• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERAN RUSSIA TERHADAP KEMAJUAN MILITER

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERAN RUSSIA TERHADAP KEMAJUAN MILITER"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

PERAN RUSSIA TERHADAP KEMAJUAN

MILITER KOREA UTARA DI ASIA TIMUR

ADE SATRIYA (HUBUNGAN INTERNASIONAL)

LANDASAN TEORI:

Kepentingan nasional merupakan suatu cerminan dari paham teori neo-realis yang

berkembang dalam keilmuan hubungan internasional, dan merupakan perisai

negara dalam mencapai hasil yang maksimal untuk negaranya.

Konsep National Interest dalam Politik Luar Negeri adalah memperjuangkan

suatu kepentingan yang dilandasi oleh berbagai aspek dan jenis kebutuhan yang

ada di dalam Negara, kemudian di bungkus secara rapi oleh para birokrat yang

bekerja dalam bidang tersebut dan di perjuangkan dalam kancah politik luar

negeri di suatu negara untuk mencapai kesejahteraan nasional di dalam konteks

hubungan internasional atau dapat disebut dengan national interest yang

merupakan tujuan utama dari tatanan suatu kerjasama yang saling

menguntungkan.

LITERATUR REVIEW: MILITARY RELATIONS BETWEEN RUSSIA

AND NORTH KOREA

Kepentingan nasional merupakan suatu cerminan dari paham teori realis yang

berkembang dalam keilmuan hubungan internasional, dan merupakan perisai

(2)

Konsep National Interest dalam Politik Luar Negeri adalah memperjuangkan

suatu kepentingan yang dilandasi oleh berbagai aspek dan jenis kebutuhan yang

ada di dalam Negara, kemudian di bungkus secara rapi oleh para birokrat yang

berkecimpung dalam bidang tersebut dan di perjuangkan dalam kancah politik

luar negeri di suatu negara untuk mencapai kesejahteraan nasional di dalam

konteks hubungan internasional atau dapat disebut dengan national interest.

Jika dilihat dari sejarah masa lalu, Korea Utara merupakan satu aliansi dengan Uni

Soviet yang kemudian runtuh menjadi Negara-negara kecil dan sekarang menjadi

Rusia. Pada saat itu teknologi – teknologi perang Uni Soviet di pasok ke Korea Utara untuk melawan Korea Selatan yang di dukung oleh Amerika Serikat sebagai

sekutunya. Pada masa sekarang hubungan Internasional memasuki masa baru

dimana kerjasama kerap dilakukan tetapi tetap pada asas kepentingan, Antara

Korea Utara dengan Russia pada masa dulu memang terjadi kerjasama Antara

kedua Negara dalam lingkup kesamaan ideology komunis, bahkan banyak pula

yang bilang bahwa korea utara merupakan Negara satelit atau Negara boneka

yang disiapkan oleh Uni Soviet dalam upaya memperluas wilayahnya di wilayah

Asia Timur.1

Urusan nuklir Korea Utara tidak lepas dari pengaruh transfer teknologi yang

dilakukan Uni Soviet ke Korea Utara, transfer ilmu yang dilakukan kini menjadi

modal penting dalam kerangka menjaga keamanan dalam negeri daris erangan

luar terutama Amerika Serikat dan sekutunya di wilayah Asia Timur. Kini Rusia

pun menganggap bahwa Korea Utara merupakan “teman lama” yang juga

mempunyai semangat anti-Barat bahkan cenderung radikal untuk menolak

pemahaman tersebut. Keadaan ini sangat memungkinkan adanya hubungan

diplomatik antara Korea Utara dan Rusia itu sangatlah erat. Ketika yang lain mengisolasi Korea Utara, hanya China dan Rusia khususnya yang bersikap “netral” namun mendukung dengan Korea Utara. Mungkin karena jika di telaah dari sisi sejarah bahwa komunis yang menyatukan mereka.2

1http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=684&type=8#.U3SmXoaP8V8

(Diunduh pada 15 Mei 2014 jam 5.12 WIB)

(3)

Sebenarnya kedua belah pihak negara ini tentu membawa kepentingan

masing-masing. Kepentingan itu juga membawa nama rakyat. Korea Utara mempunyai

rakyat yang sengsara dan tidak dapat hidup layak. Mereka hanya menganggap

bahwa pimpinannya adalah tuhan. Tampaknya dengan menutup dirinya dan

ditambah dengan militerisme pemerintahan, Korea Utara menyadari tidak dapat

berbuat banyak. Maka dari itu untuk menghalau tekanan Internasional, Korea

Utara menggandeng Rusia supaya dukungan itu lebih besar. Rusia pun begitu,

sejak Korea Utara memilih tenaga nuklir sebagai pengembangannya, Rusia pun

tampaknya lebih memilih jalur “aman” terhadap Korea Utara mengingat

daerahnya bersebelahan langsung dengan Korut. Tentu tidak sembarang kebijakan

yang diluncurkan pemerintahan Rusia dalam hubungan luar negerinya.

Rusia memiliki dua kepentingan dalam membangun aliansi dengan Korea Utara,

yaitu untuk mengimbangi pengaruh Jepang dan Amerika Serikat di Semenanjung

Korea dan melakukan denuklirisasi Korea Utara.3 Denuklirisasi sebagai tujuan

keamanan yang penting bagi Negara manapun, hal tersebut tetap diupayakan

Rusia hingga digelar Six Party Talks pada Agustus 2001 oleh Putin dan Kim

Jong-il.4 Upaya kedua gagal karena Korea Utara telah menarik diri dalam dialog dengan

Rusia pada April 2009 dan berlanjut pada peledakan perangkat nuklir pada bulan

berikutnya.5 Dalam melunakkan sikap Korea Utara, Rusia dan Cina memiliki

perspektif yang sama untuk mempengaruhi kebijakan Bush terhadap Korea Utara,

yaitu berupaya untuk mengurangi konfrontasi Washington terhadap Pyongyang.6

Dialog antara Putin dan Hu Jintao merumuskan bahwa pendekatan militer tidak

akan mampu mendenuklirisasi Korea Utara. Namun, sebaliknya, dengan

menawarkan jaminan keamanan dan bantuan ekonomi akan menjadi jalan yang

mungkin. Hal serupa juga dilakukan oleh Jepang, terutama dalam rangka

normalisasi hubungan pasca Perang Dingin. Jepang mencoba membuka pintu

dialog dengan Korea Utara dimulai tahun pada tahun 1991. Dalam dialog tersebut

3internasional.kompas.com/korut.inginkan.hubungan.lebih.baik.dengan.rusia.html

4 MILITARY RELATIONS BETWEEN RUSSIA AND NORTH KOREA Sung-Ho Joo,

SEUNG-HO JOO and TAE-HWAN KWAK The Journal of East Asian Affairs Vol. 15, No. 2 (Fall/Winter 2001)(Diunduh pada 15 Mei 2014 jam 5.55 WIB)

(4)

ada upaya negosiasi dari Jepang terhadap Korea Utara untuk memberikan

kompensasi berupa bantuan ekonomi dan inspeksi senjata nuklir. Proses negosiasi

Jepang dengan Korea Utara yang berlangsung dua fase membuahkan hasil.

Pada bulan Desember 1991, Presiden Korea Selatan Roh Tae Woo dan Presiden

Korea Utara Kim Il-Sung menandatangani perjanjian rekonsiliasi dan perjanjian

denuklirisasi. Tanggal 31 Januari 1992, Korea Utara mendatangani perjanjian

keamanan nuklir IAEA (International Atomic Energy Association), yang

kemudian diizinkannya inspeksi Badan Energi Atom Internasional (IAEA)

terhadap fasilitas nuklir Korea Utara.7

LITERATURE REVIEW II : ADA APA DENGAN KOREA UTARA?

Korea Utara mengembangkan senjata electromagnetic pulse (EMP) dengan

menggunakan teknologi Rusia yang ditujukan untuk melumpuhkan peralatan

elektronik militer Korea Selatan di perbatasan selatan. Senjata EMP digunakan

untuk merusak peralatan elektronik yang berupa ledakan energi elektromagnetik

dalam bentuk radiasi, listrik dan medan magnet. Teorinya, senjata EMP

diledakkan di udara di ketinggian tertentu (bom). Pada energi tingkat tinggi,

serangan senjata EMP bisa menyebabkan kerusakan yang luas, termasuk

komponen pesawat dan seluruh perangkat-perangkat elektronik lainnya. Efek

ledakan EMP sendiri tergantung pada beberapa faktor, seperti ketinggian ledakan,

energi yang dihasilkan, keluaran sinar gamma, interaksi dengan medan magnet

bumi dan pelindung elektromagnetik dari target. Bantuan yang diberikan oleh

Rusia seperti teknologi saat ini di Korea Utara merupakan pendekatan yang sangat

disukai oleh Korea Utara itu sendiri, pemerintahan Korut yang sangat focus

terhadap militernya dalam upaya mereduksi bahkan menghancurkan hegemoni

Amerika Serikat berdampak kepada penguatan system senjata Korea Utara. Uji

coba nuklir dan rudal balistik gemar dilakukan oleh Korut baik di dekat

7 http://www.iaea.org/newscenter/news/2014/hrd-capacity.html (Diunduh pada 15 Mei 2014 jam

(5)

perbatasan antara Korea Selatan dan Korea Utara, bahkan di laut dekat perbatasan

Jepang sekalipun. Hal seperti inilah yang memicu banyaknya sanksi Negara atas

perbuatan Korea Utara itu sendiri, terlebih Amerika Serikat yang merupakan

sekutu dekat Jepang dan Korea Selatan.

Kedekatan yang terjalin Antara dua Negara ini berdampak kepada simbiosis

mutualisme yang saling menguntungkan satu sama lain, dilain sisi ideologi yang

mendekatkan mereka yaitu komunisme-sosialis, fakta sejarah yang tidak dapat

dipungkiri, dan aspek lain menjadi penunjang hubungan antara dua Negara seperti

bantuan ekonomi dan posisi masing-masing Negara di regionalism nya. Semenjak

konflik semenanjung Korea, bantuan yang diberikan Russia kepada Korut naik.8

Hal ini dipicu oleh eskalasi konflik yang terus naik seperti adanya latihan

gabungan antara Korea Selatan dengan Amerika Serikat yang dibalas dengan

latihan gabungan serupa yang dilakukan Korea Utara dengan Russia, akibatnya

terjadi ketegangan di Asia Timur mengingat ada dua negara besar yang terlibat

dalam konflik ini. Terlebih dalam urusan diluar Asia Timur, Russia memiliki

konflik tersendiri dengan Amerika Serikat dalam kasus Krimea-Ukraina yang juga

makin memanas akhir-akhir ini. Rusia dalam hal ini snagat berperan besar dalam

kemajuan Korea Utara sebagai negara yang kerap dikatakan sebagai duri dalam

daging dalam perdamaian dunia didalam hubungan internasional. Sebagai negara

besar Russia juga menganggap Korea Utara sebagai mitra yang strategis dalam hal

kerjasama pertahanan negara, hal ini sependapat dengan dibukanya jalur kereta

Russia-Korea utara yang akan melancarkan kerjasama antara dua negara.9

KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil adalah Rusia sebagai negara yang cukup

mumpuni untuk mengimbangi kekuatan militer Amerika Serikat dan bagaimanan

Rusia dapat mempengaruhi Korea Utara dalam proyek nuklir yang juga banyak

ditentang oleh dunia barat khususnya Amerika Serikat. Upaya Rusia bekerjasama

8 http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=684&type=8 (Diunduh pada

15 Mei 2014 jam 5.12 WIB)

(6)

dengan Korea Utara tentunya tidak lepas dari factor sejarah dalam hal ini adalah

komunisme yang menyatukan mereka sebelum bahkan sesudah runtuhnya Uni

Soviet. Rusia mempunyai Korea Utara sebagai anak emas yang siap tempur. Rusia

memang terikat perjanjian mengenai nuklir balistik dengan Amerika Serikat,

namun tidak dengan Korea Utara. Oleh karena itu Russia bisa dengan mudah

bekerjasama dengan Korea Utara dalam membangun kekuatan militer ditanah

Korea Utara itu sendiri. Dalam konsep balance of power di teori neo-realis itu

sendiri juga menggambarkan peta kekuatan yang menyebar ke dalam

negara-negara agar nantinya tidak ada negara-negara yang merasa great power dalam upayanya

menghancurkan negara lain. Rusia dapat menjadi kekuatan yang mampu

menyandingkan kekuatan Amerika Serikat dan mempengaruhi dinamika politik

keamanan Korea Utara sebagai negara militer di Asia Timur dana kerjasama antar

kedua negara ini yakni antara Russia dengan Korea Utara dapat dilihat jelas

efeknya.

Pengaruh besar negara besar di luar kawasan Asia Timur dapat menjadi pelajaran

bahwa kepentingan negara dalam hubungan internasional adalah sebuah cita-cita

dalam usaha menjadi negara yang makmur dan berpengaruh bagi negara lainnya.

Kedekatan berlandaskan historis pun tidak dapat dielakkan walalupun

kepentingan negara adalah hal yang paling utama dan realis berpendapat bahwa

keoentingan merupakan tujuan akhir dan negara menjadi satu-satunya aktor yang

Referensi

Dokumen terkait

BAB III ANALISA RESPON KOREA UTARA TERHADAP LATIHAN MILITER AMERIKA SERIKAT DAN KOREA SELATAN TAHUN 2010 3.1 Penembakan Pulau Yeonpyeong Oleh Korea Utara. 3.2 Penembakan

Tidak dapat dipungkiri bahwa pasca perang dingin dan setelah runtuhnya Uni Soviet sebagai rival terberat Amerika Serikat, Amerika Serikat hingga saat ini masih

Selain bom atom dan bom hidrogen yang digunakan Amerika serikat dan Uni Soviet dalam Perang Dingin, masih banyak lagi perkembangan iptek di bidang persenjataan yang

Akan tetapi Uni Soviet, bersama Inggris Raya dan Amerika Serikat, yang menyatakan perang terhadap Jerman pada bulan Desember 1941, membalikkan keadaan perang terhadap Jerman.. Di

“ Serangan Artileri Korea Utara atas pulau Yeonpyeong milik Korea Selatan merupakan pilihan rasional sebagai upaya mencegah latihan perang gabungan Korea Selatan-Amerika Serikat

Selain bom atom dan bom hidrogen yang digunakan Amerika serikat dan Uni Soviet dalam Perang Dingin, masih banyak lagi perkembangan iptek di bidang persenjataan yang kerap

Dukungan Amerika Serikat terhadap Pembangunan Korea Selatan Walaupun dinilai sebagai negara yang provokatif saat perang Korea, dukungan Amerika Serikat dengan berada di

Perlombaan antariksa yang terjadi pada saat Perang Dingin terjadi karena alasan politis, dimana Amerika Serikat dan Uni Soviet berusaha untuk menunjukan kekuatan masing-masing