BAB I PENDAHULUAN  A. Latar belakang  - Pengertian Hadits, Sunnah, Khabar, dan Atsar

26  539  Download (11)

Teks penuh

(1)

BAB I  PENDAHULUAN 

A. Latar belakang 

Islam adalah agama yang sempurna di muka bumi ini, semua sisi        kehidupan manusia dan makhluk Allah telah digariskan oleh Islam melalui        Kalam Allah swt ( Al Qur’an ) dan Al Hadits. Al Qur’an sudah jelas di        tanggung keasliannya oleh Allah swt sampai akhir nanti, bagaimana dengan        Al Hadits. 

Hadits merupakan salah satu sumber Islam yang utama, tetapi tidak        sedikit umat Islam yang belum memahami apa itu hadits. Sehingga        dikhawatirkan suatu saat nanti akan terjadi kerancuan dalam hadits, karena        tidak mengertinya dan mungkin karena kepentingan sebagian kelompok untuk        membenarkan pendapat kelompok tersebut. Sehingga mereka menganggap        yang memakai bahasa arab dikatakan al hadits oleh yang tidak bertanggung        jawab itu mereka anggap hadits. 

(2)

 

B. Rumusan Masalah 

1. Apakah yang dimaksud dengan Hadis, sunnah, khobar dan Atsar?  2. Bagaimana struktur Hadis? 

3. Apakah yang dimaksud dengan Sanad, Matan, Mukhraj dan periwayat? 

C. Tujuan Masalah 

1. Untuk mengetahui Hadis, Sunnah, Khobar dan Atsar  2. Untuk mengetahui Struktur Hadis 

3. Untuk mengetahui Sanad, Matan, Mukhraj dan PerIwayat 

 

 

 

 

 

 

(3)

 

 

BAB II  PEMBAHASAN 

A. Definisi Hadits, Sunnah, Khabar, dan Atsar  1. Definisi Hadits  

Hadis dari akar kata di atas memiliki beberapa makna, di antaranya : 

1) Al­Jiddah   = baru, dalam arti sesuatu yang ada setelah tidak ada atau        sesuatu yang wujud setelah tidak ada, lawan dari kata       ​al­qadim   = terdahulu, misalnya : (      ​Alam baru  ​).  ​Alam maksudnya segala sesuatu      selain Allah,    ​baru  berarti diciptakan setelah tidak ada. Makna        etimologi ini mempunyai konteks teologis, bahwa segala kalam        selain kalam Allah bersifat       ​hadits (baru), sedangkan kalam Allah        bersifat ​qadim​ (terdahulu). 

(4)

3) Al­Khabar   = ​berita, pembicaraan dan perkataan,       ​oleh karena itu      ungkapan pemberitaan hadis yang diungkapkan oleh para perawi        yang menyampaikan periwayatan jika bersambung sanadnya selalu        menggunakan ungkapan : (​memberitakan kepada kami          ​), atau   

sesamanya seperti   ​mengkhabarkan kepada kami    ​, dan menceritakan      kepada kami. Hadis ini diartikan sama dengan      ​al­khabar  dan  an­naba’​. 

Kata hadis berasal dari bahasa arab, a) al Hadits, hudatsa        jamaknya ahadis, hidtsan dan hudtsan. Sedangkan menurut terminologi,        hadis diberi pengertian yang berbeda–beda oleh para ulama’. Perbedaan        pandangan tersebut banyak dipengaruhi oleh terbatas dan luasnya obyek        tinjauan masing–masing, yang tentu saja mengandung kecenderungan        pada aliran ilmu yang didalaminya. 

Menurut istilah ahli ushul; pengertian hadis adalah : 

ﻰﻋﺮﺷ ﻢﻜﺤﻟ ﻼﻴﻟﺩ ﻥﻮﻜﻳ ﻥﺍ ﺢﻠﺼﻳﺎﻤﻣﺮﻳﺮﻘﺗﻭﺍ ﻞﻌﻓﻭﺍ ﻝﻮﻗ ﻦﻣ ﻢﻳﺮﻜﻟﺍ ﻥﺍﺮﻘﻟﺍﺮﻴﻏ ﻡ ﺹ ﻰﺒﻨﻟﺍ ﻦﻋﺭﺪﺻ ﺎﻣ ﻞﻛ 

“Hadis yaitu segala sesuatu yang dikeluarkan dari Nabi SAW selain Al        Qur’an al Karim, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun taqrir Nabi        yang bersangkut paut dengan hukum syara” 

(5)

ﺐﺟﺍﻮﻟﺍﻻﻭ ﺽﺮﻔﻟﺍ ﺏﺎﺑ ﻦﻣ ﻦﻜﻳ ﻢﻟﻭ ﻡ ﺹ ﻰﺒﻨﻟﺍ ﻦﻋ ﺖﺒﺛﺎﻣ ﻞﻛ 

“yaitu segala sesuatu yang ditetapkan Nabi SAW yang tidak bersangkut        paut dengan masalah–masalah fardhu atau wajib” 

 

Para ahli ushul memberi pengertian yang demikian disebabkan        mereka bergelut dalam ilmu ushul yang banyak mempelajari tentang        hukum syari’at saja. Dalam pengertian tersebut hanya yang berhubungan        dengan syara’ saja yang merupakan hadis, selain itu bukan hadis,        misalnya urusan berpakaian. Sedangkan para fuqaha mengartikan yang        demikian di karenakan segala sesuatu hukum yang berlabel wajib pasti        datangnya dari Allah swt melalui kitab Al Qur’an. Oleh sebab itu yang        terdapat dalam hadis adalah sesuatu yang bukan wajib karena tidak        terdapat dalam Al Qur’an atau mungkin hanya penjelasannya        saja.Sedangkan menurut ulama’ Hadis mendefinisikannya sebagai        berikut : 

ﺔﻴﻘﻠﺧ ﻭﺍ ﺔﻴﻘﻠﺧ ﺔﻔﺻﻭﺍﺮﻳﺮﻘﺗﻭﺍ ﻞﻌﻓﻭﺍ ﻝﻮﻗ ﻦﻣ ﻡ ﺹ ﻰﺒﻨﻟﺍ ﻦﻋ ﺮﺛﺍ ﺎﻣ ﻞﻛ 

(6)

Menurut jumhur muhadisin sebagaimana ditulis oleh Fatchur        Rahman adalah sebagai berikut: 

ﺎﻫﻮﺤﻧﻭﺍﺍﺮﻳﺮﻘﺗﻭﺍﻼﻌﻓﻭﺍﻻﻮﻗ ﻡ ﺹ ﻰﺒﻨﻠﻟ ﻒﻴﺿﺍﺎﻣ 

“segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW baik berupa        perkataan, perbuatan, pernyataan dan yang sebagainya” 

(7)

Jadi, Hadits adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada nabi        Muhammad saw, baik berupa perkataan, perbuatan,       ​taqrir​, sifat­sifat,    keadaan dan ​himmah​nya. 

Taqrir  adalah perbuatan atau keadaan sahabat yang diketahui        Rosulullah dan beliau mendiamkannya atau mengisyaratkan sesuatu yang        menunjukkan  perkenannya  atau  beliau  tidak  menunjukkan  pengingkarannya. 

Himmah adalah hasrat beliau yang belum terealisir, contohnya        hadits riwayat Ibnu Abbas : 

“Dikala  ​Rosulullah  saw berpuasa pada hari ‘Asura dan            memerintahkan untuk dipuasai, para sahabat menghadap kepada Nabi,                mereka berkata : ‘Ya Rasulullah, bahwa hari ini adalah yang                    diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani’, Rasulullah menyahuti : ‘Tahun                  yang akan datang, Insya Allah aku akan berpuasa tanggal sembilan’.”                    (HR Muslim dan Abu Dawud) 

Menurut Imam Syafi’i bahwa menjalankan himmah itu termasuk        sunnah, tetapi Imam Syaukani mengatakan tidak termasuk sunnah karena        belum dilaksanakan oleh Rasulullah. 

2. Definisi Sunnah  

(8)

buruk.Di samping istilah hadis terdapat sinonim istilah yang sering        digunakan oleh para ulama’ yaitu sunnah. Pengertian istilah tersebut        hampir sama, walaupun terdapat beberapa perbedaan. Maka dari itu kami        kemukakan pengertiannya agar lebih jelas. 

Sunnah dalam kitab Ushul Al hadis adalah sebagai berikut : 

ﺎﻫﺪﻌﺑﻭﺍ ﺔﺜﻌﺒﻟﺍ ﻞﺒﻗ ﻥﺎﻛ ءﺍﻮﺳ ﺓﺮﻴﺳﻭﺍ ﺔﻴﻘﻠﺧ ﺔﻔﺻﻭﺍ ﺮﻳﺮﻘﺗﻭﺍ ﻞﻌﻓﻭﺍ ﻝﻮﻗ ﻦﻣ ﻡ ﺹ ﻰﺒﻨﻟﺍ ﻦﻋﺮﺛﺍﺎﻣ 

“Segala sesuatu yang dinukilkan dari Nabi saw, baik berupa perkataan,        perbuatan, taqrir, pengajaran, sifat, kelakuan, perkjalanan hidup, baik        sebelum Nabi diangkat jadi Rasul atau sesudahnya” 

Dalam ​pengertian tersebut tentu ada kesamaan antara hadis dan        sunnah, yang sama–sama bersandar pada Nabi saw, tetapi terdapat        kekhususan bahwa sunnah sudah jelas segala yang bersandar pada        pribadi Muhammad baik sebelum atau sesudah diangkat menjadi Nabi,        misalnya mengembala kambing, menikah minimal umur 25 tahun dan        sebagainya. 

Walaupun demikian terdapat perbedaan yang sebaiknya kita tidak        berlebihan dalam menyikapinya. Sebab keduanya sama–sama bersumber        pada Nabi Muhammad saw. 

(9)

Kalangan ahli agama di dalam memberikan pengertian sunnah        berbeda­beda, sebab para Ulama’ memandang sunnah dari segi yang        berbeda­beda, pun pula dasar membicarakannya dari segi yang berlainan. 

1) Ulama Hadits 

Ulama Hadits memberikan pengertian Sunnah meliputi biografi        Nabi, sifat­sifat Nabi baik yang berupa fisik, umpamanya;        mengenai tubuhnya, rambutnya dan sebagainya, maupun yang        mengenai physic dan akhlak Nabi dalam keadaan sehari­harinya,        baik sebelum atau sesudah bi’stah atau di angkat sebagai nabi.  2) Ulama Ushul Fiqh 

Ulama Ushul Fiqh memberikan pengertian sebagai berikut: 

“Segala yang di nuklikan dari Nabi Muhammad SAW. Baik        berupa perkataan, perbuatan maupun taqrirnya yang ada sangkut        pahutnya dengan Hukum”. 

3) Ulama Fiqh 

Menurut Ulama Fiqh, sunnah ialah “perbuatan yang di lakukan        dalam agama, tetapi tingkatannya tidak sampai wajib atau fardlu.        Jadi suatu pekerjaan yang utama di kerjakan”. 

(10)

3. Definisi Khabar  

Menurut bahasa khabar diartikan = ​berita        ​. Dari segi istilah        muhadditsin  khabar identik dengan hadis, yaitu segala sesuatu yang        disandarkan kepada Nabi (baik secara         ​marfu’​, ​mawquf, dan​   maqthu’​ ​)  baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, dan sifat. Di antara ulama        memberikan definisi : 

Sesuatu yang datang dari Nabi SAW dan dari yang lain seperti                      dari para sahabat, tabi’in dan pengikut tabi’in atau orang­orang                  setelahnya. 

Mayoritas ulama melihat hadis lebih khusus yang datang dari        Nabi, sedang khabar sesuatu yang datang dari padanya dan dari yang        lain, termasuk berita­berita umat dahulu, para Nabi, dan lain­lain.        Misalnya Nabi Isa berkata : …, Nabi Ibrahim berkata : … dan lain­lain,        termasuk khabar bukan hadis. Bahkan pergaulan di antara sesama kita        sering terjadi menanyakan khabar. Apa khabar? Dengan demikian khabar        lebih umum dari pada hadis dan dapat dikatakan bahwa setiap hadis        adalah khabar dan tidak sebaliknya khabar tidak mesti hadis. 

(11)

nabi dan para sahabat, jadi setiap hadits termasuk khabar tetapi tidak        setiap khabar adalah hadits. 

Menurut istilah ada tiga pendapat yaitu: 

a) Merupakan sinonim bagi hadits, yakni keduanya berarti satu. 

b) Berbeda dengan hadits, di mana hadits adalah segala sesuatu yang        datang dan Nabi SAW. sedang khabar adalah suatu yang datang dari        selain Nabi SAW. 

c) Lebih umum dari hadits, yakni bahwa hadits itu hanya yang datang        dari Nabi saja, sedang khabar itu segala yang datang baik dari Nabi        SAW. maupun yang lainnya. 

4.  Definisi Atsar  

Dari segi bahasa atsar diartikan =      ​peninggalan atau bekas      sesuatu​, maksudnya peninggalan atau bekas Nabi karena hadis itu        peninggalan beliau. Atau diartikan = (​yang dipindahkan dari Nabi            ​), 

seperti kalimat : dari kata atsar artinya doa yang disumberkan dari Nabi. 

(12)

Sebagian ulama mendefinisikan :       ​Sesuatu yang datang dari selain Nabi            SAW dan dari para sahabat, tabi ‘in dan atau orang­​orang​ setelahnya. 

Sesuatu yang disadarkan pada sahabat disebut berita       ​mawquf dan  sesuatu yang datang dari tabi’in disebut berita       ​maqthu’​. Menurut ahli      hadis atsar adalah sesuatu yang disandarkan kepada Nabi (​      marfu’​), para    sahabat (​mawquf  ​), dan ulama salaf. Sementara      ​Fuqahâ  Khurrasan 

membedakannya atsar adalah berita       ​mawquf sedang khabar adalah berita        marfu’​. Dengan demikian atsar lebih umum dari pada khabar, karena        atsar adakalanya berita yang datang dari Nabi dan dari yang lain,        sedangkan khabar adalah berita yang datang dari Nabi atau dari sahabat,        sedangkan atsar adalah yang datang dari Nabi, sahabat, dan yang lain.        Sebutan seorang ahli hadis =         ​Muhaddits​, seorang ahli Sunnah =         ​Sunni​,  seorang ahli Khabar =        Khabari​ ​, dan ahli Atsar =      ​Atsari​. Untuk    memudahkan pemahaman berikut ini dipaparkan resume pembahasan di        atas. Berikut ini rangkuman perbedaan antara hadis, sunnah, khabar, dan        atsar. 

(13)

Sedangkan secara terminologi ada dua pendapat mengenai        definisi atsar ini. Pertama, kata atsar sinonim dengan hadits. Kedua, atsar        adalah perkataan, tindakan, dan ketetapan Shahabat. 

Menurut istilah Jumhur ahli hadits mengatakan bahwa Atsar sama        dengan khabar juga hadits, yaitu sesuatu yang disandarkan kepada Nabi        SAW., sahabat, dan tabi’in. Dari pengertian menurut istilah ini, terjadi        perbedaan pendapat di antara ulama. 

Sedangkan menurut ulama Khurasan, bahwa Atsar untuk yang        mauquf (yang disandarkan kepada sahabat) dan khabar untuk yang        marfu. (yang disandarkan kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam . 

Jadi, atsar merupakan istilah bagi segala yang disandarkan kepada        para sahabat atau tabi’in, tapi terkadang juga digunakan untuk hadits        yang disandarkan kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, apabila        berkait misal dikatakan atsar dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam. 

Contoh Atsar 

Perkataan Hasan Al­Bashri     ​rahimahullaahu tentang hukum shalat      di belakang ahlul bid’ah: 

(14)

“Shalatlah (di belakangnya), dan tanggungan dia bid’ah yang dia                  kerjakan.” 

B. Struktur Hadits 

Secara struktur, hadits terdiri atas tiga komponen, yakni sanad atau isnad        (rantai penutur), matan (redaksi hadits), dan mukhraj (rawi). Berikut ini        contoh hadits yang memuat 

1. Sanad Hadits 

Sanad adalah jalan yang menyampaikan kita pada matan hadits atau        rentetan para rawi yang menyampaikan matan hadits. Dalam        hubungan ini dikenal istilah musnid, musnad dan isnad. Musnid        adalah orang yang menerangkan hadits dengan menyebutkan        sanadnya. Musnad adalah hadits yang seluruh sanadnya disebutkan        sampai kepada Nabi SAW (pengertian ini berbeda dengan kitab        musnad). Sedangkan isnad adalah keterangan atau penjelasan        mengenai sanad hadits atau keterangan mengenai jalan sandaran suatu        hadits. 

(15)

2) Jalan penghubung matan, (yang) nama­nama perawinya        tersusun. 

Jadi, sederet nama­nama yang mengantarkan sebuah hadits        itulah yang dinamakan sanad, atau dengan sebutan lain sanad hadist. 

Sanad ialah rantai penutur/perawi (periwayat) hadits. Sanad        terdiri atas seluruh penutur mulai dari orang yang mencatat hadits        tersebut dalam  bukunya  (kitab  hadits)  hingga  mencapai Rasulullah        SAW. Sanad memberikan gambaran keaslian suatu riwayat. 

Contoh: Musaddad mengabari bahwa Yahya sebagaimana        diberitakan oleh Syu’bah, dari Qatadah dari Anas dari Rasulullah        SAW beliau bersabda: “Tidak sempurna iman seseorang di antara        kalian sehingga ia cinta untuk saudaranya apa yang ia cinta untuk        dirinya sendiri”. (H.R. Bukhari).  

Maka  sanad  hadits bersangkutan adalah  Al­Bukhari         >Musaddad > Yahya > Syu’bah > Qatadah > Anas > Nabi        Muhammad SAW. 

(16)

penutur dalam tiap thaqabah sanad akan menentukan derajat hadits        tersebut, hal ini dijelaskan lebih jauh pada klasifikasi hadits. 

Jadi yang perlu dicermati dalam memahami Al Hadits terkait        dengan sanadnya ialah : 

­ Keutuhan sanadnya 

­ Jumlahnya 

­ Perawi akhirnya 

Sebenarnya,  penggunaan  sanad  sudah  dikenal  sejak         sebelum datangnya Islam. Hal ini diterapkan di dalam mengutip        berbagai buku dan ilmu  pengetahuan  lainnya.  Akan  tetapi         mayoritas  penerapan sanad digunakan dalam mengutip hadits­hadits        nabawi. 

Selain itu juga terdapat istilah sigat al isnad, yaitu lafal yang        terdapat dalam sanad yang digunakan oleh rawi yang menunjukkan        tingkat penerimaan dan penyampaian hadits dari rawi tersebut. Ada        delapan sigat al isnad sesuai dengan tingkatannya: 

(17)

2. qira’at ‘ala al sheikh (membaca tulisan syekh), contoh: qara’tu ‘ala  (aku membaca) 

3. al ijazat, contoh: ajaztu laka Sahih al Bukhari (aku ijinkan untukmu  kitab Sahih al Bukhari) 

4. al munawalah, contohnya “hadis ini saya terima dari si fulan, maka  riwayatkanlah atas namaku” 

5. al mukatabah (tulisan), contoh: “si fulan telah menceritakan padaku  secara tertulis” 

6. al I’lam (pemberiahuan), contoh: “saya telah meriwayatkan hadis ini  dari si fulan, maka riwayatkanlah daripadaku” 

7. al wasiyat, yakni guru mewasiatkan suatu hadis menjelang ia pergi  jauh atau merasa ajalnya sudah dekat, dan 

8. al wijadah, yakni rawi memperoleh hadis yang ditulis oleh seorang  guru, tetapi tidak dengan jalan sima’i atau ijazah, baik semasa atau  tidak, baik berjumpa atau tidak. 

2. Matan 

(18)

Secara harfiyah matan berasal dari bahasa Arab matn yang        berarti apa saja yang menonjol dari (permukaan) bumi, berarti juga        sesuatu yang tampak jelas, menonjol, punggung jalan atau bagian        tanah yang keras dan menonjol ke atas, matnul­ard berarti lapisan        luar/kulit bumi, dan yang berarti kuat/kokoh. 

Sedangkan menurut peristilahan Ilmu Hadits, al­Badr bin        Jama’ahmemberikan batasan pengertian matan yakni: 

● Matan adalah redaksi (kalam) yang berada pada ujung sanad. 

● Matan adalah kata­kata (redaksi)  hadits  yang  dapat  dipahami          maknanya. 

Matan hadits juga disebut dengan pembicaraan atau materi        berita yang diover oleh sanad yang terakhir. Baik pembicaraan itu        sabda Rasulullah SAW, sahabat ataupun  tabi’in.  Baik  isi        pembicaraan itu tentang perbuatan Nabi atau perbuatan sahabat yang        tidak disanggah oleh Nabi SAW. 

(19)

"Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga ia        cinta untuk saudaranya apa yang ia cinta untuk dirinya sendiri" 

Terkait dengan matan atau redaksi, maka yang perlu dicermati        dalam mamahami hadist ialah ujung sanad sebagai sumber redaksi,        apakah berujung pada Nabi Muhammad  atau bukan,  matan  hadist         itu  sendiri dalam hubungannya dengan hadist lain yang lebih kuat        sanadnya (apakah ada yang melemahkan atau menguatkan) dan        selanjutnya dengan ayat dalam Al Quran (apakah ada yang bertolak        belakang atau tidak). 

Tata letak matan dalam struktur utuh penyajian hadits        senantiasa berada pada ujung  terakhir  setelah penyebutan sanad.        Kebijakan peletakan itu menunjuk fungsi sanad sebagai pengantar        data mengenai proses sejarah transfer informasi hadits dari nara        sumbernya. Dengan kata lain, fungsi sanad merupakan media        pertanggungjawaban ilmiah bagi asal­usul fakta kesejarahan teks        hadits. 

(20)

● yang lafal atau setiap katanya persis atau sama dengan lafal pada 

matan hadits yang lain 

● yang antara satu matan hadits dan lainnya hanya terdapat persamaan  makna, isi atau tema, sedangkan lafalnya berbeda 

● yang antara satu matan hadits dan lainnya saling bertentangan  (berbeda), baik lafal maupun maknanya. Keadaan inilah, antara lain,  yang menjadi obyek penelitian para ahli guna memperoleh hadits yang  benar­benar bisa dipertanggungjawabkan untuk dinisbahkan kepada  Nabi Muhammad SAW. 

Dalam hadits sahih, dari segi matan disyaratkan dua hal, yakni: 

a. Tidak ada shadz (bertentangan), artinya isi hadits tersebut tidak  bertentangan dengan hadits lain dari orang yang terpercaya.  b. Tidak ada cacat (‘illat), artinya hadits tersebut tidak ada cacatnya, 

dalam arti adanya sebab tersembunyi yang dapat mengurangi  kesahihan hadits. 

3. Rawi Hadits 

Kata  ​Al­rawi  ​berarti orang yang meriwayatkan atau         

(21)

adalah orang­orang yang menerima dan memindahkan hadits dari        seorang guru kepada murid­muridnya atau kepada teman­temannya.        Kemudian bagi perawi yang terakhir yang menghimpun hadits ke        dalam satu kitab      ​tadwin  disebut dengan perawi atau disebut juga        dengan ​mukharrij demikian juga mereka disebut dengan         ​mudawwin,  karena ia menerangkan para perawi dalam sanad dan derajat hadits        tersebut dalam bukunya 

Tidak semua perawi yang meriwayatkan hadits dapat        diterima  ​periwayatannya​. Para ulama telah membuat beberapa        persyaratan agar periwayatan seorang perawi dapat diterima. Ada dua        hal yang harus diteliti pada diri periwayat hadits untuk dapat diketahui        apakah riwayat yang dikemukakannya dapat diterima sebagai sebuah        hadits yang dapat dijadikan hujjah atau ditolak, yaitu: 

(22)

tidak harus beragama Islam dan mukalaf, asalkan dia telah       ​mumayyiz  atau dapat memahami maksud pembicaraan dan dapat membedakan        antara sesuatu dengan yang lainnya. Akan tetapi tatkala        menyampaikan riwayat hadits, dia telah memeluk Islam. 

2. Dhabith, yaitu kuat hafalannya atau mempunyai catatan pribadi yang        dapat dipertnggungjawabkan. 

Sebagian ulama menyatakan bahwa orang yang dhabith ialah        orang yang mendengarkan pembicaraan sebagai mana seharusnya, dia        memahami arti pembicaraan tersebut secara benar, kemudian dia        menghafalnya dengan sungguh­sungguh dan sempurna, sehingga dia        mampu menyampaikan hafalannya itu kepada orang lain dengan baik.   

Dhabith ada dua: 

● Dhabith Shadar, yakni menghafal dengan baik. 

● Dhabith Kitab, yakni memelihara kitabnya dengan baik dari        kemasukan sisipan atau yang lain. 

Dalam periwayatan Hadits ada istilah Muttabi’ dan Syahid,. 

(23)

Muttabi’ disebut juga At­Thaabi’ menurut bahasa adalah isim fa’il        dari taba’a yang artinya mengiringi atau yang mencocoki. Sedangkan        menurut istilah adalah satu hadits yang sanadnya menguatkan sanad        lain dari hadits itu juga, dan sahabat yang meriwayatkan adalah satu. 

2. Asy­Syahid 

Menurut bahasa adalah isim fa’il yang artinya adalah yang        menyaksikan. Sedangkan menurut istilah sdalah satu hadits yang        matannya sama dengan hadits lain dan biasanya sahabat yang        meriwayatkan hadits tersebut berlainan. 

Rawi adalah orang yang menyampaikan atau menuliskan        dalam suatu kitab apa­apa yang pernah didengar atau diterimanya dari        seseorang (gurunya). Seringkali sebuah hadis diriwayatkan oleh bukan        hanya satu rawi, akan tetapi oleh banyak rawi. 

Kritik terhadap periwayatan hadis biasanya mempersoalkan baik dari        segi kualitas pribadi atau kelurusan moral (‘adalah) maupun kapasitas        intelektualnya (dhabit}). Periwayatan dikategorikan memenuhi segi        kualitas pribadi bila telah memenuhi syarat berikut: 

(24)

● Melaksanakan ketentuan agama Islam 

● Memelihara muru’ah, yang sejalan dengan patokan norma tentang        orang jujur yang dapat diterima pemberitaannya. 

Sedang pemenuhan segi kapasitas intelektual adalah: 

● Hafal dengan sempurna hadis yang diterimanya 

● Mampu menyampaikan dengan baik hadis yang dihafalnya itu kepada        orang lain 

● Mampu memahami dengan baik hadis yang dihafalnya 

 

 

 

 

 

 

(25)

Kesimpulan 

Secara struktur, hadits terdiri atas tiga komponen, yakni sanad atau isnad        (rantai penutur), matan (redaksi hadits), dan mukharrij (rawi). Sanad ialah rantai        penutur/perawi (periwayat) hadits. Matan adalah redaksi/isi dari hadist. Mukhrij        atau mukharrij: orang yang berperan dalam pengumpulan hadits.  

Kedudukan sanad dalam hadits sangat penting karena hadits yang        diperoleh/diriwayatkan akan mengikuti siapa yang meriwayatkannya. Dengan        sanad suatu periwayatan hadits, dapat diketahui hadits yang dapat diterima atau        ditolak dan hadits yang shahih atau tidak shahih untuk diamalkan. Sanad        merupakan jalan yang mulia untuk menetapkan hukum­hukum Islam. 

 

 

 

 

 

(26)

DAFTAR PUSTAKA 

Solahudin, M. dkk, 2009, ​Ulumul Hadis​. Bandung: Pustaka Setia. 

Mudasir, H. dkk, 2008, Ilmu Hadis. Bandung: Pustaka Setia. 

Munzier Suparta, 2006. Ilmu Hadis. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. 

Majid Khon. Abdul. Ulumul Hadis. Jakarta: PT.Bumi Aksara 2009. 

http://www.linkpdf.com/download/dl/struktur­hadits­.pdf 

 

 

 

 

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...