Nama-Nama Daerah di Kecamatan Sungai Beremas
Kabupaten Pasaman Barat
( Suatu Kajian Antropolinguistik)
Skripsi Ini Disusun untuk Memperoleh Gelar Sarjana Humaniora
pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
▸ Baca selengkapnya: kode atau nama ut daerah
(2)Novis Candra 0910722032
Jurusan Sastra Indonesia
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Padang, 2014 ABSTRAK
Novis Candra. 2014. “Nama-Nama Daerah di Kecamatan Sungai Beremas Kabupaten Pasaman Barat: Suatu Kajian Antropolinguistik”. Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya. Pembimbing 1: Dr. Fajri Usman, M.Hum. Pembimbing II: Elly Delfia, S.S., M. Hum.
Setiap daerah memiliki nama, pemberian nama pada tiap daerah bukan hanya sebutan saja. Daerah-daerah diberi nama oleh masyarakatnya berdasarkan situasi dan kondisi tiap-tiap daerah. Masalah dalam penelitian ini adalah 1) Apa saja nama-nama daerah di Kecamatan Sungai Beremas Kabupaten Pasaman Barat dan apa latar belakang pemberian nama daerah tersebut? 2) Makna apa saja yang terkandung pada nama-nama daerah yang ada di
Kecamatan Sungai Beremas Kabupaten Pasaman Barat? Penelitian ini dilakukan untuk: 1) Mendeskripsikan nama-nama daerah yang ada di Kecamatan Sungai Beremas Kabupaten Pasaman Barat serta latar belakang pemberian nama daerah tersebut. 2) Mendeskripsikan makna nama daerah yang terkandung pada penamaan daerah di Kecamatan Sungai Beremas Kabupaten Pasaman Barat.
Ada tiga metode dan teknik yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu: metode penyediaan data, metode analisis data, dan metode penyajian data. Pada metode penyediaan data
digunakan metode simak dan cakap. Teknik dasar yang digunakan dalam metode simak adalah teknik sadap dan lanjutannya adalah Teknik Simak Libat Cakap (SLC) dan teknik catat. Teknik dasar yang digunakan dalam metode cakap adalah teknik pancing. Teknik lanjutan yang digunakan adalah teknik cakap semuka. Pada metode analisis data digunakan metode padan ekstralingual dan teknik lanjutannya adalah teknik hubung banding. Pada metode penyajian data metode yang digunakan adalah metode penyajian informal.
Berdasarkan hasil analisis data, ditemukan nama-nama daerah di Kecamatan Sungai Beremas Kabupaten Pasaman Barat di antaranya: Aia Bangih, Silawai, Balakang Lido, Bungo Tanjuang,
Pokan, Kampuang Pinang. Adapun latar belakang
penamaan dari nama-nama daerah di Kecamatan Sungai Beremas Kabupaten Pasaman Barat terbentuk atas penemu dan pembuat, keserupaan, legenda dan mitos. Makna nama yang terkandung pada nama-nama daerah di Kecamatan Sungai Beremas Kabupaten Pasaman Barat terdiri atas: makna situasional, terdapat pada nama daerah
Aia Bangih, Pulau Panjang, pulau unggeh, pulau harimau, Pasia, Muaro, Kampuang Padang, Kampuang Dalam, Pasa Koje, Topi Goduang, Kampuang Jawo, Kampuang Cino, Suak Batu Kudo, Sumua Batu, Pokan, Bukik Limo Kaco, Bungo Tanjuang,
dan
Kampuang Pinang.
Tugu, Balakang Lido, dan Silawai 1. 1. Pendahuluan Latar Belakang
Semua benda di dunia ini memiliki nama. Pemberian nama bertujuan untuk memudahkan seseorang mengenal identitas dari benda tersebut. Nama merupakan media yang dihasilkan dari ide atau gagasan yang di dalamnya mengandung makna. Makna yang dimaksud adalah makna yang terlahir dari budaya dalam kehidupan suatu masyarakat, misalnya makna nama dikaitkan dengan makna alam, benda, tempat, atau makna nama orang-orang hebat atau pintar.
Nama adalah kata untuk menyebut atau memanggil orang, tempat, barang, binatang, dan sebagainya (KBBI, 2002:773). Nama juga sebagai bagian dari bahasa yang digunakan sebagai penanda identitas dan juga memperlihatkan budaya (Sibarani, 2004:108). Hampir setiap nama yang telah ada mencerminkan suatu budaya, misalnya nama diri mencerminkan budaya yang dimiliki oleh diri tersebut. Dalam hal ini, budaya memiliki peran penting karena budaya suatu hasil yang diciptakan oleh manusia. Menurut Koentjaraningrat (1985:80), kebudayaan
merupakan keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang menjadi milik manusia dengan belajar. Sementara itu, Liliweri (2003:10) mengatakan budaya merupakan satu unit interpertasi, ingatan, dan yang ada di dalam diri manusia dan bukan sekadar dalam kata-kata, budaya meliputi kepercayaan, nilai-nilai, dan norma.
Setiap nama memiliki makna. Pemberian nama tidak hanya untuk menamai orang, tetapi juga daerah atau tempat. Daerah-daerah diberi nama oleh masyarakatnya. Pemberian nama tidak
terlepas dari ciri-ciri atau hal-hal yang berkaitan dengan latar belakang daerah tersebut, seperti halnya dengan nama-nama daerah di Kecamatan Sungai Beremas, Kabupaten Pasaman Barat.
Letak Geografis Kecamatan Sungai Beremas Kabupaten Pasaman Barat.
Dilihat dari geografisnya, Kecamatan Sungai Beremas Kabupaten Pasaman Barat berada di kawasan pantai barat Sumatera dan merupakan daerah perbatasan antara Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Luci Huki dalam artikelnya yang berjudul “ Letak Astronomis, Geografis,
Geologis, dan Kultur Historis” menyatakan bahwa letak geografis adalah letak suatu daerah dilihat dari kenyataannya dipermukaan bumi(http://www.astronomis
geografis.net/index.php/artikel ).
Kecamatan Sungai Beremas Kabupaten Pasaman Barat yang pusat pemerintahannya di Aia Bangih
memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut: Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Ranah Batahan, sebelah selatan berbatasan dengan Nagari Sikabau, sebelah barat berbatasan dengan Samudra Hindia, dan sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Koto Balingka. Topografi atau bentuk daerah Kecamatan Sungai Beremas Kabupaten Pasaman Barat adalah dataran yang berada di pinggir laut, memiliki sungai, dan bukit-bukit yang tidak begitu besar.
- Batas-Batas Wilayah dan Topografi Daerah Kecamatan Sungai Beremas Kabupaten Pasaman Barat
daerah-daerah yang ada di Kecamatan Sungai Beremas Kabupaten Pasaman Barat, yang dijadikan data dalam penelitian ini. Berikut dijelaskan dalam bentuk tabel.
Daerah Topografi Batas Wilayah
Aia bangih
Dataran, pusat pemerintahan, di pinggir laut,
memiliki sungai
Utara dengan Batahan
Selatan dengan Sikabau
Barat dengan Samudra Hindia
Timur dengan Silawai
Silawai
Dataran, terdapat hutan, lahan perkebunan
Utara dengan Bungo Tanjuang
Barat dengan Bungo Tanjuang
Timur dengan Batas Tarok
Pulau Panjang
Dataran, banyak pohon kelapa, dikelilingi laut, banyak terumbu karang, pasir putih, banyak pohon bakau
Utara dengan Pulau Harimau
Selatan dengan Samudra Hindia
Barat dengan Samudra Hindia
Pulau Unggeh
Dataran, banyak pohon kelapa, pasir putih dikelilingi laut.
Utara dengan Tugu
Selatan dengan Pulau Panjang
Barat dengan Pulau Harimau
Timur dengan Aia Bangih
Pulau Harimau
Hutan, perbukitan terdapat sedikit daratan, banyak pohon bakau, pasir putih
Utara dengan Samudra Hindia
Selatan dengan Pulau Panjang
Barat dengan Samudra Hindia
Timur dengan Pulau Unggeh
Tugu
Dataran, tepi laut, banyak pohon kelapa, ombak besar
Utara dengan Gunuang Tugu
Selatan dengan Kampuang Padang
Barat dengan Samudra Hindia
Timur dengan Kampuang Dalam
Pasia
Dataran, tepi laut, ombak besar
Utara dengan Kampuang Padang
Selatan dengan Muaro
Barat dengan Samudra Hindia
Timur dengan Pasa Ateh
Muaro
Dataran, tepi sungai
Utara dengan Pasia
Selatan dengan Sungai
Timur dengan Kampuang Cino
Kampuang Padang
Dataran, tepi laut, banyak pohon kelapa, ombak besar
Utara dengan Tugu
Selatan dengan Pasia
Barat dengan Samudra Hindia
Timur dengan Kampuang Dalam
Kampuang Dalam
Dataran, lahan perkebunan
Utara dengan Tugu
Selatan dengan Balakang Lido
Barat dengan Kampuang Padang
Timur dengan Bungo Tanjuang
Balakang Lido
Dataran, banyak pohon kelapa, lokasi persawahan
Utara dengan Kampuang Padang
Selatan dengan Pasa Ateh
Barat dengan Pasia
Timur dengan Pasa Koje
Pasa Koje
Dataran, lokasi persawahan
Utara dengan Kampuang Dalam
Selatan dengan Pasa Tigo
Barat dengan Balakang Lido
Timur dengan Sumua Batu
Topi Goduang
Dataran, tepi sungai
Utara dengan Pasa Satu
Selatan dengan Sungai
Timur dengan Pasa Satu
Kampuang Jawo
Dataran, tepi sungai
Utara dengan Muaro
Selatan dengan Sungai
Barat dengan Kampuang Cino
Timur dengan Pasa Satu
Kampuang Cino
Dataran, tepi sungai
Utara dengan Muaro
Selatan dengan Sungai
Barat dengan Sungai
Timur dengan Pasa Satu
Suak Batu Kudo
Dataran, tepi sungai
Utara dengan Pokan
Selatan dengan Sungai
Barat dengan Muaro
Timur dengan Bungo Tanjuang
Pokan
Dataran, tepi sungai
Utara dengan Suak Batu Kudo
Selatan dengan Sungai
Barat dengan Pasa Tigo
Timur dengan Bungo Tanjuang
Bukik Limo Kaco
Hutan, dataran tinggi, banyak pohon besar, tepi sungai
Utara dengan Pokan
Selatan dengan Sungai
Timur dengan Pasa Tigo
Bungo Tanjuang
Dataran tinggi, persawahan
Utara dengan Kampuang Dalam
Selatan dengan Silawai
Barat dengan Pokan
Timur dengan Silawai
Kampuang Pinang
Dataran tinggi, banyak pohon pinang, lokasi perkebunan
Utara dengan Silawai
Selatan dengan Kampuang Dalam
Barat dengan Bungo Tanjuang
Timur dengan Silawai
Sumua Batu
Dataran tinggi, banyak batu granit, di kaki bukit
Utara dengan Pokan
Selatan dengan Pasa Koje
Timur dengan Bungo Tanjuang
Dilihat dari sejarah, masyarakat Kecamatan Sungai Beremas dengan pusat pemerintahanAia Bangih
berasal dari kerajaan Indro Puro yang masih keturunan dari Raja Pagaruyuang. Asmar Asgar Rang Tuo Rajo (Ketua Lembaga Adat Nagari Kecamatan Sungai Beremas) menceritakan, bahwa salah satu keturunan Raja tersebut adalah Tuanku Inang Bisai yang dibantu oleh dua orang panglima kerajaan yang bernama Datuak Bandaro dan Datuak Magek Tagarang. Semasa pemerintahan Tuanku Inang Bisai, daerah
Aia Bangih
mengalami kemajuan. Masyarakat sudah bisa mengubah pola dalam bertani dan juga melakukan hubungan bilateral dengan bangsa Eropa melalui pelabuhan yang dibuat oleh kerajaan yang dinamakan dengan
Muaro
. Seiring berjalannya waktu, masyarakat bertambah banyak. Melihat kondisi tersebut, raja memutuskan untuk mencari tempat pemukiman di sekitar pusat kerajaan. Tempat pemukiman yang telah dibuka, diberi nama oleh masyarakat berdasarkan fenomena yang ada.
Seperti halnya dengan nama Aia Bangih. Kata aia bangih berasal dari gabungan dua buah kata
yaitu kata aia dan bangih.Dalam Ka
mus Bahasa Minangkabau-Indonesia
(2009:6), kata
aia
adalah air, benda cair yang memegang perananan penting dalam kehidupan manusia. Kata
bangih
dalam
Kamus Bahasa Minangkabau-Indonesia
(2009:40) adalah bengis, marah, dan gusar. Jadi kata
aia bangih
memiliki arti yaitu air marah. Berbeda dengan makna nama yang diberikan oleh masyarakat. Nama
oleh masyarakat memiliki arti, yaitu pertemuan antara air laut dan air sungai. Menurut cerita, nama
Aia Bangih
pada mulanya adalah
Aia Bange.
Setelah kedatangan bangsa Portugis ke daerah tersebut untuk melakukan hubungan ekonomi,
Aia Bange
berubah menjadi
Aia Bangih
. Hal itu disebabkan oleh bangsa Portugis tidak bisa mengucapkan
Aia Bange
. Ketika mereka mengucapkan
Aia Bange,
sering keluar kata-kata
Aia Bangih
. Hal ini dipengaruhi oleh dialek bahasa Portugis.
Selain Aia Bangih, ada juga nama daerah Suak Batu Kudo. Kata Suak oleh masyarakat di Kecamatan Sungai Beremas, yaitu Sungai. Sementara itu,
Batu Kudo
sama artinya dengan Batu Kuda. Menurut keterangan dari informan, yaitu Bapak Asmar Asgar, Bapak Syamsir, dan Ibuk Yusna masyarakat menamai daerah ini disebabkan adanya fenomena batu berbentuk kepala kuda. Dahulunya, ada sebuah batu yang berbentuk kepala kuda di tepi sungai. Menurut kepercayaan masyarakat setempat,
Suak Batu Kudo
dahulunya, dalam jangka waktu setahun atau dua tahun akan memakan tumbal jika tidak diberi sesajian. Dari cerita itu, masyarakat menyebut daerah tersebut dengan sebutan
Suak Batu Kudo
sampai saat ini.Danandjaja (2007:27) mengungkapkan bentuk dari bahasa rakyat yang disebut dengan anomastis, yaitu nama tradisional jalan atau daerah-daerah tertentu yang mempunyai legenda menurut sejarah terbentuknya. Sementara itu, daerah dalam (KBBI, 2002:228) adalah bagian permukaan bumi dalam kaitannya dengan keadaan alam sekitarnya.
Berdasarkan uraian di atas, alasan yang membuat penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang penamaan daerah di Kecamatan Sungai Beremas adalah proses pemberian nama daerah tersebut. Masyarakat memberi nama sesuai dengan fenomena-fenomena yang berkaitan dengan alam dan lingkungan daerah tersebut yang dipengaruhi oleh faktor kebudayaan berupa kepercayaan kepada mitos.
Teori
Teori-teori yang digunakan untuk menjelaskan masalah-masalah yang telah dirumuskan. Teori-teori tersebut adalah teori penamaan yang dikemukakan oleh Chaer (1995:44-46). Teori penamaan digunakan untuk mengetahui kategori nama daerah dalam bentuk penamaan. Latar belakang penamaan yang dikemukakan oleh Danandjaja (2007:27). Latar belakang penamaan digunakan untuk mengetahui asal usul nama daerah dan makna yang dikandung oleh nama daerah tersebut.Teori yang berhubungan dengan semantik, yaitu jenis makna yang
dikemukakan oleh Chaer (2002). Jenis makna digunakan untuk makna nama daerah. selanjutnya pengertian antropolinguistik yang dikemukakan Sibarani (2004:50) dan makna nama yang dikemukakan oleh Sibarani (2004:114-118). Makna nama yang dimaksud adalah makna nama yang berhubungan dengan antropolinguistik sebagaimana yang telah
dikelompokan oleh Sibarani yaitu makna futuratif, makna situasional, dan makna kenangan.
1. 2. Metode dan Teknik Penelitian
Metode dan teknik penelitian merupakan dua hal yang berbeda. Keduanya memiliki konsep yang berbeda, tetapi memiliki kaitan yang erat. Metode adalah cara yang dilaksanakan untuk menganalisis objek, sedangkan teknik adalah cara melaksanakan metode (Sudaryanto, 1993:9). Metode dan teknik disesuaikan dengan langkah kerjanya. Mahsun (2005),membagi metode dan teknik menjadi tiga tahapan, yaitu penyediaan data, tahap analisis hasil data, dan tahap penyajian hasil analisis data.
- · Metode Penyediaan Data
Pada tahap penyediaan data, metode yang digunakan adalah metode simak dan cakap. Metode simak tidak hanya menyimak bahasa secara lisan, melainkan juga tulisan (Mahsun, 2005:92). Hal ini sesuai dengan daftar nama-nama daerah yang ada di Kantor Camat
Kecamatan Sungai Beremas. Metode ini memiliki teknik dasar yang berwujud teknik sadap, yaitu melakukan penyadapan terhadap penggunaan bahasa tertulis dari daftar nama-nama daerah. Teknik sadap ini diikuti dengan teknik lanjutan berupa Teknik Simak Libat Cakap (SLC) dan teknik catat. Teknik simak libat cakap digunakan karena peneliti ikut bicara dalam bentuk wawancara untuk mengetahui latar belakang penamaan daerah di Kec. Sungai Beremas. Teknik catat, peneliti mencatat hasil wawancara dengan informan.
Selanjutnya, metode cakap dilakukan karena memang terjadi percakapan antara peneliti dengan informan. Data penulis dapatkan dengan cara mewawancarai informan. Teknik dasar yang digunakan adalah teknik pancing, teknik ini dilakukan dengan cara memancing informan dengan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan objek penelitian. Teknik pancing ini dilakukan secara langsung. Artinya peneliti mendatangi dan langsung bertanya kepada
informan. Teknik lanjutan yang digunakan adalah teknik cakap semuka. Teknik cakap semuka dilakukan dengan percakapan langsung, tatap semuka secara langsung dengan informan.
- Metode Analisis Data
Pada tahap analisis data, digunakan metode padan, yaitu metode padan ekstralingual. Metode padan ekstralingual adalah metode yang alat penentunya berada di luar bahasa yang
bersangkutan (Mahsun,2005:120). Teknik dasarnya adalah hubung banding bersifat
ekstralingual, yaitu dengan menghubungkan penamaan itu dengan makna di luarnya. Teknik lanjutan adalah teknik hubung banding. Dalam hal ini, peneliti menghubungkan antara makna dari nama-nama tersebut sesuai dengan makna nama yang ada dan membandingkan makna nama dengan makna yang ada dalam kamus.
- Metode Penyajian Data
Pada tahap penyajian data, digunakan metode informal untuk penyajian hasil data. Mahsun (2005:123) menjelaskan bahwa metode informal adalah metode penyajian hasil analisis data yang perumusannya dengan menggunakan kata-kata.
1. 3. Pembahasan Pengantar
Daerah merupakan suatu kawasan yang berkaitan dengan alam dan memiliki batas-batas tertentu dengan daerah lain di sekitarnya. Sementara itu, daerah dalam (KBBI, 2002:228) adalah bagian permukaan bumi dalam kaitannya dengan keadaan alam sekitarnya. Sebagai sebuah kawasan, daerah biasanya diberi nama seperti Talu, Sasak, Ujuang Gadiang, Aia Bangih, Lubuak Landua, Maligi, Batang Soman, Batas Tarok, Balakang Lido, Kampuang Padang, Simpang Sayua, Lubuak Godang, Silawai.
Pemberian nama pada suatu daerah didasarkan atas beberapa alasan, di antaranya penemu atau pembuat, legenda dan mitos, serta keserupaan. Pada masing-masing nama daerah, terdapat arti yang dapat dianalisis berdasarkan makna kamus atau makna yang muncul
berdasarkan latar belakang nama daerah tersebut. Selain itu, pada setiap nama-nama daerah mengandung makna yang dikaitkan dengan suatu kepercayaan seperti sejarah legenda dan mitos. Dalam hal ini, makna nama yang terkandung pada nama-nama daerah yang ada di Kecamatan Sungai Beremas Kabupaten Pasaman Barat akan dianalisis berdasarkan makna nama dalam antropolinguistik. Berikut akan dijabarkan nama-nama daerah yang ada di Kecamatan Sungai Beremas Kabupaten Pasaman Barat berserta, latar belakang penamaan, dan makna nama yang terkandung pada nama-nama daerah tersebut
- Nama-nama Daerah di Kecamatan Sungai Beremas Kabupaten Pasaman Barat
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Kecamatan Sungai Beremas Kabupaten Pasaman Barat. Nama-nama daerah yang penulis temukan adalah sebagai berikut: Aia Bangih,Silawai, Pulau Panjang, Pulau Unggeh, Pulau Harimau, Tugu
Pasia, Muaro, Pasa Satu, Pasa Duo, Pasa Tigo, Pasa Ompek, Kampuang Padang, Kampuang Dalam, Pasar Baru, Pasar Lamo, Balakang Lido, Pasa Koje, Topi Goduang, Kampuang Jawo, Kampuang Cino, Suak Batu Kudo, Pasa Ateh, Sumua Batu, Pokan, Bukik Limo Kaco, Bungo Tanjuang,
dan
Kampuang Pinang.
Dari nama-nama daerah di atas, ada beberapa nama yang dijadikan sampel untuk dianalisis, disebabkan oleh nama-nama daerah tersebut memiliki nilai-nilai budaya dan bahasa dalam pembentukannya. Nama-nama daerah tersebut adalah sebagai berikut: Aia Bangih,Silawai, Pulau Panjang, Pulau Unggeh, Pulau Harimau, Tugu
,
Pasia, Muaro,Kampuang Padang, Kampuang Dalam, Balakang Lido, Pasa Koje, Topi Goduang, Kampuang Jawo, Kampuang Cino, Suak Batu Kudo, Sumua Batu, Pokan, Bukik Limo Kaco, Bungo Tanjuang,
dan
Kampuang Pinang.
- Latar Belakang Penamaan Daerah di Kecamatan Sungai Beremas Kabupaten Pasaman Barat
Latar belakang penamaan daerah disebabkan oleh beberapa faktor di antaranya sejarah, legenda, dan mitos. Dengan mengetahui latar belakang penamaan daerah di Kecamatan Sungai Beremas Kabupaten Pasaman Barat, dapat diketahui makna nama yang terkandung pada nama-nama daerah.
- Latar Belakang Penamaan Daerah Berdasarkan Penemu dan Pembuat
Chaer (1995:47) mengatakan banyak nama benda yang diberi nama berdasarkan nama penemunya, nama pabrik pembuatnya atau nama dalam peristiwa sejarah. Nama yang
demikian disebut dengan istilah appelativa. Pemberian nama seperti ini termasuk ke dalam latar belakang penamaan berdasarkan penemu dan pembuat.
Nama daerah yang latar belakang penamaannya dari sejarah adalah Aia Bangih, Silawai, Pokan, Topi Goduang, Kampuang Jawo, Tugu, Pasia, Muaro, Bukik Limo Kaco, Bungo Tanjuang, Kampuang Pinang, Kampuang Padang, Kampuang Dalam, Balakang Lido, Pasa
Koje, Kampuang Cino da
n Pulau Unggeh. Berikut penjelasannya. Aia Bangih
Nama Aia Bangih pada mulanya adalah Aia Bange, yaitu pertemuan antara air laut dengan air sungai. Menurut sejarahnya, setelah kedatangan bangsa Portugis ke daerah tersebut yang bertujuan untuk melakukan hubungan dagang, nama
Aia Bange
berubah menjadi
Aia Bangih
. Hal itu disebabkan oleh bangsa Portugis tidak bisa mengucapkan
Aia Bange
. Ketika mereka mengucapkan
Aia Bange,
sering keluar kata-kata
Aia Bangih
. Hal ini dipengaruhi oleh dialek bahasa Portugis.
Dalam Kamus Bahasa Minangkabau- Indonesia (2009:6), kata aia adalah air, benda cair yang memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Kata
bangih
dalam
Kamus Bahasa Minangkabau-Indonesia
(2009:40) adalah bengis, marah, dan gusar. Jadi, kata
memiliki arti yaitu air marah. Berbeda dengan arti kata yang diberikan oleh masyarakat. Pemberian nama daerah ini oleh masyarakatnya mengacu kepada kata
Aia Bangih
yang berkaitan dengan alam, yaitu pertemuan antara air laut dan air sungai.
Kata Aia Bangih dalam semantik termasuk ke dalam kategori makna referensial yang dikemukakan Chaer (2002), yaitu makna yang terletak pada acuannya. Aia Bangih
adalah suatu daerah yang memiliki nilai sejarah dalam pembentukannya dan didasari oleh fenomena alam, yaitu pertemuan antara air laut dan air sungai.
Silawai
Nama Silawai diambil dari nama seorang perantau yang datang ke Aia Bangih. Menurut sejarahnya, seorang perantau datang menemui Raja
Aia Bangih
. Perantau ini meminta kepada raja supaya diizinkan untuk bisa tinggal di
Aia Bangih
. Disebabkan oleh daerah kerajaan
Aia Bangih
sangat kecil maka raja memberikan sebuah daerah yang berada di timur
Aia Bangih
. Perantau tersebut merasa senang dan ia membawa keluarganya ke sana. Seiring waktu, pemukiman semakin betambah masyarakat semakin banyak. Raja
Aia Bangih
menamakan daerah tersebut dengan nama
Silawai
disebabkan oleh orang yang pertama kali menempati daerah itu adalah seorang perantau yang bernama
Silawai
. Pemberian nama pada daerah ini sesuai dengan nama penemunya, yaitu orang yang bernama
Silawai.
Kata Silawai dalam semantik termasuk ke dalam kategori makna referensial yang dikemukakan Chaer (2002), yaitu makna yang terletak pada acuannya. Acuan tersebut adalah Si lawai.
Namaseorang perantau yang pertama kali menempati daerah itu.
Pokan
Nama pokan sama artinya dengan pakan. Masyarakat di Kecamatan Sungai Beremas, Kabupaten Pasaman Barat lebih dominan mengucapkan vokal O seperti kata (
olun
sama artinya dengan
alun
,
omuah
sama artinya dengan
amuah
,
ontah
sama artinya dengan
antah
dan lain-lain). Penulis tidak akan membahas lebih dalam mengenai hal itu. Untuk pemahaman pembaca, dengan contoh di atas sudah cukup mewakili.
Nama pokan (pakan) diambil dari peristiwa yang terjadi di daerah tersebut. Menurut
sejarahnya, daerah ini dahulunya tempat orang berkumpul dan melakukan aktivitas jual beli. Jual beli yang dilakukan dengan bentuk barter, yaitu bertukar barang.
Dalam Kamus Bahasa Minangkabau- Indonesia (2009:582), kata pokan (pakan) adalah pekan yaitu pasar yang tidak terlalu besar. Pemberian nama daerah ini oleh masyarakatnya mengacu
kepada kata p
okan (pakan)
yang berkaitan dengan peristiwa, yaitu tempat orang berkumpul dan melakukan aktivitas jual beli.
Kata Pokan (Pakan) dalam semantik termasuk kedalam kategori makna referensial yang dikemukakan Chaer (2002), yaitu makna yang ada acuannya. Acuan tersebut adalah tempat orang berkumpul dan melakukan aktivitas jual beli.
Topi Goduang
Daerah ini dinamakan Topi Goduang disebabkan oleh di daerah tersebut dahulu terdapat bangunan besar seperti Gedung yang didirikan oleh Belanda. Masyarakat yang tinggal di sekitar Gedung tersebut menyebut tempat tinggal mereka di
Topi Goduang
(tepi gedung). Kata
topi
(sama artinya dengan
tapi
), kata
goduang
( sama artinya gedung dalam bahasa Indonesia).
Dalam Kamus Bahasa Minangkabau- Indonesia (2009:807), kata topi (tapi) adalah tepi, yaitu bagian bidang (permukaan) yang di luar sekali, pinggir. Dalam KBBI (2002: 299), kata gedung adalah rumah besar yang berdinding batu. Pemberian nama daerah ini oleh masyarakatnya mengacu kepada kata
topi goduang
yang berkaitan dengan kondisi saat itu, yaitu di pinggir gedung.
Kata Topi Goduang dalam semantik termasuk ke dalam kategori makna referensial yang dikemukakan Chaer (2002), yaitu makna yang ada acuannya. Acuan tersebut adalah tempat tinggal yang berada di tepi gedung.
Kampuang Jawo
Daerah ini dinamakan Kampuang Jawo oleh masyarakatnya disebabkan oleh daerah ini dahulu zaman kolonial Belanda tempat lokalisasi dari serdadu belanda. Serdadu-serdadu Belanda tersebut kebanyakan orang Jawa.
Dalam Kamus Bahasa Minangkabau-Indonesia (2009:355), kata kampuang adalah kampung yaitu tempat orang tinggal, didirikan oleh orang-orang sekaum bersama orang
sumenda
mereka. Dalam
Kamus Bahasa Minangkabau-Indonesia
(2009:310), kata
jao
adalah jawa. Dalam hal ini mengacu kepada orang Jawa. Pemberian nama daerah ini oleh masyarakatnya mengacu kepada kata
kampuang jao
yang berkaitan dengan kondisi saat itu, yaitu sebuah daerah yang dihuni oleh serdadu Belanda yang kebanyakan orang Jawa.
Kata Kampuang Jao dalam semantik termasuk ke dalam kategori makna referensial yang dikemukakan Chaer (2002), yaitu makna yang ada acuannya. Acuan tersebut adalah di daerah tersebut banyak serdadu Belanda, yaitu orang Jawa.
Tugu
Daerah ini dinamakan Tugu oleh masyarakatnya disebabkan oleh daerah ini dahulunya merupakan saksi pendaratan TNI sewaktu PRRI. Atas kejadian tersebut didirikanlah tugu
peringatan. Dalam KBBI (2002: 1076), kata tugu adalah tiang besar
dan tinggi terbuat dari batu dan batu bata. Pemberian nama daerah ini oleh masyarakatnya mengacu kepada kata
tugu,
yaitu sebuah tiang besar dan tinggi yang dibuat untuk memperingati pendaratan TNI sewaktu PRRI.
Kata Tugu dalam semantik termasuk kedalam kategori makna referensial yang dikemukakan Chaer (2002), yaitu makna yang ada acuannya. Acuan tersebut adalah di daerah tersebut ada sebuah tugu peringatan pendaratan TNI sewaktu PRRI.
Pasia
Daerah ini dinamakan Pasia oleh masyarakatnya disebabkan oleh, daerah ini berada di tepi laut. Dahulu, daerah ini merupakan bekas lautan yang mengering dan meninggalkan pasir.
Dalam Kamus Bahasa Minangkabau- Indonesia (2009:611), kata p
asia
adalah pasir yaitu pantai. Pemberian nama daerah ini mengacu kepada kata pasia yaitu bekas lautan yang mengering.
Kata Pasia dalam semantik termasuk ke dalam kategori makna referensial yang dikemukakan Chaer (2002), yaitu makna yang ada acuannya. Acuan tersebut adalah di daerah tersebut terdapat pasir yang berasal dari lautan yang mengering.
Muaro
Daerah ini dinamakan Muaro oleh masyarakatnya disebabkan oleh daerah ini berada di dekat muaro. Dahulu, belum ada orang tinggal di sana. Setelah kedatangan kolonial Belanda ke daerah tersebut, pihak kerajaan membuat sebuah dermaga guna untuk mempelancar
hubungan dengan Belanda dan dapat menciptakan lapangan pekerjaan untuk masyarakat.
Dalam Kamus Bahasa Minangkabau- Indonesia (2009:545), kata muaro adalah muara yaitu tempat berakhirnya aliran sungai di laut, danau atau sungai lain. Pemberian nama daerah ini mengacu kepada kata
muaro,
yaitu tempat berakhirnya aliran sungai di laut. Kata
Muaro
dalam semantik termasuk kedalam kategori makna referensial yang dikemukakan Chaer (2002), yaitu makna yang ada acuannya. Acuannya adalah di daerah tersebut terdapat
muaro,
yaitu tempat berakhirnya aliran sungai di laut .
Bukik Limo Kaco
Daerah ini dinamakan Bukik Limo Kaco oleh masyarakatnya disebabkan oleh daerah ini
dahulunya ada kebun limo kaco. limo kaco sama
artinya dengan jeruk nipis. Menurut sejarahnya, bukit ini dijadikan kebun oleh kerajaan
Aia Bangih
yang isi kebun itu adalah
limo kaco
. Pada saat itu harga
limo kaco
sangat tinggi.
Dalam Kamus Bahasa Minangkabau-Indonesia (2009:125) kata bukik adalah bukit yaitu tumpukan tanah yang lebih tinggi dari pada tempat sekelilingnya, lebih rendah dari pada
gunung. Dalam Kamus
Bahasa Minangkabau- Indonesia
(2009:494)kata
limo (limau)
adalah jeruk. Sementara itu, kata
kaco
Kamus Bahasa Minangkabau- Indonesia
(2009:329) adalah kaca yaitu benda yang keras, biasanya bening dan mudah pecah. Pemberian nama daerah ini oleh masyarakatnya mengacu kepada kata
Bukik Limo Kaco
yaitu tumbuhan
limo kaco
yang pernah tumbuh di Bukit itu.
Kata Bukik Limo Kaco dalam semantik termasuk dalam kategori makna referensial yang dikemukakan Chaer (2002), yaitu makna yang ada acuannya. Acuannya adalah di daerah
tersebut ada tumbuhan Limo Kaco yang tumbuh di atas bukit.
Bungo Tanjuang
Daerah ini diberi nama Bungo Tanjuang oleh masyarakatnya disebabkan oleh di daerah ini
dahulunya banyak tumbuh Bungo Tanjuang. Menurut
sejarah, salah seorang
RajaAia Bangih
mengambil sebuah keputusan untuk bergelar
Rang Kayo Bungo Tanjuang
dan raja tersebut tinggal di daerah itu.
Dalam Kamus Bahasa Minangkabau- Indonesia (2009:130), kata bungo adalah bunga yaitu bagian tumbuhan yang akan menjadi buah. Dalam
Kamus Bahasa Minangkabau- Indonesia
(2009:804),kata
tanjuang
adalah pohon yang bunganya berwarna putih kekuning-kuningan berbau harum, biasanya dipakai untuk hiasan sanggul. Pemberian nama daerah ini mengacu kepada kata
bungo tanjuang
yaitu tumbuhan bunga yang berwarna putih kekuning-kuningan berbau harum yang biasa dipakai untuk sanggul.
Kata Bungo Tanjuang dalam semantik termasuk ke dalam kategori makna referensial yang dikemukakan Chaer (2002), yaitu makna yang ada acuannya. Acuannya adalah di daerah
tersebut ada tumbuhan bungo tanjuang yang baunya harum.
Kampuang Pinang
Daerah ini diberi nama Kampuang Pinang oleh masyarakatnya disebabkan oleh daerah ini
pernah ada kebun pinang dengan jumlah yang
banyak. Sejarahnya daerah ini dahulu adalah hutan rimba. Kedatangan Belanda membuat daerah ini berubah, masyarakat menebang hutan dan menanam pohon
pinang
disebabkan oleh harga
pinang
cukup tinggi ditawarkan oleh kolonial Belanda kepada masyarakat.
Dalam Kamus Bahasa Minangkabau-Indonesia (2009:355), kata kampuang adalah kampung yaitu tempat orang tinggal, didirikan oleh orang-orang sekaum bersama orang
sumenda
mereka. Dalam
Kamus Bahasa Minangkabau- Indonesia
(2009:628),kata
pinang
adalah tumbuhan berumpun, berbatang lurus seperti lilin, tangkai daun yang melekat pada batang yang berbentuk seperti lembaran kulit, buah yang tua berwarna kuning
kemerah-merahan, dipakai untuk kawan makan sirih. Pemberian nama daerah ini mengacu kepada kata
kampuang pinang
disebabkan oleh dahulunya pernah tumbuh pohon
pinang
dengan jumlah yang banyak.
Kata kampuang pinang dalam semantik termasuk ke dalam kategori makna referensial yang dikemukakan Chaer (2002), yaitu makna yang ada acuannya. Acuannya adalah di daerah
Kampuang Padang
Daerah ini diberi nama Kampuang Padang oleh masyarakatnya disebabkan oleh daerah ini
pernah tumbuh Padang Ilalang yang sangat luas.
Dahulunya, daerah ini merupakan tempat berkebun masyarakat. Seiring berjalannya waktu, penduduk bertambah banyak dan pemukiman semakin padat. Melihat kondisi seperti itu, timbul inisiatif dari masyarakat. Mereka pindah dan membuat rumah di daerah ini.
Dalam Kamus Bahasa Minangkabau- Indonesia (2009:355), kata kampuang adalah kampung yaitu tempat orang tinggal, didirikan oleh orang-orang sekaum bersama orang
sumenda
mereka. Dalam
Kamus Bahasa Minangkabau- Indonesia
(2009:576),kata
padang
yaitu dataran luas; wilayah yang lapang (tidak ditumbuhi pohon-pohon yang berkayu besar). Pemberian nama daerah ini mengacu kepada kata
kampuang padang
disebabkan oleh dahulunya pernah tumbuh
Padang Ilalang
yang sangat luas.
Kata Kampuang Padang dalam semantik termasuk ke dalam kategori makna referensial yang dikemukakan Chaer (2002), yaitu makna yang ada acuannya. Acuannya adalah di daerah
tersebut pernah tumbuh Padang Ilalang yang sangat luas.
Daerah ini diberi nama Kampuang Dalam oleh masyarakatnya disebabkan oleh daerah ini berada di pedalaman. Dahulunya, daerah ini merupakan hutan rimba. Beberapa orang dari masyarakat membuat perkebunan di sana. Disebabkan oleh lokasinya jauh di pedalaman, masyarakat tersebut membuat rumah dan tinggal di sana bersama keluarganya.
Dalam Kamus Bahasa Minangkabau-Indonesia (2009:355), kata kampauang adalah kampung yaitu tempat orang tinggal, didirikan oleh orang-orang sekaum bersama orang
sumenda
mereka. Dalam
Kamus Bahasa Minangkabau- Indonesia
(2009:179),kata
dalam
yaitu jauh, bagian yang bukan bagian luar. Pemberian nama daerah ini mengacu kepada kata
kampuang dalam
yaitu sebuah kampung yang lokasinya berada di pedalaman.
Kata Kampuang Dalam dalam semantik termasuk ke dalam kategori makna referensial yang dikemukakan Chaer (2002), yaitu makna yang ada acuannya. Acuannya adalah sebuah daerah yang berlokasi di pedalaman.
Balakang Lido
Daerah ini diberi nama Balakang Lido oleh masyarakatnya disebabkan oleh daerah ini berada
di belakang rumah Lido. Lido adalah nama salah seorang
masyarakat yang kaya dan memiliki sifat dermawan di saat itu.
DalamKamus Bahasa Minangkabau- Indonesia (2009:75),kata balakang yaitu arah atau bagian yang menjadi lawan muka (depan). Sementara itu, nama
Lido
balakang lido
yaitu sebuah daerah yang lokasinya berada di belakang rumah
Lido
.
Kata balakang lido dalam semantik termasuk ke dalam kategori makna referensial yang dikemukakan Chaer (2002), yaitu makna yang ada acuannya. Acuannya adalah suatu daerah yang berlokasi di belakang rumah Lido.
Pasa koje
Daerah ini diberi nama Pasa Koje oleh masyarakatnya disebabkan oleh daerah ini pernah
tumbuh pohon koje yang berukuran besar . Pohon koje
adalah sejenis pohon beringin.
Kamus Bahasa Minangkabau- Indonesia (2009:609),kata pasa yaitu terang dan bersih (tentang
jalan, lapangan, dan sebagainya) yang tidak lagi ditumbuhi rumput karena sering dilalui.
Sementara itu kata koje adalah
pohon besar sejenis pohon beringin. Pemberian nama daerah ini mengacu kepada kata
pasa koje,
yaitu sebuah daerah yang lokasinya berada di sekitar pohon
Koje
.
Kata Pasa Koje dalam semantik termasuk ke dalam kategori makna referensial yang
dikemukakan Chaer (2002), yaitu makna yang ada acuannya. Acuannya adalah suatu daerah yang berlokasi di sekitar pohon Koje.
Kampuang Cino
Daerah ini diberi nama Kampuang Cino disebabkan oleh di daerah ini pernah tinggal
orang-orang Cina. Sejarahnya, daerah ini merupakan bekas markas kolonial Belanda. Setelah kedatangan orang Cina yang bertujuan untuk berdagang, masyarakat menyewakan markas Belanda tersebut kepada orang Cina untuk tempat tinggal mereka.
Dalam Kamus Bahasa Minangkabau- Indonesia (2009:355), kata kampuang adalah kampung yaitu tempat orang tinggal, didirikan oleh orang-orang sekaum bersama orang
sumenda
mereka.
Kamus Bahasa Minangkabau- Indonesia
(2009:159),kata
cino
yaitu orang bermata sipit, orang Cina bermata sipit. Pemberian nama daerah ini mengacu kepada kata
Kampuang Cino
yaitu suatu daerah yang pernah ditempati orang Cina.
Kata Kampuang Cino dalam semantik termasuk kedalam kategori makna referensial yang dikemukakan Chaer (2002), yaitu makna yang ada acuannya. Acuannya adalah suatu daerah yang pernah ditempati oleh orang cina.
Pulau Unggeh
Daerah ini diberi nama Pulau Unggeh oleh masyarakatnya disebabkan oleh daerah ini
merupakan pulau yang banyak terdapat Unggeh. Daerah
ini dahulunya merupakan daerah tujuan para
Pamikek
masyarakat menyebutnya dengan sebutan
pulau unggeh
.
DalamKamus Bahasa Minangkabau- Indonesia (2009:641),kata pulau yaitu tanah (daratan) yang dikelilingi air (di laut, sungai atau danau).
Kamus Bahasa Minangkabau- Indonesia
(2009:865),kata
unggeh
yaitu hewan bersayap, berkaki dua, berparuh dan berbulu yang mencakupi segala jenis burung, dapat dipelihara dan diternakan sebagai penghasil pangan (daging dan telur). Pemberian nama daerah ini mengacu kepada kata
pulau unggeh
yaitu suatu pulau yang banyak terdapat
Unggeh
.
Kata Pulau Unggeh dalam semantik termasuk ke dalam kategori makna referensial yang dikemukakan Chaer (2002), yaitu makna yang ada acuannya. Acuannya adalah sebuah pulau
yang banyak terdapat Unggeh.
- Latar Belakang Penamaan Daerah Berdasarkan Keserupaan
Pulau Panjang
Nama Pulau Panjang diambil dari bentuk fisik daerah tersebut, diantara pulau-pulau yang ada di Kecamatan Sungai Beremas Kabupaten Pasaman Barat, pulau inilah yang paling panjang.
DalamKamus Bahasa Minangkabau- Indonesia (2009:641),kata pulau yaitu tanah (daratan) yang dikelilingi air (di laut, sungai atau danau).Kata
Panjang
dalam
Kamus Bahasa Minangkabau- Indonesia
(2009:598) adalah berjarak jauh dari ujung ke ujung. Jadi kata
Pulau Panjang
adalah pulau yang berjarak jauh dari ujung ke ujung. Pemberian nama pada daerah ini adalah mengacu pada keserupaan fisik, yaitu pulau yang paling panjang di antara pulau-pulau lainnya.
Kata Pulau Panjang dalam semantik termasuk kedalam kategori makna referensial yang dikemukakan Chaer (2002) yaitu, makna yang ada acuanya. Acuanya, yaitu pulau yang panjang.
- Latar Belakang Penamaan Daerah Berdasarkan Legenda Dan Mitos
Nama daerah yang latar belakang penamaanya dari legenda dan mitos adalah Sumua Batu, Suak Batu Kudo,
dan Pulau Harimau. Sumua Batu
Pasaman Barat disebabkan oleh di daerah ini banyak terdapat batu granit. Menurut
legendanya, di celah-celah batu granit tersebut bermunculan air. Air tersebut semakin lama semakin banyak dan berbentuk seperti sumur. Masyarakat memanfaatkan sumur tersebut untuk air minum. Mitos yang dipercaya masyarakat tentang
Sumua Batu
adalah setiap orang dilarang beraktivitas di sana, kecuali untuk mengambil air minum. Bagi yang melanggar, ia akan dilarikan oleh makhluk gaib atau mendapat suatu penyakit yang disebabkan oleh makhluk gaib. Makhluk penghuni
Sumua
tersebut. Masyarakat mempercayai hal itu. Oleh sebab itu, sampai sekarang
Sumua Batu
itu masih utuh dan masih dimanfaatkan oleh masyarakat.
Dalam Kamus Bahasa Minangkabau-Indonesia (2009: 768), kata sumua adalah sumur, yaitu pencuran air yang dibor dari dalam tanah. Kata
batu
dalam
Kamus Bahasa Minangkabau-Indonesia
(2009: 99) adalah batu, yaitu benda keras padat yang berasal dari bumi atau planet lain, tetapi bukan logam. Pemberian nama daerah ini berdasarkan kepada legenda dan mitos daerah tersebut, yaitu adanya air yang berasal atau keluar dari celah-celah batu granit yang dihuni oleh makhluk gaib.
Kata Sumua Batu dalam ilmu semantik termasuk ke dalam kategori makna referensial yang dikemukakan Chaer (2002), yaitu makna yang terletak pada acuannya. Acuannya yaitu sebuah sumur yang dikelilingi oleh batu.
Suak Batu Kudo
Daerah ini dinamakan Suak Batu Kudo oleh masyarakatnya disebabkan oleh di daerah tersebut
ada batu berbentuk kepala kuda. Dahulunya, di tepi Sua
k
(sungai) ada sebuah
berbentuk kepala
kuda
. Mitos
Suak Batu Kudo
setiap orang dilarang mandi-mandi disana. Jika melanggar aturan tersebut, ia akan hilang atau dilarikan oleh makhluk gaib yang diyakini penghuni batu berbentuk kepala kuda tersebut. Dalam jangka waktu setahun atau dua tahun akan memakan tumbal jika tidak diberi sesajian.
Kata suak sama artinya dengan kata sungai. Dalam Kamus Bahasa Minangkabau-Indonesia
(2009:99) kata
batu,
yaitu benda keras padat yang berasal dari bumi atau planet lain tetapi bukan logam. Sementara itu, Kata
kudo
dalam
Kamus Bahasa Minangkabau-Indonesia
(2009:415) adalah binatang menyusui, berkuku satu, biasa dipelihara orang sebagai kendaraan (tunggangan, angkutan) atau penarik kendaraan. Pemberian nama daerah ini berdasarkan kepada legenda dan mitos daerah tersebut, yaitu adanya batu di tepi sungai yang berbentuk kepala kuda dan dihuni oleh makhluk gaib.
Kata suak batu kudo dalam ilmu semantik termasuk ke dalam kategori makna referensial yang dikemukakan Chaer (2002), yaitu makna yang terletak pada acuannya. Acuannya itu adalah sebuah batu berbentuk kepala kuda yang berada di tepi sungai.
Pulau Harimau
Daerah ini dinamakan Pulau Harimau oleh masyarakatnya disebabkan oleh mitos pulau harimau itu. Di zaman dahulu, orang-orang yang memiliki sihir (dukun) yang sudah meninggal bereinkarnasi menjadi harimau dan harimau itu diasingkan ke sebuah pulau yang sekarang
dinamakan Pulau Harimau. Mitos ini sebenarnya
bertujuan untuk mencegah kegiatan
illegal logging
Pulau Harimau,
banyak terdapat pohon-pohon besar yang diperlukan masyarakat untuk membuat rumah dan kapal.
DalamKamus Bahasa Minangkabau- Indonesia (2009:641),kata pulau yaitu tanah (daratan) yang dikelilingi air (di laut, sungai atau danau). Sementara itu, kata
harimau
dalam KBBI (2002:341) adalah binatang buas, pemakan daging, rupanya seperti kucing besar. Pemberian nama daerah ini berdasarkan mitos daerah tersebut yaitu adanya harimau yang diasingkan kepulau tersebut.
Kata Pulau Harimau dalam ilmu semantik termasuk kedalam kategori makna referensial yang dikemukakan Chaer (2002), yaitu makna yang terletak pada acuannya. Acuannya itu adalah sebuah pulau yang ada harimaunya.
- Makna Nama Daerah di Kecamatan Sungai Beremas Kabupaten Pasaman Barat
Makna nama yang terdapat dari masing-masing nama-nama daerah di Kecamatan Sungai Beremas Kabupaten Pasaman Barat memiliki konsep dan ide yang sesuai dengan pemberian nama. Pemberian nama pada nama-nama daerah di Kecamatan Sungai Beremas Kabupaten Pasaman Barat ini mengandung suatu peristiwa. Dalam hal ini, makna nama daerah di
Kecamatan Sungai Beremas Kabupaten Pasaman Barat dapat dikelompokan ke dalam makna nama antropolinguistik yang dikemukakan Sibarani (2004: 114-118). Makna nama dari
nama-nama daerah di Kecamatan Sungai Beremas Kabupaten Pasaman Barat yang ditemukan terdiri atas makna situasional dan makna kenangan.
Makna Nama Situasional
Makna situasional adalah makna yang mengandung pemberitahuan situasi. Makna nama situasional ini diberikan sesuai dengan nama yang mengacu pada situasi saat itu. Pada nama situasional, pemaknaan dikaitkan dengan nilai-nilai budaya atau sesuatu kepercayaan bagi pemilik nama terhadap suatu yang dikaitkan dengan situasi dan kondisi. Makna situasional banyak ditemukan di tengah masyarakat, dan makna situasional mengandung harapan sesuai dengan situasi.
Makna nama yang muncul pada nama-nama daerah di Kecamatan Sungai Beremas Kabupaten Pasaman Barat adalah Aia Bangih, Pulau Panjang, pulau unggeh, pulau harimau, Pasia,
Muaro, Kampuang Padang, Kampuang Dalam, Pasa Koje, Topi Goduang, Kampuang Jawo, Kampuang Cino, Suak Batu Kudo, Sumua Batu, Pokan, Bukik Limo Kaco, Bungo Tanjuang, Kampuang Pinang.
Aia Bangih
Nama Aia Bangih dapat dikelompokkan ke dalam makna situasional. Pemberian nama pada daerah ini berdasarkan situasi yang ada, yaitu nama daerah diberikan sesuai dengan situasi daerah yang berada di tepi sungai dan laut. Dilihat dari latar belakang penamaannya,
Aia Bangih
awalnya bernama Aia Bange. Setelah kedatangan bangsa Portugis ke daerah tersebut kata
Aia Bange
berubah menjadi
Aia Bangih
disebabkan oleh orang-orang Portugis tidak bisa mengucapkan
Aia Bange
. Setiap mereka mengucapkan
Aia Bange
sering keluar kata-kata
Aia Bangih
.
Kata Aia Bangih oleh masyarakat Kecamatan Sungai Beremas Kabupaten Pasaman Barat memiliki makna yaitu pertemuan antara air laut dan air sungai. Pada nama daerah ini menjelaskan bahwa makna yang terkandung berdasarkan kondisi dan situasi di daerah itu.
Pengharapan yang terkandung pada nama Aia Bangihadalah agar masyarakat mengetahui latar belakang nama daerah mereka dan di daerah mereka pernah di datangi oleh bangsa asing yaitu bangsa Portugis.
Pulau Unggeh
Nama Pulau Unggeh dapat dikelompokkan ke dalam makna situasional. Pemberian nama pada daerah ini berdasrkan situasi yang ada, yaitu nama daerah diberikan sesuai dengan situasi daerah yang banyak terdapat jenis unggeh. Kata pulau unggeh oleh masyarakat memiliki makna yaitu di pulau tersebut pernah ada banyak jenis
Unggeh
yang hidup di sana. Daerah ini dahulunya tempat tujuan
Pamikek
(orang yang mencari burung). Para
pamikek
tidak hanya dari masyarakat Kecamatan Sungai Beremas saja. Dari luar daerah juga banyak yang datang ke sana seperti
Pamikek dari daerah Ujuang Gadiang , Sasak , dan Maligi
. Pada nama daerah ini, dijelaskan bahwa makna yang terkandung berdasarkan kondisi dan situasi yang ada.
Pulau Panjang
pulau-pulau yang ada di Kecamatan Sungai Beremas Kabupaten Pasaman Barat. Nama Pulau Panjang
dapat dikelompokan ke dalam makna situasional. Pemberian nama pada daerah ini
berdasarkan situasi yang ada, yaitu nama daerah diberikan sesuai dengan bentuk fisiknya. Kata
Pulau Panjang
oleh masyarakat memiliki makna, yaitu pulau yang panjang. Pada nama daerah ini, dijelaskan bahwa makna yang terkandung berdasarkan kondisi dan situasi yang ada.
Pulau Harimau
Nama Pulau Harimau dapat dikelompokan ke dalam makna situasional. Pemberian nama pada daerah ini berdasarkan situasi yang ada, yaitu nama daerah diberikan sesuai dengan situasi saat itu, untuk mencegah penebangan liar (illegal logging). Dahulunya, sangat banyak penebangan hutan secara liar di pulau tersebut dikarnakan di pulau itu banyak terdapat pohon-pohon besar yang memiliki nilai jual tinggi, sementara hukum untuk melarang
illegal logging
belum ada di Kecamatan Sungai Beremas Kabupaten Pasaman Barat. Oleh sebab itu, untuk melarang
illegal logging
maka dibuatlah sebuah mitos bahwa pulau itu tempat diasingkannya harimau dari rengkarnasi orang-orang yang memiliki sihir (dukun). Pada nama daerah ini, dijelaskan bahwa makna nama diberikan sesuai dengan kondisi dan situasi. Pengharapan yang terkandung pada nama daerah
Pulau Harimau
adalah untuk mencegah
Illegal Logging
yang ingin menebang hutan di pulau tersebut.
Pasia
Makna nama yang terkandung pada nama daerah ini adalah makna nama situasional, karena nama diberikan sesuai dengan situasi yaitu daerah yang berada di pinggir laut. Menurut sejarahnya, daerah ini merupakan bekas dari lautan yang mengering. Pemberian nama pada daerah ini mengacu pada defenisi pasia. Dalam Kamus Bahasa Minangkabau- Indonesia
(2009:611), kata
pasia
adalah pasir yaitu pantai. Pengharapan yang terkandung pada nama daerah ini adalah agar masyarakat mengetahui bahwa daerah ini dahulunya adalah bekas lautan yang mengering.
Muaro
Nama Muaro dapat dikelompokan ke dalam makna situasional. Pemberian nama pada daerah
ini berdasarkan situasi yang ada, yaitu nama daerah diberikan sesuai dengan situasi daerah yang berada di dekat Muaro. Kata Muaro oleh masyarakat memiliki makna yaitu tempat berakhirnya aliran sungai. Sewaktu kedatangan kolonial Belanda, daerah
Muaro
mengalami kemajuan, masyarakat sudah banyak yang datang ke daerah ini disebabkan oleh di daerah
Muaro
, kerajaan membuat dermaga yang banyak mendatangkan lapangan pekerjaan.
Pada nama daerah ini, dijelaskan bahwa makna yang terkandung berdasarkan dengan kondisi dan situasi yang ada, yaitu suatu daerah yang berada didekat Muaro. Pengharapan yang terkandung pada nama daerah ini adalah dengan adanya dermaga di
Muaro,
orang-orang akan bertambah ramai dan akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Nama Kampuang Padang pada nama daerah ini diberikan berdasarkan situasi pada saat itu, yaitu pemberian nama dilakukan pada situasi dan kondisi daerah. Pemberian nama pada daerah ini berdasarkan situasi yang ada, yaitu nama daerah diberikan sesuai dengan situasi
daerah yang dahulunya pernah tumbuh Padang Ilalang yang sangat
luas. Kata Ka
mpuang Padang
oleh masyarakat memiliki makna, yaitu suatu daerah yang merupakan bekas dari tumbuhan
Padang Ilalang
. Pada nama daerah ini, dijelaskan bahwa makna yang terkandung berdasarkan dengan kondisi dan situasi yang ada.
Kampuang Dalam
Nama Kampuang Dalam dapat dikelompokan ke dalam makna situasional. Pemberian nama pada daerah ini berdasarkan situasi yang ada, yaitu nama daerah diberikan sesuai dengan situasi daerah yang berada di pedalaman. Daerah ini awalnya daerah perkebunan masyarakat. Lokasi yang jauh dari perkampungan membuat masyarakat tidak berani meninggalkan
kebun-kebun mereka disebabkan oleh banyak Musuah. Musuah meru
pakan sebutan dari masyarakat yang artinya binatang-binatang yang merusak tanaman, seperti babi hutan dan musang. Oleh sebab itu, masyarakat memutuskan untuk membuat rumah dan tinggal di sana.
Kata Kampuang Dalam oleh masyarakat memiliki makna, yaitu suatu daerah yang berada di pedalaman. Pada nama daerah ini, dijelaskan bahwa makna yang terkandung berdasarkan dengan kondisi dan situasi yang ada. Pengharapan yang terdapat pada nama daerah ini menurut sejarahnya adalah agar masyarakat bisa menjaga kebun mereka dari serangan
Musuah.
Pasa Koje
Nama Pasa Koje dapat dikelompokan ke dalam makna situasional. Pemberian nama pada daerah ini berdasarkan situasi yang ada, yaitu nama daerah diberikan sesuai dengan situasi daerah yang berada di sekitar pohon Koje. Pada nama daerah ini, dijelaskan bahwa makna yang terkandung berdasarkan dengan kondisi dan situasi yang ada.
Pengharapan yang terkandung pada nama daerah ini adalah agar masyarakat mengetahui bahwa di daerah ini dahulunya pernah tumbuh pohon
Koje.
Topi Goduang
Makna nama yang terkandung pada nama daerah ini adalah makna nama situasional, karena nama diberikan sesuai dengan situasi, yaitu daerah yang berada di Topi Goduang (tepi gedung). Menurut masyarakat,
topi
memiliki arti tepi. Sementara itu,
Goduang
memiliki arti gedung. Pemberian nama pada daerah ini mengacu kepada defenisi
topi
dan
Goduang.
Daerah Topi Goduang ini dahulunya banyak terdapat rumah kolonial Belanda yang tinggi seperti gedung. Masyarakat yang tinggal atau yang memiliki rumah di sekitar gedung itu.
Menamakan tempat tinggal mereka berada di topi goduang.
Pengharapan yang terkandung pada nama daerah ini adalah agar generasi penerus mereka mengetahui bahwa di daerah mereka dahulu pernah ada bangunan besar seperti Gedung yang didirikan oleh Belanda untuk tempat tinggal.
Nama Kampuang Jawodapat dikelompokan ke dalam makna situasional. Pemberian nama pada daerah ini berdasarkan situasi yang ada, yaitu nama daerah diberikan sesuai dengan situasi daerah yang pernah ditempati oleh orang Jawa. Kata Kampuang
Jawo oleh
masyarakat memiliki makna yaitu daerah yang pernah ditempati oleh orang-orang Jawa yang menjadi serdadu Belanda. Pada nama daerah ini, dijelaskan bahwa makna yang terkandung berdasarkan dengan kondisi dan situasi yang ada.
Kampuang Cino
Nama Kampuang Cino dapat dikelompokkan ke dalam makna situasional. Pemberian nama pada daerah ini berdasarkan situasi yang ada, yaitu nama daerah diberikan sesuai dengan situasi daerah yang pernah ditempati oleh orang Cina. Kata Kampuang
Cino oleh
masyarakat memiliki makna, yaitu daerah yang pernah ditempati oleh pedagang-pedagang Cina. Pada nama daerah ini, dijelaskan bahwa makna yang terkandung berdasarkan dengan kondisi dan situasi yang ada.
Bukik Limo Kaco
Nama Bukik Limo Kaco dapat dikelompokkan ke dalam makna situasional. Pemberian nama pada daerah ini berdasarkan situasi yang ada, yaitu nama daerah diberikan sesuai dengan situasi daerah yang pernah ada kebun Limo Kaco. Kebun Limo Kaco se ngaja di buat oleh kerajaan
Aia Bngih
disebabkan, pada saat itu harga
Limo Kaco
Limo Kaco
diharapkan ekonomi kerajaan semakin bertambah.
Kata Bukik Limo Kaco oleh masyarakat memiliki makna, yaitu daerah yang pernah ada kebun L imo Kaco.
Pada nama daerah ini, dijelaskan bahwa makna yang terkandung berdasarkan dengan kondisi dan situasi yang ada. Makna pengharapan yang terkandung pada nama daerah ini adalah agar masyarakat mengetahui dahulu pernah ada kebun
limo kaco
di atas bukit, yang dibuat oleh kerajaan
Aia Bangih
guna untuk pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakatnya.
Suak Batu Kudo
Nama Suak Batu Kudo dapat dikelompokan ke dalam makna situasional. Pemberian nama pada daerah ini berdasarkan situasi yang ada, yaitu nama daerah diberikan sesuai dengan situasi daerah yang pernah ada batu berbentuk kepala kuda. Kata Suak Batu Kudo
oleh masyarakat memiliki makna, yaitu daerah yang pernah ada batu berbentuk kepala kuda yang menjadi legenda dan mitos.
Pada nama daerah ini, dijelaskan bahwa makna yang terkandung berdasarkan dengan kondisi dan situasi yang ada. Pengharapan yang terkandung pada nama daerah ini adalah dengan adanya mitos, bahwa masyarakat akan menjaga daerah tersebut.
Nama Sumua Batu dapat dikelompokkan ke dalam makna situasional. Pemberian nama pada daerah ini berdasarkan situasi yang ada, yaitu nama daerah diberikan sesuai dengan situasi daerah yang memiliki sumur dan dikelilingi oleh batu. Kata Sumua Batu oleh masyarakat memiliki makna yaitu daerah yang memiliki sumur dan dikelilingi oleh batu yang menjadi legenda dan mitos. Legenda
Sumua Batu
adalah dahulunya, ada air keluar di sela-sela batu yang berada di tepi bukit. Air yang keluar semakin lama semakin banyak yang membentuk seperti sumur. Sementara itu, mitos dari
Sumua Batu
adalah setiap orang dilarang beraktivitas di sana, kecuali untuk mengambil air minum. Bagi yang melanggar, maka ia akan dapat penyakit yang disebabkan oleh makhluk gaib yang dipercaya sebagai penghuni
Sumua Batu
tersebut.
Pada nama daerah ini, dijelaskan bahwa makna yang terkandung berdasarkan dengan kondisi dan situasi yang ada. Pengharapan yang terkandung pada nama daerah ini adalah dengan adanya mitos, maka masyarakat akan menjaga daerah tersebut. Air Sumua Batu sangat bermanfaat bagi masyarakat untuk air minum.
Pokan
Nama Pokan dapat dikelompokkan ke dalam makna situasional. Pemberian nama pada daerah ini berdasarkan situasi yang ada, yaitu nama daerah diberikan sesuai dengan situasi daerah yang pernah menjadi pokan (pekan/pasar). Kata Pokan oleh masyarakat memiliki makna, yaitu daerah yang pernah menjadi
pokan
di Kecamatan Sungai Beremas. Pada nama daerah ini, dijelaskan bahwa makna yang terkandung berdasarkan dengan kondisi dan situasi yang ada.
Bungo Tanjuang
Nama Bungo Tanjuang dapat dikelompokkan ke dalam makna situasional. Pemberian nama pada daerah ini berdasarkan situasi yang ada, yaitu nama daerah diberikan sesuai dengan
situasi daerah yang pernah tumbuh Bungo Tanjung. Kata bungo
tanjuang oleh
masyarakat memiliki makna yaitu bunga yang harum berwarna putih kemerah-merahan. Pada nama daerah ini, dijelaskan bahwa makna yang terkandung berdasarkan dengan kondisi dan situasi yang ada.
Kampuang Pinang
Nama Kampuang Pinang dapat dikelompokan ke dalam makna situasional. Pemberian nama pada daerah ini berdasarkan situasi yang ada, yaitu nama daerah diberikan sesuai dengan
situasi daerah yang pernah ada kebun pinang. Kata Kampuang
Pinang oleh
masyarakat memiliki makna daerah yang pernah ada kebun pinang sewaktu kolonial Belanda. Pada nama daerah ini, dijelaskan bahwa makna yang terkandung berdasarkan dengan kondisi dan situasi yang ada.
Makna Nama Kenangan
Makna nama kenangan adalah makna nama yang mengandung kenangan (2004:118). Selanjutnya, Sibarani mengungkapkan makna nama kenangan ini diberikan sesuai dengan kenangan yang dialami oleh pemberi nama. Makna nama kenangan memiliki pengharapan sesuai dengan kenangan. Makna kenangan yang muncul dari nama-nama daerah di
Kecamatan Sungai Beremas Kabupaten Pasaman Barat adalah Tugu, Balakang Lido dan silawai.
Tugu
Makna nama Tugu dapat dikelompokkan ke dalam makna kenangan, karena nama daerah ini diberikan sesuai dengan kenangan. Tugu mengingatkan peristiwa masa lalu, yaitu PRRI. Pemberian nama tugu sesuai dengan fungsi tugu tersebut, yaitu untuk memperingati
pendaratan TNI sewaktu PRRI. Pengharapan yang terdapat pada nama daerah ini adalah agar masyarakat mengingat bahwa daerah mereka pernah menjadi saksi sejarah.
Balakang Lido
Makna nama yang terkandung pada nama Balakang Lido adalah makna nama kenangan, yaitu nama diberikan berdasarkan kenangan.
Balakang Lido
mengingatkan masa lalu, suatu daerah yang berada di belakang rumah
Lido
(orang kaya di masa itu). Lido orang yang baik hati, ia merelakan sebagian tanahnya untuk ditempati oleh orang yang membutuhkan. Pengharapan yang terdapat pada nama daerah ini adalah agar masyarakat bisa meniru sifat Lido yang dermawan.
Silawai
Makna nama Silawai dapat dikelompokkan ke dalam makna kenangan karena nama daerah ini diberikan sesuai dengan kenangan. Silawai merupakan kenangan
peristiwa masa lalu, seorang perantau yang datang menemui Raja
Aia Bangih
dan meminta kepada Raja supaya diperbolehkan tinggal di sana. Raja mengabulkan permintaannya. Raja mengizikan Silawai untuk menempati daerah yang berada di timur
Aia Bangih
(daerah yang masih rimba). Pemberian nama
Silawai
berdasarkan kenangan pada seorang perantau. Pengharapan yang terdapat pada nama daerah ini adalah agar masyarakat mengingat bahwa tolong menolong itu sifat mulia yang
mendatangkan manfaat. Seperti halnya sifat Raja yang menolong Silawai. Silawai mendapatkan tempat tinggal. Sementar itu, daerah kerajaan bertambah luas.
- Antropolinguistik dalam Pemberian Nama Daerah di Kecamatan Sungai Beremas Kabupaten Pasaman Barat
Kecamatan Sungai Beremas Kabupaten Pasaman Barat merupakan daerah rantau dari wilayah Minangkabau. Masyarakatnya berasal dari kerajaan Indro Puro yang masih keturunan dari Raja Pagaruyuang. Navis (1984:107) mengatakan daerah rantau adalah wilayah Minangkabau yang terletak di luar wilayah Luhak Nan Tigo (Luhak Tanah Data, Luhak Agam, dan Luhak Limo
Puluh Koto ). Oleh sebab itu, masyarakat Kecamatan
Sungai Beremas Kabupaten Pasaman Barat dalam menjalankan kehidupan berpayung pada adat dan budaya Minangkabau.
Pemberian nama-nama daerah yang ada di Kecamatan Sungai Beremas Kabupaten Pasaman Barat adalah gambaran dari kebudayaan masyarakat Minangkabau yang menjadikan alam sebagai sumber segala-galanya. Hal ini, sesuai dengan falsafah Minangkabau “Alam takambang jadi guru
”. Alam bagi masyarakat Minangkabau ialah segala-galanya, bukan hanya sebagai tempat lahir dan tempat mati, tempat hidup dan berkembang, melainkan juga mempunyai makna filosofis (Navis, 1984: 59).
Antropolinguistik mengkaji budaya dan bahasa dapat dijadikan landasan untuk menganalisis penamaan daerah yang ada di Kecamatan Sungai Beremas Kabupaten Pasaman Barat,
sebagaimana budaya masyarakat Minangkabau memandang alam sebagai bagian dari dirinya. Hal itu terlihat pada pemberian nama-nama daerah di Kecamatan Sungai Beremas Kabupaten
Pasaman Barat, misalnya, pemberian nama Aia Bangih. Pemberian nama Aia Bangih bukan hanya sebutan saja. Adanya suatu fenomena alam dalam pemberian nama tersebut.
Pemberian nama
Aia Bangih
berdasarkan kondisi alamnya, yaitu di sekitar daerah tersebut terjadi pertemuan antara air laut dan air sungai oleh masyarakatnya disebut dengan
Aia Bangih
. Begitu juga dengan pemberian nama-nama daerah lainya yang ada di Kecamatan Sungai Beremas Kabupaten Pasaman Barat. Dari 21 sampel data yang dianalisis, terdapat 20 sampel data yang latar belakang penamaannya berdasarkan situasi dan kondisi alam. Sementara itu, satu data lagi latar belakang penamaannya berdasarkan keserupaan, yaitu diambil dari bentuk fisik daerah tersebut. Pemberian nama daerah di Kecamatan Sungai Beremas Kabupaten Pasaman Barat oleh masyarakatnya bukan hanya sebutan saja, namun didasari pada situasi dan kondisi alam dari tiap-tiap daerah. Sebagaimana tercantum dalam falasafah kebudayaan Minangkabau “
alam takambang jadi guru”.
Dari segi linguistik, nama-nama daerah di Kecamatan Sungai Beremas Kabupaten Pasaman Barat termasuk dalam kategori kata dan kata majemuk. Nama-nama daerah yang termasuk dalam kategori kata adalah Silawai, Pasia, Tugu, Muaro, dan Pokan. Sementara itu,
nama-nama daerah yang termasuk dalam kategori kata majemuk adalah
Aia Bangih, Bungo Tanjuang, Balakang Lido, Kampuang Padang, Kampuang Dalam,
Kampuang Jawo, Kampuang Cino, Kampuang Pinang, Sumua Batu, Suak Batu Kudo, Pasa Koje, Bukik Limo Kaco, Topi Goduang, Pulau Panjang, Pulau Unggeh, dan Pulau Hariamu.
1. 4. Kesimpulan
Berdasarkan analisis yang dilakukan terhadap nama-nama daerah di Kecamatan Sungai Beremas Kabupaten Pasaman Barat dapat disimpulkan antara lain:
Kabupaten Pasaman Barat antara lain terbentuk atas: penemu dan pembuat, keserupaan, legenda, dan mitos.
2. Kategori makna dalam semantik yang terdapat pada penamaan daerah-daerah di Kecamatan Sungai Beremas Kabupaten Pasaman Barat, semua bermakna referensial, disebabkan oleh dalam pemberian nama mengacu pada bentuk dan kondisi alam tiap-tiap
daerah.
3. Makna nama yang terkandung pada nama daerah diKecamatan Sungai Beremas Kabupaten Pasaman Barat terdiri atas dua jenis, yaitu makna nama situasional dan makna nama kenangan. Makna nama situasional terdapat pada nama Aia Bangih, Pulau
Panjang, pulau unggeh, pulau harimau, Pasia, Muaro, Kampuang Padang, Kampuang Dalam, Pasa Koje, Topi Goduang, Kampuang Jawo, Kampuang Cino, Suak Batu Kudo, Sumua Batu, Pokan, Bukik Limo Kaco, Bungo Tanjuang,
dan Kampuang Pinang.
Makna nama kenangan terdapat pada nama
Tugu, Balakang Lido,
dan
Silawai.
4. Makna nama-nama daerah di Kecamatan Sungai Beremas Kabupaten Pasaman Barat hampir semuanya dikaitkan dengan peristiwa yang berdasarkan situasi dan kondisi daerah. Hal ini mencerminkan bahwa nama daerah bukan sekedar pennyebutan saja, melainkan adanya peristiwa-peristiwa yang terdapat di setiap daerah.
5. Antropolinguistik dalam pemberian nama-nama daerah di Kecamatan Sungai Beremas Kabupaten Pasaman Barat dapat ditinjau dari falsafah “Alam takambang jadi guru” dan secara kebahasaan bentuk nama daerah termasuk ke dalam kategori kata dan kata mejemuk. DAFTAR PUSTAKA