BAB III
METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan di arena futsal “ADA futsal” di Kabupaten Sragen. 2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada minggu ke tiga dan keempat bulan Agustus tahun 2015 yaitu tanggal 23 Agustus jam 15.00 sampai selesai yang diikuti tim futsal Tenda Biru dan tanggal 30 Agustus jam 08.00 sampai selesai yang diikuti tim futsal Dinamit.
B. Populasi dan Sampel 1. Populasi
Penelitian ini menggunakan komunitas pemain futsal di Kabupaten Sragen yang terdiri dari komunitas 2 tim futsal yaitu Tenda Biru dengan jumlah populasi 22 dan Dinamit dengan jumlah populasi 20 orang.
2. Sampel
Dalam penelitian ini sampel yang digunakan menggunakan kriteria inklusi yaitu: a. Pemain futsal Putra usia 18-30 tahun.
b. Tinggal dan bermain futsal di Kabupaten Sragen. c. Sudah bermain sejak 1 tahun yang lalu.
d. Pemain menjadi anggota klub futsal sejak 1 tahun yang lalu. e. Tidak sedang sakit.
Kriteria ekslusi
a. Subjek membatalkan kesediannya untuk menjadi responden penelitian.
Untuk menentukan besarnya sampel apabila subjek kurang dari 100, lebih baik diambil semua. Jika subjeknya lebih besar dapat diambil antara 20-25 % (Arikunto, 2002). Jumlah sampel yang masuk kriteria inklusi dari tim futsal Tenda Biru sebanyak 18 pemain dan dari tim futsal Dinamit sebanyak 14 pemain. Sehingga total sampel berjumlah 32 orang.
C. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah kuantitatif, menggunakan rancangan Analisis Faktor Konfirmatori. Analisis faktor adalah salah satu metode statistik multivariat yang mencoba menerangkan hubungan antara sejumlah perubahan-perubahan yang saling independen antara satu dengan yang lain sehingga bisa dibuat satu atau lebih kumpulan perubahan yang lebih sedikit dari jumlah perubahan awal. Analisis faktor digunakan untuk mengetahui faktor-faktor dominan dalam menjelaskan suatu masalah.
Salah satu multivariat yang digunakan dalam bidang olahraga untuk mengukur variabel dominan antropometri dan kondisi fisik dalam keterampilan bermain futsal dimana variabelnya yaitu (tujuh variabel bebas dan satu variabel terikat) yang telah dikumpulkan akan diolah dan dianalisa menggunakan Program Statistik Komputerisasi dengan sistem SPSS (Statistical Product and Service Solutions) Versi 22 dan menggunakan AMOS 20.
Menurut Latan (2012: 74) bahwa, “Analisis faktor konfirmatori atau sering disebut
confirmatory factor analysis (CFA) digunakan untuk menguji dimensionalitas suatu
konstruk”. Sedangkan Widarjono (2010: 275) menyatakan, “Analisis faktor merupakan cara untuk mencari atau mendapatkan sejumlah variabel indikator yang mampu memaksimumkan korelasi antara variabel indikator. Ada dua jenis analisis faktor yaitu analisis faktor exploratori (exploratory factor analysis = EFA) dan analisis faktor konfirmatori (confirmatory factor analysis)”. Pada analisis eksploratori kita mencari sejumlah indikator untuk membentuk faktor umum (common factor) tanpa ada landasan teori sebelumnya. Dengan kata lain analisis eksporatori sebuah metode untuk membangun sebuah teori (theory
building). Sedangkan pada analisis faktor konfirmatori kita mencari sejumlah variabel
indikator yang membentuk variabel yang tidak terukur langsung tersebut didasarkan pada landasan teori yang ada.
Menurut (Sarwono dan Budiono 2012: 280), diagram jalur SEM berfungsi untuk menunjukkan pola hubungan antara variabel yang kita teliti. Dalam SEM pola hubungan antar variabel akan diisi dengan variabel yang diobservasi, variabel laten dan indikator. Didasarkan pola hubungan antar variabel, SEM dapat diuraikan menjadi dua bagian yaitu: model pengukuran, dan model struktural. Model pengukuran mengidentifikasi hubungan atar variabel yang diobservasi dan yang tidak diobservasi. Dengan kata lain, model pengukuran menyediakn hubungan nilai-nilai antara instrumen pengukuran variabel-variabel indikator yang diobservasi dengan konstruk-konstruk yang dirancang untuk diukur (variabel-variabel laten yang tidak diobservasi).
D. Variabel Penelitian
1. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari 7 (tujuh) variabel bebas (independent) dan 1 (satu) variabel terikat (dependent) dengan rincian yaitu:
2. Variabel bebas (independent) dalam penelitian ini terdiri dari: a. Indeks Massa Tubuh (IMT)
b. Rasio panjang tungkai dan tinggi badan c. Power
d. Kecepatan e. Kelincahan
f. Koordinasi mata-kaki g. Kekuatan
3. Variabel terikat (dependent) yaitu, keterampilan bermain futsal yaitu Dribbling.
E. Definisi Operasional
Untuk memberikan penafsiran yang sama terhadap faktor antropometri dan biomotor dominan penentu kemampuan dribble futsal, maka perlu dijelaskan definisi dari variabel-variabel penelitian sebagai berikut:
Definisi :
Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan indikator status gizi subjek untuk mengetahui BB/TB ideal atau tidak. Pengukuran dilakukan secara langsung menggunakan timbangan berat badan merk “ Camry ” dengan ketelitian 0,1 kg dan alat pengukur tinggi badan merk “ Microtoise GEA ” dengan ketelitian 0,1 cm dengan skala data rasio.
IMT usia 18-30 tahun ( WHO, 2005 ) orang asia. a) IMT < 18,5 : Kurang Gizi
b) IMT 18,6 – 23 : Baik c) IMT 23,1 – 25 : Overweight d) IMT 25,1 – 27 : Obesitas 1 e) IMT 27,1 – 30 : Obesitas 2
2. Rasio panjang tungkai dan tinggi badan
Rasio panjang tungkai dan tinggi badan merupakan anggota gerak bawah yang terdiri dari seluruh kaki, mulai dari pangkal paha sampai dengan kaki. Tungkai adalah anggota gerak badan bagian bawah yang terdiri dari tulang anggota gerak bawah bebas (skeleton extremitas inferior liberae). Tungkai diukur dengan pita pengukur dari dasar alas permukaan testi berdiri sampai bagian tulang yang terluar di sebelah lateral pada paha (pada trochanter mayor).
Tinggi badan adalah ukuran panjang tubuh dari dasar alas permukaan tempat testi berdiri tegak hingga bagian atas kepala (vertex) dalam besaran centimeter. Rasio panjang tungkai dan tinggi badan merupakan perbandingan antara panjang tungkai dan tinggi badan. Perbandingan atau rasio tersebut didapat dengan membagi panjang tungkai dengan tinggi badan di kali 100%. Panjang tungkai dan tinggi badan diukur dalam satuan cm dengan skala data rasio. (Nur Subekti : 119)
3. Kelincahan
Kelincahan merupakan kemampuan untuk mengubah arah dan posisi tubuh atau bagian-bagiannya secara cepat dan tepat. Untuk mengukur kelincahan dalam penelitian ini dengan shuttle run test. Waktu yang dicapai merupakan kemampuan kelincahan yang diukur dalam satuan detik dengan skala data rasio. (Juklak Tes & evaluasi PPLP/SKO, 2013 : 20)
4. Koordinasi mata-kaki
Koordinais mata-kaki merupakan kemampuan integrasi antara mata sebagai pemegang fungsi utama untuk melihat obyek dan sasaran, sedangkan kaki sebagai pemegang fungsi untuk melakukan suatu gerakan tertentu. Untuk mengukur koordinasi mata-kaki dengan soccer wall volley test. Jumlah yang dicapai merupakan kemampuan koordinasi mata-kaki dengan skala data rasio. (Ismaryati, 2008: 55)
5. Power otot tungkai
Power otot tungkai merupakan kemampuan otot-otot tungkai untuk dikerahkan secara maksimal dalam waktu yang singkat. Power otot tungkai diukur dengan tes vertical
Jump. Raihan tertinggi yang dicapai merupakan kemampuan power otot tungkai yang
diukur dengan satuan centimeter dengan skala data rasio. (Mulyono, 2009: 75)
6. Kecepatan
Kecepatana dalah kemampuan seseorang untuk mengerjakan gerakan berkesinambungan dalam bentuk yang sama dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Kecepatan diukur dengan Tes kecepatan menggunakan tes lari 30 meter dengan skala data rasio. (Ismayarti, 2008:58)
7. Kekuatan
Kekuatan adalah kemampuan untuk membangkitkan ketegangan otot terhadap suatu keadaan (Garuda Mas, 2000 : 90). Kekuatan yang diukur adalah kekuatan otot perut dengan tes Baring duduk 60 detik dengan skala data rasio.
8. Keterampilan bermain futsal
Keterampilan bermain futsal merupakan hasil tes dan unsur-unsur dasar bermain futsal yang didasarkan penilaian dari masing-masing item tes keterampilan bermain futsal. Salah satu macam tes keterampilan bermain futsal adalah tes keterampilan pada lapangan bujur sangkar dengan skala ukur detik dan skala data rasio. (Siem Plooyer, 1970:152-157)
F. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan tes dan pengukuran dari PPLP/SKO/PPLM (2013). Jenis tes dalam penelitian ini sebagai berikut: 1. Indeks Massa Tubuh
a. Tujuan
Mengetahui indeks massa tubuh dengan mengukur BB/TB (Kg/M2) b. Prosedur dan petunjuk tes terlampir.
Cara pengukuran tinggi badan:
1) Paku mikrotoa ditempelkan pada dinding lurus datar setinggi 2 meter. Angka 0 (nol) pada lantai yang datar rata.
2) Sepatu atau sandal dilepaskan.
3) Subjek berdiri tegak sikap sempurna, kaki lurus, tumit, pantat, punggung, dan kepala belakang harus menempel pada dinding dan muka menghadap lurus dengan pandangan ke depan.
4) Mikrotoa diturunkan sampai rapat pada kepala bagian atas, siku-siku harus lurus menempel pada dinding.
5) Angka pada skala yang nampak pada lubang dalam gulungan mikrotoa menunjukkan tinggi badan subjek.
Cara pengukuran berat badan:
1) Skala awal timbangan dipastikan berada pada skala 0 (nol). 2) Sepatu / sandal dilepaskan.
3) Subjek berdiri tegak sikap sempurna.
c. Angka pada skala timbangan menunjukkan berat badan subjek. Skala data IMT bersifat rasio (Juklak Tes & evaluasi PPLP/SKO, 2013 : 20)
2. Rasio panjang tungkai dan tinggi badan a. Tujuan
Mengetahui rasio panjang tungkai dan tinggi badan b. Prosedur dan petunjuk tes terlampir
1) Testi berdiri tegak dengan punggung, tumit, pantat dan bahu menempel pada dinding, kedua kaki rapat.
2) Mengukur Panjang Tungkai : Diukur jarak antara tulang ekor terakhir sampai menyentuh lantai dengan menggunakan pita pengukur.
3) Mengukur Tinggi Badan : Diukur jarak antara kepala bagian atas terakhir sampai menyentuh tumit/dasar lantai dengan menggunakan Stadio meter c. Prosedur dan petunjuk tes terlampir
1) Testi berdiri tegak dengan punggung, tumit, pantat dan bahu menempel pada dinding, kedua kaki rapat.
2) Mengukur Panjang Tungkai : Diukur jarak antara tulang yang terluar di sebelah lateral pada paha (pada trochanter mayorr) sampai menyentuh lantai dengan menggunakan pita pengukur.
3) Mengukur Tinggi Badan : Diukur jarak antara kepala bagian atas terakhir sampai menyentuh tumit/dasar lantai dengan menggunakan Stadio meter. d. Pencatatan hasil tes
Untuk mengetahui rasio panjang tungkai dan tinggi badan dilakukan pengukuran terhadap panjang tungkai dan tinggi badan. Panjang tungkai diukur panjangnya dari tumit sampai pada pangkal paha dengan menggunakan meteran, dan diukur dalam satuan cm. Tinggi badan diukur tingginya pada posisi berdiri tegak lurus dari tumit (lantai tempat berdiri) sampai ujung kepala dalam satuan cm. Rasio panjang tungkai dan tinggi badan didapat dari, panjang tungkai dibagi dengan tinggi badan dikali 100%. (Juklak Tes & evaluasi PPLP/SKO, 2013 :20)
3. Tes Kelincahan
a. Tujuan untuk mengetahui kecepatan dan kelincahan peserta dalam mengubah arah. b. Perlengkapan:
1. Lintasan datar dan rata tiak licin dengan ukuran panjang 3 meter.
2. Stopwatch
3. Meteran 4. Cone 5. Alat tulis d. Prosedur:
- Dari garis start testi berlari secepat mungkin sampai kedua kaki meleati garis batas dan kembali lagi kegaris start dihitung satu kali
- Pelaksanaan lari dilakukan sampai 8 ( delapan ) kali sehingga menempuh jarak 24 meter.
e. Penilaian: kecepatan terbaik adalah waktu tempuh tercepat-cepatnya. (Juklak Tes & evaluasi PPLP/SKO, 2013 : 20)
4. Tes Koordinasi Mata-Kaki
a. Tujuan untuk mengetahuan kemampuan kecermatan pandangan dan keakuratan tendangan. Tes koordinasi mata-kaki dengan soccer wall volley test.
b. Perlengkapan : - Bola kaki
- Lapangan tes yang terdiri dari :
Daerah sasaran yang dibuat dengan garis di dinding yang rata dengan ukuran panjang 2,44 m dan tinggi dari lantai 1,22 m.
Daerah tendangan dibuat di dalam di depan daerah sasaran berbentuk segi empat dengan ukuran 3,65 m dan 4,23 m. Daerah tendangan berjarak 1,83 m dari dinding daerah sasaran.
c. Prosedur:
- Testi berdiri di daerah tendangan, siap menendang bola.
- Dengan diberi aba-aba “ya” testi mulai menendang sebanyak mungkin, boleh menggunakan kaki yang manapun. Sebelum menendang kembali bola harus diblok atau dikontrol dengan kaki yang lain.
- Setiap menendang bola harus diawali dengan sikap menendang yang benar. - Testi melakukan 3 kali ulangan, masing-masing 20 detik.
- Tidak boleh menghentikan atau mengontrol bola dengan tangan.
- Sebelum melakukan tes, testi boleh mencoba terlebih dahulu sampai merasa terbiasa
d. Penilaian :
- Tiap tendangan yang mengenai sasaran memperoleh nilai satu. - Untuk memperoleh nilai :
Bola harus mengenai sasaran
Bola harus dikontrol atau diblok dahulu sebelum ditendang kembali.
Pada waktu menendang atau mengontrol bola testi tidak boleh keluar dari daerah tendangan.
Bila menghentikan atau mengontrol bola dengan nilainya dikurangi 1.
Bila bola tidak mengenai sasaran, tidak mendapatkan nilai.
Nilai total yang diperoleh adalah jumlah nilai tendangan yang terbanyak dari ketiga ulangan yang dilakukan. (Kirkendall, Gruber & Johnson, 1980:247-248)
2,44 M
1,22 M
1,83 M Garis batas menendang bola
3,65 M
4,23 M
Gambar 16 : Lapangan Tes Koordinasi Mata-Kaki (Sumber: Ismaryati 2008: 55)
5. Tes Power Otot Tungkai
Menggunakan tes loncat tegak/Vertical Jump (Johnson and Nelson, 1986), Mulyono (2009: 75) dengan Koefisien reliabilitas 0,97 dan validitas 0,98. Alat/fasilitas:
a. Dinding yang rata dan lantai yang rata dan cukup luas.
b. Papan berwarna gelap berukuran 30 x 150 cm, berskala satuan ukuran sentimeter, yang digantung pada diinding, dengan ketinggian jarak antara lantai dengan angka 0 (nol) pada skala 150cm.
c. Serbuk kapur dan alat penghapus
TEMBOK/SASARAN
d. Formulir pencatatan hasil tes dan alat tulis. Pelaksanaan:
Testi berdiri menghadap dinding dengan salah satu lengan diluruskan ke atas, lalu dicatat tinggi jangkauan tersebut. Kemudian testi berdiri dengan bagian samping tubuhnya ke arah tembok, lalu dia mengambil sikap jongkok sehingga lututnya membentuk sudut kurang lebih 45 derajat.
Setelah itu testi berusaha melompat ke atas setinggi mungkin. Pada saat titik tertinggi dari lompatan itu ia segera menyentuhkan jari dari salah satu tangannya pada papan ukuran, kemudian mendarat dengan kedua kaki. Testi diberi kesempatan 3 kali percobaan.
Skor: ambil tinggi raihan yang tertinggi dari ketiga lompatan tersebut sebagai hasil tes
vertical jump. Hasil vertical jump diperoleh dengan cara raihan tertinggi dari salah satu
lompatan dikurangi tinggi raihan tanpa lompatan.
Gambar 17 : Tes Loncat Tegak Mulyono (2009: 75)
6. Tes Kecepatan
Tes kecepatan menggunakan tes lari 30 meter
Instrumen pengambilan data untuk tes kecepatan lari 30 meter :
1. Stop watch menurut keperluan
2. Bendera start 1 buah
4. Lintasan lurus dan rata dengan jarak 30 meter 5. Pengetes:
1) Starter 1 orang
2) Pengambil waktu menurut keperluan 3) Pengawas dan pencatat 1 orang 6. Pelaksanaan tes:
1) Start dilakukan dengan start berdiri
2) Pada satu ujung kakinya sedekat mungkin dengan garisstart 3) Pada aba-aba “siap „ teste siap berlari
4) Pada aba-aba “ya” teste berlari secepat-cepatnya menempuh jarak 30 meter sampai melewati garis finish
5) Bersamaan aba-aba “ya” stop watch dijalankan dan dihentikan pada saat testee mencapai garis finish.
7. Pencatat Hasil :
1) Hasil yang dicatat adalah waktu yang dicapai untuk menempuh jarak tersebut 2) Waktu dihitung sampai sepersepuluh detik (Depdikbud, 1977, 1977, 5-6).
G A A R 1,2 R I m I 1 S S S 2 F I T N A 3 I R S T H 30 meter
Gambar 18 : lintasan lari tes lari 30 meter (Ismayarti 2008: 58) 7. Baring duduk 60 detik
Tujuan : Untuk mengukur kekuatan otot perut Alat/fasilitas : Stopwatch, lantai, peluit, alat tulis
Pelaksanaan : Berbaring terlentang dilantai atau rumput, kedua lutut ditekuk dengan sudut kurang lebih 90 º , kedua tangan jari-jarinya terselip diletakan dibelakang kepala atas (lihat gambar 7). Peserta lain memegang atau menekan kedua pergelangan kaki, agar kaki tidak terangkat. Gerakan aba-aba “ya” peserta bergerak mengambil sikap duduk (lihat gambar 8) sehingga kedua sikunya menyentuhkedua paha, kemudian kembali kesikap permulaan (lihat gambar 9) Gerakan ini dilakukan berulang-ulang dengan cepat tanpa istirahat, selama 60 detik.
Gambar 19. sikap permulaan baring duduk
Gambar 20. Gerakan baring duduk menuju sikap duduk (sumber : Pusat Kesegaran Jasmani dan Rekreasi, 2000:15)
Gambar 21. Sikap duduk kedua siku menyentuh paha (sumber : Pusat Kesegaran Jasmani dan Rekreasi, 2000:15)
8. Tes Keterampilan Bermain Futsal Tes Dribbling
Tes keterampilan pada lapangan bujur sangkar: 1. Tujuan
Tes keterampilan pada lapangan bujur sangkar ini bertujuan untuk mengukur kecepatan, kelincahan dan keterampilan menggiring bola.
2. Alat atau fasilitas a. Bola sepak bola.
b. Pancang atau tiang bendera 9 buah dengan tinggi 1,5 meter.
c. Lapangan bujur sangkar dengan ukuran : 15x15 meter, tiap sudut A, B, C dan D dipasang pancang. Sudut antara C dan D dipasang 5 buah pancang masing-masing berjarak 2,5 meter.
e. Kapur sebagai pembatas lapangan. f. Peluit.
g. Blangko penilaian dan alat tulis. 3. Petugas pelaksana
a. Starter merangkap pengambil waktu dan pembaca hasil. b. Pengambil bola.
c. Pencatat hasil. 4. Pelaksanaan
a. Sikap permulaan
Testi berdiri di sudut A atau garis start di mana bola diletakkan pada sudut tersebut. b. Gerakan
1) Setelah ada aba-aba “Mulai”, bola ditendang dari sudut A ke sudut C, diusahakan agar bola berhenti di sudut C. Setelah menendang segera lari cepat ke sudut B.
2) Setelah melewati sudut B, roll depan sekali dan segera lari ke sudut C. Setelah sampai di sudut C segera memungut bola dan dibawa ke sudut D dengan menggiring melalui pancang-pancang.
3) Setelah sampai di sudut D bola dipungut dan disundul ke arah sudut A. Setelah itu segera lari cepat ke sudut A atau garis finish.
5. Penilaian
a. Waktu yang dicapai mulai dari start hingga finish, dicatat dalam detik. b. Tiap detik diberi nilai 10.
c. Nilai maksimum 350.
Contoh: prestasi 25 detik, nilainya = 350 – (25x10) = 100 (Siem Plooyer, 1970:152-157)
G. Teknik Analisis Data
Metode statistik yang dapat mempertimbangkan sekian banyak faktor untuk menjelaskan hubungan yang terjadi dalam sebuah fenomena sosial atau alam yang kompleks. Metode itu dinamakan statistik multivariat. Kata “multi” menunjukkan kemampuan metode tersebut, sekaligus juga ciri metode itu, untuk mengolah sekian variabel secara bersama-sama dalam menjawab persoalan statistik tertentu.
Menurut Hair Joseph , dkk (1995: 364-417) bahwa, “Analisis faktor adalah suatu analisis yang digunakan untuk menganalisis struktur interrelationship atau korelasi diantara sejumlah variable”. Langkah-langkah dalam melakukan analisis faktor dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan program AMOS versi 20, untuk menganalisis hubungan kausalitas dalam model struktural yang diusulkan. Beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum melakukan pengujian model struktural dengan menggunakan program amos, meliputi:
1. Asumsi Normalitas
Dalam SEM terutama bila diestimasi dengan tehnik maximum likelihood mensyaratkan sebaiknya asumsi normalitas pada data terpenuhi. Untuk menguji asumsi normalitas maka digunakan nilai z statistik untuk skewness dan kurtosisnya.
Curran et al., dalam Ghozali dan Fuad (2005) membagi distribusi data menjadi 3 bagian, yaitu:
a. Normal jika nilai skewness kurang dari 2 dan nilai kurtosis kurang dari.
b. Moderately non-normal, yaitu besarnya data yang tidak normal adalah sedang. Nilai
skewness berkisar antara 2 sampai 3 dan nilai kurtosis antara 7 sampai 21.
c. Extremely non-normal, yaitu distribusi data yang tidak normal sangat besar dimana nilai skewness diatas 3 dan nilai kurtosis diatas 21.
2. Asumsi Outliers
Outliers merupakan observasi data yang memiliki karakteristik unik yang sangat berbeda jauh dari observasi-observasi lainnya dan muncul dalam bentuk nilai ekstrim, baik untuk sebuah variabel tunggal atau variabel kombinasi (Hair et al. dalam Ferdinand,
2002). Dalam analisis multivariate adanya outliers dapat diuji dengan statistik Chi Square (x2) terhadap nilai mahalanobis distance square pada tingkat signifikansi 0,001 dengan
degree of freedom sejumlah variabel yang digunakan dalam penelitian (Ferdinand, 2002),
dalam hal ini variabel yang dimaksud adalah jumlah item pengukuran pada model, bila terdapat observasi yang mempunyai nilai mahalanobis distancesquare yang lebih besar dari Chi Square maka observasi tersebut dikeluarkan dari analisis. Umumnya perlakuan terhadap outliers adalah dengan mengeluarkannya dari data dan tidak diikutsertakan dalam perhitungan berikutnya. Bila tidak terdapat alasan khusus untuk mengeluarkan
outliers, maka observasi dapat diikutsertakan dalam analisis selanjutnya. Evaluasi outliers
ini dilakukan dengan bantuan program komputer AMOS versi 20. 3. Evaluasi Atas Kriteria Goodness Of Fit
Menurut Hair et al (1998), tidak ada alat uji statistik tunggal untuk menguji hipotesis mengenai model dalam analisis SEM, tetapi menggunakan berbagai fit index untuk mengukur derajat kesesuaian antara model yang disajikan dan data yang disajikan. Fit index yang digunakan meliputi:
a. Analisis Chi Square Statistic
Tujuan analisis ini adalah mengembangkan dan menguji sebuah model yang sesuai dengan data. Chi square sangat bersifat sensitif terhadap sampel yang terlalu kecil maupun yang terlalu besar. Oleh karenanya, pengujian ini perlu dilengkapi dengan alat uji lainnya. Nilai Chi-squares merupakan ukuran mengenai buruknya fit suatu model (Ghozali dan Fuad, 2005). Data pengujian dengan nilai X2 yang rendah dan menghasilkan tingkat signifikansi yang lebih besar dari 0,05 akan mengindikasikan tidak adanya perbedaan yang signifikan antara matriks kovarians yang diestimasi.
b. Goodness Of Fit Index (GFI)
Indeks yang menggambarkan tingkat kesesuaian model secara keseluruhan yang dihitung dari residual kuadrat dari model yang diprediksi dibandingkan data yang sebenarnya. Nilai GFI ≥ 0,90 atau yang mendekati 1 mengisyaratkan model yang diuji memiliki kesesuaian yang baik.
c. The Root Mean Square Error of Approximation (RMSEA)
RMSEA merupakan indeks pengukuran yang mencoba memperbaiki kecenderungan statistic chi square yang menolak model dengan jumlah sampel yang besar. Nilai RMSEA antara 0,5 dan 0,08 mengindikasikan indeks yang baik untuk menerima kesesuaian sebuah model (Ghozali, 2005).
d. Normed Chi Square (CMIN/DF)
CMIN/DF adalah ukuran yang diperoleh dari nilai chi square dibagi dengan
degree of freedom. Indeks ini merupakan indeks kesesuaian parsimonious yang
mengukur hubungan goodness of fit model dan jumlah-jumlah koefisien estimasi yang diharapkan untuk mencapai tingkat kesesuaian.
Tabel 2 : Indikator Goodnes-of-Fit Model
Kriteria Control of Value Keterangan
X2 Chi Square Diharapkan kecil Baik
X2 Significance Probability ≥ 0,05 Baik
GFI ≥ 0,90 Baik RMSEA ≤ 0,08 Baik AGFI ≥ 0,90 Baik CFI ≥ 0,90 Baik TLI ≥ 0,90 Baik NFI ≥ 0,90 Baik CMIN/DF < 2,00 – 5,00 Baik