Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sains
Program Studi Matematika
Oleh :
Agus Galihpurbajati NIM : 023114016
PROGRAM STUDI MATEMATIKA JURUSAN MATEMATIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SANATA DHARMA
dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.
Yogyakarta,………2007 Penulis
Agus Galihpurbajati
Poma-poma wekas mami
Anak putu aja lena
Aja ketungkul uripe
Lan aja duwe kareman
Marang pepaes donya
Siyang dalu dipun emut
Urip cadhangan antaka
( Surat Wulang Reh, Paku Buwono IV )
KUPERSEMBAHKAN KARYA YANG SEDERHANA INI
KEPADA TUHAN YESUS DAN BUNDA MARIA
YANG SELALU MELINDUNGIKU
BAPAK DAN IBUKU YANG SELALU MELIMPAHKAN
SELURUH KASIH SAYANGNYA KEPADAKU
SERTA Ndo’ YANG SELALU DI SAMPINGKU
suatu item memiliki waktu dimana item tersebut akan bertahan hidup sebelum akhirnya akan mengalami kegagalan. Data yang diambil dari waktu bertahan hidup suatu item sebelum item tersebut mengalami kegagalan disebut data survival atau data survivor. Model matematis waktu survival dapat diduga dari data waktu bertahan hidup n item yang diamati. Untuk menduga model survivor lebih lanjut, diperlukan distribusi probabilistik yang sesuai. Untuk setiap n item, bertahan ke waktu t dapat dianggap sebagai percobaan Bernoulli, jadi jumlah item yang bertahan ke waktu t, (n(t)), mempunyai distribusi Binomial dengan parameter n dan probabilitas suksesnya S(t), di mana sukses menunjukkan bahwa item dapat bertahan hingga ke waktu t. Tulisan ini membahas Metode Non parametrik untuk menduga model fungsi survivor. Pendekatan distribusi normal untuk binomial digunakan untuk menentukan selang kepercayaan parameter fungsi survivor.
data is taken from the survival times of an item before the item fails. The Survival time mathematical model can be estimated from the survival time data of the n studied-item. An appropriate probabilistic distribution is needed to estimate the survivor model in further. For each of the n item that survives to time t can be considered as a Bernoulli trial. Thus the number of items that survives to time t, n(t), has a Binomial distribution with parameter n and probability of success S(t), where the success shows that the item can survive to time t. This writing discusses about Nonparametrical method to estimate the survivor function model. The normal approximation to the binomial distribution is used to determine the parameter confidence interval of the survivor function.
dengan baik. Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana sains.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini dapat diselesaikan karena bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Ir. Ig. Aris Dwiatmoko, M.Sc. sebagai dekan Fakultas MIPA Universitas Sanata Dharma dan juga sebagai dosen pembimbing akademik sekaligus pembimbing skripsi yang dengan sabar membimbing dan memberikan masukan-masukan yang sangat berarti selama penulis menempuh studi dan dalam proses penyusunan skripsi ini.
2. Bapak YG. Hartono, S.Si., M.Sc. sebagai Ketua Program Studi Matematika, Fakultas MIPA, Universitas Sanata Dharma.
3. Ibu Ch. Enny Murwaningtyas, S.Si, M.Si dan ibu Lusia Krismiyati Budiasih, S.Si, M.Si selaku dosen penguji.
4. Bapak dan Ibu dosen FMIPA khususnya Program Studi Matematika yang telah banyak memberikan banyak ilmu kepada penulis.
5. Ibu Warni, Mas Tukijo dan Ibu Linda atas semua bantuannya. 6. Perpustakaan USD dan staff atas fasilitas dan pelayanannya.
7. Kedua orangtuaku, Bapak P. Purwiyono dan Ibu Ch. Sukiyem, yang selalu memberi dukungan kepada penulis, “ Aku sangat menyayangi kalian “
atas doa-doanya. Tak lupa juga Pakde Bagyo, Bude Kat, Mas Nug, Mba Tiwik, Mbak Nia.
9. Katarina Kartika, seorang yang selalu ada untukku, selalu mengasihi, menyayangi dan mendukungku (MsbmA).
10. Pak Sardjono dan Ibu atas doa restunya, juga Mbak Kus dan Mas UQ.
11. Sahabat-sahabatku: Bani, Aan, Ijoep, Taim, Markus, Tato, Priska yang selalu penuh keceriaan, terima kasih untuk semuanya.
12. Teman-teman angkatan 2002, kapan kita makrab lagi (10-10-10 ? )
13. Anak-anak kos PJ’S : Andi untuk komputer dan segala pengalaman hidup. Koencoeng untuk motornya ☺. Doni untuk kebaikanya serta Ari untuk cerita-ceritanya. Poeji, Eli, Angga, Danang, mBah Jo, Putu, terima kasih atas kebersamaan yang telah kita lewati. Mas Disiplin untuk tukar pikirannya. Tak lupa Pak Djan dan Bu Djan atas kos-kosannya yang telah memberi banyak keceriaan kepada penulis.
14. Kodok Ijo Comunity : Gondrong, Tsu Min, Didit, Topan, Felix untuk semuanya.
15. Mas Mbong untuk falsafah hidup dan cerita-cerita serunya. 16. Pak Aris untuk pelajaran dekorasinya.
18. Teman-teman KKN XXXI kelompok 10: Yosep, Cahyo, Siska, Agnes, Via, Sinta, Watik, Seli dan Neni.
19. Teman sekampungku :mBak Sari, D’Lina-D’Leni, D’Nopi, Songglon, Rino, Tekek, Joni, Dedi.
20. Semua pihak yang namanya belum tercantum di tulisan ini.
Skripsi ini bukanlah sebuah karya yang sempurna, masih ada kekurangan-kekurangan dalam skripsi ini yang perlu diperbaiki. Oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritikan yang membangun. Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.
Yogyakarta, Juni 2007
Penulis
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING... ii
HALAMAN PENGESAHAN... iii
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA...iv
HALAMAN PERSEMBAHAN... v
ABSTRAK... vi
ABSTRACT... vii
KATA PENGANTAR... viii
DAFTAR ISI... xi
BAB I. PENDAHULUAN... 1
1.1 Latar belakang Masalah... 1
1.2 Perumusan Masalah... 3
1.3 Pembatasan Masalah... 3
1.4 Tujuan Penulisan... 3
1.5 Metode Penulisan... 3
1.6 Manfaat Penulisan... 4
1.7 Sistematika Penulisan... 4
BAB II. PENGANTAR TEORI PROBABILITAS DAN RELIABILITAS... 6
2.1 Variabel Random... 6
2.4.1 Pengertian Reliabilitas... 12
2.4.2 Kaitan Reliabilitas dengan Kualitas... 14
2.4.3 reliabilitas Bergantung Waktu... 15
2.4.4 Reliabilitas Sistem... 23
2.5 Distribusi Bernoulli... 32
2.6 Distribusi Binomial... 33
2.7 Teorema Limit Pusat... 36
2.8 Pendekatan Normal untuk Distribui Binomial... 40
2.9 Penduga Parameter... 42
2.9.1 Penduga Titik... 43
2.9.2 Penduga Interval ( selang kepercayaan )... 43
2.9.2.1 Metode Pivot... 44
2.10 Teori Likelihood... 46
BAB III. PENDUGA FUNGSI SURVIVOR... 52
3.1 Fungsi Survivor... 52
3.2 Penyensoran Data………... 54
3.2.1 Penyensoran Tipe II……….. 56
3.2.2 Penynsoran Tipe I... 57
3.2.3 Penyensoran Random... 57
3.4.2 Tabel Hidup Searah... 79
3.5 Uji Kolmogorov-Smirnov... 81
3.5.1 Langkah-langkah Uji Kolmogorov-Smirnov... 82
3.5.2 Statistik Uji Kolmogorov-Smirnov untuk Distribusi Waktu Hidup... 84
3.6 Sensor Kanan Himpunan Data... 91
BAB IV. APLIKASI PENDUGA FUNGSI SURVIVOR... 93
BAB V. PENUTUP... 101
5.1 Kesimpulan... 101
5.2 Saran... 102
DAFTAR PUSTAKA... 103
1.1Latar Belakang Masalah
Fungsi survivor memegang peranan penting dalam distribusi waktu hidup. Fungsi ini berguna untuk menganalisa data-data survival, yaitu data yang diambil dari waktu bertahan hidup suatu item sebelum item tersebut mengalami kegagalan atau kematian. Sebagai contoh adalah suatu produk yang dikeluarkan oleh sebuah perusahaan. Data-data survival akan diambil dari beberapa item produk tersebut yang digunakan sebagai sampel yang kemudian dengan fungsi survivor dapat dianalisa hingga diketahui daya tahan produk tersebut. Dengan demikian, perusahaan akan mengetahui apakah produk yang mereka keluarkan memiliki waktu hidup yang panjang atau tidak dan kemudian dapat dijadikan pertimbangan untuk produksi selanjutnya.
Dari data-data yang didapat, akan menghasilkan suatu model yang merepresentasikan data-data survial tersebut. Namun untuk menyelesaikan model yang diperoleh tersebut tidaklah mudah, karena model tersebut berhubungan dengan waktu, sehingga masih sulit untuk mendapat kepastian kapan suatu item yang diamati tersebut akan mengalami kegagalan karena nilai-nilai data dapat berubah seiring berjalannya waktu dan kalaupun bisa, tentu akan memerlukan waktu yang lama untuk mengamatinya karena belum tentu semua item memiliki waktu hidup yang sama. Oleh karena itu, pendugaan model sangat diperlukan untuk mempermudah pengolahan data-data tersebut. Namun persoalan belum
selesai sampai di situ, karena data-data survival sering sedikit melenceng atau bahkan jauh dari distribusi normal (B.S. Everitt,1994). Dalam statistika parametrik, persoalan tersebut dapat diselesaikan dengan menerapkan Teorema Limit Pusat yang sering digunakan sebagai pendekatan empiris untuk menjamin ketepatan asumsi normalitas. Namun hal itu hanya dapat digunakan pada sampel yang besar, sedangkan seringkali terdapat situasi di mana sampel terlalu kecil sehingga sulit untuk menentukan normalitasnya. Untuk mengatasi masalah tersebut, cabang statistika memiliki prosedur alternatif yang tidak memerlukan ukuran sampel untuk menentukan normalitasnya. Prosedur ini disebut sebagai statistika nonparametrik. Prosedur ini juga dapat mengatasi masalah penyensoran yang sering terdapat pula dalam data-data survival.
Oleh karena itu, dalam skripsi ini hanya akan membahas penduga fungsi survivor dengan metode nonparametrik yang kemudian akan digunakan untuk memperoleh selang kepercayaan bagi penduga fungsi survivor tersebut. Penduga model fungsi survivor akan diasumsikan bahwa penduga nonparametrik fungsi survivor S(t) adalah sama dengan jumlah sampel yang rusak selama selang waktu t dibagi dengan jumlah sampel yang digunakan. Secara matematis penduga model tersebut dapat dituliskan sebagai berikut
n t n t
Sˆ( )= ( ),
1.2 Perumusan Masalah
Permasalahan yang dibahas dalam skripsi ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Bagaimana menentukan penduga dan selang kepercayaan penduga fungsi survivor ?
2. Bagaimana aplikasi penduga fungsi survivor pada ketahanan hidup suatu item ?
1.3Pembatasan Masalah
Dalam skripsi ini dibatasi oleh beberapa hal sebagai berikut : 1. Skripsi ini hanya membahas metode nonparametrik. 2. Teorema Ketunggalan tidak dibuktikan
3. Tipe penyensoran yang digunakan adalah penyensoran Tipe II
1.4Tujuan Penulisan
Skripsi ini bertujuan untuk memenuhi salah satu persyaratan untuk mem-peroleh gelar Sarjana Sains dalam bidang Matematika. Selain itu skripsi ini ber-tujuan untuk memperdalam pengetahuan tentang fungsi survivor, penduga fungsi survivor serta selang kepercayaan penduga fungsi survivor dan aplikasi-aplikasinya.
1.5Metode Penulisan
literatur-literatur yang terkait dan sudah dipublikasikan, sehingga tidak ditemukan hal baru.
1.6Manfaat Penulisan
Manfaat yang diharapkan dari penulisan skripsi ini adalah :
1. Dapat lebih memahami mengenai penduga fungsi survivor dengan metode nonparametrik agar dapat dikembangkan lebih lanjut demi perkembangan ilmu matematika khususnya dalam bidang statistik 2. Mengetahui lebih jauh aplikasi-aplikasi penduga fungsi survivor
ke-hidupan sehari-hari.
1.7Sistematika Penulisan
Bab I. Pendahuluan. Pada bagian ini akan dibahas tentang latar belakang masalah, perumusan masalah, pembatasan masalah, tujuan penulisan, metode penulisan, manfaat penulisan, dan sistematika penulisan.
Bab II. Landasan Teori. Pada bagian ini akan dibahas tentang variabel random, distribusi probabilitas kontinu bersama, penjumlahan variabel random, reliabilitas, distribusi bernoulli, distribusi binomial, teorema limit pusat, pendekatan normal untuk distribusi binomial, enduga parameter dan teori likelihood.
penggunaan tabel hidup (life table) sebagai metode lain untuk menentukan selang kepercayaan untuk penduga fungsi survivor dalam statistik nonparametrik serta uji Kolmogorov-Smirnov untuk menentukan normalitas data.
Bab IV. Aplikasi Penduga Fungsi Survivor. Dalam bagian ini akan dibahas penyelesaian masalah tentang penentuan penduga fungsi survivor dan selang kepercayaannya untuk data penderita leukemia.
2.1 Variabel Radom
Variabel random, misalnya X, adalah fungsi yang didefinisikan pada ruang sampel S, yang memetakan setiap elemen a∈S ke bilangan real yang dinotasikan sebagai berikut :
. R x , S a , x ) a (
X = ∈ ∈
Huruf kapital seperti X, Y, Z akan digunakan sebagai lambang variabel random sedangkan huruf-huruf kecil yang bersesuaian x, y, z melambangkan nilai variabel random yang mungkin. Konsep variabel random dapat dipahami sebagai sebuah pemetaan dari himpunan S ke himpunan bilangan real.
Variabel random yang nilainya berhingga atau tak berhingga terbilang disebut variabel random diskret, sedangkan jika tidak demikian disebut variabel random kontinu.
2.2 Distribusi Probabilitas Kontinu Bersama Definisi 2.2.1 Fungsi Densitas Bersama
Variabel random X dan Y dikatakan kontinu bersama-sama jika terdapat fungsi f(x,y) yang terdefinisi untuk semua nilai x dan y, yang merupakan bilangan real dalam setiap himpunan C ⊂ R , sehingga peluang 2
(2.1)
∫∫
∈
= ∈
C ) Y , X (
dy dx ) y , x ( f )
C ) Y , X (( P
Fungsi f(x,y)disebut fungsi densitas bersama dari X dan Y.
Jika A dan B adalah dua buah himpunan bilangan real dan
{
(x,y):x A,y BC= ∈ ∈
}
, dari persamaan (2.1) dapat dilihat(2.2)
∫ ∫
= ∈ ∈
B Af(x,y)dxdy
) B Y , A X ( P
Karena fungsi distribusi kumulatif bersama
, dy dx ) y , x ( f ) ] b , ( Y ], a , ( X ( P ) b , a ( F b a
∫ ∫
−∞ −∞ = −∞ ∈ −∞ ∈ = (2.3)maka fungsi densitas bersama dapat diperoleh melalui diferensiasi, yaitu
(2.4) ) b , a ( F b a ) b , a ( f 2 ∂ ∂ ∂ =
Jika turunan parsialnya ada.
Interpretasi lain dari fungsi densitas bersama berdasarkan persamaan (2.2), adalah
db da ) b , a ( f dy dx ) y , x ( f ) db b Y b , da a X a (
P a da
a db b b ≈ = + < < + <
<
∫
+∫
+(2.5)
Di mana da dan dbkecil danf(x,y)kontinu di a,b.
Definisi 2.2.2
Jika X dan Y adalah kontinu bersama-sama, maka secara individu adalah juga
kontinu, sehingga fungsi distribusi probabilitasnya adalah
∫
∫ ∫
= = ∞ −∞ ∈ ∈ = ∈ ∞ ∞ − A X A dx ) x ( f dx dy ) y , x ( f )) , ( Y , A X ( P ) A X ( P (2.6)di mana
∫
∞∞ −
= f(x,y)dy )
x (
dan disebut fungsi densitas marginal untuk X. Dengan cara yang sama pula,
fungsi densitas marginal untuk Y adalah
(2.8)
∫
−∞∞= f x y dx
y
fY( ) ( , )
Contoh 2.1
Fungsi densitas untuk X dan Y diberikan dengan
⎩ ⎨
⎧ < <∞ < <∞
= − − selainnya , 0 y 0 ; x 0 , e e 2 ) y , x ( f y 2 x ) 1 ( 2 1 0 − − −
=e e
2 1 2 2 ) 1 , 1 ( 1 2 1 1 0 2 1 0 1 2 − − − − ∞ − − = ⎟⎟ ⎠ ⎞ ⎜⎜ ⎝ ⎛ ∞ − = = < >
∫
∫
∫ ∫
dy e e dy e e dy dx e e Y X y x y y x P 3 1 3 2 1 2 2 0 0 3 2 − =∫
−∫
− dy e dye y y
) 1 ( 2 2 2 ) ( 0 2 0 0 2 : ) , ( 2 = − = − = = = <
∫
∫ ∫
∫∫
∞ ∞ ∞ − − ∞ − − < − − dy e e dy dx e e dy dx e e Y X y yy x y Y X Y x y x < > X (
Hitung a) P(X 1,Y 1)
b) P <Y)
c) P(X<a)
Penyelesaian
a.)
a a
x
a y x
e dx e dx dy e e a x P − − ∞ − − − = = = <
∫
∫ ∫
1 2 ) ( 0 0 0 2 c.)2.3 Penjumlahan Variabel Random
Penentuan distribusi untuk X+Y dari distribusi X dan Y, dimana X dan Y
saling bebas adalah hal yang penting. Anggap X dan Y adalah saling bebas, dan
merupakan variabel random kontinu yang mempunyai fungsi densitas dan .
Fungsi distribusi kumulatif dari X+Y dapat didefinisikan dengan
X
f fY
Fungsi distribusi kumulatifFX+Ydisebut konvolusi dari distribusi FXdan FY
Dengan menurunkan persamaan (2.9) akan didapat fungsi densitas dari X+Y
dan diberikan dengan
Y X f +
∫
∫
∫
∞ ∞ − ∞ ∞ − ∞ ∞ − + − = − = − = dy ) y ( f ) y z ( f dy ) y ( f ) y z ( F dz d dy ) y ( f ) y z ( F dz d ) z ( f Y X Y X Y X Y X (2.11) Contoh 2.2Jika X dan Y adalah variabel random saling bebas, keduanya berdistribusi
seragam pada (0,1), tentukan fungsi densitas dari X+Y.
Penyelesaian
Dari persamaan (2.11)
⎩ ⎨
⎧ < < = = selainnya , 0 1 z 0 , 1 ) z ( f ) z (
fX Y
didapat
∫
− = + 1 0 X YX (z) f (z y)dy
f
Untuk 0≤z≤1, hasilnya adalah
z dy ) z ( f 1 0 Y
X+ =
∫
=Untuk 1<z<2, didapat
z 2 ) z (
selainnya , 2 z 1 , 1 z 0 , 0 z 2 z ) z (
fX Y < <
≤ ≤ ⎪ ⎩ ⎪ ⎨ ⎧ − = + Contoh 2.3
Andaikan X dan Y adalah dua variabel random exponensial saling bebas, yaitu
0 t , e ) t ( f ) t (
fX = Y = −t > Tentukan fZ(z) dima Z=X+Y.
Penyelesaian z z 0 z z 0 ) x z ( x Y X Z ze e dx e e dx ) x z ( f ) x ( f ) z ( f − − − − − ∞ ∞ − = = = − =
∫
∫
∫
Contoh 2.4Jika X dan Y mempunyai fungsi densitas bersama
) y x ( 2 ) y , x (
fXY = +
Tentukan fZ(z)dimana Z=X+Y
2.4 Reliabilitas
2.4.1 Pengertian Reliabilitas
Reliabilitas adalah terjemahan dari kata reliability yang berasal dari kata rely
dan ability. Menurut Kamus Inggris Indonesia ( J.M. Echols dan Hassan S,
1975), kata ‘rely’ mempunyai arti mempercayakan, mengandalkan, sedangkan
kata ‘ability’ berarti kecakapan, kemampuan. Jadi, menurut asal katanya,
relia-bilitas adalah kemampuan untuk dapat diandalkan atau dipercayakan atau dapat
juga disebut keterpercayaan, keterhandalan, keajegan, kestabilan dan sebagainya.
Reliabilitas juga dapat didefinisikan seperti probabilitas, dalam artian
perhi-tungan-perhitungan dalam reliabilitas menggunakan aksioma-aksioma yang
terdapat dalam teori probabilitas. Dalam hal khusus, ini berarti bahwa semua
relia-bilitas harus berada dalam selang 0 sampai 1.
Definisi 2.4.1. Reliabilitas
Reliabilitas didefinisikan sebagai probabilitas suatu barang dapat berfungsi
dengan baik untuk suatu waktu dan kondisi tertentu.
Dari definisi di atas waktu menempati bagian penting dalam reliabilitas dan
secara tidak langsung berkaitan dengan beberapa konsekuensi. Pertama, pembuat
model harus menentukan satuan waktu, misalnya detik, jam, tahun dan
sebagainya, untuk menganalisa. Kedua, model-model waktu hidup banyak
dalam statistika klasik ) untuk menggambarkan waktu kerusakan dari suatu
barang. Ketiga, waktu tidak harus diartikan secara harafiah, misalnya untuk
menentukan daya tahan suatu ban dapat juga menggunakan satuan mil sebagai
representasi waktu. Keempat, harus menentukan durasi waktu yang terkait dengan
reliabilitas. Maksudnya, harus ditentukan bila suatu barang dikatakan memiliki
reliabilitas 0.8, maka kalimat itu belum memiliki arti. Reliabilitas sebuah barang
menunjuk pada sebuah nilai dalam suatu waktu, misalnya 1000 jam. Terakhir,
ukuran untuk menentukan waktu hidup harus ditentukan karena umur suatu
barang tidak pasti. Untuk mendapat ukuran yang tepat, perlu diperhatikan cara
pengukurannya, misalnya akan dilihat waktu hidup sebuah bola lampu. Waktu
hidup suatu bola lampu bisa sama dengan lama bola lampu itu dapat menyala.
Cara yang harus dilakukan dalam pengukuran adalah bola lampu itu harus
dinyalakan secara kontinu atau terus menerus, sehingga dapat diketahui jumlah
jam sebagai representasi waktu hidup bola lampu tersebut. Bila bola lampu
tersebut dihidup matikan, maka penggambaran waktu hidupnya tidaklah tepat
karena selain awal penghitungan jumlah jam sebagai representasi waktu hidupnya
akan berubah-ubah, kejutan saat penyalaan dan pematian dapat mengurangi waktu
hidup suatu bola lampu.
Aspek terakhir dari definisi reliabilitas adalah kondisi lingkungan harus
dispesifikasikan. Kondisi seperti temperatur, kelembaban ataupun kecepatan
perubahan, semua berpengaruh terhadap waktu hidup suatu barang. Misalnya
mobil yang memiliki reliabilitas 20000 mil, akan memiliki perbedaan jika mobil
2.4.2 Kaitan Reliabilitas dengan Kualitas
Reliabilitas sering disamakan dengan kualitas. Perbedaan utama antara
keduanya yaitu reliabilitas berkaitan dengan waktu sedangkan kualitas tidak,
karena bersifat statis. Misalnya terdapat dua buah transistor yang memiliki
kualitas yang sama. Salah satu transistor digunakan pada sebuah televisi
sedangkan yang lain ditempatkan pada alat peluncur roket. Kedua transistor
tersebut memang memiliki kualitas yang identik, namun salah satu diantaranya
memiliki reliabilitas yang lebih besar karena ditempatkan pada lingkungan yang
memiliki tekanan lebih rendah.
Reliabilitas yang tinggi dapat berarti pula kualitas tinggi, namun tidak
sebaliknya. Sebagai contoh, terdapat dua buah ban yang memiliki kualitas yang
sama-sama tinggi. Salah satu ban diproduksi tahun 1957 dan yang lain diproduksi
tahun 1995. Meskipun keduanya diproduksi melalui tahap pengontrolan kualitas
yang ketat, namun reliabilitasnya berbeda karena terdapat perubahan teknologi
yang terjadi antara tahun 1957 sampai 1995. 60000 mil reliabilitas ban yang
diproduksi pada tahun 1995 akan lebih besar dibanding reliabilitas ban yang
diproduksi pada tahun 1957. Kemajuan teknologi selama 38 tahun mungkin
membawa perubahan pada model ( misalnya motif grit/kembangan ban ),
komponen ( misalnya karet), atau proses ( misal kemajuan dalam pembuatan ).
Beberapa perubahan tersebut ( misalnya motif grit ban ), dapat memperbaiki
2.4.3 Reliabilitas Bergantung Waktu
Misalkan T adalah variabel random yang menggambarkan daya tahan hidup
dari suatu barang atau sistem. F(t) adalah fungsi distribusi kumulatif yang
didefinisikan sebagai probabilitas suatu barang hidup paling lama t dan ditulis
sebagai berikut :
(2.12) )
t T ( P ) t (
F = ≤
R(t) adalah fungsi reliabilitas yang merupakan probabilitas suatu barang dapat
berfungsi dengan baik lebih dari waktu t yang telah ditentukan. Jadi R(t) dapat
didefinisikan sebagai
) t ( F 1
) t T ( P 1
) t T ( P ) t ( R
− =
≤ − =
> =
(2.13)
Waktu rata-rata sistem tidak befungsi ( failure ), yaitu nilai harapan untuk waktu
sistem tidak berfungsi ( untuk selanjutnya, sistem tidak berfungsi akan disebut
kegagalan ). Andaikan fungsi densitas waktu kegagalan didefinisikan dengan f(t)
yaitu
dt ) t ( dF
) t ( ' F ) t ( f
= =
(2.14)
dimana f(t)≥0 dan
∫
∞
=
0
1 dt ) t ( f
atau
dt ) t ( dR )
t (
f =−
∫
∞
=
0
dt ) t ( tf ) T (
E (2.15)
dimana batas bawah adalah nol karena waktu kegagalan tidak mungkin kurang
dari nol. Dengan mensubstitusikan beberapa persamaan diatas didapat
∫
∫
∫
∫
∞ ∞ ∞ ∞
= − = = =
0 0 0 0
dt ) t ( R
dt dt
) t ( dR t
dt dt
) t ( dF t
dt ) t ( tf ) T ( E
(2.16)
persamaan akhir didapat dengan menggunakan integral parsial dengan
dt dt
) t ( dR dv , t
u= =
Contoh 2.5
Fungsi densitas kegagalan sebuah alat diberikan sebagai berikut :
(2.17) 0
t , e ) t (
f =λ ⋅λt ≥ tentukan :
a. F(t)
b. Reliabilitas
c. Rata-rata waktu kesalahan
a.
b.
c.
Probabilitas bahwa sebuah sistem dapat berfungsi dalam waktu t akan gagal pada
waktu T yang merupakan fungsi densitas kumulatif bersyarat.
) t T ( P ) t T , x T ( P ) t T | x ( F > > ≤ = >
jika x<t, probabilitasnya adalah nol. Dengan menggunakan definisi F(t) didapat
) t ( F ) x ( F ) t T , x T (
P ≤ > = −
dengan mensubtitusikan persamaan (2.22) dan (2.13) ke persamaan(2.21), maka
Didapat fungsi distribusi probabilitas bersyarat dengan menurunkan persamaan
terhadap x
(2.24) t
x , ) t ( R
) x ( f ) t ( F 1
) x ( f ) t T | x (
f = >
− = >
Andaikan
P dx ) t T | x (
f > = [ kegagalan sistem dalam interval waktu (x,x+dx) jika
diketa-hui telah beroperasi selama waktu t] (2.25)
yaitu, fungsi distribusi probabilitas bersyarat waktu kegagalan meningkat dalam
variabel bebas adalah probabilitas bahwa suatu barang atau sistem dapat bertahan
sampai waktu t tetapi akan gagal dalam penambahan waktu (x,x+dx).
Contoh 2.6
Tentukan fungsi distribusi probabilitas bersyarat kegagalan sebuah alat dari soal
pada contoh 2.5
Penyelesaian :
Dari persamaan (2.24)
t x , e
e e
) t ( F 1
) x ( f ) t T | x ( f
) t x ( t
x
> =
= − = >
− − −
−
λ λ
λ
λ λ
Untuk fungsi eksponensial, terlihat bahwa fungsi distribusi probabilitas bersyarat
kegagalan jika diketahui waktu kegagalan lebih besar dari suatu waktu t adalah
sama dengan fungsi distribusi probabilitas tak bersyarat kegagalan dengan
meru-bah x = t.
Konsep lain yang digunakan dalam teori reliabilitas yang terkait dengan
variasi waktu adalah tingkat kegagalan ( failure rate ). Andaikan n(t) adalah
bany-aknya peralatan yang beroperasi pada waktu t, dan andaikan sejumlah kegagalan
pada interval ( t, t + dt ) adalan dn. Rasio semua kegagalan terhadap total waktu t
adalah
) t ( n
dn
Ff = (2.27)
Akan tetapi, ini adalah kuantitas yang sama yang dengan persamaan (2.14) dengan
x = t, maka persamaan ( 2.27 ) dan ( 2.25 ) disamakan sehingga diperoleh
) t ( n
dn dt ) t T | t (
f > = (2.28a)
atau dengan membagi dengan dt, akan didapat
) t ( R
) t ( f dt dn ) t ( n
1 ) t T | t ( f ) t (
h = > = =
(2.28b)
dimana persamaan (2.28b) itu adalah tingkat kegagalan.
Contoh 2.7
Dari substitusi persamaan (2.17) dan (2.19) ke (2.28b) terlihat bahwa tingkat
kegagalan untuk sebuah alat yang memiliki fungsi distribusi probabilitas
kegagalan berupa fungsi eksponensial adalah λ alat per detik. Andaikan bola
lampu pada suatu masa produksi tertentu mempunyai tingkat kegagalan λ = 0.001
Penyelesaian :
Substitusi persamaan (2.17) dan (2.19) ke (2.28b) menghasilkan :
λ λ
λ λ
= = =
− −
t t
e e
) t ( R
) t ( f ) t ( h
Karena λ = 0.001, dari persamaan (2.19) didapat :
(2.29) 0
t , e e
) t (
R = −λt = −0.001t >
Tingkat kegagalan yang berupa konstanta secara umum merupakan suatu
pengecualian daripada suatu aturan yang berlaku. Sebuah peralatan sebenarnya
memiliki tingkat kegagalan yang tinggi pada awal waktu hidupnya karena
keti-daksempurnaan dalam proses pembuatannya yang lolos dari pemeriksaan. Dalam
kasus manusia, tingkat kegagalan analog dengan istilah tingkat kematian bayi.
Selanjutnya, secara normal tingkat kegagalan bersifat stabil pada suatu nilai
ren-dah yang dapat diterima. Selanjutnya, setelah sebuah alat telah mencapai umur
yang telah ditentukan, tingkat kegagalan mulai beranjak karena keausan.
Dikait-kan dengan waktu penggunaan, terdapat tiga bagian dalam tingkat kegagalan yaitu
9
8
7
6
5 awal pemakaian
4
3
2 stabil masa aus
1
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
grafik 2.1 kurva tingkat kegagalan alat
Dengan menurunkan persamaan (2.13) dan menggunakan persamaan (2.14)
) t ( f dt
) t ( dF dt
) t ( dR
− = −
= (2.30)
kemudian disubtitusikan ke dalam persamaan (2.28b) didapat
) t ( R ln dt
d )
t ( R
dt ) t ( dR
) t (
h =− =− (2.31)
dengan pengintegralan didapat
(2.32)
⎥ ⎦ ⎤ ⎢
⎣ ⎡ −
=
∫
t
0
d ) ( h exp ) t (
R λ λ
dengan catatan, jika tingkat kegagalan adalah konstan, reliabilitas dari persamaan
(2.33)
kt
e ) t (
R = −
Contoh 2.8
Anggap fungsi distribusi probabilitas seragam kegagalan sebuah alat diberikan
dengan
⎪ ⎪ ⎩ ⎪ ⎪ ⎨
⎧ ≤ ≤
=
selainnya ,
0
T t 0 , T
1
) t ( f
(2.34)
tentukan reliabilitas dan tingkat kegagalannya!
Penyelesaian :
Fungsi densitas kumulatif kegagalan didapat dengan mengintegralkan persamaan
(2.34), adalah
∫
∫
≤ ≤ =
=
t
0 t
0
T t 0 , d T
1 d ) ( f ) t ( F
τ τ τ
(2.35)
Maka reliabilitasnya adalah
(2.36) T
t 0 , T
1 1 ) t (
R = − ≤ ≤
dari persamaan (2.28b) tingkat kegagalannya adalah
T t 0 ,
T 1 1
T 1
) t ( R
) t ( f ) t (
h ≤ ≤
− =
= (2.37)
Menurut AICPA Assurance service Alert, sistem adalah
1. Sebarang hubungan yang teratur antara sumber-sumber dan
prosedur-prosedur yang menyatu dan saling mempengaruhi atau saling tergantung
untuk memenuhi sebuah himpunan fungsi-fungsi yang spesifik.
2. Suatu kombinasi dari dua peralatan atau lebih yang saling berkaitan yang
diatur dalam sebuah paket fungsional untuk membentuk sebuah fungsi
operasional atau untuk memenuhi suatu kebutuhan.
3. Suatu kumpulan dari personil, peralatan dan metode yang diatur untuk
membentuk suatu himpunan fungsi-fungsi yang spesifik. (SysTrust
services-2001)
Sedangkan menurut (atis.org,) suatu sistem terdiri dari lima komponen
dasar, yaitu
1. Infrstruktur, yaitu komponen sistem yang berupa komponen-komponen
fisik dan hardware (perangkat kasar) seperti kerangka dan
fasilitas-fasilitas.
2. Software (perangkat lunak), yaitu program-program untuk mendukung
sistem.
3. Manusia, yaitu personil yang terlibat di segala aspek pada sistem ataupun
pengguna sistem, misalnya pembuat program, operator, pengguna sistem.
4. Prosedur,yaitu langkah-langkah serta aturan-aturan untuk menjalankan
sistem.
5. data, yaitu suatu informasi yang diperoleh dan digunakan dalam
Sebagai contoh adalah sebuah sistem peluncuran sebuah satelit. Dalam sistem ini
terdapat perlengkapan serta operasi-operasi pendukung untuk keberhasilannya,
yaitu seperti pesawat dan roket sebagai komponen fisiknya, program-program
untuk menjalankan operasi, awak yang mengemudikan pesawat, langkah-langkah
dan prosedur-prosedur peluncuran satelit serta data-data yang akan digunakan
ataupun dicari.
Sebuah sistem dapat menjadi sangat sederhana, sebagai contoh sebuah
sistem aplikasi pembayaran yang hanya melibatkan seseorang dengan sebuah unit
personal komputer. Namun sebuah sistem juga dapat menjadi sangat rumit yaitu
dengan melibatkan jumlah pengguna yang besar di dalamnya dan terdapat
berbagai aplikasi dengan menggunakan begitu banyak komputer, misalnya sebuah
sistem perbankan yang besar.
Definisi 2.4.2 Reliabilitas Sistem
Reliabilitas sistem didefinisikan sebagai probabilitassuatu sistem dapat berfungsi
dengan baik untuk suatu waktu dan kondisi tertentu.
Dari definisi diatas, reliabilitas sistem adalah ketahanan suatu sistem untuk
suatu waktu dan suatu konsisi tertentu. Dengan kata lain, reliabilitas sistem adalah
probabilitas suatu sistem dimana sistem tersebut tidak akan rusak sebelum t
waktu.
Suatu sistem yang melibatkan sejumlah besar komopnen-komponen pendukung,
sistem yang disusun secara seri, beberapa disusun secara pararel dan ada yang
disusun dengan mengkombinasikan kedua cara tersebut. Dua contoh berikut akan
memberi ilustrasi tentang suatu sistem.
Contoh 2.9
Peluncuran sebuah satelit kecil memerlukan serangkaian operasi pendukung
yang dikaitkan dengan probabilitas keberhasilan. Setiap operasi diasumsikan tidak
saling tergantung satu dengan yang lain.
1. Penghidupan roket pendorong, 0.99
2. Baut penghubung satelit dengan roket utama, 0.98
3. Putaran gas jet satelit untuk stabilitas, 0.965
4. Pematian roket pendorong pada kecepatan akhir yang diinginkan, 0.97
Setiap tindakan tersebut harus dilakukan, dan bila salah satu operasi gagal, maka
peluncuran satelit juga gagal. Berapakah probabilitas keberhasilan atau
reliabilitasnya?
Penyelesaian
Keberhasilan suatu sistem adalah irisan dari empat keberhasilan subsistem yang
terpisah, atau
908 . 0 ) 97 . 0 )( 965 . 0 )( 98 . 0 )( 99 . 0 (
) t T ( P
)] t T ( ) t T ( ) t T ( ) t T [( P ) t T ( P
4
1 i
i
4 3
2 1
MS
= =
> =
> ∩ > ∩ > ∩ > =
>
∏
=
(2.38)
Terlihat bahwa reliabilitas sistem konsisten dengan reliabilitas serentetan
Contoh 2.10
Rem adalah komponen terpenting untuk setiap kendaraan. Kebanyakan kendaraan
memiliki dua sistem pengereman, yaitu hidrolis dan mekanis. Jika salah satu
ru-sak, maka yang lain akan mengambil alih ( sebenarnya, hanya sistem mekanis
yang akan mengambil alih fungsi ketika sistem hidrolis rusak, namun dalam hal
ini diasumsikan salah satu akan mengambil alih fungsi jika yang lain rusak). Jika
diberikan reliabilitas kedua subsistem pengereman untuk sebuah truk
berturut-turut adalah 0.98 untuk subsistem Hidrolis dan 0.95 untuk subsistem Mekanis,
berapa reliabilitas keseluruhan untuk pengereman truk?
Penyelesaian
Untuk sistem ini, semua subsistem harus rusak untuk mengakibatkan kerusakan
sistem, jadi
001 . 0 ) 95 . 0 1 )( 98 . 0 1 (
) t T ( P
)] t T ( ) t T [( P ) t T ( P
2
1 i
i 2 1
B
= −
− =
> =
≤ ∩ ≤ =
≤
∏
= (2.39)
adalah reliabilitas kegagalan ( kerusakan ). Probabilitas keberhasilan atau
relia-bilitasnya adalah
999 .. 0 001 . 0 1
) ( 1 ) (
= −
=
≤ −
=
>t P T t
T
P B B
(2.40)
Dari dua contoh di atas, dapat disimpulkan hubungan reliabilitas menyangkut
Reliabilitas Sistem Seri
Andaikan adalah subsistem ke- i untuk suatu system S dalam sistem seri,
keberhasilan sistem keseluruhan bergantung pada keberhasilan tiap-tiap
subsistemnya, yaitu i S (2.41) n 2
1 S ... S
S
S= ∩ ∩ ∩
Jadi probabilitas keberhasilan pada sistem keseluruhan atau reliabiltas sistem,
diasumsikan setiap subsistem adalah berdiri sendiri, yaitu
∏
∏
= = = > = > ∩ ∩ > ∩ > = > = n 1 i n 1 i i i n 2 1 seri s ) t ( R ) t T ( P )] t T ( ... ) t T ( ) t T [( P ) t T ( P ) t ( R (2.42)Dapat ditunjukkan bahwa tingkat kegagalan untuk sitem seri adalah jumlahan dari
tingkat kegagalan untuk tiap subsistemnya. Logaritma dari persamaan 2.42
menghasilkan
∑
− > = > = n 1 i i seri s )] t T ( P ln[ )] t T ( P ln[ ) t ( R ln[ (2.43)Turunan negatif dari logaritma reliabilitas adalah tingkat kegagalan berdasarkan
persamaan 2.31, jadi
Andaikan reliabilitas berdasar waktu untuk subsistem dalam contoh 2.17 adalah fungsi eksponensial t 4 t 3 t 2 t 1 44 3 2 1 e ) t ( R e ) t ( R e ) t ( R e ) t ( R λ λ λ λ − − − − = = = = (2.45)
Tentukan reliabilitas sistem, rata-rata waktu kegagalan dan tingkat kegagalan.
Penyelesaian
Reliabilitas sistem berdasarkan persamaan 2.42 adalah
(2.46)
∏
− + + + − = = a 1 i t ) ( i s 4 3 2 1 e ) t ( R ) t (R λ λ λ λ
Dari persamaan 2.27, rata-rata waktu kegagalan adalah
4 3 2 1 0 t ) ( 0 s s 1 dt e dt ) t ( R ) T ( E 4 3 2 1 λ λ λ λ λ λ λ λ + + + = = =
∫
∫
∞ + + + − ∞ (2.47)Untuk subsistem dengan reliabilitas eksponensial, tingkat kegagalan adalah
kon-stanta dalam eksponensial, oleh karena itu tingkat kegagalan sistem adalah
(2.48)
4 3 2 1 s(t)
h =λ +λ +λ +λ
Andaikan adalah subsistem ke- i untuk suatu system F dalam sistem
pararel, semua subsistem harus mengalami kerusakan sebelum sistem mengalami
kerusakan. Jadi untuk subsistem paling bebas
i F (2.49) n 2 1
pararel F F ... F
F = ∩ ∩ ∩
Probabilitas kegagalan
∏
∏
∏
≠ = = − = = ≤ = ≤ ∩ ∩ ≤ ∩ ≤ = ≤ = n 1 i i n 1 i i n 1 i i n 2 1 pararel p )] t ( R 1 [ ) t ( F ) t T ( P )] t T ( ... ) t T ( ) t T [( P ) t T ( P ) t ( F (2.50)Reliabilitas sistem pararel adalah
∏
= − − = − = n 1 i i p p )] t ( R 1 [ 1 ) t ( F 1 ) t ( R (2.51) Contoh 2.12Fungsi exponensial reliabilitas dalam sistem pararel diberikan dengan
t b t a b a e ) t ( R e ) t ( R λ λ − − = = (2.52)
Tentukan reliabilitas sistem pararel, rata-rata waktu kegagalan, dan tingkat
kega-galan.
Penyelesaian
Dari persamaan 2.51, diperoleh reliabilitas sistem yaitu
Dari persamaan 2.16, rata-rata waktu kegagalan adalah b a b a 0 p p 1 1 1 dt ) t ( R ) T ( E λ λ λ λ + − + = =
∫
∞ (2.54)Dari persamaan 2.31, tingkat kegagalannya adalah
t ) ( t t t ) ( b a t b t a p p b a b a b a b a e e e e ) ( e e ) t ( R ln dt d ) t ( h λ λ λ λ λ λ λ λ λ λ λ λ + − − − + − − − − + + − + = − = (2.55)
Tidak seperti kasus yang terjadi dalam sistem seri, tingkat kegagalan dalam sistem
pararel tidak dinyatakan sederhana.
Reliabilitas SistemStandby
Dalam sistem ini, suatu subsiatem akan beroperasi sampai rusak, dan pada
suatu waktu sistem standby (disingkat sb) akan akan menggantikannya. Untuk
beberapa susunan :
(2.56)
2 1 sb T T
T = +
Dimana adalah sistem utama dan adalah sistem standby. Pengambilan nilai
harapan dari keduanya, dapat menentukan rata-rata waktu kegagalan
1
T T2
(2.57) ) T ( E ) T ( E ) T (
E sb = 1 + 2
Persamaan 2.56 menyatakan bahwa waktu kegagalan dari sistem stanby adalah
jumlahan dari dua variable random, yaitu waktu kegagalan sistem primer dan
be-bas secara statistik, fungsi distribusi probabilitas untuk sistem standby adalah
konvolusi dari dua fungsi distribusi probabilitas kegagalan subsistem, atau
(2.58)
∫
∞ ∞ −
−
= f (t η)f (η)dη )
t (
fsb 1 2
Fungsi distribusi kumulatif kegagalan adalah integral dari fungsi distribusi
probabilitas, dan reliabilitasnya adalah 1 minus fungsi distribusi kumulatif
kegagalan.
Contoh 2.13
Tentukan rata-rata waktu kegagalan, fungsi distribusi probabilitas kegagalan,
fungsi distribusi kumulatif kegagalan dan reliabilitas sistem standby dengan dua
subsistem yang mempunyai fungsi distribusi probabilitas berupa fungsi
eksponensial yang diberikan dengan
(2.59) 0
t , e ) t (
fi =λ −λt ≥
Penyelesaian
Waktu kegagalan untuk setiap subsistem adalah λ 1
, jadi tingkat kegagalan sistem
standby adalah
λ 2 ) T (
E sb = (2.60)
Dari persamaan 2.58,fungsi distribusi probabilitas kegagalan adalah
0 t , te dt e
e )
t (
f 2 t
0
) t ( t 2 sb
,
2 = = ≥
− ∞
− − −
∫
λ λ λ λ λ λPerhatikan bahwa fungsi distribusi probabilitas adalah 0 saat t =0 dan bernilai
maksimum saat λ 1
=
t . Pengintegralan menghasilkan fungsi distribusi kumulatif
kegagalan, yaitu
∫
= − + ≥= t −
0
t sb
, 2 sb
,
2 (t) f ( )d 1 (1 t)e ,t 0
F τ τ λ λ (2.62)
Reliabilitasnya
(2.63) 0
t , e ) t 1 ( ) t ( F 1 ) t (
R2,sb = − 2,sb = +λ −λt ≥
Seperti pada persamaan 2.60, pengintegralan reliabilitas dari 0 sampai tak hingga
menghasilkan rata-rata waktu kegagalan.
2.5 Distribusi Bernoulli
Distribusi Bernoulli didasarkan atas ruang sampel yang dibangkitkan dari
percobaan Bernoulli. Ruang sampel ini terdiri atas dua unsur yang biasanya
disimbolkan dengan “sukses” dan “gagal”, dengan probabilitas sukses P(S)=p dan
probabilitas gagal P(G)=1-p. Jika sukses disimbolkan dengan 1 dan gagal dengan
0, maka fungsi probabilitas Bernoulli dapat didefinisikan sebagai berikut :
Definisi 2.5.1 fungsi Probabilitas Bernoulli
Jika X adalah variabel random bernoulli maka fungsi probabilitas X adalah
⎩ ⎨
⎧ − =
=
= −
selainnya ,
0
1 , 0 x , ) p 1 ( p ) p ; x ( f ) x ( f
x 1 x
X
X (2.64)
Sifat-sifat percobaan Bernoulli adalah :
a. Setiap percobaan menghasilkan satu dari dua hasil yang mungkin
b. Untuk setiap percobaan, probabilitas sukses P(S) adalah sama dan
ditulis P(S) = p, dan probabilitas gagal P(G) = (1-p)dan biasa ditulis
sebagai q, maka p+q = 1.
c. Percobaan yang satu dengan yamg lain saling bebas.
Contoh percobaan Bernoulli ysng psling sederhana adalah pelemparan
mata uang logam, di mana terjadinya gambar dan angka dapat dikatakan sukses
dan gagal. Jika mata uang logam tersebut seimbang, maka
2 1
= =q
p .
2.6 Distribusi Binomial
Suatu percobaan seringkali terdiri atas ulangan-ulangan dan masing-masing
mempunyai kemungkinan hasil yang dapat diberi nama sukses atau gagal.
Misalnya dalam pengambilan 5 kartu berturut-turut, pengambilan dapat dikatakan
sukses jika yang terambil adalah kartu warna hitam. Bila setiap kali kartu
dikembalikan sebelum pengambilan berikutnya, maka percobaan tersebut bersifat
bebas dan peluang keberhasilan setiap ulangan tetap sama yaitu 2 1
. Percobaan
semacam ini disebut sebagai percobban Binomial yang tak lain adalah percobaan
yang terdiri atas ulangan-ulangan percobaan Bernoulli.
Percobaan Binomial adalah percobaan yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut
a. Percobaan terdiri atas n ulangan.
b. Dalam setiap ulangan, hasilnya dapat digolongkan sebagai sukses dan
c. Peluang sukses, yang dilambangkan dengan p, untuk setiap ulangan
adalah sama.
d. Ulangan-ulangan tersebut adalah saling bebas.
Definisi 2.6.1 Distribusi Binomial
Jika X adalah variabel random Binomial, maka distribusi probabilitas X adalah
(2.65) n ..., , 1 , 0 x untuk , ) p 1 ( p x n ) p , n ; x (
b x − n x =
⎟⎟ ⎠ ⎞ ⎜⎜ ⎝ ⎛ = − Teorema 2.6.1
Nilai harapan dan variansi untuk variabel random yang berdistribusi Binomial b(x; n,p) adalah
E(X)=np dan Var[X]=np(1-p)
Bukti :
Nilai harapan untuk distribusi Binomial
np ) p 1 ( p 1 x 1 n np ) p 1 ( p )! 1 x ( ))! 1 x ( ) 1 n (( )! 1 n ( np )! x n ( )! 1 x ( ) p 1 ( p )! 1 n ( np n 1 x )) 1 x ( ) 1 n (( 1 x )) 1 x ( ) 1 n (( ) 1 x ( n 1 x n 1 x x n 1 x = − ⎟⎟ ⎠ ⎞ ⎜⎜ ⎝ ⎛ − − = − − − − − − = − − − − =
∑
∑
∑
= − − − − − − − − = = − −Variansi untuk distribusi Binomial
E(X(X−1))=E(X2)−E(X)
2.7 Teorema Limit Pusat
Salah satu teorema yang penting dalam statistika adalah Teorema Limit Pusat.
Teorema ini penting karena teoema ini memberikan jaminan jika suatu populasi
berdistribusi sembarang ( tidak harus normal ) maka untuk jumlah sampel yang
cukup besar distribusi sampling nilai rata-rata akan berdistribusi normal. Teorema
Ketunggalan ( Uniqueness Theorem ) berikut digunakan untuk menentukan
distribusi probabilitas suatu variabel random melalui fungsi pembangkit momen
(f.p.m ).
Teorema 2.7.1. Teorema Ketunggalan.
Andaikan untuk setiap variabel random X dan Y fungsi-fungsi pembangkit
momennya ada, yaitu berturut-turut dan . Jika =
untuk setiap t, maka X dan Y memiliki distribusi probabilitas yang sama. )
t (
Mx My(t) Mx(t) My(t)
( Bukti teorema di atas di luar cakupan tulisan ini )
Definisi 2.7.1 Distribusi Normal
Variabel random X dikatakan berdistribusi normal dengan mean μ dan variansi
jika fungsi probabilitas kontinunya adalah
2
σ
. 0 , ;
X ;
e 2 1 ) , ; x ( f ) x (
f 2
2 2
) x (
X
X = = −∞< <∞ −∞< <∞ >
− −
σ μ π
σ σ
μ σ
μ
(2.66)
Jika suatu variabel random X berdistribusi normal dengan mean μ dan
Teorema 2.7.2
Jika X adalah variabel random yang berdistribusi normal dengan mean μ dan
variansi σ2 maka fungsi pembangkit momen bagi X adalah
(2.67) 2 t t X 2 2 e ) t ( m σ μ + = dan bila σ μ − =X
Z maka 2
t Z 2 e ) t ( m = Bukti ( ) ( ) ( ) ( ) ( )
[
]
dx e 2 1 e dx e 2 1 e dx e e 2 1 e ) e ( E e ) e ( E ) t ( M ) x ( t 2 X 2 1 t 2 x t x t 2 x t ) X ( t t tX X 2 2 2 x t 2 2 μ σ μ σ μ σ μ μ μ σ μ μ μ μπ
σ
π
σ
π
σ
μ − − − − ∞ ∞ − + − − ∞ ∞ − − − − ∞ ∞ − −∫
∫
∫
= = = = = −Karena
[
(
)
]
Sehingga 2 t t 2 t t X 2 2 2 2 e e e ) t ( m σ μ σ μ = + = ) t (
mX ini merupakan fungsi pembangkit momen dari distribusi normal dengan
mean μ dan variansi σ2. Karena maka
1 dan
0 Z2
Z = σ =
μ 2 t 2 t . 1 0 t Z 2 2 e e ) t (
m = + =
yang merupakan fungsi pembangkit momen dari distribusi normal standar.
Sehingga Z berdistribusi normal standar berdasarkan Teorema Ketunggalan.
■
Teorema 2.7.3 Distribusi sampling Mean dan Variansi
Misalkan X1,...., Xn adalah sampel random dari suatu populasi dengan
fungsi probabilitas f(o) yang memiliki mean μdan variansi σ2. Jika
∑
= ⎟ ⎠ ⎞ ⎜ ⎝ ⎛ = n 1 i i X n 1X adalah mean sampel maka
(2.68)
( )
X =μx =μE dan Var
( )
X =n n
n 1
) X ( Var n
1
X Var n
1
X n 1 Var ) X ( Var
2 2 2
n
1 i
i 2
n
1 i
i 2
n
1 i
i
σ
σ =
= =
⎟ ⎠ ⎞ ⎜
⎝ ⎛ =
⎟ ⎠ ⎞ ⎜
⎝ ⎛ =
∑
∑
∑
= = =
■
Teorema ini berlaku apabila pemilihan sampel dilakukan dengan pengembalian
Secara tegas, teorema ini mengatakan apabila X1,...., Xn adalah sampel
random dari sembarang distribusi dengan mean μdan variansi σ2 maka
( )
X =μx =μE dan Var
( )
X =n
2 2 x
σ
σ = . Teorema ini tidak mengatakan apakah
X berdistribusi normal atau tidak. Jika distribusi dari X dijadikan sebagai pusat
perhatian, maka teorema berikut ini yang dikenal sebagai teorema limit pusat akan
menjawab pertanyaan bagaimana X berdistribusi .
Teorema 2.7.4 Teorema Limit Pusat.
Misalkan fx(x) adalah fungsi probabilitas dengan mean μ dan variasi σ2 dan X n
adalah mean sampel random berukuran n dari fx(x). Jika Zn adalah variabel
random yang didefinisikan sebagai
n X
Z n
n σ
μ
−
= (2.69)
Bukti:
Fungsi pembangkit momen dari variabel random Zn adalah
( )
( )
( )(
)
(
)
[
]
( )
( )
( )
n n Y Y n Y n i n / Y t tZ Z ) n ( s n t ... ' ' M n ! t ' M n t n t M e E e E t M i n n ⎥ ⎦ ⎤ ⎢ ⎣ ⎡ + + = ⎥ ⎥ ⎦ ⎤ ⎢ ⎢ ⎣ ⎡ + σ + σ + = σ = = = μ − μ − μ − = σ μ −∏
2 1 0 2 0 1 2 2 2 1dengan s(n) sebagai suku sisa.
Dengan demikian fungsi pembangkit momen dari Zn, jika n→∞ menjadi
2 2 2 2 2 1 t n Z
n n s(n) e
t lim ) t ( M lim
n ⎥ =
⎦ ⎤ ⎢ ⎣ ⎡ + + = ∞ → ∞
→ (2.70)
yang merupakan fungsi pembangkit momen bagi distribusi normal standar.
Sehingga terbukti bahwa Zn ~N(0,1). ■
2.8 Pendekatan Normal untuk Disribusi Binomial
Teorema Limit Pusat dapat juga digunakan untuk memperkirakan probabilitas
beberapa variabel random diskret, jika probabilitas yang berdasarkan distribusi
sesungguhnya sukar dihitung untuk ukuran sampel n besar. Contoh berikut
berkaitan dengan distribusi Binomial.
Andaikan variabel random Y berdistribusi Binomial dengan n ulangan dan
distribusi probabilitas binomial untuk setiap bilangan bulat tak negatif yang
kurang dari atau sama dengan b. Tabel Binomial memuat nilai-nilai probabilitas
hanya untuk beberapa nilai n yang terbatas. Bila n sangat besar, maka perhitungan
menjadi sukar dan di lain pihak tidak tersedia tabel.
Sebagai alternatif, pandang Y, banyaknya sukses dalam n ulangan, sebagai
jumlah suatu sampel yang tediri atas nilai 0 dan 1, yaitu
∑
=
= n 1 i
i
X
Y (2.71)
di mana
⎩ ⎨
⎧ −
=
selainnya ,
0
sukses an menghasilk i
ke ulangan jika
, 1 Xi
dan , variabel random yang saling bebas. Berdasarkan Teorema
2.7.3, maka untuk n yang besar, proporsi ulangan yang bernilai sukses adalah n
,..., 2 , 1 i ,
Xi =
∑
=
= = n
1 i
i X
X n 1 n Y
akan memiliki distribusi sampling yang mendekati distribusi normal dengan
dan variansi p
) X (
E i =
n ) p 1 ( p n
) X (
V −
=
Pendekatan ini sangat baik bila p dekat dengan 2 1
karena distribusi binomial
simetrik bila 2 1
=
2.9 Penduga Parameter
Statistika banyak berhubungan dengan penarikan kesimpulan mengenai
parameter populasi. Fungsi variabel random tertentu yang diperoleh dari sampel
random sering digunakan sebagai penduga atau pembuat keputusan tetntang
parameter populasi. Sebagai contoh, jika akan menduga mean suatu populasi µ,
jika diperoleh n pengamatan random , maka cukup beralasan jika µ
diduga dengan
n
y y y1, 2,...,
(2.72)
∑
=
= n 1 i
i
y n 1 yˆ
Kebaikan dari penduga ini didasarkan pada perilaku variabel random
dan pengaruh perilaku tersebut terhadap
n 2 1,Y,...,Y
Y
∑
=
= n 1 i
i
y n 1
yˆ . Variabel random Yadalah
fungsi dari variabel random dan ukuran sampel n. Atau contoh lain,
andaikan berdasar hasil perhitungan dari data sampel, rata-rata produktivitas
kelapa sawait dalam satu tahun sebesar 154,97 kw/ha, maka
ˆ
n 2 1,Y,...,Y
Y
97 , 154
=
x . Dengan
demikian, yˆdan x adalah contoh statistik.
Definisi 2.9.1. Statistik.
Statistik adalah fungsi dari pengamatan yang diperoleh dari sampel random dan
konstanta yang diketahui. Statistik digunakan untukmenarik kesimpulan
Penduga parameter merupakan usaha penentuan nilai parameter yang sedang
diselidiki. Untuk melakukan pendugaan nilai suatu parameter dapat dilakukan
denagn dua cara. Cara pertama yaitu dengan menentukan nilai tunggal yang
mendekati nilai parameter itu dengan sebaik-baiknya atau sering disebut penduga
titik. Cara kedua merupakan penentuan suatu selang nilai dengan peluang yang
besar mencakup nilai parameter yang diselidiki yang disebut penduga interval (
selang kepercayaan ).
2.9.1 Penduga Titik
Penduga titik adalah sebarang statistik yang digunakan untuk menduga
parameter θ. Suatu penduga titik bagi suatu parameter populasi adalah nilai
tunggal numerik dari suatu statistik yang relevan dengan parameter tersebut.
Contoh penduga titik adalah sebagai berikut
Andaikan X adalah suatu variabel random Binomial (n:p) maka variabel
random pˆ mempunyai mean p dan variansi n
) p 1 (
p −
, dan untuk n besar, harga
variabel random
n ) pˆ 1 ( pˆ
p pˆ z
− −
= mendekati distribusi normal standar ( Teorema
Limit Pusat ).
2.9.2 Penduga Interval ( Selang Kepercayaan)
Andaikan pada populasi yang berdistribusi normal akan dilakukan
populasi adalah suatu interval nilai [θˆ−Zα2σθˆ,θˆ+Zα2σθˆ] sedemikian hingga
] Z ˆ , Z ˆ
[θ α2σθˆ θ α2σθˆ
θ∈ − + dan P(θˆ−Zα2σθˆ <θ <θˆ+Zα2σθˆ)=1−α di mana
penduga titk bagi
θˆ θ. Pernyataan taraf kepercayaan 95% (misalnya) mempunyai
implikasi bahwa jika rencana penarikan sampel berukuran sama dengan teknik
yang sama dilakukan berulang kali, misalnya 100 kali penarikan sampel,
kemudian dari setiap sampel dibuat pernyataan tentang pendugaan selang, maka
sekitar 95 kali dari selang nilai [θˆ−Zα2σθˆ,θˆ+Zα2σθˆ] mencakup parameter
populasi akan benar, dan hanya sekitar 5 kali akan salah.
Data sampel yang diperoleh melalui penarikan sampel menghasilkan nilai
statistik yang dapat digunakan sebagai penduga parameter. Nilai statistik tidak
bisa tepat sama dengan nilai parameter populasi, tetapi dapt ditentukan sejauh
mana ketepatan pendugaan tersebut
2.9.2.1 Metode Pivot
Metode yang sangat berguna untuk menentukan selang kepercayaan disebut
metode Pivot yang memerlukan kuantitas pivot. Ciri-ciri kuantitas pivot adalah
sebagai berikut :
1. Merupakan fungsi dari pengukuran sampel dan parameter θ ( yang tidak
diketahui ). θ merupakan satu-satunya kuantitas yang tidak diketahui.
Contoh 2.16
Jika diketahui observasi Y berdistribusi normal dengan (μ,1), tentukan selang
kepercayaan 95% bagi μ bila diketahui kuantitas pivotnya adalah
σ μ − =Y z Penyelesaian
Periksa apakah syarat dipenuhi:
1. z merupakan fungsi dari observasi Y
z merupakan fungsi dari parameter μ yang tidak diketahui
2. Distribusi probabilitas dari pivot
Bila Y~Normal (μ,σ) maka 2 t t Y 2 2 e ) t ( M σ μ + = 2 t Z 2 2 e ) t ( M Y z σ μ = − =
distribusi normal dengan μZ =0 dan Var[Z]=σ2 =1
distribusi probabilitas dari pivot
) a Y b Y ( P ) b Y a ( P ) b z a ( P 95 ,
0 = < < = < −μ < = − <μ < −
Maka selang kepercayaannya berbentuk
96 , 1 Y 96
, 1
Y− <μ< +
2.10 Teori Likelihood
Andaikan adalah sampel random waktu hidup dari sebuah
populasi item dengan distribusi waktu hidup yang mempunyai fungsi densitas f(t).
Distribusi ini memiliki vektor parameter yang tidak diketahui
n
t t t1, 2,...,
(
θ1,θ2,...,θp)
'θ = ,
dimana p adalah banyaknya parameter yang tidak diketahui. Karena waktu hidup
adalah saling bebas, fungsi likelihood, L(t,θ) adalah hasil kali dari fungsi
densitas yang diduga pada setiap titik sampel :
∏
=
= n 1 i
i, )
t ( f ) , (
L t θ θ . (2.73)
dimana Penduga maksimum likelihood diperoleh dengan
memaksimumkan
). t , ... , t , t
( 1 2 n
=
t θˆ
) , (tθ
L terhadap θ. Jadi adalah penduga parameter distribusi
yang kemungkinan besar menghasilkan data .
θˆ
n 2 1,t ,...,t
t
Secara praktis, akan lebih mudah untuk memaksimumkan fungsi log
likelihood logL(t,θ) untuk memperoleh vektor dari penduga maksimum
likelihood, dimana hal ini valid karena fungsi logaritma adalah bersifat monoton.
Fungsi log likelihood adalah :
∑
=
= n 1 i
i, )
t ( f log )
, ( L
log t θ θ (2.74)
dan berdistribusi normal asimtotik oleh teorema limit pusat, karena terdiri atas
Karena L(t,θ) adalah funsi densitas bersama untuk , maka hal
ini harus sama dengan 1 :
n 2 1,t ,...,t
t
(2.75)
∫ ∫ ∫
∞ ∞ ∞
=
0 0 0
1 dt ) , ( L . .
. t θ
asumsikan bahwa fungsi likelihood adalah kontinu ( dan karena diferensiasi dan
interal dapat dipertukarkan ), turunan parsial sisi kiri berkenaan dengan satu
parameter θi menjadi :
[
( )]
i 1,2,....p ) , ( L log d ) , ( L ) , ( L log . . . d ) , ( L . . . d ) , ( L . . . i i0 0 0 i
0 0 0 0 0 0 i
i = = ⎥ ⎦ ⎤ ⎢ ⎣ ⎡ ∂ ∂ = ∂ ∂ = ∂ ∂ = ∂ ∂
∫ ∫ ∫
∫ ∫ ∫
∫ ∫ ∫
∞ ∞ ∞ ∞ ∞ ∞ ∞ ∞ ∞ θ θ θ θ θ θ θ θ θ θ U E t E t t t t t t t (2.76)dimana U(θ)=(U1(θ),U2(θ),....,Up(θ))' sering disebut sebagai vektor skor.
Pendiferensialan sisi kanan dari persamaan (2.72) berkenaan dengan θi :
[
U ( )]
0 i 1,2,...,pE i θ = =
atau dalam bentuk vektor adalah
(2.77)
[
U( )]
=0E θ
Contoh 2.17
Andaikan adalah sampel random dari suatu populasi eksponensial
dengan p=1 dan parameter θ, populasi tersebut adalah
n 2 1,t ,...,t
0 t e 1 ) , t (
f = −tθ ≥
θ θ
Tentukan vektor skor dan penduga maksimum likelihood untuk θ.
Penyelesaian :
Fungsi likelihood populasi tersebut adalah
( )
∑ =
= =
= − − −
= =
∏
∏
n
1 i
i t
i e
e 1
) , t ( f ,
L
n t
n
1 i
n
1 i
i
θ
θ θ
θ θ
t
θ
Fungsi log likelihoodnya adalah
( )
∑
=
− −
= n
1 i
i
t log
n ,
L
log t θ θ θ
Vektor skornya hanya memiliki satu elemen karena hanya terdapat satu parameter
( )
( )
2n
1 i
i
t 1 ,
L log U
θ θ θ
θ
θ =− +
∑
=∂ ∂
= t .
Persamaan vektor dengan nol dan menyelesaikan penduga maksimum likelihood :
∑
=
= n 1 i
i
t n 1 ˆ θ
dimana ini adalah rata-rata sampel.
Pendiferensialan persamaan (2.73) terhadap θj ( dengan aturan rantai )
[
U ( ) U ( )]
E logL( , ) i 1,2,...p E d ) , ( L ) , ( L log ) , ( L ) , ( L log ) , ( L log . . . d ) , ( L ) , ( L log ) , ( L ) , ( L log . . . d ) , ( L ) , ( L log . . . j i 2 j i0 0 0 i j
2
j i
0 0 0 i j
2
j i
0 0 0 i
j = ⎥ ⎥ ⎦ ⎤ ⎢ ⎢ ⎣ ⎡ ∂ ∂ ∂ + = ⎟ ⎟ ⎠ ⎞ ⎜ ⎜ ⎝ ⎛ ∂ ∂ ∂ + ∂ ∂ ∂ ∂ = ⎟ ⎟ ⎠ ⎞ ⎜ ⎜ ⎝ ⎛ ∂ ∂ ∂ + ∂ ∂ ∂ ∂ = ∂ ∂ ∂ ∂
∫ ∫ ∫
∫ ∫ ∫
∫ ∫ ∫
∞ ∞ ∞ ∞ ∞ ∞ ∞ ∞ ∞ θ θ θ θ θ θ θ θ θ θ θ θ θ θ θ θ θ θ θ θ θ θ θ θ θ θ t t t t t t t t t t t t t t t (2.78)Karena pernyataan ini adalah turunan kedua dari persamaan (2.72) sisi kiri, dan
turunan kedua dari sisi kanannya adalah nol, maka
(2.79)
[
]
, p , ... , 2 , 1 j , p , ... , 2 , 1 i ) ( U ) ( U E ) , ( L logE i j
j i 2 = = = ⎥ ⎥ ⎦ ⎤ ⎢ ⎢ ⎣ ⎡ ∂ ∂ ∂ − θ θ θ θ θ t
Dengan persamaan (2.74), dapat diketahui bahwa E
[
Ui(θ)]
=E[
Uj(θ)]
=0 untukdan , sehingga
p
i=1,2,.... j =1,2,....p
(
)
, p , ... , 2 , 1 j , p , ... , 2 , 1 i ) ( U ) ( U Cov ) , ( L logE i j
j i 2 = = = ⎥ ⎥ ⎦ ⎤ ⎢ ⎢ ⎣ ⎡ ∂ ∂ ∂ − θ θ θ θ θ t (2.80)
Elemen ini membentuk Matriks informasi Fisher p×p , I(θ) yang elemen
diagonalnya adalah variansi dari elemen-elemen vektor skor dan elemen-elemen
diagonal kebalikannya adalah covariansi.
Untuk melihat hasilnya adalah terlalu jauh, matriks p×1 untuk vektor skor
U(θ) mempunyai komponen
p ...., , 2 , 1 i ) , ( L log ) ( U i i = ∂ ∂ = θ θ
yaitu, ketika disama dengankan nol dan diselesaikan, menghasilkan matriks p×1
penduga maksimum likelihood . Nilai harapan dari vektor skor mempunyai
komponen
θˆ
(2.82)
[
U ( )]
0 i 1,2,...,pE i θ = =
dan matriks variansi-kovariansi adalah
(2.83)
[
( ) '( )]
E ) (
Iθ = Uθ U θ .
Matriks tersebut mempunyai komponen
, p , ... , 2 , 1 j
, p , ... , 2 , 1 i )
, ( L log E
j i 2
= = ⎥
⎥ ⎦ ⎤ ⎢
⎢ ⎣ ⎡
∂ ∂ ∂ −
θ θ
θ
t
(2.84)
dan ini sering disebut dengan Matriks informasi Fisher.
Contoh 2.18
Dari contoh 2.17, tunjukkan bahwa nilai harapan vektor skor adalah nol dan
tentukan matriks informasi Fisher.
Penyelesaian
Turunan dari vektor skor adalah
3 n
1 i
i
2 2
2 2 t
n ) , ( L log
θ θ
θ
θ
∑
=− = ∂
∂ t
( )
[
]
. 0 n 1 n t E 1 n t 1 n E U E 2 n 1 i i 2 n 1 i i 2 = + − = ⎥ ⎦ ⎤ ⎢ ⎣ ⎡ + − = ⎥ ⎦ ⎤ ⎢ ⎣ ⎡− + =∑
∑
= = θ θ θ θ θ θ θ θkarena E
[ ]
ti =θ untuk i=1,2,....,n.Matriks informasi Fisher adalah :
Sebelum mencari penduga fungsi survivor, akan dibahas terlebih dahulu apa yang dimaksud fungsi survivor.
3.1Fungsi Survivor
Fungsi survivor yang juga dikenal sebagai fungsi survival atau fungsi relia-bilitas adalah sifat dari sebarang variabel random yang memetakan himpunan-himpunan kejadian, yang biasanya berhubungan dengan kegagalan suatu sistem dalam sembarang waktu t ( wikipedia.org ).
Fungsi survivor, S(t) adalah generalisasi dari reliabilitas. Dalam statistika, reli-abilitas didefinisikan sebagai probreli-abilitas suatu barang ( item ) dapat berfungsi dalam suatu waktu tertentu, sedangkan fungsi survivor adalah probabilitas suatu barang ( item ) dapat berfungsi dalam sembarang waktu t.
Fungsi survivor dapat ditulis
(3.1)
0 t ], t T [ P ) t (
S = ≥ ≥
dimana t = suatu waktu
T = waktu kematian
P = Probabilitas
Dengan kata lain, fungsi survivor merupakan probabilitas dari kegagalan lebih lama dari waktu yang telah ditentukan. Di sini diasumsikan untuk t = 0. Fungsi survivor juga sering dikenal sebagai fungsi reliabilitas karena S(t) adalah
1 ) 0
( =
S
reliabilitas pada waktu t. Jadi hubungannya dengan fungsi distribusi kumulatif
F(t) adalah untuk variabel random kontinu. Dengan demikian,
implikasi dari hubungan tersebut adalah fungsi survivor harus memenuhi beberapa
kondisi sebagai berikut : ) t ( F 1 ) t (
S = −
1. S(0)=1
2. limS(t) 0 t→∞ =
3. S(t)monoton turun
Terdapat dua interpretasi dalam fungsi survivor. Pertama, S(t) adalah
proba-bilitas suatu item individual dapat berfungsi pada waktu t. Dalam menentukan
waktu hidup ( lifetime ), terdapat hal yang sangat penting sebagai dasarnya, yaitu
menentukan distribusi waktu hidup un