• Tidak ada hasil yang ditemukan

BERBAGAI DAMPAK BURUK AKIBAT KURANGNYA R

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "BERBAGAI DAMPAK BURUK AKIBAT KURANGNYA R"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS 2

BERBAGAI DAMPAK BURUK AKIBAT KURANGNYA RUANG

TERBUKA HIJAU

Abstrak

Ruang terbuka hijau merupakan salah satu pendukung terbesar terjadinya keseimbangan pada suatu kota atau wilayah. Oleh karena itu, ruang terbuka hijau perlu untuk dibahas dalam tulisan ini karena jika ruang terbuka hijau ini tidak dikelola dengan baik, tentu dapat mengancam keseimbangan suatu kota. Kebanyakan kota di Indonesia saat ini belum memiliki ruang terbuka hijau yang cukup dan sesuai standar yang telah ditetapkan, seperti Kota Bandung yang hanya memiliki sekitar 12% ruang tebuka hijau dari luas wilayahnya. Padahal, seharusnya ruang terbuka hijau pada setiap kota atau kabupaten memiliki luas minimal 30% dari luas kota atau kabupaten tersebut. Hal ini dapat menimbulkan berbagai masalah pada wilayah yang tidak memiliki ruang terbuka hijau yang cukup, oleh karena itu akan dijabarkan beberapa masalah yang timbul akibat kurangnya ruang terbuka hijau agar kesadaran pemerintah dan masyarakat meningkat tentang pentingnya ruang terbuka hijau. Dampak negatif dari kurangnya ruang terbuka hijau dibagi menjadi 3 hal yaitu, terjadinya masalah lingkungan, terganggunya kesehatan masyarakat, juga tersendatnya perekonomian daerah. Dalam tulisan ini, berbagai argumen, data dan fakta yang ada diperoleh dari beberapa buku referensi, beberapa peraturan perundang-undangan juga hasil pengamatan langsung dan berdasarkan pengalaman penulis, selain itu esai ini bersifat argumentatif, dan untuk setiap argumen yang ada dijelaskan secara deskriptif melalui data dan fakta yang ada.

Keywords :

ruang terbuka hijau, masalah lingkungan, kesehatan masyarakat, perekonomian

PENDAHULUAN

(2)

Luas area ruang terbuka hijau sendiri idealnya mencapai 30% dari wilayah luas suatu kota seperti yang dimuat pada UU No. 26 Tahun 2007 tentang penataan ruang. Namun, kenyataan yang terjadi di Indonesia saat ini, tidak semua kota di Indonesia memiliki ruang terbuka hijau yang

mencapai 30% dari luas wilayahnya. Salah satunya adalah Kota Bandung, yang pada tahun 2014, luas area ini hanya 12,14% atau sekitar 2030,47 hektar. Hal ini tentu perlu diperhatikan baik untuk

pemerintah atau masyarakat kota Bandung sendiri, karena kurangnya area ruang terbuka hijau di kota tersebut akan menimbulkan berbagai dampak negatif bagi kota itu. Ruang terbuka hijau yang ada di bandung terdiri dari beberapa bentuk seperti yang ditunjukkan gambar 1.

Gambar 1. Jenis dan Persentase Luas Ruang Terbuka Hijau di Kota Bandung Tahun 2013

11% dan Kereta Api, dan Hutan Kon-servasi

RTH Lainnya

Sumber: Hasil Analisis 2017

Seharusnya ruang terbuka hijau yang ada di suatu kota memiliki luas paling sedikit 30% dari luas kota tersebut, namun nyatanya aturan ini tidak terpenuhi di seluruh kota di Indonesia sehingga dapat menimbulkan masalah, yaitu menimbulkan masalah lingkungan, menimbulkan penyakit di masyarakat, juga menyebebkan terganggunya ekonomi suatu wilayah. Dari segi masalah lingkungan, kurangnya ruang terbuka hijau dapat menyebabkan pencemaran udara, meningkatnya suhu suatu wilayah, serta kutang tersedianya cadangan air tanah. Sedangkan dari segi kesehatan masyarakat, kurangnya area ini dapat menimbulkan penyakit pada masyarakat baik secara fisik dan psikis. Terakhir, akibat lain, yaitu terganggunya ekonomi dapat didukung oleh 3 alasan yaitu: kurangnya tempat berjualan para pedagang, kurangnya daya tarik wisata pada kota tersebut, dan terkurasnya anggaran daerah untuk mengatasi berbagai masalah yang timbul akibat ruangnya ruang terbuka hijau.

Esai ini akan menitikberatkan mengenai penjelasan dampak negatif dari kurangnya ruang terbuka hijau di suatu wilayah. Susunan pada esai ini terdiri dari empat paragraf pembuka, isi esai sembilan paragraf dan penutup dua paragraf. Sebagai pembuka akan dijelaskan dulu apa itu ruang terbuka hijau secara umum. Selanjutnya akan dijelaskan dampak negatif kurangnya ruang terbuka

(3)

udara, meningkatnya suhu, dan kurangnya ketersediaan air tanah. Lalu, akan diuraikan pula dampak negatif yang kedua yaitu terganggunya kesehatan masyarakat yang meliputi kesehatan secara fisik dan psikis atau psikologis. Yang terakhir adalah penjelasan dampak negatif yang berkaitan dengan berkurangnya perekonomian wilayah yang kekurangan ruang terbuka hijau.

ISI

Ruang terbuka hijau memiliki fungsi khusus demi tercapainya keseimbangan suatu kota atau wilayah, yang fungsinya ini dapat tercermin dari pengertian ruang terbuka hijau itu sendiri.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 05/PRT/M/2008, dijelaskan bahwa ruang terbuka hijau adalah suatu area terbuka baik memanjang ataupun mengelompok yang menjadi tempat tumbuh dan hidupnya berbagai tanaman. Berdasarkan definisi tersebut tujuan utama dari adanya ruang terbuka hijau adalah tersedianya tempat terbuka untuk ditanami tanaman. Sehingga, jika ruang terbuka hijau yang ada sedikit dan tidak memenuhi standar yang ditetapkan, dapat menimbulkan berbagai masalah yang akan menimpa kota tersebut akibat kurangnya tanaman.

Kurangnya ruang terbuka hijau pada suatu wilayah akan menimbulkan permasalahan lingkungan di wilayah tersebut. Salah satu masalah yang terjadi adalah pencemaran udara yang meningkat karena tidak tercapainya keseimbangan lingkungan pada kota tersebut. Salah satu contoh pencemaran udara yang terjadi adalah sisa pembakaran bahan bakar kendaraan bermotor, yaitu karbon dioksida yang akan menyebar ke udara karena tidak adanya pohon/tanaman yang dapat menyerapnya. Selain itu, efek dari banyaknya karbon dioksida di udara, adalah terjadinya peningkatan suhu di kota tersebut.

Masalah lingkungan lain yang terjadi akibat kurangnya ruang terbuka hijau pada suatu kota adalah menurunnya ketersediaan air tanah. Pada umumnya, air tanah akan tersedia jika ada area tanah terbuka, sehingga air hujan dapat menembus hingga lapisan tanah yang lebih dalam yang dapat menampung air. Selain itu, air tanah juga dapat ada akibat adanya pohon atau tanaman pada suatu wilayah, karena mereka membutuhkan air untuk hidup sehingga mereka akan mengikat air pada akarnya. Namun, jika ruang terbuka hijau yang ada sedikit, kedua kondisi tersebut tidak dapat tercapai, sehingga air tanahnya tidak cukup tersedia untuk dimanfaatkan demi kehidupan masyarakat di kota tersebut.

(4)

Selain itu, masyarakat juga dapat terjangkit penyakit berat akibat kurangnya ruang terbuka hijau seperti asma, bronkhitis bahkan kanker paru-paru karena meningkatnya polusi di wilayah tersebut.

Ruang terbuka hijau yang sedikit juga dapat mengganggu kesehatan masyarakat secara psikis atau psikologis. Kesehatan psikologis yang baik dapat tercapai jika kebutuhan sosial manusia

terpenuhi. Salah satu kebutuhan sosial manusia adalah berinteraksi satu sama lain, dimana kebutuhan ini dapat tercapai jika terdapat ruang yang cukup untuk berinteraksi satu sama lain, salah satunya ruang terbuka hijau. Sehingga, jika ruang terbuka hijau yang ada sedikit, ruang untuk berinteraksinya pun akan terbatas sehingga tidak akan tercapai kebutuhan sosial manusia yang optimal, sehingga tidak tercapainya juga kesehatan psikologis yang baik pada lingkungan masyarakat tersebut.

Salah satu gangguan kesehatan psikologis yang lain adalah timbulnya stres, pada umumnya stres dapat timbul, jika seseorang mengalami kepenatan atau kejenuhan terhadap hal tertentu, misalnya karena pekerjaan mereka yang membosankan ditambah keadaan kota yang terlalu padat seperti terjadinya kemacetan. Salah satu penyebab hal ini terjadi adalah kurangnya ruang terbuka hijau pada suatu kota atau wilayah. Hal itu dapat dijelaskan dari fungsi lain adanya ruang terbuka hijau di suatu kota, yaitu dapat menjadi tempat yang mudah diakses masyarakat karena jaraknya yang dekat untuk sekedar melepas kepenatan setelah bekerja terlalu lama. Karena, secara psikologis tanaman atau pohon yang berwarna hijau pada ruang terbuka hijau dapat memberikan efek tenang dan nyaman bagi seseorang yang melihatnya. Namun, bila ruang terbuka hijau yang ada sedikit, tidak dapat membantu menurunkan stres di masyarakat.

Perekonomian suatu wilayah juga dapat tergangu akibat kurangnya ruang terbuka hijau di wilayah tersebut. Hal ini dapat tercermin dari banyak sedikitnya warga pada kota atau wilayah tersebut bekerja dan seberapa besar penghasilan yang mereka dapatkan. Biasanya, ruang terbuka hijau juga disediakan untuk tempat mencari penghasilan, misalnya jika para pedagang kaki lima ingin berjualan, mereka bisa berjualan di taman taman kota sehingga mereka dapat berjualan dengan nyaman, dan tentu saja akan menambah penghasilan mereka. Namun, jika ruang terbuka hijau di wilayah tersebut sedikit, mereka pun kesulitan untuk mencari tempat untuk berjualan yang layak sehingga penghasilan mereka pun tidak maksimal.

(5)

wilayah tersebut. Sebagai contoh, pada gambar 2 terdapat foto ruang terbuka hijau yang berupa taman di Jerman.

Gambar 2. Contoh Ruang Terbuka Hijau di Eropa, yaitu Taman di Jerman

Sumber: Dokumentasi Pribadi,2017

Seperti dijelaskan sebelumnya, kurangnya ruang terbuka hijau dapat menimbulkan masalah lingkungan yang perlu diatasi, tentunya biaya yang digunakan adalah anggaran daerah, sehingga anggaran daerah akan banyak terkuras seiring bertambahnya masalah. Sebagai contoh, ruang terbuka hijau yang sedikit akan membuat air hujan tidak dapat terserap ke tanah sehingga akan menggenang di jalan raya, jika hal ini terus terjadi akan terjadi banjir seperti yang ada di daerah Gedebage, Kota Bandung. Banjir yang terjadi bisa saja merusak beberapa infrastruktur di wilayah tersebut, sehingga diperlukan perbaikan untuk infrastruktur yang rusak tersebut yang tentu saja akan menggunakan anggaran daerah. Selain masalah lingkungan, pencemaran udara akibat kurangnya ruan terbuka hijau dapat menyebabkan penyakit pada masyarakat, jika suatu saat penyakit ini menyerang banyak masyarakat, tentunya pemerintah daerah bertanggung jawab untuk mengatasi masalah tersebut, sehingga mereka perlu menggunakan anggaran daerah untuk mengatasi masalah tersebut.

KESIMPULAN

(6)

utama, kenapa setiap kota harus memiliki ruang terbuka hijau yang cukup agar terjadi keseimbangan di dalam kota tersebut.

Sebenarnya banyak cara yang dapat dilakukan untuk menghindari masalah-masalah tersebut, salah satunya dengan meningkatkan jumlah ruang terbuka hijau agar luasnya mencapai 30% dari luas wilayah kota tersebut. Hal ini dapat tercapai jika pemerintah dan masyarakat sama-sama memiliki kesadaran akan pentingnya ruang terbuka hijau bagi suatu kota. Salah satu bentuk solusi nyatanya yaitu dengan menggiatkan program urban farming seperti membangun rooftop garden di setiap gedung atau bangunan juga membangun vertical garden di trotoar jalan yang tentunya dapat menambahkan nilai estetika kota tersebut. Selain itu, dapat juga dengan mengembangkan jalur hijau pada sempadan sungai, rel kereta api, dan tentu saja dengan menegaskan peraturan yang ada agar tidak tejadinya alih fungsi lahan dari ruang terbuka hijau menjadi fungsi yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 5/PRT/M/2008 tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau Di Kawasan Perkotaan.

Peraturan Daerah Kota Bandung No. 7 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Bandung. 2014. Rencana Strategis Satuan Kerja

Perangkat Daerah Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Bandung Tahun 2013-2018.

Badan Pusat Statistik Kota Bandung. 2014. Data Basis Pembangunan Kota Bandung 2014. Bandung: Badan Pusat Statistik Kota Bandung.

Panel on Land Use Planning. 1975. Land Use Planning. Washington: National Academic. Imelda Akmal, dkk. 2007. SRI: Small Garden. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

(7)
(8)

Kerangka Tulisan

TEMA : Ruang Terbuka Hijau

TOPIK : Dampak Negatif Kurangnya Ruang Terbuka Hijau

JUDUL : Berbagai Dampak Buruk Akibat Kurangnya Ruang Terbuka Hijau

THESIS STATEMENT: Seharusnya ruang terbuka hijau yang ada di suatu kota memiliki luas paling sedikit 30% dari luas kota tersebut, namun nyatanya aturan ini tidak

terpenuhi di seluruh kota di Indonesia sehingga dapat menimbulkan masalah, yaitu menimbulkan masalah lingkungan, menimbulkan penyakit di

masyarakat, juga menyebebkan terganggunya ekonomi suatu wilayah.

ISI

Paragraf 1 : Tata guna lahan adalah salah satu aspek yang berkaitan erat dengan perencanaan wilayah dan kota.

Paragraf 2 : Luas area ruang terbuka hijau sendiri idealnya mencapai 30% dari wilayah luas suatu kota seperti yang dimuat pada UU No. 26 Tahun 2007 tentang penataan ruang.

Paragraf 3 : Seharusnya ruang terbuka hijau yang ada di suatu kota memiliki luas paling sedikit 30% dari luas kota tersebut, namun nyatanya aturan ini tidak terpenuhi di seluruh kota di Indonesia sehingga dapat menimbulkan masalah, yaitu menimbulkan masalah lingkungan, menimbulkan penyakit di masyarakat, juga menyebebkan terganggunya ekonomi suatu wilayah.

Paragraf 4 : Esai ini akan menitikberatkan mengenai penjelasan dampak negatif dari kurangnya ruang terbuka hijau di suatu wilayah.

Paragraf 5 : Ruang terbuka hijau memiliki fungsi khusus demi tercapainya keseimbangan suatu kota atau wilayah, yang fungsinya ini dapat tercermin dari pengertian ruang terbuka hijau itu sendiri.

(9)

Paragraf 8 : Dampak buruk lain dari area ruang terbuka hijau yang sedikit adalah terganggunya kesehatan masyarakat di wilayah tersebut.

Paragraf 9 : Ruang terbuka hijau yang sedikit juga dapat mengganggu kesehatan masyarakat secara psikis atau psikologis.

Paragraf 10 : Salah satu gangguan kesehatan psikologis yang lain adalah timbulnya stres, pada umumnya stres dapat timbul, jika seseorang mengalami kepenatan atau kejenuhan terhadap hal tertentu, misalnya karena pekerjaan mereka yang membosankan ditambah keadaan kota yang terlalu padat seperti terjadinya kemacetan.

Paragraf 11 : Perekonomian suatu wilayah juga dapat tergangu akibat kurangnya ruang terbuka hijau di wilayah tersebut.

Paragraf 12 : Sedikitnya ruang terbuka hijau pada suatu wilayah berarti sedikit pula taman kota yang ada di wilayah tersebut, sehingga daya tarik wisata wilayah tidak maksimal.

Paragraf 13 : Seperti dijelaskan sebelumnya, kurangnya ruang terbuka hijau dapat menimbulkan masalah lingkungan yang perlu diatasi, tentunya biaya yang digunakan adalah anggaran daerah, sehingga anggaran daerah akan banyak terkuras seiring bertambahnya masalah.

Paragraf 14 : Ruang terbuka hijau memiliki fungsi tertentu yang berguna bagi keberjalanan suatu kota atau wilayah, maka jika fungsi ini tidak ada maka kota tersebut akan mengalami berbagai masalah.

(10)

Tabel

Tabel 1. Potensi Ruang Terbuka Hijau (RTH) Di Kota Bandung Tahun 2013 (M2)

Ruang Terbuka Hijau Proporsi Terhadap Luas Wilayah Kota BandungLuas(ha) % [1] [2]

Taman Kota dan Kebun

Bibit 218,07 1,30

RTH Pemakaman 148,47 0,89

Tegangan Tinggi 10,17 0,06

Sempadan Sungai 18,31 0,11

Jalur Hijau Jalan 176,91 1,06

Sepadan Kereta Api 6,42 0,04

Hutan Konservasi 4,12 0,02

Penangan Lahan Kritis 416,92 2,49

RTH dari Bag. Aset 72,61 0,43

RTH Lainnya 958,47 5,73

Jumlah 2030,47 12,14

Gambar

Gambar 1. Jenis dan Persentase Luas Ruang Terbuka Hijau di Kota Bandung Tahun 2013
Gambar 2. Contoh Ruang Terbuka Hijau di Eropa, yaitu Taman di Jerman
Tabel 1. Potensi Ruang Terbuka Hijau (RTH) Di Kota Bandung Tahun 2013 (M2)

Referensi

Dokumen terkait

Penekanan : Mewujudkan peraturan pemerintah Kota Batu tentang Ruang Terbuka Hijau di perumahan yaitu dengan membandingkan luas RTH yang ada dengan luas perumahan

Secara umum arahan pengembangan Ruang Terbuka Hijau di Kota Bandung dilakukan dengan mengembangkan kawasan lindung minimal menjadi 10 % dari luas lahan

Yang dimaksud dengan Koefisien Daerah Hijau yang selanjutnya disingkat KDH adalah angka persentase perbandingan antara luas seluruh ruang terbuka di luar bangunan gedung

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kebutuhan ruang terbuka hijau berdasarkan luas wilayah, jumlah penduduk dan kebutuhan oksigen di Kota Tasikmalaya..

Hal ini yang seharusnya dijadikan dasar para penentu kebijakan (pemerintah kota) dalam meletakkan dan menata papan-papan reklame baik yang terdapat di kawasan terbuka hijau

Danoedjo (1990) dalam Anonimous (1993) menyatakan bahwa ruang terbuka hijau di wilayah perkotaan adalah ruang dalam kota atau wilayah yang lebih luas, dimana

Tujuan penelitian ini adalah menganalisis luas dan sebaran ruang terbuka hijau di Kota Banjarbaru berdasarkan kondisi tutupan lahan, luas kawasan, jumlah penduduk, dan karbon dioksida

RENCANA POLA RUANG MENURUT BWP DI KOTA MEDAN LUAS PERGUDANG AN PERDAGANGA N JASA INDUSTRI KOM ERSIL ZONA ZONA PERLINDUNGAN SETEM PAT ZONA RUANG TERBUKA HIJAU LUAS ZONA PERUM