• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGELOLAAN HUTAN BERBASIS MASYARAKAT KABUPATEN BANTAENG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGELOLAAN HUTAN BERBASIS MASYARAKAT KABUPATEN BANTAENG"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

01

LAPORAN FINAL

PENGELOLAAN HUTAN BERBASIS MASYARAKAT

KABUPATEN BANTAENG

(Kecamatan Tompobulu)

Oleh :

PEMERINTAH KABUPATEN BANTAENG

PROVINSI SULAWESI SELATAN

KERJASAMA

WAPALA INDONESIA

(2)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ………... I

KATA PENGANTAR ………. II

DAFTAR ISI ………... III

I. PENDAHULUAN ………... 1

A. Latar Belakang ………. 1

B. Tujuan ……….………. 3

C. Ruang lingkup Kegiatan ..……….. 3

II. METODE ANALISIS ……….. 4

A. Surfey ………... 4

B. Analisis ……….……….. 4

III. KONDISI UMUM HUTAN BANTAENG ……… 5

A. Keadaan Lahan ……….. 5

B. Kondisi Sosial Masyarakat ………. 8

C. Konsep Dasar Pengelolaan Hutan berbasis Masyarakat ………. 10

D. Kebijakan Pemerintah Kecamatan Untuk Desa ……….. 13

IV. KELAYAKAN WILAYAH PENGELOLAAN HUTAN BERBASIS MASYARAKAT.. 14

A. Pemanfaatan Kawasan Hutan dan Pendapatan dari Usaha didalam dan Sektor Kawasan Hutan ………. 14

B. Kelayakan pemanfaatan Hutan berbasis Masyarakat ………. 16

V. PROGRAM PEMBANGUNAN BERJALAN KECAMATAN TOMPOBULU……… 18

A. Program dan Kondisi Lapangan ………... 18

B. Kegiatan Pembangunan Berjalan ………... 19

WAKTU PELAKSANAAN ……….. 20

TEAM KERJA ………... 20

(3)

LAMPIRAN DOKUMENTASI

A. Seminar Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat Kabupaten Bantaeng….. 21

B. Kondisi Areal Hutan dan Lahan ………. 24

C. Hutan Lindung ……… 25

D. Areal Penggunaan Lain ………. 26

E. Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat ……… 27

(4)

KATA PENGANTAR

Assalamu’ Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Laporan ini merupakan media penyampaian segala aktitifitas Pengelohan Hutan berbais masyarakat kabupaten Bantaeng yang nantinya menjadi pedoman kami dalam menyusun laporan bagi yang berkompoten untuk mendapatkan analisis dan proyeksi kami akan datang.

Fokus dari Program dimaksud diatas adalah keinginan kami untuk menyediakan data dan analisis tentang Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat Kabupaten Bantaeng.

Demikian pengantar ini atas perhatiannya diucapkan terimahkasih.

Billahitaufiq Wal Hidayah Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Bantaeng 25 April 2010

SMART INSTITUTE

(Advokasi, Riset dan Monitoring)

SABARUDDIN SH Direktur Eksekutif

(5)

LAPORAN AKHIR

PENGOLAHAN HUTAN BERBASIS MASYARAKAT KABUPATEN BANTAENG

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Kabupaten Bantaeng yang memiliki luas hutan sebanyak 8.963 ha, yang terdiri dari Hutan Lindung (4000 ha), Hutan Produksi Terbatas (2.280) dan Hutan Produksi (2.683). dari keseluruhan luas kawasan hutan tersebut, terdapat 3.478,9 ha lahan kritis di dalam kawasan hutan dan 3.446,8 ha di luar kawasan hutan. Data tersebut menunjukkan bahwa sekitar 80% hutan dalam keadaan kritis.

Potensi luasan hutan di semua desa yang ada dikabupaten bantaeng secara umum, pola usaha tani yang dikembangkan oleh masyarakat adalah sistem pertanian traditional dengan tanaman seperti jagung, wortel, kol (tanaman jangka pendek) sedang tanaman jangka panjang, mereka mengembangkan coklat, cengkeh dan vanili. Terkait dengan penyusunan perencanaan program Sosialisasi pengelolaan Hutan desa di Kabupaten Bantaeng ini, dengan inisiatif dari pihak WAPALA INDONESIA dan pemerintah Kab. Bantaeng dilakukan Lokakarya Bersama Perencanaan Hutan di Kabupaten Bantaeng, yang bertujuan untuk mengembangkan suatu kegiatan yang dilakukan bersama oleh para pihak untuk segera dapat menyelesaikan masalah-masalah yang terkait dengan pelestarian hutan desa penanggulangan kemiskinan masyarakat di sekitar hutan Kabupaten Bantaeng. Kegiatan tersebut diikuti oleh para pihak antara lain DPRD, dinas Kehutanan, Bappeda, Camat, Kades, Masyarakat, dan NGO.

Selanjutnya, dari serangkaian kegiatan yang akan dilakukan diharapkan mampu menghasilkan formulasi untuk mengatasi masalah yang mendasar yang terjadi di kawasan Hutan Kabupaten Bantaeng, yaitu :

1. Rendahnya kapasitas Sumber Daya Manusia dalam sistem pertanian Ramah Lingkungan dan Diversifikasi Usaha Tani.

2. Rendahnya pengetahuan dan keterampilan dalam pengelolaan Hutan Kemasyarakatan berkelanjutan.

3. Rendahnya kapasitas kelembagaan masyarakat disekitar hutan.

4. Masyarakat melakukan penebangan dan konversi lahan di wilayah hutan, karena ketidakjelasan pal batas wilayah hutan dan bukan wilayah hutan 5. Belum adanya sistem dan aturan pengelolaan Sumber Daya Hutan pada level

masyarakat dan Pemerintah.

6. Rendahnya kapasitas kelembagaan Multipihak dalam melakukan fungsi dan peran Monitoring dan Evaluasi dalam pengembangan masyarakat.

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka WAPALA INDONESIA berencana bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Bantaeng Sulawesi Selatan, melaksanakan

(6)

02 suatu Pengelolaan Hutan berbasis masyarakat Kabupaten Bantaeng Dimana kegiatan ini akan difokuskan pada semua desa yang terdapat hutan disetiap wilayah masing-masing kecamatan dan sebagai langkah awal kecamatan tompobulu yang menjadi sample.

Oleh karena itu WAPALA INDONESIA, berinisiatif membangun kerjasama dengan pihak masyarakat dan pemerintah untuk mengelola dan memanfaatkan kawasan hutan Desa disemua Kecamatan se-Kabupaten bantaeng.

WAPALA INDONESIA sebagai lembaga sosial masyarakat yang bergerak dibidang Advokasi, Riset dan Monitoring menyadari bahwa pengelolaan hutan perlu direncanakan secara bersama untuk menghindari pengrusakan hutan dan terpinggirkannya masyarakat, diharapkan terbangun model kolaborasi yang memastikan posisi masing-masing, kontribusi dan manfaat yang diterima parapihak utamanya masyarakat sekitar hutan dalam mengelola dan memanfaatkan hasil hutan. WAPALA INDONESIA yang selama ini bekerja dalam program-program pendampingan masyarakat, berupaya mendukung inisiatif tersebut melalui fasilitasi pengelolaan bersama bagi pihak pemerintah, swasta dan masyarakat dalam mendesign sebuah model percontohan pengelolaan hutan dan diharapkan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan serta menjadi tempat pembelajaran bagi semua phak di Sulawesi Selatan.

I. LANDASAN

- Membangun kesepahaman tentang model pengelolaan hutan dan pendekatan unit management di kawasan hutan Desa disemua Kecamatan se-Kabupaten Bantaeng.

- Membangun kesepakatan bersama antara pihak LSM, masyarakat dan pemerintah dalam pengelolaan kawasan hutan Desa disemua Kecamatan se-Kabupaten Bantaeng.

- Memfasilitasi parapihak dalam mendesign kerangka monitoring evaluasi pengelolaan hutan yang berkelanjutan di kawasan hutan Desa disemua Kecamatan se-Kabupaten Bantaeng.

II. OUTPUT

- Terbangunnya kesepahaman tentang model pengelolaan hutan Desa disemua Kecamatan se-Kabupaten Bantaeng.

- Adanya kesepakatan bersama antara pihak Swasta, masyarakat dan pemerintah dalam pengelolaan kawasan hutan Desa disemua Kecamatan se-Kabupaten Bantaeng.

Terfasilitasinya parapihak dalam mendesign kerangka monitoring evaluasi pengelolaan hasil hutan Pinus berkelanjutan di kawasan hutan desa Desa disemua Kecamatan se-Kabupaten Bantaeng.

(7)

03 B. Tujuan.

Kegiatan ini bertujuan untuk :

1. Mengidentifikasi kondisi hutan pada masing-masing desa

2. Membuat rancangan pengelolaan kelompok hutan di tiap-tiap desa. 3. Menyusun rencana kerja berbasis masyarakat pada masing-masing desa

4. Sebagai arahan pemerintah dan pihak lain untuk melaksanakan kegiatan pengelolaan hutan yang efektif dan efisien di Kabupaten Bantaeng

C. Ruang Lingkup Kegiatan

1. Identifikasi Keadaan keadaan saat ini sebagai landasan proyeksi kedepan.

2. Agenda Kerja Pengelolaan hutan berbasis masyarakat, menjelaskan target dan rencana

Kegiatan, meliputi :

a. Mengefektifkan kerja masing-masing kelompok hutan.

b. Mengefektifkan lembaga pedesaan sebagai legitimasi pengelolaan.

c. Mengefektifkan pengelolaan Hutan di setiap kelompok hutan di Kabupaten Bantaeng

4. Strategi planning

(8)

04

II. METODE ANALISIS

Metode penyusunan rancangan pengelolaan hutan berbasis masyarakat Kabupaten Bantaeng, sebagai berikut :

1. Surfey

Surfey ini dilaksanakan untuk mempelajari rencana yang telah disusun yang telah disesuaikan dengan kondisi masyarakat sekitar hutan kecamatan Tompobulu.

Gambar 1. Plan kerja surfey

2. Analisis

Langkah-langkah kegiatan identifikasi pengelolaan hutan berbasis masyarakat, meliputi kegiatan sebagai berikut :

a. Kriteria dan standar Pengelolaan Hutan,

b. Kondisi daerah (desa) terhadap pembentukan rancangan pengelolaan hutan Kebijakan pemerintah Kabupaten Bantaeng yang terkait pengelolaan hutan.

Rencana Kerja

Kebijakan pemerintah Bantaeng disemua aspek sosiologis

Kondisi Desa masing-masing

Kebijakan Pemerintah Desa

(9)

05

III. KONDISI UMUM HUTAN BANTAENG

A. Keadaan Lahan

1. Luas Kawasan Hutan Kabupaten Bantaeng

Kawasan hutan yang terdapat di Kabupaten Bantaeng sesuai badan planalogi Kehutanan dan hasil Peta paduserasi provinsi Sulawesi Selatan tahun 1999, seluas 6.239 ha, dimana kecamatan yang terluas adalah Kecamatan Uluere seluas 3.658 ha.

Luas kawasan hutan dan Fungsi peruntukannya di Kabupaten Bantaeng

No Kecamatan Luas kawasan hutan Jumlah

HP HPT HL 1. Bantaeng 364 364 2. Tompobulu 702 702 3. Ulu Ere 758 843 2.057 3658 4. Eremerasa 355 419 14 788 5. Sinoa 710 710 Jumlah 2.187 1.262 2.773 6.222

2. Kondisi Areal Hutan dan Lahan

Kawasan hutan yang terdapat di kabupaten Bantaeng didominasi kawasan hutan dengan fungsi peruntukan sebagai areal hutan lindung (HL) seluas 2.773 ha atau 44,6 % dari luas total kawasan hutan di Kabupaten Bantaeng. Areal hutan produksi seluas 2.187 atau 35,1% dari luas kawasan hutan, sedang kawasan hutan produksi terbatas seluas 1.262 ha atau 20,3% dari luas total kawasan hutan. Pada hutan lindung, hutan produksi

(10)

da hutan produksi terbatas, masyarakat memanfaatkan sebagai areal budidaya agroforestri kopi dengan pepohonan penghasil buah dan kayu, lokasi menggembalakan ternak sapi dan kambing secara diikat ataupun dilepaskan, sebagai areal memanen madu dari lebah alam, sebagai areal budidaya tanaman semusim jagung, atau sebagai areal budidaya hortikultura (kentang, wortel, bawang prey dan atau col). Sedang bagi pemerintah lokasi kawasan hutan (HL, HP, dan HPT) menjadi areal pelaksanaan GNRHL untuk merehabilitasi lokasi-lokasi yang tutupan lahannya kurang produktif.

Khusus di Kawasan hutan lindung seluas 17 ha pada Kelurahan Campaga, masyarakat memanfaatkan kawasan hutan tersebut sebagai tempat memungut buah kaloa, disamping sebagai areal hutan wisata dan pengatur tata air untuk suplai air irigasi persawahan pada daerah bawahnya. Sedangkan pemerintah daerah Bantaeng menetapkan kawasan hutan lindung tersebut sebagai areal pengatur tata air untuk suplai air persawahan dan air minum masyarakat , disamping sebagai areal wisata. Gambaran keadaan penutupan dan penggunaan kawasan hutan pada desa – desa yang terdapat kawasan hutan di Kabupaten Bantaeng.

(11)

Desa-Desa Kecamatan Tompobulu yang Mempunyai Kawasan Hutan di Kabupaten Bantaeng. A. Kecamatan Tompobulu 1 Pattaneteang Hutan Lindung 207 132 339 - Lahan Agroforestry Lokasi GNRHL Areal Pengguna an Lain 8 814 822 -Memanen Madu Total Luas 215 946 116 2 -Lahan Penggembalaan Ternak 2 Labbo Hutan Lindung 287 55 342 Areal Pengguna an Lain 67 1273 134 0 Total Luas 354 1322 168 2 3 Campaga Hutan

Lindung 10 12 22 -Memanen Kaloa Irigasi

Areal Pengguna an Lain 112 158 270 -Pengatur Tata Air Lahan Agroforestry Areal Wisata Total Luas 122 170 292 4 Bonto Tappalang Hutan Lindung 81 - 81

Sumber : - BPS Kecamatan Tompobulu dan pengamatan lapangan

(12)

B. Kondisi Sosial Masyarakat

1. Penduduk dan pekerjaan

Keadaan jumlah penduduk dan pendapatan penduduk di dalam kawasan hutan di kecamatan Tompobulu Kabupaten Bantaeng , secara rinci disajikan;

Keadaan Penduduk dan pekerjaan pada Desa –desa yang mempunyai kawasan hutan di Kecamatan Tompobulu Kabupaten Bantaeng

No Kecamatan/Desa Luas wilayah (Km) Jumlah penduduk Jumlah rumah tangga (KK)

Mata Pencaharian Utama

D. Kecamamatan Tompobulu

1. Kelurahan Campaga 5,61 1.823 464

2. Desa Labbo 113.8 3.190 696 - Agroforestry kopi

dengan pohon kayu/buah 3. Desa Pattaneteang 19,04 1.784 402 - Agroforestry kopi

dengan pohon kayu/buah

Keterangan : * Data tahun 2008 sesuai hasil pendataan Kepala Desa Bersangkutan

(13)

2. Sumber Pengefektifan Masyarakat Terhadap Kawasan Hutan

Penduduk desa yang bermukim di dalam dan sekitar areal kawasan hutan di Kecamatan Tompobulu sebagian besar memanfaatkan lahan kawasan hutan untuk usaha budidaya pertanian tanaman semusim, seperti jagung dan budidaya hortikultura. Disamping sebagai lahan budidaya agroforestry kopi dan pohon penghasil buah dan kayu.

3. Sumber masalah di tengah-tengah Masyarakat

Masalah yang terjadi dalam pemanfaatan kawasan hutan di wilayah Kecamatan Tompobulu Kabupaten Bantaeng dalam pemanfaatan kawasan hutan, sebagian besar berfokus pada klaim status kawasan hutan.

Masalah yang terjadi terhadap kawasan hutan.

No Kecamatan/Desa Konflik antar Stakeholders Bentuk konflik yang terjadi

Kecamatan Tompobulu

1 La’bo Masyarakat dengan

kehutanan

Konflik tata batas dan status kawasan hutan

2 Pattaneteang Masyarakat dengan kehutanan

Konflik tata batas dan status kawasan hutan

10 C. Konsep Dasar Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat

(14)

Hutan dan Penggunaan Kawasan Hutan

Aspek Pemanfaatan Hutan dan Penggunaan Kawasan Hutan telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan, pasal 23, yang selanjutnya diterjemahkan secara lebih detail dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 6 tahun 2007, tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan serta pemanfaatan hutan. Di dalam PP tersebut antara lain diatur hal-hal sebagai berikut:

Pemanfaatan Hutan Lindung

Jenis pemanfaatan hutan, bentuk usaha, jangka waktu usaha, dan luas maksimum kawasan hutan yang dapat dikelola, pada hutan lindung berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) N0. 6/2007 disajikan sebagai berikut :

Jenis Izin Bentuk Usaha Pemanfaatan

Kawasan

 Usaha budidaya tanaman obat  Usaha budidaya tanaman hias  Usaha budidaya perlebahan  Usaha budidaya jamur

 Usaha budidaya penangkaran satwa liar  Usaha budidaya sarang burung walet Pemanfaatan

Jasa Lingkungan

 Usahawisata alam

 Usaha olah raga tantangan  Usaha pemanfaatan air  Usaha carbon trade

 Usaha penyelamatan hutan dan lingkungan Pemungutan

Hasil Hutan Non Kayu

 Mengambil rotan  Mengambil madu

 Mengambil buah dan aneka hasil

 Perburuan stwa liar yang tidak dilindungi

Nampak pada matriks di atas bahwa terdapat banyak peluang usaha yang dapat dilakukan di dalam kawasan hutan lindung, baik usaha perorangan maupun koperasi.

11 Pemanfaatan Hutan pada Hutan Produksi

(15)

Jenis pemanfaatan hutan, bentuk usaha, jangka waktu usaha, dan luas maksimum kawasan hutan produksi yang dapat dikelola oleh perorangan atau koperasi, berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) N0. 6/2007 disajikan dibawah ini

Jenis Izin Bentuk Usaha

Pemanfaatan Kawasan

Usaha budidaya:  tanaman obat  tanaman hias

 tanaman pangandi bawah tegakan  jamur

 perlebahan

 penangkaran satwa  sarang burung wallet Pemanfaatan Jasa

Lingkungan

 Usahawisata alam

 Usaha olah raga tantangan  Usaha pemanfaatan air  Usaha carbon trade

 Usaha penyelamatan hutan dan lingkungan

Pemanfaatan Hasil Hutan

 Pemanfaatan hasil kayu pada hutan alam (penebangan, pengangkutan,

penanaman, pemeliharaan, pengamanan, pengolahgan, dan pemasaran hasil)  Pemanfaatan hasil bukan kayu pada hutan

alam antara lain: rotan, sagu, nipah, bambu, getah, kulit kayu, daun, buah, biji  Pemanfaatan hasil hutan kayu atau bukan

kayu pada hutan tanaman Pengelolaan Hutan.

fungsi hutan dan lingkungan hidup dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat, kelestarian fungsi hutan dari aspek ekosistem, kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan, pengelolaan sumberdaya alam yang demokratis, keadilan sosial, akuntabilitas publik, serta kepastian hukum.

Ruang lingkup penyelenggaran meliputi pengaturan tugas dan fungsi serta tanggung jawab pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam aspek-aspek penetapan

(16)

wilayah pengelolaan, penyiapan masyarakat, perizinan, pengelolaan, dan pengendalian. Aspek-aspek tersebut dilaksanakan sebagai satu kesatuan.

Kawasan hutan yang dapat ditetapkan sebagai wilayah pengelolaan adalah kawasan hutan lindung dan kawasan hutan produksi yang tidak dibebani izin lain di bidang kehutanan, dimana kawasan hutan tersebut menjadi sumber penghidupan masyarakat setempat, memiliki potensi untuk dikelola olehmasyarakat setempat, serta layak menurut pertimbangan ketergantungan masyarakat setempat.

Kewenangan masing-masing pihak dalam diuraikan sebagai berikut:

a) Pemerintah kabupaten melakukan inventarisasi dan identifikasi wilayah pengelolaan untuk diusulkan penetapannya kepada menteri melalui gubernur. Usulan wilayah pengelolaan tersebut dilengkapi dengan peta wilayah pengelolaan, data masyarakat setempat, dan potensi kawasan hutan.

b) Gubernur memberikan pertimbangan teknis kepada menteri atas wilayah pengelolaan yang diusulkan oleh bupati/walikota.

c) Menteri menetapkan wilayah pengelolaan yang diusulkan oleh Gubernur, dengan surat keputusan.

d) Bupati/walikota memberikan izin lokasi pengelolaan kepada kelompok, pada wilayah yang telah ditetapkan oleh menteri.

e) Kepala desa membuat surat keterangan tentang aturan-aturan internal kelompok dan aturan-aturan pengelolaan hutan yang telah dibuat oleh kelompok, sebagai bahan pertimbangan bupati untuk memberikan izin lokasi pengelolaan kepada masyarakat. Masyarakat calon pengelola memperkuat kelembagaannya dengan membentuk kelompok. Masyarakat melalui kelompoknya membuat aturan-aturan internal kelompok yang mengikat dalam pengambilan keputusan, penyelesaian konflik, dan aturan lainnya dalam pengelolaan organisasi, aturan-aturan dalam pengelolaan sesuai dengan peraturan

perundangan yang berlaku, dan membuat rencana lokasi, luas areal kerja serta jangka waktu pengelolaan.

(17)

Pengelolaan oleh masyarakat meliputi kegiatan, penataan areal kerja, penyusunan rencana pengelolaan, pemanfaatan, rehabilitasi, dan perlindungan. Pengelolaan tersebut dapat difasilitasi oleh pemerintah kabupaten/kota.

D. Kebijakan Pemerintah Kecamatan/Desa

Daerah yang mempunyai kawasan hutan di Kabupaten Bantaeng telah melakukan beberapa kebijakan dan program, seperti :

a. Pembentukan badan usaha milik desa (BUMDES) dalam rangka merealisasikan program desa mandiri yang dicanangkan oleh PEMDA Bantaeng.

b. Adanya program sertifikasi lahan ataupun perumahan dalam bentuk Surat Pemberitahuan Pajak atas Tanah (SPPT) yang nantinya menjadi dasar dalam pembayaran pajak bumi dan bangunan (PBB) dan proyek sertifikasi tanah dalam bentuk.

c. Pembentukan kelompok tani berupa kelompok tani pertanian, kelompok tani hutan dan kelompok tani ternak. Pembentukan kelompok tani tersebut kebanyakan dibentuk untuk memenuhi persyaratan administrasi pelaksanaan proyek yang akan dilaksanakan pada desa bersangkutan. Struktur organisasi berbagai kelompok tani yang terbentuk tersebut secara administrasi sangat lengkap, hanya dalam fungsionalisasi manajemen masih sangat rendah operasionalisasinya, yang terjadi hanya ketua dan sekertaris yang aktif dalam manajemen kelompok tani tersebut.

(18)

IV. KELAYAKAN WILAYAH PENGELOLAAN HUTAN BERBASIS MASYARAKAT

Kelayakan Pemanfaatan Hutan

A. Pemanfaatan kawasan hutan dan Pendapatan dari usahatani di dalam dan sekitar Kawasan hutan

Hasil interpretasi citra satelit lansat tahun 2006 dan tahun 2009 diperoleh informasi penutupan dan penggunaan lahan kawasan hutan pada berbagai fungsi peruntukan kawasan hutan di Kabupaten Bantaeng

Berdasarkan pengamatan lapang, wawancara dengan kepala desa dan masyarakat yang berusahatani di dalam sekitar kawasan hutan, diperoleh informasi luas lahan yang diusahakan rata-rata di atas satu hektar

(19)
(20)

B. Kelayakan Pemanfaatan Pengelolaan Hutan berbasis Masyarakat

Pengelolaan hutan berbasis masyarakat Berdasarkan Gambaran penutupan dan penggunaan lahan kawasan hutan, Luas lahan rata-rata usatani yang digarap di dalam dan di luar kawasan hutan, serta gambaran peringkat penerimaan petani pada berbagai usahatani maka pemanfaatan kawasan hutan yang layak dilakukan, yaitu pola pemanfaatan kawasan hutan dengan memprioritaskan komoditas andalan / unggulan pada setiap desa – desa yang mempunyai kawasan hutan. Penentuan komoditas unggulan/andalan ini dimaksudkan untuk mempunyai nila skala ekonomi pengusahaan saat akan dipasarkan. Gambaran komoditas andalan pada setiap desa-desa Kecamatan Tompobulu yang merupakan areal Hutan Bantaeng.

1 Kec.

Tompobulu

Desa/kelurahan

terak (kaliandra, gamal), markisa, MPTS, petai

Hutan Desa Labbo

Pattaneteang Bonto tappalang

Campaga Jasa wisata, pohon buah (durian, rambutan, manggis, lengkeng) dan hijauan makanan ternak, pangi dan kemiri, petai

Pemanfaatan kawasan hutan sekarang ini sebagian besar didominasi oleh budidaya tanaman hortikultura, dan hanya sebagian kecil dalam bentuk pola agroforesty dan penutupan hutan alam. Sehingga untuk meningkatkan fungsi kawasan hutan

(21)

sebagai pengatur tata air dan perbaikan ekosistem kawasan hutan untuk mencegah terjadinya banjir pada kota Bantaeng sebagai akibat dari penutupan lahan kawasan hutan yang gundul, maka perlu dilakukan transformasi sistem budidaya dari pola monokultur ke pola agroforestry dengan tingkat pendapatan yang lebih tinggi dibanding dari pola monokultur jagung atau pola usahatani.

(22)

V. PROGRAM PEMBANGUNAN BERJALAN KECAMATAN TOMPOBULU

Pada kepastian wilayah pengelolaan Hutan, kelayakan wilayah, kelayakan pengembangan kelembagaan dan kelayakan pemafaatan hutan berbasis Masyarakat

Program Pembangunan Berjalan kecamatan Tompobulu

No Program Kondisi lapangan

1  Peraturan Bupati tentang Pengelolaan hutan Desa

 Perdes tentang Pengelolaan Hutan Desa

 Lembaga BUMDEs sudah dibangun di setiap desa

 Belum ada lembaga pengelola hutan desa

 Lembaga Pengelola Hutan Desa menyusun Rencana Karya Hutan Desa  Lembaga Pengelola Hutan Desa

menyu-sun Rencana Tahunan Hutan Desa Tahun 2010

 Belum ada Rencana Pengelolaan Hutan Desa

 Merumuskan kontrak pemanfaatan hutan antara setiap petani dengan lembaga pengelola hutan desa

 Terdapat sistem kontrak penggunan lahan antara pemilik lahan dengan petani penggarap yang dapat dicontoh dalam merumsukan kontrak pemanfaatan hutan desa

2  Mengembangkan unit-unit usaha non kehutanan manjaadi unit-unit usaha kehutanan pada setiap desa

 Masyarakat sudah mengelola unit-unit usaha non kehutanan di dalam kawasan hutan

 Menata Areal Hutan Desa ke dalam blok, petak, dan unit-unit usaha rumah tangga

 Unit-unit usaha masyarakat di dalam kawasan hutan belum tertata sesuai sistem penataan pengelolaan hutan  Merekrut Sarjana Kehutanan untuk

mengisi personil pengelolaan

 Belum ada tenaga profesional kehutanan yang mendampingi masyarakat

mengelola hutan di desa

(23)

Desa-desa kecamatan Tompobulu yang merupakan wilayah pengelolaan Hutan berbasis masyarakat kabupaten Bantaeng

Kegiatan pembangunan berjalalan (fisik)

No Kegiatan Pembangunan Desa /kelurahan Tahun

1. Sistem perbaikan pola-pola tanam Pattaneteang, Pa’bumbungan) 2009/

2010

2. Pengelolaan usaha wisata Campaga 2010

3. Pemanfaatan jasa aliran air Labbo, Pattaneteang, 2010

4. Penyadapan getah pinus Pa’bumbungan 2010

5 Pemungutan hasil hutan kayu pada hutan rakyat

Labbo,Pattaneteang, Pa’bumbungan

2010

6 Pengelolaan hijauan makanan ternak Pa’bumbungan, Pattaneteang, Labbo,Campaga

2010

7 Pembuatan jalan lingkar pada setiap wilayah hutan desa

setiap Desa Hutan 2010

(24)

VI. WAKTU PELAKSANAAN

Penelitian ini dilaksanakan selama 60 hari dengan alokasi waktu sebagai berikut:

No Kegiatan Waktu/Minggu 1 2 3 4 5 6 7 8 1 Persiapan 2 Try-out 3 Pengumpulan data 4 Dokumentasi Data 5 Analisis data 6 Pembuatan Laporan 7 Seminar Hasil 8 Penyerahan Hasil

VII. TIM KERJA

Kegiatan ini dilaksanakan oleh Smart Istitute, dengan team sebagai berikut :

Sabaruddin, SH (Koord. Program)

Ahmad Fihrun, SE (Tim Peneliti)

Muhammad Abrar S.Sos (Tim Peneliti)

Dibantu dengan tim kerja sebanyak 9 orang yang direkrut oleh WAPALA INDONESIA

IX. PENUTUP

Demikianlah laporan hasil PENGELOLAAN HUTAN BERBASIS MASYARAKAT KABUPATEN BANTAENG semoga dapat bermanfaat bagi semua. Kami ucapkan banyak terima kasih Billahittaufiq Wal hidayah.

(25)

21 A. SEMINAR PENGELOLAAN HUTAN BERBASIS MASYARAKAT KABUPATEN BANTAENG

Gambar 1

Gambar 2

Pembicara

1. Ir. Meyriani, M.Si (Kepala Badan PMD Kab. Bantaeng)

2. M. Said Tarima (Kabid Ekonomi, Sosbud, BAPPEDA Kab. Bantaeng)

(26)

22 SEMINAR PENGELOLAAN HUTAN BERBASIS MASYARAKAT KABUPATEN BANTAENG

Gambar 3

Gambar 4

Peserta

1. Perwakilan 4 Desa Kecamatan Tompobulu Masing-msing 5 Orang. 2. LSM, OKP dan Mahasiswa.

(27)

23 SEMINAR PENGELOLAAN HUTAN BERBASIS MASYARAKAT KABUPATEN BANTAENG

Gambar 5

Gambar 6

Peserta dari 4 Desa Masing-msing 5 orang 1. Desa Pattaneteang

2. Desa Bonto Tappalang 3. Desa Labbo

(28)

24 B. KONDISI AREAL HUTAN DAN LAHAN

Gambar 7

Gambar 8

Areal Hutan dan Lahan

1. Desa Bonto Tappalang 2. Desa Labbo

(29)

25 C. HUTAN LINDUNG

Gambar 9

Gambar 10

Areal Hutan Lindung 1. Desa Labbo

(30)

26 D. AREAL PENGGUNAAN LAIN

Gambar 11

Gambar 12

Areal Penggunaan Lain 1. Kelurahan Campaga 2. Kelurahan Campaga

(31)

27 E. KONDISI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT

Gambar 13

Gambar 13

Kondisi Sosial Masyarakat 1. Desa Labbo

(32)

Gambar

Gambar  1. Plan kerja surfey

Referensi

Dokumen terkait

  Keywords:  Dampak Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (PHBM), kesuburan lahan dan  pendapatan pesanggem  ABSTRAKSI 

yang ada di KPHP Model Kerinci dapat diketahui dengan mengalikan rata-rata potensi kayu per hektar dengan luas penutupan hutan (hutan primer dan hutan

BAB IV TINGKAT PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN KAWASAN HUTAN MANGROVE DI DESA MOJO, KECAMATAN ULUJAMI 4.1.. Kegiatan atau Program Pengelolaan Hutan Mangrove

Dengan pengayaan terhadap pranata sosial untuk pencapaian tujuan-tujuan ekonomis, komunitas masyarakat di sekitar hutan mampu mengelola usaha ekonomi komersial berbasis sumber

Tahun 2007 luas area penggunaan lahan untuk kawasan hutan pada Kecamatan Tungkuno mencapai 24877.9 ha dan tahun 2009 pada kecamatan yang sama luas area penggunaan

Kedua, penelitian tentang “Pengaruh Program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) Terhadap Kelestarian Kawasan Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat di Kabupaten

IMPLEMENTASI PROGRAM PENGELOLAAN HUTAN BERSAMA MASYARAKAT (PHBM) DI KAWASAN WISATA ALAM GUNUNG DAGO KABUPATEN BOGOR (Studi Kasus di Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Wana Cendana

Pengelolaan hutan adat oleh masyarakat adat berbasis kearifan lokal diyakini relevan dengan prinsip pengelolaan hutan lestari berkelanjutan dengan asumsi: 1 modernisasi ekologi dengan