1
RENCANA KERJA PENINGKATAN KINERJA SDM
DALAM PEMBINAAN PELAKU SARANA DISTRIBUSI
ALKES PADA BIDANG SUMBER DAYA KESEHATAN
DINAS KESEHATAN DAERAH ISTIMEWA
YOGYAKARTA
OLEH :
PESERTA
No. 7 / Diklatpim III / VIII / DIY/ 2013
PEMERINTAH DAERAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
DIKLAT KEPEMIMPINAN TINGKAT III ANGKATAN VIII
YOGYAKARTA
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kesehatan merupakan salah satu aspek yang sangat menentukan dalam membangun sumber daya manusia berkualitas agar mampu bersaing di era yang penuh tantangan baik pada saat ini maupun masa yang akan datang. Mencermati aspek kesehatan dalam arti luas, tidak hanya sehat secara fisik tetapi juga psikhis, termasuk di dalamnya kesehatan mental yang direfleksikan dalam kemampuan atau kecerdasan intelektual, emosional dan spritual. Dalam konteks ini jelas, derajat kesehatan dapat memberikan pengaruh ke berbagai aspek kehidupan individu maupun masyarakat.
Dalam konteks inilah, pembangunan di bidang kesehatan telah diimplementasikan melalui berbagai kebijakan / strategi, yang selanjutnya tertuang dalam berbagai program / kegiatan baik yang dilaksanakan oleh sektor kesehatan maupun sektor pendukung. Pelaksanaan program / kegiatan tidak terlepas dari peran serta pemerintah, swasta maupun masyarakat.
Untuk merefleksikan keberhasilan pembangunan kesehatan tersebut, Dinas Kesehatan DIY telah menyusun Rencana Strategis yang dikuatkan dengan surat Kepala Dinas Kesehatan DIY nomor 050/1687/I.3 tentang Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi DIY Tahun 2009 – 2013. Dalam rangka mencapai Visi, Misi yang telah ditetapkan, telah ditempuh melalui berbagai upaya yang selanjutnya tertuang dalam program/kegiatan Dinas Kesehatan DIY.
Dengan berdasarkan hal tersebut di atas dan berdasarkan tugas dan fungsi yang telah diamanatkan dengan Peraturan Gubernur nomor 45 tahun
2008 tentang Rincian Tugas Dinas Kesehatan Provinsi DIY, maka sudah selayaknya Dinas Kesehatan DIY menyusun perencanaan baik jangka menengah, lima (5) tahunan yang tertuang dalam Rencana Strategis maupun satu (1) tahunan dalam rencana kinerja tahunan.
Salah satu tugas pokok dan fungsi Dinas Kesehatan DIY, antara lain di Bidang Sumber Daya Kesehatan. Dalam pelaksanaan tugas yang meliputi menyiapkan pedoman pelaksanaan, membimbing dan mengendalikan, mengkoordinasikan, serta fasilitasi dalam pelaksanaan pembiayaan dan jaminan kesehatan, tenaga dan sarana kesehatan, farmasi, makanan, minuman dan Alat kesehatan (Alkes) masih mengalami hambatan/kendala dalam penyelenggaraannya. Permasalahan tersebut antara lain dalam hal pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes yang menyebabkan masih banyak Alkes yang dijual tidak mempunyai ijin edar. Hal tersebut tercermin dari banyaknya Alkes yang beredar tidak mempunyai ijin edar.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1190/Menkes/Per/VIII/2010 tentang Ijin Edar Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga dan Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 1191/Menkes/Per/VIII/2010 tentang Penyaluran Alat Kesehatan, disebutkan bahwa masyarakat perlu dilindungi kesehatan dan keselamatannya terhadap kesalahgunaan, penyalahgunaan dan penggunaan alat kesehatan dan perbekalan kesehatan rumah tangga yang tidak memenuhi persyaratan mutu, keamanan dan kemanfaatan.
Pemerintah, pemerintah daerah provinsi dan pemerintah daerah kabupaten/kota melakukan pembinaan secara berjenjang terhadap segala kegiatan yang berhubungan dengan peredaran alat kesehatan. Pembinaan tersebut diarahkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan alat
kesehatan (Alkes) yang memenuhi standar persyaratan mutu, keamanan dan kemanfaatan.
Dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah, sumber daya manusia (SDM) atau yang biasa disebut dengan Aparatur Pemerintah Daerah, merupakan subyek penggerak dalam kegiatan pemerintahan Daerah, yang meliputi pembangunan, pendidikan, kesehatan dan sebagainya. Dengan demikian, dibutuhkan sumber daya manusia yang benar-benar mampu dan memiliki etos kerja yang produktif, trampil, kreatif, disiplin dan profesional. Disamping itu juga diperlukan Aparatur Pemerintah Daerah yang mampu memanfaatkan, mengembangkan dan menguasai ilmu dan teknologi yang inovatif dalam rangka memacu pelaksanaan penyelenggaraan pemerintah Daerah, sehingga penyelenggaraan Pemerintah Daerah harus didukung dengan Aparatur Pemerintah Daerah yang berkualitas.
Berdasarkan uraian tersebut di atas maka sesuai dengan tugas pokok dan fungsi dalam organisasi serta tema Diklat Kepemimpinan Tingkat III Angkatan VIII Pemerintah Daerah DIY tahun 2013 yaitu “Membangun World Class Governance melalui Pengembangan Sumber Daya Manusia Aparatur, Pembangunan Berkelanjutan dan Peningkatan Kesadaran Berbangsa dan Berbudaya”, penyusunan kertas kerja perseorangan ini mengambil judul “Rencana Kerja Peningkatan Kinerja SDM Dalam Pembinaan Pelaku Sarana Distribusi Alkes Pada Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta”.
B. Isu Aktual
Mengingat tugas pokok Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan DIY adalah menyiapkan pedoman pelaksanaan, membimbing dan
mengendalikan, mengkoordinasikan, serta fasilitasi dalam pelaksanaan pembiayaan dan jaminan kesehatan, tenaga dan sarana kesehatan, farmasi, makanan, minuman dan Alat kesehatan, yang mana masih banyak alat kesehatan yang dijual di sarana distribusi alat kesehatan belum mempunyai ijin edar. Salah satu jaminan bahwa alat kesehatan yang dijual itu bermutu adalah harus mempunyai ijin edar dari Kementrian Kesehatan. Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan DIY mempunyai kewajiban untuk melakukan pembinaan terhadap pelaku sarana distribusi Alat Kesehatan sehingga masyarakat mendapatkan Alat kesehatan yang bermutu terjamin keamanan dan kemanfaatannya.
C. Visi dan Misi Organisasi
1. Visi
Pembangunan kesehatan di DIY diselenggarakan dalam upaya mendukung visi nasional ”Masyarakat sehat yang mandiri dan berkeadilan”. Guna mendukung visi nasional tersebut dan mendasarkan kepada analisis perkembangan situasi dan kondisi, memperhatikan dasar penyelenggaraan pembangunan dalam RPJM Nasional bidang kesehatan serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah DIY maka ditetapkan visi Dinas Kesehatan DIY sebagai berikut :”Dinas Kesehatan yang katalistik mendukung terciptanya status kesehatan DIY yang tinggi serta sebagai pusat pelayanan dan pendidikan kesehatan yang bermutu dan beretika”.
Dinas Kesehatan DIY berkewajiban mewujudkan DIY sebagai daerah yang memiliki keunggulan derajad kesehatan tidak hanya dalam batas-batas nasional tetapi memiliki kesetaraan di tataran dunia
internasional khususnya di wilayah regional Asia Tenggara. Untuk mewujudkan hal tersebut DIY harus memiliki berbagai pelayanan yang lebih baik dengan menjadikannya sebagai pusat pelayanan kesehatan dan pendidikan yang bermutu secara nasional maupun internasional yang diimplementasikan kepada seluruh masyarakat DIY secara merata namun tetap terjangkau. Sebagai upaya mensukseskan Visi DIY sebagai pusat pendidikan di Indonesia, Dinas Kesehatan DIY memiliki kewajiban untuk mendukung dengan menjadikan DIY sebagai pusat bagi pendidikan, pelatihan, konsultasi dan penelitian kesehatan.
Visi Dinas Kesehatan DIY akan dicapai dengan membuat berbagai upaya untuk mencegah meningkatnya risiko penyakit dan masalah kesehatan disertai dengan upaya penyediaan pelayanan kesehatan secara merata dan pembiayaan kesehatan yang mencukupi dengan dibarengi mewujudkan pelayanan kesehatan yang bermutu baik untuk sektor pemerintah maupun swasta.
Sebagai penjabaran dari Visi dinas Kesehatan DIY, tujuan yang akan dicapai adalah ”Terselenggaranya pembangunan Kesehatan di Daerah Istimewa Yogyakarta secara berhasil guna dan berdaya guna, responsif terhadap kebutuhan dan hak masyarakat serta selaras dengan azas keadilan”, melalui:
a. Pembinaan, pengembangan, pelaksanaan dan pemantapan fungsi administrasi didukung sistem informasi, ilmu pengetahuan dan teknologi serta hukum kesehatan,
b. Peningkatan akses, mutu serta keamanan pelayanan kesehatan, c. Peningkatan mutu dan kesejahteraan sumber daya manusia
2. Misi
Untuk mewujudukan Visi Dinas Kesehatan DIY maka Misi yang dibangun adalah sebagai berikut:
a. Mencegah meningkatnya risiko penyakit dan masalah kesehatan; b. Menyediakan upaya kesehatan pemerintah dan swasta yang merata
dan bermutu;
c. Meningkatkan pembiayaan kesehatan yang cukup untuk peningkatan status kesehatan masyarakat;
d. Meningkatkan mutu pendidikan, pelatihan tenaga kesehatan serta penelitian kesehatan.
Misi Dinas Kesehatan juga akan didukung dengan membuat penyelenggaraan pendidikan, pelatihan tenaga kesehatan dan penelitian kesehatan yang bermutu.
D. Tugas Pokok dan Fungsi
Penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan DIY saat ini dalam pelaksanaannya yang meliputi pembiayaan tenaga kesehatan, pembinaan sarana tenaga dan kefarmasian saat ini masih mengalami berbagai hambatan / kendala.
Berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta nomor 6 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tatakerja Dinas Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan sesuai dengan Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 45 Tahun 2008 Tanggal 12 Desember 2008 tentang Rincian Tugas dan Fungsi Dinas dan Unit Pelaksana Teknis Pada Dinas Kesehatan, disebutkan bahwa Bidang Sumber Daya Kesehatan mempunyai uraian tugas pokok dan fungsi sebagai berikut (tabel 1) :
Tabel 1.
Tugas Pokok dan Fungsi Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta ( L. 1 )
No Tugas Pokok dan Fungsi
1.
2.
Tugas Pokok :
Menyiapkan pedoman pelaksanaan, membimbing dan mengendalikan, mengkoordinasikan, serta fasilitasi dalam pelaksanaan pembiayaan dan jaminan kesehatan, tenaga dan sarana kesehatan, farmasi, makanan, minuman dan Alat kesehatan.
Fungsi :
a. penyusunan program Bidang Sumber Daya Kesehatan;
b. pelaksanaan koordinasi pembiayaan dan jaminan kesehatan, pembinaan tenaga dan sarana kesehatan, farmasi makanan dan minuman dan alat kesehatan;
c. perumusan pedoman, pelaksanaan pembiayaan dan jaminan kesehatan, pembinaan tenaga dan sarana kesehatan, farmasi, makanan dan minuman dan alat kesehatan;
d. penyelenggaraan bimbingan dan pengendalian pelaksanaan pembiayaan dan jaminan kesehatan, pembinaan tenaga dan sarana kesehatan, farmasi, makanan dan minuman dan alat kesehatan;
e. fasilitasi kegiatan pembiayaan dan jaminan kesehatan, pembinaan tenaga dan sarana kesehatan, farmasi, makanan dan minuman dan alat kesehatan;
f. evaluasi dan penyusunan laporan program Bidang Sumber Daya Kesehatan;
g. pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh atasan sesuai tugas dan fungsinya.
E. Tujuan Jangka Panjang
Berdasarkan tugas pokok dan fungsi tersebut di atas, dan dengan berdasarkan hasil evaluasi penyelenggaraannya, maka Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan DIY merumuskan tujuan jangka panjang yang diharapkan dapat dicapai dengan sumberdaya yang ada. Untuk lebih jelasnya, mengenai rumusan tujuan jangka panjang dimaksud dapat dilihat sebagai berikut (Tabel 2):
Tabel 2.
Tujuan Jangka Panjang Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta ( L. 2 )
No Tujuan Jangka Panjang
1. Meningkatkan pengawasan Alkes
2. Meningkatkan pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes 3. Meningkatkan kewasdaan terhadap Alkes
Ketiga tujuan jangka panjang tersebut selanjutnya dianalisis dengan menggunakan metode USG (U = Urgency, S = Seriousness dan G = Growth). Skala yang digunakan untuk melakukan penilaian adalah : 1 sampai dengan 5, dimana arti masing-masing skala adalah sebagai berikut:
1. Angka 1 : sangat rendah; 2. Angka 2 : rendah;
3. Angka 3 : cukup; 4. Angka 4 : tinggi;
5. Angka 5 : sangat tinggi.
Hasil penilaian selengkapnya adalah sebagai berikut (Tabel 3):
Tabel 3.
Analisis USG Tujuan Jangka Panjang Prioritas Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan DIY
No Tujuan Jangka Panjang U S G Total
1. Meningkatkan pengawasan Alkes 5 3 3 11
2. Meningkatkan pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes
5 5 5 15
3. Meningkatkan kewasdaan terhadap Alkes
5 5 4 14
Tujuan prioritas : nomor 2
Meningkatkan pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes
Berdasarkan tabel USG di atas, tujuan jangka panjang prioritas yang dipilih adalah tujuan nomor 2 dengan skor USG 15 yaitu “Meningkatkan
pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes”. Pemilihan prioritas tersebut dengan pertimbangan bahwa dengan mewujudkan pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes, diharapkan dapat meningkatkan penyelenggaraan pembangunan kesehatan di Daerah Istimewa Yogyakarta secara berhasil guna dan berdaya guna, responsif terhadap kebutuhan dan hak masyarakat serta selaras dengan azas keadilan.
F. Tujuan Jangka Pendek, Indikator Kinerja dan Perolehan Informasi 1. Tujuan Jangka Pendek
Dalam upaya pencapaian daya guna dan hasil guna tujuan jangka panjang organisasi secara optimal seperti yang ditetapkan dalam Tabel 3 di atas, maka perlu ditetapkan tujuan jangka pendek. Untuk mencapai tujuan jangka panjang, pelaksanaan bertahap yang dijabarkan pada tujuan jangka pendek Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan DIY sebagaimana berikut (Tabel 4):
Tabel 4.
Tujuan Jangka Pendek Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta ( L. 3 )
No Tujuan Jangka Pendek
1. Meningkatnya kinerja SDM dalam pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes
2. Meningkatnya kemampuan pelaku sarana distribusi Alkes dalam rangka Cara Distribusi Alkes yang Baik (CDAKB)
3. Meningkatnya pemahaman pelaku sarana distribusi Alkes dalam hal peraturan di bidang Alkes
Dari ketiga tujuan jangka pendek tersebut di atas, yang menjadi prioritas adalah nomor urut 1 yaitu “Meningkatnya kinerja SDM dalam pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes“. Hal ini berdasarkan hasil penilaian dengan teknik analisis manajemen menggunakan metode USG.
Teknik penilaiannya digunakan skala 1 sampai dengan 5. Adapun arti masing-masing skala adalah sebagai berikut:
a. Angka 1 : Menunjukkan sangat rendah; b. Angka 2 : Menunjukkan rendah;
c. Angka 3 : Menunjukkan cukup; d. Angka 4 : Menunjukkan tinggi;
e. Angka 5 : Menunjukkan sangat tinggi.
Hasil analisis USG kemudian disajikan sebagai berikut (tabel 5):
Tabel 5.
Analisis USG Tujuan Jangka Pendek Prioritas Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan DIY
No Tujuan Jangka Pendek U S G Total
1. Meningkatnya kinerja SDM dalam pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes
5 5 5 15
2. Meningkatnya kemampuan pelaku sarana distribusi Alkes dalam rangka Cara Distribusi Alkes yang
Baik(CDAKB)
5 5 4 14
3. Meningkatnya pemahaman pelaku sarana distribusi Alkes dalam hal peraturan di bidang Alkes
4 4 4 12
Tujuan prioritas : Nomor 1
Meningkatnya kinerja SDM dalam pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes
Dari ketiga hasil penilaian tabel prioritas dan isu aktual tujuan jangka pendek berdasarkan teknik analisis manajemen tersebut di atas, yang menjadi prioritas utama dari tujuan jangka pendek adalah “Meningkatnya kinerja SDM dalam pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes“. Pemilihan prioritas tersebut menurut penulis, merupakan prioritas yang mendesak untuk dilaksanakan dengan pertimbangan bahwa dengan meningkatkan kemampuan SDM dalam pembinaan pelaku sarana
distribusi Alkes maka akan semakin efisien dan efektif pemanfaatan sumber daya yang ada guna mencapai tujuan Dinas Kesehatan DIY yang telah ditetapkan.
2. Indikator Kinerja
Indikator kinerja yang digunakan untuk mengukur keberhasilan pencapaian tujuan jangka pendek adalah sebagai berikut :
a. Jumlah SDM yang mampu melakukan pembinaan, satuan indikator kinerjanya adalah orang.
b. Pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes, satuan indikatornya adalah kali.
c. Jumlah pelaku sarana distribusi Alkes yang mempunyai kesadaran untuk mendistribusikan Alkes yang mempunyai ijin edar, satuan indikatornya adalah orang.
d. Jumlah sarana Distribusi Alkes yang berijin, satuan indikatornya unit.
3. Perolehan Informasi
Untuk mendapatkan gambaran secara kongkrit dari keempat indikator kinerja tersebut, maka perolehan informasi dapat diperoleh di Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan DIY. Untuk lebih jelasnya berikut disampaikan tentang prioritas tujuan jangka pendek, indikator kinerja, satuan ukuran serta sumber / perolehan informasi, seperti tabel di bawah ini (Tabel 6) :
Tabel 6.
Prioritas Tukadek, Indikator Kinerja dan Perolehan Informasi Pada Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan DIY ( L. 3B ) No Prioritas
Tukadek Indikator Kinerja
Satuan Ukuran Perolehan Informasi Diperoleh Di Dicari Di 1. Meningkatnya kinerja SDM dalam pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes a. Jumlah SDM yang mampu melakukan pembinaan
Orang Dinkes DIY Bidang Sumber Daya Kesehatan b. Pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes
Kali Dinkes DIY Bidang Sumber Daya Kesehatan c. Jumlah pelaku sarana distribusi Alkes yang mempunyai kesadaran untuk mendistribusikan Alkes yang mempunyai ijin edar
Orang Dinkes DIY Bidang Sumber Daya Kesehatan d. Jumlah sarana distribusi Alkes yang berijin
Unit Dinkes DIY Bidang Sumber
Daya Kesehatan
14
GAMBARAN KEADAAN
A. Keadaan Tingkat Kinerja Sekarang 1. Struktur Organisasi
Dinas Kesehatan DIY dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta nomor 6 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tatakerja Dinas Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Selanjutnya untuk menyelenggarakan tugas fungsi Dinas Kesehatan DIY, diselenggarakan atas dasar Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 45 Tahun 2008 Tanggal 12 Desember 2008 tentang Rincian Tugas dan Fungsi Dinas dan Unit Pelaksana Teknis Pada Dinas Kesehatan.
Tugas Dinas Kesehatan DIY sesuai dengan pasal 2 pada Peraturan Gubernur Nomor 45 Tahun 2008 adalah Dinas Kesehatan mempunyai tugas melaksanakan urusan Pemerintah Daerah di bidang kesehatan dan kewenangan dekonsentrasi serta tugas pembantuan yang diberikan oleh pemerintah.
Sedangkan pada pasal 3 disebutkan bahwa fungsi Dinas Kesehatan DIY adalah :
a. penyusunan dan pengendalian program di bidang kesehatan; b. perumusan kebijakan teknis bidang kesehatan;
c. pengendalian penyakit, pengelolaan survailans dan kejadian luar biasa (KLB) serta imunisasi, penyelenggaraan kesehatan lingkungan;
d. pengelolaan kesehatan dasar, rujukan, khusus; e. penyelenggaraan pelayanan informasi kesehatan;
f. pengelolaan kesehatan keluarga, gizi, promosi kesehatan dan kemitraan;
g. pengelolaan pembiayaan dan jaminan kesehatan;
h. pembinaan tenaga dan sarana kesehatan, farmasi, makanan, minuman dan alat kesehatan;
i. pelaksanaan koordinasi dan pemberian perijinan bidang kesehatan; j. pemberian fasilitasi penyelenggaraan kesehatan Kabupaten/Kota; k. pelaksanaan pelayanan umum di bidang kesehatan;
l. pemberdayaan sumber daya dan mitra kerja dibidang kesehatan; m. pelaksanaan kegiatan ketatausahaan;
n. pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Gubernur sesuai dengan fungsi dan tugasnya.
Adapun susunan organisasi dan tata kerja Dinas Kesehatan DIY sesuai pasal 4 Peraturan Gubernur Nomor 45 Tahun 2008 adalah sebagai berikut:
a. Kepala Dinas;
b. Sekretariat, terdiri dari : 1) Subbagian Umum; 2) Subbagian Keuangan; 3) Subbagian Program.
c. Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Masalah Kesehatan, terdiri dari :
1) Seksi Pengendalian Penyakit; 2) Seksi Survailans dan Imunisasi; 3) Seksi Penyehatan Llingkungan.
1) Seksi Kesehatan Dasar;
2) Seksi Kesehatan Rujukan dan Kesehatan Khusus; 3) Seksi Pelayanan Informasi Kesehatan.
e. Bidang Kesehatan Masyarakat, terdiri dari : 1) Seksi Kesehatan Keluarga;
2) Seksi Promosi Kesehatan dan Kemitraan; 3) Seksi Gizi.
f. Bidang Sumber Daya Kesehatan, terdiri dari : 1) Seksi Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan; 2) Seksi Bina Tenaga dan Sarana Kesehatan;
3) Seksi Farmasi, Makanan, Minuman dan Alat Kesehatan. g. U P T D, terdiri dari :
1) Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru, terdiri dari: a) Kepala Balai;
b) Subbagian Tata Usaha; c) Seksi Penunjang Medik; d) Seksi Pelayanan Medik; e) Kelompok Jabatan Fungsional.
2) Balai Laboratorium Kesehatan, terdiri dari: a) Kepala Balai;
b) Subbagian Tata Usaha; c) Seksi Pelayanan;
d) Kelompok Jabatan Fungsional. 3) Balai Pelatihan Kesehatan, terdiri dari:
a) Kepala Balai;
c) Seksi Program dan Pengembangan; d) Seksi Operasional;
e) Kelompok Jabatan Fungsional.
4) Balai Penyelenggara Jaminan Kesehatan Sosial, terdiri dari: a) Kepala Balai;
b) Subbagian Tata Usaha; c) Seksi Kepesertaan;
d) Seksi Pemeliharaan Kesehatan. e) Kelompok Jabatan Fungsional. j. Kelompok Jabatan Fungsional.
2. Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia yang terdapat pada Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan DIY sebanyak 36 orang dengan perincian sebagai berikut :
a. Berdasarkan Golongan dan Ruang 1) Golongan I : - orang 2) Golongan II : 1 orang 3) Golongan III : 29 orang 4) Golongan IV : 6 orang b. Berdasarkan Pendidikan
1) SMU/SMK : 7 orang 2) D3 : 8 orang 3) Sarjana : 14 orang 4) Pasca Sarjana (S2) : 7 orang
3. Sarana dan Prasarana
Untuk mendukung kegiatan operasional sehari-sehari, Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta mempunyai sejumlah sarana dan prasarana kerja sebagai berikut :
a. Kendaraan Roda 4 : 1 unit b. Kendaraan Roda 2 : 3 unit c. Laptop / Komputer : 12 unit d. Printer : 10 unit e. Mesin ketik : 3 buah f. Filing cabinet : 12 buah
g. Meja / Kursi Kerja : 40 buah
4. Tingkat Kinerja Sekarang
Sesuai dengan tujuan jangka pendek yang diprioritaskan yaitu meningkatnya kinerja SDM dalam pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes maka tingkat kinerja Bidang Sumber Daya Kesehatan berdasarkan indikator kinerja yang telah ditetapkan adalah sebagai berikut :
a.
Jumlah SDM yang mampu melakukan pembinaanSaat ini jumlah SDM yang mampu melakukan pembinaan terhadap pelaku sarana distribusi Alkes hanya ada 2 (dua) orang yang mana telah mendapatkan pelatihan dalam melakukan pembinaan terhadap pelaku sarana distribusi Alkes.
b.
Pembinaan pelaku sarana distribusi AlkesSebagai bagian tugas dan fungsi Bidang Sumber Daya Kesehatan maka setiap tahun dilaksanakan pembinaan terhadap pelaku sarana distribusi Alkes. Namun dengan keterbatasan SDM yang
ada sehingga menyebabkan pembinaan terhadap pelaku sarana distribusi Alkes hanya mampu dilakukan sebanyak 1 kali dalam setahun.
c.
Jumlah pelaku sarana distribusi Alkes yang mempunyai kesadaran untuk mendistribusikan Alkes yang mempunyai ijin edar.Jumlah sarana distribusi Alkes di DIY lebih dari 20 sarana, namun belum semua pelaku sarana distribusi mempunyai kesadaran untuk mendistribusikan Alkes yang berijin.
d.
Jumlah sarana distribusi Alkes yang berijin.Jumlah sarana distribusi Alkes yang ada di DIY yang terdaftar di Dinkes DIY baru sejumlah 20 sarana. Hal ini disebabkan belum semua mau mengurus ijin, selama ini sarana distribusi Alkes hanya bersifat sementara saja, hanya untuk kegiatan tender saja. Dengan adanya peraturan dari Menteri Kesehatan Nomor 1191 tahun 2010 tentang Penyaluran Alat Kesehatan maka sarana distribusi tersebut harus mengajukan ijin penyalur Alat kesehatan sesuai dengan persyaratan peraturan yang baru.
B. Keadaan Tingkat Kinerja yang Diinginkan
Berdasarkan uraian tingkat kinerja sekarang, maka diperlukan adanya tindakan perbaikan yang lebih komprehensif dalam rangka meningkatkan kinerja SDM dalam pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes yang dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Jumlah SDM yang mampu melakukan pembinaan
Jumlah SDM yang mampu melakukan pembinaan di bidang Alkes saat ini baru terdapat 2 (dua) orang. Diharapkan dengan adanya motivasi
yang kuat dari SDM aparatur untuk belajar serta adanya pelatihan/diklat bagi SDM aparatur maka pada tahun mendatang jumlah tersebut akan meningkat menjadi 6 (enam) orang.
2. Pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes
Pembinaan terhadap pelaku sarana distribusi Alkes saat ini telah dilaksanakan rata-rata sebanyak 1 kali dalam setahun, diharapkan dengan meningkatnya ketersediaan sumber daya yang dimiliki maka pelaksanaan pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes akan dapat ditingkatkan menjadi 4 kali dalam setahun.
3. Jumlah pelaku sarana distribusi Alkes yang mempunyai kesadaran untuk mendistribusikan Alkes yang mempunyai ijin edar
Jumlah pelaku sarana distribusi Alkes yang mempunyai kesadaran untuk mendistribusikan Alkes yang mempunyai ijin edar saat ini di DIY sebanyak 20 orang, diharapkan dengan semakin meningkatnya pembinaan maka jumlah tersebut akan meningkat menjadi 30 orang. 4. Jumlah sarana distribusi Alkes yang berijin
Jumlah sarana distribusi Alkes yang berijin saat ini berjumlah 20 sarana, diharapkan pada tahun mendatang akan meningkat menjadi 30 sarana. Hal ini dapat dicapai apabila didukung dengan peningkatan kompetensi dan kesadaran para pelaku sarana distribusi Alkes untuk mematuhi peraturan perundangan di bidang Alkes.
Berdasarkan uraian keadaan tingkat kinerja sekarang dan tingkat kinerja yang diinginkan pada Bidang Sumber Daya Kesehatan maka dapat dirangkum sebagai berikut (Tabel. 7) :
Tabel 7
Tujuan Jangka Pendek, Tingkat Kinerja Sekarang dan Tingkat Kinerja Yang Diinginkan Pada Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan
Daerah Istimewa Yogyakarta ( L. 4 )
Tukadek Indikator Kinerja Satuan Ukuran
Tingkat Kinerja
Sekarang (2013)
Tingkat Kinerja Yang Diinginkan (Thn 2014) 3 bln 6 bln 9 bln 12 bln Meningkatnya kinerja SDM dalam pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes a. Jumlah SDM yang mampu melakukan pembinaan Orang 2 3 4 5 6 b. Pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes Kali / tahun 1 1 2 3 4 c. Jumlah pelaku sarana distribusi Alkes yang mempunyai kesadaran untuk mendistribusikan Alkes yang mempunyai ijin edar Orang 20 23 26 28 30 d. Jumlah sarana distribusi Alkes yang berijin. Unit 20 22 25 28 30
22
IDENTIFIKASI DAN ANALISIS
KEKUATAN PENGHAMBAT DAN KEKUATAN PENDORONG
A. Identifikasi dan Analisis Kekuatan Penghambat Utama Kinerja 1. Identifikasi Kekuatan Penghambat Utama Kinerja
Dalam rangka peningkatan kinerja SDM dalam pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes pada Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta, tidak terlepas dari adanya kekuatan penghambat yang akan menghalangi pencapaian tujuan jangka pendek. Kekuatan penghambat yang ada dan diperkirakan akan muncul harus dapat diidentifikasi dan diantisipasi sedini mungkin.
Berdasarkan gambaran kinerja sekarang dan gambaran kinerja yang diinginkan dalam upaya meningkatkan kinerja SDM dalam pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes pada Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta, maka disajikan beberapa faktor yang menjadi kekuatan penghambat dalam upaya mencapai tujuan jangka pendek tersebut. Pada langkah ini adalah mengidentifikasikan kekuatan penghambat utama (L.5) yang dapat dianggap sebagai kekuatan yang merintangi tercapainya tujuan, yang berjumlah 6 (enam) berasal dari 3 (tiga) kelemahan (Weaknesses) dan 3 (tiga) ancaman (Threats).
Dalam membuat L.5 diklasifikasikan menurut dimensinya yang meliputi sumber daya manusia, prosedur, dana, sarana dan prasarana, mekanisme kerja dan koordinasi yang berasal dari dalam organisasi atau luar (Tabel. 6). Identifikasi Kekuatan Penghambat Utama ( L. 5) dapat dijelaskan sebagai berikut (Tabel. 8):
Tabel 8.
Identifikasi Kekuatan Penghambat Utama Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan
Daerah Istimewa Yogyakarta ( L. 5 )
No Kekuatan Penghambat Utama Kinerja
H1 Lemahnya koordinasi antar staf
H2 Terbatasnya SDM yang mampu dalam melakukan pembinaan H3 Belum optimalnya etos kerja SDM
H4 Banyaknya sarana distribusi Alkes yang belum berijin
H5 Belum berlakunya sanksi hukum bagi pelaku sarana distribusi Alkes yang mengedarkan Alkes yang tidak mempunyai ijin edar H6 Kurangnya partisipasi masyarakat dalam melaporkan sarana
distribusi Alkes yang tak berijin
2. Analisis Kekuatan Penghambat Utama Kinerja
Untuk pemberian nilai atau bobot besarnya hambatan (dampak) dari kekuatan penghambat serta tingkat kemudahan dalam pemecahan kekuatan penghambat maka perlu dilakukan analisis terhadap kekuatan penghambat yang teridentifikasi sebagai berikut :
H.1 Lemahnya koordinasi antar staf
Koordinasi dan kerjasama antar staf di Bidang Sumber Daya Kesehatan saat ini belum berjalan dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari penyelesaian setiap pekerjaan / kegiatan yang serapannya masih banyak yang kurang dari 90%. Lemahnya koordinasi antar staf tersebut mengakibatkan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi menjadi kurang optimal.
H.2 Terbatasnya SDM yang mampu dalam melakukan pembinaan
Jumlah SDM yang mampu melakukan pembinaan terhadap pelaku sarana distribusi Alkes saat ini hanya ada 2 orang yang telah mendapatkan pelatihan dalam melakukan pembinaan terhadap
pelaku sarana distribusi Alkes. Dengan banyaknya pelaku sarana distribusi Alkes di DIY maka jumlah tersebut dirasakan masih belum memadai.
H.3 Belum optimalnya etos kerja SDM
Etos kerja SDM sangat berpengaruh terhadap kinerja dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya. Etos kerja yang rendah akan menyebabkan pelaksanaan kegiatan menjadi kurang optimal karena kurangnya motivasi dan keinginan untuk menghasilkan output kegiatan sesuai dengan target yang ditetapkan.
H.4 Banyaknya sarana distribusi Alkes yang belum berijin
Sarana distribusi Alkes di wilayah DIY cukup banyak, namun yang sudah memiliki ijin baru sebanyak 20 unit. Hal ini disebabkan oleh kurangnya kesadaran pelaku sarana distribusi Alkes untuk mengurus ijinnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
H.5 Belum berlakunya sanksi hukum bagi pelaku sarana distribusi Alkes yang mengedarkan Alkes yang tidak mempunyai ijin edar
Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1191 tahun 2010 tentang Penyaluran Alat Kesehatan disebutkan tentang adanya sanksi administratif terhadap pelanggaran dalam distribusi Alkes yang tak berijin. Sanksi administratif dapat berupa teguran lisan, teguran tertulis sampai dengan pencabutan izin. Sedangkan sanksi hukum pidana tidak diatur dalam Permenkes tersebut.
H.6 Kurangnya partisipasi masyarakat dalam melaporkan sarana distribusi Alkes yang tak berijin
Masyarakat merupakan pihak yang paling dirugikan terhadap peredaran Alkes yang tak berijin karena Alkes tersebut belum tentu
telah memenuhi standar dan/atau persyaratan mutu, keamanan, dan kemanfaatan. Namun demikian saat ini peran dan partisipasi masyarakat untuk melaporkan sarana distribusi Alkes yang tak berijin masih kurang optimal.
3. Dampak Relatif dan Kemudahan Pemecahan Kekuatan Penghambat Utama Kinerja
Setelah kekuatan penghambat terhadap pencapaian tujuan diidentifikasi dan dianalisis, maka diperoleh gambaran akan pemecahan kekuatan penghambat utama dalam rangka pencapaian Tukadek. Dalam penyusunan KKP ini untuk menentukan dampak relatif dan mudahnya memecahkan (L.6) melalui Identifikasi Kekuatan Penghambat Utama (L.5), kemudian dianalisis dengan memberikan nilai atau bobot terhadap 2 (dua) hal yaitu:
a. Besarnya dampak kekuatan penghambat dianalisis melalui pengukuran dengan skala interval angka 5 (dampak sangat kuat menghambat) sampai angka 1 (dampak sangat kurang menghambat).
b. Besarnya tingkat kemudahan dalam memecahkan kekuatan penghambat dianalisis melalui pengukuran dengan skala interval angka 5 (hambatan sangat mudah dipecahkan) sampai dengan angka 1 (sangat sukar dipecahkan).
Untuk lebih jelas memberikan gambaran mengenai besarnya dampak relatif kekuatan penghambat terhadap tujuan jangka pendek maka perlu dilakukan penilaian dengan menggunakan skala ukuran kuantitatif sebagai berikut :
b. Angka 4 : Menyatakan dampak kuat menghambat. c. Angka 3 : Menyatakan dampak cukup kuat menghambat. d. Angka 2 : Menyatakan dampak kurang kuat menghambat.
e. Angka 1 : Menyatakan dampak sangat kurang kuat menghambat. Skala penilaian kuantitatif terhadap mudah tidaknya pemecahan kekuatan penghambat dapat digunakan skala penilaian/bobot sebagai berikut :
a. Angka 5 : Menyatakan hambatan sangat mudah dipecahkan. b. Angka 4 : Menyatakan hambatan mudah dipecahkan.
c. Angka 3 : Menyatakan hambatan cukup mudah dipecahkan. d. Angka 2 : Menyatakan hambatan sukar dipecahkan.
e. Angka 1 : Menyatakan hambatan sangat sukar dipecahkan.
Hasil analisis tersebut menjadi Kekuatan Penghambat, Dampak Relatif dan Kemudahan Pemecahannya (L.6) yang dapat disajikan sebagai berikut (Tabel. 9):
Tabel 9.
Kekuatan Penghambat, Dampak Relatif dan Kemudahan Pemecahannya Pada Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2013 ( L. 6 )
No Kekuatan Penghambat Dampak
Relatif
Kemudahan Pemecahannya
H1 Lemahnya koordinasi antar staf
4 2
H2 Terbatasnya SDM yang mampu dalam
melakukan pembinaan 5 3 H3 Belum optimalnya etos kerja SDM
4 4
H4 Banyaknya sarana distribusi Alkes
yang belum berijin 4 4 H5 Belum berlakunya sanksi hukum bagi
pelaku sarana distribusi Alkes yang mengedarkan Alkes yang tidak mempunyai ijin edar
4 3
H6 Kurangnya partisipasi masyarakat dalam melaporkan sarana distribusi Alkes yang tak berijin
B. Identifikasi dan Analisis Kekuatan Pendorong Utama Kinerja 1. Identifikasi Kekuatan Pendorong Utama Kinerja
Disamping kekuatan penghambat yang ditemui dalam upaya pencapaian tujuan jangka pendek yang telah ditetapkan, juga terdapat sejumlah kekuatan pendorong yang akan membantu dalam rangka peningkatan kinerja yang diinginkan. Kekuatan pendorong tersebut berjumlah 6 (enam) berasal dari 3 (tiga) kekuatan (Strengths) dan 3 (tiga) peluang (Opportunities). Hasil identifikasi kekuatan pendorong selanjutnya dianalisis untuk mengetahui kekuatan pendorong yang dapat dijadikan kekuatan kunci.
Adapaun hasil identifikasi kekuatan pendorong utama (L.7) dalam upaya peningkatan kinerja Jumlah SDM yang mampu melakukan pembinaan dapat dijelaskan sebagai berikut (Tabel.10) :
Tabel 10.
Identifikasi Kekuatan Pendorong Utama Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan
Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2013 ( L. 7 )
No Kekuatan Pendorong Utama Kinerja
D1 Adanya SOP tentang pembinaan
D2 Adanya kewenangan untuk melakukan pembinaan D3 Adanya dana untuk melakukan pembinaan
D4 Adanya koordinasi dengan Asosiasi Pengusaha di bidang Alkes D5 Adanya peraturan perundangan yang mendukung
D6 Adanya kesempatan Diklat PPNS yang dibiayai Kemenkes
2. Analisis Kekuatan Pendorong Utama Kinerja
Penjelasan tentang kekuatan pendorong yang membantu dalam penyajian tujuan jangka pendek dapat diuraikan sebagai berikut:
D.1 Adanya SOP tentang pembinaan
Dinas Kesehatan DIY telah menyusun SOP tentang pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes sebagai standar pedoman dalam melaksanakan pembinaan. Dengan adanya SOP tersebut diharapkan pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes akan menjadi lebih optimal.
D.2 Adanya kewenangan untuk melakukan pembinaan
Kewenangan Dinas Kesehatan DIY untuk melakukan pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes diatur dalam Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 6 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tatakerja Dinas Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 45 Tahun 2008 tentang Rincian Tugas dan Fungsi Dinas dan Unit Pelaksana Teknis Pada Dinas Kesehatan.
D.3 Adanya dana untuk melakukan pembinaan
Untuk melakukan pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes dibutuhkan dana berupa anggaran kegiatan pembinaan yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan DIY. Secara umum, dana untuk melakukan pembinaan tersebut sudah tersedia cukup memadai. D.4 Adanya koordinasi dengan Asosiasi Pengusaha di bidang Alkes
Dalam pelaksanaan pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes maka Dinas Kesehatan DIY berkoordinasi dengan Asosiasi Pengusaha di bidang Alkes, seperti Gakeslab DIY (Gabungan Perusahaan Alat Kesehatan dan Laboratorium Propinsi DIY). Gakeslab DIY bekerjasama erat dengan Dinas Kesehatan DIY dalam masalah perijinan, pembinaan, pengamanan dan pengawasan
produksi dan distribusi alat kesehatan di DIY baik terhadap Produk Alat Kesehatan itu sendiri maupun terhadap Sarana Alat Kesehatan dan sumber daya manusia yang berkaitan dengan produksi, distribusi serta penggunaan Alat Kesehatan.
D.5 Adanya peraturan perundangan yang mendukung
Peraturan perundangan yang mendukung upaya pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes diantaranya yaitu Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, dan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1191 tahun 2010 tentang Penyaluran Alat Kesehatan.
D.6 Adanya kesempatan Diklat PPNS yang dibiayai Kemenkes
Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) melalui Pusdiklat Aparatur Kesehatan selalu melaksanakan Diklat PPNS setiap tahun. Hal ini menjadi peluang bagi SDM di Dinas Kesehatan DIY untuk meningkatkan kompetensinya, khususnya di bidang PPNS (Penyidik Pegawai Negeri Sipil) kesehatan.
3. Dampak Relatif dan tingkat Kendali Kekuatan Pendorong Utama Kinerja
Selanjutnya akan dilaksanakan analisis dengan memberikan bobot atau nilai terhadap kekuatan pendorong yang disusun dan untuk masing-masing kekuatan pendorong diberikan penjelasan siapa saja yang mempunyai kendali dan atau pengaruh terhadap kekuatan pendorong tersebut. Untuk menganalisis Dampak Relatif dan Tingkat Kendali Kekuatan Kendali (L.8) berdasarkan Kekuatan Pendorong Utama (L.7), dengan memberikan nilai atau bobot terhadap 2 (dua) hal yaitu :
a. Besarnya dampak relatif terhadap pencapaian Tukadek, dianalisis melalui pengukuran dengan skala interval angka 5 (dampak sangat kuat mendorong) sampai angka 1 (dampak sangat kurang mendorong) sebagai berikut :
1) Angka 5 : menyatakan dampak sangat kuat mendorong. 2) Angka 4 : menyatakan dampak kuat mendorong.
3) Angka 3 : menyatakan dampak cukup kuat mendorong. 4) Angka 2 : menyatakan dampak kurang mendorong.
5) Angka 1 : menyatakan dampak sangat kurang mendorong.
b. Besarnya tingkat kendali kekuatan pendorong yang ada di bawah pengaruh penulis, dianalisis melalui pengukuran dengan skala interval angka 5 (seluruhnya di bawah kendali dan atau pengaruh penulis) sampai angka 1 (sangat kecil di bawah kendali dan atau pengaruh penulis) sebagai berikut :
1) Angka 5 : menyatakan seluruhnya di bawah kendali. 2) Angka 4 : menyatakan sebagian besar di bawah kendali. 3) Angka 3 : menyatakan sebagian di bawah kendali. 4) Angka 2 : menyatakan sebagian kecil di bawah kendali. 5) Angka 1 : menyatakan seluruhnya di luar kendali.
Adapun analisis Kekuatan Pendorong, Dampak Relatif dan Tingkat Kendali (L.8) dapat dijelaskan sebagai berikut (Tabel. 11) :
Tabel 11.
Kekuatan Pendorong, Dampak Relatif dan Tingkat Kendali Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2013 ( L. 8 )
No Kekuatan Pendorong Dampak
Relatif Tingkat Kendali Pihak Lain Yang Berpengaruh
D1 Adanya SOP tentang pembinaan
5 3 Biro Organisasi D2 Adanya kewenangan untuk
melakukan pembinaan 4 4 Gubernur D3 Adanya dana untuk melakukan
pembinaan 4 4 TAPD, DPRD D4 Adanya koordinasi dengan
Asosiasi Pengusaha di bidang Alkes
3 3 Asosiasi Pengusaha D5 Adanya peraturan perundangan
yang mendukung 4 3 DPR, Kemenkes D6 Adanya kesempatan Diklat PPNS
yang dibiayai Kemenkes 3 3 Kemenkes
C. Perkiraan Tingkat Kekuatan Relatif Pendorong dan Penghambat
Pada tahapan ini dilaksanakan pembobotan kembali kekuatan-kekuatan yang telah diperoleh dalam rangka menentukan tingkat kekuatan-kekuatan relatif dari kekuatan pendorong dan penghambat. Dalam menetapkan kekuatan relatif, penilaiannya didasarkan logika, sistematika berpikir dan pengalaman, sehingga pada langkah ini akan tergambar satu perangkat kekuatan yang menghalangi gerakan menuju tingkat kinerja yang diinginkan dan satu perangkat lainnya menopang gerakan menuju ke tingkat kinerja yang diinginkan.
Untuk membobot tingkat kekuatan relatif dari kekuatan pendorong dan penghambat (L.9) dipergunakan pengukuran dengan skala interval angka 5 (mewakili kekuatan relatif yang sangat kuat) sampai angka 1 (mewakili kekuatan relatif yang sangat lemah). Dalam menetapkan tingkat kekuatan relatif penilaiannya didasarkan atas professional judgement yaitu
pertimbangan-pertimbangan profesional yang sejalan dengan standar dan kriteria yang telah ditetapkan oleh profesi yang dianut, termasuk di dalamnya pengetahuan dan nilai-nilai moral dan prinsip-prinsip etika.
Hasil analisis penilaian tingkat kekuatan relatif pendorong dan penghambat (L.9) dapat disajikan sebagai berikut (Tabel. 12) :
Tabel 12.
Tingkat Kekuatan Relatif Pendorong dan Penghambat Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2013 ( L. 9 ) No Kekuatan Pendorong Tingkat Kekuatan Relatif No Kekuatan Penghambat Tingkat Kekuatan Relatif
D1 Adanya SOP tentang
pembinaan. 4
H1 Lemahnya koordinasi antar
staf 3
D2 Adanya kewenangan untuk
melakukan pembinaan 4
H2 Terbatasnya SDM yang mampu dalam melakukan pembinaan
4 D3 Adanya dana untuk
melakukan pembinaan 4
H3 Belum optimalnya etos
kerja SDM 4 D4 Adanya koordinasi dengan
Asosiasi Pengusaha di bidang Alkes
3
H4 Banyaknya sarana
distribusi Alkes yang belum berijin
4 D5 Adanya peraturan
perundangan yang
mendukung 4
H5 Belum berlakunya sanksi hukum bagi pelaku sarana distribusi Alkes yang mengedarkan Alkes yang tidak mempunyai ijin edar
4
D6 Adanya kesempatan Diklat PPNS yang dibiayai
Kemenkes 3
H6 Kurangnya partisipasi masyarakat dalam melaporkan sarana distribusi Alkes yang tak berijin
2
D. Diagram Medan Kekuatan
Untuk menemukan kekuatan mana yang mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam upaya pencapaian tujuan jangka pendek, perlu dibuat dalam bentuk diagram medan kekuatan. Untuk menggambarkan diagram dengan menggunakan pengukuran interval angka 1 sampai angka 5 sesuai
dengan nilai tingkat kekuatan. Garis tegak lurus pada titik 0 (nol) menggambarkan kinerja saat ini. Diagram medan kekuatan tersebut adalah sebagai berikut (Gambar 1) :
∑D = 22 ∑H = 21
Gambar 1.
Diagram Medan Kekuatan
Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2013 ( L. 10 )
Agar anak panah dalam diagram memperlihatkan setiap kekuatan yang panjangnya berbanding dengan kekuatan relatif yang dimiliki, maka penetapan posisi anak panah tersebut ditempatkan secara selang seling, hal ini dimaksudkan untuk menghindari penafsiran bahwa masing-masing
Arah Yang Diinginkan
H1 - 3
D1 - 4
H2 - 4
D2 - 4
H3 - 4
D3 - 4
H4 - 4
D4 - 3
H5 - 4
D5 - 4
H6 - 2
D6 - 3
5 4 3 2 1 0 1 2 3 4 5
kekuatan saling berhadapan. Untuk dapat mengenali dengan cepat dan untuk memperjelas diagram pada masing-masing anak panah ditulis kekuatan relatif yang dimiliki.
E. Keterkaitan Antar Kekuatan
Kekuatan penghambat dan pendorong dimungkinkan untuk mempunyai keterkaitan antara satu dengan yang lainnya. Keterkaitan tersebut dapat terjadi antara kekuatan pendorong dengan kekuatan pendorong lainnya, kekuatan pendorong dengan kekuatan penghambat, dan antara kekuatan penghambat dengan kekuatan penghambat lainnya.
Untuk menilai besar keterkaitan antar kekuatan digunakan nilai pembobotan sebagai berikut :
Angka 5 : menyatakan besar sekali keterkaitannya. Angka 3 : menyatakan besar keterkaitannya. Angka 1 : menyatakan kecil keterkaitannya. Angka 0 : menyatakan tidak ada keterkaitannya.
Gambar keterkaitan antara kekuatan pendorong dan kekuatan penghambat adalah sebagai berikut ( Gambar 2 ) :
D1 Adanya SOP tentang pembinaan 5
D2 Adanya kewenangan untuk melakukan pembinaan 3 1
D3 Adanya dana untuk melakukan pembinaan 1 5 1
D4
Adanya koordinasi dengan Asosiasi Pengusaha di bidang Alkes
1 5 3 1
D5 Adanya peraturan perundangan yang mendukung 5 3 3 3 1
D6
Adanya kesempatan Diklat PPNS yang dibiayai Kemenkes
3 3 1 1 1 1
H1 Lemahnya koordinasi antar staf 3 3 3 1 3 1 5
H2
Terbatasnya SDM yang mampu dalam melakukan pembinaan
3 3 3 1 3 3 1 1
H3 Belum optimalnya etos kerja SDM 3 3 1 3 1 3 1 3 3
H4
Banyaknya sarana distribusi Alkes yang belum berijin
5 1 1 1 3 3 1 1 1 3
H5
Belum berlakunya sanksi hukum bagi pelaku sarana distribusi Alkes yang mengedarkan Alkes yang tidak mempunyai ijin edar 1 0 1 1 5 3 1 5 1 1 1 H6 Kurangnya partisipasi masyarakat dalam melaporkan sarana distribusi Alkes yang tak berijin.
Jumlah Nilai Keterkaitan 33 32 21 19 27 29 19 29 23 25 21 20 D1 D2 D3 D4 D5 D6 H1 H2 H3 H4 H5 H6 Gambar 2.
Keterkaitan Antar Kekuatan
Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2013 ( L. 11 )
F. Kekuatan Kunci Pendorong dan Penghambat 1. Proses Pemilihan Kekuatan Kunci
Setelah mendapatkan gambaran dari langkah-langkah sebelumnya yaitu dari hasil analisis L. 6, L. 8, L. 9 dan L. 11, kemudian selanjutnya
menentukan kekuatan pendorong dan kekuatan penghambat yang merupakan kekuatan kunci ( L.11). Dalam proses penentuan kekuatan kunci perlu mempertimbangkan sebagai berikut (LAN, 1995) :
a. Ditentukan oleh tingkat kekuatan relatif pendorong dan penghambat yang lebih besar.
b. Apabila tingkat kekuatan relatif sama, maka dipilih berdasarkan tingkat keterkaitan yang lebih besar.
c. Apabila tingkat keterkaitan sama besarnya, maka dipilih berdasarkan tingkat kendali kekuatan pendorong dan kemudahan pemecahan kekuatan penghambat yang lebih besar.
d. Apabila tingkat kendali kekuatan pendorong atau kemudahan pemecahan kekuatan penghambat sama besarnya, maka dipilih yang dampaknya lebih besar.
e. Apabila juga masih sama, diserahkan pada pertimbangan sendiri untuk memilih berdasarkan kemampuan yang dimiliki (professional judgement).
Untuk lebih jelasnya mengenai proses pemilihan kekuatan kunci dapat dilihat sebagai berikut (Tabel 13) :
Tabel 13.
Proses Pemilihan Kekuatan Kunci
Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta ( L. 12A )
No Kekuatan L.5 & l.7 Dampak L.8 & L.6 Kemuda-han Peme-cahan L.6 Tk. Kendali L.8 Tk. Kekuatan Relatif L.9 Tk. Keterkaitan L.11 Prioritas Kekuatan Kunci 1. D1 5 - 3 4 33 I 2. D2 4 - 4 4 32 II 3. D3 4 - 4 4 21 IV 4. D4 3 - 3 3 19 VI 5. D5 4 - 3 4 27 III 6. D6 3 - 3 3 29 V 1. H1 4 2 - 3 19 V 2. H2 5 3 - 4 29 I 3. H3 4 4 - 4 23 III 4. H4 4 4 - 4 25 II 5. H5 4 3 - 4 21 IV 6. H6 3 2 - 2 20 VI 2. Kekuatan Kunci
Kekuatan kunci pada dasarnya merupakan kekuatan-kekuatan yang besar dampaknya terhadap pencapaian tujuan jangka pendek atau yang mempunyai pengaruh terhadap kemudahan, serta kekuatan pendorong yang ada di bawah kendali. Dengan mempertimbangkan kembali tingkat kekuatan relatif dan keterkaitan, maka dapat ditentukan Kekuatan Kunci (L. 12. B) sebagai berikut (Tabel 14) :
Tabel 14. Kekuatan Kunci
Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta ( L. 12B )
Kode Kekuatan Pendorong Kode Kekuatan Penghambat
D1 Adanya SOP tentang pembinaan.
H2 Terbatasnya SDM yang mampu dalam melakukan pembinaan
D2 Adanya kewenangan untuk melakukan pembinaan
H4 Banyaknya sarana distribusi Alkes yang belum berijin
D5 Adanya peraturan perundangan yang mendukung
H3 Belum optimalnya etos kerja SDM
H5 Belum berlakunya sanksi hukum bagi pelaku sarana distribusi Alkes yang
mengedarkan Alkes yang tidak mempunyai ijin edar.
39 A. Ide-Ide Strategis
Setelah kekuatan kunci dipilih, langkah berikutnya adalah menentukan strategi dan rencana aksi yang akan dilakukan agar kinerja yang diinginkan dapat tercapai. Strategi merupakan rencana tindakan yang tepat dan dapat digunakan sebagai sarana untuk memaksimalkan pengaruh kekuatan kunci atau keunggulan organisasi agar terarah pada pencapaian kinerja (tujuan) yang telah ditetapkan.
Proses penyusunan strategi dilakukan melalui serangkaian pengembangan visi, misi, tujuan jangka panjang, tujuan jangka pendek, identifikasi peluang dan kekuatan, dan identifikasi kelemahan dan ancaman, serta menganalisanya guna menentukan kekuatan kunci. Strategi kegiatan ini diarahkan untuk dapat mengatasi kekuatan-kekuatan penghambat yang ada, serta diharapkan pula dapat memacu kekuatan pendorong.
Rumusan strategi dibuat dalam bentuk pernyataan positif atau kalimat yang bersifat operasional, spesifik dan terarah pada indikator kinerja yang ingin dicapai / ditingkatkan. Ada 2 (dua) strategi utama yang dapat ditetapkan terhadap kekuatan kunci organisasi yaitu :
1. Strategi optimalisasi atau efektifitas terhadap kekuatan kunci pendorong yang diandalkan / diunggulkan.
2. Strategi perubahan atau perbaikan atau eliminasi terhadap kekuatan kunci penghambat.
Adapun ide-ide strategis untuk meningkatkan kinerja SDM dalam pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes adalah sebagai berikut (Tabel 15) :
Tabel 15.
Ide-Ide Strategis Bidang Sumber Daya Kesehatan
Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2014 ( L. 13 ) No Kode Kekuatan Pendorong dan
Penghambat Kunci
Strategi
1. D1 Adanya SOP tentang pembinaan
Tingkatkan pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes sesuai dengan SOP yang telah ditetapkan
2. D2 Adanya kewenangan untuk melakukan pembinaan
Manfaatkan kewenangan yang ada untuk meningkatkan pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes 3. D5 Adanya peraturan
perundangan yang mendukung
Pelajari dan gunakan peraturan perundangan tentang distribusi Alkes sebagai pedoman
4. H2 Terbatasnya SDM yang mampu dalam melakukan pembinaan
Tingkatkan kemampuan SDM dalam pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes melalui diklat / pelatihan 5. H4 Banyaknya sarana distribusi
Alkes yang belum berijin
Tingkatkan kesadaran pelaku sarana distribusi Alkes dalam mengurus ijin usaha distribusi Alkes
6. H3 Belum optimalnya etos kerja SDM
Tingkatkan etos kerja SDM dalam pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes
7. H5 Belum berlakunya sanksi hukum bagi pelaku sarana distribusi Alkes yang mengedarkan Alkes yang tidak mempunyai ijin edar
Terapkan sanksi bagi pelaku sarana distribusi Alkes yang mengedarkan Alkes yang tidak mempunyai ijin edar
B. Rencana Kegiatan Terkoordinasi
Setelah strategi dan kegiatan-kegiatan diiventarisasi dalam satu format maka langkah selanjutnya menentukan siapa atau unit mana yang akan melaksanakan kegiatan tersebut dan siapa yang akan bertanggung jawab serta menentukan jadwal waktunya. Untuk Rencana Kegiatan Terkoordinasi (L.14) tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut (Tabel. 16) :
Tabel 16.
Rencana Kegiatan Terkoordinasi
Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2014 ( L. 14 )
No Ko de Kekuatan Kunci Pendorong & Penghambat Strategi Langkah Kegiatan Penanggung Jawab Jadwal Waktu (2014) 1. D1 Adanya SOP tentang pembinaan Tingkatkan pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes sesuai dengan SOP yang telah ditetapkan a. Mensosialisasi kan SOP pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes kepada SDM b. Menggunakan SOP sebagai standar dalam pelaksanaan pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes Kabid Sumber Daya Kesehatan Kabid Sumber Daya Kesehatan Januari Jan-des 2. D2 Adanya kewenangan untuk melakukan pembinaan Manfaatkan kewenangan yang ada untuk meningkatkan pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes a. Menyusun rencana dan target pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes b. Melaksanakan pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes sesuai target yang ditetapkan Kabid Sumber Daya Kesehatan Kabid Sumber Daya Kesehatan Januari Jan - Des 3. D5 Adanya peraturan perundangan yang mendukung Pelajari dan gunakan peraturan perundangan tentang distribusi Alkes sebagai pedoman a. Mempelajari peraturan perundangan tentang distribusi Alkes b. Mensosialisasi kan peraturan perundangan kepada pelaku sarana distribusi Alkes Kabid Sumber Daya Kesehatan Kabid Sumber Daya Kesehatan Jan Mar
No Ko de Kekuatan Kunci Pendorong & Penghambat Strategi Langkah Kegiatan Penanggung Jawab Jadwal Waktu (2014) 4. H2 Terbatasnya SDM yang mampu dalam melakukan pembinaan Tingkatkan kemampuan SDM dalam pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes melalui diklat / pelatihan a. Mendata SDM untuk mengikuti diklat / pelatihan pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes b. Mengirimkan SDM mengikuti diklat setiap kali ada kesempatan Kabid Sumber Daya Kesehatan Kepala Dinas Feb Feb - Nov 5. H4 Banyaknya sarana distribusi Alkes yang belum berijin Tingkatkan kesadaran pelaku sarana distribusi Alkes dalam mengurus ijin usaha distribusi Alkes a. Melaksanakan koordinasi dengan Asosiasi Pengusaha Alkes di wilayah DIY b. Memfasilitasi pengajuan permohonan ijin usaha distribusi Alkes Kabid Sumber Daya Kesehatan Kabid Sumber Daya Kesehatan Feb Setiap ada permoho nan 6. H3 Belum optimalnya etos kerja SDM Tingkatkan etos kerja SDM dalam pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes a. Memberikan motivasi dan etos kerja kepada SDM melalui pembinaan internal secara rutin b. Memberikan teguran terhadap SDM yang kurang disiplin dalam pelaksanaan tupoksi Kabid Sumber Daya Kesehatan Kabid Sumber Daya Kesehatan Setiap triwulan Setiap indisipli ner
No Ko de Kekuatan Kunci Pendorong & Penghambat Strategi Langkah Kegiatan Penanggung Jawab Jadwal Waktu (2014) 7. H5 Belum berlakunya sanksi hukum bagi pelaku sarana distribusi Alkes yang mengedarkan Alkes yang tidak mempunyai ijin edar Terapkan sanksi bagi pelaku sarana distribusi Alkes yang mengedarkan Alkes yang tidak mempunyai ijin edar a. Memberikan sanksi terhadap pelanggaran distribusi Alkes tak berijin sesuai peraturan b. Melaksanakan konsultasi ke Dirjen Binfar dan Alkes Kemenkes RI Sekretaris Dinas Kabid Sumber Daya Kesehatan Setiap ada kasus April
44
PENGATURAN UNTUK PELAKSANAAN
A. Pembentukan Tim Kerja dan Perumusan Peranannya
Agar rencana kerja peningkatan kinerja SDM dalam pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes pada Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan DIY dapat berjalan dengan lancar dan sukses, maka perlu dibentuk tim kerja yang akan melibatkan Bidang Sumber Daya Kesehatan pada Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta dan seluruh anggota tim pelaksana, yang diharapkan akan dapat mendukung pencapaian tujuan jangka pendek tersebut. Pembentukan tim kerja ini dibuat secara sederhana yang terdiri dari : 1. Susunan Tim Kerja
2. Tugas dan Peran Tim Kerja 3. Jadwal Tim Kerja
Untuk Susunan Tim Kerja, Tugas dan Peranannya (L. 15) tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut (Tabel 17) :
Tabel 17.
Susunan Tim Kerja, Tugas dan Peranannya Bidang Sumber Daya Kesehatan
Dinas Kesehatan DIY ( L. 15) No Jabatan dalam Tim Jabatan dalam Dinas Tugas dan Peranannya 1. 2. Pembina Ketua Kepala Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan
a. Memberikan pengarahan dan pembinaan terhadap rencana kerja dan pengoperasian kerja Tim; b. Melaksanakan koordinasi,
pengawasan, pengendalian terhadap program kerja; a. Memimpin rapat koordinasi
pelaksanaan kegiatan b. Bertanggungjawab pada
perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program;
No Jabatan dalam Tim Jabatan dalam Dinas Tugas dan Peranannya
3. Sekretaris Kepala Seksi Farmasi, Makanan, Minuman dan Alat Kesehatan
a. Mengkoordinasikan kegiatan administrasi;
b. Mengkoordinir pengumpulan data dan laporan;
c. Mengkoordinir penyiapan bahan-bahan pelaksanaan kegiatan; d. Menyajikan data perencanaan e. Membuat laporan perencanaan,
pelaksanaan, pengendalian dan evaluasi program. 4. Anggota 1). Kasi Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan 2). Kasi Bina Tenaga dan Sarana Kesehatan 3). Kasubbag Program 4). Kasubbag Keuangan
a. Melaksanakan tugas sesuai dengan tupoksi atau bidang tugas masing-masing;
b. Menyiapkan bahan perencanaan; c. Menyampaikan laporan
pelaksanaan;
d. Mengusulkan langkah-langkah peningkatan kinerja SDM dalam pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes. 5. Staf Sekretariat Staf Bidang Sumber Daya Kesehatan a. Melaksanakan tugas-tugas kesekretariatan kegiatan; b. Membuat notulensi rapat; c. Menyiapkan penjilidan dan
pencetakan naskah beserta pendistribusiannya;
d. Melaksanakan administrasi pertanggungjawaban keuangan.
Jadwal waktu tim kerja selama dua belas bulan mulai bulan Januari sampai dengan Desember 2014 dan dilaksanakan sesuai dengan jadwal/rencana yang sudah ditentukan.
B. Perkiraan Kesulitan Dalam Pelaksanaan dan Strategi Menanggulanginya
Dalam pelaksanaan rencana kerja peningkatan kinerja SDM dalam pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes di Daerah Istimewa Yogyakarta
tentu ada kendala atau kesulitan yang dperkirakan mungkin akan terjadi pada pelaksanannya nanti. Kendala atau kesulitan tersebut harus diiventarisir sehingga dapat dicarikan alternatif penanggulangannya dan untuk mengantisipasi kesulitan tersebut ditempuh melalui strategi yang terbaik.
Perkiraan kesulitan dan strategi menanggulangi (L.16) dapat dijelaskan sebagai berikut (Tabel. 18) :
Tabel 18.
Perkiraan Kesulitan dan Strategi Menanggulanginya
Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2014 ( L. 16 ) No Kesulitan Yang Diperkirakan
Terjadi
Strategi Menanggulanginya
1.
2.
Kurangnya motivasi pelaku sarana distribusi Alkes di bidang perijinan distribusi Alkes
Kurang tersedianya data pelaku sarana distribusi Alkes yang akurat
a. Memberikan pembinaan kepada pelaku sarana distribusi Alkes
b. Memberikan sanksi terhadap pelanggaran perijinan distribusi Alkes
a. Melakukan koordinasi dengan Asosiasi pengusaha di bidang Alkes
b. Melakukan pembaruan data pelaku sarana distribusi Alkes secara periodik agar diperoleh data yang akurat
C. Musyawarah Hal-Hal Utama Dengan Pihak Terkait
Untuk mengantisipasi atau meminimalisir kesulitan-kesulitan yang terjadi dalam pelaksanaan kegiatan maka perlu dimusyawarahkan hal-hal utama yang berpotensi sebagai penghambat kelancaran kegiatan untuk mendapatkan kesepakatan atau persetujuan bersama. Untuk Musyawarah Hal - Hal Utama Dengan Instansi Terkait (L.17) dapat diuraikan sebagai berikut (Tabel. 19) :
Tabel 19.
Musyawarah Hal-Hal Utama Dengan Pihak Terkait
Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2014 ( L. 17 )
No Hal-Hal Utama Yang
Dimusyawarahkan
Kesepakatan/Kerjasama Dari Instansi
1.
2.
Pembinaan pelaku sarana
distribusi Alkes di bidang perijinan distribusi Alkes
Pelatihan bagi SDM dalam pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes
a. Asosiasi Pengusaha Alkes b. Pelaku sarana distribusi Alkes c. Dinas Kesehatan Kab / Kota a. Kementrian Kesehatan b. Lembaga Diklat
c. BKD
d. Perguruan Tinggi
D. Tata Urutan Program Kegiatan
Agar terwujud sinkronisasi program kegiatan maka ditempuh melalui penataan program-program kegiatan sehingga program kegiatan merupakan kegiatan berurutan sesuai dengan skala prioritasnya dengan menetapkan juga kapan kegiatan itu dimulai serta berakhirnya. Untuk Tata Urutan Program Kegiatan ( L. 18) dapat dijelaskan sebagai berikut ( Tabel. 20):
Tabel 20.
Tata Urutan Program Kegiatan
Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2014 ( L. 18 )
No Langkah Kegiatan Jadwal Waktu ( 2014 )
Mulai Berakhir
1. Mensosialisasikan SOP pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes kepada SDM
Januari Januari 2. Menyusun rencana dan target pembinaan
pelaku sarana distribusi Alkes
Januari Januari 3. Mempelajari peraturan perundangan tentang
distribusi Alkes
Januari Januari 4. Menggunakan SOP sebagai standar dalam
pelaksanaan pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes
Januari Desember
5. Melaksanakan pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes sesuai target yang ditetapkan
Januari Desember 6. Memfasilitasi pengajuan permohonan ijin
usaha distribusi Alkes
Januari Desember 7. Memberikan teguran terhadap SDM yang
kurang disiplin dalam pelaksanaan tupoksi
No Langkah Kegiatan Jadwal Waktu ( 2014 )
Mulai Berakhir
8. Memberikan sanksi terhadap pelanggaran distribusi Alkes tak berijin sesuai peraturan
Januari Desember 9. Mendata SDM untuk mengikuti diklat /
pelatihan pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes
Februari Februari
10. Melaksanakan koordinasi dengan Asosiasi Pengusaha Alkes di wilayah DIY
Februari Februari 11. Mengirimkan SDM mengikuti diklat setiap
kali ada kesempatan
Februari November 12. Mensosialisasikan peraturan perundangan
kepada pelaku sarana distribusi Alkes
Maret Maret 13. Memberikan motivasi dan etos kerja kepada
SDM melalui pembinaan internal secara rutin
Maret Desember 14. Melaksanakan konsultasi ke Dirjen Binfar
dan Alkes Kemenkes RI
April April 15. Melakukan monitoring Januari Desember 16. Melakukan evaluasi Januari Desember 17. Menyusun laporan Januari Desember
E. Jadwal Peninjauan Kembali Untuk Perbaikan
Untuk mengetahui apakah rencana kegiatan yang dilaksanakan sudah sesuai dengan tujuan yang diharapkan maka perlu disusun jadwal peninjauan kembali (L.19) sebagai berikut (Tabel 21) :
Tabel 21.
Jadwal Peninjauan Kembali
Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2014 ( L. 19 )
No Kegiatan Evaluasi Waktu Pelaksanaan ( 2014 )
1. 2. 3. 4. Evaluasi I Evaluasi II Evaluasi III Evaluasi IV Akhir Maret 2014 Akhir Juni 2014 Akhir September 2014 Akhir Desember 2014
F. Bagan Jadwal Kegiatan
Bagan jadwal kegiatan merupakan alat kontrol untuk mengetahui kemajuan dari suatu kegiatan agar jadwal dapat dengan mudah dibaca dan
dimengerti maka dipakai "Gantt Chart" yang menggambarkan jadwal dalam bagan secara jelas, sederhana dan memuat antara lain kapan sesuatu kegiatan dimulai dan kapan berakhirnya. Untuk Bagan Jadwal Kegiatan (L.20) dapat dijelaskan sebagai berikut ( Tabel 22) :
Tabel 22.
Bagan Jadwal Kegiatan
Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2014 ( L. 20 )
No Program Kegiatan Tahun 2014
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 Mensosialisasikan SOP pembinaan pelaku
sarana distribusi Alkes kepada SDM 2 Menyusun rencana dan target pembinaan
pelaku sarana distribusi Alkes
3 Mempelajari peraturan perundangan tentang distribusi Alkes
4 Menggunakan SOP sebagai standar dalam pelaksanaan pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes
5 Melaksanakan pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes sesuai target yang ditetapkan 6 Memfasilitasi pengajuan permohonan ijin usaha
distribusi Alkes
7 Memberikan teguran terhadap SDM yang kurang disiplin dalam pelaksanaan tupoksi
8 Memberikan sanksi terhadap pelanggaran distribusi Alkes tak berijin sesuai peraturan 9 Mendata SDM untuk mengikuti diklat / pelatihan
pembinaan pelaku sarana distribusi Alkes 10 Melaksanakan koordinasi dengan Asosiasi
Pengusaha Alkes di wilayah DIY
11 Mengirimkan SDM mengikuti diklat setiap kali ada kesempatan
12 Mensosialisasikan peraturan perundangan kepada pelaku sarana distribusi Alkes 13 Memberikan motivasi dan etos kerja kepada
SDM melalui pembinaan internal secara rutin 14 Melaksanakan konsultasi ke Dirjen Binfar dan
Alkes Kemenkes RI 15 Melakukan monitoring 16 Melakukan evaluasi 17 Menyusun laporan