• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian Tindakan Kelas PTK dalam Pemb

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Penelitian Tindakan Kelas PTK dalam Pemb"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)

dalam PEMBELAJARAN MATEMATIKA

Kutipan:

(2)

Kata Pengantar

Lampiran 1. Contoh Format Proposal PTK Lampiran 2. Contoh Format Laporan PTK

(3)

Gambar 1. Model Dasar Penelitian Tindakan Kelas Kurt Lewin Gambar 2. Model Perluasan PTK Kurt Lewin

Gambar 3. Model PTK Kemmis dan McTaggart Gambar 4. Model PTK O’leary

10 10 11 12

(4)

A. Pendahuluan

Ada empat komponen penting yang menjadi arsitektur pembelajaran

matematika, yaitu guru, siswa, interaksi sosial dan sarana matematika (mathematical tools). Guru memiliki peran yang sangat strategis dalam mewujudkan pembelajaran matematika yang bersifat construction of knowledge (membangun pengetahuan) bukan transfer of knowledge (memindahkan pengetahuan). Dengan terlaksananya peran tersebut, siswa dapat menjadi pemeran utama dalam pembelajaran ( students-centered), muncul interaksi sosial multi-arah (segitiga emas interaksi guru dan siswa), dan sarana matematika (misalnya representasi) bisa digunakan dengan baik.

Pandangan konstruktivis menjadi acuan bahwa siswa memiliki pengetahuan atau

pengalaman awal yang bisa digunakan dalam pembelajaran sehingga siswa memiliki

modal membangun pengetahuan. Glaserfeld (1995) menegaskan bahwa pengetahuan

tidak secara pasif diterima tetapi secara aktif dibangun dan dikembangkan. Interaksi

sosial dalam kelas melalui negosiasi, kolaborasi dan diskusi mendukung siswa dalam

membangun pengetahuan (Vygotsky, 1978; Hoyles, Healey, dan Sutherland, 1990).

Tugas matematika (mathematical task), representasi, dan multimedia matematika sebagai sarana matematika melengkapi proses membangun pengetahuan tersebut.

Jika pembelajaran matematika yang banyak ditemui di kelas masih fokus pada

perhitungan (drill), peran guru lebih dominan (teacher-centered), siswa belum diberikan kesempatan dan didorong untuk menyampaikan pendapat (reasoning), tidak membangun pemahaman konsep (conceptual knowledge), belum berorientasi pemecahan masalah (problem solving), dan tidak dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari (Wahyu dan Sofyan, 2016) maka keempat komponen arsitektur pembelajaran

matematika tersebut belum berfungsi dan/atau difungsikan sebagaimana mestinya.

Dalam hal ini, guru matematika sebagai sang arsitek menjadi epicentrum perhatian

karena guru yang memiliki otoritas untuk memfungsikan ketiga komponen lain.

Melakukan refleksi terhadap proses dan hasil belajar merupakan salah satu cara

guru mengetahui komponen mana yang perlu diperbaiki untuk mendapatkan hasil

pembelajaran yang optimal. Kegiatan refleksi bisa dilakukan dalam bentuk penelitian.

Salah satu jenis penelitian yang mengakomodasi tindakan refleksi dan peran guru

(5)

guru dalam memperbaiki pembelajaran. Melalui penelitian, guru bisa mendesain

pembelajaran, melaksanakan dan mengukur capaiannya. Tulisan ini membahas

penelitian tindakan kelas dalam pembelajaran matematika. Bagaimana guru

matematika melaksanakan PTK akan menjadi salah satu fokus kajian.

B. Konsep Dasar PTK 1. Sejarah PTK

Melacak sejarah pelaksanaan penelitian tindakan kelas memerlukan

banyak referensi, khususnya untuk mengetahui secara pasti siapa yang memulai

dan kapan dimulainya PTK. Lahirnya PTK berawal dari penelitian tindakan yang

banyak dilakukan di berbagai bidang. McNiff dan Whitehead (2006) menyatakan

bahwa penelitian tindakan dimulai dari penelitian John Collier pada tahun 1930

dan Kurt Lewin di tahun 1940.

Baru pada tahun 1950, penelitian tindakan memasuki ranah pendidikan,

khususnya dalam profesi guru, dan buku Stephen Corey (1953) yang berjudul

Action Research to Improve School Practices menjadi terkenal di Amerika. Hal ini juga bisa dipandang dalam konteks perkembangan pendidikan progresif di tahun

1960 (McNiff dan Whitehead, 2006).

Tahun 1976, didirikan jaringan penelitian tindakan kelas, dinamakan

Classroom Action Research yang berpusat di Cambridge Institute. Selanjutnya

pada tahun 1980-an, guru-guru di proyek John Elliot memusatkan kegiatan pada adanya kesenjangan antara mengajar untuk pemahaman dan mengajar untuk kebutuhan’ Wulandari, . Setelah itu, Patricia Cross (dalam Sukayati, 2008) pada tahun 1986 mengajukan sebuah cara sistematis untuk pengajaran yang

dilakukan dalam kegiatan penelitian kelas sebagai upaya untuk mempersempit

jurang pemisah antara penelitian dan pengajaran.

PTK di Indonesia berkembang mulai tahun 1994-1995, dimulai dari

proyek PGSD terkait proyek penelitian kebijakan dan penelitian tindakan.

Namun, pada saat itu belum ditekankan pada penelitian tindakan kelas. Pada

tahun 1996-1997, proyek penelitian guru SD memprogramkan penelitian

tindakan kelas bagi dosen-dosen PGSD di seluruh Indonesia bekerja sama dengan

(6)

kolaboratif dalam kelas sebagai upaya perbaikan dan peningkatan kualitas

pembelajaran (Wulandari, 2010).

2. Definisi PTK

Sebelum membahas definisi penelitian tindakan kelas, terlebih dahulu

dijelaskan penelitian tindakan dan ruang lingkupnya. Penelitian tindakan

dilakukan dalam berbagai bidang seperti sosial, kesehatan dan pendidikan.

Dalam bidang pendidikan, penelitian tindakan diterapkan dalam berbagai

tingkatan, misalnya sekolah dan kelas. Tulisan ini fokus pada pembahasan PTK

khususnya dalam pembelajaran matematika. Akan tetapi, yang perlu dipahami

bahwa pengertian dan ciri-ciri penelitian tindakan melekat juga pada PTK.

Menurut McNiff dan Whitehead (2006), penelitian tindakan merupakan

sebuah bentuk inkuiri yang memungkinkan praktisi atau peneliti dimanapun

untuk menyelidiki dan menilai kinerjanya. Pertanyaan yang muncul adalah Apa

yang sedang dilakukan? Apa yang perlu diperbaiki? Bagaimana memperbaikinya? Tomal (2003) mendefinisikan penelitian tindakan secara sederhana sebagai sebuah proses sistematis dalam menyelesaikan masalah

pendidikan dan menghasilkan perbaikan. Penelitian tindakan berbeda dengan

penelitian kuantitatif dan kualitatif, tetapi memiliki beberapa karakteristik yang

sama. Seorang peneliti tindakan menggunakan intervensi atau perlakuan yang

tepat untuk mengumpulkan dan menganalisis data dan untuk menerapkan

tindakan terkait isu pendidikan. Penelitian tindakan sangat cocok untuk pendidik

karena tidak membutuhkan analisis statistik yang tinggi seperti penelitian

kuantitatif atau penjelasan narasi yang panjang seperti penelitian kualitatif.

Penelitian tindakan dilaksanakan untuk menilai apakah yang sedang

dilakukan memberikan pengaruh pada diri atau pembelajaran orang lain, atau

apakah perlu melakukan sesuatu yang baru untuk meyakinkan bahwa sesuatu

yang dilakukan memberikan pengaruh. Dengan kata lain, penelitian tindakan

digunakan untuk memperbaiki pemahaman, membangun pembelajaran dan

mempengaruhi pembelajaran orang lain. Penelitian tindakan tidak perlu

(7)

korelasi statistik atau mendemonstrasikan hubungan sebab akibat (McNiff dan

Whitehead, 2006).

Penelitian tindakan kelas merupakan salah satu bagian penelitian

tindakan di bidang pendidikan yang berfokus pada perbaikan pembelajaran di

kelas. Menurut Suyanto (1997) dalam (Sukayati, 2008), penelitian tindakan

kelas dapat diartikan sebagai suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif

dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu, untuk memperbaiki dan atau

meningkatkan praktek- praktek pembelajaran di kelas secara lebih

Tindakan adalah kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu.

Sedangkan kelas adalah sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama

menerima pelajaran yang sama dari seorang guru. Menurut Suhardjono (2012),

PTK fokus pada kelas atau pada proses pembelajaran di kelas, bukan pada input

kelas (silabus, materi dan lain-lain) ataupun output (hasil belajar). PTK harus tertuju atau mengenai hal-hal yang terjadi dalam kelas.

Berdasarkan beberapa pengertian penelitian tindakan dan/atau PTK di

atas, penelitian tindakan kelas dalam pembelajaran matematika dapat diartikan

sebagai kegiatan merancang dan menerapkan tindakan pembelajaran,

mengamati dan melakukan refleksi terhadap proses tersebut untuk memperoleh

gambaran karakteristik pembelajaran yang mendukung siswa dalam membangun

pengetahuan matematika. Beberapa hal penting terkait PTK dalam pembelajaran

matematika ,yaitu:

a. PTK dilaksanakan di kelas oleh guru baik secara mandiri atau bekerja sama dengan peneliti (kolaboratif).

b. PTK fokus pada proses pembelajaran matematika.

(8)

d. PTK bertujuan dalam memperbaiki masalah pembelajaran atau meningkatkan kualitas pembelajaran matematika di kelas.

e. Melakukan tindakan-tindakan tertentu untuk mencapai perbaikan atau

peningkatan praktek pembelajaran matematika.

3. Objek PTK

Objek penelitian tindakan kelas yaitu sasaran atau masalah-masalah yang

dikaji dalam pelaksanaan PTK. Menurut Suhardjono (2012), dikarenakan makna

kelas dalam PTK adalah sekelompok peserta didik yang sedang belajar maka

permasalahan PTK cukup luas, diantaranya yaitu:

a. Masalah belajar siswa di sekolah.

b. Pengembangan profesionalisme guru dalam peningkatan mutu perancangan,

pelaksanaan dan evaluasi program pengajaran.

c. Pengelolaan dan pengendalian, misalnya pengenalan teknik modifikasi

perilaku.

d. Desain dan strategi pembelajaran di kelas.

e. Penanaman dan pengembangan sikap serta nilai-nilai.

f. Alat bantu, media dan sumber belajar.

g. Sistem penilaian dan evaluasi proses dan hasil pembelajaran. h. Masalah kurikulum.

Sedangkan menurut Arikunto (2012), sasaran PTK berkaitan dengan

komponen-komponen dari kelas yaitu: siswa, guru yang sedang mengajar, materi

pelajaran, peralatan yang digunakan, hasil pembelajaran, lingkungan

pembelajaran dan pengelolaan yang dilakukan oleh pimpinan sekolah.

Arikunto (2012) dan Suhardjono (2012) menjelaskan objek PTK secara

umum. Objek PTK pembelajaran matematika tidak terlepas dari objek penelitian

pendidikan matematika, yaitu bagaimana guru mengajar matematika, bagaimana

siswa belajar matematika, situasi pembelajaran matematika, hubungan

pembelajaran dengan pengetahuan matematika, dan realitas kelas matematika

(9)

Supardi (2012) memberikan langkah-langkah yang dapat digunakan untuk

menemukan masalah yang baik sebagai berikut:

a. Masalah harus realistis (dirasakan adanya sebagai masalah).

b. Masalah harus problematik (perlu dipecahkan), tidak semua masalah yang riil harul dipecahkan karena: (1) mungkin masalah tersebut sudah ada yang

membahas, (2) masalah di luar tanggung jawabnya, (3) masalah tidak jelas

manfaatnya.

c. Masalah harus meaningful (urgensi jangka pendek jelas).

d. Masalah harus feasible (dapat dipecahkan), tidak semua masalah yang riil, problematik, meaningful dapat dipecahkan karena (1) mungkin tidak ada dana atau alat, (2) tidak cukup waktu, (3) kurang dukungan, (4) banyak faktor

penghambatnya.

4. Karakteristik PTK

Tomal (2003) menjelaskan beberapa ciri-ciri khusus penelitian tindakan

dibandingkan dengan jenis penelitian lain seperti penelitian tradisional

(kuantitatif) dan kualitatif. Dalam penelitian tradisional, peneliti biasanya

membangun hipotesis nol sebagai dasar tujuan untuk melakukan penelitian.

Peneliti kemudian menentukan apakah menerima atau menolak hipotesis yang

dibuat, selanjutnya mengambil kesimpulan ilmiah. Penelitian tindakan tidak

fokus pada membuat hipotesis nol namun lebih fokus pada mendefinisikan

masalah, mengumpulkan data dan mengambil tindakan untuk menyelesaikan

masalah.

Pada umumnya, penelitian kualitatif lebih fokus pada menemukan

informasi tentang kasus-kasus yang ditemukan dalam rancangan alami kemudian

membuat kesimpulan induktif. Penelitian tindakan langsung tertuju pada tujuan.

Karena tujuan penelitian tindakan untuk menyelesaikan masalah yang ada dan

membuat perbaikan, peneliti kurang bergantung pada inkuiri ilmiah (scientific inquiry) dan alasan induktif (inductive reasoning), dan sangat fokus pada sisi praktis dan peluang terselesaikan masalah (Tomal, 2003:9).

Koshy (2005) merangkum karakteristik penelitian tindakan yaitu

(10)

partisipatif, membangun teori dari praktek, berdasarkan situasi atau masalah

yang muncul, dapat digunakan dalam pemecahan masalah yang riil, berhubungan

dengan individu atau kelompok dengan tujuan yang sama dalam memperbaiki

praktek, berkaitan dengan usaha perbaikan, mencakup tiga hal penting yaitu;

analisis, refleksi dan evaluasi dan memfasilitasi perubahan melalui inkuiri.

Menurut Sukayati (2008), ciri-ciri umum PTK yaitu: Pertama, PTK

mengangkat permasalahan nyata dalam praktek pembelajaran sehari-hari yang

dihadapi guru. Jadi, PTK akan dapat dilaksanakan bila guru sejak awal memang

tahu dan mau menyadari adanya persoalan yang terkait dengan proses dan

produk pembelajaran yang dihadapi di kelasnya. Selanjutnya berdasar

persoalan-persoalan tersebut, guru mencari pemecahan masalahnya secara

profesional melalui PTK. Kedua, PTK dapat dilakukan secara bersama-sama

dalam suatu tim, misalnya antara guru dengan tenaga kependidikan yang lain.

Tim tersebut yang merencanakan, melaksanakan, dan membahas hasil penelitian

secara bersama-sama. Ketiga, mengutip pendapat Kasihani (1999), pada PTK

dilakukan tindakan-tindakan untuk memperbaiki proses pembelajaran di kelas.

Tindakan-tindakan yang diambil harus direncanakan secara cermat.

5. Tujuan PTK

Menurut McNiff dan Whitehead (2006), tujuan penelitian tindakan yaitu

untuk berkontribusi dalam perwujudan praktek-praktek yang baru (fokus

tindakan) dan berkontribusi dalam pembentukan teori baru (fokus penelitian).

Kedua tujuan tersebut saling berkaitan dan melengkapi. Sagor (2000)

menyatakan bahwa pelaksanaan penelitian tindakan bertujuan sebagai usaha

menuju pengajaran profesional, meningkatkan motivasi dan efektivitas dalam

kelas atau sekolah, memenuhi tuntutan perubahan dan perbedaan siswa, dan

memperoleh kesuksesan dengan perubahan berdasarkan standar ( standards-based).

Sukayati (2008) secara lebih rinci menjelaskan tiga tujuan PTK yaitu: a).

Meningkatkan dan memperbaiki praktek pembelajaran yang seharusnya

dilakukan oleh guru, mengingat masyarakat berkembang begitu cepat. Hal ini

(11)

dilakukan oleh guru. PTK merupakan cara yang strategis bagi guru untuk

meningkatkan atau memperbaiki layanan tersebut. b) Meningkatkan mutu

pendidikan. Peningkatan atau perbaikan praktek pembelajaran di kelas hanya

tujuan antara, sedangkan tujuan akhir adalah peningkatan mutu pendidikan.

Misalnya, terjadi peningkatan motivasi siswa dalam belajar dan meningkatnya

sikap positif siswa terhadap mata pelajaran. c) Menumbuhkembangkan

budaya akademik di lingkungan sekolah sehingga tercipta sikap proaktif

untuk memperbaiki pembelajaran, berdasar pada persoalan-persoalan

pembelajaran yang dihadapi guru di kelas.

Tujuan PTK dalam pembelajaran matematika sama dengan tujuan

penelitian pendidikan matematika dan pendapat McNiff dan Whitehead (2006),

Sukayati (2008), dan Sagor (2000). Tujuan utamanya yaitu memperbaiki dan

meningkatkan kualitas pembelajaran matematika untuk mendukung siswa

membangun, mengembangkan dan menerapkan pengetahuan matematika.

6. Manfaat PTK

Beberapa alasan dikemukan oleh Costello (2003) yang mengindikasikan

pentingnya penelitian tindakan, yaitu:

a. Praktisi atau guru yang reflektif konsen dengan mempelajari pelaksanaan tindakan dan penelitian tindakan memberikan medium yang tepat dalam

melaksanakannya.

b. Penelitian tindakan memungkinkan praktisi atau guru untuk mengeksplorasi hubungan antara teori pendidikan dan prakteknya.

c. Evaluasi kritis penelitian pendidikan menimbulkan bertambah pentingnya

guru/praktisi melakukan penelitian sendiri.

d. Sebuah langkah untuk mewujudkan pengajaran (guru) sebagai profesi yang

berdasarkan penelitian (research-based profession).

e. Berpengaruh positif pada perbaikan sekolah dan pengembangan profesional guru.

Sukayati (2008) menambahkan tiga manfaat PTK, yaitu:

(12)

mampu merencanakan dan melaksanakan model pembelajaran yang sesuai

dengan tuntutan kelas dan jaman.

b. Pengembangan kurikulum di tingkat kelas dan sekolah: PTK dapat dimanfaatkan secara efektif oleh guru untuk mengembangkan kurikulum.

Hasil-hasil PTK akan sangat bermanfaat jika digunakan sebagai sumber

masukan untuk mengembangkan kurikulum baik di tingkat kelas maupun

sekolah.

c. Peningkatan profesionalisme guru: Keterlibatan guru dalam PTK akan dapat meningkatkan profesionalisme guru dalam proses pembelajaran. PTK

merupakan salah satu cara yang dapat digunakan oleh guru untuk

memahami apa yang terjadi di kelas dan cara pemecahannya yang dapat

dilakukan.

7. Model PTK

Setiap jenis penelitian tentunya memiliki langkah-langkah terurut dalam

pelaksanaan. Langkah-langkah tersebut berguna untuk memandu peneliti

menyelesaikan rencana penelitiannya dengan baik dan sekaligus menjadi ciri

khas. Penelitian Tindakan Kelas juga memiliki langkah-langkah tertentu yang

harus dilalui.

Terdapat beberapa model PTK berbeda yang ditawarkan oleh peneliti.

Perbedaan ini disebabkan oleh tidak samanya kondisi dan tujuan dalam

melakukan penelitian tindakan. Namun, beberapa model juga memiliki kesamaan

terkait langkah-langkah. Setiap model mencakup beberapa langkah dalam

pelaksanaan penelitian.

Koshy (2005) menyarankan bahwa pemilihan model PTK harus

disesuaikan dengan tujuan penelitian. Dalam modul ini akan dijelaskan 3 contoh

model PTK yang dikembangkan oleh Kurt Lewin (1946) dalam Costello (2003),

Kemmis dan McTaggart dalam Koshy dan O’leary 4 dalam Koshy

(2005). Langkah-langkah PTK yang dikembangkan oleh Kurt Lewin merupakan

model dasar PTK yang banyak digunakan dan dikembangkan oleh peneliti yang

(13)

Model Kurt Lewin

Model Kurt Lewin terdiri dari beberapa langkah yaitu plan (perencanaan),

act (tindakan), observe (observasi) dan reflect (refleksi). Dari perencanaan sampai refleksi disebut sekali putaran (single circle) atau biasa dikenal dengan satu siklus. Model ini dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 1. Model Dasar Penelitian Tindakan Kelas Kurt Lewin

Menurut Costello (2003), model tersebut jika dilihat dari sudut pandang

guru dan pengajaran, mencakup: (a) menentukan fokus khusus penelitian,

rencana untuk menerapkan sebuah tindakan atau aktivitas, rangkaian aktivitas,

atau tindakan-tindakan lain (plan). (b) melaksanakan aktivitas yang telah direncanakan (act). (c) mengamati hasil pelaksanaan tindakan (observe). Dan (d) merefleksi apa yang telah terjadi kemudian merencanakan rangkaian aktivitas

lebih lanjut jika diperlukan (reflect).

Dalam penelitian tindakan kelas, tidak selamanya penelitian bisa

berlangsung satu siklus. PTK juga bisa berlangsung dalam beberapa putaran

yakni setelah selesai refleksi dilanjutkan lagi dengan tahap perencanaan kedua

seperti gambar 2.

(14)

Langkah PTK pada gambar 2 di atas termasuk proyek penelitian untuk

menyelesaikan tugas akhir kuliah (sarjana) atau proyek penelitian yang didanai

dalam cakupan (scope)studi yang luas dan waktu yang lama. Sedangkan langkah PTK pada gambar 1, cocok dilaksanakan oleh guru dalam penelitian bersakala

kecil.

Model Kemmis dan McTaggart

Menurut Kemmis dan McTaggart (2000) dalam Koshy (2005), penelitian

tindakan terdiri dari siklus spiral (gambar 3) yang terbagi menjadi beberapa

langkah yaitu:

a. Merencanakan perubahan atau perencanaan.

b. Melakukan tindakan dan mengamati proses serta hasil perubahan.

c. Melakukan refleksi terhadap proses dan hasil kemudian merencanakan

kembali (re-planning).

d. Melaksanakan tindakan dan pengamatan.

e. Melakukan refleksi. f. Dan seterusnya

(15)

Dilihat dari langkah-langkah PTK Kemmis dan McTaggart, memiliki

kesamaan dengan model Kurt Lewin. Menurut Koshy (2005:5), dengan

menerapkan model ini dalam penelitian tindakan, guru atau peneliti bisa

memahami isu khusus dalam konteks pendidikan atau pembelajaran dan

membuat keputusan berlandaskan pemahaman yang baik dan luas. Model O’leary

Model O’leary (lihat gambar 4) menggambarkan penelitian tindakan sebagai sebuah proses spiral yang terdiri dari beberapa langkah yaitu observasi

(penelitian/pengumpulan data), refleksi (melakukan refleksi yang kritis),

perencanaan (rencana tindakan strategis) dan tindakan (melaksanakan rencana tindakan strategis . Dalam model O’leary ditekankan bahwa pergantian siklus (dari siklus pertama ke siklus selanjutnya) terjadi perubahan situasi, pemahaman

dan penerapakan tindakan yang lebih baik dari siklus sebelumnya.

Gambar 4. Model PTK O’leary

Dari ketiga model PTK di atas, memiliki kesamaan langkah utama yaitu

(16)

langkah dan penekanan tiap langkah. Untuk menambah pemahaman tentang

empat langkah utama dalam melaksanakan PTK, perlu dijelaskan lebih rinci apa

saja yang perlu dilakukan oleh peneliti atau guru dalam tiap langkah sebagai

berikut:

a. Perencanaan (Plan)

Pada tahan perencanaan, guru atau peneliti menyusun rancangan tindakan

yang menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, dimana, oleh siapa dan

bagaimana tindakan tersebut akan dilakukan. Secara rinci, tahap ini terdiri

dari beberapa kegiatan sebagai berikut (Suhardjono, 2012):

(1) Mengidentifikasi dan menganalisis masalah yaitu secara jelas dapat dimengerti masalah apa yang akan diteliti.

(2)Menetapkan alasan mengapa penelitian tersebut dilakukan, yang akan

melatar belakangi PTK.

(3)Merumuskan masalah secara jelas, baik dengan kalimat tanya maupun

pernyataan.

(4) Menetapkan cara yang akan dilakukan untuk menemukan jawaban, berupa rumusan hipotesis tindakan. Umumnya dimulai dengan

menetapkan berbagai alternatif tindakan pemecahan masalah.

(5) Menentukan cara untuk menguji hipotesis tindakan dengan menjabarkan indikator keberhasilan serta berbagai instrumen pengumpulan data yang

dapat dipakai untuk menganalisis indikator keberhasilan. (6) Membuat secara rinci rancangan tindakan

b. Tindakan (Act)

Menurut Suhardjono (2012), pada tahap ini rancangan stategi dan skenario

penerapan pembeljaran akan diterapkan. Pada PTK yang dilakukan oleh

guru, pelaksanaan tindakan umumnya dilakukan dalam waktu 2 atau 3 bulan.

Skenario atau rancangan tindakan hendaknya dijabarkan secara tertulis.

Rincian tindakan tersebut menjelaskan, (1) langkah demi langkah kegiatan

yang akan dilakukan, (2) kegiatan yang seharusnya dilakukan oleh guru, (3)

(17)

media pembelajaran yang akan digunakan dan cara menggunakannya, (5)

jenis instrumen yang akan digunakan untuk pengumpulan data.

c. Observasi (Observe)

Pengamatan dilakukan pada saat tindakan sedang dilaksanakan (act), keduanya berlangsung dalam waktu bersamaan. Pada tahap ini, peneliti (atau

guru apabila bertindak sebagai peneliti) melakukan pengamaran dan

mencatat semua hal yang diperlukan dan terjadi selama pelaksanaan

tindakan berlangsung. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan

format observasi atau penilaian yang telah disusun. Data yang dikumpulkan

dapat berupa data kuantitatif (hasil tes, nilai tugas dan lainnya) atau data

kualitatif yang menggambarkan keaktifan siswa, antusias siswa dan lainnya

(Suhardjono, 2012). d. Refleksi (Reflect)

Menurut Hopkins (1993) dalam Suhardjono (2012), refleksi dalam PTK

mencakup analisis, sintesis dan penilaian terhadap hasil pengamatan atas

tindakan yang dilakukan. Jika terdapat masalah dari proses refleksi maka

dilakukan proses pengkajian ulang melalui siklus selanjutnya yang meliputi

kegiatan perencanaan ulang, tindakan ulang, dan pengamatan ulang sehingga

masalah bisa diselesaikan.

C. Proposal dan Laporan PTK 1. Proposal PTK

Sukayati (2008) menyatakan bahwa hal pertama yang dilakukan ketika

ingin melakukan penelitian adalah mengajukan usulan penelitian atau dikenal

dengan proposal penelitian. Secara umum, proposal PTK tidak jauh berbeda

dengan proposal penelitian lain baik isi dan urutannya.

Proposal penelitian merupakan suatu cara untuk mengadakan realisasi

dalam memenuhi persyaratan ilmiah yang terdiri dari tiga hal yaitu memiliki

tujuan, terencana dan sistematis. Dengan membuat proposal penelitian dituntut

untuk merumuskan dengan jelas tujuan yang ingin dicapai. Disamping tujuan, di

(18)

penelitian lainnya seperti latar belakang, problematika, hipotesis dan metodologi

(Arikunto, 2010).

Menurut Sukayati (2008), terdapat beberapa unsur pokok proposal PTK

yaitu:

a. Judul Penelitian

Hal utama yang harus tercermin dalam judul adalah gambaran dari

permasalahan dan bentuk tindakan yang dilakukan untuk mengatasi

permasalahan. Judul penelitian hendaknya singkat, jelas dan tidak ambigu.

b. Latar Belakang Masalah

Dalam latar belakang, peneliti mengemukakan beberapa hal penting yaitu: (1)

kesejangan antara harapan dan realitas (masalah). Apa yang mendorong

peneliti untuk melakukan penelitian. (2) Tindakan yang akan diambil untuk

menyelesaikan masalah dan alasan kenapa mengambil tindakan tersebut. (3)

Mengemukakan teori-teori atau hasil penelitian yang melandasi diajukan ide

atau gagasan (tindakan) untuk mengatasi masalah. c. Rumusan Masalah

Rumusan masalah berisi rincian tentang masalah dan cara memecahkannya,

sebaiknya menggunakan kalimat tanya dengan mengajukan alternatif

tindakan yang akan dilakukan.

d. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian berisi secara singkat tentang tujuan penelitian yang ingin

dicapai berdasar permasalahan yang dikemukakan. Tujuan penelitian

dirumuskan dalam bentuk pernyataan dan harus terjawab dalam kesimpulan

hasil penelitian.

e. Manfaat Hasil Penelitian

Uraikan kegunaan atau kontribusi yang diperoleh dari hasil penelitian

sehingga tampak manfaatnya bagi siswa, guru pelaksana penelitian, maupun

guru lain, dan sekolah.

f. Kajian Pustaka

Pada bagian kajian pustaka diuraikan beberapa hal yaitu: (1) Teori dan

pustaka yang mendukung atau menumbuhkan gagasan yang melandasi

(19)

mendukung masalah dan rencana tindakan yang diambil dalam penelitian. (3)

Kerangka berpikir yang memuat konsep dalam pelaksanaan penelitian. (4)

Pada bagian akhir dapat dikemukan hipotesis tindakan yaitu jawaban

sementara terhadap permasalahan yang diajukan dalam PTK. Jawaban itu

masih bersifat teoritik dan dianggap benar sebelum terbukti salah melalui

pembuktian dengan menggunakan data dari PTK. g. Metodologi Penelitian

Pada bagian metodologi penelitian dicantumkan beberapa hal yaitu: (1)

Prosedur penelitian yang meliputi penyusunan rencana tindakan,

pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Langkah-langkah ini terangkai

dalam siklus. (2) Subjek penelitian. (3) Waktu dan tempat penelitian. (4) Cara

pengumpulan data. (5) Instrumen penelitian. (5) Teknik analisis data. Dan (6)

Indikator keberhasilan. Arikunto (2010) menyatakan bahwa metodologi

merupakan sesuatu yang sangat penting karena berhasil tidaknya, demikian

juga tinggi rendahnya kualitas hasil penelitian sangat ditentukan oleh

ketepatan peneliti dalam memilih metodologi penelitian.

h. Jadwal Penelitian

Berisi penjelasan tentang urutan kegiatan yang akan dilakukan: Kapan

dimulai dan berakhirnya penelitian. Jadwal penelitian biasanya dbuat dalam

bentuk matrik.

i. Personalia Penelitian

Bagian ini memuat identitas peneliti. Jika penelitian dilakukan dalam tim,

dicantumkan struktur tim (ketua dan anggota).

j. Anggaran Biaya

Memuat rincian biaya yang digunakan selama penelitian. Anggara biaya harus

dicantumkan bagi peneliti yang mendapatkan bantuan dana penelitian

sebagai laporan pertanggungjawaban.

Perlu dicatat bahwa komponen dan format proposal penelitian dapat

(20)

2. Laporan PTK

Setelah melakukan penelitian, peneliti membuat laporan dari hasil

penelitian. Menurut Arikunto (2010), laporan penelitian merupakan uraian

tentang hal-hal yang berkaitan dengan proses kegiatan penelitian. Isi laporan

penelitian bukan hanya langkah-langkah yang telah dilalui oleh peneliti tetapi

juga latar belakang permasalahan, kerangka berpikir, dukungan teori dan lainnya

yang memperkuat makna penelitian yang dilakukan.

Menurut Sukayati (2008), terdapat tiga fungsi laporan penelitian yaitu:

Pertama, bentuk pertanggungjawaban dari kegiatan penelitian kepada pemberi

dana atau pihak yang terkait. Kedua, karya ilmiah yang dapat digunakan sebagai

bahan pertimbangan untuk menentukan kebijakan-kebijakan baru di bidang

tertentu. Ketiga, karya ilmiah yang dapat digunakan sebagai referensi untuk

penelitian yang sejenis pada waktu yang akan datang.

Isi laporan PTK terdiri dari tiga bagian utama yaitu:

a. Bagian Awal

Bagian awal terdiri dari: Sampul (cover), halaman judul, abstrak, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar dan daftar lampiran.

b. Bagian Inti

Bagian inti meliputi: Latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian,

manfaat penelitian, batasan istilah/definisi operasional (bersifat optional atau pilihan), kajian pustaka, metodologi penelitian, hasil penelitian dan

pembahasan, simpulan dan saran.

c. Bagian Akhir

Bagian akhir memuat daftar pustaka dan lampiran.

Bagian-bagian dalam laporan penelitian sebenarnya sudah termuat juga di

proposal penelitian. Terdapat beberapa tambahan seperti abstrak, hasil

penelitian dan pembahasan, simpulan dan saran. Dan ada banyak versi struktur

(21)

Daftar Pustaka

Arikunto, S., Suhardjono, dan Supardi. (2012). Penelitian tindakan kelas. Jakarta: Bumi Aksara. Arikunto, S. (2010). Manajemen penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Costello, P. (2003). Action research. London: Continuum.

Glasersfeld, E. v. (1995). Radical constructivism: A way of knowing and learning. London: Falmer Press

Hoyles, C., Healey, L., & Sutherland, R. (1990). The role of peer group discussion in mathematical environments: Report to the Leverhulme Trust. London: University of London

Koshy, F. (2005). Action research for improving practice: A practical guide. London: Paul Chapman Publishing.

McNiff, J. dan Whitehead, J. (2002). Action research: Principles and pratices. London: Routledge Falmer.

McNiff, J. dan Whitehead, J. (2006). All you need to know about action research. London: Sage Publications.

Sagor, R. (2000). Guiding school improvement with action research. Virginia: ASCD.

Sierpinska, A., Kilpatrick, J., Balacheff, N., Howson, A. G., Sfard, A., & Steinbring, H. (1993). What is research in mathematics education, and what are its results? Journal for Research in Mathematics Education, 24(3), 274-278. doi:10.2307/749348

Sukayati. (2008). Penelitian tindakan kelas. Yogyakarta. P4TK Matematika.

Tomal, D.R.(2003). Action research for educators. Maryland: The Scarecrow Press, Inc.

Wulandari, A. (2010). Sejarah penelitian tindakan kelas. Diakses di

http://main.man1bojonegoro.com/index.php/component/content/article/48-artikel-guru/124-sejarah-penelitian-tindakan-kelas-ptk. [14/11/2012].

Vygotsky, L. S. (1978). Mind in society. The development of the higher psychological processes. Cambridge: Harvard University Press

(22)

Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar

Bab I Pendahuluan A. Latar Belakang B. Rumusan Masalah C. Tujuan Penelitian D. Manfaat Penelitian

E. Batasan Istilah atau Definisi Operasional*

Bab II Telaah Pustaka A. Kajian Teoritis B. Kerangka Berpikir C. Hipotesis Tindakan

Bab III Metodologi Penelitian A. Prosedur Penelitian B. Subjek Penelitian

C. Waktu dan Tempat Penelitian D. Instrumen Penelitian

E. Cara Pengumpulan Data F. Teknik Analisis Data G. Indikator Keberhasilan

Daftar Pustaka

(23)

Halaman Judul Abstrak

Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar Daftar Lampiran

Bab I Pendahuluan A. Latar Belakang B. Rumusan Masalah C. Tujuan Penelitian D. Manfaat Penelitian

E. Batasan Istilah atau Definisi Operasional* Bab II Telaah Pustaka

A. Kajian Teoritis B. Kerangka Berpikir C. Hipotesis Tindakan Bab III Metodologi Penelitian

A. Prosedur Penelitian B. Subjek Penelitian

C. Waktu dan Tempat Penelitian D. Instrumen Penelitian

E. Cara Pengumpulan Data F. Teknik Analisis Data G. Indikator Keberhasilan

Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan Bab V Penutup

Gambar

Gambar 1. Model Dasar Penelitian Tindakan Kelas Kurt Lewin
Gambar 3. Model PTK Kemmis dan McTaggart
Gambar 4. Model PTK O’leary

Referensi

Dokumen terkait

dalam penelitiannya yang berjudul peningkatan hasil belajar matematika menggunakan model pembelajaran Goup Investigation pada siswa kelas V SD N Rejosari kecamatan Grobogan

Prestasi belajar adalah penilaian kemajuan siswa materi pentingnya daerah dalam bingkai NKRI, memelihara semangat persatuan Indonesia dan memaknai nilai

Penelitian tindakan kelas merupakan suatu bentuk penelaahan atau inkuiri melalui refleksi diri yang dilakukan oleh peserta kegiatan pendidikan tertentu seperti guru dan atau

SMAN 2 Takalar yang merupakan Mitra Program Kemitraan Masyarakat (PKM) ini memiliki permasalahan, sebagai berikut: (1) Pemahaman tentang pelaksanaan PTK masih belum memadai,

Berdasarkan hasil penelitian yang dijelaskan pada bab sebelumnya dapat disampaikan: Melalui bermain peran dapat mengembangkan kecerdasan sosial emosional anak di

Hasil penelitian setelah pelaksanaan kegiatan bermain sosiodrama peran pedagang untuk melatih mengembangkan kecerdasan sosial emosional anak dengan tema pekerjaan sub tema

Aktif mencatat dan merumuskan hasil-hasil refleksi yang muncul dalam diskusi bersama dosen luar biasa / PPL / keminatnan /kepakaran yang dlakukan untuk mengadakan

Dokumen ini menyoroti kesalahan umum yang terjadi dalam PTK dan memberikan saran untuk