• Tidak ada hasil yang ditemukan

KELOMPOK 4 ASUHAN KEPERAWATAN EMERGENCY DAN KRITIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KELOMPOK 4 ASUHAN KEPERAWATAN EMERGENCY DAN KRITIS"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

KELOMPOK 4 ASUHAN KEPERAWATAN EMERGENCY DAN KRITIS

(2)

 Bunuh diri merupakan kematian yang

diperbuat oleh sang pelaku sendiri secara sengaja (Haroid I. Kaplan & Berjamin J.

Sadock, 1998).

 Bunuh diri adalah tindakan agresif yang

merusak diri sendiri dan dapat mengakhiri kehidupan (Budi Anna kelihat, 1991).

(3)

Faktor Genetic

Gen memainkan peranan dalam menentukan temperamen seseorang, dan penelitian

menyingkapkan bahwa dalam beberapa garis

keluarga, terdapat lebih banyak insiden bunuh diri ketimbang dalam garis keluarga lainya.

Kondisi kimiawi otak pun dapat menjadi faktor yang mendasar. Dalam otak. miliaran neuron

berkomunikasi secara elektrokimiawi. Di ujung-ujung cabang serat syaraf, ada celah kecil yang disebut

sinapsis yang diseberangi oleh neurotransmiter yang membawa informasi secara kimiawi. Kadar sebuah neurotransmiter, serotonin, mungkin terlibat dalam kerentanan biologis seseorang terhadap bunuh diri.

(4)

Faktor Kepribadian

Para ahli mengenai soal bunuh diri telah

menggolongkan orang yang cenderung untuk bunuh diri sebagai orang yang tidak puas dan belum mandiri, yang terus-menerus meminta, mengeluh, dan mengatur, yang tidak luwes dan kurang mampu menyesuaikan diri. Mereka

adalah orang yang memerlukan kepastian mengenai harga dirinya, yang akhirnya

menganggap dirinya selalu akan menerima penolakan, dan yang berkepribadian kekanak-kanakan, yang berharap orang lain membuat keputusan dan melaksanakannya untuknya (Doman Lum).

(5)

Faktor Psikologis

Faktor psikologis yang mendorong bunuh diri adalah kurangnya dukungan sosial dari masyarakat sekitar, kehilangan pekerjaan, kemiskinan, huru-hara yang menyebabkan trauma psikologis, dan konflik berat yang memaksa masyarakat mengungsi.

Psikologis seseorang sangat menentukan dalam persepsi akan bunuh diri sebagai jalan akhir/keluar.

(6)

Gangguan Mental dan Kecanduan

Gangguan mental merupakan penyakit jiwa yang bisa membuat seseorang melakukan tindakan bunuh diri. Mereka tidak

memikirkan akan apa yang terjadi jika

menyakiti dan mengakhiri hidup mereka, karena sistem mental sudah tidak bisa

(7)

Ancaman Bunuh Diri

Peringatan verbal atau nonverbal bahwa orang tersebut mempertimbangkan untuk bunuh diri.

Kurangnya respon positif dapat ditafsirkan sebagai dukungan untuk melakukan tindakan bunuh diri.

Upaya Bunuh Diri

Semua tindakan yang diarahkan pada diri yang dilakukan oleh individu yang dapat mengarah kematian jika tidak dicegah.

Bunuh Diri

Bunuh diri mungkin terjadi setelah tanda

peringatan terlewatkan atau diabaikan. Orang yang melakukan upaya bunuh diri dan yang benar-benar ingin mati mungkin akan mati jika tanda-tanda

(8)

 Respon maladaptive seseorang membuat seseorang

merasa putus harapan dalam menghadapi

masalah, menimbulkan rasa tidak percaya diri dalam menghadapi masalah menyebabkan

seseorang merasa rendah diri. Jika seseorang tidak mampu mengatasi masalah kemungkinan

besar seseorang akan menjadi depresi, mengalami

perasaan gagal, putus asa, dan merasa tidak mampu dalammengatasi masalah yang

menimbulkan koping tidak efektif. Putus harapan juga mengakibatkan seseorang merasa kehilangan, sehingga menimbulkan perasaan rendah diri,

depresi.Rendah diri dan depresi merupakan salah

(9)

 Komplikasi yang mungkin muncul pada klien dengan tentamen suicide

sangat tergantung pada jenis dan cara yang dilakukan klien untuk bunuh diri, namun resiko paling besar dari klien dengan tentamen suicide adalah berhasilnya klien dalam melakukan tindakan bunuh diri, serta jika gagal akan meningkatkan kemungkingan klien untuk mengulangi perbuatan tentamen suicide.

 Pada klien dengan percobaan bunuh diri dengan cara meminum zat

kimia atau intoksikasi zat, komplikasi yang mungkin muncul adalah diare, pupil pi- poin, reaksi cahaya negatif , sesak nafas, sianosis, edema paru .inkontenesia urine dan feces, kovulsi, koma, blokade jantung akhirnya meninggal.

 Pada klien dengan tentamen suicide yang menyebabkan asfiksia akan

menyebabkan syok yang diakibatkan karena penurunan perfusi di jaringan terutama jaringan otak.

 Pada klien dengan perdarahan akan mengalami syok hipovolemik

yang jika tidak dilakukan resusitasi cairan dan darah serta koreksi pada penyebab hemoragik syok, kardiak perfusi biasanya gagal dan terjadi kegagalan multiple organ.

(10)

 Koreksi penunjang dari kejadian tentamen

suicide akan menentukan terapi resisitasi dan terapi lanjutan yang akan dilakukan pada klien dengan tentamen suicide.

Pemeriksaan darah lengkap dengan

elektrolit akan menunjukan seberapa berat syok yang dialami klien, pemeriksaan EKG dan CT scan bila perlu bisa dilakukan jika dicurigai adanya perubahan jantung dan perdarahan cerebral.

(11)
(12)

Menilai apakah jalan nafas pasien bebas. Apakah klien dapat berbicara dan bernafas dengan mudah, nilai kemampuan klien untuk bernafas secara normal.

Pada klien dengan kasus percobaan bunuh diri secara penenggelaman, mungkin akan ditemukan adanya timbunan cairan di paru-paru yang ditandai dengan muntah dan

(13)

Kaji pernafasan klien, berupa pola nafas, ritme, kedalaman, dan nilai berapa frekuensi pernafasan klien per menitnya. Penurunan oksigen yang

tajam ( 10 liter/menit ) harus dilakukan suatu tindakan ventilasi. Analisa gas darah dan pulse oxymeter dapat membantu untuk mengetahui kualitas ventilasi dari penderita.

Tanda hipoksia dan hiperkapnia bisa terjadi pada penderita dengan kegagalan ventilasi seperti

pada klien dengan kasus percobaan bunuh diri yang dapat mengakibatkan asfiksia. Kegagalan oksigenasi harus dinilai dengan dilakukan

observasi dan auskultasi pada leher dan dada melalui distensi vena.

(14)

Nilai sirkulasi dan peredaran darah, kaji pengisian kapiler, kaji kemampuan venus return klien, lebih lanjut kaji output dan

intake klien Penurunan kardiak out put dan tekanan darah, klien dengan syok

hipovolemik biasanya akan menunjukan beberapa gejala antara lain,

Urin out put menurun kurang dari 20cc/jam, Kulit terasa dingin, Gangguan fungsi mental, Takikardi, Aritmia

(15)

 Menilai kesadaran dengan cepat dan akurat.

Hanya respon terhadap nyeri atau sama sekali tidak sadar. Penurunan kesadaran dapat disebabkan penurunan oksigenasi atau penurunan perfusi ke otak atau

disebabkan trauma langsung pada otak. Penurunan kesadaran menuntut

dilakukannya reevaluasi terhadap keadaan oksigenasi, ventilasi dan perfusi.

(16)

 Lepaskan pakaian yang dikenakan dan

penutup tubuh agar dapat diketahui

kelaianan atau cidera yang berhubungan dengan keseimbangan cairan atau trauma yang mungkin dialami oleh klien dengan tentamen suicide, beberapa klien dengan tentamen suicide akan mengalami trauma pada lokasi tubuh percobaan bunuh diri

tersebut, misalnya di leher, pergelangan tangan dan dibagian-bagian tubuh yang lain.

(17)

 Data pasien

Data pasien merupakan identitas pasien yang meliputi – Nama

– Usia, jenis kelamin – Kebangsaan/suku

– Berat badan, tinggi badan – Tingkat pendidikan

– Pekerjaan

– Status perkawinan – Anggota keluarga – Agama

– Kondisi medis, prosedur pembedahan – Masalah emosional

– Dirawat di RS sebelumnya – Pengobatan sebelumnya – Alergi

– Review sistem tubuh (pada sistem utama yang mengalami gangguan)

Pengkajian dilanjutkan dengan mengkaji keluhan utama, keluhan tambahan serta aspek psikologis dari klien dengan percobaan bunuh diri.

(18)

1. Bersihan jalan nafas tidak efektif 2. Kekurangan elektrolit cairan

3. Pola nafas tidak efektif

4. Gangguan pertukaran gas 5. Gangguan perfusi jaringan

(19)
(20)

NOC: Status Pernapasan: Ventilasi

Tujuan: Bersihan jalan napas kembali efektif KH:

 Menunjukkan jalan napas paten dg bunyi napas bersih

 Tidak ada dipsneu

 Sekret dapat keluar

NIC: Pengelolaan Jalan Napas

a. Kaji frekuensi atau kedalaman pernapasan dan gerakan dada

b. Auskultasi area paru, catat area penurunan udara

c. Bantu pasien latihan nafas dalam dan melakukan batuk efektif.

d. Berikan posisi semifowler dan pertahankan posisi e. Lakukan penghisapan lendir sesuai indikasi.

f. Kaji vital sign dan status respirasi.

g. Kolaborasi pemberian oksigen dan obat bronkodilator serta mukolitik ekspektoran.

(21)

Resiko kekurangan volume cairan & elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan berlebih.

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan kebutuhan cairan dan elektrolit adekuat.

NOC : Fluid balance Kriteria hasil :

1) Mempertahankan urine output sesuai berat badan 2) Tanda-tanda vital dalam batas normal

3) Tidak ada tanda dehidrasi, turgor kulit baik, mukosa lembab. NIC : Fluid management

1) Pertahankan intake dan output sesuai berat badan 2) Monitor status hidrasi

3) Monitor TTV

4) Kolaborasi pemberian cairan IV

5) Anjurkan pasien untuk meningkatkan masukan makanan dan cairan

(22)

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan pasien bisa bernafas dengan lega dengan

criteria hasil :

– respirasi 20x/mnt

– pasien tidak terengah – engah dalam bernafas – pasien tampak rileks

Intervensi :

• Berikan terapi oksigen

Rasional : membantu mencukupi kebutuhan oksigen • Berikan posisi tendelenberg

Rasional : meningkatkan aliran balik vena

• Observasi TTV, terutama respirasi tiap 4 jam sekali

Rasional : membantu mengevaluasi perkembangan pola nafas • Kolaborasi medis untuk pemberian obat golongan epinefrin Rasional : membantu pembuluh kapiler dilatasi

(23)

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pertukaran gas lancar.

NOC : Respiratory status : gas exchange Kriteria hasil :

a. Mendemonstrasikan peningkatan ventilasi dan oksigen yang adekuat.

b. Memelihara kebersihan paru dan bebas dari tanda-tanda distress pernafasan .

c. Tanda-tanda vital dalam rentang normal. NIC : Airway management

Aktivitas :

• Buka jalan nafas, gunakan teknik chin lift atau jaw thurst bila perlu.

• Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi.

• Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas buatan.

• Berikan bronkodilator bila perlu.

(24)

Tujuan : Tidak terjadi perubahan perfusi pada jaringan serebral

NOC I: Status sirkulasi

a. Tekanan darah sistole normal b. Tekanan darah diastole normal c. Denyut nadi normal

f. Denyut jantung normal g. Irama jantung normal NIC

1. Awasi sirkulasi

a. Evaluasi adanya edema perifer dan nadi b. Lihat / kaji kulit ada luka atau tidak

c. Kaji derajat ketidaknyamanan atau nyeri

d. Ekstermitas bawah direndahkan untuk meningkatkan sirkulasi arteri

e. Ganti posisi pasien paling sedikit 2 jam

Referensi

Dokumen terkait

Latih klien mengendalikan halusinasi dengan melakukan kegiatan yang bisa dilakukan dirumah sakit. Anjurkan klien memasukan kedalam jadwal

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam didapatkan hasil nyeri pada klien sudah berkurang, nafsu makan meningkat, pola tidur klien teratasi dengan baik, dan

Intervensi dan implementasi yaitu mengkaji tingkat pengetahuan klien tentang resiko gangguan pada ibu dan janin, melakukan pendidikan kesehatan kepada keluarga pada proses

Dalam kasus ini penulis menetapkan tujuan dan kriteria hasil yang ingin dicapai pada diagnosa pertama adalah klien dapat berjalan dalam jarak tertentu setelah

Proses keperawatan merupakan cara yang sistematis yang dilakukan oleh perawat bersama klien dalam menentukan kebutuhan asuhan keperawatan dengan melakukan

Proses keperawatan merupakan cara yang sistematis yang dilakukan oleh perawat bersama klien dalam menentukan kebutuhan asuhan keperawatan dengan melakukan

Penatalaksaan halusinasi yaitu membantu mengenali halusinasi dengan cara melakukan diskusi dengan klien tentang halusinasinya apa yang didengar/dilihat, waktu terjadi halusinasi,

Hari kedua pada tanggal 23 Januari 2022 10.00 WIB melakukan pengkajian pengambilan data, respon subjektif keluarga dan klien bersedia untuk dilakukan pengkajian, respon obyektif klien