• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI Economic Value Added (EVA)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI Economic Value Added (EVA)"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat dan tuntutan pasar ekonomi dunia mendorong para ahli untuk mengemukakan dan mengembangkan alat ukur lain yang lebih akurat dalam mengukur kinerja perusahaan. Hal ini dikarenakan juga adanya dorongan oleh para investor dan penyedia dana agar mempunyai acuan yang lebih tepat untuk dipertanggungjawabkan keakuratannya dalam mengalokasikan dananya. Salah satu bentuk pengembangan alat ukur kinerja perusahaan adalah konsep EVA. EVA lahir untuk menutupi berbagai kelemahan akibat distorsi-distorsi dari pengukuran kinerja yang sudah ada. Octora, Salim, dan Petrolina (2003:439) menyatakan bahwa distorsi-distorsi tersebut terdiri dari:

1. Distorsi Akuntansi

Kelemahan utama dari pengukuran yang sudah ada berasal dari metode dan perlakuan akuntansi yang digunakan dalam laporan keuangan. Data laporan keuangan sangat ditentukan oleh metoda akuntansi yang digunakan, sehingga perbedaan dalam metode tersebut akan memberikan hasil yang berbeda.

2. Distorsi Nilai

Adanya penggunaan nilai buku dengan basis data historis dalam rangka penyelenggaraan kegiatan akuntansi, yang berakibat hasil yang diperoleh tidak mencerminkan nilai yang ada sekarang. Kondisi ini menyebabkan pengukuran kinerja menjadi tidak akurat.

3. Distorsi Lainnya

Perhitungan laba tidak memperhitungkan risiko, yang tercermin dalam biaya modal perusahaan, terutama biaya atas penggunaan modal dana ekuitas. padahal setiap penggunaan suatu dana akan memberikan konsekuensi pada terjadinya biaya, sehingga tidak menggambarkan kekayaan perusahaan yang sesungguhnya.

(2)

Nilawati (2004:151) menyatakan EVA saat ini dikenal sebagai salah satu konsep manajemen yang cukup dikenal luas di kalangan dunia usaha Amerika Serikat. Langkah sukses Coca Cola mengadopsi EVA sejak tahun 1983 diikuti oleh 200 perusahaan besar di negeri tersebut. EVA selain sebagai alat ukur kinerja sebuah perusahaan juga dapat digunakan sebagai basis pemberian bonus bagi karyawan yang ada pada divisi-divisi yang memiliki tingkat atau nilai EVA positif. Surya (2002) menyatakan bahwa EVA sebetulnya bukanlah konsep yang baru bagi para ekonom, EVA telah lama dikenal sebagai economic profit, yaitu nilai profit yang melebihi (kurang dari) tingkat pengembalian minimum yang bisa diperoleh (diderita) oleh pemegang saham dan kreditur yang berinvestasi di sekuritas lain, yang mempunyai risiko sebanding (opportunity cost). Di pihak lain, Fardiansyah (2003:56) menyatakan bahwa EVA adalah ukuran yang secara akurat mampu mengukur penciptaan nilai bagi kekayaan para pemegang saham.

Octora et al. (2003:439) menyatakan bahwa EVA adalah alat ukur kinerja perusahaan yang mementingkan penggunaan biaya modal yang digunakan perusahaan dalam operasionalnya. Berbeda dengan pengukuran kinerja akuntansi yang tradisional, cara EVA mengukur kinerja perusahaan adalah dengan mengurangi laba operasi setelah pajak dan biaya modal aktual. Para investor menyukai EVA karena metode ini mengkaitkan laba dengan sejumlah sumber daya yang diperlukan untuk memperoleh laba tersebut. EVA merupakan indikator tentang adanya penciptaan nilai dari suatu investai. Penggunaan EVA lebih memfokuskan perusahaan pada penciptaan nilai perusahaan.

Hanafi (2004:52) menyatakan EVA merupakan ukuran kinerja yang menggabungkan perolehan nilai dengan biaya untuk memperoleh nilai tersebut.

Kelebihan EVA untuk memberikan manfaat bagi pengukuran kinerja membuat perusahaan lebih memperhatikan struktur modal yang dapat digunakan untuk mengidentifikasikan kegiatan atau proyek yang memberikan pengembalian tingkat tinggi daripada modal. Penilaian kinerja dengan menggunakan EVA membuat para manajer akan berpikir dan bertindak seperti halnya pemegang saham, yaitu memaksimumkan tingkat pengembalian dan meminimumkan tingkat biaya modal sehingga nilai perusahaan dapat dimaksimumkan.

(3)

Menurut Mirza (1997) seperti yang dikutip oleh Mulia (2002:133), keunggulan yang dimiliki EVA sebagai alat pengukur kinerja adalah sebagai berikut:

1. EVA memfokuskan penilaiannya terhadap nilai tambah dengan memperhitungkan biaya modal sebagai risiko investasi.

2. EVA dapat diterapkan secara mandiri tanpa memerlukan data pembanding dari perusahaan lain maupun standar industri sebagaimana konsep analisis rasio keuangan.

3. Konsep EVA sebagai pengukur kinerja perusahaan memperhatikan harapan penyedia dana secara adil di mana derajat keadilannya dinyatakan dengan ukuran tertimbang struktur modal yang ada dan berpedoman pada nilai pasar bukan pada nilai buku.

4. Penerapan EVA yang praktis merupakan salah satu bahan pertimbangan bagi pebisnis untuk mengambil keputusan dan kebijaksanaan permodalan.

5. EVA dapat digunakan sebagai tolok ukur pemberian bonus pada karyawan. Hal ini disebabkan karena EVA dapat digunakan untuk alat pengukur kinerja sehingga EVA dapat digunakan sebagai alat penetapan besarnya bonus yang dibagikan kepada karyawan.

6. Konsep EVA mempengaruhi keputusan organisasi untuk keluar dari mulut unit usaha yang mempunyai negative value added.

Di samping keunggulan, EVA juga memiliki kelemahan. Hal-hal yang menjadi kelemahan EVA menurut Mirza (1997) seperti kutipan Mulia (2002:134) adalah sebagai berikut:

1. EVA hanya mengukur hasil akhir, sementara aktivitas penentu seperti loyalitas dan referensi konsumen tidak diperhatikan. Fokus EVA terhadap kinerja keuangan masih kuat sehingga kinerja non keuangan seperti loyalitas dan referensi konsumen belum terlalu diperhatikan.

2. EVA terlalu bertumpu pada keyakinan bahwa investor sangat mengandalkan pendekatan fundamental dalam mengkaji dan mengambil keputusan untuk menjual atau membeli saham tertentu.

(4)

3. Konsep ini sangat tergantung pada transportasi internal dalam perhitungan EVA secara akurat. Adanya data yang makin lengkap dengan klasifikasi yang jelas membuat EVA dapat dihitung dengan akurat.

Di pihak lain, Hanafi (2004:52) menyatakan EVA memiliki kelemahan sebagai berikut:

1. EVA hanya menggambarkan penciptaan nilai pada satu tahun tertentu.

Dengan demikian bisa saja suatu perusahaan mempunyai EVA pada tahun yang berlaku positif tetapi nilai perusahaan tersebut rendah, karena di masa datang EVA yang dimiliki negatif.

2. Secara konseptual EVA memang lebih unggul dibandingkan konsep tradisional namun secara praktis EVA belum tentu dapat diterapkan dengan mudah. Proses perhitungan EVA memerlukan estimasi atas biaya modal dan estimasi ini sulit untuk dilakukan bagi perusahaan yang go public.

Dalam konsep EVA, untuk menciptakan nilai bagi pemegang saham perusahaan harus menghasilkan keuntungan yang melebihi biaya modal di segala unit bisnisnya. Meskipun demikian tidak berarti bahwa pihak manajemen memanfaatkan profitabilitas untuk jangka pendek akan tetapi benar-benar memperhatikan pertumbuhan EVA untuk waktu yang akan datang sehingga peningkatan EVA dapat terjadi secara terus-menerus. Mulia (2002:135) menyatakan bahwa strategi yang dapat digunakan untuk menaikkan EVA adalah:

1. Strategi penciptaan nilai dengan mencapai pertumbuhan keuntungan di mana hal ini bisa dicapai dengan menambah modal yang diinvestasikan pada proyek dengan tingkat pengembalian tinggi.

2. Strategi penciptaan nilai dengan meningkatkan efisiensi operasi, dalam hal ini meningkatkan keuntungan tanpa menggunakan tambahan modal.

3. Strategi penciptaan nilai dengan rasionalisasi dan keluar dari bisnis yang tidak menjanjikan, ini berarti menarik modal dari aktivitas yang menghasilkan return yang rendah dan menghapus unit bisnis yang tidak menjanjikan hasil.

(5)

Untuk mendeteksi adanya kemungkinan bahwa EVA direkayasa menurut Utama (2002) dapat dilakukan dengan cara:

1. Membandingkan kebijakan amortisasi biaya riset dan pengembangan, iklan serta pelatihan pegawai antar waktu dan antar perusahaan.

2. Menilai anak perusahaan untuk mengetahui goodwill yang diakui masih ada nilainya atau tidak.

3. Menilai aktiva tidak berwujud masih ada nilainya atau tidak. Bila tidak sebaiknya dikeluarkan saja karena dapat merusak keakuratan dari perhitungan EVA yang dihasilkan.

4. Melihat tren perubahan kewajiban pajak tangguhan serta membandingkan dengan perusahaan lain pada satu industri untuk mengevaluasi apakah angkanya wajar atau tidak.

5. Menganalisis tren dari biaya penghapusan piutang tak tertagih dan membandingkan dengan perusahaan yang berada di bawah satu industri.

6. Menggunakan rata-rata modal diinvestasikan selama satu tahun dan bukan hanya pada akhir tahun atau awal tahun.

Di Indonesia ada dugaan bahwa untuk beberapa perusahaan, tetap banyak investor yang mencari saham perusahaan tersebut sehingga harga saham naik meskipun perusahaan tersebut memiliki EVA yang tidak baik. Sugiarsono (2002) menyatakan bahwa harga saham bersifat foward looking yang artinya harga saham mencerminkan harapan investor terhadap kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas sekarang dan di masa mendatang. Adapun EVA lebih bersifat backward looking, yakni melihat hasil yang telah dilakukan manajemen dalam satu periode sehingga tidak mengherankan bila saham dari beberapa perusahaan yang memiliki EVA jelek tetap memiliki harga saham tinggi karena dicari banyak investor.

Untuk menghitung nilai EVA menurut Dwitayanti (2005:62) dapat digunakan tahapan dan rumus-rumus sebagai berikut:

a. Menghitung nilai laba operasi bersih (NOPAT) yaitu laba bersih setelah pajak ditambah biaya bunga.

b. Menghitung nilai invested capital yaitu jumlah dari total hutang dan ekuitas dikurangi total pinjaman jangka pendek tanpa bunga.

(6)

c. Menghitung biaya modal rata-rata tertimbang (WACC) di mana rumus WACC adalah: {D x rd (1-tax)} + (E x re)

Dimana:

D adalah tingkat modal = total hutang / (total hutang + ekuitas) rd adalah cost of debt = biaya bunga / total hutang

tax adalah pajak = beban pajak / laba sebelum pajak re adalah cost of equity = 1 / PER (Price Earning Ratio)

E adalah tingkat modal = total ekuitas / total hutang dan ekuitas.

d. Menghitung capital charges yaitu aliran kas yang dibutuhkan untuk mengganti investor atas risiko usaha dari modal yang ditanamkan dengan rumus capital charges = WACC x invested capital.

e. Menghitung Economic Value Added dengan rumus EVA = NOPAT – capital charges

2.2. Market Value Added (MVA)

Tujuan utama perusahaan adalah memaksimumkan kesejahteraan pemegang saham yang dilakukan dengan memaksimalkan selisih antara market value of equity dengan jumlah yang ditanamkan investor ke dalam perusahaan.

Selisih tersebut dikenal dengan istilah market value added (MVA). MVA ini digunakan untuk mengukur seluruh pengaruh dari kinerja manajerial sejak perusahaan berdiri hingga sekarang (tentu analisis ini didasarkan pada cara pandang kaum fundamentalis yang menyatakan bahwa value of equity yang mewakili value of the firm ditentukan faktor-faktor fundamental perusahaan.

Hanafi (2004:55) menyatakan bahwa MVA merupakan selisih antara nilai pasar dengan nilai buku saham. MVA dihitung dengan menggunakan dasar nilai buku saham awal. MVA dengan demikian mengukur prestasi perusahaan sejak perusahaan tersebut berdiri. MVA hanya bisa digunakan untuk perusahaan secara keseluruhan. MVA merupakan pengukuran kinerja yang dapat menunjukkan seberapa besar kekayaan perusahaan yang telah dapat diciptakan bagi kepentingan investor. Secara sederhanan MVA merupakan perbedaan antara apa yang

(7)

diperoleh investor (total market value) dengan jumlah yang dikeluarkan oleh investor (invested capital).

Young dan O’Byrne (2001:26) menyatakan bahwa nilai pasar adalah nilai perusahaan yakni jumlah nilai pasar dari semua tuntutan modal terhadap perusahaan oleh pasar modal pada tanggal tertentu. Lebih sederhana, itu adalah jumlah nilai pasar dari hutang dan ekuitas. Modal yang diinvestasikan adalah jumlah modal yang disediakan oleh penyedia dana pada tanggal yang sama.

Perhitungan MVA dapat dilakukan dengan rumus: MVA = (nilai pasar saham akhir tahun – nilai nominal per lembar saham) x jumlah saham yang dikeluarkan pada akhir tahun.

Young dan O’Byrne (2001:27) menyatakan investor menyerahkan modal ke dalam perusahaan dengan harapan manajer akan menginvestasikan dengan produktif. Nilai pasar mencerminkan keputusan pasar mengenai bagaimana manajer yang sukses telah menginvestasikan modal yang sudah dipercayakan kepadanya, dalam mengubahnya menjadi lebih besar. Semakin besar MVA, menunjukkan indikasi MVA semakin baik. Dari paparan tersebut dapat disimpulkan bila nilai MVA positif maka perusahaan telah berhasil meningkatkan nilai modal yang telah diinvestasikan, sedangkan jika nilai MVA negatif maka perusahaan tidak berhasil mengubah investasi menjadi lebih besar, bahkan menurunkan nilai modal yang ditanamkan kepada investor. Berhasil atau tidaknya perusahaan meningkatkan nilai MVA tergantung pada tingkat pengembaliannya.

Jika tingkat pengembaliannya lebih besar dari biaya modal, maka perusahaan akan menjual sahamnya dengan premium dan menghasilkan MVA positif. Sebaliknya, jika perusahaan memiliki tingkat pengembalian yang lebih kecil dari biaya modal, maka perusahaan menjual saham dengan diskon dan nilai MVA negatif.

2.3. Harga Saham

Bila suatu perusahaan akan menjual sahamnya kepada masyarakat umum, berarti perusahaan tersebut menjual sebagian dari kepemilikannya. Sebagai pemilik sebagian dari perusahaan, maka pemegang saham atau pemodal baru ini

(8)

akan menanggung sebagian risiko sebagai pemilik dan juga nilai kepemilikannya dapat berubah setiap waktu sesuai dengan turun naiknya harga saham yang beredar di pasar modal. Saham merupakan penyertaan modal dalam pemilikan suatu perseroan terbatas atau yang disebut emiten. Pemilik saham merupakan pemilik sebagian dari perusahaan tersebut. Saham yang umumnya beredar dapat dibedakan menjadi dua yaitu saham atas nama dan saham atas unjuk Saham yang diperdagangkan di Indonesia adalah saham atas nama, di mana ada nama pemilik yang tertera. Berkaitan dengan masalah harga saham, Sunariyah (2003:112) menyatakan bahwa harga saham terdiri dari macam-macam nilai yang terdiri dari:

1. Nilai nominal yaitu harga saham perdana yang tercantum pada sertifikat badan usaha. harga saham tersebut merupakan harga yang sudah diotorisasi oleh rapat umum pemegang saham. Harga ini tidak berubah- ubah dari yang telah ditetapkan oleh rapat umum pemegang saham.

2. Nilai buku adalah harga saham yang berubah-ubah karena adanya kenaikan atau penurunan harga saham dan adanya laba ditahan. Nilai buku untuk setiap lembar saham dihitung dari pembagian jumlah nilai buku dengan jumlah lembar saham.

3. Nilai dasar berkaitan dengan harga saham setelah dilakukan penyesuaian karena aksi emiten. Nilai dasar ini merupakan harga perdana saham tersebut. Nilai dasar ini digunakan dalam perhitungan indeks harga saham sehingga akan terus berubah jika terjadi stock split dan sebagainya.

4. Nilai pasar adalah harga suatu saham pada pasar yang sedang berlangsung di bursa efek. Apabila bursa efek telah tutup maka harga pasar adalah harga penutupannya (clossing price).

Pada penelitian ini yang dimaksud dengan harga saham adalah harga saham setiap bulan per tahun.

2.4. Kajian terhadap Penelitian Terdahulu

Ada beberapa penelitian terdahulu yang menyangkut tentang EVA dan MVA.

(9)

1. Nilawati (2004) yang meneliti analisis ROI dan EVA terhadap return on shares pada perusahaan LQ-45. Tujuan yang diharapkan dapat dicapai dalam penelitian ini adalah untuk menguji apakah peningkatan atau penurunan nilai ROI, EVA bisa dihubungkan secara langsung sejalan dengan return saham, melalui pembandingan pengaruh antara ROI dan EVA terhadap return on share dari perusahaan yang termasuk dalam LQ- 45 di tahun 1997-2002. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukan bahwa ROI dan EVA tidak memiliki pengaruh terhadap return on shares pada perusahaan LQ-45 baik itu secara sendiri-sendiri (parsial) maupun secara bersama-sama (simultan).

2. Dwitayanti (2005) yang meneliti pengaruh EVA terhadap MVA pada perusahaan industri manufaktur di Bursa Efek Jakarta. Penelitian ini mendasarkan pada kajian teoritis bahwa EVA menilai keefektifan manajer pada tahun yang bersangkutan, sedangkan MVA menilai dampak tindakan manajer atas kemakmuran pemegang saham sejak perusahaan berdiri sehingga ada dugaan bahwa EVA memiliki pengaruh terhadap MVA.

Hasil penelitian menunjukan bahwa MVA dipengaruhi oleh EVA.

Pengaruh yang terjadi adalah pengaruh positif di mana EVA yang makin tinggi maka MVA juga makin tinggi sebaliknya bila nilai EVA makin rendah maka MVA juga makin rendah pula.

3. Octora et.al. (2003) yang meneliti pengaruh antara penilaian kinerja yang diwakili oleh return on investment (ROI), operating cash flow (OCF), dan economic value added (EVA) terhadap rate of return. Sampel yang digunakan dalam penelitian menghindari perusahaan yang tergabung pada industri perbankan dan pembiayaan karena dinilai sangat sensitif terhadap kondisi ekonomi Indonesia yang kurang stabil. Hasil penelitian menunjukan ROI, OCF, dan EVA memiliki pengaruh yang signifikan terhadap rate of retrurn. Hal ini menunjukkan bahwa investor dalam memutuskan saham mana yang akan dibeli akan menilai kinerja perusahaan secara keseluruhan, baik dari sisi laba, kas, maupun nilai tambah perusahaan.

(10)

4. Desai et.al. (1997) yang meneliti tentang pengaruh EVA dan MVA terhadap kompensasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa EVA dan MVA mampu digunakan sebagai alat untuk mengukur kinerja sehingga berguna mengukur kompensasi. Umumnya kompensasi para manajer perusahaan diukur berdasarkan kinerja keuangan yang diperoleh pada tahun tersebut.

EVA dan MVA digunakan untuk mengukur kompensasi para manajer perusahaan sebab EVA meninjau sejauh mana efektivitas manajer dalam menjalankan kegiatan operasi usaha sehingga mampu menghasilkan nilai tambah bagi perusahaan dan MVA merujuk pada bagaimana kemampuan operasi yang dijalankan para manajer perusahaan untuk menambah kemakmuran investor sehingga EVA dan MVA yang makin tinggi maka akan menghasilkan keputusan untuk menghasilkan kompensasi berupa bonus kepada para manajer.

5. Wet dan Hall (2004) yang meneliti tentang hubungan EVA, MVA, dan rasio-rasio yaitu rasio operasi dan keuangan. Hasil penelitian menyatakan bahwa EVA dan MVA memiliki pengaruh terhadap rasio operasi dan keuangan. Pengaruh yang terjadi adalah pengaruh positif atau pengaruh yang sifatnya searah bila EVA dan MVA makin baik maka rasio operasi dan keuangan juga semakin baik, hal ini disebabkan karena EVA merupakan ukuran kinerja perusahaan sedangkan MVA adalah tambahan kemakmuran kepada pemegang saham sehingga penelitian ini membuktikan kajian teoritis bahwa EVA dan MVA yang makin meningkat juga akan meningkatkan nilai-nilai rasio keuangan.

Persamaan antara penelitian yang dilakukan sekarang dengan penelitian terdahulu yang dikaji adalah sebagai berikut:

1. Penelitian ini sama-sama menggunakan variabel operasional EVA dan MVA.

2. Penelitian ini sama-sama meninjau peran EVA dan MVA sebagai alat pengukur kinerja perusahaan.

Perbedaan antara penelitian yang dilakukan sekarang dengan penelitian terdahulu yang dikaji adalah sebagai berikut:

(11)

1. Penelitian ini menggunakan harga saham sebagai variabel dependen, untuk mengungkapkan apakah EVA dan MVA memiliki pengaruh terhadap harga saham perusahaan.

2. Penelitian ini sudah meninggalkan pengukuran kinerja berbasis rasio yang bersifat tradisional.

3. Penelitian akan melihat pada perusahaan makanan dan minuman yang go public sebagai sampel penelitian.

2.5. Hipotesis

Dwitayanti (2005:61) menyatakan EVA dan MVA adalah salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan. EVA dalam penggunaan sebagai alat pengukuran memiliki kemampuan untuk mempertimbangkan kemampuan manajer perusahaan menciptakan nilai tambah bagi shareholders (pemegang saham), sedangkan MVA adalah nilai yang akan diterima investor di pasar modal. Besar kecilnya nilai yang diciptakan oleh perusahaan berdampak pada respon investor yang dicerminkan dalam naik turunnya harga saham di pasar modal. Di pihak lain, penelitian Nilawati (2004:165) menyatakan bahwa EVA tidak memiliki pengaruh terhadap tingkat pengembalian saham. hal ini membuat investor tidak memberikan perhatian terhadap EVA sebagai alat keputusan investasi sehingga EVA tidak mempengaruhi naik-turunnya volume penjualan saham di pasar modal yang pada akhirnya juga tidak mempengaruhi harga saham di pasar modal. Adanya dua pendapat yang bertentangan tersebut maka ditetapkan hipotesis sebagai berikut untuk menguji pengaruh EVA dan MVA secara parsial terhadap harga saham:

H01: Tidak ada pengaruh economic value added terhadap harga saham pada perusahaan-perusahaan makanan dan minuman yang go public.

H02: Tidak ada pengaruh market value added terhadap harga saham pada perusahaan-perusahaan makanan dan minuman yang go public.

Fardiansyah (2003:56) menyatakan present value nilai EVA secara periodik di masa depan dikenal dengan MVA. Berdasarkan keadaan tersebut,

(12)

maka EVA yang meningkat dari tahun ke tahun menunjukkan adanya peningkatan MVA juga. Hal ini menunjukkan bahwa EVA dan MVA memiliki kendali terhadap harga saham di pasar modal. Menurut Fernandez dan Reinoso (2003) yang dikutip oleh Fardiansyah (2003:57), EVA dan MVA memiliki korelasi negatif terhadap penciptaan nilai bagi pemegang saham, sehingga EVA dan MVA tidak memiliki pengaruh terhadap harga saham. Adanya dua pendapat yang berbeda tentang pengaruh EVA dan MVA terhadap harga saham ditetapkan hipotesis berikut ini untuk dilakukan pengujian dalam penelitian:

H03: Tidak ada pengaruh economic value added dan market value added secara simultan terhadap harga saham pada perusahaan-perusahaan makanan dan minuman yang go public.

Referensi

Dokumen terkait

Pemeriksaan kadar MDA serum dilakukan dua kali yaitu saat diagnosis sepsis ditegakkan (MDA1) dan pada hari ke-5 perawatan atau sebelumnya bila telah terjadi gagal organ

Fenomena yang dikaji dalam penelitian ini adalah penerapan rahn syariah dalam Bank Mandiri Syariah, dimana para nasabah dalam melakukan transaksi rahn terutama

Hasil data aktivitas siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan bahan ajar/modul terintegrasi nilai-nilai keislaman selama dua pertemuan diperoleh hasil bahwa waktu yang

Segala puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas setiap kasih karunia dan rahmat-Nya yang begitu besar, penulis dapat menyelesaikan

Berpikir seperti manusia Bertindak seperti manusia Berpikir secara rasional Bertindak secara rasional Landasan AI Sejarah AI Ringkasan Detail perkuliahan Turing Test?. Seorang

Agar orang tua/wali murid atau siswa yang masih kesulitan memakai bahasa Jepang, agar dapat berbicara dengan guru wali kelas dan pihak sekolah, dapat memanggil penerjemah untuk

koefisien determinsi diatas dapat dikatakan bahwa variabel independen yaitu (Iklan, Promosi Penjualan dan Citra Perusahaan) tidak memiliki kontribusi yang kuat