PT. SAJANG HEULANG, MINAMAS PLANTATION,
TANAH BUMBU, KALIMANTAN SELATAN.
Oleh
ARDILLES AKBAR A34104058
DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008
ARDILLES AKBAR. Manajemen Panen Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Kebun Pantai Bunati , PT. Sajang Heulang, Minamas Plantation, Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. (Di Bawah Bimbingan Prof. Dr. Ir. SUDIRMAN YAHYA, MSc.)
Kegiatan magang dilaksanakan sejak tanggal 10 Februari hingga 7 juni 2008 di perkebunan kelapa sawit Pantai Bunati Estate, PT. Sajang Heulang, Minamas Plantation, Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Tujuan umum kegiatan magang adalah untuk memperdalam pengetahuan yang telah diterima dalam perkuliahan dengan penerapan langsung di lapangan, mempelajari dan menganalisis fungsi manajemen dan teknis perencanaan dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit, dan menghasilkan tenaga profesional yang terampil serta memahami permasalahan nyata di lingkungan perkebunan. Selama melakukan kegiatan magang penulis melaksanakan seluruh jenis pekerjaan di lapangan dan di kantor pada seluruh level manajerial yang diizinkan manajemen kebun mulai dari pekerja harian lepas (PHL), pendamping mandor, dan pendamping asisten..
Kegiatan panen di Pantai Bunati Estate menerapkan sistem Block Harvesting System (BHS) yaitu sistem panen yang kegiatan panennya setiap hari kerja terkonsentrasi pada satu seksi panen tetap berdasarkan interval yang telah ditentukan dengan menggunakan sistem hanca giring tetap.
Permasalahan yang terjadi pada manajemen panen di Kebun Pantai Bunati adalah kurangnya jumlah tenaga kerja yang dimiliki sehingga mengakibatkan tingginya rotasi panen akibat seksi panen yang harusnya diselesaikan pada hari itu tidak dapat diselesaikan sehingga harus dikerjakan kembali pada keesokan harinya. Oleh karena itu, penulis menyarankan agar dilakukan penambahan tenaga kerja potong buah pada Divisi I Kebun Pantai Bunati sebanyak 15 orang agar seksi yang ada pada hari itu dapat diselesaikan, sehingga dapat menyebabkan rotasi panen kembali ke keadaan normal yaitu 6/7.
PT. SAJANG HEULANG, MINAMAS PLANTATION,
TANAH BUMBU, KALIMANTAN SELATAN
Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian
Institut Pertanian Bogor
Oleh :
ARDILLES AKBAR A 34104058
PROGRAM STUDI AGRONOMI
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
ESTATE, PT. SAJANG HEULANG, MINAMAS PLANTATION, TANAH BUMBU, KALIMANTAN SELATAN
Nama Mahasiswa : ARDILLES AKBAR Nomor Pokok : A34104058
Program Studi : AGRONOMI
Menyetujui, Dosen Pembimbing
Prof. Dr. Ir. Sudirman Yahya, MSc NIP : 130 516 293
Mengetahui, Dekan Fakultas Pertanian
Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M.Agr. NIP : 131 124 019
Penulis dilahirkan di Depok, Bogor, Jawa Barat pada tanggal 29 Mei 1987. Penulis merupakan anak kedua dari lima bersaudara, dari Bapak Firdaus Jufri dan Ibu Santi Marliana.
Tahun 1997 penulis menyelesaikan pendidikan SD selama lima tahun pertama di SDN Anyelir I Depok, Jawa Barat dan satu tahun selanjutnya di SDN 122 Palembang. Pada tahun 2001 penulis lulus dari SLTP Negeri 12 Palembang, Sumatera Selatan. Penulis lulus dari SMU Negeri 17 Plus Palembang, Sumatera Selatan pada tahun 2004.
Tahun 2004 penulis diterima menjadi mahasiswa Institut Pertanian Bogor melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) pada Program Studi Agronomi, Jurusan Budidaya Pertanian, Faklultas Pertanian. Selama menjadi mahasiswa penulis pernah bergabung dengan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.
Karya Ilmiah yang dihasilkan penulis untuk meraih gelar Sarjana Pertanian diperoleh melalui pengalaman magang selama empat bulan di Kalimantan Selatan yang berjudul “Manajemen Panen di Perkebunan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Pantai Bunati Estate, PT Sajang Heulang, Minamas Plantation, Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan” di bawah bimbingan Prof. Dr. Ir. Sudirman Yahya, MSc.
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa karena dengan kekuatan dan kasih-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul ”Manajemen Panen di Perkebunan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Pantai Bunati Estate, PT. Sajang Heulang, Minamas Plantation, Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan ”. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah turut membantu sehingga laporan tugas akhir ini dapat penulis selesaikan, dan secara khusus penulis sampaikan kepada
• Ayahanda Firdaus Jufri (Alm.) dan Ibunda Santi Marliana tercinta, yang selalu ada untuk menguatkan dan memberikan motivasi, serta kasih sayang yang tak terbatas kepada penulis.
• Kakak dan adik-adikku tercinta Larasati, Ladia, Devi, dan Dedek Putri beserta seluruh keluarga besar yang selalu mendukung dan memberikan kebersamaan. • Seluruh keluarga besar penulis di Cileungsi dan di Palembang atas seluruh bimbingan, saran, pelajaran, dan kebersamaan yang telah diberikan selama ini kepada penulis.
• Prof. Dr. Ir. Sudirman Yahya, MSc. selaku dosen pembimbing yang telah memberikan saran, bimbingan, serta pengarahan selama penulisan skripsi. • Ir. Purwono, MS. selaku dosen pembimbing akademik selama penulis
menjalani masa perkuliahan.
• Bapak Endang Syarifuddin selaku Estate Manager Pantai Bunati serta keluarga, yang telah memberikan dukungan moral, nasihat, ilmu, serta fasilitas yang sangat mencukupi selama penulis melakukan magang.
• Bapak Budi Utomo, Andi Muhtar, dan Purmono (asisten Divisi) dan Bapak Abduh (asisten Kantor) selaku Pembimbing Lapangan penulis yang telah memberikan arahan dan masukan selama pelaksanaan magang.
yang mengikuti magang. Percayalah kita hebat karena berani mengambil tantangan ini.
• Teman-teman seperjuangan, Agronomer’s angkatan 41 yang akan selalu terikat dengan kebersamaan selamanya, khususnya untuk teman-teman yang telah menemani penulis selama empat tahun kuliah di IPB (kamar 04 TPB, kostan arjuna, dan kostan galih).
Kepada semua pihak yang tak dapat penulis sampaikan satu persatu, yang telah membantu penulis selama perkuliahan dan magang, semoga skripsi ini dapat memberikan informasi dan manfaat yang berharga bagi para pembaca dan semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu memberikan rahmat dan hidayatnya bagi kita semua.
Bogor, 2008
DAFTAR TABEL ... vii DAFTAR GAMBAR ... ix PENDAHULUAN Latar Belakang ……….……... 1 Tujuan ……….……. 3 METODE MAGANG Waktu dan Tempat ……….……... 4
Metode Pelaksanaan ... 4
KEADAAN UMUM LOKASI MAGANG Lokasi Kebun ...……….... 6
Keadaan Tanah dan Iklim ...………...………... 6
Areal Konsensi dan Tata Guna Lahan ………...………. 7
Struktur Organisasi dan Ketenagakerjaan ………...……… 7
Asal Bibit dan Populasi Varietas ...…...… 9
PELAKSANAAN KEGIATAN MAGANG Aspek Teknis ...………... 10
Pemupukan ...………..…… 10
Pengendalian Gulma ...………..……….…………... 19
Pengendalian Hama dan Penyakit ………...………. 22
Penunasan ...………. 23
Perawatan Jalan dan Titi Panen ...………...………... 24
Sensus Produksi ...……...………. 25
Panen ...…...………. 27
Aspek Manajerial ...……….…...………..….... 33
Pendampingan Mandor ...………. 33
Seksi Panen dan Rotasi Panen ... 37
Penetapan Luas Hanca Pemanen... 40
Penetapan Luas Hanca Mandoran... 41
Persiapan Teknis Lapangan ... 42
Peralatan Panen ... 43
Angka Kerapatan Panen ... 44
Sistem Hanca Panen ... 46
Pelaksanaan Panen ... 47
Basis dan Premi Potong Buah ... 50
Mutu Buah ... 51
Mutu Hanca ... 55
Brondolan Tinggal ... 55
Buah Matang Tinggal ... 56
Kondisi Pokok ... 57
Denda Panen ... 58
Struktur Organisasi Panen ... 58
Pengangkutan Tandan Buah Segar ... 59 KESIMPULAN DAN SARAN
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
Nomor Halaman Teks
1. Perkembangan produktivitas TBS Kebun Pantai Bunati 2002-2008... 27
2. Peralatan panen Kebun Pantai Bunati ... 30
3. Perbandingan luas areal perhitungan dengan luas areal aktual ... 38
4. Penetapan tenaga kerja panen Divisi I ... 40
5. Luas hanca tetap mandor per seksi ... 42
6. Pengamatan angka kerapatan panen ... 44
7. Rekapitulasi pengamatan angka kerapatan panen ... 45
8. Perbandingan angka kerapatan panen pengamatan dengan aktual ... 45
9. Perbandingan kriteria kematangan fraksi dengan kriteria kebun ... 52
10. Rendemen minyak dan kadar asam lemak bebas berdasarkan fraksi ...53
11. Pengamatan kematangan buah ... 53
12. Pengamatan brondolan tertinggal ... 55
13. Persentase pengamatan brondolan tertinggal ... 56
14. Pengamatan buah tinggal ... 57
lampiran
1. Jurnal harian kegiatan magang sebagai pekerja harian lepas (PHL) ... 65
2. Jurnal harian kegiatan magang sebagai pendamping mandor ... 66
3. Jurnal harian kegiatan magang sebagai pendamping asisten ... 67
4. Penggolongan seri tanah dari ordo tanah oxisol dan entisol Kebun Pantai Bunati ... 69
5. Evaluasi lahan terhadap sifat fisik dan kimia tanah Kebun Pantai Bunati ..69
6. Data curah hujan tahun 1998-2008 ...70
7. Upah rata-rata per hari SKU bulanan ... 72
8. Klasifikasi basis borong dan premi lebih borong ...74
9. Premi mandor pada sistem organisasi panen Kebun Pantai Bunati...75
DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
Teks
1. Kegiatan penguntilan dan pelangsiran pupuk anorganik ... 13
2. Pelaksanaan kegiatan pemupukan dan pengeceran pupuk anorganik ... 14
3. Kegiatan semprot piringan dan semprot gawangan kimiawi ... 20
4. Pelaksanaan panen Kebun Pantai Bunati ... 49
Nomor Halaman lampiran 1. Peta Kebun Pantai Bunati ... ... 68
2. Struktur organisasi Kebun Pantai Bunati ... 71
Latar Belakang
Minyak kelapa sawit (MKS) merupakan komoditas yang mempunyai nilai strategis karena merupakan bahan baku utama pembuatan minyak makan. Sementara, minyak makan merupakan salah satu dari sembilan kebutuhan pokok bangsa Indonesia. Permintaan akan minyak makan di dalam dan di luar negeri yang kuat merupakan indikasi pentingnya peranan komoditas kelapa sawit dalam perekonomian bangsa Indonesia.
Pada saat ini kebutuhan minyak nabati dan lemak dunia terus meningkat sebagai akibat pertumbuhan penduduk dan peningkatan pendapatan domestik bruto. Jumlah penduduk di negara-negara kawasan Timur-Jauh sekitar 3.2 milyar atau 50% dari penduduk dunia. Di daerah inilah, tingkat pertumbuhan ekonomi pada saat ini hingga tahun 2010 merupakan yang paling tinggi. Selain itu, konsumsi minyak per kapita penduduk di kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara juga masih jauh di bawah rata-rata penggunaan minyak nabati dan lemak per kapita per tahun penduduk dunia (Pahan, 2006).
Pada tahun 2007 nilai ekspor kelapa sawit Indonesia sudah mencapai 1 550 000 Dollar AS dari sebelumnya sebesar 1 086 000 Dollar AS (Siagian, 2007). Berdasarkan data tersebut nilai ekspor kelapa sawit Indonesia mengalami peningkatan sebesar 42.73 %. Oleh karena itu, minyak kelapa sawit mentah yang dihasilkan dari kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) merupakan salah satu komoditas yang diharapkan dapat dijadikan sebagai salah satu sumber penghasil devisa andalan Indonesia. Langkah ke arah tersebut telah dimulai sejak pembangunan jangka panjang tahap I (PJPT I) hingga saat ini pemerintah telah mengeluarkan kebijakan untuk mendukung pengembangan kelapa sawit sampai tahun 2010 yaitu (1) peningkatan produktivitas dan mutu, (2) pengembangan indrusti inti dan peningkatan nilai tambah, (3) pengembangan indrusti minyak goring/makan terpadu dan (4) fasilitasi dukungan dana.
Perluasan dan pembukaan lahan untuk areal kelapa sawit telah banyak dilakukan di beberapa daerah Indonesia. Menurut Direktorat Jenderal Perkebunan (2007) Indonesia telah memiliki luas areal kelapa sawit mencapai 6 074 926 pada
tahun 2006. Dari jumlah tersebut sejumlah 4 582 733 ha atau 75.4 % berada di pulau Sumatera dengan lahan terluas di Provinsi Riau yaitu 1 409 715 ha, dengan total produksi minyak sawit sebesar 16 000 211 ton dan sekitar 12 101 000 ton untuk ekspor. Dari data di atas dapat dilihat potensi wilayah timur Indonesia yang belum dimanfaatkan dengan maksimal padahal memiliki lahan yang cukup luas.
Menurut Bangun (2008) ketua GAPKI (Gabungan Perusahaan Kelapa Sawit Indonesia), Indonesia pada tahun 2007 merupakan produsen kelapa sawit terbesar di dunia dengan produksi sebesar 17.00 juta ton dan tahun 2008 diperkirakan Indonesia akan tetap menjadi produsen kelapa sawit terbesar di dunia dengan estimasi produksi sebesar 18.60 juta ton. Saat ini sebanyak 85% lebih pasar dunia kelapa sawit dikuasai oleh Indonesia dan Malaysia. (Pahan, 2006).
Panen merupakan salah satu kegiatan yang paling penting pada pengelolaan tanaman kelapa sawit menghasilkan selain transport. Selain bahan tanam yang baik dan pemeliharaan tanaman, panen juga salah satu faktor yang paling penting dalam menentukan produksi, keberhasilan panen akan menunjang pencapaian produktivitas tanaman kelapa sawit. Sebab potensi produksi yang tinggi juga tidak ada artinya jika eksploitasi hasil tidak dilakukan secara optimal.
Sumber-sumber kerugian produksi di lapangan ialah potong buah mentah, buah masak tinggal di pokok (tidak dipanen), brondolan tidak dikutip, serta buah di tempat pengumpulan hasil (TPH) tidak terangkut ke pabrik kelapa sawit (PKS). Mengutip hasil potong buah, transport dan pengolahan merupakan suatu rangkaian mata rantai yang harus dilaksanakan secara terpadu karena kepentingannya yang saling mempengaruhi
Dalam industri perkebunan kelapa sawit manajemen panen merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi kualitas (ekstraksi) dan kuantitas (asam lemak bebas atau ALB) hasil produktivitas kebun. Sistem panen bertujuan untuk memperoleh sejumlah minyak (rendemen) yang tinggi serta mutu minyak yang baik. Produksi yang maksimal hanya dapat dicapai jika kerugian produksi minimal. Tujuan tersebut dapat tercapai apabila ketentuan panen yang telah ditetapkan oleh perusahaan dapat dijalankan dengan baik oleh seluruh anggota kebun dan untuk mengawasi jalannya ketentuan tersebut maka diperlukan suatu manajemen panen yang baik.
Manajemen panen yang baik adalah manajemen yang dapat menciptakan keharmonisan di antara kegiatan panen, pengangkutan tandan buah segar (TBS) dan brondolan, dan pengolahan hasil kelapa sawit. Apabila di antara ketiga kegiatan tersebut telah tercipta suatu hubungan kerja yang erat maka akan menciptakan suatu hasil kualitas dan kuantitas yang baik dari hasil kebun perusahaan tersebut.
Tujuan
Kegiatan magang secara umum bertujuan memperdalam pengetahuan yang telah diterima dalam perkuliahan dengan penerapan langsung di lapangan, mempelajari dan menganalisis fungsi manajemen dan teknis perencanaan dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit sehingga dapat menghasilkan tenaga professional yang terampil serta memahami permasalahan nyata di lingkungan perkebunan. Kegiatan magang secara khusus bertujuan meningkatkan pemahaman dan keterampilan manajemen dalam aspek potong buah tanaman kelapa sawit serta melakukan analisis aspek pemanenan.
METODOLOGI
Waktu dan Tempat
Kegiatan magang ini dilaksanakan pada tanggal 11 Februari 2008 sampai dengan 7 Juni 2008, di perkebunan kelapa sawit Pantai Bunati Estate, PT. Sajang Heulang, Minamas Plantation, Desa Bunati, Kecamatan Angsana, Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan.
Metode Pelaksanaan
Pada saat melakukan magang metode yang dilakukan adalah metode kerja praktek langsung di kebun. Kegiatan tersebut melakukan seluruh jenis pekerjaan di lapangan dan di kantor pada seluruh level manajerial yang diizinkan mulai dari pekerja harian lepas (PHL), pendamping mandor, dan pendamping asisten.
Pengumpulan data dan informasi dengan mengumpulkan data primer dan data sekunder. Data sekunder yang diperoleh dari kebun meliputi lokasi dan letak geografis kebun, keadaan iklim, luas areal dan tata guna lahan, kondisi pertanaman, norma kerja di lapangan, asal bibit dan populasi varietas, dan struktur organisasi dan manajemen.
Pengumpulan data primer dilakukan melalui pengamatan lapangan terhadap semua kegiatan yang berlangsung di perkebunan. Data pengamatan lapangan dipusatkan pada kegiatan panen yaitu kriteria panen, sistem dan rotasi panen, hanca panen, sensus produksi, angka kerapatan panen, pelaksanaan panen, tenaga kerja panen, basis dan premi panen, mutu buah, buah matang tertinggal, brondolan tertinggal tidak dikutip, kondisi pokok, dan transportasi panen.
Metode yang digunakan pada kegiatan magang adalah metode langsung dan tidak langsung. Metode langsung yang dilakukan adalah praktek kerja langsung di lapangan dengan turut aktif dalam pelaksanaan kegiatan kebun, wawancara, dan diskusi dengan mandor maupun dengan para staf. Kegiatan di lapangan meliputi pencatatan prestasi kerja, alat dan bahan yang terkait dalam kegiatan yang dilakukan setiap hari. Kegiatan yang dilakukan dilampirkan pada jurnal harian terlampir dalam Tabel Lampiran 1 sampai 3. Pendekatan tidak langsung dilakukan melalui studi dokumentasi kebun (arsip kebun, laporan bulanan, dan laporan tahunan).
Pengamatan angka kerapatan panen dilakukan pada empat blok yaitu blok N 20, N 21, Q 24, dan Q 25. Sistem pengamatan dilakukan dengan mengamati seluruh pokok yang berada pada baris yang diamati dengan jarak antar baris yang diamati adalah 10 baris. Hal ini bertujuan agar didapatkan persentase pengamatan sebesar 15 %. Pengamatan ini dilakukan dengan menghitung jumlah buah dan jumlah pokok siap dipanen dari tiap baris yang diamati.
Pengamatan tingkat kematangan buah dilakukan pada dua pemanen dari masing-masing kemandoran di divisi I kebun Pantai Bunati yaitu dengan mengamati buah yang ada pada 2 TPH pemanen selama bekerja pada satu hari tersebut. Pengamatan tangkai panjang, buah matang tertinggal di pohon dan brondolan tidak terkutip dilakukan terhadap dua pemanen dari tiap mandor panen. Pengamatan dilakukan pada hanca panen yang dikerjakan pada hari itu.
KEADAAN UMUM LOKASI MAGANG
Lokasi Kebun
Secara administratif kebun Pantai Bunati PT. Sajang Heulang, Minamas Plantation terletak di Desa Bunati, Kecamatan Angsana, Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan. Lokasi perkebunan PT. Sajang Heulang secara geografis terletak pada koordinat 1150650 BT – 1150775 BT dan 30467 LS – 30561 LS dengan ketinggian 25 - 30 meter di atas permukaan laut (dpl). Lokasi Kebun Pantai Bunati sebelah Utara berbatasan dengan Desa Angsana, Desa Karang Indah, Desa Sebamban Lama, dan Desa Sebamban Baru, sebelah Barat berbatasan dengan Desa Sumber Baru, di sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Setarap dan Laut Jawa, dan di sebelah Timur berbatasan dengan Desa Penyiputan. Peta lokasi Kebun Pantai Bunati terlampir pada Gambar Lampiran 1.
Keadaan Tanah dan Iklim
Kondisi lahan Kebun Pantai Bunati mempunyai topografi datar hingga bergelombang dengan tingkat lereng < 10% dan panjang lereng mencapai ± 150 m dan mempunyai lapisan Petroferric. Berdasarkan hasil survey tinjau di Kebun Pantai Bunati terdapat 2 jenis tanah, yakni ordo Oxisol dan Entisol dengan 4 seri tanah. Adapun hasil evaluasi kelas kesesuaian lahan terhadap sifat fisik dan kimia tanahnya, maka Kebun Pantai Bunati tergolong dalam kelas S3 (kurang sesuai/moderately suitable),namun secara teknis semua lahan tersebut masih dapat ditingkatkan menjadi kelas S2 (potensial) dengan memperbaiki faktor-faktor pembatas utamanya (kesuburan dan adanya lapisan Petroferric yang dangkal). Data hasil penggolongan seri tanah dan hasil evaluasi kesesuaian lahan terlampir pada Tabel Lampiran 4 dan 5.
Iklim di lokasi Kebun Pantai Bunati adalah iklim basah. Menurut sistem klasifikasi Schmidt Ferguson, areal Kebun Pantai Bunati termasuk dalam kelas B. Rata-rata curah hujan tahunan adalah 1 942 mm dengan rata-rata hari hujan 139 mm. Data curah hujan tahun 1998 sampai dengan tahun 2008 dapat dilihat pada Tabel Lampiran 6.
Suhu udara di suatu tempat antara lain ditentukan oleh tinggi rendahnya tempat tersebut terhadap permukaan laut dan jaraknya dari pantai. Selama tahun 2004 suhu rata-rata berkisar antara 23.30C sampai 32.70C. Kelembaban udara rata-rata berkisar antara 47% - 98% tiap bulan.
Pada tahun 2006 distribusi hujan bulanan terendah (< 60 mm/bulan) terjadi pada bulan Juli - Oktober. Pada saat distribusi hujan rendah, umumnya dibarengi dengan terjadinya kekurangan air. Pada tahun 2006 telah terjadi kekurangan air hingga mencapai 333 mm/tahun.
Curah hujan tertinggi tahun 2007 di daerah ini terjadi pada bulan Juni yaitu 687 mm sedangkan curah hujan terendah terjadi pada bulan Desember yaitu 66 mm. Jumlah hari hujan selama tahun 2007 adalah 155 hari dengan hari terbanyak hujan terjadi pada bulan Februari yaitu 22 hari.
Areal Konsesi dan Tata Guna Lahan
Perkebunan kelapa sawit kebun Pantai Bunati dibangun di areal konsesi seluas 2 715 ha, areal konsesi terbagi menjadi areal tanaman menghasilkan (TM) seluas 2 505 ha, areal pembukaan baru yang belum dikerjakan seluas 40 ha, areal prasarana (emplasement, jalan, jembatan, dan parit) seluas 170 ha. Kebun Pantai Bunati terbagi menjadi 3 divisi, yaitu Divisi I seluas 1 086 ha, Divisi II seluas 867 ha, dan Divisi III seluas 762 ha.
Struktur Organisasi dan Ketenagakerjaan
Perkebunan kelapa sawit Panati Bunati, PT. Sajang Heulang merupakan salah satu unit usaha dari Minamas Plantation. Struktur organisasinya berdasarkan susunan garis dan staf dengan kekuasaan tertinggi diduduki oleh Dewan direksi dan General Manager (GM) yang membawahi beberapa Manajer kebun. Manajer kebun di bantu oleh 1 orang asisten kepala, 2 orang asisten divisi dan seorang asisten cantor atau kepala administrasi (Kasie). Struktur organisasi Kebun Pantai Bunati dapat dilihat dalam Gambar Lampiran 2.
Manajer kebun bertugas mengelola, mengorganisir, dan mengendalikan kebun dalam rangka membangun dan merawat tanaman kelapa sawit untuk mencapai target produksi tandan buah segar yang merupakan kebutuhan bahan
mentah Crude Plam Oil (CPO) yang telah ditetapkan dengan rencana dan standar teknis kerja yang berlaku. Manajer kebun bertanggung jawab atas seluruh kegiatan operasional dan administrasi kebun.
Asisten kebun bertugas dan bertanggung jawab kepada manajer kebun untuk mengelola kegiatan divisi dan transportasi unit (Traksi) dengan tujuan mencapai target produksi seluruh divisi dan mengelola kelancaran pengangkutan seluruh kebun. Pada Kebun Pantai Bunati asisten kepala merangkap sebagai asisten divisi I Kebun Pantai Bunati Asisten divisi bertugas dan bertanggung jawab terhadap kebun dengan melaksanakan administrasi divisi dengan tertib, pembinaan sumberdaya manusia di divisi yang dia pimpin, pengendalian biaya yang telah disetujui dan menjadi tanggung jawab divisi. Asisten kebun dan asisten divisi bertanggung jawab atas pengelolaan teknis yang meliputi pengarahan dan instruksi kerja mulai dari mandor satu sampai ke karyawan lapangan., menyelesaikan masalah yang terjadi di divisi yang dia bawahi, dan melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pekerjaan serta mengevaluasi hasil kerja lapangan. Pengelolaan administrasi yang dilakukan oleh asisten divisi meliputi pembuatan rencana kerja harian, bulanan dan tahunan, memeriksa dan mengevaluasi laporan kerja mandor, laporan manajemen dan laporan lainnya serta membuat bon permintaan dan pengeluaran barang (BPPB). Dalam melaksankan tugasnya asisten divisi dibantu oleh mandor I untuk mengkoordinasikan seluruh kegiatan yang ada di lapangan.
Asisten kantor atau kepala adminstrasi bertugas menangani seluruh kegiatan administrasi dan keuangan di tingkat kebun. Asisten kantor membawahi krani produksi yang mencatat seluruh produksi TBS kebun, krani administrasi yang bertugas dan bertanggung jawab dalam hal administrasi keluar masuknya bahan dan material dari gudang kebun dan operator komputer yang bertugas membantu asisten kantor.
Tenaga kerja di Kebun Pantai Bunati terdiri karyawan staf dan non staf. Tenaga kerja staf terdiri dari manager kebun, asisten kepala, asisiten divisi, dan asisten kantor. Sedangkan karyawan non-staf terdiri dari satuan karyawan utama (SKU) bulanan dan harian serta karyawan harian lepas (KHL). Sistem pengupahan staf dan karyawan didasarkan pada ketentuan kebun, sedangkan
karyawan harian lepas (KHL) berdasarkan upah minimum regional yang berlaku di daerah tersebut yaitu Rp 29.800,-. Upah yang diberikan berdasarkan jumlah jam kerja yang ditetapkan yaitu 7 jam untuk hari normal (senin-kamis dan sabtu) dan 5 jam untuk hari jumat. Mulai pukul 06.30-14.00 WITA dengan jeda istirahat selama 30 menit antara pukul 12.00-12.30 WITA upah diberikan dua kali dalam sebulan yaitu gajian kecil pada pertengahan bulan dan gajian besar pada awal bulan. Upah rata-rata per hari SKU bulanan terlampir pada Tabel Lampiran 7.
Fasilitas yang tersedia bagi karyawan antara lain mess dan perumahan, serta barak yang terdapat di setiap divisi, gedung olahraga, poliklinik, kantor divisi, masjid yang terdapat di setiap divisi, penitipan bayi dan anak, dan koperasi. Selain itu juga disediakan bus sebagai sarana transportasi antar jemput untuk untuk anak-anak karyawan yang bersekolah.
Asal Bibit dan Populasi Varietas
Bahan tanaman kelapa sawit yang umum ditanam di perkebunan komersial yaitu persilangan Dura x Pisifera (D x P) yang disebut Tenera. Tanaman kelapa sawit yang diusahakan di kebun Pantai Bunati adalah varietas Tenera Marihat dan Tenera Socfindo. Populasi rata-rata dari total areal yang ditanam adalah 133 pokok/ha, jarak dalam baris adalah 9.2 m, sedangkan jarak antar baris adalah 8 m.
PELAKSANAAN MAGANG
Aspek Teknis
Pemeliharaan dan pemotongan buah matang di panen merupakan salah satu hal penting yang harus diperhatikan demi tercapainya produktivitas yang tinggi. Kegiatan pemeliharaan bertujuan untuk mengkoordinasikan areal pertanaman kelapa sawit secara optimal agar didapat pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang terbaik. Kegiatan pemeliharaan yang baik juga memudahkan kegiatan pemanenan. Kegiatan panen tanaman kelapa sawit bertujuan untuk menjaga kelestarian pertanaman dengan memungut hasil berupa tandan buah segar (TBS) dan brondolan yang bernilai ekonomis tinggi.
Pengelolaan perkebunan kelapa sawit meliputi pengelolaan kegiatan teknis di lapangan dan kegiatan administrasi. Pelaksanaan teknis yang dilakukan selama penulis melakukan magang antara lain pengendalian gulma manual dan kimiawi yakni dongkel anak kayu, tebas, semprot piringan, semprot gawangan. Kegiatan pemeliharaan yang lain yaitu tunasan progresif, pemupukan, pemberian mulsa janjang kosong (pupuk organik), perawatan jalan dan jembatan. Untuk pekerjaan yang berkaitan dengan produksi kegiatan teknis yang dilakukan adalah pemotongan buah (panen), transportasi panen, taksasi (menghitung kerapatan panen), dan sensus buah
Pemupukan
Pemupukan merupakan hal penting bagi perkebunan kelapa sawit hal ini disebabkan antara lain karena (1) Tanaman kelapa sawit memiliki kebutuhan akan unsur hara makro dan unsur hara mikro yang jumlah ketersediaannya yang terkandung dalam tanah bersifat terbatas, (2) Pada saat tanaman memasuki fase menghasilkan pada saat itulah tanaman memiliki kebutuhan tertinggi dan apabila pengaplikasian yang dilakukan sudah tepat (waktu, cara, bahan, dosis, dan jenis) maka hal tersebut akan berpengaruh positif terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman, (3) Pupuk juga menggantikan unsur hara yang hilang karena pencucian dan terangkut melalui produk yang dihasilkan serta memperbaiki kondisi yang tidak
menguntungkan atau mempertahankan kondisi tanah yang baik untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman kelapa sawit, dan (4) Kegiatan pemupukan merupakan kegiatan yang biaya anggarannya mencapai 60 % dari total biaya anggaran.
Pertumbuhan dan pekembangan tanaman kelapa sawit sangat dipengaruhi oleh pemberian dan ketersediaan unsur hara dalam tanah, oleh karena itu serapan unsur hara dibatasi secara nyata oleh unsur hara yang berada dalam keadaan minimum. Untuk mencapai pertumbuhan tanaman yang optimal, seluruh unsur hara harus berada dalam kondisi yang setimbang. Artinya, tidak boleh ada satupun unsur hara yang menjadi faktor pembatas. Oleh sebab itulah pemupukan mutlak menjadi suatu hal yang penting dalam suatu kegiatan perkebunan
Pemupukan anorganik. Pada Kebun Pantai Bunati kegiatan pemupukan memiliki sistem yang dinamakan Block Manuring System (BMS). BMS merupakan sistem pemupukan terkonsentrasi yang dikerjakan blok per blok dengan sasaran mutu pemupukan yang lebih baik, supervisi lebih fokus, dan produktivitas yang lebih tinggi. Kegiatan BMS terdiri dari organisasi-organisasi yang saling mendukung untuk tercapainya tujuan dari BMS tersebut, adapun organisasi tersebut adalah :
1. Organisasi kerja penguntilan 2. Organisasi kerja pelangsiran 3. Organisasi kerja pengeceran 4. Organisasi kerja penaburan
Penguntilan. Kegiatan pemupukan dengan sistem BMS diawali dengan kegiatan penguntilan adapun kegiatannya adalah pertama-tama penguntil mempersiapkan alas pupuk, karung until dan takaran untilan (berat tiap untilan berkisar 12.5 kg), penguntil membuka karung dengan cara menarik benang jahitan (namun pada kenyataannya penguntil membuka karung dengan merobeknya dengan parang). Lalu kegiatan selanjutnya adalah penguntil menghancurkan/menghaluskan pupuk yang telah menggumpal dan membatu (pupuk yang biasanya menggumpal adalah pupuk RP dan Urea hal ini disebabkan pupuk RP dan Urea apabila terkena
hujan maka pupuk tersebut akan menggumpal), kegiatan penghancuran pupuk yang menggumpal dimaksudkan agar mencegah terjadinya penguapan yang tinggi dan proses penyerapan ke dalam tanah yang lambat akibat pupuk yang menggumpal, setelah pupuk yang menggumpal telah dihancurkan maka penguntil akan melakukan kegiatan penguntilan pupuk sesuai dengan takaran yang telah disediakan. Apabila pupuk telah selesai diuntil maka karung untilan di susun dengan rapi dan teratur (5-10 susun) agar mudah dihitung dan dipisahkan dalam perblok aplikasi. Mandor until bertugas membuat catatan pada papan administrasi (divisi, blok, jumlah untilan, jenis pupuk, nomor dan tanggal penguntilan). Setelah seluruh kegiatan penguntilan selesai gudang pupuk harus dibersihkan dan dirapihkan. Adapun masalah yang biasanya menjadi kendala dari kegiatan penguntilan adalah karung until yang kadang robek sehingga ada beberapa pupuk yang tercecer di lantai gudang pupuk dan tenaga kerja penguntil yang kurang sehingga menyebabkan kegiatan penguntilan dan pemupukan terhambat karena tenaga kerja pupuk dialokasikan ke kegiatan penguntilan. Basis tugas yang ditetapkan perusahaan untuk kegiatan penguntilan adalah sebesar 1.5 ton dengan premi sebesar Rp 8000/ton. Penulis melakukan kegiatan penguntilan pupuk RP dengan prestasi 350 kg.
Pelangsiran. Kegiatan pelangsiran harus diawasi oleh mandor langsir sebagai pemberi petunjuk berapa jumlah untilan yang harus ditempatkan pada setiap tempat peletakan pupuk (TPP). TPP terletak pada setiap kaki-lima pada tiap-tiap gawang yang ada pasar rintisnya, hal ini disebabkan metode dari BMS itu sendiri yang mengharuskan setiap pemupuk memasuki gawang secara berbarengan. Tumpukan untilan yang dilangsir harus diletakkan di kaki-lima (tidak boleh diletakkan di jalan) hal ini berkaitan dengan kemudahan pemupuk untuk mengambil karung untilan dan untuk meminimalisir terjadinya kemungkinan losses disebakan pupuk tercecer di jalan dan karung until rusak akibat tergilas kendaran bermotor yang melintasi jalan. Dengan jumlah pokok perbaris 36 dan dosis perpokok 1.25 kg/pokok maka dibutuhkan untilan perpokok delapan untilan dengan rincian enam until di awal blok aplikasi dan dua until di akhir blok. Hal ini bertujuan untuk memudahkan kegiatan
pelangsiran. Pengupahan untuk kegiatan pelangsiran adalah sebesar Rp 5 500/tonnya. Penulis melakukan kegiatan pelangsiran pupuk RP dengan prestasi 600 kg. Kegiatan penguntilan dan pelangsiran pupuk anorganik dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar1. Kegiatan penguntilan dan pelangsiran pupuk anorganik
Pengeceran. Kegiatan pengeceran pupuk dalam barisan tanaman dilakukan dengan menggunakan angkong dengan perbandingan satu pelangsir dan dua penabur, berdasarkan sistem BMS karung untilan diletakkan oleh pengecer pada pokok no. 1, 8, 17 dan 25 (disesuaian dengan dosis dan kebutuhannya). Karung bekas untilan dibawa dan ditaruh dengan rapi di pinggir kaki-lima hancaknya. Kendala pada kegiatan pengeceran adalah ketika lahan yang ditemui pada blok yang akan dipupuk termasuk lahan yang berombak dan kurang tersediannya titi panen yang dibutuhkan untuk melewati parit sehingga hal tersebut akan menyulitkan pengecer untuk membawa angkong yang berisi karung until tersebut.
Penaburan. Kegiatan penaburan disesuaikan dengan jenis pupuk yang akan disebar (tergantung kecepatan pupuk untuk menguap). Bila pupuk urea yang bersifat cepat menguap yang akan ditebar maka penaburan dilakukan dengan menabur pupuk secara merata di permukaan piringan hal ini dimaksudkan agar pupuk secara cepat dapat meresap ke dalam tanah dan segera dapat direspon oleh tanaman untuk meminimalisasikan losses yang akan terjadi akibat penguapan. Sedangkan, apabila pupuk yang akan ditebar bersifat lambat menguap seperti pupuk RP, MOP & Kieserite maka pupuk akan ditabur di luar lingkaran piringan atau di pinggir pelepah/ janjang kosong dengan membentuk huruf “U” (dimaksudkan untuk menghindari
terjadinya aplikasi pupuk pada pasar rintis), pemupukan dengan bentuk “U” dapat dilakukan karena akar sudah menyebar di luar piringan. Hal ini dimaksudkan agar losses yang terjadi akibat pupuk terhanyut air dan tertiup angin dapat diminimalisasikan. Kendala dari kegiatan penaburan adalah lahan yang akan dipupuk termasuk bergelombang sehingga akan menyebabkan kesulitan bagi penabur. Pelaksanaan kegiatan penaburan dan pengeceran pupuk anorganik dapat dilihat pada Gambar 2. 2 6 2 6 2 6 2 6 6 2 6 2 6 2 6 2 6 2 2 6 2 6 2 6 2 6 2 6 2 6 2 6 2 6 2 6 6 2 6 2 6 2 6 2 6 2 2 6 2 6 2 6 2 6 2 6 6 6 6 6 2 2 2 2 2 6 6 6 6 6
Gambar 2. Pelaksanaan kegiatan penaburan dan pengeceran pupuk anorganik
Dosis pupuk yang diberikan pada tanaman diperhitungkan dengan kebutuhan hara tanaman dan kemampuan lingkungan untuk menyediakan hara. Berdasarkan konsep ini, pupuk hanya diberikan sebagai penambah unsur hara yang kurang atau tidak dapat disediakan oleh lingkungan. Penerapan konsep ini bertujuan untuk menetapkan dosis pupuk dalam rangka penerapan teknologi bermasukan rendah pada perkebunan kelapa sawit. Kebutuhan hara tanaman kelapa sawit pada Kebun Pantai Bunati dapat diketahui melalui kegiatan Leaf Sampling Unit (LSU). Basis yang ditetapkan oleh perusahaan untuk tenaga kerja pupuk (pengecer dan penabur) adalah
450 kg/HK dengan upah minimum regional adalah Rp 29 800/hari dengan premi tetap sebesar Rp 1 750/hari. Penulis melakukan kegiatan dengan prestasi 250 kg/HK
Untuk kegiatan pemupukan anorganik diperlukan waktu dan tempat pengaplikasian yang tepat, karena biaya yang dikeluarkan kebun untuk anggaran pembelanjaan pupuk anorganik mencapai 60 % dari total anggaran belanja kebun. Waktu pemupukan pada tanaman menghasilkan (TM) ditentukan oleh curah hujan (yang mencukupi), pemupukan yang optimum dilakukan pada bulan-bulan dengan curah hujan 100-200 mm/bulan, sedangkan curah hujan minimum 60 mm/bulan dan maksimum 300 mm/bulan. Bila curah hujan per bulan < 60 mm/bulan, pemupukan sebaiknya ditunda. Begitu pula bila curah hujan mencapai > 300 mm/bulan maka pemupukan juga akan ditunda terlebih dahulu. Pada TM frekuensi aplikasi adalah 1-2 kali aplikasi/tahun, Pemupukan N dan K agar selalu diusahakan untuk memupuk menjelang akhir dan awal musim hujan, hal ini disebabkan sifat pupuk urea dan kieserite yang mudah menguap dan larut.
Pemupukan organik. Bahan organik dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki struktur tanah dan memberikan hara bagi tanaman. Umumnya bahan organik ini merupakan produk limbah sehingga tersedia secara murah, terutama bila diaplikasikan dekat dengan tempat pembuangannya. Daur ulang sampah dari proses pengolahan di pabrik akan sangat bermanfaat bagi tanaman karena secara komparatif memberikan unsur hara yang murah tanpa adanya resiko keracunan bagi tanaman. Pada Kebun Pantai Bunati pemupukan organik dilakukan dengan mengunakan mulsa janjang kosong (JJK) yang merupakan limbah padat dari proses pengolahan kelapa sawit. Janjang kosong yang diaplikasikan adalah janjang kosong segar yang diangkut langsung dari pabrik kelapa sawit (PKS) dan segera di ecer dilapangan. Pengangkutan dan aplikasi janjang kosong di Kebun Pantai Bunati dilakukan oleh kendaraan yang mengangkut TBS sekembalinya dari PKS. Bobot janjang rata-rata yang diangkut adalah 5-6 ton. Pemberian janjang kosong dilakukan dengan dosis 200 kg/pokok dimana janjang kosong ditempatkan pada gawangan mati. Janjang kosong yang diberikan sebaiknya yang segar yang diangkut langsung dari PKS dan segera
diaplikasikan ke lapangan, dan diratakan satu lapis hal ini dimaksudkan agar tidak terlalu panas bagi akar dan diharapkan dengan terbentuk satu lapisan maka penyebaran hara lebih merata.
Pengupahan untuk kegiatan mulsa janjang kosong adalah sebesar Rp 1 000 / titik mulai dari pokok 1-10 sedangkan mulai dari pokok >10 upah yang diberikan adalah sebesar Rp 1 250. Penulis melakukan kegiatan aplikasi janjang kosong dengan dua metode yang pertama dengan menggunakan traktor landini dengan tanpa mendapat prestasi nyata dan metode yang kedua adalah aplikasi janjang kosong secara manual untuk aplikasi janjang kosong secara manual penulis mendapat prestasi sebesar 1 ton/HK.
Leaf sampling unit (LSU). Kegiatan pengambilan sampel daun ini dilakukan setiap tahunnya dengan membagi kebun menjadi dua kelompok yaitu kelompok yang disampling awal tahun (Februari-Maret) dan kelompok yang disampel pertengahan tahun (Juni-Agustus). Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi kemacetan yang terjadi pada saat analisa daun di laboratorium yang mencapai puncak kesibukan di bulan September-Desember. Pengambilan sampel dilakukan di blok LSU, dimana pemupukan terakhir (Urea, RP, MOP, dan Kieserite) selesai dilakukan minimal 2-3 bulan sebelumnya.
Pengambilan sampel daun tidak boleh dilakukan secara sembarangan karena akan mempengaruhi hasil analisis yang akan dilakukan. Oleh karena itu kegiatan pengambilan sampel dilakukan pada saat tertentu yaitu pada saat interval antara pemupukan (Urea, RP, MOP, dan Kieserite) dengan pengambilan sampel daun sekurang-kurangnya 2-3 bulan. Adapun keadaan yang tidak boleh dilakukan pengambilan sampel adalah pada waktu hujan sehingga harus ditunggu sampai satu jam setelah hujan sampai titik hujan tidak kelihatan lagi di permukaan daun dan curah hujan mencapai 20 mm sehingga menyebabkan pengambilan sampel harus ditunda sampai 36 jam sesudahnya. Pengambilan sampel daun dilaksanakan pada pukul 07.00-12.00 sehingga dengan alasan apapun pengambilan sampel tidak boleh dilakukan pada sore hari. Hal tersebut disebabkan, morfologi daun itu sendiri yang
mengalami keadaan yang paling segar pada pagi-siang hari sehingga sampel yang kita ambil benar-benar mewakili keadaan sebenarnya dari tanaman tersebut.
Pohon contoh pertama dalam LSU adalah pohon yang terletak pada baris ketiga dan pohon ketiga dalam barisan tersebut dari batas blok. Pada salah satu sisi batas blok pohon diberi tanda berupa no LSU. Di barisan ketiga dari pohon tersebut, pada pohon ditepi jalan diberi tandan anak panah ke atas yang berarti dari pohon tanda masuk dalam barisan. Pada pohon terakhir dari barisan ketiga tersebut diberi tanda anak panah ke samping kiri yang berarti pindah baris yang sesuai dengan sistem pengambilan sampel daun yang ditentukan. Daun contoh diambil dari pelepah nomor 17, pelepah nomor 17 ditentukan dengan cara :
Pelepah no. 17 adalah yang terletak di bawah pelepah no. 9
Pelepah no. 9 adalah pelepah yang terletak di bawah pelepah no. 1
Pelepah no. 1 adalah pelepah pertama setelah pucuk, yang sudah membuka penuh.
Contoh daun dalam LSU harus dari pelepah no.17 sehingga apabila pelepah no. 17 dari pohon contoh rusak maka daun contoh harus diambil dari pelepah no.17 dari pohon yang ada di depan atau di belakangnya.
Pengambilan contoh daun memiliki prosedur tertentu, yaitu:
a. Jika mungkin sampel daun diambil langsung dari pelepah no.17 tanpa memotong pelepah tersebut. Jika pohon sudah tinggi maka pelepah no.17 dipotong di bawah pangkal lidi.
b. Dari pelepah no.17 diambil empat helai daun, dua helai di kiri dan dua helai di kanan tepat pada titik pertemuan ke dua sisi pelepah daun. Dari kedua helai masing-masing sisi dipilih satu helai yang tumbuh ke atas dan satu helai yang tumbuh ke bawah
c. Setelah helai anak daun dipotong dari pelepah, kemudian dipotong ujungnya lalu dimasukkan ke dalam kantong plastik yang berbeda sesuai dengan diambil dari sebelah manakah helai anak daun tersebut (kantong plastik putih
untuk helai daun sebelah kanan dan kantong plastik hitam untuk helai daun sebelah kiri
d. Setelah sampel LSU terkumpul seluruhnya maka helai daun contoh dipotong di bagian tengah ± 25cm dengan menggunakan parang
e. Kantong plastik diikat dan dikirim ke kantor divisi
f. Selama di lapangan harus dihindari tercampurnya helai daun dari satu LSU dengan yang lain. Selama itu sampel daun harus dicegah dari terkena sinar matahari langsung
g. Diusahakan agar kantor divisi mengirimkan sampel LSU tersebut ke kantor riset. Jika ini tidak mungkin maka sampel harus dijemput oleh kendaraan riset
Kegiatan LSU tidak hanya melakukan pengambilan contoh daun melainkan juga sambil melakukan pangamatan visual dengan bantuan foto gejala defisiensi yang biasa menyerang tanaman kelapa sawit. Oleh karena sifat pekerjaan ini yang membutuhkan ketelitian dan pemahaman maka tenaga kerja sensus daun sebaiknya jangan berganti-ganti. Analisis secara visual dilakukan dengan pengamatan langsung dengan memperhatikan kriteria sebagai berikut : (1) Perbandingan warna hijau daun dengan warna hijau yang baku (hijau-gelap); (2) Adanya tanda dan gejala defisiensi hara; (3) Membandingkan pertumbuhan tanaman dengan tanaman yang tidak mendapat pemupukan
Tenaga kerja sensus daun juga wajib menulis catatan di formulir yang telah disediakan mengenai gejala-gejala defisiensi hara yang khas yang nampak secara dominan di blok LSU yang diamatinya. Penulis melakukan kegiatan dengan prestasi 15 ha/HK dan 10 ha/HK.
Pengendalian Gulma
Pengendalian gulma pada prinsipnya merupakan usaha untuk meningkatkan daya saing tanaman pokok dan melemahkan daya saing gulma sehingga dapat menekan bahkan menghilangkan pertumbuhan gulma. Kegiatan pengendalian gulma pada Kebun Pantai Bunati dibagi menjadi dua metode yaitu pengendalian gulma secara kimiawi dan pengendalian gulma secara manual.
Kegiatan pengendalian gulma secara kimiawi pada Kebun Pantai Bunati dinamakan Block Spraying System (BSS). BSS terdiri dari kegiatan semprot piringan kimiawi dan semprot gawangan kimiawi dimana masing-masing kegiatan memiliki cara, alat, bahan, dan target penyemprotan yang berbeda. Kegiatan BSS ini membagi tim kerja semprot menjadi dua tim yaitu tim BSS 1 yang mengerjakan semprot piringan kimiawi (Divisi I, II, dan III) dan semprot gawangan kimiawi (Divisi III). Tim BSS 2 mengerjakan semprot gawangan untuk Divisi I dan II.
Semprot piringan. Kegiatan semprot piringan dimulai dengan mandor mengancakan karyawan pada hancanya masing-masing dimana setiap pekerja memiliki hanca dua pasar rintis (untuk isi tanki alat semprot 6 liter), bergerak dari sisi jalan koleksi dan tembus ke sisi jalan koleksi yang sebelahnya kemudian pindah ke pasar rintis sebelahnya yang kosong atau tidak ada benderanya (bendera hanca berfungsi sebagai tanda bahwa hanca tersebut adalah hanca dia sehingga tidak dimasuki oleh yang lain, dan juga sebagai batas penyemprotan terakhir dimana larutan herbisida yang dibawanya habis). Kegiatan semprot piringan menggunakan alat Micron Herbiside Sprayer (MHS) yang berdasarkan hasil pengamatan penulis dapat mengeluarkan larutan sebanyak 0.11 liter/menit. Sasaran kerja dari semprot piringan adalah semua piringan, pasar rintis, pasar tengah, pasar delapan, kaki lima parit, kaki lima blok, dan TPH. Sehingga, hasil yang diharapkan dari kegiatan semprot piringan ini adalah tingkat kematian gulma sasaran di atas 90% dan hasil semprotan merata sesuai sasaran. Bahan yang digunakan untuk kegiatan semprot piringan tersebut adalah starane (0,06 liter/ha/rotasi) dan Round up (0,25 liter/ha/rotasi) sedangkan untuk prestasi kerja karyawan semprot piringan ditentukan
sebesar 6.3 ha/HK/rotasi. Upah minimum regional yang diberikan untuk kegiatan semprot gawangan adalah Rp 24 800/hari dengan premi tetap sebesar Rp 1 750/hari. Penulis melakukan kegiatan dengan prestasi kerja sama dengan karyawan yaitu sebesar 5 ha.
Kendala yang terjadi selama kegiatan semprot piringan adalah tertundanya kegiatan akibat turunnya hujan, rusaknya alat semprot, dan rusaknya unit angkut tanki semprot. Apabila terjadi kendala tersebut maka mandor semprot akan mengganti kegiatan semprot piringan kimiawi menjadi kegiatan pengendalian gulma manual. Kegiatan semprot piringan dan gawangan kimiawi dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar 3. Kegiatan semprot piringan dan gawangan kimiawi
Semprot gawangan. Kegiatan semprot gawangan dimulai dengan mandor mengancakan karyawan pada hancanya masing-masing dimana setiap pekerja bergerak dari setiap pasar rintis yang bergerak dari sisi jalan koleksi sampai dengan pasar tengah blok yang bersangkutan dan kemudian pindah ke pasar rintis sebelahnya yang kosong atau tidak ada benderanya (bendera hanca berfungsi sebagai tanda bahwa hanca tersebut adalah hanca dia sehingga tidak dimasuki oleh yang lain, dan juga sebagai batas penyemprotan terakhir dimana larutan herbisida yang dibawanya habis). Kegiatan semprot gawangan menggunakan alat RB-15 yang besarnya pengeluaran berdasarkan ukuran nozzlenya. Sasaran kerja dari semprot gawangan adalah semua tumbuhan (gulma) di gawangan yang berpotensi menjadi kompetitor dalam penyerapan hara dan menganggu aktivitas pekerja (panen, pemupukan dan aktivitas lainnya) kecuali Nephroliophis, Turnera dan Casia. Hasil yang diharapkan
dari kegiatan semprot piringan ini adalah tingkat kematian gulma sasaran di atas 90% dan hasil semprotan merata sesuai sasaran. Bahan yang digunakan untuk kegiatan semprot piringan tersebut adalah Round up (0,25 liter/ha/rotasi), Garlon (0,35 liter/ha/rotasi), Gramoxone (0,30 liter/ha/rotasi), dan Ally 20 WDG (0,02 liter/ha/rotasi) sedangkan untuk prestasi kerja karyawan semprot gawangan ditentukan sebesar 1.2 ha/HK/rotasi. Upah minimum regional yang diberikan untuk kegiatan semprot gawangan adalah Rp 29 800/hari dengan premi tetap sebesar Rp 1 750/hari. Penulis melakukan kegiatan dengan prestasi sebesar 1.2 ha/HK.
Kendala yang terjadi selama kegiatan semprot gawangan adalah tertundanya kegiatan akibat turunnya hujan, rusaknya alat semprot dan rusaknya unit angkut tanki semprot ditambah berkurangnya anggota tim semprot gawangan akibat dialihkan untuk kegiatan lain seperti sensus daun dan sensus produksi. Apabila terdapat kendala maka mandor semprot gawangan akan mengganti kegiatan semprot gawangan kimiawi menjadi kegiatan pengendalian gulma manual. Pengendalian gulma secara manual pada Kebun Pantai Bunati terdiri dari rawat piringan manual, gawangan manual, dan dongkel anak kayu. Mekanisme pekerjaan ini adalah membersihkan gulma pengganggu yang tumbuh di sekitar pokok tanaman, piringan, dan gawangan. Kegiatan pengendalian gulma manual dimulai dari pencabutan gulma di sekitar pokok yaitu gulma epifit dan kentosan yang tumbuh di batang kemudian dilanjutkan dengan mencabut gulma di sekitar piringan, hal ini bertujuan untuk memudahkan kegiatan pemupukan, pemanenan, dan menghindari adanya gulma yang berpotensi sebagai tanaman inang hama dan penyakit. Setelah selesai di piringan dilanjutkan dengan membersihkan pasar rintis dan gawangan mati dengan cara memotong dan mendongkel jika ditemukan anak kayu dan kentosan dengan menggunakan alat cados untuk mengangkat anak kayu dan kentosan sampai ke akarnya. Jika telah mencapai jalan koleksi berikutnya, pekerja memulai dari mulut pasar rintis berikutnya. Gulma yang tumbuh dominan adalah Clidemia hirta, kentosan (anak sawit), Melastoma malabatrichum, Ipomea sp., dan Chromolaena odorata. Norma kerja untuk jenis pekerjaan ini adalah 1 ha/HK. Prestasi penulis adalah 0.5 ha/HK.
Pengendalian Hama dan Penyakit
Pengendalian hama pada hakikatnya merupakan upaya dari perusahaan untuk menghindari turunnya produktivitas akibat serangan hama yang menyerang perkebunan kelapa sawit. Pemilihan jenis, metode (biologi, mekanik, kimia, dan terpadu), serta waktu pengendalian yang dianggap paling cocok akan dilatarbelakangi oleh pemahaman atas siklus hidup hama tersebut. Pengetahuan terhadap bagian paling lemah dari siklus hama tersebut merupakan titik kritis karena akan menjadi dasar acuan untuk pengambilan keputusan pengendaliannya.
Pada kebun Pantai Bunati dimana areal pertanamannya sudah memasuki fase tanaman menghasilkan (TM) semua maka hama yang menyerang sudah tidak terlalu banyak dan beragam. Berdasarkan pengamatan dan pengalaman penulis selama melakukan kegiatan magang di Kebun Pantai Bunati, hama yang ditemui adalah hama ulat api dan tikus. untuk pengendalian hama ulat api dan tikus perusahaan menggunakan metode biologi (hayati) dan kimia.
Untuk pengendalian hama ulat api pengendalian dilakukan dengan menanam tanaman Tunera subulata dan Antigonon leptotus sebagai inang dari musuh alami ulat api seperti serangga Sycanus sp. Sedangkan untuk hama tikus pengendalian yang dilakukan adalah pengendalian terpadu dimana pengendalian dilakukan dengan menggunakan metode biologi dan kimiawi.
Tindakan pengendalian hama tikus akan berhasil dengan baik, apabila populasinya dapat ditekan dengan semaksimal mungkin sampai ke sumbernya. Pengendalian secara kimia dilakukan sebanyak dua kali setahun tanpa memperhatikan ada atau tidaknya serangan. Pengendalian hama dilakukan dengan cara pemberian umpan racun yaitu Klerat RM-B. Untuk pengendalian secara biologi, kebun Pantai Bunati melakukan pengembangbiakan burung hantu Tylo alba dengan memasang rumah burung yang disebut Nest Box. Lokasi penempatan kandang ini harus strategis (berdekatan dengan pohon besar atau pada areal di sekitar pemukiman) dan diusahakan agar jauh atau membelakangi lampu penerangan serta aman dari manusia. Hal ini dimaksudkan agar burung hantu tidak mudah mengalam stress. Tingkat predasi burung hantu terhadap R. tiomaticus di perkebunan kelapa sawit mencapai
88% sedangkan sisanya 6 % adalah R. argentiventer dan 6 % R. ratus radii (PT. Sajang Heulang, 2006).
Penunasan
Tujuan penunasan adalah untuk mempermudah pekerjaan potong buah (melihat dan memotong buah masak), menghindari tersangkutnya brondolan pada ketiak pelepah, dan memperlancar proses penyerbuakan alami. Selain itu, penunasan dilakukan untuk sanitasi (kebersihan) tanaman sehingga menciptakan lingkungan yang tidak sesuai bagi perkembangan penyakit. Untuk mencapai tujuan penunasan dan tetap mempertahankan produksi maksimum maka harus dihindari terjadinya lebih tunasan. Lebih tunasan adalah terbuangnya sejumlah pelepah produktif secara berlebihan yang akan mengakibatkan penurunan produksi. Penurunan produksi ini terjadi karena berkurangnya areal fotosintesis dan mengakibatkan pokok mengalami stress yang terlihat melalui peningkatan gugurnya bunga betina, penurunan seks rasio (peningkatan bunga jantan), dan penurunan bobot janjang rata-rata (BJR). Untuk menghindari terjadinya lebih tunasan, perlu dilakukan pelatihan, pengawasan yang ketat, dan penggunaan alat yang tepat.
Kegiatan penunasan pada Kebun Pantai Bunati dinamakan tunasan progressif. Tunasan progressif adalah kegiatan penunasan dimana penunasan dilakukan oleh pemanen sendiri pada saat pemanen melakukan kegiatan pemanenan. Tunas progressif memiliki kelebihan dan kekurangan, adapun kelebihan tunas progressif dibandingkan tunas periodik adalah tunasan menjadi lebih terkontrol dan tidak gondrong serta apabila melakukan tunas periodik maka apabila pada saat melakukan kegiatan penunasan adalah pada saat panen puncak maka penunasan akan ditunda terlebih dahulu, hal itu akan menyebabkan tunasan tidak berjalan dengan baik. Pada Kebun Pantai Bunati agar tidak terjadi lebih tunasan maka ditetapkan standar jumlah pelepah yang tetap dipertahankan, yaitu dipertahankan 48-56 pelepah (songgoh 3) atau minimal 40-48 pelepah (songgoh 2), hal ini masih memungkinkan karena umur tanaman kelapa sawit pada Kebun Pantai Bunati berdasarkan tahun tanamnya masih berkisar 10-12 tahun. Prestasi kerja karyawan untuk kegiatan penunasan adalah 6
ha/HK/rotasi dimana rotasi untuk kegiatan penunasan adalah 3 rotasi/tahun. Tugas pengawasan dilakukan oleh mandor panen dengan melakukan kegiatan pengecekan mutu hanca tiap harinya. Pembayaran dilakukan setiap bulannya dengan upah sebesar Rp 500/pokok, pembayaran tidak dilakukan apabila basis standar areal yang ditunas belum selesai dikerjakan. Penulis tidak secara khusus melakukan kegiatan ini karena sifat pekerjaan ini yang berkelanjutan namun penulis melakukan kegiatan penunasan bersamaan dengan kegiatan panen tanpa mendapat prestasi penunasan.
Perawatan Jalan dan Titi Panen
Pada saat kegiatan magang, penulis mengikuti pekerjaan perawatan /pemeliharaan ringan jalan dan pengerasan jalan pada tempat-tempat tertentu dengan cara manual sedangkan untuk kegiatan pemeliharaan dengan mekanis penulis belum berkesempatan melakukannya karena tidak adanya kegiatan tersebut pada saat penulis melakukan magang di Kebun Pantai Bunati. Adapun urutan kerja pemeliharaan jalan secara manual adalah mengalirkan terlebih dahulu air yang menggenang pada jalan ke arah parit dengan menggunakan cangkul lalu apabila air sudah mengering maka pada lubang jalan diletakkan batu-batu besar sebagai pondasi awal yang kemudian akan ditimbun oleh batu-batu yang berukuran lebih kecil. Penulis tidak memiliki prestasi kerja yang nyata karena pada saat kegiatan perawatan penulis bertugas sebagai pendamping mandor perawatan.
Pemeliharaan titi panen juga menjadi hal yang sangat penting dalam kegiatan pemeliharaan kebun. Hal ini disebabkan fungsi titi panen itu sendiri yang langsung bersentuhan dengan pekerja karena sifatnya yang berada di dalam blok kebun. Pada kebun Pantai Bunati dilihat dari jenis bahan material penyusunnya konstruksi titi panen dapat dibedakan menjadi titi panen kayu ulin dan titi panen beton bertulang
Untuk titi panen kebijakan yang dikeluarkan oleh perusahaan mengenai ketersediaannya adalah 3 : 1 dimana pengertiannya adalah satu titi panen untuk tiga pasar rintis. Untuk kemudahan melewatinya berdasarkan pengamatan penulis titi panen beton lebih mudah untuk dilewati karena tidak licin dan memiliki permukaan yang lebih lebar dibandingkan titi panen ulin. Untuk titi panen kayu ulin apabila
orang yang belum terbiasa melewatinya maka akan sedikit mengalami kesulitan bila sedang membawa angkong. Untuk kegiatan pemeliharaan titi panen, kegiatan yang dilakukan adalah penambahan titi panen dan penggantian titi panen yang mengalami kerusakan. Tidak ada prestasi yang jelas untuk kegiatan pemeliharaan titi panen tetapi hanya berdasarkan jam kerja.
Sensus Produksi
Sensus produksi merupakan kegiatan pendataan pada tanaman kelapa sawit dengan cara menghitung mulai dari bunga cengkih sampai buah yang akan matang dalam jangka waktu 1-5 bulan ke depan sebagai dasar untuk perhitungan produksi satu semester ke depan. Penyususunan target produksi TBS didasarkan pada sensus buah yang dilakukan setiap semester.
Penulis melakukan kegiatan sensus produksi tidak bersamaan dengan kegiatan sensus produksi kebun. Hal ini disebabkan waktu pelaksanaan sensus semester I pada kebun Pantai Bunati adalah pada bulan Desember hingga Januari dan semester II dilaksanakan Juni hingga Juli. Penulis tidak berkesempatan melakukan kegiatan sensus produksi secara keseluruhan disebabkan penulis mengakhiri kegiatan magangnya pada tanggal 7 Juni 2008 sedangkan kegiatan sensus produksi pada Kebun Pantai Bunati dilaksanakan pada tanggal 16 Juni 2008. Oleh karena itu, penulis hanya melakukan kegiatan percobaan tanpa mendapatkan prestasi nyata.
Tenaga kerja yang digunakan oleh Kebun Pantai Bunati untuk kegiatan sensus produksi adalah mantri hama penyakit dibantu mantri sensus/tanaman dan tiga orang petugas sensus disetiap divisi (minimal dua tim/divisi), adapun tenaga kerja yang diambil adalah dari tim semprot gawangan. Prestasi kerja sensus produksi adalah 10-15 ha/HK. Tenaga kerja harus terlatih dan tidak diganti-ganti sehingga terbentuk tim ahli dan profesional. Cara pelaksanaan sensus adalah :
• Baris pertama yang dimasuki adalah baris nomor 3 dari arah barat selatan • Menentukan jumlah pohonnya antar barisan jaraknya 5 baris, dan dalam
barisan berselang 5 pohon.
• Penghitungan janjang dilakukan terhadap TS dan PS no. 1 – 6, sehingga ada 7 pokok yang disensus.
• Kayu kait disangkutkan pada salah satu janjang (sebagai tanda awal penghitungan) dan selanjutnya penulis menghitung semua janjang yang ada pada pokok tersebut.
• Janjang yang dihitung adalah mulai dari bunga betina yang sudah dibuahi/anthesis (bunga cengkih) yang diperkirakan siap dipanen 5-6 bulan berikutnya.
• Janjang yang diperkirakan akan dipanen pada bulan desember (untuk sensus produksi semester I) dan atau bulan Juni (untuk sensus produksi semester II) tidak dihitung.
• Setiap selesai menghitung janjang tiap-tiap pokok sensus, maka penulis menuliskannya pada batang pokok sawit
• Penulisan dengan menggunakan paku atau cat minyak (warna putih) dengan arah menghadap pasar rintis. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan sewaktu-waktu dilakukan cross check oleh Asisten/Manager.
Pada saat kegiatan magang penulis melakukan perbandingan antara produktivitas kebun pantai bunati dengan standar Pusat Penelitian Kelapa Sawit untuk varietas Marihat dimana didapatkan hasil perbandingan yaitu produktivitas dari kebun Pantai Bunati belum mencapai standar Pusat Penelitian Kelapa sawit, hal ini dapat disebabkan lahan dari Kebun Pantai Bunati itu sendiri yang merupakan areal berpasir sehingga menyebabkan terjadinya defisiensi hara yang menyebabkan berkurangnya potensi produksi kebun. Selain itu belum tercapainya standar marihat itu dapat juga disebabkan kesalahan dari pekerja yang ditugaskan untuk melakukan pengamatan yaitu kurangnya ketelitian pekerja pada saat mengamati buah matang. Adapun produktivitas dari Kebun Pantai Bunati selama 7 tahun terakhir disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Perkembangan Produktivitas TBS periode 2002 – 2008 Produktivitas TBS (ton/ha/tahun) Tahun Tanam Luas (ha) 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008* 1996 254 14.5 12.2 19.1 24.5 25.5 24.72 20.7 1997 572 9.9 7.7 16.1 18.8 23.0 22.52 22.0 1998 1 693 4.0 5.1 11.2 15.7 20.0 20.66 19.5 Total 2 675 6.4 6.4 13.1 17.3 21.2 21.5 20.2 Sumber : Data Kantor Besar Kebun Pantai Bunati Note*: Produksi sampai dengan bulan April
Dari data pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa telah terjadi kenaikan pada produktivitas Kebun Pantai Bunati. Pertambahan umur dan pemberian pupuk organik janjang kosong secara berkelanjutan membuat produktivitas TBS pada Kebun Pantai Bunati meningkat. Pemberian mulsa janjang kosong pada tahun 2003 menghasilkan produktivitas yang tinggi pada Kebun Pantai Bunati di tahun 2004.
Panen
Panen merupakan salah satu kegiatan yang penting pada pengelolaan tanaman kelapa sawit menghasilkan. Selain bahan tanaman dan pemeliharaan tanaman, panen juga salah satu faktor penting dalam menentukan produksi. Keberhasilan panen akan menunjang pencapaian produktivitas tanaman. Sebaliknya kegagalan panen akan menghambat pencapaian produktivitas tanaman kelapa sawit. Pengelolaan tanaman yang baik dan potensi produksi yang tinggi tidak akan ada artinya jika panen tidak dilaksanakan secara optimal.
Panen adalah pemotongan tandan dari pohon hingga pengangkutan ke pabrik. Urutan kegiatan panen adalah pemotongan tandan buah matang panen, pengutipan brondolan, pemotongan pelepah, pengangkutan hasil ke TPH, dan pengangkutan hasil ke pabrik. Keberhasilan panen dan produksi sangat bergantung pada bahan tanam yang digunakan, tenaga pemanen, ketrampilan pemanen, sistem panen yang digunakan, peralatan panen yang digunakan, kelancaraan sarana transportasi serta
faktor pendukung lainnya seperti organisasi panen yang baik, keadaan areal dan insentif yang diberikan.
Persiapan panen. Persiapan panen merupakan penyiapan areal yang akan dipanen. Persiapan panen yang baik akan memperlancar pelaksanaan panen, kegiatan persiapan panen yang dilakukan pada Kebun Pantai Bunati (seluruh tanaman kelapa sawit pada Kebun Pantai Bunati merupakan tanaman menghasilkan) meliputi: penentuan kebutuhan tenaga kerja, penetapan seksi potong buah, penetapan luas hanca kerja pemanen, penetapan luas hanca permandoran, peralatan panen (dodos, angkong, gancu, egrek, gantolan brondolan, dan kampak), transportasi untuk pengangkutan TBS dari TPH ke pabrik, kemudian sarana panen (pasar rintis, piringan, dan gawangan tanaman, pemasangan titi panen, pemeliharaan jalan, pemeliharaan TPH, dan pembuatan markah blok).
Kriteria matang panen. Kriteria matang panen adalah parameter yang digunakan oleh perusahaan dalam menentukan buah sudah layak panen atau belum. Parameter yang digunakan oleh Kebun Pantai Bunati untuk menentukan apakah buah sudah layak panen atau belum adalah lima brondolan lepas jatuh di piringan. Brondolan lepas tersebut adalah brondolan yang lepas secara normal, bukan brondolan yang lepas karena serangan tikus atau brondolan yang lepas karena serangan penyakit. Kriteria matang panen berhubungan dengan kadar kandungan minyak dan kandungan asam lemak bebas (ALB) dalam daging buah.
Sistem hanca panen. Luas areal yang akan dipanen dalam satu hari disebut dengan hanca panen. Sistem hanca panen terdiri dari tiga jenis yaitu :
• Sistem hanca giring murni, yaitu sistem yang menempatkan pemanen di semua kemandoran dengan cara digiring dari satu hanca ke hanca selanjutnya. Oleh karena itu, dibutuhkan supervisi yang aktif dalam penghancaan dan pengawasan kerja karyawan, karena sistem ini memungkinkan seorang pemanen tidak punya rasa tanggung jawab terhadap hancanya dan butuh waktu yang lebih lama untuk pindah hanca. Sistem ini biasanya dipakai pada areal-areal yang baru melakukan panen.
• Sistem hanca giring tetap, yaitu menempatkan pemanen dengan cara digiring dari satu hanca ke hanca selanjutnya dalam seksi panen yang telah ditetapkan pada hari itu. Bedanya dengan sistem hanca giring murni adalah bahwa sistem ini memiliki hanca tetap pada mandornya.
• Sistem hanca tetap, yaitu sistem yang menempatkan pemanen pada suatu daerah yang sudah ditentukan (hanca tetap), tidak boleh pemanen lain memasukinya kecuali sepengetahuan mandor. Dengan sistem ini rasa tanggung jawab pemanen akan lebih tinggi dan mandor akan lebih mudah melakukan pengawasan terhadap hasil kerja anak buahnya. Walaupun mungkin kurang adil, karena bisa saja seorang pemanen akan selalu memperoleh hanca yang bagus terus atau jelek terus. Biasanya sistem ini akan memungkinkan mandor malas/kurang aktif.
Alat dan perlengkapan panen. Alat yang digunakan dalam kegiatan panen di Kebun Pantai Bunati adalah alat panen yang digunakan untuk tanaman kelapa sawit yang sudah berumur > 7 tahun, yaitu dodos besar, egrek, galah panen, kapak, ganco, karung dan angkong. Dodos besar dan egrek digunakan karena tanaman kelapa sawit pada kebun Pantai Bunati telah berumur 10-12 tahun, sehingga apabila digunakan dodos kecil akan menyulitkan pemanen untuk memanen karena tidak sampainya dodos untuk memotong pelepah. galah panen adalah gagang pisau egrek yang dibuat dari alumunium sedangkan ganco digunakan untuk meletakkan buah yang telah dipanen ke dalam angkong yang selanjutnya akan dibawa ke TPH menggungakan angkong tersebut. Karung digunakan oleh pengutip brondolan untuk menampung brondolan yang telah dikutip sebelum ditumpahkan ke dalam angkong. Penggunaan karung sebagai penampung brondolan memudahkan pengutip brondolan agar tidak perlu bolak-balik menaruh brondolan. Daftar alat yang digunakan oleh Kebun Pantai Bunati untuk melakukan kegiatan panen dapat dilihat pada Tabel 2
Tabel 2. Peralatan panen Kebun Pantai Bunati
No Nama Alat Spesifikasi Penggunaan/pemakaian
1 Dodos besar
Lebar mata 14 cm, lebar tengah 12 cm, tebal tengah 0.5 cm, tebal pangkal 0.7 cm, diameter gagang 4.5 cm, panjang total 18 cm
Potong buah tanaman umur 5-8 tahun
2 Pisau egrek
Berat 0.5 kg, panjang pangkal 20 cm, panjang pisau 45 cm, sudut lengkung dihitung pada sumbu 135
Potong buah tanaman umur > 9 tahun
3 Goni
Wadah transport TBS ke TPH, memuat brondolan ke alat transport
4 Angkong Wadah transport TBS ke TPH 5 Tali nilon 5 cm, pilin 3, 1 kg=43 m=5 egrek Pengikat pisau egrek
6 Batu asah Pengasah dodos dan egrek 7 galah panen Aluminium ukuran 6 m dan 12 m Galah pisau egrek
8 Ganco Besi beton 3/8”, panjang sesuai kebiasaan setempat
Memuat/membongkar TBS ke/dari alat transport
Sumber : PT. Sajang Heulang, 2006
Rotasi panen. Rotasi panen adalah selang waktu antara panen yang satu dengan panen berikutnya pada satu hanca panen. Rotasi panen erat hubungannya dengan kerapatan panen, kapasitas pemanen,dan keadaan pabrik. Oleh karena itu, rotasi panen dalam realitanya dapat berubah-ubah tergantung kondisi di lapangan. Rotasi panen merupakan faktor pembatas bagi kebun Pantai Bunati dalam menentukan produksi TBS, kualitas/mutu buah, mutu transport, pengolahan TBS di PKS, dan biaya eksploitasi. Pada kebun Pantai Bunati panen rendah akan menyebabkan rotasi berubah menjadi 7-9 hari dan pada panen puncak bisa mencapai 9-12 hari.
Angka kerapatan panen. Kerapatan panen adalah jumlah pokok yang akan dipanen dalam satu blok tertentu dalam satu hari. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengetahui jumlah tenaga pemanen yang dibutuhkan untuk menyelesaikan panen
pada luasan tertentu. Sistem perhitungan kerapatan panen yang digunakan adalah Sistem perhitungan kerapatan panen yang digunakan yaitu dengan mengamati seluruh pokok yang berada pada baris yang diamati dengan jarak antar baris yang diamati adalah 10 baris. Hal ini bertujuan agar didapatkan persentase pengamatan masing-masing blok pengamatan sebesar 15 %.
Kebutuhan tenaga kerja pemanen per divisi. Pada kebun Pantai Bunati yang menggunakan sistem panen Block Harvesting System (BHS) dimana pada sistem ini tenaga kerja yang digunakan bersifat tetap. Oleh karena itu, kebutuhan tenaga kerja pada Kebun Pantai Bunati tidak membutuhkan angka kerapatan panen sebagai dasar penentuan kebutuhan tenaga kerja dan ditetapkan pada masa peralihan TBM ke TM sebagai salah satu syarat penentuan luas hanca pemanen. Untuk menghitung kebutuhan tenaga kerja digunakan rumus :
TKP = Luas rata-rata panen per seksi x Ton/Ha/Rotasi x 1000 Output panen yang diinginkan (Kg/HK)
Kebun Pantai Bunati menggunakan sistem BHS Division of labour (Dol) 2 yang berarti memisahkan tugas antara pemanen dengan pengutip brondolan maka total tenaga kerja pemanen yang dibutuhkan dibagi dua karena perbandingan antara tenaga kerja panen dan pengutip brondolan adalah 1 : 1.
Basis dan premi panen. Pada Kebun Pantai Bunati terdapat tiga jenis basis yang harus dipenuhi oleh tenaga kerja panen, yaitu basis luas, basis waktu, dan basis borong. Basis borong adalah jumlah tandan yang harus dipanen sebagai dasar untuk menghitung kelebihan tandan sebagai premi. Jumlah basis borong ditetapkan dengan pertimbangan rata-rata kemampuan/output (janjang/HK) selama jam dinas (7 jam/hari kerja biasa dan 5 jam/hari untuk hari jumat), umur tanaman, bobot janjang rata-rata (BJR), homogenitas tanaman, persentasi populasi pokok produktif dan distribusinya di lapangan. Total output (kg/HK) dan biaya panen (Rp/kg) upah dan premi panen dalam anggaran/budget pada tahun berjalan. Basis luas adalah hanca panen yang harus diselesaikan oleh pemanen dalam satu hari kerja walaupun basis borong telah didapatkan, hal ini dilakukan agar hanca panen tidak terpotong-potong sehingga
tujuan dari sistem BHS dapat tercapai. Basis waktu adalah jumlah jam yang harus ditepati pemanen dalam melakukan pekerjaannya, yaitu 7 jam pada hari normal dan 5 jam pada hari jumat. Untuk basis luas karyawan tidak dikenakan sanksi apabila basis hanca yang ditetapkan tidak dapat dipenuhi pada saat panen puncak karena hal ini berhubungan dengan kemampuan karyawan dalam hal ini tenaga yang dibutuhkan apabila buah sedang banyak dan basis waktu yang ditetapkan telah dipenuhi.
Selain basis borong, pada pekerjaan panen terdapat pula premi panen, tujuan pemberian premi panen adalah memberikan penghargaan kepada pekerja apabila hasil kerjanya di atas standar yang ditentukan (basis borong), selain itu merangsang pekerja untuk berupaya mencapai output yang telah ditetapkan, tetapi tidak dengan biaya yang lebih tinggi dari biaya standar jam dinas, serta memupuk rasa tanggung jawab pekerja terhadap tugasnya.