• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

4

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

2.1

Tinjauan Pustaka

Faktor sosial-ekonomi di negara berkembang menjadikan penanganan masalah drainase perkotaan menjadi lebih sulit daripada di negara maju. Faktor-faktor yang menghambat adalah : (1) masih dominannya falsafah abad ke 19 dalam penanganan drainase perkotaan ; (2) sulitnya pembebasan tanah menyebabkan terbatasnya ruang bagi penanganan secara modern ; (3) kontaminasi limpasan oleh limbah, sedimen, dan sampah ; (4) faktor iklim dan sosial ekonomi mendukung tumbuh kembangnya penyakit menular akibat banjir; (5) kurangnya dasar teknologi pada desain dan pengelolaan drainase yang memadai; (6) kurangnya interaksi antara pemerintah dengan masyarakat untuk memperoleh solusi bagi permasalahan drainase perkotaan.

Kesadaran terhadap faktor-faktor penghambat ini lah yang sangat penting untuk diketahui guna menemukan solusi modern dan layak di negara-negara berkembang (Silveira, 2001).

Ada tiga pertimbangan dalam penelitian kinerja sistem drainase yang berkelanjutan berbasis partisipasi masyarakat. Pertama, masalah perkembangan kota yang berpengaruh langsung terhadap sistem drainase dan genangan banjir. Kedua, konservasi air hujan melalui konsep drainase yang berkelanjutan. Ketiga, pembangunan berbasis partisipasi masyarakat sebagai isu sentral setelah diberlakukannya UU No.32/2004 tentang ekonomi daerah. Atas pertimabangan diatas, maka dilakukan studi evaluasi sistem drainase di perumahan Josroyo Indah sebagai contoh kasus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kinerja sistem jaringan drainase pada masing-masing sub sistem, dengan melakukan

(2)

commit to user

evaluasi/penilaian kondisi jaringan drainase yang ditinjau dari 3 aspek yaitu aspek kondisi eksisting, aspek akibat pembebanan debit banjir pada kapasitas saluran dan aspek partisipasi masyarakat (Muttaqin, 2007).

Kelurahan Karame Kecamatan Singkil merupakan salah satu lokasi rawan banjir dangenangan di kota Manado Sulawesi Utara, sehingga perlu adanya penangananterhadap masalah-masalah pada sistem drainase yang ada. Permasalahan genanganpada lokasi penelitian diduga disebabkan oleh 2 faktor utama yakni meningkatnyadebit limpasan permukaan dan penurunan kinerja saluran yang ada.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk merancang suatu sistem drainase yang dapat mengatasimasalah banjir dan genangan di Kelurahan Karame.Berdasarkan hasil analisis kapasitas saluran terhadap debit rencana, diperoleh 66 ruas saluran dan 18 gorong-gorong yang tidak memenuhi syarat yaitu Qkaps≤Qrenc untuk itu perlu dilakukan penanganan ini berupa pembuatan jalur sistem drainase yang mampu mengalihkan debit limpasan dari luar kawasan penelitian sehingga tidak lagi membebani salurandalam kawasan penelitian dan melakukan penyesuaian dimensi saluran untuk memenuhi syarat yaitu Qkaps≥Qrenc(Runtuwarow, 2013).

Berdasarkan data Sub-Dinas Draianse (2006), saluran drainase di kota Surakarta umumnya berfungsi dengan baik, namun di beberapa wilayah genangan air masih sering terjadi. Salah satu wilayah tersebut adalah di Kelurahan Joyosuran,Semanggi, dan Pasar Kliwon yang termasuk Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta. Hampir setiap musim hujan, genangan air terjadi ± 100 m disebelah kanan dan ± 50 m kiri Kali Jenes yan gmelintasi di ketiga kelurahan tersebut di atas (Qomariah,2007).

Penanganan yang terintegrasi adalah kunci dalam pengelolaan drainase perkotaan.

Integrasi disini mempunya dua maksud yaitu 1) mengintegrasikan antara aspek teknis dengan aspek lingkungan, dan 2) mengintegrasikan antara aspek manusia dengan aspek teknis melalu partisipasi masyarakat. Selain itu perubahan strategi menuju

(3)

commit to user

drainase berbasis kualitas air sangat dibutuhkan di masa mendatang agar pengelolaan drainase dapat berkelanjutan (Rauch et at, 2005)

Irigasi sebagai salah satu komponen pendukung keberhasilan pembangunan pertanian mempunyai peranyang sangat penting Diperlukan beberapa analisa penting sebelum penetuan kinerja jaringan dan bangunan irigasi, sehingga harus sesuai dengan standart perencanaan. Hal ini bertujuan untuk apakah sistem jaringan irigasi tersebut layak apa tidak. Layak atau tidak layaknya suatu sistem jaringan irigasi dapat ditinjau dari beberapa analisis seperti analisis fisik meliputi kinerja dan kondisi fisik suatu jaringan irigasi.Analisa kondisi fisik meliputi kondisi fisik di Bangunan Utama, Saluran Pembawa,Bangunan Bagi/Bagi-Sadap, Saluran Pembuang dan Bangunan pada Saluran Pembuang.Hasil penelitian ini diketahui bahwa pada Daerah Irigasi Ramah Bawah tergolong baik dengan angka persentase sebesar 76,01 % berdasarkan parameter penilaian dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air pada Tahun 2003 (Yudhi, 2006).

Terjadinya genangan di perkotaan diakibatkan oleh banyak faktor, di antaranya adalah menurunnya tingkat layanan sistem drainase perkotaan sejalan dengan waktu ditambah adanya kegagalan pengelolaan drainase perkotaan.Dengan demikian sistem drainase perkotaan yang ada perlu ditingkatkan fungsinya sehingga kembali seperti semula atau mendekati semula sehingga dapat mengurangi genangan. Agar penanganan genangan menjadi efektif dan efisien diperlukan adanya suatu alat untuk menentukan skala prioritas penanganan drainase perkotaan yang sudah ada.

Sementara ini model yang dapat secara komprehensif untuk menilai tingkat layanan drainase perkotaan belum ada, apalagi bila dikaitkan dengan penentuan skala prioritas penanganan, sehingga tujuan penelitian ini adalah terciptanya suatu model yang dapat digunakanuntuk menilai tingkat layanan drainase perkotaan yang sekaligus berguna bagi penentuan skala prioritas penanganan drainase perkotaan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan(ecodrain). Dari berbagai pustaka yang ada dan hasil diskusi

(4)

commit to user

ditetapkan ”tingkat layanan drainase perkotaan” sebagai variabel latent (unobservedvariable) atau variabel yang tidak dapat diukur langsung dalam penelitian ini, dan ada enam (6)dimensi tingkat-1 yang dianggap berkontribusi signnifikan pada tingkat layanan drainase.Keenam dimensi tersebut adalah (1) manajemenair drainase perkotaan, (2) piranti lunak, (3)partisipasi pemangku kepentingan, (4)infrastruktur, (5) operasi dan pemeliharaan, (6)gangguan alam. (Andayani, 2012).

Sistem jaringan drainase merupakan salah satu infrastruktur yang penting dalam pengembangan wilayah perkotaan.Kondisi eksisting drainase Kota Parigi kurang terpelihara sehingga belum berfungsi secara maksimal dalam pengatusan air.Sampai saat ini belum ada standar penilaian untuk mengetahui kinerja fungsi bangunan drainase. Menarik dilakukan penelitian untuk mendapatkan standar penilaian yang didasarkan pada komponen-komponen penting yang ada pada jaringan drainase.

Penerapan standar penilaian pada jaringan drainase Kota Parigi akan dapat menentukan langkah pemeliharaannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komponen-komponen penting jaringan drainase yaitu bangunan outlet/muara ,bangunan pelengkap, bangunan fasilitas dan saluran drainase. Desain kriteria penilaian meliputi komponen-komponen tersebut dan diberikan bobot berdasarkan seberapa besar pengaruh komponen terhadap terjaminnya pembuangan air (Vadlon, 2011)

2.2

Landasan Teori

2.2.1 Sistem Jaringan Drainase

Air hujan yang jatuh di suatu kawasan perlu dialirkan atau dibuang, caranya dengan pembuatan saluran yang dapat menampung air hujan yang mengalir di permukaan tanah tersebut.Sistem saluran di atas selanjutnya dialirkan ke sistem yang lebih besar.

Sistem yang paling kecil juga dihubungkan denga saluran rumah tangga dan dan sistem saluran bangunan infrastruktur lainnya, sehingga apabila cukup banyak limbah

(5)

commit to user

cair yang berada dalam saluran tersebut perlu diolah ( treatment ). Seluruh proses tersebut di atas yang disebut dengan sistem drainase ( Kodoatie, 2003 ).

Bagian infrastruktur (sistem drainase) dapat didefinisikan sebagai serangkaian bangunan air yang berfungsi untuk mengurangi dan /atau membuang kelebihan air dari suatu kawasan atau lahan, sehingga lahan dapat difungsikan secara optimal.

Dirunut darihulunya, bangunan sistem drainase terdiri dari saluran penerima (interseptor drain),saluran pengumpul (colector drain ), saluran pembawa (conveyor drain ), saluran induk (main drain) dan badan air penerima (receiving waters). Di sepanjang sistem sering dijumpai bangunan lainnya, seperti gorong-gorong, siphon, jembatan air ( aquaduct ),pelimpah, pintu-pintu air, bangunan terjun, kolam tando dan stasiun pompa. Pada system drainase yang lengkap, sebelum masuk ke badan air penerima air diolah dahulu pada instalasi pengolah air limbah ( IPAL ), khususnya untuk sistem tercampur. Hanya air yang telah memliki baku mutu tertentu yang dimasukkan ke dalam badan air penerima, biasanya sungai, sehingga tidak merusak lingkungan ( Suripin, 2004 ).

Adapun fungsi drainase adalah (R. J. Kodoatie, 2003) :

1. Membebaskan suatu wilayah (terutama yang padat dari permukiman) dari genangan air, erosi dan banjir.

2. Karena aliran lancar maka drainase juga berfungsi memperkecil resiko kesehatan lingkungan, bebas dari malaria (nyamuk) dan penyakit lainnya.

3. Kegunaan tanah permukiman padat akan menjadi lebih baik karena terhindar dari kelembaban.

4. Dengan sistem yang baik tata guna lahan dapat dioptimalkan dan juga memperkecil kerusakan-kerusakan struktur tanah untuk jalan dan bangunan lainnya.

(6)

commit to user

Sistem jaringan drainase di dalam wilayah kota dibagi atas 2 (dua) bagian yaitu (R.J.

Kondoatie, 2003):

1. Sistem Drainase Mayor

Sistem drainase mayor yaitu sistem saluran/badan air yang menampung dan mengalirkan air dari suatu daerah tangkapan air hujan (Catchment Area). Pada umumnya sistem drainase mayor ini disebut juga sebagai sistem saluran pembuangan utama (major system) atau drainase primer. Sistem jaringan ini menampung aliran yang berskala besar dan luas seperti saluran drainase primer, kanal-kanal atau sungai-sungai. Perencanaan drainase makro ini umumnya dipakai dengan periode ulang antara 5 sampai 10 tahun dan pengukuran topografi yang detail mutlak diperlukan dalam perencanaan sistem drainase ini.

2. Sistem Drainase Mikro

Sistem drainase mikro yaitu sistem saluran dan bangunan pelengkap drainase yang menampung dan mengalirkan air dari daerah tangkapan hujan. Secara keseluruhan yang termasuk dalam sistem drainase mikro adalah saluran disepanjang sisi jalan, saluran/selokan air hujan di sekitar bangunan, gorong- gorong, saluran drainase kota dan lain sebagainya dimana debit air yang dapat ditampungnya tidak terlalu besar. Pada umumnya drainase mikro ini direncanakan untuk hujan dengan kala ulang 2, 5 atau 10 tahun tergantung pada tata guna lahan yang ada. Sistem drainase untuk lingkungan permukiman lebih cenderung sebagai sistem drainase mikro. Dari segi konstruksinya sistem drainase mikro dibedakan menjadi dua bagian yaitu sistem saluran tertutup dan saluran terbuka.

(7)

commit to user 2.2.2 Kinerja Sistem Jaringan Drainase

Kinerja adalah pengukuran tingkat keefektifan yang menghubungkan kualitas produk dengan produktivitasnya dengan kata lain kinerja adalah hal yang digunakan untuk mendiskripsikan kerja,produk dan karakter umum serta proses.

Kinerja sistem jaringan drainase adalah bagaimana hasil sistem drainase yang sudahdibangun dapat mengatasi permasalahan genangan. Berdasarkan rencana induk penyusunan sistem jaringan drainase perkotaan yang harus diperhatikan dalam perencanaan sisem jaringan drainase adalah aspek teknis, aspek operasi pemeliharaan, dan aspek pengelolaan(Ditjen Tata Perkotaandan Tata Perdesaan, 2003).

2.2.3 Konsep Sistem Jaringan Drainase yang Berkelanjutan

Berdasarkan prinsip pengertian sistem drainase diatas yang bertujaun agar tidak terjadi banjir di suatu kawasan, ternyata air juga merupakan sumber kehidupan.

Bertolak dari hal tersebut, maka konsep dasar pengembangan sistem drainase yang berkelanjutan adalah meningkatkan daya guna air, meminimalkan kerugian, serta memperbaiki dan konservasi lingkungan. Untuk itu diperlukan usaha-usaha yang komprehensif dan integratif yang meliputi seluruh proses, baik yang bersifat struktural maupun non struktural, untuk mencapai tujuan tersebut ( Suripin, 2004 ).

Sampai saat ini perancangan drainase didasarkan pada filosofi bahwa air secepatnya mengalir dan seminimal mungkin menggenangi daerah layanan. Tapi dengan semakin timpangnya perimbangan air ( pemakaian dan ketersedian ) maka diperlukan suatu perancangan draianse yang berfilosofi bukan saja aman terhadap genangan tapi juga sekaligus berasas pada konservasi air ( Sunjoto, 1987 dalam Andayani 2012).

Konsep Sistem Drainase yang Berkelanjutan prioritas utama kegiatan harus ditujukan untuk mengelola limpasan permukaan dengan cara mengembangkan fasilitas untuk menahan air hujan. Berdasarkan fungsinya, fasilitas penahan air hujan dapat

(8)

commit to user

dikelompokkan menjadi dua tipe, yaitu tipe penyimpanan dan tipe peresapan (Suripin, 2004).

2.2.4 Bangunan Pelengkap Saluran Drainase

Bangunan pelengkap saluran drainase diperlukan untuk melengkapi suatu sistem saluran untuk fungsi-fungsi tertentu. Pada dasarnya bangunan pelengkap draianse haruslah kuat, fungsional, tidak menyebabkan ketidaknyamanan berkendaraan, dan tidak merusak keindahan kota. Adapun bangunan-bangunan pelengkap sistem drainase antara lain :

1. Manholes/Inspection Chambers/Lubang Kontrol.

Bangunan ini banyak ditemui disepanjang jalan di kota-kota Indonesia, umumnya bangunan tersebut awalnya dibangun di tepi jalan, oleh karena perkembangan lalu lintas, jalan semakin lebar, maka posisi lubang kontrol lambat-laun berada disekitar tengah jalan perkotaan. Adapun fungsi bangunan mainhole adalah :

a. Sebagai jalan masuk (access) untuk pemeriksaan dan pembersihan terhadap sampah dan endapan.

b. Untuk perbaikan terhadap kerusakan sistem saluran dan pemeriksaan lainlain.

c. Untuk penyambungan pipa dengan penggabungan- penggabungan instalasi baru.

2. Inlets (bak-bak/lubang pengumpul)

Bangunan ini merupakan lubang untuk aliran masuk (inlet) limpasan air hujan, bisa jadi untuk saluran kombinasi. Diletakkan pada saluran/ got pada permukaan terendah dari suatu area tampungan, juga pada perempatan jalan, pada titik-titik terendah di area perkampungan untuk mencegah genangan air hujan.

(9)

commit to user 3. Clean-Outs (lubang-lubang pembersih)

Sebagai pengganti manhole, dan oleh karena alasan ekonomis, beberapa kota membangun clean-out (lubang pembersih) jika diameter pipa saluran relatif kecil, jika terjadi buntu/mampat pada pipa saluran cukup dibersihkan dengan menggunakan batang pembersih atau baja fleksibel, atau jika perlu penggelontoran pada pipa saluran, cukup disemprot dengan slang blamweer/pemadam kebakaran. Lubang pembersih dapat digunakan  15 – 20 cm, dengan pemasangan interval 75 – 90 m pada saluran lurus, kecuali pada persimpangan pipa saluran, perubahan arah pipa saluran maupun pada perubahan kemiringan pipa saluran, harus dipasang.

4. Catch-Basins/watershed

Bangunan dimana air masuk kedalam sistem saluran tertutup. Air mengalir bebas diatas permukaan tanah menuju catch basin. Mempermudah air masuk, lokasi catch basin ditetapkan pada tempat yang rendah. Permukaan juga dibuat lebih rendah dari tanah disekelilingnya. Catch basin dibuat pada tiap persimpangan jalan, pada tempat-tempat yang rendah, tempat parkir.

5. Flushing Devices (Bangunan/perlengkapan penggelontor)

Pipa saluran dengan jumlah aliran yang cukup, kemiringan pipa saluran yang semestinya serta kehalusan permukaan pipa saluran yang cukup baik, tidak diperlukan penggelontoran. Akan tetapi masih banyak sistem saluran yang sudah tua tidak dalam kondisi tersebut diatas, sehingga perlu pengaturan dengan skema baru dengan cara penggelontoran. Penggelontor dapat dilengkapi dengan tangki gelontor otomatis atau penggelontor manual yaitu pada manhole yang memiliki daya tampung yang cukup untuk penggelontoran dimana manhole tersebut dilengkapi slot pintu gelontor dari kayu atau besi,

(10)

commit to user

penggelontoran pipa saluran dapat pula dilakukan dengan menyemprotkan air dari hidran pemadam (Fire Hydrant).

6. Junctions (persimpangan-persimpangan/pertemuan pipa saluran).

Persimpangan-persimpangan pipa saluran dengan ukuran yang relatif kecil dibuatkan/dipasang manhole, akan tetapi untuk persimpangan dengan pipa saluran yang berukuran relatif besar, tanpa menggunakan manhole, juga persimpangan antara pipa saluran ukuran besar dengan ukuran kecil.

7. Inverted Siphon (sipon).

Dalam pekerjaan air buangan, istilah sipon merupakan pipa saluran yang meneruskan saluran terbuka yang terputus karena halangan, seperti jalan kereta api, jalan kereta bawah tanah, sungai, lembah dan lain-lain. Sehingga dapat disebut pipa saluran yang meneruskan aliran secara gravitasi dari satu titik yang lebih tinggi di hulu menuju ke titik yang lebih rendah di hilir.Oleh karena aliran di dalam sipon merupakan aliran secara gravitasi dan bertekanan, maka bahan pipa yang digunakan harus cukup kuat untuk menerima tekanan air yang ada didalamnya. Bahan pipa yang digunakan dapat berupa pipa besi tuang (cast-iron) atau pipa baja dimana pipa dengan bahan- bahan tersebut yang sering digunakan. Bahan pipa lainnya adalah beton bertulang, pipa beton pratekan (pre-stressed) dan pipa-pipa tekan semen asbes (asbestos-cement pressure pipes).

8. Pump Stations (stasiun-stasiun pompa)

Di dalam sistem drainase, pekerjaan pemompaan sebaiknya dihindari, kecuali diperlukan atau menunjukkan suatu keuntungan tersendiri dalam perhitungan ekonomi secara menyeluruh,Stasiun-stasiun pompa untuk mencegah banjir, banyak dibangun pada kota-kota di Indonesia, terutama kota-kota dimana pada titik-titik tertentu permukaan tanah lebih rendah sehingga air (terutama

(11)

commit to user

air hujan, selain limbah domestik) tergenang, tidak dapat mengalir ke pembuangan semestinya (sungai atau laut ).Jenis-jenis pompa yang digunakan untuk pekerjaan drainase meliputi :

a. Pompa Resiprokating (Reciprocating Pumps)

 Pompa Angkat (Lift Pumps)

 Pompa Penguat (Force Pumps) b. Pompa Sentrifugal (Centrifugal Pumps)

 Pompa Volut (Volute Pumps)

 Pompa Aksial (Axial Flow Pumps)

c. Rangkaian Air-Operated (Air-operated Devices)

 Pemancar air buangan (Sewage Ejectors)

 Pengangkat udara (Air Lifts)

9. Regulators (pengatur aliran/pintu-pintu air)

Suatu regulator maksudnya adalah mengelakkan aliran air buangan dari satu saluran menuju saluran lainnya. Regulator biasanya digunakan jikalau aliran air buangan mencapai suatu jumlah yang diperkirakan sebelumnya. Hal itu akan terjadi penngelakan air buangan kedalam saluran lainnya bilamana muka air buangan tersebut lebih tinggi dari bibir pengelak. Regulator kebanyakan digunakan dimana saluran sistem kombinasi mengalir di persimpangan.

Regulator dapat berupa pengelak (lubang pengelak) dimana elevasi bibir pengelak lebih tinggi dari muka air buangan yang mengalir didalam saluran selama musim kering, dan elevasi bibir pengelak dapat direncanakan misalnya 2/3 tinggi aliran maksimum atau 2/3 tinggi diameter dalam pipa saluran atau disesuaikan dengan tinggi muka air yang mengalir dalam pipa saluran dimana aliran pada hujan maksimum terjadi sehingga buangan air hujan tersebut dapat dielakkan kedalam pengelak. Dapat pula dipasang pintu air dari konstruksi kayu (terutama pada saluran terbuka maupun pintu air dari baja), pada pipa

(12)

commit to user

saluran dapat berupa katub-katub (valves), dimana fungsi saluran pengelak tersebut selain untuk mengelakkan aliran jika terjadi buntu pada saluran utama, juga dapat digunakan untuk menggelontor saluran kombinasi (membersihkan dasar saluran dari endapan tanah maupun pasir).

2.2.5 Penetapan Bobot Penilaian Kinerja Sistem Irigasi

Untuk penetapan kriteria penilaian kinerja sistem irigasi maka ditetapkan bobot maksimal penilaian setiap aspek dan indikatornya dapat dilihat pada Tabel 2.1 . Tabel 2.1. Bobot Maksimal Setiap Aspek dan Indikatornya (Permen PU Nomor

32/PRT/M/2007)

ASPEK NILAI BOBOT

MAKSIMUM

Jumlah 100

1. Aspek Kondisi Sarana Fisik 45

- Kondisi Bangunan Utama 13

- Kondisi saluran Pembawa 10

- Kondisi Bangunan pada Saluran Pembawa 9

- Kondisi Saluran Pembuang dan Bangunannya 4

- Kondisi Jalan Inspeksi 4

- Kondisi Kantor Dinas, Perumahan Dinas dan Prasarana

Gudang 5

2. Aspek Produktifitas Tanam 15

- Kondisi Kebutuhan Air Irigasi (faktor k) 9

- Kondisi Realisasi Luas Tanam 4

- Kondisi Produktifitas Tanam Padi 2

3. Aspek Sarana Penunjang 10

- Kondisi Peralatan Operasional dan Pemeliharaan Jaringan

Irigasi 4

- Kondisi Alat Transportasi 2

- Kondisi Alat-alat Kantor Pelaksana Operasi dan

Pemeliharaan Jaringan Irigasi 2

- Kondisi Alat Komunikasi 2

(13)

commit to user

ASPEK NILAI BOBOT

MAKSIMUM

4. Aspek Organisasi Personalia 15

- Penyusunan Tugas dan Tanggungjawab Personil

Pelaksana Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi 5 - Susunan Organisasi Pelaksanaan Operasi dan

Pemeliharaan Jaringan Irigasi 10

5. Aspek Dokumentasi 5

- Ada Buku Data Daerah Irigasi 2

- Peta dan Gambar-Gambar Jaringan Irigasi dan Gambar

Pelaksanaan Operasional dan Pemeliharaan 3

6. Aspek Kondisi P3A 10

- Status Badan Hukum IP3A/GP3A 1.5

- Kondisi Perkembangan Kelembagaan IP3A/GP3A 0.5

- Frekuensi Rapat/Pertemuan 2

- Aktivitas P3A dalam mengikuti Penelusuran Jaringan

Irigasi 1

- Partisipasi P3A dalam Perbaikan jaringan Irigasi dan

Bencana Alam 2

- Iuran P3A untuk Perbaikan Jaringan Irigasi Tersier 2 - Partisipasi P3A dalam Perencanaan Pola dan Rencana

Tata Tanam dan Alokasi Air Irigasi 1

Sumber : Permen PU Nomor 32/PRT/M/2007

2.2.6 Komponen Penilaian Kondisi Fisik Jaringan Drainase dan Pembobotan Komponen penilaian kondisi fisik jaringan drainase disusun berdasarkan rujukan pada pedoman penilaian kondisi jaringan irigasi yang dikeluarkan oleh Subdit Bina Program Ditjen Air, Jakarta, 1999. Komponen penilaian jaringan drainase ditunjukan pada Tabel 2.2 berikut (Vadlon, 2011). :

(14)

commit to user

Tabel 2.2.Desain Penilaian Bangunan Outlet/Muara pada Jaringan Drainase

No Bangunan

Kondisi Bangunan Baik

Kondisi rata-rata aspek 80% - 100%

Cukup Kondisi rata-rata aspek 50% - 79%

Rusak Kondisi rata-rata

aspek 0% - 49%

1 Pintu Outlet - Pintu/Pintu

Outlet

- Semua pintu dapat dioperasikan dengan baik, secara mekanis dan hidrolis

- Terdapat atap pelindung dan Pengaman pintu outlet

- Semua daun pintu yang terpasang tidak bocor

- Terdapat petunjuk manual operasi pintu - Semua pintu dicat

- Sebagian pintu tidak dapat dioperasikan dengan lancar - Atap pelindung dan

pengaman pintu sebagian ada yang rusak

- Daun pintu yang terpasang dijumpai kebocoran

- Terdapat petunjuk manual operasi pintu yang tidak lengkap - Sebagian cat pintu

sudah mengelupas

- Semua pintu tidak dapat dioperasikan dengan lancar - Tidak terdapat atap

pelindung dan pengaman pintu - Daun pintu yang terpasang bocor - Tidak terdapat

petunjuk manual operasi pintu - Cat semua pintu

hampir pudar

- Endapan/

Lumpur

- Endapan di depan pintu tidak setinggi ambang pintu outlet - Mudah/selaludikuras

secara berkala

- Endapan di depan pintu mencapai tinggi ambang pintu outlet

- Tidak selalu dikuras secara berkala

- Endapan sering melampaui ambang pintu outlet

- Sulit/tidak pernah/

jarang dikuras

2 Parapet - Konstruksi parapet masih baik dan berfungsi

- Parapet mempunyai tinggi jagaan yang cukup untuk mencegah air melimpah (over topping) selama masa operasi

- Konstruksi parapet terdapat beberapa kerusakan, tetapi masih berfungsi - Elevasi muka air

maksimum operasi masih dalam batas jagaan yang diizinkan

- Konstruksi parapet tidak berfungsi lagi

- Tinggi parapet tidak memenuhi syarat untuk elevasi air

maksimum selama operasi

3 Tanggul Laut/Muara - Stabilitas

tebing tanggul

- Stabilitas tanggul baik dan memenuhi syarat

- Stabilitas tanggul memenuhi syarat

- Stabilitas tanggul tidak memenuhi syarat

- Jagaan tanggul

- Memiliki jagaan yang cukup untuk mencegah limpasan

- Muka air maksimum masih berada pada batas jagaan

- Tinggi jagaan tidak memenuhi syarat untuk elevasi air maksimum Sumber : Desain Kriteria Penilaian Jaringan Drainase (Vadlon,2011)

(15)

commit to user

Setiap komponen dibagi menjadi beberapa sub komponen yang lebih kecil, yang masing-masing perlu dinilai kondisinya. Setiap komponen akan memberikan kontribusi nilai kondisi terhadap komponen bangunan jaringan drainase secara keseluruhan. Kontribusi setiap komponen jaringan drainase terhadap keseluruhan fisik jaringan drainase mempunyai bobot yang tidak sama. Bobot setiap komponen disusun atas dasar besarnya pengaruh setiap komponen bangunan tersebut terhadap terjaminnya pembuangan air. Bobot yang besar adalah bobot yang paling dominan, sedangkan infrastruktur yang tidak dominan menjamin pembuangan air bobotnya kecil. Bobot setiap komponen jaringan drainase disusun dengan menggunakan cara yang sama sebagaimana penyusunan bobot komponen irigasi, seperti ditunjukkan pada Tabel 2.2

Tabel 2.2. Bobot Komponen Drainase

No Bangunan Irigasi Drainase

1 Bangunan Utama Bendung 35% Bangunan

outlet/muara 35%

2 Bangunan di saluran

- Bangunan bagi/sadap 25%

Bangunan

pelengkap 30%

- Bangunan pada saluran

5%

3 Saluran Saluran pembuang 10% Bangunan fasilitas 10%

Saluran pembawa 25% Saluran drainase 25%

Sumber : Desain Kriteria Penilaian Jaringan Drainase (Vadlon,2011)

Bobot untuk setiap komponen jaringan drainase tersebut merupakan gabungan dari masing-masing komponen penyusunnya. Komponen bangunan yang ada pada masing-masing bobot dikalikan dengan jumlah bobot komponen bangunan kemudian dibagi dengan bobot komponen jaringan drainase. Dengan demikian bobot untuk masing-masing sub komponen terkecil dapat diketahui. Distribusi komponen dan bobot pada jaringan drainase ditunjukkan pada Gambar 2.1.

(16)

commit to user

Gambar 2.1. Distribusi Komponen dan Bobot pada Jaringan Drainase (Vadlon,2011)

(17)

commit to user

Metode perhitungan penilaian kondisi fisik jaringan drainase secara keseluruhan didapatkan dengan menghitung kondisi bangunan outlet/muara (%), bangunan pelengkap (%), bangunan fasilitas (%) dan saluran drainase (%) dengan metode perhitungan sebagai berikut (Vadlon, 2011):

Kondisi Jaringan Drainase dihitung dengan :

KJD = Kbom + Kbp + Kbf + Ksd ... (2.1) dengan :

KJD = Kondisi Jaringan Drainase (%), Kbom = Kondisi bangunan outlet/muara (%), Kbp = Kondisi bangunan pelengkap (%), Kbf = Kondisi bangunan fasilitas (%), Ksd = Kondisi saluran drainase (%).

Kondisi Bangunan Outlet/Muara dihitung dengan :

Kbom = Kbom(bom)1 + Kbom(bom)2 + Kbom(bom)n ... (2.2) dengan :

Kbom = Kondisi bangunan outlet/muara (%),

Kbom(bom)1 = Kondisi rata-rata bangunan outlet/muara 1 (%), Kbom(bom)2 = Kondisi rata-rata bangunan outlet/muara 2 (%), Kbom(bom)n = Kondisi bangunan outlet/muara (n) (%).

Kondisi Bangunan Pelengkap dihitung dengan :

Kbp = Kbp (bp)1 + Kbp (bp) 2 + Kbp (bp) n ... (2.2) dengan :

Kbp = Kondisi bangunan pelengkap (%),

Kbp (bp)1 = Kondisi rata-rata bangunan pelengkap 1 (%), Kbp (bp)2 = Kondisi rata-rata bangunan pelengkap 2 (%), Kbp (bp) n = Kondisi rata-rata bangunan pelengkap (n) (%).

(18)

commit to user Kondisi Bangunan Fasilitas dihitung dengan :

Kbf = Kbf (bf)1 + Kbf (bf) 2 + Kbf (bf) n ... (2.3) dengan :

Kbf = Kondisi bangunan fasilitas (%),

Kbf (bf)1 = Kondisi rata-rata bangunan fasilitas 1 (%), Kbf (bf)2 = Kondisi rata-rata bangunan fasilitas 2 (%), Kbf (bf) n = Kondisi rata-rata bangunan fasilitas (n) (%).

Kondisi Saluran Drainase dihitung dengan :

Ksd = Ksd (sd)1 + Ksd (sd) 2 + Ksd (sd) n ... (2.4) dengan :

Ksd = Kondisi saluran drainase (%),

Ksd (sd)1 = Kondisi rata-rata saluran drainase 1 (%), Ksd (sd)2 = Kondisi rata-rata saluran drainase 2 (%), Ksd (sd) n = Kondisi rata-rata saluran drainase (n) (%).

2.2.7 Partisipasi Masyarakat Dalam Pengelolaan Sistem Drainase

Dalam rangka otonomi daerah, pemerintah pusat telah memberikan kesempatan dan keleluasan kepada daerah untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat. Pasal 10 ayat 1 UU No.32/2004 tentang Otonomi Daerah, menetapkan bahwa daerah berwenang mengelola sumber daya alam yang tersedia di wilayahnya dan bertanggung jawab memelihara kelestarian lingkungan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Secara konseptual perubahan kebijakan regional terutama diarahkan untuk ( Situmorang 1999, dalam Muttaqien 2006 ) :

1. Meningkatkan demokrasi manajemen

2. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam manajemen pembangunan daerah

(19)

commit to user

3. Meningkatkan pemerataan dan keadilan pembangunan daerah.

4. Memperhatikan keanekaragaman daerah dalam pembangunan daerah.

5. Memperhatikan potensi daerah dalam proses pengelolaan pembangunan daerah.

Pelaksanaan otonomi daerah dimaksudkan untuk pemberdayaan daerah, baik dalam mengelola Pendapatan Asli Daerah (PAD) maupun penanggulangan permasalahan yang ada di daerah. Salah satu permasalahan yang sering timbul di daerah adalah banjir, baik di perkotaan, kawasan pemukiman, maupun di pedesaan ( areal pertanian ), dimana memerlukan penanganan secara teknis maupun pendanaan yang besar, yang harus dilaksanakan oleh pemerintah dan peran serta masyarakat.

Masyarakat yang dimaksud di sini yaitu seluruh masyarakat yang ada baik di pedesaan, perkotaan, di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) maupun di hilir, kaya atau miskin, akademisi atau non akademisi, bahkan semua insan yang mempunyai hubungan dengan air. ( Sobriyah dan Wignyosukarto, 2001 dalam Muttaqien 2006 ).

Partisipasi masyarakat dalam setiap tahap pembangunan ( sistem jaringan drainase ) menurut Pranoto SA, 2005 dalam Muttaqien 2006. Dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Survey dan Investigasi : memberi informasi lokasi dan kondisi setempat.

2. Perencanaan : persetujuan, kesepakatan, penggunaan.

3. Pembebasan tanah : memberi kemudahan, memperlancar proses.

4. Pembangunan : membantu pengawasan dan terlibat dalam pelaksanaan.

5. Operasi dan pemeliharaan : terlibat dalam pelaksanaan, ikut memelihara,melaporkan jika ada kerusakan.

6. Monitoring dan evaluasi : memberikan data yang nyata di lapangan tentang dampak yang terjadi pasca pembangunan.

(20)

commit to user

Dari pengertian dan kriteria tentang partisipasi masyarakat di atas, pada skripsi ini akan dianalisis tingkat partisipasi masyarakat di lokasi studi, dan peran serta kelembagaan menurut pandangan masyarakat dalam hal ini ditunjukkan pada :

1. Persentase tingkat partisipasi kelembagaan 2. Persentase tingkat partisipasi masyarakat

Kedua parameter partisipasi di atas akan didapat dari wawancara dengan Pengurus RT / RW di lingkungan lokasi studi dan Kepala Bidang Drainase Dinas Pekerjaan Umum Surakarta kemudian dilanjutkan dengan penyampaian kuisioner kepada masyarakat sebagai rensponden.

2.2.8 Populasi dan Sampel

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas : obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2003).

Salah satu teknik pengambilan sampel adalah Simple Random Sampling yaitu mengambil anggota sampel secara acak dari populasi yang ada, sedangkan metode yang dapat digunakan untuk menentuan jumlah sampel diantaranya adalah metode Slovin. Persamaan yang digunakan adalah berikut (Riduwan, 2008) :

... (2.5)

dengan,

n = jumlah sampel, N = jumlah populasi,

d = standar error/tingkat kesalahan.

(21)

commit to user 2.2.9 Validitas dan Reliabilitas

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat keandalan suatu alat ukur.

Uji validitas dimaksudkan untuk mengetahui kualitas, ketepatan atau kecermatan suatu instrumen yang digunakan untuk mengukur apa yang ingin diukur. Suatu item pertanyaan dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi jika mempunyai korelasi yang tinggi terhadap score total item (Dwi Priyatno, 2008).

Koefisien korelasi Product Moment Pearson dapat dicari dengan menggunakan Persamaan 2.2 sebagai berikut (Dwi Priyatno, 2008) ;

∑ ∑ ∑

√[ ∑ ][ ∑ ] ... (2.6) dengan,

rhitung = koefisien korelasi

i = skor item

x = skor total/seluruh item

n = jumlah responden

Untuk menguji validitas instrumen, dicari dengan mengkorelasikan setiap butir alat ukur dengan skor total. Untuk item pertanyaan yang mempunyai nilai rhitung lebih besar dari nilai rtabel (Lampiran 3) dapat dikatakan item pertanyaan tersebut valid.

Untuk nilai rhitung lebih kecil dari nilai rtabel dapat dikatakan item pertanyaan tersebut tidak valid sehingga harus diperbaiki atau dikeluarkan (Dwi Priyatno, 2008).

Uji reliabelitas digunakan untuk mengetahui konsistensi instrumen/kuisioner yang digunakan sebagai alat ukur. Apakah alat ukur yang digunakan dapat diandalkan dan tetap konsisten atau memiliki stabilitas yang baik dan tetap menunjukan hasil yang tetap bila pengujian diulang. Uji reliabilitas yang digunakan dalam penelitian adalah dengan metode Alpha Cronbach’s dengan Persamaan 2.3 berikut (Dwi Priyatno, 2008) :

(22)

commit to user

[ ] [ ] ... (2.7) dengan,

r11 = Nilai reliabilitas instrumen, k = banyaknya butir pertanyaan

∑ = jumlah varian butir

= Varian total

Instrumen dapat dikatakan reliabel bila nilai Alpha (rhitung) lebih besar dari rtabel. Nilai reliabelitas kurang dari 0,60 adalah kurang baik, 0,70 dapat diterima dan diatas 0,80 adalah baik (Dwi Priyatno, 2008).

2.2.10 Analisis Data Deskriptif Kualitatif

Analisis data yang menggunakan teknik deskriptif kualitatif memanfaatkan persentase merupakan langkah awal dari keseluruhan proses analisis. Persentase yang dinyatakan dalam bilangan sudah jelas merupakan ukuran yang bersifat kuantitatif.

Jadi pernyataan persentase bukan hasil analisis kualitatif. Analisis kualitatif tentu harus dinyatakan dalam sebuah predikat yang menunjuk pada pernyataan keadaan,ukuran, atau kualitas (Arikunto, 2010)

Berdasarkan pendapat di atas, pada penelitian ini agar diperoleh hasil analisis kualitatif maka dari perhitungan persentase kemudian dimasukkan ke dalam tiga kategori predikat. Menurut Arikunto (2010) kategori predikat tersebut yaitu seperti pada Tabel 2.3 berikut:

Tabel 2.3.Kategori Predikat

No Interval Kategori

1 80 – 100% Baik/Tinggi 2 50 – 79 % Cukup/Sedang 3 0 – 49 % Kurang/Rendah Sumber : Arikunto, 2010

(23)

commit to user 2.2.11 Skala Perhitungan Kuesioner

Penilaian pada setiap jawaban dari item-item pertanyaan dalam kuesioner dalam penelitian dapat dihitung dengan menggunakan 4 skala (Sugiyono, 2008) yaitu :

a. Skala Linkert

Skala linkert sering digunakan untuk mengungkapkan sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang kejadian atau gejala sosial.

Jawaban setiap item instrumen yang menggunakan skala Linkert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif atau sebaliknya. Instrumen penelitian yang menggunakan skala Linkert dapat dibuat dalam bentuk checklist ataupun pilihan ganda.Perhitungan skala Linkert dapat dilakukan secara manual maupun menggunakan aplikasi SPSS dan LISREL.Cara menghitung hasil pengamatan secara manual menggunakan penskoran Skala Linkert adalah dengan mengalikan jumlah responden dengan masing-masing bobot skor item, setelah dihitung skor masing-masing item kemudian dijumlahkan. Untuk menginterpretasikan skor total hasil pengamatan yaitu dengan membagi skor hasil perhitungan kuesioner dengan total skor tertinggi.

b. Skala Guttman

Skala Guttman digunakan untuk mengukur instrumen dengan item jawaban tegas, yaitu “ya-tidak”, “benar-salah” dan lain-lain. Instrumen penelitian yang menggunakan skala Guttman dapat dibuat dalam bentuk checklist ataupun pilihan ganda. Perhitungan menggunakan skala Guttmen dilakukan seperti pada skala Linkert.

c. Semantic Differensial

Skala pengukuran semantic diffrensial dikembangkan oleh Osgood. Skala ini digunakan untuk mengukur sikap, hanya bentuknya tidak pilihan ganda maupun checklist tetapi tersusun dalam satu garis kontinum.

d. Rating Scale

(24)

commit to user

Rating Scale merupakan skala yang digunakan untuk menghitung skor item kuesioner dengan data mentah diperoleh dalam bentuk angka kemudian ditafsirkan dalam pengertian kualitatif.

Referensi

Dokumen terkait

Profil yang telah dibuat ditumpang tindihkan (overlay) dengan penampang impedansi akustik hasil inversi seismik untuk melihat penyebaran litologi reservoir pada

Roscoe Davis adalah “Sistem Informasi merupakan suatu sistem di dalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi harian, mendukung operasi,

Pada saat transformator memberikan keluaran sisi positif dari gelombang AC maka dioda dalam keadaan forward bias sehingga sisi positif dari gelombang AC tersebut

Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna pada skor selisih jumlah eosinofil dan selisih jumlah neutrofil antara kelompok

Pada waktu kuliah beliau hanya mendaftar di FISIP UI, hal ini karena beliau merupakan seorang yang kagum terhadap ayahnya sendiri yang seorang diplomat dan ingin seperti ayahnya,

Berdasarkan observasi, objek kajian belum memiliki sertifikasi dari Lembaga Ekolabel Indonesia, sehingga hasil yang dicapai dari kriteria kayu bersertifikat adalah

[r]

Taka Turbomachinery Indonesia tidak terlepas dari faktor bahaya yang ada di lingkungan kerja di Central Gas Turbine Area Duri seperti adanya bahaya fisik yaitu adanya