62 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan Research and Development. dengan alasan karena sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Sedangkan model penelitian pengembangan yang dipilih adalah model penelitian dan pengembangan pendidikan yang dikembangkan oleh Borg dan Gall. Menurut Borg dan Gall (1989: 772), “educational research and development (R & D) is a process used to develop and validate educational production". Sebagaimana telah diuraikan pada pembahasan sebelumnya penelitian pengembangan model Borg and Gall meliputi sepuluh langkah sebagai berikut : 1). Studi Pendahuluan, 2). Perencanaan penelitian, 3). Pengembangan produk awal, 4). Uji coba lapangan awal (terbatas), 5). Revisi hasil uji lapangan terbatas, 6). Uji lapangan lebih luas, 7). Revisi hasil uji lapangan, 8). Uji kelayakan, 9). Revisi hasil uji kelayakan, 10) Diseminasi dan sosialisasi produk akhir. Langkah-langkah tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :
Gambar 3.1. Alur Langkah Penggunaan Metode Research and Development (R & D) B. Prosedur Penelitian Pengembangan
1. Tahap I : Studi Pendahuluan
Tahap studi pendahuluan, yang merupakan kegiatan awal research and information collecting memiliki dua kegiatan utama, yaitu studi literatur (pengkajian pustaka dan hasil penelitian terdahulu) dan studi lapangan. Hasil dari kegiatan ini
Uji Coba Produk Potensi dan Masalah Pengumpul an Data Desain Produk Revisi Produk Revisi Desain Validasi Desain Uji Coba Pemakaian Revisi
63 adalah diperolehnya profil implementasi sistem pembelajaran, khususnya yang berkaitan dengan kegiatan atau obyek pembelajaran yang hendak ditingkatkan mutunya.
Tahap ini mencakup kegiatan mengkaji literatur, khususnya teori-teori dan konsep-konsep yang relevan dengan masalah yang diteliti, dan mengkaji temuan-temuan penelitian terbaru. Hasil pengkajian literatur akan digunakan untuk mendukung studi pendahuluan di lapangan.
Studi pendahuluan di lapangan dilakukan dengan observasi terhadap proses pembelajaran olahraga khususnya pencak silat dan survei terhadap beberapa tenaga pengajar untuk mengetahui kebutuhan media pembelajaran dibidang olah raga. Survei dilakukan melalui media online memanfaatkan fasilitas googledoc. Survei diperlukan untuk menggali informasi melalui jajak pendapat mengenai prospek berbagai cabang olahraga yang diajarkan di sekolah sebagai sebuah karir profesional. Selain itu juga dilakukan studi dokumentasi, berupa kajian terhadap kurikulum mata pelajaran Penjaskes, buku teks yang digunakan, serta perangkat pembelajarannya, untuk menentukan Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) yang akan dipilih untuk mengintegrasikan model pembelajaran yang dikembangkan. Hal-hal yang ingin diketahui dari perangkat pembelajaran yang sudah dibuat guru adalah mengenai: (1) Penjabaran indikator menjadi tujuan pembelajaran yang meliputi aspek kognitif, afektif, psikomotor dan mendorong keterampilan berpikir tingkat tinggi. (2) Kontekstualisasi pemilihan bahan ajar yang dikaitkan dengan kebutuhan pengembangan diri. (3) Inovasi pendekatan, strategi, dan metode pembelajaran yang menggambarkan upaya meningkatkan keterlibatan aktif siswa dalam pembelajaran. (4) Inovasi pemilihan sumber dan media pembelajaran yang bervariasi. (5) Inovasi evaluasi proses dan hasil belajar siswa.
Kondisi faktual dilapangan menunjukkan bahwa jumlah jam untuk mata pelajaran olah raga hanya 2 x 45 menit dalam satu minggu dengan jumlah tatap muka rata-rata 16 sampai 18 kali dalam satu semester. Hal ini tentunya sangat tidak mendukung untuk pemenuhan pendalaman kompetensi olahraga dengan jumlah cakupan materi yang sangat banyak, seperti : permainan bola besar, permainan bola
64 kecil, olah raga air, atletik, pencak silat dan sebagainya. Untuk materi pencak silat bisa diajarkan rata-rata 2 kali tatap muka pada setiap semester.
2. Tahap II : Tahap Pengembangan Model
Setelah melakukan studi pendahuluan dengan pengumpulan informasi yang berkaitan dengan pembuatan media dan isi media dilanjutkan langkah kedua, yaitu studi pengembangan. Langkah-langkah studi pengembangan terdiri dari : desain produk, validasi desain, revisi desain, uji coba produk, revisi produk, evaluasi dan penyempurnaan dan model hipotetik. Adapun penjelasan langkah demi langkah pada tahap pengembangan model ini adalah sebagai berikut :
a. Desain Produk
Desain produk media terdiri dari dua bagian yaitu perancangan substansi materi produk media dan perancangan program audio-visual. media Pada perancangan substansi materi, seleksi materi disusun berdasarkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (SKKD) pada mata pelajaran penjaskes tentang pencak silat. Sedangkan perancangan program audio-visual media mengikuti prosedur yang dikembangkan oleh Hackbarth, (1996: 178) yaitu: Pemilihan materi, penulisan materi, pengorganisasian isi materi, pembuatan storyboard, penulisan skrip secara rinci berbasis pada storyboard. Rancangan produk berupa storyboard dan skrip dapat dilihat di tabel A.1. pada bagian lampiran tesis ini.
Produk media yang bagus adalah media yang dapat menayangkan materi dengan lengkap, materi yang sulit diperoleh, dan terdapat sentuhan teknik, musik dan seni. Masing-masing kelompok teknik dasar tersebut terdiri dari beberapa gerakan dasar yang dapat diikuti teknik gerakan prosedur latihan untuk mencapai tataran yang optimal yang disajikan secara visual melalui tayangan gambar.
b. Validasi Desain
Validasi desain diperlukan untuk menguji apakah rancangan produk sudah memenuhi kriteria yang diharapkan dapat menghasilkan produk pembelajaran interaktif yang efektif dan efisien. Kriteria yang dimaksud adalah terpenuhinya ketentuan-ketentuan dilihat dari sudut pandang media pembelajaran interaktif dan sudut pandang isi materi beladiri pencak silat. Untuk pengujian rancangan produk
65 diperlukan paling tidak dua orang pakar yang ahli dibidangnya masing-masing atau memiliki kemampuan di kedua-duanya, yakni ahli dibidang media pembelajaran interaktif dan ahli dibidang olah raga beladiri pencak silat. Indikator kemampuan sumber ahli bisa dilihat dari track record pendidikan dan atau prestasi dibidangnya masing-masing.
Sumber ahli multimedia berperan memvalidasi desain media pembelajaran interaktif. Thorn dalam Raymond H. Symamora (2009:70) mengemukakan beberapa kriteria untuk menilai multimedia interaktif sebagai berikut :
1) Kemudahan navigasi. Sebuah program harus dirancang sesederhana mungkin sehingga peserta didik yang sedang mempelajari bahasa tidak perlu belajar komputer lebih dahulu.
2) Kognisi, pengetahuan, dan penyajian (presentasi) informasi. Kriteria ini untuk menilai isi program, apakah program telah memenuhi kebutuhan pembelajaran peserta didik atau belum.
3) Integrasi media. Media harus mengintegrasikan aspek dan keterampilan bahasa yang harus dipelajari.
4) Estetika. Untuk menarik minat peserta didik, program harus mempunyai tampilan yang artistik.
5) Fungsi keseluruhan. Program yang dikembangkan harus memberikan pembelajaran yang diinginkan oleh peserta didik sehingga saat peserta didik selesai menjalankan sebuah program mereka akan merasa telah belajar sesuatu.
Sedangkan ahli dibidang beladiri pencak silat berperan memvalidasi isi materi yang diambil dari materi pokok pencak silat sesuai dengan kurikulum pembelajaran SMK. Ahli bela diri pencak silat dipilih dari praktisi pencak silat yang memiliki kompetensi dibidangnya agar benar-benar dapat merelevansikan terhadap kebutuhan fisik dan teknik dalam praktik beladiri kategori tanding sesuai dengan pengalaman bertanding dan membentuk atlit.
c. Revisi Desain
Setelah storyboard diuji oleh para pakar yang telah dipilih, kemudian dilakukan revisi sesuai masukan para pakar atau ahli tersebut sampai ahli tersebut menyatakan bahwa rancagan produk terukur valid. Langkah berikutnya adalah
66 pengambilan video dan sound recording di studio multimedia. Alat dan bahan yang diperlukan dalam penelitian ini meliputi: (1) satu unit komputer untuk saving dan editing, (2) Scanner, untuk pengambilan gambar mati, (3) Kamera video, dan camera digital untuk pengambilan gambar hidup yang diperlukan bagi program, (4) Printer, untuk mencetak dokumen, (5) Perangkat lunak media, yaitu: microsoft power point, (8) Perangkat pendukung sepert flash disk dan CD.
Teknik dan langkah pengambilan gambar diserahkan sepenuhnya kepada kamerawan (tenaga teknis yang bertugas mengambil gambar). Cara kerja ini dapat menyingkat waktu cukup banyak dan hasilnya tetap maksimal karena tenaga teknis sudah ahli. Kamerawan tidak perlu penjelasan yang detail karena sudah dapat bekerja on the track sesuai dengan storyboard yang dipegang. Seleksi gambar video dan perbaikan setting gambar dilakukan pada proses editing termasuk penyesuaian dengan dubbing narasi dan penyisipan back sound effectnya.
d. Uji Coba Terbatas
Uji coba terbatas pada produk dimaksudkan untuk mengumpulkan data yang digunakan sebagai dasar untuk menetapkan tingkat kefektifan, efisisensi dan/atau daya tarik dari produk pengembangan program audio-visual media pembelajaran pencak silat. Uji coba terbatas terdiri dari uji coba perorangan dan uji coba kelompok kecil.
1) Uji coba perorangan, butir uji coba produk pada perorangan terdiri dari : a) Desain uji coba
Uji coba perorangan dilakukan untuk memperoleh keterangan ahli terhadap isi produk model program audio-visual media pembelajaran pencak silat dilihat dari isi materi dan program latihan serta penyajian produk sesuai dengan kriteria-kriteria yang telah ditentukan.
b) Subjek uji coba
Subjek uji coba perorangan terdiri dari tiga orang ahli, yaitu :
(1) Eko Subakir, S. Kom., M.Si., adalah seorang pakar multimedia telah memiliki pengalaman sebagai tenaga pengajar dibidang multimedia lebih dari 10 tahun, juga sebagai instruktur pembuatan media
67 pembelajaran interaktif pada kelompok guru berbagai mata pelajaran serta banyak menorehkan prestasi di berbagai perlombaan media pembelajaran interaktif baik tingkat provinsi maupun nasional.
(2) Nur Iskhak Al Jufri, S.Pd., adalah Kasi Bidang Olahraga Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kota Solo. Prestasi yang pernah diraih dibidang olah raga pencak silat diantaranya peraih medali PON, Sea Game bahkan sampai Juara Dunia Pencak Silat. (3) Hasanudin Dwi Sabdo Putro, S.Pd., M.Pd., adalah seorang Magister
Pendidikan yang memiliki kompetensi dalam media pembelajaran interaktif dan kemampuan beladiri pencak silat. Selain memiliki beberapa prestasi dibidang beladiri pencak silat, beliau juga sering dilibatkan dalam berbagai kegiatan pengembangan media pembelajaran interaktif pada kelompok guru mata pelajaran di Kabupaten Sragen. c) Jenis data
Jenis data yang digunakan pada uji coba perorangan ini berupa data kualitatif dengan skala Likert. Sugiyono (2013:134) mengatakan : “Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang tentang fenomena sosial.
d) Instrumen pengumpulan data
Berdasarkan keperluan pengukuran produk pada uji perorangan pada ahli maka diperlukan checklist sebagai rubrik pengukurannya. Bentuk checklist pengukuran pada uji coba perorangan dimaksudkan untuk untuk meminta pendapat mengenai efisiensi, efektifitas dan daya tarik produk program audio-visual media pembelajaran pencak silat. Aspek yang dinilai pada isi materi latihan dan program latihan mencakup kriteria : (l). Aspek Kesesuaian, (2). Aspek Kemanfaatan, (3). Aspek Keamanan, dan (4). Aspek Keterlaksanaan, sedangkan penilaian media pembelajaran interaktif penyajian produk memenuhi kriteria : (1). Aspek kesesuaian dengan kaidah pembuatan produk, dan (2). Aspek kemudahan untuk dipahami. Variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel sebagaimana pendapat Sugiyono (2013:135) yang mengatakan :
68 “Jawaban setiap item instrumen yang menggunakan skala Likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif, yang dapat berupa kata-kata antara lain : a. Sangat Setuju, b. Setuju, c. Ragu-ragu, d. Tidak setuju, e. Sangat tidak setuju... Untuk keperluan analisis kuantitatif, maka jawaban itu dapat diberi skor, misalnya : Sangat setuju/selalu/sangat positif diberi skor 5, setuju/sering/positif diberi skor 4, ragu-ragu/kadang-kadang/netral diberi skor 3, tidak setuju/hampir tidak pernah/negatif diberi skor 2, sangat tidak setuju/tidak pernah/diberi skor 1”.
e) Teknik analisis data
Teknik analisis data yang digunakan dalam pengembangan model media pembelajaran pencak silat adalah teknik analisis deskriptif persentase. Analisa data sesuai dengan pendekatan ini dimaksudkan bahwa, setiap analisa disesuaikan dengan pendekatan yang digunakan, hanya sampai mengetahui persentase (%) (Sudjana,1990:45)
Rumus untuk mengolah data kuantitatif subyek uji coba.
P =
x 100%
Keterangan :P : Persentase hasil subyek uji coba X : Jawaban responden dalam satu item X1 : Jumlah jawaban ideal dalam satu item
100 % : Konstanta
Tabel 3.1. Kriteria Tingkat Kelayakan (Arikunto, 2009:44)
Katagori Prosentase Kualifikasi Ekuivalen
A 81% - 100% Sangat Valid Sangat Layak
B 61% - 80% Valid Layak
C 41% - 60% Cukup Valid Cukup Layak
D 21% - 40% Tidak Valid Tidak Layak
E < 21% Sangat Tidak Valid Sangat Tidak Layak Keterangan tabel kriteria tingkat kelayakan :
(1) Jika media yang divalidasi tersebut mencapai tingkat prosentase 81 – 100% maka media tersebut tergolong kualifikasi sangat valid.
69 (2) Jika media yang divalidasi tersebut mencapai tingkat prosentase 61 –
80% maka media tersebut tergolong kualifikasi valid.
(3) Jika media yang divalidasi tersebut mencapai tingkat prosentase 41 – 60% maka media tersebut tergolong kualifikasi kurang valid.
(4) Jika media yang divalidasi tersebut mencapai tingkat prosentase 21 – 40% maka media tersebut tergolong kualifikasi tidak valid.
(5) Jika media yang divalidasi tersebut mencapai tingkat prosentase kurang dari 21 kualifikasi sangat tidak valid.
(6) Media berhasil dan dapat dimanfaatkan jika skor nilai 61% ke atas. 2) Uji coba kelompok kecil, butir uji coba produk terdiri dari :
a) Desain uji coba kelompok kecil
Uji coba perorangan dilakukan untuk memperoleh keterangan para praktisi pencak silat yang telah terbiasa berlatih dalam kegiatan ekstra kurikuler pencak silat dari kalangan siswa untuk menguji isi produk model program audio-visual media pembelajaran pencak silat dilihat dari sisi daya tarik isi dari media pembelajaran pencak silat berbasis multimedia interaktif.
b) Subjek uji coba
Subjek uji coba perorangan terdiri dari enam orang dari perguruan pencak silat Tapak Suci yang telah mengikuti kegiatan ekstra kurikuler di sekolah. Subjek dipilih dari para peserta yang telah memiliki waktu latihan selama kurang lebih satu tahun.
c) Jenis data
Jenis data yang digunakan pada uji coba perorangan ini berupa data kualitatif dengan skala likert. Sugiyono (2013:134) mengatakan : “Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang tentang fenomena sosial.
d) Instrumen pengumpulan data
Berdasarkan keperluan pengukuran produk pada uji coba kelompok kecil diperlukan checklist sebagai rubrik pengukurannya. Bentuk checklist pengukuran pada uji coba kelompok kecil dimaksudkan untuk untuk meminta pendapat mengenai efisiensi, efektifitas dan daya tarik produk
70 program audio-visual media pembelajaran pencak silat. Aspek yang dinilai pada isi materi latihan dan program latihan mencakup kriteria : (l). Aspek Kesesuaian, (2). Aspek Kemanfaatan, (3). Aspek Keamanan, dan (4). Aspek Keterlaksanaan, sedangkan penilaian media pembelajaran interaktif penyajian produk memenuhi kriteria : (1). Aspek kesesuaian dengan kaidah pembuatan produk, dan (2). Aspek kemudahan untuk dipahami. Variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel sebagaimana pendapat Sugiyono (2013:135) yang mengatakan :
“Jawaban setiap item instrumen yang menggunakan skala Likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif, yang dapat berupa kata-kata antara lain : a. Sangat Setuju, b. Setuju, c. Ragu-ragu, d. Tidak setuju, e. Sangat tidak setuju... Untuk keperluan analisis kuantitatif, maka jawaban itu dapat diberi skor, misalnya : Sangat setuju/selalu/sangat positif diberi skor 5, setuju/sering/positif diberi skor 4, ragu-ragu/kadang-kadang/netral diberi skor 3, tidak setuju/hampir tidak pernah/negatif diberi skor 2, sangat tidak setuju/tidak pernah/diberi skor 1”.
e) Teknik analisis data
Teknik analisis data yang digunakan dalam pengembangan model media pembelajaran pencak silat adalah teknik analisis deskriptif persentase. Analisa data sesuai dengan pendekatan ini dimaksudkan bahwa, setiap analisa disesuaikan dengan pendekatan yang digunakan, hanya sampai mengetahui persentase (%) (Sudjana,1990:45)
Rumus untuk mengolah data kuantitatif subyek uji coba.
P =
x 100%
Keterangan :
P : Persentase hasil subyek uji coba X : Jawaban responden dalam satu item X1 : Jumlah jawaban ideal dalam satu item
71 Tabel 3.2. Kriteria Tingkat Kelayakan (Arikunto, 2009:44)
Katagori Prosentase Kualifikasi Ekuivalen
A 81% - 100% Sangat Valid Sangat Layak
B 61% - 80% Valid Layak
C 41% - 60% Cukup Valid Cukup Layak
D 21% - 40% Tidak Valid Tidak Layak
E < 21% Sangat Tidak Valid Sangat Tidak Layak Keterangan tabel kriteria tingkat kelayakan :
1) Jika media yang divalidasi tersebut mencapai tingkat prosentase 81 – 100% maka media tersebut tergolong kualifikasi sangat valid.
2) Jika media yang divalidasi tersebut mencapai tingkat prosentase 61 – 80% maka media tersebut tergolong kualifikasi valid.
3) Jika media yang divalidasi tersebut mencapai tingkat prosentase 41 – 60% maka media tersebut tergolong kualifikasi kurang valid.
4) Jika media yang divalidasi tersebut mencapai tingkat prosentase 21 – 40% maka media tersebut tergolong kualifikasi tidak valid.
5) Jika media yang divalidasi tersebut mencapai tingkat prosentase kurang dari 21 kualifikasi sangat tidak valid.
e. Revisi Produk
Revisi produk dilakukan dengan mempertimbangkan masukan-masukan dari para ahli pada uji coba perseorangan dan juga masukan dari para siswa pencak silat pada uji kelompok kecil. Revisi produk dilakukan dengan memandang urgensi kebutuhan media.
f. Uji Coba Lapangan
Uji coba diperluas pada produk pengembangan media audio-visual pembelajaran pencak silat dimaksudkan untuk mengumpulkan data yang digunakan sebagai dasar untuk memastikan bahwa tahap produk benar-benar siap untuk diujicobakan pada tahap eksperimen. Disamping untuk menguji kesiapan media, uji coba juga dilakukan untuk menguji instrumen-instrumen yang diperlukan dalam pengujian model melalui kegiatan eksperimen.
72 Butir uji coba produk pada uji coba diperluas terdiri dari :
1) Desain uji coba
Uji coba perorangan dilakukan sebagai gambaran eksperimen kecil untuk memperoleh data-data tentang kesiapan produk apakah benar-benar telah siap diujicobakan dalam eksperimen yang sebenarnya.
2) Subjek uji coba
Subjek uji coba perorangan terdiri dari 12 siswa SMK Negeri 1 Miri kelas X dengan mengabaikan latar belakang kemampuan dibidang beladiri pencak silat dan sejenisnya.
3) Jenis data
Jenis data yang digunakan pada uji coba diperluas ini berupa data kualitatif dengan menggunakan skala likert. Sugiyono (2013:134) mengatakan : “Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang tentang fenomena sosial.
4) Instrumen pengumpulan data
Berdasarkan keperluan pengukuran produk pada uji coba diperluas diperlukan checklist sebagai rubrik pengukurannya. Bentuk checklist pengukuran pada uji coba perorangan dimaksudkan untuk untuk meminta pendapat mengenai efisiensi, efektifitas dan daya tarik produk program audio-visual media pembelajaran pencak silat. Aspek yang dinilai pada isi materi latihan dan program latihan mencakup kriteria : (l). Aspek Kesesuaian, (2). Aspek Kemanfaatan, (3). Aspek Keamanan, dan (4). Aspek Keterlaksanaan, sedangkan penilaian media pembelajaran interaktif penyajian produk memenuhi kriteria : (1). Aspek kesesuaian dengan kaidah pembuatan produk, dan (2). Aspek kemudahan untuk dipahami. Variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel sebagaimana pendapat Sugiyono (2013:135) yang mengatakan :
“Jawaban setiap item instrumen yang menggunakan skala Likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif, yang dapat berupa kata-kata antara lain : a. Sangat Setuju, b. Setuju, c. Ragu-ragu, d. Tidak setuju, e. Sangat tidak setuju... Untuk keperluan analisis kuantitatif, maka jawaban itu dapat diberi skor, misalnya : Sangat setuju/selalu/sangat positif diberi skor 5, setuju/sering/positif diberi skor 4,
ragu-ragu/kadang-73 kadang/netral diberi skor 3, tidak setuju/hampir tidak pernah/negatif diberi skor 2, sangat tidak setuju/tidak pernah/diberi skor 1”.
5) Teknik analisis data
Teknik analisis data yang digunakan dalam pengembangan model media pembelajaran pencak silat adalah teknik analisis deskriptif persentase. Analisa data sesuai dengan pendekatan ini dimaksudkan bahwa, setiap analisa disesuaikan dengan pendekatan yang digunakan, hanya sampai mengetahui persentase (%) (Sudjana,1990:45)
Rumus untuk mengolah data kuantitatif subyek uji coba.
P =
x 100%
Keterangan :P : Persentase hasil subyek uji coba X : Jawaban responden dalam satu item X1 : Jumlah jawaban ideal dalam satu item
100 % : Konstanta
Tabel 3.3. Kriteria Tingkat Kelayakan (Arikunto, 2009:44)
Katagori Prosentase Kualifikasi Ekuivalen
A 81% - 100% Sangat Valid Sangat Layak
B 61% - 80% Valid Layak
C 41% - 60% Cukup Valid Cukup Layak
D 21% - 40% Tidak Valid Tidak Layak
E < 21% Sangat Tidak Valid Sangat Tidak Layak Keterangan tabel kriteria tingkat kelayakan :
a) Jika media yang divalidasi tersebut mencapai tingkat prosentase 81 – 100% maka media tersebut tergolong kualifikasi sangat valid.
b) Jika media yang divalidasi tersebut mencapai tingkat prosentase 61 – 80% maka media tersebut tergolong kualifikasi valid.
c) Jika media yang divalidasi tersebut mencapai tingkat prosentase 41 – 60% maka media tersebut tergolong kualifikasi kurang valid.
74 d) Jika media yang divalidasi tersebut mencapai tingkat prosentase 21 –
40% maka media tersebut tergolong kualifikasi tidak valid.
e) Jika media yang divalidasi tersebut mencapai tingkat prosentase kurang dari 21 kualifikasi sangat tidak valid.
f) Media berhasil dan dapat dimanfaatkan jika skor nilai 61% ke atas. g. Evaluasi dan Penyempurnaan
Hasil uji coba lapangan dianalisa untuk selanjutnya dilakukan evaluasi. Evaluasi untuk memastikan desain uji coba produk telah sesuai, subyek uji coba memenuhi kriteria, jenis data yang digunakan telah ditentukan, instrumen pengumpulan data telah mencukupi dan teknik analisis datanya dapat dipertanggungjawabkan. Kesempurnaan produk dan kelengkapan-kelengkapannya menjadi tujuan akhir dari penelitian pengembangan ini. Produk yang telah dilakukan evaluasi dan penyempurnaan ini selanjutnya disebut sebagai model hipotetik.
h. Model Hipotetik
Model hipotetik dalam penelitian pengembangan ini adalah model akhir yang telah disempurnakan sendi melalui berbagai yang diantaranya uji coba perorangan dari para ahli, uji coba kelompok kecil dari para siswa pencak silat dan uji coba lapangan. Model hipotetik inilah yang diduga dapat menjawab kesenjangan antara harapan dan fakta. Model hipotetik berupa produk media pembelajaran berbasis multimedia interaktif. Produk dibuat dengan software microsoft power point. Dipilih model ini dengan dengan mempertimbangkan faktor kemudahan, baik kemudahan dalam pembuatan juga kemudahan dalam mengakses maupun kemudahan dalam mengoperasikan softwarenya.
Dengan model hipotetik, akan dilakukan ekperimen produk pada dua kelompok yakni kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Rancangan eksperimen menggunakan rancangan tes awal dan tes akhir dengan pemilihan kelompok yang acak (two group pre test and post test design). Mekanisme pelaksanaan uji efektivitas hasil produk pengembangan ini dilakukan dengan membandingkan dengan kelompok kontrol untuk kemudian dilihat hasilnya dari hasil tes awal dan tes akhir.
75 Tabel 3.4. Desain Uji Efektivitas Produk
Subyek Pre Test Perlakuan Post Test
R X1 Tanpa media interaktif X2
R X1 Dengan media interaktif X2
Pada penelitian ini juga digunakan metode tes. Menurut Johnson dan Nelson (l969:1), "Tes adalah suatu bentuk dari suatu pertanyaan dan atau pengukuran, yang digunakan untuk memperkirakan ingatan dari sutau pengetahuan dan kemampuan, atau untuk mengukur kemampuan gerak di dalam aktifitas jasmani. Kirkendal dalam Winarno (2011:61), menyatakan bahwa tes adalah instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan informasi tentang individu atau objek.
Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pencapaian dari eksperimen produk pengembangan. Secara khusus tes yang digunakan adalah tes prestasi. Winamo (2011:61) menyatakan : "Tes prestasi adalah tes yang digunakan untuk mengukur pencapaian prestasi seseorang setelah mempelajari sesuatu." Dalam penelitian ini tes prestasi yang dimaksudkan tes penguasaan teknik kemampuan pencak silat sehingga instrument ini masuk kategori achieveruent test. Sugiyanto (1993:66), menyatakan bahwa “kriteria pengukuran dikatakan baik apabila memenuhi kriteria: instrumen pengukuran harus valid, reliabel, mudah diadministrasikan dan ada norma penilaiannya”.
Penelitian ini berkonsentrasi pada penguasaan teknik dasar mata pelajaran olahraga pencak silat. Dalam mengukur tingkat penguasaan teknik dalam cabang olahraga, beberapa jenis teknik dasar cabang olahraga tidak memiliki instrument pengukuran secara pasti. Oleh karena itu pengamatan terhadap penguasaan teknik dasar tersebut akan didasarkan pada proses pelaksanaannya dan tidak melihat hasil akhir dari teknik tersebut.
Berdasarkan teori-teori yang diungkapkan di atas kesesuaian instrument dengan penelitian yang dilakukan maka pemilihan skala penilaian adalah yang paling mendekati dari segi hasil. Menurut Verducci (1980:188) skala penilaian
76 dapat digunakan sebagai alat ukur yang cukup valid untuk mengukur berbagai macam jenis bentuk tujuan dalam pendidikan jasmani, khususnya pada saat sasaran hasil tersebut mengutamakan terminologi dari proses dibandingkan produk. Jadi dapat disimpulkan bahwa suatu penelitian yang menitik beratka pada proses pelaksanaannya dapat menggunakan skala penilaian sebagai instrument pengukurannya. Dalam pendidikan jasmani dan olahr:aga, penelitian yang dilakukan dapat mengamati proses dari pelaksaanaan aktifitas gerak. Karena subyek utama penelitian dalam dunia olahraga adalah gerak dari manusia. Penelitian ini akan menelti tentang penguasaan teknik dasar teknik dasar pencak silat.
Penguasaan keterampilan teknik dasar pencak silat akan memerlukan penilaian proses. Hal ini disebabkan karena indikator keberhasilan penguasaan teknik dasar tersebut kurang relevan apabila menitikberatkan pada hasil akhir. Banyaknya bias yang muncul ketika didasarkan pada hasil akhir yaitu pada saat melaksanakan gerakan telah memperhatikan arah sasaran, alat penyasar, lintasan ataukah hanya mengutamakan kecepatan saja yang mengakibatkan kurangnya relevansi terhadap keberhasilan penguasaan keterampilan. Oleh karena itu penilaian penguasaan keterampilan teknik dasar pencak silat ini menggunakan metode numerical rating scale. Menurut Verducci (1980:188) "numerical rating scale yaitu merupakan bentuk skala penilaian absolut yang paling sederhana”. Prinsip pelaksanaannya adalah dengan melaksanakan pengamatan terhadap keterampilan dan kemudian diberikan nilai pada setiap indikator keterampilan dengan rentang nilai 1 sampai 5 terhadap proses pelaksanaan dari gerakan teknik dasar pencak silat tersebut yang akan dirasa cukup mewakili untuk hasil dari penelitian.
Adapun aspek pengamatan dan tata cara pelaksanaan dalam tes adalah sebagai berikut :
1) Alat dan fasilitas : Matras beladiri, Punch box, Peluit dan Alat tulis
2) Pengukuran teknik dasar. Komponen yang diukur meliputi kuda-kuda, lintasan, sasaran dan kecepatan, dengan urutan pelaksanaan sebagai berikut : a) Testi melakukan pemanasan secukupnya.
77 b) Setelah cukup melakukan pemanasan, Testi berbaris kemudian melakukan gerakan teknik dasar tanpa bidang sasaran sesuai dengan petunjuk dan aba-aba yang diberikan oleh instruktur.
c) Peneliti melakukan pengukuran pada aspek kuda-kuda, lintasan dan sasaran dengan memberikan skor penilaian dengan kriteria sesuai dengan keterangan yang diberikan ahli pencak silat. (Terlampir)
d) Peneliti melakukan pengukuran kecepatan pada masing-masing jenis teknik dasar pukulan dan tendangan. Tata cara pengukurannya sebagai berikut :
(1) Satu per satu Testi berbaris berdiri sejauh 60 cm dari punch box, siap dengan sikap pasang.
(2) Punch box dipegang oleh orang lain dengan posisi yang disesuaikan dengan jenis gerakan.
(3) Setelah terdengar bunyi peluit, Testi mulai melakukan gerakan teknik dasar secepat-cepatnya dalam waktu 10 detik.
(4) Setiap jenis gerakan dilaksanakan secara bergantian dalam satu kelompok baru kemudian berganti dengan jenis gerakan yang lain sampai semua gerakan diukur kecepatannya pada tiap-tiap Testi. (5) Peneliti mencantumkan skor pada masing-masing pengukuran
dengan kriteria penilaian dalam waktu 10 detik sesuai keterangan yang sampaikan ahli pencak silat. (Terlampir)
Beberapa aspek yang diberikan tes tersebut merupakan tinjauan terhadap teknik dasar pencak silat baik secara biomekanik maupun anatomis. Pemilihan aspek yang diberikan tes merupakan aspek yang dominan dalam pelaksanaan teknik dasar pencak silat. Pemilihan butir tes tersebut merupakan pendukung dari keterampilan teknik dasar pencak silat sehingga relevan dengan hasil yang diharapkan.
3. Tahap III : Tahap Evaluasi
Pada tahap evaluasi atau pengujian model produk diterapkan dalam kondisi nyata untuk lingkup yang lebih luas dengan metode eksperimen. Pada tahap eksperimen ini menggunakan dua teknik pengumpulan data melalui :
78 a. Pendekatan Kualitatif
1) Analisis data
Analisis data kualitatif menurut Bodgan dan Biklen (dalam Moleong, 2007:248) merupakan upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, sehingga pada akhirnya akan menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain. Data yang dianalisis secara kualitatif berasal dari data yang diperoleh dari berbagai sumber yaitu wawancara dan catatan lapangan.
Menurut Moleong (2007:247) proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu dari wawancara, pengamatan yang sudah dituliskan dalam catatan lapangan, dokumen pribadi, dokumen resmi, gambar, foto, dan sebagainya.
Tahap analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini sebagaimana yang dilakukan yaitu: (l) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) penarikan kesimpulan.
a). Tahap reduksi data
Reduksi data adalah proses penyederhanaan yang dilakukan melalui seleksi, pemfokusan dan pengabstraksian data mentah menjadi informasi yang bermakna. Data yang diperoleh dari hasil observasi, lembar penilaian, dan catatan lapangan dimungkinkan masih belum dapat memberikan informasi yang jelas. Oleh karena itu, perlu dilakukan reduksi data. Reduksi data dilakukan dengan cara pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan dan transformasi kasar yang diperoleh dari wawancara, observasi, lembar penilaian, dan catatan lapangan. Hal ini bertujuan untuk memperoleh informasi yang jelas dari data tersebut, sehingga peneliti dapat membuat kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan.
b). Tahap penyajian data
Penyajian data dilakukan dalam bentuk uraian singkat atau paparan naratif, (Sugiyono, 2013:329). Hal ini dimaksudkan untuk memberikan kemudahan dalam memahami apa yang terjadi atau penarikan kesimpulan
79 sementara yang berupa temuan penelitian yaitu berupa pencapaian indikator-indikator yang berkaitan dengan apa yang telah diberikan.
c). Tahap penarikan kesimpulan
Penarikan kesimpulan merupakan proses pengambilan inti sari dari sajian data yang. telah terorganisir dari hasil paparan data dalam bentuk peryataan kalimat yang singkat dan padat tetapi mengandung pengertian luas. Temuan penelitian dilakukan pengecekan keabsahan temuan, sehingga diperoleh hasil penelitian. Selanjutnya hasil penelitian direfleksi atau diberi makna untuk mendapatkan kesimpulan akhir. Hasil refleksi ini digunakan untuk menyusun rencana tindakan selanjutnya.
2). Validitas data
Validitas data adalah kegiatan untuk pemeriksaan keabsahan data. Untuk menjaga keabsahan data yang telah diambil di lapangan maka dilakukan pemeriksaan keabsahan data yang dikumpulkan, dengan metode : a). Pengecekan teman sejawat
Menurut Moleong (2007:333), diskusi ini sebaiknya dilakukan dengan teman sejawat yang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam bidang yang dipersoalkan, terutama tentang isi dan metodologinya. Teknik ini dilakukan dengan cara memaparkan hasil sementara atau hasil akhir dengan rekan-rekan sejawat. Teknik pemeriksaan teman sejawat ini menurut Moleong (2007:333) mengandung beberapa maksud :
(1) Agar peneliti mempertahankan sikap terbuka dan jujur.
(2) Memberikan suatu kesempatan awal yang baik untuk mulai menjajaki dan menguji hipotesis kerja yang muncul dari pemikiran peneliti.
Tenik pemeriksaan keabsahan data ini jika dilakukan maka hasilnya adalah : (1) Menyediakan pandangan kritis.
(2) Mengetes temuan kerja.
(3) Membantu mengembangkan langkah selanjutnya. (4) Melayani sebagai pembanding.
80 b) Triangulasi
Sugiyono (2013:331) menyimpulkan, untuk melakukan pemeriksaan terhadap data dari berbagai sumber akan lebih tepat dengan menggunakan metode triangulasi.
Gambar 3.2. Validitas Data atau Pemeriksaan Keabsahan Data
Dalam hal ini triangulasi dilakukan dengan mengumpulkan data yang sejenis dengan menggunakan berbagai sumber data yang berbeda. Pada penelitian ini sumber data yang dimaksud adalah para ahli yang memberikan masukan dan evaluasi terhadap produk yang disusun oleh peneliti.
Pemeriksaan keabsahan melalui teknik triangulasi ini dilakukan dengan melakukan diskusi antara peneliti, guru serta siswa. Hal ini diharapkan akan mendapatkan adanya keabsahan data dari sumber yang berbeda. Kebenaran dari data telah diuji dari berbagai sumber data yang berbeda. Mekanisme pemeriksaan ini merupakan triangulasi metode dan triangulasi teori karena menggunakan lebih dari satu instrument pengumpul data.
Pengambilan data dalam penelitian ini tidak hanya menggunakan satu instrumen sebagai pengumpul data tetapi menggunakan dua instrument yaitu kuisioner dan wawancara tak terstruktur. Triangulasi metode dilakukan dengan cara mencocokan hasil pengambilan data dengan menggunakan
Validitas Data Triangulasi MetodeTeori Triangulasi Metode Uji Ahli Teori latihan teknik dasar dan kecepatan pencak silat 1. Wawancara 2. Catatan lapangan 3. Kuesioner 1. Ahli multimedia 2. Ahli pencak silat Triangulasi Metode Triangulasi Teori
81 kuisioner baik dari siswa maupun ahli dengan hasil wawancara. Triangulasi teori dilakukan dengan cara mencocokan kesesuaian produk dengan teori yang telah ada sebelumnya yaitu teori mengenai latihan teknik dasar dan kecepatan gerak dalam pencak silat.
c) Perpanjangan keikutsertaan
Peneliti dalam penelitian ini berperan sebagai instrument itu sendiri, keikutsertaan peneliti sangat menentukan dalam pengumpulan data. Perpanjangan keikutsertaan menurut Moleong (2007:327) akan membatasi :
(1) Gangguan dari dampak peneliti pada konteks. (2) Membatasi kekeliruan (biases) peneliti.
(3) Mengkonpensasi pengaruh dari kejadian-kejadian yang tidak biasa atau pengaruh sesaat.
b. Pendekatan Kuantitatif
Pengolahan data dengan pendekatan kuantitatif dalam penelitian ini melihat dari jenis data yang dikumpulkan pada saat penelitian, mulai dari questioner ahli multimedia dan ahli pencak silat, questioner siswa, serta data tes awal - tes akhir pada saat uji eksperimen produk.
1). Pengujian data
a) Uji normalitas distribusi frekuensi
Uji normalitas distribusi frekuensi dalam penelitian ini menggunakan metode Lilliefors (Sudjana, 2005:466). Dasar penggunaan metode Lilliefors adalah jumlah sampelnya kurang dari 40 sampel. Adapun prosedur pengujian normalitas adalah :
(1) Pengamatan x1, x2, . . . . , xn, dijadikan bilangan baku z1 , z2 , . . . ,zn
dengan menggunakan rumus :
z
i=
Keterangan :xi : Nilai tiap kasus
: Rata-rata
82 (2) Untuk tiap bilangan baku ini dan menggunakan daftar distribusi normal
baku, kemudian dihitung peluang F ( zi ) = P ( z ≤ zi )
(3) Selanjutnya dihitung proporsi z1 , z2 , . . . ,zn yang lebih kecil atau sama
dengan zi. Jika proporsi dinyatakan oleh
S (z
i) =
(4) Hitung selisih F ( zi ) - S ( zi ) kemudian ditentukan harga mutlaknya (5) Ambil harga yang paling besar di antara harga-harga mutlak selisih
tersebut sebagai Lhitung.
b) Uji homogenitas variansi Populasi
Uji homogenitas variansi populasi dilakukan dengan uji F. Pengujian homogenitas lebih sesuai menggunakan uji F dikarenakan hanya ada dua kelompok sampel yang diuji homogenitasnya. Langkah-langkah pengujiannya sebagai berikut:
(1) Menghitung varians gabungan dari tiap kelompok sampel (2)
Sx
2=
(3) Varians dari setiap kelompok sampel dengan dk = n – 1 (4) Menghitung F
(5)
F
=
(6) Membuat kesimpulan
Dari penghitungan diperoleh F hitung = ..., dengan derajat kebebasan (dk)
pembilang n-1, dan derajat kebebasan (dk) penyebut n-1, dan pada taraf nyata α = 0,05. Apabila F hitung Lebih kecil dari pada F tabel, maka data pada kelompok X dan Y Homogen.
2). Analisis data
a) Analisis data questioner ahli pencak silat dan questioner siswa
Data kuantitaif diperoleh pada uji coba ahli, uji coba kelompok kecil, uji coba kelompok diperluas dan uji coba kelompok besar. Selanjutnya data-data kuantitatif tersebut dianalisis untuk. Teknik analisis data yang digunakan dalam pengembangan model media pembelajaran pencak silat adalah teknik analisis
83 deskriptif persentase. Analisa data sesuai dengan pendekatan ini dimaksudkan bahwa, setiap analisa disesuaikan dengan pendekatan yang digunakan, hanya sampai mengetahui persentase (%) (Sudjana,1990:45)
Rumus untuk mengolah data kuantitatif subyek uji coba.
P =
x 100%
Keterangan :
P : Persentase hasil subyek uji coba X : Jawaban responden dalam satu item X1 : Jumlah jawaban ideal dalam satu item
100 % : Konstanta
Tabel 3.5. Kriteria tingkat kelayakan (Arikunto, 2009:44)
Katagori Prosentase Kualifikasi Ekuivalen
A 81% - 100% Sangat Valid Sangat Layak
B 61% - 80% Valid Layak
C 41% - 60% Cukup Valid Cukup Layak
D 21% - 40% Tidak Valid Tidak Layak
E < 21% Sangat Tidak Valid Sangat Tidak Layak Keterangan tabel kriteria tingkat kelayakan :
a) Jika media yang divalidasi tersebut mencapai tingkat prosentase 81 – 100% maka media tersebut tergolong kualifikasi sangat valid
b) Jika media yang divalidasi tersebut mencapai tingkat prosentase 61 – 80% maka media tersebut tergolong kualifikasi valid
c) Jika media yang divalidasi tersebut mencapai tingkat prosentase 41 – 60% maka media tersebut tergolong kualifikasi kurang valid
d) Jika media yang divalidasi tersebut mencapai tingkat prosentase 21 – 40% maka media tersebut tergolong kualifikasi tidak valid.
e) Jika media yang divalidasi tersebut mencapai tingkat prosentase kurang dari 21 kualifikasi sangat tidak valid.
84 b) Analisis data uji eksperimen produk
Proses penghitungan hasil eksperimen menggunakan uji t (uji signifikasi) dengan menggunakan rumus;
t =
Keterangan :
D : Nilai beda antara tes awal dan tes akhir D2 : Nilai beda kuadrat
: Rata-rata nilai beda
(D)2 : Jumlah nilai beda dikuadratkan N : Jumlah sampel
Dari hasil hitung uji t signifikansi derajat kebebasan menggunakan rumus (n-1) sehingga diperoleh d.b = n.(n-l) = 5. Dan dari hasil perbandingan t hitung lebih kecil dari t tabel maka dapat disimpulkan data signifikan untuk taraf signifikansi terdekat dengan t hitung.