• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEBUDAYAAN DALAM WAWASAN DIENUL ISLAM (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "KEBUDAYAAN DALAM WAWASAN DIENUL ISLAM (1)"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

KEBUDAYAAN DALAM WAWASAN DIENUL ISLAM (1) Faqihuddin

Kebudayaan dalam wawasan dienul Islam.

Kesimpulan mengenai budaya dan kebudayaan selanjutnya dicoba untuk diletakkan dalam perspektif dienul Islam. Untuk itu terlebih dahulu dikutipkan hadits Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari jalan sahabat Umar bin Khathab r.a., yang matannya (terjemah A. Zaini Dahlan; Syarah Hadits Arba'in) sebagai berikut:

"Umar r.a. mengatakan, 'Sualu hari, saya dan para sahabat sedang duduk-duduk di samping Rasulullah saw. Tiba-tiba muncul seorang laki-laki berpakaian serba putih dan rambut hitam pekat di hadapan kami, tanpa seorang pun dari kami yang mengenalnya. Laki-laki itu lalu duduk di hadapan Nabi saw. Dia menyambungkan kedua lututnya pada kedua lutut Nabi saw., serta meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua paha Nabi saw. dan berkata, 'Ya Muhammad, beritahulah saya mengenai Islam.' Rasulullah saw. menjawab, 'Islam adalah kamu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, kemudian mendirikan salat, mengeluarkan zakat, berpuasa di bulan Ramadlan, dan kerjakanlah haji jika kamu mampu.' Laki-1aki itu pun menyahut, 'Engkau benar.' Kami heran dengan tingkah lakunya karena dia bertanya kepada Nabi saw., tetapi membenarkan jawaban Beliau. Kemudian, dia berkata lagi kepada Nabi saw, 'Beritahu-lah saya mengenai iman.' Beliau saw. menjawab, "Iman ialah kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitabnya, para rasul-Nya, hari akhir, serta beriman kepada takdir baik dan buruk.' Dia berkala. 'Engkau benar.' Laki-laki itu berkala lagi, "Beritahulah saya tentang ihsan.' .Nabi saw. pun menjawab, 'lhsan adalah kamu beribadah kepada Allah, seolah-olah kamu melihat-Nya. Apabila kamu tidak mampu melihat-Nya, yakinlah bahwa Allah melihat kamu." Dia bertanya lagi, "Beritahukanlah saya tentang hari kiamat.' Nabi saw. menjawab, 'Orang yang ditanya tidaklah lebih tahu dari si penanya." Laki-iaki tersebut berkata, 'Beritahukanlah tanda-tandanya.' Nabi saw. menjawab, 'Seorang budak perempuan melahirkan tuannya dan kamu akan melihat orang yang tak beralas kaki, bertelanjang, miskin, dan penggembala kambing berlomba-lomba dalam meninggikan bangunan.' Laki-laki itu lalu pergi. Setelah beberapa lama, kemudian Rasulullah saw. bertanya kepadaku, "Ya Umar, tahukah engkau, tahukah engkau siapakah yang bertanya?' Aku menjawab, 'Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.' Rasulullah saw. selanjutnya bersabda, ‘Dia itu Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian."'

Untuk memahami konsep kebudayaan dalam dienul Islam (selanjutnya disebut al Islam) digunakan pendekatan sistemik sebagai berikut:

Skhema dari al Islam

Keterangan:

A. Rukun Islam terdiri atas lingkaran-lingkaran yang diberi nomor angka Rumawi, I. Syahadatain

II. Mengerjakan shalat lima waktu III. Membayarkan zakat

(2)

B. Rukun Iman terdiri atas lingkaran-lingkaran yang diberi nomor angka Arab, 1. Percaya kepada Allah

2. Percaya kepada malaikat-malaikat-Nya 3. Percaya kepada kitab-kitab-Nya

4. Percaya kepada rasul-rasul-Nya 5. Percaya kepada hari kiamat

6. Percaya kepada takdir baik dan buruk

C. lhsan yaitu bagian yang diberi arsiran sebagai tanda proses, yang dialektis, dinamis, dan integratip.

D. Adapun yang dimaksud dengan sa'ah adalah proses yang akan dijalani oleh manusia hingga terjadinya hari kiamat.

Dari hadits ini dapat dijelaskan bahwa al Islam adalah suatu sistem yang terdiri dari komponen-komponen rukun Islam, rukun Iman, dan Ihsan, serta dilengkapi dengan gambaran adanya proses yang disebut Sa'ah.

Penjelasan Umum.

Al Islam adalah sistem yang berpusat pada rabb-Nya yaitu Allah SWT. disampaikan untuk menjadi pedoman dan diunggulkan dalam kehidupan manusia; [Qur'an, Sl:l; S9:33; S48:28; S61:9].

Al Islam merupakan sistem yang terbuka dan tidak ada paksaan di dalamnya, [Qur'an, S2:256]. Penjelasan per Komponen.

Komponen keislaman disebut rukun Islam dikemukakan lebih dahulu karena merupakan ranah yang nyata (domein eksistens) sebagai dasar pranata dan pelembagaan (menggunakan istilah Prof. Kuncaraningrat) kebudayaan Islam. Sebagai dasar pranata dan pelembagaan kebudayaan Islam di dalamnya terkandung antara lain;

a. Yang membedakan antara muslim dan bukan muslim dan/atau kebudayaan Islam dari kebudayaan lainnya.

b. Prilaku ritualisasi yang berpola dan baku, hanya sah bila mengikuti contoh dari Rasulullah saw.; disebut sebagai ibadah makhdlah (ibadah khusus).

c. Norma dasar terdiri dari perihal wajib, sunnah, dan bid'ah/haram.

d. Dasar dari pranata dan pelembagaan kebudayaan Islam bersumber pada al Qur’an dan as Sunnah yang berpusat di masjid.

Komponen keimanan di sebut rukun Iman, merupakan ranah kemungkinan (domein imanen) sebagai pengakuan; yang harus dibuktikan dengan melaksanakan komponen keislaman. Yang kapasitasnya akan semakin tinggi jika secara implikatip memberi corak/warna dalam keutuhan akhlak/budaya dalam wujud ihsan.

(3)

berbudaya (berakhlak) mulia [Q S 49: 13], dan dalam kebersamaan kaum muslimin mewujudkan kebudayaan Islam yang sebaik-baiknya [Q S 3: 110].

Komponen keislaman dan komponen keimanan memiliki nilai yang absolut dalam pengertian tidak boleh dirubah. Seandainya pun ada hal-hal yang lain, acuannya tetap harus disesuaikan dengan keterangan al Qur’an dan as Sunnah sesuatu yang tidak terdapat dalam al Qur'an atau pun as Sunnah harus ditolak. Komponen keislaman merupakan dasar dari syari'ah; dan komponen keimanan merupakan kualitas kekuatan yang disebut akidah. Sinergi dari keduanya disebut ibadah —ibadah dalam pengertian yang luas— diwujudkan dalam ranah ihsan. Dalam ranah ihsan inilah hendaknya diwujudkan 'kebudayaan Islam". Maka al Islam pun merupakan 'sistem social kebudayaan' dengan Catatan antara lain:

# komponen keislaman merupakan formalitas materil # komponen keimanan baru merupakan pengakuan

# komponen keihsanan merupakan institutionisasi dari dua komponen lainnya.

Untuk mendapatkan kebebasan bergerak dalam mewujudkan kebudayaan Islam perlu diperhatikan antara lain;

a. Norma dasar yang terdiri dari perihal halal, sunnah, mubah/boleh, makruh, dan haram; Nabi saw. Bersabda, 'Yang halal jelas, dan yang haram juga jelas’, pergerakkan akal adalah sebatas di antara keduanya; tepatnya domein mubah/boleh.

b. Musyawarah sebagai pranata kebudayaan sehingga keputusan yang diambil tetap bernilai 'ihsan'; menjadi ‘badah ghair makhdlah'.

Memperhatikan penjelasan-penjelasan di atas dapat dikemukakan bahwa:

1. Budaya dan kebudayaan dalam wawasan al Islam terletak pada ranah Ihsan dimana manusia dengan kekuatan akalnya melaksanakan peranannya sebagai pengelola bumi yang ditempatinya; dalam rangka 'menyempurnakan akhlak'.

2. Budaya dan kebudayaan akan bernilai ibadah selama muncul seutuhnya dalam koridor al Islam; merupakan totalitas akhlak/budaya sebagai wujud integral dari syari'ah, aqi'dah, dan ibadah.

3. Budaya dan kebudayaan dalam wawasan al Islam berpusat pada Sang Maha Pencipta yaitu Allah SWT.; sedangkan budaya dan kebudayaan dalam wawasan ahli antropologi berpusat pada diri pribadi manusia.

Kesimpulan akhir dari tulisan ini adalah:

Agama Islam bukan komponen dari kebudayaan melainkan kebudayaan itulah yang merupakan komponen dalam al Islam. Berbudaya dan berkebudayaan Islam tidak lain hendaknya merupakan perilaku-perilaku yang pantas untuk persembahan (ibadah dalam arti yang luas, ihsan) kepada Allah SWT.

Tiga Type Kebudayaan menurut al Qur'an.

Memperhatikan firman Allah SWT. dalam al Qur'an. Surat al Baqarah ayat 2 sampai dengan ayat 20 dapat difahami bahwa ada tiga type pokok kebudayaan.

1. Kebudayaan Takwa, dijelaskan melalui ayat 2 sampai dengan ayat 5 yang ciri-cirinya antara lain percaya kepada yang gaib, mengerjakan salat, membelanjakan sebagian rizki yang diterimanya, mengacu kepada kitab suci, dan meyakini adanya kehidupan akhirat.

(4)

3. Kebudayaan Menyimpang, dijelaskan melalui ayat 8 sampai dengan ayat 20 dengan ciri-ciri antara lain kemunafikan, penghianatan, konspirasi kejahatan, mengambil muka, dan adanya segala penyakit hati pada para pendukungnya; hilangnya keseimbangan psikoligis, dan timbulnya kebudayaan yang menyimpang (deviant subculture).

Bila direnungkan ternyata perubahan kebudayaan yang dijalani umat manusia seperti pendulum yang bergerak dari kutub "takwa" ke arah kutub ''kafir" dan kebalikannya dengan melalui type kebudayaan diantara keduanya; dalam proses yang berkesinambungan. Untuk mengetahui sedang pada titik manakah 'kebudayaan' Indonesia sekarang; tinggal memproyeksikannya pada ketiga type kebudayaan tersebut.

Apabila mengambil pengertian ihsan dari Rasulullah saw. sebagai mana bunyi hadits di atas patut ditanyakan. 'Sudah pantaskah, setiap perilaku berbudaya dan berkebudayaan dalam mengisi dan mencapai mencapai cita-cita kemerdekaan disebut sebagai ungkapan syukur dan beribadah kepada Allah SWT? Pertanyaan ini mudah-mudahan bergema dalam hati setiap muslim Indonesia terutama para pemimpin bangsa. Pemimpin bangsa yang bertanggungawab dalam membuat kebijakan dan mengambil keputusan untuk menyelenggarakan proses perubahan kebudayaan. Proses yang akan terus berlangsung berkesinambungan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara; yang diharapkan dalam suasana 'Baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafuur’ sampai akhir zaman. Amiin!

Penulis adalah Guru SMA Negeri 17 dan Madrasah Aliyah Muhammadiyah Bandung

Sumber:

Referensi

Dokumen terkait

Apabila sesuai maka penguji dapat melaksanakan ujian, setelah ujian dilaksanakan maka hal selanjutnya yang harus dilakukan oleh seorang penguji adalah menginput hasil ujian

Penelitian berjudul Pemanfaatan gas buang terproduksi untuk menaikkan temperatur di Rantau bais Gathering station menggunakan variasi tekanan dan temperatur dari uap panas yang

Menunjuk Gambar 6, pemasangan 5 area BESS mendapat respons lebih baik dari 1 area dalam peredaman fluktuasi frekuensi, nilai overshoot maksimum frekuensi yang didapatkan adalah

[r]

3 PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) meraih nilai kontrak baru sebesar Rp408 miliar pada Januari 2020 dimana mayoritas berasal dari proyek kontruksi gedung dengan rincian proyek

Hasil penelitian menunjukkan bahwa udang windu yang dipelihara baik pada perlakuan A (tumbuh cepat) maupun perlakuan B (kontrol) mampu bertahan hidup pada kondisi

Berdasarkan penelitian di atas dapat disimpulkan, gejala klinis yang paling banyak ditemui adalah demam, Pemeriksaan laboratorium hematologi pada pasien demam tifoid di RSUP

H1: Debt to equity ratio, return on equity dan net profit margin secara simultan berpengaruh signifikan terhadap price earning ratio pada pada perusahaan yang termasuk dalam