1
`
Membangun Karakter Pemuda Indonesia sebagai Bangsa Maritim
Laksamana Muda TNI Dr. Amarulla Octavian, S.T., M.Sc., D.E.S.D.
Komandan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut [email protected]
[email protected] Abstrak
Membangun karakter pemuda Indonesia ditujukan untuk menjadi orang-orang muda yang produktif, optimis, tangguh, dan berdaya saing. Sebagai bangsa yang besar, Indonesia menghadapi tantangan kemisikinan, kesenjangan sosial, dan krisis identitas. Mengikuti Program Kapal Pemuda Asean Jepang atau Ship for Southeast Asian and Japanese Youth Program (SSEAYP) merupakan salah satu momentum bagi para peserta (pemuda) untuk menampilkan identitas sebagai bangsa yang memiliki karakter budaya maritim yang kuat, yang diwariskan dari kejayaan kerajaan maritim nusantara (Sriwijaya, Majapahit, dan lainnya), serta kebangkitan maritim pasca kemerdekaan, didukung kompetensi berwawasan global mengikuti pesatnya kemajuan teknologi informasi dan mampu menggunakannya dengan cara yang positif dan cerdas. Bangsa Indonesia harus memahami diri, lingkungan, dan kehidupannya dikelilingi oleh laut yang menyatukan pluralitas penduduk Indonesia. Poros Maritim Dunia adalah kebijakan politik luar negeri bidang kemaritiman yang harus dipromosikan melalui pemuda SSEAYP selaku duta diplomasi, termasuk mempromosikan potensi maritim Indonesia yang disusun dalam pilar budaya, sumber daya, infrastruktur dan konektivitas, diplomasi, dan pertahanan maritim berlandaskan karakter bangsa maritim yang tercermin dalam semangat nasionalisme, kepekaan sosial, keterampilan dan ilmu pengetahuan, dan nilai-nilai toleransi.
Kata kunci: karakter • budaya maritim • SSEAYP • daya saing
2 1. Pendahuluan.
Indonesia adalah Bangsa Besar, baik ditinjau dari luas wilayah maupun jumlah penduduk. Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar yang terdiri dari 17.5041 pulau dengan dua pertiga wilayahnya adalah perairan2 dan terletak di antara dua benua, Asia dan Australia, serta dua samudera, yaitu Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Luas wilayah yang melingkupi laut dan daratan tersebut membawa Indonesia sebagai negara ke-4 terluas di dunia dan dengan penduduk lebih dari 267 juta jiwa menjadikan Indonesia sebagai negara dengan populasi terpadat ke-4 di dunia.
Dengan wilayah perairan (3.257.357 km2) yang jauh lebih luas dibanding daratan (1.910.931 km2)3, serta posisi silang yang strategis, maka laut memiliki arti yang sangat fundamental bagi masyarakat Indonesia untuk menguasai dan memanfaatkan laut, dilandasi dengan identitas dan budaya maritim yang kuat, serta menjaga stabilitas keamanan di kawasan.
Kejayaan maritim Nusantara tercatat dalam sejarah Sriwijaya dan Majapahit sebagai kerajaan yang mampu menyatukan heteroginitas sosial dan ragam budaya masyarakat Indonesia yang penuh dengan nilai-nilai luhur positif. Kerajaan Sriwijaya telah membuktikan sebagai kerajaan maritim yang kuat pada abad ke-7 hingga abad ke-11, yang meliputi wilayah Bangka-Belitung, bahkan, Kamboja, Thailand, dan Semenanjung Malaya juga menjadi bagian dari kerajaan maritim tersebut.4 Sriwijaya menjadi sangat strategis bagi perdagangan antara India dengan Tiongkok. Balaputradewa yang menjadi raja Sriwijaya kala itu telah mengadakan hubungan dengan raja Dewapaladea dari Benggala (India). Kejayaan maritim dilanjutkan oleh Kerajaan Samudera Pasai pada abad ke-12 hingga abad ke-15, serta Majapahit pada abad ke-13 hingga abad ke-155. Faktor terpenting yang tidak diragukan adalah simbol penegasan persatuan dan kesatuan dalam keberagaman Bhinneka Tunggal Ika yang ditemukan dalam Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular. Kejayaan maritim Nusantara mengalami kemunduran sejalan dengan runtuhnya Majapahit dan semakin parah dengan datangnya kolonialisme bangsa Eropa yang memiliki superioritas dalam bidang ilmu pengetahuan dan kekuatan armada lautnya.
Pada era kolonial, perusahaan dagang Belanda, VOC (Vereenig-de Oost-Indische Compagnie), mampu memanfaatkan laut sebagai alat hubung yang cukup penting. VOC memiliki armada laut yang kuat untuk mengawasi kelancaran monopoli. Wilayah-wilayah VOC merupakan wilayah yang kini menjadi Indonesia. VOC mengalami kebangkrutan pada tanggal 31 Desember 1799, secara tidak langsung memberikan dampak yang sama terhadap wilayah yang pernah dikuasainya. Kekerasan maupun perang yang dijalankan di beberapa daerah
1 Pushidrosal, Jumlah pulau menurut Undang-Undang No. 6 Tahun 1996 adalah 17.508 pulau, namun demikian hilang akibat kepemilikan yaitu Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan begitu juga Pulau Yako dan Pukau Aturo sehingga junlahnya kurang lebih 17.504 dapat dilihat pada http://www.pushidrosal.id/berita/5256/DATA-KELAUTAN-YANG- MENJADI-RUJUKAN-NASIONAL--DILUNCURKAN/ diakses pada 4 Oktober 2019 pukul 12.20 WIB
2 TNI AL, Doktrin Jalesveva Jayamahe, Jakarta: Mabesal, 2019, hal. 1.
3 Marsetio, Kepemimpinan Nusantara: Archipelago Leadership, Jakarta: Universitas Pertahanan, 2019, hal. 3
4 Historia, Pendahulu Sriwijaya, dapat dilihat pada https://historia.id/kuno/articles/pendahulu-sriwijaya-DponV diakses pada tanggal 20 September 2019 pukul 18.00 WIB
5 TNI AL, op.cit., hal. 10
3
menumbuhkan rasa senasib antar wilah yang pernah dikuasai VOC. Hal ini kemudian menjadi momentum bagi kerajaan nusantara untuk melakukan perlawanan menggunakan kekuatan laut sebagai alat pemersatu yang sangat efektif dalam menghadapi kolonialisme6. Perlawanan Kerajaan Demak, Kerajaan Tidore, Kerajaan Gowa, perlawanan rakyat Aceh, dan beberapa kerajaan lainnya akhirnya mampu menaklukkan kekuatan kolonial dan mencapai puncaknya
pada Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Sejarah mencatat banyaknya pertempuran di laut dan di pantai dalam perjuangan bangsa Indonesia.
Pasca Kemerdekaan, aktivitas maritim di Indonesia mulai menunjukkan perannya dalam kehidupan bangsa dan negara. Laut bukan hanya sebagai wahana pemersatu bangsa saja, akan tetapi mampu menjadi penggerak di sektor ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta di bidang pertahanan dan keamanan. Begitu pentingnya laut bagi bangsa Indonesia, hingga Presiden Soekarno berpesan:
“...Usahakanlah agar kita menjadi bangsa pelaut kembali. Ya..., bangsa pelaut dalam arti yang seluas-luasnya. Bukan sekadar menjadi jongos-jongos di kapal.
Bukan! Tetapi bangsa pelaut dalam arti cakrawati samudra. Bangsa pelaut yang mempunyai armada niaga, bangsa pelaut yang mempunyai armada militer, bangsa pelaut yang kesibukannya di laut menandingi irama gelombang lautan itu sendiri....”. (Presiden Soekarno pada peresmian Institut Angkatan Laut, 1953)7.
Bangsa Indonesia telah tumbuh dan berkembang membangun kehidupan nasional dan harus memahami bahwa laut dalam bingkai negara kepulauan adalah ruang hidup dengan
6 Bank Indonesia Institute, Menegakkan Kedaulatan dan Ketahanan Ekonomi: Bank Indonesia dalam Pusaran Sejarah Kalimantan Barat, Cetakan Pertama, Jakarta: BII, 2019, hal. 25-26
7 Suharto, KRI Bima Suci: Penerus Sang Legenda KRI Dewaruci, Jakarta: Dispenal, 2018, hal. 4
4
kekhasannya serta kekayaan alam di dalamnya yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kemakmuran bangsa. Maju mundurnya Indonesia ditentukan bagaimana kemampuan mengelola dan memanfaatkan laut. Oleh karena itu, sangat tepat kebijakan Presiden Joko Widodo yang mengimplementasikan visi Poros Maritim Dunia sebagai langkah percepatan pembangunan kelautan yang dirumuskan dalam kebijakan (1) pembangunan kembali budaya maritim Indonesia melalui redefinisi identitas nasional Indonesia sebagai sebuah negara maritim; (2) komitmen menjaga dan mengelola sumber daya laut dengan fokus membangun kedaulatan pangan laut melalui pengembangan industri perikanan dengan menempatkan nelayan sebagai pilar utama; (3) komitmen mendorong pengembangan infrastruktur dan konektivitas maritim dengan membangun tol laut, pelabuhan laut, logistik, dan industri perkapalan, serta pariwisata maritim; (4) optimalisasi diplomasi maritim (soft power) yang mengajak semua mitra Indonesia untuk bekerja sama pada bidang kelautan dalam menangani ancaman regional melalui peningkatan kerja sama bilateral dan multilateral di bidang maritim;
dan (5) membangun kekuatan pertahanan maritim dengan mempersiapkan hard power untuk memperkuat kekuatan pertahanan maritim Indonesia dalam usaha pengamanan wilayah Indonesia.
2. Perspektif Akademis.
2.1. Teori Karakter.
Menurut Michael Novak, karakter merupakan campuran kompatibel dari seluruh kebaikan yang diidentifikasi oleh tradisi religius, cerita sastra, kaum bijaksana, dan kumpulan orang berakal sehat yang ada dalam sejarah8. Sementara itu, Masnur Muslich menyatakan bahwa karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat9. Muchlas Samani memaknai karakter sebagai nilai dasar yang membangun pribadi seseorang, terbentuk baik karena pengaruh hereditas maupun pengaruh lingkungan, yang membedakannya dengan orang lain, serta diwujudkan dalam sikap dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.10 Pendapat senada juga disampaikan oleh Agus Wibowo, bahwa karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara11. Suyanto mengemukakan bahwa pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan
8 Thomas Lickona, Mendidik Untuk Membentuk Karakter: Bagaimana Sekolah dapat Memberikan Pendidikan Sikap Hormat dan Bertanggung Jawab (Penerjemah: Juma Abdu Wamaungo), Jakarta: Bumi Aksara, 2012, hal. 81
9 Masnur Muslich, Pendidikan Karakter: Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional, Jakarta: Bumi Aksara, 2011, hal. 84
10 Muchlas Samani & Hariyanto, Konsep dan Model Pendidikan Karakter, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2011, hal. 43
11 Agus Wibowo, Pendidikan Karakter: Strategi Membangun Karakter Bangsa Berperadaban, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012, hal. 33
5
(feeling), dan tindakan (action).12 Nilai-nilai karakter dari berbagai teori di atas diidentifikasi dalam 18 nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa (Kemendiknas, 2011), yaitu13: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat dan komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.
Dari pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter adalah sebuah upaya menumbuhkan dan mengembangkan nilai-nilai luhur. Hal terebut dilakukan agar mereka mengetahui, menginternalisasi, dan menerapkan nilai-nilai luhur karakter bangsa maritim dalam kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara.
2.2. Teori Strategi Maritim.
Strategi maritim diformulasikan berdasarkan elemen-elemen dasar kekuatan nasional (politik, ekonomi, sosial budaya, dan militer) yang dapat didayagunakan secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan negara. Strategi maritim adalah seni dan sains yang mengoordinasikan pembangunan dan penggunaan instrumen kekuatan nasional untuk mencapai tujuan pertahanan negara. Strategi maritim adalah asas-asas di mana pemerintah yang berperang menempatkan laut sebagai faktor penting. Strategi perang laut, termasuk di dalamnya, tetapi sebagai bagian nyang menjelaskan manuver armada ketika strategi maritim menentukan bagian armada mana yang harus dilibatkan. Corbett membagi dua jenis strategi maritim14, yaitu strategi mayor (major strategy/grand strategy) dan strategi minor (minor strategy). Strategi mayor berkaitan dengan tujuan dari perang termasuk di dalamnya aspek hubungan internasional dan fungsi ekonomi, sedangkan strategi minor berkenaan dengan bagaimana melakukan perang/pertempuran baik mencakup perencanaan kekuatan angkatan darat, laut, atau operasi gabungan. Kemenangan pertempuran mencapai tujuan negara juga ditentukan oleh karakter bangsa itu sendiri.
2.3. Teori Kekuatan Laut.
Alfred Thayer Mahan, ahli maritim Amerika Serikat pada paruh terakhir abad 19, adalah tokoh populer melalui bukunya “The Influence of Sea Power Upon History”. Teori Mahan menjadi dasar strategi maritim negara-negara besar untuk mencapai negara maritim ideal.
Mahan merumuskan enam elemen yang menjadi syarat sebuah negara untuk mengembangkan kekuatan lautnya. Enam elemen tersebut meliputi (1) kedudukan geografi, (2) bentuk tanah dan pantai, (3) luas wilayah; (4) jumlah penduduk yang turun ke laut; (5) karakter nasional (penduduk); dan (6) karakter pemerintah termasuk lembaga-lembaga nasional.15
12 Jamal Ma’mur Asmani. Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah. Diva Press. Yogyakarta.
2011, hal. 31
13 Op.cit. hal. 43-44
14 Julian S. Corbett, Some Principles of Maritime Strategy (in Mahnken, Thomas G., and Joseph A. Maiolo. 2008.
Strategic Studies: A Reader), New York: Routledge, 1911, hal. 49
15 Alfred T. Mahan, The Influence of Sea Power Upon History 1660-1793, Boston: Little Brown and Company, 1989, hal. 28-29
6
Bercermin pada Mahan dan menimbang posisi Indonesia sendiri, wawasan bahari bukan saja memengaruhi kekuatan laut terhadap jalannya sejarah dan zaman lampau, namun sangat penting bagi keberadaan dan keberlangsungan hidup suatu negara kepulauan, seperti Indonesia, terhadap sejarah Indonesia adalah suatu dunia nyata yang tidak dapat disangkal hingga kini.
Sementara itu J.C van Leur membawa teori Mahan ke dalam uraiannya tentang kepulauan Indonesia. Van Leur membawa wawasan maritim Mahan dalam kaitan dengan kekuatan maritim VOC yang besar mampu berperang dan bergerak jauh di laut dan berhasil menaklukkan Nusantara dalam waktu yang lama, termasuk mengalahkan musuh negara induknya, khususnya Spanyol dan Portugis serta mematahkan dominasi Inggris di perairan Indonesia16. Baik Mahan maupun Van Leur menunjukkan pentingnya menempa karakter nasional sebagai bangsa maritim.
3. Mengembalikan Kejayaan Maritim Nusantara (Indonesia).
Mengembalikan kembali kejayaan maritim Indonesia bukanlah perkara mudah.
Pemerintah telah bergerak maju dengan mengeluarkan Kebijakan Kelautan Indonesia yang memiliki visi mewujudkan Indonesia menjadi Poros Maritim Dunia, yaitu menjadi sebuah negara maritim yang maju berdaulat, mandiri, kuat, serta mampu memberikan kontribusi positif bagi keamanan dan perdamaian kawasan dan dunia sesuai dengan kepentingan nasional17. Untuk mewujudkan visi Poros Maritim Dunia tersebut, maka dilakukan upaya- upaya sesuai lima pilar, yaitu (1) membentuk wawasan identitas dan budaya maritim; (2) pengelolaan sumber daya maritim secara optimal dan berkelanjutan serta membangun kualitas sumber daya manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi yang andal; (3) melaksanakan tata kelola infrastruktur dan konektivitas maritim yang baik; (4) melaksanakan diplomasi maritim; dan (5) membangun pertahanan dan keamanan maritim yang tangguh serta melaksanakan penegakan kedaulatan, hukum, dan keselamatan di laut.
Budaya maritim sebagai identitas mencakup sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya, meliputi ilmu pengetahuan, sosial, ekonomi, hukum, kebijakan, dan sebagainya. Seperangkat kerangka kebudayaan itulah yang perlu dikembangkan sebagai upaya pengembangan sektor maritim. Berbekal kemandirian maritim, bangsa Indonesia harus optimis untuk mampu mengembalikan kejayaan Indonesia sebagai bangsa maritim yang besar dan disegani bangsa lain di dunia. Seperti yang diungkapkan oleh filsuf Friedrich Wilhelm Nietzsche:
"Kita telah meninggalkan daratan dan sudah menuju kapal! Kita sudah membakar jembatan di belakang kita---dan lagi, kita juga sudah menghanguskan daratan di belakang kita! Dan kini, hati-hatilah kau kapal mungil! Samudera raya mengelilingimu: memang benar, dia tidak senantiasa mengaum, dan kadang-kadang dia tampak lembut bagaikan
16 Yuliati, Kejayaan Indonesia Sebagai Negara Maritim (Jalesveva Jayamahe), Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Vol. 27 Nomor 2, Malang: Universitas Negeri Malang, dapat dilihat pada http://journal.um.ac.id/index.php/jppk/article/view/5523/2178, diakses pada tanggal 22 September 2019 pukul 23.00 WIB
17 Kemenkomaritim, Kebijakan Keluatan Indonesia, Jakarta: Kemenkomaritim, 2017, hal. 43
7
sutera, emas, dan mimpi yang indah. Namun akan tiba waktunya, bila kau ingin tahu, bahwa dia tidak terbatas".18
3.1. Budaya Maritim
Pasca-kemerdekaan, Deklarasi Juanda yang digagas oleh Perdana Menteri Ir. Juanda, pada 13 Desember 1957, merupakan titik awal dari kembalinya kejayaan maritim Indonesia.
Pembangunan kesadaran nasional tentang budaya maritim untuk mencapai visi dan cita-cita besar membangun Indonesia, yaitu kembali ke jati diri bangsa sebagai bangsa dan negara maritim sekaligus ingin membangun kekuatan maritim untuk Indonesia yang bersatu (unity), sejahtera (prosperity), dan berwibawa (dignity). Membangun budaya maritim melalui pendidikan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan serta kearifan lokal sebagai tradisi yang didukung oleh kurikulum pendidikan kemaritiman dalam upaya penguatan dasar pembentukan karakter dan jati diri bangsa.
3.2. Sumber Daya Maritim.
Konsepsi pendekatan pembangunan nasional berbasis maritim semakin diperkuat melalui pengembangan sumber daya maritim dalam dua nilai strategis utama, yaitu nilai strategis geoekonomi dan geopolitik. Geoekonomi berhubungan dengan multisektor, meliputi sektor perikanan, perhubungan, pariwisata, energi, dan sumber daya mineral.
Sedangkan geopolitik memandang geografis Indonesia yang berkarakteristik negara kepulauan sebagai tantangan tersendiri yang dikelola melalui pengembangan, pemanfaatan, dan pengawasan sumber daya maritim, khususnya di kawasan-kawasan terluar Indonesia, seperti pemberantasan illegal, unreported, and unregulated (IUU) fishing serta pengembangan ekonomi biru (blue economy) yang berkelanjutan, terintegrasi, dan transparan serta pengembangan pariwisata maritim, pengembangan industri bioteknologi maritim dan biofarmakologi maritim untuk menjamin tetap terjaganya kedaulatan NKRI.
3.3. Infrastruktur dan Konektivitas Maritim.
Pembangunan infrastruktur dan konektivitas maritim dinilai sebagai salah satu landasan strategis mengembalikan kejayaan maritim Nusantara. Infrastruktur dan konektivitas maritim berupa pembangunan pelabuhan dan fasilitas pendukung di sejumlah titik-titik strategis berpengaruh langsung pada aspek perekonomian masyarakat, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pembangunan infrastruktur dan konektivitas maritim juga menjadi kebutuhan strategis dalam hubungan antarnegara guna memantapkan peran Indonesia sebagai titik penghubung dan poros ekonomi dunia. Keuntungan letak geografis menjadikan Indonesia sebagai negara yang diperhitungkan dalam percaturan geostrategi dan geopolitik semakin meningkat19.
Densitas yang tinggi pada infrastruktur transportasi berdampak kepada efisiensi biaya.
Transportasi adalah aktivitas ekonomi yang memperdagangkan ruang dengan waktu. Dengan
18 Goenawan Mohamad, Setelah Revolusi Tak Ada Lagi, Jakarta: Pustaka Alvabet (Cetakan I), 2005 hal. 135
19 Ade Supandi, Sistem Konektivitas Maritim sebagai Landasan Strategis Mewujudkan Poros Maritim Dunia (Dalam Sambutan Seminar Nasional di Hotel Borobudur), Jakarta, 16 Juni 2015
8
demikian, sistem transportasi yang baik makin mengefisiensi waktu tempuh hingga pada akhirnya mampu mengeliminir biaya tinggi. Sistem konektivitas yang baik tersebut memberikan akses lebih luas pada komoditas perdagangan. Akses memiliki peran yang sangat penting untuk menekan perbedaan harga antarwilayah untuk menciptakan rasa keadilan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Aksesibilitas rendah cenderung memiliki tingkat harga komoditas yang tinggi, khususnya komoditas kebutuhan dasar, seperti makanan, karena biaya distribusi yang tinggi ke wilayah tersebut20.
3.4. Diplomasi Maritim.
Diplomasi maritim (maritime diplomacy) merupakan pelaksanaan politik luar negeri yang bertujuan untuk mengoptimalkan potensi kelautan guna memenuhi kepentingan nasional sesuai dengan ketentuan nasional dan hukum internasional. Melalui diplomasi maritim, kebijakan luar negeri perlu diabdikan dan ditujukan untuk mencapai kepentingan nasional sesuai dengan Trisakti.21 Diplomasi maritim Indonesia meliputi perundingan internasional di bidang kelautan, penetapan perbatasan atau diplomasi angkatan laut (naval diplomacy) pada tingkat bilateral, regional, dan global menggunakan aset kelautan, baik sipil maupun militer.
Diplomasi maritim juga ditujukan untuk menjamin integritas wilayah NKRI, kedaulatan dan keamanan maritim serta kesejahteraan pulau-pulau terluar, keamanan sumber daya alam, dan ZEE dengan menempatkan Indonesia sebagai kekuatan regional dan keterlibatan global secara selektif dan memberi prioritas pada penyelesaian masalah yang berkaitan dengan kepentingan bangsa dan rakyat Indonesia22. Diplomasi dan kebijakan luar negeri Indonesia harus menonjolkan identitas dan karakter sebagai negara maritim.23 Upaya diplomasi maritim diimplementasikan melalui kerja sama, persuasi, dan koersif. Ketiga cara atau bentuk tersebut mengandung dua dimensi kebijakan, yaitu soft diplomacy dan hard diplomacy yang melibatkan elemen negara dan lembaga pemerintahan serta dilakukan dengan mengintegrasikan berbagai cara dan melibatkan berbagai aktor.
3.5. Pertahanan dan Keamanan Maritim.
Kebijakan pertahanan, keamanan, penegakan hukum, dan keselamatan di laut bertujuan untuk menegakkan kedaulatan dan hukum, mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan di wilayah laut. Indonesia memiliki nilai positif terhadap elemen-elemen kekuatan maritim (sea power), seperti
20 Ibid.
21 Ludiro Madu, Reorientasi Politik Luar Negeri Indonesia Pada Pemerintahan Joko Widodo 2014-2019, Transnasional: Jurnal Ilmu Hubungan Internasional Vol. 9 (2), 2014, hal. 104–117
22 Joko Widodo dan Jusuf Kalla, Jalan Perubahan untuk Indonesia yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian: Visi Misi dan Program Aksi, Jakarta: Tim Jokowi-JK, 2014, hal. 13
23 Agus Setiadji, 2014, Diplomasi Maritim untuk Kedaulatan Indonesia, dapat dilihat pada Maritimnews.com.
http://maritimnews.com/diplomasi-maritim-untuk-kedaulatanindonesia/, diakses pada tanggal 22 September 2019 pukul 23.45 WIB
9
kedudukan geografi, bentuk tanah dan pantai, luas wilayah, jumlah penduduk yang turun ke laut, karakter nasional (penduduk), dan karakter pemerintah.
Pembangunan kekuatan pertahanan dan keamanan maritim diperlukan untuk menjaga kedaulatan dan kekayaan maritim Indonesia serta keselamatan pelayaran dan keamanan kapal-kapal Indonesia maupun kapal-kapal asing yang berlayar melalui perairan Indonesia.
Indonesia memiliki kewajiban berdasarkan hukum internasional untuk menjamin keamanan lalu lintas pelayaran, khususnya sebagai Sea Lines of Communication (SLOC) dan Sea Lines of Trade (SLOT).
Upaya mewujudkan stabilitas keamanan di laut dalam rangka menjamin integritas wilayah maupun kepentingan nasional di dan atau lewat laut, khususnya penegakan kedaulatan dalam dimensi kedaulatan negara (sovereignity) dan hak berdaulat (sovereign right)24 dengan melibatkan Kementerian Pertahanan dan TNI serta seluruh komponen bangsa dan segenap komponen masyarakat, yang dirumuskan berdasarkan kondisi geografis, dinamika yang terjadi pada lingkungan strategis, serta kecenderungan penggunaan persenjataan (alutsista), baik pada lingkungan internasional maupun regional.25
4. Implementasi Pembinaan Karakter Pemuda Indonesia sebagai Bangsa Maritim kepada Peserta SSYEAP.
Sebagai pemuda Indonesia yang menjadi peserta Program Kapal Pemuda Asean Jepang atau Ship for Southeast Asian and Japanese Youth Program (SSEAYP) maka sangat relevan dan sangat diharapkan memiliki kebanggaan sekaligus sebagai ciri khas karakter sebagai bangsa maritim, yaitu nilai-nilai perilaku yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat. Pembinaan karakter diimplementasikan untuk menumbuhkan semangat nasionalisme, memiliki wawasan global, kepekaan sosial, menguasai keterampilan, ilmu pengetahuan dan teknologi, berpartisipasi dalam pembangunan bangsa serta memiliki nilai-nilai toleransi.
Implementasi pembinaan karakter budaya maritim lebih memudahkan untuk membangun persahabatan dan kesepahaman (mutual understanding) antara pemuda Indonesia dengan pemuda ASEAN dan Jepang selama kegiatan diskusi, pertukaran budaya, kunjungan kenegaraan dan kunjungan instansi di negara yang disinggahi. Karakter budaya maritim adalah semangat dan identitas nasionalisme yang harus tertanam dalam jiwa setiap pemuda Indonesia yang hidup di manapun berada.
Pemuda peserta SSEAYP juga menjadi duta diplomasi Indonesia sehingga dituntut memiliki wawasan global dan memahami kedudukan konstelasi geografi Indonesia. Untuk memiliki wawasan global diperlukan kompetensi kemampuan untuk berpikir secara strategik (strategic thinking); mendorong penyelesaian setiap tugas (drive for results);
24 UNCLOS 1982, Pasal 2, 34, 47 dan 49.
25 Agus Setiadji, Kekuatan Pertahanan Indonesia dalam Bingkai Negara Maritim, dapat dilihat pada http://maritimnews.com/2017/05/kekuatan-pertahanan-indonesia-dalam-bingkai-negara-maritim/ diakses pada tanggal 23 September 2019 pukul 02.00 WIB
10
mengembangkan diri dan lingkungannya serta mendorong untuk bertumbuh (development of people); memberikan motivasi dan inspirasi (motivation of people); bekerja sama dengan baik dan mendorong kemajuan tim (teamwork); memberikan evaluasi dan umpan balik serta bersikap positif dalam menyikapi setiap persoalan (feedback); dan menghormati orang lain tanpa membedakan suku, agama, dan ras (respect for others)26.
Wawasan global harus diimbangi dengan pemahaman konstelasi geografi Indonesia sebagai negara ‘besar’, meliputi posisi strategis, bentuk tanah dan pantai, luas wilayah, jumlah karakter nasional (penduduk), dan karakter pemerintah termasuk lembaga-lembaga nasional sebagai bekal untuk menghadapi dinamika persaingan global yang terus mengevolusi peradaban (budaya) dan menuntut daya saing (competitiveness)
Nasionalisme Indonesia telah diteladankan oleh para pendiri bangsa (founding fathers) yang menyatukan perbedaan kepentingan kelompok, paham, etnis, entitas, dan golongan demi kemerdekaan (modus vivendi) Indonesia yang berciri kebhinnekaan dalam bingkai negara kesatuan. Kemajemukan Indonesia membingkai penduduk lebih dari 267 juta orang, tidak kurang dari 1360 suku, 6 agama utama, dan 726 bahasa daerah. Robert Cribb27 mengungkapkan kekaguman keluasan wilayah dan kemajemukan Indonesia, yaitu “A Glance at map might seem to be enough to suggest the improbability of Indonesia”. Hal senada juga diungkapkan Indonesianis dari Cornell University, Ruth McVey yang mengilustrasikan bahwa membangun Indonesia tak ubahnya mendirikan raksasa (building behemoth), sebuah gagasan yang nyaris tidak masuk akal (the nation-state is a chimera).28 Indonesia dibangun sebagai
“religious nation state” (negara kebangsaan yang berketuhanan), negara gotong royong, dan bersatu dari keberagaman dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.29 Nasionalisme merupakan sesuatu yang hidup, dalam perjalanan sejarah berbangsa dan bernegara dan terus mengalami berbagai dinamika dan tantangan seiring dengan waktu dan perubahan lingkungan strategis pada tingkat nasional dan global.
Mempertahankan jiwa nasionalisme membutuhkan inovasi dengan semangat dan arah baru dengan tetap dijiwai nilai-nilai luhur Bangsa Indonesia yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Merah Putih, Wawasan Nusantara, dan Bhinneka Tunggal Ika. Semangat kebangsaan melahirkan semangat patriotisme sebagai ideologi politik yang sumbernya adalah kecintaan kepada bangsa dan tanah air serta tekad untuk menjadikan bangsa dan tanah airnya sejahtera, bermartabat, dan terpandang di mata dunia.
Sebagai aset bangsa, pemuda sebagai aktor perubahan dalam setiap pembangunan berperan penting atas keberhasilan pembangunan kepemudaan terutama dalam menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan memiliki keunggulan daya saing sebagai salah satu kunci dalam membuka peluang dan kemajuan di berbagai sektor
26 Susanna Hartawan (NBO Group Indonesia), 2016, Kompetensi Pemimpin Global, dapat dilihat pada https://nboindonesia.com/kompetensi-pemimpin-global/ diakses pada tanggal 2 Oktober 2019 pukul 07.45 WIB
27 Robert Cribb, Nation: Making Indonesia, dalam Donnald K. Emerson, Indonesia beyond Soeharto: Negara, Ekonomi, Masyarakat, Transisi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2001, hal. 3-4
28 Ruth Mc Vey, Building Behemoth, Indonesian Construction State, in Daniel S. Lev and Ruth McVey (Eds.), New York: Cornell University Press, 1996, hal. 11
29 Amarulla Octavian, Menjadi Mahasiswa yang Inovatif, Kreatif, Berkarakter, dan Memiliki Nasionalisme pada Era Persaingan Global, Jakarta: Universitas Bina Nusantara, 2019.
11
pembangunan dan masa depan Indonesia. Selain itu, pemuda harus memiliki kepekaan sosial didasarkan jiwa semangat dan keunggulan sebagai upaya mendorong, mengembangkan, dan meningkatkan daya saing di kancah global. Peluang-peluang dalam membangun bangsa baik secara tindakan maupun pola pikir yang maju dan positif tetap berpegang teguh dengan budaya, adat istiadat, dan nilai-nilai yang berlaku di Indonesia, sejalan dengan tagline David Brower yang terkenal, yaitu “Think globally, act locally” (berpikiran global, tindakan lokal).
Kepekaan sosial melekat adalah bagian dari identitas bangsa Indonesia sebagai aktor perubahan (actor of change). Keragaman pemuda sebagai representasi nusantara diharapkan memiliki kekuatan dan kemampuan ilmu pengetahuan, pola pikir, karakter, mental, dan keahlian yang baik dalam menghadapi tantangan-tantangan global secara ekonomi, politik, teknologi, pendidikan, dan lain-lain.
Implementasi pembinaan karakter pemuda Indonesia sebagai bangsa maritim yang tercermin dalam semangat nasionalisme, wawasan global, kepekaan sosial, keterampilan, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan partisipasi dalam pembangunan bangsa, disempurnakan dengan nilai-nilai toleransi. Pemuda berkarakter maritim mampu berperan sebagai agent of change melakukan transformasi masyarakat Indonesia menjadi bangsa maritim yang menjunjung nilai-nilai hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan bangsanya, serta melakukan penghormatan terhadap kebhinekaan Indonesia dalam rangka memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa. Para pemuda peserta SSEAYP memiliki kewajiban dan tanggung jawab mempromosikan nilai-nilai toleransi dan upaya-upaya perdamaian memerangi terorisme dan tindakan kekerasan yang dimotivasi oleh kebencian terhadap agama, rasisme, dan intoleransi.
5. Penutup (Conclusion)
Mengembalikan kembali kejayaan maritim Indonesia dapat diwujudkan melalui upaya- upaya membentuk wawasan identitas dan budaya maritim sehingga bangsa Indonesia memahami ruang hidup dan lingkungannya adalah laut dengan potensi sumber daya maritim yang didukung oleh kualitas sumber daya manusia dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang andal serta tata kelola infrastruktur dan konektivitas maritim yang baik dan dipromosikan melalui optimalisasi diplomasi maritim dan pembangunan pertahanan dan keamanan maritim yang tangguh.
Visi dan cita-cita besar kembali ke jati diri bangsa sebagai bangsa bahari dan negara maritim sekaligus ingin membangun kekuatan maritim untuk Indonesia yang bersatu (unity), sejahtera (prosperity), dan berwibawa (dignity). Membangun budaya maritim melalui pendidikan, dengan memperhatikan kelestarian lingkungan, serta kearifan lokal yang telah menjadi tradisi yang didukung oleh kurikulum pendidikan kemaritiman dalam meletakkan penguatan dasar pembentukan karakter dan jati diri bangsa sebagai konsepsi pengembangan sumber daya maritim meliputi sektor perikanan, perhubungan, pariwisata, energi, dan sumber daya mineral. Dukungan infrastruktur dan konektivitas maritim memantapkan peran Indonesia sebagai titik penghubung dan poros ekonomi dunia yang diperkuat dengan diplomasi maritim sebagai implementasi politik luar negeri sesuai dengan ketentuan nasional dan hukum internasional untuk menjamin integritas wilayah NKRI dalam dimensi soft
12
diplomacy dan hard diplomacy. Pembangunan kekuatan pertahanan dan keamanan maritim akan melengkapi upaya mewujudkan stabilitas keamanan di laut dalam rangka penegakan kedaulatan dengan melibatkan Kementerian Pertahanan dan TNI serta segenap komponen bangsa dan segenap komponen masyarakat, khususnya para pemuda yang tergabung dalan kegiatan pertukaran pemuda ASEAN dan Jepang ini.
Implementasi pembinaan karakter budaya maritim lebih memudahkan untuk membangun persahabatan dan kesepahaman (mutual understanding) antara pemuda Indonesia dengan pemuda ASEAN dan Jepang selama kegiatan diskusi, pertukaran budaya, kunjungan kenegaraan dan kunjungan instansi di negara yang disinggahi. Karakter budaya maritim adalah semangat dan identitas nasionalisme yang harus tertanam dalam jiwa setiap pemuda Indonesia yang hidup di manapun berada dengan kompetensi dan wawasan global berupa pemahaman konstelasi geografi Indonesia sebagai negara ‘besar’ yang menyatukan perbedaan kepentingan kelompok, paham, etnis, entitas, dan golongan demi kemerdekaan (modus vivendi) Indonesia yang bhinneka dalam bingkai negara kesatuan. Keragaman pemuda sebagai representasi nusantara diharapkan memiliki kekuatan dan kemampuan ilmu pengetahuan, pola pikir, karakter, mental, dan keahlian yang baik dalam menghadapi tantangan-tantangan global yang disempurnakan dengan nilai-nilai toleransi.
13 REFERENSI
Buku
Asmani, Jamal Ma’mur. 2011. Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah. Diva Press. Yogyakarta
Bank Indonesia Institute. 2019. Menegakkan Kedaulatan dan Ketahanan Ekonomi: Bank Indonesia dalam Pusaran Sejarah Kalimantan Barat. Jakarta: BII.
Cribb, Robert. 2001. Nation: Making Indonesia (dalam Donnald K. Emerson, Indonesia beyond Soeharto: Negara, Ekonomi, Masyarakat, Transisi). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Kemenkomaritim. 2017. Kebijakan Keluatan Indonesia. Jakarta: Kemenkomaritim
Mahan, Alfred T. 1989. The Influence of Sea Power Upon History 1660-1793. Boston: Little Brown and Company
Marsetio. 2019. Kepemimpinan Nusantara: Archipelago Leadership. Jakarta: Universitas Pertahanan
Mohamad, Goenawan. 2005. Setelah Revolusi Tak Ada Lagi. Jakarta: Pustaka Alvabet
Muslich, Masnur. 2011. Pendidikan Karakter: Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional, Jakarta: Bumi Aksara
Samani, Muchlas Samani dan Hariyanto. 2011. Konsep dan Model Pendidikan Karakter, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2011
Suharto. 2018. KRI Bima Suci: Penerus Sang Legenda KRI Dewaruci. Jakarta: Dispenal TNI AL. 2019. Doktrin Jalesveva Jayamahe. Jakarta: Mabesal
United Nation Convention of the Law of the Sea 1982
Wibowo, Agus. 2012. Pendidikan Karakter: Strategi Membangun Karakter Bangsa Berperadaban.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Widodo, Joko dan Jusuf Kalla. 2014. Jalan Perubahan untuk Indonesia yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian: Visi Misi dan Program Aksi. Jakarta: Tim Jokowi-JK
Jurnal
Corbett, Julian S. 1911. Some Principles of Maritime Strategy (in Mahnken, Thomas G., and Joseph A. Maiolo. 2008. Strategic Studies: A Reader). New York: Routledge
Lickona, Thomas. 2012. Mendidik Untuk Membentuk Karakter: Bagaimana Sekolah dapat Memberikan Pendidikan Sikap Hormat dan Bertanggung Jawab (Penerjemah: Juma Abdu Wamaungo). Jakarta: Bumi Aksara
14
Madu, Ludiro. 2014. Reorientasi Politik Luar Negeri Indonesia Pada Pemerintahan Joko Widodo 2014-2019. Transnasional: Jurnal Ilmu Hubungan Internasional Vol. 9 (2)
Mc Vey, Ruth. 1996. Building Behemoth, Indonesian Construction State, in Daniel S. Lev and Ruth McVey (Eds.). New York: Cornell University Press
Daring (Online)
Hartawan, Susanna (NBO Group Indonesia). 2016. Kompetensi Pemimpin Global, dapat dilihat pada https://nboindonesia.com/kompetensi-pemimpin-global/ diakses pada tanggal 2 Oktober 2019 pukul 07.45 WIB
Historia, Pendahulu Sriwijaya, dapat dilihat pada https://historia.id/kuno/articles/pendahulu- sriwijaya-DponV diakses pada tanggal 20 September 2019 pukul 18.00 WIB
Pushidrosal, Jumlah pulau menurut Undang-Undang No. 6 Tahun 1996 adalah 17.508 pulau, namun demikian hilang akibat kepemilikan yaitu Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan begitu juga Pulau Yako dan Pukau Aturo sehingga junlahnya kurang lebih 17.504 dapat dilihat pada http://www.pushidrosal.id/berita/5256/DATA-KELAUTAN-YANG-MENJADI-RUJUKAN-
NASIONAL--DILUNCURKAN/ diakses pada 4 Oktober 2019 pukul 12.20 WIB
Setiadji, Agus. Diplomasi Maritim untuk Kedaulatan Indonesia, dapat dilihat pada Maritimnews.com. http://maritimnews.com/diplomasi-maritim-untuk- kedaulatanindonesia/, diakses pada tanggal 22 September 2019 pukul 23.45 WIB
---. Kekuatan Pertahanan Indonesia dalam Bingkai Negara Maritim, dapat dilihat pada http://maritimnews.com/2017/05/kekuatan-pertahanan-indonesia-dalam-bingkai-
negara-maritim/ diakses pada tanggal 23 September 2019 pukul 02.00 WIB
Yuliati, Kejayaan Indonesia Sebagai Negara Maritim (Jalesveva Jayamahe), Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Vol. 27 Nomor 2, Malang: Universitas Negeri Malang, dapat dilihat pada http://journal.um.ac.id/index.php/jppk/article/view/5523/2178, diakses pada tanggal 22 September 2019 pukul 23.00 WIB
Materi Seminar
Octavian, Amarulla. 2019. Menjadi Mahasiswa yang Inovatif, Kreatif, Berkarakter, dan Memiliki Nasionalisme pada Era Persaingan Global (Monograf). Jakarta: Seskoal
Supandi, Ade. 2016. Sistem Konektivitas Maritim sebagai Landasan Strategis Mewujudkan Poros Maritim Dunia (Seminar Nasional di Hotel Borobudur). Jakarta