• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINGKAT PENGETAHUAN IBU HAMIL TRIMESTER

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "TINGKAT PENGETAHUAN IBU HAMIL TRIMESTER"

Copied!
72
0
0

Teks penuh

(1)

i

KARYA TULIS ILMIAH

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat Tugas Akhir Pendidikan Diploma III Kebidanan

Disusun Oleh : IIN FITRI ASARI

NIM. B10.083

PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEBIDANAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA

SURAKARTA

(2)
(3)
(4)

iv

Karya Tulis Ilmiah yang berjudul : “Tingkat Pengetahuan Ibu hamil trimester III

tentang ASI Eksklusif di RB Marga Waluya Surakarta Tahun 2013”.

Karya Tulis Ilmiah ini disusun dengan maksud untuk memenuhi tugas akhir sebagai salah satu syarat kelulusan Prodi D III Kebidanan STIKes Kusuma Husada Surakarta.

Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan pengarahan dari berbagai pihak, Karya Tulis Ilmiah ini tidak dapat diselesaikan dengan baik. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Ibu Dra. Agnes Sri Harti, M.Si, selaku ketua STIKes Kusuma Husada Surakarta.

2. Ibu Dheny Rohmatika, S.SiT, selaku Ka. Prodi D III Kebidanan STIKes Kusuma Husada Surakarta

3. Ibu Anis Nurhidayati,S.ST.,M.Kes selaku Dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu untuk memberikan petunjuk dan bimbingan kepada penulis.

4. Ibu Trisiwi Tjipto Palupi SST.,SKM selaku pemilik RB Marga Waluya Surakarta yang telah bersedia memberika ijin pada penulis dalam pengambilan data.

(5)

v

Surakarta selaku responden yang telah membantu memberi informasi tentang ASI Eksklusif.

8. Semua pihak yang telah membantu dan memberikan dukungan dalam menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah.

Penulis menyadari Karya Tulis Ilmiah ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu penulis membuka saran demi kemajuan penelitian selanjutnya. Semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Surakarta, Mei 2013

(6)

vi

TINGKAT PENGETAHUAN IBU HAMIL TRIMESTER III TENTANG ASI EKSKLUSIF DI RUMAH BERSALIN MARGA WALUYA

SURAKARTA TAHUN 2013 (xii + 56 halaman + 14 lampiran + 8 tabel + 2 gambar)

ABSTRAK

Latar Belakang: Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia angka kematian bayi di Indonesia pada tahun 2007 yaitu 34 per 1000 kelahiran hidup. Tingginya kematian bayi dan neonatal disebabkan oleh rendahnya status gizi ibu hamil, rendahnya pemberian ASI, diare, asfiksia, ISPA. Pemberian ASI membantu bayi memulai kehidupan dengan baik, memberikan ASI Eksklusif akan menjamin nutrisi yang ideal, meningkatkan daya tahan tubuh bayi, membantu ibu memulihkan dari proses persalinan dan meningkatkan jalinan kasih sayang antara ibu dan bayi. Rendahnya cakupan keberhasilan pemberian ASI Ekslusif dipengaruhi oleh rendahnya pengetahuan ibu dan keluarga tentang ASI Eksklusif, Rumah Sakit yang tidak memberlakukan rooming in, fasilitas kesehatan yang memberikan susu formula pada bayi baru lahir dan ibu bekerja. Berdasarkan studi pendahuluan dari 10 ibu hamil, 3 berpengetahuan baik dan 7 berpengetahuan kurang tentang manfaat dan cara pemberian ASI Eksklusif belum mengetahui. Tujuan: Mengetahui tingkat pengetahuan ibu hamil trimester III tentang ASI Eksklusif di RB Marga Waluya Surakarta pada tingkat pengetahuan baik, cukup dan kurang.

Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif, dilakukan di RB Marga Waluya Surakarta pada tanggal 6 Februari-6 Maret 2013. Jumlah sampel 32 ibu hamil trimester III, teknik pengambilan sampel menggunakan sampling jenuh. Instrumen penelitian ini adalah kuesioner, variabel yang digunakan adalah variabel tunggal sedangkan analisis data dilakukan dengan analisis univariat.

Hasil Penelitian: Tingkat pengetahuan ibu hamil trimester III tentang ASI Eksklusif di RB Marga Waluya Surakarta dapat dikategorikan baik sebanyak 5 responden (15,6%), pengetahuan cukup sebanyak 21 responden (65,6%) dan pengetahuan kurang sebanyak 6 responden (18,8%).

Kesimpulan: Jadi tingkat pengetahuan ibu hamil trimester III tentang ASI Eksklusif di RB Marga Waluya Surakarta dapat dikategorikan cukup sebanyak 21 responden (65,6%).

(7)

vii

Ø Hidup adalah proses meniru sampai kamu sulit untuk ditiru.

Ø Jika kamu jadi orang yang buruk jangan jadi diri sendiri tapi jadilah dia yang selalu berusaha lebih baik.

Ø Hidup adalah suatu tantangan, yang harus diraih dengan perjuangan.

PERSEMBAHAN

Ø Ibu, Bapak dan adiku tercinta serta keluarga besarku, Terimakasih atas doa restunya dan kasih sayang selama ini.

Ø Ibu Anis Nurhidayati SST.M Kes Terimakasih atas bimbingan yang sangat berharga selama penyusunan proposal Karya Tulis Ilmiah sampai terselesainya Karya Tulis Ilmiah ini.

Ø Sahabat-sahabatku tercinta yang selalu menemaniku dan menyayangiku di saat suka dan duka kasih untuk kalian semua.

(8)
(9)

ix

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

ABSTRAK ... vi

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... vii

CURRICULUM VITAE ... viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Perumusan Masalah ... 4

C. Tujuan Penelitian ... 4

D. Manfaat penelitian ... 5

E. Keaslian Penelitian ... 6

F. Sistematika Penulisan ... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjuan Teori ... 9

1. Pengetahuan ... 9

(10)

x BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian... 36

B. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 36

C. Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel ... 37

D. Istrumen Penelitian ... 38

E. Teknik Pengumpulan Data ... 42

F. Variabel Penelitian ... 43

G. Definisi Operasional ... 43

H. Metode Pengolahan dan Analisis Data ... 44

I. Etika Penelitian ... 47

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Penelitian ... 48

B. Hasil Penelitian ... 48

C. Pembahasan ... 51

D. Keterbatasan Penelitian ... 54

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 55

B. Saran ... 55 DAFTAR PUSTAKA

(11)

xi

Tabel 3.1 Kisi-kisi kuesioner Uji Coba Instrument ... 39

Table 3.2 Kisi-kisi kuisioner Penelitian ... 40

Tabel 3.3 Definisi operasional tingkat pengetahuan ... 43

Table 4.1 Karakteristik responden berdasarkan umur... 49

Tabel 4.2 Karakteristik responden berdasarkan pendidikan ... 49

Table 4.3 Karakteristik responden berdasarkan pekerjaan ... 50

Tabel 4.4 Mean dan Standar Devisiasi ... 50

(12)

xii

(13)

xiii

Lampiran 2 : Surat Permohonan Izin Pengambilan Data Awal Lampiran 3 : Surat Balasan dari Rumah Bersalin

Lampiran 4 : Permohonan ijin Uji Coba Instrumen

Lampiran 5 : Surat Balasan dari lahan Uji Coba Instrumen Lampiran 6 : Surat Permohonan ijin Pengunaan lahan Lampiran 7 : Surat Balasan dari lahan

Lampiran 8 : Surat Permohonan Responden Lampiran 9 : Surat Persetujuan Responden Lampiran 10 : Kuesioner Uji Coba Instrumen Lampiran 11 : Kunci Jawaban Uji Coba Instrumen Lampiran 12 : Kuesioner Penelitian

Lampiran 13 : Kunci Jawaban Kuesioner Penelitian Lampiran 14: Data Tabulasi Uji Coba Instrumen Lampiran 15 : Hasil Uji Validitas

Lampiran 16 : Hasil Uji Reliabilitas

Lampiran 17 : Data Tabulasi Hasil Penelitian Lampiran 18 : Lembar Hasil Perhitungan Lampiran 19 : Lembar Konsultasi Proposal

(14)

1 A. Latar Belakang

Berdasarkan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 menunjukan penurunan Angka Kematian Bayi (AKB) dari 35 menjadi 34 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2007, namun masih jauh lebih tinggi dari target AKB dalam Milenium Development Goals (MDG’s) pada tahun 2015 sebesar 23 per 1000 kelahiran hidup. Sementara itu, angka kematian neonatal menurun sedikit dari 20 menjadi 19 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2007. Tingginya kematian bayi dan neonatal disebabkan oleh masih rendahnya status gizi ibu hamil, masih rendahnya pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif, masih tingginya angka kesakitan terutama diare, asfiksia dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) (Depkes RI, 2009).

(15)

Masih rendahnya cakupan keberhasilan pemberian ASI Eksklusif pada bayi, dipengaruhi banyak hal, diantaranya rendahnya pengetahuan dan kurangnya informasi pada ibu dan keluarga mengenai pentingnya pemberian ASI Eksklusif, tata laksana rumah sakit ataupun tempat bersalin yang seringkali tidak memberlakukan rooming-in (ibu dan bayi berada dalam satu kamar atau rawat gabung), fasilitas kesehatan memberikan susu formula kepada bayi baru lahir, banyak ibu bekerja yang mengangap repot menyusui sambil bekerja (Riksani, 2012).

Kehamilan trimester III adalah kehamilan dengan usia 29 – 40 minggu, masa ini merupakan suatu yang lebih berorientasi pada realitas untuk menjadi orang tua dan janin yang berkembang pada trimester ini (Simkin dan Penny, 2007). Kemampuan ibu untuk menyusui harus dipelajari karena tidak secara refleks. Para ibu harus menerima banyak informasi secara benar mengenai ASI untuk mencapai keberhasilan menyusui, berarti mereka perlu pengetahuan lebih awal (Suharti, 2009).

(16)

daya tahan tubuh. Pemberian ASI membantu ibu memulihkan diri dari proses persalinan. Pemberian ASI selama beberapa hari pertama membuat rahim berkontraksi dengan cepat dan memperlambat perdarahan (hisapan pada puting susu merangsang dikeluarkan oksitosin alami yang akan membantu kontraksi rahim). Wanita yang menyusui akan lebih cepat pulih turun berat badan dari berat badan yang bertambah saat kehamilan. Ibu yang menyusui dan belum haid setelah persalinan kecil kemungkinan untuk hamil (kadar prolaktin yang tinggi menekan hormon FSH dan ovulasi). Bagi ibu dan bayi ASI Eksklusif dapat meningkatkan jalinan kasih sayang yang erat antara ibu dan bayi baru lahir (Suherni dkk, 2009).

Dampak jika bayi tidak diberi ASI Eksklusif adalah daya tahan tubuh yang rendah, insiden karies gigi yang tinggi jika di beri susu formula, kejadian maloklusi rahang karna kebiasaan lidah yang mendorong kedepan akibat menyusu dengan botol dan kurang jalinan antara ibu dan bayi (Arif, 2009).

(17)

mengetahui tentang pengertian sedangkan manfaat dan cara pemberian ASI Eksklusif ibu belum mengetahui.

Mengingat pentingnya pemberian ASI Esklusif dan masih rendahnya cakupan keberhasilan pemberian ASI Eksklusif pada bayi dan masih ada ibu hamil trimester III yang kurang mengetahui ASI Eksklusif maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul ”Tingkat Pengetahuan Ibu

Hamil Trimester III tentang ASI Eksklusif di RB Marga Waluya Surakarta” Tahun 2013.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah : ”Bagaimana Tingkat Pengetahuan ibu Hamil Trimester III Tentang ASI Eksklusif di RB Marga Waluya Surakarta Tahun 2013?”.

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum

Mengetahui tingkat pengetahuan ibu hamil trimester III tentang ASI Eksklusif di RB Marga Waluya Surakarta Tahun 2013.

2. Tujuan khusus

(18)

b. Mengetahui tingkat pengetahuan ibu hamil trimester III tentang ASI Eksklusif di RB Marga Waluya Surakarta pada tingkat pengetahuan cukup.

c. Mengetahui tingkat pengetahuan ibu hamil trimester III tentang ASI Eksklusif di RB Marga Waluya Surakarta pada tingkat pengetahuan kurang.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi : 1. Ilmu Pengetahuan

Menambah perkembangan ilmu pengetahuan mengenai tingkat pengetahuan ibu hamil tentang ASI Eksklusif.

2. Diri Sendiri

Menerapkan ilmu yang diperoleh dalam pendidikan dan menambah wawasan serta pengalaman nyata dalam melaksanakan penelitian tentang ASI Eksklusif.

3. Intitusi Pendidikan

Dapat digunakan sebagai referensi dan sumber bacaan mengenai tingkat pengetahuan ibu hamil tentang ASI Eksklusif serta sebagai acuan untuk penelitian selanjutnya.

4. Rumah Bersalin

(19)

E. Keaslian Penelitian

Penelitian lain yang serupa pernah dilakukan oleh :

1. Luwis megawati (2012), judul penelitian “Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang ASI Eksklusif di Desa Ngrambe Kecamatan Ngrambe Kabupaten Ngawi”, Metode penelitian bersifat diskriptif kuantitatif, jumlah responden

41 ibu hamil, instrument penelitian mengunakan kuisioner, analisis data mengunakan analisis univariat. Hasil penelitian menunjukan bahwa pengetahuan ibu hamil tentang ASI esklusif di Desa Ngrambe Kecamatan Ngrambe Kabupaten Ngawi dapat dikategorikan pengetahuan baik sebanyak 4 responden (9,8 %), pengetahuan cukup sebanyak 29 responden (70,7 %), dan pengetahuan kurang sebanyak 8 responden (19,5 %).

2. Tri Rahayuningsih (2012), judul penelitian “Hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang ASI dengan pemberian kolostrum dan ASI Eksklusif di Kelurahan Purwoyoso Kecamatan Ngaliyan”, metode

(20)

bermakna antara pengetahuan ibu tentang ASI dengan pemberian kolostrum dan ASI Eksklusif.

Persamaan penelitian yang peneliti lakukan dengan penelitian sebelumnya adalah instrument penelitian, sedangkan perbedaan penelitian yang peneliti lakukan dengan penelitian sebelumnya adalah responden, lokasi, dan waktu penelitian. Responden dalam penelitian ini adalah ibu hamil trimester III yang berjumlah 32 responden. Penelitian ini dilaksanakan di RB Marga Waluya Surakarta dan waktu penelitian ini dilakukan tanggal 6 Februari – 6 Maret 2013.

F. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan Karya Tulis Ilmiah ini terdiri dari 5 bab, yaitu : BAB I PENDAHULUAN

Bab ini berisi tentang, latar belakang, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, keaslian penelitian dan sistematika penelitian.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

(21)

Eksklusif, komposisi ASI, pemberian ASI Eksklusif pada ibu bekerja, cara memeras ASI, cara penyimpanan ASI, kerangka teori dan kerangka konsep.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Bab ini berisi tentang jenis dan rancangan penelitian, lokasi dan waktu penelitian, populasi, sampel dan teknik pengambilan sampel, instrument penelitian, teknik pengumpulan data, variabel penelitian, definisi operasional, metode pengolahan data dan analisis data serta etika penelitian.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini berisikan tentang hasil penelitian, pembahasan hasil penelitian serta keterbatasan penelitian.

BAB V PENUTUP

Bab ini berisikan tentang kesimpulan dari penelitian dan saran. DAFTAR PUSTAKA

(22)

9 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori 1. Pengetahuan

a. Definisi pengetahuan

Pengetahuan (knowledge) adalah hasil tahu dari manusia, yang sekedar menjawab pertanyaan “what” (Notoatmodjo, 2010). Pengetahuan adalah apa yang diketahui oleh manusia atau hasil pekerjaan manusia menjadi tahu. Pengetahuan itu merupakan milik atau isi pikiran manusia yang merupakan hasil dari proses usaha manusia untuk tahu (Nashrulloh, 2009).

Pada dasarnya pengetahuan merupakan hasil tahu dari manusia terhadap sesuatu, atau segala perbuatan manusia untuk memahami suatu objek tertentu. Pengetahuan dapat berwujud barang-barang baik lewat indera maupun lewat akal, dapat pula objek yang dipahami oleh manusia berbentuk ideal atau yang bersangkutan dengan masalah kejiwaan (Notoatmodjo, 2010).

b. Tingkat pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2007), ada 6 tingkat pengetahuan yang dicapai dalam domain kognitif yaitu :

1) Tahu (know)

(23)

dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Tingkat pengetahuan ini meliputi menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan dan sebagainya.

2) Memahami (Comprehention)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat mengintreprestasikan materi tersebut secara benar, orang yang telah paham terhadap obyek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap obyek yang dipelajari.

3) Aplikasi (application)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk mengunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya, aplikasi ini diartikan dapat sebagai aplikasi atau pengunaan hukum-hukum, rumus metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.

4) Analisis (Analysis)

(24)

5) Sintesis (syintesis)

Sintesis adalah suatu kemampuan untuk meletakan atau mengabungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formasi baru dari informasi-informasi yang ada misalnya dapat menyusun, dapat menggunakan, dapat meringkaskan, dapat menyesuaikan terhadap suatu teori atau rumusan yang telah ada. 6) Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau obyek. Penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau mengunakan kriteria yang telah ada.

c. Cara memperoleh pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2010), cara untuk meperoleh kebenaran pengetahuan dapat dikelompokan menjadi dua yaitu cara tradisional (non ilmiah) tanpa melalui penelitian ilmiah dan cara modern (cara ilmiah) melelui proses penelitian. Lebih jelasnya dapat dijelaskan sebagai berikut :

1) Cara tradisional atau non ilmiah terdiri dari: a) Cara coba-salah (Trial and Error)

(25)

dilakukan dengan coba-coba. Cara coba-coba ini dilakukan dengan mengunakan beberapa kemungkinan dalam memecahkan masalah, dan apabila kemungkinan tersebut tidak berhasil, dicoba kemungkinan yang lain sampai masalah tersebut dapat terpecahkan.

b) Secara kebetulan

Pemenuhan kebenaran secara kebetulan terjadi karena tidak disengaja oleh orang yang bersangkutan.

c) Cara kekuasaan atau otoritas

(26)

d) Berdasarkan pengalaman sendiri

Pengalaman adalah guru terbaik demikian bunyi pepatah. Pepatah ini mengandung maksud bahwa pengalaman itu merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Oleh sebab itu pengalaman pribadipun dapat digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa lalu.

e) Cara akal sehat (common sense)

Akal sehat atau common sense kadang-kadang dapat menemukan teori atau kebenaran. Misalnya pemberian hadiah dan hukuman merupakan cara yang masih dianut oleh banyak orang untuk mendisiplinkan anak dalam konteks pendidikan.

f) Kebenaran melalui wahyu

Ajaran dan dogma agama adalah suatu kebenaran yang diwahyukan dari Tuhan melalui para Nabi. Kebenaran ini harus diterima dan diyakini oleh pengikut agama yang bersangkutan, terlepas dari apakah kebenaran tersebut rasional atau tidak. Sebab kebenaran ini diterima oleh para Nabi adalah sebagai wahyu dan bukan karena hasil usaha penalaran atau penyelidikan manusia. g) Kebenaran secara intuitif

(27)

penalaran atau berfikir. Kebenaran yang diperoleh melalui intuitif sukar dipercaya karena kebenaran ini tidak mengunakan cara yang rasional dan yang sistematis.

h) Melalui jalan pikiran

Sejalan dengan perkembangan kebudayaan umat manusia cara manusia berfikir ikut berkembang. Dari sini manusia mampu mengunakan penalaran dalam memperoleh pengetahuan. Induksi dan deduksi pada dasarnya merupakan cara melahirkan pemikiran secara tidak langsung melalui pernyataan-pernyataan yang dikemukakaan. Apabila proses pembuatan kesimpulan itu melalui pernyataan-pernyataan yang khusus kepada yang umum dinamakan induksi sedangkan deduksi adalah pembuatan kesimpulan dari pernyataan-pernyataan umum ke khusus.

i) Induksi

Induksi adalah proses penarikan kesimpulan yang dimulai dari pernyataan-pernyataan khusus ke pernyataan yang bersifat umum. Hal ini berarti dalam berfikir induksi pembuatan kesimpulan tersebut berdasarkan pengalaman-pengalaman empiris yang ditangkap oleh indera kemudian disimpulkan ke dalam suatu konsep yang memungkinkan seseorang untuk memahami suatu gejala.

j) Deduksi

(28)

berlaku bahwa sesuatu yang dianggap benar secara umum pada kelas tertentu, berlaku juga kebenaran pada semua peristiwa yang terjadi pada setiap yang termasuk dalam kelas itu.

2) Cara ilmiah atau modern

Cara baru atau dalam memperoleh pengetahuan pada dewasa ini lebih sisitematis, logis dan ilmiah. Cara ini disebut metode penelitian ilmiah, atau metodologi penelitian (research metodologi). Cara ini dikembangkan oleh Francis Bacon yang mengembangkan metode berfikir induktif kemudian dikembangkan oleh Deobold van Dallen yang menyatakan bahwa dalam memperoleh kesimpulan dilakukan dengan mengadakan observasi langsung dan membuat pencatatan-pencatatan terhadap semua fakta sehubungan dengan obyek yang diamatinya. Pencatatan ini mencakup tiga hal pokok :

a) Segala sesuatu yang positif, yakni gejala tertentu yang muncul saat dilakukan pengamatan.

b) Segala sesuatu yang negatif, yakni gejala tertentu yang tidak muncul pada saat dilakukan pengamatan.

c) Gejala-gejala yang muncul secara bervariasi yaitu gejala-gejala yang berubah-ubah kondisi-kondisi tertentu.

d. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan.

Menurut Cahyono (2009), ada beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang, yaitu :

1) Pendidikan

(29)

berlangsung seumur hidup, Pendidikan tersebut mempengaruhi proses belajar, makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah orang tersebut untuk menerima informasi. Pengetahuan sangat erat kaitanya dengan pendidikan dimana diharapkan seseorang dengan pendidikan tinggi, maka orang tersebut akan semakin luas pengetahuan. Peningkatan pengetahuan tidak mutlak diperoleh di pendidikan formal, akan tetapi juga dapat diperoleh pada pendidikan non formal.

2) Media masa/ informasi

Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal maupun non formal dapat memberikan pengaruh jangka pendek (immediet

impact) sehingga menghasilkan perubahan atau peningkatan

pengetahuan. Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media masa seperti televisi, radio, surat kabar, majalah, dan lain-lain mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan opini dan kepercayan orang. Dalam penyampaianya informasi sebagai tugas pokoknya, media masa membawa pula pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat mengarahkan opini seseorang.

3) Sosial budaya dan ekonomi

(30)

sehingga status sosial ekonomi ini akan mempengaruhi pengetahuan seseorang.

4) Lingkungan

Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar individu, baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Lingkungan berpengaruh terhadap proses masuknya pengetahuan ke dalam individu yang berada dalam lingkungan tersebut. Hal ini terjadi karena adanya interaksi timbal balik ataupun tidak yang akan direspon sebagai pengetahuan oleh setiap individu.

5) Pengalaman

Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suatu cara untuk memperoleh kebenaran suatu pengetahuan dengan cara mengulang kembali pengetahuan yang diperoleh dalam memecahkan masalah yang di hadapi masa lalu. Pengalaman belajar dalam bekerja yang dikembangkan memberikan pengetahuan dan ketrampilan professional serta pengalaman belajar selama bekerja akan dapat mengembangkan kemampuan mengambil keputusan yang merupakan manisfestasi dari keterpaduan menalar secara ilmiah dan etik yang bertolak dari masalah nyata dalam bidang kerja.

6) Usia

(31)

semakin membaik. Pada usia madya, individu akan lebih berperan aktif dalam masyarakat dan kehidupan sosial serta lebih banyak melakukan persiapan demi suksesnya upaya menyesuaikan diri menuju usia tua, selain itu orang usia madya akan lebih banyak menggunakan banyak waktu untuk membaca. Kemampuan intelektual, pemecahan masalah, dan kemampuan verbal dilaporkan hamper tidak ada penurunan pada usia ini.

e. Cara Pengukuran Pengetahuan

Arikunto (2006), menyebutkan bahwa pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subyek pendidikan atau responden.

Menurut Riwikdikdo (2009), digunakan perhitungkan sebagai berikut :

1) Baik : Bila nilai responden yang diperoleh (x) > mean +1 SD 2) Cukup : Bila nilai responden mean -1 SD ≤ x ≤ mean -1SD 3) Kurang : Bila nilai responden yang diperoleh (x) < mean -1 SD 2. Kehamilan

a. Pengertian

(32)

b. Tanda-tanda Kehamilan

Menurut Manuaba (2010), tanda-tanda kehamilan dibagi menjadi 3 yaitu :

1) Tanda dugaan kehamilan

i. Amenore

Amenore adalah terlambat datang bulan, karena adanya konsepsi

dan nidasi yang menyebabkan tidak terjadi pembentukan folikel de graff dan ovulasi.

ii. Mual dan muntah (emesis)

Pengaruh estrogen dan progesteron menyebabkan pengeluaran asam lambung yang berlebihan. Mual dan muntah terutama pada pagi hari disebut morning sickness.

iii. Ngidam

Wanita hamil sering menginginkan makanan tertentu. iv. Sinkope (pingsan)

Hal ini terjadi karena gangguan sirkulasi ke daerah kepala (sentral) menyebabkan iskemia susunan saraf dan menimbulkan sinkope atau pingsan. Keadaan ini menghilang setelah usia

kehamilan 16 minggu. v. Payudara tegang

(33)

vi. Sering miksi

Desakan rahim ke depan menyebabkan kandung kemih cepat terasa penuh dan sering miksi, pada triwulan kedua gejala ini sudah menghilang.

vii. Konstipasi atau obstipasi

Pengaruh progesterone dapat menghambat peristaltik usus sehingga menyebabkan kesulitan untuk buang air besar.

viii. Pigmentasi kulit

Keluarnya melanphore stimulating hormone dari hipofisis anterior menyebabkan pigmentasi kulit di sekitar pipi (striae livide, stiae nigra, linia alba makin hitam) dan sekitar payudara (hiperpigmentasi areola mamae, puting susu semakin menonjol). 2) Tanda kemungkinan hamil

a) Perut membesar b) Uterus membesar

c) Tanda hegar (hipertropi istmus, menjadi panjang dan lunak) d) Tanda Chadwick (hipervaskularisasi pada vagina dan vulva,

tampak lebih merah dan kelam)

e) Tanda piscaseck ( uterus membesar ke salah satu jurusan). f) Kontraksi-kontraksi kecil atau Braxton hicks.

g) Teraba ballottement

(34)

3) Tanda pasti kehamilan

a) Pada umur 20 minggu gerakan janin kadang-kadang dapat diraba secara obyektif oleh pemeriksa dan bagian-bagian janin dapat diraba pada kehamilan yang lebih tua.

b) Bunyi denyut jantung janin dapat didengar melalui Doppler pada umur kehamilan 9 – 10 minggu dan stetoskop Leannec umur kehamilan 17 – 22 minggu.

c) Pada Primigravida ibu dapat merasakan gerakan janinya pada usia kehamilan 18 minggu sedangkan multigravida umur 16 minggu.

d) Bila dilakukan pemeriksaan dengan sinar rontgent kerangka janin dapat dilihat.

c. Klasifikasi kehamilan

Menurut Manuaba (2010), kehamilan dibagi menjadi tiga triwulan: 1) Kehamilan trimester I : umur kehamilan 0 sampai 12 minggu 2) Kehamilan trimester II : umur kehamilan 13 sampai 28 minggu 3) Kehamilan trimester III :umur kehamilan 29 sampai 40 minggu d. Asuhan pada ibu hamil

Menurut Saryono (2010), pelayanan antenatal adalah pelayanan kesehatan oleh tenaga professional (dokter spesialis kebidanan, dokter umum, bidan, pembantu bidan dan perawat bidan) untuk ibu selama masa kehamilan, sesuai kebijakan program pelayanan asuhan antenatal harus sesuai standar yaitu “14 T “, meliputi :

(35)

2) Ukur tekanan darah 3) Ukur tinggi fundus uteri

4) Pemberian tablet Fe sebanyak 90 tablet selama kehamilan 5) Pemberian imunisasi TT

6) Pemeriksaan Hb 7) Pemeriksaan VRDL 8) Perawatan payudara

9) Senam payudara dan pijat tekan payudara

10) Pemeliharaan tingkat kebugaran /senam ibu hamil 11) Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan 12) Pemeriksaan protein urine atas indikasi 13) Pemeriksaan reduksi urine atas indikasi

14) Pemberian terapi kapsul yodium untuk daerah endemis gondok dan pemberian terapi anti malaria.

Apabila suatu daerah tidak bisa melaksanakan 14 T sesuai kebijakan dapat dilakukan standar minimal pelayanan ANC yaitu 7 T, yang meliputi :

1) Timbang berat badan 2) Ukur tekanan darah 3) Ukur tinggi fundus uteri

4) Pemberian tablet Fe sebanyak 90 tablet selama kehamilan 5) Pemberian imunisasi TT

(36)

Pelayanan asuhan antenatal ini hanya dapat diberikan oleh tenaga kesehatan professional dan tidak diberikan oleh dukun bayi (Wiknjosastro, 2005).

3. ASI Eksklusif a. Pengertian

ASI Eksklusif adalah hanya memberikan ASI kepada bayi, tidak memberikan tambahan dalam bentuk apapun dari usia 0 – 6 bulan (Riksani, 2012).

Untuk mencapai ASI Eksklusif, WHO dan UNICEF merekomendasikan metode tiga langkah. Langkah pertama adalah menyusui segera setelah melahirkan. Langkah kedua tidak memberikan makanan tambahan apapun pada bayi. Langkah ketiga menyusui sesering mungkin dan sebanyak yang diinginkan bayi. Melalui tiga langkah tersebut, diharapkan tujuan menyusui secara Eksklusif dapat tercapai (Suryoprayogo, 2009).

b. Manfaat menyusui

Menurut Kristiyanasari (2009), manfaat pemberian ASI, meliputi: 1) Manfaat ASI untuk Ibu

a) Aspek Kesehatan Ibu

(37)

karsinoma mammae pada ibu yang menyusui lebih rendah dibandingkan yang tidak menyusui.

b) Aspek Keluarga Berencana

Menyusui secara murni (Eksklusif) dapat membantu menjarangkan kehamilan. Ditemukan rata-rata jarak kelahiran ibu yang menyusui adalah 24 bulan, sedangkan yang tidak menyusui 11 bulan. Hormon yang mempertahankan laktasi bekerja menekan hormone ovulasi, sehingga dapat menunda kembali kesuburan. Ibu yang sering hamil menjadi beban ibu sendiri, juga merupakan risiko tersendiri bagi ibu untuk menderita penyakit seperti anemia, risiko kesakitan dan kematian akibat persalinan.

c) Aspek Psikologis

Keuntungan menyusui bukan hanya bermanfaat untuk bayi, tetapi juga untuk ibu. Ibu akan merasa bangga dan diperlukan oleh bayinya serta akan meningkatkan jalinan kasih sayang ibu dan bayi.

2) Manfaat ASI untuk bayi

a) Membantu memulai kehidupan dengan baik

Bayi yang mendapat ASI mempunyai kenaikan berat badan yang baik setelah lahir, pertumbuhan setelah periode perinatal baik, dan mengurangi kemungkinan obesitas.

b) Mengandung antibodi

(38)

ini akan cepat sekali menurun segera setelah bayi lahir. Pada saat kadar zat kekebalan bawaan menurun, sedangkan yang dibentuk oleh badan bayi belum mencukupi maka akan terjadi kesenjangan zat kekebalan pada bayi. Kesenjangan akan hilang atau berkurang apabila bayi diberi ASI, karena ASI adalah cairan yang mengandung zat kekebalan yang akan melindungi bayi dan berbagai penyakit infeksi bakteri, virus, parasit dan jamur.

Bayi yang diberi ASI Eksklusif ternyata akan lebih sehat dan lebih jarang sakit dibandingkan dengan bayi yang tidak mendapatkan ASI Eksklusif. Anak yang sehat tentu akan lebih berkembang kepandaianya dibanding anak yang sering sakit terutama bila sakitnya berat.

c) ASI mengandung komposisi yang tepat

ASI mengandung berbagai bahan makanan yang baik untuk bayi yaitu terdiri dari proporsi yang seimbang dan cukup kuantitas semua gizi yang diperlukan untuk kehidupan 6 bulan pertama.

d) Mengurangi kejadian karies dentis

(39)

e) Memberi rasa nyaman dan aman pada bayi dan adanya ikatan antara ibu dan bayi

Hubungan fisik ibu dan bayi baik untuk perkembangan bayi, kontak kulit ibu kekulit bayi yang mengakibatkan perkembangan psikomotor maupun sosial yang lebih baik.

f) Terhindar dari alergi

Pada bayi baru lahir system IgE belum sempurna. Pemberian susu formula akan merangsang aktivasi system ini dapat menimbulkan alergi. ASI tidak menimbulkan efek ini. Pemberian protein asing yang ditunda sampai umur 6 bulan akan mengurangi kemungkinan alergi.

g) ASI meningkatkan kecerdasan bagi bayi

Lemak pada ASI adalah lemak tak jenuh yang mengandung omega 3 untuk pematangan sel-sel otak sehingga jaringan otak bayi yang mendapat ASI Eksklusif akan tumbuh optimal dan terbebas dari rangsangan kejang sehingga menjadikan anak lebih cerdas dan terhindar dari kerusakan sel-sel saraf otak.

3) Manfaat ASI untuk Keluarga a) Aspek Ekonomi

(40)

bayi yang mendapat ASI lebih jarang sakit sehingga mengurangi biaya berobat.

b) Aspek psikologis

Kebahagiaan keluarga bertambah, karena kelahiran lebih jarang, sehingga suasana kejiwaan ibu baik dan dapat mendekatkan hubungan bayi dengan keluarga.

c) Aspek kemudahan

Menyusui sangat praktis, karena dapat diberikan dimana saja dan kapan saja. Keluarga tidak repot menyiapkan air masak, botol dot yang harus selalu dibersihkan. Tidak perlu minta pertolongan orang lain.

4) Manfaat ASI untuk Negara

a) Menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi

Adanya faktor protektif dan nutrisi yang sesuai dalam ASI menjamin status gizi bayi serta kesakitan dan kematian anak menurun. Beberapa penelitian epidemiologis menyatakan bahwa ASI melindungi bayi dan anak dari penyakit infeksi, misalnya diare, otitis media, dan infeksi saluran pernafasan akut bagian bawah.

b) Mengurangi subsidi untuk rumah sakit

(41)

mendapat ASI lebih jarang dirawat di rumah sakit dibandingkan anak yang mendapat susu formula.

c) Menghemat devisa Negara

ASI dapat dianggap sebagai kekayaan nasional. Jika semua ibu menyusui diperkirakan dapat menghemat devisa sebesar Rp. 8,6 milyar yang seharusnya dipakai untuk membeli susu formula. d) Peningkatan kualitas generasi penerus

Anak yang mendapat ASI dapat tumbuh kembang secara optimal sehingga kualitas generasi penerus bangsa akan terjamin. c. Komposisi ASI

ASI merupakan sumber gizi yang sangat ideal dengan komposisi seimbang dan disesuaikan dengan kebutuhan pertumbuhan bayi. ASI adalah makanan bayi yang paling sempurna baik kualitas maupun kuantitas. Dengan memberikan ASI secara eksklusif sampai 6 bulan akan menjamin tercapai pengembangan potensi kecerdasan anak secara optimal. Menurut Riksani (2012), komposisi yang terkandung dalam ASI, yaitu :

1) Lemak

(42)

2) Karbohidrat

Karbohidrat utama dalam ASI adalah laktosa yang kadar paling tinggi dibanding susu formula lain (7%). Laktosa mudah dipecah menjadi glukosa dan galaktrose denga bantuan enzim laktosa mempunyai manfaat lain yang mempertinggi absorbsi kalsium dan merangsang pertumbuhan lactobacillus bifidus.

3) Protein

Protein dalam ASI adalah kasein dan whey. Kadar protein ASI sebesar 0,9% sampai 60% diantaranya adalah whey yang lebih mudah dicerna dibanding kasein (protein utama susu sapi). Selain mudah dicerna, dalam ASI terdapat dua macam asam amino yang tidak terdapat dalam susu sapi yaitu sistin dan taurin. Sistin diperlukan untuk pertumbuhan somatik, sedangkan taurin untuk pertumbuhan otak.

4) Garam dan Mineral

(43)

5) Vitamin

ASI mengandung vitamin yang diperlukan bayi. Vitamin K yang berfungsi sebagai katalisator pada proses pembekuan darah terdapat dalam ASI dengan jumlah cukup dan mudah diserap. Dalam ASI juga terdapat vitamin D dan E terutama dalam kolostrum.

d. Pemberian ASI Eksklusif bagi ibu yang bekerja.

Semua ibu harus memberikan ASI Eksklusif, meskipun diketahui bahwa ibu bekerja. Adapun cara pemberian ASI pada ibu bekerja menurut Riksani (2012), dengan cara sebagai berikut :

1) Memastikan segala kelengkapan yang dibutuhkan dalam memerah ASI, seperti kotak pendingin. Memeriksa setiap hari sebelum berangkat kerja.

2) Sebelum berangkat kerja, menyusui bayi sampai bayi merasa kenyang. 3) Memakai baju yang nyaman, yang memudahkan ibu memerah ASI. Sebaiknya, ibu menggunakan baju dengan kancing depan agar mudah membukanya.

4) Bekerja dengan perasaan senang. Menghindari kecemasan karena secara langsung akan mempengaruhi produksi ASI.

5) Komunikasikan dengan rekan kerja dan atasan tentang jam-jam saat akan memerah ASI.

6) Mencari tempat yang nyaman, bersih, dan aman, untuk memerah ASI jika ditempat kerja belum disediakan ruangan khusus untuk menyusui. 7) Selama di kantor, ibu bisa memerah ASI 2-3 kali.

(44)

9) Setelah sampai dirumah, rendam botol ASI dalam mangkuk yang berisi air hangat lalu berikan ASI dengan sendok pada bayi.

e. Cara memerah ASI

Cara memerah ASI menurut Riksani (2012), bisa dilakukan dengan dua cara yaitu :

1) Mengunakan pompa

Cara menabung ASI perah yang paling baik dan efektif adalah dengan mengunakan alat pompa ASI Elektrik. Sayangnya di Indonesia harga alat ini masih lumayan mahal dan sulit didapat, sehingga jarang menjadi pilihan para ibu. Jenis lain adalah pompa piston. Prinsip kerja alat ini mirip suntikan, hingga memiliki keunggulan yaitu setiap jaringan pompa mudah sekali dibersihkan dan tekanan bisa diatur. 2) Mengunakan Jari

Memeras ASI menggunakan alat apapun yang paling murah adalah memerah menggunakan jari. Sebenarnya bukan hanya murah, melainkan juga praktis, karena memerlukan tangan dan tahu tehnik memeras ASI, yaitu meliputi :

a) Memeras/ memompa ASI setiap 3-4 jam sekali secara teratur, ini perlu dilakukan agar produksi ASI tetap terjaga dan payudara terhindar dari bengkak.

(45)

c) Semua peralatan yang akan digunakan telah disterilkan terlebih dahulu, misalnya breast pump, botol ASI, piring kecil/wadah tempat ASI dan sebagainya.

d) Memilih tempat yang tenang dan nyaman pada saat memeras susu. e) Cuci tangan dengan sabun sedangkan payudara dibersihkan dengan

air.

f) Sebelum memulai, minumlah segelas air atau cairan lain misalnya susu, jus, teh.

g) Saat memerah ASI ibu harus dalam kondisi yang santai. Kondisi psikologis ibu menyusui sangat menentukan keberhasilan ASI Eksklusif.

f. Cara menyimpan ASI

Cara penyimpanan ASI menurut Suherni dkk (2009), yaitu : 1) Wadah

Gelas plastik pakai ulang dan wadah yang memiliki sisi keras dianggap sebagai penyimpanan ASI terbaik. Setiap wadah harus memiliki penutup yang pas dengan wadah. Kantong plastik yang telah dirancang khusus oleh pabrik juga tersedia untuk pengumpulan dan menyimpan ASI. Beberapa kantong plastik ini dengan wadah tempat ASI dipompa ke sistem pemompaan dan kantong juga pas dengan botol susu bayi. Kantong mudah terkontaminasi saat penanganan.

(46)

sakit akan memberikan label untuk ASI ibu, yaitu tanggal pemompaan, nomor, identitas pasien, unit dan lain-lain. Jika ASI akan diberikan di penitipan anak, nama bayi harus jelas dibaca dan ditulis dengan tinta anti air dan anti gosok.

2) ASI dapat disimpan di suhu ruang, dilemari pendingin atau freezer. a) Penyimpanan ASI di suhu ruang atau udara bebas 36˚ bertahan

selama 6-8 jam.

b) Penyimpanan ASI di lemari pendingin (4˚ C) selama 24 jam. c) ASI dapat disimpan hingga 3 bulan di dalam freezer dan 6 bulan

dalam suhu -7˚ C atau kurang.

d) Selama seharian ASI pompa dalam jumlah sedikit yang didinginkan dapat ditambah ke dalam penyimpanan ASI di lemari pendingin.

(47)

B. Kerangka Teori

f) g) h) i)

Gambar 2.1. Kerangka Teori

Sumber: Modifikasi Notoatmodjo (2010), Manuaba (2012) dan Riksani (2012) Tingkat pengetahuan:

Pengetahuan Kehamilan ASI Eksklusif

(48)

C. Kerangka Konsep

Keterangan :

= Variabel yang di teliti = Variabel yang tidak di teliti

Gambar 2.2. Kerangka Konsep Tingkat Pengetahuan

Ibu Hamil Trimester III Tentang ASI

Exklusif

Baik

Cukup

Kurang

Faktor-faktor yang

mempengaruhi pengetahuan : 1. Pendidikan

2. Media masa/informasi 3. Sosial budaya dan

(49)

36 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian

Ditinjau dari segi tujuan penelitian yang hendak dicapai, penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kuantitatif. Menurut Notoatmodjo (2010), deskriptif adalah penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk

membuat gambaran atau diskripsi suatu keadaan secara objektif. Menurut Arikunto (2010), penelitian kuantitatif, dituntut menggunakan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan dari hasilnya

Penelitian ini menggambarkan tingkat pengetahuan ibu hamil trimester III tentang ASI Eksklusif.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

1. Lokasi merupakan tempat atau lokasi pengambilan penelitian (Notoatmodjo, 2010). Penelitian ini dilaksanakan di RB Marga Waluya Surakarta.

(50)

C. Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel 1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian (Arikunto, 2010). Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil trimester III yang datang memeriksakan kehamilanya di RB Marga Waluya Surakarta pada 6 Februari – 6 Maret 2013 dengan jumlah ibu hamil trimester III adalah sebanyak 32 orang.

2. Sampel

Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan obyek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2005). Jumlah sampel yang diambil jika populasi kurang dari 100 lebih baik diambil semua, tetapi jika populasi lebih dari 100 dapat diambil 10% -15% atau 20% -25% atau lebih (Arikunto, 2006). Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil trimester III yang berkunjung di RB Marga Waluya Surakarta pada 6 Februari – 6 Maret 2013 yang berjumlah 32 orang.

3. Teknik Pengambilan Sampel

(51)

D. Instrumen Penelitian

Alat pengumpul data yang digunakan untuk mengukur tingkat pengetahuan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Menurut Arikunto (2010), kuesioner adalah sejumlah pernyataan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang diketahui dan sudah disediakan jawabannya.

(52)

Tabel 3.1 Kisi-kisi Kuesioner Uji Coba Instrumen

Variabel Indikator Favorabel Unfavorabel Jumlah Item

reliabilitas untuk mendapatkan hasil yang berkualitas. Responden yang digunakan untuk uji coba sebaiknya memiliki ciri-ciri responden dari tempat dimana penelitian tersebut akan dilaksanakan (Notoatmodjo, 2010).

Uji coba instrument penelitian ini dilakukan di RB An Nur Surakarta tanggal 16 - 29 Desember 2012 dengan jumlah responden 30 orang ibu hamil trimester III. Menurut Mahfoed (2007), alasan jumlah responden 30 orang adalah karena kaidah umum penelitian agar diperoleh distribusi nilai hasil penelitian mendekati kurva normal.

1. Uji Validitas

(53)

Product Moment (0,361) dengan taraf signifikasi 0,05. Suatu item dikatakan valid apabila nilai rhitung > rtabel (Hidayat, 2007). Rumus Pearson Product Moment adalah sebagai berikut:

rxyxy

Keterangan:

rxy : Koefisien korelasi

x : Skor item atau pertanyaan y : Skor total (item)

N : Jumlah responden

(54)

Tabel 3.2 Kisi-kisi Kuesioner Penelitian

Variabel Indikator Favorabel Unfavorabel Jumlah

Item pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan (Notoatmodjo, 2010). Untuk menguji reliabilitas pada instrumen ini menggunakan Alpha Cronbach.

Rumus Alpha Cronbach adalah sebagai berikut: r11 =

Keterangan:

r11 : Reliabilitas instrumen

k : Jumlah butir pertanyaan atau banyaknya soal ∑σb² : Jumlah varian butir

(55)

Instrument dikatakan reliabel bila nilai rhitung > rkriteria (0,60) (Ghozali, 2005). Berdasarkan uji coba reliabilitas didapatkan nilai Alpha Chronbach 0,804. Nilai ini >0,60, sehingga instrumen dikatakan reliabel.

E. Teknik Pengumpulan Data

Cara pengumpulan data dilakukan dengan cara memberikan lembar pernyataan persetujuan (informed consent) dan membagikan kuesioner pada responden, kemudian menjelaskan tentang cara pengisian. Responden diminta mengisi kuesioner dan kuesioner diambil pada saat itu juga oleh peneliti. Jenis data yang diperoleh terdiri dari :

1. Data Primer

Data primer diperoleh secara langsung dari sumbernya atau obyek penelitian oleh peneliti perorangan atau organisasi (Riwidikdo, 2009). Data primer dalam penelitian ini adalah pengetahuan ibu hamil trimester III tentang ASI Eksklusif di RB Marga Waluyo, yang didapat dari pengisian kuisioner yang diisi ibu hamil trimester III tersebut.

2. Data Sekunder

(56)

F. Variabel Penelitian

Variabel penelitian adalah ukuran atau ciri yang dimiliki oleh anggota-anggota suatu kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki oleh kelompok lain (Notoatmodjo, 2010). Dalam penelitian ini hanya menggunakan variabel tunggal yaitu pengetahuan ibu hamil trimester III tentang ASI Eksklusif.

G. Definisi Operasional

Definisi operasional adalah mendefinisikan variabel secara operasional berdasarkan karakteristik yang diamati, memungkinkan peneliti untuk melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu obyek atau fenomena (Hidayat, 2007).

Tabel 3.3 Definisi Operasional Tingkat Pengetahuan

No Variabel Definisi operasional Alat Ukur Skala

(57)

H. Metode Pengolahan dan Analisis Data 1. Metode Pengolahan Data

Setelah data terkumpul dari hasil pengumpulan data kemudian dilakukan pengolahan data. Hal ini disesuaikan dengan tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini. Menurut Hidayat (2007), langkah-langkah yang harus dilakukan alah sebagai berikut :

a. Editing (Penyuntingan Data)

Editing ialah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang

diperoleh. Editing dapat dilakukan pada tahap pengumpulan atau setelah data terkumpul.

b. Coding (Membuat Lembaran atau Kartu Kode)

Coding adalah kegiatan pemberian kode numerik (angka) terhadap

data yang terdiri atas beberapa kategori. Pemberian kode ini sangat penting bila pengolahan dan analisis data menggunakan komputer. Biasanya dalam pemberian kode dibuat juga daftar kode dan artinya dalam satu buku (code book) untuk memudahkan kembali melihat lokasi dan arti suatu kode dari suatu variabel.

c. Data Entry (Memasukkan Data)

(58)

d. Tabulating

Dalam melakukan analisis, khususnya terhadap data penelitian akan menggunakan ilmu statistik terapan yang disesuaikan dengan tujuan yang hendak dianalisis. Apabila penelitiannya deskriptif, maka akan menggunakan statistik deskriptif. Statistik deskriptif (menggambarkan) adalah statistik yang membahas cara-cara meringkas, menyajikan dan mendeskripsikan suatu data dengan tujuan agar mudah dimengerti dan lebih mempunyai makna.

2. Analisis Data

Dalam penelitian ini menggunakan analisis univariat yaitu menganalisis terhadap variabel dari hasil tiap penelitian untuk menghasilkan distribusi frekuensi dan prosentase dari tiap variabel (Notoatmodjo, 2010). Pengambilan kesimpulan diambil dari prosentase angka hasil pengumpulan data yang dinilaikan. Selanjutnya, data dimaknai dengan parameter yang telah ditentukan, yaitu sebagai berikut:

a. Pengetahuan baik : bila nilai responden (x) > mean + 1 SD b. Pengetahuan cukup : bila nilai mean – 1 SD ≤ x ≤ mean + 1 SD c. Pengetahuan kurang : bila nilai responden (x) < mean – 1 SD (Riwidikdo, 2010)

(59)

a. Mean

Keterangan : x : Mean

n : Jumlah responden xi : Nilai responden

b. Standard Deviation

Keterangan :

SD : Standard Deviation xi : Nilai responden n : Jumlah responden

Sedangkan rumus prosentase untuk jumlah ibu hamil trimester III berdasarkan tingkat pengetahuannya (Riwidikdo, 2010) adalah sebagai berikut:

Skor prosentase =

Jumlah ibu menurut tingkat pengetahuan

(60)

I. Etika Penelitian

Dalam melakukan penelitian pada responden peneliti harus memperlihatkan etika penelitian. Menurut Hidayat (2007), etika dalam penelitian yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut:

1. Informed Consent (Lembar Persetujuan)

Informed consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dengan

responden penelitian dengan memberikan lembar persetujuan sebelum penelitian dilakukan. Tujuan dari informed consent adalah agar subyek mengerti maksud dan tujuan penelitian, mengetahui dampaknya. Jika subyek bersedia, maka harus menandatangani lembar persetujuan. Jika subyek tidak bersedia, maka peneliti harus menghormati hak pasien dan tidak boleh memaksa.

2. Anonimity (Tanpa Nama)

Anonimity adalah tidak mencantumkan nama responden pada lembar kuesioner dan hanya menuliskan kode pada lembar kuesioner.

3. Confidentiality (Kerahasiaan)

(61)

48 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

G. Gambaran Umum Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di RB Marga Waluya Surakarta yang merupakan salah satu Rumah Bersalin yang berada di daerah Surakarta. Lokasinya berada di daerah Jl. Mangun Sarkoro No. 89 Komplang, Surakarta. RB Marga Waluya di pimpin oleh seorang bidan dan memiliki 5 orang bidan. Jenis pelayanan yang diberikan yaitu kesehatan ibu dan anak, meliputi pemeriksaan USG, ANC, imunisasi, pelayanan KB, pemeriksaan balita sakit, pijat bayi, serta pertolongan persalinan. Untuk menunjang pelayanan kebidanan RB Marga Waluya memiliki 1 kamar bersalin, 4 kamar nifas dan 1 kamar periksa. Waktu pelayanan 24 jam kecuali imunisasi yaitu BCG dan campak setiap hari selasa pada minggu pertama tiap bulanya dan DPTHB hari selasa minggu kedua tiap bulannya.

H. Hasil Penelitian

1. Karakteristik Responden

(62)

a. Karakteristik responden berdasarkan umur Tabel 4.1

Karakteristik responden berdasarkan umur

No. Responden Frekuensi Prosentase (%)

1 < 20 1 3,13 terbanyak adalah 20-35 tahun yaitu 31 responden (96,87%).

b. Karakteristik responden berdasarkan pendidikan Table 4.2

Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan

No. Responden Frekuensi Prosentase

(63)

50

c. Karakteristik resonden berdasarkan pekerjaan Table 4.3

Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan

No. Pekerjaan Frekuensi Prosentase (%)

1 PNS 2 6,26

2 IRT 7 21,87

3 Pegawai Swasta 16 50,00

4 Lain-lain (pedagang) 7 21,87

Total 32 100%

Sumber : Data Primer

Berdasarkan tabel diatas kelompok responden bekerja sebagai PNS sebanyak 2 responden (6,26%), IRT sebanyak 7 responden (21,87%), pegawai swasta sebanyak 16 responden (50,00%), lain-lain (pedagang) sebanyak 7 responden (21,87%). Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa pekerjaan responden paling banyak sebagai Pegawai Swasta yaitu 16 responden (50,00%).

2. Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui nilai Mean dan Standar Deviasi seperti pada tabel berikut ini:

Tabel. 4.4 Mean dan Standar Deviasi

Variabel Mean Standar Deviasi

Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Trimester III tentang ASI Eksklusif

(64)

Tabel. 4.5 Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Trimester III tentang ASI Eksklusif di RB Marga Waluya Surakarta

No. Pengetahuan Jumlah Prosentase (%)

1. Eksklusif di RB Marga Waluya Surakarta pada kategori pengetahuan baik sebanyak 5 responden (15,62%), pengetahuan cukup sebanyak 21 responden (65,63%) dan pengetahuan kurang sebanyak 6 responden (18,75%). Jadi tingkat pengetahuan ibu hamil trimester III tentang ASI Eksklusif di RB Marga Waluya dapat dikategorikan dalam pengetahuan cukup yaitu sebanyak 21 responden (65,63%).

I. Pembahasan

Menurut Notoatmodjo (2010), pengetahuan (knowledge) adalah hasil tahu dari manusia, yang sekedar menjawab pertanyaan “what”. Menurut Nashrulloh (2009), pengetahuan adalah apa yang diketahui oleh manusia atau hasil pekerjaan manusia menjadi tahu. Pengetahuan itu merupakan milik atau isi pikiran manusia yang merupakan hasil dari proses usaha manusia untuk tahu. Salah satu pengetahuan yang harus di miliki oleh seorang ibu hamil adalah pengetahuan tentang ASI Eksklusif.

(65)

6 bulan. Menurut Kristiyanasari (2009), manfaat pemberian ASI bagi ibu membantu involusi uterus, mencegah terjadi perdarahan pasca persalinan, penundaan haid, mengurangi prevalensi anemia defisiensi besi, mengurangi kejadian karsinoma mammae, membantu menjarangkan kehamilan, ibu akan merasa bangga dan diperlukan oleh bayinya dan meningkatkan jalinan kasih sayang ibu dan bayi. Manfaat ASI bagi bayi antara lain membantu memulai kehidupan dengan baik, mengandung antibodi, mengandung komposisi yang tepat, mengurangi kejadian karies dentis, memberi rasa nyaman dan aman pada bayi, adanya ikatan antara ibu dan bayi, terhindar dari alergi dan meningkatkan kecerdasan bagi bayi.

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan tingkat pengetahuan ibu hamil trimester III tentang ASI Eksklusif di RB Marga Waluya Surakarta dapat dikategorikan pengetahuan baik sebanyak 5 responden (15,62%), pengetahuan cukup sebanyak 21 responden (65,63%) dan pengetahuan kurang sebanyak 6 responden (18,75% ). Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Luwis Megawati (2012), dengan judul Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang ASI Eksklusif di Desa Ngrambe Kecamatan Ngrambe Kabupaten Ngawi, berdasarkan hasil penelitian sebagian besar responden berpengetahuan cukup sebanyak 29 responden (70,75%).

(66)

seumur hidup, makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah orang tersebut untuk menerima informasi. Berdasarkan penelitian pendidikan responden paling besar adalah SMA yaitu 14 responden (43,75%). Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal maupun non formal dapat memberikan pengaruh jangka pendek (immediet impact) sehingga menghasilkan perubahan atau peningkatan pengetahuan. Status ekonomi menentukan tersedianya suatu fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan tertentu, sehingga status sosial ekonomi ini akan mempengaruhi pengetahuan seseorang.

(67)

dalam penelitian ini berusia 20 – 35 tahun yaitu 31 responden (96,87%) (Cahyono, 2009).

Berdasarkan hasil penelitian, sebagian besar responden berpengetahuan cukup tentang ASI Eksklusif. Pengetahuan tentang ASI Eksklusif penting bagi ibu hamil karena pengetahuan dapat mempengaruhi keberhasilan dalam pemberian ASI Eksklusif.

J. Keterbatasan Penelitian 1. Kendala penelitian

Kendala yang dihadapi peneliti pada saat melakukan penelitian adalah tidak bisa mengumpulkan responden dalam satu waktu, sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama dan setiap responden memiliki waktu luang yang berbeda dalam menjawab kuesioner.

2. Kelemahan/ Keterbatasan

a. Variabel penelitian ini merupakan variabel tunggal, sehingga hasil penelitian terbatas pada tingkat pengetahuan ibu hamil trimester III tentang ASI Eksklusif saja.

(68)

55 BAB V PENUTUP

K. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Tingkat pengetahuan ibu hamil trimester III tentang ASI Eksklusif di RB Marga Waluya Surakarta dalam kategori baik sebanyak 5 responden (15,62%).

2. Tingkat pengetahuan ibu hamil trimester III tentang ASI Eksklusif di RB Marga Waluya Surakarta dalam kategori cukup sebanyak 21 responden (65,63%).

3. Tingkat pengetahuan ibu hamil trimester III tentang ASI Eksklusif di RB Marga Waluya Surakarta dalam kategori kurang sebanyak 6 responden (18,75%).

L. Saran

1. Ibu Hamil atau Masyarakat

(69)

2. Rumah Bersalin

Diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan khususnya dalam pemberian KIE tentang ASI Eksklusif sehingga dapat meningkatkan keberhasilan dalam pemberian ASI.

3. Institusi Pendidikan

Diharapkan dapat menambah atau melengkapi sumber bacaan khususnya tentang ASI Eksklusif

4. Tenaga Kesehatan (Bidan)

Diharapkan memberikan penyuluhan tentang ASI Eksklusif pada ibu hamil secara dini sehingga pengetahuan ibu hamil baik dan dapat menerapkan pemberian ASI.

5. Peneliti Selanjutnya

(70)

DAFTAR PUSTAKA

Arif, N. 2009. ASI dan Tumbuh Kembang Bayi, Jogjakarta: Medpress.

Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka cipta.

––––––––––––––––. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan praktik. Jakarta:

Rineka cipta.

Cahyono, P. 2009. Konsep Pengetahuan. http://www.cahyonoputra.blogspot/ konsep pengetahuan. html. Diakses tanggal 2 November 2012.

Dinkes RI. 2005. Konseling Menyusui. Jakarta.

Dinkes RI. 2005. Angka Kematian Ibu Melahirkan Masih Tinggi. Available: http://www.dinkesjatengprov.co.id. Diakses tanggal 3 Oktober 2012.

Depkes. 2010. MDGs Bidang kesehatan. http://www//1456-depkes-target mdgs-bidang-kesehatan.html. Diakses tanggal 25 Oktober 2012.

(71)

Hidayat, A. 2007. Metode penelitian kebidanan teknik analisis data. Jakarta: Rineka cipta.

––––––––––––-. 2010. Metode Penelitian Kebidanan Teknik Analisis Data.

Jakarta: Rineka cipta.

Kristianasari, W. 2009. ASI, Menyusui dan Sadari. Jogjakarta: Nuha Medika.

Manuaba, I . A . C 2008. 2010 Ilmu Penyakit Kandungan dan KB untuk pendidikan Bidan, Jakarta: ECG.

Mahfoed, I. 2007. Metodologi Penelitian Bidang Kesehatan, Keperawatan dan Kebidanan. Yogyakarta: Fitramaya.

Nasrulloh, A. 2009. Perbedaan Antara Ilmu dan Pengetahuan. Melalui http://www.filsafatindonesia1001wordpres.com. Diakses tanggal 20 Oktober 2012.

Notoatmodjo, S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

(72)

Riwidikdo, H. 2009 . Statistik untuk Penelitian Kesehatan dengan Aplikasi Program R dan SPSS. Yogyakarta: Pustaka Rihama.

–––––––––––––––––. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Saryono. 2010 . Standart dan Kunjungan ANC. http://www.standart–anc-14t– and–kunjungan-anc.htm. Diakses tanggal 1 November 2012.

Simkin, Penny. 2007 . Panduan Lengkap Kehamilan dan Bayi Edisi Revisi. Jakarta : ECG.

Suherni, dkk. 2009. Perawatan Masa Nifas. Edisi 3. Yogyakarta: Fitra Maya. Suryoprayogo, N. 2009. Keajaiban Menyusui. Yogjakarta: Keyword.

Gambar

Gambar 2.1.  Kerangka Teori
Gambar 2.2.  Kerangka Konsep
Tabel 3.1 Kisi-kisi Kuesioner Uji Coba Instrumen
Tabel 3.2 Kisi-kisi Kuesioner
+4

Referensi

Dokumen terkait

Makanan tambahan atau makanan pendamping ASI (MP-ASI) adalah makanan yang diberikan kepada bayi disamping ASI untuk memenuhi kebutuhan gizinya, MP-ASI diberikan mulai umur 6-24

Latar belakang : Pada awal bayi dilahirkan, sampai empat sampai enam bulan sistem pencernaannya masih belum sempurna sehingga paling tepat diberikan air susu ibu (ASI)

ASI merupakan makanan bayi yang paling utama dan aman untuk bayi karena mengandung zat gizi yang paling sesuai dan tepat komposisinya dengan kebutuhan

a. Pemberian ASI saja kepada bayi 0-6 bulan tanpa makanan padat b. Pemberian ASI kepada bayi 6-12 bulan dengan makanan padat. c. Pemberian ASI ditambah makanan padat dan susu

Tujuan pemberian MP-ASI adalah untuk menambah energi dan zat-zat gizi yang diperlukan bayi karena ASI tidak dapat memenuhi kebutuhan bayi secara terus menerus,

Gizi seimbang ibu hamil adalah makanan yang mengandung zat-zat yang dibutuhkan ibu selama kehamilan dalam susunan yang seimbang dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan gizi ibu

Makanan utama dan pertama bagi bayi adalah ASI, khususnya ASI eksklusif tidak dapat digantikan oleh susu manapun mengingat komposisi ASI yang sangat ideal dan sesuai kebutuhan

TINGKAT PENGETAHUAN IBU HAMIL TRIMESTER III TENTANG PEMBERIAN KOLOSTRUM PADA BAYI BARU LAHIR di PUSKESMAS PADEMANGAN PERIODE MARET – APRIL 2014 KARYA TULIS ILMIAH Diajukan Untuk