• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEPEDULIAN ORANG TUA TERHADAP PENDIDIKAN AGAMA SISWA. Cut Nya Dhin*

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KEPEDULIAN ORANG TUA TERHADAP PENDIDIKAN AGAMA SISWA. Cut Nya Dhin*"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

565 Jurnal Kinerja Kependidikan

Facilities of Educator Career and Educational Scientific Information

KEPEDULIAN ORANG TUA TERHADAP PENDIDIKAN AGAMA SISWA Cut Nya Dhin*

* Cut Nya Dhin adalah Staf Pengajar, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, UINAr-Raniry Banda Aceh, Indonedsia

Email: [email protected]

Abstrak

This study aims to determine the forms of concern, what factors influence the concern and differences in the achievement of religious education of students who are parents of Civil Servants and non Civil Servants at SMPN 9 Banda Aceh. This study is a quantitative field research by collecting data through observation, interview, questionnaire and documentation techniques. The results showed that there were already concerns of parents of Civil Servants and non Civil Servants towards the Islamic religious education of their children who were studying at SMPN 9 Banda Aceh. Concern is not because of status or profession, but because it is their responsibility as parents. The form of concern for parents (Civil Servants) and (non Civil Servants) is by ordering and controlling their children so that they are diligent in learning and practicing Islamic teachings well, taking their children to recitation centers and even teaching themselves at home. Concern of parents towards religious education both parents who are Civil Servants and non-Civil Servants are influenced by various factors, namely educational factors, environmental factors, busyness factors, lack of cooperation between teachers and parents of students. In addition, due to inadequate supporting facilities, even some students (7 students whose parents are Civil Servants and 3 students whose parents are non Civil Servants). Answering still less interest in the study of Islamic religious education at SMPS 9 Banda Aceh. Increased motivation and student achievement have no effect on the status of parents as Civil Servants or non Civil Servants.

Learning achievement arises from oneself or others either because of the motivation of the teacher, parents, friends and so forth. All forms of motivation and achievement arises not because of parental employment status reasons.

Kata Kunci : Kepedulian Orang Tua, Pendidikan Agama

(2)

Jurnal Kinerja Kependidikan

566 Facilities of Educator Career and Educational Scientific Information PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, sekolah dan masyarakat dalam melahirkan manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, memiliki kepribadian yang mantap dan mandiri serta memiliki tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Manusia ketika dilairkan di dunia dalam keadaan lemah, tanpa pertolongan orang lain terutama orang tuanya, dia tidak bisa berbuat banyak (Nur Ahid, 2010). Keluarganya adalah lingkungan pertama yang dikenal oleh anak, sebelum anak itu mengenal lingkungan luar. Maka orang tua sebagai pendidik, pembimbing dan pembina anak yang pertama, akan sangat mewarnai dan menentukan pembentukan sikap serta kesiapan anak dalam melaksanakan ajaran-ajaran Islam.

Pada dasarnya orang tua adalah yang paling bertanggung jawab dalam mendidik putra putrinya agar selamat dunia akhirat.

Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Quran Surat At-Takhrim ayart 6, yang Artinya : Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Dapat diambil pengertian bahwa dalam Al-Qur’an telah ditegaskan agar setiap manusia yang beriman berkewajiban memberikan pengajaran kepada keluarganya terutama kepada ananknya. Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Zakia Darajat bahwa orang tua adalah Pembina pribadi yang utama dalam hidup anak. Kepribadian orang tua, sikap dan cara hidup mereka merupakan unsure-unsur pendidikan yang tidak langsung, yang dengan sendirinya akan masuk kedalam pribadi anak yang sedang tumbuh (Zakiah Daradjat, 1976).

Orang tua disebut sebagai pendidik kodrati, karena mereka pendidik bagi anak-anaknya dan secara kodrat orang tua diberikan anugrah oleh Allah SWT berupa naluri orang tua. Dengan naluri itulah maka timbul rasa kasih sayang orang tua kepada anaknya, sehingga secara moral orang tua merasa terbebani tanggung jawab untuk memelihara, melindungi, mengawasi serta membimbing.

Perhatian yang cukup dari orang tua terhadap anak-anaknya dapat menghasilkan sebuah prilaku yang sangat positif, karena segala tingkah laku anak selalu mendapat arahan dari orang tua.

Kewajiban orang tua dalam mendidik anak tersebut telah

disadari oleh setiap orang tua bersamaan dengan kesadaran bahwa

(3)

Jurnal Kinerja Kependidikan

Facilities of Educator Career and Educational Scientific Information

567 diri mereka memiliki berbagai keterbatasan untuk mendidik anak- anaknya secara baik. Keterbatasan yang dimiliki para oerang tua telah mengharuskannya untuk bekerja sama dengan berbagai pihak, terutama dengan lembaga pendidikan dan lingkungan sosialnya untuk mendidik anak-anak mereka dengan baik juga dengan masyarakat sekitarnya. Meskipun demikian, kewajiban terbesar untuk mendidik anak-anak berada dipundak orang tua. Mereka tidak boleh lepas dari tanggung jawabnya karena merekalah yang menjadi sebab kelahiran anak sehingga mereka juga harus tetap mendidiknya agar dikemudian hari anak-anaknya mampu melahirkan generasi baru yang lebih berkualitas dan mandiri ((Moh. Rokib 2009).

Demikian peran keluarga menjadi penting utuk mendidik anak-anak dalam sudut tinjauan agama, tinjauan social kemasyarakan, maupun tinjauan individu. Yang menjadi persoalan sekarang bukan lagi pentingnya pendidikan keluarga, melainkan bagaimana cara pendidikan keluarga dapat berlangsung dengan baik sehingga mampu menumbuhkan perkembangan kepribadian anak menjadi manuisia biasa yang memiliki sikap positif terhadap agama, kepribadian yang kuat dan mandiri, potensi jasmani rohani secara intelektual yang berkembang secara optimal (Moh. Rokib 2009).

Pada kenyataannya masih ada orang tua yang menganggap ketika menyerahkan anaknya kesekolah maka tanggung jawab sepenuhnya terletak pada sekolah yang bersangkutan dan orag tua sudah tidak lagi memberikan perhatian yang cukup kepada anak- anaknya. Pendapat seperti itulah yang menyebabkan anak kurang mendapatkan perhatian berupa bimbingan dilingkungan keluarganya, khususnya dalam pendidikan agama. Ada juga orang tua yang sudah memberikan perhatiannya secara penuh kepada anak-anaknya, tetapi pendidikan agama anak masih kurang baik.

Apabila usaha dalam pendidikan dalam keluarga itu gagal akan terbentuk seorang anak yang cenderung untuk menjadi anak yang malas untuk belajar, sehingga motivasi dan prestasi belajar pendidikan agama anak tersebut tidak akan pernah sesuai dengan harapan.

PEMBAHASAN

1. Tanggung Jawab Orang Terhadap Pendidikan Anak

Diantara tugas orang tua adalah memelihara dan mendidik

anaknya hingga dewasa serta mengembangkan potensi kemampuan

anak agar memiliki kecakapan dalam pendidikan dan kepribadian

untuk memperoleh kesejahteraan hidup mereka. Selain itu, menurut

Ulwan diantara tanggung jawab para pendidik termasuk ayah ibu

adalah tanggung jawab pendidikan fisik (Abdullah Nasir Ulwan,

(4)

Jurnal Kinerja Kependidikan

568 Facilities of Educator Career and Educational Scientific Information 1999). Hal ini dimaksudkan agar anak-anak dapat tumbuh dewasa dengan kondisi fisik yang kuat, sehat, bergairah dan bersemangat.

Anak sebagai rahmat dan amanah Allah SWT kepada orang tua, orang tua bertanggung jawab terhadapa anaknya dengan bersyukur dan memeliharanya dalam arti luas (Syahminan Zaini, 1998:16). Adapun salah satu kewajibannya adalah dengan mengajarkan baca tulis, merupakan kewajiban orang tua supaya anaknya memperoleh ilmu pengetahua sebagai bekal untuk menjalankan kehidupan dimasa depan. Melalui baca tulis itulah potensi anak dapat dikembangkan sehingga menjadi orang yang pintar untuk memecahkan berbagai problema hidupnya secara wajar. Orang tua bertanggung jawab penuh dalam segala hal meliputi:

a. Memelihara dan mengembangkan kemanusiaan anak b. Memenuhi keinginan Islam anak

c. Mengerahkan anak agar mempunyai arti bagi orang tuanya (Syahminan Zaini1982:118)

Secara jelas bahwa orang tua memiliki kewajiban terhadap anaknya yaitu memelihara supaya anaknya kelak berguna bagi orang tua, bangsa dan Negara. Orang tua mempunyai tugas yang paling berat dalam mengawasi atau memperhatikan belajar anak dirumah sebab waktu terbanyak bagi anak berada dirumah dekat dengan orang tuanya dan hanya sebagian waktu saja anak berada di sekolah dalam pengawasan gurunya dan selain itu semua menjadi tanggung jawab orang tua.

Selanjutnya lebih rinci lagi tugas dan kewajiban orang tua tersebut di jelaskan Zakiah Daradjat sebagai berikut:

1. Memelihara dan membesarkan anak

2. Melindungi dan menjamin keselamatan bagi jasmani maupun rohani

3. Memberi pengajaran dalam arti luas sehingga anak mempunyai peluang untuk memiliki pengetahuan dan kecakapan luas dan setinggi mungkin yag dapat dicapainya.

4. Membahagiakan anak di dunia dan di akhirat sesuai dengan pandangan tujuan muslim (Zakiyah Darajat).

Melihat tugas dan kewajiban orang tua terhadap anak, maka

orang tua merupakan salah satu faktor penting terhadap pendidikan

anak-anaknya. Orang tuapun harus dapat menjadi contoh terhadap

anak-anaknya dan membiasakannya melakukan perbuatan yang

terpuji. Ahmad Syalabi mengatakan bahwa: mendidik anak-anak

untuk memiliki sifat-sifat keutamaan tidaklah mungkin di lakukan

di sekolah, tetapi haruslah membiasakannya pada mereka semenjak

mereka pandai bercakap-cakap dan dapat memahami kata-kata,

orang yang pertama-tama diminta untuk tugas ini tentu saja orang

(5)

Jurnal Kinerja Kependidikan

Facilities of Educator Career and Educational Scientific Information

569 tua yang harus terus menerus bergaul dengan mereka sejak dari kecil dan orang yang banyak berpengaruh kepada mereka, baik dengan perbuatan, perkataan ataupun tingkah laku (Ahmad Syalahi, 1973).

Dengan demikian ketika orang tua melaksanakan tanggung jawabnya secara sempurna, melaksanakan kewajiban-kewajiban penuh dengan amanah, kesungguhan serta sesuai dengan petunjuk Islam, maka sesungguhnya ia telah mengarahkan segala usahanya untuk membentuk individu yang penuh dengan kepribadian dan keistemewaan.

Oleh sebab itu dalam mendidik memerlukan beberapa aspek-aspek pengajaran yang harus diberikan kepada anak yang bertujuan untuk tercapainya tujuan pendidikan dalam Islam, diantaranya :

1. Mengajarkan anak tentang masalah tauhid

Dalam pandangan Islam, ajaran tauhid atau aqidah ditempatkan sebagai inti dari ajaran Islam. Dalam sejarah pemikiran Islam, ajaran tauhid tersusun dalam ilmu tauhid yang juga dikenal dengan ilmu ushuluddin atau ilmu tentang pokok-pokok ajaran Islam. Ilmu tauhid inilah yang kemudian diletakkan sebagai bidang studi utama pembelajaran dalam system pendidikan Islam.

Pembelajaran bidang studi tauhid dapat dijadikan dasar analisa untuk melihat kemungkinan tumbuhnya keyakinan tentang balasan Tuhan terhadap setiap tindakan yang dilakukan oleh peserta didik. Sehingga kemudian, pembelajaran tauhid dengan demikian bukanlah sekedar mengetahui rukun iman, nama dan sifat-sifat Tuhan.Tetapi bagaimana pembelajaran bidang studi tauhid memberi peluang tumbuhnya kesadaran tentang nilai-nilai ketuhanan dalam setiap prilaku peserta didik.

Menjadikan Tauhid sebagai pola atau konsep pendidikan dan pembelajaran, sesungguhnya yang dikehendaki adalah agar para peserta didik dapat memperoleh pengetahuan spiritual.Yang dimaksud dengan pengetahuan spiritual adalah pengetahuan mengenai tatanan spiritual. Esensi pengetahuan spiritual adalah pengetahuan tentang dunia ruh. Dalam Islam, pengetahuan ini merujuk pada pengetahuan tentang Yang Esa, tentang Tuhan dan keesaan-Nya. Patut di ulangi bahwa prinsif keesaan ilahi (at-tauhid) merupakan pesan sentral Islam. Dalam klasifikasi pengetahuan Islam sepanjang sejarah, pengetahuan tentang tauhid senantiasa merupakan bentuk pengetahuan tertinggi serta tujuan puncak semua upaya intelektual.

Sisi tauhid inilah kemudian harus dijadikan parameter esensi

pendidikan dan pembelajaran yang akan dilaksanakan. Tauhid

sebagai jalan dan pedoman agar pormat pendidikan dan

pembelajaran dapat lebih terarah dalam mencapai tujuan pendidikan

(6)

Jurnal Kinerja Kependidikan

570 Facilities of Educator Career and Educational Scientific Information yang diinginkan dan agar peserta didik dapat melakukan serta bertingkah laku yang positif berdasarkan konsep tauhid. Pendidikan yang berbasis kekuatan pengetahuan spiritual akan memberi warna tersendiri bagi pengetahuan dan pengamalan peserta didik.

Sehingga upaya menjadikan pendidikan tauhid sebagai paradigma bagi pendidikan Islam adalah salah satu hal yang patut untuk di wujudkan, karena pendidikan tauhid adalah sarana untuk menciptakan manusia-manusia yang memiliki ilmu pengetahuan, pengalaman dan kekuatan mental spiritual yang utuh sehingga menjadi muslim yang taat dalam beribadah kepada Allah SWT.

Berdasarkan realita yang terjadi dalam dunia pendidikan, maka seharusnyalah konsep tauhid dijadikan sebagai dasar bagi pendidikan. Konsep ketuhanan (tauhid) dalam pendidikan yang dimaksud adalah suatu upaya yang keras dan sungguh-sungguh dalam mengembangkan, mengarahkan, membimbing akal pikiran, jiwa, qalbu dan ruh pada pengenalan (ma’rifat) dan cinta (mahabbah) kepada Allah SWT, dan melenyapkan segala sifat af’al, asma dan zat yang negatif dengan yang positif (fana’fillah) serta mengekalkannya dalam suatu kondiasi dan ruang (baqa billah).

Perintah mentauhidkan adalah mengesakan Allah SWT dalam beribadah kepada-Nya, dan itulah agama para semua Rasul yang diutus oleh Allah SWT kepada seluruh hambanya.(Al- Maqhribi Bin Said As-Said Al-Maqhribi). Firman Allah SWT dalam surat Luqman ayat 13, Artinya: Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".

Tauhid merupakan tonggak penentu keselamatan seorang hamba di hadapan Rabnya kelak. Tauhid juga merupakan hal pokok yang sudah menjadi keharusan pula bagi orang tua untuk mendahulukan penanaman tauhid semenjak dini kepada putra- putrinya.

Salah satu pondasi pendidikan tauhid dimulai dari penanaman nilai-nilai tauhid kepada anak, dan salah satu kunci keberhasilan pendidikan anak adalah tepatnya metode yang diberikan saat pengenalan sang anak kepada penciptanya, Allah SWT.

2. Mengajarkan anak Al-Quran

Al-Quran diturunkan untuk menjadi petunjuk dan sebagai

kabar gembira bagi orang-orang bertaqwa. Para ulama dan para ahli

pendidikan banyak mewasiatkan bahwa agar anak menghafal Al-

Quran pada usia dini mereka. Diantara ulama yang mewasiatkan

demikian adalah Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’Ulumuddin,

(7)

Jurnal Kinerja Kependidikan

Facilities of Educator Career and Educational Scientific Information

571 Ibnu Sina dalam kitabnya As-Siyasah, dan Ibnu Khaldun dalam Muqaddimahnya (Adil Fathi Abdullah , 2005:79).

Menghafal Al-Quran dapat menguatkan kemampuan bahasa anak dan memberinya kesan serta pengaruh yang kuat akan gaya bahasa Al-Quran, dan membentuk referensi keagamaan pada dirinya. Orang tua juga harus berusaha mendekatkan makna-makna Al-Quran pada mereka dengan cara yang mudah mereka pahami makna dari ayat-ayat Al-Quran, sehingga tidak sekedar mengulang hafalan Al-Quran saja tanpa ada kesadaran akan maknanya.

Berbicara tentang bagaimana mengajarkan Al-Quran sama pentingnya dengan menyakini bahwa tidak ada keraguan sama sekali di dalamnya. Mengajarkan keterampilan membaca dan menghafal Al-Quran sekaligus menanamkan keyakinan yang kuat sekaligus pengalaman berinteraksi dengan ayat-ayat Al-Quran.

Dilakukan dengan cara berusaha menghidupkan jiwa anak-anak dengan Al-Quran, membangun tradisi berfikir yang berpijak pada Al-Quran dan mengajarkan kepada anak untuk memegangi Al- Quran dengan baik.(Azzurakudo, 2014).

Beberapa aspek tersebut meliputi kekuatan hati sehingga mereka memiliki antusiasme yang kuat, kecintaan yang mendalam dan kemampuan menghafal yang baik, kekuatan pikiran sehingga memudahkan mereka belajar, menajamkan kemampuannya memahami maupun mengambil pelajaran, kekuatan fisik sehingga

mereka memiliki kesanggupan untuk mempertahankan,

memperjuangkan serta daya untuk belajar, serta kekuatan motivasi sehingga mereka bisa belajar dengan keinginan yang kuat dan perhatian yang penuh.

3. Ibadah

Orang tua harus mengajarkan anak-anaknya masalah- masalah ibadah yang sesuai dengan mereka seperti: cara berwudhu, shalat dan puasa. Pada dasarnya masalah ibadah tidak dapat dibatasi, akan tetapi dalam wasiat Luqman kepada anaknya dalam masalah ibadah yang terutama adalah sholat. Dia berkata: wahai anakkku, dirikanlah sholat, semua itu karena sholat merupakan ibadah pertama kali diwajibkan Allah SWT kepada manusia yang beriman kepada-Nya.

Begitu juga ibadah puasa, mererka harus dimulainya secara bertahap, misalnya anak diajarkan puasa, pertamanya setengah hari dan terus bertahap hingga akhirnya dia dapat berpuasa satu hari penuh (Adil fathi Abdullah) dan juga masalah ibadah-ibadah yang lainnya, kesemuanya harus juga diajarkan kepada anaknya. Secara bertahap terus diajarkan, tidak hanya ibadah yang wajib tetapi juga berbagai macam ibadah sunnah yang lainnya.

4. Akhlakul Karimah/tata krama

(8)

Jurnal Kinerja Kependidikan

572 Facilities of Educator Career and Educational Scientific Information Sebagai orang tua harus mengajarkan anak-anak agar mempunyai moral dan akhlak yang mulia. Orang tua harus mendidik mereka untuk jujur dalam berbicara dan berbuat.

Mengajarkan mereka untuk selalu menepati janji, berbuat amanah, keberanian dan terus terang dalam kebenaran. Mendidik mereka untuk berlaku adil, rendah hati diantara manusia dan tidak sombong, mencintai sesama muslim dan menasehatinya, menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran dan sebagainya dari akhlak-akhlak yang mulia, karena akhlak yang mulialah Nabi Muhammad SAW diutus. (Adil Pathi Abdullah).

Untuk membentuk kepribadian anak perlu dilakukan proses terhadap etika, moral dan akhlak, diantaranya:

1. Cara mendidik anak, dengan mengajarkan Ukhuwah Islamiyah sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah SAW

2. Membangun kepribadian anak sesuai dengan sifat aslinya, kemudian menyisihkan hal-hal yang cenderung negatif dan merubahnya ke hal yang positif

3. Memberikan contoh teladan yang memberi pengaruh mental anak, baik berupa perkataan, perbuatan, sikap dan tingkah laku

4. Mengaplikasikan akhlak-akhlak terpuji dalam lembaga- lembaga formal maupun informal dalam pendidikan, seperti memasukkan pelajaran akhlak kepada peserta didik Memberikan pemahaman antara akhlak terpuji dengan akhlak tercela (http://makalah-ulpai.blogspot.com/2012/11, tanggal 23 April 2014

Aspek-aspek pengajaran agama Islam yang telah diungkapkan di atas merupakan aspek yang sangat penting dalam mendidik dan mengajarkan pengetahuan kepada anak. Sebagai orang tua mereka harus mampu menanamkan pengetahuan kepada anaknya semenjak anak masih kecil. Orang tua tidak boleh melepaskan anak begitu saja, yang namanya anak mereka butuh pengetahuan yang matang untuk menempuh kehidupan di hari yang akan datang.

2. Kerjasama Orang Tua dan Guru dalam pendidikan agama anak

Hubungan kerja sama antara guru dan orang tua murid sangatlah penting.

Dengan demikian , maka diperlukan langkah-langkah yang dapat mendukung terlaksananya peningkatan aktivitas belajar dari murid yang dilakukan oleh orang tua, guru dan keduanya dalam hubungan kerja sama saling membantu dalam meningkatkan aktivitas belajar dari murid tersebut.

Orang tua menerima tugasnya sebagai pendidik dari Tuhan atau karena sudah menjadi kodratnya. Guru menerima tugas dan kekuasaan sebagai pendidik dari pemerintah atau Negara.( M. Ngalim Purwanto, 2007:124).

Penyelenggaraan pendidikan baik pemerintah maupun swasta harus berani

mengambil sikap dan wawasan bahwa mau tidak mau setiap sekolah harus

(9)

Jurnal Kinerja Kependidikan

Facilities of Educator Career and Educational Scientific Information

573 melibatkan masyarakat setempat, terutama orang tua peserta didik, dalam pengembangan pendidikannya. Pemberdayaan semua komponen yang terkait (stakeholder) dapat memberikan perubahan positif terhadap perkembangan sekolah, baik dari peningkatan kualitas pembelajaran peserta didiknya maupun peningkatan sarana dan prasarana di sekolah tersebut. (Hasbullah, 2007:57).

Dari penjelasan tersebut, maka pendekatan yang terus menerus dikembangkan adalah pendekatan partisipatip, dimana masyarakat khususnya orang tua peserta didik dan pihak yang terkait diberi kesempatan seluas-luasnya untuk bersama-sama menganalisis seluruh inpra struktur yang ada disekolah. Apakah itu menyangkut

Sumber Daya M anusia (SDM), kurikulum, sarana dan prasarana, pinansial, sistem informasi, dan

semua yang dianggap mempunyai keterkaitan dengan sekolah tersebut.

Keterbatasan kemampuan (intelektual, biaya, dan waktu), orang tua menyebabkan ia mengantarkan anaknya ke sekolah. Orang tua meminta kepada sekolah atau guru agar dapat membantunya untuk mendidik (mendewasakan) anaknya. Inilah dasar kerjasama antara orang tua dan guru dalam kegiatan pembelajaran. Dasar ini telah di sadari sejak dahulu hingga sekarang. Hanya saja, sekarang ini kesadaran sebagian orang tua pada prinsif itu semakin berkurang. Orang tua cenderung menuntut biaya sekolah anaknya semurah mungkin. Jika mungkin gratis. Bila anaknya nakal atau prestasi nilai akademiknya jelek orang tua cenderung menyalahkan guru disekolah. Padahal sekolah itu tadinya memang hanya membantu orang tua, sekarang dibalik, orang tua merasa membantu sekolah. Sekali lagi orang tua adalah pendidik pertama dan utama, sekolah hanyalah pendidik kedua dan hanya membantu. Ini perlu benar disadari kembali oleh orang tua zaman sekarang.

Dalam kegiatan pembelajaran di sekolah kerjasama orang tua dan guru sangat penting dan strategis terhadap peningkatan kualitas pendidikan peserta didiknya.

Kerjasama orang tua dan guru dapat memperoleh pengetahuan dan pengalaman dalam hal melaksanakan kegiatan pembelajaran. Guru dapat memperoleh keterangan- keterangan dari orang tua tentang kehidupan dan sifata anak-anaknya. Keterangan orang tua itu besar manfaatnya bagi para guru dalam memberikan materi pembelajaran terhadap peserta didiknya serta dapat mengetahui keadaan alam sekitar tempat peserta didik di besarkan. Demikian pula, orang tua dapat mengetahui kesulitan-kesulitan yang sering dihadapi anak-anaknya disekolah. Orang tua dapat mengetahui apakah anaknya itu rajin, malas, bodoh, suka mengantuk atau pandai dan sebagainya. Dengan demikian, orang tua dapat menjauhkan pandangan yang keliru dan pendapat yang salah sehingga terhindar dari salah pengertian yang mungkin timbul antara orang tua dan guru. Orang tua yang bersikap menerima anak yang berkesulitan belajar apa adanya, adalah yang paling positif, yang memungkinkan anak tumbuh dan berkembang secara optimal. Menurut Robinson yang di kutip Mulyono Abdurrahman, yang dimaksud dengan menerima anak apa adanya adalah menghargai apa yang dimiliki anak, menyadari kekurangannya dan aktif menjalin hubungan yang menyenangkan dengan anak. (Mulyono Abdurrahman 2003:106).

Berdasarkan dari penghargaan atas apa yang dimiliki anak dan penerimaan atas

apa yang tidak dimiliki anak, orang tua menjalin hubungan yang wajar dan berupaya

mengembangkan potensi yang dimiliki anak untuk mempersiapkan tugasnya dimasa

depan. Dengan demikian, guru juga perlu melakukan usaha-usaha untuk menjalin

(10)

Jurnal Kinerja Kependidikan

574 Facilities of Educator Career and Educational Scientific Information kerjasama dengan orang tua peserta didik untuk membicarakan hal apa yang perlu dibicarakan tentang kegiatan pembelajaran di sekolah. Usaha-usaha yang dapat dilakukan guru untuk mengadakan kerjasama dengan orang tua dalam kegiatan pembelajaran yaitu:

1. Mengadakan pertemuan dengan orang tua pada hari penerimaan peserta didik baru, serta membicarakan tentang perlunya kerjasama dalam mendidik anak-anaknya agar jangan sampai timbul salah paham, mengadakan sekedar ceramah tentang cara-cara mendidik anak-anak yang baru masuk sekolah, dan lain sebagainya.

2. Mengadakan surat menyurat antara sekolah atau guru dengan pihak keluarga atau orang tua peserta didik, terutama pada waktu-waktu yang sangat diperlukan bagi perbaikan pendidikan anak-anak. Seperti surat peringatan dari guru kepada orang tua jika anaknya perlu lebih giat, serilng mangkir atau bolos pada saat materi pembelajaran sedang berlangsung.

3. Adanya daftar nilai atau buku laporan yang setiap semester atau catur wulan dibagikan kepada peserta didik. Pada saat inilah guru meminta bantuan kepada orang tua peserta didik untuk memperhatikan prestasi keberhasilan anaknya.

4. Kunjungan guru-guru ke rumah orang tua peserta didik atau sebaliknya kunjungan orang tua peserta didik ke sekolah. Hal ini lebih menguntungkan daripada hanya mengadakan surat-menyurat saja. Tentu sajakunjungan guru ke rumah orang tua peserta didik itu dilakukan bilamana diperlukan. Misalnya: untuk membicarakan kesulitan-kesulitan yang dialami di sekolah terhadap anak-anaknya atau mengunjungi peserta didik yang sembuh dari sakitnya untuk sekedar member hiburan.

Umumnya orang tua merasa senang atas kunjungan guru itu karena ia merasa bahwa anaknya sangat diperhatikan oleh gurunya.

5. Mengadakan perayaan pesta sekolah atau pameran-pameran hasil karya peserta didik.

6. Mendirikan perkumpulan orang tua peserta didik dan guru atau dikenal dengan Komite Sekolah. (Ngalim Purwantol 2007)

Dengan adanya wadah tersebut, dapat memberikan informasi kepada kedua belah pihak antara guru dan orang tua peserta didik tentang peningkatan kegiatan pembelajaran oleh peserta didik baik di sekolah maupun di rumah.

HASIL PENELITIAN

Berdasarkan penelitian yang penulis lakukan di SMPN 9 Banda Aceh, maka hasil penelitian dapat di jelaskan sebagai berikut:

Pertama, sudah adanya kepedulian antara orang tua PNS dan non PNS terhadap

Pendidikan Agama Islam anaknya yang sekolah di SMPN 9 Banda Aceh, kepedulian

tersebut bukan karena status atau profesi, akan tetapi karena tanggung jawab mereka

sebagai orang tua. Bentuk kepedulian orang tua (PNS dan non PNS) adalah dengan

menyuruh dan mengontrol anak-anaknya agar rajin belajar dan pengamalan ajaran

Islam, mengantar anak ke balai-balai pengajian dan bahkan ada yang mengajarkan

(11)

Jurnal Kinerja Kependidikan

Facilities of Educator Career and Educational Scientific Information

575 sendiri di rumah. Semua itu dilakukan oleh orang tua agar anak-anak mereka sukses dan berhasil, baik dalam urusan dunia juga dalam bidang agama Islam.

Kedua, kepedulian orang tua terhadap pendidikan agama baik orang tua (PNS dan non PNS) di pengaruhi oleh berbagai faktor yaitu faktor pendidikan, faktor lingkungan, faktor kesibukan, kurangnya kerjasama antara guru dengan orang tua siswa, fasilitas penunjang yang kurang memadai, bahkan sebagian siswa ( 7 orang siswa yang orang tuanya berstatus PNS dan 3 siswa yang orang tuanya non PNS) menjawab, masih kurang minat mereka terhadap belajar Pendidikan Agama Islam di SMPN 9 Banda Aceh.

Ketiga, masih adanya perbedaan yang signifikan prestasi Pendidikan Agama Islam siswa antara anak PNS dan non PNS di SMPN 9 Banda Aceh, meningkatnya motivasi dan prestasi belajar siswa tidak ada pengaruhnya dengan status orang tua sebagai PNS dan non PNS. Prestasi belajar timbul dari diri sendiri atau orang lain baik karena motivasi guru, orang tua, teman dan lain sebagainya, yang semua itu bukan karena alasan status pekerjaan orang tua.

KESIMPULAN

Berdasarkan data dan pembahasan hasil penelitian yang telah diuraikan, maka dapat diambil suatu kesimpulan sebagai berikut:

Bentuk kepedulian orang tua PNS dan non PNS adalah dengan menyuruh dan mengontrol anak-anaknya agar rajin belajar dan pengamalan ajaran Islam, mengantar anak ke balai-balai pengajian dan bahkan ada yang mengajarkan sendiri anak di rumah. Bila kewajiban itu dilalaikan akan mempunyai dampak negatif dan di akhirnya menjadi fatal sama sekali dan mengakibatkan terjerumus dalam kehancuran.

Agar potensi agama (fitrah) anak dapat berkembang dengan baik dan sesuai dengan apa yang menjadi harapan orang tua, maka dasar-dasar pendidikan harus ditanamkan sejak anak berusia muda karena kalau tidak demikian kemungkinan akan mengalami kesulitan untuk mencapai tujuan Pendidikan Islam yang diberikan pada masa dewasa.

Dasar utama pendidikan Agama Islam adalah bersumber pada Al-Quran dan Hadis, keduanya merupakan sumber hukum sekaligus sebagai landasan pendidikan, oleh karena itu Al-Quran dan Hadis merupakan dasar utama pengembangan pendidikan Islam. Tujuan Pendidikan Islam tidak terlepas dari tujuan hidup manusia dalam Islam, yaitu untuk menciptakan pribadi-pribadi hamba Allah SWT yang selalu bertakwa kepada-Nya dan dapat mencapai kehidupan yang berbahagia di dunia dan akhirat.

Tujuan ini sesuai dengan Firman Allah surat Az-Zariyat ayat 56, Artinya: Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka

mengabdi kepada-Ku

Berdasarkan keterangan ayat di atas, maka dapat dipahami bahwa penciptaan jin dan manusia tidak lain hanyalah untuk bisa mengabdikan diri kepada Allah SWT dalam artian bisa menjadi hamba yang selalu bisa melaksanakan perintah-perintah yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Manfaatnya dari usaha tersebut tentu akan

kembali kepada diri sendiri juga yaitu demi tercapainya kebahagiaan di kehidupan ini.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kepedulian orang tua PNS dan

non PNS terhadap pendidikan agama anak antara lain: faktor pendidikan, faktor

lingkungan, faktor kesibukan, serta kurangnya kerjasama antara guru dan orang tua

(12)

Jurnal Kinerja Kependidikan

576 Facilities of Educator Career and Educational Scientific Information siswa. Dalam konsep pendidikan Islam, baik pendidikan informal, formal dan non formal masing-masing memiliki peran dan tanggung jawab yang berbeda-beda, namun mempunyai tujuan yang sama yaitu menciptakan generasi yang berakhlaqul karimah sesuai dengan petunjuk Allah SWT. Untuk menanamkan nilai-nilai pendidikan yang lebih baik di mulai dari rumah tangga, dengan berpegang kepada prinsif Islam yaitu keluarga yang mendasarkan aktifitasnya pada prinsif-prinsif Islam dalam pendidikan anak. Sudah sewajarnya bahwa, keluarga, terutama orang tua memelihara dan mendidik anak-anaknya dengan rasa kasih sayang. Kewajiban dan taggung jawab yang ada pada orang tua untuk mendidik anak-anaknya timbul dengan sendirinya, secara alami, tidak karena dipaksa atau disuruh oleh orang lain. Demikian pula, perasaan kasih sayang orang tua terhadap anak-anaknya adalah kasih sayang sejati, yang timbul dengan spontan, tidak dibuat-buat. Di rumah anak menerima kasih sayang yang benar dari orang tuanya.Menggantungkan diri sepenuhnya kepada orang tuanya. Sedangkan sekolah didirikan oleh masyarakat atau Negara untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga yang sudah tidak mampu lagi memberi bekal persiapan hidup bagi anak-anaknya. Untuk mempersiapkan anak agar hidup cukup bekal dengan kepandaian dan kecakapan dalam masyarakat yang modern, yang telah tinggi kebudayaannya seperti sekarang ini, anak-anak tidak cukup hanya menerima pendidikan dan pengajaran dari keluarganya saja. Maka masyarakat atau Negara mendirikan sekolah-sekolah.

Tidak ada perbedaan prestasi Pendidikan Agama siswa yang orang tuanya PNS dan non PNS di SMPN 9 Banda Aceh. Prestasi belajar timbul bukan karena alasan status pekerjaan orang tua tetapi bisa dari diri sendiri atau orang lain, baik karena motivasi guru, orang tua, teman dan sebagainya. Orang tua yang tidak memperdulikan pendidikan anaknya, dapat menyebabkan anak kurang atau bahkan tidak berhasil dalam belajarnya. Tapi sebaliknya orang tua yang peduli pada anaknya, terutama kepedulian terhadap pendidikan agama pada kegiatan belajar anak di rumah membuat anak akan lebih giat dan lebih termotivasi dalam belajar karena ia sadar bahwa bukan dirinya saja yang berkeinginan untuk maju, akan tetapi orang tuanya juga memiliki keinginan yang sama. Sehingga prestasi belajar yang di raih siswa

menjadi lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman An-Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat, Jakarta, Gema Insani Press, 1995,

Ahmad Syalahi, Sejarah Pendidikan Islam, Terj, Muchtar Yahya dan Maka Sanusi, Jakarta, Bulan Bintang, 1973

Abdullah Nasir Ulwan, Pendidikan Anak Dalam Islam, Tarbiyah Awlad Fiil Islam, Terjemahan Jamaludin Miri, Jakarta Pustka Amani 1999

Al-Maqhribi Bin Said As-Said Al-Maqhribi, Begini Seharusnya Mendidik Anak,

Jakarta, Darul Haq

(13)

Jurnal Kinerja Kependidikan

Facilities of Educator Career and Educational Scientific Information

577 Adil Fathi Abdullah, Pahami Anak Anda, Anda Akan Sukses Mendidiknya, Jakarta,

Pustaka Al-Kausar, 2005

Chabib Thoha, 1996. Kapita Seletai Pendidikan Islam, Yokjakarta, Pustaka Pelajar,

Azzurakudo, 1912. http://azzurakudo.blogspot.com/2012/12/mendekatkanAl-Quran Kepada Anak.html, Diakses tanggal 24 Maret 2014

Hasbullah, 2007. Otonomi pendidikan Kebijakan Otonomi Daerah dan Implikasinya Terhadap Penyelenggaraan pendidikan, Jakarta, Raja Grapindo Persada, 2007

…….http://makalahulpai.blogspot.com/2012/11/pembentukan.akhlak.terpuji.kepada.a nak.html.Diakses tanggal 23 April 2014

M. Ngalim Purwanto, 2007.Limit Pendidikan Teoritis dan Praktis, Bandung, Rosdakarya,

Mulyono Abdurrahman, 2003. Pendidikan bagi anak berkesulitan belajar, Jakarta, Rineka Cipta,

Moh. Rokib, 2009. Ilmu Pendidikan Islam, Yokjakarta LKIS,

Nur Ahid, 2010. Pendidikan Keluarga Dalam Persepektif Islam, Jogjakarta, Pustaka Pelajar,

Syahminan Zaini, 1982. Arti Anak Bagi Seorang Muslim, Surabaya, Al-Ikhlas Zakiah Daradjat, 1976. Ilmu Jiwa Agama, Jakarta, Bulan Bintang,

Zakiah Daradjat, 1992. Ilmu pendidikan Islam, Jakarta, Bumi Aksara,

Referensi

Dokumen terkait

dipengaruhi oleh faktor lain, bisa berupa tingkat pendidikan orang tua dan pola pendidikan yang diterapkannya dalam keluarga (4) Ada pengaruh yang positif dan signifikan

Namun dengan rata-rata perstasi belajar siswa yang mendapatkan bimbingan pendidikan Agama Islam dari orang tua di rumah sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang

Dari persepsi yang dimiliki dengan beberapa faktor yang mempengaruhi orang tua terhadap pentingnya pendidikan agama Islam di Air Raya menurut Bapak Hendri ketua Rw 09 Air Raya

Kedua, Problem solving dari orang tua dalam mendampingi anak pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam di masa pandemi covid-19 yaitu Guru memberikan atau memperpanjang

Judul : PENGARUH KEPEDULIAN ORANG TUA DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM TERHADAP AKHLAKUL KARIMAH ANAK (Studi Kasus pada Masyarakat Desa Tanggulrejo, Kecamatan Tempuran,

oleh karena itu orang tua harus memberikan pendidikan bukan hanya ilmu pengetahuan tetapi juga ilmu agama, karena tempat pendidikan yang pertama adalah lingkungan keluarga, pendidikan

Oleh sebab itu, peneliti melakukan penelitian ini untuk mengetahui seberapa penting pendidikan nonformal bagi orang tua dan upaya kepedulian, usaha-usaha yang dapat dilakukan orang tua

Dukungan Dan Motivasi Orang Tua Berpengaruh Terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Dukungan dan dorongan orang tua sangat berperan dalam