• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Pendahuluan RDTR Kec. Kraton

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Laporan Pendahuluan RDTR Kec. Kraton"

Copied!
106
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

ii

RENCANA DETAI TATA RUANG KAWASAN PERKOTAAN RENCANA DETAI TATA RUANG KAWASAN PERKOTAAN

KEC. KRATON KABUPATEN PASURUAN KEC. KRATON KABUPATEN PASURUAN

OLEH: OLEH: 1.

1. Mega Mega Widiyah Widiyah W. W. 36131000361310000707 2.

2. Santika Santika Purwitaningsih Purwitaningsih 36131000361310000808 3.

3. Farida Farida Puspita Puspita R. R. 36131000093613100009 4.

4. Ajeng Ajeng Dearista Dearista W. W. 36131000173613100017 5.

5. Muhammad Muhammad Fadli Fadli 36131000213613100021 6.

6. Burhanudin Burhanudin Fahmi Fahmi 36131000361310002323 7.

7. Joshua Joshua Argentino Argentino 36131000273613100027 8.

8. Chikita Chikita Yusuf Yusuf W. W. 36131000303613100030 9.

9. Pisces Pisces Eria Eria 36131000383613100038 10.

10. M. M. Brian Brian Adam Adam 36131000423613100042 11.

11. Azizah Azizah Faridha Faridha E. E. 36131000361310004646

JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH

(4)

ii ii

KATA PENGANTAR KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan Laporan Pendahuluan karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan Laporan Pendahuluan Penyusunan RDTR Kawasan Perkotaan Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan ini dengan Penyusunan RDTR Kawasan Perkotaan Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan ini dengan baik dan tepat pada waktunya.

baik dan tepat pada waktunya.

Tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Putu Gde Ariastita, ST., MT dan Bapak Tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Putu Gde Ariastita, ST., MT dan Bapak Prananda Navitas, ST., M.Sc atas bimbingannya selaku dosen mata kuliah Perencanaan Prananda Navitas, ST., M.Sc atas bimbingannya selaku dosen mata kuliah Perencanaan Kota. Juga kepada rekan-rekan mahasiswa yang telah

Kota. Juga kepada rekan-rekan mahasiswa yang telah membantu dan memberikan masukan-membantu dan memberikan masukan-masukan kepada kami dalam menyelesaikan makalah ini.

masukan kepada kami dalam menyelesaikan makalah ini.

Kami menyadari mungkin masih terdapat kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu Kami menyadari mungkin masih terdapat kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca, terutama kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca, terutama kami sebagai mahasiswa Institut

kami sebagai mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.

Surabaya, Mei 2015 Surabaya, Mei 2015 Tim Penyusun Tim Penyusun

(5)

iii

HALAMAN JUDUL ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR TABEL ... v

DAFTAR GAMBAR ... vi BAB I PENDAHULUAN ... I 1.1 Latar belakang ... I-1 1.2 Dasar Hukum ... I-2 1.3 Maksud, Tujuan dan Sasaran ... I-3 1.4 Ruang Lingkup ... I-4 1.4.1 Ruang Lingkup Wilayah ... I-4 1.4.2 Ruang Lingkup Kegiatan ... I-4 1.4.3 Jangka Waktu Kegiatan ... I-7 1.5 Tanggapan terhadap Kerangka Acuan Kerja (TOR) ... I-7 1.6 Sistematika Pelaporan ... I-9 BAB II TINJAUAN KEBIJAKAN... II

2.1 RTRW Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan 2009-2029 ... II-1 2.1.1 Rencana Struktur Ruang Wilayah Kecamatan Kraton

Kabupaten Pasuruan ... II-1 2.1.1.1 Rencana Kawasan Lindung ... II-1 2.1.2 Rencana Pola Ruang Wilayah Kecamatan Kraton ... II-2 2.1.2.1 Rencana Kawasan Lindung ... II-2 2.1.2.2 Rencana Pola Ruang Kawasa Budidaya ... II-3 2.1.2.3 Rencana Pola Ruang Kawasa Strategis ... II-6 2.1.2.4 Rencana Pola Ruang Kawasan Pengendalian Ketat ... II-7 BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH ... III

3.1 Kondisi Fisik Dasar... III-1 3.1.1 Letak Geografis ... III-1 3.1.2 Topografi ... III-3 3.1.3 Hidrologi ... III-3 3.1.4 Klimatologi ... III-3 3.2 Penggunaan Lahan ... III-4 3.3 Kependudukan ... III-4 3.3.1 Jumlah dan Kepadatan Penduduk ... III-4

(6)

iv

3.3.2 Jumlah Penduduk menurut Tingkat Kesejahteraan ... III-5 3.3.3 Jumlah Penduduk menurut Agama ... III-6 3.3.4 Jumlah Penduduk menurut Mata Pencaharian ... III-6 3.4 Fasilitas Umum ... III-8

3.4.1 Fasilitas kesehatan ... III-8 3.4.2 Fasilitas Peribadatan ... III-9 3.4.3 Fasilitas Pendidikan ... III-9 3.4.4 Fasilitas Perkantoran ... III-11 3.4.5 Fasilitas Perdagangan dan Jasa ... III-11 3.5 Sistem Utilitas ... III-11

3.5.1 Jaringan Listrik ... III-11 3.5.2 Jaringan Air Bersih ... III-12 3.5.3 Jaringan Telepon ... III-12 3.5.4 Persampahan ... III-13 3.5.5 Jaringan Drainase ... III-13 3.6 Sistem Transportasi ... III-13 3.7 Potensi ... III-14 3.8 Masalah ... III-15 BAB IV METODE PENDEKATAN ... IV 4.1 Metode Pendekatan Perencanaan ... IV-1 4.2 Kerangka Pemikiran ... IV-2 4.3 Teknik dan Analisis Data ... IV-3 4.3.1 Analisis Penetapan BWP ... IV-4 4.3.2 Analisis Fisik Dasar dan Tata Guna Lahan ... IV-7 4.3.3 Analisis Penduduk ... IV-16 4.3.4 Analisis Fasilitas ... IV-21 4.3.5 Analisis Utilitas ... IV-32 4.3.6 Analisis Prasarana Transportasi ... IV-45 BAB V MANAJEMEN KEGIATAN ... V

5.1 Struktur dan Organisasi Pelaksanaan Pekerjaan ... IV-1 5.2 Komposisi Personil ... IV-2 5.3 Rencana Kegiatan ... IV-5 5.4 Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan ... IV-6 KUESIONER

(7)

v

Tabel 1.1 Tanggapan terhadap Kerangka Acuan Kerja ... I-7 Tabel 3.1 Penggunaan Lahan Kecamatan Kraton 2013 ... III-4 Tabel 3.2 Jumlah dan Kepadatan Penduduk ... III-4 Tabel 3.3 Jumlah Keluarga berdasarkan Tingkat Kesejahteraan Tahun 2013 ... III-5 Tabel 3.4 Jumlah Penduduk berdasar Agama yang Dipeluk Tahun 2013 ... III-6 Tabel 3.5 Jumlah Penduduk berdasar Mata Percaharian per Desa ... III-7 Tabel 3.6 Jumlah Fasilitas Kesehatan menurut Jenisnya Kecamatan Kraton ... III-8 Tabel 3.7 Jumlah Fasilitas Peribadatan Menurut Jenisnya ... III-9 Tabel 3.8 Jumlah Fasilitas Pendidikan menurut Jenisnya Kecamatan Kraton ... III-10 Tabel 3.9 Jumlah Pelanggan dan Konsumsi Energi Listrik Kec Kraton ... III-11 Tabel 3.10 Jumlah Rumah Tangga Pengguna Listrik PLN dan Non PLN... III-12 Tabel 4.1 Desain Survei Aspek Fisik dasar ... IV-8 Table 4.2 Desain Survei Aspek Kependudukan ... IV-16 Tabel 4.3 Desain Survei Fasilitas Kawasan (Sarana) ... IV-21 Tabel 4.4.Kebutuhan Sarana Penentuan dan Pelayanan Umum ... IV-24 Tabel 4.5 Kebutuhan Sarana Pendidikan dan Pembelajaran ... IV-25 Tabel 4.6 Kebutuhan Sarana Kesehatan ... IV-27 Tabel 4.7 Kebutuhan Sarana Peribadatan ... IV-28 Tabel 4.8 Jenis Sarana Perdagangan dan Jasa ... IV-29 Tabel 4.9 Kebutuhan Sarana Kebudayaan dan Rekreasi ... IV-30 Tabel 4.10 Sarana Ruang Terbuka, Taman, dan Lapangan Olah Raga ... IV-31 Tabel 4.11 Desain Survei Utilitas ... IV-32 Tabel 4.12 Kriteria Perencanaan Air Bersih ... IV-35 Tabel 4.13 Kebutuhan Air Non-Domestik untuk Kategori V (Desa) ... IV-36 Tabel 4.14 Jarak Bebas Minimum Antara Penghantar SUTT dengan Benda Lain ... IV-39 Tabel 4.15 Bagian Jaringan Drainase ... IV-42 Tabel 4.16 Kebutuhan Prasarana Persampahan ... IV-44 Tabel 4.17 Metode dan Analisa Prasarana Transportasi ... IV-47 Tabel 4.18 KriteriaLevel of Service... IV-50 Tabel 4.19 Standar Perencanaan Hirarki Jalan... IV-51 Tabel 4.20 Lebar Trotoar Sesuai Dengan Penggunaan Lahan Sekitarnya ... IV-54 Tabel 5.1 Tugas, Tanggung jawab, dan wewenang tenaga ahli ... V-3 Tabel 5.2 Jadwal Waktu Pelaksanaan ... V-5 Tabel 5.3 Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan ... V-6

(8)

vi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Sistem Perdesaan ... II-2 Gambar 4.1 Diagram Kerangka Pemikiran ... IV-3 Gambar 4.2 Analisis Penetapan BWP ... IV-4 Gambar 4.3 Analisis Penetapan Sub BWP ... IV-5 Gambar 4.4 Diagram Metode Identifikasi Fisik Dasar ... IV-9 Gambar 4.5 Diagram Metode Identifikasi Guna Lahan ... IV-10 Gambar 4.6  Diagram Metode IPR ... IV-10 Gambar 4.7 Keterkaitan Aspek Fisik Dasar dan Tata Guna Lahan ... IV-15 Gambar 4.8 Metode Identifikasi Sosio Demografi ... IV-17 Gambar 4.9 Keterkaitan Aspek Sosio Demografi ... IV-20 Gambar 4.10 Bagan Alur Analisis fasilitas ... IV-23 Gambar 4.11 Bagan Metode Identifikasi Utilitas ... IV-33 Gambar 4.12 Diagram Metode Analisis Jaringan Air Bersih ... IV-34 Gambar 4.13 Diagram Metode Analisis Jaringan Listrik ... IV-37 Gambar 4.14 Bagan Metode Analisis Jaringan Persampahan ... IV-40 Gambar 4.15 Bagan Metode Analisis Jaringan Persampahan ... IV-41 Gambar 4.16 Bagan Metode Analisis Jaringan Persampahan ... IV-43 Gambar 4.17 Bagan Keterkaitan Aspek Utilitas ... IV-45 Gambar 4.18 Metode dan Analisa Aspek Transportasi ... IV-48 Gambar 4.19  Metode Analisis LOS ... IV-50 Gambar 4.20 Metode Analisis Pola Jaringan Jalan ... IV-51 Gambar 4.21 Visual Ruang Komponen Jalan ... IV-53 Gambar 4.22 Metode Analisis Dimensi Jalan ... IV-53 Gambar 4.23 Metode Analisis Bangkitan Lalu Lintas ... IV-54 Gambar 4.24  Ilustrasi Parkir ... IV-55 Gambar 4.25 Metode Analisis Sarana dan Prasarana Lalu Lintas ... IV-56 Gambar 4.26 Keterkaitan Aspek Transportasi dengan Aspek Lain ... IV-56 Gambar 5.1 Struktur dan Organisasi Pelaksanaan ... V-2

(9)

I-1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Kota merupakan suatu kawasan yang memiliki peranan penting bagi wilayah dalam berbagai aspek. Sebagaiman telah disebutkan dalam Lampiran Peraturan Menteri Pekerjaan Umum 20 PRT M 2011 bahwa kota adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup kabupaten/kota terhadap ekonomi, sosial, budaya, dan/atau lingkungan. Penataan ruang di perkotaan lebih diprioritaskan karena pembangunan perkotaan memang dirancang untuk menjadi pusat wilayah yang tentunya membutuhkan berbagai macam infrastruktur pendukung demi memenuhi kebutuhan kota yang selalu berkembang lebih pesat dibandingkan kawasan lain di sekitarnya. Perkembangan wilayah perkotaan yang sangat pesat dapat berdampak terhadap berbagai macam hal, baik hal positif maupun negatif. Dampak negatif atau permasalahan yang sering dihadapi oleh sebagian besar kota di Indonesia ialah ketersediaan lahan perkotaan yang semakin berkurang. Masalah lahan di perkotaan timbul karena semakin padatnya penduduk yang tinggal di kota tersebut sebagai dampak dari pesatnya pembangunan di kota. Harga lahan di perkotaan yang semakin meningkat dari tahun ke tahun, menjadikan lahan di perkotaan menjadi investasi yang berharga bagi masyarakat yang tinggal di wilayah perkotaan.  Akibat dari semakin mahalnya harga lahan di perkotaan, seringkali terjadi konflik yang

memperebutkan lahan tersebut. Oleh sebab itu, diperlukan suatu rencana pengelolaan kawasan perkotaan secara optimal dan efisien untuk menghindari konflik-konflik mengenai lahan yang seringkali terjadi di wilayah perkotaan. Selain itu, rencana pengelolaan kawasan perkotaan juga bertujuan untuk menciptakan pembangunan kota yang menyelaraskan kehidupan ekonomi, sosial-budaya, dan lingkungan sehingga tercipta pembangunan yang berkelanjutan. Untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan tentunya membutuhkan suatu perencanaan yang mampu menyelaraskan tiga aspek penting dalam pembangunan berkelanjutan. Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 20 Tahun 2011, perencanaan di setiap kawasan perkotaan dan/atau kawasan strategis kabupaten /kota diatur dalam suatu RDTR (Rencana Detail Tata Ruang). RDTR ialah rencana secara terperinci tentang tata ruang wilayah kabupaten/kota yang dilengkapi dengan peraturan zonasi kabupaten/kota.

Kecamatan Kraton merupakan salah satu kecamatan yang terdapat di Kabupaten Pasuruan yang sudah mulai menunjukkan ciri-ciri sebagai kawasan perkotaan. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa setiap kawasan perkotaan

(10)

I-2

L a p o r a n P e n d a h u l u a n R D T R K P e r k o t a a n K r a t o n

di suatu Kabupaten/Kota harus memiliki dokumen perencanaan yang termuat dalam RDTRK. Dokumen perencanaan ini dibutuhkan untuk memaksimalkan dan merencanakan pemanfaatan serta pengendalian ruang yang terdapat di kawasan perkotaan Kecamatan Kraton. Hal tersebut dikarenakan ruang yang terdapat di kawasan perkotaan akan memiliki laju pertumbuhan yang besar jika dibandingkan daerah-daerah lainnya. Oleh sebab itu, keberadaan RDTRK Perkotaan Kecamatan Kraton akan mampu mengendalikan dan mengarahkan laju pertumbuhan tersebut sehingga tercipta pembangunan yang berkelanjutan.

1.2 DASAR HUKUM

 Adapun dasar hukum yang digunakan sebagai acuan dalam penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kota ini adalah :

1. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Pemukiman. 2. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya.

3. Undang-undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung. 4. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.

5. Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah.

6. Undang-undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan.

7. Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan ruang.

8. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2005 tentang Pedoman Pelaksanaan Undang –  Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung.

9. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang.

10. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 1990 tentang Kawasan Lindung.

11. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 2 Tahun 1987 tentang Penyusunan Rencana Kota.

12. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 Tahun 1998 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang di Daerah.

13. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 1998 tentang Tata Cara Peran Serta Masyarakat Dalam Proses Perencanaan Tata Ruang di Daerah.

14. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 650  –  658 tentang Keterbukaan Rencana Kota Untuk Umum.

15. Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor 327/KPTS/M/2002 tentang Penetapan Enam Pedoman Bidang Penataan Ruang.

(11)

I-3

16. Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor 327/KPTS/M/2002 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan.

17. Surat Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri Nomor 648-384 tahun 1992, Menteri Pekerjaan Umum Nomor 738/KPTS/M/1992 dan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor: 09/KPTS/1992 tentang Pedoman Pembangunan Perumahan dan Permukiman dengan Lingkungan Hunian yang Berimbang.

18. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2000 tentang Tingkat Ketelitian Peta untuk Penataan Ruang Wilayah

19. Peraturan Daerah Jawa Timur Nomor 11 Tahun 1991 tentang Penetapan Kawasan Lindung Propinsi Jawa Timur.

20. Peraturan Daerah Propinsi Jawa Timur Nomor 5 Tahun 2005 tentang Pelestarian Bangunan dan/atau Lingkungan Cagar Budaya

1.3 MAKSUD, TUJUAN DAN SASARAN

Maksud dari penyusunan RDTRK ini adalah mewujudkan rencana detail tata ruang yang mendukung terciptanya kawasan strategis maupun kawasan fungsional secara terpadu, serasi, selaras dan seimbang dengan lingkungan serta berdaya guna sesuai dengan fungsi dan manfaatnya.

Tujuan penyusunan ini adalah menyusun Rencana Detail Tata Ruang Bagian-Bagian Wilayah Perkotaan di Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan. Adapun sasaran yang ingin dicapai adalah :

a. Teridentifikasinya dan terpilihnya Bagian Wilayah Perkotaan (BWP) yang akan direncanakan

b. Terdeliniasinya wilayah perencanaan

c. Tersusunnya gambaran awal wilayah perencanaan

d. Tersusunnya metode dan organisasi pelaksanaan kegiatan

e. Teridentifikasinya potensi, issue, dan masalah terkait penataan ruang yang berkembang pada wilayah studi

f. Tersusunnya analisis kebutuhan pengembangan kawasan yang berbasis pada issue pokok dan permasalahan di wilayah studi

g. Tersusunnya skenario, konsep, dan strategi pengembangan ruang h. Tersusunnya rencana pola ruang dan pengembangan infrastruktur i. Tersusunnya rencana implementasi pemanfaatan ruang kawasan  j. Tersusunnya pengendalian pemanfaatan ruang kawasan

(12)

I-4

L a p o r a n P e n d a h u l u a n R D T R K P e r k o t a a n K r a t o n

1.4 RUANG LINGKUP

1.4.1 Ruang Lingkup Wilayah

Ruang lingkup wilayah perencanaan ini adalah Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan, dengan luas wilayah perencanaan sebesar 50,79 Km2. Adapun batas-batas administrasi wilayah Kecamatan Kraton adalah :

Sebelah Utara : Laut Jawa

Sebelah Timur : Kecamatan Gadingrejo Kota Pasuruan Sebelah Selatan : Kecamatan Pohjentrek

Sebelah Barat : Kecamatan Rembang dan Bangil

1.4.2 Ruang Lingkup Kegiatan

Ruang lingkup kegiatan yang akan dilaksanakan adalah :  A. PENYUSUNAN LAPORAN PENDAHULUAN

Pokok-pokok materi yang disampaikan adalah:

 Identifikasi kawasan  Deliniasi kawasan

 Gambaran awal kawasan

 Penyusunan rencana kerja dan metodologi penyusunan rencana tata ruang  Penyusunan organisasi pelaksanaan pekerjaan

B. PENYUSUNAN SURVEY

Pokok-pokok pekerjaan yang dilakukan adalah:

 Penyiapan metode pelaksanaan survey

 Persiapan teknis dan administrasi yang berupa penyiapan surat-menyurat, peta

dasar, daftar pertanyaaan, peralatan survey dan lain-lain yang digunakan C. SURVEY/ INVENTARISASI DATA

Pokok pekerjaan yang dilakukan meliputi kegiatan:

Survey data instansional, berupa pengumpulan data atau perekaman dari instansi-instansi. Hasilnya adalah uraian fakta dan informasi baik dalam bentuk data angka atau peta mengenai keadaan wilayah studi, serta rencana dan kebijakan

pembangunan makro.

Identifikasi pemanfaatan ruang, merupakan upaya pemindahan situasi lapangan terbaru kedalam format dua dimensi dengan dilengkapi data-data teknis yang diperlukan. Output kegiatan ini meliputi :

 Pemetaan jenis pemanfaatan ruang

(13)

I-5

Identifikasi intensitas pemanfaatan lahan  Koefisien dasar bangunan

 Koefisien lantai bangunan

 Garis sempadan bangunan

ldentifikasi jaringan jalan  Fungsi jalan

 Karakter geometrik jalan yang meliputi lebar Damaja, Damija, dan Dawasja.  Karakter lalu lintas baik kendaraan bermotor rnaupun tidak bermotor (volume

lalu lintas), arus manusia pejalan kaki dan lain-lain, tempat parkir dan lainnya  Permasalahan lalu lintas

Identifikasi prasarana  Jaringan listrik  Jaringan telepon  Jaringan air bersih

 Jaringan air limbah (jika ada)  Jaringan drainase

 Sistim pembuangan sampah

ldentifikasi kependudukan dan karakter sosial  Jumlah dan laju pertambahan penduduk

 Kepadatan penduduk

 Komposisi penduduk

 Angka kemiskinan dan ketenagakerjaan Identifikasi struktur ruang

 Orientasi keruangan

 Peran dan fungsi wilayah studi dalam konstelasi kawasan yang lebih luas (Kabupaten Pasuruan)

Identifikasi fasilitas pelayanan kota yang meliputi jenis, jumlah, distribusi / sebaran, cakupan pelayanan, antara lain :

 Fasilitas pendidikan  Fasilitas kesehatan  Fasilitas peribadatan  Fasilitas perniagaan

 Fasilitas olahraga dan rekreasi

 Fasilitas pemerintahan dan layanan umum  Fasilitas ruang terbuka hijau

(14)

I-6

L a p o r a n P e n d a h u l u a n R D T R K P e r k o t a a n K r a t o n

Keseluruhan identifikasi tersebut harus tampak secara jelas dalam peta dengan skala 1 : 5.000 ataupun dalam deskripsi lain yang mudah terbaca, sehingga dapat dijadikan landasan bagi pekerjaan selanjutnya. Penggambaran peta skala 1 : 5.000 dengan menggunakan GIS.

D. KOMPILASI DATA

Kompilasi data merupakan rekapitulasi hasil survei data primer dan data sekunder. Dalam kegiatan ini dilakukan seleksi dan sistematisasi data melalui tabulasi atau penyusunan data secara sistematis sesuai dengan kebutuhan. Hasil dari kegiatan ini adalah tersusunnya informasi yang lengkap tentang wilayah studi dan dapat digunakan pada tahap analisa. Output dari tahap ini berupa susunan data/informasi yang sudah terpilah sesuai dengan aspek-aspek / komponen perencanaan.

E. ANALISA

Pada dasarnya pekerjaan analisa meliputi :

- Penilaian terhadap kondisi potensi dan permasalahan ruang yang ada - Perkiraan trend pengembangan kawasan saat ini

- Analisis kesesuaian antara kondisi eksisting wilayah studi dengan rencana tata ruang pada tingkat makro

- Penentuan tema sentral pengembangan wilayah studi

- Analisis kebutuhan penataan dan pengembangan wilayah studi - Penilaian kapasitas / daya tampung ruang

- Analisis perumusan konsep penataan ruang wilayah studi

Hasil dari kegiatan inventarisasi data, kompilasi data, dan analisa diakomodasikan dalam buku Laporan Fakta dan Analisa

F. PENYUSUNAN RENCANA TATA RUANG

Rencana tata ruang memuat rumusan rencana yang bersifat operasional yang dapat dijadikan pedoman bagi setiap kegiatan pembangunan, pelaksanaan program-program penataan fisik, dan pengendalian pemanfaatan ruang, baik yang dilaksanakan oleh warga, pelaku ekonomi, maupun pihak Pemerintah

Substansi rencana tata ruang meliputi : - Rencana pola ruang

- Rencana intensitas pemanfaatan ruang - Rencana sistem transportasi

- Rencana penataan fasilitas - Rencana penataan infrastruktur - Rencana implementasi

(15)

I-7

- Pengendalian pemanfaatan ruang 1.4.3 Jangka Waktu Kegiatan

Jangka waktu kegiatan pekerjaan Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan untuk kebutuhan Praktek Perencanaan Kota adalah selama 22 (dua puluh dua) minggu atau seratus lima puluh empat hari sejak terbitnya Kerangka Acuan Kerja.

1.5 TANGGAPAN TERHADAP KERANGKA ACUAN KERJA (TOR)

Kerangka acuan kerja (KAK) merupakan suatu acuan dalam melakukan proses penyusunan proposal/laporan pendahuluan ini. Laporan pendahuluan ini akan digunakan sebagai acuan dalam penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan Kecamatan Kraton. Dengan demikian, semakin detail KAK yang diberikan akan semakin jelas arahan kerja yang dimaksud sehingga dalam melakukan proses penyusunan laporan pendahuluan tidak terjadi multitafsir pemahaman KAK yang juga berpengaruh pada proses penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan Kecamatan Kraton selanjutnya.

Dalam KAK telah dijelaskan suatu kerangka kerja yang mampu memproyeksikan apa saja yang akan dilakukan dan dibutuhkan mulai dari perumusan permasalahan, tujuan dan sasaran hingga SDM yang dibutuhkan untuk mengimplementasikan kegiatan yang diharapkan.

Secara substansi KAK yang diberikan telah mampu menjelaskan secara runtut proses kerja yang akan dilakukan mulai wilayah yang direncanakan yang terdiri dari sedikit gambaran potensi dan masalah, tujuan dan sasaran, ruang lingkup wilayah, ruang lingkup kegiatan dan organisasi kerja. Meskipun demikian terdapat beberapa kekurangan terhadap KAK yang diberikan. Terdapat beberapa subtansi yang seharusnya perlu dijelaskan lebih tetapi tidak dijelaskan di KAK dan beberapa hal yang perlu diidentifikasi tetapi tidak dijelaskan di KAK seperti pada Tabel 1.1

Tabel 1.1 Tanggapan terhadap Kerangka Acuan Kerja (KAK)

NO. ASPEK PEMAHAMAN TANGGAPAN USULAN

1. Gambaran Umum Kawasan Sudah Jelas

-2. Tujuan Dan Sasaran Sudah Jelas

-3.

Ruang Lingkup wilayah

Ruang lingkup yang diarahkan adalah kawasan perkotaan di Kabupaten Pasuruan

Seharusnya dijelaskan bagian kawasan perkotaan mana saja yang bisa diambil. Kawasan utama ataukah pendukung. 4.

Ruang Lingkup Kegiatan

4.1 Proposal/ Laporan Pendahuluan

Sudah jelas

4.2 Persiapan Survey Sudah jelas

4.3 Survey dan Inventarisasi data:

a. Tidak mencantumkan

a. Dimasukkan kedalam inventarisasi data intensitas pemanfaatan ruang untuk

(16)

I-8

L a p o r a n P e n d a h u l u a n R D T R K P e r k o t a a n K r a t o n

identifikasi ketinggian bangunan

b. Tidak mencantumkan rute sarana angkutan umum masal (SAUM) yang melewati

kawasan studi

c. Tinjauan yang tertulis di KAK adalah Kabupaten Bangkalan, padahal wilayah studi yang diarahkan adalah kawasan perkotaan Kabupaten Pasuruan.

mempermudah inventarisasi data Koefisien Lantai Bangunan (KLB)

b. Dimasukkan kedalam inventarisasi data transportasi untuk mengetahui moda angkutan yang dapat

menghubungkan wilayah studi dengan wilayah lain dan

kemudahan analisa aksesibilitas

Tinjauan Peran dan fungsi wilayah studi ditinjau dari RTRW Kabupaten Pasuruan 4.4 Kompilasi Data Sudah Jelas

4.5 Analisa:

 Analisis kesesuaian wilayah studi dengan rencana tata ruang tingkat makro tidak tepat jika dilakukan peninjauan terhadap RTRW Kabupaten Bangkalan.

a) Analisis kesesuaian dilakukan perbandingan kondisi eksisting dengan RTRW Kabupaten Pasuruan karena orientasi wilayah studi di kawasan perkotaan

Kabupaten Pasuruan. b) Analisis kesesuaian lahan

seharusnya mengacu pada RTRW Kabupaten Pasuruan. 4.6 Penyusunan Rencana

Tidak adanya rencana pengembangan SDM.

Rencana pengembangan SDM dimasukkan kedalam salah satu rencana kawasan studi

5.

Nama dan Organisasi Pengguna jasa

Nama program studi Perencanaan Wilayah dan Kota sudah tidak sesuai dengan kondisi saat ini

Diganti menjadi Jurusan

Perencanaan Wilayah dan Kota

6.

Metodologi

Sudah jelas Sudah jelas

7.

Jangka Waktu Pelaksanaan Sudah jelas Sudah jelas

8.

Keahlian

Tercantum ahli ekonomi dan kelembagaan. Namun

mahasiswa belum

mendapatkan mata kuliah ekonomi wilayah.

Dihapuskan keahlian ekonomi dan kelembagaan pada laporan selanjutnya atas saran dosen pembimbing.

9.

Output

Sudah jelas Sudah jelas

10.

Waktu Perencanaan

Sudah jelas Sudah jelas

11.

Referensi

Sudah jelas Sudah jelas

12.

Pelaporan

Sudah jelas Sudah jelas

(17)

I-9

1.6 SISTEMATIKA PELAPORAN BAB I PENDAHULUAN

Pada penjelasan pendahuluan ini mencakup beberapa pembahasan, yakni latar belakang, dasar hukum, maksud, tujuan serta sasaran Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK), ruang lingkup, tanggapan terhadap TOR, dan sistematika pelaporan.

BAB II TINJAUAN KEBIJAKAN

Bab ini berisi tentang tinjauan kebijakan serta teori yang berkaitan dengan wilayah perencanaan yaitu Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan.

BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH

Bab ini menguraikan tentang gambaran umum wilayah perencanaan antara lain ditinjau dari kondisi fisik dasar, penggunaan lahan, sumberdaya manusia (kependudukan), sistem transportasi, sistem utilitas, fasilitas pelayanan umum, serta kondisi, jenis dan tipe bangunan di wilayah perencanaan.

BAB IV METODE PERENCANAAN

Pada bab ini menjelaskan metode pendekatan perencanaan, kerangka pemikiran, serta teknik dan analisa data.

BAB V MANAJEMEN KEGIATAN

Pada bab ini menjelaskan mengenai struktur dan organisasi pelaksanaan pekerjaan, komposisi personil, penugasan tenaga ahli, serta rencana kegiatan.

(18)

L a p o r a n P e n d a h u l u a n K e c . K r a t o n

II-1

BAB II

TINJAUAN KEBIJAKAN

2.1 RTRW KECAMATAN KRATON KABUPATEN PASURUAN 2009-2029

2.1.1 Rencana Struktur Ruang Wilayah Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan 2.1.1.1 Rencana Sistem Pusat Pelayanan

A. Arahan Pengembangan Sistem Perkotaan

Kecamatan Kraton saat ini memiliki rencana sistem perkotaan, seperti adanya Pusat Pelayanan Kawasan (PPK). Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) adalah kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala kecamatan atau ibukota kecamatan atau beberapa desa/kelurahan, yakni seluruh ibukota kecamatan yang tidak termasuk dalam Pusat Kegiatan Lokal (PKL) yang memiliki fungsi dari masing-masing ibukota kecamatan tersebut antara lain pusat pelayanan umum dan pemerintahan bagi desa-desa yang berada di wilayah administrasinya dan pusat perdagangan dan jasa bagi desa-desa yang berada di wilayah administrasinya.

B. Arahan Pengembangan Sistem Perdesaan

 Arahan pengembangan sistem perdesaan dapat dilihat dari sistem pemusatan perdesaan yang berkaitan dengan kawasan perkotaan, sistem pusat permukiman pedesaan membentuk pusat pelayanan desa secara hierarki diantaranya sebagai berikut:

1. Pusat pelayanan antar desa (PPL) 2. Pusat pelayanan setiap desa (PPd)

3. Pusat pelayanan pada setiap dusun atau kelompok permukiman (PPds)

Distribusi permukiman perdesaan di Kecamatan Kraton menunjukkan keberagaman yang tinggi, yakni ada yang terpusat ataupun terpencar. Pola ruang seperti ini menjadikan pusat kegiatan perdesaan juga memiliki skala bermacam-macam dan secara umum dapat digambarkan sebagai berikut:

a. Setiap dusun memiliki pusat dusun

b. Setiap desa memiliki satu pusat kegiatan yang berfungsi sebagai pusat desa

c. Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL) adalah pusat permukiman yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala antar desa

d. Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) adalah kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala kecamatan atau beberapa desa

(19)

II-2

Gambar 2.1 Sistem Perdesaan

Sumber: RTRW Kabupaten Pasuruan Tahun 2009-2029 C. Rencana Sistem Perwilayahan

Setiap kawasan perkotaan akan memiliki jangkauan pelayanan tertentu sesuai dengan kegiatan perkotaan masing-masing. Penentuan kegiatan pelayanan perkotaan ini dibuat sesuai dengan pusat kegiatan perkotaan masing-masing dan fungsi yang harus diemban bagi setiap wilayah pendukung masing-masing.

D. Hierarki (Besaran) Kawasan Perkotaan

 Adapun hierarki perkotaan di Kecamatan Kraton adalah perkotaan sangat kecil. Perkotaan ini diutamakan untuk kegiatan perdagangan dan jasa dengan fungsi utama sebagai pengembangan kegiatan industri, pertanian, peternakan, dan perikanan dan fungsi pendukung perdagangan dan jasa dan perkebunan.

2.1.2 Rencana Pola Ruang Wilayah Kecamatan Kraton 2.1.2.1 Rencana Kawasan Lindung

Rencana Kawasan Lindung yang ada di wilayah Kecamatan Kraton meliputi:

a. Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya, terdiri dari kawasan hutan lindung dan kawasan resapan air.

b. Kawasan perlindungan setempat, terdiri dari sempadan pantai, sempadan sungai, kawasan sekitar danau atau waduk, dan Ruang Terbuka Hijau (RTH).

c. Kawasan suaka alam, pelestarian alam, dan cagar budaya, terdiri dari kawasan suaka alam, kawasan cagar alam, kawasan pantai berhutan bakau, taman nasional, taman hutan raya, taman wisata alam, dan kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan.

d. Kawasan rawan bencana alam, terdiri dari kawasan rawan tanah longsor dan kawasan rawan banjir.

(20)

L a p o r a n P e n d a h u l u a n K e c . K r a t o n

II-3

e. Kawasan lindung geologi, terdiri dari kawasan rawan bencana alam geologi dan kawasan yang memberikan perlindungan terhadap air tanah. Kawasan rawan bencana alam geologi sendiri, terdiri dari kawasan rawan letusan gunung berapi, kawasan rawan gempa bumi, kawasan rawan gerakan tanah, serta kawasan yang terletak di zona patahan aktif, sedangkan kawasan yang memberikan perlindungan terhadap air tanah, terdiri dari kawasan imbuhan air tanah dan sempadan mata air. f. Kawasan lindung lainnya.

Kawasan lindung mempunyai fungsi utama untuk perlindungan sumber daya untuk kawasan setempat dan atau kawasan pengaruhnya. Pemantapan kelestarian kawasan lindung dapat dilakukan melalui pemanfaatan fungsi tanah baik pada kawasan lindung mutlak maupun kawasan lindung bawahannya.

Strategi pemantapan kawasan lindung pada dasarnya harus dikaitkan dengan konteks keseimbangan ekosistem dalam arti yang seluas-luasnya. Hal ini berarti bahwa pemantapan kawasan lindung harus memperhatikan faktor-faktor lainnya, yaitu:

a. Keseimbangan hidrologis b. Keseimbangan flora dan fauna c. Keseimbangan cagar budaya

d. Perlindungan terhadap dampak lingkungan lainnya

Sedangkan strategi yang ditempuh dalam penataan kelestarian kawasan lindung di Kecamatan Kraton adalah:

a. Penegasan batas nyata kawasan lindung dengan kawasan budidaya b. Mengembalikan fungsi lindung bagi kawasan yang telah rusak

c. Pengelolaan kawasan lindung secara terpadu

d. Pengendalian konservasi tanah dan air pada kawasan lindung 2.1.2.2 Rencana Pola Ruang Kawasan Budidaya

Rencana kawasan budidaya, meliputi kawasan hutan produksi, kawasan pertanian, kawasan perkebunan, kawasan perikanan, kawasan peternakan, kawasan pertambangan, kawasan peruntukan industri, kawasan dan objek pariwisata, kawasan permukiman, dan kawasan pesisir.

A. Kawasan Pertanian

Upaya penanganan atau pengelolaan kawasan pertanian di Kecamatan Kraton dilakukan dengan cara:

a. Mendorong pembentukan sentra-sentra kawasan pertanian khusus dengan pendekatan spasial yang kesemuanya harus tercakup dalam suatu kawasan yang sinergi dan selaras mendukung pertanian yaitu Kawasan Agropolitan.

(21)

II-4

b. Penetapan kriteria teknis dan pola penataan lahan serta pengelolaan kawasan pada masing-masing Kawasan Pertanian akan ditetapkan dan dikoordinasikan oleh masing-masing Kepala Dinas terkait yang tugas dan tanggungjawabnya berkaitan dengan Bidang Pertanian.

c. Rencana Kawasan Pertanian lahan basah (sawah). d. Rencana Kawasan Pertanian Lahan Kering.

B. Kawasan Perkebunan

Rencana kawasan perkebunan yang ada di Kecamatan Kraton meliputi kawasan perkebunan milik masyarakat yang tersebar di seluruh Kecamatan Kraton.

C. Kawasan Perikanan

Kawasan perikanan merupakan kawasan yang diperuntukkan bagi perikanan. Rencana pengembangan kawasan perikanan dibagi menjadi 2 (dua), yaitu:

a. Wilayah yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan penangkapan, budi daya, dan industri pengolahan hasil perikanan.

b. Tidak mengganggu kelestarian lingkungan hidup. D. Kawasan Peternakan

Kawasan peternakan merupakan kawasan yang diperuntukkan bagi peternakan dan/atau padang penggembalaan ternak untuk berbagai jenis hewan ternak. Rencana pengembangan kawasan peternakan yang ada di Kecamatan Kraton dikembangkan menyebar di hampir semua Kecamatan Kraton, mengingat potensi yang adapun menyebar di hampir disetiap kecamatan ini. Kawasan peternakan diklasifikasikan menjadi 2 (dua), yaitu ternak besar dan ternak kecil. Yang dimaksud dengan ternak besar adalah ternak sapi potong dan ternak sapi perah. Sedangkan ternak kecil disini memiliki jenis ternak ayam buras pedaging, ayam buras petelur, itik, kambing/domba, babi, kuda dan kerbau.

E. Kawasan Pertambangan

Kawasan pertambangan termasuk kelompok pertambangan mineral yang meliputi pertambangan bahan galian diantaranya golongan galian strategis, golongan bahan galian vital, dan golongan bahan galian yang tidak termasuk kedua golongan di atas. Pada dasarnya penambangan adalah proses pemanfaatan sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Semakin besar eksploitasi sumber daya alam akan semakin besar pula gangguan terhadap keseimbangan lingkungan dengan demikian kemungkinan terjadinya degradasi semakin besar pula, metoda penambangan akan mempengaruhi besar kecilnya perubahan terhadap bentang alam. Kawasan pertambangan yang ada di Kecamatan Kraton termasuk dalam kelompok mineral dan batubara dengan jenis pertambangan bahan galian atau tambang yang meliputi batu

(22)

L a p o r a n P e n d a h u l u a n K e c . K r a t o n

II-5

kapur, pasir kuarsa, pasir batu, kalsit, trass, kaolin, bentodit, marmer, zeolit, toseki, feldspar, piropilit, dan fospat.

F. Kawasan Peruntukkan Industri

Kawasan peruntukkan industri meliputi kawasan industri, lokasi peruntukkan industri serta kawasan industri tertentu untuk UMKM dan industri rumah tangga. Sektor industri merupakan salah satu pendukung utama pembangunan ekonomi Kecamatan Kraton. Hal ini terlihat dari kontribusi terhadap PDRB cukup besar terutama dari sektor pengolahan. Didukung dengan posisi yang strategis maka Kecamatan Kraton mempunyai prospek yang besar untuk berkembang sebagai wilayah industri, hal ini ditandai dengan berkembangnya industri kecil yang ada di kecamatan ini.

Berdasarkan kondisi tersebut maka arah pengembangan kegiatan industi di Kecamatan Kraton, adalah sebagai berikut:

a. Mendorong perkembangan kawasan industri Kecamatan Kraton.

b. Pengembangan industri, menyatu dengan Kawasan Industri atau cluster peruntukan industri yang telah ada, untuk arah pengembangannya adalah kegiatan industi agro (industri hasil pertanian) serta pengembangan industri kecil yang mempunyai kaitan dengan berbagai industri.

G. Kawasan Permukiman Kawasan permukiman meliputi: a. Kawasan Permukiman Perkotaan

b. Permukiman di sekitar kawasan industri. Permukiman ini pengembangannya diarahkan di sekitar Kecamatan Kraton.

c. Permukiman di sekitar kawasan Pantai. Permukiman ini diarahkan disekitar Kecamatan Kraton.

d. Kawasan Permukiman Perdesaan. Kawasan perdesaan merupakan daerah tempat tinggal sebagian besar masyarakat Kecamatan Kraton yang kehidupan pokoknya bersumber pada pola pertanian.

Kebijakan pengembangan sistem permukiman:

a. Mengarahkan struktur permukiman pusat perkotaan secara berhierarki dan

mengendalikan perkembangan kawasan perkotaan agar tidak cenderung memusat ke arah kawasan metropolitan di Kecamatan Kraton.

b. Menata pusat permukiman perkotaan SSWP direncanakan berperan sebagai pusat-pusat mandiri.

c. Distribusi pemanfaatan ruang terbangun kawasan perkotaan secara merata untuk mencegah kawasan permukiman padat.

(23)

II-6

d. Membentuk Ruang Terbuka Hijau (RTH) kawasan perkotaan minimal seluas 30% dari luas wilayah kawasan permukiman perkotaan.

H. Kawasan Pesisir

 Arahan rencana pengembangan kawasan pesisir di Kecamatan Kraton, yaitu: a. Optimalisasi pemanfaatan lahan tambak dikembangkan di Kecamatan Kraton.

b. Pengembangan wisata bahari pada kawasan potensial, tetapi pemanfaatannya perlu menjaga kelestarian hutan bakau yang ada.

c. Pengembangan kegiatan penelitian dan ilmu pengetahuan.

d. Memelihara hutan bakau yang bermanfaat untuk kelangsungan ekosistem pesisir. Penataan kawasan budidaya dimaksudkan agar kegiatan yang dikembangkan dapat memberikan kesejahteraan masyarakat secara merata di Kecamatan Kraton. Pengembangan kawasan budidaya menyangkut aspek-aspek:

a. Pemanfaatan ruang untuk kegiatan budidaya (produksi dan permukiman) secara optimal sesuai dengan kemampuan daya dukung lingkungan.

b. Pengendalian dan pengaturan pemanfaatan ruang pada kewasan budidaya untuk menghindari konflik kepentingan antar sektor kegiatan.

Dengan demikian strategi penataan kawasan budidaya pada dasarnya memanfaatkan setiap kegiatan pembangunan yang berimplikasi terhadap ruang secara optimal sesuai dengan daya dukung lahannya, sebagai upaya untuk mendukung peningkatan laju pertumbuhan pembangunan daerah. Pemanfaatan kawasan budidaya yang lokasinya berdekatan dengan kawasan lindung perlu pengawasan yang ketat agar tidak saling mengganggu keseimbangan ekosistem masing-masing.

Disamping itu diperlukan juga pengembangan dan pembangunan jaringan infrastruktur yang diharapkan dapat menunjang pemanfaatan kawasan budidaya agar dapat memberikan hasil optimal, khususnya untuk kepentingan masyarakat. Strategi yang ditempuh dalam penataan kawasan budidaya di Kecamatan Kraton adalah:

a. Menciptakan kesempatan ekonomi di kawasan budidaya b. Menata ruang sesuai dengan daya dukung lingkungan

c. Penataan ruang untuk kegiatan industri yang terpisah dari kawasan perumahan d. Penataan ruang untuk perdagangan

e. Penataan ruang untuk perumahan f. Penataan ruang untuk pertanian g. Pengembangan obyek wisata

2.1.2.3 Rencana Pola Ruang Kawasan Strategis

Kebijakan Penetapan Kawasan Strategis di Kecamatan Kraton adalah sebagai berikut:

(24)

L a p o r a n P e n d a h u l u a n K e c . K r a t o n

II-7

a. Pelestarian dan peningkatan fungsi sesuai dengan daya dukung lingkungan sehingga terwujud pemanfaatan ruang yang berkelanjutan mendukung kehidupan di wilayah Kecamatan Kraton.

b. Peningkatan dan pemantapan kawasan agar dapat mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah dan mendorong peran wilayah Kecamatan Kraton dalam perkembangan wilayah Provinsi dan Nasional.

c. Pengembangan kawasan tertinggal untuk mewujudkan pemerataan pembangunan dan mengurangi kesenjangan antar wilayah di Kecamatan Kraton, meningkatkan taraf hidup masyarakat secara adil dan merata.

2.1.2.3.1 Rencana Pola Ruang Kawasan Strategis Dari Sudut Kepentingan Ketahanan Ekonomi

a. Kawasan strategis dari sudut kepentingan ketahanan ekonomi di Kecamatan Kraton, meliputi kawasan strategis dan k awasan tertinggal.

b. Peningkatan dan pemantapan kawasan agar dapat mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah dan mendorong peran wilayah dalam perkembangan wilayah Provinsi dan Nasional.

2.1.2.3.2 Rencana Pola Ruang Kawasan Strategis Dari Sudut Kepentingan Sosial Dan Budaya

a. Melakukan pengamanan terhadap kawasan atau melindungi tempat serta ruang disekitar bangunan bersejarah, situs purbakala, dan kawasan dengan bentukan geologi tertentu, serta mengembangkan kawasan tertinggal.

b. Kawasan Strategis (KS) dari sudut kepentingan sosial dan budaya, meliputi kawasan adat tertentu, kawasan konservasi warisan budaya, termasuk warisan budaya yang diakui sebagai warisan dunia.

2.1.2.4 Rencana Pola Ruang Kawasan Pengendalian Ketat

a. Pengendalian terhadap kawasan yang memerlukan pengawasan secara khusus dan dibatasi pemanfaatannya untuk mempertahankan daya dukung, mencegah dampak negatif, dan menjamin proses pembangunan yang berkelanjutan.

b. Kawasan Pengendalian Ketat adalah kawasan meliputi: 1. Wilayah aliran sungai

2. Transportasi terkait area atau lingkup kepentingan pelabuhan & kawasan disekitar jalan arteri/tol

3. Jaringan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 4. Kawasan pertanian Irigasi Teknis

(25)

III-1

BAB III

GAMBARAN UMUM WILAYAH

Kecamatan Bangil memiliki luas 44.600 Ha. Letak geografis wilayah Bangil, Kabupaten Pasuruan berada pada posisi yang sangat strategis yaitu jalur regional dan  jalur utama antara Surabaya-Malang dan Surabaya-Banyuwangi. Kecamatan Bangil

merupakan pusat perkotaan menengah Kabupaten Pasuruan dimana memiliki fungsi sebagai pusat kegiatan perdagangan dan jasa, pusat kegiatan industri dan pusat kegiatan pendidikan. Oleh karena itu Kecamatan Bangil memiliki wilayah pendukung atau wilayah pengembangan. Wilayah Pengembangan (WP) –Bangil, terdiri dari Kecamatan Bangil, Kecamatan Rembang, Kecamatan Beji dan Kecamatan Kraton dengan pusat pengembangan di Bangil.

Lokasi perencanaan yang diambil adalah kawasan perkotaan di Kecamatan Kraton dimana kegiatan utama yang dikembangkan di Kecamatan Kraton adalah kawasan kegiatan penunjang pertanian, perikanan dan peternakan. Berikut dijelaskan mengenai gambaran umum dari Kecamatan Kraton.

3.1 KONDISI FISIK DASAR 3.1.1 Letak Geografis

Kecamatan Kraton secara geografis termasuk ke dalam Kabupaten Pasuruan yang terletak antara 7,30o - 8,30oLintang Selatan dan 112,30o - 113,30o Bujur Timur. Luas total Kecamatan Kraton adalah 50,750 Ha. Secara umum, wilayah Kecamatan Kraton memiliki 25 desa/kelurahan yang terbagi menjadi 106 dusun, 130 RW dan 408 RT. Batas fisik Kecamatan Kraton adalah sebagai berikut:

Utara : Laut Jawa

Timur : Kecamatan Gadingrejo Kota Pasuruan

Barat : Kecamatan Bangil

Selatan : Kecamatan Pohjentrek

Kawasan perkotaan Kecamatan Kraton meliputi wilayah administrasi:

1. Desa Kalirejo 3. Desa Kraton 5. Desa Curahdukuh

2. Desa Semare 4. Desa Tambakrejo 6. Desa Sidogiri

(26)
(27)

III-3

3.1.2 Topografi

Kondisi topografi merupakan salah satu kondisi fisik yang dapat mengetahui potensi dan kendala fisik perkembangan suatu kawasan/wilayah. Kondisi topografi erat kaitannya dengan ketinggian dan kemiringan lereng lahan.

Kecamatan Kraton merupakan dataran rendah daerah pantai dengan ketinggian antara 2 – 8 m dpl dan memiliki endapan alluvium. Sebagian besar merupakan lahan pertanian, pertambakan, dan perkebunan. Sungai utamanya adalah Sungai Welang. Kemiringan Lahan di Kecamatan Kraton antara 0 – 25 m dpl.

3.1.3 Hidrologi

Hidrologi adalah suatu ilmu yang mempelajari air dibumi, kejadian, sirkulasi dan distribusi, sifat-sifat kimia dan fisika serta reaksinya dengan lingkungan, termasuk hubungannya dengan mahkluk hidup. Dengan demikian sangat pentingnya mengetahui kondisi hidrologi sebagai pertimbangan siklus air di kawasan perencanaan.

Kecamatan Kraton memiliki sungai utama yaitu Sungai Welang yang merupakan sungai catchment area terbesar yaitu 518 km2, juga terpanjang 36 km dengan lebar 35 m, tetapi debit alirannya masih relatif rendah dibanding sungai pada Kecamatan Rejoso. Sungai utama tersebut merupakan sungai perenial yaitu sungai yang selalu mempunyai aliran sepanjang tahun. Pada saat musim hujan debit aliran sungai-sungai tersebut sangat besar sehingga elevasi permukaan air di sungai sangat tinggi dan ada yang melampaui elevasi tanggulnya serta meluap ke daerah sekitarnya, selanjutnya menimbulkan masalah banjir terutama di daerah hilirnya. Kondisi ini juga dapat dilihat saat musim hujan dimana hampir seluruh daerah hilir dari sungai-sungai tersebut selalu tergenang air. Sungai Welang ini bermuara di Desa Pulokerto  –  Kecamatan Kraton.

3.1.4 Klimatologi

Klimatologi adalah ilmu yang mempelajari tentang iklim suatu wilayah Kondisi iklim Kecamatan Kraton tidak jauh berbeda dengan kondisi iklim wilayah Kabupaten Pasuruan pada umumnya. Seperti wilayah lainnya, Kecamatan Kraton mengalami perubahan iklim sebanyak 2 kali setiap tahunnya, yaitu musim kemarau dan musim hujan. Unsur-unsur klimatologi meliputi:

 Kecamatan Kraton memiliki curah hujan rata-rata 1.500 mm/tahun.  Kelembaban rata-rata 58-96 %

 Kecepatan angin rata-rata 25 km/jam  Temperatur udara rata-rata 17-30oC

(28)

L a p o r a n P e n d a h u l u a n K e c . K r a t o n

III-4

3.2 PENGGUNAAN LAHAN

Kecamatan Kraton memiliki total luas lahan 50.750 Ha. Penggunaan lahan di Kecamatan Kraton digunakan sebagai permukiman, pertanian kering/tegal, persawahan, dll. Lebih jelasnya mengenai luas penggunaan lahan Kecamatan Kraton dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 3.1 Penggunaan Lahan Kecamatan Kraton Tahun 2013 No Jenis Penggunaan Lahan Luas (Ha) Prosentase

1 Pemukiman 488,73 9,7%

2 Persawahan 2.496, 51 49%

3 Pertanian kering/tegal 684,24 13,5%

4 Lain-lain 1.409,8 27,8%

Sumber: Statistik Daerah Kecamatan Kraton, 2013

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa jenis penggunaan lahan di Kecamatan Kraton didominasi oleh penggunaan berupa lahan sawah yaitu sebesar 2.496, 51 Ha atau sebesar 49% dari total luas lahan. Penggunaan lahan terbesar kedua di Kecamatan Kraton adalah sebagai kawasan pertanian kering/tegal yaitu sebesar 684,24 Ha atau sebesar 27,8% dari total luas lahan.

3.3 KEPENDUDUKAN

3.3.1 Jumlah dan Kepadatan Penduduk

Berikut adalah gambaran mengenai jumlah penduduk, dan kepadatam di Kecamatan Kraton :

Tabel 3.2 Jumlah dan Kepadatan Penduduk Kec. Kraton No Desa/Kelurahan Luas (km2) Jumlah Penduduk (jiwa) Kepadatan Penduduk (jiwa/ km2) 1 Slambrit 1,26 2132 1692,06 2 Ngabar 1,48 4303 2907,43 3 Klampisrejo 2,13 2250 1056,34 4 Kebotohan 2,39 3416 1429,29 5 Pukul 1,60 3132 1957,50 6 Gambir Kuning 1,73 3152 1821,97 7 Mulyorejo 2,05 3283 1601,46 8 Tambaksari 1,53 2130 1392,16 9 Plinggisan 1,15 2844 2473,04 10 Dhompo 1,23 1995 1621,95 11 Ngempit 1,16 2486 2143,10 12 Jeruk 1,49 2206 1480,54 13 Sidogiri 1,52 9025 5937,50 14 Karanganyar 1,99 3035 1525,13 15 Selotambak 2,33 3538 1518,45 16 Curahdukuh 3,40 4833 1421,47 17 Rejosari 3,07 3319 1081,11 18 Asemkandang 1,30 2347 1805,38 19 Tambakrejo 1,39 3530 2339,57 20 Kraton 1,42 3055 2151,41 21 Kalirejo 0,98 7508 7661,22 22 Semare 2,69 2832 1052,79 23 Pulokerto 4,93 3137 636,31 24 Bendungan 2,04 6676 3272,55

(29)

III-5

25 Gerongan 4,53 4162 918,76

Jumlah/Total 50,79 90326 1778,42

Sumber: Kecamatan Kraton dalam Angka, 2013

Dari tabel di bawah, dapat diketahui bahwa jumlah penduduk tertinggi terdapat di Desa Kalirejo dengan jumlah penduduk sebesar 7.508 jiwa sedangkan jumlah penduduk terendah terdapat di Desa Dhompo dengan jumlah penduduk sebesar 1995  jiwa.

Dengan luas wilayah sebesar 50,79 km2 dan jumlah penduduk sebesar 90.326  jiwa, maka kepadatan penduduk Kecamatan Diwek adalah 1.778,42 jiwa/km2 dengan kepadatan penduduk tertinggi berada pada Desa Kalirejo dan kepadatan penduduk terendah berada pada Desa Pulokerto.

3.3.2 Jumlah Penduduk menurut Tingkat Kesejahteraaan

Tabel 3.3 Jumlah Keluarga Berdasarkan Tingkat Kesejahteraan Kec. Kraton

No Desa Tahapan Kesejahteraan Keluarga Jumlah

Pra

Sejahtera KS I KS II KS III KS III+

1 Slambrit 89 179 357 83 22 730 2 Ngabar 178 106 293 268 16 861 3 Klampisrejo 178 159 174 149 50 710 4 Kebotohan 387 159 267 96 83 992 5 Pukul 221 300 236 103 15 875 6 Gambir Kuning 142 249 363 215 9 978 7 Mulyorejo 227 114 313 262 6 922 8 Tambaksari 40 97 362 236 12 747 9 Plinggisan 183 195 262 245 8 863 10 Dhompo 144 179 208 71 - 602 11 Ngempit 160 275 189 75 11 710 12 Jeruk 224 215 189 68 7 703 13 Sidogiri 141 247 397 134 35 954 14 Karanganyar 244 162 457 76 12 951 15 Selotambak 259 199 344 82 - 884 16 Curahdukuh 253 536 629 84 15 1517 17 Rejosari 129 363 319 187 - 998 18 Asemkandang 500 79 190 11 - 780 19 Tambakrejo 124 205 263 319 4 915 20 Kraton 132 107 260 323 45 867 21 Kalirejo 323 476 657 185 23 1664 22 Semare 110 173 315 139 - 737 23 Pulokerto 189 319 268 139 7 922 24 Bendungan 219 494 441 256 9 1419 25 Gerongan 184 360 243 153 6 946 Total 4980 5947 7966 3959 395 23247

Sumber: Kecamatan Kraton dalam Angka, 2013

Tahapan keluarga sejahtera, meliputi Keluarga Pra Sejahtera (Pra KS), Keluarga Sejahtera I (KS I), Keluarga Sejahtera II (KS II), Keluarga Sejahtera III (KS III), serta Keluarga Sejahtera III+ (KS III plus).

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa prosentase tingkat kesejahteraan keluarga di Kecamatan Kraton mulai dari Keluarga Pra Sejahtera sampai dengan Keluarga

(30)

L a p o r a n P e n d a h u l u a n K e c . K r a t o n

III-6

Sejahtera III+, yaitu 21,42%, 25,58%, 34,27%, 17,03%, dan 1,70%. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar keluarga di Kecamatan Kraton sudah mempunyai taraf hidup yang cukup baik.

3.3.3 Jumlah Penduduk menurut Agama

Mayoritas penduduk di Kecamatan Kraton memeluk agama Islam dengan jumlah penganut agama Islam sebesar 79.603 jiwa. Sedangkan tidak ada penduduk Kecamatan Kraton yang memeluk agama Kristen, Hindu dan Budha. Rinciannya dapat dilihat pada berikut:

Tabel 3.4 Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama Kec. Kraton

No Desa Agama

Islam Kristen Katolik Hindu/Budha Lainnya

1 Slambrit 1875 - - - -2 Ngabar 3495 - - - -3 Klampisrejo 2000 - - - -4 Kebotohan 3153 - - - -5 Pukul 2746 - - - -6 Gambir Kuning 2736 - 1 - -7 Mulyorejo 2835 - - - -8 Tambaksari 1904 - - - -9 Plinggisan 2516 - - - -10 Dhompo 1783 - - - -11 Ngempit 2185 - - - -12 Jeruk 1876 - - - -13 Sidogiri 8298 - - - -14 Karanganyar 2685 - - - -15 Selotambak 3145 - - - -16 Curahdukuh 4277 - - - -17 Rejosari 2966 - - - -18 Asemkandang 2089 - - - -19 Tambakrejo 3060 - 31 - -20 Kraton 2687 - 12 - -21 Kalirejo 6658 - - - -22 Semare 2491 - - - -23 Pulokerto 2783 - - - -24 Bendungan 5800 - 13 - -25 Gerongan 3563 - - - -Jumlah/Total 79603 - 57 -

-Sumber: Kecamatan Kraton dalam Angka, 2013 3.3.4 Jumlah Penduduk menurut Mata Pencaharian

Mata pencaharian penduduk di Kecamatan Kraton didominasi oleh buruh tani yaitu sebanyak 10.374 jiwa (31,91%) dari keseluruhan jumlah penduduk. Sedangkan minoritas penduduk bermatapencaharian sebagai TNI/POLRI, yaitu 379 jiwa (,17%) dari keseluruhan jumlah penduduk. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 3.5 berikut:

(31)

III-7

Tabel 3.5 Jumlah Penduduk menurut Mata Pencaharian Kec. Kraton

No Desa Mata Pencaharian

Tdk/Blm Bekerja

Pertanian Pertambangan Industri Konstruksi Perdagangan Angkutan Komunikasi

Keuangan Jasa Lain-lain

1 Slambrit 554 1337 0 159 174 18 12 28 73 178 2 Ngabar 1341 788 0 190 196 29 111 83 722 80 3 Klampisrejo 527 1414 0 177 110 20 62 24 235 432 4 Kebotohan 1064 1305 0 204 246 48 62 34 279 270 5 Pukul 952 825 0 227 201 29 74 51 398 360 6 Gambir Kuning 914 905 0 313 190 22 49 29 465 226 7 Mulyorejo 1049 1253 0 231 97 29 99 32 449 147 8 Tambaksari 626 519 0 296 111 20 37 22 331 152 9 Plinggisan 920 485 0 300 153 21 1111 65 315 242 10 Dhompo 587 845 1 211 129 23 25 17 171 116 11 Ngempit 738 510 1 266 191 58 86 69 250 291 12 Jeruk 636 1866 0 104 82 39 49 50 294 121 13 Sidogiri 4012 574 0 155 321 31 86 117 570 486 14 Karanganyar 856 1427 0 350 176 48 37 37 265 85 15 Selotambak 943 2128 1 373 145 29 74 29 265 237 16 Curahdukuh 1247 3701 0 449 198 26 0 17 225 273 17 Rejosari 859 1459 0 517 245 33 62 37 314 106 18 Asemkandang 769 853 1 228 116 39 0 13 196 15 19 Tambakrejo 1168 606 9 385 138 87 25 24 513 144 20 Kraton 1015 278 2 289 179 39 123 46 550 142 21 Kalirejo 2458 4315 0 110 496 17 37 15 353 100 22 Semare 865 1481 2 74 221 19 0 5 268 51 23 Pulokerto 844 2120 2 243 183 49 62 29 129 139 24 Bendungan 2200 962 1 838 270 68 86 56 864 242 25 Gerongan 1427 1636 1 225 200 29 49 9 93 62

(32)

L a p o r a n P e n d a h u l u a n K e c . K r a t o n

III-8

Kecamatan Kraton memiliki keanekaragaman penduduk yang sebagian besar adalah suku Jawa, selain itu bisa juga ditemui suku-suku lain seperti suku Madura serta masyarakat keturunan Tionghoa-Indonesia, Arab dan India. Suku Jawa di Pasuruan terutama adalah dari mereka yang berbahasa Jawa dialek Wetanan serta subsuku Tengger yang hidup di kawasan Pegunungan Tengger (Kecamatan Tosari). 3.4 FASILITAS UMUM

Fasilitas perkotaan menjadi salah satu faktor penunjang pengembangan maupun peningkatan perekonomian wilayah. Ketersediaan fasilitas menjadi salah satu nilai penting dalam suatu kota atau wilayah. Fasilitas itu diantaranya fasilitas pendidikan, kesehatan, peribadatan, dan pemerintahan

3.4.1 Fasilitas Kesehatan

Tabel 3.6 Jumlah Fasilitas Kesehatan menurut Jenisnya Kecamatan Kraton Desa Poliklinik Puskesmas Puskesmas

Pembantu RS Bersalin Tempat Praktek Dokter Tempat Praktek Bidan Slambrit - - - 1 Ngabar - - - 1 Klampisrejo - - - 1 Kebotohan - - - 2 Pukul - - 1 - - 2 Gambir Kuning - - - 1 Mulyorejo - - - 1 Tambaksari - - - 3 Plinggisan - - - 2 Dhompo - - - 2 Ngempit 1 1 - - 1 2 Jeruk - - - 1 Sidogiri 1 - - - - 2 Karanganyar - - - 1 Selotambak - - 1 - - 1 Curahdukuh - - - 1 Rejosari - - - 1  Asemkandang - - - 1 Tambakrejo - - - 1 Kraton - - - - 1 1 Kalirejo - - 1 - 1 1 Semare - - - 1 Pulokerto - - - 1 Bendungan - 1 - - - 1 Gerongan - - - 1 Jumlah/Total 2 2 3 - 3 31

Sumber: Kecamatan Kraton dalam Angka, 2013

Dalam mewujudkan masyarakat yang sehat dan berkualitas di Kecamatan Kraton terdapat 2 puskesmas induk dan 3 puskesmas pembantu. Selain itu, Kecamatan

(33)

III-9

Kraton juga memiliki 119 posyandu untuk pemantauan gizi dan tumbuh kembang balita.

3.4.2 Fasilitas Peribadatan

Fasilitas Peribadatan di Kecamatan Kraton terdiri dari masjid dan langgar yang tersebar di setiap desa.

Tabel 3.7 Jumlah Fasilitas Peribadatan menurut Jenisnya

Desa Masjid Langgar Gereja Pure Vihara Jumlah/

Total Slambrit 4 51 - - - 54 Ngabar 5 59 - - - 64 Klampisrejo 4 33 - - - 37 Kebotohan 4 54 - - - 58 Pukul 3 31 - - - 34 Gambir Kuning 1 47 - - - 48 Mulyorejo 5 30 - - - 35 Tambaksari 6 24 - - - 31 Plinggisan 5 33 - - - 38 Dhompo 3 31 - - - 34 Ngempit 3 23 - - - 25 Jeruk 4 33 - - - 37 Sidogiri 3 42 - - - 44 Karanganyar 3 23 - - - 25 Selotambak 5 54 - - - 59 Curahdukuh 5 33 - - - 38 Rejosari 3 45 - - - 48  Asemkandang 4 37 - - - 40 Tambakrejo 3 21 - - - 23 Kraton 1 26 - - - 27 Kalirejo 4 45 - - - 49 Semare 1 26 - - - 27 Pulokerto 3 24 - - - 27 Bendungan 5 59 - - - 64 Gerongan 4 38 - - - 42 Jumlah/Total 87 926 - - - 1013

. Sumber: Kecamatan Kraton dalam Angka, 2013 3.4.3 Fasilitas Pendidikan

Fasilitas pendidikan di Kecamatan Kraton terdiri dari TK, SD, SMP hingga SMA dan tersebar di seluruh desa dan kelurahan di Kecamatan Kraton. Kecamatan Kraton merupakan salah satu kecamatan yang menerapkan wajib belajar 9 tahun sejak tahun 1994. Untuk mendukung kebijakan tersebut, Kecamatan Kraton memiliki 57 SD Negeri dan Swasta pada tahun ajaran 2012/2013, 15 SMP Negeri dan Swasta, dan 4 SMA Negeri dan Swasta. Untuk lebih jelasnya jumlah fasilitas pendidikan di Kecamatan Kraton adalah sebagai berikut:

(34)

L a p o r a n P e n d a h u l u a n K e c . K r a t o n

III-10

Tabel 3.8 Jumlah Fasilitas Pendidikan menurut Jenisnya

Desa TK SD SMP SMA Sekolah Luar Biasa (SLB) Pondok Pesantren Madrasah Diniyah Madrasa h Diniyah Seminari dan Sejenisnya Jumlah/ Total Negeri Swasta Negeri Swasta Kejuruan Umum

Slambrit 2 1 1 - - - 2 - 2 Ngabar 2 1 1 1 2 - 1 - 1 2 - 3 Klampisrejo 1 1 - - - 2 - 2 Kebotohan 2 1 2 - 2 - - - 1 3 - 4 Pukul 1 1 1 - 1 - - - 2 3 - 5 Gambir Kuning 2 1 - - - 2 - 2 Mulyorejo 2 1 1 - 1 - - - 1 1 - 2 Tambaksari 1 1 - - - 2 - 2 Plinggisan 2 1 1 - 1 - - - - 1 - 1 Dhompo 3 2 - - - 2 - 2 Ngempit 1 1 - - - 1 - 1 Jeruk 1 1 - - - 2 - 2 Sidogiri 3 1 1 - 1 - - - 2 3 - 5 Karanganyar 1 2 1 - 1 - - - 1 1 - 2 Selotambak 4 1 3 - 1 - - - 2 3 - 5 Curahdukuh 2 2 6 - - - 2 - 2 Rejosari 4 1 1 - 1 - - - - 5 - 5  Asemkandang 1 1 1 - - - 3 - 3 Tambakrejo 4 1 2 1 - - - 3 - 3 Kraton 2 1 1 - 1 - - - 1 3 - 4 Kalirejo 3 1 2 - - - 1 - 1 Semare 1 1 1 - - - 2 - 2 Pulokerto 1 1 1 - - - 1 4 - 5 Bendungan 3 1 1 - 2 - - - 4 2 - 6 Gerongan 2 1 1 - 1 - - - - 1 - 1 Jumlah/Total 51 28 29 2 15 - 1 - 16 56 - 72

(35)

III-11

3.4.4 Fasilitas Perkantoran

Fasilitas perkantoran yang ada di kecamatan Kraton meliputi perkantoran kecamatan dan perkantoran pemerintah.

3.4.5 Fasilitas Perdagangan dan Jasa

Fasilitas perdagangan dan jasa yang ada di kecamatan Kraton meliputi Pasar, pertokoan, dan pasar hewan.

3.5 SISTEM UTILITAS

Kebutuhan jaringan utilitas dalam menunjang kegiatan di wilayah baik kabupaten maupun perkotaan sangatlah penting. Kecamatan Kraton memiliki beberapa jaringan utilitas berupa jaringan air bersih, listrik, telepon, persampahan, dan pembuangan air limbah (pematusan). Jaringan utilitas ini melayani kebutuhan domestik (rumah tangga), fasilitas umum, dan pedagangan jasa. Berikut merupakan jaringan utilitas yang terdapat di Kecamatan Kraton.

3.5.1 Jaringan Listrik

Listrik merupakan utilitas yang cukup penting, sebab dengan tersedianya listrik yang mencukupi maka dapat digunakan untuk menunjang dan mendorong kearah peningkatan ekonomi sosial, budaya, taraf hidup dan kehidupan masyarakat. Sehingga dengan memenuhi dan melayani kebutuhan masyarakat akan tenaga listrik dengan mutu pelayanan yang baik akan mendukung perkembangan potensi kota. Wilayah Kecamatan Keraton menggunakan listrik yang bersumber dari PLN. Distribusi jaringan listrik sudah cukup merata dan menjangkau seluruh wilayah Kecamatan Kraton. Jaringan yang terdapat di Kecamatan Kraton terdapat SUTR (saluran Udara Tegangan Rendah) merata di permukiman. SUTM (Saluran Udara Tegangan Menengah), SUTT (Saluran Udara Tegangan Tinggi), dan SUTET (Saluran Tegangan Extra Tinggi).

Tabel 3.9 Jumlah Pelanggan dan Konsumsi Energi Listrik Kec. Kraton Tahun Jumlah Desa Desa Berlistrik Pelanggan Konsumsi Energi

2008 25 25 9527 23.993.634

2009 25 25 9983 35.154.145

2010 25 25 10552 38.808.749

2011 25 25 11726 40.318.791

2012 25 25 11863 41.253.089

(36)

L a p o r a n P e n d a h u l u a n K e c . K r a t o n

III-12

Tabel 3.10 Jumlah Rumah Tangga Pengguna Listrik PLN dan Non PLN Desa/Kelurahan Rumah

tangga PLN

Rumah tangga non PLN

Jumlah rumah tangga pengguna Listrik Slambrit 297 409 706 Ngabar 731 731 Klampisrejo 509 127 636 Kebotohan 456 524 980 Pukul 800 50 850 Gambir Kuning 723 145 868 Mulyorejo 723 78 801 Tambaksari 360 98 458 Plinggisan 679 110 789 Dhompo 651 12 663 Ngempit 600 43 643 Jeruk 507 104 611 Sidogiri 750 138 888 Karanganyar 726 150 876 Selotambak 615 415 1030 Curahdukuh 725 741 1466 Rejosari 801 111 912  Asemkandang 425 170 595 Tambakrejo 940 940 Kraton 636 211 847 Kalirejo 1727 305 2032 Semare 568 130 698 Pulokerto 783 90 873 Bendungan 1284 427 1711 Gerongan 797 89 886 JUMLAH 17813 4677 22490

Sumber: Kecamatan Kraton dalam Angka, 2013 3.5.2 Jaringan Air Bersih

 Air bersih merupakan suatu kebutuhan yang amat penting bagi suatu kota, dikarenakan digunakan untuk keperluan sehari-hari terutama kebutuhan untuk memasak, mandi, cuci, membersihkan tempat tinggal dan kebutuhan sekunder lainnya. Kebutuhan air bersih di wilayah Kecamatan Kraton dapat terpenuhi oleh PDAM. Jangkauan pelayanan PDAM menggunakan pipa-pipa distribusi yang tersebar di beberapa wilayah Kecamatan Kraton.

3.5.3 Jaringan Telepon

Perkembangan kota akan dikuti pula oleh peningkatan kegiatan masyarakat kota dalam segala bidang. Sehingga membuat komunikasi antar kegiatan antar kota dapat berjalan dengan lancar, sarana komunikasi dapat berupa telepon, radio, televisi, dan sebagainya. Kebutuhan jaringan telepon di wilayah Kecamatan Kraton sudah

(37)

III-13

cukup mencukupi kebutuhan jaringan telekomunikasi di wilayah tersebut. Kebutuhan masyrakat akan telekomunikasi hanya sebatas kebutuhan selular dan tingkat pelayanan cukup tersebar merata meskipun t idak semua rumah atau bangunan memiliki sambungan telepon kabel.

3.5.4 Persampahan

Tingkat pelayanan persampahan di Kabupaten Pasuruan masih rendah, hal ini terlihat dengan kurangnya jumlah dan penyebaran fasilitas Tempat Pembuangan Sementara (TPS) yang hanya berjumlah 9 unit dan hanya terdapat pada 3 kecamatan (Bangil, Pandaan, Gempol) dari 24 kecamatan yang ada. Persoalan pengelolaan persampahan untuk wilayah pedesaan masih belum begitu mengganggu pencemaran lingkungan, karena masih banyak alternatif lain yang mampu dilakukan penduduk setempat untuk mengatasinya, seperti membakar dan sebagainya.

3.5.5 Jaringan Drainase

Limbah rumah tangga adalah seluruh limbah, baik berbentuk cair, gas akibat pembakaran maupun padat, akibat aktivitas sehari-hari dalam kehidupan rumah tangga. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No 173/Menkes/Per/VIII/77 Bab I pasal 1 butir j, menyebutkan bahwa buangan rumah tangga adalah buangan yang berasal bukan dari industri, melainkan berasal dari rumah tangga, kantor, hotel, restaurant, tempat ibadah, tempat hiburan, pasar dan pertokoan serta rumah sakit. Berdasarkan kondisi eksisting yang ada, terlihat bahwa sebagian besar rumah tangga yang ada di Kecamatan Kraton belum mempunyai saluran pembuangan air limbah. Kondisi tersebut mempunyai potensi untuk mencemari lingkungan di wilayah permukiman yang bersangkutan.

3.6 SISTEM TRANSPORTASI

Transportasi adalah salah satu infrastruktur yang penting untuk pertumbuhan suatu wilayah. Selain dibutuhkan untuk mendukung kegiatan sehari hari, transportasi juga bisa dijadikan sebagai parameter perkembangan suatu wilayah. Wilayah dikatakan berkembang apabila infrastruktur yang dimiliki memadai khususnya trasnportasi.

Kecamatan Kraton terletak di wilayah yang sangat strategis dalam jalur transportasi utama yang menghubungkan jalur Surabaya  –  Jember/Banyuwangi/Bali. Untuk mendukung kelancaran transportasi di Kabupaten Pasuruan terdapat lima terminal angkutan darat, yaitu satu terminal bus antar kota dan empat terminal MPU yang menghubungkan antar kecamatan.

(38)

L a p o r a n P e n d a h u l u a n K e c . K r a t o n

III-14

3.7 POTENSI

Kecamatan Kraton memiliki beberapa potensi yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan perekonomian wilayah Kraton. Beberapa potensinya berasal dari sektor kelautan dan perikanan, sektor kerajinan kerang, industri, pariwisata, dan konservasi. 1. Sektor Kelautan Dan Perikanan

Kecamatan Kraton merupakan kecamatan yang terletak di bagian utara pasuruan dan didominasi oleh daerah pantai. Hal ini menyebabkan Kecamatan Kraton memiliki potensi kelautan dan perikanan yang cukup menjanjikan. Salah satu contoh potensi kelautan di kecamatan karton adalah budidaya udang vannamei, udang windu dan rumput. Selain itu juga terdapat budidaya air payau yang berupa budidaya tambak. Potensi ini dapat dikembangkan secara optimal sehingga dapat meningkatkan perekonomian lokal.

2. Sektor Kerajinan

Potensi Kecamatan Kraton sebagai gudang kupang dan kerang, mendapat perhatian tersendiri dari Pemerintah Pusat. Sebanyak 20 warga Desa Kalirejo mengikuti Pelatihan Kerajinan Kerang yang diselenggarakan oleh Sesditjen P2HP (Sekretariat Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan) Kementrian Kelautan dan Perikanan RI, dan bekerja sama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pasuruan, serta DAI Mutu MUI Kabupaten Pasuruan. Pelatihan kerajinan kerang ini nantinya diharapkan dapat menopang perekonomian bagi keluarga dan masyarakat disekitar Desa Kalirejo.

3. Industri

Kawasan Industri Terpadu Kraton ini bersebelahan dengan kawasan industri PIER Pasuruan, lalu-lintas keluar masuk barang sangat mudah dari-ke akses dermaga peti kemas Tanjung Perak Surabaya, dengan adanya jalur Tol Gempol. Dari Gempol-Surabaya, Surabaya-Gresik, Surabaya-Pulau Madura serta rencana jalan Tol Pasuruan-Gempol kawasan industri terpadu berlokasi di Desa Selotambak, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan. Produk dari industri ini adalah (Compressed natural gas, CNG) yaitu alternatif bahan bakar selain bensin atau solar atau biasa disebut BBG (Bahan Bakar Gas).

4. Konservasi

Kecamatan Kraton memiliki kawasan hutan mangrove yang dapat dijadikan sebagai kawasan konservasi. Jenis pohon mangrove didominasi tipe C jenis Tinjang. Lalu tipe  A jenis api api dan paling sedikit tipe B jenis bogem. Selain itu mangrove juga dapat

(39)

III-15

3.8 MASALAH 1. HIDROLOGI

Salah satu permasalahan yang ada di Kecamatan Kraton adalah rawan banjir. Banjir ini berasal dari sungai Welang yang bermuara di Desa Pulokerto. Sungai ini merupakan sungai perennial yang memiliki aliran sepanjang tahun sehingga pasa saat musim hujan debit aliran sungai sangat besar dan meluap ke daerah sekitarnya. Selain Desa Pulokerto, Desa Tambakrejo juga sering terjadi banjir.

2. LAHAN

Kecamatan Kraton yang mempuyai sumber daya di sektor kelautan dan perikanan yang melimpah, menyebabkan terjadinya konflik sosial antar desa. Dalam kasus yang telah terjadi adalah konflik antara warga Desa Kalirejo dengan Desa Semare. Namun konflik tersebut saat ini telah tuntas dengan kesepakatan perjanjian damai. (pasuruankab.go.id, 2014)

Gambar

Gambar 2.1 Sistem Perdesaan
Tabel 3.1 Penggunaan Lahan Kecamatan Kraton Tahun 2013 No  Jenis Penggunaan Lahan  Luas (Ha)  Prosentase
Tabel 3.5 Jumlah Penduduk menurut Mata Pencaharian Kec. Kraton
Tabel 3.9 Jumlah Pelanggan dan Konsumsi Energi Listrik Kec. Kraton Tahun  Jumlah Desa  Desa Berlistrik  Pelanggan  Konsumsi Energi
+7

Referensi

Dokumen terkait

Terminal adalah simpul dalam sistem jaringan transportasi jalan yang berfungsi pokok sebagai pelayanan umum antara lain berupa tempat untuk naik dan turun

Intervensi yang harus dilakukan pada dusun dan sektor prioritas (Dusun Melati pada sektor pertanian) adalah penanganan prasarana transportasi berupa peningkatan jaringan jalan

tidak terdapat transportasi umum yang melewati jalan tersebut. Sepanjang jalan kelurahan dan seluruh rumah penduduk di Seloharjod. sudah memiliki jaringan

Site berada di pusat kota, yaitu Kawasan Simpang Lima Semarang yang mudah dijangkau dengan berbagai jenis alat transportasi karena telah tersedia sarana dan prasarana berupa

3.1.1 Pengumpulan Data Data yang digunakan dalam analisis peta TAZ yang dilakukan adalah - Peta Batas administrasi Kecamatan Rungkut - Peta jaringan jalan sebagai dasar penentuan