• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pertemuan 1. Transcultural Nursing Introduntion

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pertemuan 1. Transcultural Nursing Introduntion"

Copied!
52
0
0

Teks penuh

(1)

Pertemuan 1

Transcultural Nursing

Introduction

(2)

PENDAHULUAN

. Tuntutan kebutuhan masyarakat akan pelayanan

kesehatan pada abad ke-21, termasuk tuntutan terhadap asuhan keperawatan yang berkualitas akan semakin

besar. Dengan adanya globalisasi, dimana perpindahan penduduk antar negara (imigrasi) dimungkinkan,

menyebabkan adaya pergeseran terhadap tuntutan asuhan keperawatan.

•Keperawatan sebagai profesi memiliki landasan body of knowledge yang kuat, yang dapat dikembangkan serta dapat diaplikasikan dalam praktek eperawatan.

(3)

Salah satu teori yang diungkapkan pada midle range theory adalah Transcultural Nursing Theory. Teori ini

berasal dari disiplin ilmu antropologi dan dikembangkan dalam konteks keperawatan. Teori ini menjabarkan

konsep keperawatan yang didasari oleh pemahaman tentang adanya perbedaan nilai-nilai kultural yang melekat dalam masyarakat.

Leininger beranggapan bahwa sangatlah penting

memperhatikan keanekaragaman budaya dan nilai-nilai dalam penerapan asuhan keperawatan kepada klien. Bila hal tersebut diabaikan oleh perawat, akan

(4)

• Madeleine Leininger dianggap sebagai pendiri teori keperawatan transkultural.

• Teorinya kini telah berkembang sebagai suatu disiplin dalam keperawatan.

• Evolusi teorinya dapat dipahami dari buku-bukunya:

Budaya Perawatan Keanekaragaman dan Universalitas (1991)Transcultural Nursing (1995)

Transcultural Nursing (2002)

• Teori keperawatan Transcultural juga dikenal sebagai teori Budaya Perawatan.

(5)

Cultural shock akan dialami oleh klien pada suatu kondisi dimana perawat tidak mampu beradaptasi dengan

perbedaan nilai budaya dan kepercayaan. Hal ini dapat menyebabkan munculnya rasa ketidak

nyamanan, ketidakberdayaan dan beberapa mengalami disorientasi.

Salah satu contoh yang sering ditemukan adalah ketika klien sedang mengalami nyeri. Pada beberapa daerah atau negara diperbolehkan seseorang untuk

mengungkapkan rasa nyerinya dengan berteriak atau menangis. Tetapi karena perawat memiliki kebiasaan bila merasa nyeri hanya dengan meringis pelan, bila berteriak atau menangis akan dianggap tidak sopan, maka ketika ia mendapati klien tersebut menangis

atau berteriak, maka perawat akan memintanya untuk bersuara pelan-pelan, atau memintanya berdoa atau malahmemarahi pasien karena dianggap telah

mengganggu pasien lainnya. Kebutaan budaya yang dialami oleh perawat ini akan berakibat pada

(6)

Pengertian

Transcultural Nursing

adalah

suatu area/wilayah keilmuwan

budaya pada proses belajar dan

praktek keperawatan yang fokus

memandang perbedaan dan

kesamaan diantara budaya dengan

menghargai asuhan, sehat dan sakit

didasarkan pada nilai budaya

manusia, kepercayaan dan tindakan,

dan ilmu ini digunakan untuk

(7)

Asumsi mendasar dari teori adalah perilaku Caring.

Caring adalah esensi dari keperawatan, membedakan, mendominasi serta mempersatukan tindakan keperawatan. Tindakan Caring dikatakan sebagai tindakan yang

dilakukan dalam memberikan dukungan kepada individu secara utuh. Perilaku Caring semestinya diberikan

kepada manusia sejak lahir, dalam perkembangan dan

pertumbuhan, masa pertahanan sampai dikala manusia itu meninggal.

Human caring secara umum dikatakan sebagai segala sesuatu yang berkaitan dengan dukungan dan bimbingan pada manusia yang utuh.

(8)

Konsep dalam Transcultural Nursing

1. Budaya adalah norma atau aturan tindakan dari anggota kelompok yang dipelajari, dan dibagi serta memberi petunjuk dalam berfkir, bertindak dan

mengambil keputusan.

2. Nilai budaya adalah keinginan individu atau

tindakan yang lebih diinginkan atau sesuatu tindakan yang dipertahankan pada suatu waktu tertentu dan melandasi tindakan dan keputusan.

3. Perbedaan budaya dalam asuhan keperawatan merupakan bentuk yang optimal daei pemberian asuhan keperawatan, mengacu pada kemungkinan variasi pendekatan keperawatan yang dibutuhkan untuk memberikan asuhan budaya yang menghargai nilai budaya individu, kepercayaan dan tindakan

(9)

4. Etnosentris adalah persepsi yang dimiliki oleh individu yang menganggap

bahwa budayanya adalah yang terbaik diantara budaya-budaya yang dimiliki oleh orang lain.

5. Etnis berkaitan dengan manusia dari ras tertentu atau kelompok budaya yang digolongkan menurut ciri-ciri dan kebiasaan yang lazim.

6. Ras adalah perbedaan macam-macam manusia didasarkan pada

mendiskreditkan asal muasal manusia

7. Etnograf adalah ilmu yang mempelajari budaya. Pendekatan metodologi

pada penelitian etnograf memungkinkan perawat untuk mengembangkan

kesadaran yang tinggi pada perbedaan budaya setiap

(10)

8

.

Care adalah fenomena yang berhubungan dengan

bimbingan, bantuan, dukungan perilaku pada

individu, keluarga, kelompok dengan adanya

kejadian untuk memenuhi kebutuhan baik aktual

maupun potensial untuk meningkatkan kondisi dan

kualitas kehidupan manusia.

9. Caring adalah tindakan langsung yang diarahkan

untuk membimbing, mendukung dan mengarahkan

individu, keluarga atau kelompok pada keadaan

(11)

10. Cultural Care berkenaan dengan kemampuan kognitif untuk mengetahui nilai, kepercayaan dan pola ekspresi yang digunakan untuk mebimbing, mendukung atau memberi kesempatan individu, keluarga atau kelompok untuk mempertahankan

kesehatan, sehat, berkembang dan bertahan hidup, hidup dalam keterbatasan dan mencapai kematian dengan damai.

11. Cultural imposition berkenaan dengan kecenderungan tenaga kesehatan untuk

memaksakan kepercayaan, praktik dan nilai diatas budaya orang lain

(12)

Paradigma Transcultural

Nursing

Leininger (1985

) mengartikan

paradigma keperawatan transcultural

sebagai cara pandang, keyakinan,

nilai-nilai, konsep-konsep dalam

terlaksananya asuhan keperawatan

yang sesuai dengan latar belakang

budaya terhadap empat konsep

(13)

1. Manusia

Manusia adalah individu, keluarga atau

kelompok yang memiliki nilai-nilai dan

norma-norma yang diyakini dan berguna untuk

menetapkan pilihan dan melakukan pilihan.

Menurut Leininger (1984) manusia memiliki

kecenderungan untuk mempertahankan

(14)

2. Sehat

Kesehatan adalah keseluruhan aktiftas yang

dimiliki klien dalam mengisi kehidupannya,

terletak pada rentang sehat sakit. Kesehatan

merupakan suatu keyakinan, nilai, pola

kegiatan dalam konteks budaya yang

digunakan untuk menjaga dan memelihara

keadaan seimbang /sehat yang dapat di

(15)

3. Lingkungan

Lingkungan didefnisikan sebagai keseluruhan fenomena yang mempengaruhi perkembangan, kepercayaan dan perilaku klien.

Lingkungan dipandang sebagai suatu totalitas kehidupan dimana klien dengan budayanya saling berinteraksi. Terdapat tiga bentuk lingkungan yaitu : fsik, sosial dan simbolik.

Lingkungan fsik adalah lingkungan alam atau diciptakan oleh manusia seperti daerah katulistiwa, pegunungan, pemukiman padat dan iklim

seperti rumah di daerah Eskimo yang hampir tertutup rapat karena tidak pernah ada matahari sepanjang tahun.

Lingkungan sosial adalah keseluruhan struktur sosial yang

(16)

4. Keperawatan

Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau

rangkaian kegiatan pada praktik keperawatan yang

diberikan kepada klien sesuai dengan latar

belakang budayanya.

Asuhan keperawatan ditujukan memnadirikan

individu sesuai dengan budaya klien. Strategi yang

digunakan dalam asuhan keperawatan adalah

perlindungan /mempertahankan budaya,

(17)

a. Cara I : Mempertahankan budaya

Mempertahankan budaya dilakukan bila budaya

pasien tidak bertentangan dengan kesehatan.

Perencanaan dan implementasi keperawatan

diberikan sesuai dengan nilai-nilai yang relevan

yang telah dimiliki klien sehingga klien dapat

meningkatkan atau mempertahankan status

kesehatannya, misalnya budaya berolahraga

setiap pagi.

b. b. Cara II : Negosiasi budaya

Intervensi dan implementasi keperawatan pada

tahap ini dilakukan untuk membantu klien

beradaptasi terhadap budaya tertentu yang lebih

menguntungkan kesehatan. Perawat membantu

klien agar dapat memilih dan enentukan budaya

lain yang lebih mendukung peningkatan

kesehatan, misalnya klien sedang hamil

(18)

c. Cara III : Restrukturisasi budaya

Restrukturisasi budaya klien dilakukan

bila budaya yang dimiliki merugikan

status kesehatan. Perawat berupaya

merestrukturisasi gaya hidup klien yang

biasanya merokok menjadi tidak

merokok. Pola rencana hidup yang dipilih

biasanya yang lebih menguntungkan dan

sesuai dengan

(19)

Proses keperawatan

Transcultural Nursing

Model konseptual yang dikembangkan oleh

Leininger dalam menjelaskan asuhan keperawatan

dalam konteks budaya digambarkan dalam bentuk

matahari

terbit (Sunrise Model).

Geisser (1991) menyatakan bahwa proses

keperawatan ini digunakan oleh perawat sebagai

landasan berfkir dan memberikan solusi terhadap

masalah klien (Andrew and Boyle, 1995).

Pengelolaan asuhan keperawatan dilaksanakan dari

mulai tahap pengkajian, diagnosa keperawatan,

(20)

1. Pengkajian

Pengkajian adalah proses mengumpulkan data untuk

mengidentifkasi masalah kesehatan klien sesuai dengan latar belakang budaya klien (Giger and Davidhizar, 1995). Pengkajian dirancang berdasarkan 7 komponen yang ada pada "Sunrise

Model" yaitu :

a. Faktor teknologi (tecnological factors)

Teknologi kesehatan memungkinkan individu untuk memilih atau mendapat penawaran menyelesaikan masalah dalam pelayanan kesehatan. Perawat perlu mengkaji : persepsi sehat sakit,

kebiasaan

berobat atau mengatasi masalah kesehatan, alasan mencari bantuan kesehatan, alasan klien memilih pengobatan alternatif dan persepsi klien tentang penggunaan dan pemanfaatan

(21)

b. Faktor agama dan falsafah hidup (religious and philosophical factors)

Agama adalah suatu simbol yang mengakibatkan

pandangan yang amat realistis bagi para pemeluknya. Agama memberikan motivasi yang sangat kuat untuk menempatkan kebenaran di atas segalanya, bahkan di atas kehidupannya sendiri. Faktor agama yang harus dikaji oleh perawat adalah : agama yang dianut, status pernikahan, cara pandang klien terhadap penyebab

(22)

c. Faktor sosial dan keterikatan keluarga (kinship and social factors)

Perawat pada tahap ini harus mengkaji faktor-faktor : nama lengkap, nama panggilan, umur dan tempat tanggal lahir, jenis kelamin, status, tipe keluarga, pengambilan keputusan dalam keluarga, dan hubungan klien dengan kepala keluarga.

d. Nilai-nilai budaya dan gaya hidup (cultural value and life ways)

Nilai-nilai budaya adalah sesuatu yang dirumuskan dan ditetapkan oleh penganut budaya yang dianggap baik atau buruk.

Norma-norma budaya adalah suatu kaidah yang mempunyai sifat

penerapan terbatas pada penganut budaya terkait. Yang perlu dikaji pada faktor ini adalah :

posisi dan jabatan yang dipegang oleh kepala keluarga, bahasa

(23)

e. Faktor kebijakan dan peraturan yang berlaku (political and legal factors)

Kebijakan dan peraturan rumah sakit yang berlaku adalah segala sesuatu yang mempengaruhi kegiatan individu dalam asuhan keperawatan lintas budaya (Andrew and Boyle, 1995). Yang perlu dikaji pada tahap ini adalah : peraturan dan kebijakan yang berkaitan dengan jam berkunjung, jumlah anggota

keluarga yang boleh menunggu, cara pembayaran untuk klien yang dirawat.

f. Faktor ekonomi (economical factors)

Klien yang dirawat di rumah sakit memanfaatkan

sumber-sumber material yang dimiliki untuk membiayai sakitnya agar segera sembuh. Faktor ekonomi yang harus dikaji oleh perawat diantaranya : pekerjaan klien, sumber biaya pengobatan,

tabungan yang dimiliki oleh keluarga, biaya dari sumber lain misalnya asuransi, penggantian biaya dari kantor

(24)

g. Faktor pendidikan (educational factors)

Latar belakang pendidikan klien adalah pengalaman klien dalam menempuh jalur pendidikan formal

tertinggi saat ini. Semakin tinggi pendidikan klien maka keyakinan klien biasanya didukung oleh bukti-bukti ilmiah yang rasional dan individu tersebut

dapat belajar beradaptasi terhadap budaya yang

sesuai dengan kondisi kesehatannya. Hal yang perlu dikaji pada tahap ini adalah : tingkat pendidikan

(25)

2. Diagnosa keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah respon klien

sesuai latar belakang budayanya yang dapat

dicegah, diubah atau dikurangi melalui

intervensi keperawatan. (Giger and Davidhizar,

1995). Terdapat tiga diagnosa keperawatan yang

sering ditegakkan dalam asuhan keperawatan

transkultural yaitu : gangguan komunikasi

verbal berhubungan dengan perbedaan kultur,

gangguan interaksi sosial berhubungan

disorientasi sosiokultural dan ketidakpatuhan

(26)

3. Perencanaan dan

Pelaksanaan

Perencanaan dan pelaksanaan dalam keperawatan

trnaskultural adalah suatu proses keperawatan yang tidak dapat dipisahkan.

Perencanaan adalah suatu proses memilih strategi yang tepat dan pelaksanaan adalah melaksanakan tindakan yang sesuai dengan latar belakang budaya klien (Giger and

Davidhizar, 1995).

Ada tiga pedoman yang ditawarkan dalam keperawatan transkultural (Andrew and Boyle, 1995) yaitu :

1. mempertahankan budaya yang dimiliki klien bila budaya klien tidak bertentangan dengan kesehatan,

2. mengakomodasi budaya klien bila budaya klien kurang menguntungkan kesehatan dan

(27)

a. Cultural care preservation/maintenance

1) Identifkasi perbedaan konsep antara klien dan perawat tentang proses melahirkan dan perawatan bayi

2) Bersikap tenang dan tidak terburu-buru saat berinterkasi dengan klien

3) Mendiskusikan kesenjangan budaya yang dimiliki klien dan perawat

b. Cultural careaccomodation/negotiation

1) Gunakan bahasa yang mudah dipahami oleh klien 2) Libatkan keluarga dalam perencanaan perawatan

(28)

c. Cultual care repartening/reconstruction

1) Beri kesempatan pada klien untuk memahami informasi yang diberikan dan melaksanakannya

2) Tentukan tingkat perbedaan pasien melihat dirinya dari budaya

kelompok

3) Gunakan pihak ketiga bila perlu

4) Terjemahkan terminologi gejala pasien ke dalam bahasa kesehatan yang dapat dipahami oleh klien dan orang tua

5) Berikan informasi pada klien tentang sistem pelayanan kesehatan

• Perawat dan klien harus mencoba untuk memahami budaya masingmasing melalui proses akulturasi, yaitu proses

mengidentifkasi persamaan dan

(29)

Evaluasi

Evaluasi asuhan keperawatan transkultural

dilakukan terhadap keberhasilan klien tentang

mempertahankan budaya yang sesuai dengan

kesehatan, mengurangi budaya klien yang tidak

sesuai dengan kesehatan atau

beradaptasi dengan budaya baru yang mungkin

sangat bertentangan dengan budaya yang dimiliki

klien. Melalui evaluasi dapat diketahui asuhan

(30)

PROSES KEPERAWATAN

TRANSKULTURAL

PENGKAJIAN

Pengkajian dirancang berdasarkan 7 komponen

yang ada pada “Sunrise Model” yaitu :

• Faktor teknologi

• Faktor agama dan flosofs

• Faktor kekerabatan dan sosial

• Faktor nilai budaya dan gaya hidup

• Faktor politis dan legal

(31)

FAKTOR TEKNOLOGI

Meliputi teknologi apa saja yang dimanfaatkan

Atau digunakan oleh keluarga untuk mengatasi

masalah kesehatannya

Mengenai : Persepsi tentang penggunaan

teknologi untuk mengatasi permasalahan

kesehatan, alasan mencari bantuan

(32)

FAKTOR AGAMA DAN

FILOSOFI

Mengenai : Agama yang dianut, kebiasaan

pemeluk agama yang berdampak positif

terhadap kesehatan,kebiasaan yang

berdampak positif terhadap kesehatan ,

upaya mencari bantuan kesehatan, konsep

diri yg utuh, status pernikahan, persepsi

klien terhadap kesehatan , cara beradaptasi

terhadap situasi saat ini, cara pandang klien

terhadap penyebab penyakit , cara

pengobatan dan cara penularan terhadap

orang lain

(33)

KESIMPULAN

Dari uraian yang telah dijabarkan pada bab terdahulu tentang penerapan asuhan keperawatan Transkultural dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Keperawatan transkultural adalah suatu proses pemberian asuhan keperawatan yang difokuskan kepada individu dan kelompok untuk

mempertahankan, meningkatkan perilaku sehat sesuai dengan latar belakang budaya

2. Pengkajian asuhan keperawatan dalam konteks budaya sangat diperlukan untuk menjembatani

(34)

3. Diagnosa keperawatan transkultural yang

ditegakkan dapat mengidentifkasi tindakan yang dibutuhkan untuk mempertahankan budaya yang sesuai dengan kesehatan, membentuk budaya baru yang sesuai dengan kesehatan atau bahkan

mengganti budaya yang tidak sesuai dengan kesehatan dengan budaya baru.

4. Perencanaan dan pelaksanaan proses keperawatan transkultural tidak dapat begitu saja dipaksakan

kepada klien sebelum perawat memahami latar belakang budaya klien sehingga tindakan yang dilakukan dapat sesuai dengan budaya klien.

(35)

REFERENSI

Andrew . M & Boyle. J.S, (1995), Transcultural Concepts in Nursing Care, 2nd Ed, Philadelphia, JB Lippincot Company

Cultural Diversity in Nursing, (1997), Transcultural Nursing ; Basic Concepts and Case Studies, Ditelusuri tanggal 14 Oktober 2006 dari

http://www.google.com/rnc.org/transculturalnursing

Fitzpatrick. J.J & Whall. A.L, (1989), Conceptual Models of Nursing : Analysis and Application, USA, Appleton & Lange

Giger. J.J & Davidhizar. R.E, (1995), Transcultural Nursing : Assessment and Intervention, 2nd Ed, Missouri , Mosby Year Book Inc

Iyer. P.W, Taptich. B.J, & Bernochi-Losey. D, (1996), Nursing Process and NursingDiagnosis, W.B Saunders Company, Philadelphia

Leininger. M & McFarland. M.R, (2002), Transcultural Nursing : Concepts, Theories, Research and Practice, 3rd Ed, USA, Mc-Graw Hill

Companies

(36)

Royal College of Nursing (2006), Transcultural Nursing Care of

Adult ; Section One Understanding The Theoretical Basis of

Transcultural Nursing Care Ditelusuri tanggal 14 Oktober 2006 dari

http://www.google.com/rnc.org/transculturalnursing

__________________________, Transcultural Nursing Care of Adult ;

Section TwoTranscultural NursingModels ; Theory and Practice, Ditelusuri tanggal14 Oktober 2006 dari

http://www.google.com/rnc.org/transculturalnursing

__________________________, Transcultural Nursing Care of Adult ; Section Three

Application of Transcultural Nursing Models, Ditelusuri tanggal 14 Oktober 2006 dari

(37)

FAKTOR KEKELUARGAAN DAN

SOSIAL

Mengenai :

Nama lengkap dan nama panggilan,

marga, usia atau tenpat tanggal lahir,

jenis kelamin, Status,tipekeluarga,

tumbuh kembang keluarga ,

pengambilan keputusan dalam

(38)

FAKTOR NILAI BUDAYA DAN GAYA

HIDUP

Mengenai :

• Posisi atau jabatan, bahasa yang

digunakan, bahasa nonverbal yang sering

ditunjukkan klien, kebiasaan

membersihkan diri, kebiasaan makan,

pantang terhadap makanan tertentu

yang terkait dengan kondisi tubuh,

sarana hiburan yang dimanfaatkan ,

(39)

FAKTOR KEBIJAKAN DAN

LEGAL

Mengenai :

• Peraturan dan kebijakan yang

berkaitan dengan jam berkunjung,

(40)

FAKTOR EKONOMI

Mengenai :

• Pekerjaan klien, sumber biaya

(41)

FAKTOR PENDIDIKAN

Mengenai :

• Tingkat pendidikan terakhir

• Pelatihan yang pernah didapat

• Jenis pendidikan serta

(42)

PROSES KEPERAWATAN

TRANSKULTURAL

DIAGNOSA KEPERAWATAN

• Gangguan komunikasi verbal

berhubungan dengan perbedaan

kultur

• Gangguan interaksi sosial

berhubungan disorientasi sosiokultural

• Ketidak patuhan dalam pengobatan

(43)

PROSES KEPERAWATAN

TRANSKULTURAL

INTERVENSI

• Mempertahankan budaya Bila

menguntungkan tidak bertentangan

• Negosiasi budaya akomodasi

bila kurang menguntungkan

(44)

Pendekatan

• Self Awareness

(45)

Penerapan

Mc Closkey & Grace

Perawat Keluarga

Budaya Budaya

Akulturasi

Hubungan Teurapeutik

(46)

EVALUASI

Dilakukan terhadap keberhasilan

individu/keluarga dalam

mempertahankan budaya yang

sesuai dengan Kesehatan negosiasi

terhadap budaya tertentu yang lebih

menguntungkan Kesehatan dan

restrukturisasi budaya Yang

(47)

KELUARGA DI JAWA TIMUR

Nilai nilai keluarga Jawa Timur :

• Keluarga merupakan kesatuan antara suami-istri

dan anak yang belum menikah yang tinggal

serumah.

• Sistem nilai dan ideologi keluarga/budaya jatim

dipengaruhi oleh budaya sebelum islam.

• Figur suami dan bapak dalam keluarga jatim

sangat dominan.

• Komitmen kuat untuk saling menolong anggota

keluarga yang membutuhkan.

(48)

BUDAYA KESEHATAN DI JAWA TIMUR

Gangguan kesehatan ringan

istirahat, minum jamu, atau pijat.

• Gangguan kesehatan berat

ke

(49)

MPLIKASI KEPERAWATAN

Dalam melakukan asuhan

keperawatan pada keluarga Jatim,

perawat seharusnya melibatkan

keluarga inti (terutama bapak) dan

keluarga besar, termasuk kyai

(50)

KELUARGA MINANGKABAU

Nilai -nilai keluarga Minangkabau :

• Ibu memegang peran sentral dalam

pendidikan, pengamanan kekayaan dan

kesejahteraan keluarga (termasuk

kesehatan).

• Sejak kecil anak dididik untuk tinggal

terpisah

dari keluarganya perantau.

(51)

BUDAYA KESEHATAN DI

MINANGKABAU

Dipengaruhi oleh agama islam.

(52)

IMPLIKASI KEPERAWATAN

Dalam melakukan asuhan

keperawatan pada keluarga

Minangkabau, perawat

seharusnyamelibatkan keluarga inti

(terutama dari pihak ibu) dan

Referensi

Dokumen terkait

Kesimpulan : Kerjasama antar tim kesehatan dan klien atau keluarga sangat diperlukan untuk keberhasilan asuhan keperawatan pada klien, menggunakan komunikasi

Kesimpulan: Kerjasama antara tim kesehatan dan klien atau keluarga klien sangat diperlukan untuk keberhasilan asuhan keperawatan pada klien, komunikasi terapeutik

Pasien / klien akan bersedia berkolaborasi bila setiap tindakan yang dilakukan oleh perawat dimengerti, difahami berdasarkan pada tolok ukur nilai-nilai pasien/ klien yang

Ada tiga pedoman yang ditawarkan dalam keperawatan transkultural yaitu: culture care preservation or maintenance (mempertahankan budaya) dilakukan bila budaya pasien

Perencanaan dan pelaksanaan proses keperawatan transkultural tidak dapat begitu saja dipaksakan kepada klien sebelum perawat memahami latar belakang budaya klien sehingga tindakan

nilai budaya perawatan klien, makna, kepercayaan dan praktek-praktek yang berkaitan dengan asuhan keperawatan dan kesehatan membutuhkan perawat untuk mengasumsikan peran

Transcultural Nursing adalah suatu area/wilayah keilmuwan budaya padaproses belajar dan praktek keperawatan yang fokus memandang perbedaan dan kesamaan diantara

 Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan pada praktik keperawatan yang diberikan kepada klg sesuai dengan latar