• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. karena pelayanan publik selalu berkaitan erat dengan kehidupan kita sehari-hari.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. karena pelayanan publik selalu berkaitan erat dengan kehidupan kita sehari-hari."

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

10 BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Sejak lahir sampai mati, masyarakat selalu berurusan dengan pelayanan publik karena pelayanan publik selalu berkaitan erat dengan kehidupan kita sehari-hari.

Pernyataan ini dapat digambarkan sebagai berikut; ketika seorang bayi lahir maka berlangsunglah segala urusan terkait dengan pembuatan akte kelahiran, kartu keluarga dan pelayanan kesehatan dalam proses kelahiran bayibaik di rumah sakit atau puskesmas. Ketika memasuki usia sekolahmaka kita akan berurusan dengan pelayanan pendidikan. Memasuki usia 17 tahun kita akan berurusan dengan kepemilikan Kartu Tanda Penduduk (KTP). Pada saat menikah kita akan berurusan juga dengan surat nikah dan kartu keluarga. Dalam kehidupan rumah tangga, kita juga senantiasa terkait dengan pelayanan listrik, telepon, PDAM, transportasi dan lain-lain.

Bahkan hingga mati pun kita akan berurusan dengan pelayanan kematian.

Berdasarkan gambaran tersebut bisa dikatakan bahwa masyarakat dalam hidupnya selalu dilayani oleh instrumen pelayanan publik yang sejatinya adalah pelayanan yang diberikan oleh negara yaitu pemerintah kepada masyarakat.Hal ini sejalandengan tugas dan peran pemerintah itu sebagai “pelayan masyarakat”.Oleh karena itu, pemerintah bertanggung jawab memberikan pelayanan yang baik bagi rakyatnya.

Pernyataan tersebut dipertegas di dalam undang-undang pelayanan publik nomor 25 tahun 2009 pada poin menimbang yaitu: bahwa negara berkewajiban melayani setiap warga negara dan penduduk untuk memenuhi hak dan kebutuhan dasarnya dalam kerangka pelayanan publik yangmerupakan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

(2)

11 Kota Malang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2013-2018 memunyai visi “Menjadikan Kota Malang sebagai Kota Bermartabat”. Dalam rangka mewujudkan visi tersebut, maka Kota Malang memunyai misi pembangunan yang salah satunya adalah “Meningkatkan kualitas pelayanan publik yang adil, terukur dan akuntabel”.

Penjelasan misi tersebut sebagaimana tercantum dalam RPJMD yaituakan memberikan prioritas pada peningkatan kualitas pelayanan pemerintah daerah kepada masyarakat Kota Malang. Pelayanan publik terutama pelayanan dasar, pelayanan umum dan pelayanan unggulan menjadi perhatian dalam misi ini.Pemerintah didorong untuk melakukan pelayanan yang maksimal dan profesional pada bidang kesehatan, pendidikan dan infrastruktur.

Dalam menjalankan pelayanan publik pemerintah harus senantiasa mengedepankan konsep adil sebagai landasan etik dalam melakukan setiap layanan kepada masyarakat. Pelayanan kesehatan dan pendidikan diprioritaskan kepada wong cilik yang diimplementasikan dengan menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang terjangkau dan pendidikan murah yang berkualitas. Kondisi ini ditandai dengan semakin mudahnya masyarakat mengakses layanan pendidikan dan kesehatan yang bermutu.Persoalan disparitas antara sekolah unggulan dan nonunggulan, puskesmas di wilayah pinggiran maupun nonpinggiran juga menjadi perhatian serius dalam misi ini untuk diatasi.

Misi tersebut juga akan mendorong pemerintah menjalankan pelayanan publik bersih dan berbudaya. Kondisi ini diwujudkan dengan tidak adanya korupsi, kolusi, dan nepotisme dalam melakukan kerja pelayanan kepada masyarakat.Untuk itu, aparatur pemerintah yang bersih adalah keharusan.Bersih disini diartikan sebagai komitmen untuk bebas dari segala bentuk kolusi, korupsi, dan nepotisme dalam

(3)

12 penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik.Selain itu, dalam menjalankan pelayanan masyarakat, prosedur dan mekanisme yang ada senantiasa ditaati.Misi yang diarahkan untuk memberikan pelayanan publik yang mudah, cepat dan akuntabel ini dijalankan Pemerintah Kota Malang dengan jalan mempermudah segala jenis pelayanan perijinan, baik ijin usaha, ijin kependudukan, ijin kepemilikan, ijin bangunan, dan sebagainya dengan senantiasa taat pada aturan-aturan yang berlaku.

Visi dan misi Kota Malang tersebut akan menjadi baik jika disertai dengan konsistensi yang tinggi dalam proses implementasi. Sebaliknya, tanpa komitmen dan konsistensi tinggi maka peraturan hanyalah menjadi peraturan belaka. Kebijakan- kebijakan yang merupakan manifestasi dari visi dan misi hanya akan menjadi macan kertas dan membawa masyarakat Kota Malang jauh dari kondisi sejahtera.

Tanpa komitmen dan konsistensi, begitulah nasib pengamalan visi dan misi Kota Malang.kualitaspelayanan publik yang diberikan oleh penyelenggara layanan masih jauh dari predikat‘baik’ karena hak-hak masyarakat belum terpenuhi secara maksimal. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya pengaduan terkait buruknya pelayanan publik dasar (pendidikan, kesehatan, administrasi kependudukan, kelistrikan, perizinan, dan lainnya) yang masuk dalam catatan lembaga antikorupsi Malang Corruption Watch (MCW)dalam laporan survey Knowledge Attitude Practice (KAP).

Jumlahnya sangat tinggi, sepanjang tahun 2013 saja pengaduan yang masuk hampir 1000 aduan dan sektor tertinggi adalah di bidang pendidikan. Data tersebut memperlihatkan dengan jelas bahwa kondisi pelayanan publik, khususnya bidang pendidikan di Kota Malang masih membutuhkan perbaikan dan perhatian khusus dari pemerintah.

Layanan pendidikan adalah aspek yang sangat penting bagi tiap-tiap masyarakat ssehingga termasuk dalam kategori layanan dasar yang harus terpenuhi.

(4)

13 Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran dan/atau cara lain yang dikenal dan diakui oleh masyarakat.

Undang-Undang Dasar 1945 perubahan keempat Bab XIII Pendidikan dan Kebudayaan Pasal 31 ayat 1-4 yang secara tegas menyatakan pentingnya pendidikan.

Pada ayat 1 disebutkan setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan.Ayat 2 menyatakan setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.Kemudian ayat 3 menjelaskan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang.Sementara ayat 4 menerangkan bahwanegara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.

Peraturan Pemerintah RI nomor 47 tahun 2008 bahkan secara implisit menerangkan bahwa seluruh rakyat Indonesia wajib belajar/mengenyam pendidikan dasar. Pada bab I pasal 1 ayat 1 dijelaskan bahwa wajib belajar adalah program pendidikan minimal yang harus diikuti oleh warga negara Indonesia atas tanggungjawab pemerintah dan pemerintah daerah. Selanjutnya padabab VI pasal 9 ayat 1 menerangkan pemerintah dan pemerintah daerah menjamin terselenggaranya program wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya.

Wajib belajar (wajar) merupakan salah satu program yang gencar digalakkan oleh Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Program ini mewajibkan setiap warga Negara Indonesia untuk bersekolah selama 9 (sembilan) tahun pada jenjang pendidikan dasar, yaitu dari tingkat kelas 1 Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah

(5)

14 Ibtidaiyah (MI) hingga kelas 9 Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat.Berangkat dari peraturan- peraturan yang lebih tinggi tersebut, maka semakin jelas tergambar bahwa tiap-tiap pemerintah daerah, tidak terkecuali Pemerintah Kota Malang, harus bertanggungjawab untuk mencerdaskan warganya melalui pendidikan dengan program wajib belajar.

Hingga saat ini dalama tataran kebijakan, Pemerintah Kota Malang telah memiliki peraturan yang baik dalam konteks layanan pendidikan dasar namun cukup disyangkan karena pelaksanaan di lapangan masih jauh panggang dari api. Apa yang menjadi kewajiban dan tanggungjawab pemerintah masih belum dilakukan sepenuhnya, sehingga sampai dengan saat ini impian akan pendidikan yang berkualitas dan berkeadilan masih jauh dari kenyataan. Pendidikan di Kota Malang masih menghadapi tantangan besar, mulai dari mutu, tata kelola, akses, infrastruktur dan masih banyak lagi.

Upaya masyarakat Kota Malang dalam mengakses pendidikan dasar, nyatanya hingga saat masih tertumbuk pada permasalahan biaya mahal, pungutan liar, sikap diskriminatif penyelenggara layanan (kepala sekolah dan guru), buruknya fasilitas belajar, dan ketidakjelasan pemakaian anggaran pendidikan.Berdasarkan data laporan MCW selama tahun 2013-2014, beberapa sekolah mewajibkan siswanya untuk membeli buku pegangan pelajaran yang dicetak oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang seharusnya tidak diperjualbelikan, melainkan dibagikan secara cuma-uma kepada siswa. Modus yang dipakai beberapa sekolah tersebut adalah mengalihkan buku tersebut di toko buku yang ditunjuk atau ke koperasi sekolah dengan besaran harga tertentu.Selanjutnya sekolah, melalui perantara guru/wali kelas mengarahkan agar wali murid datang ke toko buku rekanan

(6)

15 yang kemudian langsung disodori paket buku dengan kisaran harga mencapai Rp.

225.000,-. “Kami harus mengantri saat beli buku disana karena sepertinya memang tidak tersedia di toko buku lain,” ujar Sueb, salah satu wali murid SMP di kawasan Comboran yang juga merupakan warga korban sekaligus pelapor (http://www.malang-post.com/kota-malang/76841--mafia-buku-paketkurikulum- 2013diakses: 16.10.2014 / pukul 02:30 WIB).

Selain kasus penjualan buku paket Kemendikbud, terjadi pula kasus pungutan liar.Kemarin, sekitar 30 wali murid mendatangi MTsN 2 Kota Malang di Kelurahan Cemorokandang, Kedungkandang untuk mempertanyakan perihal adanya pungutan liar yang diberlakukan oleh sekolah terhadap anak mereka.“Pungutan tersebut disebut dengan uang jariyah dan diberlakukan untuk semua siswa baru.Pembayarannya bisa dilakukan dengan mengangsur sebanyak empat kali dan harus lunas selama satu tahun,” ujar Bambang, salah satu wali murid.Dian Santoso, wali murid lain mengatakan, uang jariyah ini disodorkan saat anaknya baru masuk sekolah. Selain itu, pihak sekolah juga mewajibkan siswa untuk membeli lima buah seragam seharga Rp.

1.000.000. “Biaya seragam ini langsung kami bayar karena kalau tidak anak saya tidak bisa sekolah. Tapi untuk uang jariyah belum saya bayar karena terus terang saya sangat keberatan.” terangnya. Selain pungutan berkedok uang jariyah dan uang seragam, ada lagi pungutan yang dirasa berat, yaitu uang syariah Rp. 70.000/bulan dan sumbangan pembangunan masjid sebesar Rp. 500.000.“Pungutan pungutan ini sangat memberatkan kami.Kami sudah protes ke kepala sekolah, tetapi belum ada tanggapan.Kami minta semua pungutan ini dihentikan,” kata Dian.

Kepala MTsN 2 Kota Malang Pono mengaku, pungutan-pungutan yang dibebankan kepada siswa tersebut sudah diputuskan melalui rapat komite sekolah, bukan hanya keinginan sekolah.“Toh”, kata dia, “uang yang dibayarkan tersebut

(7)

16 manfaatnya juga akan kembali kepada siswa berupa berbagai kegiatan ekstrakulikuler, outbond, wisata religius, dan wisuda. Kami inginnya membatalkan semua pungutan tersebut.Tetapi kami kembalikan lagi kepada para pengurus komite karena mereka yang memiliki kewenangan.”

Terkait dengan sumbangan untuk pembangunan masjid, Pono menjelaskan bahwa selama ini MTsN 2 memang tidak memiliki masjid. Saat jam ibadah, para siswa menumpang salat di masjid milik warga. Itu sebabnya muncul ide untuk membangun sebuah masjid demi mempermudah siswa melaksanakan ibadah.Masjid tersebut direncanakan menelan biaya Rp. 300 juta.Jumlah ini dibagi dengan seluruh siswa yang berjumlah 536 orang sehingga didapat rata-rata sumbangan Rp. 500.000 per siswa.“Tetapi itu tidak disamaratakan.Bagi orang tua yang mampu silakan saja kalau bersedia menyumbang lebih.Sebaliknya yang tidak mampu tidak perlu menyumbang sebesar itu. Sampai saat ini nilai sumbangan yang masuk, totalnya masih Rp15 juta,” ujarnya (http://m.koran-sindo.com/node/349112diakses:

16.10.2014 / pukul 03:05 WIB).

Berdasarkan dua contoh kasus di atas istilah “Pendidikan bukan barang dagangan” adalah kalimat yang cocok sebagai bentuk luapan kekesalan masyarakat terhadap kebijakan serta layanan pendidikan yang semakin sering ditemukan penyimpangan sehingga berindikasi terjadi korupsi.Salah satu contoh, banyaknya pungutan liar terjadi di sekolah-sekolah di Kota Malang yang merupakan masalah klasik dari tahun ke tahun dan tanpa jera dilakukan.Seakan peraturan yang ada tentang larangan melakukan pungli diabaikan begitu saja.

Sudah sangat jelas dalam Peraturan Walikota Malang Nomor 50 Tahun 2013 tentang Pengaturan Biaya Satuan Pendidikan Dasar Bab III mengenai Larangan dan Pertanggungjawaban Pasal 5 ayat 1, satuan pendidikan dasar yang diselenggarakan

(8)

17 oleh pemerintah daerah dilarang melakukan pungutan dalam bentuk/jenis apapun.

Selanjutnya ayat 2,satuan pendidikan dasar yang diselenggarakan oleh masyarakat dilarang memungut bagi peserta didik yang berasal dari keluarga miskin/tidak mampu.Kemudian ayat 3, komite sekolah atau kelompok yang dibentuk oleh orang tua/wali murid pada satuan pendidikan dasar yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah dilarang melakukan pungutan.

Walaupun kebijakan sudah dibuat namun masalah pungutan liar ini masih tetap berlanjut.Salah satu sebabnya adalahkurangnya pengetahuan masyarakat.Masyarakat cenderung berpikirpositivistic dan nriman.Masyarakat jarang sekali berpikir dan bersikap kritis sehingga semakin memperlancar pihak sekolah untuk melakukan pungutan liar.

Masyarakat tidak paham bahwa pungutan liar di sekolah merupakan bentuk penyelewengan.Mereka mengira hal tersebut sah dan wajar dilakukan demi kemajuan sekolah dan pendidikan putra-putrinya. Sebagian masyarakat ada yang telah mengetahui bahwa pungutan liarsangat merugikan mereka namun karena berbagai kendala, mereka kesulitan untuk membela diri mereka, bahkan dalam bentuk memberikan masukan dan kritik kepada pihak sekolah atau dinas pendidikan akan hal ini.

Alasan yang kerap dilontarkan oleh masyarakat atas ketidakberanian mereka menyuarakan kritik antara lain adalah1) masyarakat takut bahwa kritik, masukan dan pengaduan akan berdampak buruk pada diri dan anak mereka; 2) masyarakat pernah mempunyai pengalaman buruk ketika mengkritik atau mengadu; 3) masyarakat enggan memberikan masukan atau kritik karena tidak percaya bahwa masukannya akan ditindaklanjuti oleh penyelenggara atau penyedia pelayanan; dan 4) masyarakat tidak tahu bagaimana dan kepada siapa harus mengadu.

(9)

18 Sebagaimanayang terjadi di kalangan wali murid MTs N 2 Kota Malang tersebut.Masyarakat mengalami terbebani oleh kebijakan yang nirpengawasan.Akses mereka dalam memperoleh pendidikan dasar dipersulit oleh adanya pungli dan tarikan-tarikan yang jauh melempaui batas kemampuan mereka.

Diperlukan sinergi baik dari penyelenggara layanan dan masyarakat sebagai penerima layanan untuk bersinergi dengan baik. Pemerintah sebagai penyelenggara layanan bertanggung jawab untuk membuat dan mengawasi jalannya aturan dengan melibatkan masyarakat dalam keseluruhan proses, perencanaan, pengimplementasian dan pengevaluasian.

Di sisi lain, masyarakat harus mulai mengasah keberanian dan kemampuan untuk aktif dan kritis dalam upaya evaluasi produk dan kualias layanan yang pemerintah berikan. Peran masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam melakukan pengawasan, evaluasi dan melaporkan terhadap kinerja penyelenggara layanan agar bisa meminimalisir peluang terjadinya korupsi yang dilakukan oleh penyelenggara layanan pendidikan.

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti tertarik mengambil judul penelitian “Partisipasi Masyarakat dalam Pelayanan Publik Bidang Pendidikan (Studi tentang Upaya Advoasi yang Dilakukan Wali Murid untuk Mengakses Pendidikan Bebas Pungutan Liar (Pungli)di MTs N 2 Kota Malang)”.

1. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka dapat dirumuskan:

1) Apa saja jenis pungliyang terjadi di MTs N 2 Kota Malang?

(10)

19 2) Bagaimana langkah advokasi yang dilakukan oleh wali murid untuk mengakses

pendidikan bebas pungli di MTs N 2 Kota Malang?

2. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan di atas, maka tujuan dari penelitian ini antara lain:

1. Mengetahui dan mendeskripsikan jenis pungli yang terjadi di MTs N 2 Kota Malang.

2. Mengetahui dan mendeskripsikan langkah advokasi yang dilakukan oleh wali murid untuk mengakses pendidikan bebas pungli di MTs N 2 Kota Malang.

3. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Manfaat Keilmuan

Hasil penelitian ini menjadi bahan kajian bagi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang khususnya mahasiswa Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial yang ingin mengetahui secara jelas atau nyatabentuk partisipasi masyarakat dalam pelayanan publik bidang pendidikan di Kota Malang.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi warga dan kelompok warga sebagai bahan panduan atau instrumen untuk mengasah keberanian dan kemampuan mereka dalam melakukan upaya advokasi atas kebijakan dan aturan yang memberatkan dan menghalangi upaya mereka dalam mengakses pelayanan pendidikan di lingkungan mereka.

(11)

20 b. Bagi peneliti yang lain, hasil penelitian ini diharapkan bisa dijadikan bahan referensi dalam meneliti praktik pelibatan masyarakat di bidang pelayanan publik.

Referensi

Dokumen terkait

Diagram Alir Metode Kerja Sterilisasi Permukaan  Dicuci air mengalir 3 menit  Ditimbang rimpang sebanyak 1 gram  Direndam Etanol 70% 10 ml 2 menit  Direndam NaOCl 5,3% 10 ml

maka WEC adalah sebuah lembaga pendidikan lanjutan setelah sekolah menengah umum yang setara dengan Diploma satu, yang bertujuan mengembangkan potensi peserta

Menyelenggarakan upaya pelayanan geriatri di ruang lingkup rawat inap lingkup rawat inap geriatri kronis sesuai kebijaksanaan yang telah ditetapkan oleh katua geriatri kronis

ditunjukan kepada konsumen sebagai nilai tambah konsumen. Penelitian ini bertujuan: 1) mengetahui pelaksanaan strategi bauran pemasaran yang dilakukan rumah makan mie

Fasilitator meminta setiap peserta menemukan kata-kata atau ekspr esi yang akan mereka gunakan untuk berkomunikasi dengan baik.. Tuliskan atau gambarkan pada kartu-kartu dan mulaila

- bahasa gramatis dari segi kata dan ayat - penggunaan tanda baca betul dan tepat - penggunaan kosa kata luas dan tepat - wacana lengkap, unsur bahasa bervariasi - mesti

Kecurigaan tergadap ARDS bils didapatkan sesak napas yang berat disertai dengan infiltrat yang luas pada paru yang terjadi secara akut sementara tidak terdapat

Penilaian secara hedonik pada perlakuan terbaik memiliki aroma agak disukai dengan deskripsi aroma kulit buah jeruk purut dan seledri, panelis agak menyukai warna