• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMANDIAN ALAM AIR SODA DI DESA PARBUBU I KECAMATAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PEMANDIAN ALAM AIR SODA DI DESA PARBUBU I KECAMATAN"

Copied!
84
0
0

Teks penuh

(1)

PEMANDIAN ALAM AIR SODA DI DESA PARBUBU I KECAMATAN TARUTUNG (1973-2000)

Skripsi Sarjana

Dikerjakan

O L E H

NAMA :HOTMATIUR SITANGGANG

NIM :

140706036

PROGRAM STUDI ILMU SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2018

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kita. Hingga saat ini penulis masih diberi kesehatan, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai salah satu sayarat untuk menyelesaikan studi pada Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Univesitas Sumatera Utara.

Skripsi ini berjudul, PEMANDIAN ALAM AIR SODA DI DESA PARBUBU I KECAMATAN TARUTUNG (1973-2000). Adapun tujuan dari penulisan skripsi ini selain sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi di Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara, juga untuk menjelaskan bagaimana latar belakang terbentuknya Pemandian Alam Air Soda Tarutung dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami.

Penulis menyadari skripsi ini belum sempurna, oleh karena itu dengan rendah hati penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca untuk penyempurnaan tulisan ini.

Semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua, terkhusus bagi penulis sendiri.

Medan, Juli 2018

Penulis,

Hotmatiur Sitanggang

(7)

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yesus Kristus yang selalu memberikan kesehatan, kesempatan, kekuatan, dan kasih sayang sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih atas bantuan tenaga, pikiran, serta bimbingan serta nasehat kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, kepada yang penulis hormati:

1. Bapak Dr. Budi Agustono, MS., selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara, dan kepada Wakil Dekan beserta Staf pegawai Fakultas Ilmu Budaya, USU.

2. Bapak Drs. Edi Sumarno, M.Hum., selaku Ketua Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya USU dan juga kepada Ibu Dra. Nina Karina, M.SP. selaku Sekretaris Program Studi Ilmu Sejarah yang turut membantu dalam kelancaran penulisan ini.

3. Ibu Dra.Nurhabsyah, M.Si, selaku dosen pembimbing. Jasa dan bantu beliau tidak akan penulis lupakan, serta terima kasih atas kesabaran di dalam membimbing, memberikan arahan dan masukan selama pengerjaan penulisan skripsi ini.

4. Seluruh Bapak/ Ibu dosen staf pengajar Program Studi Ilmu Sejarah yang telah mengajar penulis, baik dari segi pengetahuan, pengalaman, serta wawasan selama penulis menjadi mahasiswa di Fakultas Ilmu Budaya USU Tidak lupa juga kepada Staf Administrasi Program Studi Ilmu Sejarah, Bapak Amperawira yang telah banyak membantu penulis selama penulis menjadi mahasiswa.

(8)

5. Kepada kedua orang tua yang ku sayangi, ayah tercinta Midin Sitanggang dan Ibu Lasma Pasaribu yang telah membesarkan, mendidik, dan selalu memberikan nasehat dan dukungan materi kepada penulis. Terimakasih juga saya ucapkan kepada abang dan kakak serta adik saya Rosa Sitanggang yang telah memberi semangat dan motivasi kepada penulis.

6. Terimakasih juga saya ucapkan kepada Bang Naek dan Keluarga, Bang Mula dan Keluarga, Kak Yanti dan keluarga, Bang Berto dan keluarga, Bang Tasya dan Keluarga, Bang Ermole dan Istri serta adik perempuan saya yang paling bungsu Rosa Sitanggang yang telah memberi semangat dan motivasi kepada penulis.

7. Kepada seluruh keluarga besar Op Naek Sitanggang, yang telah memberikan semangat dan motivasi kepada penulis dalam menjalani masa studi sampai kepada menyelesaikan studi yang dijalani penulis.

8. Terimakasih banyak saya ucapkan kepada yang terkasih abangda Tulus Batahan Philip Jefersen Silitonga yang telah menyemangati dan memotivasi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

9. Terimakasih juga saya ucapkan kepada keluarga besar Ilmu Sejarah stambuk 2014, antara lain kepada, Siska Pronika Manurung, Melva br Hotang, Erika Fujihana br Tarigan, Andventny Manurung, Susianna Siburian, Ely Sri Nadira, atas kebersamaanya selama perkuliahan dan juga kepada teman- teman lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

(9)

10.Terimakasih saya ucapkan kepada para informan yaitu, Ibu Minar Sihite, Bapak Ridoi Lumbantobing, Bapak Tulus Pandapotan Hutapea, Bapak Parlindungan Siburian yang turut membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, serta kepada para informan lainnya yang tidak dapat penulis ucapkan satu persatu.

(10)

ABSTRAK

Pemandian Alam Air Soda merupakan salah satu tempat wisata yang terletak di Desa Parbubu I Kecamatan Tarutung Kabupaten Tapanuli Utara. Keunikan dan potensi yang dimiliki oleh Pemandian Alam Air Soda ini menarik penulis untuk meneliti dan menuangkanya dalam tulisan yang berjudul “Pemandian Alam Air Soda di Desa Parbubu I Kecamatan Tarutung 1973- 2000”.Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan sejarah dan latar belakang berdirinya Pemandian Alam Air Soda Tarutung sehingga banyak didatangi pengunjung, serta menjelaskan perkembangan air soda dan faktor-faktor pendukung maupun penghambat yang terjadi dalam perkembanganya dan menjelaskan bagaimana nilai tambah Air Soda pada pendapatan masyarakat Desa Parbubu I.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian Deskriptif-Analitis yaitu heuristik atau teknik pengumpulan sumber baik lisan maupun tulisan, kritik sumber, dan historiografi. Pada awalnya pemandian alam air soda ini hanya merupakan sebuah mata air kecil yang ditutupi oleh semak belukar dan bebatuan. Kemudian secara tidak sengaja ditemukan oleh Minar Sihite pada tahun 1973 yang kemudian dikelola dan dikembangkan menjadi sebuah kolam pemandian yang menarik perhatian para wisatawan. Dengan dibukanya pemandian alam air soda menjadi salah satu tempat wisata yang memiliki keunikan secara tidak langsung telah mengharumkan nama Kabupaten Tapanuli Utara dalam aspek pariwisata sehingga nama Desa Parbubu I menjadi dikenal oleh masyarakat luas apabila berkunjung ke Kota Tarutung.

Kata kunci: Pemandian Alam, Air Soda, Desa Parbubu I

(11)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

UCAPAN TERIMA KASIH ... ii

ABSTRAK ... v

DAFTAR ISI... vi

DAFTAR TABEL...viii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 4

1.3 Tujuan Dan Manfaat Penelitian ... 5

1.4 Tinjauan Pustaka ... 6

1.5 Metode Penelitian...9

BAB II DESKRIPSI PEMANDIAN ALAM AIR SODA DI DESA PARBUBU I KECAMATAN TARUTUNG...12

2.1 Letak Geografis ...12

2.1.1 Letak dan Batas Wilayah...12

2.1.2 Keadaan Iklim...13

2.2 Kondisi Penduduk...14

2.2.1 Komposisi Penduduk Berdasarkan Agama...16

2.3 Mata Pencaharian...18

2.4 Latar Belakang Berdirinya Pemandian Alam Air Soda...20

2.5. Kepemilikan Lahan Pemandian Air Soda... 21

2.6 Waktu Tempuh Ke Ibukota Kabupaten...22

2.7 Potensi Pemandian Alam Air Soda...23

2.7.1 Mamfaat Air Soda...28

2.7.2 Kondisi Pemandian Alam Air Soda...29

(12)

2.8 Animo Pengunjung...30

BAB III PERKEMBANGAN PEMANDIAN ALAM AIR SODA DI DESA PARBUBU I KECAMATAN TARUTUNG 1973-2000...32

3.1 Kolam Renang...32

3.2 Rumah Makan...33

3.3 Kamar Mandi...34

3.4 Areal Parkir...35

3.5 Ketersediaan Transportasi...36

3.6 Pengembangan dan Promosi Objek Wisata...37

3.7 Pengunjung...39

3.8 Sistem Pengelolaan Objek Wisata...40

3.9 Faktor Pendukung...41

3.10 Faktor Penghambat...47

BAB IV NILAI TAMBAH AIR SODA PADA PENDAPATAN MASYARAKAT DESA PARBUBU I KECAMATAN TARUTUNG...53

4.1 Pendapatan Pengelola Air Soda...53

4.2 Pendapatan Masyarakat Sekitar Air Soda...54

BAB V KESIMPULAN ...56

5.1 Kesimpulan...56

5.2 Saran...57

DAFTAR PUSTAKA...60 LAMPIRAN

DAFTAR INFORMAN

(13)

Daftar Tabel

Tabel 2.2 Distribusi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin...15 Tabel 2.2.1 Komposisi Penduduk Berdasarkan Agama...17 Tabel 2.3 Distribusi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian...19

(14)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Desa Parbubu I adalah nama suatu desa yang berada di Kecamatan Tarutung Kabupaten Tapanuli Utara. Parbubu merupakan nama sebuah wilayah yang secara administratif terbagi menjadi empat desa. Keempat Desa Parbubu tersebut adalah Desa Parbubu I, Desa Parbubu II, Desa Parbubu Pea, dan Desa Parbubu Dolok1. Diantara keempat desa tersebut Desa Parbubu I memiliki keuikan tersendiri. Karena di desa tersebut terdapat sumber mata air yang memiliki rasa seperti soda sehinnga dinamakan air soda. Air Soda ini berada di tengah persawahan tepatnya dibawah lereng Gunung Martimbang yang dulunya dikenal masyarakat setempat dengan nama Aek Rara2. Air soda ini berasal dari perut bumi yang awalnya berupa mata air kecil dan ditutupi semak belukar.

Sebelum sumber mata air soda ditemukan pada awalnya lokasi pemandian air soda saat ini, merupakan hutan semak belukar yang terdapat batu-batu besar. Dulunya lokasi air soda sangat jarang dilewati masyarakat sekitar, karena masyrakat beranggapan tempat tersebut adalah lokasi yang cukup angker. Selain itu, tanaman padi masyarakat sering mati jika air soda mengalir kesawah. Warna merah seperti

1Data BPS Kabupaten Tapanuli Utara 2011.

2Aek Rara merupakan sebutan lokal yang digunakan oleh masyarakat Tarutung sebelum disebut Air Soda

(15)

karat disekitar mata air soda memberikan kesan mistis. Dalam bahasa Toba pemandian air soda tersebut sdikenal dengan nama aek rara yang artinya “air merah”.

Air Soda secara tidak sengaja ditemukan oleh Minar Sihite pada tahun 1973.

Setelah beliau memutuskan pulang kampung dari kota Jakarta untuk mengurus mertuanya yang sudah lanjut usia. Air soda tersebut dapat ditemukan karena pada suatu hari tepatnya tahun 1973 Minar Sihite jalan-jalan sendiri menelusuri hutan belantara dan menemukan sumber mata air yang terdapat di bawah semak belukar dan bebatuan besar, kemudian mata air tersebut dicicipi oleh Minar Siihite dan rasanya seperti soda yang berbeda dari mata air pada umumnya. Setelah mata air soda tersebut di cicipi oleh Minar kemudian tergerak hatinya untuk menjadikan mata air yang ditemukanya sebagai sumber mata pencaharianya.3

Minar Sihite kemudian bersama keluarganya melakukan pengerukan pertama dan hasilnya diperoleh sekitar 2 truk bebatuan dan muncullah mata air soda yang lebih besar. Uniknya mata air tersebut tidak habis dan kemudian Minar Sihite membuat sebuah kolam penampungan mata air tersebut yang berukuran sekitar 30m2 dengan kedalaman kolam sekitar 1,6 m. Awalnya pemandian air soda hanya dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk mandi setelah pulang dari ladang atau sawah pada sore hari serta untuk mewarnai kain tenun ulos ibu-ibu di Desa Parbubu I lama kelamaan pemandian air soda semakin ramai dikunjungi. Hingga pada tahun 1976 dibuka resmi untuk umum dan mulai dikembangkan oleh Minar Sihite menjadi

3Hasil wawancara dengan Minar Sihite, tanggal 05 April 2018.

(16)

sebuah kolam pemandian yang ramai didatangi pengunjung dan masyarakat sekitar.4 Dengan dikembangkanya mata air soda menjadi sebuah kolam pemandian,secara tidak langsung telah memperkenalkan Kota Tarutung khususnya Desa Parbubu I bagi wisatawan.

Setelah Pemandian Air Soda resmi dibuka untuk umum, Desa Parbubu I mulai ramai diperbincangkan terutama dalam bidang pariwisata, karena pemandian air soda yang dihasilkan dari perut bumi ini hanya dapat dijumpai di Kecamatan Tarutung dan merupakan satu-satunya air soda di Kabupaten Tapanuli Utara. Desa Parbubu I kemudian menjadi salah satu daerah tujuan wisata yang unik apabila berkunjung ke Tarutung. Tidak hanya keunikan air sodanya keindahan alam desa parbubu I yang dikelilingi sawah serta jajaran bukit barisan juga merupakan salah satu daya tarik wisatawan.

Air Soda menjadi ciri lokal di Desa Parbubu I, dengan dibukanya kolam pemandian air soda secara tidak langsung memiliki dampak positif bagi pemilik serta masyarakat setempat dimana Desa Parbubu I yang dulunya sangat sepi dan jarang dikunjungi orang setelah adanya pemandian alam air soda Parbubu I mulai ramai didatangi oleh para pengunjung yang secara tidak langsung berkontribusi untuk meningkatkan pendapatan masayarakat sekitar.

Namun dalam perkembanganya Pemandian Air Soda mengalami beberapa hambatan. Salah satunya adalah terjadinya bencana alam tanah longsor pada tahun

4Hasil wawancara dengan Parlindungan Siburian, tanggal 05 April 2018.

(17)

1990 yang mengakibatkan kerusakan parah pada pemandian alam air soda. Pasca bencana alam yang terjadi pada tahun 1990, pengelola pemandian alam air soda yakni Minar Sihite dan Keluarga membenahi fasilitas yang ada di pemandian air soda tersebut secara mandiri. Air soda kemudian kembali ramai dikunjungi oleh para wisatawan lokal maupun dari luar daerah. Hambatan lainnya adalah kurangnya partisipasi pemerintah daerah dalam mengembangkan Pemandian Alam Air Soda, serta adanya kecemburuan sosial dari beberapa masyarakat setempat.

Berdasarkan latar belakang diatas penulis merasa tertarik untuk mengkaji Pemandian Alam Air Soda di Desa Parbubu I Kecamatan Tarutung (1973- 2000), karena air soda Tarutung sangat berpotensi untuk dikembangkan dan merupakan sumber mata air soda satu-satunya di Kabupaten Tapanuli Utara, ini merupakan salah satu keunikan Desa Parbubu I karena hanya di desa ini terdapat sumber mata air soda tersebut. Adapun alasan penulis memilih tahun 1973 karena pada tahun tersebut merupakan awal ditemukanya sumber mata Air Soda di Desa Parbubu I yang akhirnya menjadi sebuah tempat wisata. Penulis mengakhirinya pada tahun 2000 karena pada tahun tersebut Air Soda mulai ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai luar daerah seperti dari daerah Padang Sidempuan, Sibolga, Medan, Jakarta dan Surabaya.

1.2 Rumusan Masalah

Di dalam sebuah penelitian, rumusan masalah menjadi landasan yang sangat penting dari sebuah penelitian karena akan memudahkan peneliti di dalam proses

(18)

pengumpulan data dan analisis data. Permasalahan yang dibahas dari penelitian adalah :

1. Apa yang melatarbelakangi berdirinya pemandian Air Soda Tarutung ?

2. Bagaimana perkembangan Pemandian Alam Air Soda Tarutung (1973-2000)?

3. Bagaimana nilai tambah Air Soda pada pendapatan masyarakat Desa Parbubu I?

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian

Dalam setiap penelitian yang dilakukan tentunya memiliki tujuan dan manfaat yang ingin dicapai. Pada dasarnya penelitian yang akan dilakukan ini betujuan untuk menjawab pokok-pokok permasalahan yang dipaparkan.

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Menjelaskan latar belakang berdirinya Pemandian Air Soda Tarutung.

2. Menjelaskan perkembangan Pemandian Air Soda Tarutung (1973-2000).

3. Menjelaskan nilai tambah Pemandian Air Soda pada pendapatan masyarakat Desa Parbubu I

Selain tujuan dari penelitian tersebut, manfaat yang diharapkan dari penelitian yang akan dilakukan ini adalah :

1 Menambah wawasan dan pengetahuan baru tentang informasi Pemandian Alam Air Soda Tarutung dalam dunia penelitian serta memberikan referensi

(19)

literartur yang berguna terhadap dunia akademik terutama dalam Ilmu Sejarah guna membuka ruang penulisan sejarah lokal berikutnya.

2 Bagi masyarakat setempat, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumber mata pencaharian baru dengan adanya pemandian alam Air Soda Tarutung.

3 Bagi pemerintah daerah diharapkan tulisan ini dapat menjadi referensi sekaligus membantu dalam memajukan pariwisata di Tapanuli Utara.

1.4 Tinjauan Pustaka

Dalam sebuah penulisan karya ilmiah harus menggunakan sumber-sumber bacaan atau referensi yang saling berhubungan. Hal ini ditujukan agar pemaparan dan penjelasan dalam kegiatan historiografi sebuah penelitian ilmiah dapat bersifat lebih objektif, maka sumber-sumber bacaan atau referensi yang digunakan hendaklah bertautan dengan topik yang dibahas. Oleh karena itu, penulis menggunakan beberapa buku dan sumber bacaan sebagai dasar dalam penulisan.

Wardiyanto dan M. Baiquni dalam “Perencanaan Pengembangan Pariwisata (2011)”. Buku ini menjelaskan tentang definisi pariwisata dan wisatawan, selain itu

dijelaskan juga manfaat pariwisata dan dampak pariwisata tersebut baik secara langsung dan tidak langsung. Buku ini juga memaparkan sistem-sistem kepariwisataan yang meliputi komponen-komponen yang terdapat dalam pariwisata, permintaan dan penawaran pariwisata, peluang pasar wisata, para pelaku wisata,

(20)

hingga pada indikator keberhasilan pembangunan pariwisata yang berkelanjutan dalam lingkungan masyarakat. Secara khusus buku ini membantu penulis dalam memahami bagaimana mamfaat dan dampak pariwisata terhadap suatu daerah begitu juga dengan Objek Wisata Pemandian Air Soda yang berada di Desa Parbubu I.

I Gusti Bagus Arjana, dalam “Geografi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (2015)” menjelaskan geografi pariwisata merupakan kajian pariwisata dalam

perspektif geografi, yang berada dalam lingkup geografi ekonomi, konsep dan definisi dari geografi pariwisata, komponen-komponen penting dalam pariwisata dan jenis-jenis pariwisata, dan dampak pembangunan pariwisata dalam beberapa aspek kehidupan. Esesnsi geografi ekonomi adalah mengkaji aktivitas ekonomi dalam pendekatan keruangan, termasuk aktivitas pariwisata, materi ini memberi pemahaman bagaimana kedudukan pariwisata sebagai kegiatan ekonomi dalam bidang ilmu geografi. Secara khusus buku ini membantu penulis memahami bagaimana suatu objek wisata alam itu terbentuk dalam kajian geografi.

Janianto Damanik dkk, dalam “Membangun Pariwisata Dari Bawah (2014)”

memaparkan Desa Wisata dapat diartikan sebagai desa secara sengaja dibangun atau secara alami memiliki kemampaun untuk menarik kunjungan wisatawan karena ketersediaan potensi antraksi alam dan budayanya. Konsep yang digunakan perencana pembangunan pariwisata pedesaan di Indonesia adalah bahwa desa wisata merupakan bentuk “integrasi antara antraksi, akomodasi, dan fasilitas yang disajikan dalam suatu stuktur kehidupan masyarakat yang menyatu dalam tradisi setempat. Buku ini secara

(21)

khusus membantu penulis memahami bahwa pembangunan pariwisata dimulai dari suatu daerah atau desa yang memiliki potensi alam maupun budaya.

Dewa Putu Oka Prasiasa, dalam “Wacana Kontemporer Pariwisata (2011)”

menjelaskan daya tarik wisata merupakan kombinasi antara alam dan hasil buatan manusia yang tidak terlepas dari keindahan, baik keindahan yang disediakan oleh alam maupun keindahan yang diciptakan oleh manusia. Dan merupakan fasilitas utama dalam pariwisata. Buku ini membantu penulis memahami bagaimana suatu objek wisata dapat menarik perhatian wisatawan untuk berkunjung kedaerah tersebut.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Tapanuli Utara, dalam“Tapanuli Utara Membangun”(1991) menjelaskan dalam rangka pembangunan jangka panjang,

kabupaten daerah tingkat II Tapanuli Utara menitikberatkan pada pembangunan ekonomi dengan sasaran utama keseimbangan antara pertanian dan industri serta berkembangnya kegiatan kepariwisataan. Pariwisata menjadi salah satu kegiatan ekonomi dalam meningkatkan pembangunan kabupaten Tapanuli Utara, karena pariwisata sangat berpotensi untuk dikembangkan. Buku ini membantu penulis memahami bagaimana pariwisata pada tahun 1991 di Kabupaten Tapanuli Utara menjadi kegiatan ekonomi.

Susan Yosevina Saragi (2015) dalam Objek Wisata Pemandian Air Panas Sipoholon Tahun 1980-2004 (skripsi), menjelaskan bagaimana kontribusi Pemanadian Air Panas Sipoholon dalam meningkatkan kualitas kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat kelurahan Situmeang. Buku ini membantu penulis memahami

(22)

bahwa Pemandian Air Soda Tarutung juga dapat dikembangkan menjadi tujuan wisata yang dapat membantu pendapatan daerah melalui industri pariwisata.

1.5 Metode Penelitian

Metode sejarah merupakan sebuah cara yang bertujuan untuk memastikan dan menganalisis serta mengungkapkan fakta-fakta mengenai masa lampau. Sistematika dalam sebuah penulisan mengenai penelitian yang telah dilaksanakan terangkum di dalam sebuah metode penelitian sejarah yang membantu setiap penelitian dalam tujuan untuk merekonstruksi ataupun melakukan reka ulang terhadap kejadian- kejadian ataupun peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lampau5.

Seorang peneliti, dalam melakukan penelitian di lapangan terlebih dahulu mengadakan sejumlah pengamatan untuk membuktikan anggapan-anggapan dasar yang berdasarkan pada kenyataan yang ada di lokasi penelitian. Di dalam metode penelitian sejarah, ada beberapa teknik ataupun langkah-langkah yang dilakukan oleh penulis sebelum merampungkan tulisan yang akan dibuat. Adapun langkah-langkah yang dimaksudkan adalah sebagai berikut:

Langkah pertama yang dilakukan dalam penelitian ini adalah mengumpulkan sumber (Heuristik) yang terkait dengan Pemandian Alam Air Soda Tarutung. Adapun Jenis sumber yang diperlukan terkait objek penelitian ini adalah Sumber lisan dan sumber tulisan, sumber lisan yang dimaksud adalah sumber informasi terkait yang

5 Louis Gottschalk, Mengerti Sejarah, Terjemahan Nugroho Notosusanto,Jakarta: UI Press,hlm 32.

(23)

diperoleh berdasarkan lisan melalui metode wawancara. Jenis wawancara yang dilakukan adalah wawancara terbuka atau bebas, dimana informan bersikap aktif saat wawancara. Yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah informan kunci atau yang dianggap primer yaitu Minar Sihite sebagai pengelola sekaligus penemu Pemandian Alam Air Soda di Desa Parbubu I dan beberapa warga desa setempat.

Sumber tertulis yang dimaksud adalah sumber yang diperoleh dari dokumen tertulis atau dari beberapa buku selain itu juga dilakukan studi pustaka yaitu mencari buku- buku ataupun skripsi yang terkait dengan penelitian. Untuk menemukan sumber tersebut, maka dilakukan pencarian keberadaan sumber. Sumber tertulis(dokumen terkait) dilakukan di Desa Parbubu I Kecamatan Tarutung , Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tapanuli Utara, Badan Pusat Statisitik Kabupaten Tapanuli Utara. di perpustakaan USU, serta Perpustakaan Daerah Kabupaten Tapanuli Utara

Kritik sumber, merupakan sebuah usaha yang dilakukan peneliti untuk menyeleksi sumber atau bahan-bahan yang telah dikumpulkan. Setelah sumber- sumber dikumpulkan kemudian diverifikasi melalui kritik, baik kritik ekstern maupun kritik intern. Kritik ekstern digunakan untuk mengetahui tentang kebenaran sumber yang diperoleh, sedangkan kritik intern digunakan untuk menilai kelayakan sumber digunakan dalam penulisan. Penulis melakukan kritik sumber dengan cara membandingkan hasil wawancara dan dokumen terkait objek wisata air soda.

(24)

Interpretasi, pada tahapan ini peneliti menafsirkan sumber-sumber maupun laporan yang telah terkumpul dan telah diverifikasi agar menjadi sebuah fakta yang teruji kebenarannya. Dalam menganalisa sumber yang diperoleh diperlukan analisa yang lebih bersifat objektif dan ilmiah terhadap objek yang telah diteliti. Di sini peneliti telah memiliki konsep, ide dan gambaran kerangka acuan untuk menulis, yang selanjutnya dituliskan dalam tulisan sejarah yakni pada tahap keempat.

Historiografi, setelah semua sumber-sumber yang diperoleh selesai diuji kebenaran dan kelayakannya, tahap selanjutnya yang dilakukan oleh peneliti adalah merampungkan dari hasil laporan yang telah diperoleh menjadi sebuah tulisan untuk dituangkan secara sistematis dan kronologis. Dalam melakukan penulisan sejarah aspek kronologis memang perlu diperhatikan agar menghasilkan sebuah tulisan yang bernilai sejarah yang ilmiah dan objektif. Dengan demikian diharapkan penulisan mengenai Pemandian Alam Air Soda di Desa Parbubu I yang mencakup beberapa aspek kehidupan masyarakat yang tinggal di dalamnya dapat dipaparkan secara jelas, rinci, logis, objektif, dan mudah dipahami.

(25)

BAB II

DESKRIPSI PEMANDIAN ALAM AIR SODA DI DESA PARBUBU I KECAMATAN TARUTUNG

Dalam bab ini, penulis membahas tentang kondisi Desa Parbubu I sebagai daerah penelitian. Yang dibahas dalam sub bab ini adalah bagaimana letak geografis, kondisi alam, penduduk, sistem mata pencaharian, potensi pemandian alam air soda serta latar belakang berdirinya pemandian alam air soda Tarutung.

2.1 Letak Geografis

2.1.1 Letak dan Batas Wilayah

Pemandian Alam Air Soda merupakan salah satu ikon wisata yang terdapat di Kecamatan Tarutung Kabupaten Tapanuli Utara. Menurut masyarakat Desa Parbubu I air soda ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Selain keunikan air sodanya, keasrian alamnya juga merupakan daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung karena letak air soda tersebut berada di tengah persawahan dengan pemandangan lembah Silindung.

Lokasi pemandian alam air soda ini merupakan tanah millik Minar Sihite dan merupakan tanah warisan dari mertuanya yang berada di Desa Parbubu I. Dalam pengelolaan Pemandian Alam Air Soda Minar Sihite mengelolanya bersama anak- anaknya. Adapun luas total wilayah Desa Parbubu I adalah 1.200 Ha yang dibagi dalam 5 dusun yaitu Dusun Lumban Gorat, Dusun Tor Banua Raja, Dusun Sihujur Mula-mula, Dusun Lumban Tonga-tonga, dan Dusun Dolok Naopat.

(26)

Adapun batas-batas wilayah Desa Parbubu I sebagai berikut :

1. Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Aek Siansimun

2 Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Parbubu II

3 Sebelah Timur Berbatasan dengan Desa Saitnihuta

4 Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Parbubu Dolok6

2.1.2 Keadaan Iklim

Iklim adalah keadaan rata-rata cuaca pada suatu daerah yang luas dan ditentukan berdasarkan perhitungan dalam waktu yang lama (kurang dari 30 tahun).unsur-unsur iklim terbagi atas 6 unsur yakni suhu, udara, tekanan udara, kelembapan udara, awan, angin, dan hujan. Keadaan iklim suatu daerah sangat berpengaruh terhadap pola hidup masyarakat. Salah satunya adalah pada sektor pertanian.7

Desa Parbubu I sebagaimana desa lainnya di wilayah Indonesia hanya mempunyai dua musim yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Hal tersebut mempunyai pengaruh langsung terhadap pola tanaman pada lahan pertanian yang ada di Desa Parbubu I Kecamatan Tarutung. Desa Parbubu I berada pada daerah pegunungan dengan memiliki topografi berbukit-bukit dengan kemiringan rata-rata 30 derajat, berada pada ketinggian rata-rata 2500 dpl. Jenis tanah yang pada dasarnya

6 Desa Parbubu I dalam angka 2000.hal 2.

7 http://www.artikelsiana.com/2014/11/pengertian-iklim-dan-penjelasanya.htm|?m=1 diakses pada tanggal 24 juni 2018.

(27)

adalah berbatu. Karena letaknya perbukitan Desa Parbubu I termasuk beriklim dingin dengan kelembapan rata-rata 20 serta curah hujan yang cukup tinggi mencapai 3000- 3500 mm/tahun.8

2.2 Kondisi Penduduk

Penduduk adalah modal penting dalam pembangunan nasional. Sehingga kondisi penduduk sangat berpengaruh terhadap perkembangan suatu daerah.

Penduduk Desa Parbubu I berasal dari berbagai daerah yanng berbeda-beda, dimana mayoritas penduduk yang paling dominan adalah etnis Toba sehingga tradisi-tradisi musyawarah untuk mufakat, gotong royong dan kearifan lokal lain yang sudah dilakukan oleh masyarakat sejak adanya Desa Parbubu I. Hal tersebut secara efektif dapat menghindari adanya benturan-benturan antara kelompok masyarakat.

Desa Parbubu I merupakan tanah bermarga Lumban Tobing sehingga desa tersebut didominasi oleh marga Lumban Tobing yang merupakan marga asli daerah tersebut. Adapun marga lain di desa Parbubu I itu merupakan marga pendatang yang berasal dari daerah-daerah sekitar Tarutung, Muara, Siborong-Borong, Sipoholon dan Sibolga. Masyarakat di Desa Parbubu I masih memegang erat adat istiadat etnik Toba seperti halnya dalam pemilihan kepala desa, karena pemilik tanah adalah marga Lumban Tobing maka yang menjadi kepala desa adalah marga tersebut. Selain itu Desa Parbubu I merupakan tanah Adat.9 Jumlah dan kepadatan penduduk akan

8 Op.cit ,hal. 8

9 Desa Parbubu I Dalam angka 2000, hal.3

(28)

mempengaruhi dinamika kehidupan masyarakatnya, sehingga tingkat perkembangan dan potensi suatu daerah dapat di ketahui dari komposisi penduduk berdasarkan umur dan untuk mengetahui ratio atau perbandingan antara penduduk laki-laki dan penduduk perempuan.

Tabel I

Distribusi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin

No Nama Dusun Laki-laki Perempuan Total

1 Dusun I 90 112 202

2 Dusun II 107 195 312

3 Dusun III 61 95 156

4 Dusun IV 80 132 212

5 Dusun V 80 140 220

Jumlah 418 674 1102

Sumber: Kantor Kepala Desa Parbubu I tahun 2000.

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat pada tahun 2000 jumlah penduduk Desa Parbubu I sebanyak 1.102 jiwa, yang terdiri dari jumlah laki-laki 418 jiwa, dan jumlah perempuan 674 jiwa dengan jumlah kepala keluarga sebesar 244 KK yang terdiri dalam 5 (lima) dusun, adapun jumlah penduduk Dusun I sebanyak 202 jiwa yang terdiri dari 90 jiwa laki-laki dan 112 jiwa perempuan, Dusun II sebanyak 312 jiwa penduduk yang terdiri dari 107 jiwa laki-laki dan 195 jiwa perempuan, Dusun III

(29)

sebanyak 156 jiwa terdiri dari 61 jiwa laki-laki dan 95 jiwa perempuan, Dusun IV sebanyak 212 jiwa yang terdiri dari 80 jiwa laki-laki dan 132 jiwa perempuan dan terakhir Dusun V sebanyak 220 jiwa yang terdiri dari 80 jiwa laki-laki dan 140 jiwa perempuan. Jika dilihat dari tabel di atas dapat disimpulkan jumlah penduduk perempuan lebih besar.10

2.2.1 Komposisi Penduduk Berdasarkan Agama

Kebebasan beragama di Indonesia sudah diatur dalam UUD 1945 setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya. untuk mengetahui komposisi penduduk menurut agama di Desa Parbubu I adalah sebagai berikut.

10 Ibid, hal. 6

(30)

Tabel II

Distribusi penduduk berdasarkan agama No Nama

Dusun

Agama

Islam Protestan Katolik Hindu Budha

1 Dusun I - 202 - - -

2 Dusun II - 195 - - -

3 Dusun III - 156 - - -

4 Dusun IV - 212 - - -

5 Dusun V - 220 - - -

Jumlah 1.202

Sumber : Kantor Kepala Desa Parbubu I tahun 2000

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa penduduk Desa Parbbubu I, 100%

menganut agama Protestan. Kalau dilihat dari sejarahnya Penduduk Kabupaten Tapanuli Utara mayoritas beragama protestan. Selain itu, Desa Parbubu I merupakan desa yang bersifat homogen dimana masyarakatnya tinggal di pedesaan dan mata pencaharian pendudukya mayoritas bertani dan secara dominan terdiri dari orang- orang yang memiliki etnisitas, bahasa, dan tradisi kultural yang sama.

(31)

2.3 Mata Pencaharian

Mata pencaharian didefinisikan sebagai aktivitas manusia untuk memperoleh taraf hidup yang layak dimana antara daerah yang satu dengan daerah lainnya berbeda sesuai dengan taraf kemampuan penduduk dan keadaan demografinya11. Mata pencaharian dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu mata pencaharian pokok dan mata pencaharian sampingan. Mata pencaharian pokok adalah keseluruhan kegiatan untuk memanfaatkan sumber daya yang ada yang dilakukan sehari-hari dan merupakan mata pencaharian utama untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan sebuah daerah ataupun wilayah tergantung pada tingkat pendapatan sebuah daerah tersebut serta jumlah mata pencaharian yang terdapat di dalamnya. Seperti halnya yang terjadi di Desa Parbubu I mayoritas penduduknya adalah bermata pencaharian sebagai petani, selain itu ada juga yang berprofesi sebagai pedagang yang memiliki kios-kios kecil di depan rumah maupun yang berdagang di pasar tradisional, selain itu ada juga yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang mengabdi di beberapa instansi-instasi milik pemerintah, dan ada juga yang bekerja sebagai buruh baik itu buruh tani maupun buruh bangunan.12

Para petani di Desa Parbubu I mempunyai lahan yang cukup luas untuk dijadikan lahan bercocok tanam. Pemanfaatan lahan yang digunakan penduduk untuk

11 https://media.neliti.com publication diakses pada tanggal 07 juli 2018 .

12 Hasil wawancara dengan Parlindungan Siburian, tanggal 06 April 2018.

(32)

areal persawahan adalah sekitar 480 Ha. Lahan ini diperuntukkan untuk menanam padi, selain itu juga menanam kacang tanah dan sayur mayur serta tumbuhan palawija lainya. Penduduk Desa Parbubu I juga memiliki perkebunan/Hutan Rakyat sekitar 360 Ha.

Mata pencaharian lainya adalah beternak dan bertenun Ulos, biasanya ini dilakukan oleh para ibu-ibu di Desa Parbubu I selain sebagai mata pencaharian utama ada juga yang melakukanya sebagai mata pencaharian sampingan untuk meningkatkan perekonomian keluarga. Tidak jarang pula hasil tenunan ulos tersebut dipasarkan kepada para pengunjung atau pun turis. Berikut data mata pencaharian masyarakat Desa Parbubu I disajikan dalam bentuk tabel .

Tabel II

Distribusi penduduk berdasarkan Mata Pencaharian

No Profesi Jumlah

1 Petani 614 orang

2 Buruh 268 orang

3 Pedagang 170 orang

4 PNS 60 orang

5 Peternak 4 orang

6 Swasta 2 orang

Sumber : Kantor Kepala Desa Parbubu I tahun 2000.

(33)

Dari tabel diatas dapat dilihat penduduk yang berprofesi sebagai petani sebanyak 614 orang, sebagai buruh sebanyak 268 orang, pedangan 170 orang, PNS sebanyak 60 orang, peternak sebanyak 4 Sorang dan swasta sebanyak 2 orang, sehingga disimpulkan bahwa mayoritas penduduk Desa Parbubu I bermata pencaharian sebagai petani disusul dengan jumlah penduduk yang bermata pencaharian sebagai buruh, pedagang, PNS, peternak, dan swasta.

2.4 Latar Belakang Berdirinya Pemandian Alam Air Soda

Setelah Minar Sihite tinggal di desa Parbubu I pada tahun 1973, suatu hari beliau berjalan sendiri menembus hutan yang terkenal cukup angker di Desa Parbubu I, tanpa sengaja dia menemukan sebuah sumber mata air lalu mencicipinya dengan rasa dan aroma yang mirip seperti soda dimana warna mata airnya kemerahan.

Kemudian beliau berdoa untuk merawat ciptaan Tuhan yang ditemukanya menjadi mata pencaharianya, setelah berdoa Minar sihite membuat tujuh kepal kue yang terbuat dari beras atau biasa disebut pohul-pohul oleh masyarakat Toba di atas daun pisang sebagai tanda penghormatan kepada leluhur. Minar Sihite kemudian bersama keluarganya melakukan pengerukan pertama, hal ini dikarenakan sumber mata air soda masih tertutupi semak belukar dan bebatuan. Pada pengerukan tersebut berhasil mengangkat batu-batuan yang menutupi sumber mata air soda sebanyak dua truk dan melakukan pembersihan di sekitar lokasi mata air. Mereka kemudian membuat

(34)

semacam kolam kecil untuk menampung mata air soda tersebut, namun belum dibuka untuk umum.13.

Selanjutnya Minar Sihite sebagai pengelola air soda mulai membuka kolam pemandian tersebut untuk umum pada tahun 1976. Sebelum dibuka untuk umum pada awalnya masyarakat setempat memanfaatkanya sebagai tempat mandi setelah pulang dari sawah maupun dari ladang-ladang sekedar untuk melepas lelah dan juga dimanfaatkan oleh ibu-ibu penenun Ulos sebagai campuran untuk mendapatkan benang tenun warna hitam.14

2.5 Kepemilikan Lahan Pemandian Alam Air Soda

Status kepemilikan tanah merupakan bagian penting dalam pengembangan sebuah usaha, apakah bersifat sewa ataupun kepemilikan penuh. Seringkali terjadi konflik apabila menyangkut persoalan kepemilikan tanah. Demikian pula halnya dengan Pemandian Alam Air Soda yang mana status kepemilikan tanah yang menjadi lokasi air soda merupakan tanah warisan secara turun temurun dari keluarga Op Ridoi Lumban Tobing (keluarga Minar Sihite) yang dikelola secara kekeluargaan dan bergantian oleh anak-anak dari keturunan Op.Ridoi Lumban Tobing. 15

13 Hasil wawancara dengan Minar Sihite, tanggal 07 April 2018.

14 Hasil wawancara dengan Parlindungan Siburian, tanggal 07 April 2018.

15 Hasil wawancara dengan Minar Sihite,07 April 2018.

(35)

2.6 Waktu Tempuh Ke Ibukota Kabupaten

Dilihat dari akses atau rute perjalananya, Air Soda ini terbilang terjangkau dan mudah untuk diakses jalan dan infrastrukturnya pun baik. Adapun lokasi kolam pemandian alam air soda tidak jauh dari pusat kota Tarutung yaitu kurang lebih 3 km.

Dengan waktu tempuh sekitar 10 menit. Pemandian ini bisa ditempuh dengan menggunakan angkutan umum maupun becak, adapun tarif ongkos yang ditetapkan dari ibukota kabupaten menuju objek wisata Air Soda adalah sekitar Rp 5.000 untuk moda angkutan umum dan Rp 10.000 - Rp15.000 untuk moda becak motor.16

Suatu objek wisata mudah dijangkau tergantung dengan prasarana jalan yang tersedia. Jalan raya merupakan prasarana penghubung antara suatu daerah ke daerah lainya. Jalan raya menjadi salah satu fasilitas utama dalam mengembangkan suatu objek wisata. Dengan semakin baiknya akses untuk menuju objek wisata, wisatawan dapat melakukan perjalanan wisata dengan waktu yang lebih singkat dan lebih nyaman sehingga jangkaunyapun lebih luas serta akan semakin meningkatkan daya tawar suatu objek/daya tarik wisata. Selainitu wisatawan juga dapat melaksanakan kegiatan wisata dengan biaya yang lebih murah karena keadaan infrastruktur jalan memadai serta lancarnya transportasi.17

16 Hasil wawancara dengan Ridoi Lumbantobing, tanggal 07 April 2018

17 WardyantoBaiquni, Perencanaan Pengembangan Pariwisata, Bandung: Lubuk Agung, 2011.hlm 27.

(36)

Prasarana jalan menuju pemandian air soda Tarutung bisa dibilang cukup baik karena keseluruhan jalan sudah sepenuhnya beraspal sehingga wisatawan mudah untuk mengendarai kendaraanya menuju lokasi. Sebelum pemandian air soda dibuka untuk umum, akses jalan menuju Desa Parbubu I sudah ada dan sudah di aspal.

Ketersediaan transportasi juga menjadi pendukung jika berkunjung ke air soda karena trasnportasi menuju air soda cukup mudah diakses. Adapun jarak dari ibukota kabupaten menuju objek wisata air soda adalah sekitar 3 km dan jarak dari ibukota provinsi sekitar 280 km. Perjalanan menuju Desa Parbubu I dari Kota Medan dapat ditempuh melalui perjalanan darat baik menggunakan kendaraan pribadi maupun moda transportasi umum, selain itu juga dapat ditempuh melalui perjalanan udara melalui Bandara Kuala Namu menuju Bandara Silangit sekitar 1 jam perjalanan menuju ke Tarutung

2.7 Potensi Pemandian Alam Air Soda

Potensi adalah suatu kemampuan, kesanggupan, kekuatan ataupun daya yang mempunyai kemungkinan untuk bisa dikembangkan lagi menjadi bentuk yang lebih besar18. Sedangkan potensi wisata adalah segala sesuatu yang dimiliki oleh daerah tujuan wisata, dan merupakan daya tarik agar orang-orang mau datang berkunjung ketempat tersebut. Selain itu pengertian potensi wisata menurut Sukardi, adalah segala sesuatu yang dimiliki oleh suatu daerah yang menjadi daya tarik wisatawan dan bergunan untuk mengembangkan industri pariwisata di daerah tersebut. Dari

18 http://www.pengertianmenurutparaahli.net/pengertian-potensi/diakses tanggal 27 Juli 2018

(37)

pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa potensi wisata adalah sesuatu yang dimiliki oleh tempat wisata yang merupakan daya tarik bagi para wisatawan untuk berwisata dan digunakan untuk mengembangkan industri pariwisata di daerah tersebut.

Daya tarik wisata yang juga disebut objek wisata merupakan potensi yang menjadi pendorong kehadiran wisatawan ke suatu daerah tujuan wisata. Dalam kedudukanya yang sangat menentukan itu maka daya tarik wisata harus dirancang dan dibanngun/dikelola secara profesional sehingga dapat menarik wisatawan untuk datang. Umumnya potensi objek wisata berdasar pada:

1. Adanya sumber daya yang dapat menimbulkan rasa senang, indah,dan nyaman.

2. Adanya aksesbilitas yang tinggi untuk dapat mengunjunginya.

3. Adanya ciri khusus/spesifikasi yang bersifat langka.

4. Adanya sarana/prasaran penunjang untuk melayani para wisatawan yang hadir.

5. Objek wisata alam mempunyai daya tarik tinggi karena keindahan alam pegunungan, sungai, pantai, pasir, hutan dan sebagainya.

(38)

6. Objek wisata budaya mempunyai daya tarik tinggi karena memiliki nilai khusus dalam bentuk atraksi kesenian, upacara-upacara adat, nilai-nilai luhur yang terkandung dalam suatu objek buah karya manusia pada masa lampau.19

Objek dan daya tarik wisata merupakan dasar bagi kepariwisataan. Tanpa adanya suatu daya tarik di suatu areal /atau daerah tertentu, kepariwisataan akan sulit untuk dikembangkan. Pariwisata biasanya akan dapat lebih berkembang atau dikembangkan, jika disuatu daerah terdapat lebih dari satu jenis objek dan daya tarik wisata. Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa dalam pengembangan suatu daya tarik wisata yang potensial harus dilakukan penelitian, inventarisasi, dan dievaluasi sebelum fasilitas wisata dikembangkan disuatu area tertentu. Hal ini penting agar pembangunan daya tarik wisata yang ada dapat sesuai dengan keinginan pasar potensial dan untuk menentukan pengembangan yang tepat dan sesuai.

Suatu daerah atau tempat hanya dapat menjadi tujuan wisata kalau kondisinya sedemikian rupa, sehingga ada yang dapat dikembangkan menjadi atraksi wisata. Apa yang dapat dikembangkan menjadi atraksi wisata itulah yang disebut modal atau sumber kepariwisataan (tourism resource). Modal kepariwsataan itu mengandung potensi untuk dikembangkan menjadi atraksi wisata, sedang aktraksi wisata itu sudah tentu harus komplementer dengan motif perjalanan wisata. Maka untuk menemukan potensi kepariwisataan disuatu daerah orang harus berpedoman kepada apa yang dicari wisatawan.

19 Gamal Swantoro, Dasar-dasar Pariwisata, Yogyakarta: Andi, 1997, hlm 19.

(39)

Modal atraksi yang menarik kedatangan wisatawan ada tiga, yaitu: wisata alam, wisata budaya, dan wisata buatan manusia. Modal kepariwisataan itu dapat dikembangkan menjadi atraksi wisata ditempat dimana modal wisata itu ditemukan yaitu diluar tempatnya yang asli, misalnya dijadikan kebun raya dilain tempat, atau kebun binatang, museum, dan sebagainya.20

Setiap daerah memiliki daya tarik wisatanya masing-masing, secara garis besar daya tarik wisata diklasifikasikan menjadi tiga klasifikasi yaitu sebagai berikut:

1. Potensi Wisata Alam

Potensi wisata alam bersumber dari kondisi alam yang ada termasuk juga kedekatan dengan alam sekitar atau lingkungan seperti wisata pantai, wisata bahari, wisata alam pegunungan, wisata daerah liar dan terpencil, wisata taman dan daerah konservasi. Sesuatu yang bersifat alami atas dasar fitur lingkungan alam, misalnya keadaan ekologi lingkungan, suasana alam pedesaan, suasana pegunungan, flora dan fauna langka.21

2. Potensi Wisata Kebudayaan

Potensi wisata budaya memiliki obyek yang bersumber dari kondisi sosial budaya masyarakat. Adapun yang dimaksud dengan wisata kebudayan adalah berupa hasil cipta, rasa, dan karsa manusia baik berupa adat istiadat masyarakat , kerajinan

20 R.G. Soekadijo, Anatomi Pariwisata, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1996, hlm 50.

21 WardyantoBaiquni, Op.Cit.20.

(40)

tangan, kesenian, peninggalan sejarah berupa bangunan museum, candi, monumen, dan bangunan bersejarah lainnya serta acara tradisional masyarakat.

3. Potensi Wisata Buatan Manusia

Potensi wisata buatan manusia ini merupakan daya tarik yang mengembangkan sesuatu yang bersumber dari buatan manusia, atau termasuk sebagai daya tarik khusus seperti: Taman Hiburan Rakyat, Festival-festival musik, Pelaksanaan ritual agama, kehidupan keseharian masyarakat. Hal yang demikian dinamakan kegiatan wisata.

Pemandian Alam Air Soda Tarutung yang tepatnya berada dibawah lereng Gunung Martimbang dapat dikategorikan kedalam potensi wisata alam yang spesifikasinya bersifat langka karena air soda tersebut merupakan hasil proses alam yang keluar dari perut bumi dan hanya dapat dijumpai di Kabupaten Tapanuli Utara.

Berbicara soal potensi objek wisata, air soda sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai objek wisata bertaraf internasional karena keunikan dan kelangkaan pemandian air soda ini banyak wisatawan penasaran akan air soda ini. Selain objek wisatanya yang langka keadaan alam desa Parbubu I juga cukup asri dan sejuk dimana di desa tersebut terdapat hamparan sawah yang sangat luas dan dikelilingi Pegunungan Bukit Barisan, serta ketika mandi dikolam air soda pengunjung dapat serta memandang Lembah Silindung yang merupakan pemandangan alam yang cukup indah. Tidak hanya itu kebutuhan fasilitas yang kurang lengkap di sekitar air soda seperti penginapan, pasar untuk belanja, dan rumah makan yang cukup lengkap dapat

(41)

diperoleh dari ibukota kabupaten karena jaraknya yang cukup dekat dengan waktu tempuh sekitar 10 menit dari Desa Parbubu I ke Kecamatan Tarutung.22

2.7.1 Manfaat Air Soda.

Setiap objek wisata pastilah memiliki manfaat tersendiri bagi para pengunjungnya. Tentu saja para pengunjung yang datang ke objek wisata tersebut mengharapkan ada manfaat maupun kesan yang diperoleh setelah berkunjung ke objek wisata tersebut. Sama seperti objek wisata air soda yang memiliki banyak manfaat baik dari segi kesehatan maupun dari segi rekreasi.

Sensasi saat mandi di air soda tentu berbeda dengan pemandian pada umumnya.

Saat menyeburkan diri kedalam airnya, tubuh akan terasa ringan seperti berbusa.

Airnya juga tidak lengket saat tersentuh dengan kulit, terasa sedikit asin dan badan seolah berasa halus dan ringan, cipratan airnya akan membuat mata sedikit perih dan aroma mirip minuman berkarbonasi ini terasa menusuk hidung, sehingga air soda merupakan pemandian alam yang cukup unik.

Tidak hanya unik air soda juga memiliki berbagai manfaat untuk kesehatan antara lainya adalah menyegarkan tubuh, menghaluskan kulit, menyembuhkan gatal- gatal dibadan. Menurut hasil uji dokter di Bandung dan Yogyakarta, air soda ini berkhasiat juga untuk membantu penyembuhan pengapuran tulang, rematik, hingga

22 Hasil wawancara dengan Tulus Hutapea, tanggal 06 April 2018.

(42)

asam urat.23 Sehingga masyarakat lokal pun sangat rajin mandi di air soda dikarenakan manfaat kesehatan yang langsung dirasakan oleh penduduk setempat.

Selain manafaat untuk kesehatan air soda dahulu dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk mewarnai ulos tenun khusus benang berwarna hitam dengan cara pintalan benang tersebut setelah di campur dengan beberapa bahan yang terbuat dari tumbuhan kemudian direndam dengan campuran air soda beberapa malam, lalu dibilas kembali kemudian dijemur hingga diperoleh benang berwana hitam.24

2.7.2. Kondisi Pemandian Alam Air Soda

Kondisi suatu objek wisata sangat berpengaruh terhadap minat wiasatawan untuk mengunjunginya selain keunikan suatu objek wisata yang menjadi daya tarik wisatawan maka yang berikutnya adalah bagaimana kondisi objek wisata yang akan dikunjungi begitu juga dengan Objek Wisata Air Soda. Kondisi Air Soda masih jauh dari kata memuaskan dibandingkan dengan objek wisata lainya. Tetapi melihat dari potensi Air Soda ini yang tergolong langka dan sangat jarang dijumpai, air soda tersebut sangat layak untuk dikembangkan. Keadaan air soda ini memang bisa dikatakan kurang terawat, dan fasilitasnya masih sederhana, hanya saja perlu dilakukan pembenahan terhadap objek wisata Air Soda secara terencana dan terstruktur. Adapun pembenahan-pembenahan yang perlu dilakukakan untuk mengembangkan air soda adalah salah satunya dengan meningkatkan kebersihan, keamanan, pelayanan dan pengelolaan Air Soda itu sendiri serta keramahtamahan

23 Hasil wawancara dengan Minar Sihite, tanggal 06 April 2018.

24 Hasil wawancara dengan Parlindungan Siburian, tanggal 06 April 2018.

(43)

masyarakat lokal dalam menyambut wisatawan yang berkunjung ke Desa Parbubu I.

Hal lainya yang perlu dibenahi adalah meningkatan fasilitas-fasilitas dan sarana pendukung air soda agar menjadi objek wisata memiliki nilai dan kualitas dimata wisatawan.25

2.8 Animo Pengunjung

Tingkat keberhasilan sebuah objek wisata dapat dilihat dari seberapa besar animo pengunjung untuk berkunjung ke lokasi wisata tersebut, dapat dikatakan berhasil apabila para wisatawan yang berkunjung ke lokasi wisata tersebut merasa puas dan senang dengan fasilitas-fasilitas yang ada di lokasi wisata yang dikunjungi.

Wisatawan berpendapat bahwa objek wisata air soda cukup asri dan nyaman, karena lokasinya tepat berada dipertengahan sawah serta dikelilingi bukit barisan, lebih tepatnya berada di lembah atau rura silindung.

Meskipun fasilitas-fasilitas yang ditawarkan di lokasi pemandian air soda masih sangat sederhana dan jauh dari kata kelas berbintang akan tetapi minat pengunjung cukup tinggi untuk berkunjung ke air soda sekedar untuk merasakan sensasi mandi di air yang hanya ada satu-satunya di Kabupaten Tapanuli Utara tersebut. Mereka rela datang dari luar daerah Tapanuli Utara bahkan dari luar Provinsi Sumatera Utara hanya untuk merasakan sensasi mandi di air soda dan menikmati pemandangan persawahan yang menyejukkan mata. Hanya saja ada beberapa kesan negatif wisatawan terhadap fasilitas yang tersedia di objek wisata dimana kebersihan areal

25 Hasil wawancara dengan Ridoi Lumbantobing, tanggal 6 April 2018.

(44)

kolam air soda dan kamar mandi sangat kurang diperhatikan atau kurang terawat dan fasilitasnya masih sangat sederhana, wisatawan berharap sangat perlu dilakukan pembenahan fasilitas-fasilitas yang kurang agar objek wisata tersebut lebih berkembang lagi.

(45)

BAB III

PERKEMBANGAN PEMANDIAN ALAM AIR SODA DI DESA PARBUBU I KECAMATAN TARUTUNG 1973-2000

Dalam bab ini, penulis akan membahas bagaimana perkembangan objek wisata pemandian alam air soda mulai dari awal dibuka untuk umum, lokasi usaha objek wisata air soda, sarana/ prasarana pendukungnya serta ketersediaan angkutan umum dan berapa banyak jumlah pengunjung yang berkunjung ke air soda serta dari daerah- daerah mana saja.

3.1 Kolam Renang

Sebagai objek wisata pemandian alam, air soda tentu saja memiliki kolam renang. Kolam renang yang terdapat di air soda pada awalnya hanya berbentuk kolam sederhana yang terbuat dari susunan batu dan belum dapat digunakan untuk berenang seperti saat ini. Kolam pertama dibangun pada tahun 1973 setelah dilakukan pengerukan sumber mata air yang ditutupi oleh batu-batuan dan semak belukar adapun luas kolamnya sekitar 30m2.

Kolam pertama pada awalnya hanya difungsikan untuk menampung mata air soda dan belum dibuka untuk umum. Hingga pada tahun 1976 kolam pemandian air soda dibuka untuk umum sebagai tempat rekreasi pemandian. Namun pada tahun 1990 kolam air soda diperbaiki setelah terjadinya bencana longsor yang menimpa kota Tarutung dan menghancurkan sebagian besar kolam renang air soda yang

(46)

kemudian diperbaiki dengan menggunakan tembok dan semen. Hingga pada tahun 2000 semakin ramainya pengunjung diadakan perluasan kolam berukuran 40m2 Kolam yang terdapat di air soda hanya terdiri dari satu kolam,dengan kedalaman 1,6 m.26 Keterbatasan sumber mata air yang keluar dari dari perut bumi membuat kolam yang tersedia dalam objek wisata air soda hanya satu sehingga pengelola air soda tidak dapat menambah atau membuat kolam lain khusus untuk anak-anak maupun membuat sekat khusus untuk perempuan dan laki-laki. Sehingga jika mandi di air soda anak-anak maupun dewasa akan bercampur mandi. Namun meskipun demikian berdasarkan pengamatan di lapangan tidak mengahalangi keinginan pengunjung untuk segera merasakan sensasi mandi di air soda, bahkan bagi sebagian pengunjung rela antre agar bisa mandi dikolam air soda tersebut.

3.2 Rumah Makan

Ketersediaan rumah makan sebagai salah satu fasilitas pendukung dalam objek wisata memang cukup penting, hal ini dikarenakan tidak semua wisatawan yang datang berkunjung membawa perbekalannya masing-masing selama melakukan wisata. Sementara apabila berkunjung ke pemandian air soda hanya akan dijumpai rumah makan sederhana milik pengelola air soda yang hanya menyediakan menu- menu sederhana sebagai pengganjal perut sesudah berenang. Menu-menu yang dijual di rumah makan Minar Sihite seperti minuman-minuman ringan dan makanan dengan masakan sederhana tidak seperti yang dijumpai di restoran. Harga yang dipatok oleh

26 Hasil wawancara dengan Minar Sihite,tanggal 08 April 2018.

(47)

pengelola juga sangat terjangkau. Rumah makan yang ada di air soda pada awalnya sangatlah sederhana, hanya untuk tempat singgah dan istrahat para pengunjung lokal setelah mandi di kolam. Dalam perkembanganya, air soda semakin ramai dikunjungi baik dari dalam maupun luar daerah, maka dilakukan perluasan rumah makan menjadi 2 lantai yaitu pada tahun 1985. Akan tetapi bencana gempa bumi dan tanah longsor yang menimpa Kota Tarutung pada 1990-an menghancurkan sebagian besar objek wisata air soda termasuk rumah makan tersebut.

Adapun rumah makan yang terdapat di pemandian air soda Tarutung dibangun dan dibuka bersamaan dengan pembukaan kolam pemandian air soda Tarutung.

Rumah makan yang tepat berada di pintu masuk menuju kolam pemandian air soda tersebut mengalami perbaikan setelah sebelumnya terkena bencana longsor yang sempat melanda Kota Tarutung pada tahun 1990. Rumah makan ini juga dikelola secara bersama oleh keluarga Minar Sihite secara bergantian.27

3.3 Kamar mandi

Kamar mandi yang terdapat di pemandian air soda dapat dikatakan kurang bersih yang berukuran 1,5 x 1,5 meter. Ada empat ruangan kamar mandi yang tersedia di air soda. Kamar mandi ini digunakan oleh para pengunjung untuk mengganti pakaian ataupun membilas badan setelah selesai berenang. Kamar mandi beton ini dibangun mulai tahun 1990. Dan fasilitas kamar mandi yang tersedia dalam objek wisata air soda masih tergolong sederhana. Pada awal pembangunan air soda

27Hasil wawancara dengan Parlindungan Siburian, tanggal 06 April 2018.

(48)

belum ada kamar mandi yang tersedia hingga pada tahun 1985 dibangun satu ruangan kamar mandi sederhana yang terbuat dari papan. Kondisi pengunjung yang semakin ramai mendorong pengelola air soda untuk membangun 4 kamar mandi lagi sekitar tahun 1990 an akhir agar para pengunjung dapat merasa nyaman tanpa perlu berdesak-desakan untuk menggunakan kamar mandi.

3.4 Areal Parkir

Pemandian alam air soda juga menyediakan lahan parkir yang cukup luas untuk para pengunjung yang datang dengan menggunakan kendaraan pribadi baik sepeda motor ataupun mobil. Untuk tarif parkir per sepeda motor Rp 2.000 dan untuk mobil Rp 3.000. Apabila musim libur tiba areal parkir biasanya akan membludak hingga ke pintu gerbang masuk Desa Parbubu I dan memenuhi halaman rumah warga-warga sekitar. Areal parkir kendaraan baik roda dua maupun roda empat yang datang berkunjung pada awalnya hanya terbatas disekitar areal objek wisata saja. Kapasitas tampung areal parkir tersebut hanya mampu menampung sekitar 10 kendaraan roda 4 dan sekitar 30 kendaraan roda dua saja. Hingga pada tahun 2000 kondisi pengunjung yang semakin ramai dan perkembangan moda transportasi yang semakin pesat mengakibatkan areal parkir semakin luas hingga ke lokasi pemukiman para warga yang tinggal di sekitar objek wisata. Kondisi paling ramai yaitu pada saat akhir pekan, hari libur sekolah dan hari libur kantor. Kendaraan para pengunjung akan

(49)

ramai berbaris rapi di sekitar halaman rumah para warga. Kondisi tersebut menambah penghasilan para warga meskipun sifatnya hanya musiman saja.28

3.5 Ketersediaan Transportasi

Fasilitas transportasi meliputi infrastruktur jalan yang dilalui oleh wisatawan dari tempat tinggalnya untuk menuju objek wisata yang akan dituju. Fasilitas transportasi juga mencakup alat/sarana trasnportasi yang dipakai oleh wisatawan pada saat mengunjungi objek wisata disuatu daerah Tujuan wisata. Fasilitas yang dimaksud adalah terminal, arae parkir, bandara, pesawat, mobil, kendaraan bermotor dan lainnya.29 Umumnya para wisatawan yang berkunjung di objek wisata air soda menggunakan kendaraan pribadi seperti mobil dan kendaraan bermotor tetapi ada juga yang menggunakan transportasi umum. Jika ingin berkunjung ke Tarutung lokasi air soda dan sekitarnya. Wisatawan dapat berkendara menempuh perjalanan sekitar 40 menit dari Bandara Silangit, atau 2,5 jam dari Sibolga, Tapanuli Tengah dan jika berangkat dari Bandara Kuala Namu atau Medan dapat menggunakan trasnportsi umum seperti Koperasi Bintang Timur (KBT) dan Tao Toba Indah (TTI) dalam waktu tempuh sekitar 6-7 jam perjalanan darat dengan kendaraan roda empat.

28 Hasil wawancara Tulus Pandapotan Hutapea tanggal 08 April 2018.

29 Wardyanto Baiquni, Perencanaan Pengembangan Pariwisata, Bandung: Lubuk Agung, 2011 hlm 21.

(50)

3.6 Pengembangan dan Promosi Pemamndian Alam Air Soda

Dalam dunia kepariwisataan promosi banyak digunakan sebagai alat untuk memperkenalkan produk-produk pariwisata baik berupa objek wisata, produk unggulan, dan segala potensi wisata yang berada pada suatu kawasan. Keberhasilan suatu objek wisata dikunjungi oleh banyak wisatawan tergantung bagaimana promosi yang dilakukan terhadap objek wisata tersebut. Promosi tempat wisata daerah merupakan kegiatan dari para pelaku ekonomi dilokalitas perekonomian tertentu yang memiliki lokasi tempat wisata yang menarik. Potensi tersebut dapat berupa keindahan alam yang menonjol, kekayaan budaya yang unik, situs tempat bersejarah, event pesta budaya, dan keagamaan, serta potensi pusat-pusat kegiatan ekonomi, perdagangan dan investasi yang unik yang tidak dimiliki oleh lokalitas alternatif lainnya.

Promosi wisata dapat dilakukan oleh siapa saja tidak hanya pemerintah yang berperan penting, wisatawan serta masyarakat lokal juga dapat mempromosikan objek wisata yang ada. Promosi wisata dapat menggunakan media periklanan di media massa baik cetak maupun elektronik serta iklan diluar ruang berupa poster, spanduk, brosur dan sebagainya. Selain itu wisatawan sangat berperan penting dalam mempromosikan sebuah objek wisata dimana ketika seorang wisatawan mengunjungi objek wisata merasa nyaman dan bermanfaat, wisatawan tersebut dapat mempromosikanya kembali. Adapun alasan seseorang untuk melakukan perjalanan atau kegiatan berwisata adalah ingin bersantai/rileks dan rasa penasaran akan daerah-

(51)

daerah wisata lainnya yang informasinya dapat diperoleh dari media massa maupun elektronik yang mengiklankan objek wisata tujuan tersebut.

Dengan demikian suatu objek wisata dapat berkembang dengan jumlah pengunjung yang semakin ramai. Akan tetapi promosi Objek Wisata Air Soda Tarutung masih minim atau belum sepenuhnya terlaksana karena kurangnya partisipasi pemerintah setempat untuk mempromosikan daerah wisata tersebut sehingga banyak pelancong tidak mengetahui keberadaan tempat pemandian ini.

Promosi objek wisata air soda pada awalnya dilakukan dalam bentuk lisan yaitu dari mulut ke mulut antar pengunjung yang sudah pernah berkunjung ke lokasi pemandian tersebut akan memberitahukan kepada keluarga, rekan, maupun orang lain yang mana mereka merasa puas setelah berkunjung ke air soda. Tetapi seiring dengan perkembangan jaman kemudahan media massa baik elektronik, maupun media massa telah mempermudah promosi objek wisata air soda yang juga dilakukan oleh pengelola air soda.

Adapun tujuan pengembangan pariwisata adalah memberikan keuntungan baik bagi wisatawan maupun warga setempat,30 pariwisata dapat memberikan kehidupan yang standar kepada warga setempat melalui keuntungan ekonomi yang didapat dari tempat tujuan wisata baik secara langsung maupun tidak langsung. Sehingga pengembangan pariwisata disuatu daerah diperhitungkan karena memberikan keuntungan bagi wisatawan maupun warga sekitar

30 Happy Marpaung, Pengantar Pariwisata, Jakarta: Alfabeta, 2002, hlm. 19.

(52)

3.7 Pengunjung

Pengunjung menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah orang yang mengunjungi. Mengunjungi dalam hal disini merupakan kegiatan mendatangi atau melawat suatu tempat yang dituju seperti daerah wisata atau objek wisata.

Pengunjung adalah faktor utama dalam perkembangan suatu objek wisata jika jumlah wisatawan semakin banyak berkunjung maka objek wisata tersebut akan semakin berkembang. Begitu juga dengan objek wisata air soda jumlah pengunjung yang datang pada hari biasa tergolong sedikit yaitu berkisar 50-100 orang/hari dan jika pada hari libur seperti libur lebaran dan natal maka jumlah wisatawan yang berkunjung agak lumayan ramai berkisar antara 200-300 orang/hari. Objek wisata air soda buka setiap hari yaitu mulai pukul 07.00-20.00 WIB adapun wisatawan yang berkunjung di objek wisata air soda bersifat datang dang pergi yang artinya tidak datang pada satu waktu. Jadi kesannya pengunjungnya sedikit atau tidak ramai tetapi sebenarnya lumayan ramai. Selain itu objek wisata ini sangat diminati oleh kalangan orangtua maupun dewasa karena objek wisata ini sangat menarik sehingga banyak diminati wisatawan.

Dalam perkembangannya sejak awal dibuka untuk umum, pemandian alam air soda sudah ramai dikunjungi oleh para pengunjung dan wisatawan baik dari daerah sekitar Tarutung maupun yang datang dari luar daerah. Hingga pada tahun 2000 Para pengunjung yang datang dari luar daerah Sumatera Utara tersebut ada yang berasal dari Padang Sidempuan, Pematang Siantar, Kota Medan, Pekanbaru, Pulau Jawa dan

(53)

tidak jarang pula ada turis manca negara yang datang berkunjung sekedar untuk menikmati sensasi berendam di air soda.

Pada awal dibuka tahun 1976, air soda hanya diketahui oleh penduduk di sekitar Desa Parbubu I dan sekitar Tarutung atau dapat dikatakan masih dinikmati oleh warga lokal saja, hingga pada awal tahun 1990 air soda mulai terkenal hingga keluar daerah Tapanuli Utara sebagai salah satu objek wisata yang harus dikunjungi bila berkunjung ke Tarutung. Puncaknya pada awal tahun 2000 air soda Tarutung menjadi primadona wisata lokal yang ramai menarik pengunjung dari luar daerah adapun rata-rata jumlah pengunjung pada tahun 2000 adalah sekitar 10.000 orang.

3.8 Sistem Pengelolaan Air Soda

Dalam upaya mengembangkan dan meningkatkan kualitas sebuah objek wisata diperlukan sistem pengelolaan ataupun manajemen usaha yang baik agar hasil yang diperoleh juga maksimal. Salah satu tujuan dari berdirinya sebuah objek wisata adalah untuk menarik wisatawan atau pengunjung dan diharapkan dapat meningkatkan perekonomian penduduk di wilayah sekitar objek wisata.

Sistem pengelolaan atau manajemen objek wisata air soda masih bersifat kekeluargaan, yang artinya pengelolanya berasal dari lingkungan keluarga dekat pemilik usaha. Dalam hal ini pemilik usaha air soda adalah Minar Sihite yang juga merupakan penemu air soda Tarutung. Sistem pengelolaan dan manejemen air soda dilakukan secara bergantian dan juga sistem bagi hasil dengan anggota keluarga

(54)

pengelola. Sistem bagi hasil usaha air soda dilakukan secara adil agar tidak menimbulkan kecemburuan diantara sesama anggota keluarga.31

Dalam perkembanganya Pemandian Alam Air soda mengalami mengalami beberapa faktor yaitu faktor pendukung dan faktor penghambat. Perkembangan pemandian alam air soda Tarutung bisa dibilang biasa-biasa saja mulai dari tahun 1973 sampai tahun 2000 karena tidak ada perkembangan yang mencolok atau berdampak langsung dari pemandian air soda tersebut. penulis akan membahas apa- apa saja faktor penghambat dan faktor pendukung dalam perkembangan air soda

3.9 Faktor Pendukung

Faktor pendukung adalah hal atau kondisi yang dapat mendukung atau menumbuhkan suatu kegiatan, usaha, atau produksi. Sektor pariwisata dapat berkembang dengan baik dan optimal apabila didukung faktor atau komponen yang secara langsung maupun tidak berkaitan dengan aktivitas kepariwisataan. Adapun faktor-faktor pendukung dalam perkembangan suatu objek wisata adalah misalnya, kondisi objek wisata, fasilitas-fasilitas sosial di objek wisata, kemudahan transportasi untuk mencapai objek wisata, keamanan dan ketertiban di objek wisata, dan kebijakan pemerintah yang berhubungan dengan sektor pariwisata. Objek wisata yang menarik dan memiliki ciri khas, serta didukung fasilitas-failitas sosial yang memadai.

31 Hasil wawancara dengan Ameria Situmeang, tanggal 07 April 2018.

Gambar

Tabel II
Tabel II
Gambar Kolam Pemandian Alam Air Soda
Gambar pengunjung yang sedang menikmati Pemandian Alam Air Soda  Sumber: Dokumentasi pribadi pada tanggal 14 April 2018
+6

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian bertujuan mengkaji potensi obyek wisata air panas Desa Merak Batin Kecamatan Natar Lampung Selatan. Titik kajian: sumber air panas, fasilitas wisata dan

Kemiskinan merupakan permasahan utama dan menyebabkan berbagai permasalahan kesejahteraan sosial lain di Desa Adaut. Penyebab kemiskinan tersebut adalah rendahnya tingkat

3 Potensi wisata yang dikembangkan dapat meningkatkan jumlah pengunjung.

Apa saja yang sudah dilakukan pihak pengelola air terjun Ponot dan masyarakat setempat dalam pengembangan air terjun Ponot?. Ketua pengelola air terjun Ponot, wakil ketua

Kemungkinan penyebab kontaminasi bakteri Coliform yang terjadi pada pengelola air minum yang bersumber dari mata air Bukit Sikumbang Desa Pulau Sarak Kecamatan Kampar

Berdasarkan pola pemikiran dimaksud, dimana desa berwenang mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui

Untuk itu diperlukan suatu hotel yang dapat dijadikan sebagai tempat rekreasi bagi para wisatawan berupa sebuah hotel resor dengan mengangkat objek utama air panas

masyarakat setempat baik dilihat dari kehidupan sosial maupun ekonomi. Dari