PEDOMAN PENGOBATAN DASAR DI PUSKESMAS
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pengobatan merupakan suatu proses ilmiah yang dilakukan oleh dokter berdasarkan temuan-temuan yang diperoleh selama anamnesis dan pemeriksaan. Dalam proses pengobatan terkandung keputusan ilmiah yang dilandasi oleh pengetahuan dan keterampilan untuk melakukan intervensi pengobatan yang memberi manfaat maksimal dan risiko sekecil mungkin bagi pasien. Hal tersebut dapat dicapai dengan melakukan pengobatan yang rasional.
Salah satu perangkat untuk tercapainya penggunaan obat rasional adalah tersedia suatu pedoman atau standar pengobatan yang dipergunakan secara seragam pada pelayanan kesehatan dasar atau puskesmas, yaitu Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas.
Penerapan Pedoman ini diharapkan dapat meningkatkan kerasionalan penggunaan obat, dan dengan demikian akan menunjang upaya pencapaian Millenium Development Goals (MDGs) 2015 dalam hal penurunan Angka Kematian Bayi (AKB), penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) serta Pemberantasan HIV/AIDS dan Penyakit Menular.
Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas sebagaimana ditetapkan dengan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 296/Menkes/SK/III/2008 perlu direvisi dan disempurnakan secara berkala, tidak hanya menyesuaikan dengan kemajuan yang pesat dalam ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran maupun farmasi, tetapi juga didasarkan pada pola penyakit yang ada di puskesmas. Pada revisi kali ini terdapat perubahan dan penambahan sejumlah diagnosis yang dianggap penting serta ditiap diagnosis dilengkapi dengan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) yang bermanfaat baik untuk pasien maupun keluarganya.
Beberapa kriteria dalam pemilihan diagnosis penyakit yang perlu disusun dalam kaitan mengukur mutu, yaitu:
a. Penyakit tersebut mempunyai dampak fungsional yang besar.
b. Merupakan penyakit yang jelas batas-batasnya dan relatif mudah mendiagnosisnya. c. Prevalensinya relatif cukup tinggi.
d. Perjalanan penyakitnya dapat secara nyata dipengaruhi oleh tindakan medis yang ada. e. Pengelolaannya dapat ditetapkan secara jelas.
f. Faktor non-medis yang mempengaruhinya sudah diketahui.
g. Penyusunan diagnosis disesuaikan dengan kompetensi dokter dan sistem pelaporan yang ada.
Tujuan dan Manfaat Pedoman Pengobatan Tujuan Pedoman Pengobatan.
Tujuan Pedoman Pengobatan dikelompokkan dalam beberapa hal: Mutu Pelayanan Pengobatan.
Oleh karena Pedoman Pengobatan hanya memuat obat yang terpilih untuk masing-masing penyakit / diagnosis.
Standar Profesi.
Senantiasa menjadi standar profesi setinggi-tingginya karena disusun dan diputuskan atas kesepakatan para ahli.
Perlindungan Hukum.
Merupakan landasan hukum dalam menjalankan profesi karena disusun dan disepakati para ahli dan organisasi profesi kesehatan dan diterbitkan oleh pemerintah.
Kebijakan dan Manajemen Obat.
Perencanaan obat yang digunakan akan lebih tepat, secara langsung dapat mengoptimalkan pembiayaan pengobatan.
Manfaat Pedoman Pengobatan.
Beberapa manfaat dengan adanya pedoman pengobatan: a. Untuk pasien.
Pasien hanya memperoleh obat yang benar dibutuhkan. b. Untuk Pelaksana Pengobatan.
Tingkat profesionalisme tinggi karena sesuai dengan standar. c. Untuk Pemegang Kebijakan Kesehatan dan Pengelolaan Obat.
Pengendalian biaya obat dan suplai obat dapat dilaksanakan dengan baik.
C. Ruang Lingkup
Pedoman pengobatan dasar di Puskesmas meliputi pedoman penatalaksanaan terhadap jenis-jenis penyakit yang ada di Puskesmas. Dalam penatalaksanaan tersebut mengacu pada Standar Kompetensi Dokter.
Standar Kompetensi Dokter telah diterbitkan oleh Konsil Kedokteran Indonesia tahun 2006 dalam rangka memenuhi amanah Undang-Undang No.29 tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran.
Dengan dijadikannya Standar Kompetensi Dokter ini sebagai acuan dalam menyusun pedoman pengobatan dasar di Puskesmas, diharapkan seorang profesi dokter akan mampu :
a. Mengerjakan tugas / pekerjaan profesinya. b. Mengorganisasikan tugasnya secara baik.
c. Tanggap dan tahu yang dilakukan bila terjadi sesuatu yang berbeda.
d.Menggunakan kemampuan yang dimiliki untuk memecahkan masalah di bidang profesinya. e. Melaksanakan tugas dengan kondisi berbeda.
Dalam Standar Kompetensi Dokter ada beberapa komponen kompetensi, akan tetapi hanya kompetensi inti pada area pengelolaan masalah kesehatan terutama pada daftar penyakit yang dipilih menurut perkiraan data kesakitan dan kematian yang terbanyak di Indonesia pada tingkat pelayanan kesehatan dasar.
Pengertian dan Tingkat Kemampuan pengelolaan penyakit: Tingkat Kemampuan 1
Dapat mengenali dan menempatkan gambaran-gambaran klinik sesuai penyakit ini ketika membaca literatur. Dalam korespondensi, ia dapat mengenal gambaran klinik ini, dan tahu bagaimana mendapatkan informasi lebih lanjut. Level ini mengindikasikan overview level. Bila menghadapi pasien dengan gambaran klinik ini dan menduga penyakitnya, Dokter segera merujuk.
Tingkat Kemampuan 2
Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan-pemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya: pemeriksaan-pemeriksaan laboratorium sederhana atau X-ray). Dokter mampu merujuk pasien secepatnya ke spesialis yang relevan dan mampu menindaklanjuti sesudahnya.
Tingkat Kemampuan 3
3a. Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan-pemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya: pemeriksaan-pemeriksaan laboratorium sederhana atau X-ray). Dokter dapat memutuskan dan memberi terapi pendahuluan, serta merujuk ke spesialis yang relevan (bukan kasus gawat darurat).
3b. Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan-pemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya: pemeriksaan-pemeriksaan laboratorium sederhana atau X-ray). Dokter dapat memutuskan dan memberi terapi pendahuluan, serta merujuk ke spesialis yang relevan (kasus gawat darurat).
Tingkat Kemampuan 4
Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan-pemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya : pemeriksaan-pemeriksaan laboratorium sederhana atau X-ray). Dokter dapat memutuskan dan mampu menangani problem itu secara mandiri hingga tuntas.
Pada tiap diagnosis penyakit dalam pedoman ini dilengkapi dengan tingkat kemampuan kompetensi dokter dan kode penyakit (ICD X) serta nomor kode penyakit pada sistem pelaporan.
Untuk tingkat kemampuan pengelolaan penyakit (Kompetensi) 1, 2, 3a dan 3b, setelah pasien dirujuk ke dokter spesialis yang relevan di Rumah Sakit, maka dokter spesialis tersebut harus membuat rujukan balik ke Puskesmas tempat asal pasien berobat disertai dengan informasi tentang tindakan maupun pengobatan yang telah dilakukan terhadap pasien tersebut.
Rujukan balik bisa berupa pasien melanjutkan pengobatan di Puskesmas, atau masih diperlukan rujukan lebih lanjut bagi pasien yang memerlukan pemeriksaan spesialistik.
Dalam penatalaksanaan pengobatan pasien oleh tenaga medis, harus berpedoman pada 6 langkah pengobatan rasional sebagai berikut (WHO, 1994):
1. Definisikan masalah penyakit pasien 2. Tentukan tujuan pengobatan
3. Tentukan pilihan pengobatan (non farmakologi dan farmakologi) 4. Penulisan resep yang baik dan benar
5. Memberikan informasi dan edukasi yang memadai 6. Monitoring dan evaluasi pengobatan
BAB II
PENATALAKSANAAN PENGOBATAN 1. KEJANG DEMAM
Kompetensi : 4 dan 3A
Laporan Penyakit : ICD X : R56.0 a. Definisi
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal >38oC) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium.
Kejang demam terjadi pada 2-4% anak berumur 6 bulan – 5 tahun.
Anak yang pernah pengalami kejang tanpa demam, kemudian kejang demam kembali tidak termasuk dalam kejang demam.
b. Penyebab
Faktor risiko berulangnya kejang demam: 1) Riwayat kejang demam dalam keluarga 2) Usia <12 bulan
3) Temperatur yang rendah saat kejang 4) Cepatnya kejang setelah demam
Bila seluruh faktor diatas ada, kemungkinan berulangnya kejang demam adalah 80%, sedangkan bila terdapat faktor tersebut kemungkinan berulangnya kejang demam hanya 10%-15%. Kemungkinan berulangnya kejang demam paling besar pada tahun pertama.
c. Gambaran Klinis Klasifikasi:
1) Kejang demam sederhana (Simple febrile seizure)
Kejang demam yang berlangsung singkat, kurang dari 10 menit, dan umumnya akan berhenti sendiri. Kejang berbentuk umum tonik dan atau klonik, tanpa gerakan fokal. Kejang tidak berulang dalam waktu 24 jam. Kejang demam sederhana merupakan 80% diantara seluruh kejang demam.
2) Kejang demam kompleks (Complex febrile seizure) Kejang demam dengan salah satu ciri berikut ini:
a) Kejang lama, adalah kejang yang berlangsung >15 menit atau kejang berulang lebih dari 2 kali dan diantara bangkitan kejang, anak tidak sadar. Kejang lama terjadi pada 8% kejang demam.
b) Kejang fokal, adalah kejang parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang parsial. c) Kejang berulang, adalah kejang 2 kali atau lebih dalam 24 jam, diantara 2 bangkitan
kejang anak sadar. Kejang berulang terjadi pada 16% diantara anak yang mengalami kejang demam.
d. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Pada kasus kejang untuk anak <18 bulan dianjurkan untuk dilakukan pungsi lumbal, dan anak <12 bulan harus dilakukan pungsi lumbal.
e. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium dapat dikerjakan untuk mengevaluasi sumber infeksi penyebab demam, atau keadaan lain misalnya gastroenteritis dehidrasi disertai demam. Pemeriksaan laboratorium yang dapat dikerjakan misalnya darah perifer, elektrolit dan gula darah.
f. Diagnosis banding
Bila anak berumur kurang dari 18 bulan atau lebih dari 5 tahun mengalami kejang didahului demam, pikirkan kemungkinan lain misalnya infeksi SSP, atau epilepsi yang kebetulan terjadi bersama demam, perlu dirujuk untuk pemeriksaan lebih lanjut.
g. Penatalaksanaan
1) Biasanya kejang demam berlangsung singkat dan pada waktu pasien datang kejang sudah berhenti. Apabila datang dalam keadaan kejang obat yang paling cepat untuk menghentikan kejang adalah diazepam i.v. dengan dosis 0,3-0,5 mg/kg perlahan-lahan dengan kecepatan 1-2 mg/menit atau dalam waktu 3-5 menit, dengan dosis maksimal 20 mg.
2) Obat yang praktis dan dapat diberikan di rumah adalah diazepam per rektal dosis 0,5-0,75 mg/kg; atau diazepam per rektal 5 mg (untuk anak berat <10 kg atau umur < 3 tahun) dan 10 mg (untuk anak berat >10 kg atau umur >3 tahun).
Bila kejang belum berhenti, diazepam per rektal dosis yang sama dapat diulang dengan interval waktu 5 menit.
Bila setelah 2x pemberian diazepam per rektal masih tetap kejang, pasien harus dirujuk ke RS. 3) Bila kejang telah berhenti, pemberian obat selanjutnya tergantung dari jenis kejang demam
apakah kejang demam sederhana atau kompleks dan faktor risikonya. 4) Pemberian obat saat demam:
a) Antipiretik (parasetamol, ibuprofen)
Dosis parasetamol yang digunakan adalah 10-15 mg/kg/kali, dapat diberikan 4x sehari, tidak lebih dari 5x. Dosis ibuprofen 5-10 mg/kg/kali, tiap 6-8 jam.
b) Antikonvulsan
Diazepam oral dosis 0,3 mg/kg tiap 8 jam pada saat demam menurunkan risiko berulangnya kejang pada 30%-60% kasus, begitu pula dengan diazepam rektal dosis 0,5 mg/kg tiap 8 jam pada suhu >38,5oC. Dosis tersebut cukup tinggi dan menyebabkan ataksia, iritabel dan sedasi yang cukup berat pada 25-39% kasus.
Fenobarbital dan karbamazepin pada saat demam tidak berguna untuk mencegah kejang demam.
5) Pemberian obat rumat:
a) Pemberian obat rumat hanya diberikan bila kejang demam menunjukkan ciri sebagai berikut (salah satu):
(1) Kejang lama > 15 menit
(2) Adanya kelainan neurologis yang nyata sebelum atau sesudah kejang, misalnya hemiparesis, paresis Todd, cerebral palsy, retardasi mental, hidrosefalus
(3) Kejang fokal
b) Pengobatan rumat dipertimbangkan bila: (1) Kejang berulang >2x dalam 24 jam
(1) Kejang demam terjadi pada bayi < 12 bulan (2) Kejang demam > 4x per tahun
c) Pengobatan rumat hanya diberikan terhadap kasus selektif dan dalam jangka pendek. Pengobatan diberikan selama 1 tahun bebas kejang, kemudian dihentikan secara bertahap selama 1-2 bulan. Obat pilihan: asam valproat dosis 15-40 mg/kg/hari tiap 8-12 jam, atau fenobarbital 3-4 mg/kg/hari dalam tiap 12-24 jam.
h. KIE
1) Tujuan pengobatan: mengurangi/mencegah serangan. 2) Edukasi pada orang tua untuk mengurangi kecemasan:
a) Meyakinkan bahwa kejang demam umumnya mempunyai prognosis baik b) Memberitahukan cara penanganan kejang
c) Memberikan informasi mengenai kemungkinan kejang kembali
d) Pemberian obat untuk mencegah rekurensi memang efektif tapi perlu diingat adanya efek samping obat.
3) Beberapa hal yang harus dikerjakan bila kembali kejang: a) Tetap tenang dan tidak panik.
b) Kendorkan pakaian yang ketat terutama di sekitar leher.
c) Bila tidak sadar, posisikan anak terlentang dengan kepala miring. Bersihkan muntahan atau lender di mulut atau hidung. Walaupun kemungkinan lidah tergigit, jangan memasukkan sesuatu ke dalam mulut.
d) Ukur suhu, observasi dan catat lama dan bentuk kejang. e) Tetap bersama pasien selama kejang.
f) Berikan diazepam per rektal. Jangan berikan bila kejang telah berhenti. 4) Bawa ke Puskesmas atau rumah sakit bila kejang berlangsung 5 menit atau lebih.
5) Vaksinasi: sejauh ini tidak ada kontraindikasi untuk melakukan vaksinasi terhadap anak yang mengalami kejang demam. Kejang setelah demam karena vaksinasi sangat jarang. Dianjurkan untuk memberi diazepam oral atau rektal bila anak demam, terutama setelah vaksinasi DPT atau MMR. Beberapa dokter anak merekomendasikan parasetamol pada saat vaksinasi hingga 3 hari kemudian.
Efek samping obat: diazepam dosis tinggi dapat menyebabkan ataksia, iritabel dan sedasi yang cukup berat pada 25-39% kasus.
6) Alasan rujuk: lihat penatalaksanaan.
2. TETANUS
Kompetensi : 3B
Laporan Penyakit : 0305 ICD X : A-35 a. Definisi
Penyakit sistem saraf yang disebabkan oleh Clostridium tetani, berlangsung akut dengan karakteristik spasme tonik persisten dan eksaserbasi singkat.
b. Penyebab
Bakteri anaerob Clostridium tetani. Spora dari Clostridium tetani dapat hidup selama bertahun-tahun di dalam tanah dan kotoran hewan. Jika bakteri tetanus masuk ke dalam tubuh manusia, bisa terjadi infeksi baik pada luka yang dalam maupun luka yang dangkal. Setelah proses persalinan, bisa terjadi infeksi pada rahim ibu dan pusar bayi yang baru lahir (tetanus neonatorum). Gejala-gejala infeksi ditimbulkan oleh racun yang dihasilkan oleh bakteri, bukan bakterinya.
c. Gambaran Klinis
1) Gejala khas: kejang pada otot-otot wajah menyebabkan ekspresi pasien seperti menyeringai (risus sardonikus) dengan kedua alis yang terangkat.
2) Gejala-gejala biasanya muncul dalam waktu 5–10 hari setelah terinfeksi, tetapi bisa juga timbul dalam waktu 2 hari atau 50 hari setelah terinfeksi.
3) Gejala yang paling sering ditemukan adalah kekakuan rahang dan sulit dibuka (trismus) karena yang pertama terserang adalah otot rahang.
4) Gejala lain berupa gelisah, gangguan menelan, sakit kepala, demam, nyeri tenggorokan, menggigil, kejang otot dan kaku kuduk, lengan serta tungkai.
5) Kekakuan atau kejang otot-otot perut, leher dan punggung bisa menyebabkan kepala dan tumit pasien tertarik ke belakang sedangkan badannya melengkung ke depan yang disebut epistotonus. 6) Kejang pada otot sfingter perut bagian bawah bisa menyebabkan retensi urin dan konstipasi. 7) Gangguan-gangguan ringan seperti suara berisik, aliran angin atau goncangan, bisa memicu
kejang otot disertai nyeri dan keringat berlebih.
8) Selama kejang pasien tidak dapat berbicara karena otot dadanya kaku atau terjadi kejang tenggorokan sehingga terjadi kekurangan oksigen yang menyebabkan gangguan pernapasan. Biasanya tidak terjadi demam. Laju pernapasan dan denyut jantung serta refleks-refleks biasanya meningkat. Tetanus juga bisa terbatas pada sekelompok otot di sekitar luka. Kejang di sekitar luka ini bisa menetap selama beberapa minggu.
d. Diagnosis
Diduga suatu tetanus jika terjadi kekakuan otot atau kejang pada seseorang yang memiliki luka. Untuk memperkuat diagnosis bisa dilakukan pembiakan bakteri dari apusan luka.
e. Penatalaksanaan
Pasien tetanus harus segera dirujuk ke rumah sakit karena ia harus selalu mendapat pengawasan dan perawatan. Sebelum dirujuk lakukan hal-hal di bawah ini:
1) Lakukan langkah-langkah ABC
2) Segera diberikan diazepam dosis 10 mg i.v. perlahan 2–3 menit. Dapat diulangi bila diperlukan. 3) Berikan IVFD dekstrose 5% : RL = 1 : 1 tiap 6 jam
4) Bila tersedia, berikan Antitoksin tetanus:
a) Serum antitetanus (ATS) diberikan dengan dosis 20.000 UI/hari i.m. selama 3 – 5 hari. Tes kulit sebelumnya, atau
b) Human Tetanus Immunoglobulin (HTIG). Dosis 500-3.000 UI i.m. tergantung beratnya penyakit. Diberikan dosis tunggal.
5) Berikan penisilin prokain 2 juta UI i.m pada orang dewasa atau 50.000 UI/kgBB/hari selama 10 hari pada anak untuk eradikasi kuman. Bila tidak ada atau alergi terhadap Penilisin dapat diberikan:
a) Eritromisin per oral 500 mg tiap 6 jam, atau b) Tetrasiklin per oral 500 mg tiap 6 jam.
6) Cegah penyebaran racun lebih lanjut dengan eksplorasi luka dan membersihkannya dengan H202 3%. Port d’entre lain seperti OMSK atau gangren gigi juga harus dibersihkan dahulu.
f. KIE
1) Tujuan pengobatan: menghilangkan kejang, meningkatkan kualitas hidup, mencegah komplikasi, mencegah kematian.
2) Diberikan nutrisi dan makanan yang cukup. Bila perlu, diberikan melalui pipa nasogastrik. 3) Menghindari tindakan/perbuatan yang bersifat merangsang, termasuk rangsangan suara dan
cahaya yang intensitasnya bersifat intermitten.
4) Mempertahankan/membebaskan jalan napas: pengisapan lendir oro/nasofaring secara berkala. 5) Posisi/letak pasien diubah-ubah secara periodik.
6) Pemasangan kateter bila terjadi retensi urin.
3. HIV-AIDS
Kompetensi : 2
Laporan Penyakit : 04 ICD X : B20-B24 a. Definisi
HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah sejenis virus yang merupakan golongan retrovirus yang merusak sistem kekebalan tubuh manusia sehingga menyebabkan penyakit AIDS.
AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome. “Acquired” artinya tidak diturunkan, tetapi ditularkan dari satu orang ke orang lainnya; “Immune” adalah sistem kekebalan tubuh terhadap penyakit; “Deficiency” artinya tidak cukup atau kurang; dan “Syndrome” adalah kumpulan tanda dan gejala penyakit) merupakan sekumpulan gejala penyakit yang muncul akibat rusaknya sistem kekebalan tubuh sehingga manusia menjadi rentan dan mudah tertular penyakit.
b. Gambaran Klinis
Stadium klinis HIV-AIDS menurut WHO dapat dilihat pada Tabel 19. Tabel 19. Stadium Klinis HIV-AIDS menurut WHO
Stadium Berat Badan
(BB) Gejala
Stadium I
Periode Jendela/ Window Period) Skala aktivitas : normal
BB Stadium II (sakit ringan) Skala aktivitas : simtomatis, aktivitas normal Penurunan
BB 5-10% - Luka sekitar bibir (cheilitis angularis)- Lesi kulit yang gatal (seborrhea atau prurigo) - Herpes zoster dalam 5 tahun terakhir
- ISPA berulang, misal sinusitis, tonsillitis, otitis dan faringitis
- Sariawan berulang Stadium III (sakit
sedang)
Skala aktivitas : selama 1 bulan terakhir tinggal ditempat tidur < 50%
Penurunan
BB > 10% - Bercak putih dimulut (oral hairy leukoplakia)- Diare, kandidiasis vaginal, panas yang tidak diketahui penyebabnya > 1 bulan
- Infeksi bakterial yang berat (misalnya pneumonia)
- TB paru dalam 1 tahun terakhir Stadium IV (sakit berat)
/AIDS
Skala aktivitas : selama 1 bulan terakhir berbaring ditempat tidur > 50%
HIV wasting syndrome
- kandidiasis esofagus - herpes simpleks > 1 bulan - limfoma
- toksoplasmosis otak
- diare kriptospridiosis > 1 bulan - cytomegalovirus - sarkoma kaposi - ca cerviks infasif - PCP - TB ekstrapulmonal - meningitis criptococcus - ensefalopati HIV c. Penularan
Virus HIV terdapat didalam cairan tubuh terutama darah, cairan vagina, sperma dan air susu ibu. Penularan virus HIV dapat terjadi melalui:
1) Hubungan seksual yang tidak aman yaitu berganti-ganti pasangan tanpa pelindung (kondom) atau hubungan seksual dengan pasangan yang terinfeksi HIV-AIDS tanpa menggunakan kondom. 2) Jarum suntik dan peralatan lain (alat kedokteran, jarum tatto, alat tindik, pisau cukur, dan
lain-lain) yang tidak steril dan digunakan bersama-sama. Selain itu penularan virus HIV melalui darah juga dapat terjadi melalui tranfusi darah dan transplantasi organ tubuh yang tercemar HIV.
3) Penularan dari ibu yang menderita HIV-AIDS ke anak selama kehamilan, persalinan dan menyusui.
d. Diagnosis
Diagnosis dapat ditegakkan dengan pemeriksaan Laboratorium dan Klinis (berdasarkan stadium klinis) serta penggalian faktor risiko.
e. Infeksi Oportunistik (IO) – Penyakit terkait HIV
Adalah infeksi yang mengambil manfaat dari melemahnya sistem kekebalan tubuh. Pada tahun-tahun pertama epidemi HIV-AIDS, IO menyebabkan banyak kesakitan dan kematian. Namun setelah ada terapi antiretroviral (ART), lebih sedikit orang yang meninggal akibat IO.
IO yang paling umum terjadi adalah:
1) Kandidiasis (thrush) adalah infeksi jamur pada mulut, tenggorokan atau vagina. Kandidiasis dapat meluas sampai esofagus pada pasien AIDS.
2) Virus Sitomegalia (cytomegalovirus/CMV) adalah infeksi virus yang menyebabkan penyakit mata yang dapat menimbulkan kebutaan.
4) Malaria adalah umum di beberapa daerah di Indonesia. Penyakit ini menjadi lebih sering terjadi dan lebih parah pada orang yang terinfeksi HIV.
5) Mycobacterium Avium Complex (MAC/MAI) adalah infeksi bakteri yang dapat menyebabkan demam kambuhan, rasa sakit yang umum, masalah pencernaan, dan kehilangan berat badan yang parah.
6) Pneumocystis carinii pneumonia (PCP) adalah infeksi jamur yang dapat menyebabkan pneumonia (radang paru) yang berbahaya.
7) Toksoplasmosis adalah infeksi protozoa otak. Nyeri kepala biasanya disebabkan toksoplasmosis. 8) Tuberkulosis (TB) adalah infeksi bakteri yang menyerang paru, dan dapat menyebabkan
meningitis (radang selaput otak). f. Penatalaksanaan rujuk RSU
ART (Anti Retroviral Therapy) yaitu terapi yang diberikan kepada ODHA dengan menggunakan obat anti HIV (ARV=Anti Retro Viral). Tujuan utama ART adalah untuk menjaga agar jumlah virus HIV didalam tubuh pada tingkat yang rendah, dan mengurangi atau memulihkan kerusakan pada sistem kekebalan tubuh akibat infeksi HIV, sehingga dapat mengurangi angka kesakitan dan kematian akibat HIV serta meningkatkan mutu hidup pengidap ODHA.
1) Persyaratan pemberian ART:
a) HIV positif dengan dokumentasi tertulis b) Memenuhi persyaratan medis
Jika tes CD4 tersedia:
(1) CD4 < 350 sel/mm3 pada tanpa memandang stadium klinisnya (2) Stadium klinik 3 dan stadium 4 tanpa memandang jumlah CD4
(3) Pemeriksaan jumlah CD4 diperlukan untuk mengidentifikasi pasien dengan stadium klinik 1 dan 2 yang perlu memulai terapi ARV
(4) Terapi ARV dianjurkan pada semua pasien dengan TB aktif tanpa memandang jumlah CD4
Jika tes CD4 tidak tersedia (1) Stadium klinik 3 WHO (2) Stadium klinik 4 WHO c) IO sudah diobati atau stabil
d) Pasien siap untuk pengobatan ARV
e) Tersedia tim klinik yang mendukung perawatan kronik f) Ketersediaan obat yang dapat dipercaya
2) Jenis-jenis obat ART:
a) Golongan NRTI (Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitor)
Berfungsi menghambat replikasi DNA virus. Cara kerja NRTI dengan mencegah perubahan genetik virus dari RNA menjadi DNA. Jenis obat yang termasuk golongan ini diantaranya : (1) AZT (Aksidiotimidin) atau ZDV (Zidovudin)
(2) 3TC (Lamivudin) (3) D4T (Stavudin) (4) Tenofir
b) Golongan NNRTI (Non Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitor)
Berfungsi sama dengan NRTI tapi dengan cara yang berbeda. Cara kerja NNRTI dengan mencegah masuknya HIV kedalam inti sel yang terinfeksi, sehingga HIV tidak dapat membuat turunan-turunan virus. Jenis obat yang termasuk dalam golongan ini adalah:
(1) EFP (Efavirenz) (2) NVP(Nevirapin) (3) DLV (Delavirdin)
Berfungsi memotong virus baru dengan potongan khusus sehingga tidak dapat dirakit menjadi virus yang siap bekerja. Jenis obat yang termasuk dalam golongan ini adalah : (1) NTV (Nevinavir) (2) IDV (Indinavir) (3) RTV (Ritonavir) (4) APV (Amphenavir) (5) TAZ (Tazanavir) (6) LPV (Lopinavir) 3) Kepatuhan ART
a) Kepatuhan dalam ART berhubungan erat dengan disiplin pribadi yang tinggi untuk menghindari resistensi obat. Dalam ART terdapat 5 kepatuhan yaitu:
(1) Patuh dalam jenis obat yang tepat (2) Patuh dengan cara minum yang tepat (3) Patuh dengan waktu minum yang tepat (4) Patuh dengan dosis obat yang tepat. (5) Patuh dengan masa terapi yang tepat.
b) Kepatuhan pengobatan (adherence) penting karena menentukan kesuksesan terapi, yaitu: (1) Viral load atau jumlah virus HIV menurun.
(2) CD4 meningkat.
(3) Angka kesakitan dan kematian menurun. c) Dampak dari adherence yang buruk adalah:
(1) Resistensi terhadap obat. (2) Peningkatan biaya pengobatan.
g. Penatalaksanaan HIV-AIDS di tingkat Puskesmas 1) Menyediakan layanan konseling pencegahan HIV-AIDS.
2) Menyediakan layanan kesehatan bagi ODHA (Orang Dengan HIV-AIDS) dengan perawatan dasar berbasis masyarakat atau berbasis rumah serta memberikan dukungan kepatuhan berobat ARV.
3) Menyediakan layanan VCT atau konseling dan test HIV secara sukarela untuk memberikan dukungan psikologis dan informasi untuk merubah perilaku berisiko serta membuka akses untuk mendapatkan pelayanan perawatan dan pengobatan HIV-AIDS di tingkat layanan kesehatan rujukan.
4) Menyediakan layanan laboratorium rapid test dan hematologi lengkap.
5) Pelayanan pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak (Prevention Mother to Child Transmission=PMTCT) di tingkat Puskesmas menyediakan layanan Prong 1 dan 2.
a) Adapun kegiatan pada Prong I adalah konseling perubahan perilaku untuk mencegah penularan HIV-AIDS pada remaja dan mengurangi stigma/diskriminasi terhadap ODHA. b) Sedangkan kegiatan pada Prong II adalah promosi dan distribusi kondom pada kelompok
risiko tinggi, konseling pasangan suami istri yang salah satunya terinfeksi HIV.
6) Pelayanan IO dan penatalaksanaan TB-HIV dibawah pengawasan dokter RS rujukan ODHA. 7) Menyediakan layanan ART dibawah pengawasan RS rujukan ART, berupa:
a) Penentuan stadium klinis b) Memulai ARV, IO dan OAT. c) Kepatuhan pengobatan. d) Paduan (kombinasi) obat ARV. e) Identifikasi efek samping obat ARV.
8) Mengintensifkan penemuan kasus TB dan menjamin pengendalian infeksi TB, serta menyediakan layanan konseling dan testing HIV bagi pasien TB.
10) Menyediakan layanan konseling dan tatalaksana gizi pada ODHA.
11) Merujuk kasus HIV-AIDS dengan komplikasi berat ke RS rujukan ODHA.
12) Melakukan pencatatan dan pelaporan, serta monitoring dan evaluasi sesuai pedoman. h. KIE
Bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap yang dapat mendorong perubahan perilaku dalam mengurangi risiko terinfeksi HIV serta menyediakan dan memberikan informasi yang benar dan tepat guna. Peningkatan pengetahuan komprehensif tentang HIV-AIDS pada penduduk usia 15-24 tahun sangat penting sebagai bekal untuk mencegah terjadinya HIV-AIDS. Promosi Kondom pada kelompok perilaku seksual berisiko juga sangat penting untuk mencegah penularan HIV-AIDS. Pencegahan penularan HIV-AIDS yang terbaik adalah :
1) Pencegahan Pola “A” (Abstinance), yaitu Puasa Seks, artinya seseorang tidak melakukan hubungan seksual sebelum atau diluar nikah.
2) Pencegahan Pola “B” (Be faithful), yaitu saling setia dengan satu pasangan, artinya hubungan seksual dilakukan hanya dengan satu pasangan tetap (suami/istri).
3) Pencegahan Pola “C” (Condom). Kondom merupakan salah satu alat pencegah penularan HIV melalui hubungan seksual.
4) Pencegahan Pola “D” (Don’t inject), yaitu tidak menyalahgunakan narkoba suntik. Penyalahgunaan narkoba juga menjadi salah satu jalan yang potensial untuk menularkan HIV karena ada kebiasaan buruk diantara pengguna narkoba yaitu menggunakan jarum suntik secara bersama-sama.
5) Pencegahan Pola “E” (Education), yaitu pendidikan mengenai HIV-AIDS untuk menanggulangi penyebaran HIV-AIDS.
i. HIV PADA ANAK 1) Diagnosis Klinis:
a) Gejala yang menunjukkan kemungkinan infeksi HIV.
(1) Infeksi berulang: tiga atau lebih episode infeksi bakteri yang lebih berat (seperti pneumonia, meningitis, sepsis, selulitis) pada 12 bulan terakhir,
(2) Thrush: eritema pseudomembran putih di langit-langit mulut, gusi dan mukosa pipi, pasca masa neonatal, ditemukannya thrush tanpa pengobatan antibiotik, atau berlangsung lebih dari 30 hari walaupun telah diobati, atau kambuh, atau meluas melebihi bagian lidah – kemungkinan besar merupakan infeksi HIV. Juga khas apabila meluas sampai di bagian belakang kerongkongan yang menunjukkan kandidiasis esophagus.
(3) Parotitis kronik: pembengkakan parotitis unilateral atau bilateral selama ≥ 14 hari dengan atau tanpa diikuti rasa nyeri atau demam.
(4) Limpadenopati generalisata: terdapat pembesaran kelanjar getah bening pada dua atau lebih daerah ekstra inguinal tanpa penyebab jelas yang mendasarinya.
(5) Hepatomegali tanpa penyebab yang jelas: tanpa adanya infeksi virus yang bersamaan seperti Sitomegalovirus.
(6) Demam yang menetap dan/atau berulang: demam (>38°C) berlangsung ≥ 7 hari atau terjadi lebih dari sekali dalam waktu 7 hari.
(7) Disfungsi neurologis: kerusakan neurologis yang progresif, mikrosefal, perkembangan terlambat, hipertonia atau bingung (confusion).
(8) Dermatitis HIV: ruam yang eritematus dan popular, ruam kulit yang khas meliputi infeksi jamur yang ekstensif pada kulit, kuku dan kulit kepala dan molluscom contagiosum yang ekstensif.
b) Gejala yang umum ditemukan pada anak dengan infeksi HIV, tetapi juga lazim ditemukan pada anak sakit yang bukan infeksi HIV
(1) Otitis media kronik: keluar cairan/nanah dan berlangsung ≥ 14 hari. (2) Diare persisten: berlangsung ≥ 14 hari
(3) Gizi kurang atau gizi buruk: berkurangnya berat badan atau menurunnya pertambahan berat badan secara perlahan tetapi pasti dibandingkan dengan pertumbuhan yang seharusnya, sebagaimana tercantum dalam KMS, terutama pada bayi usia < 6 bulan yang disusui dan gagal tumbuh.
c) Gejala atau kondisi yang sangat spesifik untuk anak dengan infeksi HIV positif
Diduga kuat infeksi HIV jika ditemukan hal berikut ini : pneumocystis carinii pneumonia (PCP), kandidiasis esophagus, lymphoid interstitial pneumonia (LIP) atau Sarkoma Kaposi. Keadaan ini sangat spesifik untuk anak dengan infeksi HIV.
2) Konseling
Indikasi untuk konseling HIV
Konseling HIV perlu dilakukan pada situasi berikut:
a) Anak yang status HIV-nya tidak diketahui yang menunjukkan tanda klinis infeksi HIV dan/atau faktor risiko (misalnya ibu atau saudaranya menderita HIV/AIDS)
(1) Tentukan apakah akan dilakukan konseling atau merujuknya
(2) Jika anda yang melakukan konseling sediakan waktu untuk sesi konseling ini. Minta saran pada konselor lokal yang berpengalaman, sehingga tiap nasihat yang diberikan akan konsisten dengan apa yang nantinya akan diterima ibu dari konselor profesional.
(3) Jika akan dirujuk, jelaskan pada orang tuanya alasan mereka dirujuk ke tempat lain untuk konseling.
b) Anak dengan infeksi HIV tetapi respon terhadap pengobatan kurang baik, atau membutuhkan penyelidikan lebih lanjut.
Diskusikan hal berikut ini pada saat sesi konseling: (1) Pemahaman orang tua tentang infeksi HIV (2) Tatalaksana masalah yang ada saat ini (3) Peran pengobatan antiretroviral
(4) Perlunya merujuk ke tingkat yang lebih tinggi, jika perlu (5) Dukungan dari kelompok di masyarakat, jika ada.
c) Anak dengan infeksi HIV dengan respon yang baik terhadap pengobatan dan akan dipulangkan (atau dirujuk ke program perawatan di masyarakat untuk ke dukungan psikologis).
Diskusikan hal berikut ini pada saat sesi konseling: (1) Alasan dirujuk ke program perawatan di masyarakat (2) Pelayanan tindak lanjut
(3) Faktor risiko untuk sakit di kemudian hari. (4) Imunisasi dan HIV
(5) Ketaatan dan dukungan pengobatan antiretroviral. 3) Pengobatan Antiretroviral (Antiretroviral theraphy = ART)
Prinsip yang mendasari ART dan pemilihan lini pertama ARV pada anak pada umumnya sama dengan pada dewasa. Sangat penting untuk mempertimbangkan:
a) Ketersediaan formula yang cocok yang dapat diminum dalam dosis yang tepat. b) Daftar dosis yang sederhana
c) Rasa yang enak sehingga menjamin kepatuhan pada anak kecil d) Rejimen ART yang akan atau sedang diminum orang tuanya.
4. TENSION TYPE HEADACHE Kompetensi : 4A
Laporan Penyakit : ICD X : G44.2 a . D e f i n i s i
Ten s i o n t y p e h e a d a c h e d i s e b u t j u g a n y e r i k e p a l a t e g a n g , n ye r i k e p a l a ,
k o n t r a k s i o t o t , n ye r i k e p a l a p s i k o m i o g e n i k , n y e r i s t r e s , n y e r i k e p a l a esensial, nyeri kepala idiopatik, nyeri kepala psikogenik.
Tension type headache merupakan suatu keadaan yang melibatkan sensasi n ye r i a t a u r a s a t i d a k n ya m a n d i d a e r a h k e p a l a , k u l i t k e p a l a a t a u l e h e r yang biasanya berhubungan dengan ketegangan otot di daerah ini.
b. Epidemiologi
- Nyeri kepala ini biasanya dimulai pada usia 20-40 tahun
- Kejadiannya dominan pada wanita dan dapat pula terjadi pada segala usia.
c. Etiologi – Patofisiologi
Dari beberapa sumber, dikatakan bahwa salah satu respon tubuh terhadap keadaan stress dan
kecemasan yang menyebabkan nyeri kepala tipe tegang adalah adanya reflex pelebaran
pembuluh darah ekstrakranial serta kontraksi otot-otot rangka, kepala, leher, dan wajah. Namun,
mekanisme ini juga belum begitu jelas. Sedangkan pada sumber lain dikatakan bahwa
kebanyakan pasien dengan nyeri kepala tipe-tegang saat ini ditemukan bahwa otot-otot
craniocervicalnya cukup relaks dan tidak menunjukkan adanya kontraksi persisten saat diukur
dengan elektromiografi. Namun, Sakai et al melaporkan bahwa pada pasien nyeri kepala tipe
tegang ditemukan kontraksi pada otot pericranial dan otot trapezius.
Akhir-akhir ini, nitrit oksida dimasukkan dalam kejadian nyeri kepala tipe tegang, secara spesifik
membuat sentrilisasi sentral pada stimulasi sensoris dari struktur cranial. Hipotesis lain yang
baru juga mengatakan bahwa adanya keabnormalan sensitivitas terhadap nyeri pada trigeminal
nuclear complex. Kompleks ini, berperan dalam menerima input dari struktur lain dalam otak,
termasuk system limbik.
d. Manifestasi Klinis
- Rasa kencang di daerah bitemporal, bioksipital, atau seperti diikat di sekeliling kepala, rasa
berat, dan tertekan. Nyeri kepala tidak berdenyut.
- Nyeri kepala dapat menjalar sampai leher atau bahu.
- Dapat bersifat episodic (bila serangan selama <15 hari per bulan), atau kronik (bila serangan
>15 hari per bulan).
- Durasi serangan dapat berlangsung selama 30 menit hingga beberapa hari.
- Tingkat keparahannya ringan – sedang dan tidak memberat dengan aktivitas fisik.
- Tidak berhubungan dengan adanya nausea, fotofobia, atau fonofobia, dan biasanya tidak
menghentikan pasien dalam aktivitas hariannya.
e. Evaluasi Diagnostik
Anamnesis dengan riwayat penyakit sangat penting karena tidak ditemukan adanya abnormalitas
pada pemeriksaan neurologis dan ancillary test.
f. Terapi Farmakologis
Terapi farmakologis dibagi menjadi 2 yaitu :
1 ) T e r a p i a b o r t i f , Terapi ini digunakan untuk menghentikan atau mengurangi intensitas serangan. Terapi abortif tersebut antara lain : aspirin 1000 mg/hari, acetam inophen 1000 mg/hari, NSAID (Naproxen 660-750 mg/hari, ketoprofen 25-50 mg/hari, tolfenamic 200-400 mg/hari, ibuprofen 800 mg/hari, diclofenac 50-100 mg/hari).
2 ) T e r a p i p r e v e n t i f , t e r a p i p r e v e n t i f t e r s e b u t a n t a r a l a i n : A m i t r i p t i l i n ( d o s i s 1 0 - 5 0 m g sebelum tidur) dan nortriptilin (dosis 25-75 mg sebelum tidur) yangmerupakan antidepresan golongan trisiklik yang paling sering dipakai. Selain itu juga, selective serotonin uptake inhibitor (SSRI) juga sering digunakan seperti fluoksetin, paroksetin, sertralin. g. KIE
Terapi Non-Farmakologis
D i s a m p i n g m e n g k o n s u m s i o b a t , t e r a p i n o n f a r m a k o l o g i s ya n g d a p a t dilakukan untuk meringankan nyeri tension type headache antara lain :
1 ) K o m p r e s h a n g a t a t a u d i n g i n p a d a d a h i . 2 ) M a n d i a i r h a n g a t
3 ) T i d u r d a n i s t i r a h a t . Pencegahan
C a r a u n t u k m e n c e g a h t e r j a d i n y a t e n s i o n t y p e h e a d a c h e a d a l a h
d e n g a n menghindari faktor pencetus seperti menghindari kafein dan nikotin, situasi yang menyebabkan stres, kecemasan, kelelahan, rasa lapar, rasa marah, dan posisi tubuh yang tidak baik. Perubahan gaya hidup yang diperlukan untuk m e n g h i n d a r i t e n s i o n t y p e
h e a d a c h e k r o n i s d a p a t d i l a k u k a n d e n g a n beristirahat dan berolahraga secara teratur, berekreasi, atau merubah situasi kerja.
5. MIGREN
Kompetensi : 3A
Laporan Penyakit : 21 ICD X : N13 a. Definisi
Serangan nyeri kepala sesisi yang berulang, beragam beratnya, lamanya dan kekerapannya mungkin merupakan serangan migren. Migren klasik diawali selama + 60 menit.
b. Penyebab
Vasodilatasi pembuluh darah di otak. c. Gambaran Klinis
1) Nyeri kepala khas berdenyut, unilateral dan bertambah berat setelah aktivitas fisik. 2) Frekuensi lebih dari 5 kali serangan per hari dengan durasi masing-masing 4-72 jam. 3) Pasien mengeluh mual sampai muntah dan terdapat anoreksia, fotofobia atau fenofobia. 4) Migren dengan aura mempunyai gejala tambahan:
a) Gejala visual homonim dan/atau gejala sensoris unilateral.
b) Paling tidak timbul satu macam aura secara gradual 5 menit dan/atau jenis aura yang lainnya 5 menit.
c) Tiap gejala berlangsung 5 menit dan ≤ 60 menit. d. Diagnosis
1) Migren tanpa aura 2) Migren dengan aura 3) Status migrenosus e. Penatalaksanaan
1) Hindari faktor pencetus 2) Terapi serangan akut (abortif) 3) Serangan diatasi dengan:
a) Obat spesifik: ergotamin tablet 1 mg kombinasi kafein, dosis disesuaikan kondisi penyakit. b) Obat nonspesifik: parasetamol 500 mg atau ibuprofen 400 mg
c) Obat penunjang: metoklopramid tablet
d) Obat profilaksis (keadaan tertentu): propanolol 10 mg tiap 8-12 jam atau asam valproat 500 mg tiap 12 jam.
f. KIE
1) Tujuan penatalaksanaan: menghilangkan serangan.
2) Pencegahan: hindari faktor pencetus seperti makanan tertentu (coklat, MSG), ketegangan emosi dan kelelahan fisik. Hal-hal itu harus diidentifikasi.
3) Alasan rujukan: pada kasus migren dengan aura, migren komplikata yang memerlukan terapi profilaksis, migren dengan intensitas dan frekuensi tinggi.
6. BELL’S PALSY Kompetensi : 4A
Laporan Penyakit : ICD X : G51.0
a. Definisi
Secara ilmiah Bell’s palsy atau prosoplegia adalah kelumpuhan fasialis (saraf diwajah) akibat
paralisis nervus fasial perifer (kelumpuhan saraf di wajah) yang terjadi secara akut (cepat) dan
penyebabnya tidak diketahui (idiopatik) di luar sistem saraf pusat (diluar otak dan saraf ditulang
belakang) tanpa disertai adanya penyakit neurologis (saraf) lainnya. Bell’s palsy ditemukan oleh
Sir Charles Bell, seorang dokter berkebangsaan Skotlandia pada abad ke 19. Gejala paling nyata
wajah terlihat miring. Ketika senyum setengah wajah penderita Bell’s palsy tetap diam (tidak
bisa tersenyum lebar). Orang-orang tua dulu menyebutnya sebagai penyakit akibat kena angin
malam atau karena habis bertabrakan dengan makhluk halus. Bell’s palsy berbeda dengan stroke
walau gejala kelumpuhannya mirip.
b. Epidemologi
Bell’s palsy menempati urutan ketiga penyebab terbanyak dari paralysis fasial akut (kelumpuhan
otot wajah yang proses munculnya gejala berlangsung cepat). Bell’s palsy dapay menyerang
umur berapapun tapi lebih sering terjadi pada umur 15-50 tahun. Wanita dan laki-laki memiliki
kemungkinan yang sama untuk terserang Bell’s palsy. Akan tetapi wanita muda yang berumur
(10-19 tahun) lebih rentan terserang daripada laki-laki pada kelompok umur yang sama. 63%
menyerang wajah sebelah kanan.
Sedangkan di Indonesia, insiden Bell’s palsy secara pasti sulit ditentukan. Data yang
dikumpulkan dari 4 buah Rumah sakit di Indonesia didapatkan frekuensi Bell’s palsy sebesar
19,55 % dari seluruh kasus neuropati (kelumpuhan saraf) dan terbanyak pada usia 21 – 30 tahun.
Lebih sering terjadi pada wanita daripada pria. Tidak didapati perbedaan insiden antara iklim
panas maupun dingin, tetapi pada beberapa penderita didapatkan adanya riwayat terpapar udara
dingin atau angin berlebihan.
c. Etiology
Bell’s palsy adalah penyakit autoimun, yaitu suatu keadaan dimana system imun menyerang
tubuh kita sendiri. dalam hal ini, system imun menyerang nervus fasialis (saraf diwajah)
sehingga menyebabkan kelumpuhan. Penyebab pasti autoimun tersebut masih belum diketahui
(idiopatik). Akantetapi, ada beberapa hal yang diduga sebagai factor pencetus timbulnya Bell’s
palsy.
- Virus Herpes simplex. 60-70% kasus Bell’s palsy juga diikuti dengan hadirnya virus herpes
simplex (studied by Dr. Shingo Murakami and others). Diduga virus ini sudah menyerang sejak
anak-anak. Tetapi bisa juga menyebar lewat penggunaan handuk atau peralatan secara bersama
dengang orang lain yang terlebih dahulu diserang. Beberapa virus lain juga diduga sebagai
penyebabnya seperti cytomegalovirus, Epstein-Barr, rubella and mumps.
- Kongenital. Bell’s palsy juga biasa nya terjadi karena bawaan lahir. Hal ini bisa disebabkan
oleh karena sindroma moebius atau karena trauma lahir (seperti perdarahan
intracranial/perdarahan didalam kepala atau fraktur tengkorak/patah tulang tengkorak).
Keduanya terjadi pada saat proses kelahiran anak.
- Riwayat terpapar udara dingin secara terus menerus. Kebanyakan penderita Bell’s palsy
memiliki kesamaan riwayat, yaitu pernah terpapar udara dingin secara terus menerus. Misalnya
karena terpapar udara dingin karena setiap malam naik motor atau terkena angin AC secara
langsung secara terus menerus.
d. Gejala Klinik
Awalnya biasanya terjadi kehilangan sensasi rasa pada lidah. Lidah terasa seperti ada yang
menyelimuti. Pada anak 73% didahului infeksi saluran napas bagian atas yang erat hubungannya
dengan cuaca dingin. Perasaan nyeri, pegal, linu dan rasa tidak enak pada telinga atau sekitarnya
sering merupakan gejala awal yang segera diikuti oleh gejala kelumpuhan otot wajah berupa
- Kelopak mata tidak dapat menutupi bola mata pada sisi yang lumpuh (lagophthalmos).
- Gerakan bola mata pada sisi yang lumpuh lambat, disertai bola mata berputar ke atas bila
memejamkan mata, fenomena ini disebut Bell’s sign
- Sudut mulut tidak dapat diangkat, lipat nasolabialis mendatar pada sisi yang lumpuh dan
mencong ke sisi yang sehat.
Selanjutanya, gejala bell’s palsy tergantung dari lokasi lesi (tempat kerusakan sarafnya).
a. Lesi di luar foramen stilomastoideus. Gejala yang muncul adalah mulut tertarik ke arah sisi
mulut yang sehat,makanan berkumpul di antar pipi dan gusi, dan sensasi dalam (deep sensation)
di wajah menghilang. lipatan kulit dahi menghilang. Apabila mata yang terkena tidak tertutup
atau tidak dilindungi maka air mata akan keluar terus menerus.
b. Lesi di kanalis fasialis (melibatkan korda timpani). Gejala dan tanda klinik seperti pada (a),
ditambah dengan hilangnya ketajaman pengecapan lidah (2/3 bagian depan) dan salivasi
(produksi air liur) di sisi yang terkena berkurang.
c. Lesi di kanalis fasialis lebih tinggi lagi (melibatkan muskulus stapedius).
Gejala dan tanda klinik seperti pada (a), (b), ditambah dengan adanya hiperakusis (sangat sensitif
terhadap suara).
d. Lesi di tempat yang lebih tinggi lagi (melibatkan ganglion genikulatum).
Gejala dan tanda klinik seperti (a), (b), (c) disertai dengan nyeri di belakang dan di dalam liang
telinga. Biasanya penderita merasa nyeri dan tidak tahan mendengar suara yang keras.
e. Lesi di daerah meatus akustikus interna, Gejala dan tanda klinik seperti (a), (b), (c), (d),
ditambah dengan tuli sebagi akibat dari terlibatnya nervus akustikus.
e. Diagnosis
A. Anamnesa (hasil wawancara dengan pasien)
- Rasa nyeri
- Gangguan atau kehilangan pengecapan.
- Riwayat pekerjaan dan adakah aktivitas yang dilakukan pada malam hari di ruangan terbuka
atau di luar ruangan.
- Riwayat penyakit yang pernah dialami oleh penderita seperti infeksi saluran pernafasan, otitis,
herpes, dan lain-lain.
B. Pemeriksaan Fisik
Gerakan volunter yang diperiksa, dianjurkan minimal :
1. Mengerutkan dahi
2. Memejamkan mata
3. Mengembangkan cuping hidung
4. Tersenyum
5. Bersiul
C. Pemeriksaan Laboratorium. (pengambilan darah)
Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang spesifik untuk menegakkan diagnosis Bell’s palsy.
D. Pemeriksaan Radiologi. (foto, seperti x-ray, ct-scan, MRI)
Pemeriksaan radiologi bukan indikasi pada Bell’s palsy. Pemeriksaan CT-Scan dilakukan jika
dicurigai adanya fraktur atau metastasis neoplasma ke tulang, stroke, sklerosis multipel dan
AIDS pada CNS. Pemeriksaan MRI pada pasien Bell’s palsy akan menunjukkan adanya
penyangatan (Enhancement) pada nervus fasialis, atau pada telinga, ganglion genikulatum.
f. Pengobatan
- Istirahat yang cukup. Seperti dikemukakan sebelumnya, 60-70% pencetus adalah virus,
sementara virus bersifat self limiting disease (penyakit yang dapat sembuh sendiri jika kita
memiliki system pertahanan tubuh yang baik).
- Pemberian kortikosteroid (perdnison dengan dosis 40 -60 mg/hari per oral atau 1 mg/kgBB/hari
selama 3 hari, diturunkan perlahan-lahan selama 7 hari kemudian), dimana pemberiannya
dimulai pada hari kelima setelah onset penyakit, gunanya untuk meningkatkan peluang
kesembuhan pasien. Dasar dari pengobatan ini adalah untuk menurunkan kemungkinan
terjadinya kelumpuhan yang sifatnya permanen yang disebabkan oleh pembengkakan nervus
fasialis (saraf wajah) di dalam kanal fasialis (jalurnya) yang sempit. Kortikostiroid juga bersifat
immunosupresan sehingga bisa menekan kinerja system imun. Mekanisme ini sesuai dengan
penyebab utama bell’s palsy yaitu autoimun.
- Penggunaan obat- obat antivirus . Acyclovir (400 mg selama 10 hari) dapat digunakan dalam
penatalaksanaan Bell’s palsy yang dikombinasikan dengan prednison atau dapat juga diberikan
sebagai dosis tunggal untuk penderita yang tidak dapat mengkonsumsi prednison.Penggunaan
Acyclovir akan berguna jika diberikan pada 3 hari pertama dari onset penyakit untuk mencegah
replikasi virus (penggandaan virus).
- Untuk perawatan mata dapat menggunakan air mata buatan atau menggunakan pelindung mata,
seperti kacamata.
- Fisioterapi sering dikerjakan bersama-sama pemberian prednison, dapat dianjurkan pada
stadium akut. Tujuan fisioterapi untuk mempertahankan tonus otot (kekuatan) yang lumpuh.
Cara yang sering digunakan yaitu : mengurut/massage otot wajah selama 5 menit pagi-sore atau
dengan faradisasi.
- Tindakan operatif umumnya tidak dianjurkan pada anak-anak karena dapat menimbulkan
komplikasi lokal maupun intracranial. Tindakan operatif dilakukan apabila tidak terdapat
penyembuhan spontan atau tidak terdapat perbaikan dengan pengobatan prednison.
- Penulis menyarankan agar pasien melakukan kompres air hangat disertai pemijatan pada bagian
yang lumpuh pagi dan malam. Walaupun belum ada penilitian ilmiah terkait ini, tetapi pemberian
paparan air hangat merupakan negasi (kebalikan) dari paparan udara dingin yang sering
memapari penderita. Pemijatan juga berfungsi melatih gerakan-gerakan pada otot wajah. Penulis
juga menyarakan agar setiap saat pasien melakukan menggerak-gerakkan wajahnya, seperti
berlatih tersenyum, mengangkat alis ataupun menarik pipi ataupun alis.
g. KIE
- Hindari mandi di malam hari.
- Hindari kebiasaan langsung mandi atau mencuci muka sehabis berolahraga .
- Hindari terpaan angin langsung ke wajah, utamanya angin dingin.
7. VERTIGO (Benign paroxysmal positional vertigo) Kompetensi : 4A
Laporan Penyakit : ICD X : a. Definisi
Pengertian vertigo adalah : sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh atau lingkungan sekitarnya, dapat disertai gejala lain, terutama dari jaringan otonomik akibat gangguan alat keseimbangan tubuh. Vertigo (sering juga disebut pusing berputar, atau pusing tujuh keliling) adalah kondisi di mana seseorang merasa pusing disertai berputar atau lingkungan terasa berputar walaupun badan orang tersebut sedang tidak bergerak.
Vertigo adalah keadaan pusing yang dirasakan luar biasa. Seorang yang menderita vertigo perasaannya seolah-olah dunia sekeliling berputar (vertigo objektif) atau penderita sendiri merasa berputar dalam ruangan (vertigo subjektif). Bagi masyarakat awam vertigo disebut juga sebagai tujuh keliling. b. Patofisiologi
Pada dasarnya keseimbangan tubuh dikendalikan oleh otak kecil yang mendapat informasi mengenai posisi tubuh dari organ keseimbangan di telinga tengah dan mata. Vertigo biasanya timbul akibat gangguan telinga tengah dan dalam atau gangguan penglihatan.
Gangguan pada otak kecil yang mengakibatkan vertigo jarang sekali ditemukan. Namun, pasokan oksigen ke otak yang kurang dapat pula menjadi penyebab. Beberapa jenis obat, seperti kina, streptomisin, dan salisilat, diketahui dapat menimbulkan radang kronis telinga dalam. Keadaan ini juga dapat menimbulkan vertigo.
Benign Paroxysmal Positional Vertigo merupakan penyakit yang sering ditemukan, di mana vertigo terjadi secara mendadak dan berlangsung kurang dari 1 menit. Perubahan posisi kepala (biasanya terjadi ketika penderita berbaring, bangun, berguling di atas tempat tidur atau menoleh ke belakang) biasanya memicu terjadinya vertigo ini.
Penyakit ini tampaknya disebabkan oleh adanya endapan kalsium di dalam salah satu kanalis
semisirkularis di dalam telinga bagian dalam. Vertigo jenis ini mengerikan, tetapi tidak berbahaya dan biasanya menghilang dengan sendirinya dalam beberapa minggu atau bulan. Tidak disertai hilangnya pendengaran maupun telinga berdenging.
c. Penyebab
Penyebab vertigo bermacam-macam. Vertigo bisa disebabkan karena adanya gangguan pada sistem vestibular perifer (ganguan pada telinga bagian dalam). Pusing juga bisa muncul sebagai akibat dari gangguan sistem vestibular sentral (misalnya saraf vestibular, batang otak, dan otal kecil). Pada beberapa kasus, penyebab vertigo tidak diketahui.
Gangguan vestibular perifer meliputi Benign Paroksimal Positional Vertigo (BPPV; vertigo karena gangguan vestibular perifer yang paling banyak ditemui), sindrom Cogan (terjadi karena ada peradangan pada jaringan ikat di kornea, bisa mengakibatkan vertigo, telinga berdenging dan kehilangan
pendengaran), penyakit Ménière (adanya fluktuasi tekanan cairan di dalam telinga/ endolimf sehingga dapat mengakibatkan vertigo, telinga berdenging, dan kehilangan pendengaran). ototoksisitas (keracuanan
pada telinga), neuritis vestibular (peradangan pada sel saraf vestibular, dapat disebabkan karena infeksi virus).
Beberapa obat dan zat kimia (seperti timbal, merkuri, timah) dapat menyebabkan ototoksitas, yang mengakibatkan kerusakan pada telinga bagian dalam atau saraf kranial VIII dan menyebabkan vertigo. Kerusakan dapat bersifat temporer maupun permanen. Penggunaan preparat antibiotik (golongan aminoglikosida, yaitu streptomisin dan gentamisin) jangka panjang maupun penggunaan antineoplastik (misalnya cisplatin maupun carboplatin) dapat menyebabkan ototoksisitas permanen. Konsumsi alkohol, meskipun dalam jumlah kecil, dapat menyebabkan vertigo temporer pada beberapa orang
Keadaan lingkungan, motion sickness (mabuk darat, mabuk laut) obat-obatan, alkohol, gentamisin, kelainan sirkulasi Transient ischemic attack (gangguan fungsi otak sementara karena berkurangnya aliran darah ke salah satu bagian otak) pada arteri vertebral dan arteri basiler.
Kelainan ini terjadi karena gangguan keseimbangan baik sentral atau perifer, kelainan pada telinga sering menyebabkan vertigo. Untuk menentukan kelainan yang menyebabkan vertigo, dokter THT-KL biasanya akan melakukan pemeriksaan ENG (elektronistagmografi).
d. Gejala
Penderita merasa seolah-olah dirinya bergerak atau berputar; atau penderita merasakan seolah-olah benda di sekitarnya bergerak atau berputar. Perasaan pusing ini selain disertai rasa berputar kadang-kadang disertai mual dan muntah. Bila gangguan ini berat, penderita bahkan tak mampu berdiri atau bahkan terjatuh. Hal ini biasanya disebabkan oleh gangguan keseimbangan. Vertigo bisa berlangsung hanya beberapa saat atau bisa berlanjut sampai beberapa jam bahkan hari. Penderita kadang merasa lebih baik jika berbaring diam, tetapi vertigo bisa terus berlanjut meskipun penderita tidak bergerak sama sekali. e. Diagnosis
Sebelum memulai pengobatan, harus ditentukan sifat dan penyebab dari vertigo. Gerakan mata yang abnormal menunjukkan adanya kelainan fungsi di telinga bagian dalam atau saraf yang
menghubungkannya dengan otak. Nistagmus adalah gerakan mata yang cepat dari kiri ke kanan atau dari atas ke bawah. Arah dari gerakan tersebut bisa membantu dalam menegakkan diagnosa. Nistagmus bisa dirangsang dengan menggerakkan kepala penderita secara tiba-tiba atau dengan meneteskan air dingin ke dalam teling.
Untuk menguji keseimbangan, penderita diminta berdiri dan kemudian berjalan dalam satu garis lurus, awalnya dengan mata terbuka, kemudian dengan mata tertutup. Tes pendengaran seringkali bisa menentukan adanya kelainan telinga yang mempengaruhi keseimbangan dan pendengaran. f. Penanganan
Pengobatan tergantung kepada penyebabnya. Obat untuk mengurangi vertigo yang ringan adalah meklizin, dimenhidrinat, perfenazin dan betahistin mesilat. Betahistin mesilat terutama berfungsi untuk mencegah motion sickness, yang terdapat dalam bentuk plester kulit dengan lama kerja selama beberapa hari. Semua obat di atas bisa menyebabkan kantuk, terutama pada usia lanjut. Skopolamin dalam bentuk plester menimbulkan efek kantuk yang paling sedikit. Biasanya pemberian vitamin B12, B1, antihistamin, diuretika, dan pembatasan konsumsi garam dapat mengurangi keluhan.
8. GANGGUAN SOMATOFORM Kompetensi : 3A
Laporan Penyakit : 0802 ICD X : F40-F48 a. Definisi
Suatu atau kumpulan gejala fisik yang dirasakan berlebihan disertai dengan sindrom ansietas tanpa bukti adanya penyakit fisik.
b. Penyebab
Psikologis dan keprbadian individu, stresor psikososial, penyakit organik seperti hipertiroid, pheocromamocytosis.
c. Jenis-jenis Gangguan Neurotik
Gangguan neurotik yang sering dijumpai adalah sebagi berikut
1) Gangguan ansietas fobik seperti agorafobia, fobia sosial, fobia spesifik 2) Gangguan Panik
3) Gangguan Ansietas Menyeluruh. 4) Gangguan Obsesif Kompulsif 5) Gangguan Stres Pasca Trauma 6) Gangguan Penyesuaian 7) Gangguan Somatisasi d. Gambaran Klinik
Sesuai dengan gejala dari masing-masing jenis neurotik, untuk memudahkan sebagai target terapi maka secara klinik perlu mengenali sindrom ansietas sebagai berikut:
1) Adanya perasaan cemas atau kuatir yang tidak realistik terhadap dua atau lebih hal yang dipersepsikan sebagai ancaman. Perasaan ini menyebabkan individu tidak mampu istirahat dengan tenang (inability to relax)
2) Terdapat gejala-gejala berikut:
a) Ketegangan motorik, seperti kedutan otot atau rasa gemetar, otot tegang/kaku/pegal, tidak bisa diam, atau mudah menjadi lelah
b) Hiperaktivitas otonomik, seperti napas pendek/terasa berat, jantung berdebar-debar, telapak tangan basah dan dingin, mulut kering, kepala pusing/rasa melayang, mual, mencret, perut tak enak, muka panas/badan menggigil, buang air kecil atau sukar menelan/rasa tersumbat. c) Kewaspadaan berlebihan dan daya tangkap berkurang, seperti perasaan jadi peka/mudah
ngilu, mudah terkejut/kaget, sulit berkosentrasi/berpikir fokus, sukar tidur atau mudah tersinggung
3) Hendaya dalam fungsi kehidupan sehari-hari, bermanifestasi dalam gejala seperti penurunan kemampuan kerja, hubungan sosial dan melakukan kegiatan rutin.
e. Diagnosis
Berdasarkan PPDGJ–III, maka pedoman diagnosis sesuai jenisnya sebagai berikut : 1) Gangguan Ansietas Fobik
a) Kecemasan dicetuskan oleh adanya situasi atau objek yang jelas, yang sebenarnya pada saat kejadian tidak membahayakan.
b) Sebagai akibatnya, objek atau situasi tersebut dihindari atau dihadapi dengan rasa terancam c) Secara subyektif, fisiologik dan tampilan perilaku tidak jauh berbeda dengan jenis ansietas
lainnya
2) Gangguan Ansietas Panik
a) Ditemukan adanya beberapa kali serangan cemas berat dalam masa kira-kira 1 bulan b) Keadaan dimana sebenarnya secara objektif tidak ada bahaya
c) Tidak terbatas pada situasi yang sudah diketahui atau yang dapat diduga sebelumnya 3) Gangguan Ansietas Menyeluruh
a) Gambaran utama adalah adanya kecemasan yang menyeluruh dan menetap b) Kecemasan tentang masa depan (khawatir akan nasib buruk, sulit konsentrasi dll) c) Ketegangan motorik (gelisah, sakit kepala, tidak dapat santai, gemetaran)
d) Overaktivitas motorik (berkeringat dingin, berdebar-debar, pusing, mulut kering, nyeri ulu hati dll)
e) Pada anak-anak terlihat adanya kebutuhan berlebihan untuk ditenangkan serta keluhan somatik yang berulang-ulang.
4) Gangguan Obsesif Kompulsif
a) Ciri utama adalah adanya pikiran obsesif atau tindakan yang berulang, gejala obsesional atau tindakan kompulsif, atau kedua-duanya, harus ada hamper tiap hari selama sedikitnya dua minggu berturut-turut
b) Harus disadari sebagai pikiran atau impuls dari diri sendiri
c) Sedikitnya ada satu tindakan atau pikiran yang masih tidak bias dilawan
d) Pikiran untuk melaksanakan tindakan tersebut bukan merupakan hal yang memberikan kepuasan atau kesenangan
e) Pikiran, bayangan atau impuls tersebut harus merupakan pengulangan yang tidak menyenangkan
5) Gangguan Stres Pasca Trauma
a) Keadaan ini timbul sebagai respons yang berkepanjangan dan/atau tertunda terhadap kejadian atau situasi yang menimbulkan stress (baik singkat maupun berkepanjangan) yang bersifat katastrofik atau menakutkan, yang dapat menyebabkan ketegangan bagi tiap orang (misalnya bencana alam atau bencana yang dibuat oleh manusia seperti perang atau konflik masyarakat, kecelakaan, terorisme, korban penyiksaan/perkosaan dll)
b) Diagnosis ditegakkan jika gangguan ini timbul dalam kurun waktu 2 minggu sampai 6 bulan setelah kejadian traumatik, dapat lebih dari 6 bulan asal saja gejala-gejala khasnya nampak c) Selain adanya kejadian trauma, harus didapatkan bayang-bayang atau mimpi-mimpi dari
kejadian traumatik itu kembali secara berulang-ulang (flashback)
d) Berusaha menghindari suasana atau kejadian yang menimbulkan trauma atau sesuatu yang dapat diasosiasikan dengan kejadian traumatik sebelumnya (misalnya pada bencana tsunami atau banjir bandang, seseorang jika melihat langit mendung dan hujan deras akan timbul rasa takut seakan peristiwa itu akan terjadi lagi)
e) Ganggaun otonomik, gangguan afek dan kelainan tingkah laku semuanya dapat mewarnai diagnosis tapi tidak khas
6) Gangguan Penyesuaian
a) Adanya faktor kejadian atau situasi yang stressful atau krisis kehidupan ( seperti menderita penyakit yang mengancam jiwa, suasana pekerjaan yang baru dan tidak menyenangkan) b) Onset biasanya terjadi dalam 1 bulan setelah terjadinya kejadian yang stressful dan gejala
biasanya tidak bertahan melebihi 6 bulan
c) Gangguan bervariasi mencakup afek cemas, depresif, campuran cemas dan depresif, gangguan tingkah laku yang disertai dengan adanya ketidakmampuan dalam kegiatan rutin sehari-hari
7) Gangguan Somatisasi
a) Adanya banyak keluhan-keluhan fisik yang bermacam-macam yang tidak dapat dijelaskan atas dasar adanya kelainan fisik, yang sudah berlangsung setidaknya 2 tahun
b) Tidak mau menerima nasehat atau penjelasan dari beberapa dokter bahwa tidak ada kelainan fisik yang dapat menjelaskan keluhan-keluhannya.
f. Penatalaksanaan
Antiansietas : Diazepam 2–5 mg tiap 8-12 jam Antidepresan : Amitriptilin 12,5 mg tiap 12-24 jam Antipsikotik : Haloperidol 0,5 mg tiap 12-24 jam
2) Untuk Gangguan Panik sebaiknya diberikan Alprazolam 0,5 mg tiap 8-12 jam sehari jika obatnya tersedia.
3) Obat utama adalah Diazepam yang diberikan secara tunggal.
4) Penambahan dengan Amitriptilin 12,5 mg jika diserta gejala-gejala afek yang depresif dan atau haloperidol 0,5 mg jika gejala-gejalanya cukup berat yang disertai dengan banyaknya keluhan somatik dan atau pikiran-pikiran yang kurang rasional.
5) Segera rujuk ke psikiater jika gangguan neurotik dalam 1 minggu pengobatan tidak memberi efek yang baik.
g. KIE
1) Selain pemberian obat sebaiknya memberi konseling kepada pasien, dengan cara: bersikap empati, memberi dukungan kepada pasien untuk mampu mengatasi sendiri masalahnya, bantu pasien mengenali stressor psikososialnya, lebih banyak mendengarkan keluhan pasien dan membiarkan untuk mengeluarkan unek-uneknya (ventilasi), jangan terlalu banyak memberikan nasehat, tidak terlalu cepat untuk menilai keadaan pasien dan jangan menyalahkan atau menghakimi atas sikap dan perilakunya.
2) Memberi penjelasan tentang penyakit yang dideritanya termasuk dalam gangguan jiwa ringan yang bisa diobati
3) Memberi penjelasan tentang efek samping sedasi dari obat-obat tersebut, sehingga tidak menjalankan kendaraan waktu meminum obat, atau sebaiknya minum obat saat mau tidur
4) Memberi penjelasan untuk tidak meminum obat tanpa resep dokter atau dosis yang sesuai dengan anjuran dokter karena beberapa obat antiansietas seperti diazepam dan alprazolam dapat menimbulkan ketergantungan
5) Menganjurkan pasien untuk berkonsultasi dengan psikiater untuk mendapatkan pelayanan pengobatan yang lebih baik dan penanganan psikoterapi.
9. INSOMNIA
Kompetensi : 4A
Laporan Penyakit : ICD X : G47.0 a. Definisi
Insomnia adalah gejala kelainan dalam tidur berupa kesulitan berulang untuk tidur atau mempertahankan tidur walaupun ada kesempatan untuk itu. Gejala tersebut biasanya diikuti gangguan fungsional saat bangun.
b. Etiologi
Insomnia bukan suatu penyakit, tetapi merupakan suatu gejala yang memiliki berbagai penyebab, seperti kelainan emosional,kelainan fisik dan pemakaian obat-obatan.
Sulit tidur sering terjadi, baik pada usia muda maupun usia lanjut; dan seringkali timbul bersamaan dengan gangguan emosional, seperti kecemasan, kegelisahan, depresi atau ketakutan.
Kadang seseorang sulit tidur hanya karena badan dan otaknya tidak lelah.
Dengan bertambahnya usia, waktu tidur cenderung berkurang. Stadium tidur juga berubah, dimana stadium 4 menjadi lebih pendek dan pada akhirnya menghilang, dan pada semua stadium lebih banyak terjaga. Perubahan ini, walaupun normal, sering membuat orang tua berfikir bahwa mereka tidak cukup tidur.
Pola terbangun pada dini hari lebih sering ditemukan pada usia lanjut. Beberapa orang tertidur secara normal tetapi terbangun beberapa jam kemudian dan sulit untuk tertidur kembali.
Kadang mereka tidur dalam keadaan gelisah dan merasa belum puas tidur. Terbangun pada dini hari, pada usia berapapun, merupakan pertanda dari depresi.
Orang yang pola tidurnya terganggu dapat mengalami irama tidur yang terbalik, mereka tertidur bukan pada waktunya tidur dan bangun pada saatnya tidur.
Hal ini sering terjadi sebagai akibat dari:
Jet lag (terutama jika bepergian dari timur ke barat).
Bekerja pada malam hari.
Sering berubah-ubah jam kerja.
Penggunaan alkohol yang berlebihan.
Efek samping obat (kadang-kadang).
Kerusakan pada otak (karena ensefalitis, stroke, penyakit Alzheimer). c. Gejala
Penderita mengalami kesulitan untuk tidur atau sering terjaga di malam hari dan sepanjang hari
merasakan kelelahan. Awal proses tidur pada pasien insomnia mengacu pada latensi yang
berkepanjangan dari waktu akan tidur sampai tertidur. Dalam Insomnia psiko-fisiologis, pasien
mungkin mengeluh perasaan cemas, tegang, khawatir, atau mengingat secara terus-menerus
masalah-masalah di masa lalu atau di masa depan karena mereka berbaring di tempat tidur terlalu
lama tanpa tertidur. Pada insomnia akut, dimungkinkan ada suatu peristiwa yang memicu, seperti
kematian atau penyakit yang menyerang orang yang dicintai. Hal ini dapat dikaitkan dengan
timbulnya insomnia. Pola ini dapat menjadi tetap dari waktu ke waktu, dan pasien dapat
mengalami insomnia, berulang terus-menerus. Semakin besar usaha yang dikeluarkan dalam
mencoba untuk tidur, tidur menjadi lebih sulit diperoleh. Menonton jam saat setiap menit dan
jam berlalu hanya meningkatkan perasaan terdesak dan usaha untuk tertidur. Tempat tidur
akhirnya dapat dipandang sebagai medan perang, dan tidur lebih mudah dicapai dalam
lingkungan yang asing.
d. Diagnosa
Untuk mendiagnosis insomnia, dilakukan penilaian terhadap:
Pola tidur penderita sakit jiwa
Pemakaian obat-obatan, alkohol, atau obat terlarang.
Tingkatan stres psikis.
Riwayat medis.
Aktivitas fisik.
Diagnosis berdasarkan kepada kebutuhan tidur secara individual.
e. Penatalaksanaan
Pengobatan insomnia tergantung kepada penyebab dan beratnya insomnia.
Jika penyebabnya adalah stres emosional, diberikan obat untuk mengurangi stres. Jika
penyebabnya adalah depresi, diberikan obat anti-depresan seperti
Amitriptilin 12,5 mg tiap 12-24 jamOrang tua yang mengalami perubahan tidur karena bertambahnya usia, biasanya tidak
memerlukan pengobatan, karena perubahan tersebut adalah normal.
Jika gangguan tidur berhubungan dengan aktivitas normal penderita dan penderita merasa sehat,
bisa diberikan obat tidur untuk sementara waktu. Alternatif lain untuk mengatasi insomnia tanpa
obat-obatan adalah dengan
terapi
hipnosis
atau
hipnoterapi
.
f. KIE
Penderita insomnia hendaknya tetap tenang dan santai beberapa jam sebelum waktu tidur tiba
dan menciptakan suasana yang nyaman di kamar tidur; cahaya yang redup dan tidak berisik.
10. KONJUNGTIVITIS BAKTERIAL Kompetensi : 4
Laporan Penyakit : 1005 ICD X : H10
a. Definisi
Konjungtivitis bakterial sering dijumpai pada anak-anak, biasanya dapat sembuh sendiri.
b. Penyebab
Infeksi ini umumnya disebabkan oleh bakteri Staph. epidermidis, Staph. aureus, Strep. pneumoniae dan H. influenza. Penyebaran infeksi melalui kontak langsung dengan sekret air mata yang terinfeksi.
c. Gambaran Klinis
1) Mata terlihat merah.
2) Rasa mengganjal dan panas pada mata.
3) Sekret yang banyak, pada saat bangun tidur kelopak mata lengket dan sulit dibuka.
4) Kelopak mata bengkak dan berkrusta. Pada keadaan awal sekret berbentuk serosa (watery) menyerupai konjungtivitis virus, namun dalam beberapa hari sekret menjadi mukopurulen, kadang disertai dengan air mata berwarna merah (darah).
5) Injeksi konjungtiva dapat terlihat dengan jelas.
6) Pada pemeriksaan dengan membuka kelopak mata bawah dan membalik kelopak mata atas, tampak selaput (membran) yang dapat dilepaskan dengan menggunakan cottonbuds (sebelumnya diberikan tetes mata anestesi topikal).
d. Diagnosis
Sekret mukopurulen.
e. Penatalaksanaan
1) Pemberian antibiotik dapat diberikan dalam bentuk tetes mata dan salep mata. Kloramfenikol tetes mata 1-2 tetes tiap 4-6 jam. Salep mata kloramfenikol dapat diberikan untuk mendapatkan konsentrasi yang tinggi. Diberikan sebelum tidur agar tidak mengganggu aktivitas sehari-hari, karena pemberian salep mata dapat mengganggu penglihatan. Contoh:Cendoxitrol,Aletrol
2) Antibiotik oral (amoksisilin) dapat diberikan bila radang meluas (terutama pada pasien anak).
f. KIE
1) Tujuan pengobatan: menyembuhkan infeksi dan mencegah komplikasi.
2) Pembersihan sekret dengan kassa steril yang dibasahi dengan NaCl atau air matang.
3) Cara pemakaian tetes mata: setelah diteteskan, tutup mata, tekan daerah punctum lakrimal (kantus medial) di daerah nasal.