BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Komunikasi merupakan suatu hal yang tidak pernah terlepas dari

Teks penuh

(1)

1

1.1 Latar Belakang Masalah

Komunikasi merupakan suatu hal yang tidak pernah terlepas dari kehidupan manusia. Definisi komunikasi menurut Shanon dan Weaver adalah bentuk interaksi manusia yang saling mempengaruhi satu sama lain, sengaja atau tidak sengaja dan tidak terbatas pada bentuk komunikasi verbal, tetapi juga dalam hal ekspresi muka, lukisan, seni, dan teknologi.1 Komunikasi menjadi sangat penting dalam kehidurd

Komunikasi massa merupakan proses sebuah organisasi dalam menyampaikan pesan kepada khalayak yang tersebar untuk mencapai tujuan tertentu. Komunikasi massa memiliki karakteristik, diantaranya komunikasi ditunjukan pada khalayak tersebar, heterogen dan anonim. Pada proses komunikasi massa diperlukan adanya media sebagai alat untuk menyampaikan pesan. Media yang digunakan tentunya memiliki ciri khas masing-masing.

Media massa merupakan sarana bagi komunikasi massa, media massa telah menjadi sumber dominan bukan saja bagi individu untuk memperoleh gambaran dan cerita sosial, tapi juga bagi masyarakat dan kelompok secara

1

(2)

kolektif. Media menyuguhkan budaya yang juga dibaurkan dengan informasi dan hiburan.2

Media massa, khususnya film, semakin banyak dijadikan sebagai objek studi atau penelitian. Gejala ini seiring dengan perkembangan dan kian meningkatnya peran media massa sebagai suatu institusi penting dalam kehidupan masyarakat, serta media juga seringkali berperan sebagai wahana pengembangan bentuk seni dan simbol, juga dalam pengertian pengembangan tata cara mode, gaya hidup, dan norma-norma.

Film sebagai salah satu atribut media massa menjadi sarana komunikasi yang paling efektif, karena film dalam menyampaikan pesannya yang begitu kuat sehingga dapat mempengaruhi seseorang. Film banyak memberikan gambaran-gambaran hidup dan pelajaran bagi penontonnya. Film juga menjadi salah satu media komunikasi yang sangat jitu karena kualitas audio dan visual yang disuguhkan, film menjadi terpaan yang sangat ampuh bagi pola pikir kognitif masyarakat.

Film berperan sebagai sarana baru yang digunakan untuk menyebarkan hiburan yang sudah menjadi kebiasaan terdahulu, serta menyajikan cerita, peristiwa, music, drama, lawak dan sajian teknis lainnya kepada masyarakat umum. Kehadiran film sebagian merupakan respon terhadap ”penemuan” waktu luang diluar jam kerja dan jawaban terhadap kebutuhan menilai menikmati waktu senggang secara hemat dan sehat bagi kelas pekerja untuk menikmati unsur

2

Dennis McQuail, Teori Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Edisi Kedua. Jakarta : Erlangga. 1996 hal 3

(3)

budaya yang sebelumnya telah dinikmati oleh orang-orang yang berada di “atas” mereka.3

Film merupakan gambar hidup yang juga disebut dengan movie. Film juga secara kolektif sering disebut juga cinema. Gambar hidup adalah suatu bentuk seni, bentuk popular dari hiburan dan juga bisnis. Industri film adalah bisnis yang memberikan keuntungan, kadang-kadang menjadi mesin uang yang seringkali demi uang, keluar dari kaidah artistik film itu sendiri.4

Film atau gambar bergerak adalah bentuk dominan dari komunikasi massa visual di belahan dunia ini. Sinematografi adalah kata serapan dari bahasa inggris cinematography yang berasal dari bahasa latin kinema “gambar”. Sinematografi sebagai ilmu terapan merupakan bidang ilmu yang membahas tentang teknik menangkap gambar dan menggabung-gabungkan gambar tersebut sehingga menjadi rangkaian gambar yang dapat menyampaikan ide (dapat mengembangkan cerita).5 Film sebagai penemuan teknologi baru telah muncul pada akhir abad kesembilan belas, tetapi apa yang dapat diberikannya sebenarnya tidak terlalu baru jika dilihat dari segi isi atau fungsi. Film berperan sebagai sarana baru yang digunakan untuk menyebarkan hiburan yang sudah menjadi kebiasaan terdahulu, serta menyajikan cerita, peristiwa, musik, drama, lawak, dan sajian teknis lainnya kepada masyarkat umum.6

3

Ibid. Hal 4

4

Elvinaro Ardiyanto dan Lukiati K. Erdinaya.Komunikasi Massa:Suatu Pengantar. Bandung. PT. Remaja Rosda Karya. 2004 hal 143

5

James Monaco.Cara Menghayati Sebuah Film.Yayasan Citra.1977 hal 34

6

(4)

Film merupakan salah satu bentuk media massa elektronik yang sangat besar pengaruhnya kepada komunikan, dampak yang ditimbulkannya bisa positif atau negatif. Jadi fungsi media massa dan tugas media massa harus benar-benar diperhatikan oleh komunikator, terutama yang menggunakan media massa elektronik. Film dalam menyampaikan pesan-pesan komunikasinya sangat berpengaruh terhadap komunikan.7

Menurut sejarah, film yang kita kenal sekarang merupakan perkembangan lanjut dari fotografi. Seperti diketahui, penemu fotografi adalah Joseph Nicephore Niepce dari Prancis pada 1826. Penyempurnaan fotografi terus berlanjut yang kemudian mendorong rintisan percetakan film/gambar hidup. Dua nama penting dalam rintisan penemuan film adalah Thomas Alva Edison (Amerika Serikat) dan Lumiere bersaudara (Prancis). Edison menciptakan kinetoskop (kinetoscope) yang bentuknya menyerupai sebuah kotak berlubang untuk mengintip pertunjukan. Adapun Lumiere bersaudara merancang sinematograf (cinematographe) yang dipatenkan pada 1895. Keunggulan alat ini terletak pada adanya mekanisme gerakan tersebut (intermittent movement). Gerakan tersendat ini mirip dengan mesin jahit, yang memungkinkan setiap frame dari film yang diputar akan berhenti sesaat untuk disinari lampu proyektor. Akibatnya, hasil proyeksi tidak tampak berkedip-kedip.8

Film pertama kali diperkenalkan dan dipertunjukan kepada publik secara luas oleh Lumiere bersaudara (Louis dan Aguste) di Grand Cafe di Boulevard de

7

James Monaco, opcit., hal 35

8

Rahayu Supanggah. Sejarah kebudayaan Indonesia dan Seni Media. Raja Graifindo Persada.2009. hal 13

(5)

Capucines No. 14 Paris, Prancis, tahun 1895. Selanjutnya, tahun itu dinyatakan sebagai awal mula lahirnya film didunia. Kegemparan bukan hanya dirasakan penontonnya pada zaman itu, tapi juga sebagian orang yang menganggap bahwa film seharusnya sudah harus dianggap muncul jauh sebelum pertunjukan dari Lumiere bersaudara. Thomas Alva Edison mungkin akan menjadi orang yang paling berang diantaranya. Sebagai seorang penemu jempolan, antara lain menemukan kinetoskop (sebuah kotak berlubang untuk mengintip pertunjukan), sebenarnya film sudah lahir seiring dengan kelahiran kinetoskop tersebut. Bahkan, dikabarkan Lumiere bersaudara itu adalah penggagum alat temuan Edison ini. Namun apa boleh buat konsep film sebagai pertunjukan itu nyatanya muncul dengan kriteria : ditonton secara massal didalam sebuah gedung pertunjukan, menggunakan karcis masuk dan suguhan pertunjukan “gambar hidup”. Dengan catatan tersebut, film diawali dari kondisi pertunjukan yang bersifat massal, adanya konsep teknlogi film, ekonomi dan hiburan. Hal-hal inilah yang menggerakkan perkembangan film sampai sekarang, yang umumnya berupa pengelolaan secara industrial semacam film di Hollywood.9

Masalah-masalah rasial terus memegang peran kunci dalam kehidupan di Amerika. Beberapa waktu lalu, Senat Amerika menyatakan permintaan maaf kepada warga kulit hitam karena tidak mengambil tindakan selama seabad yang lalu untuk mencegah terjadinya ‘lynching.’ Lynching adalah penganiayaan,

(6)

penggantungan, penembakan atau penikaman oleh massa. Dulu, pelaku kejahatan-kejahatan seperti ini tidak dihukum.

Ribuan warga kulit hitam Amerika tewas akibat lynching dari tahun 1880an sampai 1960an. Pada hari Senat menyatakan permintaan maaf, Mahkamah Agung membatalkan hukuman mati terhadap seorang warga kulit hitam, karena jaksa penuntut dengan sengaja menyingkirkan semua warga kulit hitam dari dewan juri dalam sidang ini. Mulai sekarang, pemilihan juri di Amerika harus mempertimbangkan faktor ini. Ini adalah satu lagi upaya untuk membuat warga kulit hitam berpartisipasi penuh dalam kehidupan di Amerika. Beberapa pengadilan dilakukan akhir-akhir ini untuk kasus pembunuhan berdasar ras yang terjadi di Amerika bagian selatan lebih dari 40 tahun yang lalu, pada saat gencar-gencarnya gerakan Hak Sipil.

Waktu itu negara bagian tidak mau mengadilinya. Kalau pemerintah federal melakukannya, juri setempat tidak mau menyatakan terdakwa bersalah. Tetapi yang berumur 80 tahun pekan lalu dinyatakan bersalah dalam pembunuhan tahun 1964 terhadap tiga orang pekerja hak sipil di luar kota Philadelphia, Mississippi. Dakwaan diajukan oleh negara bagian Mississippi. Juri setempat, yang terdiri dari sembilan warga kulit putih dan tiga orang kulit hitam, menyatakan Killen bersalah, dan ia dijatuhi hukuman penjara 60 tahun. Berita mengenai vonis ini menjadi berita utama di seluruh Amerika. Vonis ini dapat dikatakan kecil, dan sudah sangat terlambat, tetapi menjadi lambang kemenangan dalam perang sejak lama melawan rasisme di Amerika. Empat puluh satu tahun setelah kejadian, Killen baru diadili.

(7)

Pembunuhan terhadap ketiga orang aktivis hak sipil itu, dua warga kulit putih dan seorang kulit hitam, mencekam Amerika. Tahun 1964 ratusan orang datang ke Mississippi, negara bagian yang dengan resmi melakukan pemisahan antara warga kulit hitam dan kulit putih. Mereka datang untuk berpartisipasi dalam Freedom Summer, atau Musim Panas Kebebasan. Tujuan utamanya adalah mendukung tuntutan warga kulit hitam bagi hak untuk memilih. Perang Saudara mengakhiri perbudakan tahun 1865.

Tetapi seratus tahun kemudian, beberapa negara bagian tetap tidak memberikan kepada warga kulit hitam akses ke tempat umum, warga kulit hitam mendapat pendidikan di sekolah-sekolah yang kurang baik, dan sangat sulit bagi mereka untuk memberikan suara dalam pemilihan. Sistem segregasi, atau pemisahan ras, sering ditegakkan dengan kekerasan. Tahun 1960an, di bawah pimpinan Martin Luther King Jr., warga kulit hitam Amerika mempersoalkan sistem itu. Banyak warga kulit putih yang mendukung mereka, di badan-badan legislatif dan di lapangan.

Undang-undang Hak Asasi dan Undang-Undang Hak Pilih tahun 1964 dan 1965 menyingkirkan banyak perintang hak sipil untuk warga non-kulit putih. Tahun 1964 kurang dari tujuh persen warga kulit hitam di Mississippi terdaftar sebagai pemilih. Sekarang, 75 persen dari mereka terdaftar, dan separuh dari semua pejabat pilihan rakyat adalah orang kulit hitam. Ketika Undang-Undang Hak Pilih disahkan, di seluruh Amerika hanya ada sekitar 100 warga kulit hitam yang menduduki jabatan melalui pemilihan. Sekarang, jumlahnya hampir 10 ribu orang. Mengapa pengadilan Killen dilakukan begitu lama setelah terjadinya

(8)

pembunuhan? Sebuah kelompok yang terdiri dari warga kulit hitam dan kulit putih di Philadelphia, Mississippi akhirnya berhasil menyeret Killen, yang sesumbar sendiri bahwa ia merencanakan pembunuhan itu, ke pengadilan, karena mereka ingin menghapuskan stigma ini dari kota mereka.

Apa arti semua ini? Artinya, ras masih merupakan masalah yang rumit di Amerika. Tetapi dalam isu-isu hukum penting, mayoritas warga Amerika mendukung usaha sekuat tenaga untuk mengurangi ketidaksetaraan, meskipun mungkin prosesnya menyakitkan dan memalukan. Tidaklah sehat untuk menutup-nutupi luka lama yang tidak pernah sembuh. Menjatuhkan hukuman 60 tahun penjara terhadap seorang manula, minta maaf dalam hal lynching, dan mengubah undang-undang mengenai susunan juri, adalah tiga langkah kecil. Isu-isu sulit, terutama yang menyangkut ekonomi, tetap ada antara warga kulit putih dan kulit hitam di Amerika, dan sekarang dengan warga keturunan Hispanik, kelompok minoritas terbesar di Amerika. Warga keturunan Asia juga kadang-kadang mengalami diskriminasi ras.

Meskipun peristiwa-peristiwa yang baru terjadi menunjukkan bahwa di Amerika masih ada rasisme dan intoleransi, peristiwa-peristiwa itu juga menunjukkan kencenderungan Amerika untuk menempatkan penyakit-penyakit sosial dalam pengadilan terbuka. Warga Amerika lebih suka mengalami publisitas buruk daripada memendam masalah-masalah sosial yang ada. Mereka tahu bahwa hanya dengan cara inilah masalah-masalah yang ada akan dapat diselesaikan.10

10

(9)

Film “12 Years a Slave” adalah sebuah film drama sejarah epik Amerika Serikat – Britania Raya tahun 2013 yang diadaptasi dari memoar tahun 1853 berjudul sama mengenai Solomon Northup, seorang negro merdeka kelahiran New York yang diculik di Washington, D.C.pada tahun 1841 dan dijual sebagai budak. Ia bekerja di perkebunan di negara bagian Louisiana selama dua belas tahun sebelum dibebaskan. Edisi pertama memoar Northup, yang disunting oleh Sue Eakin dan Joseph Logsdon pada tahun 1968, telah ditelusuri dengan saksama dan dipastikan keakuratannya.

Film ini merupakan kisah nyata berlatarkan tahun 1841, Solomon Northup (Chiwetel Ejiofor) seorang negro merdeka yang bekerja sebagai tukang kayu dan pemain biola terampil, dan tinggal bersama istri dan dua anaknya di Saratoga Springs, New York. Dua pria, Brown dan Hamilton (Scoot McNairy dan Taran Killam) menawarinya pekerjaan sebagai musisi dua mingguan, tetapi mereka mencekoki Northup dengan minuman di sebuah restoran sampai mabuk dan ia terbangun dalam keadaan terantai di sebuah ruang minim cahaya seperti penjara dan dua orang berkulit putih datang menghampiri Northup, Northup pun berusaha menjelaskan tentang dirinya bahwa ia adalah seorang yang merdeka dari Saratoga, New York., tetapi salah satu dari mereka mengatakan bahwa saat ini Northup bukan warga merdeka dari Saratoga, melainkan seorang negro pelarian yang berasal dari Georgia, karena Northup tidak mengakui bahwa ia adalah seorang negro pelarian maka ia dipukuli berulang kali, disana Northup tak sendiri ada negro lainnya yang hendak dijual ke tempat perbudakan.

(10)

Kemudian Northup dikirim ke New Orleans dan diberi nama "Platt", dengan identitas seorang budak pelarian dari Georgia, Platt akhirnya dibeli oleh seorang pemilik perkebunan bernama William Ford (Benedict Cumberbatch). Northup berhasil menjalin hubungan baik dengan Ford, seorang master yang cukup baik hati. Di perkebunan Ford, Northup merintis jalur air untuk mengangkut kayu dengan cepat dan efektif ke seberang sungai, dan Ford menghadiahinya sebuah biola sebagai ungkapan terima kasih. Tukang kayu di perkebunan Ford yang rasis bernama John Tibeats (Paul Dano) membenci Northup, dan mulai berupaya melecehkannya secara verbal.

Ketegangan antara Tibeats dan Northup meningkat, Tibeats menyerang Northup, dan Northup melawan balik. Sebagai pembalasan, Tibeats membawa teman-temannya berupaya untuk menggantung Northup di pohon, ia terjerat kesakitan selama berjam-jam. Ford menyatakan bahwa untuk menyelamatkan hidup Northup, ia harus dijual kepada Edwin Epps (Michael Fassbender). Northup mencoba menjelaskan kepada Ford bahwa ia sebenarnya bukanlah seorang budak. Ford menanggapinya dengan berkata bahwa "ia tidak bisa mendengar hal ini" dan menyatakan "ia memiliki utang yang harus dibayar" sehubungan dengan harga pembelian Northup.

Epps percaya bahwa hak untuk menyiksa para budak diperbolehkan oleh Alkitab. Para budak diharuskan untuk memanen kapas setidaknya 200 pon per hari, kalau tidak akan dicambuki. Seorang budak perempuan muda bernama Patsey (Lupita Nyong'o) mampu memanen kapas lebih dari 500 pon per hari dan

(11)

dipuji oleh Epps. Istri Epps (Sarah Paulson) cemburu dan seringkali menyakiti Patsey. Epps juga berulang kali memerkosa Patsey.

Epps mengira bahwa para budak yang baru dipekerjakan telah menyebabkan munculnya wabah cacing kapas, wabah yang menurutnya dikirim oleh Tuhan. Ia menyewakan para budak tersebut kepada perkebunan tetangga saat musim panen. Ketika bekerja di sana, Northup menerima kebaikan pemilik perkebunan, yang memberinya uang koin setelah bermain biola di sebuah perayaan ulang tahun pernikahan.

Setelah Northup kembali ke perkebunan Epps, ia memanfaatkan uang tersebut untuk membayar seorang pekerja kulit putih dan mantan pengawas perkebunan (Garret Dillahunt) untuk mengeposkan suratnya kepada temannya di New York. Si pekerja kulit putih setuju untuk membantu Northup dan menerima uangnya, tetapi ia berkhianat dengan melaporkannya kepada Epps. Northup yang terdesak akhirnya mampu meyakinkan Epps bahwa laporan tersebut hanyalah kebohongan. Sambil menangis, Northup membakar surat yang hendak dikirimnya ke New York, satu-satunya harapannya untuk meraih kebebasan.

Penyiksaan terhadap Patsey semakin memburuk. Patsey ingin mati dan meminta Northup untuk membunuhnya, namun ia menolak. Suatu hari, Epps marah besar setelah mengetahui Patsey menghilang dari perkebunannya. Ketika Patsey kembali, Epps memerintahkan anak buahnya untuk menelanjangi dan mengikat Patsey di sebuah tiang, dihasut oleh istrinya, Epps memaksa Northup untuk mencambuk Patsey. Northup enggan mematuhi perintah Epps, dan akhirnya

(12)

Epps mengambil cambuk dari tangan Northup dan mencambuki Patsey dengan brutal.

Selama masa penyembuhan Patsey, Northup mulai bekerja membangun paviliun rumah Epps bersama seorang pekerja Kanada bernama Bass (Brad Pitt). Bass tidak disukai oleh Epps setelah ia mengungkapkan penentangannya terhadap perbudakan. Disisi lain, Northup mulai mempercayai Bass dan menceritakan mengenai penculikannya. Northup meminta Bass untuk membantunya mengeposkan surat ke Saratoga Springs. Dengan mempertaruhkan hidupnya, Bass setuju untuk melakukannya.

Suatu hari, perkebunan tempat Northup bekerja dikunjungi oleh sheriff setempat. Sheriff, yang datang bersama seorang pria lain dengan kereta kuda, memanggil Northup yang sedang bekerja. Sheriff mengajukan sejumlah pertanyaan kepada Northup untuk mencocokkan jawabannya dengan fakta-fakta kehidupannya di New York. Northup mengenali pria lain yang datang bersama sheriff sebagai penjaga toko yang ia kenal dari Saratoga. Pria tersebut ternyata datang untuk membebaskannya, dan keduanya berpelukan. Meskipun Epps menghalangi dan Patsey menangisi kepergiannya, Northup bergegas meninggalkan perkebunan.11

Film ini merupakan film ketiga yang disutradarai oleh Steve McQueen, dan diskenarioi oleh John Ridley. Chiwetel Ejiofor berperan sebagai Solomon Northup, yang telah menerima banyak pujian atas aktingnya dalam film ini. Pengambilan gambar utama berlangsung di New Orleans, Louisiana, dari tanggal

11

(13)

27 Juni hingga 13 Agustus 2012, dengan biaya produksi $20 juta. Lokasi syuting yang digunakan meliputi empat perkebunanbersejarah, yakni Felicity, Magnolia, Bocage, dan Destrehan. Dari keempat lokasi ini, Magnolia adalah perkebunan yang paling mirip dengan perkebunan tempat Northup diperbudak.

“12 Years a Slave” tayang perdana pada ajang Festival Film Telluride tanggal 30 Agustus 2013, diikuti oleh Festival Film Internasional Toronto 2013 pada 6 September, Festival Film New York pada 8 Oktober, dan Festival Film Philadelphia pada 19 Oktober 2013. Film ini dirilis secara terbatas di 19 bioskop Amerika Serikat pada tanggal 18 Oktober 2013, dan dirilis secara resmi tanggal 8 November 2013, serta tanggal 10 Januari 2014 di Britania Raya.

Alasan penulis mengangkat “12 Years A Slave” adalah karena film ini telah dinobatkan sebagai film terbaik 2013 oleh sejumlah media, termasuk BBC, Entertainment Weekly, Rolling Stone, New York Times, dan Washington Post. Film ini juga menerima beragam penghargaan dan nominasi, di antaranya tujuh nominasi Golden Globe Awards 2014 (memenangkan Film Drama Terbaik) dan sembilan nominasi Academy Award 2014 (memenangkan Film Terbaik, Aktris Pendukung Terbaik, dan Skenario Adaptasi Terbaik), serta Film Terbaik BAFTA

Awards 2014, Screen Actors Guild Awards 2014 (Pemeran Pendukung Wanita Terbaik/Lupita Nyong'o), American Film Institute Awards 2014 (Film Tahun ini) dan Broadcast Film Critics Association Awards 2014 (Film Terbaik). Selain itu 12 Years a Slave juga masuk nominasi Oscar 2014 di 9 kategori.12

12

(14)

Alasan lain peneliti memilih film “12 Years A Slave” untuk diteliti karena dibandingkan film lainnya dengan tema yang serupa seperti Lincoln (2012), Django Unchained (2012), 42 (2013) dan The Butler (2013). Film “12 Years A Slave” garapan Setve Mc Queen inilah yang paling banyak menyuguhkan adegan-adengan penyiksaan budak yang dapat membuat penonton merasa iba.

Mengangkat isu kemanusian dengan nada serius memang daya utama tersendiri bagi film ini. Rasisme begitu dekat dengan diskriminasi seperti pencambukan, pemerkosaan, gantung leher dan juga bugil.

Film mengenai rasisme ini memberikan suatu pembelajaran kepada setiap insan bahwa pengeksploitasian seorang manusia merupakan sifat penjajahan yang menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan.

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut peneliti ingin melakukan penelitian analisa semiotika Charles S. Pierce terhadap tanda-tanda mengenai penggambaran rasisme dalam film “12 Years A Slave”.

1.2 Fokus Penelitian

Untuk melaksankan sebuah penelitan yang akan diteliti oleh peneliti berbagai penelitian istilah perlu dijelaskan fokus penelitian, yaitu:

1) Makna

Makna adalah sebuah proses yang aktif: para ahli semiotic menggunakan kata kerja seperti; menciptakan, memunculkan, atau negosiasi mengacu pada

(15)

proses ini. Negosiasi mungkin merupakan istilah yang paling berguna yang mengindikasikan hal-hal seperti kepada-dan-dari memberi-dan-menerima antara manusia/orang dan pesan. Makna adalah hasil interaksi dinamis antara tanda, konsep mental (hasil interpretasi) dan objek: muncul dalam konteks historis yang spesifik dan mungkin berubah seiring dengan waktu. Bahkan mungkin akan berguna mengganti istilah ‘makna’ dan menggunakan istilah yang jauh lebih akif dari Pierce, yaitu ‘semiosis’- tindakan memaknai.

2) Rasisme

Rasisme adalah prasangka berdasarkan keturunan bangsa, perilaku yang berat sebelah terhadap suku bangsa yang berbeda-beda, paham bahwa ras sendiri adalah ras yang paling unggul. Rasisme merupakan salah satu bentuk khusus dari prasangka yang memfouskan diri pada variasi fisik diantara manusia. Paham rasisme merupakan sikap yang awalnya tumbuh di masa penjajahan, saat mereka hendak mengekspansi kekuasaanya di negeri jajahan.13

3) Budak

Budak atau hamba yaitu segala hal mengenai budak belian atau perjuangan membebaskan diri dari tuan-tuan penguasa, atau sistem segolongan manusia yang dirampas kebebasan hidupnya untuk bekerja guna kepentingan golongan manusia yang lain. Dia menjadi milik tuannya sebagaimana sebuah barang. Budak boleh dijual, dihadiahkan atau dijadikan sebagai istri (jika wanita).

(16)

1.3 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah : “Bagaimana Makna dari Simbol-Simbol Rasisme terhadap Budak dalam Film “12 Years A Slave ?”

1.4 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pemaknaan dari simbol-simbol Rasisme terhadap budak dalam film “12 Years A Slave”

1.5 Manfaat Penelitian

Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat positif baik akademis, praktis maupun sosial.

1.5.1 Manfaat Akademis

Secara akademis penelitian ini bermanfaat sebagai bahan kajian dalam memperkaya khasanah ilmu pengetahuan di bidang komunikasi, khususnya dalam perkembangan teori analisis semiotika. Penelitian ini juga dapat menjadi bahan perbandingan bagi penelitian-penelitian selanjutnya yang mengulas tema serupa.

(17)

1.5.2 Manfaat Praktis

Adapun yang diharapkan dari penelitian ini adalah :

Penelitian ini dapat memberikan masukan bagi pekerja dibidang perfilman, agar bisa menciptakan ide-ide yang orisinil tak hanya membahas percintaan dan horor saja. Tetapi juga bisa memberikan perspektif baru kepada masyarakat secara kritis.

Hasil penelitian ini di harapkan dapat meningkatkan kesadaran diri berbagai produksi film yang bergenre cerita dimana kandugan isinya mempunyai unsur pesan sehingga menjadi pertimbangan agar lebih memahami arti dari sikap rasisme tersebut untuk para audiens yang menontonya.

1.5.3 Manfaat Sosial

Secara Sosial penelitian ini bermanfaat bagi masyarakat dalam memahami bagaimana makna dan simbol-simbol rasisme yang ada disekitar mereka dan juga dapat menjadi suatu pembelajaran bahwa sikap rasis merupakan sikap yang tidak patut untuk dilakukan.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :