TUGAS 8
KOMUNIKASI ANTAR PERSONIL
KOMUNIKASI VERBAL DAN KOMUNIKASI NON VERBAL
NAMA : Diana Nurmalasari NIM : 1147050046 KELAS : D
HARI : Jum’at, 23 Oktober 2015 WAKTU : 14.20-16.00 WIB
DOSEN/ASISTEN : Lilis Sulastri, Dr,MM
JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
A. Komunikasi Verbal
Simbol atau pesan verbal adalah semua jenis symbol yang menggunakan satu kata atau lebih. Bahasa verbal adalah sarana utama untuk menyatakan pikiran, perasaan dan maksud. Bahasa verbal menggunakan kata-kata yang merepresentasikan berbagai aspek realitas individual kita. Konsekuensinya, kata-kata adalah abstraksi realitas kita yang tidak mampu menimbulkan reaksi yang merupakan totalitas objek atau konsep yang diwakili kata-kata itu. Misalnya, kata rumah. Banyak ragam rumah. Ada rumah bertingkat, rumah mewah, rumah sederhana dan rumah sangat sederhana.[1]
Ketika anda berkomunikasi dengan seseorang dari budaya anda sendiri, proses abstraksi untuk mempresentasikan pengalaman anda jauh lebih mudah, karena dalam suatu budaya orang-orang bernagi sejumlah pengalaman serupa. Namun bila komunikasi melibatkan orang yang berbeda budaya, banyak pengalaman berbeda, dan konsekuensinya, proses abstraksi juga menyulitkan.
1. Asal Usul Bahasa
Hingga kini belum ada teori yang diterima luas mengenai bagaimana bahasa itu muncul di permukaan bumi.[2] Teoretikus kontemporer mengatakan bahwa
bahasa adalah ekstensi perilaku sosial. Konon makhluk-makhluk yang mirip manusia (hominid) dan menggunakan alat pemotong dari batu ini berkomunikasi secara naluriah, dengan bertukar tanda alamiah berupa suara, postur dan gerakan tubuh, sedikit lebih maju dari komunikasi hewan primata masa kini.
Dulu, ketika nenek moyang kita yang disebut Cro Magnon belum mampu berbahasa verbal, mereka berkomunikasi lewat gambar-gambar yang mereka buat pada tulang, tanduk, cadas, dan dinding gua yang banyak ditemukan di Spanyol, dan Prancis Selatan. Antara 40.000 dan 35.000 tahun lalu Cro Magnon mulai menggunakan bahasa lisan.
2. Fungsi Bahasa Dalam Kehidupan Manusia
Fungsi bahasa yang mendasar adalah untuk menamai atau menjuluki orang, objek dan peristiwa. Setiap orang punya nama untuk indentifikasi sosial. Penamaan adalah dimensi pertama bahasa dan basis bahasa, dan pada awalnya itu dilakukan manusia sesuka mereka yang lalu menjadi konvensi.
Menurut Larry L. Barker,[3] bahasa memiliki tiga fungsi: penamaan, merujuk
pada usaha mengidentifikasi objek, tindakan, atau orang dengan menyebut namanya sehingga dapat dirujuk dalam komunikasi; interkasi, menekankan berbagai gagasan dan emosi yang dapat mengundang simpati dan pengertian atau kemarahan dan kebingungan; transmisi informasi, melalui bahasa, informasi dapat disampaikan kepada orang lain. Bahasa dapat menghubungkan masa lalu, masa kini dan masa depan.
Book mengemukakan, agar komunikasi berhasil, setidaknya bahasa harus memenuhi tiga fungsi, yaitu: untuk mengenal dunia sekitar; berhubungan dengan orang lain; dan untuk menciptakan koherensi dalam kehidupan kita.[4]
3. Keterbatasan Bahasa[1]
1) Keterbatan jumlah kata yang tersedia untuk mewakili objek.
Kata-kata pada dasarnya bersifat parsial, tidak melukiskan sesuatu secara eksak. Oleh karena itu kita sulit menamai suatu objek.
Kualitas seseorang atau sesuatu yang ingin kita ungkapkan sebenarnya tidak sesederhana itu. Baik orang, benda atau peristiwa sebenarnya sulit untuk kita kategorikan sebagai baik atau buruk. Kesulitan menggunakan kata yang tepat juga dialami ketika ingin mengungkapkan perasaan. Pesan verbal biasanya lebih lazim kita gunakan untuk menerangkan sesuatu yang bersifat factual-deskriptif-rasional.
2) Kata-kata bersifat ambigu dan kontekstual
Kata-kata bersifat kontekstual sebenarnya mengisyaratkan bahwa aturan-aturan baku dalam berbahasa tidaklah mutlak. Misalnya, kata-kata sifat seperti adil menjadi keadilan; cantik menjadi kecantikan. Namun prinsip ini tidak berlaku untuk kata sifat malu; malu menjadi rasa malu bukan kemaluan.
3) Kata-kata mengandung bias budaya
Bahasa terikat oleh konteks budaya. Menurut Hipotesis Sapir-Whorf, sebenarnya setiap bahasa menunjukkan suatu dunia simbolik yang khas, yang melukiskan realitas pikiran, pengalaman batin dan kebutuhan pemakainya.[5] Jadi bahasa yang berbeda sebenarnya mempengaruhi
pemakainya untuk berpikir, melihat lingkungan dan alam semestadi sekitarnya dengan cara berbeda dan perilaku secara berbeda pula. Hipotesis yang dikemukakan Benjamin Lee Whorf[6] menegaskan bahwa
tanpa bahasa kita tidak dapat berpikir; bahasa mempengaruhi persepsi; dan bahasa mempengaruhi pola berpikir.
Ketika kita menggunakan bahasa daerah, sifat bahasa daerah yang berlapis-lapis itu memaksa kita-sadar atau tidak- untuk memandang orang di hadapan kita dengan kategori tertentu.
4) Percampuradukan fakta, penafsiran dan penilaian
Dalam berbahasa kita sering mencampuradukkan fakta(uraian), penafsiran (dugaan) dan penilaian. Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mencampuradukkan fakta dan dugaan. Banyak peristiwa yang kita anggap fakta sebenarnya merupakan dugaan yang berdasarkan kemungkinan.
4. Kerumitan Makna Kata[1]
Bahasa daerah vs bahasa daerah[1]
Di dunia ini terdapat berbagai kelompok manusia dengan budaya dan subbudaya yang berbeda. Tidak mengherankan bila terdpat kata-kata yang kebetulan sama atau hamper sama tetapi dimaknai secara berbeda atau kata-kata yang berbeda namun dimaknai secara sama.
Bahasa daerah vs bahasa Indonesia[1]
Sejumlah kata dari bahasa daerah juga digunakan dalam bahasa Indonesia, atau sebaliknya, kata-kata Indonesia terdengar seperti diselipkan dalam bahasa daerah, namun artinya sangat jauh berbeda.
5. Nama Sebagai Simbol[1]
Nama diri-sendiri adalah symbol pertama dan utama bagi seorang. Nama dapat melambangkan status, citarasa budaya, untuk memperoleh citra tertentu atau sebagai nama hoki. Nama pribadi adalah unsure penting identitas seseorang dalam masyarakat, karena interaksi dimulai dengan nama dan baru kemudian diikuti dengan atribut-atribut lainnya. Penamaan seseorang, suatu objek atau suatu peristiwa ternyata tidak sederhana.
6. Bahasa Gaul[1]
Orang-orang punya latar belakang sosial budaya berbeda lazimnya berbicara dengan cara berbeda. Perbedaan ini boleh jadi menyangkut dialek, intonasi, kecepatan, volume dan yang pasti kosakatanya. Cara bicara dan pilihan kata ilmuwan berbeda dengan cara bicara dan pilihan kata pedagang. Sejumlah kata atau istilah punya arti khusus, unik, menyimpang atau bertentangan dengan arti yang lazim digunakan oleh orang-orang dari subkultur tertentu.
Bahasa kaum selebritits
a. Bahasa gay dan bahasa waria
Di negara kita bahasa gaul kaum selebritis ternyata mirip dengan bahasa gaul kaum gay (homoseksual) dan juga bahasa gaul kaum waria atau banci. Misalnya, binaginus (bagus), cinakinep (cakep) dan sebagainya.
b. Bahasa Wanita vs Bahasa Pria
Wanita dan pria mempunyai kosakata berlainan. Sebabnya adalah sosialisasi mereka yang berbeda., khususnya minat mereka yang berlainan terhadap aspek kehidupan. Deborah Tannen (1991) mengatakan bahwa wanita cenderung menata pembicaraan secara kooperatif, sedangkan pria cenderung menatanya secara kompetitif.
c. Ragam Bahasa Inggris
Bahasa Inggris yang lebih universal ternyata tidak konsisten dalam ejaannya, pengucapannya, pilihan kata juga maknanya. Bahasa Inggris berkembang menjadi beberapa ragam, antara lain; Inggris-Inggris (British English), Amerika, Australia, Filipina, dan Inggris-Singapura.
7. Pengalihan Bahasa[1]
Untuk melakukan komunikasi yang efektif, kita harus menguasai bahasa mitra komunikasi kita. Dalam konteks inilah kita setidaknya perlu menguasai bahasa Inggris untuk menjadi komunikator yang efektif. Komunikasi dalam bahasa dapat menimbulkan salah pengertian, bila kita tidak menguasai bahasa lawan bicara kita.
8. Komunikasi Konteks Tinggi Vs Komunikasi Konteks Rendah
pembicara. Pernyataan verbal bisa berbeda dengan pernyataan non verbalnya. Contoh: suku sunda-jawa yang berbicara berputar-putar tidak langsung pada inti masalah. Orang indonesia cenderung berbicara tidak langsung atau menggunakan komunikasi konteks tinggi demi untuk menjaga harmoni.
Catatan
1. Prof. Deddy Mulyana, M.A., Ph.D. ; ilmu komunikasi suatu pengantar ; PT Remaja Rosdakarya ; Bandung
2. Melvin L.DeFleur dan Sandra Ball-Rokeach. Hlm. 3-21. 3. Larry L.Barker. hlm.232.
4. Cassandra L.Book, hlm.45 5. Infante et al., hlm 199
6. Benjamin Lee Whorf.Ed.John B.Carrol.
B. Komunikasi Nonverbal
Komunikasi nonverbal adalah proses komunikasi dimana pesan disampaikan tidak menggunakan kata-kata. Contoh komunikasi nonverbal ialah menggunakan gerak isyarat, bahasa tubuh, ekspresi wajah dan kontak mata, penggunaan objek seperti pakaian, potongan rambut, dan sebagainya, simbol-simbol, serta cara berbicara seperti intonasi, penekanan, kualitas suara, gaya emosi, dan gaya berbicara.
Para ahli di bidang komunikasi nonverbal biasanya menggunakan definisi "tidak menggunakan kata" dengan ketat, dan tidak menyamakan komunikasi non-verbal dengan komunikasi nonlisan. Contohnya, bahasa isyarat dan tulisan tidak dianggap sebagai komunikasi nonverbal karena menggunakan kata, sedangkan intonasi dan gaya berbicara tergolong sebagai komunikasi nonverbal. Komunikasi nonverbal juga berbeda dengan komunikasi bawah sadar, yang dapat berupa komunikasi verbal ataupun nonverbal.
1. Jenis-jenis komunikasi nonverbal
a. Komunikasi objek
pekerjaan seseorang yang berpakaian cenderung lebih mudah mendapat pekerjaan daripada yang tidak. Contoh lain dari penggunaan komunikasi objek adalah seragam.
b. Sentuhan
Haptik adalah bidang yang mempelajari sentuhan sebagai komunikasi nonverbal. Sentuhan dapat termasuk: bersalaman, menggenggam tangan, berciuman, sentuhan di punggung, mengelus-elus, pukulan, dan lain-lain. Masing-masing bentuk komunikasi ini menyampaikan pesan tentang tujuan atau perasaan dari sang penyentuh. Sentuhan juga dapat menyebabkan suatu perasaan pada sang penerima sentuhan, baik positif ataupun negatif.
c. Kronemik
Kronemik adalah bidang yang mempelajari penggunaan waktu dalam komunikasi nonverbal. Penggunaan waktu dalam komunikasi nonverbal meliputi durasi yang dianggap cocok bagi suatu aktivitas, banyaknya aktivitas yang dianggap patut dilakukan dalam jangka waktu tertentu, serta ketepatan waktu (punctuality).[1]
d. Gerakan tubuh
Dalam komunikasi nonverbal, kinesik atau gerakan tubuh meliputi kontak mata, ekspresi wajah, isyarat, dan sikap tubuh. Gerakan tubuh biasanya digunakan untuk menggantikan suatu kata atau frasa, misalnya mengangguk untuk mengatakan ya; untuk mengilustrasikan atau menjelaskan sesuatu; menunjukkan perasaan, misalnya memukul meja untuk menunjukkan kemarahan; untuk mengatur atau menngendalikan jalannya percakapan; atau untuk melepaskan ketegangan.[2][3]
e. Proxemik
selain itu juga menunjukkan simbol sosial. Dalam ruang personal, dapat dibedakan menjadi 4 ruang interpersonal :
1) Jarak intim
Jarak dari mulai bersentuhan sampai jarak satu setengah kaki. Biasanya jarak ini untuk bercinta, melindungi, dan menyenangkan.
2) Jarak personal
Jarak yang menunjukkan perasaan masing - masing pihak yang berkomunikasi dan juga menunjukkan keakraban dalam suatu hubungan, jarak ini berkisar antara satu setengah kaki sampai empat kaki.
3) Jarak sosial
Dalam jarak ini pembicara menyadari betul kehadiran orang lain, karena itu dalam jarak ini pembicara berusaha tidak mengganggu dan menekan orang lain, keberadaannya terlihat dari pengaturan jarak antara empat kaki hingga dua belas kaki.
4) Jarak publik
Jarak publik yakni berkisar antara dua belas kaki sampai tak terhingga.
[4]
f. Vokalik
Vokalik atau paralanguage adalah unsur nonverbal dalam suatu ucapan, yaitu cara berbicara. Ilmu yang mempelajari hal ini disebut paralinguistik. Contohnya adalah nada bicara, nada suara, keras atau lemahnya suara, kecepatan berbicara, kualitas suara, intonasi, dan lain-lain. Selain itu, penggunaan suara-suara pengisi seperti "mm", "e", "o", "um", saat berbicara juga tergolong unsur vokalik, dan dalam komunikasi yang baik hal-hal seperti ini harus dihindari.[5]
g. Lingkungan
Lingkungan juga dapat digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu. Diantaranya adalah penggunaan ruang, jarak, temperatur, penerangan, dan warna.[6]
a. Fungsi pertama : Repetisi
Perilaku nonverbal dapat mengulangi perilaku verbal. Misalnya, Anda menganggukkan kepala ketika mengatakan "Ya," atau menggelengkan kepala ketika mengatakan "Tidak," atau menunjukkan arah (dengan telunjuk) ke mana seseorang harus pergi untuk menemukan WC.
b. Fungsi Kedua : Subtitusi
Perilaku nonverbal dapat menggantikan perilaku verbal, jadi tanpa berbicara Anda bisa berinteraksi dengan orang lain. Misalnya, seorang pengamen mendatangi mobil Anda kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun Anda menggoyangkan tangan Anda dengan telapak tangan mengarah ke depan (sebagai kata pengganti "Tidak").
Isyarat nonverbal yang menggantikan kata atau frasa inilah yang disebut emblem.
c. Fungsi Ketiga : Kontradiksi
Perilaku nonverbal dapat membantah atau bertentangan dengan perilaku verbal dan bisa memberikan makna lain terhadap pesan verbal . Misalnya, Anda memuji prestasi teman sambil mencibirkan bibir.
d. Fungsi Keempat : Aksentuasi
Memperteguh, menekankan atau melengkapi perilaku verbal. Misalnya, menggunakan gerakan tangan, nada suara yang melambat ketika berpidato. Isyarat nonverball tersebut disebut affect display.
e. Fungsi Kelima : Komplemen
Perilaku Nonverbal dapat meregulasi perilaku verbal. Misalnya, saat kuliah akan berakhir, Anda melihat jam tangan dua-tiga kali sehingga dosen segera menutup kuliahnya.
3. Variasi budaya dalam komunikasi nonverbal
langsung, sedangkan orang Timur Tengah, India dan Amerika Serikat biasanya menganggap kontak mata penting untuk menunjukkan keterpercayaan, dan orang yang menghindari kontak mata dianggap tidak dapat dipercaya.[7]
Catatan
1. Verderber (2005), h. 82-83
2. Ekman, P.; W. V. Friesen (1969). Semiotica, I. pp. 49–98. 3. Verderber (2005), h. 74-75
4. Yatri Indah K. (2009), h. 22 5. Verderber (2005), h. 77-78 6. Verderber (2005), h. 84-88
DAFTAR PUSTAKA
Verderber, Rudolph F.; Kathleen S. Verderber (2005). "Chapter 4: Communicating through Nonverbal Behaviour". Communicate! (edisi ke-11 ed.). Wadsworth. ISBN 0-534-73936-4 Check |isbn= value (bantuan).
Indah Kusumastuti, Yatri (2009). "Chapter 2: Komunikasi dalam Organisasi". Komunikasi Bisnis (edisi ke-1 ed.). IPB Press. ISBN 978-979-493-205-6.