• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II KAJIAN PUSTAKA"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

2.1 Kajian Teori

2.1.1 Pembelajaran Matematika

Kata “Pembelajaran” berasal dari kata belajar yakni kegiatan yang dilakukan oleh setiap orang untuk memperoleh perubahan yang lebih baik serta untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Belajar juga dapat diartikan suatu proses atau usaha yang dilakukian seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. (Meto, 2003 : 2).

Sedangkan kata “Matematika” berasal dari kata latin mathematic yang berarti mempelajari. Jadi berdasarkan asal katanya matematika adalah ilmu pengetahuan yang diadapat dengan cara berpikir, sehingga pembelajaran matematika ditekankan pada rasio (penalaran), bukan menekankan hasil eksperimen atau hasil observasi. Matematika terbentuk karena pikiran-pikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses dan penalaran.

(Suwangsih,2006:3)

Matematika juga berkenaan dengan ide, aturan-aturan, hubungan- hubungan yang diatur secara logis sehingga matematika berkaitan dengan konsep-konsep abstrak, (Hudoyo, 1990 : 3).

Dalam hal ini mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. (sutawijaya, 1997 : 176)

Menurut Brunner matematika adalah belajar mengenai konsep-konsep dan struktur-struktur matematika yang terdapat didalam materi yang dipelajari serta mencari hubungan antara konsep-konsep dan struktur-struktur matematika itu. Brunner melalui teorinya mengungkapkan bahwa dalam

(2)

proses belajar anak sebaiknya diberi kesempatan memanipulasi benda- benda atau alat peraga yang dirancang secara khusus dan dapat diotak atik oleh siswa dalam memahami suatu konsep matematika. Melalui alat peraga yang ditelitinya anak akan melihat langsung bagaimana keteraturan dan pola struktur yang terdapat dalam benda yang diperhatikannya. (Doyo, 1990 : 48).

Menurut pendapat lain matematika adalah pengetahuan atau ilmu mengenai logika dan problem-problem numeric. Matematika membahas problem ruang dan waktu. Matematika adalah queen of science (ratunya ilmu). (Trisman dan Tambunan, 1987 : 2-4).

Mata pelajaran matematika juga mempunyai tujuan yakni siswa belatih atas dasar pemikiran logis, rasional, kritis, cermat, jenius, efektif terhadap perkembangan jaman. Matematika sebagai salah satu dasar dalam kehidupan sehari-hari berguna untuk memahami dasar-dasar ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang dewasa ini (Djoko, 2006 : 125).

Adapun tujuan pembelajaran matematika menurut pendapat lain adalah :

1. Melatih cara berpikir dan bernalar dalam menari kesimpulan.

2. Mengembangkan aktifitas dan kreatifitas.

3. Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah.

4. Mengembangkan informasi.

5. Menyampaikan informasi dan menginformasikan gagasan.(Depdiknas, 2003:2)

Berdasarkan teori diatas, dalam pembelajaran matematika siswa menemukan fakta, konsep dan aturan. Untuk dapat menemukan itu semua, siswa diharapkan dapat berinteraksi, mempunyai kemampuan menyelidiki, memecahkan masalah dan belajar mandiri. Hal ini berarti siswa dituntut untuk terlibat aktif dan berpartisipasi dalam pembelajaran.

2.1.2 Hasil Belajar

Setiap kegiatan belajar siswa pasti memiliki tujuan pembelajaan yang ingin dicapai. Untuk mengetahui tujuan pembelajaran dapat dilihat dari hasil

(3)

belajar siswa. Hasil belajar digunakan untuk menunjukan suatu pencapaian atau keberhasilan dalam tujuan yang dibutuhkan suatu rencana strategi.

Rencana tersebut adalah suatu proses bukan diperoleh secara tiba – tiba, tetapi memerlukan kerja yang giat dan continue.

Mulyasa (2008:212) menyatakan bahwa hasil belajar merupakan proses belajar peserta didik secara keseluruhan yang menjadi indicator kompetensi dasar dan derajat perubahan perilaku yang bersangkutan.

Menurut Dimyati dan Mudjiono (1999:250), hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan dari sisi guru. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila dibanding pada saat siswa sebelum belajar. Tingkat perkembangan mental tersebut terwujud pada jenis-jenis ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Sedangkan dari sisi guru, hasil belajar merupakan saat terselesikannya bahan pelajaran.

Menurut Rahman (2009:37) hasil belajar ditandai dengan perubahan tingkah laku. Walaupun tidak semua tingkah laku merupakan hasil belajar, akan tetapi aktifitas belajar pada umumnya disertai perubahan tingkah laku.

Hasil belajar menurut Sudjana (1990:22) adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Gane mengungkapkan ada lima kategori hasil belajar, yakni : informasi verbal, kecakapan inteletual, strategi kognitif, sikap dan ketrampilan.

Hasil belajar yang dicapai siswa menurut Sudjana (1990:56), melalui proses belajar mengajar yang optimal ditunjukkan dengan ciri-ciri sebagai berikut:

1. Kepuasan dan kebanggaan yang dapat menumbuhkan motivasi belajar intrinsik pada diri siswa. Siswa tidak mengeluh dengan prestasi yang rendah dan ia akan berjuang lebih keras untuk memperbaikinya atau setidaknya mempertahankan apa yang telah dicapai.

2. Menambah keyakinan dan kemampuan dirinya, artinya ia tahu kemampuan dirinya dan percaya bahwa ia mempunyai potensi yang tidak kalah ddari orang lain apabila ia berusaha sebagaimana mestinya.

(4)

3. Hasil belajar yang dicapai bermakna bagi dirinya, seperti akan tahan lama diingat, membentuk perilaku, bermanfaat untuk mempelajari aspek lain, kemauan dan kemampuan untuk belajar sendiri dan mengembangkan kreativitasnya.

4. Hasil belajar yang diperoleh siswa menyeluruh (komprehensif), yakni mencakup ranah kognitif, pengetahuan atau wawasan, ranah afektif (sikap) dan ranah psikomotorik, ketrampilan atau perilaku.

5. Kemampuan siswa untu mengontrol atau menilai dan mengendalikan diri terutama dalam menilai hasil yang dicapainya maupun menilai dan mengendalikan proses dan usaha belajarnya.

Menurut Hamalik, (2006:30) hasil belajar adalah bila seseorang telah belajar akan terjadi perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti.

Berdasarkan teori Taksonomi Bloom hasil belajar dalam rangka studi dicapai melalui tiga kategori ranah antara lain kognitif, afektif, psikomotor.

Perinciannya adalah sebagai berikut:

1. Ranah Kognitif

Berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari 6 aspek yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan penilaian.

2. Ranah Afektif

Berkenaan dengan sikap dan nilai. Ranah Afektif meliputi lima jenjang kemampuan yaitu menerima, menjawab atau reaksi, menilai, organisasi dan karakterisasi dengan suatu nilai atau kompleks nilai

3. Ranah Psikomotorik

Meliputi keterampilan motorik, manipulasi benda-benda, koordinasi (menghubungkan), mengamati.

Tipe hasil belajar kognitif lebih dominan daripada afektif dan psikomotor karena lebih menonjol, namun hasil belajar psikomotor dan afektif juga harus menjadi bagian dari hasil penilaian dalam proses pembelajaran di sekolah.

Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia

(5)

menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar digunakan oleh guru untuk dijadikan ukuran atau kriteria dalam mencapai suatu tujuan pendidikan. Hal ini dapat tercapai apabila siswa sudah memahami belajar dengan diiringi oleh perubahan tingkah laku yang lebih baik lagi. (Sudjana, 2005:22)

Dari beberapa teori diatas, menyatakan bahwa pengertian hasil belajar adalah hasil usaha yang dicapai dari usaha yang maksimal yang dikerjakan seseorang setelah mengalami proses belajar mengajar atau setelah mengalami proses interaksi dengan lingkunganya guna memperoleh ilmu pengetahuan dan akan menimbulkan perubahan tingkah laku yang bersifat relatif menetap dan tahan lama. Hasil belajar yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah hasil akademik yaitu hasil yang dicapai siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar yang telah dirumuskan guru baik berupa segi kognitif, afektif, dan psikomotoriknya dalam proses belajar mengajar guru wajib menetukan tujuan pembelajaran.

Cara mengukur keberhasilan siswa yaitu guru mampu menevaluasi belajar siswa. Keberhasilan siswa dapat dilihat dari segi pencapaian tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan untuk memudahkan guru dalam mengukur keberhasilan siswa maka guru harus menentukan criteria dalam pembuatan penelitian tindakan kelas. Jadi hasil belajar dapat diartikan sebagai hail belajar yang telah dicapai siswa setelah mengikuti kegiatan proses belajar mengajar baik yang menyangkut segi kognitif, afektif, dan psikomotorik. Hasil yang dimaksud dalam penelitian tindakan kelas ini, berupa hasil belajar akademik.

Dalam hal ini hasil belajar yang dicapai siswa berkaitan erat dengan kesulitan belajar dan keberhasilan belajar. Kesulitan belajar siswa dalam mata pelajaran matematika dapat diketahui dari ciri-cirinya, dimana anak didik atau siswa tidak mampu belajar sehingga hasil dibawah potensi intelektualnya (Alan O Ross, 1974:103)

Menurut Abdurrahman (1996:6) bahwa kesulitan belajar adalah ketidakmampuan belajar. Sedangkan pendapat Kuffman dan Lioyd (1985:14) bahwa kesulitan belajar adalah gangguan dalam satu atau lebih dari proses psikologis dasar yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa atau

(6)

tulisan. Gangguan tersebut memungkinkan menampakkan diri dalam bentuk kesulitan mendengarkan, berfikir, berbicara, membaca, menulis, mengeja atau berhitung.

Masalah belajar menurut Amti, (1992:67) digolongkan atas sangat cepat dalam belajar, keterlambatan akademik, lambat belajar, penempatan kelas, kurang motivasi dalam belajar, sikap dan kebiasaan yang buruk dalam belajar dan kehadiran disekolah sering tidak masuk. Dengan demikian, anak perlu bimbingan dari guru agar proses pembelajaran dapat menjadi lebih efektif dan dinamis.

2.1.3 Motivasi

Berbicara motivasi tidak terlepas dari kata “ motif “. Secara morfologi, kamus Besar Bahasa Indonesia memberikan pengertian motif dan motivasi sebagai berikut :

Motif adalah kata benda yang artinya pendorong, sedangkan motivasi adalah kata kerja yang artinya mendorong. Dengan kata lain motif dapat diartikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu sedangkan motivasi adalah dorongan atau kekuatan dalam diri individu untuk melakukan sesuatu dalam mencapai suatu tujuan tertentu. Sementara untuk pengertian motivasi belajar ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakannya.

Dalam bukunya yang berjudul: Belajar Secara Efektif, Hakim (2001:26), berpendapat bahwa yang dimaksud motivasi: “Motivasi didefinisikan sebagai suatu dorongan kehendak yang menyebabkan seseorang melakukan suatu perbuatan untuk mencapai tujuan tertentu.

Pendapat di atas menunjukkan bahwa seseorang melaksanakan sesuatu karena ada dorongan dalam dirinya untuk mencapai sesuatu. Makin kuat dorongan tersebut maka makin optimal pula ia berupaya agar sesuatu yang dituju dapat tercapai, di mana kalau sesuatu yang diinginkan itu dapat tercapai maka ia akan merasa berhasil dan juga akan merasa puas. Istilah motivasi adalah

(7)

kata yang berasal dari bahasa latin yaitu “movere yang berarti menggerakkan”.

Menurut Sardiman (1996:75) Motivasi adalah: Motivasi dapat juga dikatakan sebagai serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi – kondisi tertentu, sehingga seseorang itu mau dan ingin melakukan sesuatu, dan bila ia tidak suka, maka berusaha untuk meniadakan atau mengelakan perasaan tidak suka tersebut. Jadi motivasi itu dapat dirangkai oleh faktor dari luar tetapi motivasi adalah tumbuh di dalam diri seseorang.

Motivasi adalah keadaan internal yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu. Motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:

1. Motivasi instrinsik, yaitu hal atau keadaan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar.

man (1996:6) menyatakan bahwa Indikator motivasi yang diukur

n guru.

dipecahkan dalam kelompok.

am kegiatan belajar.

bahwa : Motivasi belajar adalah ri siswa yang menimbulkan kegiatan 2. Motivasi ekstrinsik, yaitu hal atau keadaan yang dating dari luar individu

siswa yang juga mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar.

Sardi

dalam penelitian ini adalah : 1. Memperhatikan penjelasa

2. Tertib dalam pembentukan kelompok.

3. Saling bekerja sama dalam kegiatan kelompok.

4. Berdisiplin saat pembelajaran berlangsung.

5. Berusaha memecahkan kesulitan yang di hadapi.

6. Berani mengemukakan pendapat.

7. Bertanya tentang hal - hal yang tidak bisa 8. Menyimpulkan hasil laporan kegiatannya.

9. Senang dal

10. Mengerjakan tes dengan jujur.

Sardiman, (1998:75) mengatakan keseluruhan daya penggerak di dalam di

belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan memberi arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu tercapai. Berdasarkan pendapat – pendapat di atas, dapat diambil

(8)

orong individu untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu

enurut Sumadi Suryabrata (1993:71), yaitu :

dorongan minum.

ena dipelajari, misalnya dorongan untuk getahuan.

g berfungsi karena adanya rangasangan dari luar, seperti ajar giat karena diberi tahu bahwa sebentar lagi

si yang berfungsi tidak uasah dirangsang dari luar. Memang elah ada dorongan itu.

gkan dengan para siswa yang

kesimpulan bahwa motivasi belajar adalah dorongan atau kekuatan dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan serta arah belajar untuk mencapai tujuan yang dikehendaki siswa. Motivasi mempunyai fungsi yang penting dalam belajar, karena motivasi akan menentukan identitas usaha belajar yang dilakukan siswa.

Menurut Suryabrata (1993:70) Motivasi adalah keadaan dalam pribadi orang yang mend

guna mencapai tujuan tertentu. Tiap aktifitas yang dilakukan oleh seseorang pasti didorong oleh sesuatu kekuatan dari dalam diri orang itu, yang disebut dengan motivasi.

a) Penggolongan berdasarkan atas terbentuknya motivasi dibedakan atas

dua macam M 1. Motivasi bawaan

Motivasi bawaan sejak lahir, jadi tanpa dipelajari misalnya untuk makan dan

2. Motivasi yang dipelajari Motivasi yang timbul kar

belajar sesuatu ilmu pen

b) Penggolongan berdasarkan atas jalarannya, motivasi dibedakan atas dua

macam yaitu : 1. Motivasi ekstrinsik Motivasi yan

misalnya orang bel ujian.

2. Motivasi Instrinsik Motiva

dalam diri individu t

Hawley (Yusuf, 1993:14) menyatakan bahwa para siswa yang memiliki motivasi tinggi, belajarnya akan lebih baik dibandin

memiliki motivasi rendah. Hal ini dapat dipahami, karena siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi akan tekun dalam belajar dan terus belajar

(9)

kan motif

dan

siswa dalam belajar, maka guru diharapkan dapat membangkitkan dan

2.1.4

Untuk emperoleh hasil pembelajaran yang optimal dtentukan pada lah satu metode yang dapat

bangkan oleh J. Myron Atkin, Robert Karplu

secara kontinyu tanpa mengenal putus asa serta dapat mengesampingkan hal – hal yang dapat mengganggu kegiatan belajar yang dilakukannya.

Yusuf (1992:25) mengemukakan bahwa untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, guru mempunyai peranan sebagai berikut :

1. Menciptakan lingkungan belajar yang merangsang anak untuk belajar 2. Memberi reinforoment bagi tingkah laku yang menunjuk

3. Menciptakan lingkungan kelas yang dapat mengembangkan curiosity kegemaran

Mengingat demikian pentingnya peranan dan fungsi motivasi bagi

meningkatkan motivasi belajar peserta didik siswa – siswanya. Agar siswa dapat mencapai hasil belajar yang optimal, maka siswa harus memiliki motivasi belajar yang tinggi, namun pada kenyataannya tidak semua siswa memiliki motivasi belajar yang tinggi dalam belajar. Untuk membantu siswa yang memiliki motivasi rendah perlu dilakukan suatu upaya dari guru agar siswa yang bersangkutan dapat meningkatkan motivasi belajarnya.

Model Pembelajaran Siklus (Learning Cycle) m

alat pemilihan metode yang tepat . Adapun sa

menunjang keberhasilan pembelajaran yang efektif adalah model pembelajaran siklus ( Learning Cycle).

Learning Cycle merupakan suatu model pembelajaran sains yang berbasis konstuktivistik. Model ini dikem

s dan Kelompok SCIS (Science Curriculum Improvement Study), di Universitas California, Berkeley, Amerika Serikat sejak tahun 1967 (Dean Zollman & N. Sanjay Rebello, 1998:1). Teori konstruktivisme memandang bahwa belajar merupakan suatu proses membangun pengetahuan sedikit demi sedikit, yang kemudian hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil atau diingat. Manusia harus

(10)

an konsep sendiri atau me

masi baru dikaitkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa;

igasi dan penemuan yang

18) menuturkan learning cyclepada mulanya terdiri dari concept application (E-I- A). Tiga

belajar, membangkitkan minat siswa pada pelajaran mengonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata (Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, 2007: 115-116).

Menurut Soebagio, dkk (2001: 50) learning cycle merupakan suatu model pembelajaran yang memungkinkan siswa menemuk

mantapkan konsep yang dipelajari, mencegah terjadinya kesalahan konsep, dan memberikan peluang kepada siswa untuk menerapkan konsep- konsep yang telah dipelajari pada situasi baru. Implementasi model pembelajaran learning cycle dalam pembelajaran sesuai dengan pandangan kontruktivisme dimana pengetahuan dibangun pada diri peserta didik.

Beberapa keuntungan diterapkannya model pembelajaran learning cycle adalah :

(1) Pembelajaran bersifat student centered;

(2) Infor

(3) Orientasi pembelajaran adalah invest merupakan pemecahan masalah;

(4) Proses pembelajaran menjadi lebih bermakna karena mengutamakan pengalaman nyata;

(5) Menghindarkan siswa dari cara belajar tradisional yang cenderung menghafal; dan

(6) Membentuk siswa yang aktif, kritis, dan kreatif Lauer (2003: 5

tiga tahap yaitu exploration, concept introduction dan

tahap tersebut saat ini berkembang menjadi lima tahap yang dikenal dengan nama 5E (engagement, exploration, explanation, elaboration/extention, dan evaluation). Langkah-langkah dalam setiap tahap pembelajaran learning cycle 5e dijelaskan oleh Anthony W. Lorsbach (2002) sebagai berikut:

(1) Tahap engagement. Pada tahap ini guru menyiapkan atau mengondisikan siswa untuk

matematika, dan melakukan tanya jawab dalam mengeksplorasi pengetahuan awal siswa.

(11)

(2) T

gerjakan LKS tanpa pengajaran langsung dari

(3) T

p hasil temuan kelompoknya dengan kata-

(4) T

enyelesaikan soal-soal pemecahan masalah.

uh

yang bersifat

student

ian eksplanasi (empiris) dan diakhiri

ahap exploration. Pada tahap ini siswa bekerja sama dalam kelompok- kelompok kecil untuk men

guru. Siswa mempelajari konsep sendiri dari berbagai sumber yang dimiliki dan mendiskusikan dengan teman kelompoknya. Dalam hal ini guru berperan sebagai fasilitator.

ahap explanation. Tahap ini merupakan tahap diskusi klasikal. Pada tahap ini siswa menjelaskan konse

kata mereka sendiri, menunjukkan bukti dan klarifikasi dari penjelasan mereka, serta membandingkan argumen yang mereka miliki dengan argumen dari siswa lain.

ahap elaboration. Pada tahap ini siswa mengaplikasikan konsep yang mereka dapatkan untuk m

(5) Tahap evaluation. Evaluasi dapat dilakukan melalui pemberian tes (quiz) atau open-endedquestion di akhir pembelajaran untuk mengetahui seja mana tingkat pemahaman siswa terhadap konsep yang dipelajari.

Setiap tahap yang terstruktur dalam learning cycle 5e memiliki manfaat positif bagi siswa karena mengindikasikan pembelajaran yang

-centered. Proses pembelajaran bukan lagi sekedar transfer pengetahuan dari guru ke siswa, tetapi merupakan proses pemerolehan konsep yang berorientasi pada keterlibatan siswa secara aktif dan langsung.

Proses pembelajaran demikian akan lebih bermakna, menghindarkan siswa dari cara belajar tradisional yang cenderung menghafal, dan menjadikan skema dalam diri siswa yang setiap saat dapat diorganisasi oleh siswa untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi.

Ramsey (1993) mengemukakan bahwa pembelajaran efektif secara bersiklus, mulai dari eksplorasi (deskripsi), kemud

dengan aplikasi (aduktif). Ekplorasi berarti menggali pengetahuan prasyarat, eksplanasi berarti mengenalkan konsep baru dan alternative pemecahan, dan aplikasi berarti menggunakan konsep dalam konsep yang berbeda.

(12)

jaran dengan pendekatan konstruktivis yang pada mulanya terdiri

ep (Concept introduction) pt Aplication)

9:171) tiga siklus tersebut

awal dari siklus ini guru berusaha membangkitkan minat dan

jawaban siswa tersebut dapat dijadikan pijakan oleh guru

2. i

Eksplorasi merupakan tahap kedua model siklus belajar. Pada bentuk kelompok-kelompok kecil antara 2-4 siswa kemudian Metode pembelajaran siklus merupakan salah satu model pembela

dari tiga tahap yaitu:

1. Eksplorasi (Eksploration) 2. Pengenalan kons

3. Penerapan konsep (Conce

Menurut Lorsbach dalam wena (200

dikembangkan menjadi lima tahap yang terdiri atas tahap:

1. Pembangkitan minat

Tahap pembangkitan minat merupakan tahap belajar. Pada tahap

keingintahuan (Curiosity) siswa tentang topic yang akan diajarkan. Hal ini dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan tentang proses factual dalam kehidupan sehari hari yang berhubungan dengan topik bahasan.

Dengan demikian siswa akan memberikan respon atau jawaban, kemudian

untuk mengetahui pengetahuan awal siswa tentang pokok bahasan.

Kemudian guru perlu melakukan identifikasi ada atau tidaknya kesalahan konsep pada siswa. Dalam hal ini guru harus membangun keterkaitan antara pengalaman keseharian siswa dengan topik pelajaran yang akan dibahas.

Eksploras

tahap ini di

diberi kesempatan untuk bekerjasama dalam kelompok kecil tanpa pembelajaran langsung dari guru. Dalam kelompok ini siswa didorong untuk menguji hipotesis antara membuat hipotesis baru, mencoba alternative pemecahanya dengan teman sekelompok, melakukan dan mencatat pengamatan serta ide-ide atau pendapat yang berkembang

(13)

3.

Penjelasan merupakan tahap ketiga siklus belajar. Pada tahap ini t untukmendorong siswa untuk menjelaskan suatu konsep

4.

Elaborasi merupakan tahap keempat siklus belajar. Pada tahap ini erapkan konsep dan ketrampilan yang telah dipelajari dalam

5.

Evaluasi merupakan tahap akhir dalam siklus belajar. Pada tahap apat mengamati pengetahuan atau pemahaman siswa dalam dalam diskusi. Pada tahap ini guru berperan sebagai fasilitator dan motivator. Pada dasarnya tujuan pada tahap ini adalah mengecek pengetahuan yang dimiliki siswa apakah sudah benar, masih salah, atau mungkin sebagian salah sebagian benar.

Penjelasan

guru dituntu

dengan kalimat atau pemikiran sendiri, meminta bukti dan klarifikasi atas penjelasan siswa, saling mendengar secara kritis penjelasan antar siswa atau guru. Dengan adanya diskusi tersebut, guru memberi definisi dan penjelasan tentang konsep yang dibahas, dengan memakai penjelasan siswa terdahulu sebagai dasar diskusi.

Elaborasi

siswa men

situasi baru atau konteks yang berbeda. Dengan demikian siswa akan dapat belajar secara bermakna karena telah dapat menerapkan konsep yang baru dipelajarinya dalam situasi baru. Jika hal ini bisa dirancang dengan baik oleh guru maka motivasi belajar siswa akan meningkat.

Meningkatkan motivasi belajar siswa tentu dapat mendorong peningkatan hasil belajar siswa.

Evaluasi

ini guru d

menerapkan konsep baru. Siswa dapat melakukan evaluasi diri dengan mengajukan pertanyaan terbuka dan mencari jawaban yang menggunakan observasi, bukti dan penjelasan yang diperoleh sebelumnya. Hasil evaluasi ini dapat dijadikan guru sebagai bahan

(14)

telah dipaparkan, diharapkan siswa tidak hanya mendengar

yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah : Dia

asing kelompok.

onsep materi yang sedang

g telah dipelajari.

2.2 Hasil P

Retnani, Feni (2011) dalam penelitiannya pada Judul Aplikasi model uk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil evaluasi tentang proses penerapan metode siklus belajar yang sedang diterapkan.

Berdasarkan tahapan dalam strategi pembelajaran bersiklus seperti yang

keterangan guru tetapi dapat berperan aktif untuk menggali, menganalisis, mengevaluasi pemahamannya terhadap konsep yang dipelajari.

Aplikasi strategi pembelajaran siklus dalam pembelajaran matematika

1. wal pembelajaran guru memberikan pertanyaan yang dapat merangsang siswa dan dapat menarik minat siswa.

2. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil antar 2-4 orang dan diberi soal latihan, untuk dikerjakan dalam masing-m

3. Diadakan diskusi kelas yang menuntut siswa dari masing-masing kelompok untuk mengemukakan pendapat atau jawaban dari soal yang telah didiskusikan dalam kelompok.

4. Guru dan siswa bersama-sama membahas soal latihan yang baru saja didiskusikan dan guru menjelaskan k

dipelajari.

5. Siswa diberi soal latihan untuk mengetahui pemahaman tentang konsep yan

enelitian yang relevan

pembelajaran learning cycle unt

belajar pada mata pelajaran matematika siswa kelas X SMA Negeri 1 Kauman Kabupaten Tulungagung. Menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Learning Cycle dapat meningkatkan hasil belajar dan kemampuan berpikir kritis siswa. Kemampuan berpikir kritis siswa mengalami peningkatan yakni pada siklus I siswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis kategori kurang, pada siklus I sebesar 51% berkurang menjadi 14% pada siklus II, kemudian siswa yang memiliki

(15)

gkatkan Kemampuan Komuni

g Cycle) dalam pemahaman hasil belajar dan motiva

kemampuan berpikir kritis kategori cukup, pada siklus I sebesar 30% meningkat menjadi 37% pada siklus II, dan siswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis kategori baik, pada siklus I sebesar 19% naik menjadi 35% pada siklus II serta siswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis kategori sangat baik, pada siklus I sebesar 0% naik menjadi 14% pada siklus II. Sedangkan pada hasil belajar dapat dilihat peningkatan pada siklus I hasil belajar aspek kognitif menunjukkan bahwa nilai rata- rata kelas sebesar 74 dan ketuntasan belajar klasikal sebesar 67%. Pada siklus II hasil belajar aspek kognitif menunjukkan nilai rata-rata kelas sebesar 75 dan ketuntasan belajar klasikal sebesar 93%. Sehingga hasil belajar aspek kognitif siswa mengalami peningkatan sebesar 29%. Dengan demikian pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran siklus pada siswa kelas X SMA Negeri 1 Kauman Kabupaten Tulungagung tahun pelajaran 2011/2012 hasil berpikir dan hasil belajar siswa mengalami peningkatan dan dikatakan “berhasil”.

Sedangkan menurut Agustyaningrum, Nina (2010) dalam penelitiannya Implementasi Model Pembelajaran Learning Cycle Untuk Menin

kasi Matematis Siswa Kelas IX Smp Negeri 2 Sleman. Dengan pelaksanaan pembelajaran tersebut, persentase kemampuan komunikasi matematis yang berhasil dicapai siswa meningkat dari 56,50% di sklus I menjadi 69,21% di siklus II (telah mencapai kategori tinggi menurut lembar observasi) dan menurut hasil tes, kemampuan komunikasi matematis siswa juga mengalami peningkatan dari 63,58%

di siklus I menjadi 70,11% di siklus II (telah mencapai kategori baik). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran Learning Cycle yang dapat meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa kelas IX B SMP Negeri 2 Sleman tahun ajaran 2010/2011.

Berdasarkan dari penelitian diatas membuktikan bahwa penggunaan model pembelajaran bersiklus (Learnin

si siswa meningkat. Oleh karena itu sangat tepat diterapkan dalam penelitian tindakan kelas ini yaitu upaya peningkatan hasil belajar matematika dan motivasi siswa kelas V SD 1 Karangbener Kecamatan Bae Kabupaten Kudus tahun ajaran 2012/2013 dengan menggunakan model pembelajaran bersiklus (Learning Cycle).

(16)

2.3

an alam pelaksanaan pembelajaran Matematika dalam hal ini tentang operasi hitung dan FPB. Hal itu dikarenakan proses pembelajaran masih

ng

2.4 ipotesis Tindakan

ipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah : penggunaan model pembelajaran ersiklus ( Learning Cycle ) dapat meningkatkan hasil belajar dan motivasi siswa gbener Kecamatan Bae Kabupaten Kudus semester I Tahun 2012/2013.

Kerangka Berpikir

Berdasarkan kajian teori dan hasil penelitian diatas, banyak permasalah d

bilangan bulat KPK

berpusat pada guru (Teacher Centered), disamping itu guru juga masih menerapkan metode konvensional dan kurang mengoptimalkan penggunaan media pembelajaran yang tersedia sehingga pemahaman materi yang diterima siswa masih rendah, hal itu juga berpengaruh pada prestasi belajar dan motivasi siswa yang ikut rendah pula.

Oleh karena itu untuk mengatasi permasalahan tersebut maka penulis menggunakan pembelajaran melalui Model Pembelajaran bersiklus (Learning Cycle).

Hal itu dimaksudkan agar mendorong siswa mampu memecahkan masalah tenta operasi hitung bilangan bulat sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar dan motivasi siswa. Hal ini dapat dilihat dari skema dibawah ini :

H H b

Proses pembelajaran masih berpusat pada guru

Hasil Belajar Meningkat

kelas V SD 1 Karan

Pemahaman Materi rendah

Hasil Belajar Rendah

Motivasi rendah

Penggunaan

Model Pembelajaran Bersiklus (Learning Cycle) Perencanaan, Pelaksanaan,

observasi, dan Refleksi Pemahaman Materi Meningkat

Motivasi Meningkat

Referensi

Dokumen terkait

Pertama adalah penelitian yang dilakukan oleh Trias Indiantika dengan judul “Penerapan model cooperative script untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada

Dalam penelitian Soraya (2013) yang berjudul “Pengaruh Pembiayaan Pendidikan Oleh Orang Tua Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas X Sma Negeri.” Variabel biaya

Tujuan utama dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) pada siswa kelas III melalui penerapan model

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah: “Penerapan model Cooperative Learning Tipe jigsaw pada mata pelajaran Akidah Akhlak materi iman kepada kitab-kitab Allah

Permasalahan yang ada bahwa siswa kelas IV semester 1 dalam mata pelajaran matematika pada kompetensi dasar memecahkan masalah yang melibatkan uang adalah siswa

Putra (2012) dalam penelitian yang berjudul “Penerapan Metode Pembelajaran Example Non Example pada Mata Pelajaran Pekerjaan Mekanika Dasar Kelistrikan Kelas X di

Sehingga dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan menggunakan media diorama dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA

Untuk meningkatkan minat belajar matematika menggunakan model pembelajaran Learning Cycle 5E pada peserta didik kelas X SMA Kartikatama Metro Tahun Pelajaran 2020/2021?. Untuk