al., 2015) dkk pada tahun 2015, dari 943 ibu hamil di makassar yang mendatangi klinik untuk asuhan antenatal terdapat 64 (6.8%) yang positif HBsAg. Dari 64 ibu hamil tersebut, terdapat 12 (18.8%) yang positif HbeAg dan 52 (81.3%) yang negatif HBeAg. Olokoba, dkk di Nigeria menemukan dari 231 ibu hamil yang diperiksa, 19 diantaranya positif HBsAg (8,1%)(Olokoba et al., 2011).

Hasil peneltiian lain menyimpulkan bahwa Ibu hamil dengan VHB (+) memerlukan

penanganan terpadu, bayi yang dilahirkan segera di imunisasi aktif terhadap VHB sebelum

12 jam kelahiran(Khumaedi, Gani and Hasan, 2016) , (Patton and Tran, 2014). Ibu hamil

disarankan wajib melakukan screeing/pemeriksaan hepatitis B mulai dari trisemester I

kehamilan dan wajib menerima suntikan vaksinasi Hb 0. Ibu dengan HBsAg postifi harus

dirujuk untuk mendapatkan terapi 15, (Su et al., 2004).

(3)

Berdasarkan tingginya kasus hepatitis B pada ibu hamil di Indonesia maka Menteri Kesehatan Republik Indonesia telah mengeluarkan Peraturan dengan Nomor 52 tahun 2017 tentang Eliminasi Penularan Human Virus Hepatitis B dari ibu kepada bayi. Tujuan adalah sebagai pedoman penanagan penularan hepatitis B dari ibu kepada bayi, memberi acuan kepada pemerintah daerah , tenaga kesehatan, masyarakat untuk mengurangi penularan Hepatitis B dari ibu kepada bayi, serta untuk menurunkan angka kesakitan, dan kematian (PMK/52/2017). Konsensus PPHI (Persatuan Peneliti Hati Indonesia) menyebutkan bahwa skrining ibu hamil dilakukan pada awal dan pada trimester ke-3 kehamilan, terutama ibu yang berisiko terinfeksi virus Hepatitis B (VHB).

Berdasarkan rekomendasi guideline EASL tahun 2017, pada wanita hamil sebaiknya dilakukan pemeriksaan HBsAg. Penapisan pada ibu hamil yang sehat merupakan parameter penting dalam mengetahui penyakit, diagnosis, dan implementasi berdasarkan bukti untuk infeksi kronik Hepatitis B(Pusparini and Ayu, 2017). Terutama hal ini akan memberikan manfaat pada ibu hamil dalam upaya pencegahan transmisi virusHepatitis B pada neonatus(Lestari, 2015).

Berdasarkan PMK Nomor 52 tahun 2017 maka screning hepatitis B pada ibu hamil di Kota Kupang telah dilaksanakan secara rutin, bahkan disebut program tripel emilinasi, yaitu pemeriksaan ibu hamil untuk tiga kasus, yakni hepatitis B, HIV dan sifilis. Tujuan peneltian ini adalah untuk mengetahui prevalensi infeksi hepatitis pada ibu hamil di kota Kupang yang merupakan penanda serologis sebagai indikator untuk menentukan prevalensi hepatitis B.

METODE PENELITIAN

Jenis Penelitian yang digunakan adalah deskriptif retrospektif menggunakan data sekunder dari rekam medik tahun 2015 – 2018. Tujuan untuk mengetahui berapakah presentase Hepatitis B pada ibu hamil yang terinfeksi Hepatitis B di Kota Kupang. Data bersumber dari populasi terjangkau yakni RSUD Prof Dr. W.Z Johannes, RSUD S.K.Lerik, dan puskesmas Pasir Panjang sebanyak 7319.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan data sekunder hasil pemeriksaan laboratorium yang dikumpulkan pada 3

fasilitas kesehatan yakni RSUD Prof DR W.Z Johannes, RSUD S.K lerik dan Puskesmas

Pasir Panjang, didapatkan data 7319 data Ibu hamil yang disajikan dalam table 1 dibawah

ini.

(4)

Tabel .1. Gambaran Data Ibu Hamil yang terinfeksi Hepatitis B di Kota Kupang Nama Faskes/

Tahun

Jumlah Ibu Hamil (n)

Positif (n) % RSUD Prof Dr. W.Z. Johannes

- 2017 - 2018

553 501

2 (0,4%) 21 (4,2%) RSUD S.K. Lerik Kota Kupang

- 2015 - 2016 - 2017 - 2018

98 331 1420 1523

25 (25,5%) 24 (7,3%) 73 (5,1%) 74 (4,9%) Puskesmas Pasir Panjang

- 2015 - 2016

32 54

6 (18,8%) 7 (13%)

Rata-rata; 4512 372 (5,1%)

Beberapa variabel yang juga dikumpulkan dari buku register untuk melengkapi data hasil pemeriksaan diatas adalah usia Ibu, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan ibu, jumlah anak yang dikategorikan kurang dari 5 dan lebih dari 5. Hasil tabulasi, variable tersebut di tunjukkan dalam table 2 dibawah ini.

Tabel 2 Karekteristik responden

Variabel Jumlah

Positif(%) Negatif(%) Umur Ibu

19-29 tahun 120/32% 1288/31%

30-38 tahun 218/59% 1763/43%

≥ 39 tahun 34/9% 1089/26%

Pendidikan

SD 132/35% 1230/30%

SMP 101/27% 1215/29%

SMA 105/28% 1041/25%

PT 34/9% 654/16%

Pekerjaan

Ibu Rumah Tangga 213/57% 1280/31%

PNS 95/26% 1850/45%

Swasta/Karyawan 64/17% 1010/24%

Jumlah Anak

>5 205/55% 2160/52%

<5 167/45% 1980/48%

Total 372 4140

Data hasil hasil pemeriksaan dari 3 tempat yang berbeda, memberikan perbedaan

yang cukup signifikan. RSUD Prof, DR. W.Z Johannes menunjukkan peningkatan kasus

infeksi yang cukup tinggi, dari 0,4% pada tahun 2017 menjadi 4,8%. Pada RSUD S.K Lerik

selama 4 tahun terakhir, data menunjukkan penurunan kasus infeksi dari 25,5 %pada tahun

2015 menjadi 4,9% pada tahun 2018. Sulit dijelaskan apa yang menyebabka penurunan

(5)

kasus tersebut, karena sampai tahun 2019, imunisasi HB 0 pada ibu hamil belum menjadi program yang di persyaratkan pada ibu hamil di kota Kupang.

Keterbatasan dari penelitian ini adalah kami hanya bisa menampilkan data dari 1 puskesmas yakni Puskesmas Pasir Panjang di Kota Kupang. Ditemukan persentase kasus yang lebih tinggi, yakni 13%, hampir dua kali lipat diatas data Riskesdas 2013 (7,1%).

Secara keseluruhan, akumulasi data dari tahun 2015 sampai 2018 ditemukan persentase 5,1% (372/7318). Hal ini bermakna diantara 100 ibu hamil diperkirakan ada 5 orang yang positif HBsAg. Walau angka ini berada dibawah angka Riskesdas 2013 akan tetapi kasus ini terjadi pada ibu hamil dan resiko penularan menjadi beresiko 90% pada bayi yang akan dilahirkan.

Pusparini, dkk 2017(Pusparini and Ayu, 2017) melaporkan tatalaksana persalinan pada kehamilan dengan hepatitis B dengan tindakan sectio caesarea elektif memiliki tingkat penularan ke bayi lebih rendah dibandingkan dengan persalinan pervaginam. Tatalaksana terhadap bayi dengan ibu pengidap HBV dengan memberikan vaksinasi segera setelah persalinan.

Vaksinasi sangat efektif dalam pencegahan Hepatitis B, sirosis dan hepatoselular karsinoma. WHO merekomendasikan semua negara untuk memperkenalkan vaksin Hepatitis B pada program imunisasi rutin nasional(Su et al., 2004) , (Jurnalis et al., 2016).

Indonesia telah memasukkan imunisasi Hepatitis B dalam program imunisasi rutin nasional pada bayi baru lahir pada tahun 1997(Muljono, 2017). Selanjutnya, di negara-negara dengan infeksi HBV tinggi (khususnya di Negara dengan prevalensi infeksi HBV kronik

>8%), WHO merekomendasikan pemberian dosis awal vaksin Hepatitis B segera setelah lahir (<12 jam) untuk mencegah transmisi HBV perinatal. Pencegahan spesifik pre- exposure dapat dilakukan dengan memberikan vaksin Hepatitis B pada kelompok risiko tinggi(WHO, 2016).

Program vaksinasi wajib pada ibu hamil belum di canangkan sampai saat ini.

Persentase ibu hamil yang negative HBsAg pada peneltiian justru adalah kelompok yang beresiko dan rentan untuk terinfeksi. Sehingga kami menyarankan pemerintah, mengratiskan vaksin kepada ibu hamil sebagai upaya menekan penyebaran infeksi hepatitis B. Riwayat vaksinnasi adalah tindakan vaksin yang perna diterima oleh seseorang sebelum menderita Hepatitis B yang dilakukan oleh tenaga kesehatan. Orang yang telah mendapatkan vaksinnasi Hepatitis B memiliki resiko rendah tertular Hepatitis B atau protektif (bersifat melindungi), sedangkan orang yang beresiko tinggi adalah yang tidak perna mendapatkan vaksinnasi Hepatitis B(WHO, 2016).

Penularan terjadi dari ibu dan anak secara fertikal yang akan berkembang menjadi

infeksi kronik. Janin atau bayi yang dilahirkan akan tertular virus ini melalui air susu dan

(6)

plasenta. Menurut WHO, penularan virus Hepatitis B dapat terjadi dari ibu ke anak dalam kandungan dan penularaan saat kelahiran (perinatal) parenteral (darah ke darah). Geeta and Riyaz, 2013 menyatakan jalur penularan ini menciptakan anak-anak HbsAg positif yang sangat infeksius dan menjadi fokus penularan horizontal selanjutnya tetapi tindakan menyusui yang dilakukan oleh positif HbsAg tidak mingkatkan resiko penularan ke bayi, dan karena itu tidak kontra indikasi asalkan bayi di beri imunisasi(Patton and Tran, 2014).

Penularan secara horizontal dan penggunaan bersama alat rumah tangga yang menimbulkan kontak dengan saudara yang memiliki Hepatitis B, kebiasaan pergantian alat rumah tangga dengan anggota keluarga hal ini yang memungkinkan penularan Hepatitis B.

Faktor resiko penularan Hepatitis B juga dapat terjadi pada pengguna donor darah(Irfan, Wawomeo and Kambuno, 2019). Hasil penilitian sebelumnya oleh Musdalifa, dkk. Juga menunjukan responden yang memiliki riwayat transfusi darah 5,6 kali lebih resiko tertular hepatitis B di bandingkan dengan mereka yang tidak memiliki transfusi darah.

Penularan secara horizontal adalah penularan infeksi virus hepatitis B dari seseorang pengidap virus hepatitis B kepada orang lain disekitarnya(Mansour-ghanaei et al., 2013).

Salah satu penularan horizontal yang terjadi adalah penularan kontak serumah, dan orang dewasa dapat terjadi melalui beberapa cara yaitu, kontak dengan darah dan komponen darah dan cairan tubuh yang terkontaminasi melalui kulit yang terbuka seperti gigitan , sayatan, atau luka memar ,sikat gigi, alat cukur, alat perawatan penyakit diabetes(Alizadeh et al., 2005) , (Sofian et al., 2016) , (Kambuno, Bessie and Tangkelangi, 2019).

KESIMPULAN DAN SARAN

Prevalensi Infeksi Hepatitis B dari 7318 data Ibu hamil yang melakukan pemeriksaan didapatkan 372 orang yang positif (5,1%). Penanganan ibu hamil, janin dan bayi yang diahirkan dari Ibu dengan HBSAg positif, upaya vaksinasi hepatitis B pada ibu hamil pada masa kehamilan perlu dilakukan untuk menurunkan penularan Hepatitis B.

DAFTAR PUSTAKA

Aini, R. and Susiloningsih, J. (2013) ‘Faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian hepatitis B pada pondok pesantren putri ibnul qoyyim Yogyakarta’, Sains Medika, 5(1), pp. 30–33.

Alizadeh, A. H. M. et al. (2005) ‘Intra-familial prevalence of hepatitis B virologic markers in HBsAg positive family members in Nahavand, Iran’, World Journal of Gastroenterology, 11(31), pp. 4857–4860. doi: 10.3748/wjg.v11.i31.4857.

Amtarina, R. et al. (2009) ‘Faktor risiko hepatitis B pada tenaga kesehatan Kota Pekanbaru’, MKB, 41(3), pp. 1–7.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (2013) ‘Riset Kesehatan Dasar 2013’,

(7)

Riskesdas, pp. 1–384. doi: 1 Desember 2013.

Fujiko, M. et al. (2015) ‘Chronic hepatitis B in pregnant women: Is hepatitis B surface antigen quantification useful for viral load prediction?’, International Journal of Infectious Diseases. International Society for Infectious Diseases, 41, pp. 83–89. doi:

10.1016/j.ijid.2015.11.002.

Ie, S. I. et al. (2015) ‘High prevalence of hepatitis B virus infection in young adults in Ternate, eastern Indonesia’, American Journal of Tropical Medicine and Hygiene, 93(6), pp.

1349–1355.

Irfan, Wawomeo, A. and Kambuno, N. T. (2019) ‘Hepatitis B Virus Infection in Hemodialisis patient at Prof. DR. W.Z. Johannes Kupang Hospital, East Nusa Tenggara’, Jurnal Kesehatan Primer, 4(1), pp. 63–69.

Jurnalis, Y. D. et al. (2016) ‘Occult Infection’, 17(5), pp. 343–348.

Kambuno, N., Sari, A., Nurdin, K., Novicadlitha, Y., & Siregar, I. (2018) ‘The relation of blood donors’ characteristic toward prevalences of HBsAg and Anti-HCV on blood transfussion unit of PMI in Province of East Nusa Tenggara’, in Waangsir, F. and Kase, S. (eds) Proceeding 1st. International Conference Health Polytechnic of Kupang. Kupang, East Nusa Tenggara: Health Polytechnic of Kupang, pp. 303–310.

Kambuno, N. T., Bessie, M. F. and Tangkelangi, M. (2019) ‘Risk Factors of Intra-familial Hepatitis B Virus Transmission among Hepatitis B Patients in Kupang’, Global Medical and Health Communication, 7(2), pp. 150–155.

Khumaedi, A. I., Gani, R. A. and Hasan, I. (2016) ‘Pencegahan transmisi vertikal hepatitis B:

fokus pada penggunaan antivirus antenatal’, Jurnal Penyakit Dalam Indonesia, 3(4), pp.

225–231.

Lestari, R. I. (2015) ‘Pengaruh Hepatitis terhadap Kehamilan’, Jurnal Agromed Unila, 2(2), pp. 77–80.

Mansour-ghanaei, F. et al. (2013) ‘Intrafamilial spread of hepatitis B virus in Guilan Province- North of Iran’, 4(4), pp. 250–257.

Muljono, D. H. (2017) ‘Epidemiology of hepatitis B and C in Republic of Indonesia’, Euroasian J Hepato-Gastroenterol, 7(1), pp. 55–59.

Olokoba, A. B. et al. (2011) ‘Hepatitis B virus infection amongst pregnant women in North- Eastern Nigeria - A call for action’, Nigerian Journal of Clinical Practice, 14(1), pp. 10–

13. doi: 10.4103/1119-3077.79232.

Patton, H. and Tran, T. T. (2014) ‘Management of hepatitis B during pregnancy’, Nature Reviews Gastroenterology &Amp; Hepatology. Nature Publishing Group, a division of Macmillan Publishers Limited. All Rights Reserved., 11, p. 402.

Pusparini, A. D. and Ayu, R. (2017) ‘Tatalakasana Persalinan pada Kehamilan dengan Hepatitis B’, J Medula Unila |, 7(2), pp. 1–5.

Sofian, M. et al. (2016) ‘Intra-familial transmission of hepatitis B virus infection in Arak, central Iran’, Iranian Journal of Pathology, 11(4), pp. 328–333.

Su, G. G. et al. (2004) ‘Efficacy and safety of lamivudine treatment for chronic hepatitis B in pregnancy’, World Journal of Gastroenterology, 10(6), pp. 910–912. doi:

10.3748/wjg.v10.i6.910.

(8)

WHO, W. H. O. (2016) ‘Global health sector strategy on viral hepatitis 2016-2021.’, Global Hepatitis Programme Department of HIV/AIDS, (June), p. 56.

World Health Organization (2017) Global Hepatitis Report, 2017, World Health Organization.

doi: 10.1149/2.030203jes.

Zheng, X., Wang, J. and Yang, D. (2015) ‘Antiviral therapy for chronic hepatitis B in China’,

Medical Microbiology and Immunology, 204(1), pp. 115–120. doi: 10.1007/s00430-014-

0380-z.

Referensi

Dokumen terkait

Bahan organik tanah selain sebagai sumber hara tanah, juga merupakan salah satu bahan pembentuk agregat tanah yang berperan sebagai bahan perekat antar partikel tanah untuk

keamanan Meksiko bahkan berhasil menemukan beberapa terowongan bawah tanah dalam jumlah yang selama beberapa tahun operasi melacak jejak penyelundupan yang

Menurut Hasugian (2009, 81) Hal penting yang dapat kita tangkap dari uraian di atas adalah, perpustakaan khusus terbatas dalam keanekaragaman koleksi yaitu hanya menyediakan

bahwa Pemerintah Daerah Kata Mojokerto telah menetapkan Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2009 tentang Pendirian Perseroan Terbatas Bank Pembiayaan Rakyat Syariah

Sentuhan dengan benda umumnya memberi dampak kehilangan suhu yang kecil karena dua mekanisme, yaitu kecenderungan tubuh untuk terpapar langsung dengan benda relative jauh lebih

Hal ini menunjukkan bahwa responden yang peneliti temui memang setuju jika Elna Cake &amp; Bakery memiliki kualitas kesesuaian dimana menjadikan produk tersebut mencapai

Pada praktikum, praktikan berperan dalam proses pengendalian kualitas yang dilakukan PT PPST mencakup pembuatan dan penggunaan peta kendali, perhitungan kapabilitas

Perkembangan juga telah menyebabkan  perubahan-perubahan peran dari para manajer dalam pengambilan keputusan, mereka dituntut untuk selalu dapat memperoleh informasi