Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
SALINAN P U T U S A N
Nomor 695/Pdt.G/2021/PA.Spg.
Bismillahirrohmanirrohim
DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA
Pengadilan Agama Sampang yang memeriksa dan mengadili perkara tertentu pada tingkat pertama telah menjatuhkan putusan dalam perkara “Cerai
Gugat” yang diajukan oleh :
PENGGUGAT ASLI, tempat dan tanggal lahir Sampang, 21 Oktober 1997,
agama Islam, pekerjaan Wiraswasta, Pendidikan Sekolah Dasar, tempat kediaman di Kecamatan Kedungdung Kabupaten Sampang, sebagai Penggugat;
melawan
TERGUGAT ASLI, tempat dan tanggal lahir Bangkalan, 07 Mei 1992, agama
Islam, pekerjaan Pedagang, Pendidikan Sekolah Dasar, tempat kediaman di Kecamatan Galis Kabupaten Bangkalan, sebagai Tergugat;
Pengadilan Agama tersebut;
Setelah membaca surat-surat yang berhubungan dengan perkara ini; Setelah mendengar keterangan Penggugat dan saksi-saksi di persidangan;
DUDUK PERKARA
Menimbang, bahwa Penggugat telah mengajukan gugatan cerai dengan suratnya tertanggal 08 Juni 2021 dan telah terdaftar di Kepaniteraan Perkara Pengadilan Agama Sampang pada Register Nomor 695/Pdt.G/2021/PA.Spg., tanggal 08 Juni 2021 telah mengemukakan hal-hal sebagai berikut:
1. Bahwa, Penggugat adalah istri sah Tergugat yang menikah pada tanggal 16 Nopember 2015, di hadapan Pegawai Pencatat Nikah Kantor Urusan Agama Kecamatan Kedungdung Kabupaten Sampang dengan status perawan dan jejaka sebagaimana ternyata dalam Kutipan Akta Nikah Nomor : 1077/065/XI/2015 tanggal 16 Nopember 2015;
2. Bahwa, setelah perkawinan Penggugat dengan Tergugat telah hidup rukun sebagaimana layaknya suami istri (Ba'da Dukhul) dan dikaruniai 1 orang
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
anak bernama : ANAK I Umur 2 tahun 2 bulan, anak Tersebut dalam asuhan dan pemeliharaan Penggugat;
3. Bahwa, setelah melangsungkan perkawinan Penggugat dan Tergugat bertempat tinggal di rumah orang tua Penggugat selama kurang lebih 1 tahun 6 bulan, kemudian dirumah kontrakan di malaysia selama kurang lebih 1 tahun 6 bulan, kemudian di rumah orang tua Penggugat selama kurang lebih 1 tahun;
4. Bahwa, kurang lebih sejak bulan November tahun 2018 keadaan rumah tangga Penggugat dengan Tergugat mulai goyah dan sering terjadi perselisihan secara terus menerus yang disebabkan karena :
a. masalah tempat tinggal dimana Penggugat tidak kerasan tinggal di rumah orang tua Tergugat, sedangkan Tergugat tidak kerasan tinggal di rumah orang tua Penggugat
b. Tergugat mengajak Penggugat merantau Ke kota bali namun Penggugat menolak di karnakan Pengugat pada saat itu lagi hamil, kemudian Tergugat marah-marah kepada Penggugat dengan mengeluarkan kata-kata kasar sehingga menjadi pemicu Pertengkaran antara Penggugat dan Tergugat dan pada saat itu Tergugat mengucapkan Talak (Cerai) kepada Penggugat dan Tergugat pulang kerumahnya dan tidak pernah kembali;
5. Bahwa, akibat perselisihan secara terus menerus tersebut, antara Penggugat dan Tergugat telah pisah tempat tinggal sejak bulan Desember tahun 2018 terhitung kurang lebih 2 tahun 6 bulan, hingga diajukannya perkara ini ke Pengadilan Agama Sampang;
6. Bahwa, kini Penggugat sudah tidak sanggup lagi untuk berkumpul serumah dengan Tergugat karena rumah tangga Penggugat dan Tergugat tidak mungkin harmonis lagi serta sulit diharapkan kelangsungannya;
7. Bahwa, Penggugat sanggup membayar seluruh biaya yang timbul akibat perkara ini;
Berdasarkan alasan/dalil-dalil di atas, Penggugat mohon agar Ketua Pengadilan Agama Sampang memeriksa dan mengadili perkara ini, selanjutnya menjatuhkan putusan yang amarnya sebagai berikut :
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
PRIMAIR :
1. Mengabulkan Gugatan Penggugat ;
2. Menjatuhkan Talak Satu Ba’in Sughra dari Tergugat (TERGUGAT ASLI) terhadap Penggugat (PENGGUGAT ASLI) ;
3. Membebankan Biaya Perkara sesuai dengan hukum yang berlaku ;
SUBSIDAIR :
- Atau apabila Pengadilan berpendapat lain, maka saya mohon putusan lain yang seadil-adilnya ;
Menimbang, bahwa pada hari dan tanggal persidangan yang telah ditetapkan Penggugat hadir sendiri menghadap di persidangan, sedangkan Tergugat tidak hadir dan tidak pula mengutus kuasanya, sedangkan tidak ternyata bahwa tidak datangnya itu disebabkan oleh suatu halangan yang sah, maka pemeriksaan perkara ini dilanjutkan tanpa hadirnya Tergugat;
Menimbang, bahwa Majelis Hakim telah berusaha mendamaikan dengan menyarankan kepada pihak Penggugat untuk tidak meneruskan gugatannya dan rukun kembali dengan Tergugat, akan tetapi tidak berhasil;
Menimbang, bahwa oleh karena usaha perdamaian tidak berhasil, maka pemeriksaan diteruskan dengan membacakan surat gugatan Penggugat yang isinya tetap dipertahankan oleh Penggugat;
Menimbang, bahwa Penggugat telah meneguhkan dalil-dalil gugatannya dengan menyerahkan alat bukti surat di persidangan berupa :
1. Fotokopi Kutipan Akta Nikah Nomor 1077/065/XI/2015 tanggal 16 Nopember 2015 dari Kantor Urusan Agama Kecamatan Kedungdung Kabupaten Sampang, telah dinazegel dan sesuai aslinya (P.1);
2. Fotokopi Kartu Tanda Penduduk atas nama PENGGUGAT ASLI NIK. 3527066010910004, telah dinazegel dan sesuai aslinya (P.2);
Menimbang, bahwa Penggugat telah menghadirkan saksi-saksi atau keluarganya, yaitu :
1. SAKSI I PENGGUGAT, tanggal lahir 10 Oktober 1994, agama Islam, pekerjaan tidak bekerja, tempat kediaman di Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, sebagai saksi I ;
Menimbang, bahwa saksi I di hadapan sidang telah memberikan keterangan dibawah sumpah yang pada pokoknya sebagai berikut :
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
- Bahwa saksi kenal dengan Penggugat dan Tergugat sebab saksi saudara
iparPenggugat;
- Bahwa saksi tahu suami Penggugat bernama Fathur Rosi;
- Bahwa saksi mengetahui setelah menikah Penggugat dan Tergugat hidup rukun selayaknya suami isteri dengan mengambil tempat kediaman bersama di rumah orang tua Penggugat kemudian tinggal di rumah kontrakan di Malaysia dan terakhir tinggal di rumah orang tua Penggugat dan telah dikaruniai 1 orang anak;
- Bahwa saksi mengetahui pada awalnya rumah tangga Penggugat dan Tergugat rukun, namun sejak bulan November 2018 menjadi tidak harmonis dan terjadi pertengkaran, kemudian Tergugat pulang ke rumah orang tuanya sendiri;
- Bahwa saksi mengetahui penyebabnya karena masalah tempat tinggal, Penggugat tidak mau diajak tinggal di rumah orang tua Tergugat sedangkan Tergugat tidak kerasan tinggal di rumah orang tua Penggugat disamping itu Penggugat tidak mau diajak Tergugat untuk bekerja di Bali karena Penggugat sedang hamil sehingga terjadi pertengkaran;
- Bahwa saksi mengetahui Tergugat pulang ke rumah orang tuanya sendiri sejak bulan Desember 2018;
- Bahwa saksi tahu sejak Tergugat pulang ke rumah orang tuanya sendiri, tidak pernah kumpul lagi dengan Penggugat dan antara keduanya sudah tidak ada komunikasi;
- Bahwa saksi tahu antara Penggugat dan Tergugat telah pisah tempat tinggal selama + 2 (dua) tahun 07 (tujuh) bulan terhitung sejak bulan Desember 2018;
- Bahwa saksi sudah pernah menasehati Penggugat, tapi usaha tersebut tidak berhasil dan saksi sudah tidak sanggup mendamaikan Penggugat dan Tergugat lagi karena Penggugat dan Tergugat sudah tidak ada harapan hidup rukun lagi, lebih baik Penggugat dan Tergugat diceraikan;
2. SAKSI II PENGGUGAT, tanggal lahir 01 Juli 1984, agama Islam, pekerjaan wiraswasta, tempat kediaman di Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, sebagai saksi II ;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Menimbang, bahwa saksi II di hadapan sidang telah memberikan keterangan dibawah sumpah yang pada pokoknya sebagai berikut :
- Bahwa saksi kenal dengan Penggugat dan Tergugat sebab saksi paman Penggugat;
- Bahwa saksi tahu suami Penggugat bernama Fathur Rosi;
- Bahwa saksi mengetahui setelah menikah Penggugat dan Tergugat hidup rukun selayaknya suami isteri dengan mengambil tempat kediaman bersama di rumah orang tua Penggugat kemudian tinggal di rumah kontrakan di Malaysia dan terakhir tinggal di rumah orang tua Penggugat dan telah dikaruniai 1 orang anak;
- Bahwa saksi mengetahui pada awalnya rumah tangga Penggugat dan Tergugat rukun, namun sejak bulan November 2018 menjadi tidak harmonis dan terjadi pertengkaran, kemudian Tergugat pulang ke rumah orang tuanya sendiri;
- Bahwa saksi mengetahui penyebabnya karena masalah tempat tinggal, Penggugat tidak mau diajak tinggal di rumah orang tua Tergugat sedangkan Tergugat tidak kerasan tinggal di rumah orang tua Penggugat disamping itu Penggugat tidak mau diajak Tergugat untuk bekerja di Bali karena Penggugat sedang hamil;
- Bahwa saksi mengetahui Tergugat pulang ke rumah orang tuanya sendiri sejak bulan Desember 2018;
- Bahwa saksi tahu sejak Tergugat pulang ke rumah orang tuanya sendiri, tidak pernah kumpul lagi dengan Penggugat dan antara keduanya sudah tidak ada komunikasi;
- Bahwa saksi tahu antara Penggugat dan Tergugat telah pisah tempat tinggal selama + 2 (dua) tahun 07 (tujuh) bulan terhitung sejak bulan Desember 2018;
- Bahwa saksi sudah pernah menasehati Penggugat, tapi usaha tersebut tidak berhasil dan saksi sudah tidak sanggup mendamaikan Penggugat dan Tergugat lagi karena Penggugat dan Tergugat sudah tidak ada harapan hidup rukun lagi, lebih baik Penggugat dan Tergugat diceraikan;
Menimbang, bahwa atas keterangan saksi-saksi tersebut Penggugat menyatakan benar seluruhnya;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Menimbang, bahwa Penggugat tidak mengajukan tambahan keterangan dan alat bukti/saksi lagi dan mohon agar perkaranya segera diputus;
Menimbang, bahwa untuk mempersingkat uraian putusan ini cukup ditunjuk segala hal ikhwal yang telah termuat dalam Berita Acara Sidang perkara ini dianggap sebagai bagian dalam putusan ini;
PERTIMBANGAN HUKUM
Menimbang, bahwa maksud dan tujuan gugatan Penggugat adalah sebagaimana telah diuraikan di atas;
Menimbang, bahwa Majelis Hakim sudah berusaha menasehati Penggugat agar rukun kembali, akan tetapi tidak berhasil;
Menimbang, bahwa Tergugat tidak hadir di persidangan meskipun telah dipanggil dengan resmi dan patut, lagi pula ketidakhadirannya tersebut tidak disebabkan oleh suatu halangan yang sah, maka Tergugat yang telah dipanggil secara resmi dan patut tidak datang menghadap harus dinyatakan tidak hadir dan putusan atas perkara ini dijatuhkan dengan Verstek (Pasal 125 ayat (1) HIR.);
Menimbang bahwa Penggugat dalam surat gugatannya mendalilkan bahwa kurang lebih sejak bulan November 2018 keadaan rumah tangga Penggugat dengan Tergugat mulai goyah dan sering terjadi pertengkaran yang disebabkan masalah tempat tinggal dimana Penggugat tidak kerasan tinggal di rumah orang tua Tergugat, sedangkan Tergugat tidak kerasan tinggal di rumah orang tua Penggugat, Tergugat mengajak Penggugat merantau Ke kota bali namun Penggugat menolak di karnakan Pengugat pada saat itu lagi hamil, kemudian Tergugat marah-marah kepada Penggugat dengan mengeluarkan kata-kata kasar sehingga menjadi pemicu Pertengkaran antara Penggugat dan Tergugat dan pada saat itu Tergugat mengucapkan Talak (Cerai) kepada Penggugat dan Tergugat pulang kerumahnya dan tidak pernah kembali, sehingga berpisah tempat tinggal selama + 02 (dua) tahun 06 (enam) bulan dan Penggugat sudah tidak sanggup lagi berumah tangga lagi dengan Tergugat;
Menimbang, bahwa untuk meneguhkan dalil-dalilnya tersebut
Penggugat mengajukan bukti surat (P.1 sd P.2) serta menghadirkan 2 orang saksi di persidangan ;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Menimbang, bahwa bukti P.1 (Kutipan Akta Nikah) adalah akta autentik yang mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna dan menentukan, oleh karenanya maka berdasarkan surat bukti tersebut, nyata terbukti bahwa antara Penggugat dan Tergugat terikat perkawinan yang sah;
Menimbang, bahwa bukti P.2 (Kartu Tanda Penduduk) membuktikan bahwa Penggugat adalah berada diwilayah yurisdiksi Pengadilan Agama Sampang, sehingga oleh karenanya Pengadilan Agama Sampang berwenang memeriksa dan mengadili perkara ini;
Menimbang, bahwa dua orang saksi Penggugat tersebut di atas masing-masing pada pokoknya menerangkan bahwa antara Penggugat dan Tergugat telah terjadi pisah tempat tinggal selama + 02 (dua) tahun 06 (enam) bulan yang penyebabnya karena masalah tempat tinggal, Penggugat tidak mau diajak tinggal di rumah orang tua Tergugat sedangkan Tergugat tidak kerasan tinggal di rumah orang tua Penggugat disamping itu Penggugat tidak mau diajak Tergugat untuk bekerja di Bali karena Penggugat sedang hamil sehingga terjadi pertengkaran;
Menimbang, bahwa Majelis Hakim dapat menerima keterangan saksi tersebut sebab keterangan saksi dibawah sumpah dan keterangannya satu sama lainnya bersesuaian sehingga memenuhi syarat formal yang diatur dalam Pasal 172 HIR.;
Menimbang, bahwa berdasarkan keterangan saksi-saksi tersebut di atas ditemukan fakta bahwa rumah tangga antara Penggugat dan Tergugat telah terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan untuk hidup rukun kembali sebagai layaknya suami isteri;
Menimbang, bahwa berdasarkan fakta tersebut di atas Majelis Hakim berkesimpulan bahwa rumah tangga Penggugat dan Tergugat tidak baik lagi dan tujuan perkawinan sebagaimana tercantum dalam al-Qur'an surat ar-rum ayat 21 dan ketentuan Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 yakni “
membina rumah tangga yang penuh rasa kasih sayang” serta membentuk
rumah tangga (keluarga) yang kekal dan bahagia, tidak terwujud lagi. Oleh
karena itu Majelis hakim berpendapat perceraian lebih maslahat dari pada mempertahankan perkawinan yang tidak membawa kebahagiaan. Hal ini sejalan dengan kaidah fiqhiyah yang berbunyi ;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
ﺢﻠﺎﺼﻤﻟﺍﺐﻠﺠﻰﻟﻋﻡﺪﻘﻤ ﺪﺴﺎﻔﻤﻠﺍﺀﺮﺪ
Artinya : ”Menolak (menangkis) kerusakan lebih didahulukan daripada
mendatangkan kemaslahatan (yang belum pasti)”.
Menimbang, bahwa dengan demikian gugatan Penggugat telah beralasan hukum, sesuai dengan Pasal 39 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 jo. Pasal 19 huruf ( b dan f ) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 jo. Pasal 116 huruf ( b dan f ) Kompilasi Hukum Islam;
Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas, maka gugatan Penggugat patut untuk dikabulkan;
Menimbang, bahwa karena perkara tersebut termasuk bidang perkawinan, maka sesuai dengan Pasal 89 ayat (1) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009, biaya perkara ini dibebankan kepada Penggugat;
Mengingat Pasal 49 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009 dan ketentuan hukum lain serta hukum syar'i yang berkaitan dengan perkara ini;
MENGADILI
1. Menyatakan Tergugat yang telah dipanggil secara resmi dan patut untuk menghadap ke persidangan, tidak hadir;
2. Mengabulkan gugatan Penggugat dengan verstek;
3. Menjatuhkan talak satu Ba'in Sughro Tergugat (TERGUGAT ASLI) terhadap Penggugat (PENGGUGAT ASLI);
4. Membebankan Penggugat membayar biaya perkara sejumlah
Rp. 420.000,00 (empat ratus dua puluh ribu rupiah);
Demikian putusan ini dijatuhkan dalam sidang permusyawaratan Majelis Hakim Pengadilan Agama Sampang pada hari Senin tanggal 26 Juli 2021
Masehi bertepatan dengan tanggal 16 Dzul Hijjah 1442 Hijriyah, oleh kami
Rukayah, S.Ag. selaku Ketua Majlis, Drs. Moh. Muchsin, M.Sy. dan Dr. Muhammad Iqbal, S.HI.,SH.,M.HI. masing-masing selaku Hakim Anggota serta
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
didampingi oleh Imran Saleh, SH. sebagai Panitera Pengganti, dan pada hari itu juga diucapkan pada sidang yang terbuka untuk umum dengan dihadiri oleh Penggugat tanpa hadirnya Tergugat.
Hakim Anggota, Ketua Majelis,
ttd
Drs. Moh. Muchsin, M.Sy.
ttd
Rukayah, S.Ag. Hakim Anggota,
ttd
Dr. Muhammad Iqbal, S.HI.,SH.,M.HI. Panitera Pengganti,
ttd
Imran Saleh, SH.
Perincian Biaya Perkara :
1. Biaya Pendaftaran Rp 30.000,00 2. Biaya Proses Rp 50.000,00 3 Biaya Panggilan Rp 300.000,00 4. PNBP Panggilan Rp 20.000,00 5. Redaksi Rp 10.000,00 6. Meterai Rp 10.000,00 J u m l a h Rp 420.000,00 (empat ratus dua puluh ribu rupiah).
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :