BAB I PENDAHULUAN. tidak ada seorang pun yang akan menyakiti dirinya. Alam menitipkan si mungil

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Jika ada ungkapan bahwa anak adalah titipan Tuhan yang harus dijaga tentunya ungkapan tersebut bukanlah ungkapan yang tanpa makna. Pada waktu dilahirkan anak memberikan kepercayaan sepenuhnya pada kedua orang tua untuk mengasuh dirinya. Anak tidak pernah berprasangka bahwa orang tua merekalah yang akan menghancurkan hidup mereka. Demikian juga harapan setiap anak terhadap orang dewasa lain disekitarnya. Mereka percaya seratus persen bahwa tidak ada seorang pun yang akan menyakiti dirinya. Alam menitipkan si mungil pada orang dewasa karena tidak seperti kebanyakan binatang manusia membutuhkan waktu yang lama untuk mandiri (Huda, 2008).

Anak adalah makhluk sosial seperti juga orang dewasa. Anak membutuhkan orang lain untuk dapat membantu mengembangkan kemampuannya, karena anak lahir dengan segala kelemahan sehingga tanpa orang lain tidak mungkin dapat mencapai taraf kemanusiaan yang normal. Anak merupakan makhluk sosial. Perkembangan sosial anak membutuhkan pemeliharaan kasih sayang dan tempat bagi perkembangannya. Anak juga mempunyai perasaan, pikiran, kehendak tersendiri yang semuanya itu merupakan totalitas psikis dan sifat-sifat serta struktur yang berlainan pada tiap-tiap fase perkembangan pada masa anak-anak (KPAI, 2013). Anak merupakan aset bangsa

(2)

sebagai bagian dari generasi muda, anak berperan sangat strategis sebagai succesor suatu bangsa. Dalam konteks Indonesia anak adalah penerus cita-cita perjuangan bangsa. Peran strategis ini telah disadari oleh masyarakat Internasional untuk melahirkan sebuah konvensi yang intinya menekankan posisi anak sebagai makhluk manusia yang harus mendapatkan perlindungan atas hak-hak yang dimilikinya (KPAI, 2012).

Keluarga adalah lingkungan pertama dalam kehidupan anak, tempat untuk anak belajar bersosialisasi. Keluarga memberikan dasar pembentukan tingkah laku, watak, moral dan pendidikan kepada anak. Pengaruh keluarga dalam pembentukan dan perkembangan kepribadian sangatlah besar artinya. Banyak faktor dalam keluarga yang ikut berpengaruh dalam proses perkembangan anak, seperti perkembangan sosial emosional anak yang dapat terbentuk dari lingkungan keluarga maupun lingkungan di sekitar anak. Perkembangan emosi dapat di ekspresikan sebagai peran yang sangat penting dalam menunjukkan kepada orang lain apa yang dirasakan seseorang, mengatur perilakunya dan sebagai landasan dalam hubungan sosial. Meskipun demikian, kemampuan anak-anak dalam menyalurkan emosi mereka sangat beragam. Bahkan hal yang paling menonjol yang dimiliki oleh anak-anak yang bermasalah adalah anak mengalami kesulitan dalam pengaturan emosi mereka. Orangtua memegang peranan yang sangat penting dalam pembentukan kepribadian bagi anak-anaknya. Baik buruknya kepribadian anak-anak di masa yang akan datang banyak ditentukan oleh pendidikan dan bimbingan orangtuanya. Di dalam keluarga anak pertama kali memperoleh pendidikan sebelum pendidikan-pendidikan yang lain. Sejak anak-anak lahir dari rahim ibunya, orangtua selalu memelihara anak-anak-anak-anak mereka

(3)

dengan penuh kasih sayang dan mendidiknya secara tepat dengan harapan anak-anaknya tumbuh dan berkembang menjadi manusia dewasa yang baik. Pendidikan yang diberikan di lingkungan keluarga berbeda dengan pendidikan yang dilaksanakan di sekolah, karena pendidikan dalam keluarga bersifat informal yang tidak terikat oleh waktu dan program pendidikan secara khusus (Lestari, 2012).

Masih banyak anak-anak Indonesia yang rentan terhadap situasi kekerasan, beberapa fakta yang cukup memprihatinkan. Seperti halnya anak-anak di belahan dunia lain, anak-anak di Indonesia pun mengalami kekerasan dalam rumah tangga, di jalanan, di sekolah dan diantara teman sebaya mereka. Hal tersebut mengakibatkan banyak anak yang secara tidak sadar berkonflik dengan hukum, tetapi ada juga anak yang berkonflik dengan hukum sebagai akibat tindak kriminal yang memang secara sadar dilakukan oleh anak (Subekti, 2012)

Secara umum kekerasan dapat didefinisikan sebagai suatu tindakan yang dilakukan oleh individu kepada individu lain yang mengakibatkan gangguan fisik maupun mental. Yang di maksud dengan anak disini adalah individu yang belum mencapai usia delapan belas tahun. Dengan demikian, kekerasan terhadap anak merupakan peristiwa pelakuan fisik, mental atau seksual terhadap anak yang belum mencapai delapan belas tahun yang pada umunya dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai tanggung jawab terhadap kesejahteraan anak yang mana itu semua diindikasikan dengan kerugian dan ancaman terhadap kesehatan dan kesejahteraan anak. Perilaku kekerasan mengandung risiko fisik, psikologis maupun dan sosial bagi orang lain maupunn pelaku kekerasan. Pelaku kekerasa tidak hanya mencakup aspek tindakan yang bersifat fisik, tetapi juga mencakup kekerasan verbal, psikologis dan simbolis atau kombinasi dari semua aspek-aspek

(4)

tersebut (Suyanto, 2010). Kekerasan pada fisik mudah di ketahui karena akibatnya bisa dilihat langsung pada tubuh korban. Menurut UU KDRT No.23 Tahun 2004, kekerasan pada fisik tersebut antara lain adalah dipukul, ditendang, ditampar, dicubit, dijewer, dilukai, dijambak, dibenturkan, dijemur di bawah matahari, dan sebagiannya. Semuanya mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka. Dampak dari kekerasan seperti ini selain menimbulkan luka dan trauma pada korban, juga seringkali membuat korban meninggal dunia.

Selain itu, hal yang terpenting yang harus di ketahui adalah dampak kekerasan pada anak. Menurut Reno (2013) dampak kekerasan pada anak menimbulkan sebuah hal yang tidak bisa dianggap remeh. Ketika seorang anak mengalami tidak kekerasan dari orang tua mereka, maka secara langsung mental dan juga psikologi mereka akan sangat terpengaruh bahkan hingga ke masa depan. Seorang anak memang sebaiknya diberikan kelembutan, dan sebuah didikan yang tepat tanpa mencakup kekerasan. Dengan adanya didikan yang tepat, maka anak akan tumbuh menjadi seorang yang cerdas, tumbuh dengan baik, dan percaya diri. Salah satu dampak kekerasan tersebut adalah agresif. Anak tanpa sadar akan lebih agraesif ketika menerima tindak kekerasan yang begitu konsisten dari orang tua mereka. Dengan menjadi orang tua yang terus menekan anak, maka secara langsung anak akan terpojok dan mendapatkan sebuah sifat pemberontak. Mereka juga meniru apa yang orang tua lakukan dengan menjadi orang yang agresif.

Apapun bentuk kekerasan tentu akan menghancurkan setiap anak. Anak yang dibesarkan dengan penuh kekerasan akan membuat hatinya tumpul dari rasa kemanusiaan. Anak yang terbiasa diperlakukan dengan kasar akan berlaku kasar pula ke pihak lain. Anak yang dibesarkan dengan celaan akan belajar memaki.

(5)

Selanjutnya apa yang akan terjadi apabila kekerasan terjadi pada saat anak berusia sekolah dasar dimana anak usia sekolah dasar merupakan masa transisi yang ditandai dengan berakhirnya masa kanak-kanak yaitu suatu masa ketika anak tumbuh dan berkembang dalam semua bidang dan mulai pada suatu fase pengembangan yang lebih perlahan-lahan. Tidak bisa dibayangkan apabila pada masa perkembangan anak mengalami tekanan. Padahal pada masa-masa ini terkenal dengan kuat akan ingatannya. Jadi, apa yang dialami pada masa-masa ini akan teringat sampai dewasa bahkan sampai tua (Chomaria, 2010).

Di Indonesia juga terdapat Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak. Meskipun sudah diatur dalam undang-undang, kasus kekerasan pada anak justru meningkat akibat minimnya implementasi. Ini menyebabkan anak-anak terus menjadi korban kekejaman dan ketidak dewasaan orang tua. Bagaimanapun juga situasi memprihatinkan ini harus dicegah. Salah satu penyebab maraknya kasus kekerasan pada anak adalah belum tersosialisasinya berbagai peraturan dan undang-undang tentang perlindungan anak, seperti undang-undang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga, konvensi hak anak, dan undang-undang perlindungan anak. Masyarakat pun tidak ingin turut campur tangan manakala ada kekerasan anak dalam masyarakat (Nadiatuzzahra, 2013).

KPAI (2015) mengemukakan bahwa statistika kekerasan pada anak meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2010 jumlah kekerasan pada anak berjumlah 171 kasus. Pada tahun 2011 meningkat menjadi 2.178 kasus. Pada tahun 2012 meningkat menjadi 3.512 kasus. Pada tahun 2013 meningkat menjadi 4.311 kasus. Pada tahun 2014 meningkat menjadi 5.066 kasus dan pada tahun 2015/juli

(6)

meningkat menjadi 6.006 kasus. KPAI belum mengabarkan jumlah tahun 2016 kasus kekerasan pada anak. Tetapi KPAI meyakinkan bahwa tahun 2016 sama saja seperti tahun-tahun sebelumnya, selalu akan ada peningkatan terhadap kasus kekerasan pada anak di Indonesia. Itu artinya, tahun 2016 kasus kekerasan pada anak meningkat seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun demikian, angka-angka yang dipublikasi tersebut masih sebatas kasus yang dilaporkan atau yang memperoleh pelayanan di Rumah Sakit, Puskesmas, KPAI, kepolisian dan lembaga pelayanan dan perlindungan anak. Sedangkan angka-angka yang sesungguhnya masih sulit ditemukan, karena kekerasan anak ini merupakan fenomena gunung es. Banyak kasus kekerasan anak yang tidak terungkap ke publik dengan berbagai alasan (Surandi, 2013). Data frekuensi KPAI 2015 menunjukan bahwa tindak kekerasan terhadap anak, kekerasan fisik lah yang merupakan tingkat tertinggi dari kekerasan-kekerasan anak yang lainnya. Kekerasan anak yang lainnya tersebut meliputi kekerasan eksploitasi, penelantaran, seksual, maupun emosional.

Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Hartini (2009) tentang agresi anak yang tinggal dengan keluarga kekerasan rumah tangga, hasil penelitiannya menunjukan bahwa subjek dan significant other sama-sama mengalami kekerasan dalam rumah tangga antara lain kekerasan fisik dan kekerasan emosional. Subjek setiap hari selalu melihat kedua orang tuanya bertengkar seperti ketika ayahnya sedang memukul dan menampar ibunya, selain itu subjek juga sering mendengar bahwa ayahnya memanggil ibunya dengan kata-kata kasar seperti bego atau tolol. Kekerasan yang dialami subjek tidak beda jauh dengan ibunya, dimana ia sering dipukul dengan menggunakan tangan, dilempari sapu, sendal atau kaleng, subjek

(7)

juga sering mendengar ayahnya memanggil ia dengan kata-kata bego dan tolol saat ia tidak bisa mengerjakan PRnya. Dalam hal ini subjek setiap hari mengalami serta mengamati kekerasan yang dilakukan oleh ayahnya kepada ia dan ibunya, maka hal ini akan berdampak terhadap perilaku subjek karena anak yang tinggal dalam keluarga dengan kekerasan dalam rumah tangga cenderung memiliki perilaku agresi yang tinggi. Agresi yang dilakukan oleh subjek berupa agresi verbal dan non verbal. Agresi verbal seperti penggunaan kata-kata kasar yaitu bego, tolol, tai kucing. Agresi non verbal seperti memukul. Faktor yang menyebabkan terjadinya perilaku agresi antara lain proses belajar, imitasi, penguatan. Proses belajar yang didapatkan oleh subjek tidak lain karena seringnya ia melihat serta mengalami kekerasan, sehingga subjek mulai coba-coba melakukan agresi. Perilaku agresi yang dilakukan subjek tersebut, tidak lain meniru seperti perlakuan ayahnya terhadap subjek dan ibunya, ternyata perilaku agresi bagi subjek membawa dampak yang menyenangkan bagi dirinya, dimana setiap subjek melakukan agresi verbal maka teman dan adiknya akan patuh atau tunduk kepada dirinya.

Penelitian yang dilakukan oleh Afifi, Taillieu, Cheung, Katz, Tonmyr, dan Sareen (2008) menunjukan bahwa pelecehan fisik, pelecehan seksual, dan penganiayaan emosional yang sangat umum di kalangan anak-anak berusia sepuluh sampai lima belas tahun tahun. Untuk jenis tunggal penganiayaan anak, prevalensi tertinggi rumah orang tua tunggal berkisar lima puluh koma enam persen, bantuan sosial empat puluh tiga koma nol persen, kehabisan uang secara teratur tiga puluh koma tujuh persen dan perumahan yang tidak aman tiga puluh koma sembilan persen, dilaporkan untuk kasus dibuktikan dari mengabaikan.

(8)

Menjadi laki-laki, usia yang lebih tua, yang tinggal di rumah orang tua tunggal, rumah tangga ekonomi menengah kebawah, ia menjadi bergerak dua kali atau lebih dalam satu tahun terakhir, dan kepadatan penduduk rumah tangga dikaitkan dengan peningkatan kemungkinan gangguan fungsional anak..

Penelitian yang di lakukan oleh Auslander, Sterzing, Threlfall, Gerke, dan Edmond (2016) menunjukan bahwa penelitian meneliti hubungan antara sejarah kekerasan anak dan perilaku agresif di kalangan remaja perempuan yang terlibat dalam kekerasan anak. Dan menentukan apakah hubungan gejala stres pasca trauma dan depresi di mediasi. Peserta dua ratus tiga puluh tujuh anak remaja perempuan. Hasil menunjukan bahwa delapan puluh sembilan persen dari remaja melakukan tindakan agresif terhadap orang lain. Secara khusus tujuh puluh dua persen terlibat dalam agresi fisik, tujuh puluh delapan koma lima persen terlibat dalam agresi non fisik dan lima puluh satu koma lima persen mendukung agresi rasional. Keterkaitan antara kekerasan fisik dan agresi tidak dimediasi oleh salah satu stres pasca-traumatik atau depresi. Temuan menunjukkan bahwa di kalangan remaja perempuan dengan sejarah kekerasan emosional, stres pasca trauma dan depresi merupakan faktor risiko yang dapat dimodifikasi potensial target untuk mengurangi agresi.

Penelitian yang dilakukan oleh Kitzmann (2012) menunjukkan bahwa enam puluh tiga persen dari saksi anak faring lebih buruk daripada rata-rata anak yang tidak terpapar kekerasan antar-orangtua. Masalah termasuk agresi, kecemasan, kesulitan dengan teman sebaya dan masalah akademik, semua itu untuk derajat yang sama. Untuk anak-anak dari segala usia, tingkat yang sama dari masalah penyesuaian terlihat pada anak-anak yang menyaksikan kekerasan dalam rumah

(9)

tangga, anak-anak yang dilecehkan secara fisik dan anak-anak yang baik menyaksikan dan mengalami agresi fisik. Anak-anak yang terpapar kekerasan dalam rumah tangga beresiko untuk berbagai masalah psikososial, bahkan ketika mereka sendiri tidak terkena agresi fisik. Masalah-masalah ini mirip dengan yang terlihat pada anak-anak dilecehkan secara fisik, menunjukkan bahwa kekerasan di mana saja, di keluarga dapat mengganggu perkembangan anak. Walaupun anak-anak yang sangat muda yang tidak proporsional terkena kekerasan dalam rumah tangga, sedikit penelitian telah difokuskan pada penyesuaian anak dalam kelompok usia ini. Ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa anak-anak muda lebih berisiko, mungkin karena pemahaman mereka yang terbatas konflik dan strategi mengatasi terbatas.

Penelitian yang di lakukan oleh Evans, Davies dan DiLillo (2008) hasil dari enam puluh studi ditinjau mengungkapkan efek ukuran tertimbang d-nilai rata-rata dari nol koma empat puluh delapan dan nol koma empat puluh tujuh untuk hubungan antara paparan kekerasan dalam rumah tangga dan anak-anak internalisasi dan eksternalisasi gejala, masing-masing, menunjukkan efek moderat. Sebuah lebih besar berarti tertimbang efek ukuran d-nilai satu koma lima puluh empat diperoleh untuk hubungan antara paparan kekerasan dan trauma masa kecil gejala domestik, meskipun angka ini didasarkan pada hanya enam penelitian. Moderator analisis gender menunjukkan bahwa hubungan antara paparan kekerasan dalam rumah tangga dan gejala eksternalisasi adalah secara signifikan lebih kuat untuk anak laki-laki daripada anak perempuan. analisis lebih lanjut meneliti usia, usia berdasarkan gender, dan variabel pengaturan rekrutmen mengungkapkan tidak ada signifikan efek tidak bisa.

(10)

Penelitian yang dilakukan oleh Ticusan (2012) menunjukan bahwa perkembangan harmonis anak adalah tergantung pada kepuasan yang tepat dari kebutuhan yang melibatkan tahap perkembangan yang berbeda melalui mana mereka pergi. Para orang tua merasa sering tak berdaya tidak tahu untuk mengidentifikasi kebutuhan nyata anak-anak mereka, atau mereka melaporkan salah untuk masalah yang mengakibatkan efek negatif yang kadang-kadang dapat mempengaruhi kehidupan perilaku orang dewasa di masa depan. Keluarga sebagai faktor utama bahwa anak adalah sehubungan tetap permanen tengara dan kondisi fundamental bagi orang, dalam manifestasi sikap sipil, perilaku moral. Pertumbuhan dan perkembangan generasi muda, integrasi sosial nya adalah tujuan utama dari kedua keluarga dan masyarakat. Orang tua, yang bertanggung jawab membesarkan dan mendidik anak-anak membutuhkan keterampilan pendidikan. Tujuannya adalah untuk membentuk pendidikan anak konstruktif, mengubah sikap orang tua tentang kebutuhan perkembangan anak. Melalui konseling dan pendidikan mereka akan tahu bagaimana untuk memecahkan krisis dalam kehidupan di bawah umur, akan menghilangkan agresi, akan mengakuisisi sendiri beberapa keterampilan dan kemampuan mengenai pendidikan anak tergantung pada kepribadian mereka. pendidikan orang tua memberikan kontribusi untuk emansipasi sosial dan spiritual mereka. Melanjutkan pendidikan sebagai subsistem, menanggapi kebutuhan spesifik dan menawarkan alternatif beton, cara-pendidikan diri dan kondisi liberal.

Penelitian yang di lakukan oleh Anggraeni (2013) menunjukan bahwa penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana bentuk-bentuk dan dampak kekerasan anak dalam rumah tangga . Banyak kasus kekerasan dalam rumah

(11)

tangga, terlebih lagi terhadap anak yang kondisinya memungkinkan menjadi korban kekerasan tersebut. Melihat fenomena yang ada, dimana kabupaten Situbondo berada di urutan ketiga di Provinsi Jawa Timur terkait kekerasan dalam rumah tangga dan keluarga sudah tidak bisa berfungsi lagi sesuai fungsinya ini karena kasus KDRT, sehingga keluarga sudah tidak menjadi tempat yang aman untuk berlindung bagi anggota keluarganya terutama anak mereka. Metode dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Pada pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi, kemudian dianalisa menggunakan triangulasi sumber dan teori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pertama, penulis mengetahui bentuk-bentuk kekerasan yang terjadi terhadap anak dalam rumah tangga, kekerasan fisik berupa pemukulan menggunakan alat maupun tidak menggunakan alat. Kekerasan psikis anak menerima kata-kata kasar, dituduh dan penghinaan. Kekerasan anak secara sosial berupa kurangnya perhatian dari orang tua, anak tidak diberikan biaya hidup, anak tidak mendapatkan biaya pendidikan dari orang tua. Kedua, dampak kekerasan yang dialami anak berupa luka, memar, benjolan, rasa malu bertemu orang lain, mengasingkan diri dari lingkungan keluarga, dan renggangnya hubungan antara pelaku kekerasan dengan anak yang menjadi korban kekerasan.

Penelitian yang di lakukan oleh Aisyah (2010) menunjukan bahwa lingkungan keluarga merupakan lingkungan terdekat bagi remaja, sehingga keluarga juga merupakan sumber bagi timbulnya sifat agresi anak. Salah satu faktor yang diduga menjadi sebab timbulnya tingkah laku agresif adalah kecenderungan pola asuh tertentu dari orang tua. Pola asuh orang tua merupakan interaksi antara orang tua dengan anaknya selama mengadakan pengasuhan, dan setiap pola asuh memberi

(12)

kontribusi terhadap perilaku agresif. Kontribusi yang diberikan dapat negatif maupun positif. Oleh karena itu, pada masing-masing tipe pola asuh terdapat sisi kelemahan dan sisi kekuatannya. Berkaitan dengan hal ini maka orang tua harus semakin menyadari posisinya dan menerapkan pola asuh yang paling sedikit atau bahkan tidak merangsang potensi agresif pada anak-anak asuhannya. Disadari bahwa hampir tidak ada orang tua yang mempraktikkan pola asuh secara murni pada salah satu tipe. Kecenderungan-kecenderungan pada tipe pola asuh tertentu nampaknya lebih banyak digunakan oleh orang tua. Atau bahkan orang tua mempraktikkan pola asuh secara eklektik, artinya melakukan pengasuhan kepada anaknya secara situasional. Namun, penulis sarankan agar orang tua lebih dominan menggunakan pola asuh demokratis, karena tipe pola asuh tersebut memberi kontribusi negatif bagi munculnya agresifitas.

Penelitian yang dilakukan oleh Tantama (2012) menunjukan bahwa, latar belakang di perkampungan Badran Pingit dengan keadaan perekonomian yang sulit, latar belakang keluarga yang buruk, pendidikan masyarakat yang rendah, kehidupan yang keras serta situasi perkampungan yang sempit dan padat mempengaruhi kondisi sosial budaya masyarakat sekitar seperti perilaku agresif pada anak yaitu verbal dan fisik. Di lokasi penelitian anak memunculkan perilaku agresivitas yang tinggi seperti perilaku kasar, menentang, sulit diatur, mencela, membentak, melempar, memukul, menendang, meludah, ataupun mengumpat. Selain itu, anak-anak cenderung sulit untuk mengendalikan diri, dominan anak dikuasai oleh emosi yang tinggi dan kurang stabil sehingga mengakibatkan perilaku yang cenderung agresif pula, adanya kematangan seksual dini dan juga kurangnya tata krama seperti kejujuran, penghargaan, saling menghormati, dan

(13)

lain-lain. Peran lingkungan menjadi faktor yang sangat penting bagi perkembangan perilaku anak baik lingkungan keluarga atau lingkungan masyarakat sekitarnya. Di lingkungan tersebut terjadi transfer dinamika lingkungan seperti perilaku, kebiasaan, situasi maupun budaya yang berkembang tersebut ke diri anak. Lingkungan beserta dengan dinamikanya tersebut akan menjadi model bagi anak dalam tumbuh kembang perilakunya. Ketika lingkungan anak menunjukkan perilaku-perilaku agresi dan memperlakukan anak dengan stimulus-stimulus yang dapat memicu perilaku agresi maka anak akan melakukan modeling atau meniru perilaku-perilaku yang ditunjukkan lingkungannya tersebut dan sebaliknya ketika lingkungan keluarga maupun masyarakat sekitar menunjukkan, memperlakukan dan memberikan sikap dan perilaku yang positif pada anak maka sikap dan perilaku anak akan menunjukkan sesuai model figur atau sesuai dengan lingkungan yang diamati/dicontoh. Oleh karena itu, sangat penting akan pembelajaran positif dari lingkungan keluarga dan lingkungan sekitar sehingga anakpun akan terhindar dari perilaku agresi dan dapat belajar dan berperilaku secara positif.

Penelitian yang dilakukan oleh Verawati dan Ernawati (2014) menunjukan bahwa, banyak orangtua menganggap kekerasan pada anak adalah hal yang wajar. Mereka beranggapan kekerasan adalah bagian dari mendisiplinkan anak. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui persepsi orangtua tentang kekerasan anak. Sampel penelitian ini adalah orang tua yang mempunyai anak usia sekolah Kecamatan Jetis Ponorogo. Rumus yang digunakan untuk mengukur variabel ini dengan menggunakan skor T. Hasil penelitian didapatkan lima puluh delapan koma lima persen berpersepsi negatif dan empat puluh satu koma lima persen

(14)

berpersepsi positif tentang kekerasan pada anak. Faktor yang mempengaruhi responden berpersepsi negative adalah informasi dan pengetahuan yang kurang, serta social ekonomi yang relative rendah. Berdasar hasil tersebut diharapkan lembaga terkait untuk memberikan penyuluhan tentang hak anak dan kekerasan anak.

Penelitian yang dilakukan oleh Herlinawati (2016) menunjukan bahwa subjek adalah siswi SMEA yang berusia 17 tahun yang memiliki dua orang adik laki-laki subjek mengalami abuse dari ibunya sejak usia enam tahun. Secara fisik subjek sering mendapatkan pukulan,cubitan dan sering dijewer oleh ibunya bila subjek tidak langsung melaksanakan perintah ibunya, secara psikologis subjek sering menerima tekanan-tekanan dengan kata-kata kasar dari ibunya hal ini yang membuat subjek marah dan sakit hati tetapi subjek tidak pernah mengalami kekerasan secara seksual. Emosional verbal, ibu subjek bila marah sering mengeluarkan kata-kata kasar, fisik bersifat sosial, subjek pernah bertengkar dengan temannya karena subjek dihina oleh temannya, fisik bersifat anti sosial subjek bertengkar dengan adik kelasnya karena subjek ingin mencari perhatian dari ibunya. Frustasi, subjek mengalami frustasi karena subjek tidak masuk ke sekolah favoritnya, penghinaan verbal, bila subjek sedang bertengkar dengan teman atau adiknya biasanya subjek mengeluarkan kata-kata kasar, kondisi yang tidak menyenangkan, subjek tidak merasa nyaman di rumahnya sendiri hal ini dikarenakan ibu subjek yang sering marah-marah, faktor kerelaan, subjek merasa tertekan dengan semua perintah ibunya yang sering menyuruh-nyuruh subjek, meniru orangtua, subjek suka mengikuti perilaku ibunya bila sedang marah, orangtua membiarkan, ayah subjek tidak membolehkan subjek melakukan

(15)

kekerasan pada orang lain tapi sebaliknya ibu subjek tidak pernah mau peduli dengan subjek, akibat acara-acara tv, subjek suka mengikuti perilaku kasar dari acara-acara tv seperti acara sinetron atau di film action.

Observasi awal dan informasi yang di dapat peneliti menunjukan bahwa subyek A inisial L cenderung memiliki sikap yang agresif, dibuktikan dengan orang tua L pernah di panggil ke sekolah karena kasus ia bertengkar dengan teman di sekolahnya. Verbal L juga sangat berani sekali untuk kisaran anak yang baru berusia 9 tahun. Pada saat melakukan observasi sikap yang ditunjukan oleh L kepada kakaknya pada saat itu adalah ia bersikap kasar terhadap kakak nya seperti menendang dan berkata kasar. Kakaknya tersebut sering di pukul maupun di tendang dengan L, “tetapi aku selalu bales apa yang dia lakuin ke aku kak” ucap kakak L. Dan pada saat ia bermain dengan temannya pun ia mengucapkan kata kasar walaupun mengucapkannya sambil tersenyum, ia mengucap “bukan begitu galang, bego banget deh lu”. Berdasarkan informasi dari nenek L dan kakak L, L seperti itu dikarenakan ibu dan bapak tiri nya yang sekarang ini sangat kasar sekali terhadap L. Setiap L tidak mau menuruti perintah ibu nya seperti mencuci piring atau mengangkat air, ibu nya tersebut langsung melakukan kekerasan fisik terhadapnya. “aku suka di pukul pake sapu, gayung, nendang, terus di injek, jedotin, dan lempar pake batu.” ucap L. Dan nenek L berkata ibu L tersebut memang kasar sekali terhadap L. Sering melakukan kekerasan fisik yang tidak semestinya.

Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut oleh karena itu peneliti ingin mengetahui lebih lanjut gambaran agresivitas terhadap anak-anak yang memang memiliki latar belakang atau mendapati kekerasan fisik dirumah.

(16)

1.2Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan maslah penelitian ini adalah: Bagaimana gambaran agresivitas usia kanak-kanak akhir yang mengalami kekerasan fisik oleh ibu kandung.

1.3Tujuan Penelitian

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara mendalam mengenai gambaran agresivitas pada anak yang mengalami kekerasan fisik.

1.4Manfaat Penelitian

Dari hasil penelitian ini, diharapkan dapat memberikan manfaat yang bersifat Teoretis dan Praktis.

1.4.1 Manfaat Teoritis

1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi penelitian-penelitian selanjutnya dan penelitian ini dapat menjadi bahan referensi dalam mengembangkan yaitu bagaimana gambaran agresivitas yang mengalami kekerasan fisik tersebut.

2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang bermanfaat terutama bagi perkembangan ilmu psikologi, khususnya psikologi anak dan psikologi perkembangan serta dapat dijadikan bahan referensi bagi penelitian selanjutnya terutama dalam mengkaji variabel yang berkaitan dengan kekerasan pada anak ataupun perilaku agresi.

(17)

1.4.2.1Bagi Orang Tua

1. Dengan melakukan penelitian ini peneliti mengharapkan bahwa para orangtua paham penuh mengenai pentingnya mendidik anak dengan bijak serta orang tua membekali diri dengan pengetahuan tentang tumbuh kembang anak serta proses mendidik anak dengan baik dan penuh kasih sayang tanpa mengurangi apapun kebutuhan yang diperlukan anak semasa pertumbuhannya hingga dewasa kelak.

1.4.2.2 Bagi Masyarakat

1. Menambah wawasan masyarakat tentang dampak melakukan kekerasan pada anak untuk anak itu sendiri.

2. Bagi penegak hukum agar dapat melindungi anak-anak dari kejahatan ataupun kekerasan psikis yang terjadi di dalam keluarga yang merupakan wujud dari terjaminnya hak asasi manusia dan sesuai dengan UU 1945.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :