• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

58 A. Gambaran Umum Perusahaan

1. Sejarah Singkat Perusahaan

PT. Asuransi Bintang Tbk. didirikan pada tanggal 17 Maret 1955, di saat jumlah perusahaan asuransi nasional masih sangat sedikit. Oleh karena itu, Asuransi Bintang yang oleh kalangan industri asuransi dikenal dengan sebutan “ASBI” merupakan salah satu dari sejumlah kecil perusahaan asuransi yang tertua di Indonesia.

Para pendiri PT. Asuransi Bintang Tbk. adalah tokoh-tokoh pengusaha nasional pasca kemerdekaan, bahkan sebagian besar turut berperan dalam revolusi fisik menjelang kemerdakaan pada tahun 1945. Mereka adalah Ali Algadri, Idham, Ismet, Wibowo, Soedarpo Sasroatomo, Pang Lay Kim, Roestam Moenaf, dan Johan Radi Koesman.

Sebagai salah satu perusahaan asuransi yang terkemuka, PT. Asuransi Bintang Tbk. merupakan satu di antara sedikir perusahaan asuransi nasional yang berhasil mencatat pertumbuhan berkesinambungan selama lebih dari hemat dasawarsa, meski kondisi dunia usaha dan ekonomi di dalam negeri mengalami pasang surut sepanjang periode tersebut.

Selain merupakan salah satu perusahaan asuransi terkemuka di Indonesia, PT. Asuransi Bintang Tbk. yang melakukan penawaran saham

(2)

perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 29 Nopember 1989 juga merupakan salah satu emiten atau perusahaan publik asuransi yang tertua di bursa dan di Indonesia umumnya.

Bersamaan dengan penawaran saham perdana tersebut, PT. Asuransi Bintang Tbk. mencatatkan dan mulai memperdagangkan sebanyak 4.600.000 sahamnya yang memiliki nilai nominal Rp 1.000 dan harga penawaran Rp 7.950 per unit dengan kode perdagangan ASBI.

Keberhasilan PT. Asuransi Bintang Tbk. dalam mencatat pertumbuhan secara terus-menerus selama empat dasawarsa adalah berkat ketaatannya pada azas-azas perusahaan asuransi yang sehat, dan kemampuannya dalam mengutamakan keseimbangan atau akuilibrium antara penerapan underwriting policy yang konservatif dan operasi pengembangan pasar yang dinamis.

PT. Asuransi Bintang Tbk. mempunyai 10 (sepuluh) kantor cabang, 10 (sepuluh) kantor point of sales yag tersebar di seluruh Indonesia, 1 (satu) unit usaha Syariah dan 1 (satu) Telemarketing departemen, serta struktur organisasi yang memungkinkan para staf perusahaan untuk mengkhususkan diri pada setiap kondisi geografis, sehingga perseroan dapat melayani kebutuhan pasar yang bersifat spesifik.

Selain itu, PT. Asuransi Bintang Tbk. senantiasa meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta sistem dan prosedurnya, sehingga terus bertumbuh dan berkembang selama kurun waktu lebih dari lima dasawarsa. Hal itu dimungkinkan karena para pendiri telah menciptakan

(3)

serta mengembangkan budaya perusahaan yang berlandaskan tata kelola yang efektif, sehingga perusahaan dapat terus berkembang dan memberikan manefaat yang berimbang kepada segenap pemegang saham serta kepada masyarakat. PT. Asuransi Bintang Tbk. secara konsisten menerapkan prinsip-prinsip tata kelola yang baik dalam menjalankan aktivitas usaha dari hari ke hari.

Menjelang akhir tahun 2006, PT. Asuransi Bintang Tbk. untuk pertama kalinya melaksanakan Penawaran Umum Terbatas (PUT) guna memperoleh tambahan modal dalam rangka meningkatkan kapasitas sehingga mampu menahan resiko.

Kemudian pada tahun 2007, PT. Asuransi Bintang Tbk. mulai ekspansi usaha dengan memasuki bisnis asuransi berbasis syariah. Setahun kemudian, yaitu pada tahun 2008, Asuransi Bintang menitis produk-produk baru yang berfokus pada pasar ritel dan mikro disertai premi yang rendah namun dengan volume yang besar.

Upaya tersebut terbukti memberikan hasil underwriting yang memuaskan dan berguna dalam memperbaiki keseimbangan portofolio produksi. Dalam kurun waktu yang sama, PT. Asuransi Bintang Tbk. juga melakukan penyeimbangan jalur distribusi sehingga penyebaran resiko terbagi secara merata. Bahkan Asuransi Bintang juga terus memperkokoh diri dengan tetap fokus pada pelayanan dan peningkatan infrastruktur perusahaan untuk menjaga kelangsungan hidup perusahaan serta meningkatkan daya saing serta kualitas layanan.

(4)

Mengingat kondisi sektor asuransi umum pada saat ini dan pada masa mendatang, PT. Asuransi Bintang Tbk. telah menetapkan visinya yang baru, yaitu penyedia solusi auransi yang terkemuka dalam profitabilitas melalui kemampuan beradaptasi, berkreasi serta penerapan teknologi.

2. Visi Perusahaan

Visi dari perusahaan PT. Asuransi Bintang Tbk. yaitu :

“Penyedia solusi Asuransi yang terkemuka dalam profitabilitas melalui kemampuan beradaptasi, berkreasi, dan teknologi.”

3. Misi Perusahaan

Misi dari perusahaan PT. Asuransi Bintang Tbk. yaitu :

a. Memberikan nilai tambah bagi para pelanggan melalui solusi underwriting yang kreatif dan biaya administrasi yang rendah. b. Mengoptimalkan kemajuan teknologi yang tersedia untuk

mengembangkan usaha.

4. Produk – Produk Perusahaan

Adapun produk-produk dari PT. Asuransi Bintang Tbk. terbagi atas dua bagian yaitu sebagai berikut:

(5)

a. Produk Syariah

Asuransi Syariah dengan Akad Wakalah Bil Ujrah yaitu salah satu produk asuransi syariah dengan bentuk akad dimana peserta memberikan kuasa kepada perusahaan auransi dalam pengelolaan dana mereka dengan pemberian ujrah (fee). Prinsip yang dianut dalam asuransi syariah adalah prinsip Risk Sharing. Resiko bukan dipindahkan dari nasabah atau peserta kepada perusahaan asuransi (Risk Transfer), tetapi dibagi atau dipikul bersama di antara para nasabah atau peserta. Akad Wakalah Bil Ujrah memberikan pertanggungan pada harta benda berupa gedung atau bangunan rumah, kantor, hotel, pabrik, toko, dan lain-lain, berikut isinya (perabotan, perlengkapan, furniture, mesin-mesin, persediaan bahan baku serta barang jadi dan lai-lain) terhadap kemungkinan kerugian yang disebabkan oleh resiko kebakaran, kejatuhan pesawat terbang, sambaran petir, peledakan dan asap, lalu jenis asuransi kerugian yang memberikan jaminan atau ganti rugi terhadap bangunan atau isinya akibat kebakaran.

b. Produk Konvensional

Produk Konvensional pada perusahaan Asuransi Bintang Tbk. yaitu mencakup :

(6)

1. Asuransi Kebakaran

Resiko- resiko yang dijamin dalam polis Asuransi Kebakaran terdiri dari dua (2) bagian besar, yaitu:

a. Jaminan Standar

1. Kebakaran yang ditimbulkan oleh api sendiri, akibat kurang hati-hati, kesalahan pelayan sendiri, tetangga, perampok, ataupun sebab lainnya.

2. Petir : kerusakan atau kerugian terhadap harta benda yang dipertanggungjawabkan akibat tersambar petir. 3. Peledakan : segala macam ledakan terkecuali ledakan

yang ditimbulkan atau disebabkan oleh tenaga nuklir. 4. Kejatuhan Pesawat Terbang : kerusakan atau kerugian

atas harta benda yang dipertanggungkan akibat kejatuhan pesawat terbang atau benda-benda yang jatuh dari pesawat terbang.

5. Asap : asap yang berasal dari kebakaran harta benda atau kepentingan yang dipertanggungkan.

b. Jaminan Tambahan atau Perluasan

Dengan tambahan premi, maka jaminan Standar Asuransi Kebakaran Indonesia dapat diperluas dengan jaminan tambahan yang diinginkan. Jaminan terhadap kerusakan akibat :

(7)

1. Kerusuhan dan pemogokan, kerusakan akibat perbuatan jahat, tertabrak kendaraan.

2. Angin topan, badai, banjir, dan kerusakan akibat air. 3. Tanah longsor.

4. Biaya-biaya pembersihan puing.

2. Asuransi Kecelakaan Diri

Asuransi Kecelakaan Diri memberikan jaminan atau manfaat bagi seseorang yang mengalami kerugian “keuangan” yang diderita tertanggung yang diakibatkan oleh suatu kecelakaan yang dialaminya.

3. Asuransi Pengangkutan

Jenis asuransi ini memberikan jaminan ganti rugi atas resiko kerugian yang terjadi selama kegiatan pengangkutan barang dari: "tempat asal" sampai "ke tempat tujuan" dalam suatu kota yang sama ataupun antar negara. Macam-macam alat angkutnya yaitu :

1. Alat Angkut Udara (Air Cargo).

2. Alat Angkut Air atau Laut (Marine Cargo). 3. Alat Angkut Darat (Land Transite).

(8)

4. Asuransi Perjalanan

Asuransi Perjalanan memberikan perlindungan luas atas biaya dan kerugian-kerugian tak terduga yang mungkin terjadi selama perjalanan bisnis atau liburan. Lingkup jaminan yaitu antara lain:

a. Kecelakaan Diri : 1. Kematian 2. Cacat tetap

3. Ketidakberdayaan tetap

4. Biaya pengobatan (maks. 10% dari Nilai Pertanggungan)

b. Uang tunai selama di Rumah Sakit

c. Kerugian atas bagasi (kopor) atau barang bawaan dan barang-barang pribadi

d. Keterlambatan penerimaan bagasi (kopor) atau barang bawaan

e. Keterlambatan perjalanan

f. Biaya- biaya repatriasi (pemulangan)

5. Asuransi Terorisme dan Sabotase

Selama lebih dari 10 (sepuluh) tahun terakhir, produk Asuransi Terorisme dan Sabotase ini dikenal sebagai produk ciri khas PT. Asuransi Bintang Tbk. dan sampai saat ini PT. Asuransi Bintang

(9)

Tbk. masih tetap merupakan market leader untuk produk ini. Produk asuransi ini menyediakan perlindungan terhadap kerugian yang diakibatkan oleh aksi terorisme dan sabotase. Produk ini diciptakan sebagai solusi terhadap meningkatnya kebutuhan akan perlindungan asuransi atas kerugian harta benda kerugian finansial akibat aksi terorisme dan sabotase.

6. Asuransi Rekayasa

Memberikan jaminan terhadap kerugian selama kegiatan pembangunan, baik pembangunan atau pekerjaan teknik sipil maupun pemasangan mesin, mesin-mesin industri dan instalasi peralatan elektronik. Jenis jaminan yang diasuransikan yaitu antara lain :

a. Asuransi Konstruksi (Construction All Risk) b. Asuransi Pemasangan Mesin (Erection All Risk)

c. Asuransi untuk Mesin-mesin Industri (Machinery Breakdown)

d. Asuransi Peralatan Electronic (Electronic Equipment Insurance)

7. Bintang e-Cargo

Bintang e-Cargo merupakan medium penerbitan sertifikat asuransi marine cargo yang tersentralisasi berbasiskan web.

(10)

Sehingga data tersentral dan dapat diakses dari segala penjuru dengan waktu yang tidak terbatas. Sehingga meningkatkan pelayanan dengan mempercepat penerbitan sertifikat asuransi marine cargo.

8. Perisay Mobil Individual

Perisay Mobil Individual menjamin secara penuh (Comprehensive atau All Risk) kerugian atau kerusakan yang menimpa kendaraan yang disebabkan oleh :

a. Tabrakan, terbalik, tergelincir b. Perbuatan jahat orang lain c. Pencurian

d. Kebakaran e. Petir

f. Tanggung jawab hukum pihak ketiga g. Kerusuhan dan huru-hara (RSCC)

h. Gempa bumi, letusan gunung berapi, angin topan, dan badai.

9. Perisay Rumah Seisinya

Perisay Rumah Seisinya memberikan jaminan perlindungan terhadap resiko-resiko kerugian karena kebakaran, kebanjiran, penjarahan, pencurian, terorisme, sabotase, kerusuhan biasa, sampai dengan huru hara dengan motif politik (civil commotion).

(11)

B. Pembahasan

1. Penerapan Prosedur Pengakuan Pendapatan Premi dan Beban Klaim Perusahaan Berdasarkan PSAK No. 28

a. Pengakuan Pendapatan Premi Sesuai PSAK No. 28

Pengakuan (recognition) terhadap pendapatan merupakan suatu hal yang sangat penting karena dengan adanya pengakuan pendapatan itu sama saja berarti menerima nilai-nilai baru harta benda (asset) karena transaksi dan mencatatnya dalam pembukuan serta diakui dalam laporan laba rugi komprehensif apabila terdapat kenaikan manfaat ekonomi di masa depan yang berkaitan dengan peningkatan aset atau penurunan kewajiban yang telah terjadi dan sudah diukur dengan tepat.

Dasar pengakuan pendapatan yang digunakan dalam akuntansi selama ini adalah dasar akrual (accrual basis) dan dasar kas (cash basis). Pada accrual basis, pendapatan diakui pada saat terjadinya transaksi pendapatan. Dalam hal transaksi jasa, jumlah pendapatan yang dicatat adalah pendapatan yang tertera dalam kontrak atau perjanjian lainnya yang dibuat dan langsung diakui sebagai pendapatan pada saat kontrak atau perjanjian disetujui. Pada saat transaksi jasa berlangsung, maka dengan sendirinya akan menimbulkan tagihan kepada penerima jasa walaupun tagihan ini akan dibayar kemudian. Dengan dasar akrual ini, laba bersih dalam

(12)

laporan laba rugi sebenarnya tidaklah mencerminkan kas yang sebenarnya terjadi dalam periode tersebut.

Pada perusahaan PT. Asuransi Bintang Tbk., pengakuan pendapatan premi asuransi terjadi pada saat persetujuan untuk penutupan pertanggungan dari tertanggung, polis diterbitkan dan pada saat inilah pendapatan premi diakui dan dicatat. Hal tersebut sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum yang menyatakan agar pendapatan diakui secara akrual. Yang berarti bahwa pendapatan diakui dan dicatat pada saat terjadinya transaksi sekalipun kas belum diterima atas transaksi tersebut. Hal ini sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (2012:28.2-3) yang mengatur khusus tentang Akuntansi Kontrak Asuransi Kerugian dan menyebutkan bahwa :

1. Pendapatan premi kontrak asuransi jangka pendek yang diperoleh sebagai pendapatan selama periode polis (kontrak) berdasarkan proporsi jumlah proteksi yang diberikan.

2. Pendapatan premi selain kontrak asuransi jangka pendek yang diakui sebagai pendapatan pada saat jatuh tempo dari pemegang polis (mengacu pada PSAK 36: Akuntansi Kontrak Asuransi Jiwa paragraf 60).

(13)

Dengan kata lain, premi diakui secara akrual dan dicatat sebagai pendapatan pada saat terjadi kesepakatan antara perusahaan dengan tertanggung dan dituangkan di dalam polis yang diterbitkan.

Pendapatan yang diperoleh perusahaan Asuransi Bintang Tbk. yaitu berasal dari sebagai berikut :

1. Pendapatan Premi a. Premi Bruto b. Premi Reasuransi

c. Kenaikan (Penurunan) Premi yang Belum Merupakan Pendapatan

2. Pendapatan Komisi 3. Pendapatan Lain-lain

Premi diakui sebagai pendapatan dengan penentuan berdasarkan jumlah tagihan-tagihan atas premi asuransi yang diajukan kepada pihak tertanggung. Pendapatan akan diakui sejak awal kontrak disetujui, kemudian penerbitan polis asuransi lalu premi pertama asuransinya dibayarkan, dan juga pada setiap pembayaran premi asuransi selanjutnya (proses dapat dilihat pada lampiran). Masalah pelunasannya didasarkan dan diserahkan kepada agen untuk kontrak awal (pembayaran premi pertama), dan kepada kolektor untuk setiap pembayaran premi selanjutnya. Adapun jurnal pada saat penetapan pendapatan premi (pada saat terbit polis) dan pada saat

(14)

pelunasan premi asuransinya yaitu sebagai berikut : Pada saat penetapan pendapatan premi (terbit polis) yaitu :

Tagihan premi xxx

Tagihan materai & ongkos polis xxx

Beban komisi xxx

Pendapatan premi xxx

Persediaan materai xxx

Pendapatan ongkos polis xxx

Hutang komisi xxx

Dan jurnal pada saat pelunasan premi yaitu :

Kas atau Bank xxx

Tagihan premi xxx

Tagihan Materai dan ongkos polis xxx

Beban komisi xxx

Pada akhir periode akuntansi, dibuatlah jurnal penyesuaian untuk mengakui jumlah premi sebenarnya yang dapat diakui sebagai pendapatan. Sisanya diakui sebagai premi yang belum merupakan pendapatan karena masa pertanggungan polis masih berjalan pada akahir periode akuntansi. Jurnal penyesuaiannya adalah sebagai berikut :

(15)

Kenaikan premi yang belum merupakan pendapatan xxx

Premi yang belum merupakan pendapatan xxx

Pendapatan premi dicatat secara bruto, artinya setiap premi yang diterima yang dianggap sebagai pendapatan pada akhir tahun akan dilakukan penyesuaian. Pendapatan premi mencerminkan pendapatan yang dapat diakui pada satu tahun berjalan, karena telah memperhitungkan penyisihan cadangan premi. Cadangan premi (premi yang belum merupakan pendapatan) sebenarnya merupakan nilai pendapatan yang sudah diterima dimuka, namun bukan untuk realisasi kewajiban tahun berjalan. Setiap akhir periode akuntansi, perusahaan akan melakukan penyesuaian terhadap premi yang belum merupakan pendapatan ini untuk menentukan jumlah yang dapat diakui sebagai pendapatan premi pada tahun berjalan.

Kemudian pendapatan komisi pada PT. Asuransi Bintang Tbk. diperoleh dari transaksi reasuransi dicatat sebagai pengurang beban komisi dan diakui sebagai pendapatan komisi netodalam laporan laba rugi komprehensif konsolidasian pada saat terjadinya apabila terdapat selisih dari pendapatan dalam hal jumlah komisi diperoleh lebih besar dari jumlah beban komisi.

Dan yang terakhir pendapatan yang diperoleh PT. Asuransi Bintang Tbk. yaitu dari pendapatan lain-lain yang mana diakui pada laporan laba rugi komprehensif konsolidasian dan didapat dari

(16)

pendapatan ongkos polis, keuntungan selisih kurs, keuntungan penjualan aset tetap, dan lain-lain.

b. Pengakuan Beban Klaim Sesuai PSAK No. 28

Beban yang berhubungan dengan pendapatan ditentukan dari besarnya bersamaan dengan terjadinya pendapatan (matching of costs with revenues). Sebaliknya dengan pendapatan, beban diakui dalam laporan laba rugi komprehensif apabila manfaat ekonomi masa depan yang berkaitan dengan penurunan aset atau peningkatan kewajiban setelah terjadi dan dapat diukur dengan andal. Ini berarti pengakuan beban terjadi bersamaan dengan pengakuan kenaikan kewajibn atau penurunan aset.

Pada laporan laba rugi komprehensif terlihat bahwa klaim merupakan unsur beban yang memiliki jumlah terbesar dari total beban perusahaan secara keseluruhan. Beban klaim ini meliputi klaim bruto, klaim reasuransi, dan kenaikan atau penurunan estimasi klaim. Klaim bruto terdiri atas klaim yang telah disetujui, klaim dalam proses penyelesaian, klaim yang terjadi namun belum dilaporkan, dan beban penyelesaian klaim.

Proses pengakuan beban klaim asuransi PT. Asuransi Bintang Tbk. dimulai dari adanya laporan kerugian dari tertanggung. Kemudian pihak perusahaan asuransi dan loss adjuster akan melakukan survei terhadap objek pertanggungan untuk mengambil

(17)

data dan keterangan tentang terjadinya klaim. Setelah proses ini selesai dan berdasarkan laporan klaim tertanggung dan hasil survei, maka dan perusahaan PT. Asuransi Bintang Tbk dan loss adjuster akan mengestimasi nilai klaimnya dan mencatatnya sebagai beban klaim sementara (klaim dalam proses penyelesaian).

Hal ini sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (2012:28.3) yang menyebutkan bahwa : “Klaim sehubungan dengan terjadinya peristiwa kerugian terhadap objek asuransi yang dipertanggungkan, meliputi klaim yang disetujui, klaim dalam proses penyelesaian, klaim yang terjadi namun belum dilaporkan, dan beban penyelesaian klaim, diakui sebagai beban klaim pada saat timbulnya kewajiban untuk memenuhi klaim.”

Pernyataan tersebut di atas sama artinya bahwa perusahaan mengakui adanya beban klaim secara akrual yaitu pada saat munculnya kewajiban untuk memenuhi klaim dan beban tersebut telah disetujui untuk dibayar oleh pihak yang berwenang.

Adanya sebuah beban klaim akibat dari kegiatan yang menyangkut dengan penyelidikan, penilaian, dan penyelesaian tuntutan ganti rugi yang diajukan oleh pihak tertanggung. Kegiatan tersebut dilakukan guna mencari nilai kerugian apakah kerugian yang terjadi tersebut dapat dijamin seperti yang tercantum dalam kontrak perjanjian di dalam polis dan juga untuk menilai besarnya jumlah kerugian yang sebenarnya. Para perusahaan asuransi, penilai

(18)

kerugian asuransi dikenal dengan sebutan loss adjuster. Setelah kerugian diselidiki dan dinilai, barulah klaim dapat diajukan oleh loss adjuster kepada pihak perusahaan asuransi sepanjang memenuhi ketentuan yang telah disepakati dalam polis (lihat pada lampiran).

Beban yang diakui oleh perusahaan Asuransi Bintang Tbk. yaitu terdiri dari sebagai berikut :

1. Beban Klaim a. Klaim Bruto b. Klaim Reasuransi 2. Beban Komisi

3. Kenaikan atau Penurunan Estimasi Klaim 4. Beban Usaha

Pada perusahaan PT. Asuransi Bintang Tbk. beban klaim meliputi klaim yang telah disetujui, klaim dalam proses penyelesaian termasuk klaim yang terjadi namun belum dilaporkan dan beban penyelesaian klaim. Perubahan jumlah estimasi kewajiban klaim sebagai akibat proses penelaahan lebih lanjut dan perbedaan antara jumlah estimasi klaim dengan klaim yang dibayarkan, diakui dalam laporan laba rugi pada tahun terjadinya perubahan.

Beban klaim asuransi diakui sebagai beban pada saat timbulnya kewajiban untuk memenuhi klaim. Sebuah contoh apabila tertanggung melapor mengenai kerugian yang dialaminya, perusahaan PT. Asuransi Bintang Tbk. akan mengirimkan staff terbaiknya dari

(19)

divisi Klaim untuk melakukan survei bersama loss adjuster terhadap objek pertanggungan dan menilai kerusakan atau kerugian serta besarnya jumlah penggantian yang akan diberikan. Dari hasil survei tersebut akan ditentukan apakah objek pertanggungan hanya memerlukan perbaikan, penggantian pada bagian yang mengalami kerugian, atau penggantian total (kerugian akibat kehilangan). Apabila hanya memerlukan perbaikan atau penggantian pada bagian yang mengalami kerugian, maka loss adjuster akan mengestimasi nilai kerugian yang akan menjadi kewajiban klaim dan menginformasikannya kepada perusahaan PT. Asuransi Bintang Tbk. Pada saat itulah perusahaan mencatatnya sebagai beban klaim sementara yaitu sebagai berikut :

Pada saat tertanggung melaporkan klaimnya : Kerugian Klaim Sementara xxx

Estimasi Klaim xxx

Kemungkinan yang terjadi pada estimasi klaim tersebut yaitu bisa sama dengan estimasi menurut divisi Klaim dari perusahaan PT. Asuransi Bintang Tbk. dan bisa juga nilai estimasinya lebih besar atau lebih kecil. Apabila terjadi perbedaan maka perlu dilakukannya rekonsiliasi antara pihak asuransi dengan loss adjuster untuk menentukan besarnya jumlah klaim yang akan dibayar.

(20)

Kerugian Klaim xxx

Estimasi Klaim xxx

Hutang Klaim xxx

Kerugian Klaim Sementara xxx

Apabila telah terjadi kesepakatan dengan jumlah penggantian yang akan dibayar oleh pihak asuransi, maka perusahaan PT. Asuransi Bintang Tbk. mencatatnya sebagai berikut :

Pada saat klaim telah selesai diproses : Kerugian Klaim Pasti xxx

Hutang Klaim Pasti xxx

Pada saat perusahaan PT. Asuransi Bintang Tbk. akan membayarkan kerugiannya :

Hutang Klaim Pasti xxx

Kas atau Bank xxx

2. Kendala yang Dihadapi dan Upaya yang Dilakukan Dalam Prosedur Pengakuan Pendapatan Premi dan Beban Klaim

Setelah dilakukannya penelitian langsung pada perusahaan PT. Asuransi Bintang Tbk., dapat diketahui bahwa tidak adanya hambatan dalam hal pengakuan pendapatan premi asuransinya. Hal tersebut dikarenakan tidak adanya masalah dalam penerbitan polis asuransi

(21)

sehingga pengakuan pendapatan premi dapat langsung dilakukan. Akan tetapi, muncul masalah-masalah lain yang berkaitan dengan prosedur pengakuan pendapatan premi asuransi. Seperti halnya pada pencatatan pendapatan premi asuransi pada PT. Asuransi Bintang Tbk. Ketentuan umur tagihan yang diakui dalam perhitungan solvabilitas adalah enam puluh hari atau dua bulan. Akan tetapi, pada praktiknya banyak sekali para tertanggung yang tidak membayarkan premi asuransinya pada jatuh tempo yang ditentukan. Seringkali outstanding premi asuransi tersebut melebihi dari tenggang waktu yang telah ditentukan. Hal ini mengakibatkan sebuah hambatan dalam pencatatan dan penguluran waktu penyelesaian dalam hal pengakuan pendapatan premi asuransi.

Kendala yang kedua yaitu terjadi dalam hal pembayaran premi asuransi via transfer rekening bank yang dilakukan oleh pihak tertanggung. Seringkali pihak tertanggung mentransfer tanpa mencantumkan keterangan no. Polis Asuransi yang dibayarkannya. Akibatnya, pihak Asuransi Bintang Tbk. kesulitan dalam melacak pembayaran-pembayaran yang masuk dan pada akhirnya diakui hanya sebagai titipan premi asuransi.

Oleh karenanya, upaya yang harus dilakukan untuk mengatasi kendala-kendala dalam hal pencatatan pendapatan premi asuransi tersebut yaitu salah satunya dengan lebih meningkatkan pengendalian akan umur piutang yang dilakukan oleh satu divisi khusus yang menangani masalah-masalah penagihan yang sulit tertagih (Collection Officer). Lalu yang

(22)

kedua, pendekatan terhadap para tertanggung pun agar lebih diperhatikan, agar selalu giat untuk mengingatkan para tertanggung akan waktu jatuh tempo dari objek pertanggungan yang diasuransikannya sehingga menghindari adanya keterlambatan pembayaran premi asuransi dan bahkan pembatalan pertanggungan asuransi secara sepihak. Upaya kedua dalam mengatasi masalah pembayaran premi asuransi via transfer rekening bank yaitu dengan segera mensosialisasikan cara pembayaran yang baik dan benar kepada para pihak tertanggung, dan akan diberlakukannya suatu sistem verifikasi kode unik pada setiap tagihan yang mengidentifikasikan setiap tertanggung sehingga apabila pihak tertanggung membayar premi asuransinya tanpa mencantumkan nomor polis, akan lebih mudah terlacak di sistem dan menghindari banyaknya premi yang tak bertuan.

Kemudian pada beban klaim, sama halnya dengan pengakuan pendapatan premi bahwa tidak adanya hambatan dalam hal pengakuan beban klaim pada perusahaan PT. Asuransi Bintang Tbk. Hal tersebut dikarenakan beban klaim telah diakui sejak awal pada saat timbulnya kewajiban memenuhi klaim yang dilaporkan oleh pihak tertanggung akibat kerugian yang dihadapinya. Kewajiban perusahaan asuransi yang terutama adalah kewajiban pembayaran klaim kepada tertanggung. Sesuai dengan aturan Pemerintah, klaim harus sudah dibayar selambat-lambatnya tiga puluh hari terhitung sejak besaran klaim disepakati oleh Penanggung dan Tertanggung. Akan tetapi lagi-lagi pada praktiknya berbeda dengan

(23)

teorinya. Hambatan ini yang terjadi dalam hal pengakuan pembayaran beban klaim. Tidak semua hambatan tersebut pada setiap pembayaran klaim kepada pihak tertanggung. Biasanya hambatan tersebut terjadi apabila pertanggungan objek asuransinya ditanggung juga oleh pihak perusahaan reasuransi. Sebagai contoh, akibat lambannya pihak dari perusahaan reasuransi dalam membayarkan klaimnya kepada perusahaan PT. Asuransi Bintang Tbk. sehingga pembayaran klaim terhadap pihak tertanggung pun mengalami keterlambatan hingga lebih dari 30 hari. Padahal kemampuan membayar klaim yang tepat waktu sangat penting untuk menjaga reputasi perusahaan dan kepercayaan dari para nasabah juga stakeholder.

Adapun upaya untuk mengatasi masalah pembayaran klaim yang seringkali terlambat diterima oleh pihak tertanggung yaitu dengan cara meningkatkan pengelolaan resiko dengan baik lagi. Pengelolaan resiko didasarkan atas kesadaran bahwa keberadaan usaha asuransi dilandasi oleh keberadaan resiko, oleh karena itu pengelolaan resiko bagi setiap perusahaan asuransi berarti menjalankan fungsi risk transfer dan risk sharing yang berati mengambil alih resiko pihak lain. Menyadari hal tersebut, PT. Asuransi Bintang Tbk. telah memiliki unit manajemen resiko yang bertugas melakukan analisis atas setiap objek yang akan di jamin atau di tanggung. Survei resiko merupakan langkah penting, karena merupakan bagian dari proses manajemen resiko dan aplikasi dari prinsip kehati-hatian yang selalu menjadi paradigma dari para underwriter

(24)

asuransi. Unit manajemen resiko juga mempunyai tugas untuk melakukan analisis atas portfolio resiko yang di kelola oleh perusahaan. Oleh karena itu dapat memastikan bahwa setiap resiko dari obyek yang ditanggung itu dapat dikelola oleh pihak PT. Asuransi Bintang Tbk. khususnya oleh pihak Reasuransi sehingga kelak tidak timbul kendala atau masalah apapun pada saat pihak tertanggung mengajukan klaim hingga sampai dengan saat pembayaran klaimnya.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil analisis statistik dengan menggunakan uji Fisher’s Exact Test pada uji hubungan asupan serat dengan tekanan darah diperoleh nilai p value sebesar 0,077

Dati penjelasan di atas bahwa hadis ini merupakan seruan kepada hamba Allah yang saat berpuasa manusia tidak hanya sekedar berpuasa dari makan dan minum saja, “ tapi

Penelitian ini berjudul ”Pengaruh implementasi Bauran Pemasaran Terhadap Keputusan Nasabah Menyimpan Dananya Dalam Bentuk Tabungan Pada LPD Desa Pekraman

Guru dan peserta didik melakukan refleksi pembelajaran yang telah berlangsung.. Indikator kinerja yang harus dicapai dalam aktivitas peserta didik adalah lebih dari

Karena ada beberapa faktor yang membatasi produksi optimal seperti (bahan baku, kapasitas mesin, tenaga kerja, modal/dana dan jumalah permintaan atau jumlah penjualan) maka

Menurut Kasmir (2014:130) menyatakan bahwa rasio likuiditas atau sering juga disebut dengan nama rasio modal kerja merupakan rasio yang digunakan untuk

Handphone Nokia merk Lumia memiliki teknologi dan fitur yang mengikuti perkembangan jaman..

MELAKUKAN PEMYIMPANAM BERAS UNTUX MENGHADAPl PASARAN UMUM.. ( Studi Kasus di Mabupalen Badung Cali