• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA KONSEP TANAH AIR DAN ALAM SEKITAR. tersebut adalah pendekatan konstruktivisme.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA KONSEP TANAH AIR DAN ALAM SEKITAR. tersebut adalah pendekatan konstruktivisme."

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA KONSEP TANAH AIR DAN ALAM SEKITAR

A. Pendekatan Konstruktivisme

Dalam pembelajaran IPA di SD ada banyak pendekatan yang dapat digunakan agar anak aktif selama proses pembelajaran. Salah satu pendekatan tersebut adalah pendekatan konstruktivisme.

Konstruktivis merupakan suatu proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Menurut teori konstruktivis satu prinsip yang paling penting dalam psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa tetapi siswa harus membangun sendiri pengetahuan didalam benaknya. Guru dapat memberikan kemudahan untuk proses ini dengan memberi kesempatan siswa untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri dan mengajar secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberi siswa anak tangga yang membawa siswa kepemahaman yang lebih tinggi dengan catatan siswa sendiri yang harus memanjat anak tangga tersebut (http://www.teknologi pendidikan.net)

Menurut Bell, Drive dan Leach (Yuliariatiningsih dan Karli, 2002:2) pendekatan konstruktivisme adalah salah satu pandangan tentang proses pembelajaran yang menyatakan bahwa dalam proses belajar (perolehan pengetahuan) diawali dengan terjadinya konflik kognitif. Konflik kognitif ini hanya dapat diatasi melalui pengetahuan diri (self-regulation). Dan pada akhir proses belajar, pengetahuan akan dibangun sendiri oleh anak melalui pengalamannya dari hasil belajar.

(2)

Sejalan dengan Bell, Drive dan Leach. Mc Brien dan Brandt (Sutardi dan Sudirjo, 2007:125) mengemukakan ” Contructivismis an approach to teaching based on research about how people learn. Many researcher say that individual constructs knowledge rather than receiving in from others.” Dari apa yang dikemukakan oleh Mc Brien dan Brandt dapat diambil kesimpulan bahwa berdasarkan hasil penelitian individu membangun pengetahuan dan bukan menerima pengetahuan dari orang lain.

Lima unsur penting dalam lingkungan pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme, yaitu :

1. Memperhatikan dan memanfaatkan pengetahuan awal siswa

Kegiatan pembelajaran ditujukan untuk membantu siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan. Siswa didorong untuk mengkonstruksi pengetahuan baru dengan memanfaatkan pengetahuan awal yang telah dimilikinya. Oleh karena itu pembelajaran harus memperhatikan pengetahuan awal siswa dan memanfaatkan teknik-teknik untuk mendorong agar terjadi perubahan konsepsi pada diri siswa.

2. Pengalaman belajar yang autentik dan bermakna

Segala kegiatan yang dilakukan di dalam pembelajaran dirancang sedemikian rupa sehingga bermakna bagi siswa. Oleh karena itu minat, sikap, dan kebutuhan belajar siswa benar-benar dijadikan bahan pertimbangan dalam merancang dan melakukan pembelajaran. Hal ini dapat terlihat dari usaha-usaha untuk mengaitkan pelajaran dengan kehidupan sehari-hari, penggunaan sumber daya dari kehidupan sehari-hari dan juga penerapan konsep.

3. Adanya lingkungan sosial yang kondusif Siswa diberi kesempatan untuk bisa berinteraksi secara produktif dengan sesama siswa maupun dengan

(3)

guru. Selain itu juga ada kesempatan bagi siswa untuk bekerja dalam berbagai konteks sosial.

4. Adanya dorongan agar siswa bisa mandiri

Siswa didorong untuk bisa bertanggung jawab terhadap proses belajarnya. Oleh karena itu siswa dilatih dan diberi kesempatan untuk melakukan refleksi dan mengatur kegiatan belajarnya.

5. Adanya usaha untuk mengenalkan siswa tentang dunia ilmiah.

Sains bukan hanya produk (fakta, konsep, prinsip, teori), namun juga mencakup proses dan sikap. Oleh karena itu pembelajaran sains juga harus bisa melatih dan memperkenalkan siswa tentang kehidupan ilmuwan.

Berdasarkan uraian di atas, paham konstruktivis berpandangan bahwa sebenarnya anak mempunyai konsepsi awal mengenai pengetahuan, sehingga pada saat pembelajaran akan diawali dengan adanya konflik kognitif. Konflik kognitif ini terjadi pada saat ada interaksi antara konsepsi awal siswa dengan fenomena baru.

Pada saat anak mendapatkan hal yang baru hasil dari interaksi dengan lingkungan anak akan mencocokkan hal baru tersebut dengan konsepsi awal yang telah ada dalam struktur kognitifnya. Akibatnya akan terjadi konflik kognitif. Kemungkinan yang akan terjadi akibat adanya konflik tersebut adalah hal baru tersebut cocok dan tidak cocok dengan konsepsi awal siswa. Apabila tidak cocok akan terjadi ketidakseimbangan dalam struktur kognitif anak. Tetapi bila hal baru itu cocok maka akan terjadi keseimbangan (asimilasi).

(4)

Stanobridge (Yuliariatiningsih dan Karli, 2002:3) memberikan gambaran mengenai skema pemerolehan pengetahuan pada saat anak memperoleh pengetahuan :

Gambar 2.1: skema perolehan pengetahuan

Pandangan konstruktivisme memberikan implikasi bahwa pengetahuan itu tidak dapat dipindahkan secara utuh dari pikiran guru ke siswa tetapi secara aktif dibangun oleh siswa melalui pengalaman nyata (Samatowa Usman, 2006:53). Jadi

Hal Baru

(hasil interaksi anak dengan lingkungan)

Skema

Dibandingkan dengan konsep awal

Tidak cocok Akomodasi Cocok

Ketidak seimbangan Jalan buntu (tidak mengerti) Ketidak seimbangan Cocok Keseimbangan Mengerti Asimilasi

(5)

belajar dapat memberikan makna apabila mereka belajar beranjak dari pengalaman yang mereka alami dalam kehidupan nyata. Dalam pembelajaran yang menggunakan pendekatan konstruktivis, guru hanya bertindak sebagai fasilitator dan mediator.

Menurut Yuliariatiningsih dan Karli (2002:4) ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pendidik apabila kegiatan belajar mengajar yang dilakukan mengacu pada pendekatan konstruktvisme, yaitu:

a) mengakui adanya konsepsi awal yang dimiliki siswa melalui pengalaman b) menekankan pada kemampuan minds-on dan hands-on

c) mengakui bahwa proses pembelajaran terjadi perubahan konseptual d) mengakui bahwa pengetahuan tidak dapat diperoleh secara pasif e) mengutamakan terjadinya interaksi sosial.

Pembelajaran yang menggunakan pendekatan konstruktivisme merupakan hal yang positif karena dapat membangkitkan keaktifan siswa dalam mengkonstruk pengetahuannya yang diawali dari konsepsi awal yang dimilikinya. Dalam pembelajaran yang menggunakan pendekatan konstruktivisme melalui beberapa tahapan. Ada empat tahapan pembelajaran yang menggunakan pendekatan ini (Yuliariatiningsih dan Karli, 2002:4), yaitu:

a) Apersepsi b) Eksplorasi

c) Diskusi dan Penjelasan Konsep d) Pengembangan dan Aplikasi Konsep.

Pada tahap apersepsi guru memberikan pertanyaan yang dapat memancing siswa mengemukakan pengetahuan yang dimilikinya. Pertanyaan yang diberikan dikaitkan dengan materi yang akan dibahas.

Tahap eksplorasi, paada tahap ini siswa diberikan kesempatan untuk menyelidiki dan menemukan sendiri konsep yang akan dibahas. Pada tahap eksplorasi ini siswa dibagi menjadi beberapa kelompok.

Tahap selanjutnya adalah tahap diskusi dan penjelasan konsep. Guru dan siswa mendiskusikan apa-apa yang ditemukan oleh siswa ketika mereka

(6)

melakukan eksplorasi. Guru mengarahkan siswa untuk menyimpulkan materi dengan benar.

Tahap terakhir adalah tahap pengembangan dan aplikasi konsep, di tahapan ini guru memunculkan permasalahan-permasalahan baru yang terkait dengan materi yang telah dibahas. Masalah yang dimunculkan merupakan pengaplikasian dari materi yang telah dibahas.

Tahap-tahapan tersebut dapat dilihat dalam bagan dibawah ini;

Gambar 2.2 Tahapan-tahapan dalam pembelajaran konstruktivis (Yuliariatiningsih dan Irianto, 2008: 31)

Kelebihan dan Kelemahan Pendekatan Konstruktivis

Pada dasarnya tidak terdapat pendekatan mengajar yang paling baik untuk semua materi pelajaran, yang ada adalah sesuai atau tidak dengan materi pelajaran pada waktu dan kondisi pelaksanaannya. Begitu pun dengan pendektan konstruktivis. Pendekatan konstruktivis memiliki kelemahan dan kelebihan tersendiri yang berbeda dengan pendekatan lainnya. Oleh karena itu guru diharapkan tidak hanya menguasai satu pendekatan, melainkan guru harus menguasai berbagai pendekatan. Dengan menguasai berbagai pendekatan maka

Apersepsi

Diskusi dan Penjelasan konsep

Pengembangan dan Aplikasi Konsep

(7)

akan terwujud pembeajaran yang bervariasi. Sidik (Hamsa, 2008) adalah menyatakan beberapa kelemahan dan kelebihan pendekatn konstruktivis, yaitu: a. Kelebihan

1) Pembelajaran berdasarkan konstruktivis memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasan secara eksplisit dengan menggunakan bahasa siswa sendiri, berbagi gagasan dengan temannya, dan mendorong siswa memberikan penjelasan tentang gagasannya.

2) Pembelajaran berdasarkan konstruktivis memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa atau rancangan kegiatan disesuaikan dengan gagasan awal siswa agar siswa memperluas pengetahuan mereka tentang fenomena dan memiliki kesempatan untuk merangkai fenomena, sehingga siswa terdorong untuk membedakan dan memadukan gagasan tentang fenomena yang menantang siswa.

3) Pembelajaran konstruktivis memberi siswa kesempatan untuk berpikir tentang pengalamannya. Ini dapat mendorong siswa berpikir kreatif, imajinatif, mendorong refleksi tentang model dan teori, mengenalkan gagasan-gagasan pada saat yang tepat.

4) Pembelajaran berdasarkan konstruktivis memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru agar siswa terdorong untuk memperoleh kepercayaan diri dengan menggunakan berbagai konteks, baik yang telah dikenal maupun yang baru dan akhirnya memotivasi siswa untuk menggunakan berbagai strategi belajar.

(8)

5) Pembelajaran konstruktivis mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan mereka setelah menyadari kemajuan mereka serta memberi kesempatan siswa untuk mengidentifikasi perubahan gagasan mereka. 6) Pembelajaran konstruktivis memberikan lingkungan belajar yang kondusif

yang mendukung siswa mengungkapkan gagasan, saling menyimak, dan menghindari selalu ada satu jawaan yang benar.

b. Kekurangan

1) Siswa mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, tidak jarang bahwa hasil konstruksi siswa tidak cocok dengan hasil konstruksi para ilmuan sehingga menyebabkan miskonsepsi

2) Konstruktivis menanamkan agar siswa membangun pengetahuannya sendiri, hal ini pasti membutuhkan waktu yang lama dan setiap siswa memerlukan penanganan yang berbeda.

3) Situasi dan kondisi tiap sekolah tidak sama, karena tidak semua sekolah memiliki sarana prasarana yang dapat membantu keaktifan dan kreatifitas siswa

B. Mata Pelajaran IPA di SD

Ilmu Pengetahuan Alam merupakan terjemahan dari Bahasa Inggris yaitu natural science, natural yang artinya alam dan science yang artinya ilmu pengetahuan. Jadi IPA dapat diartikan sebagai ilmu tentang alam.

Secara sederhana pengetahuan alam diartikan sebagai pengetahuan tentang alam semesta dengan segala isinya, dimana pengetahuan sendiri diartikan sebagai segala sesuatu yang diketahui manusia. Menurut Darmojo

(9)

(Samatowa, 2006:2) secara singkat IPA adalah pengetahuan yang rasional dan obyektif tentang alam semesta dengan segala isinya.

Nash (Samatowa, 2006:2) berpendapat bahwa IPA adalah suatu cara atau metode untuk mengamati alam, dimana pengamatan tersebut bersifat analisis, lengkap, cermat serta menghubungkan antara satu fenomena dengan fenomena lain. Sehingga keseluruhannya membentuk suatu perspektif baru tentang obyek yang diamati.

IPA merupakan ilmu yang tidak berdiri sendiri, melainkan saling berkaitan sehingga membentuk suatu kesatuan yang utuh. IPA bukan hanya kumpulan fakta-fakta, konsep-konsep atau prinsip-prinsip, tetapi juga merupakan cara kerja, cara berpikir dan cara memecahkan masalah.

Pada hakekatnya IPA dapat dipandang sebagai suatu proses, produk dan pemupukan sikap, dimana ketiganya mempunyai keterkaitan. IPA sebagai proses memiliki arti bagaimana proses untuk mendapatkan IPA. Sebagai produk, IPA merupakan akumulasi hasil dari suatu proses artinya setiap yang dipelajari ada hasilnya. IPA sebagai pemupukan sikap mengandung arti bahwa dengan adanya pembelajaran IPA, siswa diharapkan mempunyai sikap ilmiah terhadap alam sekitar.

Menurut Harlen (Sulistyorini, 2007:10) ada sembilan sikap ilmiah yang dapat dikembangkan pada anak usia SD/MI, yaitu:

1) Sikap ingin tahu

2) Sikap ingin mendapatkan sesuatu yang baru 3) Sikap kerjasama

4) Sikap tidak putus asa 5) Sikap mawas diri

6) Sikap bertanggung jawab 7) Sikap berpikir bebas 8) Sikap mawas diri 9) Sikap kedisiplinan diri

(10)

Sikap diatas dapat dikembangkan pada saat siswa melakukan percobaan dan berdiskusi, sehingga sebagai seorang guru kita dituntut untuk memberikan kebebasan kepada siswa untuk mengamati dan mencari tahu mengenai suatu konsep dari obyek yang diamati.

IPA perlu diajarkan di SD, Samatowa (2006:3) mengemukakan empat alasan mengapa IPA perlu diajarkan di SD diantaranya:

1) IPA mempunyai faedah bagi suatu bangsa, kesejahteraan suatu bangsa banyak sekali bergantung pada kemampuan bangsa tersebut dalam bidang IPA.

2) Bila IPA diajarkan menurut cara yang tepat, maka IPA merupakan suatu pelajaran yang memberikan kesempatan berpikir kritis.

3) Bila IPA diajarkan melalui percobaan-percobaan yang dilakukan sendiri oleh anak, maka IPA tidaklah merupakan mata pelajaran yang bersifat hapalan belaka.

4) Mata pelajaran IPA mempunyai nilai-nilai pendidikan yaitu mempunyai potensi yang dapat membentuk kepribadian anak secara menyeluruh.

Berdasarkan alasan-alasan di atas, dalam pembelajaran IPA sebaiknya guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir kritis. Guru juga harus mengarahkan dan membangkitkan rasa ingin tahu siswa, sehingga siswa dapat membangun pengetahuannya dengan melakukan penyelidikan. Bila dalam pembelajaran IPA guru dapat memberdayakan siswa untuk aktif maka tujuan dari pembelajaran IPA akan akan tercapai dengan baik.

(11)

C. Hasil Belajar

Pembelajaran merupakan suatu cara dan sebuah proses hubungan timbal balik antara siswa dan guru yang sama-sama aktif melakukan kegiatan.

Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya (Sudjana, 2004 : 22). Sedangkan menurut Horwart Kingsley dalam bukunya Sudjana membagi tiga macam hasil belajar mengajar : (1). Keterampilan dan kebiasaan, (2). Pengetahuan dan pengarahan, (3). Sikap dan cita-cita (Sudjana, 2004 : 22).

Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, baik dalam tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah yaitu ranah kognitif, ranah efektif dan ranah psikomotorik

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan keterampilan, sikap dan keterampilan yang diperoleh siswa setelah ia menerima perlakuan yang diberikan oleh guru sehingga dapat mengkonstruksikan pengetahuan itu dalam kehidupan sehari-hari.

D. Penerapan Pendekatan Konstruktivisme pada Mata Pelajaran IPA SD

Konsep Tanah, Air dan Alam Sekitar

Penerapan pendekatan konstruktivisme dalam pembelajaran IPA berimplikasi pada tingkat keaktifan siswa. Untuk mencapai keberhasilan sesuai dengan harapan, sebelum melaksanakan pembelajaran terlebih dahulu

(12)

harus membuat perencanaan. Tahap perencanaan ini dengan mengidentifikasi kurikulum, menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), serta menentukan media yang akan digunakan serta mempersiapkan alat-alat penilaian.

Setelah membuat perencanaan, kegiatan selanjutnya adalah melaksanakan pembelajaran sesuai dengan rencana yang telah dibuat. Pembelajaran tersebut dilaksanakan melalui beberapa tahap, yaitu:

a. Apersepsi

Pada tahap ini guru bertanya jawab mengenai hal-hal yang berkaitan dengan materi Tanah, Air dan Alam Sekitar. hal ini dilakukan untuk memancing keberanian siswa dalam mengemukakan pengetahuannya mengenai materi yang dibahas.

b. Eksplorasi

Pada tahap eksplorasi, guru meminta siswa untuk duduk berkelompok. Setiap kelompok diberi LKS mengenai Konsep Tanah, Air dan Alam Sekitar. Pada tahap ini guru dapat mengetahui keaktifan siswa dan tingkat kerjasama antar anggota kelompok pada saat melakukan percobaan.

c. Diskusi dan Penjelasan Konsep

Setelah siswa menyelesaikan LKS secara berkelompok, pada tahap diskusi dan penjelasan konsep siswa dan guru membahas LKS yang telah dikerjakan. Pada tahap ini siswa memberikan penjelasan kemudian guru memberikan penguatan terhadap penjelasan siswa

(13)

apabila konsep yang telah dikemukakan siswa benar dan memberikan arahan apabila penjelasan yang dikemukakan siswa kurang tepat, sehingga siswa tidak ragu-ragu dan paham mengenai konsep Tanah, Air dan Alam sekitar.

d. Pengembangan dan Aplikasi Konsep

Guru memunculkan permasalahan-permasalahan yang berhubungan dengan Tanah, Air dan Alam sekitar yang memungkinkan siswa untuk mengaplikasikan pemahaman konseptualnya dan mengetahui manfaat tanah bagi kehidupan kita sehari-hari.

Pada saat pembelajaran selesai, selanjutnya hal yang dilaksanakan adalah melakukan evaluasi kepada siswa. Hal ini dilakukan agar dapat mengetahui pemahaman dan keberhasilan siswa. Sehingga hasil evaluasi ini dapat digunakan untuk bahan acuan pada pembelajaran selanjutnya.

E. Materi Tanah, Air dan Alam Sekitar

Berdasarkan kurikulum, materi Tanah, Air dan Alam sekitar diajarkan di kelas V pada semester II meliputi:

1. Pembentukan tanah akibat pelapukan

Tanah merupakan lapisan paling atas pada permukaan bumi. Manusia, hewan dan tumbuhan. Tumbuhan memerlukan tanah untuk tempat hidup. Tumbuh-tumbuhan tidak dapat bertahan hidup tanpa ada lapisan tanah. Lapisan tanah juga menyediakan bahan-bahan makanan dan

(14)

mineral guna pertumbuhan tanaman. Tumbuhsn kemudian dimanfaatkan hewan dan manusia.

Pembentukan tanah akibat pelapukan tanah terdiri atas batuan-batuan dan sisa makhluk hidup yang telah lama mati. Batuan ini lama kelamaan mengalami pelapukan. Batuan yang lapuk dan sisa makhluk hidup yang telah mati ini akan terurai menjadi tanah oleh bakteri pengurai. Pelapukan batuan dapat pula disebabkan oleh cuaca yang berubah-ubah. Lumut juga dapat merusak batuan. Ada beberapa jenis, pada mulanya pelapukan terjadi secara fisika dan secara kimia. Setelah ada makhluk hidup di bumi mereka ikut berperan dalam terjadinya pelapukan.

 Pelapukan Fisika

Pelapukan fisika dapat disebabkan oleh perubahan suhu. Perubahan suhu terjadi berulang-ulang. Yaitu dari panas menjadi dingin, dan dari dingin menjadi panas. Perbedaan antara suhu siang dan malam, antara musim panas dan musim dingin menyebabkan batuan menjadi pecah-pecah, sehingga ukuran batu makin lama makin kecil. Peristiwa pelapukan karena perbedaan karena perbedaan suhu yang tinggi banyak terjadi di Arab Saudi. Padang pasir di Arab Saudi awalnya merupakan batu-batuan. Pada siang hari suhu di Arab Saudi dengan sangat tinggi (±42ºC). tapi malam hari suhunya dapat sangat rendah (±-10ºC). perbedaan suhu yang mencolok membuat batu-batuan di Arab Saudi melapuk atau hancur. Batu-batuan yang hancur lama-kelamaan menjadi padang pasir. Pelapukan

(15)

fisika dapat terjadi karena terpaan angin dan hujan (erosi), serta karena tarikan gaya gravitasi bumi.

 Pelapukan Kimia

Oksigen dan uap air di udara mudah bersenyawa dengan berbagai zat sehingga dapat menyebabkan pelapukan. Pelapukan seperti ini disebut pelapukan kimia. Misalnya besi menjadi berkarat dan warna kemerah-merahan. Air hujan secara alami mengandung asam yang berasal dari karbon dioksida. Akan tetapi, akibat gas-gas buangan industri seperti belerang dioksida, maka terjadilah hujan asam. Hujan asam sangat meningkatkan kecepatan pelapukan kimia. Hujan asam mengakibatkan pelapukan batuan, batuan seperti terkikis.

 Pelapukan Biologi

Pelapukan biologi adalah pelapukan yang disebabkan oleh aktivitas makhluk hidup. Tumbuhan dapat menyebabkan lapuknya berbagai jenis batuan. Misalnya lumut kerak yang dapat tmbuh dibatuan. Lumut ini mengeluarkan zat asam yang sedikit demi sedikit dapat menghancurkan batuan.

Pelapukan batuan merupakan awal terbentuknya tanah. Batuan yang telah hancur lalu bercampur dengan berbagai mineral dan sisa-sisa makhluk hidup. Bahan-bahan ini tercampur karena peran aktif hewan-hewan pengurai(misalnya bakteri), tekanan akar tumbuhan, dan gerakan air.

(16)

2. Bagian-Bagian Tanah

Gambar 2.3 Bagian-bagian Tanah

Tanah merupakan bagian dari kerak bumi. Kerak Bumi terdiri atas lapisan atas, lapisan tengah, lapisan bawah, dan lapisan batuan induk.

a. Lapisan atas, merupakan lapisan yang terbentuk dari hasil pelapukan batuan dan sisa-sisa makhluk hidup yang telah mati. Lapisan itu merupakan tanah yang paling subur.

b. Lapisan tengah, terbentuk dari campuran antara hasil pelapukan batuan dan air. Lapisan tersebut terbentuk karena sebagian bahan lapisan atas terbawa oleh air dan mengendap. Lapisan ini biasa disebut tanah liat. c. Lapisan bawah, merupakan lapisan yang terdiri atas

bongkahan-bongkahan batu. Disela-sela bongkahan-bongkahan terdapat hasil pelapukan batuan. Jadi, masih ada batu yang belum melapuk secara sempurna. d. Lapisan batua induk, berupa bebatuan yang padat.

Tanah terdiri atas kerikil, pasir, tanah halus, dan sampah. Sampah yang berasal dari sisa-sisa tumbuhan atau hewan yang telah mati disebut humus. Tanah yang subur dan baik untuk ditanami, biasanya mengandung

(17)

humus, karena mengandung zat makanan yang lebih banyak dari pada lapisan tanah yang lain.

3. Jenis-Jenis Tanah

Tentunya setiap tanah memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan air yang berbeda-beda. Oleh karena itu, tumbuhan yang ditanam di tanah, yang mampu menyerap dan menyimpan air, akan tumbuh dengan baik. Penyerapan air ke dalam tanah bergantung pada jenis tanah. Jenis-jenis tanah yang dapat kamu temukan disekitarmu.

1) Tanah Humus

Tanah humus merupakan tanah yang

a) Berasal dari pelapukan sisa hewan dan tumbuhan yang membusuk; b) Berwarna kehitaman;

c) Sangat baik untuk lahan pertanian; d) Kemampuan menyerap airnya sangat; e) Dapat menggemburkan tanah; 2) Tanah Liat atau Tanah Lempung

Tanah liat merupakan tanah yang a) Butiran-butiran tanahnya halus;

b) Setiap butiran saling melekat satu sama lain, sehingga jika basah lengket;

c) Sukar menyerap air;

(18)

d) Sering dimanfaatkan untuk membuat kerajinan tangan, seperti pot bunga, mangkuk, dan cerek. Dalam penggunaannya, tanah liat yang telah dibentuk dipanaskan supaya kering dan kuat;

e) Tumbuhan sulit tumbuh di tanah liat.

3) Tanah Berpasir

Tanah berpasir biasanya digunakan untuk bahan membangun rumah. Tanah ini dicampur dengan semen untuk memasang batu-bata. Tanah berpasir merupakan tanah yang

a) Butiran pasirnya sangat banyak; b) Mudah menyerap air;

c) Tumbuhan sulit tumbuh di tanah berpasir.

4) Tanah Vulkanik

Tanah vulkanik biasanya terdapat di sekitar gunung berapi, seperti Gunung Merapi di Jawa Tengah dan Gunung Galunggung di Jawa Barat. Tanah vulkanik merupakan tanah yang:

a) Banyak mengandung unsur hara;

Gambar 2.5 Tanah Liat atau Tanah Lempung

(19)

b) Warnanya lebih gelap;

c) Berasal dari gunung berapi yang meletus; d) Sangat mudah menyerap air;

e) Sangat subur untuk lahan pertanian.

Gambar 2.7 Tanah Vulkanik

Setiap jenis tanah memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam menyerap air. Tanah yang berasal dari kebun atau persawahan sangat mudah menyerap dan menyimpan air. Selain itu, tanah kebun juga banyak mengandung humus. Tanah liat dan tanah berpasir sulit menyerap air. Namun, ada tumbuhan yang dapat hidup di tanah berpasir. Contohnya, kaktus.

Gambar

Gambar 2.1: skema perolehan pengetahuan
Gambar 2.2 Tahapan-tahapan dalam pembelajaran konstruktivis  (Yuliariatiningsih dan Irianto, 2008: 31)
Gambar 2.3 Bagian-bagian Tanah
Gambar 2.4 Tanah Humus
+3

Referensi

Dokumen terkait

Program penguatan pembelajaran di kelas-kelas berbahasa Inggris ini dirancang sebagai salah satu upaya untuk mendukung program internasionalisasi dan peningkatan ITB

HUBUNGAN PERSEPSI BUDAYA ORGANISASI DAN KEPUASAN KERJA DENGAN KETERIKATAN KERJA PADA KARYAWAN PT.. STUDIO CILAKI

Penelitian dilakukan dengan menggunakan 20 tikus jantan yang beratnya 150 – 200 g, yang terbagi dalam empat kelompok, kelompok pertama diberikan larutan natrium diklofenak baku

Berdasarkan hasil percobaan pada tabung kedua yang berisi larutan amilum 2% dan enzim amilase (saliva) yang di simpan pada suhu kamar (25 0 C), terjadi perubahan

Model matematika dari contoh 1 terdiri dari dua persamaan linear yang memiliki dua variabel yang sama yaitu x,y , sedangkan bukan contoh terdiri dari dua persamaan

 Administrasi : Memenuhi Syarat Administrasi  Klarifikasi Teknis dan Negosiasi Harga : Memenuhi Syarat dan Wajar. Demikian untuk diketahui dan dapat dipergunakan

[r]

Dalam sistem radian yang dimaksud besar sudut satu radian adalah besar sudut pusat dari suatu lingkaran yang panjang busur dihadapan sudut tersebut adalah sama dengan