• Tidak ada hasil yang ditemukan

Terapi Hidroponik sebagai Upaya Pencegahan Syndrome Baby Blues pada Ibu Hamil Muda

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Terapi Hidroponik sebagai Upaya Pencegahan Syndrome Baby Blues pada Ibu Hamil Muda"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal Penelitian Pendidikan, Psikologi Dan Kesehatan (J-P3K) 2020, Vol. 1 (No. 3) : 218-225

Terapi Hidroponik sebagai Upaya Pencegahan Syndrome Baby Blues

pada Ibu Hamil Muda

Hydroponic Therapy as an Effort to Prevent Baby Blues Syndrome in

Young Pregnant Women

Alfina Sri Wahyuni(1)*, Syifa Ardha(2) & Nur Gusti Megawati Almeidi Nasution (3) Fakultas Psikologi, Universitas Medan Area, Indonesia

Disubmit: 24 Oktober 2020; Diproses: 24 Oktober 2020; Diaccept: 19 November 2020; Dipublish: 01 Desember 2020

*Corresponding autor: Email: [email protected]

Abstrak

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana terapi hidroponik mempengaruhi syndrome baby blues yang dialami oleh ibu hamil muda. Syndrome Baby blues atau yang sering disebut Postpartum blues adalah fase ketidakstabilan emosi, ditandai dengan perilaku menangis, mudah tersinggung, gelisah, kebingungan, dan gangguan tidur. Wanita yang memiliki gejala tersebut tetapi tidak memenuhi kriteria untuk depresi perinatal mungkin menderita baby blues. Penelitian ini menggunakan metode adalah literature review. Metode Literatur review digunakan untuk mengidentifikasi, mengkaji, mengevaluasi, dan menafsirkan semua penelitian yang tersedia dengan bidang topik fenomena yang menarik, dengan pertanyaan penelitian tertentu yang relevan. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa kegiatan yang berhubungan dengan tanaman dapat meningkatkan keterampilan sosial dan menurunkan perilaku emosional, yang dimana keterampilan sosial mencakup tentang kepedulian terhadap sekitar. Sama halnya dengan merawat tanaman, merawat bayi juga memerlukan kepedulian dari seorang ibu. Kegiatan dengan tanaman juga dapat meningkatkan keterampilan sosial dan menurunkan perilaku emosional, yang dimana keterampilan sosial mencakup tentang kepedulian terhadap sekitar. Sama halnya dengan merawat tanaman, merawat bayi juga memerlukan kepedulian dari seorang ibu.

Kata Kunci: Baby Blues; Hidroponik; Postpartum Blues; Terapi. Abstract

This study aims to determine the extent to which hydroponic therapy affects the baby blues syndrome by young pregnant women. Baby blues or Postpartum blues is a phase of emotional instability, events with crying behavior, irritability, anxiety, confusion, and sleep disturbances. Women who have these symptoms but don't meet the criteria for perinatal depression may suffer from the baby blues. The method used in this research is literature study. The literature review method is used to identify, study, observe, and interpret all available research on a topic of interest, with relevant specific research questions. The results showed that plant-related activities can improve social skills and emotional behavior, where social skills include caring for the environment. Like caring for plants, caring for a baby also requires care from a mother. Activities with plants can also improve social skills and behavioral behavior, which includes social skills about caring for the environment. As with caring for plants, caring for a baby also requires care from a mother.

Keywords: Baby Blues; Hydroponics; Postpartum Blues; Therapy.

Rekomendasi mensitasi :

Wahyuni, A.S., Ardha, S., & Nasution, N.G.M.A., 2020, Terapi Hidroponik sebagai Upaya Pencegahan Syndrome

Baby Blues pada Ibu Hamil Muda. Jurnal Penelitian Pendidikan, Psikologi dan Kesehatan (J-P3K), 1 (3):

(2)

PENDAHULUAN

Ketika seorang wanita hamil maka kesehatan wanita tersebut menjadi sangat penting, baik kesehatan secara psikis maupun fisik. Karena untuk bisa melahirkan dan merawat bayi nantinya diperlukan ketahanan tubuh yang baik dan juga mental yang kuat. Terlebih pada saat setelah melahirkan, seorang ibu harus siap untuk mulai mencurahkan kasih sayang serta merawat bayinya. Pada saat-saat seperti ini biasanya seorang ibu merasakan kecemasan, ketakutan dan stress tentang dirinya sendiri maupun tentang merawat bayinya sendiri (Saidah, 2020).

Keadaan ini disebut sebagai baby

blues yaitu perasaan gelisah, takut, dan

cemas yang dialami ibu pasca persalinan. Akibatnya bisa menghambat ibu untuk merawat bayinya, bahkan cenderung menghindari dan takut terhadap bayinya sendiri (Machmudah, 2015). Hal tersebut tentu tidak baik bagi ibu dan bayi, dikarenakan bayi sangat memerlukan ASI untuk memenuhi nutrisinya. Jika dibiarkan tanpa solusi yang memadai, kemungkinan bisa menimbulkan psikosis pascapartum hingga postpartum depresi pada ibu yang dimana proses penyembuhan lebih lama dan efek yang ditimbulkan lebih tinggi.

Postpartum blues begitu umum

terjadi dan kelihatan tidak berbahaya sehingga tidak sering dianggap layak untuk diteliti secara serius, bahkan seringkali

baby blues tidak terdekteksi oleh tenaga

medis sekalipun (Scrandis et al., 2007). Akibatnya, ada banyak ketidakpastian tentang karakteristik dasar dan signifikansi sindrom ini. Faktanya, periode ini merupakan saat terjadinya pergolakan

emosional yang besar - psikosis pascapartum.

Baby blues dianggap sebagai keadaan

fisiologis yang mungkin terkait dengan modifikasi biologis. Beberapa penelitian telah menunjukkan adanya hubungan antara intensitas baby blues dan gangguan mood pasca melahirkan (M’Baïlara et al., 2005). Oleh karena itu, penting untuk mempelajari dan menggali lebih dalam lagi latar belakang klinis terkait kondisi tersebut agar tidak mengalami depresi. Depresi merupakan masalah serius dan umum pada wanita diusia subur. Kebanyakan wanita mengalami gejala suasana hati selama periode pascapartum. Ini mencakup spektrum mulai dari 'baby

blues' ringan hingga penyakit afektif yang

signifikan seperti depresi pascapartum dan psikosis pascapartum. Penyakit afektif ini mengganggu kehidupan sehari-hari dan mengganggu fungsi di semua domain (Seyfried & Marcus, 2003).

Pada umumnya angka kejadian baby

blues di Indonesia cukup tinggi seperti di

Yogyakarta, sebanyak 46% ibu menderita

Baby blues (Fatmawati, 2015). Pada

penelitian yang dilakukan di salah satu RSU kota Bandung, terdapat sebanyak 50% atau setengahnya mengalami baby

blues (Fitriana & Nurbaeti, 2016).

Sedangkan pada penelitian yang serupa dilakukan pada salah satu RSU di Surabaya, sebanyak 70% ibu menderita

baby blues (Restyana & Adiesti, 2014).

Melalui penelitian-penelitian tersebut bisa dikatakan bahwa angka kejadian baby

blues di Indonesia sendiri cukup tinggi, dan

hal ini tentu perlu diberi perhatian tentang

cara pencegahan maupun

(3)

Banyak sekali faktor-faktor penyebab terjadinya baby blues pada seorang ibu, penyesuaian diri menjadi faktor penting dan sangat berpengaruh karena dengan semua perubahan yang dialami seorang ibu dapat menimbulkan stress yang berlebihan jika tidak dapat menghadapinya (Ningrum, 2017; Suryani et al., 2019). Perubahan-perubahan serta peran yang dihadapi seorang ibu sangat lah besar, diperlukan kesiapan diri untuk bisa menyesuaikan dengan perubahan-perubahan yang ada dalam merawat bayi dan berperan sebagai seorang ibu.

Dalam penelitian ini, penggunaan terapi hidroponik diharapkan dapat mengurangi gejala baby blues. Dengan cara mengasosiasikan mengurus tanaman hidroponik dengan mengurus bayi diarapan ibu yang sudah mendapatkan terapi ini bisa tahu bahwa mengurus bayi sama halnya dengan mengurus tanaman. Apabila kita mengurus tanaman dengan sesuai prosedur, maka tanaman itu akan memperlihatkan hasil yang diinginkan. Dan dalam mengurus tanaman juga dibutuhkan kesabaran. Begitupun halnya dengan mengurus seorang anak, seorang ibu haruslah peduli, menggendong, memberi kelekatan serta sabar dalam mengurus anaknya tersebut.

Bila seorang ibu tidak mampu melakukannya, maka ibu akan stress atau bahkan depresi dalam mengurus anaknya. Begitu juga dengan mengurus tumbuhan, bila kita tidak tau caranya, tidak sabar, tidak peduli, maka tumbuhan itu akan mati. Begitulah cara mengasosiasikan terapi hidroponik ini dengan mengurus bayi. Penelitian ini dimaksudkan untuk menjadikan terapi hidroponik sebagai cara atau solusi yang bisa digunakan oleh ibu

hamil muda yang mengalami syndrome

baby blues dengan metode narrative

review, diharapkan dapat menjawab masalah ini dan memberikan solusi yang terbaik.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode literature review. Review literatur penelitian dilakukan untuk berbagai tujuan, termasuk memberikan latar belakang teoritis untuk penelitian selanjutnya, mempelajari luasnya penelitian tentang topik yang diminati, atau menjawab pertanyaan praktis dengan memahami apa yang dikatakan penelitian yang ada tentang masalah yang dibahas (Okoli & Schabram, 2010). Metode Literatur review digunakan untuk mengidentifikasi, mengkaji, mengevaluasi, dan menafsirkan semua penelitian yang tersedia dengan bidang topik fenomena yang menarik, dengan pertanyaan penelitian tertentu yang relevan (Triandini et al., 2019).

METODE PENELITIAN

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode literature review. Review literatur penelitian dilakukan untuk berbagai tujuan, termasuk memberikan latar belakang teoritis untuk penelitian selanjutnya, mempelajari luasnya penelitian tentang topik yang diminati, atau menjawab pertanyaan praktis dengan memahami apa yang dikatakan penelitian yang ada tentang masalah yang dibahas (Okoli & Schabram, 2010).

Metode Literatur review digunakan untuk mengidentifikasi, mengkaji, mengevaluasi, dan menafsirkan semua penelitian yang tersedia dengan bidang topik fenomena yang menarik, dengan

(4)

pertanyaan penelitian tertentu yang relevan.

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Baby Blues

Baby blues adalah fase ketidakstabilan

emosi, ditandai dengan perilaku menangis, mudah tersinggung, gelisah, kebingungan, dan gangguan tidur. Wanita yang memiliki gejala tersebut tetapi tidak memenuhi kriteria untuk depresi perinatal mungkin menderita baby blues. Gejala biasanya muncul dalam beberapa hari pertama setelah melahirkan, mencapai puncaknya pada 3-5 hari untuk menghilang (Dańko et

al., 2018).

Postpartum blues atau baby blues

merupakan realita para wanita setelah melahirkan yang disebabkan oleh faktor hormonal serta perubahan pola hidup akibat kelahiran seorang bayi (Widyaningtyas, 2019). Kehamilan merupakan awal dari berbagai perubahan fisik dan psikis yang sangat berpengaruh terhadap emosional seorang wanita yang mengalaminya. Sikap dan perasaan tertentu pada wanita hamil yang berubah pasti memerlukan adaptasi. Baby blues dipicu oleh perasaan belum siap menghadapi kelahiran bayinya serta kesadaran akan meningkatnya tanggung jawabnya (Pratiwi, Chasanah & Martuti, 2017).

Gangguan Baby blues termasuk dalam depresi ringan yang terjadi pada ibu-ibu setelah melahirkan, di mana ibu ini merasa sedih yang hebat tanpa sebab yang jelas, dan disertai dengan gejala lainnya (Suryati, 2008). Pada ibu yang menderita baby blues akan muncul perasaan kesedihan, kecemasan, perasaan tidak diperdulikan, dan tertutup tentang perasaannya karena

kekhawatiran terhadap bayinya. Padahal memendam perasaan dapat memperparah kondisi perempuan pasca melahirkan. Ibu yang rentan mengalami baby blues sering dialami pada ibu hamil anak pertama, dikarenakan untuk pertama kali dia berperan sebagai seorang ibu, namun bisa juga terjadi pada ibu yang melahirkan anak kedua dan seterusnya. jika ibu tersebut mempunyai riwayat baby blues di kelahiran sebelumnya. Angka kejadian baby blues di Indonesia pada ibu primipira mencapai 50%-70%.

B. Hidroponik

Hidroponik berasal dari bahasa Latin

hydros yang berarti air dan phonos yang

berarti kerja. Arti harfiah dari hidroponik adalah kerja air. Hidroponik juga dikenal dengan sebutan soilless culture yang artinya budidaya tanaman tanpa tanah. Jadi tanaman hidroponik adalah tanaman yang ditanam dengan pemanfaatan air dan tanpa penggunaan tanah sebagai media tanam. Jadi tanaman hidroponik ditanam pada media seperti bata merah, rockwool, kerikil, arang sekam dan sebagainya. Mengingat sayuran merupakan bahan pangan yang kandungannya sangat diperlukan bagi kesehatan tubuh, maka dengan menggunakan Teknik hidroponik ini mempermudah kita dalam menanam sayur (Masduki, 2018).

Menurut Maghfiroh, Lianah, Hidayatullah (2019) factor utama untuk memenuhi kebutuhan unsur hara dalam tanaman yaitu menggunakan prinsip teknologi hidroponik air dan nutrisi. Teknologi Hidroponik juga dapat menciptakan tanaman yang unik dan beraneka ragam dengan kualitas lebih unggul dibandingkan menanam secara

(5)

konvensional. Sehingga siapa saja dapat mempraktikkan kegiatan menanam secara hidroponik tersebut. Dengan aktivitas

menanam hidroponik dapat

menumbuhkan sikap peduli dan sabar (Maghfiroh, Lianah & Hidayatullah, 2019). Tahapan menanam hidroponik untuk ibu hamil muda (Tallei, Rumengan & Adam, 2017) :

1. Persiapan alat dan bahan

Alat dan bahan yang dibutuhkan untuk menanam hidroponik yaitu: a. Benih tanaman

b. Netpot (wadah untuk tanaman) c. Rockwool (media tanam yang

bersifat menyerap dan menyimpan air)

d. Sumbu (digunakan pada beberapa jenis sistem)

e. Pupuk 2. Penyemaian

Langkah awal dalam menanam hidroponik yaitu penyemaian. Alat yang digunakan yaitu rockwool. Cara penyemaian sebagai berikut:

a. Rockwool dipotong menjadi kecil, diletakkan di atas wadah, dan dibasahi dengan air secukupnya agar basah;

b. Lalu rockwool dilubangi dengan paku untuk tempat bibit;

c. Bibit tanaman dimasukkan ke dalam lubang dan wadah disimpan di dalam tempat gelap; bagi tanaman yang menjulang tinggi seperti sawi, bayam dan kangkung, 1 rockwool bisa diisi 2-3 benih, namun untuk yang tumbuh kesamping seperti pakchoy dan selada cukup 1 benih saja. Untuk cabe dan tomat cukup 1-2 benih.

d. Kelembaban rockwool harus diperiksa secara berkala. Apabila kering, maka perlu ditambahkan air.

e. Setelah 1-4 hari, bibit akan pecah yang ditandai dengan warna putih. Lamanya pecah tergantung dari jenis tanaman;

f. Benih tanaman yang sudah pecah, wadah ditempatkan di daerah yang terkena sinar matahari minimal 6 jam sehari;

g. Setelah berdaun empat, tanaman dipindahkan ke instalasi hidroponik.

C. Terapi Hidroponik pada Syndrome Baby blues

Dalam penelitian ini, penggunaan hidroponik dengan menanam sayuran diharapkan dapat mengurangi syndrome

baby blues yang nantinya akan dihadapi ibu

pasca melahirkan. Dengan cara mengasosiasikan mengurus tanaman hidroponik dengan mengurus bayi. Harapannya ibu yang sudah mendapatkan terapi hidroponik ini bisa tahu bahwa mengurus bayi sama halnya dengan mengurus tanaman. Karena jika kita mengurus tanaman dengan sesuai prosedurnya, maka tanaman tersebut akan tumbuh dengan baik dan subur sesuai yang kita harapkan. Mengurus tanaman tentunya dibutuhkan kesabaran serta kepedulian begitu pula dengan mengurus seorang bayi, seorang ibu haruslah peduli, menggendong, memberi kelekatan serta sabar dalam mengurus bayinya.

Dalam artikel oleh Pramukanto (2008) dijelaskan bahwa praktek terapi hortikular atau bercocok tanam bertujuan untuk menstimulasi aspek psikologis

(6)

dilakukan dalam bentuk aktifitas yang berkaitan dengan perawatan. Melalui pengamatan terhadap pola pertumbuhan tanaman diperoleh pemahaman akan adanya keseimbangan yang perlu dipertahankan dalam merawat tanaman. Pemahaman atas fenomena alam yang dapat dipelajari melalui siklus hidup dalam merawat tanaman ini menyadarkan manusia akan adanya analogi serupa dalam siklus hidup manusia.

Dengan aktivitas menanam hidroponik dapat menumbuhkan sikap peduli dan sabar (Maghfiroh, Lianah and Hidayatullah, 2019). Apabila ibu yang hamil muda diberikan pelatihan dengan melakukan penanaman secara hidroponik tentunya melatih kepedulian, kesabaran dan ketelitian dalam menjaga dan merawat tanaman, apalagi tanaman berwarna hijau tentunya memiliki karakteristik sejuk, pasif, tenang dan damai. Cara terapi hidroponik ini bisa menjadi alternatif untuk bisa melewati masa-masa yang rentan terhadap syndrome baby blues nantinya karena ketika hamil sudah diberi pelatihan dalam merawat tanaman yang tidak mudah begitu pula dengan mengurus bayi harus ada ketelitian, kesabaran serta kepedulian. Begitulah cara mengasosiasikan terapi hidroponik ini dengan mengurus bayi.

Kegiatan yang melibatkan tanaman dedaunan juga bermanfaat merelaksasikan psikologis (Park et al., 2017). Hal ini sangat baik untuk mencegah kecemasan dan ketegangan pada ibu hamil dan menghindari baby blues nantinya. Ibu hamil yang tenang secara psikologis pasti besar kemungkinan tidak mengalami baby blues. Berdasarkan penelitian yang dilakukan (Joy, Lee & Park, 2020).

Kegiatan dengan tanaman juga dapat meningkatkan keterampilan sosial dan menurunkan perilaku emosional, yang dimana keterampilan sosial mencakup tentang kepedulian terhadap sekitar. Sama halnya dengan merawat tanaman, merawat bayi juga memerlukan kepedulian dari seorang ibu.

SIMPULAN

Ketika seorang wanita hamil maka kesehatan wanita tersebut menjadi sangat penting, baik kesehatan secara fisik maupun psikis. Karena untuk bisa melahirkan dan merawat bayi nantinya diperlukan ketahanan tubuh yang baik dan juga mental yang kuat. Postpartum

blues begitu umum terjadi dan kelihatan

tidak berbahaya sehingga tidak sering dianggap layak untuk diteliti secara serius, bahkan seringkali baby blues tidak terdekteksi oleh tenaga medis sekalipun.

Perubahan-perubahan serta peran yang dihadapi seorang ibu sangat lah besar, diperlukan kesiapan diri untuk bisa menyesuaikan dengan perubahan-perubahan yang ada dalam merawat bayi dan berperan sebagai seorang ibu. Dengan harapan ibu yang sudah mendapatkan terapi ini bisa tahu bahwa mengurus bayi sama halnya dengan mengurus tanaman. Apabila kita mengurus tanaman dengan sesuai prosedur, maka tanaman itu akan memperlihatkan hasil yang diinginkan. Begitulah cara mengasosiasikan terapi hidroponik ini dengan mengurus bayi.

Penelitian ini dimaksudkan untuk menjadikan terapi hidroponik sebagai cara atau solusi yang bisa digunakan oleh ibu hamil muda yang mengalami syndrome

baby blues dengan metode narrative

(7)

masalah ini dan memberikan solusi yang terbaik.

DAFTAR PUSTAKA

Dańko, K. Et Al. (2018) ‘Affective Disorders In Pregnancy And The Postpartum Period – From Statistics To Treatment. A Synchronic Approach.’, Current Problems Of Psychiatry, 19(4), Pp. 260–266. Doi: 10.2478/Cpp-2018-0020.

Fatmawati, D. A. (2015) ‘Faktor Risiko Yang Berpengaruh Terhadap Kejadian Postpartum Blues’, 5(2), P. 14.

Fitriana, L. A. & Nurbaeti, S. (2016) ‘Gambaran Kejadian Postpartum Blues Pada Ibu Nifas Berdasarkan Karakteristik Di Rumah Sakit Umum Tingkat Iv Sariningsih Kota Bandung’, P. 8.

Joy, Y. S., Lee, A.-Y. & Park, S.-A. (2020) ‘A Horticultural Therapy Program Focused On Succulent Cultivation For The Vocational Rehabilitation Training Of Individuals With Intellectual Disabilities’, International Journal Of Environmental Research And Public Health, 17(4), P. 1303. Doi: 10.3390/Ijerph17041303.

Machmudah (2015) ‘Gangguan Psikologis Pada Ibu Postpartum; Postpartum Blues’, 3, Pp. 118– 125.

Maghfiroh, L., Lianah, L. & Hidayatullah, A. F. (2019) ‘Pengaruh Penggunaan Teknologi Hidroponik Terhadap Minat Bercocok Tanam Siswa’, Al-Hayat: Journal Of Biology And Applied Biology, 1(2), P. 99. Doi: 10.21580/Ah.V1i2.3762.

Masduki, A. (2018) ‘Hidroponik Sebagai Sarana Pemanfaatan Lahan Sempit Di Dusun Randubelang, Bangunharjo, Sewon, Bantul’, Jurnal Pemberdayaan: Publikasi Hasil Pengabdian Kepada Masyarakat, 1(2), P. 185. Doi: 10.12928/Jp.V1i2.317.

M’baïlara, K. Et Al. (2005) ‘Le Baby Blues : Caractérisation Clinique Et Influence De Variables Psycho-Sociales’, L’encéphale, 31(3), Pp. 331–336. Doi: 10.1016/S0013-7006(05)82398-X.

Ningrum, S. P. (2017) ‘Faktor-Faktor Psikologis Yang Mempengaruhi Postpartum Blues’, Psympathic : Jurnal Ilmiah Psikologi, 4(2), Pp. 205–218. Doi: 10.15575/Psy.V4i2.1589. Okoli, C. & Schabram, K. (2010) ‘A Guide To

Conducting A Systematic Literature Review Of Information Systems Research’, Ssrn

Electronic Journal. Doi:

Park, S.-A. Et Al. (2017) ‘Comparison Of Physiological And Psychological Relaxation Using Measurements Of Heart Rate Variability, Prefrontal Cortex Activity, And Subjective Indexes After Completing Tasks With And Without Foliage Plants’, International Journal Of Environmental Research And Public Health, 14(9), P. 1087. Doi: 10.3390/Ijerph14091087.

Pramukanto, Q. (2008) ‘Taman Terapi Hortikular’, Eksterior, Pp. 28–29.

Pratiwi, K., Chasanah, I. N. & Martuti, S. (2017) ‘Postpartum Blues Pada Persalinan Dibawah Usia Dua Puluh Tahun’, Jurnal Psikologi Undip, 15(2), P. 117. Doi: 10.14710/Jpu.15.2.117-123.

Restyana, C. I. & Adiesti, F. (2014) ‘Kejadian Baby Blues Pada Ibu Primipara Di Rsud Bangil Pasuruan’, 6(2), P. 11.

Saidah, H. (2020) ‘Hubungan Antara Tingkat Kecemasan Emosional Ibu Post Partum Dengan Kejadian Post Partum Blues Di Kelurahan Sukorame Wilayah Kerja Puskesmas Sukorame Kediri Tahun 2018’, Jurnal Ilmu Kesehatan Makia, 7(1). Doi: 10.37413/Jmakia.V7i1.39.

Scrandis, D. A. Et Al. (2007) ‘Depression After Delivery: Risk Factors, Diagnostic And Therapeutic Considerations’, The Scientific World Journal, 7, Pp. 1670–1680. Doi: 10.1100/Tsw.2007.207.

Seyfried, L. S. & Marcus, S. M. (2003) ‘Postpartum Mood Disorders’, International Review Of Psychiatry, 15(3), Pp. 231–242. Doi: 10.1080/0954026031000136857.

Suryani, I., Purba, T. J. & Yanti, M. D. (2019) ‘Faktor Psikologis Dan Psikososial Yang Mempengaruhi Post Partum Blues Di Ruang Nifas Hibrida Rsu Sembiring’, 2(1), P. 7.

Suryati, S. (2008) ‘The Baby Blues And Postnatal Depression’, Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas, 2(2), P. 191. Doi: 10.24893/Jkma.2.2.191-193.2008.

Tallei, T. E., Rumengan, I. F. M. & Adam, A. A. (2017) Hidroponik Untuk Pemula. Manado: Lppm Unsrat (1).

Triandini, E. Et Al. (2019) ‘Metode Systematic Literature Review Untuk Identifikasi Platform Dan Metode Pengembangan Sistem Informasi Di Indonesia’, Indonesian Journal Of Information Systems, 1(2), P. 63. Doi: 10.24002/Ijis.V1i2.1916.

Widyaningtyas, M. D. (2019) ‘Pengalaman Komunikasi Ibu Dengan Baby Blues Syndrome Dalam Paradigma Naratif’, Jurnal

(8)

Manajemen Komunikasi, 3(2), P. 202. Doi: 10.24198/Jmk.V3i2.20504.

Referensi

Dokumen terkait

Hipotesis yang diajukan ada hubungan negatif antara dukungan keluarga dengan kejadian baby blues syndrome pada ibu post sectio caesaria. Subjek penelitian yaitu pasien rawat inap

Hasil ini menunjukkan yang mana antara kepatuhan ANC dengan kejadian baby blues syndrome tidak terdapat korelasi yang bermakna antara keduanya secara

Dari hasil penelitian didapatkan 34 respoden yang mengalami baby blues syndrome sebanyak 20 responden yang tidak menginginkan kehamilannya sehingga factor persiapan

Hubungan Antara Penyesuaian Diri Dengan Kecenderungan Baby Blues Syndrome Pada Ibu Pasca Melahirkan, Skripsi, Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hasanah (2014) mengenai Hubungan Dukungan Sosial Suami Terhadap Kecenderungan Baby Blues Syndrome Pada Ibu

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bagaimana gejala baby blues syndrome pada ibu-ibu muda pasaca melahirkan sebelum diberikan Teknik kursi kosong dalam

“ Hubungan Antara Dukungan Keluarga Dengan Kejadian Baby Blues Syndrome Pada Ibu Post Sectio Caesaria ”.. Surakarta:Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah

Berdasarkan landasan teori dan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa dengan adanya kepribadian hardiness, kondisi baby blues syndrome yang dialami ibu primipara dapat