• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisa Aliran Fluida Proses Exhausting pada Knalpot Komposit Hybrida Batang Kelapa Sawit Melalui Metode Computational Fluid Dynamic

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisa Aliran Fluida Proses Exhausting pada Knalpot Komposit Hybrida Batang Kelapa Sawit Melalui Metode Computational Fluid Dynamic"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Batang Kelapa Sawit

Saat ini luas lahan perkebunan sawit di Indonesia sedikitnya 11 juta hektar.

Selain menunjukkan prospek hasil minyak nabati yang berlimpah, luasankebun

sawit ini memicu kekhawatiran melimpahnya batang sawit saat regenerasi kebun

dilakukan. Jika 4 persen dari luasan itu direhabilitasi tiap tahun, ada hampir 100

juta kubik batang sawit akan teronggok menjadi sampah. Pengelola kebun sering

mebiarkan batang sawit membusuk. Selain menimbulkan bau tidak

enak,pelapukan alami membuat batang sawit menjadi sarang kumbang Oryctes

rhinoceros dan jamur Ganoderma. Hal ini akan mengganggu tanaman sawit muda

dan merugikan kebun. Cara lain membakar batang sawit,namun hal ini dilarang

undang-undang karena membahayakan dan bisa memulai kebakaran

hutan/gambut,dan melepas emisi karbon ke atmosfer.

Di indonesia yang umum ditanam di perkebunan sawit adalah varietas

sawit Dura,Pisivera,dan Tenera. Panjang batang sawit 7-17 meter,diameter 32-70

centimeter,dan volume 0.9-3 meter kubik. Rata-rata jumlah pohon mencapai 128

pohon per hektar dengan rata-rata volume 220 meter kubik per hektar.

Berdasarkan karakteristik fisik batang sawit tersebut dan daur produktif 25 tahun

(tingkat peremajaan 4 persen per tahun) serta asumsi luas tanaman sawit di

Indonesia 9,261 juta hektar (2011), potensi limbah batang sawit nasional sekitar

81,5 juta meter kubik per tahun.

2.1.1 Sifat Fisik Batang Kelapa Sawit

Sifat fisik merupakan sifat-sifat yang berhubungan dengan kadar air,

kerapatan, berat jenis, kembang susut, sifat panas, keawetan alami, warna,

kelistrikan kayu, penampilan kayu, ketahanan kayu pada suatu zat, ketahanan

kayu terhadap cuaca, ketahanan kayu terhadap organisme perusak kayu, sifat

pengerjaan kayu, dan sifat penyerapan kayu terhadap air, seperti yang tercantum

pada Tabel 2.1 mengenai sifat-sifat fisik bagian dalam batang sawit (Dumanauw,

(2)

Tabel 2.1 Sifat dari Batang Kelapa sawit

Sifat

Bagian dalam batang

Tepi Tengah Pusat

Berat Jenis 0,35 0,28 0,2

Kadar Air, % 156 257 365

MOE, kg/cm2 29996 11421 6980

MOR, kg/cm2 295 129 67

Kelas Awet V V V

Kelas Kuat III-V V V

Berat jenis kayu dapat didefinisikan sebagai perbandingan antara kerapatan kayu

dengan kerapatan air pada suhu 4ºC, dimana pada suhu standar tersebut kerapatan

air sebesar 1 g/cm³. Makin tinggi berat jenis kayu tersebut, umumnya makin kuat

pula kayunya. Semakin kecil berat jenis kayu, maka akan berkurang pula

kekuatannya. Berat jenis ditentukan antara lain oleh tebal dinding sel dan kecilnya

rongga sel yang membentuk pori-pori. Perhitungan berat jenis banyak

disederhanakan dalam sistem metrik karena 1 cm³ air beratnya tetap 1 gram. Jadi

berat jenis dapat dihitung secara langsung dengan membagi beratdalam gram

dengan volume dalam cm³, maka nilai kerapatan dan berat jenis adalah sama jika

menggunakan massa oven.

Kerapatan merupakan perbandingan berat suatu benda dengan volume

benda itu sendiri. Kerapatan kayu umumnya dihitung dengan menggunakan berat

total sebenarnya, termasuk berat air. Dalam penentuan kerapatan dinding sel,

volume umumnya ditentukan oleh pemindahan suatu cairan. Cairan yang berbeda

bervariasi dalam kemampuannya untuk menembus rongga-rongga dalam dinding

dan persatuan fisiknya dengan komponen-komponen kimia kayu (Bowyer, 2003).

2.1.2 Pemanfaatan Batang Kelapa Sawit

Menurut Departemen Pertanian, Jakarta (2006), batang kelapa sawit yang

sudah membusuk merupakan sarang bagi kumbang Oryctes rhinoceros dan

Ganoderma yang potensial menyerang tanaman muda. Karena itu, pengelolaan kebun kelapa sawit menyingkirkan batang kelapa sawit dengan membakarnya.

(3)

kelapa sawit itu menjadi masalah yang sangat dilematis bagi pengelola. Namun

siapa sangka batang kelapa sawit yang selama ini menjadi persoalan ternyata bisa

dimanfaatkan sebagai bahan baku furnitur, keperluan konstruksi dan kayu

pertukangan lainnya.

Limbah yang tidak pernah diperhitungkan bisa dijadikan bahan baku

alternatif di tengah kondisi kelangkaan bahan baku kayu dari hutan alam. Bahkan

produk yang dihasilkan dari batang kelapa sawit kemudian menjadi komoditas

ekspor yang sangat potensial seperti daun pintu, fancy panel, mebel dan perabot

rumah tangga lainnya. Batang kelapa sawit dapat dipergunakan untuk perabot dan

papan partikel. Batang kelapa sawit yang tua sudah tidak produktif lagi, dapat

dimanfaatkan menjadi produk yang bernilai tinggi. Batang kelapa sawit dapat

dibuat sebagai bahan perabot rumah tangga seperti mebel, furniture atau sebagai

bahan partikel. Dari setiap batang kelapa sawit dapat diperoleh kayu sebanyak

0,34m3.

2.2 Komposit

Menurut Herman, komposit adalah bahan yang dicampurkan dua atau

lebih tahap yang berbeda. Oleh karena itu komposit bersifat heterogen. Komposit

adalah material yang satu tahap berlaku sebagai sebuah penguatan terhadap tahap

kedua. Tahap kedua disebut matriks.

Umumnya dalam komposit terdapat bahan yang disebut sebagai “matriks” dan bahan “penguat”. Bahan matriks umumnya dapat berupa logam, polimer, keramik, karbon. Matriks dalam komposit berfungsi untuk mendistribusikan beban kedalam seluruh material penguat komposit. Sifat matriks biasanya “ulet” (ductile). Bahan penguat dalam komposit berperan untuk menahan beban yang

diterima oleh material komposit. Sifat bahan penguat biasanya kaku dan tangguh.

Bahan penguat yang umum digunakan selama ini adalah serat karbon, serat gelas,

keramik. Serat alam sebagai jenis serat yang memiliki kelebihan-kelebihan mulai

diaplikasikan sebagai bahan penguat dalam polimer

(4)

1. Komposit Matrik Polimer (Polymer Matrix Composites – PMC). Bahan

inimerupakan bahan komposit yang sering digunakan disebut,

PolimerBerpenguatan Serat (FRP – Fibre Reinforced Polymers or Plastics) –bahanini menggunakan suatu polimer-berdasar resin sebagai matriknya, dan suatujenis serat seperti kaca, karbon dan aramid (Kevlar) sebagai

penguatannya.

2. Komposit Matrik Logam (Metal Matrix Composites – MMC). Ditemuka

3. berkembang pada industri otomotif, bahan ini menggunakan suatu logam

seperti aluminium sebagai matrik dan penguatnya dengan serat seperti

silikonkarbida.

4. Komposit Matrik Keramik (Ceramic Matrix Composites – CMC).

Digunakanpada lingkungan bertemperatur sangat tinggi, bahan ini

menggunakan keramiksebagai matrik dan diperkuat dengan serat pendek,

atau serabut-serabut(whiskers) dimana terbuat dari silikon karbida atau

boron nitride.

Secara garis besar komposit dapat diklasifikasikan menjadi empat macam,

antara lain :

1. Material serat komposit (Fibrous composites materials)

Terdiri dari dua komponen penyusun yaitu matriks dan serat. Skema

penyusunan serat dapat dibagi menjadi tiga.

a) Serat berturut,

b) Serat terputus,

c) Serat acak terputus

2. Material komposit berlapis (Laminated composites materials)

Terdiri dari dua atau lebih lapisan material yang berbeda dan digabung

secarabersama-sama. Laminated composite dibentuk dari dari berbagai

lapisan-lapisan dengan berbagai macam arah penyusunan serat yang

ditentukan yang disebut lamina. Yang termasuk Laminated composites

(komposit berlapis) yaitu :

a) Bimetals

b) Cladmetals

(5)

3. Material komposit partikel (Particulate composites materials)

Terdiri dari satu atau lebih partikel yang tersuspensi di dalam matriks

darimatriks lainnya. Partikel logam dan non-logam dapat digunakan

sebagai matriks. Empat kombinasi yang digunakan sebagai matriks

komposit partikel :

a) Material komposit partikel non-logam di dalam matriks non-logam

b) Material komposit partikel logam di dalam matriks non-logam

c) Material komposit partikel non-logam di dalam matriks logam

d) Material komposit partikel logam di dalam matriks logam

4. Kombinasi dari ketiga tipe di atas

Secara umum, sifat-sifat komposit ditentukan oleh :

a) Sifat-sifat serat

b) Sifat-sifat resin

c) Rasio serat terhadap resin dalam komposit (Fraksi Volume Serat –

FibreVolume Fraction)

d) Geometri dan orientasi serat pada komposit.

2.3 Motor Bakar Torak

Salah satu jenis penggerak mula yang banyak dipakai adalah mesin kalor,

yaitu mesin yang menggunakan energi thermal untuk melakukan kerja

mekanik,atau yang mengubah energi thermal menjadi energi mekanik. Energi itu

sendiri dapat diperoleh dengan proses pembakaran, proses fisi bahan bakar nuklir,

atau proses lain-lain. Ditinjau dari cara memperoleh energi thermal ini mesin

kalor dibagi menjadi dua golongan, yaitu mesin pembakaran luar dan mesin

pembakaran dalam. Pada mesin pembakaran luar energi termal dari gas hasil

pembakaran dipindahkan ke fluida kerja mesin melalui beberapa dinding pemisah.

Untuk mesin pembakaran dalam pada umumnya dikenal dengan Motor Bakar,

motor bakar dapat dikelompokkan menjadi beberapa bagian,salah satunya ialah

Motor Bakar Torak. Pada motor bakar tidak terdapat proses perpindahan klor dari

gas pembakaran ke fluida kerja, karena itu jumlah komponen motor bakar lebih

sedikit daripada komponen mesin uap. Motor bakar lebih sederhana,lebih

kompak, dan lebih ringan jika dibandingkan dengan mesin uap, karena itu pola

(6)

samping itu temperatur seluruh bagian mesinnya jauh lebih rendah daripada

temperatur gas pembakaran yang maksimum sehingga motor bakar torak bisa

lebih efisien daripada mesin uap.

2.3.1 Motor Bensin

Pada prinsipnya motor bakar dibagi menjadi dua berdasarkan tempat

terjadinya pembakaran bahan bakar pada motor tersebut. Pertama adalah motor

bakar luar disebut juga dengan External Combustion Engine (ECE) dan motor bakar dalam atau disebut juga dengan Internal Combustion Engine (ICE). Motor bensin sendiri termasuk ke dalam motor bakar dalam atau Internal Cumbustion Engine (ICE) karena pembakaran terjadi di dalam silinder. Dalam motor bensin bahan bakar yang bercampur dengan udara dimasukkan melalui sebuah saluran ke

dalam silinder kemudian dibakar dengan percikan bunga api yang dihasilkan oleh

busi atau Spark Plug saat terjadi pembakaran torak akan bergerak turun dan menggerakkan engkol dan memutarkan poros engkol. Selain disebut sebagai

Internal Combustion Engine (ICE) motor bensin juga disebut sebagai Spark Plug IgnitionEngine karena dalam motor bensin sistem penyalaanya menggunakan busi atau Spark Plug (Anggraeni dan Hariyadi,2003). Pada mulanya perkembangan motor bakar torak dengan motor bakar bensin ditemukkan oleh Nichollus Otto

pada tahun 1876,dan motor bensin karyanya ini dinamkan Otto Engine. Otto Engine memiliki keunggulan bentuk yang lumayan kecil namun memiliki tenaga yang besar, selain itu mudah dihidupkan dan praktis di eranya.

Ada beberapa hal yang yang mempengaruhi dalam cara kerja motor

bensin.

1. Sistem bahan bakar

Ada bebrapa komponen yang berkaitan dengan sistem bahan bakar

yaitu tanki bahan bakar (Fuel Tank),saluran bahan bakar,saringan bahan bakar (Fuel Filter) dan karburator atau injektor. Semua bahan bakar yang dibutuhkan untuk pembakaran di dalam silinder di suplai

oleh sistem bahan bakar.

2. Campuran udara dan bahan bakar

Selain komponen yang ada dalam sistem bahan bakar,hal lain yang

(7)

udara dan bahan bakar yang harus sesuai. Selain itu bahan bakar yang

masuk ke dalam silinder haruslah berbentuk kabut karena apabila

bahan bakar yang masuk ke dalam silinder masih dalam bentuk cair

maka akan sulit terbakar dan proses pembakaran tidak akan terjadi

secara merata di seluruh silinder. Pengkabutan bahan bakar sendiri

dilakukan oleh karburator atau oleh injektor yang kemudian di

teruskan masuk ke dalam silinder motor. Selain itu perbandingan

antara bahan bakar dengan udara juga harus seimbang agar motor tidak

terlalu boros. Untuk perbandingan yang standard antara bahan bakar

dan udara adalah 15 : 1, artinya untuk 15 udara yang masuk ke dalam

silinder dan hanya 1 bahan bakar yang dipergunakan.

3. Pengapian

Tanpa adanya pengapian proses pembakaran tidak akan

terjadi.Pengapian pada motor bensin akan terjadi akibat adanya

loncatan bunga api yang diletupkan uloeh busi atau spark plug. Busi memperoleh eneri untuk menghasilkan letupan bunga api dari aliran

listrik yang di alirkan ke busi. Letupan bunga api yang dihasilkan oleh

busi akan membakar campuran udara dan bahan yang telah

terkompresi oleh torak di dalam silinder. Kecepatan aliran api yang

terjadi saat pembakaran adalah 25-30 m/detik. Kecepatan pembakaran

yang sangat cepat membuat tekanan gas di dalam silinder naik dan

temperatur pembakaran akan naik pula bahkan melebihi temperatur

penyalaan itu. Ada satu masalah yang sering terjadi dalam proses

pembakaran yaitu detonasi. Engine Knocking atau detonasi merupakan peristiwa terbakarnya bagian-bagian yang belum di kenai oleh percikan

api busi dalam ruang pembakaran (Samsudin,2012). Jadi bahan bakar

yang seharusnya belum saatnya terbakar pada peristiwa detonasi

terbakar lebih dulu. Adapun efek dari detonasi ini bisa mengakibatkan

torak berlubang. Hal-hal yang menyebabkan detonasi diantaranya

adalah penggunaan bbm yang tidak sesuai dengan oktan yang

dianjurkan oleh pabrik (lebih rendah dari anjuran),penggunaan gigi

(8)

terlalu banyak pada ruang bakar. Upaya yang bisa dilakukan agar tidak

terjadi detonasi atau mengurangi detonasi adalah pertama dengan

menggunakan bbm yang memiliki nilai oktan yang sesuai dengan

anjuran pabrik pembuat kendaraan.

Kinerja mesin otto dapat digambarkan dalam siklus otto yang biasanya

dikenal dengan nama siklus volume konstan. Gambar 2.1 dibawah

memperlihatkan diagram P vs V dan T vs S untuk siklus otto :

(A) (B)

Gambar 2.1 A) Diagram T-s B)Diagram P-v

Dari diagram atas untuk kesetimbangan energi pada setiap proses nya bisa

digambarkan dalam basis unit massa :

( q

in

- q

out

)

+

( w

in

w

out

)

=

(kj/kg) ... ... ( 2.1 )

Dan juga untuk gambaran perpindahan panas yang masuk maupun keluar

dapat dituliskan dalam rumusan :

q

in=

u

3

- u

2 =

c

v

( T

3

T

2

) ..

... ( 2.2 )

(9)

Keterangan :

U = Energi dalam (Kkal)

W = Kerja (mkg)

qin = Perpindahan panas masuk sistem (Kkal/kg) qout = Perpindahan panas keluar sistem (Kkal/kg) T = Temperatur absolut (K)

cv = Kalor Spesifik

A. Proses Pembakaran Dalam Pada Motor Bensin (Internal Combustion)

Secara umum pembakaran didefinisikan sebagai reaksi kimia atau

reaksipersenyawaan bahan bakar oksigen (O2) sebagai oksidan dengan

temperaturnya lebih besar dari titik nyala. Mekanisme pembakarannya sangat

dipengaruhi oleh keadaan dari keseluruhan proses pembakaran dimana atom-atom

dari komponen yang dapat bereaksi dengan oksigen yang dapat membentuk

produk yang berupa gas. (Sharma, S.P, 1978).

Untuk memperoleh daya maksimum dari suatu operasi hendaknya

komposisi gas pembakaran dari silinder (komposisi gas hasil pembakaran) dibuat

seideal mungkin, sehingga tekanan gas hasil pembakaran bisa maksimal menekan

torak dan mengurangi terjadinya detonasi. Komposisi bahan bakar dan udara

dalam silinder akan menentukan kualitas pembakaran dan akan berpengaruh

terhadap performance mesin dan emisi gas buang. Sebagaimana telah diketahui

bahwa bahan bakar bensin mengandung unsur-unsur karbon dan hidrogen.

Terdapat 3 (tiga) teori mengenai pembakaran hidrogen tersebut yaitu:

a. Hidrokarbon terbakar bersama-sama dengan oksigen sebelum karbon

bergabung dengan oksogen.

b. Karbon terbakar lebih dahulu daripada hidrogen.

c. Senyawa Hidrokarbon terlebih dahulu bergabung dengan oksigen dan

membentuk senyawa (hidrolisasi) yang kemudian dipecah secara terbakar

(Yaswaki,K, 1994).

Motor bakar bensin 4-langkah seperti pada gambar 2.2 dan diagram pada

gambar 2.3 adalah salah satu jenis mesin pembakaran dalam (internal combustion

engine) yang beroperasi menggunakan udara bercampur dengan bensin dan untuk

(10)

Gambar 2.2 Proses Pembakaran 4 Langkah

Gambar 2.3 Diagram P-V

Keterangan mengenai proses-proses pada siklus diatas adalah sebagai berikut:

1. Proses 0 → 1 adalah langkah hisap Pada langkah hisap campuran

udara-bahan bakar dari karburator terhisap masuk ke dalam silinder dengan bergeraknya

piston ke bawah, dari TMA menuju TMB. Katup hisap pada posisi terbuka,

sedang katup buang pada posisi tertutup. Di akhir langkah hisap, katup hisap

tertutup secara otomatis. Fluida kerja dianggap sebagai gas ideal dengan kalor

spesifik konstan. Proses dianggap berlangsung pada tekanan konstan.

2. Proses 1 → 2 adalah langkah kompresi Pada langkah kompresi katup hisap

dan katup buang dalam keadaan tertutup. Selanjutnya piston bergerak ke atas, dari

TMB menuju TMA. Akibatnya campuran udara-bahan bakar terkompresi. Proses

kompresi ini menyebabkan terjadinya kenaikan temperatur dan tekanan campuran

tersebut, karena volumenya semakin kecil. Campuran udara-bahan bakar

terkompresi ini menjadi campuran yang sangat mudah terbakar. Proses kompresi

(11)

3. Proses 2 → 3 adalah langkah kerja Pada saat piston hampir mencapai TMA,

loncatan nyala api listrik diantara kedua elektroda busi diberikan ke campuran

udara-bahan bakar terkompresi sehingga sesaat kemudian campuran udara-bahan

bakar ini terbakar. Akibatnya terjadi kenaikan temperatur dan tekanan yang

drastis. Kedua katup pada posisi tertutup. Proses ini dianggap sebagai proses

pemasukan panas (kalor) pada volume konstan.

4. Proses 3 → 4 adalah langkah buang volume konstan Kedua katup masih pada

posisi tertutup. Gas pembakaran yang terjadi selanjutnya mampu mendorong

piston untuk bergerak kembali dari TMA menuju TMB. Dengan bergeraknya

piston menuju TMB, maka volume gas pembakaran di dalam silinder semakin

bertambah, akibatnya temperatur dan tekanannya turun. Proses ekspansi ini

dianggap berlangsung secara isentropik.

5. Proses 1 → 0 adalah langkah buang tekanan konstan piston bergerak kembali

dari TMB menuju TMA. Gas pembakaran didesak keluar melalui katup buang

(saluran buang) dikarenakan bergeraknya piston menuju TMA. Langkah ini

dianggap sebagai langkah pembuangan gas pembakaran pada tekanan konstan.

2.4 Konduktivitas Thermal

Konduksi merupakan mode perpindahan energi sebagai panas disebabkan

perbedaan tenperatur dalam body atau antara body dalam kontak thermal tanpa

melibatkan aliran massa dan campurannya. Persamaan laju dalam mode ini

didasarkan pada hukum Fourier konduksi panas dimana aliran panas dengan

konduksi dalam berbagai arah sebanding dengan gradien temperatur dan luas yang

tegak lurus terhadapa arah aliran dan dalam arah gradien negatif. Konstanta

kesebandingan diperoleh dalam hubungan yang dikenal sebagai Konduktivitas

Thermal dari material.

Konduktivitas atau keterhantaran adalah suatu besaran intensif bahan yang menunjukkan kemampuannya untuk menghantarkan panas. Konduksi

termal adalah suatu fenomena transport di manaperbedaan temperatur

menyebabakan transfer energi termal dari satudaerah benda panas ke daerah yang

sama pada temperatur yang lebihrendah. Panas yang di transfer dari satu titik ke

(12)

Konduktivitas Thermal = Laju aliran panas x

K = x

... (2.4)

Besaran ini didefinisikan sebagai panas, Q, yang dihantarkan selama waktu t

melaui ketebalan L, dengan arah normal ke permukaan dengan luas A yang

disebabkan oleh perbedaan suhu ΔT dalam kondisi tunak dan jika perpindahan

panas hanya tergantung dengan perbedaan suhu tersebut

Hubungan antara kalor dan energi listrik ;

Q (Kalor/Panas) = W (energi)

Joule = Joule

W = P x t ... (2.5)

Keterangan :

W = Energi Listrik (J)

P = Daya (W)

t = Waktu (S)

2.5 Aliran Fluida

Fluida adalah zat yang terus menerus mengalami deformasi dibawah

penerapan tegangan geser (tangensial) tidak peduli seberapa kecil tegangan geser.

Fluida terdiri dari cairan dan gas (atau fase uap). Perbedaan antarakeadaan fluida

dan solid jelas jika anda membandingkan karakteristik fluidadan solid. Solid

berdeformasi ketika tegangan geser diterapkan, tetapi deformasiyang tidak terus

meningkat dengan waktu. Terdapat beberapa cara untukmengklasifikasikan jenis

aliran fluida dan di sini akan dijabarkan secara umumdibawah ini.

2.5.1 Aliran Internal dan Eksternal

Aliran yang dibatasi oleh suatu permukaan batas seperti pipa atau

pembuluh disebut aliran internal. Aliran mengalir pada benda yang terbenam di

dalam fluida yang tak berbatas diistilahkan aliran eksternal. Aliran internal dan

(13)

inkompresibel. Contoh-contoh aliran internal adalah aliran udara pada ruangan

driver mobil, rumah , dll. Sedangkan aliran eksternal adalah aliran udara yang

mengenai body mobil, permukaan sayap pesawat, dll.

2.5.2 Aliran Kompresibel dan Inkompresibel

Fluida diklasifikasikan kompresibel atau inkompresibel berdasarkan

variasi rapat massa fluida tersebut selama mengalir. Aliran di mana perbedaan

dalam massa jenis dapat diabaikan disebut inkompresibel. Ketika perbedaan

massa jenis aliran yang tidak dapat diabaikan, aliran ini disebut kompresibel. Pada

kenyataannya tidak ada fluida yang massa jenisnya konstan, tetapi ada beberapa

masalah aliran fluida yang dapat disederhanakan dengan menganggap

massajenisnya konstan. Hal ini tidak mengurangi keakuratan solusi yang

didapat.Parameter yang menjadi acuan utama untuk menentukan suatu aliran

kompresibel atau tidak, dilihat dari nilai Mach Number (M), yang didefinisikan

sebagai rasio antara kecepatan aliran lokal terhadap kecepatan suara local.

M = ... ( 2.6 )

Dimana

M = bilangan Mach

v = kecepatan aliran (m/s)

c = kecepatan suara (m/s)

Pada saat M<0,3 aliran tersebut dianggap aliran inkompresibel

2.5.3 Aliran Alami dan Paksa

Suatu aliran fluida dapat dikelompokkan menjadi aliran alami atau aliran

paksa, tergantung bagaimana aliran inisiasi fluida tersebut. Pada aliran paksa,

fluida dipaksa mengalir melalui suatu permukaan atau dalam pipa misalnya oleh

pompa atau kipas (fan). Pada aliran alami, gerakan fluida secara natural akibat efek apung (buoyancy) sehingga menyebabkan fluida itu sendiri bergerak naik karena suhu yang lebih panas dan bergerak turun akibat suhu yang lebih dingin

(14)

2.5.4 Aliran Laminar dan Aliran Turbulen

Sebagian aliran fluida teratur dan mengalir mulus sedangkan yang lainnya

mengalir tidak teratur.Berdasarkan struktur alirannya, aliran fluida dibedakan

menjadi aliran laminar dan aliran turbulen. Gambar 2.4 menunjukkan region jenis

aliran pada suatu plat. Untuk aliran laminar kecepatan pada suatu titik akan tetap

terhadap waktu. Sedangkan aliran turbulen kecepatannya akan mengindikasikan

suatu fluktuasi yang acak. Dalam aliran turbulen, profil kecepatan pada suatu titik

dihasilkan dari gerak acak partikel fluida berdasarkan waktu dalam jarak dan

arah.Jika kita mengambil kecepatan ratarata terhadap waktu, maka kecepatan

sesaat dapat dihitung dengan menambahkan kecepatan rata-rata dengan kecepatan

fluktuasi.

Gambar 2.4 Region aliran laminar dan turbulen pada plat datar

2.5.5 Bilangan Reynold

Dalam analisis aliran fluida terdapat suatu bilangan tanpa dimensi yang

disebut bilangan Reynod yang merupakan perbandingan antara gaya inersia

dangaya viskositas dirumuskan:

Re = . ... ( 2.7 )

Dimana,

V = Kecepatan Rata-Rata dari Fluida (m/s)

L = Panjang objek( m ) ρ = Massa Jenis ( kg/m³)

(15)

Menurut hasil percobaan oleh Reynold, apabila angka Reynold kurang

daripada 2000, aliran biasanya merupakan aliran laminar. Apabila angka Reynold

lebih besar daripada 4000, aliran biasanya adalah turbulen. Sedang antara 2000

dan 4000 aliran dapat laminer atau turbulen tergantung pada faktor-faktor lain

yang mempengaruhi.

2.6 Perhitungan Dinamika Fluida (Computational Fluid Dynamics)

Dinamika fluida adalah cabang dari ilmu mekanika fluida yang

mempelajari tentang pergerakan fluida. Dinamika fluida dipelajari melalui tiga

cara yaitu:

 Dinamika fluida eksperimental

 Dinamika fluida secara teori, dan

 Dinamika fluida secara numerik (CFD)

Computational Fluid Dynamics (CFD) adalah suatu cabang dari mekanika fluida yang menggunakan metode numeric untuk menyelesaikan dan menganalisa

elemen-elemen yang akan disimulasikan. Pada proses ini, computer diminta untuk

menyelesaikan perhitungan-perhitungan numeric dengan cepat dan akurat. Prinsip

kerja pada CFD adalah model yang akan kita simulasikan berisi fluida akan dibagi

menjadi beberapa bagian atau elemen. Elemen-elemen yang terbagi tersebut

merupakan sebuah kontrol perhitungan yang akan dilakukan oleh software

selanjutnya elemen diberi batasan domain dan boundary condition. Prinsip ini lah yang banyak digunakan pada proses perhitungan dengan menggunakan bantuan

komputasi. Pemodelan dengan metode komputasi pada dasarnya menggunakan

persamaan dasar dinamika fluida, konservasi energy, momentum, massa dan

spesies. Persamaan-persamaan ini merupakan pernyataan matematis untuk tiga

prinsip dasar Fisika :

1. Hukum Konservasi Massa

Misalkan sebuah elemen fluida dalam kasus tiga dimensi dengan

dimensidx, dy dan dz seperti ditunjukkan pada Gambar 2.5 Konsep dasar dari hukumkonservasi massa adalah bahwa jumlah pertambahan massa pada volume

(16)

Gambar 2.5 Konservasi massa pada elemen fluida

+

+

+

= 0 ... ... ( 2.8 )

Atau menggunakan operator divergen dapat dituliskan sebagai

+

. (

v ) ..

... ( 2.9 )

Persamaan di atas merupakan bentuk umum dari persamaan konservasi

massa yang biasa disebut juga dengan persamaan kontinuitas. Persamaan (2.6)

adalah unsteady, kekekalan massa atau persamaan kontinuitas tiga dimensi pada sebuah titik dalam sebuah fluida kompresibel. Suku pertama pada sisi

sebelah kiri kelajuan perubahan dalam waktu dari densitas (massa per satuan

volume). Suku kedua menjelaskan neto aliran massa keluar dari elemen melintasi

boudarinya dan disebut suku konvektif. Pada persamaan inkompresibel, dimana

kerapatan spasial dan temporal diabaikan, persamaan ini dapat disederhanakan

dengan menghilangkan

dari persamaan.

2. Hukum konservasi momentum

Hukum ini dikenal juga dengan hukum Newton II tentang gerak. Tingkat

kenaikan momentum partikel fluida sama dengan jumlah gaya gaya pada

partikelatau resultan gaya yang bekerja pada suatu objek sama dengan

percepatandikalikan dengan massa objek tersebut. Suatu elemen kecil fluida

(17)

hanyagaya searah x yang ditampilkan. Sebagai catatan, untuk kasus ini, terdapat enamgaya normal dan geser yang bekerja pada permukaan.

a) Gaya-gaya permukaan

- Gaya tekan

- Gaya viskos

b) Gaya-gaya badan

- Gaya gravitasi

- Gaya centrifugal

- Gaya coriolis

- Gaya elektromagnetik

Dalam menyoroti kontribusi yang disebabkan gaya-gaya permukaan

sebagai bagian tersendiri dalam persamaan momentum dan memasukkan

gaya-gaya badan sebagai suku source.

Gambar 2.6 Konservasi momentum pada elemen fluida

Keadaan tegangan dari sebuah elemen fluida didefinisikan dalam suku –

suku tekanan dan sembilan komponen tegangan viskos ditunjukkan dalam

Gambar 2.6. Notasi akhiran yang biasa digunakan untuk menandakan arah

tegangan viskos akhiran i dan j.

Dengan mengacu kepada elemen fluida tersebut, maka persamaan

(18)

Atau dapat dituliskan dalam tensor sebagai

Jika beberapa asumsi dinyatakan, beberapa bagian dari persamaan energi

dapat dihilangkan. Sebagai contoh, jika kerapatan massa konstan atau fluida

inkompresibel, maka persamaan �)/ � menjadi nol. Selanjutnya, jika disipasi

kekentalan diabaikan, maka dapat dihilangkan dari persamaan. Dan juga jika

energi dalam yang timbul pada elemen sama dengan nol, dapat juga dihilangkan

dari persamaan. Meskipun persamaan pembentuk aliran di atas terlihat sangat

rumit, namun persamaan tersebut berasal dari hukum konservasi yang sangat

sedarhana yaitu konservasi massa, momentum dan energi. Pada kasus tiga

dimensi, hukum ini menjadi lima persamaan yang berbeda. Mereka merupakan

system yang disatukan dari persamaan diferensial parsial nonlinear. Sampai saat

ini belum ada solusi analitik dari persamaan-persamaan tersebut.Dalam hal ini,

persamaan ini bukan tidak memiliki solusi namun sampai saat ini belum

ditemukan. Metode yang lain yang digunakan untuk menyelesakan persamaan

tersebut adalah dengan metode numerik yang dikenal dengan Computational Fluid Dynamics (CFD). Dengan metode ini, persamaan ini akan diselesaikan dengan iterasi untuk menemukan solusi yang mungkin berdekatan dengan solusi

sebenarnya.

2.6.1 Penggunaan CFD

CFD dalam aplikasinya dipergunakan diberbagai bidang antara lain

sebagai berikut :

1. Pada Bidang Teknik

- Mendesain ruang atau lingkungan yang aman dan nyaman.

- Mendesain aerodinamis kendaraan agar menghemat konsumsi bahan

(19)

- Mendesain performa pembakaran pada piston kendaraan

- Memaksimalkan hasil reaksi kimia pada proses kimiawi

2. Pada bidang Olahraga

- Menganalisa aerodinamis pada sepatu bola

- Menghitung kekuatan dan kecepatan pada tiap cara tendangan pada

sepakbola

3. Pada bidang kedokteran

- Menganalisa peredaran udara pada pasien yang mengalami penyakit

sinusitis

2.6.2 Manfaat CFD

Terdapat tiga hal yang menjadi alasan kuat menggunakan CFD, yaitu:

1. Insight-Pemahaman mendalam

Ketika melakukan desain pada sebuah sistem atau alat yang sulit untuk dibuat

prototype-nya atau sulit untuk dilakukan pengujian, analisis CFD memungkinkan untuk merangkak, merayap, dan menyelinap masuk secara virtual ke dalam

alat/sistem yang akan dirancang tersebut.

2. Foresight-Prediksi menyeluruh

CFD adalah alat untuk memperidiksi apa yang akan terjadi pada alat/sistem, dan

CFD dapat mengubah-ubah kondisi batas (variasi kondisi batas).

3. Efficiency-Efisiensi waktu dan biaya Foresight yang diperoleh dari CFD sangat membantu untuk mendesain lebih cepat dan hemat uang. Analisis/simulasi CFD

akan memperpendek waktu riset dan desain sehingga juga akan mempercepat

produk untuk sampai pasaran.

2.6.3 Metode Diskritisasi CFD

Secara matematis CFD mengganti persamaan-persamaan diferensial

parsial dari kontinuitas, momentum dan energi dengan persamaan-persamaan

aljabar linear.CFD merupakan pendekatan dari persoalan yang asalnya kontinum

(memiliki jumlah sel tak terhingga) menjadi model yang diskrit (jumlah sel

terhingga). Perhitungan/komputasi aljabar untuk memecahkan

persamaan-persamaan diferensial parsial ini ada beberapa metode (metode diskritisasi),

(20)

1. Finite Volume Method (FVM)

Metode ini adalah pendekatan yang umum digunakan dalam CFD, persamaan

yang mengatur diselesaikan melalui volume kontrol diskrit. Metode volume

terbatas menyusun kembali persamaan diferensial parsial yang mengatur

(biasanya persamaan Navier-Stokes) dalam bentuk konservatif, dan kemudian

discretize persamaan baru.

2. Finite Element Method (FEM)

Digunakan dalam analisis struktural dari padatan, tetapi juga berlaku untuk cairan.

Namun, formulasi FEM membutuhkan perawatan khusus untuk memastikan

solusi konservatif. Perumusan FEM telah diadaptasi untuk digunakan dengan

dinamika fluida yang mengatur persamaan.Meskipun fem harus hati-hati

dirumuskan untuk menjadi konservatif, jauh lebih stabil dibandingkan dengan

pendekatan volume terbatas.

3. Finite Difference Method (FDM)

Memiliki sejarah penting dan sederhana untuk program. Hal ini hanya digunakan

dalam beberapa kode khusus. Modern Kode beda hingga menggunakan sebuah

batas tertanam untuk menangani geometri yang kompleks, membuat kodekode

yang sangat efisien dan akurat. Cara lain untuk menangani geometri termasuk

penggunaan tumpang tindih grid, dimana solusinya adalah interpolated di jaringan

masing-masing. Metode diskritisasi yang dipilih umumnya menentukan kestabilan

dari program numerik/CFD yang dibuat atau program software yang ada. Oleh karenanya, diperlukan kehati-hatian dalam cara mendiskritkan model khususnya

cara mengatasi bagian yang kosong atau diskontinu.

2.7 Metode CFD Menggunakan Perangkat Lunak FLUENT

CFD memungkinkan penyelesaian persamaan pembentuk aliran dengan

menggunakan suatu perhitungan numerik yang disebut dengan metode volume

hingga (finite volume methods).Untuk memudahkan perhitungan numerik, telah tersedia banyak perangkat lunak computer. Salah satu perangkat lunak yang

terkenal dalam perhitungan dan simulasi CFD adalah FLUENT. FLUENT [4]

adalah program komputer yang dikembangkan oleh ANSYS Inc. untuk

(21)

FLUENT merupakan salah satu jenis program CFD (Computational Fluid Dynamics) yang menggunakan metode diskritisasi volume hingga. FLUENT memiliki fleksibilitas mesh, sehingga kasus-kasus aliran fluida yang memiliki mesh tidak terstruktur akibat geometri benda yang rumit dapat diselesikan dengan

mudah. Selain itu, FLUENT memungkinkan untuk penggenerasian mesh lebih halus atau lebih besar dari mesh yang sudah ada berdasarkan pemilihan solusi aliran. Fluent menggunakan teknik control volume untukn mengubah persamaan

pembentuk aliran menjadi persamaan algebra sehingga dapat diselesaikan secara

numerik. Teknik controlvolume ini mengandung pengintegralan setiap persamaan pembentuk aliran pada tiap-tiap control volume, menghasilkan persamaan - persamaan diskrit yang mengkonservasikan tiap jumlah yang ada pada control volume. Secara lengkap langkah-langkah FLUENT dalam menyelesaikan suatu simulasi adalah sebagai berikut :

1. Membuat geometri dan mesh pada model.

2. Memilih solver yang tepat untuk model tersebut (2D atau 3D). 3. Mengimpor mesh model (grid).

4. Melakukan pemeriksaan pada mesh model. 5. Memilih formulasi solver.

6. Memilih persamaan dasar yang akan dipakai dalam analisa.

7. Menentukan sifat material yang akan dipakai.

8. Menentukan kondisi batas.

9. Mengatur parameter kontrol solusi.

10. Initialize the flow field.

11. Melakukan perhitungan/iterasi.

12. Menyimpan hasil iterasi.

Gambar

Tabel 2.1 Sifat dari Batang Kelapa sawit
Gambar 2.1
Gambar 2.2 Proses Pembakaran 4 Langkah
Gambar 2.4 Region aliran laminar dan turbulen pada plat datar
+2

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui formulasi campuran yang baik dalam pembuatan knalpot sepeda motor dengan bahan komposit polimer yang diperkuat serbuk

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui formulasi campuran yang baik dalam pembuatan knalpot sepeda motor dengan bahan komposit polimer yang diperkuat serbuk

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui formulasi campuran yang baik dalam pembuatan knalpot sepeda motor dengan bahan komposit polimer yang diperkuat serbuk

 Dari hasil analisa didapatkan koefisien kecepatan rata- rata pada sudu turbin ( ψ ) yaitu sebesar 0,846.  Dari grafik tekanan udara (p o ) terhadap effisiensi dapat

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui formulasi campuran yang baik dalam pembuatan knalpot sepeda motor dengan bahan komposit polimer yang diperkuat serbuk