BAB IV
GAMBARAN UMUM LOKASI4
4.1 Profil Perusahaan
4.1.1 Tahapan CSR PT Arutmin
PT Arutmin merupakan perusahan penghasil batu bara terbesar di Indonesia yang berlokasi di Kalimantan Selatan. Perusahaan ini melakukan eksplorasi batu bara sejak tahun 1983. Pada tahun 1989, selain melakukan eksplorasi, perusahaan juga mulai memproduksi batu bara dan melakukan pengapalan batu bara. Pelaksanaan CSR sudah dimulai sejak tahun 1987 seiring dengan beroperasinya perusahaan, bentuk CSR yang dilakukan saat itu dengan pemberian bahan kebutuhan pokok (Sembako) kepada warga sekitar tambang atau punn dengan memberikan sumbangan bagi korban bencana alam.
Pada tahun 2000-2004 perusahaan melakukan program CSR dengan menyalurkan dana bergulir bagi KUD sebagai modal UKM lokal untuk mengembangkan usahanya. Masyarakat melalui KUD mendapatkan pinjaman modal untuk kegiatan berusaha. Masyarakat menganggap uang tersebut berasal dari perusahaan sehingga pinjaman tersebut tidak perlu dikembalikan karena berupa bantuan. Kondisi ini menggambarkan ketidak jelasan penggunaan dana yang dipinjamkan apakah untuk kegiatan usaha atau justru digunakan untuk keperluan lain karena tidak adanya laporan yang jelas mengenai aliran dana tersebut, baik KUD selaku rekanan yang ditunjuk oleh perusahaan maupun dari masyarakat yang meminjam.
Maraknya illegal mining dan illegal logging membuat pihak pemerintah setempat merasa perlu melakukan tindakan yang tegas, sehingga pada tahun 2005 kepolisian Republik Indonesia (RI) melakukan penertiban terhadap penambang illegal dan penebang kayu illegal. Akibat adanya penertiban tersebut banyak masyarakat yang kehilangan mata pencahariaannya sebagai penebang kayu di
4 Data diolah berdasarkan hasil wawancara dengan Pak Iwan Mukti, Fak Fauzi, dan Pak Jali yang merupakan tim Comdev Arutmin Satui serta wawancara dengan Pak Joko (pendamping teknis pertanian program AHPB), dan juga hasil studi literatur kebijakan program CSR PT Arutmin Satui Mine.
rasa kepada pihak perusahaan menuntut adanya pemberian bantuan berupa materi. Dengan adanya aksi unjuk rasa tersebut menyebabkan aktivitas pertambangan mengalami gangguan sehingga proses pertambangan sempat terhenti dan menimbulkan kerugian yang cukup besar bagi perusahaan.
Secara umum, program CSR yang diimplementasikan PT Arutmin telah dilakukan oleh perusahaan lain, yaitu meliputi bidang kesehatan, pendidikan, sosial dan agama. Namun, secara khusus sejak tahun 2007, program pemberdayaan yang diberikan PT Arutmin menggaris bawahi pentingnya pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan guna mendukung kestabilan proses produksi tambang. Adapun program yang dijalankan guna pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar tambang menuju kemandirian masyarakat adalah dengan mengimplementasikan 1) program standardisasi manajemen KUD bersama dengan PNM, 2) program Aku Himung petani Banua, dan 3) program pemuda pelopor desa.
Sejarah perkembangan CSR PT Arutmin menunjukkan adanya perubahan pendekatan yang dilakukan. Pada awalnya program CSR PT Arutmin masih berupa charity yaitu memberikan sumbangan (donation) kepada masyarakat baik berupa pembangunan infrastruktur, bantuan korban bencana alam, sampai pada pemberian sembako kepada masyarakat sekitar tambang. Program CSR yang dilakukan belum mengimplementasikan konsep pemberdayaan masyarakat karena sifatnya yang bersifat sementara dan tidak berkelanjutan (suistainable). Namun, pada saat ini program CSR perusahaan sudah cenderung kepada Comunity Development, yaitu dengan program “Aku Himung Petani Banua (AHPB)” pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Prrogram CSR yang dilakukan oleh perusahaan, dapat dianalisis dengan pendekatan CSR yang dikemukakan oleh Rothman (1970) dalam Nasdian (2006) yaitu perencanaan sosial (social planing). Pendekatan CSR yang dilakukan belum sampai pada aksi sosial (social action) yaitu masyarakat yang mengidentifikasi masalah sekaligus membahas pemecahannya dan pihak perusahak perusahaan tidak bertindak sebagai pengambil keputusan. Sebelum melaksanakan program AHPB, perusahaan melakukan survei tentang apa saja yang diinginkan oleh
masyarakat. Perusahaan mendatangi beberapa warga yang tinggal di lokasi sekitar tambang dan melakukan dialog dengan mereka. Survei tersebut melibatkan pihak ke-3 sebagai tim ahli yang yang merupakan dosen dari perguruan tinggi setempat. Semua keinginan masyarakat ditampung oleh perusahaan dan kemudian dianalisis dari keinginan-keinginan tersebut, manakah yang merupakan kebutuhan masyarakat. Analisis kebutuhan tersebut dilakukan oleh perusahaan dan tim ahli.
4.1.2 Ruang Lingkup Program CSR PT Arutmin 4.1.2.1 Program Unggulan Comdev Satui
I. Pendidikan
Pendidikan merupakan hal yang penting bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Jika ingin maju maka dukungan kualitas pendidikan merupakan jalan menuju kemajuan yang diharapkan. Kondisi pendidikan masyarakat sekitar tambang rendah, hal ini terbukti dengan kondisi pendidikan di daerah pertambangan Satui Mine. Sebagian besar masyarakatanya hanya sampai mengenyam pendidikan Sekolah Dasar (SD). Minimnya fasilitas pendidikan (sekolah), mahalnya biaya pendidikan dan jauhnya jarak yang harus ditempuh serta kurangnya dukungan sarana transportasi membuat rendahnya sebagian besar pendidikan masyarakat sekitar tambang. Hal inilah yang mendorong PT Arutmin Indonesia Satui Mine untuk memajukan pendidikan di wilayah sekitar tambang dengan beberapa kegiatan (program) di bidang pendidikan.
Adapun program pendidikan yang dilakukan adalah: 1) memberikan bantuan Bus Sekolah gratis sebagai sarana transportasi antar jemput sekolah. Keberadaan bus sekolah menguntungkan bagi para siswa karena mereka tidak perlu kuatir lagi untuk datang ke sekolah walaupun jaraknya yang jauh. Sampai saat ini jumlah bus sekolah yang ada sebanyak dua buah bus yang biasanya beroperasi pada pagi hari dan siang hari. 2) membangun dua buah gedung sekolah dasar yang 100 persen pembiayaannya dibiayai oleh PT Arutmin Indonesia Satui Mine yang berlokasi di kampung Lokpadi dan KM 29. Selain membiayai pembangunan, gaji guru tiap bulan dibayarkan oleh perusahaan.
II. Pemberdayaan Ekonomi
Program pengembangan masyarakat yang menekankan pada pemberdayaan ekonomi mulai dicanangkan pada awal tahun 2007 dengan membuat program Aku Himung Petani Banua (AHPB). Program ini memiliki tiga bidang usaha utama yaitu usaha pertanian, peternakan, dan budidaya perikanan. Pada tahap awal program AHPB peserta program diberikan pelatihan teknik budidaya ikan, teknik bercocok tanam, dan teknik berternak. Dalam pelatihan biasanya dihadiri oleh tiga stakeholder yaitu pihak perusahaan sendiri yang diwakili oleh tim Comdev PT Arutmin Indonesia Satui Mine, tenaga ahli yang berasal dari dosen Universitas Lambung Mangkurat dan PNM serta masyarakat sebagai peserta pelatihan dari bidang perikanan, peternakan, dan pertanian.
Program AHPB ditunjang oleh pembentukan lembaga-lembaga seperti BMT Agro Banua, Penyewaan Al-Sintan, pabrik pakan dan pupuk, serta Kios Tani Agro Banua. Masing masing lembaga di bina oleh Comdev PT Arutmin Indonesia Satui Mine dan juga perusahaan sebagai penyedia modal dan menggaji karyawan. Penjelasan masing-masing lembaga sebagai berikut:
1. BMT Agro Banua: diawali dengan adanya permasalahan yang dihadapi mitra binaan PT Arutmin Indonesia Satui Mine dalam program pelatihan Aku Himung Patani Banua dalam mengakses pembiayaan untuk modal kerja, dikarenakan pihak permodalan (bank, koperasi dan lembaga keuangan lainnya) melihat terlalu besar resiko kerugian yang akan terjadi jika ber-investasi langsung ke pelaku usaha pertanian atau sektor agro (peternakan dan perikanan) sehinga dibentuklah Baitul Mal wat Tamwil (BMT Agro Banua).
2. Peyewaan Al-Sintan adalah lembaga yang bertugas menyediakan kebutuhan penyewaan alat berat bagi pertanian, misalnya menyediakan penyewaan alat traktor yang digunakan untuk membajak lahan sebelum ditanami.
3. Pabrik pakan dan pupuk menyediakan kebutuhan pupuk dan pakan bagi peserta binaan dan juga memasok kebutuhan pupuk dan pakan ke Koperasi Agro Banua. Pabrik pakan dan pupuk dikelola oleh Kios di bawah naungan
PT Arutmin Indonesia dengan mempekerjakan masyarakat sekitar perusahaan.
4. Kios Tani Agro Banua merupakan penyedia kebutuhan pertanian, peternakan dan perikanan seperti pupuk, bibit, obat-obatan, pestisida, alat-alat petanian dll.
Lembaga-lembaga yang ada di atas berada dalam naungan PT Arutmin Indonesia Satui Mine yang dikhususkan untuk menyukseskan program pemberdayaan khususnya program AHPB. Lembaga-lembaga tersebut saling berkaitan satu sama lain, dimana peserta program AHPB yang akan memulai usahanya dapat melakukan pinjaman modal kepada BMT Agro Banua. Pinjaman yang diberikan oleh BMT Agro Banua bukan berbentuk uang tetapi berupa kebutuhan usaha seperti pakan, bibit dan pupuk. Setelah modal pinjaman disetujui oleh BMT Agro Banua maka peserta akan mendapatkan bibit, pupuk, dan pakan dari Koperasi Agro Banua. BMT membayar langsung kepada koperasi berupa uang tunai sebesar dana yang dipinjam. Peserta program yang meminjam akan membayar kepada BMT dengan sistem bagi hasil yang dapat dibayar setelah usaha menghasilkan.
III. Infrastruktur
Pembangunan infra struktur menjadi salah satu program CSR PT Arutmin Indonesia Satui Mine selain program-program pengembangan masyarakat lainnya. Infra struktur yang telah dibangun dengan bantuan perusahaan adalah jembatan, jalan, gedung sekolah, dan bangunan masjid. Khusus untuk bangunan masjid sebagai sarana ibadah, perusahaan memiliki komitmen untuk merealisasikan satu masjid setiap tahun dengan biaya 100 persen PT Arutmin indonesia.
Berdasarkan ruang lingkup program pengembangan masyarakat yang dikemukakan oleh Budimanta dkk. (2008), maka program pengembangan masyarakat perusahaan dapat dikategori berdasarkan tiga kategori, yaitu 1) Community Relation, 2) Community Service, dan 3) Community Empowering. Kegiatan program pengembangan masyarakat yang dilakukan oleh PT Arutmin masih menunjukkan tiga kategori tersebut, namun di dalamnya terdapat Comunity Development.
Community Relation
Program perusahaan dilakukan dengan pengembangan kesepahaman melalui komunikasi dan penyampaian informasi kepada pihak-pihak yang terkait. Bentuk program yang dilakukan masih berupa bentuk kedermawanan (charity), misalnya bantuan sembako dan uang tunai saat hari raya, bantuan korban bencana alam, serta pembangunan infra struktur.
Program yang dijalankan bersifat charity karena swadaya masyarakat kurang di dalamnya baik dalam hal swadaya pendanaan maupun partisipasi dalam pembangunannya. Hal ini membuat masyarakat merasa ketergantungan kepada perusahaan dan perasaan kurang memiliki. Hal itu terlihat ketika ada kerusakan pada bangunan masyarakat tidak berswadaya untuk berusaha memperbaikinya namun melaporkannya dan meminta bantuan kepada perusahaan. Pada kategori ini, dapat dirancang suatu program yang dapat menciptakan hubungan yang lebih mendalam dengan masyarakat dengan mengetahui kebutuhan-kebutuhan dan masalah-masalah yang ada di komunitas lokal, sehingga perusahaan dapat menerapkan program selanjutnya.
Community Services
Berupa pelayanan perusahaan untuk memenuhi kepentingan komunitas ataupun kepentingan umum. Dalam kategori ini bentuk program yang dilakukan oleh perusahaan adalah pembangunan secara fisik sektor kesehatan, keagamaan, pendidikan, transportasi, dan sarana umum lainnya. Sektor kesehatan perusahaan membangunkan Posyandu yang tersebar di beberapa desa sekitar tambang. Sektor keagamaan, perusahaan membangunkan masjid sebagai sarana ibadah bagi umat Muslim, bahkan perusahaan memiliki program setiap tahunnya membangunkan satu buah masjid dengan 100 persen biaya dari perusahaan. Sektor pendidikan perusahaan membangunkan gedung sekolah, sedangkan untuk transportasi perusahaan membeli dua bus untuk antara jemput siswa yang bersekolah serta membangunkan jembatan untuk mempermudah akses jalan.
Selama ini, kebutuhan yang ada di komunitas dan pemecahan masalah yang ada di komunitas dilakukan oleh komunitas sendiri, dan perusahaan sebagai fasilitator dari pemecahan masalah yang ada di komunitas. Kebutuhan yang ada dianalisis oleh para community officer dari perusahaan.
Community Empowering
Program pengembangan masyarakat “Aku Himung Petani Banua” masuk kepada kategori community empowering. Kategori ini memberikan akses yang luas kepada komunitas untuk menunjang kemandiriannya, misalnya saja dengan dibentuknya koperasi Agro Banua dan lembaga keuangan BMT Agro Banua yang memfasilitasi mereka untuk pemenuhan kebutuhan usaha.
Sejauh ini, masyarakat belum mampu mandiri meskipun telah dibangun koperasi dan lembaga keuangan mikro, ketergantungan masyarakat terhadap bantuan dari perusahaan masih cukup tinggi. Hal tersebut terlihat dari harapan masyarakat yang masih menginginkan bantuan dari perusahaan berupa bantuan uang.
4.1.3 Ciri Program CSR Berbasis Pengembangan Masyarakat 4.1.3.1 Sasaran Program Comdev
Sasaran dari program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan oleh perusahaan adalah masyarakat sekitar tambang yang bermukim di area pertambangan dengan karakteristik masyarakat dibedakan ke dalam tiga kelompok, yaitu:
1. Masyarakat yang terlibat konflik dengan perusahaan; masyarakat kategori ini merupakan masyarakat yang mendapatkan program dari perusahaan agar tidak terjadi gangguan dan hambatan terhadap aktivitas penambangan batu bara. Karakteristik masyarakat seperti ini jika tidak mendapatkan bantuan program maka akan melakukan aksi profokasi dan demo yang dapat menghambat kelancaran operasi pertambangan.
2. Masyarakat yang telah memiliki modal sosial untuk diberdayakan, biasanya masyarakat pendatang, transmigran dan pelaku UKM yang telah memiliki usaha. Karakteristik masyarakat seperti ini penting untuk mendapatkan
masyarakat lain untuk maju dan berkembang. Masyarakat pendatang biasanya berasal dari pulau Jawa yang melakukan transmigrasi ke Kalimantan Selatan. Karakteristik masyarakat seperti ini memiliki modal sosial berupa keterampilan bercocok tanam dan berternak yang bagus karena pengalaman mereka saat berada di Pulau Jawa. Berbeda dengan sebagian karakteristik warga asli pribumi yang cenderung menyukai pekerjaan sebagai penebang kayu di hutan karena mereka dapat menjual hasilnya secara langsung dan mendapatkan uang secara tunai. Kondisi tersebut berbeda jika mereka harus bertani dan beternak yang membutuhkan waktu relatif lama (rata-rata 4 bulan/panen). Hal inilah yang mendorong sebagian besar penerima program AHPB adalah warga pendatang (transmigran). 3. Masyarakat yang tidak berdaya dan terbatas akses menuju kesejahteraan
yaitu masyarakat yang memiliki karakteristik masyarakat miskin, masyarakat adat terpencil, dan masyarakat dengan tingkat pendidikan dan pendapatan rendah. Kategori masyarakat seperti ini merupakan sasaran dari program sehingga diharapkan nantinya mereka meningkat kesejahterannya.
4.1.3.2 Community Development, Tenaga Pendamping dan Tim Teknis AHPB
Konsultan pendamping merupakan sarjana pertanian, sarjana peternakan dan sarjana perikanan dengan status magang dan melakukan pendampingan kepada petani binaan. Konsultan pendamping wajib melakukan peninjauan dan pemantauan kegiatan petani. Hasil pemantauan selalu dilaporkan kepada dosen selaku konsultan teknis (tenaga ahli).
Dosen Unlam sebagai tenaga teknis dan juga tenaga ahli yang berasal dari perguruan tinggi yang berlokasi di Banjarmasin, minimal dua minggu sekali melaksanakan kunjungan lapang untuk memberikan bimbingan dan konsultasi kepada para petani binaan. Tim Community Development PT Arutmin Satui Mine bekerja sama dengan dua orang dosen pertanian, dua orang dosen perikanan dan satu orang dosen peternakan konsultan teknis program AHPB. Kerjasama yang dilakukan berupa diskusi dan penerimaan laporan mengenai kegiatan AHPB dari tim teknis. Tidak jarang ketika dilakukan kunjungan teknis lapang tim Comdev
juga turut serta sehingga dapat memantau secara langsung kegiatan AHPB di lapang.
Pendampingan dan bimbingan secara intensif yang dilakukan, diharapkan kegiatan petani binaan selalu terpantau untuk mencegah gagal panen yang akan berdampak pada gagalnya petani untuk membayar pinjaman kepada BMT Agro Banua. Kesuksesan panen petani binaan akan berdampak pada pengembalian dana bergulir dari BMT Agro Banua.
4.1.3.3 Community Relasion dan Pengaman Tambang (Kopel)
Satuan tugas lapang PT Arutmin Indonesia Satui Mine ada yang dikenal dengan Community Relasion (Comrel) dan Pengaman Tambang (Kopel). Selain Comdev, Comrel dan Kopel lah yang berhubungan langsung dengan msyarakat. Sebagai satuan tugas lapang, Comrel dan Kopel memiliki tugas sebagai berikut: 1. Jembatan penghubung antara kepentingan perusahaan dan masyarakat. Jika
terjadi konflik antara perusahaan dan masyarakat maka Comrel akan bernegosiasi langsung kepada sumber konflik untuk memperoleh solusi yang diinginkan oleh kedua belah pihak agar mining operation perusahaan dapat berjalan dengan lancar.
2. Melakukan pendekatan kepada tokoh masyarakat, tokoh agama, pemerintah lokal, dan LSM untuk menyerap informasi sebagai antisipasi segala kemungkinan yang dapat mengganggu jalannya mining operation perusahaan.
3. Sebagai intelejen dalam melindungi keamanan mining operation.
4. Rutin melakukan sosialisasi kebijakan perusahaan yang berkaitan dengan dampak mining operation bagi masyarakat.
5. Sebagai pengaman tambang, Kopel berfungsi sebagai self defense dengan tugas utama pengaman tambang.
6. Cara lama gangguan terhadap mining operation harus dicegah sejak dini, sehingga segala perundingan konflik perusahaan dan masyarakat bisa dilaksanakan dengan sopan santun elegan dan tidak merugikan kedua belah pihak.
Perusahaan telah mengalokasikan dana tersendiri untuk kegiatan program pengembangan masyarakat yang dilakukan. Alokasi dana tersebut dipergunakan dalam berbagai bidang kegiatan, yaitu pengembangan ekonomi (31%), infrastruktur fasilitas sosial dan fasilitas umum masyarakat (27%), sosial dan keagamaan (10%), kesehatan masyarakat (12%), pendidikan (12%), dan donasi (8%). Alokasi dana untuk pengembangan masyarakat paling besar karena sesuai dengan fokus utama dari program pengembangan masyarakat perusahaan adalah pengembangan ekonomi yang dimulai sejak tahun 2007 dengan program Aku himung Petani Banua (AHPB).
Program pengembangan masyarakat yang dilakukan oleh perusahaan dapat dianalisis dengan tiga unsur dasar yang mencirikan program pengembangan masyarakat Menurut Glen (1993) dalam Adi (2003) yang dilihat dari tujuaannya, proses pelaksanaannya, dan praktisi.
Program pengembangan masyarakat yang dilakukan oleh perusahaan, dilihat dari tujuaannya seharusnya mengembangkan kemandirian dan pada dasarnya memantapkan rasa kebersamaan sebagai suatu komunitas berdasarkan basis ketetanggaan. Program pengembangan masyarakat yang dilakukan oleh PT Arutmin belum sepenuhnya mampu membuat masyarakat mandiri dan menciptakan kebersamaan sebagai suatu komunitas. Dalam temuan di lapang, terdapat beberapa kelompok binaan yang kebersamaannya kurang. Hal ini terlihat dari tidak berjalannya agenda kerja kelompok dan antar anggota kurang memiliki rasa kepercayaan dan kepedulian.
Proses pelaksanaannya melibatkan kreatifitas dan kerjasama masyarakat ataupun kelompok-kelompok dalam masyarakat. Program AHPB sebagai program pengembangan ekonomi masyarakat menuntut adanya kerjasama dan kreatifitas. Perusahaan melihat masyarakat sebagai masyarakat yang potensial kreatif dan kooperatif terhadap upaya-upaya kolaboratif dan pembentukan identitas komunitas. Identitas dalam program AHPB adalah identitas kebanggaan sebagai orang “Banua” yang memajukan Banua melaluai pertanian, peternakan, dan perikanan.
Sampai sejauh ini kolaborasi yang terbangun antara kelompok di dalam masyarakat belum sepenuhnya baik, hal tersebut terlihat dari belum adanya suatu forum atau wadah yang memfasilitasi mereka untuk bertemu dan berdiskusi. Sehingga ada kelompok yang berkembang dan ada pula kelompok yang belum mampu berkembang. Salah satu kelompok binaan PT Arutmin yang sudah mampu berkembang adalah kelompok Tani Pelopor yang diketuai oleh bapak Sunatur. Kelompok ini sudah tercatat secara resmi di dinas pertanian setempat dan pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah. Setiap minggunya diadakan pertemuan anggota untuk membicarakan perkembangan usaha dari masing-masing anggota. Jika ada kendala-kendala dibahas bersama, namun jika ada masalah yang tidak mampu diselesaikan oleh kelompok maka akan meminta bantuan kepada perusahaan.
Praktisi, dalam hal ini CD Worker menggunakan pendekatan masyarakat yang bersifat non-directif. Peran CD sebagai pemercepat perubahan (enabler), pembangkit semangat (encourager), dan pendidik (educator). Hal tersebut lah yang dilakukan oleh para CD Worker PT Arutmin. Sebagai pendidik, sebaiknya CD Worker perusahaan juga dibekali dengan keterampilan dan pengetahuan mengenai kegiatan pertanian, perikanan dan peterrnakan sehingga mereka dapat memberikan informasi dan masukan kepada masyarakat.
Secara rinci, ciri-ciri program pengembangan masyarakat di PT Arutmin dapat diuraikan sebagai berikut:
4.2 Gambaran Umum Program Aku Himung Jadi Petani Banua (AHBP)
Program ini dilaksanakan dengan spirit untuk menumbuhkan kemandirian masyarakat agar tidak bergantung pada kegiatan mining operation, sehingga diharapkan pada saat pasca tutup tambang masyarakat lingkungan tambang tetap dapat melanjutkan aktivitas perekonomiannya. Program ini terdiri dari program pengelolaan sumberdaya alam pertanian, peternakan, dan perikanan yang dilaksanakan oleh para petani binaan yang tersebar di desa-desa sekitar tambang. Program ini telah dilaksanakan sejak 2007 dengan total biaya yang telah digulirkan mencapai Rp.970.000.000. Sejauh ini telah terbina 74 petani, 22
lingkungan tambang. Program Aku Himung Jadi Petani Banua terdiri dari program pelatihan, pendampingan teknis, pemberian modal produksi, konsultasi peningkatan produksi, pinjaman dana bergulir, penyegaran pengetahuan teknis budaya, pengelolaan pasca panen dan pemasaran.
Selain menerima bantuan berupa modal produksi (bibit, pupuk, dan pakan), peserta juga mendapatkan pelatihan dan pendampingan berkala sesuai dengan program yang diterimanya. Pendampingan dilaksanakan melalui mekanisme kunjungan dan pemantauan 1 minggu sekali, dan pelatihan dilaksanakan 2 minggu sekali hingga satu bulan sekali, tergantung dari jenis usaha yang dilaksanakannya. Pendampingan umumnya berupa bimbingan teknis, manajemen dan keuangan.
Masyarakat dikelompokkan sesuai dengan bidang usahanya dan diarahkan untuk membentuk koperasi. Pola pemberdayaan petani AHPB dikembangkan melalui dibentuknya Koperasi Pertanian Agro Banua Manunggal untuk mewadahi para petani, Koperasi Perikanan Bangun Baimbai untuk mewadahi pembudidaya ikan dan Koperasi Peternak Bina Banua untuk mewadahi para peternak. Menurut M.Soegiannor (koordinator pendampingan program AHPB PT Arutmin Indonesia Satui Mine), pengembangan program Aku Himung Petani Banua melalui pemberdayaan koperasi merupakan stimulus bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia antar petani peserta program. Dengan pola koperasi, diharapkan bisa menjadi wadah interaksi para petani, para peserta program bisa mendapatkan kemudahan dalam mendapatkan akses simpan pinjam permodalan, kemudahan kredit pakan atau pupuk dam terjaminnya pemasaran produk.
4.2.1 Kelembagaan AHPB
Community Development PT Arutmin Indonesia Tambang Satui memiliki program pengembangan masyarakat yang disebut dengan “Program Aku Himung Petani Banua. Program tersebut diperuntukkan bagi masyarakat sekitar tambang yang meliputi bidang pertanian, peternakan, dan budidaya ikan. Untuk mendukung kelancaran dalam pelaksanaanya maka dibentuklah BMT Agro banua yang merupakan lembaga keuangan mikro dan Koperasi Agro Banua yang
AKU HIMUNG PETANI BANUA
menyediakan kebuuhan bibit, pupuk, dan pakan bagi peserta program. gambar struktur kelembagaan AHPB akan disajikan pada gambar 5.1, sebagai berikut:
Gambar 4.1 Kelembagaan AHPB
Gambar 4.1 Kelembagaan AHPB
Secara umum, keterlibatan masyarakat dalam progam AHPB dapat dianalsis berdasarkan unsur-unsur yang menopang modal sosial menurut Djohan (2007), diantaranya:
1. Social Participation (Partisipasi Sosial); yaitu anggota masyarakat turut berpartisipasi dalam program. Hal ini ditunjukkan dengan keterlibatan masyarakat dalam pelatihan-pelatihan yang dilaksanakan oleh perusahaan. Seperti pelatihan berwirausaha dan administrasi keuangan yang baru-baru ini diadakan.
2. Reciprocity (Timbal-Balik); yaitu saling membantu dengan asas tanggungjawab. Masing-masing anggota dalam kelompok AHPB memiliki rasa kepeudilian dan merupakan kewajiban bagi setiap anggota untuk saling membantu anggota lainnya. Walaupun dalam beberapatemuan dilapang belum sepenuhnya sesama anggota kelompok memiliki kepedulian terhadap anggota yang lain.
3. Trust (Kepercayaan); yaitu kepercayaan sesama anggota. Dalam beberapa kelompok AHPB terdapat anggota yang semuanya masih satu keluarga atau satu asal daerah. Misalnya saja kelompok perikanan yang diketuai oleh Bapak Helmi, semua anggotanya berasal dari daerah Banjar. Dengan adanya
memiliki kepercayaan yang tinggi.
4. Acceptance and Diversity (Penerimaan atas Keberagaman), hal ini terlihat dengan keberagaman asal suku peserta program yang berasal dari suku yang berbeda seperti suku Jawa, Banjar, Bugis, dll. Walaupun berasal dari asal daerah yang berbeda namun mereka memiliki penerimaan atas keberagaman dengan semangat untuk terlibat dalam program guna memajukan dan membangun “Banua” yang merupakan spirit dari program AHPB.
4.2.3 Manfaat Program AHPB
Selama berlangsungnya program AHPB sejak tahun 2007 sampai saat ini, terdapat beberapa manfaat yang dirasakan masyarakat, yaitu:
1. Tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan potensi Sumberdaya Alam yang ada di lingkungannya. Bidang pertanian misalnya, memanfaatkan lahan tidur yang ada di sekitar kampung sebagai lahan pertanian yang ditanami tanaman palawija. Lahan yang sebelumnya tidak produktif menjadi produktif karena ditanami tanaman kebutuhan pokok. Bidang perikanan. Perikanan memanfaatkan sungai untuk kegiatan perikanan dengan sistem keramba. Bidang peternakan memanfaatkan potensi padang rumput untuk sapi dan pemberdayaan ibu-ibu rumah tangga untuk peternakan ayam petelur.
2. Tumbuhnya lapangan kerja bagi masyarakat lokal yang sebelumnya berprofesi sebagai illegal logging, illegal mining, hand picker, ladang berpindah, preman lokal, dan pengangguran.
3. Memberikan tambahan pengetahuan tentang pertanian, perikanan, dan peternakan.
4. Memberikan multiply effect bagi pertumbuhan ekonomi lokal, khususnya bagi desa-desa disekitar tambang.
5. Setiap petani, pembudi daya ikan, dan peternak yang sukses, akan mengajak teman, dan sanak saudara untuk ikut serta bergabung dalam program AHPB.
6. Manfaat langsung berupa lapangan pekerjaan baru dan peningkatan pendapatan yang dirasakan oleh anggota peserta program.
4.3 Kondisi Sosial, Ekonomi dan Budaya Masyarakat Sekitar Tambang Keterangan:
1. Area Tambang PT. Arutmin Satui
2 Ring I:
1.Desa Bukit Baru 2.Desa Makmur Mulia 3.Desa Sei Cuka Satui
3.Ring II:
1.Desa Sungai Danau
2.Desa Satui Timur
3.Desa Sei Cuka Serindai 4.Desa Pasir Putih
5.Desa Kintapura
4. Ring III:
1.Desa Kintap Kecil 2.Desa Al-Kautsar
Gambar 4.2 Sketsa wilayah kerja Community Development PT Arutmin Satui Mine (Wilayah penerapan program AHPB)
Dengan dibukanya area pertambangan membuat masyarakat berdatangan untuk menjadi karyawan perusahaan maupun melakukan pertambangan secara illegal. Tercatat pada tahun 1999 marak terjadi penambangan batu bara liar yang dilakukan oleh masyarakat, baik yang dilakukan oleh masyarakat pendatang maupun masyarakat pribumi. Pada tahun tersebut selain maraknya penambangan batu bara illegal, marak juga terjadi illegal logging (penebangan kayu), hal tersebut karena potensi sumber daya alam Kalimantan Selatan yang tidak hanya kaya akan kandungan mineral tetapi kaya juga akan hasil hutannya berupa kayu. Masyarakat pribumi masih melakukan ladang berpindah dalam kehidupan keseharian, mereka melakukan penebangan kayu dan berladang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, hal tersebut menyebabkan kerusakan sebagaian hutan.
3 2 1
Tanah Bumbu; Kecamatan satui: Sungai Danau, Satui Timur, Satui Barat, Bukit Baru, Sei Cuka, Makmur Mulia. Kabupaten Tanah Laut;
Kecamatan Kintap: Kintap Pura, Kintap Kecil, Serindai, Pasir Putih. Masing-masing masyarakat desa tersebut memiliki kebutuhan yang berbeda serta memiliki karakteristik yang berlainan dalam tata cara penyampaian pendapat. Ada yang ingin cepat dibantu, ada yang memaksakan kehendak, ada yang tidak tahu harus dibantu apa, ada yang sabar menunggu, dan semua itu perlu diseleksi secara ketat, apakah benar merupakan community needed atau ambisi pribadi tokoh masyarakat setempat. Untuk itulah dibutuhkan pola penanganan yang tepat dalam melakukan seleksi dan menentukan skala prioritas pemberdayaan masyarakat.
Selain luasnya wilayah, kendala yang paling dirasakan saat ini adalah timbulnya sikap yang mudah mengambil jalan pintas tanpa berpikir panjang. Masyarakat sangat mudah ditunggangi oleh pihak-pihak yang mengaku investor, LSM, tokoh masyarakat, pendamping masyarakat, yang semua itu berujung pada pemanfaatan masyarakat untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Keadaan seperti itu secara tidak langsung mempengaruhi kelancaran mining operation PT Arutmin Indonesia Satu Mine. Segala hal yang bisa memicu konflik antara perusahaan dengan masyarakat, sering dipolitisir dan menggunakan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak ke perusahaan.