PERENCANAAN GEDUNG BIOSKOP MINI
DI KOTA KENDARI
TUGAS AKHIR
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ahli Madya Arsitektur (A.Md.Ars) Pada Program Studi
D3 Teknik Arsitektur Program Pendidikan Vokasi Universitas Halu Oleo
Oleh :
ANDI AKBAR E3 B1 12 002
PROGRAM STUDI D3 TEKNIK ARSITEKTUR
PROGRAM PENDIDIKAN VOKASI
UNIVERISTAS HALU OLEO
KENDARI
ABSTRAK
ANDI AKBAR (E3B1 12 002). Perencanaan Gedung Bioskop Mini di Kota
Kendari. Dibimbing oleh ALIM BAHRI, ST, M.Sc selaku Pembimbing.
Maksud dan tujuan Karya Ilmiah ini adalah untuk menyusun dan meningkatkan suatu landasan konseptual yang diarahkan guna mendapatkan faktor-faktor penentu perencanaan wadah fisik. Landasan tersebut meliputi konsep dasar perancangan makro dan konsep dasar mikro yang selanjutnya ditransformasikan kedalam desain grafis.
Metode Karya Ilmiah yang dipakai menggunakan analisa sintesa dengan menguraikan hal-hal yang berhubungan dengan pokok-pokok bahasan melalui cara memaparkan data-data yang berdasarkan studi literatur, wawancara dan observasi lapangan yang berhubungan dengan materi penelitian ini.
Karya hasil ilmiah ini berupa PERENCANAAN GEDUNG BIOSKOP MINI yang representatif ditinjau dari segi arsitektual, dimana berkesan komersial. Rekreatif yang bercirikan modern, dan ditinjau dari segi fungsi serta intensitasnya yang dapat menampung seluruh aktivitas yang terselenggara didalamnya serta menyediakan fasilitas penunjang dan perlengkapan bangunan serta prasarana utilitas yang lengkap.
Kata Kunci : Gedung Bioskop Mini
ABSTRACT
The purpose and goal of this scientific work is to develop and promote a conceptual foundation aimed to obtain determinants of physical planning of container . The cornerstone of the design covers the basic concepts of macro and micro base concepts are further transformed into graphic design .
Scientific methods used to use synthesis analysis by outlining things that are associated with the main points of discussion by exposing data based on literature studies , interviews and field observations related to the study material . The work is in the form of scientific results BUILDING DESIGN OF CINEMA MINI representative in terms of arsitektual , where commercial impression . Recreational characterized by modern , and in terms of functionality and intensity that can accommodate all the activities held therein and to provide supporting facilities and equipment as well as infrastructure building complete utilities .
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
Puji Syukur Penulis panjatkan ke Hadirat Allah S.W.T, karena berkat Taufik dan Hidayahnya pula penulisan dapat menyelesaikan tugas akhir yang berjudul : “Perencanaan Gedung Bioskop Mini Di Kota Kendari” dengan baik.
Laporan Karya tulis ini merupakan perwujudan Tugas Akhir untuk menyelesaikan studi tahap Diploma pada Program Studi Diploma Tiga Teknik Arsitektur, Program Pendidikan Vokasi Universitas Haluoleo Kendari. Dalam Proses penyusunan Tugas Akhir ini, penulis banyak mendapatkan masukan dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung ikut membantu dalam penyempurnaan tulisan ini. Penulis merasa masih banyak terdapat kekeliruan dan kesalahan – kesalahan baik karena kurangnya literatur yang ada maupun karena keterbatasan kemampuan penulis. Oleh karena itu kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan demi pembelajaran dan kesempurnaan dimasa yang akan datang.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan Tugas Akhir ini berbagai kendala dihadapi, namun semua dapat teratasi berkat saran dan bantuan yang diberikan berbagai pihak. Karena itu dengan segala kerendahan hati penulis ucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Ir. Prof. Usman Rianse, M.Sc Selaku Rektor Universitas Haluoleo.
2. Bapak Arman Faslih, ST, MT selaku Direktur Pendidikan Vokasi Universitas Halu Oleo.
3. Bapak Ainussalbi Al Ikhsan, ST, M.Sc selaku Ketua Program Studi D3 Teknik Arsitektur Universitas Halu Oleo.
4. Bapak Alim Bahri, ST, M.Sc selaku Pembimbing yang telah banyak memberikan arahan dan bimbingan yang sangat berarti dalam proses penyusunan Tugas Akhir ini. 5. Segenap Bapak dan Ibu Dosen Pendidikan Vokasi Khususnya dosen Jurusan Arsitektur yang telah membimbing, memotivasi dan membagi ilmunya selama studi di Pendidikan Vokasi.
6. Kedua Orang Tua saya, Andi Untung dan Nurnia serta saudara/i saya yang telah memberikan bantuan moral maupun material, kasih sayang dan dorongan serta doa yang terucap dari hati yang paling dalam.
7. Buat teman-teman dan letingku di D-III Teknik Arsitektur 2012 yang selalu memberikan semangat, motivasi dan saran-saran yang positif..
Akhir kata, penulis mengucapkan banyak terimakasih yang setinggi – tingginya, mudah – mudahan segala amal perbuatan kita mendapatkan ridho Allah SWT. Amin...
Kendari Februari 2016 Wassalam
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
LEMBAR PERSETUJUAN ... iii
ABSTRAK ... iv
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR GAMBAR ... xi
DAFTAR TABEL... xiii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah... 2
C. Tujuan dan Sasaran Pembahasan 1. Tujuan Pembahasan ... 2
2. Sasaran Pembahasan ... 3
D. Batasan Masalah ... 3
E. Metode dan Sistematika Pembahasa 1. Metode Penulisan ... 3
2. Sistematika Penulisan... 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Judul ... 5
B. Tinjauan Umum Grdung Bioskop Mini 1. Tujuan Dan Hakekat ... .. 6
2. Pengertian Gedung Bioskop Mini ... 6
3. Pelaku Kegiatan ... 7
4. Bentuk Pelayanan ... 7
5. Jenis/Macam Kegiatan ... 8
6. Sifat Pelayanan Kegiatan ... 8
7. Kapasitas Tempat Duduk ... 9
8. Desain Bioskop ... 10
9. Tempat Duduk ... 13
10. Lorong (Aisles) ... 15
11. Studi Banding ... 16
BAB III TINJAUAN LOKASI A. Tinjauan Umum Terhadap Kota Kendari 1. Kondisi Fisik Kota Kendari ... 31
2. Kondisi Tanah ... 33
3. Kependudukan Sosial Kota Kendari ... 35
4. Tinjauan Tata Ruang Kota ... 36
B. Tinjauan Khusus Kota Kendari 1. Tinjauan Lokasi ... 40
2. Pemilihan Site ... 42
3. Pengolahan Site ... 44
4. Sistem Sirkulasi dalam Bangunan ... 45
5. Pola Tata Lingkungan ... 47
7. Penampilan Bangunan ... 48
8. Penataan Ruang Luar ... 49
BAB IV KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN A. Filosofi Dasar Perencanaan Dan Perancangan ... 52
B. Konsep Pendekatan Makro 1. Konsep Penentuan Lokasi ... 52
2. Pemilihan Site ... 53
3. Kriteria Tapak ... 55
4. Faktor-Faktor Penunjang ... 55
5. Konsep Sistem Sirkulasi ... 57
6. Konsep Tata Lingkungan dan Analisa tapak ... 58
7. Konsep Penampilan Bangunan ... 59
C. Konsep Pendekatan Mikro 1. Kebutuhan Ruang ... 60
2. Pengelompokan Ruang ... 61
3. Konsep Pola Hubungan Ruang ... 63
4. Konsep Pola Organisasi Ruang ... 64
5. Konsep Besaran Ruang ... 65
6. Konsep Pola Tata Ruang Luar ... 70
7. Struktur Bangunan ... 71
8. Sistem Utilitas Dan Kelengkapan Bangunan... 72
9. Sistem Pencegahan Kriminal ... 76
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ... 79 B. Saran ... 79
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Jenis Bioskop Melingkup 3600 ... 10
Gambar 2.2 Jenis Bioskop Tanggan Terbalik ... 11
Gambar 2.3 Jenis Bioskop Melingkup Antara 2100-2200 ... 11
Gambar 2.4 Jenis Bioskop Melingkup 1800 ... 12
Gambar 2.5 Jenis Bioskop Melingkup 900 ... 12
Gambar 2.6 Jenis Bioskop tak melingkup... 13
Gambar 2.7 Tamapak Depan... 19
Gambar 2.8 Ruang obby ... 20
Gambar 2.9 Ruang penjualan Karcis ... 20
Gambar 2.10 Ruang Proyektor ... 21
Gambar 2.11 Ruang Studi ... 21
Gambar 2.12 Ruang Pepsi ... 22
Gambar 2.13 Ruang Toilet ... 23
Gambar 2.14 Ruang Karyawan ... 23
Gambar 2.15 Ruang Direktur ... 24
Gambar 2.16 Ruang Direktur ... 24
Gambar 2.17 Roll Film ... 25
Gambar 2.18 Proyektor ... 25
Gambar 3.1 Peta KotaKendari ... 31
Gambar 3.2 Peta BWK Kota Kendari ... 42
Gambar 3.3 Lokasi Perencanaan Gedung Bioskok Mini ... 44
Gambar 4.2 Orientasi Iklim... 56 Gambar 4.3 View Tapak ... 56 Gambar 4.4 Noise Tapak... 57
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Luas Wilayah Kota Kendari Menurut Kecamatan ... 33 Table 3.2 Proyeksi Jumlah Penduduk Kota Kendari Tahun 2000-2014 ... 34 Table 3.3 Arahan Fungsi Dan Pengembangan Bagian Wilayah
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara berkembang, yang terus menerus berusaha untuk meningkatkan hasil yang maksimal dalam bidang perekonomian dan pengembangan disegala bidang terutama didalamnya adalah pengembangan jasa hiburan untuk menunjang bidang pariwisata. Sejalan dengan pertumbuhan dan kegiatan ekonomi perkotaan yang diiringi oleh kemajuan tebknologi yang semakin pesat saat ini pada beberapa kota besar di Indonesia, sehingga mempengaruhi meningkatnya tingkat kesibukan kota yang tak pernah berhenti.
Mengamati secara khusus, kota Kendari merupakan ibukota Sulawesi Tenggara telah memperlihatkan pertumbuhan penduduk yang sangat pesat sehingga kebutuhan akan fasilitas semakin dituntut akan keberadaannya. Disamping itu pula keinginan masyarakat untuk menggunakan fasilitas hiburan sangat tinggi, mengingat sarana hiburan (gedung bioskop mini) yang masih minim di Kota Kendari, maka perlu direncanakan. Pertumbuhan yang terjadi, serta perkembangan yang pesat dalam tata kehidupan manusia sosial, ekonomi, budaya dan teknologi telah membawa tuntunan-tuntunan baru. Dengan berbagai kesibukan dan aktivitas yang padat sehari-hari yang menjemukkan sehingga pada saat waktu luang ingin melepaskan kejenuhan dengan mendatangi tempat hiburan guna mendapatkan penyegaran kembali. Relevansi dari akibat rutinitas sehari-hari, membuat masyarakat kota sebagian
besar sangat membutuhkan fasilitas hiburan dan suasana yang rileks. Kecenderungan dari tingkat pertumbuhan dari segi sosial, budaya dan ekonomi masyarakat Kota Kendari memperlihatkan perkembangan yang mengikuti kemajuan zaman dan teknologi, yang dapat terlihat dalam kebutuhan hidup sesuai dengan tingkat perekonomiannya. Kecenderungan ini pula didukung oleh realita yang ada terlihat padatnya tempat-tempat hiburan seperti kafeteria dimana setiap malamnya, terutama malam minggu atau hari-hari tertentu sangat terlihat ramai.
Dari sejumlah gambaran dan uraian di atas maka kecenderungan masyarakat Kota Kendari akan tempat hiburan sangatlah besar. Dengan kondisi sekarang ini belum terlihat adanya pemusatan akan tempat hiburan dalam suatu wadah, berupa bioskop untuk pertunjukan/pemutaran film.
B. Rumusan Masalah
Dengan melihat kondisi fasilitas hiburan (bioskop) di Kota Kendari pada saat ini maka dapatlah diuraikan ungkapan masalah sebagai berikut : 1. Bagaimana merencanakan gedung bioskop mini yang menarik, rekreatif
dan representative ?
2. Bagaimana Menyusun RKS dan RAB gedung bioskop mini untuk Kota Kendari ?
C. Tujuan dan Sasaran Pembahasan 1. Tujuan Pembahasan
b. Untuk menyusun RKS dan RAB dalam bangunan gedung bioskop mini di Kota Kendari
2. Sasaran Pembahasan
Sasaran pembahasan pada penulisan ini adalah merencanakan gedung Bioskop mini di Kota Kendari sesuai peruntukannya dan mampu menyusun RKS dan RAB dalam perencanaan gedung Bioskop mini di kota kendari.
D. Batasan Masalah
1. Pembahasan dibatasi pada masalah-masalah dan lingkup disiplin Arsitektur dalam artian tidak tertutup kemungkinan untuk meninjau disiplin ilmu namun tidak akan dibahas secara mendalam, akan tetapi dibahas secara logika maupun berdasarkan asumsi-asumsi.
2. Gedung bioskop mini akan dibahas berdasarkan pengelompokan ruang, kebutuhan ruang dan pola hubungan ruang. Selain itu membahas tentang lokasi akan disesuaikan dengan kondisi Kota Kendari dan Rencana Induk Kota (RIK) serta penampilan bangunan.
E. Metode dan Sistematika Penulisan 1. Metode Penulisan
Dalam pembahasan ini secara umum akan digunakan metode analisa yaitu dengan mengidentifikasi masalah yang ada dan mengkaitkannya dengan hal-hal yang saling menunjang. Karena keterbatasan bahan dan literatur
maka hasil wawancara, asumsi maupun komparasi akan dijadikan bahan pegangan.
2. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan dapat dikemukakan sebagai berikut :
Bab I : Latar belakang, mengenai permasalahan umum pengenalan objek dengan ungkapan masalahnya, lingkup pembahasan yang memberikan gambaran umum, isi dan statement yang selalu menjadi orientasi pembahasan
Bab II : Menguraikan tinjauan umum terhadap gedung bioskop mini itu sendiri sebagai pokok permasalahan.
Bab III : Menguraikan tinjauan khusus Kota Kendari mengenai fasilitas-fasilitasnya untuk diadakan di Kendari serta penyesuaian kondisi kota.
Bab IV : Membuat konsep dasar perancangan guna diterapkan kedalam perencanaan fisik.
Bab V : Merupakan penutup dari seluruh pembahasan pada bab-bab sebelumnya akan menjadi titik tolak ke arah tujuan dan sasaran penulisan serta dasar perencanaan gedung.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Judul
Perencanaan adalah suatu proses menentukan apa yang ingin
dicapai di masa yang akan dating serta menetapkan tahapan-tahapan yang dibutuhkan untuk mencapainya. Dengan demikian, proses perencanaan dilakukan dengan menguji berbagai arah pencapaian serta mengkaji berbagai ketidakpastian yang ada, mengukur kemampuan (kapasitas) kita untuk mencapainya kemudian memilih arah-arah terbaik serta memilih langkah-langkah untuk mencapainya.
Gedung Bioskop Mini merupakan sarana hiburan yang dilakukan di
dalam ruangan yang dapat diartikan sebagai berikut :
Gedung : Bangunan tembok yg berukuran besar
Bioskop : Gambar hidup
Mini : Kecil atau sedikit
Dari pengertian di atas maka dapat diartikan bahwa gedung bioskop mini adalah gedung yang khusus digunakan untuk pertunjukan film yang berukuran kecil, biasanya dilengkapi tempat penjualan tanda masuk (karcis) dan tempat menggantungkan gambar, iklan film yang sedang atau akan diputar.
B. Tinjauan Umum Gedung Bioskop Mini 1. Tujuan dan Hakekat
a. Tujuan
Sebagai salah satu fasilitas kota yang memberikan jasa hiburan kepada masyarakat dan merupakan usaha yang dapat meningkatkan keramaian kota, juga mendapatkan keuntungan dengan memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada konsumen.
b. Hakekat
1) Merupakan bentuk pelayanan hiburan santai yang memberikan kesenangan dan kesegaran.
2) Merupakan pemusatan atau tempat berhimpunnya orang atau individu yang ingin menghibur hati.
3) Merupakan kegiatan aktivitas hiburan yang menjadi daya tarik terhadap pengunjung.
2. Pengertian Gedung Bioskop Mini
Gedung bioskop mini merupakan bangunan terintegrasi (assembly buildings) yang digolongkan sebagai bangunan bisnis. Bangunan bioskop ditekankan pada keperluan pemutaran film, sehingga menyediakan proyeksi film. Bangunan yang awalnya didesain untuk pemutaran film, tidak akan sesuai jika digunakan untuk keperluan pertunjukan langsung, tetapi film dapat dipertunjukkan dengan baik pada ruang yang didesain untuk keperluan pertunjukan langsung seperti teater
dan auditorium sehingga desain bioskop dapat disamakan dengan desain teater maupun auditorium.
Bangunan teater digunakan terutama untuk theatrical yang berhubungan dengan opera dan eksibisi, diatur dengan stage yang diangkat, panggung, loteng pemandangan yang digantung, cahaya, sumber gambar bergerak (gambar hidup), peralatan mekanis atau perlengkapan dan peralatan theatrical lainnya. Selain itu teater juga dilengkapi dengan tempat duduk yang tetap serta dilengkapi dengan keperluan penggerakan gambar.
3. Pelaku Kegiatan
a. Pengunjung
Pengunjung bioskop adalah masyarakat yang memerlukan jasa hiburan atau ingin mendapatkan kesenangan, baik anak-anak, dewasa maupun orang tua.
b. Pengelola
Pengelola adalah suatu organisasi yang ditugaskan oleh badan usaha atau investor untuk mengatur pelayanan jasa gedung bioskop mini.
4. Bentuk Pelayanan
Bentuk dari hiburan ini adalah kegiatan dan pelayanannya dilakukan di dalam ruangan seperti : ruang bioskop dan cafeteria.
5. Jenis / Macam Kegiatan
Secara umum jenis kegiatan gedung hiburan dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Kegiatan makan minum b. Kegiatan tontonan.
Untuk kegiatan pengelola dapat diuraikan sebagai berikut : a. Mengatur, mencatat administrasi perusahaan
b. Menyediakan bahan keperluan operasional
c. Menerima pengunjung dan melayani maupun membantu mengadakan keperluan pengunjung untuk lebih santai dalam menikmati hiburan d. Mengawasi karyawan baik dalam hal keuangan maupun pelayanan
yang diberikan kepada pengunjung e. Menjaga keamanan pengunjung
f. Memelihara dan merawat semua peralatan fasilitas gedung bioskop mini
g. Membersihkan dan merawat semua alat atau lavatory yang digunakan oleh pengunjung.
6. Sifat Pelayanan Kegiatan
Yang dimaksud dengan sifat pelayanan kegiatan hiburan adalah karakteristik atau hal yang spesifik menyangkut hal pelayanan dimana karakteristik pelayanannya akan mengungkap spesifikasi gedung bioskop mini.
Secara umum sifat dan pola gedung bioskop mini dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Rekreatif
Dimana sifat pelayanannya dapat menimbulkan suasana senang, gembira, santai, nyaman dan bebas yang dapat menjamin keseimbangan dan kesegaran jasmani maupun rohani bagi pelaku kegiatan.
b. Komersial
Diartikan bagaimana pola sifat pelayanan seoptimal mungkin yang dapat digunakan untuk efektivitas dan efisiensi kepada pelaku kegiatan agar lebih mengundang pengunjung untuk tertarik akan fasilitas yang disediakan.
c. Eksklusif
Penyediaan kebutuhan-kebutuhan maupun keinginan pengunjung dalam memilih, mendapatkan dan melakukan rekreasi dengan berbagai macam bentuk fasilitas suasana serta penampilan wadah fisik yang eksklusif.
7. Kapasitas Tempat Duduk
Ukuran bioskop tidak saja ditentukan oleh kapasitas tempat duduk, namun ukuran tingkatan, fasilitas produksi yang mendukung, dan skala ruang yang disiapkan untuk pengunjung juga mempengaruhi ukuran
bioskop. Namun sebagai panduan, maka di bawah ini digolongkan terminologi ukuran bioskop berdasarkan jumlah tempat duduk :
Sangat besar : 1500 atau lebih tempat duduk Besar : 900 – 1500 tempat duduk Sedang : 500 – 900 tempat duduk Kecil : dibawah 500 tempat duduk
8. Desain Bioskop
Jarak maksimum dari pusat efektif daerah acting/layar film sampai tempat duduk terdepan dalam bioskop memiliki batas pandang dan dengar. Batasan tersebut bervariasi bergantung pada jenis permainan/film yang ditampilkan.
Adapun jenis-jenis teater/bioskop sebagai berikut : a. Melingkup 360
Para penonton berada di sekeliling areal akting/layar film. Bentuk ini juga dikenal sebagai teater melingkar, arena, atau tanggaan memusat yang tidak memiliki latar belakang. Panah menunjukkan jalan masuk dan keluar.
Gambar 2.1. Jenis Bioskop Melingkup 360
b. Tanggaan Terbalik
Para penonton duduk pada dua sisi yang berhadapan. Model ini jarang dipakai. Panah menunjukkan jalan masuk dan keluar.
Gambar 2.2. Jenis Bioskop Tanggaan Terbalik
Sumber : Roderick Ham AADipl RIBA (1974), Theatre Planning
c. Melingkup antara 210 - 220
Teater-teater Yunani dan Helenistik menggunakan model ini. Jalan masuk dapat dibuat tegak lurus terhadap dinding atau pada sisi yang terbuka, tetapi pada prinsipnya areal akting/layar film berada pada fokus penonton. Model Yunani ini kebanyakan digunakan pada daerah terbuka. Panah menunjukkan jalan masuk dan keluar.
Gambar 2.3. Jenis Bioskop Melingkup antara 210 - 220
d. Melingkup 180
Model ini populer di zaman Romawi dan awal Renaisance. Teater umum Elishabetian dipercayai dikembangkan dari model ini. Panah menunjukkan jalan masuk dan keluar.
Gambar 2.4. Jenis Bioskop Melingkup 180
Sumber : Roderick Ham AADipl RIBA (1974), Theatre Planning
e. Melingkup 90
Model ini seperti kipas yang terbuka. Modelnya dapat divariasi, tetapi arah pandang penonton terbatas.
Gambar 2.5. Jenis Bioskop Melingkup 90
f. Tak melingkup (zer o encirclement)
Model ini juga dikenal dengan nama tangga akhir. Hanya terdapat satu tangga terbuka dan areal akting/layar film sama dengan areal tempat penonton. Garis pandang tidak terbatas, namun secara fisik model strukturnya terbatas.
Gambar 2.6. Jenis Bioskop Tak Melingkup
Sumber : Roderick Ham AADipl RIBA (1974), Theatre Planning
Dengan derajat lingkupan di atas 120, maka tampilan tak akan dapat dilihat secara sempurna oleh penonton, bahkan sesama penonton dari satu sisi tanggaan deretan kursi akan saling bertatapan dengan penonton yang berada di sisi yang berhadapan. Keterbatasan lain yang dapat terjadi adalah arah pandang dan pencahayaan yang berdampak pada ketidaknyamanan penonton.
9. Tempat Duduk
Jarak tempat duduk sangat penting diperhatikan dalam desain teater/bioskop karena akan berkaitan dengan kenyamanan dan sirkulasi pemakai/penonton, tetapi jika jarak tersebut dibuat lebih, maka akan menjadi tidak ekonomis karena akan mengurangi kapasitas ruangan
teater/bioskop tersebut. Desain tempat duduk memperhatikan ketentuan sebagai berikut :
a. Jarak antar barisan kursi harus disiapkan ruang yang tidak kurang dari 12 inch (30,5 cm) yang diukur dari proyeksi terbelakang suatu kursi sampai proyeksi terdepan kursi lainnya.
b. Barisan kursi antara lorong (aisle) tidak lebih dari 14 kursi.
c. Barisan kursi yang hanya memiliki jalan keluar pada satu lorong (aisle) tidak boleh lebih dari 7 kursi.
d. Kursi tanpa lengan pemisah, kapasitas ruangnya sekitar 18 inch (45,7 cm) per orang. Jenis ini berlaku untuk bangku panjang seperti bangku gereja. Bangku seperti ini yang berukuran panjang 21 ft (6,4 m) untuk 14 orang (14 x 45,7 cm) antar lorong (aisle) dan untuk barisan kursi yang keluarnya hanya dari satu lorong (aisle) ukuran panjang 10,5 ft (3,2 m) untuk 7 orang (7 x 45,7 cm).
e. Jika tempat duduk tanpa sandaran belakang seperti stadion atau tribun, maka jarak antara barisan kursi tidak kurang dari 22 inch (55.9 cm) dan juga tidak lebih dari 30 inch (76 cm) dari belakang kursi ke belakang kursi yang di depannya. Lorong pembatas antar baris harus diadakan jika barisan kursi lebih dari 11 baris.
f. Continental seating (tempat duduk kontinetal)
1) Tempat duduk kontinental, jarak baris tempat duduk dari kursi yang tidak ditempati perlu disediakan lebar yang jelas antara baris yang diukur secara horisontal, yaitu sebagai berikut : jarak antara
baris adalah 18 inch (45,7 cm) untuk 18 kursi atau dibawahnya; 20 inch (50,8 cm) untuk 35 kursi atau dibawahnya; 21 inch (53,3 cm) untuk 45 kursi atau dibawahnya; 22 inch (55,9 cm) untuk 46 kursi atau lebih.
2) Tidak lebih dari 100 kursi pada suatu baris antara lorong pada tempat duduk yang terdiri dari dua sisi.
3) Pintu keluar harusnya disediakan sepanjang setiap sisi barisan kursi dan pada setiap 5 baris kursi harus terdapat satu pintu keluar. Jadi setiap pasangan pintu terdapat 5 barisan kursi. Lebar minimum pintu keluar 66 inch (168 cm).
10. Lorong (Aisles)
Setiap bagian dari bangunan terintegrasi yang berisi teater/bioskop dan jenis fasilitas dengan tempat duduk sejenis dilengkapi dengan aisle (lorong) sebagai jalan keluar. Pada setiap 60 kursi, lebar lorong harusnya tidak kurang dari 3 ft (91 cm) untuk jangkauan yang hanya satu arah dan untuk jangkauan yang terdiri dari dua arah, lebar lorong tidak kurang dari 3 ft 6 inch (107 cm). Lebar minimum harus diukur dari pintu keluar, berpotongan lorong, atau serambi dan seharusnya lebar lorong bertambah 1.5 inch (3,8 cm) untuk setiap jarak 5 ft (152 cm) ke arah ke luar, berpotongan lorong, atau serambi. Jika tempat duduk hanya 60 atau di bawahnya, lebar lorong harus tidak kurang dari 30 inch
(76 cm). Pada lorong dengan arah keluar bervariasi, maka lebar lorong harus seragam.
Pada teater/bioskop dengan model duduk, lebar aisle harus dapat mengakomodasi kapasitas keluar masuk untuk koridor dan sebaiknya lebar tidak kurang dari 36 inch (914 mm) untuk satu sisi layanan dan tidak kurang dari 42 inch (1067 mm) untuk dua sisi layanan. Lebar ini diukur dari titik terjauh dari exit dan sebaiknya berkurang setiap ½ inch (38 mm) pada setiap 5 kaki (1,542 mm) sepanjang menuju exit.
Lorong berakhir pada persimpangan lorong, serambi, atau pintu keluar. Lebar persimpangan lorong, serambi, atau pintu keluar harusnya tidak kurang lebar lorong terbesar yang ada ditambah 50 % dari total lebar yang diperlukan.
11. Studi Banding Gedung Bioskop
a. Gedung Hollywood Sineplek di Kendari
Hollywood Sineplek merupakan sebagian bahan perbandingan dan literatur dalam penulisan dilakukan studi banding yang ada di kota Kendari. Dalam studi banding yang dilakukan tidak berdasarkan perbandingan fasilitas maupun klasifikasi bentuk yang dimiliki, tetapi lebih dominant untuk mudah membuat acuan perancangan. Sesuai penelitian gedung ini memiliki dua studio yaitu studio satu dan studio dua yang memiliki kapasitasnya 158 kursi.
1) Lokasi
Lokasi gedung bioskop di kendari tepat di jalan saranani yang sesuai dengan arahan fungsi BWK 1 Kota Kendari. Luas tanah yang digunakan sekitar + 2000 m2 penampilan bangunan sangat sederhana dan minimalis.
2) Kebutuhan ruang gedung bioskop di Kota Kendari
Adapun kebutuhan ruang yang ada di dalam gedung bioskop Kota Kendari yaitu :
a) Ruang lobby
b) Ruang penjualan tiket c) Ruang studio
d) Ruang proyektor e) Ruang karyawan f) Kantin
STRUKTUR ORGANISASI PENGELOLA
GEDUNG BIOSKOP
DIREKTUR WAKIL STAF SEKRETARIS BENDAHARA MANAJER OPEATOR CLEANING SERVICE MANAJER FASILITAS KEAMANAN ANGGOTA ANGGOTA ANGGOTA ANGGOTA3) Fasilitas yang lain di luar gedung bioskop yaitu ruang swalayan dan pepsi
4) Foto-foto hasil penelitian di dalam dan diluar gedung bioskop
Gambar 2.7. Tampak Depan
Sumber : Hasil Tinjauan Lapangan
Tampak depan gedung bioskop Hollywood Sineplek kota Kendari dengan bentuk yang sederhana dan minimalis.
Gambar 2.8. Ruang Lobby
Sumber : Hasil Tinjauan Lapangan
Ruang Lobby dengan asumsi luas + 250 m2 dimana pengunjung bisa menunggu di area lobby untuk pemutaran film, juga dilengkapi dengan jadwal film yang akan diputar. Ruang-ruang yang tersedia seperti Ruang-ruang penjualan karcis, kantin, dan toilet.
Gambar 2.9. Ruang Penjualan Karcis
Penjualan karcis dengan asumsi luas + 15m2 dimana pengunjung disediakan 2 loket untuk pengambilan karcis, terdiri dari dua studio yaitu studio 1 dan studio 2.
Gambar 2.10. Ruang Proyektor
Sumber : Hasil Tinjauan Lapangan
Ruang proyektor dengan asumsi luas + 20 m2 dilengkapi dengan 2 mesin proyektor untuk masing-masing studio.
Gambar 2.11. Ruang Studi
Sumber : Hasil Tinjauan Lapangan
Ruang studio dengan asumsi luas + 140 m2 dengan
x 8 meter, pintu darurat, loudspeaker sebanyak 6 buah, AC sentral 2 unit. Tinggi dinding dari depan 9 meter dari belakang 6 meter dan jarak lorong 120 cm. Plafond berbentuk peredam dari bahan gypsum, gllas bull, dan karpet dengan tebal + 5 cm serta lampu pijar sebanyak 12 buah. Dinding juga dikelilingi peredam suara dengan ketebalan + 10 cm. Untuk lantai menggunakan dasar semen dilapisi under layer dan karpet.
Gambar 2.12. Ruang Pepsi
Sumber : Hasil Tinjauan Lapangan
Ruang pepsi dengan asumsi luas + 120 m2 digunakan untuk kegiatan makan/minum, bagi pengunjung bioskop maupun pengunjung lain.
Gambar 2.13. Ruang Toilet
Sumber : Hasil Tinjauan Lapangan
Ruang toilet dengan asumsi luas + 25 m2 memiliki empat urinoir, 3 toilet untuk pria sedangkan untuk wanita memiliki 3 toilet.
Gambar 2.14. Ruang Karyawan
Sumber : Hasil Tinjauan Lapangan
Ruang karyawan dengan asumsi luas + 80 m2 banyak karyawan yaitu 15 orang, sedangkan untuk bagian khusus bioskop 8 orang. Ruang karyawan dilengkapi juga fasilitas alat olahraga seperti barbell dan lain-lain.
Gambar 2.15. Ruang Direktur
Sumber : Hasil Tinjauan Lapangan
Ruang Direktur dengan asumsi luas + 20 m2. Ruang utama untuk Direktur yang dapat mengontrol semua aktivitas kegiatan dalam gedung.
Gambar 2.16. Ruang Direktur
Sumber : Hasil Tinjauan Lapangan
Pada ruang jadwal pemutaran film pengunjung dapat melihat langsung di area lobby jadwal film yang akan ditayangkan.
Gambar 2.17. Roll Film
Sumber : Hasil Tinjauan Lapangan
Panjang roll film 2.700 meter dengan durasi 1,5 jam. Jenis mesin yaitu Cinema Kanika (Italy).
Gambar 2.18. Proyektor
Sumber : Hasil Tinjauan Lapangan
Mesin proyektor sebanyak 2 unit untuk pemutaran film masing-masing studio.
b. Pusat Perfilman Usmar Ismail
Dibangun di atas tanah seluas 1,8 Hadi kawasan Kuningan Jakarta Selatan. Luas bangunan seluruhnya meliputi 11.550 m2 yang terdiri dari :
1) Bangunan induk (perkantoran) seluas 1.620 m2 terdiri dari 3 lantai :
a) Lantai 1 disewakan untuk kantor-kantor perusahaan perfilman b) Lantai 2 untuk kantor-kantor organisasi perfilman
c) Lantai 3 untuk kantor pusat perfilman dan Sinematek
2) Ruang preview, lobby, ruang proyektor, kafetaria dan ruang sidang sebanyak 3 buah seluruhnya seluas 1.250 m2. Ruang preview berkapasitas 200 orang dan dapat berfungsi sebagai ruang sidang dan pertemuan.
3) Gedung bioskop seluas 3.400 m2 dengan kapasitas 800 orang yang
terdiri dari ruang mekanik, ruang menyimpan film, lobby dan gudang.
Kompleks pusat perfilman terdiri dari 3 buah gedung yaitu :
a) Gedung bioskop yang terletak pada bagian depan kompleks menghadap jalan Rasuna Said.
b) Ruang preview room terletak di bagian belakang kompleks. c) Gedung pusat perfilman yang terdiri dari kantor organisasi dan
Gaya bangunan seperti bangunan-bangunan perkantoran yang dibangun pada tahun 70-an bergaya internasional style, bercat putih dengan dominasi garis-garis horizontal. Bangunan ini baik eksterior maupun interiornya tidak mencerminkan bangunan kesenian yang umumnya representatif.
c. Media Center, Hamburg, Germany
Ide membuat media center ini datang dari The Hamburger
Filmburo, sebuah badan yang menyokong pembuat film swasta yang
membutuhkan sarana perkantoran dan studio.
Media center ini merupakan restrukturisasi dari bangunan lama yang sejak tahun 1868 berfungsi sebagai pabrik besi baja yang memproduksi baling-baling kapal. Pabrik ini bangkrut dan diubah fungsinya menjadi media center. Sejak tahun 1970 medium Architekten, Peter Wiesner, Thiess Jentz, Heiko Popp dan Jan Stormer menitikberatkan pada pembentukan kembali, pengembangan dan penambahan struktur bangunan tambahan yang dapat melayani penggunaan modern. Mereka menggambarkannya sebagai Soft
Architecture yang mencangkokkan fungsi dan bentuk-bentuk baru
pada bangunan lama. Hasilnya berupa ekspresi dari struktur bata merah yang masih dengan rangka baja yang diekspos seperti struktur pabrik.
Di bagian manapun dari bangunan dapat terbaca masa lalu dan kekinian. Bangunan ini lebih sebagai sebuah sculpture daripada arsitektur. Seperti dalam perancangannya, arsitek selalu membawa kapur dan menggambarkannya langsung di lokasi.
Ruang-ruang : 1) Film kafe
2) Toko-toko dengan perkantoran di atasnya 3) Kompleks bioskop
4) Perkantoran untuk perusahaan perfilman 5) Eisenstein restoran
6) Lembaga film dan teater
7) Perpustakaan film dan video untuk umum
d. Arts Library, Seoul Arts Center
Merupakan bagian dari kompleks Seul Art Center yang terdiri dari concert hall, calligraphy hall, festival hall, arts gallery, korean music center dan arts library. Kompleks ini dibangun di atas tanah seluas 234.385 m2 dengan luas total bangunan 120.000 m2. Arts library ini memiliki total luas 23.175 m2 yang dibagi menjadi 4 lantai.
Pada lantai basement terdapat perpustakaan film yang memiliki 2 bioskop dengan kapasitas 100 dan 140 orang, studio workshop, ruang kuliah, ruang penyimpanan film, dan perpustakaan rujukan. Perpustakaan ini menjadi tempat untuk mencari informasi,
mempelajari, mengembangkan dan menyajikan program-program film dimana film dinikmati dan dipelajari sebagai salah satu bentuk seni.
Pada lantai 1 terdapat ruang pelayanan referensi yang menyediakan berbagai informasi tentang seni. Di lantai ini juga terdapat perpustakaan anak yang dimaksudkan untuk memperkenalkan seni pada anak-anak sejak dini.
Pada lantai 2 terdapat perpustakaan seni, koleksi barang cetakan dan ruang mikro film. Perpustakaan ini menggunakan sistem pelayanan komputer untuk memudahkan pencarian informasi. Ruang audio visual terdapat di lantai 3 yang dilengkapi dengan ruang-ruang saji untuk perorangan maupun kelompok.
Konsep arts library ini mengikuti master plan konsep seoul arts center yaitu sebuah tempat interaksi antara tua dan muda, Barat dan Timur, dan interaksi antara masa lalu dan masa kini. Hal ini terlihat dari ekspresi bangunan yang mencerminkan kombinasi antara teknologi Barat dengan bentuk-bentuk eksotis dunia Timur.
e. Bioskop Bandung
Bagi sebagian orang, gedung bioskop merupakan tempat alternatif untuk melepas kepenatan setelah lelah beraktivitas seharian. Namun, sebagian lagi menganggap gedung bioskop sebagai tempat untuk menyalurkan hobi menontonnya. Bahkan, di bioskop orang bisa memperoleh pengetahuan baru dari film yang ditontonnya.
Beribu alasan orang datang menonton di gedung bioskop. Lebih lebar layarnya dibandingkan layar televisi, lebih fokus menontonnya, lebih mantap suaranya, juga lebih nyaman rasanya. Tidak jarang, banyak juga yang datang hanya untuk berpacaran selain untuk menikmati hiburan.
Gedung bioskop di Bandung sudah dikenal sejak masa kolonial Belanda. Sebut saja gedung Bioskop Elita yang terletak di jalan Alun-Alun dan Bioskop Majestic di jalan Braga yang sudah tersohor di tahun 1920-an. Dari tahun ke tahun, hingga tahun 1970, jumlah bioskop di kota Bandung mencapai 30 gedung dengan berbagai kelas dan kualitas. Salah satu gedung bioskop yang paling top pada masanya, menurut Subakti, seorang pengusaha bioskop dari tahun 1970, adalah Nusantara dan Paramount. Kedua gedung itu punya kelebihan masing-masing, awal tahun 1980-an, Nusantara menawarkan gedung gaya Belanda dengan daya tampung 1.200 kursi, sedangkan Paramount berkapasitas 1.006 kursi, hadir dengan gedung baru yang modern pada masa itu.
BAB III
TINJAUAN LOKASI
A. Tinjauan Umum Terhadap Kota Kendari 1. Kondisi Fisik Kota Kendari
Gambar 3.1. Peta Kota Kendari
a. Letak Geografis
Kabupaten Kota Kendari dengan ibukotanya Kendari dan sekaligus juga sebagai ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara secara astronomis terletak dibagian selatan garis katulistiwa berada diantara 30 54` 30`-40 3`11`` Lintang Selatan dan membentang dari Barat ke Timur diantara 1220 23`-1220 39` Bujur Timur.
b. Batas Wilayah
Kota Kendari memiliki batas-batas pada sebelah Utara berbatasan dengan kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Moramo, Kabupaten Konawe Selatan dan Laut Banda, sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Konda dan Ranomeeto, Kabupaten Konawe Selatan dan sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Sampara, Kabupaten Konawe Selatan.
c. Luas W ilayah
Kabupaten Kendari secara administratif terdiri dari 10 kecamatan definitif, selanjutnya terbagi atas 64 kelurahan. Luas daratan Kabupaten Kendari seluas 295,89 km² atau 0,70 persen dari luas daratan Provinsi Sulawesi Tenggara. Wilayah Kota Kendari terletak di jazirah Tenggara Pulau Sulawesi. Wilayah daratannya sebagian besar terdapat di daratan Pulau Sulawesi mengelilingi Teluk Kendari dan terdapat satu pulau yaitu Pulau Bungkutoko.
Luas wilayah Kota Kendari yang dibagi menurut jumlah kecamatan yang ada, yaitu dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel III.1
Luas Wilayah Kota Kendari menurut Kecamatan
No. Kecamatan (Districts) Luas Area (Km2) Persentase (Percentage %) 01 02 03 04 1. Mandonga 20,77 7,77 2. Baruga 48,00 17,95 3. Puuwatu 39,72 14,86 4. Kadia 6,71 2,51 5. Wua-wua 11,16 4,17 6. Poasia 37,74 14,12 7. Abeli 43,85 16,40 8. Kambu 24,63 9,21 9. Kendari 15,68 5,86 10. Kendari Barat 19,11 7,15 J u m l a h 267,37 100,00
Sumber : BPS Provinsi Sulawesi Tenggara 2014
2. Kondisi Tanah
a. Topografi
Secara Topografi Wilayah Kota Kendari pada dasarnya bervariasi antara datar dan berbukit, dimana untuk daerah datar hanya terdapat dibagian barat dan selatan Teluk Kendari sedangkan daerah perbukitan terletak disebelah utara Teluk Kendari yang dikenal dengan pegunungan Nipa-Nipa. Ketinggian pegunungan tersebut mencapai kurang lebih 459 m dari garis pantai, sedangkan kearah selatan tingkat kemiringan antara 5% sampai 30% yang wilayah tersebut berada di
Kecamatan Kendari. Selanjutnya pada bagian barat yaitu di Kecamatan Mandonga dan pada bagian Selatan Kota yaitu di Kecamatan Poasia memiliki karakteristik wilayah yang berbukit bergelombang rendah dengan kemiringan kearah Teluk Kendari.
Ditinjau dari segi demografi Kota Kendari memiliki jumlah penduduk sebesar 200,390 jiwa pada tahun 2000 yang tersebar pada masing-masing kecamatan yaitu 57,997 jiwa di Kecamatan Kendari, 45,746 jiwa di Kecamatan Mandonga, 45,775 jiwa di Kecamatan Poasia dan 50,892 jiwa di Kecamatan Baruga.
Tabel 3.2 Proyeksi Jumlah Pertumbuhan Penduduk Kota kendari
Tahun 2000 – 2014
Tahun Jumlah Penduduk
Jiwa Pertumbuhan (%) 2000 181.775 2001 188.252 3,56 2002 195.343 3,77 2003 203.110 3,94 2004 211.619 4,19 2005 220.946 4,41 2006 231.172 4,63 2007 242.391 4,85 2008 254.704 5,08 2009 268.224 5,31 2010 289.996 3,54 2011 295.737 2012 304.862 3,09
2013 314.126 3,039
2014 335.889 3,51
Sumber : Kantor Badan Pusat Statistik Kota Kendari.
b. Iklim
Sebagaimana daerah-daerah lain di Indonesia, Kota Kendari hanya dikenal dua musim yakni musim kemarau dan musim hujan. Keadaan musim sangat dipengaruhi oleh arus angin yang bertiup di atas wilayahnya.
Menurut data yang diperoleh dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Stasiun Meteorologi Maritim Kendari tahun 2014 terjadi 172 hari hujan dengan curah hujan 2.263,6 mm dan 2.102,6 jam penyinaran matahari.
Suhu udara dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Perbedaan ketinggian dari permukaan laut, daerah pegunungan dan daerah pesisir mengakibatkan keadaan suhu yang sedikit beda untuk masingmasing tempat dalam suatu wilayah. Secara keseluruhan, wilayah Kota Kendari merupakan daerah bersuhu tropis.
3. Kependudukan Sosial Kota Kendari
Ditinjau dari segi demografi Kota Kendari memiliki jumlah penduduk sebesar 181,775 jiwa pada tahun 2000 yang tersebar pada masing-masing kecamatan yaitu 57,997 jiwa di Kecamatan Kendari,
45,746 jiwa di Kecamatan Mandonga, 45,775 jiwa di Kecamatan Poasia dan 50,892 jiwa di Kecamatan Baruga.
4. Tinjauan Tata Ruang Kota
Rencana struktur tata ruang pada dasarnya merupakan arahan tata jenjang fungsi-fungsi pelayanan didalam kota yang merupakan rumusan kebijaksanaan tentang pusat-pusat kegiatan fungsional kota berdasarkan jenis, intensitas, kapasitas dan lokasi pelayanannya. Jenjang kegiatan tersebut secara keseluruhan disusun sesuai dengan fungsi kota yang telah dirinci dalam skala pelayanan kota, regional, nasional dan internasional.
Konsep Dasar Pengembangan Kota Kendari yang sudah dirumuskan, secara keseluruhan merupakan arahan bagi penyusunan struktur pelayanan kegiatan kota dan konsep tersebut telah disusun dengan mempertimbangkan aspek-aspek :
a) Potensi lokasi dalam menampung kegiatan-kegiatan fungsional berdasarkan jenis kegiatan dan skalanya.
b) Keterkaitan antar jenjang kegiatan-kegiatan fungsional. c) Sifat fleksibilitas kegiatan fungsional perkotaan bersangkutan.
Adapun pengelompokan kegiatan-kegiatan fungsional tersebut disesuaikan dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang berpengaruh seperti kegiatan fungsional yang ada, aksesibilitas, ketersediaan lahan, sebaran dan jarak antar pusat-pusat kegiatan fungsional skala pelayanan kegiatan, pola pemanfaatan ruang yang ada dan kecenderungan
perkembangannya dan sebaran dari pusat-pusat kegiatan yang direncanakan.
Berdasarkan semua hal tersebut, maka perincian kegiatan-kegiatan fungsional perkotaan pada masing-masing Bagian Wilayah Kota (BWK) selain telah mempunyai fungsi yang dominan juga setiap BWK tersebut telah diupayakan merupakan satu kesatuan fungsional dan mempunyai karakteristik tertentu yang mendukung pembangunan Kota Kendari, baik dibidang ekonomi, sosial, fisik maupun lingkungan.
Pada tabel di bawah dapat dilihat arahan fungsi tiap Bagian Wilayah Kota (BWK) sebagai hasil penjabaran dari konsep dasar pengembangan Kota Kendari yang secara keseluruhan memperhatikan struktur kegiatan utama masing-masing BWK dalam mendukung arah pengembangan dan pembangunan Kota Kendari
Tabel 3. 2: Arahan Fungsi dan Pengembangan Bagian Wilayah Kota Kendari
BWK Cakupan Wilayah Kelurahan Arahan
Pusat BWK Arahan Fungsi
Potensi Penggunaa n Lahan 1 2 3 4 5 I Mencakup Kecamatan
Mandonga dan Kecamatan Baruga yang meliputi Kelurahan: Punggaloba (sebagian), Tobuaha, Mandonga,
Korumba, Anggilowu
(sebagian), Alolama (sebagian),
- Pusat BWK di kompleks kantor Pemerintah an Walikota Kendari - Pemerintahan Kota Kendari - Perdagangan
dan Jasa skala kota - Olahraga - Pariwisata Luas 17,046 km2
Wawombalata (sebagian), Kadia dan Bende. - Sub-Pusat di pasar Wau-Wau - Perumahan (penunjang) II
Mencakup Kecamatan Kendari dan Kecamatan Mandonga yang meliputi kelurahan: Kemaraya, Watu-Watu, Tipulu, Punggaloba, dan Alolama (sebagian)
Kendari Beach - Pariwisata - Perkantoran dan Hotel - Perumhan mewah Luas 12,914k m2 III
Mencakup Kecamatan Kendari yang meliputi Benu-Benua, Sodohoa, Sanua, Dapu-Dapura, Kandai, Kendari Caddi, Kasilampe, Gunung Jati, Mangga Dua, Matta dan Purirano. - Pusat BWK di Pasar Kota Lama Kendari - Sub-Pusat BWK di Purirano - Perdagangan dan Jasa - Pelabuhan Laut dan Peti Kemas - Industri Kimia dan Logam. - Perumahan (penunjang) Luas 24,90 km2 IV
Mencakup Kecamatan Poasia yang meliputi Todonggeu, Sambuli, Nambo, Petoaha, Bungkutoko, Talia, Poasia, Lapulu, Pudai, Matabubu, Abeli, Anggomelai, Tobimeita, Benua Nirai dan Anggoeya.
- Pusat BWK di suatu areal di perpotonga n antara jalan Poros Anduonohu dan Poros Lepo-Lepo Kelurahan Petoana. - Industri Kimia dan Logam (bagian barat, mencakup Kelurahan Sambuli dan Todonggeu) - Industri Perikanan di Kawasan PPS Kendari Luas 90,24km 2
- Sub-Pusat di Todonggeu (Pundai) - Pariwisata di Nambo dan Bungkutoko - Rumah Kebun (pertanian) V
Mencakup Kecamatan Poasia dan Kecamatan Baruga yang
meliputi Kelurahan:
Rahanduona, Anduonohu, Mokoau, Kambu, Lepo-Lepo (sebagian) Pusat BWK di Kantor Propinsi - Pemerintahan propinsi - Pendidikan - Kesehatan - Rumah Kebun - Pertanian (sawah) - Hutan Wisata Luas 49,02km 2 VI
Mencakup Kecamatan Baruga dan Kecamtan Mandonga yang meliputi Kelurahan: Lepo-Lepo (sebagian), Baruga, Bonggoeya, Wua-Wua, Puwatu (sebagian), Watulondo (sebagian) dan Kadia (sebagian). - Pusat BWK di Pasar Baruga sekarang - Sub-Pusat BWK di Terminal Type B Abeli Sawah - Aneka Industri, Industri Kerajinan dan Agro Indusri - Industri Gembol - Perdagangan Grosir - Transportasi Regional - Rumah Kebun (Pertanian) dan Agribisnis Luas 49,867k m2
VII
Mencakup Kecamatan
Mandonga yang meliputi Kelurahan: Puwatu (sebagian), Watulondo (sebagian), Punggolaka (sebagian), Labibia dan Wawombalata. - Pusat BWK di Puwatu - Sub-Pusat BWK disediakan pada suatu areal di persimpang an jalan ke Batu Gong dan Matabondu di Kelurahan Labibia. - Aneka Industri, Industri Kerajinan dan Agro Industri - Rumah Kebun dan Agribisnis - Tempat Peristirahatan Luas 51,9025k m2
B. Tinjauan Khusus Kota Kendari 1. Tinjauan Lokasi
Penentuan lokasi mempunyai tujuan agar mendapatkan lokasi yang strategis dan mempunyai potensi untuk dikembangkan serta dapat memenuhi kebutuhan. Untuk mendapatkan lokasi yang strategis untuk bangunan Gedung Bioskop mini di Kota Kendari maka perlu dipertimbangkan :
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan lokasi dengan menentukan kriteria-kriteria yang diperlukan antara lain :
a. Sesuai dengan Rencana Induk Kota (RIK)
b. Pencapaian, terjangkau oleh sarana dan prasarana kota c. Tersedia sistem fasilitas utilitas kota
d. Dekat dengan aktivitas kota yang mendukung keberadaan gedung bioskop mini tetapi tidak mengganggu daerah pemukiman penduduk.
e. Luas areal cukup, mencakup luas areal yang diperlukan. f. Sesuai arah perkembangan kota dan penyebaran penduduk.
Berdasarkan kriteria di tersebut atas, kriteria yang paling dominan dan memiliki nilai tertinggi adalah sesuai dengan RIK, seperti yang tergambar dalam peta rencana pemanfaatan lahan dan kawasan Kecamatan Kendari Barat Kelurahan Benu Benua. Lokasi gedung bioskop mini berada Kota Lama dimana nantinya keberadaan gedung bioskop mini dapat menjadi orientasi utama dalam memberikan pelayanan dan mempermudah akses bagi pengunjung yang datang di Kota Kendari baik pengunjung yang datang karena tujuan hiburan maupun tujuan wisata.
Dalam pemilihan lokasi dapat dipilih satu tempat yang sangat strategis di daerah Kota Kendari untuk dibangun gedung bioskop mini yang dapat dikembangkan berdasarkan fungsi dan kegunaannya, dimana lokasi terletak di daerah Kota Kendari jalan Pembangunan Kecamatan Kendari Barat Kelurahan Benu Benua. Lokasi tersebut letaknya sangat strategis selain mudah dijangkau juga memiliki daya tarik dan nilai komersial yang dapat memberikan keuntungan bagi gedung bioskop mini itu sendiri. Lokasi berada pada BWK 1 yang memiliki fugsi utama sebagai perdagangan dan jasa, pelabuhan, industry, perumahan (penunjang).
Gambar 3.2. Peta BWK Kota Kendari
(Sumber : Dinas Tata Kota Dan Perumahan,Kota Kendari)
2. Pemilihan Site
Untuk memperoleh site yang tepat bagi perencanaan gedung bioskop mini di kota Kendari berdasarkan pada :
a. Dasar Pertimbangan
1) Luasan lahan yang cukup 2) Kondisi daya dukung tanah 3) Status tanah
4) Rencana umum tata ruang kota Kendari 5) Letak site yang strategis
6) Kondisi fisik site
b. Kriteria Penentu
1) Tersedianya lahan yang cukup dan mampu menampung kegiatan dalam ruang gedung bioskop mini.
2) Berada pada zona peruntukan lahan yang sesuai dengan RUTRK Kota Kendari yaitu gedung bioskop mini.
3) Site dekat sarana hiburan lainnya dan sarana pendukung lainnya.
4) Relatif mudah dicapai dari fasilitas yang mendukung fungsi dan kegiatan pariwisata, pedagang dan jasa.
5) Faktor lingkungan tapak yang mendukung penampilan bangunan.
6) Kondisi lingkungan dengan tingkat kenyamanan yang memadai.
Lokasi yang terpilih
Lippo Plaza
Gambar 3.3. Lokasi Perencanaan Gedung Bioskop Mini
sumber www.google.earth.co.id
3. Pengolahan Site
Tujuan dari pengolahan site ini adalah untuk mendapatkan
zoning kegiaan makro pada site yang terpilih sesuai kondisi dan
potensi site serta lingkungannya.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengolahan site yaitu dengan dasar pertimbangan antra lain:
a. Penempatan Main Entrance
Main Entrance adalah jalan masuk bagi pengunjung ke dalam site. Main Entrance dipusatkan pada jalan yang mudah dijangkau, sedangkan untuk jalan keluar pada jalan yang tingkat pemakainya rendah.
Pemisahan antara jalan masuk dan jalan keluar kendaraan didasarkan atas beberapa pertimbangan seperti:
1) Jalur yang dilalui transportasi umum merupakan arah masuk pengunjung yang terpadat.
2) Dengan pemisahan jalur masuk dan keluarnya kendaraan pada jalur yang berbeda, hal ini akan memperlancar sirkulasi kendaraan baik yang akan masuk ke tapak maupun yang akan keluar tapak.
b. Penempatan Side Entrance
Side Entrance adalah jalan alternatif untuk masuk ke site dan difungsikan sebagai jalan dari dalam dan keluar site. Side
Entrance ini diprioritaskan pada jalan yang aksesnya sedang.
c. Penempatan Service Entrance
Service Entrance adalah jalan alternatif yang difungsikan untuk jalur kegiatan Service seperti pelayanan bangunan, kegiatan persiapan, sirkulasi pemadam kebakaran, dan sebagainya.
4. Sistem Sirkulasi dalam Bangunan
Sistem sirkulasi dibagi dalam 2 bagian utama, yaitu: a. Sirkulasi Pada Site
Sirkulusi pada side dapat dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu:
1) Sirkulasi kendaraan
a) Sirkulasi kendaraan pengujung 2) Sirkulasi kendaraan pengelola/pengurus
b) Sirkulasi kendaraan barang 3) Sirkulasi pejalan kaki
Sirkulasi untuk pejalan kaki harus dibuat seefektif mungkin, sehingga pengunjung lebih aman, terarah dan jelas serta diuasahakan agar menghindari terjadinya persilangan sirkulasi
(crossing circulation) dengan sirkulasi kendaraan.
b. Sirkulasi Dalam Bangunan
Sirkulasi dalam bangunan dapat dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu:
1) Sirkulasi Vertikal
Sirkulasi ini dapat berupa tangga beton dan lif yang menghubungkan lantai dasar dan lantai atas, tangga ini dapat berupa tangga umum.
2) Sirkulasi Horisontal
Sirkulasi Horisontal menggunakan selasar yang dibuat agak lebar yang sesuai dengan sifat dan kegiatannya. Ukurannya sekitar 240 cm – 260 cm, yang memungkinkan untuk dilalui orang.
5. Pola Tata Lingkungan
Pada dasarnya unsur-unsur zoning dan tata lingkungan akan dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut:
a. Pencapaian yang efektif b. Tingkat kebisingan (noise) c. Tingkat privasi
d. Tingkat Environment
Begitu pula pengelolaan/penghubungan tata masa ditentukan juga oleh beberapa faktor antara lain arah mata angin, lintasan matahari, dan kondisi environment.
6. Pola Tata Ruang Luar
Penentuan ruang luar dimaksudkan sebagai berikut: a. Unsur pandukung keharmonisan bangunan b. Pembatasan lokasi bangunan
c. Pelindung dan peneduh terhadap isolasi suara dan polusi udara d. Penyejuk penunjang view dari luar tapak
e. Sebagai ruang penerima
Perencanaan ruang luar harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Dapat mencerminkan keterbukaan atau menggunakan elemen-elemen ruang luar yang menunjukan kesederhanaan dan tidak memberikan perasaan tertekan bagi pemakai bangunan.
b. Pengolahan taman dan elemen ruang luar dapat memberikan orientsi dan arah kebangunan.
Unsur-unsur ruang luar tersebut, yaitu: 1) Area parkir
2) Taman
Prinsip penataan ruang luar ditentukan oleh fungsi-fungsi yang digunakan, sebagai berikut :
1. Tempat parkir berfungsi untuk menyimpan kendaraan untuk menghindari crossing dengan pengendara lain.
2. Taman berfungsi memberikan keindahan pada suatu bangunan agar terlihat lebih indah sehingga tidak merasa jenuh.
7. Penampilan Bangunan
Penampilan luar bangunan pada bangunan Gedung bioskop mini di pengaruhi oleh :
a. Bentuk Bangunan
1) Kesesuaian dengan sarana sebagai tempat hiburan yang mencerminkan kesan terbuka dan menerima pencetusan dalam penataan bangunan.
2) Mencerminkan ciri bangunan Gedung bioskop mini sebagai bangunan yang memberikan pelayanan kepada pengunjung.
b. Material/Elemen Tekstur
Material/elemen tekstur pada bangunan Gedung bioskop mini merupakan penunjang penampilan luar bangunan, material itu antara lain :
1) Tekstur alam seperti batu kali, batu pecahan, dan kerikil yang ditata sedemikian rupa sehingga mampu memberikan kesan yang nyaman.
2) Tekstur buatan seperti kaca, marmer, dan sebagainya.
8. Penataan Ruang Luar
Penataan ruang luar pada bangunan Gedung bioskop mini yaitu memberikan atau menciptakan suasana lingkungan yang memberikan kesan menerima, formal, teratur, sejuk, dan nyaman untuk mendapatkan tata ruang luar yang sesuai dengan karakter bangunan yang dicapai maka hal yang perlu diperhatikan yaitu : a. Sesuai dengan pola dan kondisi site yang ada.
b. Mengikuti peraturan bangunan setempat.
Adapun elemen landscape dapat diuraikan berdasarkan karakter atau kesan kekerasannya, elemen landscape dibagi atas : 1) Elemen Lunak (Soft Material)
Identik dengan makhluk hidup seperti tanaman dengan berbagai ragamnya, satwa baik yang telah ada maupun yang akan diadakan serta manusia sebagai yang berkepentingan dan yang menikmati
tata landscape. Elemen lunak ini menimbulkan kesan lembut, bersahabat dan alami.
2) Elemen Keras (Hard Material)
Kelompok ini mencakup semua elemen taman yang sifatnya atau karakternya keras dan tidak hidup seperti Tanah, sebagai tempat berpijak taman yang ada diatasnya
3) Batuan, dapat diperlihatkan mengenai bentuk, ukuran, warna,tekstur dan kesan keseluruhan
4) Perkerasan/paving yaitu penutupan lantai permukaan baik dengan kayu, batu, maupun semen.
5) Jalan setapak
6) Pagar dari berbagai bahan dan material
7) Semua furnitur taman seperti lampu taman, bangku taman, shelter, gazebo, pergola, seluptur, kolam air mancur, jembatan, retaining
wall dan sebagainya.
Elemen keras ini memunculkan karakter yang kaku, keras, mungkin tidak bersahabat, gersang dan sebagainya. Adapun unsur
landscape yang digunakan, yaitu :
a. Soft Material 1) Jenis Pohon
a) Kiara payung, sebagai tanaman peneduh,penahan angin dan filtrasi matahari, dengan tinggi 12-15 m dan tajuk 8-10 m.
b) Anggsana, berfungsi sebagai tanaman peneduh dan penyaring debu.
c) Cemara lilin, berfungsi sebagai filter polusi, pengarah jalan dan estetika.
d) Palm raja, berfungsi sebagai tanaman pengarah untuk sirkulasi baik kendaraan maupun pejalan kaki.
e) Beringin, berfungsi mereduksi kebisingan dan penyaring debu.
f) Tanaman penutup, berfungsi mencegah pengikisan tanah dan penyerap panas kawasan seperti rumput manila dan jepang.
b. Hard Material
1) Pafing blok, di gunakan pada jalur pedestrian.
2) Rabat beton, penerapannya pada sekeliling bangunan. 3) Aspal, di gunakan pada jalur kendaraan.
BAB IV
KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
A. Filosofi Dasar Perencanaan dan Perancangan
Pendekatan yang dimaksudkan sebagai langkah menuju penentuan konsep perencanaan fisik gedung bioskop mini merupakan wadah rekreasi yang sifatnya menarik, rekreatif dan memiliki kekhasan tersendiri serta merencanakan sarana dan fasilitas yang ada dalam gedung sehingga animo masyarakat untuk berkunjung ke gedung bioskop mini sangat meningkat. Pendekatan konsep makro sebagai langkah penyelesaian dalam lingkungan kaitan wadahnya terhadap aktivitas yang ditampung.
B. Konsep Pendekatan Makro 1. Konsep Penentuan Lokasi
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan lokasi dengan menentukan kriteria-kriteria yang diperlukan antara lain :
a. Sesuai dengan Rencana Induk Kota (RIK)
b. Pencapaian, terjangkau oleh sarana dan prasarana kota Kendari c. Tersedia sistem fasilitas utilitas kota Kendari
d. Dekat dengan aktivitas kota yang mendukung keberadaan gedung bioskop mini tetapi tidak mengganggu daerah pemukiman penduduk. e. Luas areal cukup, mencakup luas areal yang diperlukan.
Berdasarkan kriteria di tersebut atas, kriteria yang paling dominan dan memiliki nilai tertinggi adalah sesuai dengan RIK, seperti yang tergambar dalam peta rencana pemanfaatan lahan dan kawasan Kelurahan Wowawanggu Kecamatan Kadia. Lokasi gedung bioskop mini berada di kota Kendari yang dimana nantinya keberadaan gedung bioskop mini ini dapat menjadi orientasi utama dalam memberikan pelayanan dan mempermudah akses bagi pengunjung yang datang.
Dalam pemilihan lokasi dapat dipilih satu tempat yang sangat strategis di Kota Kendari untuk dibangun gedung bioskop mini yang dapat dikembangkan berdasarkan fungsi dan kegunaannya, dimana lokasi terletak di Kota Kendari jalan M. T. Haryono Kelurahan wowawanggu Kecamatan Kadia. Lokasi tersebut letaknya sangat strategis selain mudah dijangkau juga memiliki daya tarik dan nilai komersial yang dapat memberikan keuntungan bagi gedung bioskop mini itu sendiri. Lokasi berada di dalam pusat kota yang merupakan komponen utama dalam perancangan gedung bioskop mini serta dalam pengembangannya berdasarkan rencana tata guna bangunan Pemerintah Kota Kendari.
2. Pemilihan Site
Untuk memperoleh site yang tepat bagi perencanaan gedung bioskop mini di kota Kendari berdasarkan pada :
a. Dasar Pertimbangan
1) Luasan lahan yang cukup 2) Kondisi daya dukung tanah
3) Status tanah
4) Rencana umum tata ruang kota Kendari 5) Letak site yang strategis
6) Kondisi fisik site
7) Fasilitas dan jaringan utilitas b. Kriteria Penentu
1) Tersedianya lahan yang cukup dan mampu menampung kegiatan dalam ruang gedung bioskop mini.
2) Berada pada zona peruntukan lahan yang sesuai dengan RUTRK Kota Kendari yaitu gedung bioskop mini.
3) Site dekat sarana hiburan lainnya dan sarana pendukung lainnya. 4) Relatif mudah dicapai dari fasilitas yang mendukung fungsi dan
kegiatan pariwisata, pedagang dan jasa.
5) Faktor lingkungan tapak yang mendukung penampilan bangunan. 6) Kondisi lingkungan dengan tingkat kenyamanan yang memadai. 7) Tersedia fasilitas atau jaringan utilitas kota Kendari
Gambar 4.1. Site Lokasi
Sumber : Sketsa Pribadi
3. Kriteria Tapak
Tapak terpilih yaitu :
a. Sebelah Utara berhadapan dengan kantor simpatik dan ruko b. Sebelah Selatan berbatasan dengan perumahan penduduk. c. Sebelah Timur berbatasan dengan ruko dan Lippo Plaza. d. Sebelah Barat berbatasan dengan PT. GPP dan ruko.
4. Faktor-faktor Penunjang Tapak
Adapun faktor-faktor penunjang tapak harus sesuai dengan ketentuan, kondisi dan unsur-unsur yang berdasarkan pertimbangan-pertimbangan. Adapun faktor-faktor yang dimaksud adalah :
a. Orientasi Matahari
Mengingat tapak menghadap ke arah Selatan maka membutuhkan banyak bukaan pada bangunan.
Gambar 4.2. Orientasi Iklim
Sumber : Sketsa Pribadi
b. View
Lokasi site yang terpilih menunjang view yang baik terhadap penampilan bangunan yang direncanakan. Hal ini disebabkan posisi bangunan pada tapak menghadap ke arah jalan utama.
Gambar 4.3. View Tapak
Sumber : Sketsa Pribadi
U
View dari jalan M. T. Haryono dan Kantor Simpatik View dari arah samping
kiri yaitu Ruko PT. GPP
View dari arah samping kanan yaitu Ruko View dari pemukiman
penduduk
c. Kebisingan atau Noise
Zona bising pada tapak perencanaan berhubungan langsung dengan jalan raya yang merupakan sumber utama kebisingan. Zona ini digunakan sebagai area parkir dengan penempatan massa bangunan yang berada agak tengah pada tapak demi mengantisipasi kebisingan yang berlebihan. Untuk reduksi kebisingan yang berasal dari jalur lalu lintas kendaraan pada sisi barat maka digunakan barrier berupa pagar dan pohon. Penempatan massa bangunan tidak terlalu dekat dengan jalan dan meminimalisasi bukaan pada bangunan yang menghadap ke jalan juga bisa mengatasi kebisingan yang lebih terutama pada fasilitas gedung.
Gambar 4.4. Noise Tapak
Sumber :Sketsa Pribadi
5. Konsep Sistem Sirkulasi
Adapun faktor yang mempengaruhi dalam penataan sistem sirkulasi pada site adalah :
a. Penampilan bangunan di sekitar site
b. Kemudahan dan kenyamanan pencapaian site khususnya pejalan kaki c. Aktivitas pelaku kegiatan
d. Perletakan jalur masuk, parkir dan jalan keluar e. Pengaturan jalur yang menghindari crossing
Skema 4.1. Sirkulasi Ruang 6. Konsep Tata Lingkungan dan Analisa Tapak
Berdasarkan pada studi literatur maka untuk mendapatkan penataan gedung bioskop mini, yang sesuai dengan tata lingkungan dan analisa tapak harus memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut :
a. Mudah dilihat dari segala arah sebagai bangunan komersial
SERVICE ENTRANCE
PARKIR
KHUSUS
GEDUNG BIOSKOP MINI
SIDE ENTRANSE
PARKIR UMUM
MAIN
ENTRANCE
(KENDARAAN)
(PEJALAN KAKI)
b. Tidak berdekatan dengan sarana-sarana pendidikan, peribadatan, perkantoran dan kesehatan, untuk menghindari kebisingan yang ditimbulkan oleh aktivitas hiburan.
c. Adanya space penerima ke arah bangunan d. Berada pada lingkungan perdagangan dan jasa
7. Konsep Penampilan Bangunan
a. Bentuk Dasar
Pemilihan bentuk dasar atas pertimbangan : 1) Aktivitas / kegiatan
2) Pemanfaatan ruang yang seefektif mungkin 3) Sirkulasi/pencapaian yang efektif dan efisien
Adapun pola dasar bentuk ruang, sebagai berikut : 1) Bentuk ruang terkesan lembut 2) Penggunaan bentuk tidak fleksibel 3) Terdapat ruang yang terbuang
Bentuk ruang terkesan kuat dan stabil 1) Efektivitas ruang yang sangat optimal 2) Fleksibilitas pengembangan bentuk 3) Sesuai dengan arah pergerakan
Bentuk ruang terkesan dinamis dan ekspresif
1) Menerima pengaruh psikologis yang kuat
2) Banyak ruang yang terbuang b. Penampilan Bangunan
Penampilan bangunan harus dapat mencerminkan fungsi sebagai bangunan komersial dengan ciri tertentu.
1) Karakter bangunan sebagai bangunan pelayanan umum yang berkesan mengundang.
2) Kejelasan orientasi pencapaian 3) Keserasian dengan lingkungan tapak
4) Adanya unsur estetika : kesinambungan, skala dan proporsi
C. Konsep Pendekatan Mikro 1. Kebutuhan Ruang
Kebutuhan ruang berdasarkan sifat kegiatan dari masing-masing pelaku kegiatan, yaitu :
a. Zona Privat
Adalah Kebutuhan ruang yang mempunyai aktivitas yang sifatnya privat atau pribadi tidak semua pengunjung dapat menikmati ruang-ruang dalam Kebutuhan tersebut. Termasuk dalam Kebutuhan ini yaitu ruang direktur, staff karyawan, pos keamanan, ruang rapat, ruang genzet, ruang operator, ruang utilitas, cleaning service, AHU, dan ruang service.
b. Zona Semi Publik
Adalah Kebutuhan ruang untuk mempunyai aktivitas yang sifatnya sudah agak umum, pengunjung yang mempunyai kepentingan dalam ruang-ruang ini dapat memanfaatkannya. Termasuk dalam Kebutuhan ini yaitu ruang pengelola, mushallah, ruang tamu, dan ruang pertemuan. c. Zona Publik
Adalah Kebutuhan ruang yang aktivitasnya bersifat umum dan dapat dilakukan oleh semua pengunjung gedung bioskop mini. Termasuk dalam Kebutuhan ini adalah ruang kafetaria, bioskop, toilet, dan lobby.
Dasar pertimbangan untuk menentukan Kebutuhan ruang adalah : 1) Memisahkan kelompok-kelompok kegiatan
2) Batasan faktor-faktor peralatan yang dibutuhkan
2. Pengelompokan Ruang
Sesuai dengan aktivitas yang terjadi pada kelompok-kelompok kegiatan di atas, maka pengelompokan ruang yang ada pada gedung bioskop mini adalah sebagai berikut :
a) Kegiatan Pengunjung : 1) R. Main Entrance
Privat
Semi Publik