• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS YURIDIS TERHADAP PUTUSAN PENGADILAN NEGERI BATUSANGKAR NOMOR 187/Pid.sus2018/PN Bsk DITINJAU DARI HUKUM POSITIF DAN HUKUM PIDANA ISLAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ANALISIS YURIDIS TERHADAP PUTUSAN PENGADILAN NEGERI BATUSANGKAR NOMOR 187/Pid.sus2018/PN Bsk DITINJAU DARI HUKUM POSITIF DAN HUKUM PIDANA ISLAM"

Copied!
80
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS YURIDIS TERHADAP PUTUSAN PENGADILAN

NEGERI BATUSANGKAR NOMOR 187/Pid.sus2018/PN Bsk

DITINJAU DARI HUKUM POSITIF DAN HUKUM PIDANA

ISLAM

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Mencapai Gelar Sarjana Hukum Strata Satu Prodi HukumPidana Islam (S1)

Disusun Oleh:

M. Adetya

NIM : 1416041

PROGRAM STUDI HUKUM PIDANA ISLAM

FAKULTAS SYARIAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) BUKITTINGGI

2020 M/1441 H

(2)

ABSTRAK

Skripsi ini berjudul : “ANALISIS YURIDIS TERHADAP PUTUSAN PENGADILAN NEGERI BATUSANGKAR NOMOR 187/Pid.sus2018/PN

Bsk” DITINJAU DARI HUKUM POSITIF DAN HUKUM PIDANA ISLAM.

Yang disusun oleh M.Adetya, Nim, 1416041, Prodi Hukum Pidana Islam (HPI), Fakultas Syariah, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi. Dibawah bimbingan bapak Fajrul Wadi, S.Ag, M.Hum

Pornografi merupakan suatu perbuatan asusila atau tidak senonoh dan atau bisa juga disebut cabul. Pornografi adalah hal yang sangat jelas bahwa Allah melarang melakukannya karena disamakan dengan zina. Apabila manusia secara terus-menerus melakukan perbuatan pornografi maka akan berdampak buruk bagi kelansungan hidup manusia khususnya pada kaum muda para penerus bangsa.

Putusan Pengadilan Negeri Batusangkar Nomor 187/Pid.sus2018/PN Bsk tentang kejahatan pornografi, dalam kasus ini pelaku dituntut dengan pasal 29 ayat (1) Undang-Undang No 44 Tahun 2008 tentang pornografi dengan kurungan penjara selama 10 bulan serta denda uang sebesar 250,000,000 (dua ratus limapuluh juta) jikalau tidak dibayar maka akan diganti dengan kurungan 1 bulan penjara. Adapun maksud dari penelitian ini bertujuan bagaimana pandangan hukum Islam maupun pandangan hukum positif terhadap Putusan Pengadilan Negeri Batusangkar Nomor 187/Pid.sus2018/PN Bsk tentang kejahatan pornografi.

Penelitian ini merupakan penelitian library research yang mana metode pengumpulan data dengan membaca, mencatat, serta mengolah bahan penelitian lainnya. Penelelitian ini bersifat induktif yaitu dari khusus ke umum dengan mengandalkan data yang sudah ada dan memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas. Penelitian ini tidak dimaksudkan untuk menguji hipotesis tertentu tapi hanya menggambarkan sesuatu lebih mendalam atau proses yang diteliti sabagaimana adanya.

Hasil penelitian menunujukan bahwa Pengadilan Negeri Batusangkar dalam Putusan Nomor 187/pid.sus2018/PN Bsk sudah memberikan hukuman yang adil dan dapat diterima oleh kedua belah pihak, namun dalam hal hukuman pengadilan tidak menjatuhkan hukuman penjara dengan maksimal yaitunya 12 tahun kurungan. Dalam Hukum pidana islam terdakwa pada kasus ini akan diberatkan dengan takzir karena zina yang dilakukannya adalah zina yang tidak menyebabkan jatuhnya hukuman (Had) tetapi tetap menyebabkan pelaku berdosa, dengan demikian pada Putusan Nomor 187/pid.sus2018/PN Bsk dianggap telah sesuai dengan apa yang dikehendaki Hukum Pidana Islam yaitu hukuman kurungan yang diserahkan kepada penguasa atau hakim.

Kata kunci: Putusan Pengadilan Negeri Batusangkar, Hukum Positif, Hukum Pidana Islam.

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... DAFTAR ISI ... ABSTRAK ... BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 10

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 10

D. Penjelasan Judul ... 11

E. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian ... 12

2. Sumber Data ... 13

3. Teknik Pengumpulan Data ... 13

4. Teknik Analisis Data ... 14

F. Tinjauan Kepustakaan ... 14

G. Sistematika Penulisan ... 15

BAB II TINDAK PIDANA PORNOGRAFI DALAM HUKUM POSITIF A. Pengertian Tindak Pidana Pornografi 1. Pengertian Hukum Pidana ... 16

2. Pengertian Asas Hukum Pidana ... 18

3. Pengertian Tindak Pidana ... 21

4. Subjek Tindak Pidana ... 22

5. Pertanggung Jawaban Pidana ... 23

6. Jenis- Jenis Tindak Pidana ... 24

7. Pengertian Pornografi ... 26

B. Unsur- Unsur Tindak Pidana Pornografi 1. Unsur Subjektif ... 27

2. Unsur Objektif ... 28

(4)

D. Sanksi Tindak Pidana Pornografi dalam Hukum Positif ... 33

BAB III TINDAK PIDANA PORNOGRAFI DALAM HUKUM PIDANA ISLAM

A. Pengertian Hukum Islam ... 41 B. Tindak Pidana Dalam islam ... 42 C. Asas-Asas Hukum Pidana Islam ... 45 D. Hapusnya Pertanggung Jawaban Pidana dan Alasan- Alasan Penghapusan Hukuman ... 49 E. Unsur- Unsur Tindak Pidana Islam ... 50 F. Macam- Macam Tindak Pidana Islam ... 52 G. Hukum (Sanksi) bagi Pelaku Tindak Pidana Pornografi Dalam Hukum

Islam ... 57

BAB IV HASIL PENELITIAN

A. Tinjauan Hukum Positif Terhadap Putusan Pengadilan Negeri Batusangkar Nomor 187/pid.sus/2018/PN Bsk... 59 B. Tinjauan Hukum Pidana Islam Terhadap Putusan Pengadilan Negeri

Batusangkar Nomor 187/pid.sus/2018/PN Bsk ... 70

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ... 76 B. Saran ... 77

DAFTAR PUSTAKA

(5)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Kemajuan ilmu pengetahuan dan perkembangan teknologi telah mendorong masyarakat ke arah kehidupan yang lebih maju, karena penggunaan teknologi selalu mempengaruhi pikiran dan gaya hidup masyarakat. Teknologi pada dasarnya diciptakan untuk meningkatkan kualitas hidup dan mempermudah aktivitas manusia dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

Namun tidak dapat dipungkiri bahwa selain memiliki sisi positif, teknologi juga memiliki sisi negatifnya. Bahkan dalam berbagai kajian penelitan kemajuan teknologi membuat peningkatan angka kriminalitas, misalnya dalam penggunaan komputer. Sikap ketergantungan, keteledoran dan kesengajaan dalam menggunakan komputer akan menimbulkan dampak negatif, jika tidak diimbangi dengan sikap dan tindakan yang positif.1

Salah satu hasil kemajuan teknologi informasi yang diciptakan pada akhir abad ke-20 adalah internet. Teknologi internet membawa manusia pada peradaban yang baru yang mana perpindahan aktivitas yang nyata ke aktivitas virtual yang seiring disebut dengan istilah cyberspace2. Dalam dunia virtual ini metode kehidupannya tidaklah jauh berbeda dari kehidupan nyata, masih ada proses sosial, interaksi sosial, komunikasi bahkan pengembangan sistem kejahatan dan lain-lain.

1

Widyopramono, Kejahatan di Bidang Komputer, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan,1994), Hal.28

2 Http://www.bogor.net/idkf/idkf-2/public-space-dan -public-cyberspace-ruang-publik-dalam-era inf.

(6)

Kemudahan ini merupakan sisi positif dari penggunaan dan pemanfaatan internet. Namun selain itu internet juga mempunyai dampak negatif, yaitu banyaknya oknum-oknum yang secara sengaja memanfaatkan media ini untuk melakukan bentuk-bentuk kejahatan.3 Teknologi juga dikenal berwajah ganda yang mana disatu sisi memberikan manfaat yang besar bagi manusia dan disisi lain juga memberikan kemudahan dalam melakukan tindak kejahatan.

Dalam perspektif kriminologi, teknologi bisa dikatakan sebagai faktor kriminogen, yaitu faktor yang menyebabkan timbulnya keinginan orang untuk berbuat jahat atau memudahkan terjadinya kejahatan4. Penyalah gunaan atau dampak negatif dari kemajuan tenologi informasi melalui sistem komputerisasi dan jaringan internet dikenal dengan istilah cyber crime5.

Cybercrime merupakan salah satu bentuk atau dimensi baru dari kejahatan masa kini yang mendapat perhatian yang luas di dunia internasional6. Salah satu masalah cyber crime yang sangat meresahkan dan mendapat Perhatian berbagai kalangan adalah masalah cyber crime dibidang kesusilaan semakin maraknya pelanggaran kesusilaan didunia cyber ini terlihat dengan munculnya berbagai istilah seperti cyber pornografi, online pornografi, Cyber sex, cyber sexer, cyber lovers, cyber romancer.

3

Andi Hamza, Aspek-Aspek Pidana di Bidang Komputer, (Jakarta: Sinar Grafika, 1992), Hal.10

4 Abdul Wahid dan Mohhammad Labib, Kejahatan Mayantara (Cybercrime), (Bandung: Refika Aditama, 2005), Hal.59

5

Barda Nawawi Arief, Kapita Selekta Hukum Pidana, (Bandung: Citra Aditya Bhakti, 2003), Hal.239

6 Barda Nawawi Arief, Perbandingan Hukum Pidana, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002), Hal.251

(7)

Kejahatan pornografi dinegara Republik Indonesia tentunya sangat betentangan dengan nilai-nilai yang di anut oleh masyarakat Indonesia khususnya. Pancasila sebagai dasar Negara Republik Indonesia memiliki tujuan utama, yaitu untuk melindungi segenap bangsa, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melakukan ketertiban dunia. Pancasila adalah dasar statis yang mempersatukan sekaligus bintang penuntun yang sangat dinamis untuk mencapai tujuannya7.

Adapun arti dari pornografi menurut black’s law dictionary ada kemiripan arti dari etimologis sebagaimana kita ketahui bahwa istilah pornogrfi berasal dari dua suku kata pornos dan grafi (latin). Pornos artinya suatu perbuatan asusila atau tidak senonoh atau bisa juga disebut cabul, adapun grafi adalah gambar atau tulisan yang dalam arti luas termasuk benda-benda, misalnya patung serta alat untuk mencegah dan menggugurkan kehamilan.8 Dan juga terdapat pada Undang-undang pornografi pengertian pornografi adalah gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan atau pertunjukan dimuka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat.9

Terdapat beberapa peraturan yang menyingggung kepada pornografi yaitu dalam KUHP tidak dikenal istilah atau kejahatan pornografi, namun ada pasal

7 Yudi Latif, Negara Paripurna Historitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila, (Jakarta: Kompas Gramedia, 2011), Hal.41

8

Adami Chazawi, Tindak Pidana Pornografi,(Jakarta: sinar Grafika, 2016), Hal.7 9Undang-Undang No 44 tahun 2008 tentang Pornografi

(8)

KUHP yang bisa dikenakan untuk perbuatan ini, yaitu pasal 282 mengenai kejahatan terhadap kesusilaan. Pasal 282 berbunyi sabagai berikut:

“Barang siapa menyiarkan mempetunjukan atau menempelkan di muka

umum tulisan, gambar, atau benda yang telah diketahui isinya melanggar kesusilaan, atau barang siapa dengan maksud untuk disiarkan, dipertunjukkan dimuka umum, membikin tulisan, gambaran benda tersebut, memasukkannya ke dalam negri, atau memiliki persedian, ataupun barangsiapa secara terang-terangan atau dengan mengedarkan surat tanpa diminta, menawarkannya atau menunjukannyasebagai bisa diperoleh, diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun enam bulan atau pidana denda paling tinggi empat ribu limaratus

rupiah”

Lalu dalam UU ITE dan perubahannya juga tidak ada istilah pornografi,

tetapi “muatan yang melanggar kesusilaan” tindakan tersebut di atur dalam pasal

27 ayat (1) UU ITE, yang berbunyi:

“Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan atau

mentransmisikan dan atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan

atau dokumen elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan”. Nah

pada undang-undang selanjutnya membahas khusus tentang pornografi yaitu Undang-undang No 44 tahun 2008 (UU Pornografi), mereka dapat dipergunakan untuk menjerat pelaku kejahatan pornografi yang menggunakan media internet tersebut, salah satu pasal berbunyi:

“Setiap orang yang memproduksi, membuat, memperbanyak,

(9)

memperjualbelikan, menyewakan atau menyediakan pornografi sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 4 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan atau pidana denda paling sedikit Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 6.000.000.000,00 (enam miliar rupiah).

Undang-undang pornografi tidak menjelaskan secara rinci tentang bagaimana cara meproduksi, mempetontonkan, maupun menyediakan pornografi melalui jaringan internet, namun berdasarkan pasal 1 angka 1 dikatakan bahwa

“berbagai bentuk media komunikasi dan atau pentunjukan di muka umum yang

memuat kecabulan”, maka menurut penulis disimpulkan bahwa khususnya media

sosial. merupakan media komunikasi yang dimaksud dalam pasal 1 angka 1 di dalam UU no 44 yang dapat digunakan untuk penyebar luasan materi pornografi.10

Kemunculan situs-situs porno tersebut akan menimbulkan berbagai dampak negatif bagi bangsa Indonesia terutama generasi muda saat ini, Dengan internet, gambar, cerita dan film porno semakin mudah diperoleh. Hanya bermodalkan komputer, laptop ataupun handphone seseorang bisa dengan mudah memperoleh materi-materi dewasa, dan materi dewasa di internet sangatlah beragam. Maraknya kejahatan pornografi ini, maka hal-hal yang berkaitan dengan tubuh perempuan, dan nila-nilai yang ada dimasyrakat dibiarkan rusak oleh perbuatan-perbuatan pemilik situs atau pun web yang bersangkutan dengan pornografi tersebut. Kondisi ini dapat kita lihat dengan semakin maraknya

(10)

pergaulan bebas, perselingkuhan, kehamilan diluar nikah, aborsi, penyakit kelamin, kekerasan seksual, perilaku seksual menyimpang dan lain sebagainya yang akan menghancurkan nilai sosial yang ada dimasyarakat Indonesia, maka sangat diperlukan kepastian hukum yang mengatur hal ini.

Beberapa kasus yang pernah terjadi di Indonesia diantaranya yaitu video

porno Ariel “Peterpan” dengan Luna Maya dan Cut Tari yang diunggah di internet

pada tahun 2010. Pada kasus tersebut Ariel ditetapkan sebagai tersangka dan dijerat dengan pasal Undang-undang Pornografi, pasal 27 Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik dan pasal 282 KUHP tentang kesusilaan11.

Selain itu, pada bulan 10 tahun 2018 sempat viral sebuah berita tentang video porno vina garut yang diakses di petamakalinya di media twiter, dalam vidoe tersbut terdapat 3 orang pemeran yaitu wanita berinisial (V) dan dua orang laki-laki berinisial (AD) dan (WE), pada awalnya mereka ditutntut oleh jaksa penuntut umum (JPU) dengan ancaman V dituntut 5 tahun penjara dan denda 1 miliar dan dua orang laki-laki nya yaitu AD dan WE dituntut lebih ringan dibandingkan dengan pemeran wanitanya dengan tuntutan 4 tahun penjara dan denda 1 miliar rupiah, kemudian pada putusan hakim memutuskan bahwa V dijatuhi hukuman penjara selama 3 tahun dan denda 1 miliar rupiah lalu dua pemeran laki-laki AD dan WE dijatuhi hukuman penjara 2 tahun 9 bulan dengan denda 1 miliar rupiah oleh hakim negri garut,12

11 Benhan, “Kontroversi UU pornografi dalam Penahanan Ariel Peterpan”, artikel di akses pada 25 juli 2020 dari http://benhan8.wordpress.com/2010/06/23/kontroversi-uu-pornografi-dalam-penahanan-ariel-peterpan/.

12

https://jateng.tribunnews.com/2019/08/16/cerita-awal-mula-video-vina-garut-yang-kini-heboh-dibuat-dan-kondisi-terkini-para-pelaku?page=4

(11)

Ditinjau dari hukum Islam, pada zaman rasulullah belum ditemukan teknologi komputer dan internet seperti zaman sekarang ini. Maka dari itu tidak ada satu ayat atau hadist pun yang menyebutkan secara ekspilit eksistensi kejahatan pornogrfi seperti yang ada pada zaman sekarang, meskipun telah dijelaskan adanya berbagai ketentuan dan sanksi yang akan mengikat kepada pelaku pornografi, masih banyak fenomena seperti yang penulis contohkan diatas namum dalam hal ini penulis ingin melihat bagaimana Pengadilan Negri Batusangkar dalam menjatuhkan hukuman kepada kasus Nomor 187/pid.sus/2018/PN Bsk, tepatnya pada bulan Agustus tahun 2008 bahwa terdakwa melihat saksi sebagai korban mengarah ke kamar mandi, lalu terdakwa memngambil foto dan vidio dari saksi (monika) kurang lebih 14 foto dalam keadaan mandi, lalu pada hari kamis 1 November 2018 sekiranya pukul 11.00 wib terdakwa mengirim foto dan vidio tersebut kepada saksi alias monika dengan maksud ingin mengajak monika bertemu, dengan kata lain jika saksi alias monika menolak maka terdakwa akan meyebarkan foto dan vidio tersebut ke internet.

Pornografi dalam al-Qur’an diletakan dalam dua prinsip utama. Pertama larangan memandang lawan jenis (laki-laki memandang perempuan dan perempuan memandang laki-laki) dengan pandangn mesum dan penuh birahi, sekalipun keduanya mengenakan pakaian yang pantas dan wajar, apalagi berpakain seronok. Hal tersebut dijelaskan di dalam QS. An- Nuur(24); 30-31:

                    

(12)

                                                                                          Yang artinya:

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih Suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat".

Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.(QS. An-Nuur (24): 30-31)13

                        Yang artinya:

Hai nabi, “Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak prempuanmu dan istri-istri orang mukmin: hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”.Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal ,

(13)

karena itu mereka tidak diganggu, dan Allah adalah maha pengampun lagi maha penyayang. (QS. Al-Ahzab (33):59)14

Dalam Islam perbuatan tersebut jelas sudah dilarang sejak dahulu karena banyak sekali kemudharannya seperti mengancam keselamatan jiwa, harta dan sebagainya, pada setiap perbuatan yang menyimpang dari kebenaran keadilan dan jalan yang lurus (jarimah), Islam mengharuskan adanya sanksi bagi pelaku yang

telah ditetapkan oleh syari’at baik berupa hudud, qishash maupun ta’zir. Adapun pengetian ta’zir secara bahasa berarti pendidikan, lalu secara terminologi ta’zir

dapat kita artikan menghukum atau mengambil tindakan atas perbuatan dosa yang di dalamnya tidak terdapat ketentuan sanksi had atau pembayaran kafarat baik berhubungan dengan hak sesama manusia maupun hak allah15.

Berdasarkan hal tersebut, penulis tertarik untuk meneliti lebih jauh mengenai kasus tindak pidana pornografi, oleh karena itu penelitian skripsi ini penulis tuangkan dalam karya ilmiah yang berjudul “Analisis Yuridis Terhadap

Putusan Pengadilan Nomor 187/Pid.sus 2018/PN Bsk Dilihat dari Prespektif

Hukum Islam”

B. Rumusan Masalah

Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimanakah pandangan hukum positif terhadap putusan Pengadilan Negri Batusangkar nomor 187/Pid.sus 2018/PN Bsktentang kejahatan pornografi?

14

Muslimah, Al-Quran dan Terjemah Untuk Wanita, Bandung : jabal, 2016.

15Fuad Thohari, Hadis Ahkam Kajian Hadis-hadis Hukum Pidana Islam (Hudud, Qishash,

dan Ta’zir), (yogyakarta:deepublish,2016), Hal.263

(14)

2. Bagaimanakah pandangan hukum Islam terhadap putusan Pengadilan Negri Batusangkar nomor 187/pid.sus/2018/PN Bsk tentang kejahatan pornografi?

C. Tujuan dan Kegunaan

1. Tujuan

Sesuai dengan permasalahan yang timbul di atas maka pembahasan ini bertujuan sebagai berikut:

a. Untuk mengetahui dasar hukum dan pertimbangan hakim dalam putusan nomor 187/pid.sus/2018/PN Bsk tentang kejahatan pornografi.

b. Untuk mengetahui bagaimana islam menjatukan sanksi kepada pelaku kejahatan pornografi.

2. Kegunaan

Penulisan skripsi ini berguna untuk:

a. Memberikan pengetahuan yang lebih tentang bidang hukum islam mengenai bagaimana pertimbangan hakim dalam perkara kejahatan pornogafi.

b. Untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam memperoleh gelar kesarjanaan di fakultas syariah IAIN Bukittinggi.

D. Penjelasan Judul

Untuk mengatasi kesalahpahaman dari judul yang akan diteliti, maka peneliti memberi penjelasan judul:

Analisis yuridis : Mempelajari dengan cermat, memeriksa untuk memahami suatu pandangan atau pendapat dari segi hukum.

(15)

Hukum Positif : Serangkaian ketentuan-ketentuan yang dibuat oleh manusia yang mewajibkan atau menetapkan suatu tindakan.

Hukum Islam : Keseluruhan ketentuan- ketentuan dan perintah Allah SWT yang wajib dituruti atau ditaati oleh seorang muslim.

Putusan pengandilan: Suatu pernyataan hakim sebagai aparatur negara yang diberi wewenang untuk, untuk disampaikan dimuka persidangan guna untuk mengakhiri suatu perkara atau sengketa yang terjadi, sesuai dengan ketentuan pasal 178 HIR dan pasal 189 RGB apabila perkaranya telah selesai maka hakim melakukan musyawarah untuk mengambil putusan yang akan dijatukan.

Berdasarkan pada penjelasan judul di atas, maka penulis menyimpulkan maksud dari penjelasan judul Analisis Yuridis Putusan Pengadilan Nomor 187/Pid.sus 2018/PN Bsk Dilihat dari Prespektif Hukum Islam adalah memahami suatu pandangan atau pendapat dari segi hukum dengan menggunakan kajian hukum Islam melalui media putusan pengadilan Nomor 187/Pid.sus 2018/PN Bsk.

E. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian

Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif yaitu penelitian yang mendeskripsikan suatu objek tertentu dan menjelaskan hal-hal secara sistematis. penelitian yang bermaksud untuk mengidentifikasi kemudian memaparkan data mengenai kejahatan pornografi.. Kemudian penelitian ini bersifat hukum normatif doktriner, karena di dalamnya akan dipakai aturan yang telah baku dan juga pendapat para ahli. Adapun jenis penelitiam ini data yang akan dikumpulkan

(16)

adalah jenis kualitatif yakni berupa kata-kata, norma atau aturan dari fenomena yang di teliti.

2. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari putusan pengadilan negeri Batusangkar nomor 187/pid.sus/2018/PN Bsk, Undang-undang Pornografi Nomor 44 Tahun 2008, serta di dukung oleh buku-buku hukum pidana, jurnal, makalah, modul, dan lain sebagainya.

Adapun dalam penelitian hukum ini data-data dan literatur dibagi menjadi tiga bagian yaitu primer, sekunder dan tersier sebagai berikut:

a. Bahan hukum primer yaitu data yang mempunyai kaitan langsung dengan masalah yang di teliti dalam putusan Pengadilan Negeri Batusangkar nomor 187/pid.sus/2018/PN Bsk.

b. Bahan hukum sekunder adalah yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer seperti buku-buku hukum, jurnal hukum, kamus hukum, ternasuk data atau dokumen dari internet yang berkaitan dengan pembahasan dalam penelitian ini.

c. Bahan hukum tersier adalah bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelsan terhadap bahan hukum primer dan sekunder yaitu buku- buku tafsir dan terjemah lainya.

3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpilan data yang di gunakan adalah studi dokumen yaitu dengan membaca, mempelajari dokumen dan data-data yang diperoleh dari karya-karya atau literatur dan refensi yang berhubungan dengan skripsi ini.

(17)

4. Teknik Analisis Data

Dalam tahap ini teknik analisis data yang digunakan berupa analisis normatif kualitatif.

F. Tinjauan Kepustakaan

Dalam penelitian sebelumnya ada penelitian yang terkait dengan masalah yang penulis angkat. Tapi ada penelitian yang berhubungan dengan kejahatan pornografi, diantaranya:

1. Penelitian yang dilakukan oleh Santi Arneli (skripsi tahun 2002 Prodi Jinayah Siyasah) IAIN Bukittinggi yang berjudul dengan Hukuman Penjara Bagi Pelaku Zina Dalam Hukum Islam. Batasan masalah yaitu bagaimana hukuman penjara bagi pelaku zina terdapat perbedaan dikalangan ulama.

2. Penelitian yang dilakukan oleh Sirda Aufa (skripsi tahun 2002 Prodi Jinayah Siyasah) IAIN Bukittinggi yang berjudul dengan Penafsiran Ulama Tentang Bentuk Bentuk Mendekati Zina. Batasan masalah yaitu bagaimana tingkat peminat menonton film film porno, padahal dalam larangan zina ini Allah

menggunakan ungkapan secara umum yaitu “jangan dekati zina”.

3. Penelitian yang dilakukan oleh Choirun Nidzar Alqodri (2102247) IAIN Walisongo semarang yang berjudul Study Analisi Pendapat Syafi’i Tentang Hukuman Isolasi Bagi Pelaku Zina Ghairu Musham. Batasan masalah bagaimana pengasingan hanya dikenakan kepada pezina laki-laki dan tidak dikenakan terhadap pezina perempuan.

(18)

Berdasarkan rujukan diatas tidak ada kaitan dengan masalah Tentang Pornografi. Jadi penulis akan fokus pada masalah Analisis Yuridis Putusan Pengadilan No (187/Pid.sus 2018/PN Bsk) Dilihat dari Prespektif Hukum Islam.

G. Sistematika Penelitian

BAB I : Berisi tentang pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah, dan perumusan masalah, tujuan dan kegunaan, metode penelitian, tijauan kepustakaan dan sitematika penelitian.

BAB II : Dalam bab ini berisi pengertian tindak pidana pornografi dan unsur-tindak pidana pornografi serta macam-macam unsur-tindak pidana pornografi lalu sanksi tindak pidana pornografi dalam hukum positif.

BAB III : Dalam bab ini membahas mengenai tindak pidana dalam Islam dan unsur-unsur tindak pidana dalam Islam serta macam-macam tindak pidana dalam islam kemudian hukuman atau sanksi bagi pelaku tindak pidana pornografi dalam tindak pidana Islam.

BAB IV : Dalam bab ini memaparkan tentang hasil yang diperoleh dari proses meneliti data dari putusan Pengadilan Negri Batusangkar Nomor 187/Pid.sus 2018/PN Bsk tentang kejahatan pornografi.

(19)

BAB II

Tindak Pidana Pornografi dalam Hukum Positif

A. Pengertian Tidak Pidana Pornografi 1. Pengertian Hukum Pidana

Sebelum lebih jauh lagi membahas tentang tindak pidana tentu kita wajib tahu apa itu hukum pidana untuk memahami apa itu tindak pidana sebenarnya. Pada dasarnya hukum pidana hadir untuk memeberikan rasa aman kepada individu atau kelompok maupun masyarakat dalam setiap kegiatan kesehariannya, rasa aman disini bisa kita artikan bahwa perasaan tenang tidak khawatir untuk melakukan apapun tanpa mengganggu (kerugian) kehidupan bermasyarakat, dan yang bisa kita pahami mengganggu disini atau kerugian bepandangan kepada jiwa dan raga seseorang.16

Istilah hukum pidana merupakan terjemahan dari istilah belanda yaitu

strafrecht straf berarti pidana dan recht berarti hukum. Ada beberapa ahli berpendapat bahwa hukum pidana bisa di defenisikan sebagai berikut:

Soedarto menyatakan bahwa hukum pidana tidak terlepas dari KUHP yaitu memuat 2 hal penting yakni:

a. Memuat pelukisan dari perbuatan- orang yang diancam pidana, artinya KUHP memuat syarat- syarat yang harus dipenuhi yang memungkinkan pengadilan menjatuhkan pidana.

16 Amir Iilyas, SH, MH, Asas-Asas Hukum Pidana,(Yogyakarta : Mahakarya Rangkang Offset Yogyakarta, 2012,) Hal. 1

(20)

b. KUHP menetapkan dan mengumumkan reaksi apa yang akan diterima oleh orang yang melakukan pebuatan dilarang tersebut.

Satochid kartanegara mengemukankan bahwa hukum pidana adalah sejumlah peraturan yang merupakan bagian dari hukum positif yang mengandung larangan dan keharusan yang ditentukan oleh negara atau kekuasaan lain untuk menetukan peraturan pidana , larangan tersebut disertai dengan ancaman pidana dan pabila dilanggar maka negara berhak melakukan tuntutan, menjatuhkan pidana, dan melaksanakan pidana.17

Menurut Prof. Moelyatno, S.H mengartikan hukum pidana adalah bagian dari kaseluruhan hukum yang berlaku di suatu negara. Selanjutya Wirjono Prodjodikoro mendefenisikan hukum pidana adalah peraturan hukum mengenai pidana. Kata pidana berarti hal yang dipidanakan oleh instansi yang berkuasa menjatuhkan kepada seseorang sebagai hal yang tidak mengenakan dan juga tidak sehari-hari diberikan.18

Bedasarkan apa yang di sebutkan di atas dapat kita simpulkan bahwa hukum pidana bisa di artikan sejumlah peraturan yang di buat oleh penguasa atau yang memiliki kekuasaan untuk menindak individu maupun badan hukum yang melanggar aturan yang telah di tetapkan, dan dikenai sanksi sebagaimana undang-undang mengaturnya.

2. Pengertian Asas Hukum Pidana

17 Amir Iilyas, SH, MH, Asas-Asas Hukum Pidana,(Yogyakarta : Mahakarya Rangkang Offset Yogyakarta, 2012) Hal. 3

18 Sudaryono Natangsa Subakti, Hukum Pidana Dasar-Dasar Hukum Pidana

(21)

a. Pengertian Asas

Adapun urgensi asas dalam undang-undang untuk memperjelas maksud serta tujuan dibentuknya suatu peraturan, mengingat bahwa asas berguna untuk menentukan suatu maksud dan tujuan diberlakukannya suatu peraturan dalam undang-undang. Terdapat beberapa pendapat mengenai asas hukum antara lain:

1) Bellefroid mengatakan bahwa asas hukum mengedepankan hukum positif dalam suatu masyarakat, atau norma dasar yang dijabarkan dari hukum positif.

2) Van eikema hommes “asas hukum itu tidak boleh dianggap sebagai aturan yang konkret, tetapi perlu dipandang sebagai dasar-dasar umum. Dengan kata lain asas hukum adalah petunjuk arah dalam perumusan hukum positif, pembentukan hukum positif harus berorientasi pada asas-asas hukum tersebut.

3) Dewa gede atmadja berpendapat bahwa “tendesi-tendensi yang

disyaratkan pada hukum oleh kesusilaan kita”. Dipahami asas-asas hukum itu sebagai dasar atau kerangka berfikir yang terdapat didalam dan dibelakang sistem hukum yang dituangkan dalam aturan perundang-undangan dan putusan hakim serta yang bersinggungan dengan ketentuan-ketentuan, keputusan individual dapat dipandang sebagai penjabarannya.19

19

Didik Endro Purwoleksono, Hukum Pidana, (Surabaya: Airlangga University Press, 2014), Hal.33

(22)

Dapat kita simpulkan bahwa asas hukum adalah dasar atau kerangka yang sifatnya umum atau merupakan latar belakang dari peraturan yang konkret dan terdapat di dalam dan dibelakang setiap sistem hukum.

b. Jenis-jenis asas hukum pidana 1) Asas Legalitas

Dalam hukum pidana asas legalitas ini bersifat fundamental khususnya KUHP. Maka suatu perbuatan dikatakan sebagai tindak pidana dalam KUHP akan di tentukan dengan asas legalitas atau menjadi tolak ukur sebagai perbuatan pidana.

2) Asas Teritorial

Dalam pasal 2 KUHP “aturan pidana dalam perundang-undangan

indonesia berlaku bagi setiap orang yang melakukan perbuatan di dalam

(wilayah tearitorial) indonesia”. Untuk menetuakan tempat berlakunya peraturan pidana maka hal yang harus dijadikan sebagai landasan ialah menetukan batas-batas teritorial tersebut, dengan menggunakan asas

hukum. Adapun dalam KUHP mengatakan “setiap orang” maka

siapapun WNI maupun WNA yang melakukan tindaka pidana didalam wilayah teritorial indonesia maka berlaku pdanya peraturan pidana.20 3) Asas perlindugan

Asas perlindungan ini bertujuan untuk menciptakan keadilan serta perlindungan hukum bagi WNI mapun WNA yang melakukan perbuatan pidana di luar indonesia, kepentingan hukum negara yang di

20

(23)

pandang membutuhkan perlindugan adlah terjaminnya keamanan negara serta martabat kepala negara dan wakilnya, terjaminnya kepercayaan terhadap mata uang, materai-materai dan merk-merk yang telah dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia, terjaminnya kepercayaan terhadap surat-surat atau sertifikat-sertifikat hutang yang telah dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia, terjaminnya para pegawai Indonesia tidak melakukan kejahatan di luar negeri, terjaminnya keadaan, bahwa nahkoda dan atau penumpang penumpang perahu Indonesia tidak melakukan kejahatan atau pelanggaran pelayaran di luar Indonesia, diatur dalam KUHP pasal 4, 7 dan 8.

4) Asas Personalitas

Asas yang memberlakukan KUHP terhadap WNI yang melakukan tindak pidana di luar wilayah indonesia.

5) Asas Universal

Indonesia sebagai anggota PBB maka secara otomatis berpartisipasi dalam menyelenggarakan peraturan dunia, dengan kata lain indonesia tidak hanya menjaga negaranya sendiri melaikan juga harus menjag kepentingan dunia.21

3. Pengertian Tindak Pidana

Dalam KUHP (Kitab undang-undang hukum pidana) dikenal dengan

strafbaarfeit seperi pebuatan yang dilarang, perbuatan yang dapat dihukum,

21

Rahman Syamsuddin, SH. MH, Merajut Hukum di Indonesia,(Jakarta: Mitra Wacana Media, 2014),Hal.61

(24)

hal yang diancam hukuman,atau pristiwa pidana. Sedangkan menurut para ahli mengatakan tindak pidana sebagai berikut :

Moeljatno menyebut tindak pidana sebagai perbuatan pidana dan mendefenisikan sebagai perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum dengan disertai sanksi pidana tertentu. Beliau menyimpulkan bahwa larangan ditujukan pada perbuatan dan sanksi ditujukan kepada orang yang menimbulkan.22

Roeslan saleh juga memilih penggunaan kata perbuatan pidana dan istilah delik. Selajutnya Oemar seno adji memakai istilah tindak pidana bersama-sama dengan delik. Serta E. Mezger mengatakan tindak pidana adalah keseluruhan untuk adanya pidana, lalu j. Baumann mengatakan tindak pidana adalah perbuatan yang memenuhi rumusan delik.

Van hamel mendefenisikan tindak pidana sebagai kelakuan orang (menselijke gedraging) yang dirumuskan dalam undang-undang (wet) bersifat melawan hukum, dan patut dipidana (strafwaardig) dan dilakukan dengan kesalahan.23

Berdasarkan beberapa pendapat di atas saya menyimpulkan bahwa tidak pidana bisa dikatakan sebuah kejadian yang menimbulkan suatu akibat yang melanggar undang-undang yang ada, atau bisa juga disebut dengan perbuatan yang merugikan khalayak sehingga pelaku tersebut harus dikenakan sanksi pidana.

4. Subjek Tindak Pidana

22

Sudaryono Natangsa Subakti, Hukum Pidana Dasar-Dasar Hukum Pidana Berdasarkan KUHP dan RUU KUHP,(Surakarta: Muhammadiy ah University, 2017) Hal.92

23 Sudaryono Natangsa Subakti, Hukum Pidana Dasar-Dasar Hukum Pidana

(25)

Manusia sebagai subjek tindak pidana berdasarakan pada hal berikut: a. Terdapatnya pada tindak pidana yang dimulai dengan kata barang siapa,

seorang pejabat, seorang nahkoda.

b. Terdapat pasal 10 KUHP pada jenis-jenis tindak pidana hanya ditunjukan pada manusia.

c. Hukum pidana yang berlaku sekarang menganut asas kesalahan seseorang

manusia yang disebut dengan “hukum pidana kesalahan”.Dalam

schuldstrafrecht yang dianggap dapat berbuat kesalahan hanya manusia.24

5. Pertanggung jawaban pidana

Dalam pertanggungjawaban hukum bukan berarti sah menjatuhkan pidana terhadap orang tersebut, tapi juga harus sepenuhnya meyakini bahwa memang pada tempatnya meminta pertanggungjawaban atas apa yang dilakukan yaitu pidana, dengan kata lain petanggungjwaban pidana bersifat pribadi bahwa hanya orang yang dinyatakan bersalah bsa dikenai pidana. Pada pasal 6 undang-undang

no 48 tahun 2009 tentang kekuasaan kehakiman mengatakan pada ayat 1 “tidak

seorangpun dapat dihadapkan didepan pengadilan selaian dari pada yang ditentukan oleh undang-undang”. Lalu pada ayat 2 mengatakan “tidak seorang pun dapat dijatuhkan pidana, kecuali pabila pengadilan karena alat pembuktian yang sah menurut undang-undang , mendapat keyakinan bahwa seseorang yang dianggap dapat bertanggungjawab telah bersalah atas perbuatan yag didakwakan

24

(26)

pada dirinya25. Melalui pasal 6 tersebut maka untuk dapat dikatakan adanya pemidanaan harus ada kesalahan pada pembuat atau pelaku.

Pada pertanggung jawaban harus terdapat kesalahan sedangkan kesalahan mempunyai beberapa unsur:

a. Adanya kemampuan bertanggung jawab pada pelaku, artinya pada pelaku harus dalam keadaan jiwa yang sehat.

b. Hubungan antara pelaku dan perbuatannya, baik itu berupa kesalahan ataupun kealpaan.

c. Tidak adanya alasan yang mampu menghapus kesalahan atau tidak adanhya alasan yang memaafkan.26

Sedangkan pada pertanggung jawaban pindana kemampuan untuk membedakan tindakan yang baik dan buruk adalah faktor akal, sedangkan kemampuan untuk melakukan keinginan adalah faktor perasaan.

6. Jenis-jenis tindak pidana

Pada KUHP terdapat penggolongan tindak pidana menjadi kejahatan dan pelanggaran, sebenarnya pada kejahatan dan pelanggaran mempunyai pengertian yang sama yaitu sama tindak melawan hukum dan sama-sama tindak pidana.27 Sudarto menyebutkan jenis-jenis tindak pidana:

a. Kejahatan dan pelanggaran

Pada delik ini telah dibagi dalam sistem KUHP.

25

Undang-Undang No 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman

26Didik Endro Purwoleksono, Hukum Pidana,...Hal.102 27

Rahman Syamsuddin, SH. MH, Merajut Hukum di Indonesia,(Jakarta: Mitra Wacana Media, 2014),Hal.42

(27)

b. Delik formal dan delik materil.

1) Delik formal itu adalah delik yang mendasarkan kepada perbuatan yang dilarang atau melawan hukum.

2) Delik materil adalah delik yang mendasarkan kepada akibat yang tidak diingikan, delik ini baru akan dianggap jika akibat yang tidak dinginkan sudah terjadi.

c. Delik omissionis, dan delik commisiionis peromissionem commissa

1) Delik omissionis adalah delik yang tidak melakukan perintah atau melakukan pelanggaran, misal tidak menghadiri persidangan sebagai saksi.

2) Delik commisiionis peromissionem commissa

Delik ini berbentuk pada sesuatu yang melanggar larangan, akan tetapi dapat dikerjakan dengan tidak berbuat, seperti ibu yang tidak menyusui bayinya.

d. Delik tunggal dan delik berganda.

e. Delik yang berlangsung terus dan delik yang tidak berlangsung terus. f. Delik aduan dan bukan delik aduan.

g. Delik sederhana dan delik yang ada pemberatannya.

Delik yang ada pemberatannya seperti penganiayaan yang mengakibatkanluka serius atau hilangnya nyawa seseorang.

h. Delik ekonomi, biasa juga disebut dengan kejahatan ekonomi. i. Kejahatan ringan.

(28)

Adapun arti dari pornografi menurut black’s law dictionary ada kemiripan arti dari etimologis sebagaimana kita ketahui bahwa istilah pornogrfi berasal dari dau suku kata pornos dan grafi (latin). Pornos artinya suatu perbuatan asusila atau tidak senonoh atau bisa juga disebut cabul, adapun grafi adalah gambar atau tulisan yang dalam arti luas termasuk benda- benda, misalnya patung serta alat untuk mencegah dan menggugurkan kehamilan.28 Dan juga terdapat pada Undang-undang pornografi pengertian pornografi adalah gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan atau pertunjukan dimuka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat.29

Dalam kamus besar bahasa indonesia pornografi diartikan sebagai cabul, kotor dan keji atau tidak senonoh, (melanggar kesopanan, kesusilaan) seperti: penggambaran tingkah laku secara erotis, dengan tulisan atau lukisan untuk membangkitkan nafsu birahi, dan bahan bacaan yang dengan sengaja dan semata-mata dirancang untuk membangkitkan birahi atau gairah seks.30

Sedikit mengingat sejarah pornografi muncul pada masa paleotikum telah ada manusia telanjang dan aktivitas-aktivitas seksual, seperti patung venus. Pada reruntuhan bangunan romawi di pompei ditemukan lukisan-lukisan porno, selain itu juga dapat dijumapai gambar alat kelamin yang menunjukan arah ke tempat pelacuran dan hiburan, seiring berkembang nya teknologi dari peradaban dimana

28

Adami Chazawi, Tindak Pidana Pornografi,(Jakarta: sinar Grafika, 2016), Hal.7 29 Undang-Undang No 44 tahun 2008 tentang Pornografi.

30 Syahrial Wiryawan Martanto dan Wahyu Wagiman, Tindak Pidana Pornografi dan

(29)

pornografi hanya ditulis, diukir di tembok atau kulit pohon, sekarang menjelma dalam bentuk tulisan yang di perbanyak melalui koran, majalah ataupun komik.31

B. Unsur- Unsur Tindak Pidana Pornografi

Pada era globalisasi dan ilmu pengetahuan serta perkembangan teknologi informasi dan komunikasi khususnya telah memberikan dampak terhadap perbuatan, penyebarluasan dan penggunaan porografi yang memeberikan pengaruh buruk terhadap moral dan nilai yang di anut oleh masyarakat indonesia khususnya. Pornografi sangat memberikan pengaruh negatif bagi muda indonesia.32

Adapun unsur tindak pidana menurut undang-undang no 44 tahun 2008 adalah sebagai berikut,:

1. Unsur subjektif

Bisa disebut juga unsur yang berkenaan dalam diri pelaku atau suatu tindak pidana dilakukan dengan adanya keadaan psikis tertentu dari si pelaku, maupun dengan sengaja atau dengan persetujuannya perbuatan itu dilakukan.33 2. Unsur objektif

Perbuatan (menjadi) yang artinya objek yang mengandung muatan pornografi.34Yang dimaksud unsur subjektif dan objektif di atas bisa kita contohkan kepada pasal 4 ayat (1) undang- undang no 44 tahun 2008 “setiap

31

Siti Risdatul Ummah, Pornografi Ditinjau Dari Hukum Positif Dan Hukum Pidana Islam.(Al-Qanun, Vol.20, No.2 (2017),Hal.32

32 Andri Winjaya Laksana, Analisis Yuridis Tindak Pidana Pornografi Berdasarkan

Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 Di Era Globalisasi,Jurnal Pembaruan Hukum, Vol. 1, No.2 (2014), Hal.172

33 Brolin Rongkene, Tindak Pidana PornografI Menurut KUHP Dan Undang-undang

Nomor 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi, Lex Crime, Vol.9, No.1 (2020),Hal.112 34 Andri Winjaya Laksana...., Hal.173

(30)

orang yang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan. Atau menyediakan pornografi yang secara eksplisit memuat: persenggamaan termasuk persenggamaan yang menyimpang, kekerasan seksual, mastrubasi atau onani, ketelanjangan atau tampilan yang

mengsankan ketelanjangan, alat kelamin, pornografi anak.”35

Pada pasal 4 ayat (1) undang- undang no 44 tahun 2008 ini terdapat unsur subjektif dan objektif sebagai berikut:

Unsur setiap orang bahwa yang dimaksud dengan setiap orang adalah seseorang sebagai subjek hukum yang kepadanya dapat dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan nya dapat diartikan sebagai unsur subjektif.

Unsur dilarang memproduksi, membuat memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan. Atau menyediakan pornografi yang secara eksplisit memuat: persenggamaan termasuk persenggamaan yang menyimpang, kekerasan seksual, mastrubasi atau onani, ketelanjangan atau tampilan yang mengesankan ketelanjangan, alat kelamin, pornografi anak. Pada unsur objektif ini karena bersifat alternatif maka jika salah satu unsur terpenuhi bisa dikatakan sudah terbukti kepada tindak pidana pornografi.36

C. Macam-macam Tindak Pidana Pornografi

35

Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi Pasal 4 Ayat 1

36 Raudatul Utami, “Pertanggungjawaban Pimpinan Redaksi Majalah Playboy Dalam Tindak Pidana Pornogrfi”, (Medan: Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (Skripsi), 2019), 24

(31)

Pornografi di indonesia berkembang sangat pesat sejak dimulainya masa reformasi, dimana pornografi merupakan salah satu masalah yanga sangat serius bagi pemerintahan. Perbuatan pidana pornografi adalah perbuatan yang berkaitan dengan gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan atau pertunjukan dimuka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar normakesusilaan dalam masyarakat.37 Modus-modus pornografi pada masa sekarang sangat berkembang pesat seperti peredaran video porno melalui internet yang ada padanya, serta pertunjukan bernyanyi dengan bergoyang pinggul seolah-olah sedang melakukan adegan bersegama, pada zaman yang super canggih saat sekarang ini sangat tidak mustahil melakuakan hal yang demikian, dengan adanya demikian undang-undang mengatur tentang bagaimana jenis-jenis atau macam-macam tindak pornografi seperti yang di bawah ini:

1. Menurut undang-undang nomor 44 tahun 2008 tentang pornografi a. Tindak pidana memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan,

menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan menyediakan pornografi dalam pasal 29 jo pasal 4 ayat 1.

b. Tindak pidana menyediakan jasa pornografi dalam pasal 30 jo pasal 4 ayat 1.

37 Titik Suharti,Tujuan Pemmidanaan Dalam Undang-undang Pornografi, Vol XVI, No.2 (2011), Hal.132

(32)

c. Dalam pasal 31 jo pasal 5 dikatakan tindak pidana meminjamkan atau megunduh pornografi. Tindak pidana memeperdengarkan, memepertontonkan, memanfaatkan, memiliki atau menyimpan produk pornografi terdapat pada pasal 32 jo pasal 6.

d. Tindak pidana menandai atau memfasilitasi perbuatan pornografi terdapat pada pasal 33 jo pasal 7.

e. Tindak pidana dengan senagaja menjadi objek yang mengandung muatan pornografi pada pasal 34 jo pasal 8.

f. Tindak pidana sengaja menjadikan orang lain sebagai objek atau model pornografi dalam pasal 35 jo pasal 9.

g. Tindak pidana mempertontonkan diri atau orang lain dalam pertunjukan atau dimuka umum yang menggambarkan ketelanjangan, ekploitasi seksual, persenggamaan terdapat dalam pasal 36 jo pasal 10.

h. Tindak pidana yang melibatkan anak dalam pornografi pada pasal 37.38

2. Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)

Dalam membahas pornografi dalam ruang hukum indonesia, maka menurut Wirjono prodjodikoro terdapat dua jenis tindak pidana yaitu:

a. Tindak pidana melanggar kesusilaan (zedelijkheid) untuk kejahatan melanggar kesusilaan terdapat pada pasal 281 samapai dengan 299, sedangkan untuk pelanggaran golongan pertama (kesusilaan) dirumuskan dalam pasal 532 sampai dengan 535.

38 Ira Rahayu,Penegakan Hukum Tindak Pidana Memeperjualbelikan Video Compact

Disc Porno Berdasarkan Pasal 29 Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi, JOM Fakultas Hukum, Vol. 2, No.2 (2015), Hal.7

(33)

b. Tindak pidana melanggar kesopanan (zeden) yang bukan kesusilaan artinya tidak berhubungan dengan masalah seksual, kejahatan

c. kesopananan ini dirumuskan dalam jenis pelanggaran terhadap kesopanan (di luar hal yang berhubungan dengan masalah seksual) dirumuskan dalam pasal 236 sampai pada 547.39

Wirjono Prodjodikoro kata zeden arti lebih luas pada umumnya mengenai adat kebiasaan yang baik dalam hubungan antara berbagai anggota masyarakat. Sedangkan zedelijkheid juga merupakan adat kebiasaan yang baik namun khususnya mengenai kelamin (seks) seseorang.40 Pornografi dalam kuhp indonesia diatur dalam pasal 282 mengenai kejahatan pornografi, pasal 283 mengenai kejahatan pornografi terhadap orang yang belum dewasa, pasal 283 bis mengenai kejahatan pornografi dalam menjalankan mata pencariannya, pasal 532 dan pasal 533 membahas mengenai pelanggaran pornografi. Adapun jenis-jenis tindak pidana pornografi dalam KUHP sebagai berikut:

a. Pada pasal 282 ayat 1

1) menyiarkan, mempertujukan atau menempelkan dimuka umum tulisan, gambaran atau benda yang telah diketahui isinya melanggar kesusilaan. 2) Membikin tulisan, gambaran benda tersebut( yang merusak kesusilaan)

memasukkan ke dalam negeri, meneruskannya, mengeluarkannya dari negeri, atau memiliki persedian.

39 Syahrial Wiryawan Martanto dan Wahyu Wagiman, Tindak Pidana Pornografi dan

Pornoaksi Dalam Ruu Kuhp (Jakarta:Elsam dan Aliansi Nasional Reformasi Kuhp, 2007), Hal.9 40 Nirmala Permata Uneto, Penerapan Hukum Pidana Tehadap Pelaku Tindak Pidana

Pornogrfi Menurut Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi, Lex Crime,

(34)

3) Dengan terang-terangan atau dengan mengedarkan surat tanpa diminta, menawarkannya menunjukannya sebagai bisa diperoleh.41

b. Pada pasal 282 ayat 3

Melakukan kejahatan seperti yang dimaksud pasal ayat 1 sebagai mata pencarian atau kebiasaan.

c. Pasal 283 ayat 1

Menawarkan, memberikan untuk terus maupun untuk sementara waktu, menyerahkan atau mempelihatkan tulisan, gambaran atau benda yang melanggar kesusilaan, maupun alat untuk mencegah atau menggugurkan kehamilan kepada seseorang yang belum dewasa, dan yang diketahui atau sepatutnya harus diduga bahwa umurnya belum tjuh belas tahun, jika isi tadi tulisan, gambaran, benda atau alat itu telah diketahuinya.

d. Pasal 283 ayat 2

Membacakan isi tulisan yang melaggar kesusilaan di muka orang yang belum dewasa.42

D. Sanksi Tindak Pidana Pornografi dalam Hukum Positif

Dalam hukum positif istilah sangsi dikaitkan kepada pidana namun pada dasarnya sangsi pidana mempunyai pengertian, kata sangsi berasal dari bahasa

belanda “sanc tie” yaitu artinya alat pemaksa sebagai alat hukuman jika tidak taat

kepada perjanjian. Dalam KBBI sanksi diartikan sebagai tanggungan (hukuman)

41 Syahrial Wiryawan Martanto dan Wahyu Wagiman, Tindak Pidana Pornografi dan

Pornoaksi Dalam Ruu Kuhp (Jakarta:Elsam dan Aliansi Nasional Reformasi Kuhp, 2007), Hal.12 42 Syahrial Wiryawan Martanto dan Wahyu Wagiman,..., Hal.13.

(35)

untuk menepati perjanjian atau ketentuan undang- undang43. Adapun sanksi tindak pidana pornografi dalam Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 mengenai ketentuan pidana pada pasal 29, 30, 31, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 38 sebagai berikut:

1. Pasal 29 berbunyi :

“setiap orang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan,

menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornigrafi sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat 1 dipidana dengan pidana paling singkat 6 bulan dan paling lama 12 tahun dan atau pidana denda paling sedikit 250 Juta dan paling

banyak 6 Milyar.”

2. Pasal 30 berbunyi :

“setiap orang yang menyediakan jasa pornografi sebagaimana dimaksud

dalam pasal 4 ayat 2 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 bulan dan paling lama 6 tahun dan atau pidana denda paling sedikit 250 Juta paling banyak 3

Milyar.”

3. Pasal 31 berbunyi :

“setiap orang yang meminjamkan atau mengunduh pornografi

sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 5 dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 tahun dan pidana denda paling banyak 2 Milyar.”

4. Pasal 32 berbunyi :

“setiap orang yang mendengarkan, mempertontonkan, memanfaatkan,

memiliki, atau menyimpan produk pornografi sebagaimana dimaksud dalam pasal

43Ukhtirini Murthofiah Mahardika,”Sanksi Pidana Terhadap Pelaku Tindak Pidana

Pornografi Melalui Media Sosial Ditinjau Dari Konsep Keadilan Islam”, Surakarta: Institut

(36)

6 dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 tahun dan atau denda paling banyak 2 Milyar.”

5. Pasal 33 berbunyi ;

“setiap orang yang mendanai atau menfasilitasi perbuatan sebagaimana

yang dimaksud dalam pasal 7 dipidana penjara paling singkat 7 tahun dan paling lama 15 tahun dan atau pidana denda paling sedikit 1 milyar dan paling banyak 7

milyar.”

6. Pasal 34 berbunyi :

“setiap orang yang dengan sengaja atau atas persetujuan dirinya menjadi

objek atau model yang mengandung muatan porngrfi sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 dipidana penjara paling lama 10 tahun dan atau pidana denda paling banyak 5 Milyar rupiah.”

7. Pasal 35 berbunyi :

“setiap orang yang menjadikan orang lain sebagai objek atau model yang

mengandung muatan pornogrfi sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 9 dipidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 12 tahun dan atau pidana

denda paling sedikit 500 juta paling banyak 6 Milyar.”

8. Pasal 36 berbunyi :

“setiap orang yang mempertontonkan diri atau orang lain dalam

pertunjukan atau dimuka umum yang mengambarkan ketelanjangan oksploitasi seksual persenggamaan atau yang bermuatan pornografi lainnya sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 10 dipidana pidana penjara paling lama 10 yahun dan

(37)

9. Pasal 37 berbunyi :

“setiap orang yang melibatkan anak dalam kegiatan atau sebagai objek

sebagaimana dala pasal 11 dipidana dengan pidana yang sama dengan pidana sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 29, 30, 31, 32, 33, 34, 35, 36 ditambah,

sepertiga dari maksimum ancaman pidananya.”

10. Pasal 38 berbunyi :

“setiap orang yang mengajak, membujuk, memanfaatkan, membiarkan, menyalahgunakan kekuasaan, atau memaksa anak dalam menggunakan produk atau jasa pornogrfi sebagaimana dimaksud dalam pasal 12 dipidana penjara dengan pidana penjara paling singkat 6 bulan dan paling lama 6 tahun atau pidana denda paling sedikit 250 juta paling banyak 3 milyar.”

Indonesia juga memiliki peraturan perundang undangan tentang larangan penyebaran pornogrfi dalam undang-undang nomor 11 tahun 2008 tentang formasi dan transaksi elektronik termaktub dalam pasal 27 ayat 1 berbunyi :

“setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan atau

mentransmisikan dan atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan

atau dokumen elektronik yang memiliki muatan yang melanggar keasusilaan.”

Dengan sanksi pidana terdapat pada pasal 45 ayat 1 : “hukuman pidana penjara

paling lama 6 tahun atau denda paling banyak 1 milyar.”

Di dalam KUHP juga terdapat aturan yang mengatur tentang tindak pidana pornografi tetapi bahasa yang digunakan KUHP adalah kesusilaan seperti yang dijelaskan pada paragraf diatas. Adapun yang tertera di KUHP pada pasal 281, 282 dan 283 sebagai berikut :

(38)

1. Pasal 281 berbunyi :

“Diancam dengan pidana penjara paling lama 2 tahun 8 bulan atau denda

paling banyak 4.500 rupiah ; pertama, barang siapa dengan sengaja dan terbuka melanggar kesusilaan. Kedua, barang siapa dengan sengaja dan dimuka orang lain

yang ada disitu bertentangan dengan kehendaknya melanggar kesusilaan.”

2. Pasal 282 ayat 1 berbunyi :

“Barang siapa menyiarkan, mempertunjukan dan menempelkan dimuka

umum tulisan, gambaran atau benda yang gtelah diketahui isinya dan yang melanggar kesusilaan atau barang siapa dengan maksud untuk disiarkan, dipertunjukan atau ditempelkan dimuka umum membikin tulisan gambaran atau benda tersebut memasukannya kedalam negeri meneruskannya mengeluarkannya dari negeri atau mempunyainya dalam persediaan ataupun barang siapa secara terang-terangan atau dengan mengedarkan surat tanpa diminta menawarkannya atau menunjukannya sebagai bisa dapat diancam dengan pudana paling lama 1 tahun 6 bulan atau pidana denda paling banyak 3.000 rupiah.

3. Pasal 282 ayat 2 berbunyi :

“Barang siapa menyiarkan, mempertunjukan atau menempelkan dimuka

umum tulisan, gambaran ataupun barang siapa dengan maksud untuk disiarkan, dipertunjukan, atau ditempelkan dimuka umum membikinnya, memasukannya kedalam negeri meneruskannya mengeluarkannya dari negri atau mempunyai dalam persediaan atau barang siap bicara terang-terangan atau dengan sebagai bisa didapat diancam jika ada alasan kuat baginya untuk menduga bahwa tulisan,

(39)

gambaran, atau benda melanggar keasusilaan dengan pidana paling lama 9 bulan

atau denda paling banyak 300 rupiah.”

4. Pasal 282 ayat 3 berbunyi :

“Kalau yang bersalah melakukan kejahatan tersebut dalam ayat pertama

sebagai pencarian atau kebiasaan dapat dijatuhi hukuman penjara paling lama 2 tahun 8 bulan dan pidana denda paling banyak 5.000 rupiah.”

5. Pasal 283 ayat 1 berbunyi :

“Barang siapa yang menawarkan, memberikan untuk terus maupun untuk

sementara waktu, menyerahkan atau memperlihatkan tulisan, gambaran atau benda yang melanggar kesusilaan maupun alat untuk mencegah atau menggugurkan kehamilan kepada seseorang yang belum cukup umur dan yang diketahui atau sepatutnya harus diduga bahwa umurnya belum 17 tahun jika isi tulisan, gambaran atau benda itu telah diketahuinya diancam dengan pidana penjara paling lam 9 bulan dan pidana denda 600 rupiah.”

6. Pasal 283 ayat 2 berbunyi :

“Barang siapa yang membacakan isi tulisan yang mengandung kesusilaan

dimuka orang yang belum cukup umur termaksud dalam ayat yang lalu jika isi tadi telah diketahuinya dapat dijatuhi pidana 9 bulan dan pidana denda paling

banyak 600 rupiah.”

7. Pasal 283 ayat 3 berbunyi :

“Diancam dengan pidana penjara paling lama 4 bulan atau denda paling

banyak 600 rupiah, barang siapa menawarkan, memberikan untuk terus maupun untuk sementara waktu, menyerahkan atau memperlihatkan tulisan atau gambaran

(40)

atau benda-benda yang melanggar kesusilaan maupun alat untuk mencegah ataupun menggugurkan kehamilan pada seseorang yang belum cukup umur, jika ada alasan yang kuat baginya untuk menduga bahwa tulisan, gambaran atau benda yang melanggar kesusilaan atau alat itu untuk mencegah atau menggugurkan

(41)

BAB III

Tindak Pidana Pornografi Dalam Hukum Pidana Islam A.Pengertian Hukum Islam

Semua muslim di dunia, tentang apa yang dilakukan dlam kehidupan harus sesuai dengan aturan yang telah di firmankan Allah Swt sebagai bukti keimanan kita kepada-Nya. Jika kita berbicara tentang hukum maka akan segara terlintas dalam benak kita masing-masing tentang sperangkat aturan dan norma-norma yang mengatur tingkah laku kita sebagai manuasia yang hidup berdampingan, bentuknya mungkin berupa huku yang tertulis maupun hukum yang dibuat oleh penguasa seperti hukum barat. Dalam konsep peraturan perundang-undangan hanya mengatur bagaimana hubungan manusia dengan manusia.

Kata hukum mempunyai makna mencegah atau menolak, dalam konsep hukum islam dasar dan kosepnya ditetapkan oleh Allah Swt, yang mana tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan manusia ataupun hubungan benda dalam masyarakat dan hubungan-hubungan lainya. Islam adalah agama yang sempurna dengan mancakup seluruh aspek kehidupan manusia, yang mengatur hal-hal kecil sampai hal besar.44

Dalam sistem hukum islam ada lima kaidah yang mengatur atau yang menjadi patokan terhadap perbuatan manusia baik itu dibidang ibadah maupun lapangan dengan sebutan al-ahkam al-khamsah atau penggolongan hukum yang

lima yaitu jai’z, sunah, makruh, wajib dan haram.45

44

Hasbiyallah, Fiqh dan Ushul Fiqh, (Bandung:PT. Remaja Rosda karya , 2014),Hal.9

45

Abdul Wahid Musttofa, Hukum Islam Kontemporer, (Jakarta : Sinar Grafika, 2013), Hal.1

(42)

Menurut Amir Syarifuddin hukum islam adalah “seperangkat aturan wahyu Allah dan sunah rasul tentang tingkah laku manusia yang diakui dan diyakini bersifat mengikat untuk semua yang beragama islam”.46 Dari pengertian diatas maka jelas bahwa islam mengatur, baik hukum yang berhubungan dengan akidah maupun hukum yang berhubungan dengan perbutan atau amliyah.

B. Tindak Pidana Dalam Islam

Berbicara mengenai hukum pidana di Indonesia dapat dikatakan bahwa keberadaannya sama dengan ketidakberadaan. Meskipun demikian akan sangat baik apabila wujud pidana Islam yang berupa doktrin di pelihara dan dipahami secara baik dan benar47. Hukum Pidana Islam dapat di artikan sebagai jarimah

atau larangan-larangan syara’ yang di ancam oleh Allah dengan hukuman hudud dan takzir. Dalam hukum Islam terdapat 3 (tiga ) istilah mengenai hukum pidana

islam yaitu jarimah, jinayah, ma’shiyat.48

Pada dasarnya istilah jinayah mengacu kepada hasil perbuatan seseorang, Biasanya mengarah kepada perbuatan-perbiatan yang dilarang oleh syara’. Adapun fuqaha berpendapat jinayah adalah perbuatan yang terlarang menurut

syara’, meskipun demikian umumnya fuqaha memakai istilah tersebut hanya untuk perbuatan yang dikategorikan kepada mengancam keselamatan jiwa, seperti pada pemukulan, pembunuhan, dan sebagainya.49Abdul Qadir Audah telah membagi perbuatan manusia kepada beberapa bagian yaitu: perbuatan manusia sebagai hak Allah, perbuatan manusia sebagai hak perorangan murni, perbuatan

46

Dr. H. Marsaid, M.A, Al fiqh Al-Jinayah, (Palembang: Rafah Press,2020), Hal.24 47

Dr. H. M. Nurul Irfan, M.Ag, Hukum Pidana Islam, (Jakarta: Amzah, 2015).Hal.11 48 DR. Mardani, Hukum Pidana Islam,(Jakarta: Kencana, 2019) Hal.2

49 A. Djazuli, Fiqh Jinayah; Upaya Penanggulanggan Kejahatan Dalam Islam, (Jakarta, Grafindo Persada, 1997), Hal.1

(43)

yang melanggar hak jamaah dan hak adami namun hak jamaah lebih dominan, perbuatan yang melanggar hak jamaah dan hak adami namun hak adami lebih dominan.

Menurut Abu Muhammad Mahmud dalam kitabnya binayah fi-syarh al-hidayah memaparkan jinayah stiap perbuatan yang merugikan atau mandatangkan bencana terhadap jiwa dan harta orang lain50.

Jadi pengertian jinayah bisa disimpulkan semua perbuatan yang di haramkan, perbuatan yang dilarang adalah tindakan yang di larang atau di cegah

oleh syara’ jika melakukan perbuatan tersebut maka konsekuensinya tertuju pada

agama, jiwa, kehormatan dan harta benda51.

Adapun keberadaan jinayah dalam syari’at Islam di dasari kepada alquran

yaitu al-baqarah ayat 179, al-maidah ayat 59, an-nisa ayat 65:

         

Artinya “Dan dalam qisas itu ada (jaminan kelansungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal supaya kamu bertaqwa”.(Q.S Al-Baqarah ayat 179).

                                



Artinya “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan

50

Fuad Thohari, Hadis Ahkam; kajian Hadis-hadis Hukum Pidana Islam, hudud qisas dan takzir, (Yogyakarta, Deepublish, 2016), Hal.9

51 Rahmat Hakim, Hukum pidana Islam; Fiqh Jinayah, (Bandung: CV Pustaka Setia,2000), Hal.12

Referensi

Dokumen terkait

Skripsi yang berjudul “ Analisis Hukum Pidana Islam terhadap Tindak Pidana Penjualan Narkotika oleh Anak di Bawah Umur (Studi Putusan Pengadilan Negeri

Bahkan Islam meringankan bagi pelaku tindak pidana pencurian yang dilakukan pada saat terjadi musibah atau pada keadaan memaksa atau darurat, sebagaimana yang

narkotika. d) Hukuman yang adil terhadap orang yang melakukan tindak pidana narkotika. e) Perbandingan hukum Islam dan hukum Positif dalam kasus pengedar.. narkotika

Dapat juga dikatakan bahwa perbuatan pidana adalah perbuatan yang oleh suatu aturan hukum dilarang diancam pidana, asal saja dimana pada saat itu diingat bahwa larangan ditujukan

Metode ini penulis terapkan pada bab IV, dimana pada bab ini penulis menganalisa ketentuan pasal 359 jo 361 KUH Pidana tentang kealpaan seorang dokter yang menyebabkan orang lain

Adapun Penerapan hukum pidana terhadap tindak pidana pemerkosaan anak di bawah umur berdasarkan pertimbangan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Rantauprapat dalam memeriksa dan

Tindak pidana (secara melawan hukum) baru terjadi apabila sudah terdapat Surat Rekomendasi Camat yang diberikan pada Kades untuk mencairkannya, tapi pihak Terdakwa/

batin pelaku tindak pidana ketika melakukan perbuatan pidana; Menimbang, bahwa dalam penegakan hukum tindak pidana kedua unsur tersebut yaitu mens rea dan actus reus menjadi unsur yang