• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERUBAHAN POLA KONSUMSI DAN STATUS GIZI MAHASISWA PUTRA DAN PUTRI TPB IPB TAHUN 2005/2006 PESERTA FEEDING PROGRAM MARYAM RAZAK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERUBAHAN POLA KONSUMSI DAN STATUS GIZI MAHASISWA PUTRA DAN PUTRI TPB IPB TAHUN 2005/2006 PESERTA FEEDING PROGRAM MARYAM RAZAK"

Copied!
98
0
0

Teks penuh

(1)

PERUBAHAN POLA KONSUMSI DAN STATUS GIZI

MAHASISWA PUTRA DAN PUTRI TPB IPB TAHUN

2005/2006 PESERTA FEEDING PROGRAM

MARYAM RAZAK

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2007

(2)

2005/2006 PESERTA FEEDING PROGRAM

MARYAM RAZAK

Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada

Program Studi Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2007

(3)

Judul Tesis : Perubahan Pola Konsumsi dan Status Gizi Mahasiswa Putra dan Putri TPB IPB Tahun 2005/2006 Peserta Feeding

Program

Nama : Maryam Razak

NRP : A551040081

Disetujui

Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Budi Setiawan, MS Dr. Ir. Sri Anna Marliyati, MSi

Ketua Anggota

Diketahui

Ketua Program Studi Gizi Masyarakat Dekan Sekolah Pascasarjana

dan Sumberdaya Keluarga

Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, MS Prof. Dr. Ir. Khairil Anwar Notodiputro, MS

(4)
(5)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya serta shalawat dan salam tercurah selalu pada junjungan Nabi Muhammad SAW sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis ini dengan baik. Penulis menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang tak terhingga kepada :

1. Dr. Ir. Budi Setiawan, MS, sebagai ketua komisi pembimbing Dr. Ir. Sri Anna Marliyati, MSi sebagai anggota komisi pembimbing yang telah banyak memberikan bimbingan dan arahan selama penelitian sejak persiapan sampai tersusunnya tesis ini.

2. Dr. Ir. Siti Madanijah, MS sebagai penguji luar komisi atas masukannya dalam penulisan tesis ini.

3. Dekan Sekolah Pascasarjana IPB beserta staf administrasi dan staf pengajar, khususnya Program Studi Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga atas bekal materi pelajaran dan pelayanan akademik yang diberikan selama penulis menempuh pendidikan di IPB.

4. Seafast Center IPB dan Departemen GMSK yang mengijinkan untuk dapat melakukan penelitian pada Feeding Program dan memberi bantuan selama pelaksanaan penelitian.

5. Direktur dan Ketua Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Makassar yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengikuti pendidikan Magister di IPB serta rekan-rekan sejawat di Jurusan Gizi yang selalu memberi semangat untuk segera menyelesaikan studi.

6. Departemen Kesehatan RI yang memberi bantuan biaya pendidikan (Gudosin).

7. Teman-teman GMK 2004 Pak Edi, Lely, Uli, Fia, Inne dan Anna dan teman-teman GMK 2005 teh Nok, Ely dan Nita. Adik-adik di GMSK Maning, Yudith, Juli, Asti, Udhin, Joel dan Aris yang sangat membantu saat pengambilan data. Nung, Atid, Eno dan Widi yang selalu bersedia memberi bantuan saat pengolahan data, juga Bu Indani dan keluarga serta Bu Hj. Mukhtar dan keluarga.

8. Penghargaan dan terima kasih yang tulus ikhlas terutama kepada Ibunda tercinta Hj. Halidjah dan Ayahanda tercinta H. Abd. Razak Djama (almarhum), kakak-kakak, adik dan suami tercinta serta seluruh keluarga atas limpahan kasih sayang, doa, dukungan dan semangat yang selalu diberikan selama ini.

Terima kasih banyak kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu atas doa dan dukungan yang telah diberikan selama perkuliahan sampai penyelesaian studi ini.

Semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat.

Bogor, Agustus 2007

(6)

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Perubahan Pola Konsumsi dan Status Gizi Mahasiswa Putra dan Putri TPB IPB Tahun 2005/2006 Peserta Feeding

Program adalah karya saya sendiri dengan arahan pembimbing dan belum diajukan

dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, Agustus 2007

Maryam Razak NIM A551040081

(7)

© Hak cipta milik IPB, tahun 2007 Hak cipta dilindungi undang-undang

1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber

a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah

b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB

2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB

(8)

Penulis dilahirkan di Ujungpandang, Sulawesi Selatan pada tanggal 19 Nopember 1970 sebagai anak keempat dari lima bersaudara, putri dari pasangan

Drs. H. Abd. Razak Djama (Almarhum) dan Hj. Halidjah. Tahun 1989 penulis lulus dari SMA Negeri 1 Makassar dan melanjutkan pendidikan di Akademi Gizi Makassar dan lulus tahun 1993.

Mulai tahun 1993 sampai sekarang menjadi staf pengajar di Politeknik Kesehatan Makassar Jurusan Gizi. Tahun 1999 melanjutkan pendidikan S1 di Universitas Brawijaya Malang dan tahun 2004 mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan pada Program Studi Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga Program Magister Sains di Institut Pertanian Bogor.

(9)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... iii

DAFTAR GAMBAR ... iv DAFTAR LAMPIRAN... v PENDAHULUAN ... 1 Latar Belakang ... 1 Tujuan Penelitian ... 3 Hipotesis ... 4 Manfaat Penelitian ... 4 TINJAUAN PUSTAKA ... 5

Kebutuhan Gizi Remaja... 5

Kebiasaan Makan Remaja ... 6

Pengetahuan dan Sikap Gizi Remaja... 8

Pola Konsumsi dan Konsumsi Pangan Remaja ... 10

Status Gizi Remaja... 12

Faktor-faktor yang mempengaruhi Status Gizi Remaja... 13

KERANGKA PEMIKIRAN ... 15

METODOLOGI PENELITIAN ... 18

Desain, Tempat dan Waktu Penelitian ... 18

Cara Pengambilan Contoh ... 18

Jenis dan Cara Pengumpulan Data ... 19

Pengolahan dan analisis Data ... 20

Definisi Operasional ... 22

HASIL DAN PEMBAHASAN ... 24

Karakteristik Contoh ... 24

Keadaan Kesehatan ... 24

Uang Saku Perbulan ... 25

Pendidikan Orangtua... 26

Pekerjaan Orangtua ... 26

Pendapatan Orangtua ... 28

Kebiasaan Makan Remaja... 28

Putra peserta feeding program ... 29

Putra nonfeeding program ... 33

Putri peserta feeding program... 36

Putri nonfeeding program ... 39

(10)

ii

Frekuensi konsumsi pangan mahasiswa putra ... 45

Frekuensi konsumsi pangan mahasiswa putri ... 47

Konsumsi Pangan, Tingkat Konsumsi Energi dan Zat Gizi ... 51

Status Gizi Remaja... 55

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap Status Gizi Remaja ... 59

KESIMPULAN DAN SARAN ... 61

Kesimpulan ... ...61

Saran... ...64

DAFTAR PUSTAKA ... 65

(11)

iii

DAFTAR TABEL

Halaman

1 Jenis data, cara pengumpulan data dan pengolahan data ... 21

2 Sebaran contoh menurut umur ... 24

3 Sebaran contoh menurut keadaan kesehatan... 25

4 Sebaran contoh menurut uang saku per bulan ... 26

5 Sebaran contoh menurut pendidikan orang tua... 27

6 Sebaran contoh menurut pekerjaan orang tua ... 27

7 Sebaran contoh menurut pendapatan orang tua ... 28

8 Kebiasaan makan mahasiswa putra peserta feeding program sebelum, saat dan setelah 2 bulan feeding program berakhir ... 30

9 Kategori kebiasaan makan mahasiswa putra peserta feeding program sebelum, saat dan setelah 2 bulan feeding program berakhir ... 32

10 Kebiasaan makan mahasiswa putra nonfeeding program sebelum, saat dan setelah 2 bulan feeding program berakhir ... 34

11 Kategori kebiasaan makan mahasiswa putra nonfeeding program sebelum, saat dan setelah 2 bulan feeding program berakhir ... 36

12 Kebiasaan makan mahasiswa putri peserta feeding program sebelum, saat dan setelah 2 bulan feeding program berakhir ... 37

13 Kategori kebiasaan makan mahasiswa putri peserta feeding program sebelum, saat dan setelah 2 bulan feeding program berakhir ... 39

14 Kebiasaan makan mahasiswa putri nonfeeding program sebelum, saat dan setelah 2 bulan feeding program berakhir ...40

15 Kategori kebiasaan makan mahasiswa putri nonfeeding program sebelum, saat dan setelah 2 bulan feeding program berakhir ...41

16 Sebaran contoh menurut pengetahuan gizi sebelum, saat dan setelah 2 bulan feeding program berakhir ...43

17 Sebaran contoh menurut sikap gizi sebelum, saat dan setelah 2 bulan feeding program berakhir ...44

18 Rata-rata konsumsi dan tingkat kecukupan zat gizi mahasiswa putra sebelum, saat dan setelah 2 bulan feeding program berakhir ...51

19 Rata-rata konsumsi dan tingkat kecukupan zat gizi mahasiswa putri sebelum, saat dan setelah 2 bulan feeding program berakhir ...54

20 Sebaran contoh menurut rata-rata IMT putra dan putri peserta feeding dan nonfeeding ...56

(12)

iv

1 Kerangka Pemikiran Penelitian ... 17

2 Bagan penarikan contoh ... 19

3 Frekuensi makan mahasiswa putra di kantin asrama ... 49

4 Frekuensi makan mahasiswa putri di kantin asrama... 49

5 Alasan mahasiswa jarang dan tidak pernah membeli makan di kantin asrama ... 50

6 Alasan utama mahasiswa membeli makanan di kantin asrama...50

7 Alasan berkurang/menurun frekuensi makan mahasiswa putra dan putri ... 55

8 Sebaran IMT putra peserta feeding dan putra nonfeeding ... 57

(13)

v

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman 1 Kuesioner pengetahuan gizi ... 70 2 Sebaran contoh (putra) menurut jawaban yang benar untuk pertanyaan

pengetahuan gizi dengan pilihan jawaban benar-salah ... 73 3 Sebaran contoh (putra) menurut jawaban yang benar untuk pertanyaan pengetahuan gizi dengan pilihan jawaban multiple choice ... 74 4 Sebaran contoh (putra) menurut jawaban yang benar untuk pernyataan sikap gizi ... 75 5 Sebaran contoh (putri) menurut jawaban yang benar untuk pertanyaan

pengetahuan gizi dengan pilihan jawaban benar-salah ... 76 6 Sebaran contoh (putri) menurut jawaban yang benar untuk pertanyaan pengetahuan gizi dengan pilihan jawaban multiple choice ... 77 7 Sebaran contoh (putri) menurut jawaban yang benar untuk pernyataan sikap gizi ... 78 8 Rata-rata frekuensi konsumsi pangan mahasiswa putra peserta feeding dan putra nonfeeding... 79 9 Rata-rata frekuensi konsumsi pangan mahasiswa putri peserta feeding dan putri nonfeeding ... 80 10 Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap status gizi putra peserta feeding sebelum feeding program... 81 11 Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap status gizi putra peserta feeding saat feeding program... 81 12 Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap status gizi putra peserta feeding setelah 2 bulan feeding program berakhir... 81 13 Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap status gizi putra nonfeeding

sebelum feeding program... 82 14 Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap status gizi putra nonfeeding

saat feeding program... 82 15 Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap status gizi putra nonfeeding

setelah 2 bulan feeding program berakhir... 82 16 Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap status gizi putri peserta feeding sebelum feeding program... 83 17 Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap status gizi putri peserta feeding saat feeding program... 83 18 Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap status gizi putri peserta feeding setelah 2 bulan feeding program berakhir... 83

(14)

vi

sebelum feeding program... 84 20 Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap status gizi putri nonfeeding

saat feeding program... 84 21 Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap status gizi putri nonfeeding

(15)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Sumberdaya manusia sangat penting bagi pembangunan suatu bangsa. Remaja merupakan salah satu sumberdaya manusia yang harus diperhatikan karena remaja sebagai generasi penerus bangsa memiliki peran penting di masa yang akan datang. Kualitas manusia di masa yang akan datang sangat dipengaruhi oleh kualitas remaja masa kini. Untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia utamanya remaja, banyak faktor yang harus diperhatikan, antara lain gizi dan kesehatan, pendidikan, informasi, teknologi dan lain-lain.

Konsumsi pangan merupakan faktor utama dalam memenuhi kebutuhan zat gizi. Pada gilirannya zat gizi tersebut menyediakan tenaga bagi tubuh, mengatur proses metabolisme dalam tubuh, memperbaiki jaringan tubuh serta pertumbuhan (Harper, et al. 1986). Ketidakseimbangan antara makanan yang dikonsumsi dengan kebutuhan pada remaja akan menimbulkan masalah gizi kurang atau masalah gizi lebih. Kekurangan gizi akan menurunkan daya tahan tubuh terhadap penyakit, meningkatkan angka kesakitan (morbiditas), pertumbuhan tidak normal (pendek), tingkat kecerdasan rendah dan produktivitas rendah (Soekirman, 2000). Hasil penelitian Permaesih (2003) menunjukkan prevalensi remaja gizi kurang berkisar antara 40-88%, sedangkan hasil penelitian yang dilakukan di asrama mahasiswa IPB tahun 2002/2003 menunjukkan tingginya prevalensi anemia dan kurang gizi pada mahasiswa tersebut. Mahasiswa putri yang menderita anemi sebesar 48,1% dan kurang gizi sebesar 7,3%, dan mahasiswa putra menderita anemi sebesar 4,3% dan 28,7% kurang gizi (Anggraeni, 2004; Putri, 2004; Santika, 2004; Suherman, 2004).

Kebiasaan makan dapat membentuk pola konsumsi pangan. Konsumsi pangan dipengaruhi pula oleh pengetahuan gizi dan persepsi remaja mengenai tubuhnya (body image). Banyak remaja tidak menyadari bahwa kebiasaan makan mereka saat ini akan berdampak pada status kesehatan mereka di kemudian hari (Stang dan Story, 2004). Kebiasaan makan yang buruk selama remaja sering berlanjut sampai dewasa yang dapat menimbulkan risiko berbagai penyakit kronik seperti jantung, kanker, osteoporosis dan sebagainya. Pengetahuan dan kesadaran

(16)

gizi remaja yang rendah tercermin dari sikap dan perilaku yang menyimpang dalam kebiasaan memilih makanan (Permaesih, 2003).

Pola konsumsi pangan seseorang juga dipengaruhi oleh ketersediaan pangan, pola sosial budaya dan faktor pribadi. Ketersediaan makanan bagi mahasiswa ditentukan oleh daya beli yang terkait dengan uang saku setiap bulan yang diberikan oleh orang tua atau pihak-pihak lain (misal: beasiswa, saudara, dll) dan pengaruh sosial budaya seperti sikap, kebiasaan makan, tabu terhadap makanan dan ketidaktahuan akan gizi (Suhardjo, 1989).

Menurut Satoto (1990) masalah gizi kurang maupun lebih terjadi terutama karena salah pilih makanan, yang sedikit ataupun banyak disebabkan oleh ketidaktahuan cara memilih makanan yang benar. Pada masalah gizi kurang, selain pengaruh infeksi salah pilih tersebut disebabkan oleh kemiskinan, baik kemiskinan sumberdaya maupun kemiskinan informasi (ketidaktahuan). Pada gizi lebih, umumnya sumberdaya dan informasi tersedia, tetapi yang bersangkutan salah dalam memilih makanan sehat dan seimbang. Jika remaja memiliki pengetahuan gizi yang baik akan lebih mampu memilih makanan sesuai dengan kebutuhannya. Pengetahuan gizi memberikan bekal pada remaja bagaimana memilih makanan yang sehat dan mengerti bahwa makanan berhubungan erat dengan gizi dan kesehatan.

Pada tahun 2005, Institut Pertanian Bogor (IPB) mengadakan program pemberian makanan tambahan (PMT) atau Feeding Program kepada ±500 orang mahasiswa putra dan putri TPB IPB Tahun 2005/2006 yang tinggal di asrama TPB. Feeding Program dilaksanakan selama ±6 bulan. Disamping itu juga diberikan penyuluhan gizi. Tujuan program PMT adalah memperbaiki status gizi mahasiswa sedangkan penyuluhan gizi diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan gizi dan mempengaruhi komposisi dan pola konsumsi pangan mahasiswa. Penyuluhan gizi ini diharapkan tidak hanya sampai tingkat kognitif (pengetahuan) dan afektif (penghayatan), tapi dapat mencapai tingkat psikomotor (praktek) sehingga mahasiswa dapat memilih makanan yang bergizi dan gaya hidup yang baik untuk menunjang kesehatan dan prestasi akademiknya.

Jika mahasiswa memiliki pengetahuan dan sikap gizi yang baik, akan mampu memilih makanan sesuai kebutuhan gizinya. Oleh karena itu, walaupun

(17)

3

program pemberian makanan tambahan (PMT) atau Feeding Program telah berakhir, diharapkan pola konsumsi mahasiswa menjadi lebih baik daripada sebelum pelaksanaan program tersebut. Dan selanjutnya dapat memperbaiki status gizinya dan dapat menunjang prestasi akademiknya.

Berdasarkan hal-hal diatas, menarik untuk diteliti mengenai perubahan pola konsumsi dan status gizi mahasiswa putra dan putri yang memperoleh makanan tambahan (peserta Feeding Program) dan yang tidak memperoleh makanan tambahan (nonfeeding Program) sebelum, saat dan setelah Feeding

Program berakhir.

Tujuan Penelitian

Tujuan Umum

Secara umum tujuan penelitian ini adalah menganalisis perubahan pola konsumsi dan status gizi mahasiswa putra dan putri TPB IPB tahun 2005/2006 sebelum, saat dan setelah feeding program.

Tujuan Khusus

Tujuan khusus penelitian ini adalah :

1. Menganalisis perbedaan kebiasaan makan, pengetahuan gizi, pola konsumsi, konsumsi pangan dan status gizi mahasiswa putra dan putri peserta feeding

program dan nonfeeding sebelum, saat dan setelah feeding program berakhir

2. Menganalisis pengaruh kebiasaan makan, pengetahuan gizi, pola konsumsi, dan konsumsi pangan terhadap status gizi mahasiswa putra dan putri peserta feeding

program dan nonfeeding sebelum, saat dan setelah feeding program berakhir

Hipotesis

1. Ada perbedaan kebiasaan makan, pengetahuan gizi, pola konsumsi, konsumsi pangan dan status gizi antara mahasiswa putra dan putri peserta feeding

program dengan mahasiswa putra dan putri nonfeeding sebelum, saat dan

setelah feeding program berakhir

2. Ada pengaruh kebiasaan makan, pengetahuan gizi, pola konsumsi, dan konsumsi pangan terhadap status gizi mahasiswa putra dan putri peserta feeding

(18)

Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan masukan bagi pihak yang akan merencanakan dan mengembangkan program dalam rangka meningkatkan kualitas program pemberian makanan tambahan bagi mahasiswa, dan bagi pengelola asrama utamanya dalam penyelenggaraan makanan diharapkan dapat menyediakan makanan yang bergizi, beragam, dan aman bagi kesehatan mahasiswa sehingga dapat menunjang prestasi akademiknya.

(19)

TINJAUAN PUSTAKA

Kebutuhan Gizi Remaja

Usia remaja berkisar antara 12 tahun sampai dengan 19 tahun akhir atau 20 tahun awal. Perubahan biologi merupakan tanda berakhirnya masa anak-anak. Sementara itu, pertumbuhan yang cepat pada berat dan tinggi badan merupakan awal dimulainya masa remaja. Sedangkan mahasiswa adalah seseorang yang mempunyai kisaran umur 17 – 22 tahun. Jadi dapat dikatakan bahwa mahasiswa termasuk remaja akhir. Menurut Papalia dan Olds (1986), kondisi kejiwaan (psikologis) dan gaya hidup remaja adalah penyebab paling umum dari terjadinya masalah-masalah fisik. Ruang lingkup masalah tersebut adalah kebiasaan makan yang salah (eating disorders), pemakaian dan penyalahgunaan obat-obatan serta penyakit menular seksual.

Kebutuhan gizi remaja relatif besar, karena mereka masih mengalami pertumbuhan. Selain itu, remaja umumnya melakukan aktivitas fisik lebih tinggi dibanding usia lainnya, sehingga diperlukan zat gizi yang lebih banyak (Sianturi, G. 2002). Berdasarkan Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VI (WKNPG VIII) tahun 2004 menganjurkan angka kecukupan gizi (AKG) energi untuk remaja laki-laki usia 16 sampai 18 tahun adalah 2600 kkal/hari, protein 65 g/hari, vitamin A 600 RE/hari, vitamin C 90 mg/hari dan zat besi (Fe) 15 mg/hari, sedangkan untuk perempuan energi 2200 kkal/hari. protein 55 g/hari, vitamin A 600 RE/hari, vitamin C 75 mg/hari dan zat besi (Fe) 26 mg/hari.

Kekurangan gizi dapat menyebabkan keterlambatan pertumbuhan (Spear, 1996). Peningkatan kebutuhan zat besi (sampai 15%) selama remaja digunakan untuk pengembangan massa sel darah merah dan mioglobin, pertambahan jaringan otot baru, mengkonpensasi kehilangan darah akibat menstruasi yang menyebabkan remaja putri membutuhkan lebih banyak Fe (Riyadi, 1996).

Perubahan komposisi tubuh menyebabkan kebutuhan gizi meningkat terutama energi, protein dan besi. Dari data beberapa negara ditemukan bahwa remaja akan mengalami pertambahan tinggi badan dan usia puber yang lebih awal (Rickert, 1996). Hal ini terjadi karena konsumsi makanan yang lebih baik dan kesehatan pada masa anak-anak yang baik. Pengaruh gizi pada saat puber sangat ditentukan keadaan status gizi pada usia dini. Dari 78 anak laki-laki

(20)

yang diikuti dari usia 6 bulan sampai 14 tahun, berat badan selama balita berhubungan dengan kematangan dan tinggi badan saat remaja (Jhonston & Haddad, 1996).

Masa remaja merupakan masa pengembangan fisik dan sosial. Pada saat tersebut pemilihan makanan yang bergizi tidak hanya berpengaruh terhadap kesehatannya sekarang tetapi sangat mempengaruhi kesehatannya di masa mendatang (Marlow, 2002).

Kebiasaan Makan Remaja

Mantra (1996) menyatakan bahwa status gizi berhubungan langsung dengan makanan dan kebiasaan makan dari individu, keluarga dan masyarakat secara keseluruhan. Perbaikan gizi pada dasarnva adalah upaya merubah kebiasaan yang berhubungan dengan makanan pada individu, keluarga atau masyarakat secara keseluruhan untuk status gizi yang lebih baik.

Menurut Khumaidi (1989), kebiasaan makan merupakan tingkah laku manusia dan kelompok manusia dalam memenuhi kebutuhannya akan makanan yang meliputi sikap, kepercayaan dan pemilihan makanan. Selanjutnya Suhardjo (1989) menyatakan bahwa kebiasaan makan merupakan istilah untuk menggambarkan kebiasaan dan perilaku yang berhubungan dengan makan dan makanan. seperti tata krama makan, frekuensi makan, pola makanan yang dimakan, kepercayaan terhadap makanan (misalnya: pantangan), penerimaan terhadap pangan dan cara pemilihan bahan makanan yang hendak dimakan.

Kebiasaan makan yang berpengaruh terhadap pemilihan makanan, konsumsi energi dan intik zat gizi, umumnya terbentuk pada masa kanak-kanak dan sebagian pada masa remaja. Walaupun rumah dan lingkungan sekolah memegang peranan terbesar dalam pembentukan pola konsumsi, namun terdapat peningkatan tendensi pada anak, terutama remaja, untuk memilih makanannya sendiri di luar rumah dan lingkungan sekolah. Namun tidak selamanya makanan yang dipilih tersebut sesuai dengan kaidah gizi yang seimbang (Khumaidi, 1989).

Kebiasaan makan dapat dipelajari dan diukur menurut prinsip-prinsip ilmu gizi melalui pendidikan, latihan dan penyuluhan gizi. Dalam program

(21)

7

perbaikan gizi, harus dapat dicarikan upaya agar kebiasaan makan yang baik dapat dilestarikan dan kebiasaan makan yang jelek dapat digantikan dengan ide-ide baru untuk menunjang tercapainya kecukupan gizi (Khumaidi, 1989). Kebiasaan makan yang terdapat pada diri seseorang diperoleh melalui dua cara yaitu dipelajari dan tidak dipelajari (Sanjur, 1982). Perilaku yang didasari oleh pengetahuan melalui pendidikan gizi yang diajarkan secara formal akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan. Perilaku makan yang tidak diperoleh memalui proses pendidikan biasanya diturunkan dari orangtua dan merupakan budaya.

Menurut Alexander (1994) kebiasaan makan sehat pada remaja masih jauh dari ideal. Remaja lebih suka mengkonsumsi fast food, snack, soft drink dan sebagainya yang pada umumnya rendah sumber vitamin dan mineral. Rickert (1996) menyebutkan ada tiga kebiasaan makan yang dilakukan remaja yaitu : (1) Mengurangi frekuensi makan (skipping meal). Salah satu kebiasaan makan remaja adalah mengurangi frekuensi makan seperti tidak makan pagi. Berdasarkan penelitian tentang kebiasaan makan pagi, ditemukan 50% remaja putri tidak makan pagi yang dihubungkan dengan tidak ada selera makan dan ketersediaan menu yang kurang memuaskan (Rickert, 1996); (2) Mengkonsumsi makanan ringan (snacking). Menurut Hurlock (1997) remaja suka makan jenis makanan ringan seperti kue-kue, permen dan lain-lain, sedangkan sayur-sayuran dan buah-buahan jarang dikonsumsi sehingga dalam dietnya rendah serat, zat besi dan vitamin C. Makan makanan ringan (cemilan) dapat menurunkan selera makan sehingga remaja yang terlalu banyak mengkonsumsi makanan ringan biasanya akan makan dengan porsi lebih sedikit, bahkan sering tidak makan. Beberapa studi mengungkapkan bahwa cemilan yang dikonsumsi remaja umumnya rendah serat, rendah kalori, rendah vitamin A, kalsium dan zat besi (Spear, 1996). (3) Mengkonsumsi makanan siap saji (fast food). Makanan siap saji atau fast food merupakan salah satu jenis makanan yang sangat disukai remaja. Selain rasanya yang dapat diterima, pelayanan dan sarana yang memuaskan membuat remaja menyukainya. Namun kandungan gizinya rendah zat besi, kalsium, riboflavin dan vitamin A, tetapi tinggi kalori, lemak jenuh, dan garam (Spear, 1996).

(22)

Pengetahuan dan Sikap Gizi Remaja

Pengetahuan gizi adalah kemampuan seseorang untuk mengingat (recall) kembali kandungan gizi makanan, sumber serta kegunaan zat gizi tersebut di dalam tubuh. Pengetahuan gizi ini mencakup proses kognitif yang dibutuhkan untuk menggabungkan informasi gizi dengan perilaku makan agar struktur pengetahuan yang baik tentang gizi dan kesehatan dapat dikembangkan (Sapp dan Jensen, 1997).

Pengetahuan gizi selalu berhubungan dengan makanan dan perbaikan gizi. Hasil penelitian Caliendo et al. (1997) menunjukkan bahwa penganekaragaman makanan pada anak-anak secara positif dan nyata berkorelasi dengan pengetahuan gizi ibunya. Seseorang yang memiliki pengetahuan gizi akan mempraktekkan pengetahuan yang mereka miliki melalui perilaku gizi yang baik. Tetapi pengetahuan gizi yang baik tidaklah selalu diikuti oleh perilaku gizi yang baik. Hal ini disebabkan oleh rendahnya daya beli dan ketersediaan waktu untuk menyiapkan makanan (Schafer, et al. 1993).

Pengetahuan gizi akan mempengaruhi kebiasaan makan suatu masyarakat. Menurut Soesanto, et al (1989), tumbuhnya kebiasaan makan dalam masyarakat dipengaruhi oleh pengetahuan masyarakat dalam memilih dan mengolah pangan sehari-hari. Yang termasuk dalam sumber-sumber pengetahuan dalam memilih dan mengolah pangan adalah : a) sistem sosial anggota keluarga yang bersumber secara turun-temurun dari orang tua; b) proses sosialisasi anggota keluarga dengan sistem sosial lain, misalnya melalui keikutsertaan dalam organisasi sosial/kemasyarakatan dan kegiatan mobilitas fisik keluar desa; dan c) interaksi anggota keluarga dengan media massa (radio, koran TV dan lain-lain).

Pengetahuan gizi juga dapat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan. Tingkat pendidikan bisa menggambarkan kemampuan kognitif dan pengetahuan yang dipunyai seseorang. Semakin tinggi tingkat pendidikan formal maka semakin luas tingkat pengetahuannya (Trichenor, et al. 1990). Hasil penelitian Yusra (1998) menemukan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan pasangan usia subur (PUS), semakin tinggi skor pengetahuan tentang pesan Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS). Pada dasarnya pendidikan gizi dan kesehatan berupaya untuk mengubah

(23)

9

perilaku perorangan, keluarga dan masyarakat agar semuanya mampu melestarikan perilaku hidup dan lingkungan yang sehat.

Menurut Notoatmojo (1993), pengetahuan merupakan hasil yang diperoleh setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Makin tinggi tingkat pengetahuan seseorang semakin besar berpengaruh terhadap sikapnya, termasuk gizi dan makanan (Sanjur, 1982).

Sikap merupakan suatu keadaan jiwa (mental) dan keadaan pikiran atau daya nalar yang disiapkan untuk memberikan tanggapan terhadap sesuatu hal, sehingga secara langsung dapat mempengaruhi perilaku, begitu juga halnya dengan sikap terhadap gizi makanan (Wong, 1999). Sikap juga merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap stimulus atau obyek. Sikap belum tentu merupakan tindakan aktif tetapi masih merupakan predisposisi tingkah laku. Predisposisi untuk bertindak senang atau tidak senang terhadap obyek tertentu mencakup komponen kognisi, afeksi, dan konasi. Melalui kemampuan kognisi (kemampuan yang berkembang dengan pengenalan) akan timbul gagasan dan keyakinan terhadap obyek tertentu. Komponen afeksi akan memberikan penilaian emosional (senang atau tidak senang) terhadap obyek dan komponen konasi akan menentukan kesediaan untuk memberikan jawaban berupa tindakan. Suatu sikap belum tentu otomatis terwujud dalam suatu tindakan karena sikap hanyalah sebagian dari perilaku manusia.

Pengalaman yang diperoleh seseorang ada yang dirasa menyenangkan atau sebaliknya tidak menyenangkan, sehingga timbul rasa suka atau tidak suka terhadap makanan dan selanjutnya dapat mempengaruhi pemilihan makanan. Menurut Sanjur (1982), sikap terhadap pemilihan makanan merupakan penggabungan antara sesuatu yang dipelajari dan dilihat, misalnya melalui berbagai iklan dan media massa.

Secara psikologis, remaja masih berada dalam masa transisi (peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa, sehingga masih ingin mencoba hal-hal baru dan ingin diterima dalam pergaulan teman-temannya. Hal ini juga berpengaruh terhadap pola konsumsi remaja dalam memilih makanan. Menurut Barasi dan Mottram (1987), remaja akan menyesuaikan diri dengan teman sebayanya, hal ini tercermin pada pemilihan makanan baik di sekolah/kampus maupun lingkungan

(24)

sosial. Hasil penelitian Sartiningsih (1993) tentang perilaku konsumsi fast food pada remaja di Bogor menunjukkan pada umumnya remaja yang mengkonsumsi

fast food memiliki lingkungan sosial sendiri yaitu keluarga dan teman dekat atau

teman sekolah yang mendukung konsumsi fast food.

Pola Konsumsi dan Konsumsi Pangan Remaja

Menilai status gizi seseorang dapat dilihat dari pola konsumsi yang ada. Pola konsumsi seseorang tidak lepas dari kebiasaan makan yang dilakukannya. Kebiasaan makan seringkali merupakan suatu pola yang berulang atau bagian dari rangkaian panjang kebiasaan hidup secara keseluruhan yang dapat diukur dengan pola konsumsi pangan. Pola konsumsi pangan disusun berdasarkan data jenis pangan, frekuensi penggunaan serta banyaknya yang dimakan. Pola konsumsi pangan adalah jenis frekuensi beragam pangan yang biasa dikonsumsi yang umumnya berkembang dari pangan setempat atau dari pangan yang telah ditanam di tempat tersebut untuk jangka waktu yang panjang (Suhardjo, 1989).

Penggunaan metode frekuensi konsumsi pangan bertujuan untuk menilai frekuensi jenis pangan atau kelompok pangan yang dikonsumsi selama periode waktu tertentu. Frekuensi konsumsi pangan merupakan informasi awal yang bertujuan untuk memberikan gambaran secara kualitatif tentang pola konsumsi pangan. Frekuensi waktu yang bisa digunakan adalah frekuensi makan perhari, perminggu, perbulan atau pertahun tergantung dari tujuan penelitian yang ingin dicapai. Metode ini umumnya tidak digunakan untuk memperoleh data kuantitatif pangan atau intik konsumsi zat gizi (Gibson, 2005). Namun menurut Haraldsdottir dan Van Stavaren (1988) dalam Kusharto dan Sa’diyyah (2005) menyatakan metode frekuensi pangan dapat juga digunakan untuk menilai konsumsi pangan secara kuantitatif, tergantung dari tujuan studi, apakah hanya ingin menggali frekuensi penggunaan pangan saja atau juga sekaligus dengan konsumsi zat gizinya. Dengan metode ini, dapat dinilai frekuensi penggunaan pangan atau kelompok pangan tertentu (misalnya: sumber lemak, sumber protein, sumber vitamin A, dan sebagainya) selama kurun waktu tertentu (misalnya: perhari, perminggu, perbulan, pertahun) dan sekaligus mengestimasi konsumsi zat gizinya.

(25)

11

Kebiasaan makan dapat membentuk pola konsumsi pangan. Pola konsumsi pangan penduduk dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti kebiasaan makan, ketersediaan pangan, kesenangan, sosial budaya, agama, taraf ekonomi dan lingkungan (Suhardjo, 1989).

Menurut Suhardjo (1989), pada umumnya remaja mempunyai kebiasaan makan yang buruk. Beberapa remaja khususnya remaja putri sering mengkonsumsi makanan dalam jumlah yang tidak seimbang dibandingkan dengan kebutuhannya karena takut gemuk. Pola makan remaja berbeda dengan pola makan anak-anak. Setelah aktivitas di sekolah dan aktivitas di luar sekolah, remaja sering kali mengabaikan makan 3 kali sehari. Kesibukan di sekolah dan padatnya jadwal di sekolah membuat mereka mengabaikan makan, dan lebih sering mengkonsumsi makanan jajanan. Banyak remaja mengabaikan sarapan, padahal makanan tersebut sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan energi setiap hari dan menunjang prestasi akademiknya. Remaja sering mengganti konsumsi makanan lengkapnya dengan mengkonsumsi fast food, softdrink, dsb. Makanan tersebut mengandung lemak dan gula tinggi yang dapat menyebabkan penyakit diabetes dan jantung (Marlow, 2002). Fast food umumnya mengandung kalori tinggi, kadar lemak, gula, dan sodium (Na) juga tinggi, tetapi rendah serat kasar, vitamin A, asam askorbat, kalsium, dan folat. Kandungan gizi yang tidak seimbang ini bila terlanjur menjadi pola makan, akan berdampak negatif pada keadaan gizi para remaja (Khomsan, 2002). Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Hurlock (1997) yang menunjukkan bahwa remaja suka sekali jajan makanan ringan. Jenis makanan ringan yang dikonsumsi adalah kue-kue yang rasanya manis dan golongan pastry serta permen, sedangkan golongan sayur-sayuran dan buah-buahan yang mengandung vitamin C dan vitamin A tidak populer atau jarang dikonsumsi, sehingga dalam diet mereka rendah zat besi, kalsium, vitamin C, vitamin A dan lain-lain. Disamping itu remaja juga suka minum minuman ringan (soft drink), teh dan kopi yang frekuensinya lebih sering dibandingkan dengan minum susu.

(26)

Status Gizi Remaja

Status gizi merupakan keadaan tubuh seseorang atau sekelompok orang akibat dari konsumsi, penyerapan dan penggunaan zat gizi makanan. Dengan menilai status gizi seseorang atau sekelompok orang, maka dapat diketahui apakah seseorang atau sekelompok orang tersebut status gizinya baik atau tidak baik (Riyadi, 2001).

Keadaan gizi seseorang merupakan gambaran apa yang dikonsumsinya dalam jangka waktu yang cukup lama. Pada masa remaja kebutuhan akan zat gizi mencapai maksimum. Kebutuhan zat gizi ini diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan tubuh yang cepat. Jika kebutuhan zat gizi tersebut tidak terpenuhi maka akan menyebabkan terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan tubuh (Mc Williams, 1980).

Kebutuhan gizi remaja relatif besar, karena mereka masih mengalami pertumbuhan. Selain itu, remaja umumnya melakukan aktivitas fisik lebih tinggi dibanding usia lainnya, sehingga diperlukan zat gizi yang lebih banyak (Sianturi G, 2002). Menurut Husaini dan Husaini (1989), remaja pria membutuhkan lebih banyak zat-zat gizi dari remaja puteri karena itu Recommended Dietary Allowance (RDA) untuk pria lebih tinggi daripada wanita. Untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal, mutlak diperlukan sejumlah zat gizi yang harus didapatkan dari pangan dalam jumlah sesuai dengan yang dianjurkan setiap harinya. Kebutuhan energi dan zat-zat gizi pada usia remaja lebih tinggi untuk setiap kilogram berat badannya dibanding orang dewasa. Tambahan ini dibutuhkan selain untuk pemeliharaan fungsi fisiologis juga untuk menunjang pertumbuhan yang optimal. (WKNPG, 2004).

Perubahan fisik karena pertumbuhan yang cepat akan mempengaruhi status gizi dan kesehatan remaja. Remaja yang mengalami gizi kurang, tumbuh lebih lambat dan umur menarche (umur pertama kali haid) juga tertunda (Spear, 1996). Massa tubuh yang rendah pada remaja putri berhubungan dengan menurunnya massa tulang pada masa dewasa awal dan dapat menyebabkan osteoporosis yang lebih besar pada pasca menopause (Riyadi, 2001).

Masalah pertumbuhan erat kaitannya dengan masalah konsumsi energi dan protein. Antropometri sebagai refleksi keadaan pertumbuhan dapat memberikan

(27)

13

gambaran tentang status energi dan protein seseorang pada kelompok usia tertentu (Suhardjo & Riyadi, 1990). Salah satu indikator yang digunakan dalam pengukuran antropometri adalah indikator IMT menurut umur. Menurut Riyadi (2001), indikator IMT menurut umur merupakan indikator terbaik untuk remaja. Indikator ini sudah divalidasi sebagai indikator lemak tubuh total pada persentil atas, dan juga sejalan dengan indikator yang sudah direkomendasikan untuk orang dewasa, serta data referensi yang bermutu tinggi tentang indikator ini sudah tersedia.

Faktor-faktor yang mempengaruhi Status Gizi Remaja Konsumsi Makanan

Status gizi adalah hasil akhir dari keseimbangan antara makanan yang masuk kedalam tubuh dengan kebutuhan tubuh akan zat gizi (Supariasa et al, 2001). Menurut Soekirman (2000) manusia membutuhkan zat gizi untuk hidup, tumbuh, berkembang, bergerak dan kesehatan. Zat gizi yang diperlukan oleh manusia terdapat pada makanan yang dikonsumsinya.

Konsumsi makanan sangat berpengaruh terhadap status gizi seseorang, status gizi baik tercapai jika tubuh mendapat cukup zat gizi yang digunakan secara efisien sehingga pertumbuhan, perkembangan serta kesehatan secara umum pada tingkat yang setinggi mungkin, sedangkan gizi kurang terjadi bila tubuh kekurangan satu atau lebih zat gizi esensial (Almatsier, 2001).

Keadaan Kesehatan

Sehat sejatinya adalah sehat secara fisik, sehat secara mental, dan sehat secara sosial. Derajat kesehatan dapat diukur dengan angka kesakitan, angka kematian, perilaku hidup sehat penduduk dan angka status gizi penduduk serta dihubungkan dengan berbagai upaya perbaikan kesehatan (Dainur, 1995).

Menurut Lumenta (1999) mekanisme penurunan status gizi akibat penyakit mencakup penurunan asupan, gangguan penyerapan, gangguan penggunaan dan peningkatan kebutuhan zat gizi serta peningkatan destruksi jaringan. Menurut Soekirman (2000) terdapat hubungan antara gizi dan daya tahan tubuh. Dengan asupan gizi yang baik makan kesehatan dapat dipertahankan sedangkan bila status gizinya buruk maka daya tahan terhadap tekanan atau stres menurun. Sistem

(28)

imunitas (pertahanan tubuh) dan antibodi berkurang, sehingga orang mudah terkena penyakit infeksi seperti pilek, batuk, dan diare. Berat badan kurang dapat meningkatkan resiko terhadap penyakit infeksi sedangkan berat badan lebih akan meningkatkan resiko terhadap penyakit degeneratif.

Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan berhubungan erat dengan pengetahuan , karena semakin tinggi pendidikan maka akan semakin besar kesempatan untuk memperoleh pengetahuan yang lebih luas. Pendidikan seseorang yang tinggi diharapkan memiliki pengetahuan gizi dan kesehatan yang lebih baik sehingga memungkinkan dimilikinya informasi tentang gizi dan kesehatan yang lebih baik dan mempengaruhi konsumsi pangan melalui pemilihan bahan pangan (Sediaoetama, 1991).

Pengetahuan Gizi

Tingkat pengetahuan seseorang dapat dipengaruhi oleh kemampuan intelektualnya. Tingkat pengetahuan akan berpengaruh terhadap sikap dan perilaku seseorang karena berhubungan dengan daya nalar, pengalaman, dan kejelasan konsep mengenai objek tertentu (Wingkel, 1994).

Dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa meningkatnya pengetahuan gizi tidak selalu diikuti dengan praktek-praktek makan yang sehat (Sztainer et al, 1995). Penelitian Wang et al (2002) memberikan intervensi pengetahuan tentang pemilihan makanan rendah lemak, ketersediaan dan akses terhadap buah, jus dan sayur serta pengetahuan pada orangtua untuk memotivasi anak mengkonsumsi buah, jus dan sayur. Setelah intervensi terdapat peningkatan pengetahuan anak tentang manfaat buah, jus dan sayur untuk kesehatan dan meningkatnya ketersediaan buah, jus dan sayur di rumah. Menurut Irawati dan Fahrurrozi (1992) tingkat pengetahuan gizi seseorang berpengaruh terhadap sikap dan perilaku dalam pemilihan makanan yang pada akhirnya akan berpengaruh pada keadaan gizi individu yang bersangkutan. Semakin tinggi pengetahuan gizi seseorang diharapkan akan semakin baik pula keadaan gizinya.

(29)

KERANGKA PEMIKIRAN

Menurut Sediaoetama (1991), remaja berada pada tahap pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Pada masa ini pemenuhan kebutuhan gizi sangat penting untuk diperhatikan. Hal ini dapat dilakukan oleh orang lain (penyedia makanan di rumah) ataupun dirinya sendiri. Selanjutnya bila terjadi defisiensi zat gizi, akan dapat terlihat pada keadaan fisik, status kesehatan dan status gizi.

Secara tidak langsung status gizi mahasiswa dipengaruhi oleh karakteristik contoh (umur, status kesehatan, uang saku per bulan) dan karakteristik keluarga (pendidikan orangtua, pekerjaan orangtua, pendapatan orangtua), sedangkan secara langsung status gizi dipengengaruhi oleh pola konsumsi pangan dan konsumsi pangan. Pola konsumsi pangan dipengaruhi oleh kebiasaan makan, pengetahuan gizi, dan ketersediaan makanan di kantin asrama pada saat contoh tinggal di asrama dan ketersediaan makanan di warung sekitar tempat kost dan kampus .

Kebiasaan makan berhubungan dengan pola konsumsi pangan seseorang (Suhardjo, 1989). Kebiasaan makan yang baik mendorong terpenuhinya kebutuhan gizi dimana pada kebiasaan makan yang baik, konsumsi pangan akan baik dan dapat memenuhi kebutuhan gizi (Khumaidi, 1989). Konsumsi pangan yang baik akan tercermin dari pola konsumsi pangan dalam hal frekuensi dan jenis makanan. Jika remaja memiliki pengetahuan gizi yang baik akan lebih mampu memilih makanan sesuai dengan kebutuhannya. Pengetahuan gizi memberikan bekal pada remaja bagaimana memilih makanan yang sehat dan mengerti bahwa makanan berhubungan erat dengan gizi dan kesehatan.

Program pemberian makanan tambahan (PMT) atau Feeding Program adalah suatu kegiatan pemberian makanan tambahan yang berlangsung selama ± 6 bulan kepada mahasiswa putra dan putri TPB IPB Tahun 2005/2006 yang tinggal diasrama TPB berupa makanan selingan (snack) seperti biskuit/kue dan minuman (juice buah atau susu) yang mengandung energi ±300 kkal dan zat gizi mikro lainnya (zat besi dan asam folat). Jenis makanan selingan yang diberikan berdasarkan selera atau kesukaan mahasiswa dan jenisnya bervariasi agar mahasiswa tidak bosan. Program ini bertujuan untuk memperbaiki status gizi mahasiswa. Selain itu juga dilakukan kegiatan penyuluhan gizi yang bertujuan

(30)

untuk meningkatkan pengetahuan gizi sehingga dapat memperbaiki pola konsumsi pangan mahasiswa.

Cukup dan tidaknya konsumsi makanan ditentukan dengan menganalisis kandungan zat gizinya, kemudian dibandingkan dengan standar yang dianjurkan untuk mencapai suatu tingkat gizi dan kesehatan yang optimal. Standar yang dimaksud adalah angka kecukupan gizi (AKG) yang dianjurkan (Suhardjo, 1989).

Berdasarkan tujuan program yang ingin dicapai, maka walaupun program pemberian makanan tambahan (PMT) atau Feeding Program telah berakhir, diharapkan pola konsumsi pangan dan status gizi mahasiswa menjadi lebih baik daripada sebelum pelaksanaan program tersebut. Untuk lebih jelasnya uraian diatas dapat dilihat pada Gambar 1.

(31)

17

Keterangan :

= diteliti = tidak diteliti

Pola konsumsi pangan Kebiasaan makan

Pengetahuan gizi Konsumsi pangan

Tingkat konsumsi zat gizi

Status gizi (IMT)

Sebelum FP

Kebiasaan makan Pola konsumsi pangan

Pengetahuan gizi

Ketersediaan makanan di kantin asrama Konsumsi pangan

Tingkat konsumsi zat gizi

Status gizi (IMT)

Saat FP

Feeding Program

Pola konsumsi pangan Kebiasaan makan

Pengetahuan gizi Konsumsi pangan

Tingkat konsumsi zat gizi

Status gizi (IMT)

Setelah 2 bulan FP berakhir

Gambar 1. Kerangka Pemikiran Perubahan Pola Konsumsi dan Status Gizi Mahasiswa Putra dan Putri TPB IPB Tahun 2005/2006 Peserta Feeding dan Nonfeeding Program

Sebelum, Saat dan Setelah Feeding Program Berakhir

Putra peserta feeding

program (FP)

Putra nonfeeding

program

Putri peserta feeding

program

Putri nonfeeding

program

Karakteristik contoh Karakteristik keluarga

Ketersediaan makanan di warung sekitar tempat kost dan kampus Ketersediaan makanan di kantin asrama

(32)

Desain, Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain longitudinal study. Pemilihan lokasi penelitian ditentukan secara sengaja (purposive) karena di asrama putra dan putri diadakan program pemberian makanan tambahan (PMT) atau Feeding Program. Pengambilan data dilakukan tiga tahap yaitu, Tahap I : sebelum Feeding Program, Tahap II : setelah Feeding Program, dan Tahap III : 2 bulan setelah Feeding

Program berakhir. Tahap I dan II dilakukan di asrama mahasiswa TPB IPB putra

dan putri mulai bulan Januari sampai dengan Juni 2006. Sedangkan Tahap III dilakukan setelah mahasiswa keluar dari asrama TPB (tinggal di kost) pada bulan Agustus sampai dengan September 2006.

Cara Pengambilan Contoh

Populasi contoh dalam penelitian ini adalah mahasiswa putra dan putri tingkat persiapan bersama (TPB) Institut Pertanian Bogor tahun 2005/2006 yang tinggal di asrama IPB dan mengikuti program pemberian makanan tambahan (Feeding Program) dan mahasiswa yang tidak mengikuti program pemberian makanan tambahan (Nonfeeding Program). Kriteria contoh yang masuk dalam

Feeding Program adalah memiliki indeks massa tubuh (IMT) ≤ 25.0, mendapat

kiriman bulanan ≤ Rp. 500.000,- dan tidak menderita penyakit kronis. Jumlah mahasiswa yang mengikuti Feeding Program ini sebanyak 497 orang yang terdiri dari 199 orang putra dan 298 orang putri.

Menurut Singarimbun (1995), bilamana teknik analisa yang digunakan adalah untuk membandingkan antar kelompok, maka contoh yang harus diambil untuk setiap kelompok minimal 30. Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan diperoleh contoh sebanyak 100 orang yang dipilih secara acak sederhana yaitu 50 orang contoh yang mengikuti Feeding Program terdiri dari 20 orang putra dan 30 orang putri. Contoh yang tidak mengikuti Feeding Program sebanyak 50 orang yang ditetapkan secara purposive sesuai dengan kriteria mahasiswa putra dan putri yang mengikuti Feeding Program. Prosedur penarikan contoh digambarkan pada Gambar 2.

(33)

19

Gambar 2. Bagan Penarikan Contoh Jenis dan Cara Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Data primer yang digunakan pada Tahap I dan II dikumpulkan oleh Tim Feeding Program IPB. Data primer meliputi data karakteristik contoh (umur, status kesehatan, uang saku per bulan), karakteristik keluarga (pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, pendapatan orang tua), kebiasaan makan, pengetahuan gizi, pola konsumsi pangan (frekuensi dan jenis makanan), ketersediaan makanan di kantin asrama, konsumsi pangan (recall 2x24 jam), dan status gizi (IMT). Pada Tahap III, data primer yang dikumpulkan adalah sama dengan data primer Tahap I dan II.

Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara wawancara contoh menggunakan kuesioner. Pengumpulan data karakteristik contoh dan keluarga, kebiasaan makan, ketersediaan makanan di kantin asrama dilakukan dengan cara wawancara menggunakan kuesioner. Data pengetahuan gizi dan sikap tentang keamanan pangan dikumpulkan dengan cara wawancara yang terdiri dari 40 butir pertanyaan yaitu 20 pertanyaan dengan alternatif jawaban benar-salah, 10 pertanyaan multiple choice, dan 10 pertanyaan tentang sikap tentang keamanan

2743 orang mahasiswa putra dan putri TPB IPB 2005/2006

497 orang mengikuti

Feeding Program

199 orang putra 298 orang putri

30 orang putri 20 orang putra

30 orang putri 20 orang putra

2246 orang tidak mengikuti

Feeding Program

(34)

pangan dengan alternatif jawaban setuju dan tidak setuju (Lampiran 1). Pola konsumsi pangan (frekuensi dan jenis makanan), diukur dengan metode food

frequency questionare (FFQ) dengan panduan tabel berisi daftar bahan makanan

dan frekuensi penggunaannya untuk perhari, perminggu dan perbulan. Konsumsi pangan diukur menggunakan metode recall 2x24 jam dengan satu hari kuliah dan satu hari libur. Data status gizi yaitu Indeks Massa Tubuh (IMT) dikumpulkan dengan cara mengukur berat badan dan tinggi badan. Berat badan diukur dengan menggunakan timbangan injak merk Tanika, tingkat ketelitian 1 kg dan kapasitas 125 kg, sedangkan tinggi badan diukur menggunakan Microtoice merk Sakura ketelitian 0.1 cm dan kapasitas 2 m.

Data sekunder meliputi jumlah mahasiswa TPB IPB Tahun 2005/2006 yang tinggal diasrama TPB IPB yang diperoleh dari Kantor BPA.

Pengolahan dan Analisis Data

Data primer dan sekunder yang dikumpulkan dalam penelitian kemudian diolah dan dianalisis secara statistik deskriptif dan statistik inferensia dengan menggunakan program SPSS 11.0 for Windows. Perbedaan antar variabel menggunakan uji beda t (Independent Samples T-test). Pengaruh antar variabel dianalisis menggunakan uji regresi linier berganda (Alhusin, 2002). Jenis data, pengumpulan data dan pengolahan data dapat dilihat pada Tabel 1.

(35)

21

Tabel 1 Jenis data, cara pengumpulan data dan pengolahan data Jenis Data Cara Pengumpulan Data Pengolahan Data Karakteristik contoh dan keluarga

contoh: • Umur

• Status kesehatan • Uang saku per bulan • Pendidikan Orangtua • Pekerjaan orang tua • Pendapatan orang tua

Wawancara langsung menggunakan kuesioner

Deskriptif

Kebiasaan makan :

• Frekuensi makan lengkap • Kebiasaan sarapan • Konsumsi protein nabati • Konsumsi protein hewani • Konsumsi jajanan/snack • Konsumsi susu • Konsumsi sayur • Konsumsi buah • Makanan pantangan Wawancara langsung

menggunakan kuesioner • Skoring : Selalu = 4 Kadang-kadang = 3 Jarang = 2 Tidak pernah = 1 • Makanan pantangan : Ya = 1 Tidak = 2

• Skor kategori kebiasaan makan: Baik = ≥ 66.7

Sedang = 33.4-66.6 Jelek = <33.3 Pengetahuan dan sikap tentang

keamanan pangan

Pengisian kuesioner Baik = skor ≥ 80% Cukup = skor 60-80% Rendah = skor < 60% (Khomsan, 2000) Ketersediaan makanan di kantin asrama Wawancara langsung

menggunakan kuesioner

Deskriptif Pola konsumsi pangan (frekuensi

makan dan jenis pangan) :

• sumber karbohidrat (nasi, mie, roti) • sumber protein hewani (ikan,

daging, telur)

• sumber protein nabati (tahu dan tempe) • sayuran • buah-buahan • susu • minuman • jajanan (snack) • suplemen Wawancara langsung menggunakan kuesioner

Jarang = dikonsumsi <3x/minggu Sering = dikonsumsi 3-6x/minggu Selalu = dikonsumsi >7x/minggu

Konsumsi pangan

• Recall 2 x 24 jam Wawancara langsung menggunakan kuesioner sebanyak 2 kali yaitu 1 hari kuliah dan satu hari libur

• AKG pria : Energi 2600 kkal, protein 65 mg, vitamin A 600 RE, vitamin C 90 mg, zat besi (Fe) 15 mg • AKG wanita : Energi 2200 kkal, protein 55 mg, vitamin A 600 RE, vitamin C 75 mg, zat besi (Fe) 26 mg • Kategori : Baik = ≥100% AKG Sedang = 80 – 99% AKG Kurang = 70 – 79.9% AKG Defisit = <70% AKG (Supariasa et al, 2001) Status gizi (IMT)

• Pengukuran tinggi badan (TB)

• Pengukuran berat badan (BB) • Pengukuran langsung menggunakan Mikrotoise

• Pengukuran langsung menggunakan timbangan injak

• IMT (Indeks Massa Tubuh) : Kurus sekali = < 17.00 Kurus = 17.0 – 18.4 Normal = 18.5 – 25.0 Gemuk = 25.1 – 27.0 Gemuk sekali = > 27.0

(36)

Defenisi Operasional

1. Contoh adalah Mahasiswa IPB putra dan putri tingkat persiapan bersama (TPB) IPB Tahun 2005/2006 yang tinggal di asrama TPB IPB yang ikut dalam program PMT (Feeding Program) yang dilakukan oleh IPB-SEAFAST

Center maupun yang tidak mengikuti program PMT

2. Karakteristik mahasiswa meliputi usia, status kesehatan dan uang saku per bulan

3. Karakteristik keluarga meliputi pendidikan ayah dan ibu, pekerjaan ayah dan ibu dan pendapatan ayah dan ibu

4. Uang saku per bulan adalah banyaknya uang yang diterima contoh setiap bulan baik dari orang tua, saudara atau beasiswa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari

5. Pola konsumsi pangan adalah frekuensi dan jenis makanan yang dikonsumsi per hari, per minggu atau per bulan, kemudian diubah ke dalam frekuensi per minggu meliputi pola konsumsi pangan sumber karbohidrat (nasi, mie, roti), daging, ikan, telur, pangan sumber protein nabati (tahu, tempe), susu, sayuran, buah-buahan, makanan jajanan (snack) dan suplemen

6. Kebiasaan makan adalah kebiasaan konsumsi pangan mahasiswa yang terdiri dari frekuensi makan dalam sehari, kebiasaan sarapan, kebiasaan konsumsi pangan sumber protein hewani dan nabati, sayuran, buah-buahan, susu, dan pantangan terhadap makanan

7. Pengetahuan gizi adalah tingkat pengetahuan mahasiswa yang berhubungan dengan gizi, makanan, pertumbuhan dan kesehatan dengan skor baik > 80%, cukup 60-80%, kurang < 60%

8. Ketersediaan makanan di kantin asrama adalah jenis makanan yang tersedia di kantin asrama putra maupun putri

9. Konsumsi pangan adalah jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi mahasiswa dalam satu hari dengan cara recall 2 x 24 jam pada satu hari kuliah dan satu hari libur, kemudian nilai gizi makanan dibandingkan dengan DKBM Selanjutnya diubah dalam zat gizi energi, protein, zat besi, vitamin A dan vitamin C untuk menilai tingkat konsumsi pangan mahasiswa

(37)

23

10. Status gizi remaja berdasarkan indeks massa tubuh (IMT) adalah rasio dari berat badan (kg) dengan kuadrat dari tinggi badan (m2)

11. Feeding Program atau program pemberian makanan tambahan (PMT) adalah suatu kegiatan pemberian makanan tambahan kepada mahasiswa putra dan putri TPB IPB Tahun 2005/2006 yang tinggal diasrama berupa makanan selingan (snack) seperti biskuit/kue/roti dan minuman (jus buah atau susu) yang mengandung energi ±300 kkal dan zat gizi mikro lainnya (zat besi dan asam folat)

(38)

Umur

Populasi contoh dalam penelitian ini adalah mahasiswa putra dan putri tingkat persiapan bersama (TPB) Institut Pertanian Bogor tahun 2005/2006 yang tinggal di asrama IPB, mengikuti program pemberian makanan tambahan (Feeding Program) yang dilakukan oleh Institut Pertanian Bogor sebanyak 497 orang yang terdiri dari 199 orang putra dan 298 orang putri. Secara proporsional dan acak sederhana terpilih 50 orang peserta feeding program yang terdiri dari 20 orang mahasiswa putra dan 30 orang mahasiswa putri kemudian secara purposive dipilih 50 orang mahasiswa putra dan putri yang tidak mengikuti feeding program sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan.

Umur mahasiswa berkisar antara 18-19 tahun dengan rata-rata 18.93±0.26. Sebagian besar mahasiswa putra dan putri berumur 19 tahun dengan persentase putra berkisar antara 85.0-90.0% dan putri 90.0-93.3%. Sebaran contoh menurut umur mahasiswa peserta feeding dan nonfeeding program disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2 Sebaran contoh menurut umur

Peserta Feeding Nonfeeding

Putra Putri Putra Putri Umur (Tahun) n % n % n % n % 18 19 2 18 10.0 90.0 2 28 6.67 93.33 3 17 15.0 85.0 3 27 10.0 90.0 Total 20 100.0 30 100.0 20 100.0 30 100.0 Keadaan Kesehatan

Keadaan kesehatan merupakan keadaan yang dirasakan contoh (sehat atau sakit) pada saat wawancara dilakukan. Keadaan kesehatan mahasiswa putra dan putri baik peserta feeding maupun nonfeeding sebagian besar dalam keadaan sehat yaitu berkisar antara 83.33% sampai 93.33% dan sebanyak 6.67% sampai 16.67% dalam

(39)

25

keadaan sakit. Jenis penyakit yang diderita pada saat penelitian dilakukan adalah flu, batuk, maag, demam, diare dan radang tenggorokan. Pada umumnya contoh tidak mengobati penyakit yang sedang diderita, tetapi ada juga yang mengobati penyakitnya dengan datang ke klinik atau membeli obat di warung. Keadaan kesehatan mahasiswa putra dan putri dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3 Sebaran contoh menurut keadaan kesehatan

Peserta Feeding Nonfeeding

Putra Putri Putra Putri Keadaan kesehatan n % n % n % n % Sehat Sakit 17 3 85.0 15.0 25 5 83.33 16.67 17 3 85.0 15.0 28 2 93.33 6.67 Total 20 100.0 30 100.0 20 100.0 30 100.0

Uang Saku per Bulan

Uang saku per bulan adalah uang yang diterima contoh setiap bulan dari orang tua, beasiswa atau sumber lainn yang digunakan sehari-hari untuk kebutuhan pangan dan nonpangan . Jenis beasiswa yang diterima contoh adalah beasiswa POM (Persatuan Orangtua Mahasiswa), student equity, PPA (Peningkatan Prestasi Akademik) DKM Al-Hurriyah dan Beastudi Etos Dompet Duafa Republika, sedangkan uang saku dari sumber lain berasal dari paman/tante dan saudara kandung. Rata-rata uang saku mahasiswa putra dan putri peserta feeding dan putra nonfeeding sebagian besar berkisar antara Rp 400.000-500.000, masing-masing persentasenya secara berurut 60.0%, 46.67%, dan 75.0% sedangkan uang saku per bulan putri

nonfeeding lebih rendah yaitu 93.3% berkisar antara Rp 300.000-399.999 (Tabel 4).

Menurut Sumarwan (2003), jumlah pendapatan (untuk mahasiswa adalah uang saku) akan menggambarkan banyaknya produk dan jasa yang dibeli dan dikonsumsi oleh seseorang. Daya beli akan menggambarkan banyaknya produk dan jasa yang bisa dibeli oleh seorang konsumen, sedangkan menurut Berg (1986), tingkat pendapatan

(40)

akan menentukan jenis dan jumlah makanan yang akan dibeli dan merupakan faktor paling menentukan kuantitas dan kualitas makanan.

Tabel 4 Sebaran contoh menurut uang saku per bulan

Peserta Feeding Nonfeeding

Putra Putri Putra Putri Uang saku (Rp) n % n % n % n % 200.000-299.999 300.000-399.999 400.000-500.000 6 2 12 30.0 10.0 60.0 5 11 14 16.7 36.7 46.7 1 4 15 5.0 20.0 75.0 0 28 2 0.0 93.3 6.7 Total 20 100.0 30 100.0 20 100.0 30 100.0 Pendidikan Orangtua

Tingkat pendidikan orang tua bervariasi, mulai dari SD sampai perguruan tinggi (PT). Persentase terbesar pendidikan orang tua mahasiswa putra dan putri peserta feeding adalah SMA yaitu ayah 35.0% dan 50.0%, sedangkan ibu 30.0% dan 36.67%. Demikian juga untuk mahasiswa putra dan putri nonfeeding sebagian besar pendidikan orang tua adalah SMA yaitu ayah 40.0% dan 46.67%, dan ibu 55.5% dan 40.0% (Tabel 5).

Pekerjaan Orangtua

Pekerjaan orang tua contoh dalam penelitian ini dibagi menjadi 11 macam pekerjaan yaitu PNS, ABRI, swasta, wiraswasta, pensiunan PNS, guru, purnawirawan, petani, nelayan, buruh, ibu rumah tangga (IRT) dan tidak bekerja. Jenis pekerjaan ayah mahasiswa putra peserta feeding sebagian besar adalah petani yaitu sebesar 25.0% dan putri peserta feeding adalah PNS sebesar 33.3%. Pekerjaan ibu sebagian besar adalah sebagai ibu rumah tangga (IRT) yaitu 60.0% dan 46.7%. Persentase terbesar pekerjaan ayah mahasiswa putra dan putri nonfeeding adalah PNS yaitu sebesar 40.0% dan 33.3%, pekerjaan ibu sama dengan mahasiswa peserta

(41)

27

Tabel 5 Sebaran contoh menurut pendidikan orang tua

Peserta Feeding Nonfeeding

Putra Putri Putra Putri Pendidikan Orangtua n % n % n % n % Ayah SD SMP SMA PT 7 1 7 5 35.0 5.0 35.0 25.0 7 5 15 3 23.3 16.7 50.0 10.0 3 1 8 8 15.0 5.0 40.0 40.0 3 1 14 12 10.0 3.3 46.7 40.0 Total 20 100.0 30 100.0 20 100.0 30 100.0 Ibu SD SMP SMA PT 7 2 6 5 35.0 10.0 30.0 25.0 9 5 11 5 30.0 16.7 36.6 16.7 3 2 10 5 15.0 10.0 55.0 25.0 8 0 12 10 26.7 0.0 40.0 33.3 Total 20 100.0 30 100.0 20 100.0 30 100.0

Tabel 6 Sebaran contoh menurut pekerjaan orang tua

Peserta Feeding Nonfeeding

Putra Putri Putra Putri Pekerjaan Orangtua n % n % n % n % Ayah PNS Swasta Wiraswasta Pensiunan PNS Petani Buruh Tidak bekerja 3 3 4 0 5 3 2 15.0 15.0 20.0 0.0 25.0 15.0 10.0 10 7 7 1 2 0 3 33.3 23.3 23.3 3.3 6.7 0.0 10.0 8 1 5 2 1 1 2 40.0 5.0 25.0 10.0 5.0 5.0 10.0 10 7 7 1 2 0 3 33.3 23.3 23.3 3.3 6.7 0.0 10.0 Total 20 100.0 30 100.0 20 100.0 30 100.0 Ibu PNS Swasta Wiraswasta Guru Petani Buruh IRT 3 1 0 3 0 1 12 15.0 5.0 0.0 15.0 0.0 5.0 60.0 6 1 4 4 1 0 14 20.0 3.3 13.3 13.3 3.3 0.0 46.7 1 0 2 2 1 0 14 5.0 0.0 10.0 10.0 5.0 0.0 60.0 6 1 4 4 1 0 14 20.0 3.3 13.3 13.3 3.3 0.0 46.7 Total 20 100.0 30 100.0 20 100.0 30 100.0

(42)

Pendapatan Orangtua

Pendapatan orang tua adalah gabungan pendapatan dari ayah dan ibu setiap bulan. Pendapatan orang tua dikelompokkan menjadi empat yaitu < Rp 500.000, Rp 500.000-1.000.000, Rp 1.000.000-2.000.000, dan Rp 2.000.000-5.000.000. Pada Tabel 7 terlihat persentase terbesar (45.0%) pendapatan orang tua mahasiswa putra peserta feeding sebesar Rp 500.000-1.000.000, untuk putri peserta feeding 43.33% berpendapatan Rp 1.000.000-2.000.000. Pendapatan orang tua mahasiswa putra

nonfeeding 45% berkisar antara Rp 1.000.000-2.000.000 dan putri nonfeeding 46.7%

berkisar antara Rp 2.000.000-5.000.000. Pendapatan orangtua mahasiswa putra dan putri peserta nonfeeding program lebih besar daripada pendapatan orangtua mahasiswa putra dan putri peserta feeding program. Kemampuan keluarga untuk membeli bahan makanan antara lain bergantung pada besar kecilnya pendapatan keluarga atau pendapatan orangtua (Berg, 1986).

Tabel 7 Sebaran contoh menurut pendapatan orang tua

Peserta Feeding Nonfeeding

Putra Putri Putra Putri Pendapatan orangtua (Rp) n % n % n % n % < Rp.500.000 Rp 500.000-1.000.000 Rp 1.000.000-2.000.000 Rp 2.000.000-5.000.000 3 9 6 2 15.0 45.0 30.0 10.0 5 9 13 3 16.7 30.0 43.3 10.0 0 5 9 6 0.0 25.0 45.0 30.0 0 4 12 14 0.0 13.3 40.0 46.7 Total 20 100.0 30 100.0 20 100.0 30 100.0

Kebiasaan Makan Remaja

Kebiasaan makan adalah cara individu atau kelompok individu memilih pangan dan mengkonsumsinya sebagai reaksi terhadap pengaruh fisiologik, psikologik, sosial dan budaya. Kebiasaan makan mahasiswa putra dan putri meliputi frekuensi makan dalam sehari, kebiasaan sarapan, kebiasaan konsumsi pangan sumber protein hewani dan nabati, sayuran, buah-buahan, susu dan makanan pantangan. Kebiasaan makan ini ditanyakan mulai dari sebelum, saat dan setelah 2 bulan pelaksanaan feeding

(43)

29

Kebiasaan Makan Mahasiswa Putra Peserta Feeding Program

Pada Tabel 8 terlihat sebelum pelaksanaan feeding program sebagian besar (75%) frekuensi makan makanan lengkap mahasiswa putra peserta feeding sebanyak 3 kali/hari dan selalu (80.0%) sarapan, tetapi saat pelaksanaan feeding program frekuensi makan 3 kali/hari turun menjadi 50% dan setelah feeding program berakhir sebagian besar frekuensi makan mahasiswa putra peserta feeding program 2 kali/hari sebesar 55.0%.

Saat pelaksanaan feeding program, persentase mahasiswa yang selalu sarapan turun dari 80% menjadi 40% dan sedikit meningkat menjadi 45% setelah feeding

program berakhir. Menurut Khomsan (2002), anak yang tidak sarapan pagi akan

mengalami kekosongan lambung sehingga kadar gula darah akan menurun. Dampak negatifnya adalah ketidakseimbangan sistem syaraf pusat yang diikuti dengan rasa pusing, badan gemetar atau rasa lelah. Dalam keadaan demikian anak akan sulit menerima pelajaran dengan baik, gairah belajar dan kecepatan reaksi juga akan menurun.

Kebiasaan makan mahasiswa putra peserta feeding program mengalami penurunan saat pelaksanaan feeding program, diduga karena PMT yang diberikan cenderung menggantikan konsumsi pangan utama (konsumsi makanan lengkap dan kebiasaan sarapan). Menurunnya frekuensi makan dan kebiasaan sarapan mahasiswa putra peserta feeding program setelah 2 bulan feeding program berakhir diduga karena semakin banyak kebutuhan nonpangan yang harus dipenuhi seperti biaya kost, transportasi, kuliah, dan sebagainya. Kemungkinan lain adalah kesibukan kuliah semakin padat sehingga waktu yang tersedia untuk membeli atau menyediakan makanan menjadi lebih sedikit.

Mahasiswa putra peserta feeding selalu mengkonsumsi pangan sumber protein nabati seperti tahu, tempe, oncom dan hasil olahan yaitu secara berurut sebelum 60%, saat 50% dan setelah 2 bulan feeding program berakhir 55%, demikian juga dengan pangan sumber protein hewani seperti daging, ikan, telur dan hasil olahannya yaitu secara berurut sebelum 50%, saat 60% dan setelah 2 bulan feeding program berakhir 60%.

(44)

Persentase kategori selalu mengkonsumsi jajanan/snack meningkat saat feeding

program yaitu 10% menjadi 15% tetapi menurun menjadi 5% setelah 2 bulan feeding program berakhir, sedangkan sebelum dan saat feeding program, mahasiswa putra

peserta feeding kadang-kadang (60% dan 55%) mengkonsumsi jajanan/snack dan menjadi jarang (60%) setelah 2 bulan feeding program berakhir.

Tabel 8 Kebiasaan makan mahasiswa putra peserta feeding program sebelum, saat dan setelah 2 bulan feeding program berakhir

sebelum saat setelah Kebiasaan makan

n % n % n % Frekuensi makan lengkap:

a. 1 kali/hari b. 2 kali/hari c. 3 kali/hari 0 5 15 0.0 25.0 75.0 2 8 10 10.0 40.0 50.0 6 11 3 30.0 55.0 15.0 Kebiasaan sarapan : a. Selalu b. Kadang-kadang c. Jarang 16 3 1 80.0 15.0 5.0 8 9 3 40.0 45.0 15.0 9 8 3 45.0 40.0 15.0 Konsumsi nabati : a. Selalu b. Kadang-kadang c. Jarang 12 8 0 60.0 40.0 0.0 10 10 0 50.0 50.0 0.0 11 8 1 55.0 40.0 5.0 Konsumsi hewani : a. Selalu b. Kadang-kadang c. Jarang 10 9 1 50.0 45.0 5.0 12 8 0 60.0 40.0 0.0 12 8 0 60.0 40.0 0.0 Konsumsi jajanan/snack : a. Selalu b. Kadang-kadang c. Jarang 2 12 6 10.0 60.0 30.0 5 11 4 25.0 55.0 20.0 1 7 12 5.0 35.0 60.0 Konsumsi susu : a. Selalu b. Kadang-kadang c. Jarang 3 13 4 15.0 65.0 20.0 8 10 2 40.0 50.0 10.0 1 7 12 5.0 35.0 60.0 Konsumsi sayur : a. Selalu b. Kadang-kadang c. Jarang 6 14 0 30.0 70.0 0.0 4 15 1 20.0 75.0 5.0 9 10 1 45.0 50.0 5.0 Konsumsi buah : a. Selalu b. Kadang-kadang c. Jarang 3 13 4 15.0 65.0 20.0 10 9 1 50.0 45.0 5.0 4 7 9 20.0 35.0 45.0 Makanan pantangan : a. Ya b. Tidak 6 14 30.0 70.0 6 14 30.0 70.0 1 19 5.0 95.0

(45)

31

Sama halnya dengan susu, sebelum feeding program 15% dari jumlah mahasiswa putra peserta feeding program selalu mengkonsumsi susu dan meningkat menjadi 40% saat feeding program tetapi menurun menjadi 5% setelah 2 bulan

feeding program berakhir, sedangkan kategori jarang merupakan persentase terbesar

yaitu 60%. Konsumsi buah untuk kategori selalu cenderung meningkat saat pelaksanaan feeding program yaitu dari 15% menjadi 50% tetapi menurun menjadi 20% setelah 2 bulan feeding program berakhir.

Meningkatnya konsumsi jajanan, susu dan buah ini karena adanya pemberian makanan dalam feeding program berupa roti, kue, biskuit, susu, buah, jus buah, dan sebagainya yang diberikan setiap hari secara bergantian, sedangkan menurunnya konsumsi jajanan, susu dan buah setelah 2 bulan feeding program berakhir mungkin disebabkan karena pada saat pelaksanaan feeding program mereka mendapat makanan gratis sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya untuk membeli jenis makanan tersebut, tetapi setelah feeding program berakhir mereka tidak memperoleh makanan tambahan lagi sedangkan kebutuhan nonpangan seperti biaya kost, transportasi, kuliah, dan sebagainya harus dipenuhi. Mereka kemudian mengurangi frekuensi jenis pangan tertentu yang dianggap jika tidak dikonsumsi setiap hari sudah dapat memenuhi kebutuhan makan, apalagi susu harganya relatif mahal bagi mahasiswa untuk dikonsumsi setiap hari. Dapat dikatakan bahwa konsumsi makan mahasiswa sangat tergantung dari banyaknya uang saku yang dimiliki. Jumlah dan kualitas zat gizi yang masuk melalui makanan dapat dipengaruhi oleh pendapatan (uang saku) yang dimiliki seseorang. Biasanya individu berpendapatan rendah akan mengutamakan makanan kaya kalori (sumber karbohidrat) yang akan memberikan rasa kenyang daripada faktor gizi dan selera (Martianto dan Ariani, 2004). Kemampuan individu dalam penyediaan pangan dalam jumlah cukup dipengaruhi oleh pendapatan dan daya beli yang dimilikinya. Hal ini menunjukkan secara tidak langsung pendapatan mempengaruhi pola konsumsi pangan individu (Suhardjo, 1989).

Mahasiswa putra peserta feeding program kadang-kadang mengkonsumsi sayur pada sebelum, saat dan setelah 2 bulan feeding program berakhir. Hanya sebagian

(46)

kecil (30%) mahasiswa putra peserta feeding yang pantang terhadap beberapa jenis makanan dengan alasan kesehatan, alergi atau tidak menyukai makanan tertentu karena rasanya, aromanya, dan lain-lain. Jenis makanan yang dipantang seperti nenas, durian, makanan yang pedas tidak dikonsumsi karena alasan menderita penyakit maag, dan tidak mengkonsumsi telur, ikan, dan udang karena alasan alergi, tetapi persentasenya menjadi lebih sedikit yaitu 5% setelah 2 bulan feeding program berakhir. Hal ini mungkin disebabkan karena informasi dan pengetahuan gizi yang telah diperoleh saat pelaksanaan feeding program tentang makanan yang sehat dan bergizi membuat mereka mengetahui kebiasaan makan yang baik untuk menjaga kondisi kesehatannya.

Tabel 9 terlihat bahwa sebelum pelaksanaan feeding program, kebiasaan makan mahasiswa putra peserta feeding program 70% adalah baik, cukup 0% dan kurang 30%. Saat pelaksanaan feeding program terjadi penurunan, kategori baik 25%, cukup 75% dan kurang menjadi 0%. Setelah 2 bulan feeding program berakhir terjadi perubahan lagi yaitu kategori kebiasaan makan yang baik menjadi 0%, cukup 95% dan kurang 5%.

Tabel 9 Kategori kebiasaan makan mahasiswa putra peserta feeding program sebelum, saat dan setelah 2 bulan feeding program berakhir

Sebelum Saat Setelah Kebiasaan makan n % n % n % Kurang Cukup Baik 6 0 14 30.0 0.0 70.0 0 15 5 0.0 75.0 25.0 1 19 0 5.0 95.0 0.0 Hasil uji t menunjukkan bahwa kebiasaan makan mahasiswa putra peserta

feeding program sebelum pelaksanaan feeding program berbeda nyata (p<0.05)

dengan saat pelaksanaan feeding program tetapi kebiasaan makan mahasiswa putra peserta feeding program saat pelaksanaan feeding program tidak berbeda nyata (p>0.05) dengan setelah 2 bulan feeding program berakhir. Kebiasaan makanan putra peserta feeding program mengalami perubahan saat pelaksanaan feeding program,

Gambar

Gambar 1. Kerangka Pemikiran  Perubahan Pola Konsumsi dan  Status Gizi   Mahasiswa Putra                    dan Putri  TPB IPB Tahun 2005/2006 Peserta Feeding dan Nonfeeding Program                   Sebelum, Saat dan Setelah Feeding Program Berakhir
Gambar 2. Bagan Penarikan Contoh
Tabel 1 Jenis data, cara pengumpulan data dan pengolahan data
Tabel 2 Sebaran contoh menurut umur
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pengaruh Pola Pemberian Makanan Pendamping ASI (Jenis Makanan, Frekuensi Konsumsi Makan, dan Jumlah Energi Protein) terhadap Status Gizi pada Bayi 6-12 Bulan di Kecamatan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola konsumsi pangan dan status gizi pecandu narkoba di Panti Sosial Pamardi Putra Insyaf.. Penelitian ini menggunakan

Konsumsi pangan balita dapat dinilai dengan melihat kualitas dan kuantitas pangan, kuantitas pangan yang dikonsumsi merupakan persentase jumlah energi, protein, dan zat

Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara pola konsumsi makan berdasarkan jumlah energi dan protein, ketersediaan pangan, pengetahuan gizi dan status

Menganalisis hubungan tingkat konsumsi pangan hewani (jenis, frekuensi, energi, protein, zat besi, dan vitamin A) dengan status gizi anak SD Negeri Kudu 02 Kecamatan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat konsumsi energi dan protein serta status gizi ibu hamil berdasarkan keikutsertaan dalam Program Keluarga

Tidak terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan gizi, konsumsi Fe, protein, vitamin C, dan pola haid dengan anemia pada mahasiswa putri Poltekkes Kemenkes Yogyakarta.. Kata

Hubungan Antara Konsumsi Mie Instan, Asupan Energi, Protein, Vitamin A dan Fe dan Status Gizi Laki-Laki Usia 19- 29 Tahun di Pulau Sumatra Analisis Data Sekunder Riskesdas 2010 Pada