• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI, HARGA PRODUSEN GABAH DAN HARGA BERAS DI PENGGILINGAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI, HARGA PRODUSEN GABAH DAN HARGA BERAS DI PENGGILINGAN"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Berita Resmi Statistik BPS Provinsi Jawa Barat No. 26/5/32/Th.XVII, 4 Mei 2015 1

No. 26/5/32/Th XVII, 4 Mei 2015

P

ERKEMBANGAN

N

ILAI

T

UKAR

P

ETANI

,

H

ARGA

P

RODUSEN

G

ABAH

D

AN

H

ARGA

B

ERAS

D

I

P

ENGGILINGAN

NILAI TUKAR PETANI APRIL 2015 SEBESAR 102,78 (2012=100)

BPS PROVINSI JAWA BARAT

 Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Barat pada April 2015 (2012 =100) tercatat sebesar 102,78 atau turun 2,54 persen dibandingkan NTP Maret 2015 sebesar 105,45. Hal ini disebabkan Indeks Harga Diterima Petani (IT) turun sebesar 2,51 persen sementara Indeks Harga Dibayar Petani (IB) naik sebesar 0,02 persen.

 April 2015, tiga dari lima subsektor pertanian mengalami penurunan NTP yaitu NTP Subsektor Tanaman Pangan turun 6,11 persen dari 109,25 menjadi 102,58, NTP Subsektor Perikanan turun 0,70 persen dari 99,42 menjadi 98,72 dan NTP Subsektor Hortikultura turun 0,45 persen dari 103,54 menjadi 103,07, sedangkan NTP Subsektor Peternakan naik 1,10 persen dari 107,10 menjadi 108,28 demikian juga NTP Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat naik 0,31 persen dari 96,24 menjadi 99,54.

 Di Daerah Pedesaan Jawa Barat pada April 2015 terjadi deflasi sebesar 0,05 persen. Satu-satunya kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi adalah Kelompok Bahan Makanan sebesar 1,33 persen. Lima kelompok yang lain mengalami inflasi, yaitu Kelompok Transportasi & Komunikasi sebesar 2,19 persen, diikuti Kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau 0,84 persen, Kelompok Perumahan 0,52 persen, Kelompok Sandang 0,24 persen dan Kelompok Kesehatan 0,17 persen, sedangkan Kelompok Pendidikan, Rekreasi & Olahraga stabil pada indeks 115,93.

 Berdasarkan 232 transaksi gabah yang terpantau di Jawa Barat pada April 2015, harga rata-rata Gabah Kering Panen (GKP) di Tingkat Petani Jawa Barat sebesar Rp. 4.253,00 per kilogram atau mengalami penurunan 14,74 persen dibandingkan Maret 2015 yang tercatat sebesar Rp. 4.988,00. Gabah Kering Giling (GKG) di Tingkat Petani turun 17,22 persen dari Rp. 5.820,00 menjadi Rp. 4.818,00, sementara Gabah Kualitas Rendah di Tingkat Petani naik 13,59 persen dari Rp. 3.365,00 menjadi Rp. 3.822,36.

 April 2015, rata-rata harga beras di penggilingan sebesar Rp, 9.256,96 atau turun 6,16 persen dibandingkan harga beras Maret 2015 yang tercatat sebesar Rp, 9.864,13. Berdasarkan kualitas beras yang dikelompokkan menurut patahan (broken) beras, harga Beras Premium turun 7,16 persen dari Rp, 10.244,24 menjadi Rp, 9.510,94, Beras Medium turun 5,53 persen dari Rp, 9.948,33 menjadi Rp, 9.398,65 demikian juga Beras kualitas Rendah turun 8,00 persen dari Rp, 8.608,33 menjadi Rp, 7.920,00.

(2)

2 Berita Resmi Statistik BPS Provinsi Jawa Barat No. 26/5/32/Th.XVII, 4 Mei 2015

A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI

1.

Nilai Tukar Petani

Sebagai proxy indikator kesejahteraan petani, Nilai Tukar Petani (NTP) diperoleh dengan membandingkan Indeks Harga Diterima Petani dan Indeks Harga Dibayar Petani. Angka NTP menunjukkan kemampuan tukar (term of trade) komoditas hasil pertanian dengan barang & jasa yang konsumsi petani baik untuk keperluan rumah tangga maupun untuk proses produksi. Semakin tinggi angka NTP berarti semakin kuat kemampuan atau daya beli petani.

Berdasarkan hasil pemantauan harga di 17 kabupaten di Provinsi Jawa Barat pada April 2015, NTP Jawa Barat mengalami penurunan sebesar 2,54 persen jika dibandingkan dengan NTP Maret 2015 yaitu turun dari 105,45 menjadi 102,78. Hal ini disebabkan oleh penurunaan indeks harga hasil produksi pertanian, sementara indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi petani mengalami kenaikan. Indeks Harga Diterima Petani (IT) turun sebesar 2,51 persen sementara Indeks Harga Dibayar Petani (IB) naik sebesar 0,02 persen.

April 2015, tiga dari lima subsektor pertanian mengalami penurunan NTP yaitu NTP Subsektor Tanaman Pangan mengalami penurunan tertinggi sebesar 6,11 persen dari 109,25 menjadi 102,58, NTP Subsektor Perikanan turun 0,70 persen dari 99,42 menjadi 98,72 dan NTP Subsektor Hortikultura turun 0,45 persen dari 103,54 menjadi 103,07, sedangkan NTP Subsektor Peternakan naik sebesar 1,10 persen dari 107,10 menjadi 108,28 demikian juga aNTP Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat naik 0,31 persen dari 96,24 menjadi 96,54.

(3)

Berita Resmi Statistik BPS Provinsi Jawa Barat No. 26/5/32/Th.XVII, 4 Mei 2015 3

2. Indeks Harga Diterima Petani (IT)

Perkembangan yang terjadi pada Indeks Harga Diterima Petani (IT) menunjukkan fluktuasi harga dari komoditas-komoditas yang dihasilkan petani. April 2015, IT Gabungan dari lima subsektor pertanian turun sebesar 2,51 persen dibandingkan dengan IT Maret 2015 yaitu dari 125,66 menjadi 122,50. Bila dirinci menurut subsektor, IT Subsektor Tanaman Pangan mengalami penurunan tertinggi sebesar 6,01 persen, diikuti IT Subsektor Perikanan turun 0,78 persen dan IT Subsektor Hortikultura turun 0,46 persen, sedangkan IT Subsektor Peternakan naik 0,99 persen demikian juga IT Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat naik 0,34 persen.

3. Indeks Harga Dibayar Petani (IB)

Harga barang & jasa yang dikonsumsi petani terlihat mengalami kenaikan. April 2015, indeks harga yang dibayar petani (IB) naik 0,02 persen dari 119,17 menjadi 119,19. IB Subsektor Tanaman Pangan naik 0,11 persen demikian juga IB Tanaman Perkebunan Rakyat naik 0,03 persen. Sementara tiga subsektor lainnya mengalami penurunan IB, yaitu IB subsektor Peternakan turun 0,11 persen, IB Subsektor Perikanan turun 0,08 persen dan IB Subsektor Hortikultura turun 0,02 persen,

Di Daerah Pedesaan Jawa Barat pada April 2015 terjadi deflasi sebesar 0,05 persen. Satu-satunya kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi adalah Kelompok Bahan Makanan sebesar 1,33 persen. Lima kelompok yang lain mengalami inflasi, yaitu Kelompok Transportasi & Komunikasi sebesar 2,19 persen, diikuti Kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau 0,84 persen, Kelompok Perumahan 0,52 persen, Kelompok Sandang 0,24 persen dan Kelompok Kesehatan 0,17 persen, sedangkan Kelompok Pendidikan, Rekreasi & Olahraga stabil pada indeks 115,93.

Khusus Indeks yang dibayar petani untuk keperluan proses produksi pada April 2015 mengalami inflasi sebesar 0,26 persen. Berdasarkan kelompok pengeluaran, lima kelompok mengalami inflasi yaitu Kelompok Transportasi mengalami inflasi tertinggi sebesar 2,70 persen, diikuti Kelompok Biaya Sewa & Pengeluaran Lain 0,39 persen, Kelompok Bibit 0,24 persen, Kelompok Upah Buruh 0,15 persen dan Kelompok Penambahan Barang Modal 0,12 persen, sedangkan Kelompok Pupuk, Obat-obatan & Pakan mengalami deflasi sebesar 0,05 persen.

4. Nilai Tukar Petani (NTP) Menurut Subsektor Pertanian

a. NTP Tanaman Pangan

NTP Subsektor Tanaman Pangan pada April 2015 mengalami penurunan sebesar 6,11 persen yaitu turun dari 109,25 menjadi 102,58, hal ini disebabkan oleh indeks yang diterima petani (IT) turun 6,01 sementara indeks yang dibayar petani (IB) naik sebesar 0,11 persen. Turunnya IT Subsektor Tanaman Pangan dikarenakan oleh IT Subkelompok Padi turun sebesar 6,80 persen demikian juga IT Subkelompok Palawija turun sebesar 0,69 persen. Pada sisi pengeluaran petani, IB mengalami inflasi sebesar 0,11 persen akibat IB Subkelompok Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) mengalami inflasi sebesar 0,29 persen demikian juga IB Subkelompok Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) mengalami inflasi sebesar 0,05 persen.

(4)

4 Berita Resmi Statistik BPS Provinsi Jawa Barat No. 26/5/32/Th.XVII, 4 Mei 2015

b. NTP Hortikultura

April 2015, Nilai Tukar Petani Subsektor Hortikultura mengalami penurunan sebesar 0,45 persen, hal ini disebabkan indeks yang diterima petani (IT) turun sebesar 0,46 persen lebih tinggi dari penurunan indeks yang dibayar petani (IB) yang turun sebesar 0,02 persen. Penurunan IT diakibatkan oleh penurunan IT Subkelompok Buah-buahan yang turun sebesar 2,24 persen, sementara IT Subkelompok Sayur-sayuran mengalami kenaikan sebesar 1,49 persen demikian juga IT Subsektor Tanaman Obat naik sebesar 0,84 persen. Di sisi pengeluaran, IB Subsektor Hortikultura mengalami penurunan sebesar 0,02 persen akibat IB indeks Konsumsi Rumah Tangga turun 0,19 persen sementara IB Subkelompok Biaya Produksi & Penambahan Barang Modal mengalami kenaikan sebesar 0,55 persen.

c. NTP Tanaman Perkebunan Rakyat

NTP Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat pada April 2015 mengalami kenaikan sebesar 0,31 persen dari 96,24 menjadi 96,54, hal ini disebabkan Indeks Diterima Petani (IT) naik 0,34 persen lebih tinggi dari kenaikan Indeks Dibayar Petani (IB) yang naik sebesar 0,03 persen. Bila dirinci menurut penggunaan, IB Subkelompok Konsumsi Rumah Tangga turun 0,05 persen sementara IB Biaya Produksi & Penambahan Barang Modal naik sebesar 0,21 persen.

d. NTP Peternakan

April 2015, NTP Subsektor Peternakan berada pada posisi 108,28 tercatat mengalami kenaikan dari NTP Maret 2015 yang memiliki indeks sebesar 107,10 atau naik sebesar 1,10 persen. Indeks Diterima Petani (IT) naik 0,99 persen, semnetara Indeks yang Dibayar Petani (IB) turun sebesar 0,11 persen. Bila dirinci per subkelompok, IT Subkelompok Ternak Kecil naik 1,51 persen, IT Subkelompok Unggas naik 1,24 persen, IT Subkelompok Hasil Ternak naik 0,68 persen dan IT Subkelompok Ternak Besar naik 0,17 persen. Sementara Di sisi pengeluaran petani, Indeks Dibayar Petani (IB) mengalami penurunan sebesar 0,11 persen akibat IB Konsumsi Rumah Tangga turun sebesar 0,04 persen demikian juga IB Biaya Produksi & Penambahan Barang Modal turun sebesar 0,17 persen.

e. NTP Perikanan

Nilai Tukar Petani Subsektor Perikanan mengalami penurunan sebesar 0,70 persen yaitu dari 99,42 pada Maret 2015 menjadi 98,72 pada April 2015. Indeks Diterima Petani (IT) turun sebesar 0,78 persen lebih tinggi dari penurunan Indeks Dibayar Petani (IB) yang turun sebesar 0,08 persen. Pendapatan Petani yaitu IT Subkelompok Penangkapan Ikan turun sebesar 0,83 persen demikian juga IT Subkelompok Budidaya turun 0,78 persen. Dari sisi pengeluaran, Indeks yang dibayar (IB) turun sebesar 0,08 persen akibat IB Konsumsi Rumah tangga turun sebesar 0,31 persen sedangkan IB Biaya Produksi & Penambahan Barang Modal naik sebesar 0,41 persen.

(5)

Berita Resmi Statistik BPS Provinsi Jawa Barat No. 26/5/32/Th.XVII, 4 Mei 2015 5

Tabel 1

Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Jawa Barat per Subsektor Pertanian

serta Perubahannya (2012=100), April 2015

Subsektor Indeks Perubahan (%) Maret 2015 April 2015

[1] [2] [3] [4]

1, Tanaman Pangan

a. Indeks yang Diterima Petani (IT) 132,35 124,40 -6,01 b. Indeks yang Dibayar Petani (IB) 121,14 121,28 0,11 c. Nilai Tukar Petani (NTP-TP) 109,25 102,58 -6,11 d. Nilai Tukar Usaha Pertanian 114,02 106,86 -6,28

2, Hortikultura

a. Indeks yang Diterima Petani (IT) 125,22 124,64 -0,46 b. Indeks yang Dibayar Petani (IB) 120,94 120,92 -0,02 c. Nilai Tukar Petani (NTP-H) 103,54 103,07 -0,45 d. Nilai Tukar Usaha Pertanian 109,76 108,65 -1.01

3, Tanaman Perkebunan Rakyat

a. Indeks yang Diterima Petani (IT) 113,89 114,28 0,34 b. Indeks yang Dibayar Petani (IB) 118,34 118,38 0,03 c. Nilai Tukar Petani (NTP-R) 96,24 96,54 0,31 d. Nilai Tukar Usaha Pertanian 102,84 102,98 0,14

4, Peternakan

a. Indeks yang Diterima Petani (IT) 122,21 123,42 0,99 b. Indeks yang Dibayar Petani (IB) 114,11 113,98 -0,11 c. Nilai Tukar Petani (NTP-Pt) 107,10 108,28 1,10 d. Nilai Tukar Usaha Pertanian 113,71 115,03 1,16

5, Perikanan

a. Indeks yang Diterima Petani (IT) 117,01 116,10 -0,78 b. Indeks yang Dibayar Petani (IB) 117,70 117,60 -0,08 c. Nilai Tukar Petani (NTP-Pi) 99,42 98,72 -0,70 d. Nilai Tukar Usaha Pertanian 107,46 106,18 -1,19

6, Gabungan

a. Indeks yang Diterima Petani (IT) 125,66 122,50 -2,51 b. Indeks yang Dibayar Petani (IB) 119,17 119,19 -0,02 c. Nilai Tukar Petani (NTP) 105,45 102,78 -2,54 d. Nilai Tukar Usaha Pertanian 111,31 108,23 -2,76

(6)

6 Berita Resmi Statistik BPS Provinsi Jawa Barat No. 26/5/32/Th.XVII, 4 Mei 2015

Tabel 2

Indeks Harga Diterima Petani, Indeks Harga Dibayar Petani

per Subkelompok Pengeluaran serta Perubahannya [2012=100], April 2015

Kelompok/Sub Kelompok

Indeks Gabungan Subsektor

Maret 2015 April 2015

Perubahan April 2015 Thd

Maret 2015

[1] [2] [3] [4]

1. INDEKS HARGA YANG DITERIMA

PETANI 125,66 122,50 -2,51

2. INDEKS HARGA YANG DIBAYAR

PETANI 119,17 119,19 0,02

2.1. KONSUMSI RUMAH TANGGA 122,99 122,93 -0,05

2.1.1. Bahan Makanan 129,10 127,38 -1,33 2.1.2. Makanan Jadi 121,09 122,12 0,84 2.1.3. Perumahan 117,12 117,73 0,52 2.1.4. Sandang 115,66 115,93 0,24 2.1.5. Kesehatan 112,05 112,24 0,17 2.1.6. Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga 115,93 115,93 0,00 2.1.7. Transportasi dan Komunikasi 122,82 125,51 2,19

2.2 BIAYA PRODUKSI DAN PENAMBAHAN 112,90 113,18 0,26 BARANG MODAL

2.2.1. Bibit 113,31 113,59 0,24 2.2.2. Pupuk dan Obat-obatan 110,27 110,21 -0,05 2.2.3. Biaya Sewa dan Pngeluaran Lain 109,60 110,02 0,39 2.2.4. Transportasi 129,85 133,36 2,70 2.2.5. Penambahan Barang Modal 111,04 111,17 0,12 2.2.6. Upah Buruh 114,61 114,78 0,15

3. NILAI TUKAR PETANI 105,45 102,78 -2,54

(7)

Berita Resmi Statistik BPS Provinsi Jawa Barat No. 26/5/32/Th.XVII, 4 Mei 2015 7

5.

Perbandingan NTP Enam Provinsi di Pulau Jawa

Keenam provinsi di Pulau Jawa serentak mengalami penurunan NTP pada April 2015. Penurunan NTP tertinggi terjadi di Jawa Barat yaitu turun sebesar 2,54 persen, kemudian NTP Banten turun 2,19 persen, NTP Jawa Tengah turun 2,08 persen, NTP Jawa Timur turun 1,44 persen, NTP DI Yogyakarta turun 0,78 persen dan NTP DKI Jakarta turun 0,53 persen. Secara Nasional, NTP April 2015 dibandingkan Maret 2015 juga mengalami penurunan sebesar 1,37 persen yaitu dari 101,53 menjadi 100,14.

Tabel 3

Perbandingan NTP Enam Provinsi di Pulau Jawa

dan Nasional [2012=100], April 2015

Provinsi NTP Perubahan (%) Maret 2015 April 2015 [1] [2] [3] [4] DKI Jakarta 99,42 98,89 -0,53 Jawa Barat 105,45 102,78 -2,54 Jawa Tengah 99,92 97,84 -2,08 DI Yogyakarta 99,48 98,71 -0,78 Jawa Timur 104,32 102,82 -1,44 Banten 105,09 102,79 -2,19 Nasional 101,53 100,14 -1,37

(8)

8 Berita Resmi Statistik BPS Provinsi Jawa Barat No. 26/5/32/Th.XVII, 4 Mei 2015

B. PERKEMBANGAN HARGA PRODUSEN GABAH

Berdasarkan 232 transaksi gabah yang terpantau di Jawa Barat pada April 2015, harga rata-rata Gabah Kering Panen (GKP) di Tingkat Petani Jawa Barat sebesar Rp. 4.253,00 per kilogram atau mengalami penurunan 14,74 persen dibandingkan harga GKP Maret 2015 yang tercatat sebesar Rp. 4.988,00. Gabah Kering Giling (GKG) di Tingkat Petani turun 17,22 persen dari Rp. 5.820,00 menjadi Rp. 4.818,00, sementara Gabah Kualitas Rendah DI Tingkat Petani naik 13,59 persen dari Rp. 3.365,00 menjadi Rp. 3.822,36. Hal ini terjadi karena panen raya yang terjadi di sentra produksi padi Jawa Barat.

Gambar 1

Perkembangan Harga Rata-rata Gabah di Tingkat Petani Jawa Barat (Rp/Kg)

1, Harga Gabah Tertinggi dan Terendah

April 2015, jumlah transaksi yang terpantau melalui Survei Monitoring Gabah di Jawa Barat berjumlah 232 transaksi yang tersebar di 15 Kabupaten, diantaranya transaksi GKP sebanyak 188 observasi (81,03 persen), transaksi GKG sebanyak 22 observasi (9,48 persen) dan transaksi Gabah Kualitas Rendah sebanyak 22 observasi (9,48 persen). Dari hasil pengamatan harga, GKP di Tingkat Petani yang terendah sebesar Rp, 3,600,00 per kilogram terjadi di Kabupaten Cianjur (5 observasi) dengan harga di tingkat penggilingan sebesar Rp, 3.750,00 akibat adanya ongkos angkut dari lokasi transaksi GKP ke penggilingan terdekat sebesar Rp, 150,00 per kilogram. Sementara harga GKP tertinggi di Tingkat Petani sebesar Rp, 5.500,00 dijumpai di Kabupaten Bekasi (1 observasi) dengan harga di tingkat penggilingan sebesar Rp, 5.670,00.

Untuk kualitas GKG di Jawa Barat pada April 2015, terhitung rata-rata harga GKG di Tingkat Penggilingan sebesar Rp. 4.907,00 per kilogram. Harga GKG Penggilingan terendah sebesar Rp, 4.350,00 per kilogram dijumpai di Kabupaten Bandung (5 observasi), Harga GKG Penggilingan tertinggi sebesar Rp, 6.000,00 per kilogram juga terjadi di Kabupaten Bandung (2 observasi). Dari hasil pemantauan transaksi gabah pada April 2015 di Jawa Barat, harga transaksi Gabah GKP di Kabupaten Cianjur sebanyak 8 observasi berada di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP) baru yaitu berdasarkan Inpres Nomor 5 tahun 2015, sedangkan untuk GKG seluruh transaksi berada di atas HPP.

(9)

Berita Resmi Statistik BPS Provinsi Jawa Barat No. 26/5/32/Th.XVII, 4 Mei 2015 9

Tabel 4

Jumlah Observasi Gabah, Harga Gabah serta

Harga Pembelian Pemerintah (HPP) menurut Kelompok Kualitas Gabah di Jawa Barat, April 2015

Kelompok Kualitas Gabah Jumlah Observasi (%)

Harga Gabah di Tingkat Petani (Rp/Kg) Rata-rata Harga di Tingkat Penggilingan

HPP di Tingkat Penggilingan Terendah Tertinggi Rata-Rata

[1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] GKG 22 (9,48 %) 4.300,00 5.900,00 4.818,00 4.907,00 4.600,00 GKP 188 (81,03 %) 3.600,00 5.500,00 4.253,00 4.371,33 3.750,00 Rendah 22 (9,48 %) 3.100,00 5.600,00 3.822,36 3.947,14 - Jumlah 232 (100,00 %) Keterangan :

GKG (Gabah Kering Giling) : Kadar Air ≤ 14,00 % dan Kadar Hampa/Kotoran ≤ 3,00 %

GKP (Gabah Kering Panen) : Kadar Air (14,01 % - 25,00 %) dan Kadar Hampa/Kotoran (3,01 % - 10,00 %) Rendah (di luar Kualitas) : Kadar Air > 25,00 % dan Kadar Hampa/Kotoran > 10,00 %

2. Kasus Gabah Kualitas Rendah

Transaksi Gabah Kualitas Rendah pada April 2015 terpantau ada sebanyak 22 observasi dari total transaksi 232 atau 9,48 persen, yaitu terjadi di Kabupaten Sukabumi sebanyak 12 observasi, di Kabupaten Bogor sebanyak 5 observasi dan di Kabupaten Ciamis sebanyak 5 observasi. Harga terendah Gabah Kualitas Rendah di Tingkat Petani sebesar Rp, 3.100,00,00 per kilogram terjadi di Kabupaten Sukabumi (1 observasi) sedangkan harga Gabah Kualitas Rendah tertinggi sebesar Rp, 5.600,00 terjadi di Kabupaten Ciamis (1 observasi).

C. PERKEMBANGAN HARGA BERAS DI TINGKAT PENGGILINGAN

Pemantauan harga beras di tingkat penggilingan pada April 2015 dilakukan di 15 Kabupaten Jawa Barat yang tersebar di 35 Kecamatan dengan jumlah observasi sebanyak 79. Diantaranya observasi Beras Premium sebanyak 32 observasi (40,51 persen), Beras Medium 37 observasi (46,84 persen), Beras kualitas Rendah 10 observasi (12,66 persen). Pada April 2015, rata-rata harga beras di penggilingan sebesar Rp, 9.256,96 atau turun 6,16 persen dibandingkan harga beras Maret 2015 yang tercatat sebesar Rp, 9.864,13. Berdasarkan kualitas beras yang dikelompokkan menurut patahan (broken) beras, harga Beras Premium turun 7,16 persen dari Rp, 10.244,24 menjadi Rp, 9.510,94, Beras Medium turun 5,53 persen dari Rp, 9.948,33 menjadi Rp, 9.398,65 demikian juga Beras kualitas Rendah turun 8,00 persen dari Rp, 8.608,33 menjadi Rp, 7.920,00.

Perkembangan harga beras di penggilingan menunjukkan pola yang fluktuatif. Sepanjang April 2014 sampai April 2015, penurunan harga terjadi di enam bulan terakhir yaitu April, Mei, Agustus dan September 2014 serta Maret dan April 2015. Dalam rentang waktu itu rata-rata harga beras terendah sebesar Rp, 8.270,00 per kilogram yaitu terjadi pada Mei 2014.

(10)

10 Berita Resmi Statistik BPS Provinsi Jawa Barat No. 26/5/32/Th.XVII, 4 Mei 2015

Gambar 2

Perkembangan Harga Beras di Tingkat Penggilingan

Di Jawa Barat (Rp/Kg)

Tabel 5

Rata-rata Harga Beras di Tingkat Penggilingan

Menurut Kelompok Kualitas Beras di Jawa Barat

Kelompok Kualitas

Rata-rata Harga Beras di Tingkat Penggilingan (Rp/Kg) Apr 2014 Mei 2014 Juni 2014 Juli 2014 Ags 2014 Sept 2014 Okt 2014 Nov 2014 Des 2014 Jan 2015 Feb 2015 Mar 2015 Apr 2015 [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] [10] [11] [12] [13] [14] Premium 8.533 8.589 8.517 8.755 8.772 8.652 8.785 8.745 9.346 9.377 10.100 10.244 9,511 Medium 8.436 8.057 8.372 8.570 8.252 8.184 8.450 8.483 8.940 9.364 10.062 9.948 9,399 Rendah 8.225 7.846 7.629 7.665 7.733 7.813 8.086 8.382 8.732 9.121 9.600 8.608 7,920 Rata-rata 8.427 8.270 8.305 8.470 8.411 8.352 8.561 8.598 9.140 9.330 10.053 9.864 9,257 Keterangan :

Premium : Kadar Broken ≤ 10,00 % Medium : Kadar Broken (10,01 % - 20,00 %) Rendah : Kadar Broken > 20,00 %

6000.00 7000.00 8000.00 9000.00 10000.00 11000.00

APR'14 JUNI'14 AGS'14 OKT'14 DES'14 FEB'15 APR'15

PREMIUM MEDIUM RENDAH RATA-RATA

Referensi

Dokumen terkait

Metode ini bekerja dengan melakukan operasi baris elementer terhadap matrik yang diperoleh dari system persamaan linear yang diketahui.. Pada saat implementasi dalam program

Pengukuran kandungan timbal dalam sampel kangkung darat dan kangkung air dimulai dengan pengukuran absorbansi larutan standar timbal (Pb) menggunakan Spektrofotometri

Rumusan maslah dari penelitian ini adalah (1) Bagaimana nilai kosa kata siswa sebelum mereka diajar menggunakan permainan bingo.. (2) Bagaimana nilai kosa kata siswa sesudah

Telekomunikasi Indonesia Tbk adalah baik jika dilihat dari net profit margin, return on asset, dividend payout ratio, price earning ratio, price book value, walaupun

4) Perubahan paradigma dan prinsip dasar untuk yang melayani: a) Mendengar suara Tuhan langsung mengenai masalah dll. b) Menolong orang lain untuk mendengar suara Tuhan

antigen dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan dengan tes PCR Swab. Sebagai informasi, metode RT LAMP ini diperkirakan memiliki sensitivitas 94% dan hanya memerlukan

Sehingga tidak disarankan untuk mengidentifikasikan waktu baku suatu pekerjaan yang mempunyai siklus pengulangan yang tinggi.  Adanya

bahwa berdasarkan Pasal 68 Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah Nomor 84 Tahun 2000 tentang Pedoman