• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tumpal Manik, SPd, MSi (Universitas Maritim Raja Ali Haji) ABSTRAKSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Tumpal Manik, SPd, MSi (Universitas Maritim Raja Ali Haji) ABSTRAKSI"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PRAKTEK EARNING MANAGEMENT MELALUI ACCRUAL DAN

MANIPULASI OPERASIONAL TERHADAP KINERJA JANGKA PANJANG

PERUSAHAAN SAAT PENAWARAN SAHAM TAMBAHAN

(Studi Empiris Periode Tahun 2005-2009)

Tumpal Manik, SPd, MSi

(Universitas Maritim Raja Ali Haji) ABSTRAKSI

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan bukti empiris tentang kebijakan manajemen laba melalui akrual dan manipulasi operasional pengaruhnya terhadap kinerja jangka panjang perusahaan. Dari 43 sampel perusahaan yang melakukan penawaran saham tambahan (right issue) pada periode tahun 2005–2009 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, earning management (manajemen laba) diukur dengan dua variabel akrual yaitu akrual diskresioner jangka pendek dan akrual diskresioner jangka panjang dan tiga variabel manipulasi aktivitas nyata,yaitu manipulasi aktivitas nyata melalui arus kas kegiatan operasi, manipulasi aktivitas nyata melalui biaya produksi dan manipulasi aktivitas nyata melalui biaya diskresioner. Pengujian dilakukan dengan statistik deskriptif, uji beda satu sampel, dan uji beda dua sampel berpasangan digunakan untuk menguji hipotesis penelitian.

Kata kunci :earning management, accrual, manipulasi data, kinerja perusahaan,seasoned equity offering.

PENDAHULUAN

Bursa Efek Indonesia (BEI) merupakan merupakan pasar untuk memperjual belikan berbagai instrumen keuangan jangka panjang seperti surat utang (obligasi), ekuiti (saham),reksadana, instrumen derivatif maupun instrumen lainnya sedangkan pasar modal merupakan sarana pendanaan bagi perusahaan swasta maupun institusi pemerintah untuk berinvestasi. Dengan demikian, pasar modal memfasilitasi berbagai sarana dan prasarana kegiatan jual beli dan kegiatan terkait bisnis lainnya karena pasar modal memiliki peran penting bagi perekonomian suatu negara menjalankan dua fungsi, yaitu pertama sebagai sarana bagi pendanaan usaha atau sebagai sarana bagi perusahaan untuk mendapatkan dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang diperoleh dari pasar modal dapat digunakan untuk pengembangan usaha, ekspansi, penambahan modal kerja dan lain-lain, kedua pasar modal menjadi sarana bagi masyarakat untuk berinvestasi pada instrument keuangan seperti saham, obligasi, reksa dana, dan lain-lain.

(2)

Kehadiran pasar modal memperbanyak pilihan sumber dana bagi perusahaan, pasar modal tumbuh menjadi salah satu leading

indicator perekonomian (Rivai, 2007), pasar modal diharapkan

mampu memberikan alternatif sumber dana eksternal yang berasal dari masyarakat (investor) bagi perusahaan.

Penawaran surat berharga tambahan saat seasoned equity

offering atau disebut right issue, Perusahaan dapat menjual hak

(right) kepada pemegang saham lama untuk membeli saham baru dengan harga tertentu (Rivai,2007). Pemilihan mekanisme penjualan sangat tergantung pada kondisi maupun strategi perusahaan. Selain menggunakan mekanisme penawaran right issue atau Seasoned Equity Offerings merupakan peristiwa yang dilakukan oleh perusahaan yang sudah go public melakukan penawaran ulang saham untuk memperoleh tambahan dana yang dibutuhkan untuk pengembangan usaha, pembayaran utang jatuh tempo, dan sebagainya karena penawaran saham tambahan melalui mekanisme right issue memerlukan biaya yang lebih murah.

Menurut Ewert dan Wagenhofer (2005), menyatakan bahwa manajemen laba melalui akrual dibatasi oleh operasi bisnis dan manipulasi akrual pada periode sebelumnya dapat melakukan teknik manajemen laba akrual dan manipulasi aktivitas nyata secara bersama-sama baik dengan cara substitusi maupun simultan. Tujuan perusahan dengan praktik manajemen laba adalah untuk menghindari adanya kerugian, mendapatkan kompensasi, memenuhi target laba, memperlihatkan kinerja yang baik dalam menghasilkan nilai atau keuntungan maksimal.

Peneliti ingin membuktikan perusahaan yang menerapkan

earning management melalui metode akrual diskresioner jangka panjang dan jangka pendek atau tindakan manajemen laba terhadap kinerja perusahaan jangka panjang saat seasoned equity offering atau saham tambahan (right issue) melalui komponen–komponen laporan keuangan, hal ini terkait dengan keinginan untuk menunjukkan kinerja yang lebih bagus. Beberapa hal tersebut melatarbelakangi penulis untuk meneliti masalah faktor yang memotivasi perusahaan melakukan aktivitas manipulasi laba atau manajemen laba (earnings management), termasuk tindakan manajemen laba pada saat penawaran saham tambahan khususnya pada saat seasoned equity offering peristiwa right issue terjadi di Pasar Modal Indonesia, maka penulis tertarik untuk menganalisis yang berjudul pengaruh praktek earning management melalui

accrual dan manipulasi operasional terhadap kinerja jangka panjang perusahaan saat penawaran saham tambahan periode tahun 2005 – 2009.

TINJAUAN TEORI

Manajemen Laba (Earnings management)

Istilah manajemen laba muncul sebagai konsekuensi langsung dari upaya-upaya manajer atau pembuat laporan keuangan untuk

(3)

melakukan manajemen informasi akuntansi, khususnya laba (earnings), demi kepentingan pribadi dan perusahaan. Manajemen laba itu sendiri tidak dapat diartikan sebagai suatu upaya negatif yang merugikan karena tidak selamanya manajemen laba berorientasi pada manipulasi laba. Manajemen laba menjadi menarik untuk diteliti karena dapat memberikan gambaran akan perilaku manajer dalam melaporkan kegiatan-kegiatan usaha. Menurut Mulford dan Comiskey (2002), membagi definisi manajemen laba menjadi dua, yaitu : Manajemen laba dalam artian sempit didefinisikan sebagai perilaku manajer untuk bermain dengan komponen discretionary accruals dalam menentukan besarnya laba dan manajemen laba dalam arti luas merupakan tindakan manajer untuk meningkatkan laba yang dilaporkan.

Ditinjau dari laporan keuangan, manajer dapat menggunakan praktik manajemen laba untuk menentukan analisa laba perusahaaan. Jika pada suatu kondisi, dimana pihak manajemen ternyata tidak berhasil mencapai target laba yang ditentukan. Jika perusahaan akan menjual sahamnya kepada publik, manajer perlu memberikan informasi kepada publik mengenai kondisi keuangan perusahaannya. Hal ini mendorong manajer untuk melakukan earnings management. Dalam konteks penelitian ini, istilah manajemen laba didefinisikan sebagai upaya-upaya manajemen untuk menyusun laporan keuangan sehingga dapat menyesatkan para pengambil keputusan dalam menilai kinerja.

Memanipulasi aktivitas nyata digunakan apabila manipulasi akrual tidak mencapai target. Selain itu, manipulasi akrual hanya dapat dilakukan pada akhir periode untuk mencapai target, apabila tidak terpenuhi maka manajemen dapat menggunakan manipulasi melalui aktivitas nyata yang dapat dilakukan sepanjang tahun dan sulit dideteksi. Menurut Stice dan Skousen (2004), berikut ini ringkasan beberapa pola teladan manajemen laba antara lain : pertama, Taking a bath, ini dapat berlangsung selama periode tekanan organisasi atau reorganisasi.

Laba yang dilaporkan melalui menajemen laba acrual

merupakan selisih antara kas masuk bersih dari hasil operasi perusahaan dengan laba yang dilaporkan dalam laporan laba-rugi, yang bisa bersifat akrual diskresioner dan akrual

nondiskresioner. Akrual diskresioner terdiri dari akrual diskresioner jangka pendek dan akrual diskresioner jangka panjang (Sulistiyono, 2008). Akrual diskresioner jangka pendek memiliki waktu yang relatif pendek misalnya satu tahun atau kurang dari satu tahun (satu periode akuntansi) sedangkan akrual diskresioner jangka panjang memiliki jangka waktu lebih dari satu tahun (satu periode akuntansi).

Saham Tambahan (Right Issue)

Perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia untuk mendapatkan tambahan dana yang dimanfaatkan untuk membiayai kegiatan ataupun membayar utang yang jatuh tempo melalui

(4)

penawaran saham kepada publik melalui dua cara antara lain

unseasoned securities dan seasoned securities. Unseasoned securities adalah penawaran surat berharga kepada publik melalui

mekanisme IPO. Sedangkan seasoned securities adalah surat berharga tambahan diluar surat berharga yang telah beredar di masyarakat yang ditawarkan kepada publik pada saat seasoned

equity offering (SEO) untuk penawaran right issue.

Right issue merupakan penawaran sekuritas baru yang

memberikan prioritas kepada pemegang saham lama dengan tujuan supaya tidak terjadi dilusi (dilution) yaitu penurunan secara proporsional terhadap jumlah saham yang diterbitkan oleh perusahaan. Dengan cara ini perusahaan mendistribusikan hak opsi kepada pemegang saham agar dapat memperoleh sekuritas baru dengan harga khusus. Tujuan korporasi (corporate action) melakukan penerbitan saham baru (right issue) ada dua alasan yaitu dapat mengurangi biaya karena emiten tidak harus membayar

fee untuk jasa penjamin (underwriter) dan penerbitan saham baru

(right issue) menyebabkan jumlah saham perusahaan bertambah sehingga diharapkan dengan langkah tersebut akan dapat meningkatkan frekuensi perdagangan, yang berarti meningkatkan likuiditas saham serta meningkatkan modal disetor (Warsini, 2009).

Kinerja Jangka Panjang Perusahaan

Laporan keuangan merupakan salah satu media yang digunakan untuk mengukur kinerja jangka panjang perusahaan dengan aktual dan merupakan aspek dari kinerja manajer. Menurut Sulistyanto (2008) ukuran kinerja untuk membantu menerapkan strategi dan pengendalian manajemen sebagai faktor keberhasilan penting (critical success factors) jangka pendek dan jangka panjang. Ukuran kinerja merupakan suatu mekanisme memperbaiki perusahaan mengimplementasikan starteginya dengan berhasil tanpa melakukan manipulasi data keuangan perusahaan.

Menurut Antony dan Govindarajan (2005), peningkatan kinerja jangka pendek dan jangka panjang, tidak cukup dengan ukuran–ukuran keungan faktanya dapat menjadi fungsional dengan alasan sebagai berikut; (1)Mendorong tindakan jangka pendek yang tidak sesuai dengan kepentingan jangka panjang perusahaan.(2)Manager tidak mengambil tindakan jangka panjang, guna memperoleh jangka pendek, (3)Menggunakan laba jangka pendek sebagai satu–satunya tujuan dapat mendistorsi komunikasi antara manager dengan manajemen puncak (CEO). (4)Pengendalian keuangan yang ketat dapat memotivasi manajer untuk memanipulasi data laporan keuangan.

HIPOTESIS

Dari penjelasan tersebut di atas, maka hipotesis penelitian dinyatakan sebagai berikut :

(5)

H1a : Diterima; Rata-rata nilai DCA positif mengindikasikan bahwa perusahaan yang melaksanakan right issue terindikasi melakukan kebijakan manajemen laba satu tahun sebelum pelaksanaan right issue dan satu tahun setelah pelaksanaan

right issue melalui akrual diskresioner jangka pendek. H2a :Diterima; Nilai ABN_CFO negatif menyatakan bahwa,

perusahaan cenderung melakukan manipulasi aktivitas nyata melalui arus kas kegiatan operasional

H1b :Diterima; Rata-rata nilai DLA positif mengindikasikan bahwa perusahaan yang melaksanakan right issue terindikasi melakukan kebijakan manajemen laba melalui akrual diskresioner jangka panjang pada saat penawaran right

issue, diperkuat oleh uji Wilcoxon Signed Ranks.

H2a :Diterima; Nilai ABN_CFO negatif menyatakan bahwa, perusahaan cenderung melakukan manipulasi aktivitas nyata melalui arus kas kegiatan operasional, dengan menggunakan

uji one sample t-Test, uji rerata.

H2b :Diterima; Nilai ABN_PROD positif menyatakan bahwa, perusahaan melakukan manipulasi aktivitas nyata melalui biaya produksi, menggunakan uji one sample t-Test, uji rerata.

H2c :Diterima; Nilai ABN_DISEXP positif (>0); menyatakan bahwa dari sampel diduga cenderung tidak melakukan manipulasi aktivitas nyata melalui biaya diskresioner.

H3 : Ditolak; hasil uji pada pengujian persamaan 1 dan 2 nilai CAR 1 tahun dan CAR 2 tahun adalah negatif , semakin rendah nilai CAR 1, CAR 2, maka semakin rendah kinerja jangka panjang perusahaan.

METODOLOGI PENELITIAN

Data penelitian ini mengambil data sekunder dari data historik tahun 2005 sampai 2009, dimana data tersebut berupa annual

report (laporan keuangan tahunan) perusahaan yang telah tersusun

dalam arsip dan telah dipublikasikan dapat diperoleh dari buku ICMD (Indonesian Capital Market Directory), Osiris, JSX Fact Book, dan website BEI (www.jsx.co.id), dengan menggunakan model regresi berganda. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang terdiri dari 401 sampel perusahaan diseleksi sehingga menghasilkan 34 perusahaan pada periode 2005–2009 dan bentuk penelitian ini adalah penelitian crosscectional data dengan metode kuantitatif purposive sampling.

Variabel terikat (Dependent variable) dalam penelitian ini adalah Kinerja jangka panjang perusahaan ini diukur menggunakan

Cummulative Abnormal Return (CAR) dihitung secara harian dan

diakumulasikan dalam tahunan. Sedangkan variabel bebas (indepent) terdiri dari lima variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua variabel manipulasi laba akrual yaitu akrual diskresioner jangka pendek dan akrual diskresioner jangka panjang serta tiga variabel manipulasi aktivitas yang diproksikan masing-masing oleh arus kas kegiatan

(6)

operasi, biaya produksi, dan biaya diskresioner diuraikan dibawah ini.

1.Akrual Diskresioner Jangka Pendek

Prosedur yang digunakan untuk menghitung akrual diskresioner jangka pendek sebagai berikut:

a) Menghitung akrual jangka pendek (current accrual):

CAi,t = ∆ [Aktiva Lancar – Kas] - ∆ [Utang Lancar –

Utang Jk. Panjang yang Segera Jatuh Tempo]

b) Mendeteksi nilai ekspektasi akrual jangka pendek sebagai berikut: t i t i t i t i t i t i TA REV a TA a TA CA , 1 , , 2 1 , 1 1 , , = 1 + Δ +

c) Mencari akrual non-diskresioner jangka pendek sebagai berikut: + = 1 , , , 1 , 1 , 1 Δ Δ t i t i t i t i t i TA TR REV a TA a NDCA

d) Menghitung nilai akrual diskresioner jangka pendek sebagai berikut : t i DCA, = it t i t i NDCA TA CA , 1 , ,

2. Akrual Diskresioner Jangka Panjang

a) Akrual jangka panjang dapat dicari dengan mengurangkan total akrual dengan akrual jangka pendek sebagai berikut: t i t i t i

NI

CFO

TAC

,

=

, ,

b) Nilai akrual jangka panjang sebagai berikut:

t i t i t i

TAC

CA

LAC

,

=

, ,

c) Nilai akrual diskresioner jangka panjang sebagai berikut: 1 , , t i t i TA TAC = 1

a

1 , 1 t i TA +

a

2 , 1 , Δ t i t i TA REV + 3

a

1 , , t i t i TA PPE + єi,t

d) Total akrual non-diskresioner dihitung i sebagai berikut: t i

NDTAC

, =

a

1 1 ,

1

t i

TA

+

a

2 , 1 , , Δ Δ t i t i t i TA REC REV + 3

a

1 , , t i t i TA PPE + є i,t

e) Nilai akrual diskresioner jangka panjang sebagai berikut: t i t i t i t i TA NDLA LTAC DLA , , , , =

(7)

3.Manipulasi Aktivitas Nyata melalui Arus Kas kegiatan

Operasi. Model regresi untuk arus kas kegiatan operasi

normal berikut: 1 t t A CFO = 0

a

+

a

1 1 1 t A + β1 t 1 t A S + β2 1 Δ t t A S + єi,t

a)Manipulasi Aktivitas Nyata melalui Biaya Produksi

Biya produksi memanipulasi laba melalui manipulasi aktivitas nyata. 1 t t

A

PROD

= 0

a

+

a

1 1 1 t A + β1 t 1 t A S + β2 1 Δ t t A S + β3 1 1 Δ t t A S + єi,t

b) Manipulasi Aktivitas Nyata melalui Biaya Diskresioner Biaya diskresioner berikut:

1 t t A DISEXP =

a

0+

a

1 1 1 t A + β 1 1 t t A S + єi,t

c) Pengujian hipotesis H1a dan H1b. Model pengujian uji

paired sample t-test digambarkan sebagai berikut: n Sd X X hitung t / 0 ) ( 1 2 =

d) Pengujian hipotesis H2a, H2b, dan H2c dilakukan pengujian tingkat signifikansi menggunakan uji One Sample t-Test dengan pengujian hipotesis 2 arah (two tail) sebagai berikut: n Sd M hitung t / μ 0 =

e) Pengujian pengaruh manajemen laba terhadap kinerja saham

jangka panjang dibagi dalam dua model persamaan untuk

membedakan pengaruh dari akrual diskresioner jangka pendek (DCA) dan akrual diskresioner jangka panjang (DLA).

a) Model Persamaan 1 (DCA):

CARt = α0+ α1DCAi+ α2NDCAi+ α3ABN_CFOi+ α4ABN_PRODi+

α5ABN_DISEXPi+ α6LOG(TASit) + є

b) Model Persamaan 2 (DLA):

CARt= α0+ α1DLAi+ α2NDLAi+ α3ABN_CFOi+ α4ABN_PRODi+

α5ABN_DISEXPi+ α6LOG(TASit) + є

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Uji Statistik Deskriptif

Berdasarkan tabel statistik deskriptif dapat dilihat dari keseluruhan sampel penelitian juga memiliki rata-rata total aktiva pada saat right issue sebesar 604 triliun rupiah dengan nilai maksimum 63 triliun rupiah dan nilai minimum 1,4 milyar rupiah. Nilai rata-rata akrual diskresioner jangka pendek (DCA) seluruh sampel perusahaan positif yakni sebesar 0,9731 dan nilai akrual diskresioner jangka panjang (DLA) nilai positif yakni

(8)

sebesar 1,3839. Jika dibandingkan dengan nilai akrual non-diskresioner jangka pendek (NDCA) dan akrual non-non-diskresioner jangka panjang masing-masing sebesar 0,9591 dan 0,6388.

Untuk variabel abnormal arus kas kegiatan operasi (ABN_CFO), abnormal biaya produksi (ABN_PROD), dan abnormal biaya diskresioner (ABN_DISEXP) yang diukur berdasarkan konsep manipulasi aktivitas nyata dapat dilihat bahwa nilai rerata seluruh sampel masingmasing sebesar 0,0096 untuk ABN_CFO, -0,4732 untuk ABN_PROD, dan 0,0000 untuk ABN_DISEXP. Sesuai dengan indikasi adanya manipulasi aktivitas nyata.

Nilai ABN_CFO yang secara rata-rata dibawah nilai 0 (-0,0096<0) mengindikasikan perusahaan melakukan manipulasi aktivitas nyata melalui arus kas kegiatan operasi. Demikian halnya dengan nilai ABN_PROD yang secara rata-rata berada diatas (0,4732>0) mengindikasikan perusahaan terbukti melakukan manipulasi aktivitas nyata melalui biaya produksi.

Pembahasan Hasil Uji Hipotesis

Hasil uji hipotesis diukur dengan dua variabel yaitu akrual diskresioner jangka pendek (DCA) dan akrual diakresioner jangka panjang (DLA) dan manipulasi aktivitas nyata yang diukur dengan tiga variabel yaitu abnormal arus kas kegiatan operasi (ABN_CFO), abnormal biaya produksi (ABN_PROD), dan abnormal biaya diskresioner (ABN_DISEXP).

a. Pengujian Hipotesis 1 (H1a dan H1b)

Untuk menguji hipotesis H1a dan H1b menggunakan uji beda Paired

Sample t-Test yaitu menguji kemampuan generalisasi rata-rata dua

sampel berpasangan yang mendapat dua perlakuan berbeda. Wilcoxon

test digunakan untuk mengetahui besarnya selisih angka yang

bertanda negatif dan angka yang bertanda positif dengan tingkat keyakinan pada 5%. Ketentuan untuk pengambilan keputusan bila signifikansi <0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima.

Rata-rata nilai DCA positif mengindikasikan bahwa perusahaan yang melaksanakan right issue terindikasi melakukan kebijakan Earning Manajement (manajemen laba) satu tahun sebelum pelaksanaan right issue dan satu tahun setelah pelaksanaan right

issue melalui akrual diskresioner jangka pendek (DCA) Mean nilai positif (0,0938 dan 0,7058) indikasi Earning Manajement dan diskresioner jangka panjang (DLA). Nilai Mean (0,2870 dan 1,5242) positif ada indikasi Earning Manajement

b. Pengujian Hipotesis 2 (H2a, H2b, dan H2c)

Pengujian hipotesis kedua ini akan menguji dugaan bahwa perusahaan sampel diduga melakukan manipulasi laba melalui aktivitas nyata pada tiga variabel yaitu abnormal arus kas kegiatan operasi (ABN_CFO), abnormal biaya produksi (ABN_PROD), dan abnormal biaya diskresioner (ABN_DISEXP). Untuk menguji

(9)

masing-masing hipotesis tersebut menggunakan uji One Sample

t-Test dengan pengujian hipotesis 2 arah (two tail).

Hasil pengujian hipotesis 2a menunjukkan bahwa dari keseluruhan sampel, manipulasi aktivitas nyata melalui arus kas kegiatan operasi (ABN_CFO) memiliki rerata -0,0096 karena rerata berada di bawah nilai 0 (-0,0096<0) maka sampel diduga cenderung melakukan manipulasi aktivitas nyata melalui arus kas kegiatan operasi. Dilihat dari nilai signifikansi rerata abnormal dari arus kas kegiatan operasi memiliki nilai probabilitas sebesar 0,013. Oleh karena nilai signifikansi di bawah α=5% (0,013 < 5%) maka hipotesis 2a yang menyatakan bahwa perusahaan diduga cenderung melakukan manipulasi aktivitas nyata melalui arus kas kegiatan operasi tidak dapat ditolak pada tingkat α=5%.

Hasil pengujian hipotesis 2b menunjukkan bahwa dari keseluruhan sampel, manipulasi aktivitas nyata melalui biaya produksi (ABN_PROD) memiliki rerata 0.4732 karena rerata berada di diatas 0 (0,4732 > 0) maka sampel diduga cenderung melakukan manipulasi aktivitas nyata melalui biaya produksi.

Hasil pengujian hipotesis 2c menunjukkan bahwa dari keseluruhan sampel, manipulasi aktivitas nyata melalui biaya diskresioner (ABN_DISEXP) memiliki rerata 0,00001 karena rerata berada di atas nilai 0 (0,006>0) maka sampel diduga cenderung tidak melakukan manipulasi aktivitas nyata melalui biaya diskresioner.

c. Pengujian Hipotesis 3 (H3)

Pengujian hipotesis 3 ini dilakukan berdasar atas hasil pengujian hipotesis untuk membuktikan ada atau tidaknya tindakan manajemen laba melalui variabel akrual yaitu akrual diskresioner jangka pendek dan akrual diskresioner jangka panjang dan variabel manipulasi aktivitas nyata yaitu arus kas kegiatan operasi abnormal, biaya produksi abnormal, dan biaya diskresioner abnormal.

Dari pengujian hipotesis ketiga pada model persamaan 1 diketahui nilai Adjusted R2 sebesar 0,733 (73,3%) pada model CAR

1 tahun atau dengan kata lain semua variabel yang dimasukkan dalam model (DCA, NDCA, ABN_CFO, dan LOG_TAS) dapat menjelaskan variasi kinerja saham selama 1 tahun yang dihitung dengan menggunakan metode CAR sebesar 0,733%. Sedangkan pada model pengujian untuk CAR 2 tahun dketahui nilai Adjusted R2 turun

menjadi sebesar 0,295 (29,5%) atau dengan kata lain semua variabel yang dimasukkan dalam model CAR 2 tahun (DCA, NDCA, ABN_CFO, dan LOG_TAS) dapat menjelaskan variasi kinerja saham selama 2 tahun yang dihitung dengan menggunakan metode CAR sebesar 29,5%.

(10)

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Hasil pengujian dengan menggunakan SPSS 11.5, yang meliputi uji multikolinearitas, uji heteroskedasitas, uji auto kolerasi, uji model regresi dan analisis uji pelanggaran asumsi klasik, menunjukkan bahwa manajemen laba melalui akrual dan manipulasi aktivitas nyata dan memiliki pengaruh terhadap kinerja jangka panjang perusahaan yang melakukan penawaran right issue.

Secara umum, hasil penelitian sejalan dengan hasil penelitian–penelitian sebelumnya, sesuai dengan hipotesa dimana akrual diskresioner jangka pendek positif mengindikasikan bahwa perusahaan terindikasi melakukan kebijakan manajemen laba satu tahun sebelum pelaksanaan right issue dan satu tahun setelah pelaksanaan right issue, arus kas kegiatan operasional negatif menyatakan bahwa, perusahaan cenderung melakukan manipulasi aktivitas nyata, akrual diskresioner jangka panjang nilai positif mengindikasikan bahwa terindikasi melakukan kebijakan manajemen laba, arus kas kegiatan operasional nilai negatif menyatakan bahwa perusahaan cenderung melakukan manipulasi,

Saran Penelitian Selanjutnya

Karena adanya keterbatasan–keterbatasan yang dikemukakan diatas maka penulis menyadari bahwa penelitian ini untuk dikembangkan bagi penelitian selanjutnya. Penulis mengajukan saran–saran yang dapat dikembangkan dan diperbaiki dari penelitian ini sebagai berikut :

1. Untuk periode pengamatan hendaknya melakukan penelitian dengan periode yang baru dan menambah variabel independen yang diduga berpengaruh terhadap kinerja jangka panjang dari praktek menejemen laba.

2. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat menemukan lebih banyak lagi aktivitas tentang manipulasi aktivitas nyata dan memasukkannya ke dalam penelitian.

3. Penelitian selanjutnya juga diharapkan dapat menggolongkan perusahaan berdasarkan jenis industri sehingga dapat lebih spesifik diketahui pengaruh manajemen laba melalui akrual dan manipulasi aktivitas nyata terhadap kinerja saham jangka panjang perusahaan di setiap perusahaan.

(11)

DAFTAR PUSTAKA

Anthony Robert. N dan Givindarajan Vijay (2005), Manajemen Control System, Mc Grawi Hill, Terjemahan Sistem Pengendalian Manajemen 2, Salemba 4, Jakarta.

Ewert, R. dan Alfred W. (2005). “Economic Effects of Tightening

Accounting Standards to Restrict Earnings Management.” The

Accounting Review, Forthcoming.

Harahap, Sofyan Syafri (2007), “Teori Akuntansi” Edisi Revisi. PT Raja Grafindo, Jakarta.

Mulford Charles. W. dan Comisky Eugene. E (2002), “The Financil

Number Game”, Dtecting Creative Accounting Practise,

Published Simultaneously in Canada.

Roychowdhury, S. (2006). “Earnings Management through Real

Activities Manipulation.” Journal of Accounting and Economics. 42: 335-370.

Rivai Veithzal, Permata Andria. (2007). “Financial Institution

Management”. Konvensional dan Sharia System.

Scott; Willian. Robert (2003), “Financial Accounting Teory Thirt

Edition”, University of Waterloo. Torornto, Ontorio

Stice, Earl. K; Stice , James. D dan Skousen, Fred. K (2004). “Intermediate Accounting” 15th Edition. Thomson Asia Pte

Ltd.

Sulistiyanto, Sri. H (2008), “Manajemen Laba Teori dan Model Empiris”, PT Grasindo, Anggota Ikapi. Jakarta.

Warsini, Sabar, (2009), “Manajemen Investasi”. Penerbit Semesta Media. Jakarta

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Based on the research question, the data analysis would be taken from to what extent group project improves students’ interaction, what difficulties which 4A students face along

Praktek pengalaman lapangan (PPL) adalah semua kegiatan kurikuler yang harus dilaksanakan oleh mahasiswa praktikan sebagai pelatihan untuk menerapkan teori

Kondisi Financial Distress pada Perusahaan Jasa yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2009- 2014”. Dalam penyusunan skripsi ini penulis telah mendapat

Beberapa perbedaan penelitian itu antara lain objek penelitian akan di lakukan pada BMT yang mengangkat tema sumber daya manusia yang berjudul analisis pemberian insentif

anak di mana dalam rancangan ini dapat membantu guru dalam mengembangkan kesadaran fonologi anak dalam ruang lingkup yang kompleks dari unit terbesar ke yang

Menindaktanjuti Surat Edaran dari Sekretariat Daerah Kota.

Dari penelitian ini dihasilkan beberapa hal yang baru, hasil pengujian benda uji dengan penambahan bahan tambah ban bekas sebagai pengganti agregat kasar berdasarkan spec