Oleh :
KHALID BIN WALID
NIM. 120500056
PROGRAM STUDI BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN
JURUSAN MANAJEMEN PERTANIAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA
SAMARINDA
Oleh :
KHALID BIN WALID
NIM. 120500056
Karya Ilmiah Sebagai Salah Satu Syarat
Untuk Memperoleh Sebutan Ahli Madya Pada Program Diploma III Politeknik Pertanian Negeri Samarinda
PROGRAM STUDI BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN
JURUSAN MANAJEMEN PERTANIAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA
SAMARINDA
Oleh :
KHALID BIN WALID
NIM. 120500056
Karya Ilmiah Sebagai Salah Satu Syarat
Untuk Memperoleh Sebutan Ahli Madya Pada Program Diploma III Politeknik Pertanian Negeri Samarinda
PROGRAM STUDI BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN
JURUSAN MANAJEMEN PERTANIAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA
SAMARINDA
DELTA KECAMATAN SUNGAI KELAI KABUPATEN BERAU
PROP INSI KALIMANTAN TIMUR.
Nama
:
Khalid Bin Walid Nim : 120500056Jurusan : Manajemen Pertanian
Program Studi : Budidaya Tanaman Perkebunan
Lulus ujian pada tanggal :
Dosen Pembimbing Dosen penguji I Dosen Penguji II
Faradilla,SP,M.Sc NIP. 197401092000122001 Nur laila,SP,MP. NIP. 197110302001121001 Jamaluddin,SP,M.Si NIP. 197206122001121003 Menyetujui Ketua Program Studi Budidaya Tanaman Perkebunan Politeknik Pertanian Negeri Samarinda
Nur Hidayat,SP, M.Sc. NIP. 197210252001121001
Mengesahkan
Ketua Jurusan Manajamen Pertanian Politeknik Pertanian Negeri Samarinda
Ir. Masrudi, M.P NIP. 196008051988031003
Sungai Kelai Kabupaten Berau Propinsi Kalimantan Timur (di bawah bimbingan FARADILLA).
Pemanenan tanaman kelapa sawit merupakan salah satu kegiatan yang penting pada pengelolaan tanaman kelapa sawit menghasilkan. Pemanenan kelapa sawit adalah pemotongan tandan buah dari pohon sampai dengan pengangkutan ke pabrik, yang meliputi kegiatan pemotongan tandan buah matang, pengutipan berondolan, pemotongan pelepah, pengangkutan hasil ke tempat pemungutan hasil (TPH), dan pengangkutan hasil panen ke pabrik kelapa sawit (PKS).
Kajian ini bertujuan untuk mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan panen yang meliputi rotasi panen, alat panen, kriteria matang panen, dan produksi panen yang ada di PT. Yudha Wahana Abadi Afdeling Delta. Waktu kajian dilaksanakan selama 2 (dua) bulan dari 3 Maret - 3 Mei 2015 di PT. Yudha Wahana Abadi Afdeling Delta Desa Merapun Kecamatan Kelai Kabupaten Berau Propinsi Kalimantan Timur. Pengambilan data dilakukan dengan 2 cara yaitu pengambilan data primer dan sekunder.
Hasil dari kajian panen ini ialah pemanenan yang dilakukan PT. Yudha wahana Abadi dari kriteria matang panen yaitu berdasarkan warna tandan sawit merah mengkilat dan orange serta buah memberondol 25-50%, untuk rotasi panen menggunakan rotasi 5/7, untuk penggunaan alat panen, afdeling delta menggunakan 2 alat panen yaitu dodos dan egrek.
pasangan ibu Nuraini dan bapak Faisal Wahyudi.
Pada tahun 1999 memulai pendidikan formal di Sekolah Dasar Negeri No 004 di Kecamatan Kongbeng, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur dan lulus pada tahun 2005, kemudian masuk Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Kongbeng dan lulus pada tahun 2008. Kemudian pada tahun yang sama masuk ke Sekolah Menengah Kejuruan Bhakti Loa Janan dan lulus pada tahun 2011.
Pendidikan tinggi dimulai pada tahun 2012 di Politeknik Pertanian Negeri Samarinda Jurusan Manejemen Pertanian Program Studi Budidaya Tanaman Perkebunan. Pada tanggal 3 Maret sampai dengan tanggal 3 Mei 2015 telah mengikuti Kegiatan Praktek Kerja Lapang (PKL) selama 2 bulan di PT. Yudha Wahana Abadi Desa Merapun Kecamatan Kelai Kabupaten Berau Propinsi Kalimantan Timur.
dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan laporan kajian ini. Kajian ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ahli Madya Pertanian pada Program Diploma III Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.
Keberhasilan dan kelancaran penyusunan laporan kajian ini tidak terlepas dari peran serta dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Ibu Faradilla, SP, M.Sc selaku Dosen Pembimbing.
2. Bapak Ir. Hasanudin, MP selaku Direktur Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.
3. Bapak Ir. M. Masrudy, MP selaku Ketua Jurusan Manajemen Pertanian 4. Ibu Nurlaila, SP, MP selaku Dosen Penguji I.
5. Bapak Jamaluddin,SP, M.Si selaku Dosen Penguji II
6. Seluruh staf dosen dan teknisi Program Studi Budidaya Tanaman Perkebunan yang telah banyak membagikan ilmunya selama perkuliahan. 7. Keluarga yang telah memberikan banyak dukungan Moral maupun Spiritual
kepada penulis.
8. Rekan-rekan mahasiswa yang telah membantu dalam penyusunan proposal kajian ini.
Penulis menyadari dalam laporan kajian ini masih terdapat banyak kekurangan, maka penulis memohon maaf sebesar-besarnya kepada pembaca dan mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan laporan kajian ini, sehingga bermanfaat bagi penulis sendiri maupun para pembaca.
Penulis Kampus Sei. Keledang
KATA PENGANTAR ………... I DAFTAR ISI………... Ii DAFTAR TABEL………... Iii DAFTAR LAMPIRAN ………... Ix
I. PENDAHULUAN ………... 1
II. TINJAUAN PUSTAKA………... 3
A. Tinjauan Umum Kelapa Sawit.………... 3
B. Tinjauan Umum Pemanenan……….. 8
C. Tahapan – Tahapan Kegiatan Panen di Perusahaan…………... 16
D. Pemeriksaan Panen di Pasar Pikul dan TPH ………... 19
III. METODE KAJIAN ……….. 21
A. Tempat dan Waktu ………... 21
B. Alat dan Bahan ………... 21
C. Pengolahan Data ………. D. Prosedur Pengamatan………... E. Variabel Pengamatan………... 23 24 25 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN………... 26
A. Hasil ………... 26
B. Pembahasan ………... 27
V. KESIMPULAN DAN SARAN ………... 30
A. Kesimpulan ………... 30
B. Saran ………... 30
DAFTAR PUSTAKA………... 32
1. Tinjauan Umum Perusahaan PT. Yudha Wahana Abadi……….. 34 2. Peta Perusahaan PT. Yudha Wahana Abadi ……….. 35 3. Kegiatan Pemanenan …...………... 4. Alat-lat Panen …...………...
36 42
I. PENDAHULUA
N
Perkembangan tanaman kelapa sawit Kalimantan Timur sangat luas dan masih banyak terdapat lahan kosong yang tidak berproduktif tetapi cocok untuk dilakukan penanaman kelapa sawit, maka dari itu Bapak Gubernur Kalimantan Timur Bapak Awang Farouk pada awal masa jabatannya Tahun 2008 memprogramkan penanaman kelapa sawit, sejuta hektar. Penanaman kelapa sawit ini dilaksanakan oleh perusahaan dan di beberapa kabupaten dan kota seperti Paser, Penajam Paser Utara, Kutai Timur, Kutai Kartanerara, Kutai Barat, Berau, Bulungan, Nunukan, Malinau, dan Samarinda. Pembangunan pabrik pengolahan juga sudah banyak didirikan seperti di Paser, Kutai Timur, Kutai Kartanegara, Berau, dan Nunukan.
Luas tanaman kelapa sawit di Kalimantan Timur meningkat setiap tahunnya. Data dari dinas perkebunan Provinsi Kalimantan Timur menunjukan bahwa pada tahun 2010 hanya 663.533 Ha. Kemudian dalam dua tahun bertambah luasnya menjadi hampir mencapai 961.802 Ha. Posisi terakhir tahun 2013 ini, yaitu perhektar, adalah 1.002.284,22 Ha. Tanaman tersebut terdiri atas tanaman yang dikelola oleh pemerintah swasta dan perkebunan rakyat. Luas tanaman kebun inti mencapai 775.574 Ha dan kebun rakyat 22,62% dari total luas kebun sawit (Rudy, 2008). Prospek pasar bagi olahan kelapa sawit cukup menjanjikan, karena permintaan dari tahun-ketahun mengalami peningkatan yang cukup besar, tidak hanya dari dalam negeri, melainkan juga dari luar negeri. Karena itu sebagai Negara tropis yang masih memiliki lahan yang cukup luas, Indonesia berpeluang besar untuk mengembangkan perkebunan kelapa sawit, baik melalui penanaman modal asing, maupun skala perkebunan rakyat. (Sastrosasyono, 2003).
Produksi yang dihasilkan dari tanaman kelapa sawit ditentukan pada tanaman menghasilkan, yaitu ketika berproduksi. Untuk meningkatkan hasil produksi dari tanaman kelapa sawit tersebut, salah satunya dengan cara memperhatikan tahapan dalam kegiatan pemanenan (Sunarko, 2014).
Pemanenan tanaman kelapa sawit merupakan salah satu kegiatan yang penting pada pengelolaan tanaman kelapa sawit menghasilkan. Pemanenan kelapa sawit adalah pemotongan tandan buah dari pohon sampai dengan pengangkutan ke pabrik, yang meliputi kegiatan pemotongan tandan buah matang, pengutipan berondolan, pemotongan pelepah, pengangkutan hasil ke tempat pemungutan hasil (TPH), dan pengangkutan hasil panen ke pabrik kelapa sawit (PKS).
Tujuan dari kajian panen ini adalah untuk mengetahui kegiatan panen yang meliputi rotasi panen, alat panen, kriteria matang panen, dan produksi panen yang di lakukan oleh perusahaan PT. Yudha Wahana Abadi khususnya pada Afdeling Delta.
Adapun hasil yang diharapkan dari pelaksanaan kajian panen ini adalah sebagai bahan informasi untuk mahasiswa agar dapat memahami tahapan kegiatan panen yang terjadi di lapangan dengan teori yang telah diberikan di dalam Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.
II. TINJAUAN UMUM
A. Tinjauan Umum Kelapa Sawit
Dalam dunia botani, klasifikasi pemberian nama ilmiah (Latin) pada tumbuhan, dikembangkan oleh Corolus Linnaeus. Menurut Pahan (2008), tanaman kelapa sawit dapat diklasifikasikan sebagai berikut : Divisi : Embryophyta Siphonagama
Kelas : Angiospermae Ordo : Monocotyledone Famili : Arecaceae Genus : Elaeis
Speis : E. guineensis Jacq 1. Morfologi Tanaman Kelapa Sawit
a. Akar
Kecambah tanaman kelapa sawit yang bar u tumbuh memiliki akar tunggang. Menurut Sastrosasyono (2003), akar tunggang pada kecambah kelapa sawit yang baru tumbuh memiliki kekurangan yaitu mudah mati, sehingga akar tunggang tersebut akan segera terganti oleh akar-akar serabut. Akar-akar serabut memiliki sedikit percabangan yang membentuk anyaman rapat dan tebal. Sebagian akar-akar serabut tumbuh lurus ke bawah (vertikal) dan sebagian tumbuh mendatar ke arah samping (horizontal).
Menurut Setyamidjaja (2006), adapun sistem perakaran dari tanaman kelapa sawit dapat diuraikan sebagai berikut : 1) Akar primer, yaitu akar yang keluar dari bagian bawah batang
kelapa sawit, akar ini tumbuh secara vertikal atau mendatar, dan berdiameter 5-10 mm.
2) Akar sekunder, yaitu akar yang tumbuh dari akar primer. Arah tumbuh dari akar ini sama dengan akar primer yaitu mendatar dan juga ke bawah. Akar sekunder ini berdiameter 1-4 mm. 3) Akar tertier, yaitu akar yang tumbuh dari akar sekunder. Arah
tumbuh dari akar ini mendatar. Akar ini memiliki panjang 15 cm dan berdiameter 0,5-1,5 mm.
4) Akar kuarter, ialah akar yang tumbuh dari akar tertier, arah tumbuh ke bawah, diameter 0,2-0,5 mm dan panjangnya 3 cm.
Akar tertier dan akar kuarter inilah yang paling efektif untuk menyerap unsur hara dari dalam tanah (Sunarko, 2014). b. Batang
Batang tanaman kelapa sawit tumbuh tegak lurus ke atas. Bagian batang berbentuk silindris dan berdiameter 40-60 cm, tetapi pada pangkalnya membesar. Selama 4 tahun pertama, titik tumbuh akan membentuk daun-daun yang pelepahnya membentuk bonggol batang (bowl). Kecapatan pertumbuhan tinggi tanaman kelapa sawit berbeda-beda, tergantung pada tipe atau varietasnya, tetapi untuk secara umum, kecepatan pertumbuhan tanaman kelapa sawit yaitu 25-40 cm pertahun. Faktor lain yang sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman kelapa sawit adalah kondisi dari lingkungan tanaman kelapa sawit itu sendiri seperti keadaan Iklim, Pemeliharaan tanaman
(terutama pemupukan), Kerapatan tanam, dan Umur tanaman (Setyamidjaja, 2006).
c. Daun
Daun dibentuk dekat dengan titik tumbuh. Setiap bulan, daun akan tumbuh sebanyak 2 lembar. Pertumbuhan daun awal dan daun berikutnya akan membentuk sudut 135º. Menurut Pahan (2008), daun kelapa sawit terdiri dari beberapa bagian yaitu :
1) Kumpulan anak daun (leaflast) dan mempunyai helaian
(lamina).
2) Rachis yang merupakan tempat anak daun melekat.
3) Tangkai daun (petiole) yaitu bagian antar a daun dan batang. 4) Seludang daun (sheath) berfungsi sebagai perlindungan dari
kuncup dan memberi kekuatan pada batang. d. Bunga
Tanaman kelapa sawit merupakan tanaman berumah satu, yang artinya bunga jantan dan bunga betina terdapat dalam satu pohon, tetapi tidak pada tandan yang sama (Pahan, 2008). Susunan bunga pada tanaman kelapa sawit terdiri dari karangan bunga. Karangan bunga terdiri dari bunga jantan (tepung sari) dan bunga betina (putik). Namun, adakalanya bunga jantan dan bunga betina terdapat pada satu tandan yang sama. Bunga jantan selalu masak terlebih dahulu bila dibandingkan bunga betina. Oleh karena itu, penyerbukan sendiri antara bunga jantan dan bunga betina dalam satu tandan berukuran lebih kecil dan
bentuknya kurang sempurna dengan yang berada di luar tandan. Menurut Setyamidjaja (2006), buah sawit memiliki susunan sebagai berikut :
1) Kulit buah (exocarp) 3 bulan setelah penyerbukan warna tetap putih kehijauan. usia 3-6 bulan selanjutnya warna berubah kuning
2) Daging buah (mesocarp) 3 bulan awal tersusun dari air, serat, dan klorofil. 3 bulan selanjutnya terjadi pembentukan minyak dan karoten.
3) Cangkang (endocarp) tahap awal cangkang tipis dan lembut. Memasuki usia 3 bulan, cangkang akan bertambah tebal dan keras, warnanyapun berubah dari putih menjadi coklat muda kemudian coklat.
4) Inti (endosperm) bentuk awalnya cair, kemudian menjadi lunak dan akhirnya padat serta agak keras.
2. Syarat Tumbuh Tanaman Kelapa Sawit a. Curah Hujan
Tanaman kelapa sawit menghendaki curah hujan 1.500-4.000 mm pertahun, tetapi curah hujan yang optimal 2.000-3.000 mm pertahun, dengan jumlah hari hujan tidak lebih dari 180 hari pertahun (Setyamidjaja, 2006).
b. Suhu dan Tinggi Tempat
Secara umum, suhu optimal untuk pertumbuhan tanaman kelapa sawit adalah 24ºC-28ºC, dengan suhu terendah 18ºC, dan suhu tertinggi 32ºC. Adapun ketinggian tempat yang optimum
untuk tanaman kelapa sawit adalah 0-400 mdpl. Apabila kelapa sawit ditanam pada ketinggian lebih dari 500 mdpl, pertumbuhan tanaman kelapa sawit akan terhambat, sehingga produksi yang dihasilkan juga ikut menurun (Setyamidjaja, 2006).
c. Keadaan Tanah
Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh diberbagai jenis tanah. Tetapi apabila menghendaki pertumbuhan yang lebih optimal dan peningkatan hasil produksi yang tinggi, maka tanaman kelapa sawit harus tumbuh di tanah yang sesuai dengan syarat tumbuhnya. Menurut Setyamadja (2006), sifat-sifat fisika dan kimia tanah yang harus dipenuhi untuk pertumbuhan tanaman kelapa sawit secara optimal adalah sebagai berikut :
1) Solum tanah cukup dalam yaitu lebih dari 80 cm dan tidak berbatu agar perkembangan akar tidak terganggu.
2) Tekstur tanah ringan serta memiliki pasir 20-60%, debu 10-40%, liat 20-50%.
3) Struktur tanah yang baik, dengan konsistensi gembur tanah sampai agak teguh, dan permeabilitas tanahnya sedang. 4) Drainase yang baik dan memiliki permukaan air cukup
dalam. Tanah berdrainase jelek sebaiknya dihindari atau membuat saluran drainase.
d. Penyinaran Matahari
Tanaman kelapa sawit membutuhkan sinar matahari untuk memproduksi karbohidrat dan memacu pembentukan bunga dan buah. Jika kelapa sawit tidak mendapat sinar matahari yang cukup, dampaknya ialah pertumbuhan tanaman akan terhambat, produksi dari bunga betina akan menurun, meningkatnya gangguan hama dan penyakit tanaman (Andoko, 2012).
Menurut Rustam (2012), Pentingnya penyinaran matahari yang dibutuhkan kelapa sawit adalah 5-7 jam perhari, dengan lama penyinaran rata-rata 5 jam dan meningkat menjadi 7 jam perhari.
B. Tinjauan Umum Pemanenan
Pemanenan kelapa sawit merupakan salah satu kegiatan yang penting pada pengelolaan tanaman kelapa sawit menghasilkan. Panen kelapa sawit adalah pemotongan tandan buah segar dari pohon kelapa sawit sampai dengan pengangkutan ke pabrik kelapa sawit (PKS) yang meliputi kegiatan pemotongan tandan buah matang, pengutipan berondolan, pemotongan pelepah, pengangkutan hasil ke TPH, dan pengangkutan hasil ke pabrik kelapa sawit (PKS). Menurut Djoehana (2010), adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam tahapan-tahapan kegiatan panen ialah :
1. Organisasi Panen
Organisasi panen merupakan pembentukan kelompok atau regu panen pada suatu areal perkebunan kelapa sawit, Divisi, ataupun
Afdeling. Pimpinan tertinggi pada organisasi panen ialah Asisten. Berikut ini tugas Asisten dalam Organisasi panen :
a. Saat apel pagi asisten memberikan instruksi tentang prosedur kerja pemanenan yang sesuai standart dari perusahaan. Apabila terdapat karyawan yang melakukan kesalahan kerja, maka asisten wajib memberikan penalti pada karyawan tersebut sesuai peraturan yang ada di perusahaan
b. Melakukan pengawasan bersama Mandor 1 atau Mandor Panen, pada kegiatan pemotongan tandan buah segar, pengutipan brondol hingga pengecekkan susunan buah di TPH. Bila ditemukan kegiatan pemotongan buah mengkal, pemotongan buah mentah, atau lupa mengeluarkan buah dari dalam jalur atau ancak, dan. pengutipan berondol yang tidak bersih maka karyawan tersebut wajib diberikan sanksi sesuai peraturan yang ada di perusahaan.
c. Melakukan pengecekkan bersama krani panen ke TPH dan sekaligus mengecek proses penggradingan yang dilakukan kerani panen di tempat pemungutan hasil (TPH).
2. Kriteria Matang Panen
Kriteria matang panen dapat juga diartikan sebagai standar kematangan buah kelapa sawit. Kriteria matang panen berguna untuk membantu pemanen dalam melakukan pemotongan tandan buah yang sesuai dengan kriteria matang penen yang tepat, sehingga dapat diperoleh tandan buah dengan kematangan yang optimal. Kriteria matang panen dapat dilihat dari perubahan warna pada tandan kelapa sawit, serta jumlah berondol yang lepas dari tandan sawit dan jatuh ke
piringan maupun ke ketiak pelepah tanaman kelapa sawit. Berikut kriteria matang panen dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 1. Kriteria Matang B uah FRAKSI
PANEN KRITERIA MATANG BUAH
DERAJAT KEMATANGAN 00 Tidak ada buah membrondol, buah
berwarna hitam pekat Sangat mentah 0 1-12,5% dari buah luar, buah
berwarna hitam kemerahan Mentah 1 12,2-25% buah luar memberondol,
buah berwarna kemerahan Kurang matang 2 25-50% buah luar memberondol buah
berwarna merah mengkilat Matang 3 50-75% buah luar memberondol,
buah berwarna orange Matang 4 75-100% buah luar memberondol,
buah berwarna dominan orange Lewat matang 4 75-100% buah luar memberondol,
buah berwarna dominan orange Lewat matang 5 Buah bagian dalam ikut memberondol Lewat matang
Sumber : SOP Manual Agronomi (Anonim, 2014).
Menurut Djoehana (2010) kriteria matang panen dapat dilihat dari perubahan warna dan jumlah berondolan sebagai berikut :
a. Tandan Buah Sangat Mentah
Tandan buah sangat mentah dapat diidentifikasikan dengan warna tandan kelapa sawit yang hitam pekat dan tandan tidak memberondol. Tandan buah dengan kriteria ini tidak boleh dipanen. b. Tandan Buah Mentah
Tandan buah mentah dapat diidentifikasikan dengan warna tandan kelapa sawit yang hitam kemerahan dan tandan tidak memberondol. Tandan buah dengan kriteria ini juga tidak boleh dipanen.
c. Tandan Buah Mengkal
Tandan buah mengkal dapat diidentifikasikan dengan warna tandan kelapa sawit merah atau orange dan masih bercampur warna hitam tetapi warna merah atau orange sedikit lebih dominan dibanding warna hitam. Tandan buah mengkal merupakan tandan yang sudah mulai memasuki fase kematangan buah, sehingga terkadang ditemukan belum memberondol dan sudah memberondol, dan jumlah berondol yang dihasilkan hanya 1-2 butir. Tandan buah dengan kriteria ini juga tidak boleh dipanen.
d. Tandan Buah Matang
Tandan buah matang dapat diidentifikasikan dengan warna tandan kelapa sawit merah mengkilap atau orange bercampur merah. Warna dari tandan buah matang ini sesuai dengan kriteria matang panen, selain itu tandan buah matang ini sudah memberondol dengan jumlah berondol yang lepas dari tandan 3-6 atau lebih. Tandan dengan kriteria ini telah siap dipanen.
e. Tandan Buah Lewat Matang I
Tandan buah lewat matang I dapat diidentifikasikan dengan warna tandan kelapa sawit dominan orange. Pada tandan ini bagian luar dari tandan buah hampir memberondol seluruhnya atau jumlah berondol yang dihasilkan 70-80 berondol atau lebih. Tandan ini biasa ditemukan karena menggunakan rotasi panen yang terlalu tinggi, sehingga tandan buah menjadi lewat matang dan dapat meningkatkan kandungan kadar asam lemak minyak.
f. Tandan Buah Lewat Matang II
Tandan buah lewat matang II dapat diidentifikasikan dengan warna tandan kelapa sawit orange merata pada keseluruhan tandan. Tandan buah lewat matang II dapat dikatakan memasuki fase pembusukan, karena pada tandan kelapa sawit ini tidak hanya bagian luar saja yang memberondol, melainkan bagian dalam dari tandan buah ini juga ikut memberondol.
Menurut Navizan (2002), kriteria matang panen juga dapat ditentukan dengan berdasarkan status tanaman dan jumlah berondolan dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 2. Tanda buah siap panen
STATUS TANAMAN JUMLAH BERONDOL < TM 3 3-5 Berondol > TM 3 5-10 Berondol
Sumber : Navizan (2002) 3. Rotasi Panen
Rotasi panen adalah waktu yang diperlukan antara panen terakhir dan panen berikutnya pada tempat yg sama. Rotasi panen berhubungan dengan kerapatan panen atau jumlah pohon yang dapat dipanen dalam luasan tertentu. Rotasi panen kelapa sawit pada umumnya adalah 5/7 yang artinya 5 hari panen dengan rotasi 7 hari. Rotasi yang terlalu tinggi akan menyebabkan buah kelewat matang dan menyebabkan minyak memiliki kadar ALB (asam lemak bebas) yang tinggi. Rotasi yang terlalu sering akan menyebabkan kurang efisiennya kegiatan panen karena buah belum masak (Sastrosasyono, 2003).
4. Sistem Panen
Sistem panen berfungsi untuk memudahkan pelaksanaan panen dan memastikan produktifitas panen yang tinggi dan untuk penentuannya, Mandor Panen yang akan menentukan sistem ancaknya. Pembagian satu ancak terdiri dari 2-4 baris tanaman yang berdekatan, tergantung pada kerapatan buah matang. Menurut Navizan (2002), terdapat 2 jenis sistem ancak panen yang sering digunakan, yaitu :
a. Sistem Ancak Giring
Pada sistem ancak giring ini setiap pemanen melaksanakan panen pada ancak panen yang ditetapkan setiap hari panen oleh Mandor Panen. Bagian areal panen selalu berubah disesuaikan dengan kerapatan panen dan kehadiran tenaga kerja pemanen. Pada sistem ini apabila suatu ancak telah selesai dipanen, maka pemanen pindah ke ancak berikutnya berdasarkan 1 blok ke blok lainnya. Sistim ini memiliki keuntungan yaitu memudahkan pengawasan pekerjaan para pemanen dan hasil panen lebih cepat sampai di TPH. Namun, ada kecendrungan pemanen akan memilih melakukan pemanenan pada buah atau tandan yang mudah dipanen saja, sehingga ketika dilakukan pemeriksaan maka akan ditemukan tandan buah matang tetapi tidak dipanen serta berondolan yang tidak dikutip.
b. Sistem Ancak Tetap
Sistem ini sangat baik diterapakan pada areal perkebunan yang sempit, topografi terbuka atau curam, dan dengan tahun
tanam yang berbeda. Pada sistem ini pemanen akan diberi ancak dengan luas tertentu dan tidak berpindah-pindah. Hal tersebut menjamin agar diperolehnya tandan buah segar (TBS) dengan kematangan yang optimal, serta rendemen minyak yang dihasilkan akan tinggi. Namun kelemahan sistem ini buah lebih lambat keluar ke TPH (Fauzi, 2008).
5. Pelaksanaan Panen
Standar pemanenan tanaman kelapa sawit meliputi penetapan tandan buah segar (TBS) yang dipanen dan berkaitan dengan penanganan setelah panennya. Hal-hal yang harus dipertimbangan dari penentuan sistem pemanenan ialah jarak antar blok dengan pabrik kelapa sawit (PKS), serta kapasitas tampung tandan buah segar (TBS) pada pabrik kelapa sawit (PKS). Menurut Setyamidjaja (2006) standar pemanenan dapat ditentukan sebagai berikut :
a. Tandan buah matang harus memberondol dengan jumlah 3-5 brondolan di piringan sebagai tanda buah tersebut siap dipanen. b. Pelepah kelapa sawit yang dipotong dari pohonnya ,harus serapat
mungkin dengan pohon, serta membentuk huruf “V” atau cangkem kodok, dan disusun rapi pada gawangan mati.
c. Rotasi panen yang dipertahankan ialah rotasi 5/7.
d. TBS dan brondolan disusun rapi di tempat pemungutan hasil (TPH). Hal ini bertujuan agar memudahkan Kerani Panen dalam melakukan pengecekkan dan pencatatan hasil panen di TPH, sebelum hasil panen diangkut ke pabrik kelapa sawit (PKS).
e. Tangkai pada tandan buah dipotong dengan parang serapat mungkin dengan buah sawit, lalu membersihkan seluruh kotoran yang terdapat pada brondolan dan tandan buah segar (TBS).
6. Peralatan Panen
Dalam kegiatan pemanenan, penggunaan alat panen harus sangat diperhatikan, khususnya kesesuaian alat panen yang akan digunakan yaitu untuk tanaman berumur 4-5 tahun harus menggunakan alat dodos dengan ukuran 8-12,5 cm, sedangkan pada tanaman berumur 8 tahun keatas menggunakan alat egrek. Selain itu adapun alat-alat pendukung panen lainya yaitu cokeran, ember dan karung yang digunakan dalam pengutipan brondolan, kereta dorong sebagai alat angkut tandan buah segar (TBS) dan brondolan dari dalam pasar pikul ke tempat pemungutan hasil (TPH), parang atau kampak yang digunakan untuk memotong tangkai dari tandan buah segar (TBS) saat sambil melakukan penyusunan TBS di TPH, kemudian melakukan pengisian form panen yang berisi identitas pemanen yang mencakup no. ancak, dan no. TPH, hasil panen TBS dan berondolan yang didapat pada hari kerja tersebut (Anonim, 2014).
C. Tahap-Tahap Kegiatan Panen di Perusahaan 1. Pemotongan Tandan Matang
Tandan buah yang dipotong adalah tandan yang telah memenuhi kriteria matang panen. Kriteria matang panen dapat dilihat dari perubahan warna tandan dan jumlah berondolan yang lepas dan jatuh ke piringan atau ke ketiak pelepah sawit. Pemanenan di PT. Yudha Wahana Abadi khususnya pada Afdeling Delta, menggunakan 2
jenis alat panen, yaitu alat egrek dan alat dodos dengan ukuran 14 cm. Alat egrek digunakan untuk memotong tandan sawit dengan usia tanaman >8 tahun. Sedangkan alat dodos dengan ukuran 14 cm digunakan untuk memotong tandan sawit dengan usia tanaman >5-8 tahun.
Penggunaan 2 alat panen ini dikarenakan usia tanaman yang tidak seragam dan cukup jauh berbeda, yang disebabkan lambatnya melakukan kegiatan tanam sisip saat pergantian tanaman rusak atau tidak produktif saat penanaman awal. Selain itu jumlah persentase tanam sisip pada Afdeling Delta mencapai 45% dari jumlah pokok tanaman kelapa sawit keseluruhan pada afdeling delta yaitu 75.833 pokok dengan luas areal 616 ha.
Untuk memudahkan pemanen agar tidak salah dalam menggunakan alat panen, maka pada pokok sawit diberi tanda atau cat dengan warna yang berbeda, yaitu tanaman utama atau bukan tanaman sisipan diberi cat berwarna kuning, sedangkan tanaman yang merupakan tanaman sisipan diberi cat berwarna merah. Target pemanenan pada Afdeling delta disesuaikan dengan standar dari manajemen perusahaan PT. Yudha Wahana Abadi yaitu untuk satu hari, pemanen harus mendapat 100 buah TBS untuk 1 HK, apabila target tersebut tidak mencapai 100 buah TBS, maka pemanen tersebut wajib membersihkan ancaknya sendiri untuk mendapatkan 1 HK (Anonim, 2014).
2. Pengutipan Berondolan
Untuk kegiatan pemanenan serta pengutipan berondolan pada PT. Yudha Wahana Abadi, dilakukan oleh pemanen itu sendiri, sehingga setelah melakukan kegiatan pemotongan tandan buah segar (TBS), maka pemanen akan langsung melakukan pengutipan berondol. Pengutipan berondolan dilakukan pada piringan, jalan pasar pikul, serta pada ketiak pelepah pokok sawit. Apabila berondolan jatuh pada ketiak pelepah sawit dan tidak dapat dijangkau dengan tangan, maka bisa menggunakan alat cokeran untuk mengutip brondolan yang tersangkut diketiak pelepah pokok sawit. Sedangkan untuk penakaran dan perhitungan berondolannya menggunakan ember, yaitu dengan cara berondolan diisi sampai penuh dan merata ke dalam ember, dengan perhitungan 1 ember yang berisi brondolan penuh dan merata memiliki berat 7 kg dan untuk 1 kg nya seharga Rp. 500,00. Jadi 7 kg atau setara dengan 1 ember yang berisi berondolan penuh dan merata seharga Rp. 3.500,00 (Anonim, 2014).
3. Pengumpulan TBS dan Berondolan di TPH
TBS dan berondolan yang telah dipanen, akan dikumpulkan dan disusun di TPH. Tangkai pada TBS dipotong dengan menggunakan parang atau kampak dan serapat mungkin dengan TBS. Tujuannya adalah agar tidak terjadi penyerapan kandungan minyak oleh tangkai pada TBS tersebut. Untuk berondolan yang telah diukur atau ditakar dengan ember, diletakkan diatas karung goni, hal ini berguna memudahkan Kerani Panen melakukan pengecekkan dan pencatatan
hasil panen, dan memudahkan proses pengangkutan berondolan dari TPH ke mobil truk pengangkut (Anonim, 2014).
4. Pengisian Form Panen
Setelah mengeluarkan TBS dan berondolan dari dalam pasar pikul ke TPH, maka pemanen harus mengisi form panen dan meletakkannya di atas susunan janjang TBS atau di atas berondolan. Hal ini berguna agar memudahkan Kerani Panen saat melakukan pengecekkan serta pengisian atau pencatatan identitas dari pemanen yang meliputi no. ancak, no. TPH, serta hasil panen yang didapat oleh seorang pemanen pada hari kerjanya tersebut (Anonim, 2014).
D. Pemeriksaan Panen di Pasar Pikul dan di TPH 1. Tandan Matang Tidak di Panen
Melakukan pengecekkan pada pasar pikul untuk mengetahui apakah ada tandan matang yang tidak terpanen. Hal ini terjadi karena kurang telitinya seorang pemanen itu sendiri, buah yang seharusnya sudah masuk kriteria matang panen tetapi tidak dipanen. Pemeriksaan atau pengecekkan di dalam pasar pikul dilakukan oleh Mandor Panen atau Mandor 1. Apabila ditemukan buah matang yang tidak dipanen maka pemanen tersebut akan dipanggil untuk memanen kembali buah yang telah tertinggal tersebut.
2. Tandan Matang Dipanen Tetapi Tidak Dikumpul di TPH
Hal ini sering terjadi apabila Mandor Panen atau Mandor 1 melakukan pengecekkan di dalam pasar pikul, lalu ditemukannya terdapat buah matang yang telah dipanen tetapi tidak dibawa ke TPH. Hal ini sering terjadi pada areal lahan yang tidak rata serta rusak parah
atau yang belum mendapat pengadaan titi panen dan memiliki banyak rawa ataupun jurang sehingga sulit untuk dilalui.
3. Grading Buah di TPH
Grading buah di TPH dilakukan oleh Krani Panen yang bertujuan untuk mengetahui jumlah panen pada hari itu sebelum dikirim ke pabrik, mengecek apabila ada buah yang belum masuk kriteria matang tetapi sudah di panen. Apabila saat penggradingan di TPH ditemukan buah yang belum masuk kriteria matang panen, maka Krani Panen wajib melaporkan pada Mandor Panen, atau pada Mandor 1, ataupun pada Asisten Afdeling agar pemanen tersebut dapat diberikan arahan maupun sangsi sesuai peraturan perusahaan.
4. Tandan Busuk
Tandan busuk akan dijumpai di blok-blok tertentu saja yang kondisi jalan untuk transportasinya memang parah, serta curah hujannya yang tidak menentu. Hingga akibatnya buah yang telah dipanen tidak terangkut tepat waktu atau restan.
5. Berondolan Tertinggal di Piringan atau Pasar Pikul
Berondolan yang tidak terkutip pada piringan atau pada pasar pikul disebabkan oleh kurang telitinya seorang pemanen saat melakukan pengutipan berondolan. Apabila hal ini ditemukan oleh Mandor Panen atau Mandor Satu, ketika melakukan pengecekkan maka pemanen tersebut akan di panggil kembali untuk mengutip brondolannya yang tertinggal pada ancak yang telah selesai ia lakukan panen sebelumnya.
III. METODE KAJIAN
A. Tempat dan Waktu
Tempat kegiatan kajian ini dilakukan di PT. Yudha Wahana Abadi pada Afdeling Delta Desa Marapun Kecamatan Sungai Kelai Kabupaten Berau Provinsi Kalimantan Timur.
Waktu kegiatan kajian selama satu bulan, terhitung dari 1 Maret sampai dengan 30 April 2015 yang meliputi kegiatan pengamatan, wawancara dan dokumentasi.
B. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam melakukan pengkajian pemanenan ini adalah :
1. Alat yang digunakan dalam melakukan pengkajian adalah : a. Alat tulis
Kegunaan alat tulis yaitu untuk memasukan data dari hasil wawancara terhadap Pemanen, Mandor Panen, Mandor 1, maupun Asisten Afdeling.
b. Kamera
Kegunaan kamera ialah untuk mengambil dokumentasi dari kegiatan pemanenan kelapa sawit di lapangan.
2. Alat yang digunakan dalam melakukan pemanenan a. Dodos
Kegunaan alat dodos ialah untuk memotong tandan buah segar (TBS) kelapa sawit dari pohon atau pokok kelapa sawit. Dodos yang digunakan ialah dodos berukuran 8-12,5 cm untuk umur tanaman 4-5 tahun.
b. Egrek
Kegunaan egrek ialah untuk memotong tandan buah segar (TBS) kelapa sawit dari pohon atau pokok kelapa sawit. Egerek digunakan untuk memotong TBS dengan usia tanaman 8 tahun keatas.
c. Kereta Dorong
Kegunaan Kereta dorong ialah untuk mengangkut TBS serta brondolan dari dalam pasar pikul ke tempat pemungutan hasil (TPH).
d. Karung
Kegunaan karung ialah sebagai tempat untuk meletakan brondolan di tempat pemungutan hasil (TPH) yang telah dikutip dari dalam pasar pikul.
e. Cokeran
Kegunaan cokeran untuk mencungkil brondol yang terselip pada ketiak pelepah dari pohon sawit.
f. Form Panen
Kegunaan form panen ialah untuk mengisi data pemanen mulai dari nama, nomor ancak, no. TPH, serta Hasil panen yang telah didapat.
g. Parang
Kegunaan parang ialah untuk memotong tangkai dari tandan buah segar (TBS) yang telah dipanen dan akan disusun di tempat pemungutan hasil (TPH). Tangkai harus dipotong sedekat mungkin dengan buah.
h. Ember
Kegunaan ember ialah untuk mengukur berondolan yang didapat oleh pemanen, dengan cara ukur yang telah ditentukan perusahaan..
C. Pengolahan Data
Kajian ini diolah dengan menggunakan 2 data yaitu : 1. Data primer
Pengambilan data ini diperoleh dengan 2 cara yaitu a. Pengamatan kegiatan langsung di lapangan
Dalam pengambilan data ini, variabel pengamatan dilakukan langsung di lapangan dan data yang didapat berupa kriteria matang panen, rotasi panen, alat panen, dan produksi panen.
b. Dokumentasi kegiatan yang dilakukan dalam pemanenan
Dalam pengambilan data ini, dokumentasi yang di ambil berupa foto-foto pelaksanaan kegiatan panen yang dilakukan di PT. Yudha Wahana Abadi khususnya pada Afdeling Delta.
2. Data Sekunder
Pengambilan data ini dilakukan dengan 2 cara yaitu : a. Wawancara
Dalam pengambilan data ini juga dilakukan wawancara pada narasumber dari perusahaan PT. Yudha Wahana Abadi, yaitu pada Krani Panen, Mandor Panen, Mandor 1, serta Asisten Afdeling.
b. Pengambilan Literatur
Untuk kevalitan data ini maka dilakukan pengambilan literatur, baik pengambilan literatur dari perusahaan maupun pengambilan literatur dari pustaka.
D. Prosedur Pengamatan 1. Penentuan Areal Kajian
Penentuan areal kajian berdasarkan adanya tanaman kelapa sawit menghasilkan yang siap panen yaitu di Afdeling Delta.
2. Persiapan Alat
Alat-alat yang akan digunakan untuk kegiatan panen dipersiapkan terlebih dahulu mulai dari kelayakan penggunaan alat serta jumlah alat yang akan digunakan oleh pemanen.
3. Persiapan Tenaga Kerja
Persiapan tenaga kerja atau pemanen meliputi pengecekkan kehadiran karyawan pada saat melakukan kegiatan panen. Apabila terdapat pemanen yang tidak hadir maka mandor panen wajib mencari penggantinya.
E. Variabel pengamatan
1. Kreteria matang panen pada perusahaan PT. Yudha Wahana Abadi Afdeling Delta.
2. Rotasi panen yang dilakukan oleh PT. Yudha Wahana Abadi Afdeling Delta.
3. Alat panen yang dilakukan oleh PT. Yudha Wahana Abadi Afdeling Delta.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
1. Kriteria Matang Panen
Kriteria matang panen untuk tanaman menghasilkan di PT. Yudha Wahana Abadi ialah menggunakan fraksi 2 dengan kriteria kematangan buah 25-50% buah luar memberondol, buah berwarna merah mengkilat, dan fraksi 3 dengan kriteria kematangan buah 50-75% buah luar memberondol dan berwarna orange.
2. Rotasi Panen
Rotasi panen adalah waktu yang diperlukan antara panen terakhir dan panen berikutnya pada tempat yg sama. Rotasi panen kelapa sawit pada umumnya adalah 5/7 yang artinya 5 hari panen dengan rotasi 7 hari. Rotasi yang terlalu tinggi akan menyebabkan buah kelewat matang dan menyebabkan minyak memiliki kadar ALB (Asam Lemak Bebas) yang tinggi. Rotasi yang terlalu sering akan menyebabkan kurang efisiennya kegiatan panen karena buah belum masak.
3. Alat Panen
Penggunaan dari alat panen dalam melakukan pemanenan kelapa sawit. PT. Yudha Wahana Abadi. Pada Afdeling delta, pemanen menggunakan 2 alat panen yaitu dodos dan egrek. Karena mengingat kondisi tanaman di Afdeling Delta yang juga sebagian dari tanaman tersebut merupakan areal yang juga dilakukan penyisipan. Sehingga terdapat tanaman yang harus dipanen dengan egrek serta terdapat pula tanaman yang pemanenannya menggunakan dodos.
B. Pembahasan
Kegiatan pemanenan dilakukan PT. Yudha Wahana Abadi pada Afdeling Delta, sudah dilakukan cukup baik. Akan tetapi dalam pengamatan penulis, pelaksanaan kegiatan panen dilapangan yang masih perlu perbaikan yaitu :
1. Kriteria Matang Panen
Kriteria matang panen untuk tanaman menghasilkan di PT. Yudha Wahana Abadi ialah dapat dilihat dari perubahan warna dari tandan yaitu orange atau merah mengkilat serta jumlah berondolan yang lepas dari tandan yaitu 70-80 butir. Hanya saja dilapangan masih terdapat beberapa karyawan yang belum terlalu paham tentang kriteria matang buah ini, sehingga masih saja ada kesalahan dalam pemanenan yang dilakukan, diantaranya adalah penurunan buah yang sangat mengkal, buah terlalu lama disimpan hingga buah busuk, buah tidak panen, buah dipanen tapi tidak dibawa ke TPH, dan berondolan tidak terkutip. Oleh karena itu hendaknya para pengawas mampu melakukan pengawasan yang lebih ketat lagi, dan menyampaikan prosedur pemotongan jeni buah yang masuk maupun yang tidak masuk dalam kriteria panen.
2. Rotasi Panen
Rotasi panen yang dilakukan oleh PT. Yudha Wahana Abadi ialah menggunakan rotasi panen yang digunakan pada umumnya dari perkebunan-perkebunan kelapa sawit yang lain yaitu menggunakan rotasi 5/7 yang artinya 5 hari panen dengan rotasi 7 hari, rotasi panen ini sudah sangat baik untuk digunakan, hanya saja yang perlu dijaga
ialah waktu rotasi panen yang terlalu tinggi dapat membuat buah kelewatan matang, selain itu apabila menggunakan rotasi yang terlalu sering, maka buah yang dipanenpun merupakan buah yang belum masak melainkan sangat mengkal.
3. Alat Panen
Teknik panen ialah cara penggunaan dari alat panen dalam melakukan pemanenan kelapa sawit. Pada Afdeling Delta pemanen menggunakan 2 alat panen yaitu dodos dan egrek. Untuk setiap kali panen, maka pemanen diwajibkan dengan membawa 2 alat panen tersebut. Hal ini dikarenakan tanaman di Afdeling delta memiliki perbedaan usia tanam yang cukup jauh yaitu untuk penggunaan alat egrek melakukan pemanenan pada tanaman dengan usia tanam >8 tahun, sedangkan alat dodos ukuran 14 cm yang digunakan untuk melakukan pemanenan pada tanaman kelapa sawit dengan usia tanam >5-8 tahun. Oleh karena itu, perlunya pengawasan yang ketat oleh para supervisi karena di lapangan diketahui sering dilakukan pemanenan pada tanaman kelapa sawit dengan usia tanam >5-8 tahun sedangkan alat yang digunakan adalah alat egrek, hal ini tentu sangat berpengaruh pada produktifitas tanaman yang berusia tanam >5-8 tahun, karena pemanenan menggunakan egrek, untuk pemotongan pelepah menyisakan songgo 2, sedangkan untuk tanaman yang usia tanamnya >5-8 tahun untuk pemotongan pelepah menyisakan songgo 3, hal ini sudah tidak sesuai dengan standart operasional perusahan serta membuat tanaman yang usia tanamnya >5-8 tahun akan mengalami penurunan produktifitas (Anonim, 2014).
V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari hasil kajian ini dapat disimpulkan bahwa :
1. Dalam Pemanenan yang dilakukan PT. Yudha Wahana Abadi di Afdeling Delta, sangat memperhatikan Kriteria Matang Panen yang meliputi perubahan warna dari hitam pekat (tandan mentah) sampai merah pada tandan buah segar (TBS) serta jumlah berondolan yang lepas dari tandan dan jatuh ke piringan atau ketiak pohon yaitu 3-5 butir. 2. Rotasi Panen yang dipertahankan yaitu 5/7, yang artinya 5 hari panen dengan rotasi 7 hari, dan diyakini sudah sangat baik untuk menjaga kematangan buah yang optimal ketika dilakukan panen.
3. Alat Panen yang ditetapkan oleh PT. Yudha Wahana Abadi di Afdeling Delta menggunakan 2 alat yaitu egrek (tanaman >8 tahun) dan dodos (tanaman >5-8 tahun), karena terdapat perbedaan usia tanaman kelapa sawit.
B. Saran
1. Penulis mengharapkan untuk Asisten Afdeling atau supervisi saat melakukan apel pagi diharapkan lebih memberikan arahan serta penjelesan kepada karyawan atau pemanen mengenai kriteria matang panen kelapa sawit dan penggunaan kesesuaian alat panen yang sesuai dengan standar oerasional perusahaan, serta memberikan pengawasan dan pengecekkan yang ketat terhadap pemanen saat melakukan kegiatan panen di dalam pasar pikul, sehingga tidak lagi ditemukan buah mengkal terpanen atau buah matang tidak dipanen, dan
tidak lagi ditemukan pemanenan pada tanaman kelapa sawit dengan menggunakan alat yang tidak sesuai.
2. Perawatan pada tanaman menghasilkan lebih dioptimalkan lagi sesuai SOP sehingga diharapkan hasil yang telah didapat dalam 4 tahun terakhir bisa di pertahankan atau ditingkatkan tahu-tahun kedepannya.
DAFTAR PUSTAKA
Andoko, A. 2012. Perkebunan Kelapa Sawit Di Kalimantan Timur. PT. Agromedia Pustaka. Jakarta
Anonim. 2014. SOP Manual Agronomi. PT. Yudha Wahana Abadi Site Mayong dan Letta. Merapun, Kelai, Berau, Kalimantan Timur.
Djoehana, S. 2010. Kelapa Sawit. Penebar Kanisius.Yogyakarta. Fauzi, Y. 2008. Seri Agribisnis Kelapa Sawit. Penebar Swadaya. Jakarta
Lubis E R dan Widnarka A. 2011. Buku Pintar Kelapa Sawit. Agromedia. Jakarta.
Navizan. 2002. Petunjuk Panen Yang Efektif. Agromedia Pustaka. Jakarta. Pahan. 2008. Panduan Lengkap Kelapa Sawit. Penebar Swadaya. Jakarta. Rudy, Hartono. 2008. Agribisnis Kelapa Sawit. Penebar Swadaya. Jakarta. Rustam, E. 2012. Buku Pintar Kelapa Sawit. Penebar Agromedia Pustaka.
Jakarta.
Sastrosasyono, Selardi. 2003. Budidaya Kelapa Sawit. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Setyamidjaja, D. 2006. Agro Bisinis Kelapa Sawit. Kanisius. Yogyakarta
Sunarko. 2014. Budidaya Kelapa Sawit Diberbagai Jenis Lahan. Penerbit PT. Agrromedia Pustaka.
Lampiran 1. Tinjauan Umum Perusahaan PT. Yudha Wahana Abadi
PT. Yudha Wahana Abadi didirikan pada tanggal 26 Juli 2004. Sebagai perusahaan nasional perkebunan kelapa sawit. Pada awal didirikannya perusahaan PT. Yudha Wahana Abadi ini memiliki lahan (landbank) seluas 8.783 ha. PT. Yudha Wahana Abadi mulai melakukan penanaman perdananya pada tahun 2006. Seiring berjalannya kemajuan roda bisnis, pada tahun 2008 PT. Yudha Wahana Abadi bergabung dengan PT. Triputra Agro Persada dan PT. Anugerah Agung Prima Abadi. PT. Anugerah Agung Prima Abadi memiliki lahan (landbank) seluas 7.064 ha. Setelah PT. Yudha Wahana Abadi bergabung dengan PT. Anugerah Agung Prima Abadi, saat ini total lahan (landbank) yang dimiliki oleh kedua perusahaan ini yaitu seluas 15.847 ha, dengan areal tertanam 13.410 ha (Anonim, 2014).
Lampiran 2. Dokumentasi Peta Perusahaan PT. Yudha Wahana Abadi
Lampiran 3. Dokumentasi Kegiatan Panen
Gambar 2. Proses Pemotongan Buah
Gambar 4. Pengutipan Berondolan
Gambar 6. Proses Pengeluaran Buah ke TPH
Gambar 8. Proses Pengecekkan Krani Panen di TPH
Gambar 10.Pengangkutan Buah Pada Areal Yang Tidak Bisa Dilalui Kereta Dorong
Lampiran 4. Dokumentasi Alat-Alat Panen
Gambar 13. Alat Dodos
Gambar 15. Alat Tojok