ANALISIS TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN (CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY/CSR) SEBAGAI UPAYA PENGEMBANGAN MASYARAKAT

138  Download (0)

Teks penuh

(1)

PENGEMBANGAN MASYARAKAT

(Studi Kasus Pengembangan Perekonomian Lokal Melalui Program Kemitraan PT ANTAM Tbk di Tanjung Barat, Jakarta)

Oleh :

FAUZIA HERLIN

A14204041

PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

(2)

Social Responsibility/CSR) sebagai Upaya Pengembangan Masyarakat. (Di bawah bimbingan FREDIAN TONNY NASDIAN).

Isu mengenai Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) hingga saat ini merupakan isu yang sedang banyak diperbincangkan oleh berbagai aktivis maupun civitas akademika. Salah satu definisi mengenai CSR yaitu definisi yang dikemukakan oleh The Word Business Council for Sustainable Development (WBCSD), sebuah lembaga internasional yang berdiri tahun 1995 (dalam Wibisono, 2007). Terkait dengan hal tersebut, CSR didefinisikan sebagai komitmen dunia usaha untuk terus menerus bertindak secara etis, beroperasi secara legal dan berkontribusi untuk peningkatan ekonomi, bersamaan dengan peningkatan kualitas hidup dari karyawan dan keluarganya sekaligus juga peningkatan kualitas komunitas lokal dan masyarakat secara luas.

CSR penting untuk dilakukan oleh perusahaan terutama oleh perusahaan yang kegiatan operasinya menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat maupun lingkungan sekitar. CSR tersebut dianggap penting karena pada kenyataannya terdapat perusahaan yang memiliki hubungan yang tidak harmonis dengan masyarakat (konflik) karena masyarakat atau komunitas lokal merasa terganggu dengan aktivitas perusahaan. Akan tetapi, selain terdapat perusahaan yang memiliki hubungan yang tidak harmonis, terdapat pula perusahaan yang memiliki hubungan yang cukup harmonis dengan masyarakat karena perusahaan tersebut telah menerapkan CSR dengan baik. Penerapan CSR tersebut dilakukan sebagai

(3)

Penelitian ini secara garis besar bertujuan untuk mengungkap fenomena tanggung jawab sosial yang dilakukan oleh perushaan. Fenomena tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang terdapat di perusahaan dapat digambarkan dengan menjawab tiga pertanyaan yang menjadi perumusan masalah dalam penelitian yaitu pandangan perusahaan terhadap CSR, strategi perusahaan dalam melaksanakan program CSR, serta manfaat yang dirasakan oleh perusahaan maupun masyarakat yang menerima program. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif dengan studi kasus berupa studi kasus instrinsik. Studi kasus intrinsik dipilih karena peneliti ingin mengkaji suatu kasus khusus untuk memperoleh wawasan atas suatu isu atau sebagai pendukung yang membantu peneliti dalam memahami konsep tanggung jawab sosial PT Antam Tbk.

Kegiatan CSR dilakukan oleh PT Antam Tbk sejak tahun 2005. Program yang menjadi studi kasus pada penelitian ini adalah Program Kemitraan sebagai program untuk meningkatkan perekonomian lokal. Program Kemitraan ini merupakan program yang memiliki tujuan untuk menjadikan mitra binaan mandiri dan meningkat skala usahanya. Salah satu kegiatan yang dibahas pada program kemitraan ini yaitu kegiatan pameran hasil karya mitra binaan Antam yang berlangsung di Jakarta.

CSR PT Antam Tbk pada Program Kemitraan dapat dikatakan belum berbasis pada pemberdayaan. Hal tersebut dikarenakan belum adanya partisipasi dari mitra binaan dalam tahap-tahap penerapan CSR. Karakteristik CSR yang

(4)

CSR PT Antam Tbk mencakup misi, pengelolaan, pengorganisasian, penerima manfaat, kontribusi serta inspirasi.

Cara pandang PT Antam Tbk terhadap CSR tergolongkan menjadi dua kategori. Kategori pertama adalah sebagai upaya untuk memenuhi kewajiban (compliance), karena terdapat suatu regulasi pada Program Kemitraan PT Antam Tbk yang mengacu pada Keputusan Menteri BUMN No.236/MBU/2003 tentang pelaksanaan Program Kemitraan. Kategori kedua adalah sebagai dorongan tulus dari perusahaan karena terdapatnya kebijakan PT Antam Tbk dalam bentuk misi dan komitmennya untuk berbagi dengan masyarakat. Strategi yang dijalankan oleh PT Antam Tbk pada Program Kemitraan telah mengacu pada tahap-tahap penerapan CSR yang terwujud dalam bentuk Standar Kerja Program Kemitraan PT Antam Tbk.

Penerapan CSR yang dilakukan PT Antam Tbk memiliki manfaat bagi PT Antam Tbk maupun bagi penerima program. Manfaat yang diperoleh PT Antam Tbk yaitu keberlanjutan dalam menjalankan aktivitas perusahaan, perolehan social license, perolehan penghargaan melalui CSR Award tahun 2006, serta terwujudnya hubungan yang baik antara perusahaan dengan pemerintah maupun masyarakat yang menerima program. Manfaat yang diperoleh 3 mitra binaan PT Antam Tbk yaitu peningkatan keuntungan dari segi ekonomi, penambahan pengetahuan mengenai cara pembukuan melalui pelatihan dari segi pengetahuan, serta meningkatkan peluang untuk meraih kegiatan usaha yang lebih maju dari segi promosi.

(5)

UPAYA PENGEMBANGAN MASYARAKAT

(Studi Kasus Pengembangan Perekonomian Lokal Melalui Program Kemitraan PT ANTAM Tbk di Tanjung Barat, Jakarta)

Oleh: Fauzia Herlin

A14204041

SKRIPSI

Sebagai Syarat untuk Mendapatkan Gelar Sarjana pada

Program Studi Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat Fakultas Pertanian

Institut Pertanian Bogor

Program Studi Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat Fakultas Pertanian

Institut Pertanian Bogor 2008

(6)

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Dengan ini menyatakan bahwa Skripsi yang disusun oleh :

Nama : Fauzia Herlin

No. Pokok : A14204041

Judul : Analisis Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) Sebagai Upaya Pengembangan Masyarakat

Dapat diterima sebagai syarat kelulusan untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Program Studi Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Menyetujui, Dosen Pembimbing

Ir. Fredian Tonny Nasdian, MS NIP. 131 475 577

Menyetujui, Fakultas Pertanian

Dekan

Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M. Agr. NIP. 131 124 019

(7)

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL “ANALISIS TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN (CORPORATE

SOCIAL RESPONSIBILITY/CSR) SEBAGAI UPAYA PENGEMBANGAN

MASYARAKAT” (Studi Kasus Pengembangan Perekonomian Lokal Melalui Program Kemitraan PT Antam Tbk di Tanjung Barat, Jakarta) INI BENAR-BENAR MERUPAKAN HASIL KARYA YANG BELUM PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI KARYA ILMIAH PADA SUATU PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN DAN JUGA BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI SERTA TIDAK MENGANDUNG BAHAN-BAHAN YANG PERNAH DITULIS ATAU DITERBITKAN OLEH PIHAK LAIN KECUALI SEBAGAI BAHAN RUJUKAN YANG DINYATAKAN DALAM NASKAH. DEMIKIAN PERNYATAAN INI SAYA BUAT DENGAN SESUNGGUHNYA DAN SAYA BERSEDIA MEMPERTANGGUNG-JAWABKAN PERNYATAAN INI.

Bogor, Juni 2008

(8)

bernama Hefrizal dan Ibu Nuraeli. Penulis merupakan anak kedua dari 2 bersaudara dengan kakak bernama Nisafitri Amalia.

Pendidikan formal yang dilalui penulis yaitu tahun 1992 SDN 06 Petang Kelapa Gading Timur Jakarta Utara dan lulus pada tahun 1998, SLTPN 123 Kelapa Gading Jakarta Utara dan lulus tahun 2001, SMU Negeri 45 Kelapa Gading Jakarta Utara dan lulus pada tahun 2004. Pada tahun yang sama penulis diterima di Institut Pertanian Bogor melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Penulis masuk di Program Studi Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian.

Selama mengikuti kegiatan perkuliahan, menulis pernah mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) MAX!! pada tahun 2005. Selain itu penulis juga mengikuti kegiatan kepanitiaan seperti kegiatan masa orientasi/perkenalan mahasiswa baru “PERMEN KPM”. Pelatihan yang pernah diikuti oleh penulis adalah pelatihan dalam bidang juralistik dengan nama “English Journalistic Training”. Penulis juga aktif mengikuti kegiatan seni musik dalam bentuk band di beberapa kegiatan IPB seperti Hari Pelepasan Sarjana (HPS) dan dalam Pekan Olahraga Mahasiswa Sosial Ekonomi (POROS 2006) dengan nama grup band “Proximity”.

(9)

atas rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) Sebagai Upaya Pengembangan Masyarakat”. Penulisan skripsi ini merupakan syarat untuk mendapatkan gelar sarjana pada Program Studi Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada:

1. Ir. Fredian Tonny Nasdian, MS sebagai dosen pembimbing skripsi, terima kasih atas bimbingan, motivasi, koreksi, pemikiran serta sarannya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

2. Dr. Ninuk Purnaningsih sebagai dosen penguji utama dalam sidang skripsi. 3. Martua Sihaloho, Msi sebagai dosen penguji dari Komisi Pendidikan.

4. Keluarga tercinta (mamah, papah dan uni) yang selalu setia menemani dengan motivasi, semangat, doa, perhatian dan kasih sayangnya yang begitu besar.

5. Mpok-mpok DR’ers (Green House C11), Anyu, Amie, Yoyo, Meita, Mira, Yundhe, Oline, Wulan, Marisa, Resty, serta temanku Andhini, Dewi dan Uchie. Terimakasih atas perhatiannya yang begitu besar, semangat dan dukungannya, dan semua cerita yang pernah dilalui bersama.

(10)

8. Semua pihak yang telah memberikan dorongan, semangat, bantuan dan doanya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan oleh penulis.

Akhirnya penulis mengharapkan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang terkait.

Bogor, Juni 2008

(11)

Halaman

DAFTAR ISI... i

DAFTAR TABEL...

DAFTAR GAMBAR...

DAFTAR LAMPIRAN...

iii

iv

vi

BAB I PENDAHULUAN... 1

1.1 Latar Belakang... 1

1.2 Perumusan Masalah... 6

1.3 Tujuan Penelitian... 9

1.4 Kegunaan Penelitian... 10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 11

2.1 Pendekatan Teoritis... 11

2.1.1 Konsep CSR (Corporate Social Responsibility)... 11

2.1.2 Konsep Pengembangan masyarakat (Community Development)... 23

2.1.3 Konsep Pemberdayaan Masyarakat... 26

2.1.4 CSR dalam BUMN... 29

2.2 Kerangka Pemikiran... 31

2.3 Hipotesis Pengarah... 34

BAB III METODE PENELITIAN... 35

3.1 Pendekatan Penelitian... 35

3.2 Waktu dan Tempat Penelitian... 35

(12)

3.4 Metode Pengumpulan Data... 37

3.4.1 Wawancara Mendalam... 38

3.4.2 Pengamatan Berperanserta...

39

3.4.3 Penelusuran Dokumen... 39

3.5 Teknik Pengolahan dan Analisis Data... 40

3.5.1 Reduksi Data... 40

3.5.2 Penyajian Data... 41

3.5.3 Penarikan Kesimpulan... 41

BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI... 42

4.1 Sejarah Singkat Perusahaan... 42

4.2 Visi dan Misi PT Antam Tbk... 42

4.3 Struktur Organisasi PT Antam Tbk... 46

4.4 CSR PT Antam Tbk... 48

4.5 Mitra Binaan PT Antam Tbk... 53

4.6 Ikhtisar... 55

BAB V PANDANGAN PERUSAHAAN TERHADAP CSR (CORPORATE

SOCIAL RESPONSIBILITY)……….

58

5.1 Kebijakan PT Aneka Tambang TBk Mengenai CSR (Corporate Social

Responsibility)...

58

5.2 Pandangan PT Antam Tbk terhadap CSR (Corporate Social Responsibility) 60

5.3 Ikhtisar... 66

BAB VI STRATEGI DAN MANFAAT PROGRAM KEMITRAAN... 69

6.1 Prosedur Pelaksanaan Program Kemitraan PT Antam Tbk... 69

(13)

6.3 Manfaat Penerapan CSR sebagai Upaya Pengembangan Masyarakat Bagi

Perusahaan...

78

6.4 Manfaat Penerapan CSR sebagai Upaya Pengembangan Perekonomian

Lokal Bagi Penerima Program Kemitraan PT Antam Tbk...

80

6.5 Ikhtisar... 85

BAB VII TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN (CORPORATE

SOCIAL RESPONSIBILITY/CSR) SEBAGAI UPAYA

PENGEMBANGAN MASYARAKAT: SUATU ANALISIS...

89

BAB VIII PENUTUP... 98

8.1 Kesimpulan... 98

8.2 Saran... 101

(14)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1. Tahap-tahap Kedermawanan Sosial Perusahaan... 16

Tabel 2. Fase Pergeseran Paradigma CSR... 20

(15)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Kerangka Pemikiran... 32

Gambar 2. Struktur Organisasi PT Antam Tbk... 47

Gambar 3. Struktur Koordinasi CSR Group PT Antam Tbk... 50

(16)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1 Jadwal Penelitian... 103

Lampiran 2 Konsep Pemilihan Subyek Tineliti... 104

Lampiran 3 Teknik Pengumpulan Data dan Kebutuhan Data bagi Penelitian... 105

Lampiran 4 Panduan Pertanyaan sebagai Pedoman Wawancara... 108

Lampiran 5 Kasus-Kasus Mitra Binaan PT Antam Tbk... 114

Lampiran 6 Dokumentasi Penelitian... 119

Lampiran 7 Sebaran Lokasi Daerah Operasi PT Antam Tbk………. 121

Lampiran 8 Peta Jakarta Selatan (Daerah Kantor Pusat PT Antam Tbk)……….. 122

(17)

1.1 Latar Belakang

Perusahaan sebagai pelaku dalam dunia usaha memiliki tujuan yang berorientasi pada pencapaian laba semaksimal mungkin. Jika dilihat secara sepintas, maka tujuan tersebut memang merupakan salah satu hal yang dapat membangkitkan atau mengembangkan posisi perusahaan di kalangan bisnis atau dunia usaha. Akan tetapi, aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh setiap perusahaan tersebut menimbulkan tanggung jawab bagi perusahaan untuk menjaga keseimbangan dengan lingkungannya, misalnya perusahaan pertambangan yang berlokasi dekat dengan pemukiman suatu komunitas. Perusahaan pertambangan tersebut, harus melakukan tanggung jawabnya tidak hanya pada lingkungan alam yang dieksploitasi, tetapi juga pada masyarakat sekitar (komunitas lokal) yang secara langsung atau tidak langsung terkena dampak dari aktivitas perusahaan. Oleh karena itu, tanggung jawab sosial perusahaan penting untuk dilakukan.

Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan komitmen dunia usaha untuk terus menerus bertindak secara etis, beroperasi secara legal dan berkontribusi untuk peningkatan ekonomi, bersamaan dengan peningkatan kualitas hidup dari karyawan dan keluarganya sekaligus juga peningkatan kualitas komunitas lokal dan masyarakat secara luas (The Word Business Council for Sustainable Development (WBCSD) dalam Wibisono, 2007). Menurut Sukada, dkk (2007) CSR merupakan segala upaya manajemen yang dijalankan entitas

(18)

bisnis untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan berdasar keseimbangan pilar ekonomi, sosial, dan lingkungan, dengan meminimumkan dampak negatif dan memaksimumkan dampak positif di setiap pilar.

Perusahaan di Indonesia melakukan kegiatan terencana untuk sampai kepada tujuan yang telah mereka tentukan. Pencapaian tujuan tersebut dapat melewati berbagai proses pelaksanaan kegiatan dimana tidak hanya mengikutsertakan satu pihak saja (dalam hal ini perusahaan itu sendiri), tetapi juga secara langsung ataupun tidak langsung terkait dengan pihak luar. Pihak luar tersebut misalnya pemerintah, negara asing, masyarakat dan lembaga-lembaga sosial. Tak lepas dari pihak luar tersebut, maka perusahaan-perusahaan banyak melakukan kerjasama dengan pihak yang mendukung pada mencapaian tujuan, khususnya menyangkut kepentingan perusahaan.

Pelaksanaan kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan dapat memiliki kendala yang dapat disebabkan oleh kekurangsigapan perusahaan dalam menangani permasalahannya. Perusahaan-perusahaan tersebut harus mampu menjaga keseimbangannya dengan memperhatikan pihak lain yang dapat mempengaruhi perkembangan perusahaan yang salah satunya yaitu masyarakat. Masyarakat merupakan salah satu pihak yang terkait dengan berbagai kegiatan pembangunan, termasuk kegiatan yang dilaksanakan oleh perusahaan. Masyarakat (dalam hal ini komunitas lokal), memegang peranan sebagai pihak yang dapat terkena dampak sosial, politik, ekonomi maupun dampak lingkungan dari kegiatan perusahaan. Untuk itu pentingnya dilakukan CSR untuk menjaga keharmonisan antar stakeholder maupun meningkatkan pertumbuhan perusahaan.

(19)

Salah satu permasalahan perusahaan yang menyangkut tanggung jawab sosialnya yaitu masalah yang terjadi antara pihak perusahaan dengan masyarakat sekitar sebagai komunitas lokal. Komunitas lokal merasa bahwa kedatangan perusahaan ke wilayah mereka tidak memberikan kompensasi yang berarti atau bahkan merugikan masyarakat (misalnya dengan terjadinya kerusakan alam dan pencemaran lingkungan tempat tinggal komunitas lokal akibat kegiatan operasi perusahaan). Alasan yang memicu terjadinya masalah yaitu tidak terdapatnya wujud tanggung jawab sosial perusahaan yang mampu membangun kondisi sosial yang harmonis antara komunitas lokal dengan pihak perusahaan.

Sebagai pelaku bisnis dalam dunia usaha, maka terdapat hal menarik yang dapat mendukung penelitian mengenai CSR atau dalam istilah di Indonesia dikenal dengan tangung jawab sosial perusahaan. Berdasarkan data yang didapat melalui penelusuran dari berbagai sumber tertulis dapat diketahui bahwa terdapat perusahaan di Indonesia pada saat ini telah melakukan tanggung jawab sosialnya, bahkan terdapat beberapa perusahaan yang telah mendapatkan penghargaan atas program CSR yang dilakukannya. Salah satu contohnya yaitu perusahaan yang berproduksi di bidang kimia yang memperoleh penghargaan CSR (CSR Award) karena dianggap telah memiliki komitmen CSR yang kuat yang akan berdampak pada lancarnya operasional perusahaan, serta perolehan citra dan reputasi yang positif (Wibisono, 2007). Selain itu terdapat pula salah satu perusahaan pertambangan di Indonesia yang berhasil memperoleh lima penghargaan sekaligus

(20)

memperoleh nilai tertinggi untuk semua kategori dari seluruh program yang dilombakan pada tahun 20051.

Sumbangan sosial perusahaan memiliki dua dimensi (Saidi,dkk 2003). Dimensi tersebut adalah karitas (charity) dan filantropi. Karitas adalah memberi bantuan yang sifatnya sesaat, sedangkan filantropi adalah sumbangan yang ditujukan untuk kegiatan investasi sosial atau kegiatan yang diarahkan pada penguatan kemandirian masyarakat. Hasil penelitian yang dilakukan oleh PIRAC terhadap 226 perusahaan di Indonesia terkait dengan sumbangan sosial perusahaan menyatakan bahwa secara umum sumbagan yang diberikan perusahaan tidak dilakukan secara terencana dan terfokus serta lebih bersifat insidentil atau hanya sekedar merespon permintaan sumbangan (Saidi,dkk 2003). Hasil penelitian tersebut juga menyatakan bahwa sumbangan sosial perusahaan belum berdimensi filantropi. Hal ini dibuktikan dengan beberapa temuan dari penelitian tersebut sebagai berikut:

1. Proporsi perusahaan yang memiliki kebijakan formal mengenai sumbangan tergolong kecil. Hal tersebut ditunjuukan oleh hasil survey bahwa dari 226 perusahaan, hanya 18 persen yang memiliki kebijakan tertulis mengenai sumbangan.

2. Hanya sedikit perusahaan yang menyediakan staf khusus untuk menangani sumbangan sosial. Hal tersebut ditunjuukan dari hasil survey

       1

. 2007. Penanaman Pohon Bakau Aneka Tambang. www.duaberita.com. Diakses tanggal 2 Maret 2008.

(21)

bahwa hanya empat persen (10 perusahaan) yang mengaku memiliki staf khusus untuk menangani sumbangan.

3. Proporsi perusahaan yang membentuk divisi khusus atau yayasan yang menangani sumbangan juga sangat kecil (hanya tiga persen dari seluruh responden).

4. Perusahaan yang menyumbang hanya sekedar respon permintaan lebih banyak daripada mendesain suatu rencana aktivitas sosial (60 persen hasil survey menyatakan bahwa perusahaan selalu memberikan sumbangan secara insidentil).

5. Sekitar satu dari lima perusahaan atau 21 persen menentukan target jumlah sumbangan sejak awal tahun fiskal, sebaliknya 62 persen lainnya menyatakan tidak ada target tertentu untuk itu.

Program CSR yang dijalankan perusahaan beserta penghargaan CSR yang diperoleh perusahaan dan hasil penelitian PIRAC di atas menimbulkan pemikiran dan memotivasi penelitian ini untuk mengkaji mengenai pandangan perusahaan dalam rangka penerapan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), strategi yang dilakukan oleh perusahaan dalam melakukan tanggung jawab sosialnya, manfaat yang diperoleh perusahaan maupun stakeholder terkait (dalam hal ini komunitas lokal) dari program CSR yang dijalankan pada studi kasus yang berbeda. Hal yang akan menjadi pertanyaan secara garis besar dari penjelasan di atas yaitu bagaimana fenomena tanggung jawab sosial perusahaan di kalangan dunia usaha (perusahaan).

(22)

1.2 Perumusan Masalah

Hingga saat ini telah banyak diungkapkan berbagai teori mengenai CSR yang merupakan suatu bentuk tanggung jawab sosial perusahaan dalam mewujudkan citra positifnya. CSR merupakan komitmen dunia usaha untuk bertindak secara etis untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat atau komunitas lokal. CSR telah diterapkan oleh beberapa perusahaan dalam bentuk suatu program yang ditujukan untuk kepentingan perusahaan maupun masyarakat atau komunitas lokal yang berada di sekitar berdirinya perusahaan. Salah satunya yaitu kegiatan yang diselenggarakan oleh perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan melalui kegiatan CSRnya dengan melakukan penanaman 10.000 pohon bakau bersama dengan masyarakat setempat di kawasan Jakarta pada akhir tahun 2007. Program tersebut terselenggara sebagai wujud nyata dari pihak perusahaan terhadap tanggung jawab sosialnya dengan turut memberdayakan masyarakat. Berdasarkan wujud konkret dari CSR yang telah dilakukan oleh perusahaan, maka dapat diangkat suatu kasus mengenai tanggung jawab sosial yang terjadi pada perusahaan dalam lingkup BUMN. Hal yang menarik perhatian untuk dikaji terkait dengan hal tersebut yaitu, bagaimana fenomena tanggung jawab sosial perusahaan sebagai upaya pengembangan masyarakat? Fenomena tanggung jawab sosial yang dilakukan oleh perusahaan dapat dilihat dengan cara perusahaan dalam memandang konsep CSR itu sendiri. Cara pandang perusahaan terhadap CSR terdiri dari beberapa jenis yaitu external driven, environmental driven, reputation driven, compliance, internal driven. External driven merupakan cara pandang perusahaan yang terkait dengan faktor di luar perusahaan. External driven ini terdiri dari environmental driven yang berari

(23)

bahwa perusahaan melakukan CSR karena ada dampak negatif terhadap lingkungan akibat kegiatan perusahaan. External driven juga terdiri dari reputation driven yang berarti bahwa perusahaan melakukan CSR karena ingin mendongkrak citra perusahaan. Compliance merupakan cara pandang perusahaan yang berarti bahwa perusahaan melakukan CSR karena ada peraturan atau hukum yang mengaturnya, sedangkan internal driven berarti bawha perusahaan melakukan CSR karena ada dorongan tulus dari perusahaan untuk melakukan CSR.

Teori mengenai cara pandang perusahaan terhadap CSR tersebut dapat mengemukakan pertanyaan selanjutnya yaitu bagaimana pandangan perusahaan mengenai CSR?. Pertanyaan tersebut terkait dengan pandangan perusahaan terhadap konsep CSR. Berdasarkan pandangan tersebut dapat dijabarkan dan diketahui apakah perusahaan yang akan diteliti telah mengenal CSR dan apakah perusahaan tersebut telah menjalankan CSR. Pertanyaan ini penting untuk dikaji mengingat seberapa besar CSR telah terinternalisasi dan berlaku di perusahaan.

Strategi dalam penerapan CSR penting untuk memantapkan tujuan dan mencapai program yang bermanfaat. Strategi perusahaan yang telah terbentuk, dilakukan berdasarkan kebijakan perusahaan terhadap program yang diselenggarakan. Pelaksanaan dari strategi perusahaan, kemudian dapat dijalankan secara tersrtuktur ataupun disesuaikan dengan keadaan apabila terjadi perubahan pada saat program berjalan. Agar dapat terstruktur dengan baik, maka dalam strategi dapat dilibatkan tahap-tahap CSR, dimana pada tahap tersebut terdiri dari tahap perencanaan, implementasi, evaluasi dan pelaporan. Terkait dengan hal

(24)

tersebut, setiap perusahaan tentu memiliki kebijakan yang tidak sama karena tergantung pada kesepakatan yang dibuat oleh masing-masing perusahaan. Berdasarkan hal tersebut, muncul pertanyaan berikutnya yaitu bagaimanakah strategi yang dijalankan oleh perusahaan dalam melakukan CSR sebagai upaya pengembangan masyarakat? Pertanyaan ini mencakup bagaimana strategi perusahaan dari segi perencanaan, implementasi, evaluasi sampai pada tahap pelaporan.

Selain pertanyaan-pertanyaan di atas, manfaat yang diperoleh perusahaan maupun komunitas lokal juga merupakan hal yang dapat dijadikan bukti secara nyata bahwa perusahaan telah melakukan program CSR karena dalam hal ini perusahaan maupun komunitas lokal merupakan stakeholder (pemangku kepentingan) yang sangat terkait dengan pelaksanaan program CSR. Dalam melakukan tanggung jawab sosialnya, perusahaan tentu menginginkan agar programnya dapat berjalan sesuai dengan apa yang direncanakannya. Setiap program yang dijalankan memiliki tujuan-tujuan tertentu. Tujuan tersebut dapat berupa manfaat yang diperoleh komunitas lokal, misalnya peningkatan pengetahuan melalui pelatihan, seminar ataupun iklan (reklame) yang dibuat perusahaan sebagai wujud program CSRnya. Selain itu, dari sisi internal perusahaan juga memungkinkan untuk menginginkan terjadinya penambahan keuntungan maupun perolehan citra positif dari program CSR. Masyarakat sebagai penerima program CSR tentu harus dapat merasakan manfaat dari program CSR yang dijalankan perusahaan agar program tersebut mampu mengusung hal-hal positif. Di pihak perusahaan, program CSR dapat bermanfaat untuk mempertahankan usaha perusahaan dengan membangun citra positif kepada

(25)

masyarakat secara umum dan komunitas lokal pada khususnya. Berdasarkan hal tersebut, maka pertanyaan terakhir yang akan dibahas dalam penelitian ini yaitu apa manfaat yang diperoleh perusahaan maupun masyarakat pada penerapan CSR sebagai upaya pengembangan masyarakat? Manfaat dari terselenggaranya CSR dari perusahaan dapat diperoleh masyarakat sebegai penerima program maupun perusahaan itu sendiri.

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menjawab satu pertanyaan yang menjadi pokok kajian peneliti. Tujuan utama penelitian ini yaitu untuk menggambarkan bagaimana fenomena tanggung jawab sosial perusahaan di kalangan dunia usaha atau perusahaan yang dalam hal ini adalah PT Antam Tbk. Adapun tujuan utama tersebut dapat dijawab melalui tujuan-tujuan penelitian ini yaitu:

1. Mendeskripsikan pandangan perusahaan mengenai CSR.

2. Memahami strategi yang dijalankan oleh perusahaan dalam melakukan program pengembangan msyarakat untuk mewujudkan tanggung jawab sosialnya.

3. Membahas manfaat yang diperoleh baik bagi perusahaan maupun masyarakat pada penerapan CSR sebagai upaya pengembangan masyarakat.

(26)

1.4 Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan mampu menjawab permasalahan yang menjadi bahasan utama dan dapat dijadikan salah satu acuan penerapan CSR dengan kondisi sejenis yang terjadi pada lokasi atau waktu yang berbeda. Selain itu juga diharapkan untuk menambah wawasan dan pengalaman peneliti dalam mengkaji program CSR yang dilakukan perusahaan sesuai dengan fakta di lapangan, sekaligus sebagai bahan perbaikan bagi peneliti untuk penulisan selanjutnya. Bagi perusahaan, penelitian ini diharapkan mampu untuk dijadikan bahan evaluasi atau rekomendasi bagi perusahaan agar dapat menjalankan aktivitas CSRnya secara lebih baik dan lebih berhasil serta bermanfaat bagi banyak pihak.

(27)

2.1 Pendekatan Teoritis

2.1.1 Konsep CSR (Corporate Social Responsibility)

Wacana mengenai isu CSR kini telah menjadi isu sentral. CSR yang merupakan tanggung jawab sosial perusahaan pada awalnya diimplementasikan hanya sebatas karikatif (charity). Pada tahun 1980-an semakin banyak perusahaan yang menggeser konsep CSR ke arah pengembangan masyarakat (community development) yang pada awalnya hanya sebagai sumbangan perusahaan yang dianggap sebagai beban. Pada tahun 1997, terdapat suatu keluaran yang cukup berpengaruh dalam konteks CSR yang dikemukakan oleh John Elkington dalam Wibosono (2007) melalui bukunya yang berjudul “Canibals with Forks, the Triple Bottom Line of Twentieth Century Business”. John Elkington mengemukakan konsep “3P” yaitu profit, people dan planet. Dalam konsep 3P terdapat makna yang terkandung bahwa perusahaan sebaiknya tidak hanya memburu keuntungan (profit), tetapi juga harus memberikan kontribusi positif kepada masyarakat (people) dan ikut aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan (planet). Konsep 3P inilah yang kemudian diimplementasikan oleh berbagai perusahaan bahkan dicantumkan pula dalam agenda-agenda perusahaan dalam upaya melakukan tanggung jawab sosialnya.

Definisi dari CSR telah banyak dikemukakan oleh berbagai pihak atau instansi, salah satunya yaitu definisi yang diungkapkan oleh The Word Business Council for Sustainable Development (WBCSD), sebuah lembaga internasional

(28)

yang berdiri tahun 19952. Dalam lembaga tersebut, CSR didefinisikan sebagai komitmen dunia usaha untuk terus menerus bertindak secara etis, beroperasi secara legal dan berkontribusi untuk peningkatan ekonomi, bersamaan dengan peningkatan kualitas hidup dari karyawan dan keluarganya sekaligus juga peningkatan kualitas komunitas lokal dan masyarakat secara luas. Definisi lainnya dikemukakan oleh World Bank3 yang memandang sebagai komitmen dunia usaha yang mengkontribusikan keberlanjutan usaha pembangunan ekonomi melalui peningkatan kualitas komunitas lokal dan masyarakat secara luas untuk meningkatkan kualitas hidup demi kemajuan bisnis maupun kemajuan pembangunan. Menurut Sukada, dkk (2007) CSR merupakan segala upaya manajemen yang dijalankan entitas bisnis untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan berdasar keseimbangan pilar ekonomi, sosial, dan lingkungan, dengan meminimumkan dampak negatif dan memaksimumkan dampak positif di setiap pilar. Dalam versi Indonesia, secara etimologis CSR diartikan sebagai tanggung jawab sosial perusahaan, tanggung jawab sosial korporasi atau tanggung jawab sosial dunia usaha.

CSR memiliki kaitan dengan konsep pembangunan berkelajutan yang didefinisikan sebagai pembangunan atau perkembangan yang memenuhi kebutuhan masa sekarang tanpa membahayakan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya. Sejak istilah pembangunan berkelanjutan mulai populer, banyak dilakukan konferensi yang menunjukkan kepedulian masyarakat       

2

Yusuf Wibisono. 2007. Membedah Konsep dan Aplikasi CSR (Corporate Social Responsibility. Gresik : Fascho Publishing

3

(29)

dunia akibat kecenderungan semakin menurunnya kualitas lingkungan. Konferensi tersebut yaitu konferensi lingkungan hidup di Stockholm, Swedia, yang menghasilkan resolusi monumental dengan membentuk badan khusus di PBB untuk masalah lingkungan. Dengan latar belakang yang sama, dilakukan pula KTT Bumi di Rio de Janeiro yang menghasilkan tiga dokumen hukum terikat (legally binding) dan tiga dokumen yang secara hukum tidak mengikat (non-legally binding) (Wibisono, 2007).

Selain definisi, CSR juga memiliki prinsip-prinsip yang dirumuskan oleh sejumlah institusi international. Prinsip CSR tersebut salah satunya dikemukakan oleh Porf. Alyson Warhurst dari University of Bath Inggris (Wibisono, 2007). Adapun prinsip-prinsip CSR yaitu :

1. Prioritas korporat; mengakui tanggung jawab sosial sebagai prioritas tertinggi korporat dan penentu utama pembangunan berkelanjutan.

2. Manajemen terpadu; mengintegrasikan kebijakan, program dan praktek ke dalam setiap kegiatan bisnis sebagai suatu unsur manajeman.

3. Proses perbaikan; secara bersinambungan memperbaiki kebijakan, program dan kinerja sosial korporat.

4. Pendidikan karyawan; menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan serta memotivasi karyawan.

5. Pengkajian; melakukan kajian dampak sosial sebelum memulai kegiatan atau proyek baru dan sebelum menutup satu fasilitas atau meninggalkan lokasi pabrik.

6. Produk dan jasa; mengembangkan produk dan jasa yang tak berdampak negatif secara sosial.

(30)

7. Informasi publik; memberi informasi yang diperlukan.

8. Fasilitas dan operasi; mengembangkan, merancang dan mengoperasikan fasilitas serta menjalankan kegiatan yang mempertimbangkan temuan kajian dampak sosial.

9. Penelitian; melakukan atau mendukung penelitian dampak sosial untuk mengurangi dampak negatif.

10. Prinsip pencegahan; memodifikasi manufaktur, pemasaran atau penggunaan produk atau jasa sejalan dengan penelitian mutakhir untuk mencegah dampak sosial yang bersifat negatif.

11. Kontraktor dan pemasok; mendorong penggunaan prinsip-prinsip tangung jawab sosial korporat yang dijalankan.

12. Siaga menghadapi darurat; menyusun dan merumuskan rencana menghadapi keadaan darurat, dan bila terjadi keadaan berbahaya bekerja sama dengan layanan gawat darurat, instansi berwenang dan komunitas lokal. Sekaligus mengenali potensi bahaya yang muncul.

13. Transfer best practice; berkontribusi pada pengembangan dan transfer praktik bisnis yang bertanggung jawab secara sosial pada semua industri dan sektor publik.

14. Memberi sumbangan; untuk usaha bersama, pengembangan kebijakan publik dan bisnis, lembaga pemerintah dan lintas departemen pemerintah serta lembaga pendidikan yang akan meningkatkan kesadaran tentang tanggung jawab sosial.

(31)

15. Keterbukaan; menumbuhkembangkan keterbukaan dan dialog dengan pekerja dan publik, mengantisipasi dan memberi respon terhadap potencial hazard, dan dampak operasi, produk, limbah atau jasa.

16. Pencapaian dan pelaporan; mengevaluasi kinerja sosial, melaksanakan audit sosial secara berkala dan mengkaji pencapaian berdasarkan kriteria korporat dan peraturan perundang-undangan dan menyampaikan informasi tersebut pada dewan direksi, pemegang saham, pekerja dan publik.

Prinsip-prinsip CSR tersebut dapat diterapkan dengan menggunakan strategi yang terdapat pada perusahaan yang menjalankan CSR. Strategi yang digunakan oleh setiap perusahaan dalam menjalankan CSR dapat berbeda-berbeda terkait dengan kebijakan yang ada pada perusahaan. Menurut Widyahartono4, agar mencapai suatu tujuan yang tepat maka beberapa langkah strategis perlu diresapi sebagai panduan untuk dikerjakan dengan time line (jadwal waktu yang tegas) oleh masing-masing kelompok bisnis secara sektoral. Langkah-langkah srategis tersebut yaitu:

1. Ada komitmen dari puncak ke bawah, dalam arti perilaku bertanggung jawab dalam setiap area bisnisnya. Hal ini berat, karena menuntut kesadaran diri yang mendalam.

2. Pimpinan perusahaan harus secara terbuka membangun kemitraan (building meaningful partnership) dengan para stakeholders.

       4 

Bob, Widyahartono. 2007. Tanggung Jawab Sosial. http://mirifica.net/wmview.php?ArtID=4231. Diakses tanggal 6 Desember 2007.

(32)

3. Informasi tentang cost benefit CSR perlu dijabarkan dengan tutur kata yang menarik dan kredibel, sesuai daya tangkap mitra yang diajak berdialog secara reguler.

4. Dalam menyampaikan informasi, sampaikan apa yang menjadi citra organisasi secara visual atau tertulis yang gamblang, dan bukan membohongi.

5. Komitmen termasuk memvisualisasikan "merek atau logo" (brand or logo) yang komunikatif dan bernada kebenaran dan yang menarik memantapkan citra dan termasuk meningkatnya laba (return on investment).

Menurut Saidi (20004) dalam Mulyadi (2007), terdapat karakteristik tahap-tahap kedermawanan sosial perusahaan yang digambarkan pada tabel 1.

Tabel 1. Tahap-tahap Kedermawanan Sosial Perusahaan

Tahapan Charity Philantropy Corporate Citizenship Motivasi Agama, tradisi,

adat

Norma etika, hukum universal; redistribusi

kekayaan.

Pencerahan diri dan rekonsiliasi dengan keterlibatan sosial. Misi Mengatasi masalah sesaat Mencari dan mengatasi masalah Memberikan kotribusi kepada masyarakat.

Pengelolaan Jangka pendek, menyelesaikan maslaah sesaat Terencana, terorganisir, terprogram Terinternalisasi dalam kebijakan perusahaan

Pengorganisasian Kepanitiaan Yayasan/Dana Abadi,

profesionalisasi

Keterlibatan baik dana maupun sumber daya lain.

Penerima Manfaat

Orang miskin Masyarakat luas Masyarakat luas dan perusahaan

Kontribusi Hibah sosial Hibah pembangunan

Hibah (sosial maupun pembnagunan) dan keterlibatan sosial

Inspirasi Kewajiban Kepentingan bersama

(33)

CSR sebagai tanggung jawab sosial perusahaan memiliki lingkup dalam penerapannya. Adapun lingkup penerapan CSR menurut gagasan dari Prince of Wales International Forum terdiri dari lima pilar (Wibisono, 2007). Pertama, upaya perusahaan untuk menggalang dukungan SDM, baik internal (karyawan) maupun eksternal (masyarakat sekitar) dengan cara melakukan pengembangan dan memberikan kesejahteraan kepada mereka. Kedua, memberdayakan ekonomi komunitas. Ketiga, menjaga harmonisasi dengan masyarakat sekitar agar tidak terjadi konflik. Keempat, mengimplementasikan tata kelola yang baik. Kelima, memperhatikan kelestarian lingkungan.

Adapun tahap-tahap dalam penerapan CSR yang dilakukan oleh perusahaan pada umumnya (Wibisono, 2007) yaitu:

1. Tahap perencanaan. Tahap ini terdiri dari tiga langkah utama yaitu Awareness Building, CSR Assesment, dan CSR Manual Building. Awareness building merupakan langkah awal untuk membangun kesadaran perusahaan mengenai arti penting CSR dan komitmen manajemen. CSR Assesment merupakan upaya untuk memetakan kondisi perusahaan dan mengidentifikasi aspek-aspek yang perlu mendapatkan prioritas perhatian dan langkah-langkah yang tepat untuk membangun struktur perusahaan yang kondusif bagi penerapan CSR secara efektif. Pada tahap membangun CSR manual, perencanaan merupakan inti dalam memberikan petunjuk pelaksanaan CSR bagi konsumen perusahaan. Pedoman ini diharapkan mampu memberikan kejelasan dan keseragaman pola pikir dan pola tindak seluruh elemen perusahaan guna tercapainya pelaksanaan program yang terpadu, efektif dan efisien.

(34)

2. Tahap implementasi. Pada tahap ini terdapat beberapa poin yang harus diperhatikan seperti pengorganisasian, penyusunan untuk menempatkan orang sesuai dengan jenis tugas, pengarahan, pengawasan, pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan rencana, serta penilaian untuk mengetahui tingkat pencapaian tujuan. Tahap implementasi terdiri dari tiga langkah utama yaitu sosialisasi, pelaksanaan dan internalisasi. Sosialisasi dilakukan untuk memperkenalkan kepada komponen perusahaan mengenai berbagai aspek yang terkait dengan implementasi CSR khususnya mengenai pedoman penerapan CSR. Menurut Wibisono (2007) tujuan utama sosialisasi adalah agar program CSR yang akan diimplementasikan mendapat dukungan penuh dari seluruh komponen perusahaan, sehingga dalam perjalanannya tidak ada kendala serius yang dialami oleh unit penyelenggara. Pelaksanaan kegiatan yang dilakukan pada dasarnya harus sejalan dengan roadmap yang telah disusun. Internalisasi mencakup upaya-upaya untuk memperkenalkan CSR di dalam seluruh proses bisnis perusahaan, misalnya melalui sistem manajemen kinerja, proses produksi, pemasaran dan proses bisnis lainnya. Melalui upaya ini dapat dinyatakan bahwa penerapan CSR bukan sekedar kosmetik namun telah menjadi strategi perusahaan, bukan lagi sebagai upaya untuk compliance, tapi sudah beyond compliance.

3. Tahap evaluasi. Tahap ini perlu dilakukan secara konsisten dari waktu ke waktu untuk mengukur sejauh mana efektivitas penerapan CSR. Evaluasi dapat berguna untuk mengetahui kegagalan dan keberhasilan suatu program dan dapat pula dilakukan untuk pengambilan keputusan. Evaluasi

(35)

dapat dilakukan dengan meminta pihak independen untuk melakukan audit implementasi atas praktik CSR yang dilakukan.

4. Pelaporan. Pelaporan perlu dilakukan untuk membangun sistem informasi, baik untuk keperluan proses pengambilan keputusan maupun keperluan keterbukaan informasi material dan relevan mengenai perusahaan.

Pelaksanaan CSR yang dilakukan oleh perusahaan memiliki beberapa faktor (Wibisono, 2007). Faktor-faktor tersebut yaitu komitmen kepemimpinan dalam perusahaan yang tanggap akan masalah sosial, ukuran dan kematangan perusahaan, serta regulasi dan sistem perpajakan yang diatur pemerintah. Terkait dengan regulasi yang ditetapkan oleh pemerintah, maka dapat ditunjukkan bahwa semakin besar insentif pajak yang diberikan, akan lebih berpotensi memberi semangat kepada perusahaan untuk berkontribusi kepada masyarakat, demikian juga sebaliknya. Selain faktor-faktor tersebut, perusahaan juga memiliki berbagai cara dalam memandang CSR atau dapat dikatakan pula sebagai alasan perusahaan dalam melaksanakan CSR. Beberapa cara perusahaan dalam memandang CSR yaitu :

1. Sekedar basa basi atau keterpaksaan, dimana perusahaan mempraktekan CSR hanya karena faktor eksternal (external driven), environmental driven (karena terjadi masalah lingkungan), serta reputation driven (karena ingin mendongkrak citra perusahaan).

2. Sebagai upaya untuk memenuhi kewajiban (compliance), dimana CSR yang dilakukan karena terdapat regulasi, hukum, dan aturan yang memaksanya.

(36)

3. CSR diimplementasikan karena adanya dorongan yang tulus dari dalam (internal driven), perusahaan telah menyadari bahwa tanggung jawabnya bukan lagi sekedar kegiatan ekonomi untuk menciptakan profit demi kelangsungan bisnisnya, melainkan juga tanggung jawab sosial dan lingkungan.

Selain ketiga cara pandang perusahaan terhadap CSR, terdapat paradigma CSR yang dinyatakan telah mengalami pergeseran. Pergeseran paradigma tersebut dikemukakan oleh Alyson Warhurst dalam Sukada, dkk (2007) dalam tiga fase paradigma yang disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut :

Tabel 2. Fase Pergeseran Paradigma CSR

FASE FASE : 1960-1983 (TIMBULNYA KESADARAN TERHADAP MASALAH SOSIAL POST FACTO) FASE 2 : 1984-1994 (HUBUNGAN UNTUK MENYELESAIKAN MASALAH DAMPAK NEGATIF) FASE 3 : 1995-SEKARANG (HUBUNGAN UNTUK MENCEGAH MASALAH DI MASA DATANG) PERISTIWA PENTING • Aberfan, Wales, 1966 • Seveso, 1974 • Wankie Colliery, 1975

• Amoco Cadiz Oil, 1978 • Nasionalisasi di Amerika Selatan, `60-`70an • Bhopal, 1984 • Strava, Italy, 1985 • Chernobyl, 1986 • Exxon Valdez, 1989 • Wheal Jane, 1992 • Summitville, 1992 • Ok Tedi dan Fly

Rivers, PNG 1994

• Shell : Brent Spar, 1995 • Eksekusi Saro-Wiwa,

1995 • Omai, 1995 • Grasberg, 1995 • Marcopper, 1996

• Los Frailes, Spanyol, 1998

• Remin dan Esmeralda, Romania, 2000

Sumber: Sony Sukada dkk (2007) dalam buku Membumikan Bisnis Berkelanjutan ; memahami konsep dan praktik tanggung jawab sosial perusahaan. Jakarta: Indonesia Business Links.

Dari tabel Warhurst dapat dilihat bahwa sejumlah perusahaan memiliki reaksi positif terhadap musibah-musibah yang terjadi dengan memperbaiki hubungan yang buruk dengan masyarakat. Menurut Sukada, dkk (2007) sebagian

(37)

besar program yang dilakukan perusahaan ekstraktif (perusahaan yang menanfaatkan kekayaan alam dalam kegiatan operasinya) dalam hubungannya dengan masyarakat di negara-negara berkembang masih berada pada fase 1 atau paling jauh pada fase 2. Akan tetapi dapat diakui pula bahwa terdapat perusahaan di Indonesia yang telah berada pada fase 3. Semakin besar suatu perusahaan dan semakin besar munculnya dampak dari kegiatan operasi perusahaan, maka semakin kuat pula tuntutan perusahaan untuk melakukan tanggung jawab sosialnya (CSR) terutama kepada pihak-pihak yang terkena dampak secara langsung.

Berdasarkan program yang diselenggarakan oleh perusahaan dalam mewujudkan tanggung jawab sosialnya, maka terdapat tiga kategori bentuk tanggung jawab sosial perusahaan (Rudito dkk, 2007) yaitu:

1. Public relations; usaha untuk menanamkan persepsi positif kepada komunitas tentang kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan. Usaha ini lebih mengarah pada menjalin hubungan baik antara perusahaan dengan komunitas, khususnya menanamkan sebuah persepsi yang baik tentang perusahaan (brand image) kepada komunitas. Kegiatan yang dilakukan biasanya berbentuk kampanye yang tidak terkait sama sekali dengan produk yang dihasilkan oleh perusahaan yang bersangkutan.

2. Strategi defensif; usaha yang dilakukan perusahaan guna menangkis anggapan negatif komunitas luas yang sudah tertanam terhadap kegiatan perusahaan terhadap karyawannya, dan biasanya untuk melawan `serangan` negatif dari anggapan komunitas atau komunitas yang sudah telanjur berkembang. Kegiatan ini biasanya dilakukan dengan sasaran

(38)

yang berbeda dengan anggapan yang telah berkembang atau bertolak belakang dengan persepsi-persepsi yang ada di komunitas pada umumnya.

3. Keinginan tulus untuk melakukan kegiatan yang baik yang benar-benar berasal dari visi perusahaan itu; melakukan program untuk kebutuhan komunitas atau komunitas sekitar perusahaan atau kegiatan perusahaan yang berbeda dari hasil dari perusahaan itu sendiri. Kegiatan perusahaan dalam konteks ini adalah sama sekali tidak mengambil suatu keuntungan secara materil tetapi berusaha untuk menanamkan kesan baik terhadap komunitas berkaitan dengan kegiatan perusahaan.

Dibalik semua faktor yang mempengaruhi, tentunya perusahaan menginginkan perolehan keuntungan sebagai hasil dari penerapan CSR. Adapun benefits dan drivers tersebut (Wibisono, 2007) yaitu:

1. Mempengaruhi dan mendongkrak reputasi dan brand image perusahaan. Dengan kontribusi yang positif, maka pasti reputasi dan image positif perusahaan akan meningkat.

2. Layak mendapat social license to operate. Program CSR diharapkan akan menjadi bagian dari asuransi sosial yang akan menghasilkan harmoni dan persepsi positif dari masyarakat terhadap eksistensi perusahaan.

3. Mereduksi resiko bisnis perusahaan dengan melakukan langkah antisipatif dan preventif.

4. Melebarkan akses sumber daya. Track record yang baik dalam pengelolaan CSR merupakan keunggulan bersaing bagi perusahaan yang

(39)

dapat membantu untuk melancarkan jalan menuju sumber daya yang diperlukan perusahaan.

5. Membentangkan akses menuju market. Investasi yang ditanamkan untuk program CSR dapat menjadi tiket bagi perusahaan menuju peluang pasar yang terbuka lebar, termasuk di dalamnya akan memupuk loyalitas konsumen dan membentuk pangsa pasar baru.

6. Mereduksi biaya. Terdapat beberapa contoh yang dapat menggambarkan keuntungan perusahaan yang didapat dari penghematan biaya yang merupakan buah dari implementasi dari penerapan program tanggung jawab sosialnya. Salah satu contohnya yaitu upaya untuk mereduksi limbah dengan proses daur ulang ke dalam siklus produksi.

7. Memperbaiki hubungan dengan stakeholder.

8. Memperbaiki hubungan dengan regulator. Perusahaan yang menerapkan program CSR pada dasarnya merupakan upaya untuk meringankan beban pemerintah sebagai regulator.

9. Meningkatkan semangat dan produktivitas karyawan. Kesejahteraan yang diberikan pelaku CSR umumnya sudah jauh melebihi standar normatif kewajiban yang dibebankan kepada perusahaan, sehingga wajar apabila karyawan menjadi terpacu untuk meningkatkan kinerjanya.

10. Peluang mendapatkan penghargaan.

2.1.2 Konsep Pengembangan Masyarakat (Community Development)

Konsep pengembangan masyarakat hingga saat ini telah dirumuskan dan dijabarkan oleh banyak pihak. Salah satu konsep yang berbicara mengenai definisi

(40)

pengembangan masyarakat diungkapkan oleh Johnson (1984) dalam Wibisono (2007) bahwa pengembangan masyarakat merupakan spesialisasi atau setting praktek pekerjaan sosial yang bersifat makro (macro practice). Maksud konsep tersebut yaitu pengembangan masyarakat tidak hanya dapat dilakukan oleh pekerja sosial saja, akan tetapi dapat pula dilakukan oleh para pekerja dalam profesi lain. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa pengembangan masyarakat memiliki pelaku dari berbagai bidang (tidak hanya dalam bidang atau pekerjaan sosial).

Definisi lain mengenai pengembangan masyarakat yaitu yang diungkapkan oleh AMA (1993) dalam Wibisono (2007) sebagai metode yang memungkinkan orang dapat meningkatkan kualitas hidupnya serta mampu memberbesar pengaruhnya terhadap proses-proses yang mempengaruhi kehidupannya. Konsep pengembangan masyarakat selanjutnya yaitu konsep yang dijelaskan oleh Jack Rothman (1968) dalam Wibisono (2007) pada suatu karyanya. Ia menjelaskan konsep pengembangan masyarakat melalui 3 model praktek pengorganisasian komunitas (Three Models of Community Organizaton Practice), yaitu pengembangan masyarakat lokal, perencanaan sosial dan aksi sosial. Pengembangan masyarakat lokal diartikan proses yang ditujukan untuk menciptakan kemajuan sosial dan ekonomi bagi masyarakat melalui partisipasi aktif serta inisiatif anggota masyarakat itu sendiri. Berikutnya adalah konsep pengembangan masyarakat yang dijelaskan oleh Brokensha dan Hodge (1969) dalam Rukminto (2003). Mereka mendefinisikan pengembangan masyarakat sebagai suatu gerakan yang dirancang untuk meningkatkan taraf hidup keseluruhan komunitas melalui partisipasi aktif, dan jika memungkinkan,

(41)

berdasarkan inisiatif dari masyarakat. Menurut Budimanta dalam Rudito dkk (2007), pengembangan masyarakat adalah kegiatan pembangunan komunitas yang dilakukan secara sistematis, terencana dan diarahkan untuk memperbesar akses komunitas guna mencapai kondisi sosial, ekonomi dan kualitas kehidupan yang lebih baik apabila dibandingkan dengan kegiatan pembangunan sebelumnya.

Menurut Budimanta dalam Rudito dkk (2007), ruang lingkup program-program pengembangan masyarakat (community development) dapat dibagi berdasarkan tiga kategori yang secara keseluruhan akan bergerak secara bersama-sama yang terdiri dari :

1. Community Relation; yaitu kegiatan-kegiatan yang menyangkut pengembangan kesepahaman melalui komunikasi dan informasi kepada para pihak yang terkait. Dalam kategori ini, program cenderung mengarah pada bentuk-bentuk kedermawanan (charity) perusahaan. Dari hubungan ini maka dapat dirancang pengembangan hubungan yang lebiih mendalam dan terkait dengan bagaimana mengetahui kebutuhan-kebutuhan dan masalah-masalah yang ada di komunitas lokal sehingga perusahaan dapat menerapkan program selanjutnya.

2. Community Services; merupakan pelayanan perusahaan untuk memenuhi kepentingan komunitas ataupun kepentingan umum. Dalam kategori ini, program dilakukan dengan adanya pembangunan secara fisik sektor kesehatan, keagamaan, pendidikan, transportasi dan sebagainya yang berupa puskesmas, sekolah, rumah ibadah, jalan raya, sumber air minum, dan sebagainya. Inti dari kategori ini

(42)

adalah memberikan kebutuhan yang ada di komunitas dan pemecahan tentang masalah yang ada di komunitas dilakukan oleh komunitas sendiri dan perusahaan hanya sebagai fasilitator dari pemecahan masalah yang ada di komunitas. Kebutuhan-kebutuhan yang ada di komunitas dianalisis oleh para community development officer, dengan menggunakan metode yang bersifat kualitatif.

3. Community Empowering; merupakan program-program yang berkaitan dengan pemberian akses yang lebih luas kepada komunitas untuk menunjang kemandiriannya, misalnya pembentukan koperasi. Pada dasarnya, kategori ini melalui tahapan-tahapan kategori lain seperti melakukan community relation pada awalnya, yang kemudian berkembang pada community services dengan segala metodologi penggalian data dan kemudian diperdalam melalui ketersediaan pranata sosial yang sudah lahir dan muncul di komunitas melalui program kategori ini.

2.1.3 Konsep Pemberdayaan Masyarakat

Konsep pemberdayaan juga menjadi penting dalam mengkaji program-program pengembangan masyarakat untuk meningatkan kualitas hidup manusia. Menurut Ife dalam Suharto 2005, pemberdayaan memiliki dua pengertian kunci yaitu kekuasaan dan kelompok lemah. Kekuasaan diartikan bukan hanya menyangkut kekuasaan politik dalam arti sempit, melainkan kekuasaan atau penguasaan klien atas:

(43)

a) Pilihan-pilihan personal dan kesempatan-kesempatan hidup: kemampuan dalam membuat keputusan-keputusan mengenai gaya hidup, tempat tinggal dan pekerjaan.

b) Pendefinisian kebutuhan: kemampuan menentukan kebutuhan selaras dengan aspirasi dan keinginannya.

c) Ide atau gagasan: kemampuan mengekspresikan dan menyumbangkan gagasan dalam suatu forum atau diskusi secara bebas dan tanpa tekanan. d) Lembaga-lembaga: kemampuan menjangkau, menggunakan dan

mempengaruhi pranata-pranata masyarakat, seperti lembaga kesejahteraan sosial, pendidikan dan kesehatan.

e) Sumber-sumber: kemampuan memobilisasi sumber-sumber formal, informal dan kemasyarakatan.

f) Aktivitas ekonomi: kemampuan memanfaatkan dan mengelola mekanisme produksi, distribusi dan pertukaran barang serta jasa.

g) Reproduksi: kemampuan dalam kaitannya dengan proses kelahiran, perawatan anak, pendidikan dan sosialisasi.

Berdasarkan hal-hal tersebut, terdapat kesimpulan mengenai pemberdayaan masyarakat yang menujuk pada kemampuan orang, khususnya kelompok rentan dan lemah sehingga mereka memiliki kekuatan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan dasarnya sehingga mereka memiliki kebebasan dan dapat menjangkau sumber-sumber produktif yang memungkinkan mereka dapat meningkatkan pendapatannya dan memperoleh barang dan jasa yang mereka perlukan, serta agar dapat berpartisipasi dalam proses pembangunan dan keputusan-keputusan yang mempengaruhi mereka. Selain hal tersebut, dapat dikatakan pula bahwa

(44)

pemberdayaan memegang kunci kekuasaan pada banyak hal, tidak hanya dalam berpolitik dan berorganisasi, tapi juga menyangkut kegiatan-kegiatan dan kebutuhan hidup manusia. Konsep ini juga terkait dengan tujuan dari pemberdayaan. Seseorang dapat dikatakan berdaya ketika apa yang diharapkan, dinginkan maupun dibutuhkannya tercapai.

Parson et.al (1994) dalam Suharto (2005), mengatakan bahwa pemberdayaan dapat dilakukan dengan tiga aras pemberdayaan yang terdiri dari aras mikro, aras mezzo dan aras makro. Dalam konsep ini, pembedayaan dijelaskan dalam konteks cakupan sasarannya yang terdiri dari individu pada aras mikro, kelompok pada aras mezzo dan sistem lingkungan yang lebih luas pada aras makro. Konsep ini lebih menekankan pada kesempatan dan prosesnya dalam mencapai tujuan pemberdayaan. Proses tersebut dilakukan dengan mengidentifikasi program sesuai dengan sasaran yang ingin dituju. Sasaran tersebut terkait dengan konteks mikro, mezzo atau makro yang kemudian disesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan program pemberdayaan yang perlu dilakukan.

Konsep pemberdayaan lainnya yaitu konsep pemberdayaan yang disimpulkan berdasarkan dua konsep pemberdayaan di atas. Kesimpulan dari konsep ini dikemukakan oleh Edi Suharto (2005) bahwa pemberdayaan merupakan sebuah proses dan tujuan. Sebagai proses pemberdayaan dikatakan sebagai serangkaian kegiatan untuk memperkuat kekuasaan atau keberdayaan kelompok lemah dalam masyarakat, termasuk individu-individu yang mengalami kemiskinan. Sebagai tujuan, pemberdayaan menunjuk pada keadaan atau hasil yang ingin dicapai oleh sebuah perubahan sosial yaitu masyarakat yang berdaya,

(45)

memiliki kekuasaan atau mempunyai pengetahuan dan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya baik fisik, ekonomi maupun sosial.

Terkait dengan berdirinya suatu perusahaan di sekitar komunitas lokal, maka perusahaan diharapkan untuk meningkatkan peran serta komunitas dalam kegiatan perusahaan atau untuk menghindar dari munculnya ketidaksetaraan terhadap kondisi sosial ekonomi komunitas dengan perusahaan. Berdasarkan hal tersebut, diperlukan suatu wadah program yang berguna untuk menciptakan kemandirian komunitas lokal untuk menata sosial ekonomi mereka sendiri dengan diciptakan suatu wadah yang berbasis pada komunitas yang sering disebut dengan community development yang tujuannya untuk pemberdayaan komunitas (empowerment) (Rudito dkk, 2007).

2.1.4 CSR dalam BUMN

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) merupakan salah satu pelaku ekonomi dalam perekonomian nasional (Wibisono, 2007). Terkait dengan hal tersebut, BUMN memiliki peran dalam menghasilkan barang dan/ atau jasa yang diperlukan dalam rangka mewujudkan kemakmuran bagi rakyat. Selain itu, BUMN juga memiliki peran strategis sebagai pelaksana pelayanan publik, penyeimbang kekuatan swasta besar, serta turut membantu pengembangan usaha kecil atau koperasi. Sebagai salah satu pelaku bisnis, BUMN dituntut untuk dapat menghasilkan laba seperti pada perusahaan bisnis lainnya. Akan tetapi di sisi lain BUMN juga dituntut untuk berfungsi sebagai alat pembangunan nasional dan berperan sebagai institusi sosial (Wibisono, 2007).

Menurut Undang-Undang No. 19 tahun 2003 sebagai ketentuan perundangan terbaru mengenai BUMN, maka dikenal dua bentuk badan usaha

(46)

milik negara yaitu perusahaan perseroan (Persero) dan perusahaan umum (Perum). Persero merupakan bentuk BUMN yang berbentuk perseroan terbatas yang modalnya terbagi dalam saham yang seluruhnya atau paling sedikit 51% sahamnya dimiliki negara dan bertujuan utama untuk mencari keuntungan. Perum merupakan BUMN yang seluruh modalnya dimiliki negara dan tidak terbagi atas saham, yang bertujuan untuk kemanfaatan umum berupa penyediaan barang dan atau jasa sekaligus mengejar keuntungan.

Terkait dengan tanggung jawab sosialnya, maka peran sosial BUMN antara lain dituangkan melalui keputusan Menteri BUMN Nomor: Kep-236/MBU/2003. Dalam keputusan tersebut dinyatakan bahwa dalam rangka mendorong kegiatan dan pertumbuhan ekonomi kerakyatan serta terciptanya pemerataan pembangunan melalui perluasan lapangan kerja, kesempatan berusaha dan pemberdayaan masyarakat, perlu ditingkatkan partisipasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk memberdayakan dan mengembangkan kondisi ekonomi, kondisi sosial masyarakat dan sekitarnya, melalui Program Kemitraan BUMN dengan usaha kecil dan Program Bina Lingkungan. Keputusan tersebut pada prinsipnya mengikat BUMN untuk menyelenggarakan Program Kemitraaan dan Program Bina Lingkungan (PKBL). Program kemitraan merupakan program yang bertujuan untuk meningkatkan usaha kecil dalam bentuk pinjaman dana yang digunakan baik sebagai modal ataupun pembelian peralatan penunjang bagi kegiatan produksi agar usaha kecil menjadi usaha yang mandiri. Program Bina Lingkungan adalah program pemberdayaan kondisi sosial masyarakat untuk tujuan yang memberikan manfaat kepada masyarakat di wilayah BUMN yang bersangkutan. Sebagai petunjuk dari Kep-236/MBU/2003, terdapat Surat Edaran

(47)

Menteri BUMN No SE-433/MBU/2003 yang berisi bahwa setiap BUMN disyaratkan membentuk unit tersendiri yang bertugas secara khusus menangani PKBL.

2.2 Kerangka Pemikiran

Sesuai dengan perkembangan pembangunan pada berbagai bidang, muncul suatu konsep yang disebut sebagai Corporate Social Responsibility (CSR) dimana perusahaan memiliki kearifan lokal dengan melakukan tanggung jawab sosialnya. Sebagai pembuktian terhadap berbagai konsep CSR, maka perusahaan menerapkan tanggung jawab sosialnya melalui program-program pengembangan masyarakat. Sasaran dari program tersebut adalah komunitas lokal yang bertempat tinggal di daerah sekitar berdirinya perusahaan secara khususnya dan masyarakat luas pada umumnya. Selain hal tersebut, dalam memahami pengaplikasian CSR oleh suatu perusahaan tentunya diperlukan beberapa hal untuk menunjukkan terdapatnya wujud tanggung jawab sosial perusahaan secara nyata, sesuai dengan kebijakan yang telah resmi disepakati. Pandangan perusahaan terhadap CSR mempengaruhi bagaimana perusahaan membuat kebijakan mengenai CSR. Cara pandang perusahaan terhadap CSR dapat dikategorikan menjadi 3 jenis, yang pertama yaitu sekedar basa basi atau keterpaksaan yang terdiri dari external driven, environmental driven dan reputation driven. Kategori kedua yaitu sebagai upaya untuk memenuhi kewajiban (compliance) dan yang ketiga yaitu CSR diimplementasikan karena adanya dorongan yang tulus dari dalam (internal driven).

(48)

Keterangan:

: Mempengaruhi : Dalam satu cakupan

Gambar 1. Kerangka Pemikiran

Kebijakan CSR Perusahaan Kebijakan Pemerintah (KEPMEN BUMN) Strategi perusahaan. Pandangan perusahaan terhadap CSR : • External driven,environmental driven, reputation driven. • Compliance

• Internal driven

Fase pergeseran paradigma menurut Alyson Warhurst :

1. Fase 1 2. Fase 2 3. Fase 3 Tahap-tahap CSR: 1. Perencanaan 2. Implementasi 3. Evaluasi 4. Pelaporan Manfaat CSR Masyarakat Perusahaan

(49)

Untuk mengetahui keberadaan perusahaan dalam suatu fase pada paradigma CSR, maka terdapat tiga fase yang terkait dengan kebijakan CSR yang terdapat di perusahaan. Fase tersebut terdiri dari Fase 1 (timbulnya kesadaran terhadap masalah sosial post facto), fase 2 (hubungan untuk menyelesaikan masalah dampak negatif), serta fase 3 (hubungan untuk mencegah masalah di masa datang).

Kebijakan yang tertera pada perusahaan mengenai tanggung jawab sosial perusahaan dapat pula mencakup strategi perusahaan dalam menjalankan CSRnya, dimana dalam pelaksanaannya setiap perusahaan tentu memiliki rencana dan standar tertentu agar hasil yang didapatkan sesuai dengan yang diinginkan. Kebijakan yang telah disepakati perusahaan dalam merancang strategi dapat dilihat dari bagaimana pada tahap perencanaan sampai pada tahap pelaporan. Selain berhubungan dengan tahap-tahap penerapan CSR, strategi dalam pelaksanaan suatu program CSR juga akan mempengaruhi cara pandang persahaan terhadap CSR. Bagaimana perusahaan memandang CSR dapat dilihat dari kebijakan CSR maupun strategi penerapan CSRnya. Selanjutnya, dari hasil yang didapatkan, maka program yang diselenggarakan oleh perusahaan juga harus memiliki manfaat, karena dari manfaat tersebut dapat dilihat sejauh mana perusahaan telah membangun citra positifnya. Manfaat yang dirasa diharapkan untuk diperoleh masyarakat atau komunitas lokal sebagai penerima program. Dengan manfaat tersebut, selain masyarakat dapat menikmati keuntungan dari program, masyarakat dapat pula merasakan keberadaan perusahaan disekitarnya dan mendukung serta memberi opini positif bagi perusahaan.

(50)

2.3 Hipotesis Pengarah

Konsep CSR yang meliputi konsep cara pandang perusahaan mengenai CSR diduga akan mempengaruhi kebijakan perusahaan tentang CSR. Selain berhubungan dengan cara pandang perusahaan mengenai CSR, dari pandangan perusahaan juga diduga akan diketahui keberadaan perusahaan pada fase dalam pergeseran paradigma CSR menurut Warhurst yang terdiri dari 3 fase yaitu fase timbulnya kesadaran terhadap masalah sosial, fase hubungan untuk menyelesaikan masalah dampak negatif, dan fase hubungan untuk mencegah masalah di masa datang. Kemudian kebijakan yang ada pada perusahaan diduga akan mencakup strategi dalam melaksanakan tanggung jawab sosial. Satategi perusahaan dalam menerapkan CSR akan memengaruhi bagaimana cara pandang perusahaan terhadap CSR. Kebijakan perusahaan terhadap strategi penerapan CSR juga akan berhubungan dengan tahap-tahap CSR yaitu tahap perencanaan, implementasi, evaluasi dan pelaporan. Setiap tahap tersebut akan menjadi suatu analisis melalui penyesuaian dengan kebijakan real (konkret) yang terdapat di perusahaan mengenai strategi penerapan CSR (pada salah satu programnya), dalam arti bagaimana strategi penerapan CSR oleh perusahaan dalam masing-masing tahap penerapan CSR tersebut. Dari strategi perusahaan, kemudian akan dilanjutkan dengan penerapan CSR yang dilakukan perusahaan. Pelaksanaan CSR selanjutnya akan menghasilkan manfaat baik bagi perusahaan maupun masyarakat atau komunitas lokal.

   

(51)

3.1 Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dalam upaya menggambarkan fenomena tanggung jawab sosial perusahaan sebagai upaya pengembangan masyarakat melalui metode studi kasus pada PT Aneka Tambang (Antam) Tbk. Pendekatan kualitatif digunakan untuk mengembangkan pemahaman yang mendalam dan rinci tentang tahap-tahap penerapan tanggung jawab sosial perusahaan yang terdapat di Antam, strategi yang digunakan perusahaan dalam penerapan tanggung jawab sosialnya, dan manfaatnya bagi perusahaan dan masyarakat.

Strategi penelitian yang dipilih adalah studi kasus. Studi kasus merupakan salah satu strategi dalam penelitian yang berarti memilih suatu kejadian atau gejala khusus untuk diteliti dengan menerapkan berbagai metode (Stake dalam Sitorus 1998). Studi kasus yang dipilih berupa studi kasus instrinsik, yaitu studi kasus yang dilakukan karena peneliti ingin mengkaji atas suatu kasus khusus untuk memperoleh wawasan atas suatu isu atau sebagai pendukung untuk membantu peneliti dalam memahami konsep tanggung jawab sosial PT Antam Tbk. Studi kasus intrinsik ini dipilih oleh peneliti karena katertarikan peneliti terhadap CSR.

3.2 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan di PT ANTAM Jl. Letjen TB Simatupang No. 1 Lingkar Selatan, Tanjung Barat, Jakarta. Pemilihan lokasi penelitian ini dilakukan

(52)

secara sengaja (purposive). Sebelum menentukan lokasi penelitian, peneliti telah melakukan observasi melalui penelusuran kepustakaan surat kabar, buku, hasil penelitian dari beberapa peneliti, internet, serta beberapa narasumber yang memberikan informasi mengenai perusahaan yang telah melakukan tanggung jawab sosialnya. Setelah dilakukan penelusuran melalui kepustaaan, akhirnya peneliti memilih Antam sebagai lokasi penelitian. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai bulan Mei 2008. Penelitian yang dimaksud mencakup waktu semenjak peneliti intensif di lapangan hingga pengolahan dan analisis data.

3.3 Pemilihan Subyek Penelitian

Subyek tineliti terdiri dari informan dan responden. Informan merupakan pihak yang memberikan keterangan tentang pihak lain dan lingkungannya, sedangkan responden merupakan pihak yang memberi keterangan tentang diri dan kegiatan yang dilaksanakan. Dalam hal ini, informan adalah pihak perusahaan (Antam) selaku pemberi informasi mengenai tanggung jawab sosial perusahaan sebagai upaya pengembangan masyarakat dan responden adalah masyarakat (pihak luar) dan pihak Antam yang terkait dengan program tanggung jawab sosial yang dilakukan Antam. Pemilihan subyek tineliti (responden) dipilih secara purposif (sengaja), sedangkan pemilihan informan dilakukan dengan teknik “bola salju” (snow ball sampling). Penentuan responden dan informan akan dilakukan di lapangan. Pada penentuan informan dilakukan dengan mencari informan kunci atau orang yang dianggap paham mengenai program CSR perusahaan.

Pihak yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah salah satu staf Public Relations (PR) PT Antam Tbk. Penentuan informan ini merupakan hasil rekomendasi dari seorang staf CSR Group PT Antam Tbk. Informan tersebut

(53)

ditentukan agar peneliti dapat memperoleh gambaran mengenai profil perusahaan. Informan dalam penelitian ini juga terdiri dari seorang warga yang tinggal di sekitar kantor Antam. Penentuan informan ini merupakan hasil rekomendasi dari seorang staf CSR Group Antam. Informan ini adalah pihak yang pernah terlibat dalam program CSR yang dilakukan di sekitar wilayah Tanjung Barat. Tujuan penetuan informan untuk mendapat gambaran mengenai tanggapan masyarakat terhadap program CSR yang dilakukan oleh Antam.

Pihak yang menjadi responden adalah dua orang staf CSR Group PT Antam Tbk dan tiga orang mitra binaan Antam yang mengikuti salah satu acara pameran seni kerajinan tangan yang diikuti Antam di Jakarta. Penentuan responden ini dilakukan agar peneliti dapat memperoleh gambaran mengenai pandangan perusahaan terhadap CSR, strategi yang dijalankan perusahaan pada Program Kemitraan, serta manfaat yang dapat diperoleh baik bagi perusahaan maupun bagi penerima program.

3.4 Metode Pengumpulan Data

Peneliti menggunakan beberapa metode pengumpulan data untuk memperoleh pemahaman tentang penerapan program tanggung jawab sosial Antam. Metode pengumpulan data yang digunakan digambarkan dengan metode triangulasi. Metode triangulasi dalam penelitian ini terdiri dari metode pengumpulan data kualitatif berupa wawancara mendalam, pengamatan berperanserta dan penelusuran dokumen.

Metode pengumpulan data digunakan untuk memperoleh data primer dan data sekunder yang berguna dalam menjawab pertanyaan penelitian. Data primer diperoleh dari subyek tineliti yang terdiri dari informan dan responden melalui

(54)

wawancara mendalam dan pengamatan berperanserta. Data sekunder merupakan dokumen-dokumen yang terkait dengan kebijakan dan strategi Antam dalam melakukan tanggung jawab sosial perusahaan, profil perusahaan dan kebijakan perusahaan. Adapun tahap-tahap yang akan dilakukan dalam pengambilan data yaitu penelusuran kepustakaan melalui buku, artikel, dan internet terkait dengan kajian penelitian, kemudian wawancara mendalam kepada pihak manajeman Antam, pelaksana program dan informan. Tahap terakhir yaitu pengamatan berperan-serta yang dilakukan selama penelitian berlangsung.

3.4.1 Wawancara Mendalam

Wawancara mendalam dilakukan untuk memperkenalkan peneliti, mengenal subyek tineliti, dan memperoleh data tentang program tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan. Selain itu, wawancara mendalam juga dilakukan untuk mengetahui strategi yang digunakan perusahaan dalam mewujudkan tanggung jawab sosial perusahaan serta manfaat yang diperoleh perusahaan dan masyarakat dari program tanggung jawab sosial perusahaan. Wawancara mendalam dilakukan dengan berkunjung secara resmi ke perusahaan yang ditujukan pada pihak manajemen perusahaan, yakni pihak Public Relation PT Antam Tbk, dua orang staf CSR Group PT antam Tbk serta tiga mitra binaan Antam selaku penerima program.

Wawancara dilakukan dengan mendatangi informan dan responden. Wawancara dengan staf PT Antam Tbk dilakukan dengan mendatangi staf tersebut di kantor Antam. Wawancara dengan salah satu warga yang bertempat tinggal di sekitar kantor Antam dilakukan dengan mendatangi tempat tinggalnya. Wawancara dengan mitra binaan dilakukan dengan mengunjungi mitra binaan

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :