11 BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Dalam kajian pustaka, akan diuraikan teori-teori dari beberapa ahli yang diambil dari beberapa buku dan jurnal relevan. Adapun teori-teori yang akan dibahas dalam penelitian ini meliputi; tujuan pembelajaran matematika di SMA, hasil belajar dan faktor yang mempengaruhi hasil belajar, model pembelajaran Round Table, strategi pembelajaran Reciprocal Teaching, pembelajaran model Round Table dengan strategi Reciprocal Teaching, aktivitas siswa, kemampuan pemecahan masalah dan penerapan pembelajaran model Round Table dengan strategi Reciprocal Teaching. Penjelasan mengenai teori-teori tersebut sebagai berikut:
2.1 Tujuan Pembelajaran Matematika di SMA
Pembelajaran menurut Hamzah (2011:142) adalah proses kegiatan belajar mengajar yang melibatkan guru dan siswa dalam pencapaian tujuan/indikator yang telah ditentukan. Sedangkan Jamil (2013:75) mengemukakan bahwa pembelajaran merupakan upaya yang dilakukan pendidik untuk membantu siswa agar dapat menerima pengetahuan yang diberikan dan membantu memudahkan pencapaian tujuan pembelajaran. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah usaha yang dilakukan pendidik pada proses kegiatan belajar mengajar untuk membantu siswa dalam upaya mempelajari pengetahuan agar tercapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan.
Matematika menurut Ruseffendi (Heruman, 2007: 1) adalah ilmu tentang pola keteraturan dan strukur yang terorganisasi, mulai dari unsur yang tidak
didefinisikan ke aksioma atau postulat dan akhirnya ke dalil. Dari literatur yang sama, Soedjadi juga mengemukakan bahwa matematika memiliki objek tujuan abstrak, bertumpu pada kesepakatan, dan pola pikir yang deduktif.
Berdasarkan penjelasan tentang pembelajaran dan matematika di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika adalah usaha yang dilakukan pendidik pada proses kegiatan belajar mengajar untuk membantu siswa dalam upaya mempelajari pengetahuan mata pelajaran matematika yang melibatkan ilmu pengetahuan terstruktur berdasarkan pola pikir deduktif agar tercapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan.
Menurut Silabus Mata Pelajaran (SMA/MA/SMK/MAK) Matematika oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2016 (2016:1), secara umum pembelajaran matematika bertujuan agar siswa memiliki kecakapan atau kemahiran matematika. Kecakapan atau kemahiran matematika merupakan bagian dari kecakapan hidup yang harus dimiliki siswa terutama dalam pengembangan penalaran, komunikasi dan pemecahan masalah (problem solving) yang dihadapi dalam kehidupan peserta didik sehari-hari.
Pembelajaran matematika dalam penelitian ini adalah dengan menerapkan model pembelajaran Round Table dengan strategi Reciprocal Teaching untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran serta untuk membantu siswa meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika.
2.2 Hasil Belajar dan Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar 2.2.1 Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar menurut Nana (2009:102) adalah realisasi dari kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki seseorang. Sedangkan Gagne dan Briggs (Jamil, 2013:37) berpendapat bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa sebagai akibat perbuatan belajar. Wina (2010:13) juga menjelaskan bahwa hasil belajar berkaitan dengan pencapaian dalam memperoleh kemampuan sesuai dengan tujuan khusus yang direncanakan.
Benyamin Bloom sebagaimana yang dikutip oleh Permana (2015) mengemukakan membagi hasil belajar menjadi tiga ranah, yaitu ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotorik. Menurut kurikulum 2013 sebagaimana yang tercantum dalam Permendikbud No. 66 Tahun 2013, hasil belajar mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dilakukan secara berimbang sehingga dapat digunakan untuk menentukan posisi relatif setiap peserta didik terhadap standar yang telah ditetapkan.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah realisasi dari kemampuan potensial siswa yang mencakup kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan sebagai akibat dari perbuatan belajar sesuai dengan tujuan khusus yang direncanakan. Hasil belajar yang dimaksud dalam penelitian ini berdasarkan tingkat kemampuan pemecahan masalah matematika siswa dengan menggunakan model Round Table dengan strategi Reciprocal Teaching.
2.2.2 Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Nana (2009:162) menguraikan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa menjadi dua macam, yaitu faktor yang bersumber pada dirinya
(faktor internal) dan faktor diluar dirinya atau lingkungannya (faktor eksternal).
Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri siswa meliputi aspek jasmaniah dan aspek rohaniah. Aspek jasmaniah mencakup kondisi dan kesehatan jasmani dari individu. Sedangkan aspek rohaniah menyangkut kondisi kesehatan psikis, kemampuan-kemampuan intelektual, sosial, psikomotor serta kondisi afektif dan konatif dari individu.
Keberhasilan belajar seseorang juga dipengaruhi oleh keterampilan- keterampilan yang dimilikinya, seperti keterampilan membaca, berdiskusi, memecahkan masalah, dan mengerjakan tugas. Hal ini dapat dilihat bagaimana keaktifan siswa dalam proses pembelajaran serta kemampuannya dalam memecahkan masalah.
Faktor eksternal merupakan faktor-faktor diluar diri siswa, baik faktor fisik maupun sosial-psikologis yang berada pada lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Lingkungan sekolah memegang peranan penting bagi perkembangan belajar para siswanya. Lingkungan ini meliputi ligkungan fisik sekolah, lingkungan sosial sekolah dan lingkungan akademis sekolah. Maksud dari lingkungan fisik sekolah adalah seperti lingkungan kampus, sarana dan prasarana belajar yang ada, sumber-sumber belajar dan media belajar. Sedangkan lingkungan sosial sekolah menyangkut hubungan siswa dengan teman-temannya, guru-gurunya serta staf sekolah.
Selain itu lingkungan akademis juga mempengaruhi hasil belajar siswa, yaitu suasana dan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang dipengaruhi oleh guru dan cara mengajarnya dalam proses pembelajaran. Cara mengajar guru dalam proses pembelajaran adalah bagaimana model dan strategi yang digunakan
dapat memicu keaktifan siswa serta meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa. Oleh karena itu, penelitian ini akan menerapkan model Round Table dengan strategi Reciprocal Teaching yang diharapkan dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dan meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa.
2.3 Model Round Table
Round Table menurut Yamin (2007:97) adalah pembelajaran dengan susunan tempat duduk melingkar sehinga seseorang lebih mudah berdialog dan berpartisipasi aktif dalam memecahkan masalah pada sebuah kelompok diskusi.
Pada kelompok diskusi model pembelajaran Round Table, setiap orang mempunyai tanggung jawab mengemukakan gagasan serta pemecahan masalah.
Model Round Table juga bersifat informal, penuh keakraban, kekeluargaan dan demokratis. Menurut Elizabert (2012:357), Round Table menjamin terjadinya partisipasi yang setara di antara anggota kelompok serta menghadapkan siswa pada berbagai sudut pandang dan gagasan.
Berdasarkan pendapat ahli mengenai Round Table di atas, dapat disimpulkan bahwa Round Table adalah pembelajaran dengan susunan tempat duduk melingkar yang menjadikan partsisipasi setara diantara anggota kelompok dan menghadapkan siswa pada berbagai sudut pandang dan gagasan sehingga siswa lebih mudah berdialog dan berpartisipasi aktif dalam memecahkan masalah pada sebuah kelompok diskusi.
Karakteristik pembelajaran model Round Table menurut Yamin (2007:97) bahwa dalam pembelajaran model Round Table setiap siswa merasa bertanggung jawab mengemukakan gagasan, pemecahan masalah, dan
pengambilan keputusan dalam sebuah kelompok disksui. Selain itu Elizabert (2012:357) juga berpendapat bahwa Round Table menjadikan partisipasi yang setara di antara anggota kelompok. Dalam Round Table, setiap siswa dalam anggota kelompok secara bergiliran akan menuliskan gagasannya berkaitan masalah yang diberikan. Hal ini menjadikan siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran.
Elizabert (2012:358) mengemukakan langkah-langkah pembelajaran menggunakan model Round Table meliputi (1) pengelompokan siswa; (2) pembagian lembaran topik/ masalah; (3) penentuan siswa yang mendapat giliran pertama; (4) pengerjaan masalah; (5) perputaran lembaran masalah. Masing- masing penjelasan langkah model Round Table akan diuraikan sebagai berikut:
1. Pengelompokan Siswa
Pada langkah awal, guru membentuk kelompok siswa yang beranggotakan 4- 6 orang.
2. Pembagian Lembaran Topik/ Masalah
Setelah siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, guru membagikan lembaran yang berisi pertanyaan atau topik atau masalah yang sama kepada masing-masing kelompok.
3. Penentuan Siswa yang Mendapat Giliran Pertama
Pada langkah ini, guru menenentukan atau meminta siswa yang menentukan anggota kelompok mana yang akan menuliskan jawaban atau gagasannya terlebih dahulu.
4. Pengerjaan Masalah
Langkah selanjutnya adalah siswa yang mendapat giliran pertama mulai mengerjakan atau memecahkan masalah yang diberikan pada lembaran sesuai dengan batas waktu yang ditentukan.
5. Perputaran Lembaran Masalah
Jika sudah mencapai batas waktu yang ditentukan, siswa pertama menyerahkan lembar kertas kepada anngota kelompok berikutnya untuk melanjutkan atau menambah gagasan atau jawaban. Hal ini dilakukan searah jarum jam sampai semua anggota kelompok mendapat giliran sehingga lembar tersebut berisikan berbagai gagasan dari semua anggota kelompok.
Berdasarkan langkah-langkah Round Table yang telah di jelaskan sebelumnya.
Adapun langkah-langkah kegiatan pembelajaran Round Table yaitu sebagai berikut:
Table 2.1 Kegiatan pembelajaran serta aktivitas guru dan siswa dengan model Round Table
Aktivitas Guru Aktvitas Siswa
Pengelompokan Siswa
Guru membentuk kelompok beranggotakan 4-6 siswa.
Pembagian Lembaran Topik/ Masalah
Guru membagikan lembaran yang berisi pertanyaan atau topik atau masalah yang sama kepada masing- masing kelompok.
Penentuan Siswa yang Mendapat Giliran Pertama
Guru memberikan instruksi agar masing-masing kelompok menentukan anggota kelompok mana yang akan menuliskan jawaban atau gagasannya terlebih dahulu.
Pengerjaan Masalah
Guru memberi instruksi kepada siswa yang mendapat giliran pertama untuk memulai mengerjakan atau memecahkan masalah yang diberikan pada lembaran sesuai dengan batas waktu
Pengelompokan Siswa
Siswa duduk mengelilingi meja sesuai dengan kelompok.
Pembagian Lembaran Topik/ Masalah Siswa menerima lembaran yang berisi pertanyaan atau topik atau masalah.
Penentuan Siswa yang Mendapat Giliran Pertama
Masing-masing kelompok menentukan anggota yang memulai menuliskan jawaban atau gagasannya terlebih dahulu.
Pengerjaan Masalah
Siswa yang mendapat giliran pertama memulai mengerjakan atau memecahkan masalah yang diberikan pada lembaran sesuai
yang ditentukan.
Perputaran Lembaran Masalah
Guru memberikan instruksi kepada siswa pertama dalam setiap kelompok untuk memutarkan lembarannya ke anggota kelompok berikutnya searah jarum jam jika sudah mencapai batas waktu yang ditentukan.
dengan batas waktu yang ditentukan.
Perputaran Lembaran Masalah
Siswa selanjutnya dalam setiap kelompok menuliskan jawaban atau gagasannya
Menurut Elizabert (2012:363), model Round Table memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihan model Round Table adalah Round Table dapat membantu mengatasi masalah-masalah ketimpangan partisipasi. Juga diungkapkan oleh Yamin (2007:98) bahwa model Round Table akan menciptakan diskusi yang lebih bebas sehingga memberikan kesempatan setiap siswa berpartisipasi. Disamping itu, kelemahan model Round Table seperti yang diungkapkan oleh Elizabert (2012:363) bahwa siswa yang bermasalah mengekspresikan diri dalam bentuk tulisan seperti merangkum materi, menuliskan pengerjaan soal yang sesuai langkah-langkah Polya dan melakukan klarifikasi terhadap soal yang telah dikerjakan serta melakukan prediksi terhadap topik/
materi selanjutnya akan menganggap kegiatan ini sulit.
Mendasarkan pada kelemahan yang ada pada model Round Table, maka dari diperlukan suatu strategi yang meminimalisir kelemahan tersebut. Banyak strategi yang dapat digunakan, salah satunya yaitu dengan strategi Reciprocal Teaching. Dalam proses pembelajaran Reciprocal Teaching, kegiatan menulis distrukturkan dalam empat strategi yaitu; membuat ringkasan (summarizing), mengajukan pertanyaan (questioning), melakukan klarifikasi (clarifying), dan melakukan prediksi (predicting). Selain itu, terdapat keterkaitan antara model Round Table dengan strategi Reciprocal Teaching yaitu membentuk kelompok- kelompok diskusi untuk siswa.
2.4 Strategi Reciprocal Teaching
Reciprocal Teaching menurut Effendi (2013:86) adalah strategi pembelajaran yang digunakan untuk membantu siswa memusatkan perhatian dan memahami bacaannya. Effendi juga mengutip pendapat Slavin (1994: 235), bahwa dalam memusatkan perhatian pada apa yang dibaca, guru mengajari empat aktivitas pada siswa, yaitu: (1) untuk memikirkan pertanyaan-pertanyaan penting yang dapat ditanyakan dari apa yang telah dibaca dan untuk meyakinkan bahwa siswa dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, (2) untuk merangkum informasi-informasi penting dari bacaan yang siswa baca, (3) untuk memprediksi apa yang mungkin dibahas penulis pada bacaan selanjutnya, dan (4) mengidentifikasi hal-hal yang kurang jelas dan memberikan klarifikasi (penjelasan). Selanjutnya, siswa melakukan seperti yang dilakukan guru ketika siswa menjadi guru.
Menurut Trianto (2009:173) Reciprocal Teaching atau pengajaran terbalik merupakan pengembangan pembelajaran yang menekankan pada diskusi belajar untuk membantu guru mengajarkan pemahaman melalui empat strategi.
Palinscar (Warsono dan Hariyanto, 2013:86) juga mengemukakan bahwa Reciprocal Teaching adalah pembelajaran yang mengacu kepada aktivitas siswa dalam bentuk diskusi yang distrukturkan dalam empat strategi yaitu; membuat ringkasan (summarizing), mengajukan pertanyaan (questioning), melakukan klarifikasi (clarifying), dan melakukan prediksi (predicting).
Berdasarkan pendapat ahli tentang pengertian Reciprocal Teaching di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Reciprocal Teaching adalah pembelajaran yang menggunakan diskusi belajar melalui empat strategi yaitu; membuat
ringkasan (summarizing), mengajukan pertanyaan (questioning), melakukan klarifikasi (clarifying), dan melakukan prediksi (predicting), yang membantu siswa untuk memahami konsep/ materi yang di pelajari.
Karaketritik strategi Reciprocal Teaching menurut Palinscar (Shoimin, 2014:153-154) mengandung empat strategi, yaitu; (a) Question Generating (b) Clarifying (c) Predicting (d) Summarizing. Masing-masing penjelasan karakteristik strategi Reciprocal Teaching akan diuraikan sebagai berikut:
a. Question Generating
Dalam strategi ini, siswa diberi kesempatan untuk membuat pertanyaan terkait materi yang dibahas. Pertanyaan tersebut diharapkan dapat membuat siswa menguasai konsep terhadap materi yang sedang dibahas.
b. Clarifying
Dalam stratgei clarifying, siswa dapat bertanya kepada guru tentang konsep yang dirasa masih sulit atau belum bisa dipecahkan bersama kelompoknya.
Selain itu, guru juga dapat mengklarifikasi konsep dengan memberikan pertanyaan pancingan kepada siswa.
c. Predicting
Strategi predicting merupakan strategi dimana siswa melakukan hipotesis atau perkiraan mengenai konsep apa yang akan didiskusikan selanjutnya oleh penyaji.
d. Summarizing
Dalam strategi summarizing terdapat kesempatan bagi siswa untuk mengidentifikasikan dan mengintegrasikan informasi-informasi yang terkandung dalam materi.
Dari uraian pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa karakteristik strategi Reciprocal Teaching yaitu membuat siswa berperan aktif dalam pembelajaran, baik dalam kelompok maupun ketika pembelajaran berlangsung.
Shoimin (2014:154-155) mengemukakan langkah-langkah pembelajaran strategi Reciprocal Teaching yaitu; (1) Pengelompokan siswa; (2) Pembagian lembaran topik/ masalah; (3) Diskusi kelompok; (4) Membuat pertanyaan; (5) Mengklarifikasi permasalahan; (6) Memberikan soal latihan yang memuat soal pengembangan. Masing-masing penjelasan langkah strategi Reciprocal Teaching akan diuraikan sebagai berikut:
1. Pengelompokan Siswa
Pada langkah awal, guru membentuk kelompok siswa yang beranggotakan 4- 6 orang.
2. Pembagian Lembaran Topik/ Masalah
Setelah siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, guru membagikan lembaran yang berisi pertanyaan atau topik atau masalah yang sama kepada masing-masing kelompok.
3. Diskusi Kelompok
Pada langkah ini, guru menginstruksikan kepada siswa untuk mendiskusikan lembaran yang berisi pertanyaan atau topik atau masalah dalam kelompok.
4. Membuat pertanyaan (questioning generating)
Siswa diberi kesempatan menuliskan pertanyaan-pertanyaan terkait lembaran yang diterima.
5. Mengklarifikasi permasalahan (clarifying)
Guru mengarahkan siswa menyampaikan pertanyaan terkait materi yang dibahas, yaitu yang mereka tulis sebelumnya.
6. Memberikan soal latihan yang memuat soal pengembangan (predicting) Guru memberikan soal latihan yang merupakan pengembangan dari materi yang telah dan akan dibahas. Hal ini dimaksudkan agar siswa dapat memprediksi materi apa yang akan dibahas pada pertemuan selanjutnya.
7. Menyimpulkan materi yang dipelajari (summarizing)
Guru mengarahkan siswa untuk menyimpulkan serta menulis hal-hal penting terkait materi yang telah dibahas.
8. Menyajikan hasil kerja kelompok.
Tahap akhir ini guru memberi kesempatan pada setiap kelompok untuk menyajikan hasil diskusi selama pembelajaran.
Berdasarkan langkah-langkah strategi Reciprocal Teaching yang telah dijelaskan sebelumnya. Adapun langkah-langkah kegiatan pembelajaran Reciprocal Teaching yaitu sebagai berikut:
Table 2.2 Kegiatan pembelajaran serta aktivitas guru dan siswa dengan strategi Reciprocal Teaching
Aktivitas Guru Aktivitas Siswa
Kegiatan Pendahuluan a. Guru mengucapkan salam.
b. Guru mengabsen kehadiran siswa.
c. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan materi yang akan dicapai.
d. Guru menjelaskan langkah-langkah pembelajaran menggunakan strategi Reciprocal Teaching.
a. Siswa menjawab salam dari guru.
b. Siswa merespons ketika diabsen oleh guru.
c. Siswa menyimak apa yang disampaikan oleh guru.
d. Siswa menyimak apa yang disampaikan oleh guru.
Kegiatan Inti
Pengelompokan Siswa
Guru membentuk kelompok siswa yang beranggotakan 4-6 orang.
Pengelompokan Siswa
Siswa duduk sesuai dengan kelompok.
Pembagian Lembar Kerja Siswa
Guru membagikan lembar kerja siswa yang berisi pertanyaan atau topik atau masalah yang sama kepada masing-masing kelompok.
Diskusi Kelompok
Guru menginstruksikan kepada siswa untuk mendiskusikan lembar kerja siswa yang berisi pertanyaan atau topik atau masalah dalam kelompok.
Membuat pertanyaan (questioning generating)
Siswa diberi kesempatan menuliskan pertanyaan-pertanyaan terkait lembaran yang diterima.
Mengklarifikasi permasalahan (clarifying) Guru mengarahkan agar salah satu siswa dalam setiap kelompok untuk menyampaikan pertanyaan terkait materi yang dibahas.
Memberikan soal latihan yang memuat soal pengembangan (predicting)
Guru memberikan soal latihan yang merupakan pengembangan dari materi yang telah dan akan dibahas.
Menyimpulkan materi yang dipelajari (summarizing)
Guru mengarahkan siswa untuk menyimpulkan serta menulis hal-hal penting terkait materi yang telah dibahas.
Menyajikan hasil kerja kelompok.
Guru memberi kesempatan pada setiap kelompok untuk menyajikan hasil diskusi selama pembelajaran.
Pembagian Lembar Kerja Siswa
Siswa menerima lembar kerja siswa yang berisi pertanyaan atau topik atau masalah.
Diskusi Kelompok
Siswa mendiskusikan lembar kerja siswa bersama anggota kelompknya.
Membuat pertanyaan (questioning generating)
Siswa menuliskan pertanyaan-pertanyaan terkait lembaran yang diterima.
Mengklarifikasi permasalahan (clarifying) Salah satu siswa dalam setiap kelompok menyampaikan pertanyaan terkait materi yang dibahas.
Memberikan soal latihan yang memuat soal pengembangan (predicting)
Siswa mengerjakan soal latihan yang diberikan guru.
Menyimpulkan materi yang dipelajari (summarizing)
Siswa menyimpulkan serta menulis hal-hal penting terkait materi yang telah dibahas.
Menyajikan hasil kerja kelompok.
Salah satu perwakilan siswa di setiap kelompok menyajikan hasil kerja kelompok di depan kelas.
Kegiatan Penutup
a. Guru membimbing siswa mereview materi yang telah dipelajari hari ini.
b. Guru menginstruksikan kepada siswa untuk mempelajari materi selanjutnya di rumah.
a. Siswa mereview materi yang telah dipelajari hari ini.
b. Siswa memperhatikan instruksi guru.
Kelebihan strategi Reciprocal Teaching menurut Trianto (2009:173) meliputi: (1) meningkatkan pemahaman siswa serta memberi siswa peluang untuk memantau pemahamannya sendiri (2) sangat mendukung dialog bersifat kerja sama (diskusi) (3) membantu guru menggunakan diskusi belajar yang bersifat kerja sama untuk mengajarkan pemahaman suatu topik/ materi di kelas.
Kelemahan strategi Reciprocal Teaching sebagaimana yang dikutip oleh Effendi (2013:87) adalah akan sulit diterapkan jika pengetahuan siswa tentang materi prasyarat kurang. Warsono dan Hariyanto (2012:90) juga mengemukakan bahwa pembelajaran dengan strategi Reciprocal Teaching memang baik diimplementasikan dalam penelitian pembelajaran, tetapi cukup sulit diimplementasikan dalam pembelajaran sehari-hari.
2.5 Pembelajaran Matematika Menggunakan Model Round Table dengan Strategi Reciprocal Teaching
Pada subbab model pembelajaran Round Table (RTb) dan strategi Reciprocal Teaching (RTc) telah dijelaskan langkah-langkah pembelajarannya.
Dalam subbab ini dijelaskan langkah-langkah kegiatan pembelajaran dengan model Round Table dengan strategi Reciprocal Teaching, yaitu sebagai berikut:
Table 2.3 Sintak model pembelajaran Round Table dengan strategi Reciprocal Teaching
Model Round Table (RTb) 1. Pengelompokan siswa
2. Pembagian lembaran topik/ masalah 3. Penentuan siswa yang mendapat giliran
pertama
4. Pengerjaan masalah
5. Perputaran lembaran masalah
Strategi Reciprocal Teaching (RTc) 1. Pengelompokan siswa
2. Pembagian lembaran Topik/ Masalah 3. Diskusi Kelompok
4. Membuat pertanyaan (questioning generating)
5. Mengklarifikasi permasalahan (clarifying)
6. Memberikan soal latihan yang memuat soal pengembangan (predicting) 7. Menyimpulkan materi yang dipelajari
(summarizing)
8. Menyajikan hasil kerja kelompok.
Aktivitas Pembelajaran Model Round Table dengan Strategi Reciprocal Teaching
No Aktivitas Pembelajaran
Pembelajaran Model
RTb
Strategi RTc
1. Pengelompokan siswa √ √
2. Pembagian lembar kerja siswa √ √
3. Diskusi kelompok √
4. Penentuan siswa yang mendapat giliran pertama √ 5. Membuat pertanyaan (questioning generating) dan perputaran
lembar kerja siswa searah jarum jam √ √
6. Mengklarifikasi permasalahan (clarifying) √
7. Mengerjakan soal latihan pengembangan (predicting) dan
perputaran lembar kerja siswa searah jarum jam √ √
8. Menyimpulkan materi yang dipelajari (summarizing) dan
perputaran lembar kerja siswa searah jarum jam √ √
9. Menyajikan hasil kerja kelompok √
Berdasarkan gambaran diatas, dapat diuraikan langkah-langkah pembelajaran model Round Table dengan strategi Reciprocal Teaching sebagai berikut:
1. Guru membentuk kelompok beranggotakan 4-6 orang siswa.
2. Guru membagikan lembar kerja siswa yang akan dipelajari hari ini kepada setiap kelompok.
3. Guru memberi instruksi kepada siswa untuk mendiskusikan lembar kerja tersebut dengan anggota kelompoknya masing-masing.
4. Guru memberi intruksi agar masing-masing kelompok menentukan anggota kelompok mana yang akan mendapat giliran pertama.
5. Guru memberi instruksi agar siswa yang mendapat giliran pertama dalam setiap kelompok untuk menuliskan petanyaan-pertanyaan dalam sebuah lembar kerja terkait materi yang diberikan (questioning generating). Dimana siswa dalam setiap kelompok menuliskannya secara bergiliran dengan cara memutarkan lembar kerja ke anggota kelompok lainnya searah jarum jam serta dengan batas waktu yang ditentukan.
6. Guru memberi instruksi agar salah satu siswa dalam setiap kelompok untuk menyampaikan pertanyaan-pertanyaan yang telah ditulis semua anggota kelompoknya. Kemudian guru memberikan klarifikasi atas pertanyaan- pertanyaan tersebut dengan jawaban atau pertanyaan-pertanyaan pancingan (clarifying).
7. Guru memberikan soal latihan yang berisi soal-soal dari materi yang telah dibahas dan soal-soal pengembangan dari materi yang akan dibahas untuk pertemuan selanjutnya (predicting).
8. Guru memberi instruksi agar siswa dalam setiap kelompok untuk menyimpulkan dengan menulis hal-hal penting terkait materi yang telah dibahas (summarizing). Dimana siswa dalam setiap kelompok menuliskannya secara bergiliran dengan cara memutarkan lembar kerja ke anggota kelompok lainnya searah jarum jam serta dengan batas waktu yang ditentukan.
9. Guru memberi instruksi kepada salah satu perwakilan dari setiap kelompok untuk menyajikan hasil kerja kelompok di depan kelas.
Berdasarkan penjelasan langkah-langkah di atas, maka kegiatan guru dan siswa melalui penerapan model Round Table dengan strategi Reciprocal Teaching dalam pembelajaran secara terperinci dapat disajikan sebagai berikut:
Tabel 2.4 Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Guru Siswa
Kegiatan Pendahuluan
- Mengucapkan salam - Menjawab salam
- Mengabsen kehadiran siswa - Merespons guru - Menyampaikan pokok materi dan tujuan
pembelajaran yang akan dicapai.
- Menyimak penjelasan guru.
- Menjelaskan langkah-langkah pembelajaran model Round Table dengan strategi Reciprocal Teaching.
- Menyimak penjelasan guru.
Kegiatan Inti
- Membentuk kelompok beranggotakan 4-6 - Siswa duduk sesuai dengan
orang siswa kelompoknya masing-masing - Membagikan lembar kerja siswa kepada
setiap kelompok
- Menerima lembar kerja siswa yang dibagikan
- Memberi instruksi kepada siswa untuk melakukan diskusi singkat lembar kerja siswa dengan anggota kelompoknya masing-masing
- Siswa melakukan diskusi singkat lembar kerja siswa dengan kelompoknya.
- Memberi intruksi agar masing-masing kelompok menentukan salah satu darianggota kelompoknya yang akan memulai terlebih dahulu.
- Masing-masing kelompok menentukan salah satu darianggota kelompoknya yang akan memulai terlebih dahulu.
- Memberi instruksi agar siswa dalam setiap kelompok untuk menuliskan petanyaan- pertanyaan dalam sebuah lembar kerja terkait materi yang diberikan (questioning generating)
- Siswa dalam setiap kelompok menuliskannya secara bergiliran dengan cara memutarkan lembar kerja searah jarum jam serta dengan batas waktu yang ditentukan
- Memberi instruksi agar salah satu siswa dalam setiap kelompok untuk menyampaikan pertanyaan-pertanyaan yang telah ditulis semua anggota kelompoknya.
Kemudian guru memberikan klarifikasi atas pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan jawaban atau pertanyaan-pertanyaan pancingan (clarifying)
- Perwakilan siswa di setiap kelompok menyampaikan pertanyaan.
- Memberikan soal latihan yang berisi soal- soal dari materi yang telah dibahas dan soal- soal pengembangan dari materi yang akan dibahas untuk pertemuan selanjutnya (predicting)
- Mengerjakan soal latihan yang diberikan guru.
- Memberi instruksi agar siswa dalam setiap kelompok untuk menyimpulkan dengan menulis hal-hal penting terkait materi yang telah dibahas (summarizing).
- Siswa dalam setiap kelompok menuliskannya secara bergiliran dengan cara memutarkan lembar kerja searah jarum jam serta dengan batas waktu yang ditentukan.
- Memberi instruksi kepada salah satu perwakilan dari setiap kelompok untuk menyajikan hasil kerja kelompok di depan kelas
- Perwakilan siswa di setiap kelompok menyajikan hasil kerja kelompok di depan kelas.
Kegiatan Penutup
- Membimbing siswa mereview materi yang telah dipelajari hari ini
- Mereview materi yang telah dipelajari hari ini.
- Memberi instruksi kepada siswa untuk mempelajari materi selanjutnya di rumah
- Memperhatikan instruksi guru.
2.6 Aktivitas Belajar
Proses pembelajaran dikatakan sedang berlangsung apabila ada aktivitas guru dan siswa didalamnya. Menurut Nasution yang dikutip oleh Suhirman (2015:197), aktivitas belajar adalah aktivitas yang bersifat jasmani maupun rohani. Dalam proses pembelajaran, kedua aktivitas tersebut mempunyai
keterkaitan. Hal tersebut didukung oleh pernyataan Rusman (2012:389) bahwa belajar adalah aktivitas yang melibatkan seluruh potensi yang dimiliki siswa, meliputi potensi gerakan fisik, potensi panca indera dan potensi kemampuan intelektual.
Yamin (2007:77) berpendapat bahwa aktivitas belajar semestinya dapat merangsang dan mengembangkan bakat yang dimiliki siswa seperti berfikir kritis dan memecahkan permasalahan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
Maka dari itu, pembelajaran harus mengacu pada peningkatan aktivitas dan partisipasi siswa. Guru tidak hanya menyampaikan pengetahuan, keterampilan dan sikap kepada siswa, tetapi guru juga harus mengarahkan siswa aktif dalam proses pembelajaran.
Berdasarkan definisi aktivitas belajar menurut para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar siswa merupakan kegiatan belajar yang melibatkan jasmanai maupun rohani serta melibatkan seluruh potensi yang dimiliki siswa, meliputi potensi gerakan fisik, potensi panca indera dan potensi kemampuan intelektual dimana siswa menjadi aktif dalam proses pembelajaran.
Dalam penelitian ini, aktivitas yang dilakukan oleh siswa dalam pembelajaran matematika menggunakan pendekatan saintifik yang mengacu pada Permendikbud No 81A Tahun 2013 yaitu; mengamati, menanya, mengumpulkan atau menggali informasi, mengasosiasi dan mengkomunikasikan.
2.6.2 Indikator Aktivitas Belajar Siswa Pendekatan Saintifik
Berdasarkan Permendikbud No 81A Tahun 2013 mengenai aktivitas belajar siswa yang telah dijelaskan sebelumnya, maka indikator aktivitas belajar siswa adalah sebagai berikut:
Tabel 2.5 Indikator Aktivitas Belajar Siswa
No. Aktivitas Siswa Indikator
1. Mengamati a. Memperhatikan penjelasan guru.
b. Mengamati materi atau kasus yang diberikan.
2. Menanya a. Bertanya dan berdiskusi dengan siswa lain dari kasus yang diberikan.
b. Bertanya kepada guru jika ada yang tidak mengerti.
3. Menggali Informasi a. Mengkaji dan mendiskusikan hal-hal penting yang diamati dari kasus yang diberikan.
b. Melakukan perencanaan pada kasus yang diterima untuk dapat memecahkan masalah.
4. Mengasosiasi a. Menyajikan apa yang diketahui dan ditanyakan dari masalah yang diberikan.
b. Memilih prosedur/ algoritma yang sesuai dengan masalah yang diberikan.
5. Mengkomunikasikan a. Menyajikan dan menulis hasil diskusi.
b. Menyampaikan hasil diskusi kepada siswa lain maupun guru.
2.7 Kemampuan Pemecahan Masalah 2.7.1 Masalah dalam Matematika
Masalah menurut Lester (Winarni dan Harmini, 2012: 116) adalah suatu situasi dimana individu atau kelompok terpanggil untuk melakukan suatu tugas.
Dalam tugas tersebut tidak tersedia algoritma yang lengkap untuk menentukan penyelesaian masalahnya. Dari literatur yang sama, Winarni dan Harmini (2012:120) mengemukakan bahwa masalah merupakan suatu situasi yang menunut adanya penyelesaian. Dimana penyelesaian tersebut tidak hanya dikerjakan dengan prosedur rutin, tetapi perlu penalaran yang lebih luas dan rumit.
Masalah dalam matematika dapat berupa masalah rutin dan masalah non rutin. Masalah rutin dapat dipecahkan dengan metode yang sudah ada dan sering disebut sebagai masalah penerjemahan karena deskripsi situasi dapat langsung diterjemahkan dari kata-kata menjadi kalimat-kalimat matematika. Masalah non rutin tidak dapat dipecahkan dengan prosedur rutin sehingga peserta didik harus menyusun sendiri strategi untuk memecahkan masalah tersebut.
Berikut adalah contoh soal dan penyelesaian pemecahan masalah rutin dan non rutin:
Tabel 2.6 Contoh Soal Rutin dan Non Rutin
Jenis
Soal Contoh Soal Penyelesaian
Soal Rutin
Pak Toni, seorang pengrajin perabot rumah tangga mendapat pesanan membuat rak buku yang kerangkanya terbuat dari besi siku lubang yang dipotong-potong kemudian dirangkai dengan sekrup. Untuk membuat rak itu, diperlukan potongan besi sepanjang 250 cm sebanyak 8 potong, sepanjang 70 cm sebanyak 12 potong, dan sepanjang 37,5 cm sebanyak 20 potong. Ternyata batangan besi siku lubang yang dijual di toko mempunyai panjang standar 3 m, sehingga Pak Toni harus berpikir, cukup berapa potong besi batangan yang akan dibeli dan bagaimana caranya mengatur pemotongannya supaya panjang total sisa pemotongan menjadi minimal (dengan demikian kerugian Pak Toni minimal).
Dapatkah kamu membantu Pak Toni untuk memotong besi batangan tersebut?
Misalkan:
Pola Pemotongan I Panjang Besi Batangan :
3 meter 250 cm 37,5 cm 12,5 cm = sisa Pola Pemotongan II Panjang Besi Batangan :
3 meter 70 cm 20 cm = sisa 70 cm 70 cm 70 cm
Pola pemotongan besi 70cm 70cm
70cm 70cm 20cm = sisa Ditanya :
Temukan pola pemotongan yang lain Jawab:
Dengan demikian terdapat 6 peubah yang muncul yaitu, x1, x2, x3, x4, x5, dengan x1: banyak batang besi yang dipotong menurut kombinasi pola ke-i.
Soal Non Rutin
Sekelompok tani transmigran mendapatkan 10 hektar tanah yang dapat ditanami padi, jagung, dan palawija lain. Karena keterbatasan sumber daya petani harus menentukan berapa bagian yang harus ditanami padi dan berapa bagian yang harus ditanami jagung, sedangkan palawija lainnya ternyata tidak menguntungkan. Untuk suatu masa tanam, tenaga yang tersedia hanya 1550 jam/orang, pupuk juga terbatas, tak lebih dari 460 kilogram, sedangkan air dan sumber daya lainnya cukup tersedia. Diketahui pula bahwa untuk menghasilkan 1 kuintal padi diperlukan 10 jam-orang tenaga dan 5 kilogram pupuk, dan untuk 1 kuintal jagung diperlukan 8 jam/orang tenaga dan 3 kilogram pupuk. Kondisi tanah
Misalkan :
x banyak kuintal padi yang diproduksi oleh kelompok tani
y banyak kuintal jagung yang diproduksi oleh kelompok tani.
Untuk memperoleh pendapatan terbesar, harus dipikirkan keterbatasan-keterbatasan berikut:
a. Banyak hektar tanah yang diperlukan untuk y kuintal padi dan untuk x kuintal jagung tidak boleh melebihi 10 hektar.
b. Untuk y ketersediaan waktu (jam-orang), tiap- tiap padi dan jagung hanya tersedia waktu tidak lebih dari 1550 jam-orang.
c. Jumlah pupuk yang tersedia untuk padi dan jagung tidak lebih dari 460 kilogram.
d. Dengan semua keterbatasan (kendala) (a), (b), dan (c), kelompok tani ingin mengharapkan pendapatan Rp40.000,00 dan Rp30.000,00 untuk setiap kuintal padi dan jagung.
memungkinkan menghasilkan 50 kuintal padi per hektar atau 20 kuintal jagung per hektar.
Pendapatan petani dari 1 kuintal padi adalah Rp 40.000 sedang dari 1 kuintal jagung Rp 30.000, dan dianggap bahwa semua hasil tanamnya selalu habis terjual.
Ditanyakan:
Metode pengerjaan masalah Jawab:
Adapun sistem pertidaksamaan linear yang dimaksud adalah sebagai berikut:
{
|
} Karena luas tanah/lahan, banyak waktu, dan
banyak pupuk tidak mungkin negatif, kendala ini sebagai kendala nonnegatif, yaitu:
} f
Untuk pendapatan, tentu dimaksimumkan dan sebaliknya untuk biaya tentu diminimumkan.
Untuk masalah ini, kelompok tani tentu hendak memaksimumkan pendapatan, melalui memperbanyak kuintal padi dan jagung yang dijual berturut-turut Rp 40.000 dan Rp 30.000.
Rumusan ini disebut sebagai fungi tujuan/sasaran; sebut Z(x, y).
Secara matematik dituliskan:
Maksimumkan: Z(x, y) = 40x + 30y (dalam satuan ribuan rupiah).
Dalam penelitian ini, peneliti akan menggunakan masalah rutin dan non rutin dalam pembelajaran maupun dalam tes evaluasi
2.7.2 Kemampuan Pemecahan Masalah
Pemecahan masalah menurut Hamalik (2008:151-152) adalah suatu proses mental dan intelektual dalam menemukan suatu masalah dan memecahkannya berdasarkan data dan informasi yang akurat, sehingga dapat diambil kesimpulan yang tepat dan cermat. Sedangkan Winarni dan Harmini (2012: 116) berpendapat bahwa pemecahan/ penyelesaian masalah merupakan suatu proses penerimaan tantangan dan kerja keras untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Hamalik (2008:151-152) menambahkan bahwa dalam proses pemecahan masalah peserta didik diberikan kesempatan untuk berperan aktif dalam mempelajari, mencari dan menemukan sendiri informasi/ data untuk diolah menjadi konsep, prinsip, teori, atau kesimpulan. Dengan kata lain, pemecahan masalah menuntut kemampuan siswa dalam memproses informasi untuk membuat keputusan tertentu.
Selain itu, dalam Silabus Mata Pelajaran (SMA/MA/SMK/MAK) Matematika oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2016 (2016:11) dijelaskan bahwa memecahkan masalah dalam matematika merupakan proses menerapkan pengetahuan matematika yang telah diperoleh sebelumnya ke dalam situasi baru yang belum dikenal, baik dalam konteks matematika maupun diluar matematika.
Dalam proses pembelajaran, disamping perlunya penalaran yang baik, penting juga untuk menguasai langkah-langkah memecahkan masalah secara tepat. Untuk memecahkan masalah, diperlukan langkah-langkah yang harus ditempuh agar pemecahan masalah tersebut berjalan sistematis. Menurut Winarni dan Harmini (2012: 124) dalam buku polya, langkah-langkah pemecahan masalah meliputi:
1. Memahami Masalah.
Pada langkah awal, siswa diharapkan memahami masalah serta apa yang diperlukan dengan jelas. Maksudnya, mengidentifikasi hal-hal yang diketahui dan ditanyakan dari permasalahan tersebut.
2. Merencanakan Penyelesaian Masalah.
Pada langkah selanjutnya adalah merencanakan penyelesaian masalah. Siswa diharapkan mampu melihat berbagai item yang terhubung, yaitu menggunakan informasi yang diketahui dan yang ditanyakan dalam soal, sehingga memperoleh gagasan tentang solusinya untuk menysusun perencanaan penyelesaian masalah.
3. Melaksanakan Perencanaan Penyelesaian Masalah.
Setelah membuat perencanaan penyelesaian masalah, langkah selanjutnya adalah menyelesaikan masalah yang diberikan sesuai dengan rencana yang telah disusun hingga siswa menemukan hasilnya.
4. Melakukan Pengecekan Kembali
Langkah terakhir adalah melakukan pengecekan kembali dengan cara mencocokkan informasi yang diketahui, ditanyakan dan hasilnya. Selain itu, mengecek kembali kesesuaian perencanaan penyelesaian masalah dengan pelaksanaan penyelesian masalah serta mendiskusikannya jika memungkinkan.
2.7.3 Indikator Pemecahan Masalah
Berdasarkan langkah-langkah pemecahan masalah Polya yang telah dijelaskan sebelumnya, langkah-langkah tersebut dapat digunakan sebagai indikator, yaitu sebagai berikut:
Tabel 2.6 Indikator Pemecahan Masalah Polya
No. Langkah-langkah Pemecahan Masalah
Indikator Pemecahan Masalah 1. Memahami masalah a. Menuliskan hal-hal yang diketahui dalam soal.
b. Menuliskan hal-hal yang ditanyakan dalam soal.
2. Merencanakan penyelesaian masalah
a. Menentukan hubungan yang diketahui dan ditanyakan dalam soal.
b. Menyusun strategi penyelsaian soal.
3. Melaksanakan perencanaan
penyelesaian masalah
a. Mengerjakan penyelesaian soal sesuai dengan strategi yang direncanakan.
b. Mendapatkan hasil jawaban sesuai dengan langkah yang dilakukan dalam menyelesaikan soal.
4. Melakukan pengecekan kembali
a. Mencocokkan informasi yang diketahui, ditanyakan dan hasilnya
b. Mengecek kembali kesesuaian perencanaan penyelesaian masalah dengan pelaksanaan penyelesian masalah
Berikut ini akan diberikan contoh dari kegiatan pemecahan masalah siswa pada pembelajaran matematika.
Contoh Masalah
Sekelompok tani transmigran mendapatkan 10 hektar tanah yang dapat ditanami padi, jagung, dan palawija lain. Karena keterbatasan sumber daya petani harus menentukan berapa bagian yang harus ditanami padi dan berapa bagian yang harus ditanami jagung, sedangkan palawija lainnya ternyata tidak menguntungkan. Untuk suatu masa tanam, tenaga yang tersedia hanya 1550 jam/orang, pupuk juga terbatas, tak lebih dari 460 kilogram, sedangkan air dan sumber daya lainnya cukup tersedia. Diketahui pula bahwa untuk menghasilkan 1 kuintal padi diperlukan 10 jam-orang tenaga dan 5 kilogram pupuk, dan untuk 1 kuintal jagung diperlukan 8 jam/orang tenaga dan 3 kilogram pupuk. Kondisi tanah memungkinkan menghasilkan 50 kuintal padi per hektar atau 20 kuintal jagung per hektar. Pendapatan petani dari 1 kuintal padi adalah Rp 40.000 sedang dari 1 kuintal jagung Rp 30.000, dan dianggap bahwa semua hasil tanamnya selalu habis terjual. Masalah bagi petani ialah bagaimanakah rencana produksi yang memaksimumkan pendapatan total. Rumuskan model matematikanya!
(Memahami Masalah)
Berdasarkan masalah di atas, diketahui bahwa setiap 1 hektar menghasilkan 50 kuintal padi. Artinya, untuk 1 kuintal padi diperlukan 0,02 hektar. Demikian juga, untuk 1 kuintal jagung diperlukan 0,05 hektar.
(Merencanakan penyelesaian masalah)
Besarnya pendapatan kelompok petani dipengaruhi banyak (kuintal) padi dan jagung yang diproduksi. Tentunya, besar pendapatan tersebut merupakan tujuan kelompok tani, tetapi harus mempertimbangkan keterbatasan sumber (luas tanah, tenaga dan pupuk).
Misalkan :
x banyak kuintal padi yang diproduksi oleh kelompok tani y banyak kuintal jagung yang diproduksi oleh kelompok tani.
Untuk memperoleh pendapatan terbesar, harus dipikirkan keterbatasan- keterbatasan berikut:
a. Banyak hektar tanah yang diperlukan untuk y kuintal padi dan untuk x kuintal jagung tidak boleh melebihi 10 hektar.
b. Untuk y ketersediaan waktu (jam-orang), tiap-tiap padi dan jagung hanya tersedia waktu tidak lebih dari 1550 jam-orang.
c. Jumlah pupuk yang tersedia untuk padi dan jagung tidak lebih dari 460 kilogram.
d. Dengan semua keterbatasan (kendala) (a), (b), dan (c), kelompok tani ingin mengharapkan pendapatan Rp40.000,00 dan Rp30.000,00 untuk setiap kuintal padi dan jagung.
(Melaksanakan perencanaan penyelesaian masalah)
Adapun sistem pertidaksamaan linear yang dimaksud adalah sebagai berikut:
Pemecahan sistem tersebut dapat dikerjakan dengan metode grafik (dibahas pada subbab berikutnya). Hal ini merupakan pengembangan konsep pertidaksamaan linear satu variabel yang telah kamu pelajari pada Kelas X.
{
|
} (1) Karena luas tanah/lahan, banyak waktu, dan banyak pupuk tidak mungkin negatif, kendala ini sebagai kendala nonnegatif, yaitu:
} f (2)
Untuk pendapatan, tentu dimaksimumkan dan sebaliknya untuk biaya tentu diminimumkan. Untuk masalah ini, kelompok tani tentu hendak memaksimumkan pendapatan, melalui memperbanyak kuintal padi dan jagung yang dijual berturut- turut Rp 40.000 dan Rp 30.000. Rumusan ini disebut sebagai fungi tujuan/sasaran;
sebut Z(x, y).
Secara matematik dituliskan:
Maksimumkan: Z(x, y) = 40x + 30y (dalam satuan ribuan rupiah). (3) (Melakukan pengecekan kembali)
Dari permasalahan yang diketahui bahwa setiap 1 hektar menghasilkan 50 kuintal padi. Artinya, untuk 1 kuintal padi diperlukan 0,02 hektar. Demikian juga, untuk 1 kuintal jagung diperlukan 0,05 hektar. Permasalahannya adalah bagaiamana merumuskan model matematikanya sehingga petani dapat merencanakan produksi yang memaksimumkan pendapatan total. Kemudian mengecek kembali rencana penyelesian yang telah disusun yaitu menghubungkan hal yang diketahui dan ditanyakan lalu merumuskan strategi penyelesaian sehingga diperoleh variabel-
variabel dan batasan-batasan permasalahan. Setelah itu mengecek kembali kesesuaian perencanaan penyelesaian masalah dengan pelaksanaan penyelesaian masalah sehingga hasilnya sesuai.
2.8 Penerapan Model Round Table dengan Strategi Reciprocal Teaching Terdapat berbagai macam model pembelajaran yang dapat di terapkan pada pembelajaran matematika untuk meningkatkan aktivitas siswa dan kemampuan pemecahan masalah siswa. Salah satunya yautu penerapan model Round Table dengan strategi Reciprocal Teaching.
Pada kegiatan pendahuluan, Guru membuka pembelajaran dengan mengucapkan salam kemudian mengabsen kehadiran siswa. Setelah itu, guru menyampaikan pokok materi dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai, misalnya; mendeskripsikan model matematika dalam program linear. Pada subbab ini, kita akan mempelajari bagaimana masalah dalam kehidupan sehari-hari dapat diselesaikan dengan matematika. Namun, sangat dibutuhkan kemampuan berpikir logis untuk mengubah masalah sehari-hari ke bentuk matematika.
Menginjak kegiatan inti, Guru mengajak siswa memperhatikan masalah 1.1, yaitu sekelompok tani transmigran mendapatkan 10 hektar tanah yang dapat ditanami padi, jagung, dan palawija lain. Karena keterbatasan sumber daya petani harus menentukan berapa bagian yang harus ditanami padi dan berapa bagian yang harus ditanami jagung, sedangkan palawija lainnya ternyata tidak menguntungkan. Untuk suatu masa tanam, tenaga yang tersedia hanya 1550 jam/orang, pupuk juga terbatas, tak lebih dari 460 kilogram, sedangkan air dan sumber daya lainnya cukup tersedia.
Diketahui pula bahwa untuk menghasilkan 1 kuintal padi diperlukan 10 jam-orang tenaga dan 5 kilogram pupuk, dan untuk 1 kuintal jagung diperlukan 8 jam/orang tenaga dan 3 kilogram pupuk. Kondisi tanah memungkinkan menghasilkan 50 kuintal padi per hektar atau 20 kuintal jagung per hektar.
Pendapatan petani dari 1 kuintal padi adalah Rp 40.000 sedang dari 1 kuintal jagung Rp 30.000, dan dianggap bahwa semua hasil tanamnya selalu habis terjual.
Masalah bagi petani ialah bagaimanakah rencana produksi yang memaksimumkan pendapatan total? Artinya berapa hektar tanah harus ditanami padi dan berapa hektar tanah harus ditanami jagung?
Kemudian guru mengajak siswa agar berdiskusi dalam kelompoknya mengenai masalah 1.1 tersebut. Guru menginstruksikan kepada masing-masing kelompok untuk menentukan salah satu dari anggota kelompoknya yang mendapat giliran pertama. Kemudian siswa dalam kelompok menuliskan pertanyaan-pertanyaan terkait hal yang belum dipahami di dalam LKS kolom
“Question-Generating” secara bergiliran dengan teman kelompoknya searah jarum jam. Selanjutnya, guru mengajak siswa mengklarifikasi permasalahan- permasalahan dari “Question-Generating” yang ada dari setiap kelompok, lalu siswa menuliskan hasil dari Clarifying ke dalam LKS kolom “Clarifying” secara bergiliran dengan teman kelompoknya searah jarum jam.
Selanjutnya, siswa mengerjakan soal latihan pengembangan secara individu di dalam kolom “Predicting”. Langkah terakhir yaitu siswa secara bergiliran dengan teman kelompoknya searah jarum jam menuliskan poin-poin penting/ kesimpulan terkait apa yang dipelajari pada hari itu pada LKS Kolom
“Summarizing”
Di akhir pembelajaran, guru membimbing siswa mereview materi yang telah dipelajari hari ini kemudian memberi instruksi kepada siswa untuk mempelajari materi selanjutnya di rumah.